Daiya no A belongs to Terajima Yuuji
PERHATIAN!
AU! Typo, OOC, dll.
Selamat membaca!
august
.
Bola baseball itu dipukul sampai melambung jauh. Miyuki Kazuya, 10 tahun, melihat Ayahnya dengan tatapan protes.
"Kenapa Ayah memukulnya sampai jauh?" protesnya.
Ayahnya hanya mengangkat bahunya dan menampilkan ringisan tidak enak. "Maaf, maaf. Sepertinya Ayah terlalu bersemangat," kata Ayahnya.
Miyuki Kazuya menaruh gloves baseball-nya di rumput dan mulai berlari kecil menuju sebuah bangunan bergaya jepang tua tempat bola baseball dipukul.
"Hati-hati! Jangan lari-lari!" seru Ayahnya di padang rumput tempat mereka berdua bermain catch ball bersama.
Udara di bulan Agustus begitu lembab. Musim panas telah datang dan anak-anak sekolah sedang menikmati libur musim panas. Di padang rumput itu, banyak anak-anak sepantaran Miyuki yang sedang bermain juga. Ada yang bergerombol dengan teman, ada yang bersama dengan keluarganya.
Miyuki menaiki tangga dan berjalan ke jalan aspal. Beberapa sepeda melintas, dan terkadang ada juga sepeda motor. Miyuki terus berjalan sampai dia berada di samping bangunan jepang tersebut.
Di bagian depan bangunan tersebut tidak tampak ada tanda-tanda kehidupan dan Miyuki sendiri tidak begitu tahu bangunan apa ini. Miyuki berjalan mengitari bangunan tersebut sampai pada sebuah pagar setinggi 90 senti yang melingkari bagian belakang bangunan tersebut.
Rencana awal Miyuki adalah meminta maaf karena bola baseball-nya menyasar sampai sini dan mengambil bola itu lagi. Namun, Miyuki bahkan belum menemukan satu manusia pun yang ada di bangunan tersebut.
Pendengaran Miyuki terfokus ketika desingan angin dan suara sesuatu menancap. Anak lelaki itu menoleh untuk melihat sumber suara. Di dalam pagar setinggi 90 senti itu, terdapat sebuah lapangan yang lumayan besar untuk Kyudo, atau panahan. Suara yang didengar oleh Miyuki berasal dari anak panah yang menancap dengan lugas pada sasaran panah, tepat di tengah.
Miyuki menoleh pada seseorang, satu-satunya orang, yang berada di ruangan semi terbuka itu. Adalah seorang anak lelaki yang memakai Kyudo-gi berwarna putih dan Hakama. Anak lelaki itu mungkin seusia dengan Miyuki. Dia sedang mengambil busur baru dan bangkit dari posisi duduk bersimpuhnya dan mulai membidik. Tatapannya begitu fokus dan dia juga tidak sadar bahwa Miyuki sedang melihatnya.
Lalu, ketika dia sudah yakin, anak panah itu dilepaskan dari busur dan senar. Anak panah itu melesat tegas dan cepat sampai menancap di sasaran panah. Suaranya persis sama seperti yang Miyuki dengar tadi. Busur yang dipakai oleh anak itu berputar sempurna ke belakang, sungguh indah.
Namun, yang lebih indah bagi Miyuki Kazuya kecil saat itu adalah si pemanah itu. Dia berambut coklat, seperti warna tanah yang baru saja digemburkan oleh para petani. Ada setetes keringat menetes dari pelipisnya, mengucur turun menuju pipi dan dagunya sampai menetes dan membasahi Kyudo-gi-nya. Lalu, bola mata itu bergulir dan tatapan mereka berdua bertemu, untuk pertama kalinya.
Warna dari bola mata itu merupakan warna terindah yang pernah dilihat oleh Miyuki. Bola matanya tidak coklat seperti orang Asia pada umumnya. Warna dari bola mata anak lelaki tersebut adalah emas. Warna emas yang sangat berkilauan, persis seperti perhiasan emas milik Ibunya yang selalu dipakai untuk menghadiri acara-acara besar. Miyuki mungkin tidak sadar bahwa sejak dia melihat anak itu, dia tidak bernapas dengan baik.
"Mencari siapa?"
Pertanyaan itu menyentak Miyuki. Itu bukan suara di anak lelaki, tetapi suara itu datang dari belakangnya. Ketika Miyuki menoleh, seorang pria dewasa berdiri di belakang Miyuki, menatapnya dengan penuh pertanyaan. Otak Miyuki kosong.
"Oh… saya…" katanya terbata. Dia berusaha mengumpulkan kesadarannya yang terpecah akibat menonton anak lelaki yang sedang berlatih Kyudo. Dia berdeham. "Saya ingin mengambil bola baseball yang terlempar sampai sini," katanya dengan jelas.
Lelaki itu mengangguk paham. Dari tangan kirinya, dia menyodorkan sebuah bola kecil berwarna putih yang sangat familiar bagi Miyuki. "Ini yang kau cari?" tanyanya.
Miyuki mengangguk. "Iya," katanya, "terima kasih paman!" Dia membungkuk hormat.
Lelaki dewasa itu tertawa. "Tidak perlu sampai seperti itu," katanya melambai santai, "lagipula sekarang memang musim panas. Bola-bola beterbangan masuk ke bangunan ini juga sudah biasa," jelasnya.
Miyuki mengangguk. Dia melirik lagi anak lelaki yang berada di Kyudojo. Anak lelaki itu sudah tidak menatap Miyuki lagi. Dia kembali duduk bersimpuh, mengambil panah, memposisikan anak panahnya di antara busur dan senar busur, dan bangkit perlahan-lahan. Setiap gerakannya lembut dan sangat bermartabat. Miyuki sekali lagi terbuai.
Pundaknya ditepuk pelan oleh lelaki dewasa di sebelahnya dan Miyuki baru sadar kalau dia bengong dari tadi. "Apa masih ada lagi yang nyasar sampai ke sini?" tanya lelaki itu.
Miyuki menggeleng pelan dan kaku. Dia masih ingin melihat anak lelaki itu menembakkan anak panahnya ke sasaran panah. Dia ingin mendengar suara desingan angin ketika anak panah melintas kuat dan menancap di sasaran panah. Namun, kondisinya tidak memungkinkan.
