Disclaimer Naruto by Masashi Kishimoto
Cerita ini hanya khayalan semata, apabila ditemukan mirip dengan suatu kejadian, bukan merupakan kesengajaan.
Hinata 17 tahun
Sasuke 17 tahun
Itachi 19 tahun
.
.
.
Kejadian tadi siang masih teringat dengan sangat jelas, seperti loop yang berputar. Padahal Hinata hanya mengungkapkan pemikirannya, tetapi Itachi menanggapinya dengan kata-kata yang di luar perkiraan.
Malam ini langit tampak bersih meski tidak ada satu pun bintang yang terlihat di langit Kota. Samar-samar suara jalanan terdengar merdu, memberikan irama pada seorang gadis yang termenung di dekat jendela.
Raganya di sana, tetapi pikirannya melayang, mengajaknya berfantasi tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di antara dia dan Itachi.
"Aku ingin menceritakan banyak hal tentang apa yang kurasakan pada Itachi-senpai, tetapi tak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak pandai berbicara. Sepertinya aku menyukai senpai, bagaimana ini? Ini semua terlalu cepat. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya."
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan senpai."
"Apa aku harus bilang semuanya? Perasaanku bahwa aku menyukai senpai dan aroma senpai?"
"Tapi..."
"mengungkapkan perasaan tidak hanya butuh keberanian, aku juga harus yakin bahwa senpai juga menyukaiku."
"Tapi..."
"bagaimana jika nanti Itachi-senpai memberikan respon yang dingin? Atau bagaimana jika dia merasa terganggu dengan kehadiranku yang tiba tiba bercerita panjang lebar tidak seperti biasanya?"
"Tapi..."
"Sepertinya Itachi-senpai tidak membenciku."
"Tapi..."
"Tidak membenci bukan berarti Itachi-senpai tergila-gila padaku, dia hanya menginginkan apel, dia baik padaku karena ingin minta apel."
"Kenapa aku bersikap pesimis? Tidak, ini realistis."
Lamunan panjang Hinata terputus dengan suara ponsel yang berdering. Hinata tersadar dan segera mencari keberadaan ponsel.
"Moshi-moshi, tou-san?"
"Selamat malam, putri kesayangan tou-san. kenapa belum tidur"
"Ummm baru saja bersiap-siap untuk tidur. Bagaimana kabar tou-san? Kapan tou-san pulang? Aku dan Hanabi-chan sangat merindukan tou-san"
"Maaf sayang, tou-san sangat sibuk. tou-san belum bisa menemanimu dan Hana-chan di rumah. Bagaimana keadaan Hanabi-chan?"
"Hana-chan sudah tidur."
"Syukurlah. tou-san hanya ingin mendengar suaramu, selamat malam, mimpi indah."
"Jaa, oyasumi papa."
Hinata menutup sambungan telepon sang ayah. Saat ini, Hyuuga Hiashi ayah Hinata sedang berada di luar negeri untuk mengurusi pekerjaannya. Keluarga besar Hyuuga memiliki bisnis di bidang konservasi lingkungan. Mereka memproduksi berbagai macam produk rumahan yang ramah lingkungan. Pemasaran produk ini umumnya di negara-negara maju, dan Hiashi sebagai salah satu dewan direksi sekarang memimpin cabang perusahaan yang berada di Singapura.
Hinata beranjak dari kamarnya, berjalan ke lorong di sebelah kanan dan menuju kamar Hanabi. Dia mendorong gagang pintu perlahan, dan memeriksa adiknya. Dan mendapati adiknya tidak ada di ranjang.
Suara kran kamar mandi menyala, pintu terbuka, menandakan ada orang di dalam sana. Hinata memasuki kamar mandi, dan mendapati wajah pucat adiknya tergeletak di lantai kamar mandi yang dingin dengan sikat gigi dan pasta gigi di dekat tangannya.
"Hanabi-chan" sorot mata Hinata terlihat sendu, kini ia memangku kepala adiknya yang berusia 12 tahun dan mengusapnya perlahan. Hanabi sepertinya berniat menyikat gigi sebelum tidur, tapi dia tidak kuat menahan kantuk dan jatuh tertidur seperti orang pingsan. Kepala Hanabi mungkin saja terbentur pada lantai.
Hinata menghubungi asisten rumah tangga melalui intercom, kemudian seorang asisten rumah tangga berlari menuju tempat di mana Hinata berada. Sepertinya ini bukan pertama kalinya mereka berada di situasi ini.
