I HATE MY LIFE
Judul : I HATE MY LIFE PART 1
Genre : Angst, Drama.
Rate : M (mengandung adegan seksual, kekerasan, alkohol)
Casts :
MinYoon/YoonMin couple
Jimin BTS (GS) as Jimin
Suga BTS as Yoongi
ETC
Warning : GS FOR SOME CHARACTER , Mengandung adegan kekerasan dan pemerkosaan, typo,crack!pair, don't like don't read.
Jimin tidak mengerti kenapa nasib buruk selalu saja menimpanya. Hanya tangisan yang bisa menyuarakan jeritan hatinya kini. Ia juga tak sanggup melihat wajah ayah dan ibunya.
"Dasar anak sampah! Tidak tahu diri!. Aku sudah membesarkanmu dan menyekolahkanmu selama delapan belas tahun dan apa balasanmu hah?. Kau malah hamil di luar nikah!. Harusnya aku tidak memungutmu dari tong sampah waktu itu!,"
"Aw! Sakit !" Jimin merasakan ayahnya memukul punggungnya dengan sebuah batang kayu.
Mendapatkan kata-kata yang menyakitkan dari kedua orang tuanya bukanlah hal yang baru bagi Jimin. Sejak kecil ia bahkan sudah tahu kalau ia hanya anak pungut. Hanya saja baru kali ini Jimin dipukul oleh ayahnya. Ayahnya begitu marah saat tahu Jimin hamil di luar nikah. Berbeda dengan sang ibu yang mendadak lebih lembut dan perhatian kepada Jimin, meskipun ia tak bisa berbuat apa-apa saat ayahnya menyiksa Jimin.
"Jimin-ah, Ibu tahu kau tidak akan melakukannya sebelum nikah, Ibu mempercayaimu, nak. Sekarang katakan siapa yang menghamilimu?. Ibu akan membawanya ke penjara," Ibu memegang tangan Jimin lembut.
Mereka akan hancur jika tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
Flashback
Malam itu adalah malam yang tidak akan pernah Jimin lupakan. Langit bercahayakan rembulan musim panas. Jimin tidak akan pernah menyangka hal itu akan menimpanya. Malam dimana Jimin kehilangan kesuciannya.
"Jimin-ah, apa kau sudah selesai mengerjakan PR-mu?" Yoongi yang baru saja selesai mandi menyapa Jimin yang berada di kamarnya.
"Aku sudah selesai, oppa, ada apa?" Jimin meletakkan bukunya di meja belajar.
"Aku sudah lama menantikan ini, Jimin-ah…." tiba tiba Yoongi memeluk Jimin dari belakang, menghirup wangi rambut Jimin.
"Oppa apa yang kau lakukan?. Aku ini adikmu. Lepaskan!" Jimin berusaha melepas pelukan Yoongi.
Tanpa Jimin sadari, Yoongi sudah mengunci pintu kamar daritadi. Membuatnya lebih leluasa melakukan apapun.
"Kau bukan adikku. Kau hanya anak yang dipungut kedua orang tuaku,"
"Aku tahu… tapi itu tidak membenarkan perilakumu…" hal itu malah membuat Jimin kini berhadapan dengan Yoongi.
Jarak mereka begitu dekat hingga Jimin bisa merasakan hembusan nafas Yoongi. Tanpa babibu Yoongi langsung mencium Jimin dengan kasar. Ia bahkan melumat bibir Jimin hingga Jimin merasa kehabisan nafas.
"Mmmmm…."
Yoongi memeluk Jimin erat dan mulai membawanya ke dalam gendongannya. Dengan cepat ia membawa Jimin ke ranjang dan mendudukannya disana.
"Kau tahu, aku selalu tergoda melihatmu dalam balutan pakaian dancemu yang seksi itu,"
Jimin mendadak menangis, ia merasa dilecehkan tapi ia takut untuk berbuat apapun. Seluruh tubuh Jimin terasa kaku dan tak bisa digerakkan.
"Kau mau kabur?. Pintu kamarmu sudah kukunci daritadi. Kuncinya aku lempar ke bawah kasur, ayo merangkak jika kau ingin mendapatkannya"
Jimin tahu ini akan mengarah kemana. Tangisannya semakin menjadi.
"Jangan menangis, aku berjanji akan lembut jika kau mau menuruti keinginanku," Yoongi duduk disamping Jimin dan mulai melucuti piyama yang dikenakan Jimin.
Setelah Yoongi berhasil melepas pakaian Jimin, membuatnya berbaring diatas ranjang dan meremas payudaranya
"Ahhh…." refleks Jimin mendesah karena perlakuan Yoongi.
"Kau menikmatinya ya?" Yoongi meremas payudara Jimin makin kencang, membuat Jimin kembali mendesah.
"Ah sayangnya, aku harus lanjut…" Yoongi menciumi Jimin dari payudara hingga kebawah.
Ia mulai mencium dan menjilati area kewanitaan Jimin hingga tanpa Jimin sadari ia sudah orgasme,
"Ah... ah… ah…. aku mau… pipis…"
"Sekarang puaskan aku sayang, kulum!" Yoongi melepas handuk yang melilit pinggangnya dan memasukkan kejantanannya yang sudah menegang ke mulut Jimin. Membuat Jimin mau tak mau mengulum kejantanannya.
"Bersiaplah. Aku akan memasukannya,"
"Jangan oppa!. Jangan!. Aku masih perawan!" Jimin kembali menangis histeris.
"Diam!" Yoongi menampar Jimin dan mulai menyetubuhi Jimin.
"Ah!" jeritan kesakitan keluar dari bibir Jimin.
