Adonis
Langkah Satsuki Aoi terhenti di depan sebuah pintu ruangan, mengetuk pintu tersebut sambil memanggil empunya ruangan memastikan kalau ada orang di dalam, "Ayane-san.." menunggu sebuah sahutan balik dari dalam beberapa saat, kemudian tangannya mendorong gagang pintu setelah mendapatkan sahutan yang menyuruhnya untuk masuk.
Mata biru langit milik Aoi mendapati sosok wanita sedang duduk di atas kursi di samping jendela -yang sepertinya sengaja dibuka untuk mengalirkan udara segar dari luar ke dalam ruangan -dengan disinari cahaya matahari pagi sosok wanita itu bak seorang dewi yang dilukis begitu cantiknya. Aoi menghampiri wanita itu, memanggil namanya dengan pelan, "Ayane-san.." sepertinya di datang di waktu yang kurang tepat, melihat wanita yang dipanggilnya itu sedang serius sekali membaca buku di tangannya.
"Ah, Aoi!" Seakan terbangun dari dunianya, wanita yang dipanggil Aoi tadi mengangkat kepala, mata hazel wanita itu menoleh sosok Aoi yang berdiri tak jauh darinya. "Lah kamu ngapain di sini?" sang pangeran -aka julukan Aoi -bisa mendengar nada heran mempertanyakan ada urusan apa dia datang ke tempat ini dalam suara wanita bermata hazel bernama Kurotsuki Ayane itu.
"Ah, aku disuruh Hajime-san menjemput Ayane-san…" terang Aoi menjelaskan alasannya datang menemui Ayane. Mendapati tatapan bingung seakan tidak mengerti maksud penjelasannya, Aoi kembali menambahkan, "…karena katanya sebentar lagi rapatnya akan dimulai…" Susai dugaan Hajime-san tadi sepertinya Ayane-san lupa kalau hari ini akan ada rapat membahas tentang ekspedisi penyelidikan wilayah utara.
Ekspresi kaget sekaligus bersalah tergambar di wajah cantik nan elegant sang dewi dari kayangan itu, "Ah! Aku lupa," balasnya dengan nada bersalah karena sudah melupakan agenda hari. "Ya sudah, Aoi ayo.." ajaknya bangkit dari posisinya, menghampiri meja kerja untuk meletakan buku yang tadi dia baca dengan serius, Aoi mengangkat salah satu alisnya, penasaran dengan buku yang baru saja diletakan oleh Ayane, "Itu apa?" Setahu dia, Ayane bukanlah orang yang membaca novel disela-sela jam kerjanya. Kalaupun itu buku tentang sebuah penelitian, ya masa judulnya nama sebuah bunga? Atau mungkin itu memang sebuah buku penelitian tentang bunga?
Adonis.
Huruf bercetak tebal berwarna emas dengan gaya tulisan sambung menghiasi cover abu-abu buku itu.
Mengungkapkan dugannya dengan nada penasaran, "Novel?" melirik Ayane yang sekarang berdiri di sampingnya.
"Ah itu?" Wanita bermata hazel di sampingnya itu melirik buku yang dimaksud kemudian kembali melanjutkan dengan nada suara santai, "Iya sebuah novel," mengalihkan pandangannya seraya memutarkan tubuh langsingnya, sekilas tatapan hampa menyelimuti iris hazel wanita itu, "Kalau gitu ayo.. nanti dimarahi Hajime-san lagi…"
Aoi tidak melihat tatapan hampa tadi karena sosok Ayane membelakanginya. Mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya itu, Aoi menanggapi dengan sebuah senyuman kecil di bibir tipisnya, "Iya juga.. ayo.." beranjak mengikuti Ayane yang sekarang membuka pintu lalu keluar dari ruangan tersebut.
Sebuah angin cukup kencang masuk melalui jendela yang lupa ditutup kembali oleh Ayane sebelum pergi, menerpa sekaligus menerbangkan benda-benda tipis di dalam ruangan itu, seperti berkas-berkas -yang sudah disusun rapi di meja kerja sekarang berterbangan dan jatuh ke lantai berkarpet tebal -serta tak terkecuali buku yang tadi dibaca kini terbuka mengebetkan beberapa halaman memunculkan beberapa kalimat.
Eksistensi dari jiwa yang tersesat.
Kalimat itu dicetak menggunakan huruf tebal seakan menekankan bahwa itulah topik yang dibahas dari buku tersebut.