"Siapkan mobil Reiko-san, kita ke rumah sakit sekarang." Hinata mengelus kepala sang adik dan meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan mobil ke rumah sakit.
.
.
.
Rumah sakit terlihat senggang karena tengah malam. Hinata khawatir sesuatu yang buruk menimpa adiknya. Ia bahkan tidak peduli dengan kaki telanjangnya saat ini, ia tidak mengenakan alas kaki saat ke rumah sakit, alhasil sekarang dia berdiri di depan ruang tunggu unit radiologi di rumah sakit dan memandang kakinya dengan tatapan menyedihkan. Hanabi masih belum sadarkan diri, saat ini ia menjalani pemeriksaan MRI di bagian kepala.
'Dingin' ucapnya dalam hati.
"Nona Hinata, anda lupa mengenakan sepatu."
"Ah... aku lupa tadi, tidak apa apa."
"Saya akan menuju ke resepsionis untuk mengurusi administrasi Nona Hanabi dan mencarikan sesuatu untuk Anda. Apa tidak apa-apa Anda menunggu di sini?"
"Iya Reiko-san. Terimakasih, tidak apa-apa di sini." Ucap Hinata dengan senyum singkat.
'Kenapa sangat dingin?' Hinata menangis dengan pandangan kosong setelah kepergian Reiko-san. Kakinya terasa dingin, bagaimana dengan Hanabi yang tergeletak di kamar mandi?
Hinata menunduk frustasi sambil menyeka air matanya, dia harus segera mengabari ayahnya perihal kondisi sang adik, tetapi ternyata dia juga lupa membawa ponsel. Lalu dia tertunduk dan menangis lagi.
"Kenapa semua rasanya begitu sulit? Kaa-san, aku rindu kaa-san."
Tiba-tiba seorang laki-laki berdiri di depan Hinata dan menyodorkan sebuah sandal jepit berwarna kuning dengan pom pom di atasnya. Hinata mendongak dan mendapati seseorang berambut perak dengan mata berwarna biru memandangnya.
"Kau pasti menangis karena kedinginan ya?" Sapa lelaki itu dengan senyuman hangat yang bisa melelehkan hati siapa saja.
"Terimakasih," jawab Hinata sambil menyeka air matanya.
"perkenalkan, aku Toneri."
Hinata mengamati sekilas penampilan lelaki itu. Dia mengenakan baju pasien, tapi dia terlihat sangat sehat.
"Hinata." Hinata menerima sandal pemberian lelaki itu.
"Aku mendapatkan hadiah itu dari anak kecil tadi pagi, dia menyuruhku memberikan sandal ini pada orang yang terlihat menyedihkan di lorong rumah sakit. Tapi aku baru menemukannya malam ini."
Hinata tersenyum getir, kenapa ada laki-laki aneh di tengah malam seperti ini membawa sandal jepit.
"Terimakasih."
"Sampai jumpa, Hinata"
Lelaki bernama Toneri itu pergi berjalan menuju lorong dan berbelok di ujung lorong. Tidak lama kemudian, Reiko asisten rumah tangga sampai di ruang tunggu.
"Nona, maaf semua toko sudah tutup dan saya ..." belum menyelesaikan kalimatnya, dia sudah melihat Hinata mengenakan alas kaki.
"Aku bertemu malaikat, Reiko-san" ucap Hinata dengan sebuah senyuman.
Sebelumnya Hinata merasa sangat senang dengan apa yang dia alami di sekolah, kemudian telfon sang Ayah yang ia rindukan, tetapi kesenangan itu berujung dengan hal yang tidak menyenangkan, namun ada juga hal tak terduga seperti orang yang memberikan sepasang sandal jepit kepadanya.
"Semua akan baik baik saja kan?"
.
.
.
Hasil pemeriksaan MRI Hanabi sudah keluar, dan beruntungnya tidak ada kerusakan akibat Hanabi jatuh di kamar mandi. Sekarang Hanabi sudah sadar dan menampilkan senyumnya.
"Maaf nee-chan, telah membuat nee-chan khawatir."
"Lain kali kalau ngantuk jangan tidur di kamar mandi, ok?"
"Siap. Bukankah Nee-chan harusnya ke sekolah?"
"Hari ini Nee-chan ingin menemani Hanabi-chan di sini."