"Terima kasih paman," kata Miyuki sekali lagi, "maaf merepotkan."
Lelaki dewasa itu tertawa. "Sudah kubilang, santai saja. Ayo, aku akan mengantarmu ke depan," tawarnya.
Lelaki dewasa itu berjalan lebih dulu dari Miyuki. Miyuki, untuk terakhir kalinya, menatap anak lelaki yang sudah menembakkan hampir 10 anak panah. Semuanya tepat di tengah sasaran panah. Mata mereka sudah tidak bertemu lagi. Miyuki Kazuya kecil mengikuti langkah lelaki dewasa di depannya.
Hari itu, di awal bulan Agustus, di musim panas, untuk pertama kalinya, Miyuki Kazuya, 10 tahun, jatuh cinta pada pandangan pertama.
.
august
.
"STRIKE! BATTER OUT!" suara tegas dari wasit di belakang Miyuki membuat bench Seidou bersorak-sorak senang. Batter yang berdiri di batter box mendesah kecewa dan kembali mundur. Miyuki menyeringai senang karena bola yang dilempar oleh Furuya Satoru terasa sangat pas di dalam gloves catcher miliknya.
"Nice ball!" seru Miyuki sambil melempar bola putih itu ke arah mound. Furuya menangkapnya dengan kepayahan.
Pertandingan latihan itu terus berlangsung selama 30 menit lagi, sebelum Seidou diumumkan keluar sebagai pemenang. Bench bersorak-sorak dan para fielder berlarian ke tengah lapangan sambil merangkul Furuya. Si pitcher sendiri, Furuya Satoru, hanya menampilkan wajah sedatar tembok.
"Kemenangan 10 berturut-turut!" seru Kuramochi Youichi senang. Setelah euforia kemenangan itu selesai, kedua tim berbaris rapi dan saling membungkuk sekali lagi, sebagai rasa terima kasih untuk pertandingan yang terjadi. Tim Seidou kembali ke bis dan menuju asrama sekolah.
"Kerja bagus kalian semua," puji Kataoka Tesshin, pelatin utama mereka. Dia tersenyum senang tetapi juga terkesan menantang. "Untuk pertandingan lusa, Kawakami akan menjadi starting pitcher, lalu dilanjut oleh Toujou," jelasnya.
Saat ini mereka sedang melakukan evaluasi pertandingan sekaligus briefing untuk pertandingan selanjutnya. "Musim panas sudah di depan mata, kita juga akan mempersiapkan semuanya. Kita akan mempertaruhkan semuanya di musim panas!" tegasnya.
"Kita menangkan tiket ke Koshien dan jadi yang paling kuat di musim panas ini!"
Musim panas.
Sudah menjadi tradisi di Jepang, bahwa musim panas adalah musim dimana semangat para anak muda berkobar dalam euforia pertandingan. Musim panas bagi para siswa Jepang merupakan sebuah medan perang dimana kau membuktikan diri menjadi yang terkuat. Semua hasil latihan ratusan jam, berbulan-bulan, akan dikerahkan semuanya di musim panas. Musim panas begitu berarti bagi para pelajar, termasuk Miyuki Kazuya.
Kuramochi merangkul Miyuki bersahabat. "Kenapa Kapten kita? Sudah memikirkan strategi rumit untuk pertandingan lusa?" tebaknya.
Miyuki hanya menanggapinya dengan senyuman. "Aku memikirkan berdiri di Koshien bersama dengan tim ini dan membawa nama sekolah kita," jawabnya jujur.
Kuramochi tertegun untuk sesaat mendengar ucapan Miyuki, sebelum kesadarannya kembali dan merangkul leher itu erat-erat sampai Miyuki kehabisan napas.
"Apa-apaan kau? Jadi sok romantis begini!" protesnya, "geli tahu!"
"Sakit Kuramochi," kata Miyuki sambil berusaha melepaskan diri. Kuramochi melepaskan rangkulan super kuat itu sambil berdecih.
"Kau sekarang mau jadi kapten sok bijak?" ejeknya.
Miyuki mengangkat bahunya. "Kenapa tidak?" balasnya sambil tersenyum mengejek.
Kuramochi membuat gerakan pura-pura muntah. "Daripada kau sok bijak, lebih baik kau bagi jatah adil untuk para pitcher-mu tuh!" katanya. "Nori belum kebagian berlatih denganmu."
"Ara, ara. Kuramochi-kun rupanya perhatian juga ya~ Wakil Kapten memang beda," goda Miyuki sambil tersenyum mengejek.
Sebuah perempatan terbentuk di dahi Kuramochi. Dia mencekik Miyuki. "Itu karena kau pilih kasih dan semua orang tahu itu, BODOH!" geramnya.
Miyuki hanya tertawa saja menanggapinya. "Aku bisa mati kalau kau mencekikku terus," katanya.
"Bagus deh! Jadi para fans-mu tidak memenuhi pinggir lapangan lagi kalau begitu," desis Kuramochi.
Miyuki malah menyunggingkan senyum yang semakin lebar. "Kau cemburu ya, Mochi-chan?" tanya Miyuki.
Kuramochi memberinya tatapan yang sangat sangar dan menakutkan. Wajahnya begitu dekat dengan Miyuki, "jangan panggil aku dengan nama itu atau akan kusumpal mulutmu dengan sepatuku," ancamnya.
Miyuki pura-pura ketakutan. Dia bangkit dari kursinya. "Seram ah di sini. Kuramochi mainnya ancaman," katanya dan dia melesat ke luar ruangan.
Hari sudah menunjukkan pukul 6 sore dan para anggota klub juga sedang jam kosong setelah latihan tanding. Biasanya, para anggota utama dari baris satu melakukan latihan mandiri di lapangan indoor, seperti latihan memukul, angkat beban, dan lain sebagainya. Anggota dari baris dua dan baris tiga biasanya mengambil tempat agak jauh untuk latihan mandiri. Ada juga beberapa yang mengobrol santai sambil duduk di bangku pinggir koridor asrama.
"Nori," panggil Miyuki. "Ayo kita sempurnakan lemparanmu," ajaknya.
Kawakami Norifumi, yang sedang berbincang-bincang dengan Maezono Kenta, mengangguk. "Oke, aku akan mengambil gloves-ku," katanya.
