I'm not the owner of Naruto's character. Naruto belong to Masashi Kishimoto. I borrowed the Naruto character for alternate universe.

Warning

Chapter ini mengandung adegan dewasa. Pembaca di bawah umur harap bijak dan tidak membaca adegan di bawah ini demi kesehatan psikologis dan menghindari kecanduan akibat hormon yang tidak terkontrol. NOT SAFE FOR WORK. Silahkan baca ketika anda sedang sendirian.

.

.

.

Itachi terbangun karena merasa ada hal yang tidak beres dengan dirinya. Dia merasa suhu tubuhnya bertambah dan keringat kecil mulai keluar dari pori-pori. Rambutnya sedikit basah, pipinya merona menyaksikan pemandangan yang ada di depannya.

"Hi...Hina...ta-chan? Apa yang kau lakukan?"

Orang yang ditanya hanya melirik dengan mata bulatnya. Menatap Itachi dengan pandangan yang sulit diartikan. Terdiam dan kembali melanjutkan aksinya memberikan jilatan kucing pada bagian bawah Itachi yang sudah marah entah sejak kapan.

Itachi mendongakkan kepalanya karena sensasi geli dan kupu-kupu menggelitik perutnya. Melihat keadaan di sekelilingnya, Itachi sadar dia masih ada di dalam kamarnya. Dia membungkam mulutnya menahan segala perkataan yang ingin keluar.

Kenapa dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini, seharusnya dia menghentikan apa yang dilakukan Hinata terhadapnya. Ini tidak boleh, bagaimana jika ibunya mengetahui?

Itachi kembali melihat ke arah bawah. Ia tidak tahan dengan Hinata yang hanya memberikan jilatan kecil-kecil. Ia ingin lebih, tapi rasanya sekujur tubuhnya lemah dan tidak bisa digerakkan, dia masih demam.

Hinata menghentikan aktifitasnya, kemudian menatap Itachi dengan paras ayunya yang sudah dihiasi rona merah dan sedikit precum di sekitar bibirnya.

"Itachi-kun, aku akan merawatmu agar kau cepat sembuh."

Itachi terpana, kata-kata sederhana itu membuat jantungnya seperti diserang secara tiba-tiba, detaknya seirama dengan detak orang yang bergerak jatuh bebas.

"Hinata-chan, kau..." belum selesai menyanggah perkataan Hinata dengan sisa-sisa logikanya yang masih bisa dikendalikan, Hinata sudah terlebih dulu meletakkan telunjuknya di belahan bibir Itachi.

"Sssstttttttttt..."

Hinata mendekatkan wajahnya ke wajah Itachi. Bibirnya menyapu belah bibir Itachi yang sedikit kering karena ia demam dan kekurangan cairan tubuh. Sapuan bibirnya terasa lembab dan lembut. Itachi serasa lumpuh karena tidak siap dengan apa yang ada di depannya.

Itachi kembali terhenyak, merasakan kepalanya bertambah pening diperlakukan demikian oleh Hinata. Dia tidak menyangka Hinata yang terlihat pemalu memiliki sisi liar seperti ini. Logikanya kembali mengelak, 'Ini tidak mungkin! Ini pasti hanya mimpi! Aku harus bangun.'

Itachi melihat Hinata hanya berjarak beberapa inci darinya, ia merekam semua adegan di depan matanya.

Hinata dengan mata terpejam.

Hinata dengan rona merah yang kentara.

Hinata dengan nafas yang terengah-engah.

Hinata dengan tangannya yang meremat baju Itachi.

Hinata yang lugu dan manis, tetapi menggoda.

"Hmmmmhhh"

Cicitan desah Hinata tertangkap oleh gendang telinga Itachi. Itachi tidak akan pernah melupakan hal ini barang sedetik pun.

Itachi masih diam, Hinata yang melakukan semuanya. Mengecup, sedikit menjilat bibir Itachi yang terasa kering, melumat perlahan, menunggu respon Itachi yang masih berperang dengan logikanya.

Akhirnya Hinata melepaskan bibir Itachi dan sedikit menjauhkan wajahnya.