"Ahhhh tidak usah, nanti kan aku pulang."
"Apa Hanabi-chan tidak kesepian nanti?"
"Tidak apa apa, nee-chan harus ke sekolah, bukankah sebentar lagi ada MYE*?"
"Matematika dan Fisika terasa sangat sulit, sepertinya nee-chan perlu ambil tambahan pelajaran"
"Semangat nee-chan"
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Di kediaman Uchiha, terlihat Itachi sudah mengenakan seragam sekolah lengkap sedang duduk santai di depan kolam renang sembari membaca buku. Ia membawa sepotong sandwich di tangan kanannya. Ia tidak duduk sendiri, ada sang adik,
Sasuke Uchiha
Sasuke terlihat lahap memakan sandwich di tangannya, ini adalah potongan ketiga. Ibu mereka, Mikoto Uchiha tampak sedang sibuk di dapur. Sang Ayah, Uchiha Fugaku tidak di rumah, sepertinya sang Ayah masih asik dengan urusannya di Jerman.
Cuaca sedang cerah, menikmati sarapan di ruang terbuka seperti ini seperti memberi tambahan energi bagi keluarga Uchiha.
"Nii-chan, kau terlihat seperti ayah jika sedang membaca" ucap Sasuke, adik Itachi.
"Hn, dan kau terlihat seperti Ibu saat sedang makan Sasu-chan, tidak lama lagi kau akan seperti babi jika terlalu banyak makan."
"Hey! Enak saja, kata Kaa-chan makanan ini sangat baik bagi pertumbuhanku. Lihat saja nanti sampai aku jadi pindah ke sekolah Nii-chan, pasti fans Nii-chan akan beralih padaku hahahhaha"
"Mana mungkin mereka akan kagum, lihat saja mukamu seperti lingkaran."
"Apa ini gara-gara aku terlalu banyak belajar matematika?"
"Bisa jadi."
Sasuke kemudian menghadap ke jendela di belakangnya dan melihat pantulan wajahnya di kaca jendela. Sembari memegang pipinya dan menoleh ke kanan ke kiri.
"Tidak mungkin, Nii-chan benar! Pipiku seperti squishy. Aku akan membakar lemak lemak ini."
Itachi tersenyum melihat tingkah adiknya. Sang adik memang terkenal dingin dan pendiam di luar, tetapi jika sudah berurusan dengan dirinya, Sasuke seperti anak kecil yang sangat manja. Kecerdasan Uchiha tidak perlu diragukan lagi, terimakasih kepada Mikoto Uchiha yang telah melahirkan dua pemuda tampan dan cerdas idaman semua perempuan.
Jika Itachi sudah berprestasi di bidang sains, sang adik berprestasi di bidang matematika. Beberapa tahun ini Sasuke bersekolah di Jerman untuk memperdalam ilmu matematikanya, ia tinggal bersama ayahnya, Uchiha Fugaku.
Uchiha sudah terkenal dengan kontribusi besar di bidang Ilmu Pengetahuan. Uchiha Fugaku adalah pemenang hadiah nobel Fisika karena berhasil menemukan dark matter yang sangat berguna untuk industri listrik. Jika sebelumnya masyarakat menggunakan nuklir yang mampu menghasilkan sumber energi yang besar namun memiliki efek samping yang berbahaya, sekarang teknologi nuklir digantikan oleh dark matter yang sifatnya hampir sama dengan energi yang dihasilkan reaktor nuklir, namun tidak memiliki efek samping seperti radiasi nuklir yang berbahaya.
Melalui dark matter, Uchiha Fugaku menyumbang ide brilian untuk menyelesaikan permasalahan krisis energi di abad 21. Uchiha Fugaku banyak dibantu oleh para fisikawan Jerman, karena seperti yang kita ketahui, matematika dan Fisika di Jerman sudah seperti sejarah, bahkan di setiap sudut kota memiliki aura matematis yang mengagumkan. Tak heran jika orang-orang hebat banyak melakukan penelitian dan mencari ilmu di sini.
"Nii-chan, aku akan berenang untuk mengembalikan bentuk tubuh atletisku, lihat saja nanti." Ucap Sasuke sembari melepas kaosnya dan menampakkan perut buncit di hadapan Itachi.
"Wow... Sasu-chan, kau benar-benar seperti babi."
Itachi sedikit melongo melihat sang adik, Sasuke yang biasanya memiliki fisik proporsional sekarang terlihat lembek.
