Disclaimer Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: Kau akan mengantuk/Boring intro. Not for children under 18 y.o.

'Aku menyukai Hinata-chan'

'Hinata-chan'

'Aku menyukai'

Keduanya pun terdiam beberapa saat. Tidak ada yang ingin melanjutkan percakapan itu.

.

.

.

"Kau ini, fokuslah pada persiapan lombamu." Ucap Itachi pada Sasuke seraya tersenyum singkat dan mengelus puncak kepalanya.

"Tentu saja, aku harus fokus." Sasuke membalas senyum kakaknya.

'Sepertinya Nii-san memang menaruh perasaan spesial pada Hinata, ada jeda pada jawabannya.'

Itachi hendak melangkah ke luar dari kamar Sasuke, dan ia mendengar kata-kata Sasuke

"Lagipula aku hanya menyukai sifat Hinata. Sepertinya dia tidak akan memanfaatku jika kita berteman baik."

Itachi menoleh kembali, melihat Sasuke.

"Sasu-chan, aku punya sesuatu untukmu." Itachi merogoh saku celananya, Sasuke tampak berbinar menunggu sesuatu yang dimaksud Itachi. Dan dengan gerakan yang sangat cepat, Itachi mengeluarkan tangannya dan menunjukkan heart sign dengan telunjuk dan ibu jarinya yang disilangkan.

"Semangat, adikku sayang."

"Nii-chaaaaan! Kau menyebalkan! Pergi kau dari sini!"

Sasuke murka dan melempar sandal tomat yang berada di bawah kursinya ke arah Itachi, dan pastinya sebelum sandal tomat itu mengenai Itachi, dia sudah berhasil kabur meninggalkan Sasuke yang terlihat 'sedikit' malu dengan telinganya yang berubah warna menjadi merah.

.

.

.

Malam kembali menyapa, rembulan menempati singgasananya di langit, menggantikan kegagahan sang matahari untuk menjaga jiwa-jiwa yang masih bernapas menghirup oksigen. Bintang malam tidak terlalu menarik perhatian karena sinarnya kalah dari sinar lampu yang lebih dekat dengan pandangan mata.

Hinata menghadap meja belajarnya, ia mengerjakan tugas sekolah dan membaca materi yang akan di ajarkan besok. Di zaman seperti ini, persaingan di bidang akademik terbilang tidak kalah ketat dengan persaingan perdagangan. Seseorang bisa masuk universitas ternama jika memiliki kualifikasi yang sesuai dan kompetensi yang unggul di antara siswa yang lain. Hinata belajar keras untuk hal itu.

Jika Hinata tidak belajar lebih dahulu, dia akan kesulitan memahami pelajaran di kelas, memang kemampuan berpikirnya tidak secemerlang Sasuke dan Itachi, tetapi semangat belajarnya juga tidak kalah jika dibandingkan dengan Sasuke dan Itachi. Hanya saja Hinata perlu waktu lebih lama untuk mencerna informasi.

Dia baru duduk di bangku pertama sekolah menengah atas, mengambil kurikulum nasional dan internasional untuk persiapan studi selanjutnya. Sekarang dia masih bimbang akan melanjutkan kuliah di mana, tetapi dia sudah berjaga-jaga. Nilai ujian dari kurikulum nasional dapat dia gunakan untuk mendaftar kuliah di dalam negeri, dan nilai ujian kurikulum internasional ia butuhkan jika ia ingin melanjutkan ke luar negeri, mungkin untuk memenuhi harapan besar sang Ayah mengambil jurusan bisnis.

Ayah Hinata memang berharap besar, tetapi beliau tidak pernah memaksa Hinata untuk melakukan hal tersebut. Ayah Hinata memberikan dukungan sepenuhnya demi masa depan Hinata nanti.

Hanabi sendiri saat ini sedang tidur di kamarnya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya sepulang sekolah untuk mengerjakan tugas dan tidur setelah makan malam.

Sungguh rutinitas yang membosankan.

.

.

.

Hinata membereskan barang-barang di kamarnya untuk bersiap tidur, dia merapikan kembali buku-buku yang ada di meja, mengembalikan buku bacaan ke dalam rak yang tersusun rapi seperti perpustakaan, memasukkan buku yang dia butuhkan besok ke dalam tas, dan menyikat gigi.