-;-
Shimotsu Shun menyeruput teh darjeeling sambil menikmati aroma khas teh tersebut. Suara gelas teh yang diletakannya ke atas piring kecil membuyar keheningan di taman istana tempat dimana dirinya dan Ayane sekarang sedang menikmati teh yang disiapkan oleh Kai. Mata hijau kekuningan Shun memberikan tatapan serius yang jarang dia perlihatkan pada Ayane di seberang tempat dia duduk. "Kamu yakin?" tanyanya seakan menekankan kosekuensi atas keputusan wanita bermata hazel tersebut.
Untuk pertama kalinya sang maou-sama -aka julukan Shun -merasa tak berguna akan hal yang mereka berdua bicarakan. Di satu sisi dirinya sangat mengetahui memang tidak ada cara lain tapi di sisi lain dirinya tidak ingin melakukan cara tersebut. Dua pilihan yang sangat sulit. Kalau dia tidak melakukannya eksistensi seorang Kurotsuki Ayane akan menghilang.
Baik di dunia ini maupun dunia sana.
Seakan tidak pernah terlahir seorang wanita bermata hazel berparas cantik bak seorang dewi yang bernama Kurotsuki Ayane.
Jika dipertanyakan kenapa bisa seperti itu, jawabannya sangatlah mudah.
Ayane bukanlah orang dari dunia ini.
Dengan kata lain eksistensi seorang Ayane seharusnya tidak ada di dunia. Wanita bermata hazel itu hanyalah sebuah jiwa -tanpa tubuh asli -yang tersesat dalam dunia ini.
Tak bisa terluka.
Tak bisa mati.
Kecuali disakiti oleh pewaris yang memiliki kekuatan 'Owari'
Dan pemilik kekuatan itu sekarang adalah Shimotsuki Shun.
Senyuman miris terukir pada bibir merah tipis milik Ayane, menganggukan kepalanya, menatap mata hijau kekuningan milik Shun di seberang dengan tatapan yakin tanda kalau dia sangat yakin dengan keputusannya itu, "…setidaknya diriku tidak benar-benar hilang…" mata hazelnya mendapati pantulan wajahnya di atas air teh cokelat dalam gelas yang ia angkat.
Apa yang dikatakan oleh Ayane memang benar. Setidaknya eksistensi dirinya tidak akan benar-benar hilang. Oleh karenanya dia memilih jalan ini.
Dibunuh oleh pemilik kekuatan 'Owari'
Tak ada cara lain.
Jika dia memilih untuk tetap tinggal di dunia ini lebih lama lagi, maka tubuhnya yang berada di dunia sana akan semakin melemah dan lama kelamaan eksistensi dirinya baik di dunia ini maupun dunia sana akan menghilang bagaikan abu dilarutkan air.
Tidak ada yang tersisa.
Ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya baik di dunia ini maupun dunia sana akan menghilang kecuali ingatan pemilik kekuatan 'Owari'. Ini bisa terjadi karena pemilik kekuatan ini mempunyai 'privilege' atas eksistensi jiwa-jiwa yang tersesat dalam dunia ini.
Dan Ayane tidak ingin itu terjadi.
Setidaknya dia tidak ingin orang yang paling dia cintai melupakannya.
Mutsuki Hajime.
Yah, Ayane tidak ingin Hajime melupakannya. Walaupun dia harus pergi meninggalkan Hajime, setidaknya ingatan akan dirinya tidak akan hilang. Momen-momen bahagia penuh cinta akan tetap terkenang dalam diri Hajime.
Oleh karena itu Ayane memilih jalan ini.
Untuk menjaga ingatan akan eksistensi dirinya dalam ingatan Hajime.
Desahan lelah keluar dari mulut Shun, menopang dagunya dan kembali bertanya, "Tapi kalau kamu melakukannya, semua orang akan melupakanmu…" mata hijau kekuningan miliknya menatap wajah Ayane yang menunjukan ekspresi pasrah, "…dan kau juga akan melupakan dunia ini…" tambahnya menjelaskan konsekuensi yang akan diterima oleh Ayane.
Yah setiap pengorbanan pasti ada harga yang dibayar.