"Aku ke bullpen duluan ya," kata Miyuki.
Miyuki berjalan menuju bullpen. Dia berpapasan dengan beberapa anggota baris kedua dan ketiga. Langit sudah mulai menampakan warna senja, biru tua bercampur dengan jingga. Awan-awan putih menjadi terbiaskan oleh warna yang indah. Tidak ada angin sore itu, dan udara lembab di bulan Agustus membuat suasana musim panas semakin terasa.
"Sawamura!"
Kanemaru Shinji, adik kelas Miyuki, berseru dari belakang Miyuki. Dia berlari kecil ke tempat seseorang sedang berdiri tegak di sebuah tiang listrik dekat dengan lapangan baseball, melewati Miyuki.
"Apa kau menunggu lama? Maaf," katanya, sayup-sayup terdengar.
"Tidak masalah," kata orang bernama Sawamura tersebut. "Kau masih latihan?" tanyanya.
"Tadi baru selesai briefing," jawab Kanemaru, "ini buku yang kau minta." Dia menyodorkan sebuah buku yang lumayan tebal. Lelaki bernama Sawamura itu mengambilnya.
"Terima kasih Kanemaru!" katanya riang. Dia membuka tasnya dan memasukkan buku itu ke dalam tas.
"Kau ada latihan hari ini?" tanya Kanemaru.
"Begitulah," jawabnya, "pertandingan musim panas sebentar lagi. Baseball juga seperti itu kan?"
"Semangat untuk kita berdua," kata Kanemaru. Lalu, dia segera kembali menuju arah asrama. Lelaki itu memposisikan tasnya agar lebih benar sebelum beranjak pergi dari tiang listrik tersebut.
Lalu, entah bisikan dari mana, tatapannya bertemu dengan milik Miyuki Kazuya. Tatapan mereka menjadi satu garis dan Miyuki merasa dirinya terhempas. Rasanya dia kembali ke sebuah musim panas di Nagano ketika dia berusia 10 tahun. Udara lembab, sebuah bangunan jepang tradisional, dan anak lelaki yang memiliki surai coklat dan bola mata sewarna emas.
Bola mata itu…
Itu warna yang sama dengan yang Miyuki lihat ketika dia berusia 10 tahun.
Mulut Miyuki Kazuya terbuka tanpa sadar. Dia begitu terpaku pada pemuda yang berdiri beberapa meter darinya, memakai seragam musim panas SMA Seidou, dan menatapnya dengan kedua emas yang menghiasi irisnya. Kupu-kupu mulai beterbangan di dalam perut Miyuki, mengaduk-aduk isi ususnya dalam sensasi yang menyenangkan.
"Miyuki!"
Panggilan dari Kawakami menyentaknya. Kawakami berjalan menghampiri catcher utama tim baseball Seidou. "Kau belum ke bullpen?" tanyanya.
Miyuki mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk memfokuskan dirinya yang sempat terbawa angin. "Oh ya," katanya, "ini juga baru mau."
"Kita jalan bersama saja," kata Kawakami. Miyuki mengangguk. Ketika dia berpaling untuk melihat lelaki itu, dia sudah tidak di sana lagi. Punggungnya sudah semakin jauh dan jauh menuju gedung utama sekolah.
Kupu-kupu yang berada di dalam perut Miyuki kembali hilang.
.
august
.
Kyudo, atau panahan, merupakan salah satu seni bela diri tertua yang berada di Jepang. Tidak seperti seni bela diri lainnya yang mengandalkan kekuatan fisik untuk menjatuhkan lawan, Kyudo merupakan seni bela diri yang memegang konsep meditasi dan berpusat pada semangat, kemurnian, dan konsentrasi. Tanpa konsentrasi yang terfokus, mustahil orang bisa bertahan dalam seni bela diri ini.
Sawamura Eijun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Dia ditempatkan di baris kelima, alias baris paling akhir. Orang keempat sedang menembakkan anak panah. Lalu, ketika selesai, dia kembali duduk dan Sawamura tahu bahwa ini adalah gilirannya.
Dia bangkit dengan pelan dan anggun. Anak panah diposisikan di tsuru dan mulai ditarik hingga sejajar dengan pipinya. Sasaran target berada di depannya. Sawamura tidak langsung menembakkan anak panahnya, tetapi memfokuskan semua atensinya pada papan sasaran di depannya. Suara-suara di sekitarnya menghilang dan dia berada di dalam kesunyian total. Dia hanya bisa mendengar napasnya yang teratur dan detak jantungnya.
Anak panah dilepaskan dan langsung melesat cepat menuju papan sasaran. Suara desingan itu bergema di Kyudojo.
"SHA!"
Semua anggota klub berseru keras ketika Sawamura berhasil. Suara-suara di sekitarnya mulai terdengar lagi dan Sawamura kembali dari konsentrasi yang luar biasa tersebut.
Latihan hari itu telah selesai. Para anggota klub mulai membereskan peralatan yang mereka pakai. Sarung tangan di taruh lagi di loker masing-masing. Kyudo-gi dilipat dengan rapi. Tsuru digulung kembali dan busur panah dimasukkan ke dalam tempatnya, supaya tidak lecet dan rusak.
Anggota klub yang piket hari itu membereskan papan-papan sasaran dengan rapi di gudang, agar ketika latihan, papan-papan itu masih bisa dipergunakan kembali. Gundukan tanah dirapikan lagi dan ceceran anak panah dimasukkan lagi dan dikembalikan pada tempatnya.
"Kerja bagus."
Kominato Haruichi menyodorkan satu botol air putih dingin untuk Sawamura.
"Sangkyu," katanya. Dia mengambil botol air putih tersebut.
Sawamura mengancingkan lagi kemeja sekolahnya, lalu berjalan bersama dengan Haruichi menuju luar dojo. Langit sudah berubah menjadi berwarna ungu dan nila. Burung-burung gereja terbang rendah dan suara-suara serangga di musim panas mulai berkumandang.
"Minggu depan sudah training camp," kata Haruichi sambil menatap langit senja. "Turnamen sebentar lagi. Rasanya baru kemarin kita ikut turnamen Kyudo, tapi sekarang kita sudah berpartisipasi lagi."
Sawamura mengangguk setuju. "Sekarang klub kita bahkan kedatangan junior-junior baru."