"Itachi-kun? Apa kau marah? Maafkan aku, Sasuke-kun tidak sengaja menciumku, seharusnya aku menahannya." Hinata sedikit merengut, karena Itachi masih tidak mengatakan apa-apa.

Hinata tak kunjung mendapatkan respon, ia sedikit ragu melanjutkan kegiatannya. Ia berjengit membuat kasur Itachi sedikit bergerak, namun yang terjadi selanjutnya benar benar mengejutkan. Seperti mendapat energi yang melimpah, Itachi terbangun dan membalik posisinya yang semula terbaring pasrah berada di atas dengan Hinata yang membulatkan mata karena keterkejutannya.

Tanpa mengatakan apa-apa, Itachi memagut Hinata dalam ciuman panas. Tangannya tidak diam, pusing yang dia rasakan sebelumnya seperti menguap. Pagutan itu berganti menjadi lumatan-lumatan tak beraturan.

Tangan Itachi melukiskan jejak panas di permukaan kulit porselen Hinata, dress yang ia kenakan sudah tak karuan bentuknya karena tersingkap hingga ke dada. Selangkangannya terasa berkedut ngilu dengan pemandangan ini.

Logikanya sudah tergelincir bebas, dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Persetan dengan mimpi atau bukan. Yang jelas dia tidak akan menyianyiakan Hinata.

Ruangan terasa semakin panas dengan permainan yang mereka ciptakan.

Itachi kembali terduduk, membantu Hinata bangkit dan memposisikan kepala Hinata kembali ke selangkangannya.

Tanpa perlu dijelaskan keinginan dan maksud Itachi, Hinata sudah paham. Ia membuka mulutnya dan mulai memasukkan benda tumpul yang sudah marah sejak awal ke dalam mulutnya. Seketika Itachi merasakan kehangatan menyelimuti batang keras miliknya. Itachi sedikit merilekskan tubuhnya dan membiarkan Hinata memajumundurkan kepalanya.

Sesekali Hinata menghisap ujung kepala kejantanan Itachi. Lidah Hinata juga ikut andil dalam aksinya memanjakan kakak kelasnya itu.

Itachi merasakan sensasi yang luar biasa ketika sesuatu ingin menyembur keluar, dia pun memegang rambut Hinata dan mempercepat gerakan Hinata.

"Ahhhh!" Itachi terus mengeram, sensasi luar biasa itu dapat ia rasakan hingga ke ujung kakinya. Ia terus mempercepat gerakan kepala Hinata hingga gadis manis itu tersedak ketika Itachi mencapai putihnya.

"Aahhhhh..." desah kelegaan menandakan kepuasan yang dirasakan oleh Itachi.

Hinata mendongak dan membuka mulutnya sembari menatap Itachi, putihnya berada di ujung lidah. Sebagian sudah tertelan, dan yang dirasakan adalah cairan kental yang sedikit pahit, asin, dan manis. Rasa yang sudah dikecap itu mengalir keluar bersama ludahnya yang berantakan hingga ke leher.

Batang yang sebelumnya marah itu terlihat lebih jinak sekarang, dan Hinata sedikit merajuk karena dia belum puas.

"Itachi-kun...kenapa dia sudah tertidur."

"Shhhhhh, Hinata-chan. Apa yang kau lakukan padaku?"

.

.

.

Hinata terbaring dengan kedua kaki terbuka. Itachi sedikit menyingkap celana dalam dengan hiasan renda berwarna putih itu, ternyata bukan hanya dia yang sudah tidak sabar, Hinata juga sudah basah dengan pelumas alami berwarna bening.

Rasa penasaran menghampiri Itachi, ia pun mengelus bagian terintim Hinata dengan telunjuknya, sangat pelan.

Hinata menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya. Jemari Itachi terus bergerak perlahan menyusuri bagian kewanitaan Hinata, dan ketika ia sampai di tonjolan kecil di atas lubang yang basah itu, Hinata menahan nafasnya. Nafasnya semakin berat dan dia meremat sprei di ranjang Itachi.