Hinata memandang pantulan cermin di hadapannya, dia membersihkan mukanya dengan micellar water yang ada di penyimpanan kamar mandi, kemudian dia mencuci muka menggunakan sabun muka dengan aroma lavender. Dia mengeringkan mukanya dengan hati-hati menggunakan tisu wajah. Setelahnya dia mengaplikasikan toner dengan menepuknya pelan di wajah, dan dia berjalan keluar dari kamar mandi.

Hinata kembali ke kamar tidurnya, dan pandangannya berhenti pada kolong tempat tidur. Ada sesuatu berwarna kuning yang menarik perhatiannya.

Hinata mendekat, dan ternyata sepasang sandal jepit pompom berwarna kuning ada di bawah kasur. Dia berjongkok, memandang benda itu tanpa berniat menyentuhnya, ia teringat dengan sosok laki-laki di rumah sakit yang memberikan sandal tersebut padanya. Saat itu adalah saat pertama kali ia bertemu dengan laki-laki tersebut.

'Toneri'

Hinata kemudian memasukkan sandal jepit kuning tersebut ke dalam sebuah kotak dan ia meletakkannya di dalam lemari yang paling bawah.

Hinata kembali lagi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian dia kembali melangkah menuju tempat tidur. Hinata duduk di tepi ranjang, melihat jam di mejanya, mengatur alarm, dan selanjutnya berbaring mencari posisi yang nyaman sembari menarik selimut yang hangat untuk menutupi tubuhnya. Dia bersiap menjemput mimpi dengan memejamkan matanya dan mematikan lampu kamar, tapi tidak, tidur yang berkualitas sebaiknya tanpa mimpi. Dia sudah cukup lelah dengan apa yang dia kerjakan hari ini. Dia berdo'a sebelum tidur agar tidurnya tidak bermimpi dan besok bisa bangun dalam keadaan segar.

Rutinitas seperti ini membuatnya tidak sempat menikmati kesenangan yang menggiurkan di luar sana, seharusnya dia memiliki banyak teman seumuran untuk sekedar bermain keluar rumah, bercerita hal-hal konyol, melakukan sesuatu yang menyenangkan, olahraga bersama, atau makan malam di cafe yang sedang hits. Hinata memikirkan hal-hal tersebut sejenak, tetapi mengingat banyaknya tugas dan kelas yang ia ambil, dia tidak bisa.

Hinata belum tertidur, pikirannya melayang ke mana-mana dan sekarang dia teringat, akhir pekan ini dia ada tugas kelompok untuk mengerjakan projek eksperimen Fisika. Beruntung sekali dia satu kelompok dengan Uchiha Sasuke, teman sebangkunya. Setidaknya dia laki-laki yang bisa diandalkan untuk projek yang melibatkan pekerjaan fisik. Tugas Eksperimen fisika kali ini adalah membuat rancangan percobaan beserta instrumen yang akan digunakan pada pokok materi kinematika.

Sasuke dan Hinata harus membuat instrumen untuk tema gerak jatuh bebas. Sejak minggu kemarin Hinata dan Sasuke sudah mencicil bahan dan literatur apa saja yang mereka perlukan. Minggu ini rencananya mereka akan merangkai alat dan menguji alatnya sebelum di demonstrasikan.

Tak lama kemudian, Hinata terlelap dengan cantiknya.

.

.

.

Sasuke masih belum tidur, ia asyik dengan soal matematika. Sasuke tidak akan bisa tidur sebelum rasa penasarannya hilang. Dia menikmati setiap angka dari proses pemecahan masalah yang ia tulis. Sasuke memiliki tulisan yang rapi, seperti huruf yang dicetak melalui mesin. Dia berpikir cepat, menulis cepat, tetapi hasilnya rapi.

Seperti kata orang, tulisan mencerminkan kepribadian. Kamar Sasuke tertata dengan baik. Kamar tersebut berisi perlengkapan tidur, meja belajar, lemari pakaian, dan beberapa rak buku yang tersusun rapi, komputer, laptop, dan printer juga ada di kamarnya.

Kamar tersebut bernuansa putih dan abu-abu. Tidak terlalu banyak perabotan dengan warna yang menonjol, kecuali sandal tomat berwarna hijau dan merah yang sedang dikenakan Sasuke. Ada sebuah jendela besar di dekat meja belajar, bila jendela tersebut terbuka yang akan tampak adalah pemandangan taman di belakang rumah dan kolam renang.