Setidaknya jika Ayane mengorbankan kehidupannya di dunia ini, dia bisa kembali ke dunia asalnya. Melanjutkan kehidupan dia yang seharusnya. Dan kalau dia beruntung dirinya dapat bertemu kembali dengan orang yang dia cintai di sana. Tapi bayarannya adalah dia tidak akan mengingat dunia ini. Ditambah lagi orang-orang yang ada di dunia ini akan melupakan Ayane, kecuali ingatan Hajime yang merupakan pemilik kekuatan 'Hajimari' dan Shun yang memiliki kekuatan 'Owari'.
Itulah perbedaan dari dua pilihan yang dapat dipilih oleh Ayane.
Kembali ke dunia asal meninggalkan dan melupakan dunia ini, tapi eksistensinya tetap diingat oleh Hajime yang merupakan pemilik kekuatan 'Hajimari' sekaligus orang yang paling dia cintai, dan Shun yang memiliki kekuatan 'Owari'.
Atau tetap tinggal lebih lama lagi dan menghilang dengan sendirinya. Baik eksistensinya dalam dunia asal dan dunia ini akan menghilang dan hanya Shun saja yang mengingatnya.
Kenapa kalau dia memilih pilihan kedua Hajime tidak bisa mengingatnya?
Hanya seorang yang memiliki kekuatan 'Owari' yang memiliki hak istimewa dalam menentukan 'akhir' nasib dari jiwa-jiwa yang tersesat.
Sedangkan Hajime yang memiliki kekuatan 'Hajimari' tidak mempunyai hak istimewa itu.
"Baiklah. Akan aku lakukan.." jawab Shun dengan terpaksa ketika mendapati sebuah anggukan dari Ayane menjawab pernyataannya itu. Sudut bibir Shun terangkat membentuk senyuman miris, "Arigatou.." Shun dapat mendengar nada pasrah ketika Ayane mengucapkan terimakasih padanya.
"Sepertinya Hajime akan membenciku…" komennya memikirkan kalau sudah dipastikan Hajime akan membencinya, mata hijau kekuningan Shun menatap langit biru yang cerah.
Sebuah tawa kecil keluar dari mulut Ayane, "Kalau itu sih aku tidak bisa menyangkalnya…" balasnya karena dia sangat tahu kalau itulah konsekuensi yang harus diterima Shun.
"Setidaknya.." menatap lekat wanita bermata hazel di seberangnya, Shun tersenyum "Hiduplah dengan bahagia kamu di sana…"
Ayane hanya mengangguk, kemudian mengangkat gelas berisikan teh darjeeling ke mulutnya, menyeruput teh itu menenangkan pikirannya.
-;-
"Hajime, besok kamu libur kan?"
Mutsuki Hajime berhenti menuangkan teh panas ke dalam gelas sesaat mendengarkan pertanyaan dari Ayane yang berada di ruang tamu. Melanjutkan kembali apa yang sedang dia lakukan seraya menjawab, "Iya.." mengangkat dua gelas berisikan teh hangat membawanya beranjak menuju ruang tamu, "Memangnya kenapa?" tambahnya meletakan gelas ke atas meja pendek di depan sofa.
"Mau piknik tidak?"
Mengangkat salah satu alisnya seakan heran dengan ajakan dari sang istri -karena biasanya mereka hanya menghabiskan waktu di rumah dengan bersantai kalau mereka berdua mendapatkan jatah libur -mata amethyst milik lelaki berparas tampan mendapati tatapan berharap dari istrinya, "Tumben, ngajakin pikinik.."
Memerhatikan sang istri meletakan sebuah buku ke atas meja kemudian meraih gelas berisikan teh yang disiapkan olehnya, mengangkat gelas itu sampai hampir bersentuhan dengan mulutnya, "Ya sekali-kali…" jawab sang istri sebelum menyeruput teh itu, "…anggap saja sebagai kencan terakhir kita sebelum kamu pergi ekspedisi ke utara."
Hajime dapat menangkap nada suara lembut seakan istrinya itu akan merindukannya. Sepertinya Hajime dapat paham dengan perasaan sang istri. Sebagai kapten armada pertama dirinya tidak bisa menolak untuk ikut ekspedisi ke utara yang rencananya akan memakan beberapa bulan. Jadi wajar saja kalau Ayane yang sebagai istrinya akan merasa rindu.
Mendesah pelan, "Ya sudah.." merangkul bahu kecil sang istri mendekapnya dalam sebuah pelukan, "Apa ada yang mau aku hadiahkan selepas pulang?" tanya Hajime sambil meletakan dagunya di atas ubun-ubun kepala Ayane.
"Kalau begitu hadiahkan aku bunga adonis.."