Haruichi menatap Sawamura. "Tapi bagimu, musim panas ini berbeda kan?" tanyanya.
Sawamura hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. "Aku harus membuat musim panas ini berkesan," katanya, "soalnya ini musim panas terakhirku di SMA ini."
"Keluargamu jadi pindah?" tanya Haruichi lagi.
"Iya," kata Sawamura, "Ayah mendapat penempatan baru, jadi mau tidak mau kami harus pindah."
"Ke daerah mana?" tanya Haruichi lagi.
"Ke Singapura."
Setelah jawaban Sawamura, hening melanda. Itu negara yang cukup jauh dari Jepang, karena terletak di Asia Tenggara. Sebuah negara kecil, yang bahkan lebih mirip dengan kota dibandingkan negara, tetapi jauh lebih maju.
"Setidaknya kau jadi merasakan musim panas sepanjang tahun," kata Haruichi.
Sawamura mendengus. "Sepertinya begitu. Aku masih tidak tahu seperti apa rasanya melihat sinar matahari sepanjang tahun," kata Sawamura, "tapi tanpa salju, ini akan jadi yang pertama."
"Ini pertama kalinya keluargamu pindah ke luar negeri?" tanya Haruichi.
"Tidak juga. Dulu sempat tinggal di Qatar, tapi yah… iklimnya tidak begitu berbeda dengan Jepang," cerita Sawamura.
"Kapan kau akan pindah?"
"Awal September ini. Setelah musim panas berakhir."
.
august
.
Libur musim panas sudah diumumkan oleh kepala sekolah secara resmi.
Training camp sudah dimulai.
Seluruh anggota klub baseball memulai latihan dari jam 5 pagi hari. Mereka melakukan pemanasan berupa keliling lapangan sebanyak 30 kali, lalu dilanjutkan dengan peregangan. Setelah itu, mereka berlatih angkat beban dan ketahan fisik. Lalu, ada jeda untuk sarapan. Setelah sarapan, lanjut latihan dengan simulasi pertandingan. Simulai pertandingan berlangsung selama 4 permainan dan setiap tim yang kalah akan mendapat latihan tambahan ekstra.
Selanjutnya makan siang, dan lanjut latihan lagi. Menjelang sore, pelatih akan turun ke lapangan dan fielder akan latihan ketangkasan dan 'catch ball' dengan pelatih. Tidak begitu menarik, karena lebih banyak lelahnya. Setelah itu, makan malam dan akhirnya, mandi. Itulah yang ditunggu-tunggu oleh para anggota klub.
Miyuki membasuh wajahnya dengan air di bak pemandian sambil bersandar. Setelah seluruh ototnya mengeluarkan banyak sekali asam laktat akibat metabolisme anaerob, berendam dengan air hangat adalah surga dunia yang tidak rela ditukarnya. Setelah selesai mandi, biasanya para anggota klub baseball akan melakukan latihan mandiri lagi, karena itu sudah jadi tradisi di klub baseball ini.
"Kau mau latihan batting?" tanya Kuramochi pada temannya.
Miyuki melemaskan seluruh tubuhnya dan membiarkan tubuhnya terendam air hangat. "Aku mau briefing dengan para pitcher dulu," jawabnya, "kau duluan saja."
"Oke."
Lalu, mereka selesai mandi. Otot-ototnya tidak begitu terasa kaku lagi setelah berendam. Miyuki mengumpulkan para pitcher di ruang makan dan memulai briefing-nya. Briefing itu berlangsung sekitar 30 menit, sudah termasuk sesi tanya jawab. Setelah Miyuki memastikan tidak ada lagi yang mau bertanya, mereka bubar.
Miyuki mengambil bat-nya dan mulai berjalan menuju lapangan.
Hari sudah lumayan gelap, meskipun masih terdapat sisa-sisa sinar senja yang mulai tertutup awan. Awalnya, Miyuki ingin masuk ke lapangan indoor dan berlatih di sana, tetapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya. Dia malah berjalan menjauh dari lapangan baseball dan menuju gedung sekolah.
Kegiatan belajar mengajar telah usai dan gedung sekolah berdiri dalam kesunyian. Lampu-lampu kelas di matikan dan menjadikan gedung sekolah tampak jauh lebih angker dan menyeramkan. Penerangan berasal dari lampu-lampu di pinggir jalan. Miyuki meneruskan langkahnya. Semakin dia menjauh dari lapangan baseball, semakin sunyi lingkungan sekitarnya.
Dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya ingin berjalan. Mungkin karena udara malam hari ini tidak begitu panas, mungkin karena musim panas telah datang dan turnamen di depan mata, mungkin karena untuk sesaat dia ingin pergi sejenak dari tekanan berat yang dipikulnya, atau mungkin karena ketiga hal itu.
Ternyata Miyuki sudah berjalan ke sisi gedung sekolah yang lain, yang sebelumnya jarang sekali dia datangi. Dari tempatnya berdiri, Miyuki bisa melihat cahaya lampu dari sebuah bangunan. Tanpa sadar, rasa penasaran Miyuki membawanya menuju bangunan itu.
Awalnya, dia kira itu adalah gudang, tetapi papan nama di depan bangunan itu membuatnya tidak jadi berpikir seperti itu.
KLUB KYUDO SMA SEIDOU
Lagi, perut Miyuki bergolak dalam sensasi aneh.
Miyuki berjalan mengitari bangunan klub kyudo tersebut. Kalau memang bangunan di depannya adalah Kyudojo, berarti akan ada ruang semi terbuka yang menjadi tempat latihan para pemanah.
Benar saja, Miyuki menemukannya setelah dia mengitari bangunan tersebut. Pagar kayu setinggi 90 senti kini terasa sangat kecil bagi Miyuki. Perasaan nostalgia kembali merasukinya. Miyuki berdiri di belakang pagar kayu tersebut, menatap ke arah ruangan, dimana seorang lelaki masih berdiri gagah.
Dia memakai Kyudo-gi berwarna putih dan hakama yang berwarna gelap. Busur ditangannya diangkat dengan mantap dan posturnya tegap. Lalu, seolah dunia menghilang, Miyuki hanya terpaku pada sosok itu ketika jari-jarinya mulai melepaskan anak panah dari tsuru. Anak panah melesat di udara sebelum menancap dengan mantap di sasaran panah. Lalu, busur itu berputar sempurna ke belakang.