Kamar Sasuke berhadapan dengan kamar Itachi. Isi kamar Itachi tidak jauh berbeda dengan kamar Sasuke, ada beberapa pot kaktus menghiasi jendela kamar Itachi yang menghadap ke depan rumah. Di sana juga terdapat sebuah sofa berwarna putih, tempat Itachi sekarang terbaring dengan membaca buku. Itachi selalu melakukan hal tersebut setelah belajar, dan dia akan berakhir ketiduran di sofa, dan jika merasa mulai dingin, dia secara otomatis akan terbangun dan berjalan ke kasurnya.

.

.

.

Malam berganti pagi, kicauan burung tidak terdengar, tetapi kehangatan mentari menyapa siapapun yang masih meringkuk di dalam balutan selimut, Hinata tertidur nyenyak dan bangun dalam keadaan segar. Ia terbangun beberapa menit sebelum alarm yang dia atur berbunyi.

Melihat jam, ia mematikan alarm sebelum berbunyi, dan segera menuju kamar mandi. Dia mencuci tangannya, kemudian dia mencuci muka, dan menggosok gigi.

Hinata merasa bersemangat untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Sasuke. Kini dia memandang pantulan dirinya di hadapan cermin. Handuk masih melilit menutupi dada hingga pahanya. Dia mengeringkan rambutnya.

Sekarang Hinata berdiri di depan lemari pakaian, dia membuka semua pintu dan melihat pakaian apa yang bisa ia kenakan.

Sepertinya terusan putih bermotif bunga kecil berwarna biru muda menarik perhatiannya. Ia mengambil terusan selutut itu, dan mengenakannya. Kemudian dia bersiap di depan meja riasnya. Meski sekarang dia baru duduk di kelas 1 SMA, dia belajar merawat kulitnya dari Reiko-san.

Reiko-san sudah bekerja bersama keluarga Hyuuga sejak Hinata masih kecil, dan Reiko-san merawat Hinata dengan baik.

Hinata mengaplikasikan toner di wajahnya dan menunggu cairan toner tersebut meresap. Setelahnya dia mengaplikasikan pelembab yang sudah disertai dengan SPF. Kemudian dia mengenakan lipbalm di bibir mungilnya.

Hanya dengan langkah seperti itu, dia sudah terlihat cantik. Rona di pipinya sudah alami ada, sehingga ia tidak memerlukan blush on.

Hinata kemudian mengikat rambutnya tinggi-tinggi, merapikan poni ratanya dan dia sudah siap.

Hinata mengenakan kaos kaki putih dan sepatu kets biru muda. Kemudian keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan.

"Selamat pagi nona Hinata." Ucap Reiko-san pada Hinata yang duduk di salah satu kursi. Hinata kemudian tersenyum dan membalas sapaan Reiko-san.

"Selamat pagi Reiko-san."

Reiko-san menyiapkan sarapan pagi, berupa sandwich dan susu.

"Hanabi-chan belum bangun?"

"Sepertinya sudah nona,"

Tidak lama kemudian, Hanabi menyusul, masih lengkap dengan piyama tidurnya. Kelihatannya hari ini Hanabi tidak ada acara.

"Selamat pagi, nee-chan."

Hinata mengangguk singkat dan mengambilkan potongan sandwich di hadapan Hanabi. Kemudian mereka melakukan sarapan pagi dengan tenang, berbicara ringan tentang cuaca pagi ini dan kegiatan yang akan dilakukan masing-masing.

Setelah selesai sarapan, Hanabi kembali ke kamarnya, dan Hinata pergi ke rumah Uchiha Sasuke. Hinata diantar menggunakan mobil oleh supir pribadinya. Senyum di wajahnya masih saja belum hilang. Entah kenapa hatinya senang. Dia akan mengunjungi rumah Sasuke, mungkin saja dia bisa bertemu dengan Itachi, seperti minggu kemarin. Pipinya mulai terasa panas karena kini rona samar menghiasi pipi putih mulusnya.

.

.

.

Hinata sampai di kediaman Uchiha sekitar pukul 9 pagi, tepat waktu dengan janji yang ia buat bersama Sasuke. Setelah menekan bel, seorang penjaga membukakan gerbang dan supir Hinata memasuki halaman kediaman Uchiha.