Ekspresi heran terpampang di wajah tampan bagaikan raja seorang Mutsuki Hajime. Untuk kedua kalinya istrinya mengatakan hal yang tak biasa. Kenapa tiba-tiba istrinya yang dia kenal gila akan meneliti ini meminta sebuah bunga untuk dijadikan hadiah? Biasanya juga kalau Hajime dinas keluar yang diminta oleh istrinya paling sebuah buku ataupun jurnal penelitian yang dilakukan oleh para cendikiawan di kota itu. Tapi kok tiba-tiba dia meminta sebuah bunga?
Seakan mengetahui apa yang sedang suaminya itu pikirkan, Ayane tertawa geli kemudian berkata, "Kaget ya?" mendapati sebuah anggukan sebagai tanda mengiyakan pertanyaannya, Ayane mengambil buku yang tadi dia letakan di meja lalu menunjukan buku itu pada suaminya.
"Ini.."
Jari telunjuknya menunjuk sebuah kata -yang ditulis sambung bercetak tebal berwarna emas -pada cover buku digenggamannya seakan menjawab kalau buku itulah penyebab dia ingin dihadiahkan sebuah bunga.
"Adonis?"
Ucap Hajime membaca kata yang dijadikan sebuah judul buku yang ditunjukan oleh istrinya.
"Iya…" Ayane mengangguk dan meletakan kembali buku itu ke atas meja, kemudian meraih kedua tangan Hajime menautkan jemarinya di antara sela-sela jemari Hajime bagaikan sebuah puzle yang saling melengkapi. "Apa Hajime tahu arti dari bunga Adonis?" mata hazel mendapati pantulan dirinya di mata amethyst milik suaminya itu.
Memutarkan ingatannya mencoba mengingat buku mengenai arti dari sebuah bunga yang pernah dia baca sebelum mereka berdua menikah, mata amethystnya membulat seraya teringat arti dari bunga adonis, "Kematian…?" Ya. Setau dia arti dari bunga adonis adalah kematian. Terus mengapa istrinya itu malah menginginkan bunga dengan arti menakutkan seperti itu sebagai hadiah? Pikiran-pikiran negatif hilir mudik memutari pikirannya. Tapi kalau diingat-ingat kembali adonis memiliki arti lain sesuai dengan warna bunganya juga.
Ayane tertawa geli, memecahkan pikiran negatif suaminya itu, "Dasar Hajime…" menyeka air matanya yang keluar karena saking gelinya dia tertawa, Ayane kembali menambahkan, "Bukan adonis merah yang kuminta tahu.."
"Mana aku tahu, kamu juga tidak bilang adonis warna apa…" gerutunya sampai ekspresi cemberut tergambar jelas di wajah tampan Hajime.
Menangkupkan tangan Hajime ke pipinya, lalu tersenyum hangat, "Adonis ungu.."
Perlindungan.
Sepintas Hajime mengingat makna dari adonis ungu yang diminta istrinya itu. Mengangkat salah satu alisnya tanda menanyakan alasan kenapa meminta adonis ungu itu pada istrinya.
"Sebagai tanda kalau kamu kembali setelah berjuang melindungi semuanya…"
"Umph"
Tubuh Hajime terhempas ke belakang terkejut dengan serangan pelukan yang tiba-tiba diberikan istrinya. "Ada-ada aja kamu.." gumamnya sambil membalas pelukan erat sang istri, membelai lembut surai hitam panjang dengan sentuhan penuh cinta. Sepertinya komandan armada satu ini mengerti apa yang dimaksud istrinya itu. Karena memang tujuan ekspedisi kali ini adalah menyelidikan kemunculan -tak biasa karena jumlahnya terlalu banyak -sangat banyak -dibandingkan biasanya -para 'monster' yang sekarang ini mengancam kedamaian dunia mereka. Oleh karena itu hanya armada dua dan armada enam saja yang berjaga di ibu kota. Sedangkan yang lain ditugaskan ke berbagai daerah, termasuk armada satu yang ditugaskan ke daerah utara yang paling banyak kemunculan 'monster' di daerah tersebut.
Membenamkan wajahnya ke dalam tengkuk istrinya, kemudian memejamkan kedua matanya seraya menikmati kehangatan tubuh mereka yang saling bertautan. Hajime tidak pernah tahu tatapan kosong -mencerminkan kesedihan terpendam -di mata hazel milik istrinya itu.
-;-