Jantung Miyuki Kazuya berdegup dengan keras karenanya.
Suara desingan anak panah yang bergesekan dengan angin, suara anak panah yang menancap secara mantap, semuanya membangkitkan ingatan Miyuki Kazuya ketika dia berusia 10 tahun, di Nagano. Sebuah perasaan déjà vu memeluk Miyuki, yang tanpa sadar melepaskan bat dari tangannya.
Suara bat logam yang jatuh di atas jalan setapak membuat sosok itu kaget. Dia segera menoleh ke arah sumber suara dan tatapan mereka kembali bertemu dalam satu garis lurus. Bola mata seterang emas menatap langsung ke dalam mata Miyuki. Napasnya terenggut dan mulutnya terbuka.
Sosok itu…
Itu adalah sosok yang sama dengan yang ditemuinya di tiang listrik dekat dengan lapangan baseball. Rambutnya yang berwarna coklat, meskipun penerangan tidak begitu terang, tetapi Miyuki berani taruhan bahwa warna rambutnya adalah coklat. Dan… dan… apakah sosok itu adalah sosok yang sama dengan anak lelaki yang ditemuinya di Nagano?
Kupu-kupu kembali memenuhi rongga pencernaan Miyuki, naik menembus diafragmanya dan membuatnya kesulitan bernapas.
Sebuah anak panah melesat melewati pipinya dan membentur batang pohon Sakura yang ada di belakangnya. Kesadaran Miyuki kembali. Sosok lelaki itu berdiri dengan busur yang berputar ke belakang secara sempurna. Anak panah yang ditembakkan ke arah Miyuki jatuh ke tanah. Miyuki membuka dan menutup matanya berkali-kali, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.
Dia berjalan-jalan di sekitar gedung Seidou, lalu sampai pada bangunan klub kyudo. Miyuki melihat seseorang masih melakukan panahan dan karena perasaan déjà vu dan nostalgia, Miyuki jadi tanpa sadar menjatuhkan bat-nya. Lalu, lelaki yang berada di dalam ruangan itu kaget dan tahu-tahunya membidik Miyuki dan anak panah melesat begitu saja di samping Miyuki.
"APA-APAAN KAU?" bentak Miyuki setelah dia sadar dari keterkejutannya.
Pemuda itu masih menatap tenang Miyuki. "Ah maaf. Aku pikir hantu, ternyata bukan," jawbanya santai.
"A-APA?" tanya Miyuki tidak mengerti. Dia menatap sosok itu dengan bingung bercampur dengan kesal. "Apa yang membuatmu berpikir aku hantu?"
Pemuda itu mengangkat bahunya santai. "Yah… kau hanya berdiri sambil bengong seperti itu sih. Kupikir kau hantu penunggu atau apa," jawabnya. Miyuki menjadi semakin tidak mengerti. Dan lagi, dia bengong? Seorang Miyuki Kazuya bengong? Rasa malu mendadak menjalar di tubuhnya.
"Pokoknya, aku lega kau ternyata bukan hantu," kata pemuda itu lagi.
Miyuki mengambil bat-nya yang terjatuh ke tanah. "Yeah, dan aku lega karena anak panahmu tidak mengenai mataku," katanya sinis.
Pemuda itu tertawa renyah mendengar kata-kata Miyuki. "Maaf, maaf," katanya. Di dalam kata-kata itu rasanya Miyuki tidak bisa mendeteksi nada permohonan maaf. "Lagipula, kau sedang apa berdiri di situ seorang diri? Membuat orang kaget saja," ujarnya lagi.
Miyuki jadi sadar. Anak itu punya poin pertanyaan yang penting. Kenapa pula Miyuki berdiri seperti orang bodoh di samping kyudojo? Miyuki berdeham, lagi-lagi merasa dirinya bodoh. Dia mengangkat bat baseball-nya.
"Aku sedang ingin latihan memukul," jawab Miyuki.
"Di area klub kyudo?" retoriknya, "kau aneh."
Perkataan itu rasanya menusuk Miyuki. Namun, dia masih harus menyelamatkan harga dirinya. "Kau sendiri sedang apa malam-malam berlatih di sini?" tanyanya.
"Turnamen sebentar lagi," jawabnya, "kalau sudah malam seperti ini, aku bisa memonopoli dojo sendirian." Lalu, dia tertawa karena jawabannya sendiri. Miyuki sendiri tidak melihat di mana lucunya jawaban itu.
"kau sendiri aneh," balas Miyuki.
Pemuda itu tidak tampak tersinggung dengan kata-kata Miyuki. "Boleh tolong kau ambil anak panah yang ada di tanah belakangmu?" pintanya. Miyuki menatap lagi ke tanah belakangnya, tempat anak panah tergeletak, nyaris mengenai pipinya. Miyuki mengambil anak panah itu.
Pemuda itu mengambil sandal kayu dan memakainya. Lalu, dia turun dari area latihannya dan berjalan menuju Miyuki. Semakin dia mendekat, semakin Miyuki sadar bahwa iris matanya semakin berpendar, seperti mata kucing di malam hari. Miyuki penasaran, bisakah dia melihat dengan jelas di tengah gelapnya malam?
Miyuki menyerahkan anak panah itu. "Terima kasih," katanya. "Aku bisa dimarahi kalau sampai ada anak panah yang hilang."
Miyuki mendengus. "Itu juga salahmu kan? Untuk apa kau membidik ke luar arena?"
Dia tertawa lagi. "Habis aku benar-benar terkejut. Biasanya sudah tidak ada orang lagi di atas jam 5 sore," jelasnya, "lagipula, bangunan klub kyudo ini jauh dari gedung utama dan tidak banyak orang yang datang ke sini, kecuali anggota klub. Jadi saat kau datang aku kaget saja."
"Hoo… sepertinya kau cukup memahami keseharian anak-anak di sini," kata Miyuki.
Pemuda itu tertawa lagi. "Oh ya, siapa namamu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Miyuki Kazuya, kelas 3-2. Klub baseball," kata Miyuki.
"Sawamura Eijun, kelas 2-1. Klub Kyudo," kata Sawamura, "salam kenal Miyuki Kazuya-senpai."
.
august
.