Mikoto Uchiha terlihat berbinar menyambut Hinata datang. Mikoto baru saja berkebun di depan rumah.

"Hinata-chan... kau pasti mencari Sasu-chan?"

"Selamat pagi Mikoto-san, iya kami mau melanjutkan tugas kelompok minggu kemarin."

"Dia ada di kamarnya, kau bisa langsung saja menuju ke sana Hinata-chan," Mikoto kembali melihat penampilannya, dia masih belum selesai berkebun, tangan kanannya memegang sekop dan tangan kirinya memegang bunga yang hendak dia tanam, kakinya masih dipenuhi tanah basah. "Kamarnya ada di ujung tangga yang menghadap ke belakang."

"Apa tidak apa apa?"

"Sasu-chan sudah menyiapkan alat-alat yang diperlukan kemarin, dan dia membawanya ke kamarnya. Yahhh dia memang suka menghabiskan waktu di sana." Ucap Mikoto dengan senyum lebarnya.

Senyumnya mengingatkan Hinata dengan Itachi, mirip sekali.

"Terimakasih Mikoto-san." Hinata mengangguk hormat pada Mikoto seraya memasuki rumah.

Minggu kemarin, Hinata mengerjakan tugasnya bersama Sasuke di taman belakang dekat kolam renang. Sasuke ternyata orang yang kooperatif, meski populer dia tidak sombong, hanya saja dia sedikit cuek, dia sangat pandai dalam pelajaran yang melibatkan kemampuan menghitung. Dia selalu bisa menjawab pertanyaan sulit yang diberikan oleh guru ketika tidak ada satu pun murid lain di kelasnya sanggup menjawab. Mungkin lain kali Hinata akan meminta tolong dia untuk mengajari Sasuke tentang matematika.

Hinata menaiki anak tangga. Kediaman Uchiha sedikit lebih luas dari rumahnya. Banyak perabotan cantik menghiasi rumah ini, tampaknya bibi Mikoto sangat senang mendekorasi rumah. Foto keluarga Uchiha pun terpasang rapi di dinding sepanjang tangga yang menghubungkan lantai pertama dan lantai kedua. Tepat di ujung tangga terdapat rak besar yang tinggi, rak tersebut berisi piala dan medali yang pernah diraih oleh Sasuke dan Itachi.

Juara 1 tingkat regional

Juara 1 tingkat provinsi

Juara 1 tingkat nasional

Gold medal tingkat internasional

'Mereka makan apa waktu kecil? Apa mereka makan soal?' batin Hinata heran dan takjub melihat rentetan medali dan piala yang seolah mengintimidasinya. Seumur hidup pun Hinata belum pernah memperoleh medali.

Di kanan dan di kiri rak terdapat pintu.

"kamarnya ada di sebelah tangga belakang." Kata-kata Mikoto teringat, Hinata kemudian mengetuk pintu dan membuka kamar di sebelah kirinya.

"Sasuke-kun?"

Hinata menengokkan kepalanya ke dalam kamar, dan mendapati seseorang masih tertutup selimut di atas kasur. Ia mencium wangi yang familiar.

"Kapan kita akan bekerja kelompok?"

Tidak ada jawaban. Mungkin Sasuke masih terlelap.

Hinata mendekat mencoba membangunkan Sasuke. Hinata menepuk pelan tubuh Sasuke untuk membangunkannya. Namun ia malah semakin mengeratkan selimut yang telah menutupi seluruh badannya hingga ke kepala.

"Sasuke-kun?"

Hinata beranjak pergi, bermaksud memanggil Mikoto. Namun yang terjadi adalah ia yang terjatuh ke kasur karena tangannya ditarik oleh Sasuke.

Tunggu dulu

Rambutnya panjang, tidak pendek seperti Sasuke.

Bulu matanya lebih lentik daripada bulu mata Sasuke.

Dia bukan Sasuke,

Dia Itachi!

Sontak muka Hinata memerah.

Jangan panik! Jangan panik! Jangan panik Hinata, bernafas! Hinata menarik nafas dan mencoba bangkit. Sepertinya Itachi tidak sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang.