"Aku jarang olahraga ketika mempersiapkan WMO*"
"Terserah, jaa... Nii-chan berangkat"
"Hati-hati Nii-chan, nanti aku akan menyusulmu."
.
.
.
Hinata diantar sampai ke depan gerbang sekolah, setelah turun ia mengenakan earphone tanpa memutar lagu. Ia melakukan hal ini untuk menghindari orang-rang agar tidak diajak bicara. Tidak lama kemudian Itachi sampai di depan gerbang, di belakangnya ada beberapa anak perempuan yang berbisik. Angin musim panas yang berhembus membawa aroma manis permen karet sampai ke indera penciuman Hinata, tanda bahwa Itachi ada di sekitarnya.
"Itachi-senpai terlihat tampan pagi ini ya"
"Iya"
"Kira-kira kalau aku jatuh dia bakal nolongin atau tidak ya?"
Itachi melihat punggung Hinata di depannya, ia menyapa Hinata ketika ia berhasil menyusulnya.
"Yo! Ohayou Hinata"
"O-0ha-you senpai,"
Kemudian Itachi berjalan mendahului Hinata dengan langkah santai, Hinata yang semula baik-baik saja sekarang tampak memerah. Beruntungnya Itachi tidak mengungkit kejadian yang kemarin.
Ketika Itachi berlalu, Hinata merasakan tasnya menjadi lebih berat. Kemudian Hinata memeriksa tasnya dan benar saja, sudah ada kemasan tetra pack 240 ml kopi rasa caramel mochiatto tergantung manis di tasnya. Sejak kapan Itachi menaruh minuman itu?
Ketika Hinata hendak mengejar Itachi, ia sudah kehilangan jejaknya. Kenapa harus kopi?
Tiba tiba saja halaman terasa sepi, tetapi cahaya matahari dengan hangatnya menerpa wajah Hinata. Ketika Hinata memejamkan matanya, ia masih bisa melihat warna merah dari lapisan tipis kelopak matanya yang diterpa cahaya matahari. Warnanya seberti merah kejinggaan, dan saat ia membuka matanya ia melihat warna langit biru yang sangat indah.
Hangat
.
.
.
Pelajaran pertama sudah selesai, Hinata duduk sendiri di belakang, ia tidak punya banyak teman di sekolah karena ia sangat pendiam. Hinata menikmati caramel mochiatto selama pergantian jam pelajaran ketika guru sudah keluar.
Tiba tiba kelas ramai, banyak yang berbisik tentang kedatangan murid pindahan dari Jerman.
"Apa dia berambut pirang?
"Katanya dia tampan"
"Dengar-dengar dia jago matematika."
Banyak anak perempuan yang berbisik-bisik tentang murid pindahan baru. Hinata tampak tidak peduli dengan perbincangan anak di sekitarnya, ia menuju ke loker di belakang kelas dan menyiapkan pelajaran selanjutnya. Pelajaran matematika.
Tidak lama kemudian, Kakashi-sensei guru Matematika sekaligus wali kelas 1 A masuk ke kelas.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan siswa baru di kelas ini."
"Wahhhhhhh"
"Sensei, apakah dia laki-laki?"
"Ya, dia laki-laki. Silahkan masuk Uchiha-san"
"Uchiha? Kita punya dua Uchiha di sekolah ini? Gilaaaa"
"SSSTtttttttt diam kau"
Sasuke berjalan pelan ke kelas. Kemudian dia memperkenalkan diri.
"Hallo teman-teman, perkenalkan saya Sasuke Uchiha. Senang bertemu kalian."
Semua murid perempuan terlihat terpesona, mereka menjerit dan terlihat riang dengan senyum dan tatapan tajam, tetapi ada seorang anak perempuan menatapnya dalam diam dan seperti melamun.
"Hmmm kelas ini menarik" batin Sasuke
Ya! Anak perempuan itu adalah Hinata. Dia sekarang menyibukkan diri membaca buku pelajaran matematika di hadapannya. Dia mengalihkan pandangannya dari murid pindahan baru tepat ketika mata mereka bertemu.
"Baiklah, apa ada hal yang ingin kalian tanyakan kepada teman baru kalian?"
"Kenapa kau pindah ke sekolah kami? Kau kan sudah belajar di Jerman?"
"Aku ingin mewakili Jepang dalam ajang olimpiade Matematika, mohon bantuannya teman-teman."