"Tidak pernah bosan melihat Sawamura ya," kata seorang anggota klub perempuan. Mereka sedang menunggu giliran berlatih.
"Benar," kata yang lain, "dia selalu mengenai target sasaran."
"SHA!"
Para anggota berteriak lantang lagi ketika Kominato Haruichi berhasil mengenai sasaran tembak. Dia menghela napas lega. Ketika giliran mereka selesai, Sawamura tertawa singkat. "Tidak sia-sia kau potong rambut ya, Haruo!" katanya.
Haruichi membalasnya dengan senyuman manis nan sadis. "Kepalamu mau kupanah?" tanyanya manis. Sawamura hanya kembali tertawa mendengar ancaman dari Haruichi.
"Sepertinya aku harus memakai tsuru yang baru lagi," kata Haruichi. "Yang satu ini sudah mulai aus." Jemarinya yang tidak memakai sarung tangan menyusuri senar panah. Sudah mulai tipis dan aus. Kalau terus dipakai, bisa putus dan menyakiti wajah serta tangan.
"Mau membeli pulang sekolah?" tawar Sawamura. "Aku juga mau membeli tsuru baru untuk persiapan," katanya.
"Tidak sekarang juga," kata Haruichi, "aku harus minta uangnya dulu. Mungkin hari Minggu aku baru bisa pergi beli yang baru."
.
Anak panah kelima baru melesat menuju target sasaran ketika Miyuki Kazuya kembali ke area klub kyudo. Sawamura Eijun masih terlihat begitu fokus. Semakin dia fokus, semakin bersinar iris emas itu. Miyuki suka sekali mendengar suara desingan angin yang bergesekan dengan anak panah dan dia juga suka suara anak panah ketika menancap di target sasaran. Suaranya begitu merdu, nyaris seperti ASMR.
"Kau datang lagi," kata Sawamura ketika dia selesai menghentikan konsentrasinya. "Apa kau akan latihan memukul lagi?" tanyanya.
"Yeah, begitulah," jawab Miyuki.
"Kau harus berhenti berdiri di sana," kata Sawamura, "kau terlihat seperti hantu."
Miyuki mendengus mendengarnya. "Apa kau akan mengarahkan anak panah ke arahku lagi?" tanyanya.
Sawamura mengangkat bahunya santai. "Tergantung," katanya, "kau mengagetkanku atau tidak."
"Begitu caramu bicara dengan seniormu?" tanya Miyuki. Dia berusaha mengintimidasi Sawamura dengan aura senioritas, tetapi Sawamura jelas tidak terpengaruh.
Dia malah tertawa. "Kau sama sekali tidak cocok mengintimidasi," katanya. Dia menunjuk Miyuki, "Dan kau juga tidak cocok disebut senior," katanya geli.
"Wah, lihat ini," kata Miyuki, "dasar junior kurang ajar."
Sawamura tertawa lagi. Miyuki merasa dia suka sekali tertawa. "Daripada kau berdiri di sana, lebih baik kau masuk saja ke sini," tawar Sawamura.
Miyuki mengangkat alisnya. "Kau mengundangku masuk? Apa ini perangkap?" tanyanya.
"Ini bukan perangkap."
Miyuki mendengus. "Yeah, bukan. Mana ada penjahat mengaku bahwa dia penjahat," katanya dengan kalimat sarkasme.
Sawamura memutar bola matanya. "Ups, kau menemukanku. Aku penjahat! Aku menculik anak-anak dan menjualnya untuk kepentingan PizzaGate! Tolong jangan telepon polisi!" serunya pura-pura panik.
Miyuki tertawa mendengar kalimatnya. "Kedengarannya menggoda. Apa aku akan dapat banyak uang kalau menyerahkanmu ke polisi?" tanyanya.
Sawamura kembali mengeluarkan tawa kecil. "Jadi, kau mau masuk atau tidak? Kalau kau lebih suka berdiri seperti hantu penunggu, aku tidak akan melarangmu."
Miyuki melangkah. "Oke, aku akan masuk," katanya, "aku hanya berdoa kau tidak langsung menjualku pada para pedofil."
Pintu geser yang terbuat dari kayu dibuka oleh Miyuki. Lalu, Miyuki melepaskan sepatunya dan meletakkannya pada rak yang disediakan. Untuk masuk ke dalam kyudojo memang terdapat tatakrama tersendiri. Tidak bisa sembarangan.
Sawamura berdiri sambil memegang busurnya, lengkap menggunakan Kyudo-gi dan hakama. Dia juga memakai kaos kaki putih berbahan kain. Dia tersenyum miring pada Miyuki. "Selamat datang di Klub Kyudo," katanya.
"Terima kasih untuk sambutannya yang sangat meriah," kata Miyuki.
Sawamura melambaikan tangannya singkat. "Kau bisa duduk dimanapun yang kau inginkan," katanya. Miyuki duduk bersila di belakang aula. Sawamura menghampirinya. Dia mengambil sebuah buku tulis yang terbuka di samping Miyuki. Lalu, dia menulis sesuatu di sana.
Miyuki melihat apa yang ditulis oleh Sawamura. Rupanya buku itu adalah buku catatan pribadi milik Sawamura.
"Targetmu perhari?" tanya Miyuki.
Sawamura mengangguk. "Iya," katanya, "200 anak panah per hari saat latihan mandiri."
"Hebat," puji Miyuki.
Sawamura menatap kakak kelasnya, "Berapa targetmu per hari?" tanya Sawamura.
"200 saat latihan bersama dan 200 saat latihan mandiri," jawab Miyuki.
Sawamura mengangguk. "Kalau begitu, kau masih belum mencapai apapun hari ini," kata Sawamura.
"Aku baru mau mengayunkan bat-ku tapi kau sudah mengundangku masuk," kata Miyuki.
Sawamura menatapnya tidak terima. "Aku menyuruhmu masuk karena kau melongo seperti orang bodoh di samping arena," katanya.
Miyuki merasa malu lagi. Benarkah dia kembali melongo?
"Itu tidak benar," katanya.
"Benar."
"Kau tidak punya buktinya," kata Miyuki lagi.
Sawamura mendengus. "Lain kali akan kufoto kau," gerutunya.
Miyuki melambai santai. "Yeah, yeah. Dasar fans," katanya.