Itachi mengelus kulit di samping tonjolan tersebut, dan Hinata serasa ingin menutup kakinya rapat rapat. Sensasi geli yang tidak tertahan membuat Hinata menegangkan tubuhnya.

Itachi pun mengelus perut rata Hinata dengan tangannya, bermaksud memberikan afeksi agar gadis manis itu lebih rileks dan menikmati hal ini.

Hinata mengatur nafasnya dan kembali rileks. Kemudian Itachi tanpa ragu melanjutkan aksinya dengan mengelus-elus kulit yang kini sudah sepenuhnya basah dan licin.

Hinata masih terfokus mengatur nafas yang tidak beraturan, tubuhnya masih menegang menahan geli tidak karuan di bagian bawahnya.

"I...Itachi-kun, please... jangan disitu ahhhhh." Erat-erat Hinata memejamkan mata, menyalurkan seluruh sensasi surgawi yang belum pernah di rasa sebelumnya.

Tubuh Hinata semakin menegang dan akhirnya ia melengkungkan tubuhnya ke belakang, menjerit tertahan dengan cairan kental berwarna putih mengalir keluar.

"Aaaaaaaakhh!"

"Kau klimaks hanya dengan elusan seperti ini Hinata-chan? Sugoi..." Itachi bertanya dengan seringai tipis di bibirnya. Sedangkan Hinata masih berada dalam atas awan, menikmati sisa-sisa orgasme pertamanya.

Segala yang ada di hadapan Itachi terlihat begitu indah. Aliran darah terasa berdesir di selangkangan Itachi, sehingga tak lama kemudian ia merasa batangnya sudah kembali terbangun. Itachi sedikit mengelus batangnya, dan sepertinya batangnya juga sangat bersemangat. Ia memposisikan batangnya tepat di depan pintu kenikmatan Hinata.

Perlahan-lahan, dia memasukkan kepala kejantanannya. Melihat reaksi Hinata yang menahan nafas. Kehangatan kembali menyelimuti batang Itachi yang sudah tegang sempurna.

Seprei yang sedari tadi menjadi pelampiasan Hinata menyalurkan rasa frustasi akan kenikmatan yang baru sudah tak berbentuk. Sangat kusut seperti keadaannya yang tidak karuan.

Itachi sedikit menarik mundur kepala kejantanannya, kemudian ia mendorong perlahan hingga kejantanan sepanjang 14cm itu sudah benar benar tenggelam dalam ruang kenikmatan yang hangat dan lembut. Serasa di tekan dari segala penjuru, baik Itachi maupun Hinata menekuk alis dan memejamkan mata.

"Hinata-chan rasanya ini luar biasa."

"Ahhhhhhh"

.

.

Fantasi Itachi pun berlanjut sampai dia sadar celananya basah setelah mencapai putihnya. Itachi terbangun dari mimpi paling liar yang pernah dia alami. Demamnya benar benar sudah turun. Dia menghela nafas dengan kesal karena hal tersebut benar-benar mimpi.

Merasakan celananya yang basah, dia pun perlahan bangkit dari ranjang dan mendudukkan diri sejenak. Otaknya memaksa untuk mengingat setiap detil kejadian yang ada pada impinya. Memutar seluruh rangkaian gambar mirip sekali video porno yang biasa ia tonton sembunyi-sembunyi di kamar mandi.

Ia pun mendengus seraya meraup wajahnya dengan kasar, mengeluarkan rancauan tidak jelas yang mencerminkan rasa frustasinya.

Bagaimana jika nanti dia bertemu dengan Hinata?

Bayangan Hinata kembali muncul dalam benaknya.

mata terpejam.

rona merah yang kentara.

nafas yang terengah-engah.

tangannya yang meremat baju Itachi.

manis, tetapi menggoda.

"Selamat pagi dunia, aku akan baik baik saja hari ini. Seperti biasanya."

Kata-kata Itachi seperti mantra, dia kembali bisa mencerna pikirannya dan mengingat jadwal pelajaran hari ini.

"Hari ini ada pelajaran Sastra, Biologi, dan Matematika."

Itachi benar benar lupa dengan patah hati yang dia rasakan kemarin.

.

.

.

To Be Continue