Wajah Hinata sangat dekat dengan Itachi, dia bisa merasakan hembusan nafas Itachi yang teratur. Bohong jika dia tidak terpesona dengan pemandangan yang disuguhkan di hadapannya, ditambah bau permen karet yang manis, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya, dia merinding merasakan satu tangan Itachi berada di pinggang rampingnya. Kedua tangan Hinata berada di dada bidang Itachi yang berbalut piyama hitam bermotif awan merah. Ketika Hinata mencoba bangun, Itachi malah semakin mengeratkan tangannya dengan memeluk Hinata. Kini Itachi meringkuk seperti bayi yang mencoba menyelipkan kepalanya di leher Hinata.

"Apa yang dilakukan seorang perempuan di kamar laki-laki sepagi ini?" Itachi berbisik dengan suara yang serak di leher Hinata.

Hinata semakin merinding. Rona merah menghiasi pipinya, detak jantungnya tidak teratur. Mungkin Itachi mendengarnya. Hinata menarik nafas dalam-dalam dan selanjutnya dengan sekuat tenaga mendorong Itachi hingga dia terjatuh dari ranjang.

"Ah... ittai.." pekik Itachi kesakitan sembari mengelus pantatnya yang mendarat dengan sempurna di atas karpet berbulu di kamarnya.

Hinata kemudian berdiri dari ranjang Itachi dan membungkuk hormat pada Itachi, memohon maaf atas kelancangannya memasuki kamar Itachi.

"Gomenasai-senpai-saya-salah-masuk-kamar." Hinata berucap tanpa spasi, tanpa gagap, dan sangat cepat, ia langsung berlari menuju ke arah pintu tanpa menatap Itachi yang kini mukanya terlihat menahan sesuatu.

Itachi hanya diam melihat Hinata berlari ke arah pintu dan membanting pintu pelan setelah dia keluar, meninggalkan Itachi yang sudah dalam kondisi darurat.

Itachi melihat kebawah, dan mengerang pelan mendapati sesuatu di bawah sana terlihat menonjol. Dia ingin mengumpat. Lain kali dia akan mengunci pintu sebelum tidur. Kini ia berdiri menuju ke kamar mandi dan menutupnya dengan keras.

"Fuck" umpatnya dengan pelan seraya mengurus sesuatu yang menegang di bawah sana.

"Why she smells so damn good. Uh..." Itachi mengerang frustasi dan mengguyur badannya dengan air dingin, berharap ingatannya tentang Hinata segera enyah dari pikirannya. Dia yakin, beberapa hari ke depan dia tidak bisa berhenti memikirkan Hinata.

.

.

.

Hinata keluar dari kamar Itachi dengan pipinya yang bersemu merah. Jantungnya masih berdetak dengan liar. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba mengeluarkan Itachi dari kepalanya. Mengatur nafasnya, dia berjalan ke pintu di depannya. Mengetuknya perlahan.

"Sasuke-kun? Ini Hinata."

"Masuk," terdengar balasan dari balik pintu.

Hinata membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Sasuke. Pemandangan di kamar Sasuke tidak terlihat beda dengan kamar Itachi. Kasur dengan bedcover berwarnya navy tertata rapi, namun kini mata Hinata langsung terfokus pada alat yang sudah dirangkai Sasuke.

Aroma musk tercium ketika Hinata mengambil langkah mendekati Sasuke. Berbeda dengan Itachi, Sasuke terlihat segar, rambutnya yang biasa mencuat kini jatuh sedikit menutupi mata lelaki itu.

"Aku memasang sensor gerak di sini." Ucap Sasuke menunjukkan bagian yang di maksud.

"Berarti ketika nanti ada benda yang melewatinya kita bisa mencatat waktu yang diperlukan?" Hinata bertanya kepada Sasuke, dan dia menjawab ya dengan singkat.

Sasuke menyalakan laptopnya untuk membuka aplikasi yang akan mereka gunakan untuk menganalisis data yang mereka ambil, dia meminta Hinata untuk menyiapkan bola besi yang akan mereka uji.

"tekan tombol ini, dan bola besi akan terjatuh karena medan magnet sementara yang terbentuk akibat aliran listrik akan menghilang."

"kenapa kita tidak menjatuhkannya saja dengan tangan?" tanya Hinata penasaran. Dia merasa tidak enak karena Sasuke sudah sampai sejauh ini tanpa bantuannya.

"untuk menghindari adanya kesalahan gaya eksternal."