Sasuke membungkuk kemudian Kakashi mempersilahkan Sasuke untuk memilih tempat duduk. Ada dua tempat duduk yang kosong. Pertama tempat duduk yang terletak di tengah kelas, di samping seorang perempuan cantik berambut pirang. Kedua tempat duduk di pojok belakang di dekat jendela, di samping seorang perempuan manis berkulit pucat dan bermata lavender dengan rambut indigo.
Sasuke berjalan maju menuju bangku di tengah kelas, ia berdiri di samping tempat duduk kosong perempuan berambut pirang bermata biru cerah.
"Hallo, aku Ino Yamanaka."
Sasuke diam, dan berjalan melewati perempuan berambut pirang itu dan meneruskan langkahnya ke tempat duduk di belakang.
Tanpa ragu, ia meletakkan barang-barangnya di atas meja kosong di samping Hinata.
Hinata masih fokus dengan buku dihadapannya, ia tidak peduli dengan pandangan orang sekelas yang mengarah padanya. Kemudian Kakashi-sensei mencairkan suasana.
"Mari kita lanjutkan pelajaran matematika hari ini."
.
.
.
Selama pelajaran matematika, Kakashi menjelaskan materinya dengan sangat sabar, semua siswa serius dengan pelajaran ini.
Kemudian Kakashi memberikan tugas kepada para siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada di buku latihan di papan tulis dengan iming-iming nilai tambahan.
"Baiklah anak-anak, selanjutnya akan ada ekstra 5 poin untuk 5 anak yang berhasil mengerjakan soal di papan tulis dengan benar. Siapa cepat dia dapat."
Mata Hinata terlihat berbinar, ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki nilainya yang buruk.
Kakashi pun mulai menghitung mundur.
"3... 21!"
Dan sayang sekali sudah ada lima anak yang maju untuk mengerjakan soal.
Hinata tampak kecewa, Sasuke melirik dari ujung kelopak matanya.
.
.
.
Bel istirahat makan siang berbunyi. Itachi menuju ke atap sekolah, samar-samar terdengar teriakan riuh anak-anak perempuan di lapangan.
"Itachi-kaichou ada beberapa hal yang harus kau lihat terkait dengan persiapan pelaksanaan
Dengan rasa penasaran, Itachi berdiri melihat ke bawah.
Sasuke ada di lapangan, mengikuti permainan bola basket, dan suara-suara tadi berasal dari teriakan barikade perempuan di sekeliling lapangan basket
"Kyaaaaaaaa Sasuke-kun!"
"Keren sekali!"
"Sasuke-kun! Kau membuat jantungku berdebar kencang, sepertinya aku akan mati! Aku akan menuntutmu Sasuke-kun!"
Kata-kata berlebihan mulai dilontarkan para kaum hawa yang tergila-gila dengan pesona Sasuke. Sasuke yang mendengarnya hanya tersenyum singkat, dan selanjutnya banyak perempuan yang berteriak lebih histeris lagi.
Kemudian Itachi mendengar langkah kaki di tangga menuju atap.
"Pasti dia" batin Itachi. Itachi mengambil posisi duduk sambil memegang buku.
"Senpai, selamat siang. Aku membawakanmu apel."
"Terimakasih Hinata-chan."
Aneh memang, untuk apa Hinata masih membawa apel merah ke atap? Oh ya... untuk menikmati semilir angin yang menyegarkan.
Hinata menoleh ke samping, mendapati Itachi yang sedang membaca buku.
"Buku apa yang sedang senpai baca?"
"Cerita tentang Mawar Merah. Kau ingin mendengarnya?"
"Bolehkah?"
"Tentu saja. Perhatikan baik-baik. Suatu hari, hiduplah seorang anak laki-laki di tengah hutan. Anak laki-laki itu menumbuhkan bunga di kepalanya. Karena merasa kesepian, dia berjalan-jalan hingga sampai di suatu desa yang dekat dengan hutan."
"Wow... bagaimana bisa?"
"Anak laki-laki ini spesial. Di desa tersebut, anak laki-laki itu bertemu dengan anak lain seumurannya. Dia sangat senang bermain dengan anak-anak lain.
Suatu ketika bunga-bunga di kepalanya mekar, bunga tersebut adalah bunga mawar berwarna kuning. Mawar tersebut sangat cantik, dan tidak memiliki duri.