"Diamlah, aku akan bersikap lembut jika kau diam,"
Bukannya malah semakin lembut, Jimin malah merasakan gerakan Yoongi semakin kasar dan cepat dibawah sana. Hanya jeritan kesakitan yang bisa Jimin keluarkan saat itu. Hingga akhirnya ia merasakan sesuatu yang hangat dibawah sana.
"Jangan bilang siapa-siapa tentang hal ini! termasuk Appa dan Eomma! Sekarang cuci seprai ini, cepat! Jangan lupa mandi juga! " Yoongi langsung mengelap darah yang keluar dari kewanitaan Jimin dengan handuknya.
"Masih sakit oppa…"
Tanpa mengindahkan perkataan Jimin, Yoongi memberikan Jimin kunci yang berhasil ia ambil dari kolong kasur, membuka pintu kamar Jimin.
"Tidak ada alasan! Ayo cepat!" Yoongi mengguncang tubuh Jimin untuk membangunkannya.
Jimin tak percaya jika mulai saat itu hidupnya berubah menjadi hancur lebur.
Flashback end
Jimin terbaring dengan berbagai pikiran negatif yang menyelimutinya. Ia sedih mengingat kejadian beberapa bulan lalu, saat Yoongi pertama kali memerkosanya. Sayangnya ia merasa takut untuk menceritakannya kepada siapapun, termasuk kepada kedua orang tua angkatnya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?," Jimin mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Ia tidak mau melakukan apa yang dilakukan kedua orang tua kandungnya dulu. Tidak mungkin baginya untuk membuang bayi ini. Ia juga tidak mau melakukan aborsi… tapi kedua orang tua angkatnya terus mendesaknya. Bagaimanapun juga Jimin masih mempunyai mimpi dan cita-cita, ia ingin debut sebagai seorang idol.
"Jimin-ah gwenchana?" ibu menghampiri Jimin yang tertidur
"Aku… aku tidak apa-apa,Eomma," Jimin tersenyum sendu.
Melihat Jimin yang ceria dan tersenyum meskipun sering mendapatkan nasib buruk dan disakiti orang lain membuat Ibu merasa sedih.
"Jimin, ayo makan dulu, hampir seharian ini kau belum makan,tidak baik untuk kesehatanmu dan janinmu," Ibu mengelus surai panjang Jimin.
"Nde. Aku akan makan sebentar lagi, sekarang aku mau istirahat dulu…"
"Maafkan Eomma dan Appa ya. Kami… kami hanya tidak percaya atas apa yang terjadi padamu… Apalagi dengan luka yang disebabkan pukulan Appamu tadi, kami minta maaf"
"Tidak apa-apa Eomma, wajar jika kalian merasa marah…Tentu kalian tidak akan tahu jika sekolah tidak memberitahu… Aku… Aku juga ingin memberitahu kalian… tapi aku takut…"
"Jimin… Eomma tahu selama ini kami salah memperlakukanmu. Mulai saat ini, kami akan memperlakukanmu sebagai anak kami sendiri, mendukung apapun keputusanmu…" air mata mulai berjatuhan di pipi Ibu.
"Sudahlah Eomma, jangan menangis, ini bukan salah Eomma," Jimin bangkit dan mulai memeluk Ibu.
Mereka berdua berpelukkan dalam keheningan malam itu, lalu bercengkrama layaknya anak dan ibu.
Semua orang di sekolah menatapi Jimin dengan pandangan yang aneh. Entah apa yang mereka rasa saat menatap Jimin. Mungkin perasaan jijik, benci, atau hal negatif lainnya. Jimin hanya bisa tersenyum menanggapinya.
"Hei lihat! Jimin kembali ke sekolah! Apa dia tidak malu ya?" seorang siswi berbisik ke temannya.
"Mana ada dia punya sendiri sudah menjual keperawannya kepada ahjussi tua!" timpal teman siswi itu.
Jimin masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia tidak akan mencoba melawan mereka atau meluruskan apa yang terjadi. Hal itu hanya akan membuatnya tambah bermasalah.
"Jimin! Yoon Jimin! Ikut saya ke ruangan!" Kim Namjoon, wali kelas Jimin menghampiri Jimin yang menuju ke kelasnya.
"Tapi Seonsaengnim, saya ada kelas…" Jimin ragu untuk mengikuti Namjoon atau tidak.
"Saya akan mengurus ijin ke guru yang mengajar… sekarang ayo ikut saya!" Namjoon menarik tangan Jimin untuk mengikutinya.
Bayangan tentang perkosaan yang dialaminya kembali berputar di benak Jimin. Mendadak ia berteriak histeris,
"Ah! Jangan! Jangan! Lepaskan! Lepaskan!" Jimin mulai menangis.
Namjoon merasa ada yang aneh dengan sikap Jimin. Sementara itu semua yang ada di lorong sekolah memandangi peristiwa yang ada di depan mereka
"Jimin!" Taehyung, teman Jimin, segera berlari dan menghampiri Jimin. Ia memeluk Jimin dan berusaha menenangkannya.
"Jimin… ada aku disini.. ini aku Taehyung…" isak tangis Jimin mulai mereda.
"Jimin, Taehyung, tunggu di ruangan saya, saya akan memanggil Lee seonsaengnim untuk berbicara dengan Jimin nanti. Kalian semua yang ada disini, ayo cepat ke kelas kalian! pelajaran sebentar lagi dimulai!"
Kerumunan yang ada di lorong sekolahpun bubar.
"Nde, seonsaengnim. Kaja Jimin-ah!" Taehyung memegangi tangan Jimin dan mengajaknya ke ruangan Namjoon.
Taehyung tidak mengerti kenapa Namjoon mendadak menyuruh Jimin ke ruangannya. Apakah ini ada hubungannya dengan hasil tes kesehatan yang menunjukkan Jimin hamil?.
TO BE CONTINUE