Hinata pun mengangguk, dia segera mengatur posisinya. Kini pikirannya sepenuhnya teralihkan dari Itachi.

Sasuke diam-diam mengamati Hinata.

Dia terlihat cantik dan manis. Aroma lavender tercium, dan dia menyukai aroma itu. Rambut Hinata sekarang sepanjang bahu, poninya rata, kulitnya putih pucat, matanya sedikit keunguan, dan pipinya gembil meski kakinya sangat ramping. Hinata jarang mengikat rambutnya ke atas, biasanya dia selalu membiarkan rambutnya tergerai.

Tanpa sadar Sasuke memperhatikan leher putih mulus Hinata, dan setelahnya, dia memalingkan muka dengan semburat merah samar di wajahnya.

Apa yang kau pikirkan Sasuke?

"Ah iya, sensor ini namanya light gate. Satu ujungnya sebagai pemancar, sinar infrared dan ujung lainnya sebagai penerima. Ketika bola jatuh maka sinar infrared akan terputus dan selanjutnya akan mentrigger rangkaian untuk mencatat waktu mulainya. Light gate kedua juga berprinsip kerja demikian dan fungsinya menghentikan pencatat waktu. Dengan begitu kita akan mendapatkan data yang akurat."

Hinata hanya mendengarkan penjelasan Sasuke dengan mata membulat karena heran. Sasuke baru saja ada di tingkat pertama SMA tapi dia sudah berpemikiran seperti mahasiswa.

"Sasuke-kun, kenapa sinarnya disebut infrared? apa warnanya merah?"

"Begitulah."

"Tapi kenapa kita tidak bisa melihatnya?"

"Karena frekuensi sinar infrared lebih rendah dari frekuensi cahaya tampak."

"Padahal aku ingin melihat, seperti apa sinar infrared itu."

"Hm, tunggu sebentar."

Sasuke menghubungkan alat yang sudah dirangkai ke sumber tegangan. selanjutnya dia mengambil ponsel dan membuka kamera ponselnya, ia mengarahkannya pada light gate, dan di sana tampak terdapat sinar berwarna merah menghubungkan ujung pemancar dan penerima.

"Lihat lah."

Hinata tampak takjub dengan apa yang ditunjukkan Sasuke. Dia tidak menyadari bahwa ekspresinya sangat menawan.

"Baiklah, mari kita ke langkah selanjutnya."

Hinata dan Sasuke selanjutnya melakukan eksperimen dan larut dalam keseriusan.

.

.

.

Beberapa jam berlalu, Hinata terlihat puas dengan data yang diperoleh. Ternyata mereka bisa juga menentukan percepatan gerak jatuh bebas yang juga disebut percepatan gravitasi dengan percobaan yang mereka rancang ini.

Mikoto mengetuk kamar Sasuke dan membukanya, mengantarkan puding jeruk yang aromanya langsung membuat Hinata merasa lapar.

"Hinata-chan, Sasu-chan kalian serius sekali, kalian pasti lapar." Mikoto tersenyum dan meletakkan puding tersebut di meja belajar Sasuke.

"Ini spesial, buatan bibi. Kau harus mencobanya."

"Terimakasih." Hinata menunduk dan tersenyum.

"Kalau begitu, selamat belajar. Semangat!" Mikoto kemudian keluar dari kamar meninggalkan Sasuke dan Hinata.

Kamar Sasuke jadi lebih sunyi sekarang. Hinata pun memutuskan untuk mencicipi puding jeruk yang berada di meja belajar.

Puding tersebut juga berisi nata de coco dan irisan buah buahan yang mempercantik tampilan puding dan membuat siapa saja ingin mencobanya.

Hinata mencoba sendokan pertamanya, dan benar sesuai penampilan dan aromanya, tidak terlalu manis tapi rasanya enak.

"Sasuke-kun, pudingnya enak." Ucap Hinata pada Sasuke.

"Kau boleh menghabiskan semuanya."

"Benarkah? Terimakasih!" Hinata dengan semangat menghabiskan puding itu.

Sasuke memperhatikan Hinata yang makan puding dengan lahap. Dan rasanya ada detak jantung yang tidak biasa, kenapa Hinata terlihat cantik saat dia makan?

Kemudian, tiba tiba seseorang mengetuk pintu dan masuk ke kamar Sasuke.