Anak laki-laki itu menghadiahkan bunga cantik tersebut kepada teman-temannya.
Tetapi, anak-anak yang bermain dengannya merasa takut, mereka pun menolak dan membuang bunga yang ditumbuhkan di kepala laki-laki malang itu. Bahkan mereka menginjak-injak bunga tersebut di depan anak laki-laki malang itu.
Saat itu adalah pertama kalinya anak laki-laki yang menumbuhkan mawar di kepalanya merasakan kecewa."
Hinata menunduk, ia merasa sedih. Kasihan anak laki-laki itu.
"Padahal pasti bunga yang tumbuh di kepala anak laki-laki itu tampak seperti mahkota."
"Kau ingin mendengar kelanjutannya?" Hinata mengangguk mengiyakan.
"Anak laki-laki tersebut tidak menyerah dengan keadaan, dia menata kembali hatinya yang hancur. Tetapi sekarang dia lebih berhati-hati setelah menjadi lebih dewasa.
Hingga pada suatu hari anak laki-laki tersebut jatuh cinta pada seorang ..."
Itachi menggantungkan kalimatnya dan menoleh pada Hinata
"seorang gadis."
Mata Hinata membulat dan ia merasakan darah mengalir dengan cepat hingga pipinya memanas, dengan detak jantung yang tiba tiba terdengar di telinganya sendiri.
"Ketika bunga mawar di kepala laki-laki itu berbunga, bunganya berwarna merah muda dengan bau yang harum. Dia memetik bunga mawar di kepalanya dan memberikannya pada gadis itu, kemudian gadis itu membuangnya ke tanah, dan gadis itu mengejar cintanya pada laki-laki lain."
"Anak malang ini kembali merasakan kecewa untuk yang kesekian kalinya."
"Dengan belajar dari luka yang dirasakannya, mawar di atas kepalanya tumbuh penuh duri dan berbunga merah, semerah darah. Sehingga tidak ada yang berani dekat dengan bunga tersebut. Tamat."
Hinata termenung, tidak ingin bertanya lebih jauh tentang cerita tersebut. Kemudian Itachi menunjukkan halaman terakhir buku tersebut yang disertai ilustrasi anak laki-laki yang dimaksud.
Hinata tersenyum singkat.
"Dia terlihat sangat tampan dengan bunga yang tumbuh sebagai mahkota."
"Benarkah? Dia atau aku yang lebih tampan sekarang?"
Bunyi bel jam istirahat berakhir pun terdengar.
"Ah! Audah bel. Jaa senpai."
Hinata kabur menghindari pertanyaan Itachi. Itachi pun menutup bukunya dan berjalan pelan di belakang Hinata hingga ia tidak melihat punggung gadis itu lagi.
.
.
.
Sepulang sekolah Itachi berada di ruang OSIS, berkutat dengan dokumen-dokumen kegiatan sekolah yang perlu diperiksa.
Tidak lama lagi sekolah akan mengadakan seleksi Tim Olimpiade, dan beberapa relawan OSIS bersama guru-guru bertanggungjawab dalam keberlangsungan acara tersebut.
Sebentar lagi akan diadakan rapat penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Anggota yang ditunjuk Itachi sudah hadir di meja rapat, diantaranya ada Deidara, Konan, Gaara, dan Sasori.
"Gaara-kun, karena anggota sudah lengkap, kau bisa menjemput Kakashi-sensei dan Yamato-sensei."
"Baik kaichou. Saya permisi."
Gaara meninggalkan ruangan rapat untuk ke kantor guru. Sedangkan anggota yang lainnya merapikan dokumen di hadapan mereka.
Kakashi-sensei dan Yamato-sensei memasuki ruangan dan duduk di kursi yang telah disediakan, kemudian rapat pun di mulai.
Konan sebagai sekretaris OSIS membuka rapat kegiatan tersebut dan mempersilahkan setiap divisi untuk melaporkan perkembangan kegiatan.
"Saat ini persiapan ruangan, soal, dan publikasi sudah 80%. Rencananya pendaftaran akan dibuka selama 3 hari. Sistem seleksi yang kami ajukan adalah seleksi tertuliis dengan mengerjakan soal essay. Soal seleksi akan disiapkan oleh Kakashi-sensei dan Yamato-sensei. Dengan demikian rapat ini ditutup"
Konan membacakan notulen hasil rapat tersebut. Kakashi-sensei dan Yamato-sensei meninggalkan ruangan.