"APA?" tanya Sawamura dengan nada tinggi.
Miyuki menatapnya sambil tersenyum miring. Dibalik senyuman itu, terdapat kejailan. "Kalau kau segitunya ingin memfoto diriku, seharusnya kau tidak perlu beralasan seperti itu."
Sawamura mendegus mendengar kalimat Miyuki. "Kenapa kau narsis sekali? Wah, aku tidak menyangka hal ini."
"Jadi fans, apa kau mau minta tanda tangan juga?" tanyanya.
"JANGAN NGACO KAU MIYUKI KAZUYA!" bentak Sawamura kesal. Tidak benar-benar kesal, karena Miyuki tertawa melihat ekspresi Sawamura yang diwarnai gurat-gurat kekesalan. Wajahnya juga memerah.
"Hei, bukanlah Kyudo itu mengutamakan ketenangan dan meditasi? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?" sindir Miyuki sambil tertawa.
"Itu karena kau menyebalkan!" seru Sawamura sambil menunjuk Miyuki.
Miyuki berdecak main-main, "kau tidak menerapkan sistem meditasi ya," katanya pura-pura prihatin. "Aku jadi kasihan pada sensei-mu."
"Aku tidak biasanya begini!" kata Sawamura membela diri, "lagipula kau terlalu menyebalkan!" Dia mendesah kesal, "seharusnya tadi aku tidak menawarimu masuk," gerutunya.
Miyuki pura-pura tersinggung. "Duh, kau tidak ikhlas ya? Aku sedih nih," kata Miyuki.
Sawamura memasang wajah pura-pura muntah. "Kau menyebalkan sekali sih. Benar-benar tidak cocok dipanggil senior." Sawamura bangkit dan kembali berjalan menuju tempatnya berdiri tadi.
"Kau mau kemana?" tanya Miyuki.
"Aku mau menyelesaikan targetku," katanya. Dia mulai memasang tsuru pada busurnya. "Sebaiknya kau juga mulai berlatih."
Miyuki setuju. "Kurasa kau benar," katanya. "Aku harus mulai memukul." Dia bangkit dan membawa bat-nya. "Jangan panah aku ya," kata Miyuki sebelum keluar dari aula itu. Sawamura mendengus.
Miyuki kembali pada tempat awalnya, di samping pagar arena kyudo. Dia memasang kuda-kuda dan bat-nya mulai mengayun. Ayunannya begitu kuat, sampai Sawamura bisa mendengar suara angin. Miyuki Kazuya tidak lagi memasang wajah yang dipenuhi cengiran jail dan tawa yang penuh dengan sindiran. Dia begitu fokus pada bat-nya dan terus-menerus mengayunkan tongkat tersebut.
Sawamura menahan napasnya ketika melihat sosok Miyuki Kazuya. Alisnya menukik tajam dan kuda-kudanya kuat. Bahunya terlihat gagah dan kedua tangan yang memegang bat terlihat sangat kuat juga. Sawamura bahkan bisa melihat gurat-gurat vena superfisial yang tercetak. Ketika Miyuki Kazuya mulai berlatih dengan bat-nya, dia menjadi sosok yang berbeda sekali.
Dan jantung Sawamura Eijun mendadak berdetak dengan cepat karenanya.
.
"GAME SET!" seru wasit dengan tegas. Tim Seidou bersorak-sorak senang karena mereka kembali memenangkan latihan tanding.
"Total semuanya sudah 20 kemenangan berturut-turut!" seru Zono. Keringat bercucuran dengan deras di bawah teriknya sinar matahari. Kini, kedua belah tim saling bersalaman satu sama lain.
"Ternyata rasanya menang itu begitu nikmat," kata Kuramochi sambil berjalan santai. Mereka akan kembali ke Seidou menggunakan bus. Miyuki menanggapinya dengan gumaman. Kuramochi melirik temannya. "Belakangan ini kau kenapa sih?" tanyanya.
Miyuki meliriknya. "Tidak kenapa-napa kok," jawabnya singkat.
Kuramochi semakin memicingkan matanya. "Tidak. Kau aneh belakangan ini," katanya lagi.
Miyuki mengangkat alisnya. "Kau mau jadi detektif sekarang?" retoriknya.
Kuramochi menendang Miyuki karena kesal dan gemas. "Sial kau," katanya, "aku bertanya baik-baik tahu."
Miyuki mengusap-usap bokongnya yang ditendang oleh Kuramochi. "Aku kan tidak melakukan apapun," katanya.
"Jawabanmu membuat kesal," jawab Kuramochi. Dia menatap temannya lagi, berusaha menguak takbir misterius yang disembunyikan oleh Miyuki Kazuya. "Tapi serius, kau rasanya aneh."
Miyuki mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu kau pernah merasakanku, Mochi-kun."
Kuramochi semakin ingin melempar kaptennya jauh-jauh. "Kenapa kau harus menyebalkan sih?" gerutunya.
Miyuki hanya tertawa santai. "Tenang Mochi-chan. Ini sama sekali tidak akan mempengaruhi latihan kita ataupun pertandingan yang sudah di depan mata."
Kuramochi sukses menendang Miyuki Kazuya sampai pemuda itu hilang keseimbangan. "Sudah kubilang jangan panggil aku begitu kan?" ujarnya dingin.
Lagi-lagi, Miyuki hanya tertawa.
.
Lagi-lagi suara desingan angin dan suara panah yang menancap memanjakan telinga Miyuki Kazuya. Dia yakin, suara-suara itu sudah seperti ASMR yang membuatnya rileks. Tapi bagian terbaiknya adalah sosok Sawamura Eijun yang sedang berkonsentrasi penuh ketika sedang membidik.
Miyuki memperhatikan bahwa Sawamura bergerak perlahan-lahan dan anggun. Tidak ada gerakan yang terburu-buru. Tidak ada gerakan yang kasar. Seni bela diri Kyudo merupakan sebuah maha karya dari keanggunan seorang samurai. Dia tampak sangat berbeda ketika sudah memegang busur dan panah. Mulutnya tertutup rapat dan matanya hanya fokus pada satu titik. Sawamura persis seperti orang yang sedang bermeditasi.