"Sasuke, apa kau punya penggaris? Penggarisku patah."

"Di meja, ambil saja nii-san."

Itachi kemudian masuk dan menuju ke meja Sasuke untuk mengambil penggaris. Penampilannya sekarang berbeda, Itachi terlihat lebih segar dan dia mengenakan kaos hitam panjang , dan baggy pants berwarna hitam. Hinata langsung menunduk karena teringat kejadian sebelumnya. Dia mengatur nafas dan mencoba bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Itachi menyadari sikap canggung Hinata. Kemudian Itachi berjalan keluar kamar Sasuke. Sasuke kembali fokus pada layar laptopnya dan merapikan data pada tabel. Hinata masih mengunyah pudingnya, dan beberapa menit kemudian Itachi mengetuk pintu lagi.

"Sasuke, apa kau punya penghapus?"

"Ada, di meja."

Itachi berjalan ke meja dan mengambil penghapus. Hinata masih mengabaikan keberadaan Itachi. Merasa tidak mendapatkan reaksi dari dua manusia yang lebih muda darinya, kini dia menarik ikat rambut Hinata, kemudian berlari dengan cepat ke arah pintu dan kabur.

"Yaaa!" Hinata menjerit kesal dan kini rambutnya tergerai dengan indah menutupi lehernya. Itachi tertawa dengan sangat keras. Sasuke hanya menahan senyumnya. Hinata tampak kesal dengan mulutnya yang masih mengunyah puding.

Beberapa menit kemudian Itachi memasuki kamar Sasuke dan mengembalikan penghapus beserta ikat rambut Hinata.

Hinata mengabaikan Itachi, dia kini berdiri mendekat ke Sasuke dan berpura-pura menanyakan bagaimana grafik dari data yang dihasilkan.

Itachi berdiri menunggu, namun Hinata tidak juga memperhatikannya dan meminta ikat rambut itu kembali.

Kemudian Itachi menyerah dan dia memutuskan untuk keluar kamar.

Sasuke menutup mulut dan menahan tawanya.

"Hinata, kau pintar sekali." Sasuke berucap pada Hinata di sampingnya, dia mengusap kepala Hinata seperti mengusap kepala anak kecil.

Hinata ikut tertawa. Kenapa dia seperti merasa hangat setiap bersama keluarga Uchiha?

'Sasuke-kun orang yang menyenangkan, tidak seperti Itachi-kun yang mesum!'

.

.

.

Hinata berpamitan pulang pada Mikoto Uchiha, dia dijemput oleh supir pribadinya. Sebelum pulang, Hinata mampir ke sebuah toko alat tulis. Dia hendak membeli beberapa container untuk menyimpan barang-barangnya yang perlu dia bereskan di kamar.

Mobil Hinata terparkir di seberang jalan, dan untuk menuju ke toko tersebut Hinata harus menyeberang. Dia meminta supirnya menunggu sebentar, dengan membawa dompet dan ponsel miliknya, ia keluar dari mobil.

Saat hendak menyeberang, tiba-tiba ponselnya berdering. Jalanan sedikit ramai dengan banyak kendaraan yang melintas. Hinata tidak mendengar ponselnya berdering, tetapi dia merasakan getaran telepon.

Hinata melangkah ketika jalanan sepi, dia juga dengan cepat mengangkat panggilan ponselnya.

"Moshi-moshi,"

"Hinata-chan, apa kau sudah sampai?"

"Ah... aku mampir sebentar ke toko alat tulis."

Hinata terfokus pada panggilan telepon dan dia tiba-tiba dari sisi kanan ada motor yang datang dengan kecepatan tinggi membunyikan klakson.

Kejadian ini sangat mirip di drama-drama, sangat klasik. Semua berlangsung sangat cepat.

Ponsel Hinata terjatuh dalam keadaan panggilan tersambung.

Suara 'brak' terdengar dan ada suara orang yang menjerit.

"Hallo, Hinata?"

"..."

"Hinata!"

"..."

Tut tut tut tut

Kemudian panggilan tersebut terputus karena ponsel Hinata sudah mati terlindas mobil.

.

.

.

Bersambung

Notes

Hai, Seharusnya update malam Senin, tapi ternyata tidak bisa. Mohon maaf. Aku akan berusaha lebih baik lagi di chapter selanjutnya. Terimakasih sudah membaca.