"Akhirnyaaaa selesai, aku sangat lelah." Celetuk Deidara setelah mendapati kedua guru keluar ruangan."
"Sasori-kun, bagaimana laporan keuangan dari klub seni?"
"Maaf kaichou, aku lupa di mana meletakkan catatan pengeluaran klub. Aku akan segera melapor begitu aku menemukan catatan tersebut."
"Baiklah, Konan-san tolong berikan aku rekap rincian jadwal untuk seleksi ini ya."
"Baik Itachi-san"
Itachi terlihat sangat serius ketika sedang di ruangan OSIS, berbeda dengan sosok Itachi yang terkesan pendiam di luar ruangan OSIS, berbeda pula dengan sosok Itachi yang ada di rumah, berbeda pula dengan sosok Itachi di atap sekolah. Aura bijaksananya terasa sangat kuat dan mendominasi orang-orang di sekitarnya. Bukan hanya karena jabatan ketua OSIS dan prestasi cemerlang, tetapi lebih ke sesuatu yang ada di dalam diri Itachi.
.
.
.
Hari demi hari berlalu, Sasuke semakin rajin mempersiapkan seleksi Tim Olimpiade yang akan diselenggarakan sekolah. Setiap pulang sekolah dia akan menghabiskan waktunya untuk belajar di kamar, Ibunya menyiapkan cemilan untuk menemani Sasuke belajar, ayahnya sekarang sudah kembali ke Jerman untuk urusan pekerjaan.
Itachi juga dengan tugas-tugasnya yang tiba-tiba seperti beranak, lima hari dalam seminggu terasa sangat padat dengan urusan sekolah dan organisasi. Akhir-akhir ini dia juga lebih dekat dengan Hinata. Bahkan Hinata sudah pernah berkunjung ke kediaman Uchiha untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Sasuke, dan momen lucu pun terjadi.
Sasuke tidak menyangka Itachi dan Hinata saling mengenal, padahal Sasuke tahu bahwa Hinata adalah anak yang pendiam di sekolah. Tapi mendengar cerita kakaknya bahwa mereka sering berbagi bekal makan siang membuat Sasuke berpikir bahwa Hinata dan Itachi memiliki hubungan spesial.
.
.
.
Itachi menuju ke kamar Sasuke. Ia mengetuk pintu, dan memasuki kamar Sasuke dengan langkah pelan. Sepasang sandal rumah berkepala tomat tergeletak di bawah kursi karena sekarang Sasuke berjongkok di kursi belajarnya.
"Sasu-chan, apa yang kau lakukan?"
"Menambah kemampuan berpikirku menjadi 40% Nii-san"
"Bagaimana bisa?"
"Mendekatkan lutut dengan kepala agar mereka beresonansi."
"Apa otakmu di dengkul? Bagaimana bisa?"
Sasuke berhenti sejenak dan melirik Itachi.
"Nii-san, bagaimana menurutmu? Hinata-chan?"
"Dia anak yang manis dan tidak berisik."
"Benar sekali."
"Dia juga cantik."
"Aku setuju."
"Dia harum,"
"Benar, aromanya menenangkan."
"Dan yang lebih penting, di balik seragamnya, aku yakin dia menyimpan rahasia besar."
"Maksud nii-san?"
"Ah bukan apa apa." Itachi memalingkan wajahnya yang tersipu dengan pikirannya sendiri."
"Nii-san, sepertinya aku menyukai Hinata-chan."
Jantung Itachi terasa berdetak sangat kencang. Kalimat terakhir Sasuke terngiang-ngiang di kepalanya.
'Aku menyukai Hinata-chan'
'Aku menyukai Hinata-chan'
'Hinata-chan'
'Aku menyukai'
"Bagaimana menurut nii-san?"
Keduanya pun terdiam beberapa saat. Tidak ada yang ingin melanjutkan percakapan itu.
.
.
.
Bersambung
Notes:
Hai, I'm back. Aku selalu menunggu menyelesaikan rangkaian cerita ini. Aku selalu berpikir bagaimana menulis setiap ide yang muncul, tapi memang tidak mudah. Semoga aku bisa update lebih teratur biar cerita ini tidak berdebu.
Terimakasih sudah membaca.
See you next week
*MYE= Middle Year Exam
*WMO= World Mathematics Olympiad