Kali ini Miyuki tiduran di lantai aula. Seluruh tangannya pegal karena dia terus mengayun tanpa henti dan Sawamura sedang sibuk melipat kyudo-gi-nya. Keringat mengucur dan membasahi baju yang dikenakannya.
"Kau tinggal di asrama?" tanya Miyuki. Itu pertanyaan konyol, karena asrama hampir 90% adalah anggota klub baseball.
Sawamura menggeleng. "Aku pulang-pergi," katanya. Pakaian berwarna putih itu sudah selesai dilipat dengan rapi oleh Sawamura. Miyuki memperhatikan Sawamura yang sedang mnggulung senar panahnya dengan hati-hati dan memasukkan busurnya ke tempat yang berupa tabung panjang.
"Orangtuamu memperbolehkan kau pulang semalam ini?" tanya Miyuki lagi. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam.
Sawamura mengangguk lagi. "Jarak rumahku tidak begitu jauh dengan sekolah ini," jawabnya, "lagipula satu-satunya kyudojo yang dekat adalah sekolah ini, jadi aku tidak punya pilihan."
Miyuki menatapnya. "Kau benar-benar menyukai panahan ya," katanya tanpa sadar.
Sawamura hanya menyunggingkan senyum. "Perlukah pertanyaan itu? Sebagai sesama orang yang memiliki hobi dan begitu mencintainya," jawab Sawamura.
Miyuki terbahak geli. "Sekarang kau berusaha menjadi filsafat?" tawanya.
Sawamura menyadari betapa memalukan kalimat yang keluar dari mulutnya dan dia tidak bisa membalas Miyuki. Jadi, dia hanya memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. "Berhenti tertawa Miyuki Kazuya," gerutunya pelan.
Namun, tawa Miyuki semakin keras. Dia sampai duduk dan memegang perutnya karena tertawa terpingkal-pingkal.
"Hei, berhenti tertawa!" seru Sawamura kesal. Suaranya lagi-lagi menjadi naik satu oktaf.
Miyuki mengusap airmatanya. Dia kebanyakan tertawa. "Maaf Tuan Filsafat," katanya geli, "saya benar-benar terpanah dengan kalimat Anda."
Sawamura tidak bisa semakin malu lagi. Jadi, dia berdiri dengan kasar, mengambil tasnya dan berjalan melewati Miyuki Kazuya tanpa menoleh sedikitpun. Dia bahkan berdecak.
"Hei," panggil Miyuki, tetapi Sawamura mengabaikannya. Dia memakai sepatunya lagi. Miyuki mengambil bat-nya dan berjalan menuju Sawamura.
"Tertawa saja sampai kau mati, Miyuki Kazuya!" seru Sawamura kesal. Dia sudah seelsai memakai sepatu. Miyuki mengikuti jejaknya.
"Aku hanya bercanda tadi," katanya.
Sawamura menatapnya dengan sengit. "Sepertinya kau benar-benar menikmati lawakanku. Sama-sama."
Sawamura sudah keluar dari pintu dojo. Miyuki dibelakangnya. "Maaf," kata Miyuki, "aku tidak bisa menahan diriku tadi."
Sawamura berdecih. Dia menutup lagi pintu dojo dan mulai menguncinya. "yeah, aku bisa lihat hal itu."
"Tapi aku tidak sungguh-sungguh," kata Miyuki, "aku minta maaf."
Sawamura memasukkan kunci dojo ke dalam tasnya. "Tidak diterima. Kau tertawa sampai menangis tadi."
"Habis kau mengatakannya dengan serius seperti itu," kata Miyuki, "sulit untuk tidak tertawa."
Mendengar kalimat Miyuki, Sawamura semakin merasa malu. Dia memang kesal dengan Miyuki, tapi dia lebih kesal pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya mengatakan hal memalukan seperti itu.
Sawamura mulai berjalan menjauhi kyudojo dan Miyuki berjalan di sampingnya. "Kouhai," katanya, "aku minta maaf."
Sawamura masih mengabaikannya dan matanya sudah seperti mata kucing di malam hari. "Sawamura-kouhai," panggil Miyuki lagi.
"Kau berisik," gerutu Sawamura. Namun, panggilan itu menggelitik telinganya dan perutnya bergolak dalam sensasi aneh.
"Eijun-kun," panggil Miyuki lagi. Sawamura pura-pura tidak mendengarnya. Padahal telinganya sudah memerah karena tiba-tiba Miyuki memanggil nama kecilnya.
"Kau berisik. Bukankah kau seharusnya kembali ke asrama?" tanya Sawamura sengit.
"Aduh, kau kouhai yang pengertian ya," kata Miyuki.
Sawamura mendengus. "Dan lagi-lagi aku menyesal mengatakannya," gerutunya.
"Ei-chan."
Sawamura berhenti berjalan. "BERISIK! JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU!" bentaknya antara malu dan kesal. Perutnya kembali bergolak dalam sensasi aneh. Dia menatap Miyuki, berusaha terlihat sekesal mungkin. Namun, Miyuki hanya menatapnya dengan cengiran jail yang biasa.
"Kau lucu sekali kalau sedang marah," kata Miyuki tiba-tiba.
"APA KATAMU?" tanya Sawamura kesal. Wajahnya tidak bisa lebih memerah lagi, atau vena-venanya akan pecah karena terlalu malu.
Miyuki malah menunjuk pipinya. "Pipimu menggembung dan matamu seperti mata kucing," katanya, "kau seperti anak kucing yang ingin susu dari induknya."
"DIAM KAU MIYUKI KAZUYA!" bentak Sawamura kesal. Bisa dipastikan bahwa wajahnya sekarang sudah memerah dan panas. Dia berbalik dan mulai meninggalkan Miyuki dengan kasar. Langkahnya lebar-lebar. Miyuki menyusulnya.
"Aku temani sampai depan sekolah ya," tawar Miyuki, "takut nanti kau diculik."
Sawamura mendesis seperti ular. "Aku tidak butuh! Pergi kau!" usirnya kasar. Namun, Miyuki tetap mengekorinya.
Miyuki Kazuya suka melihat Sawamura Eijun yang lepas kendali seperti ini. Memang, Sawamura yang fokus dan bermeditasi sangat memukau untuk dilihat, tetapi Sawamura yang marah-marah dan uring-uringan karenanya jauh lebih memikat. Miyuki tidak bosan melihatnya. Sawamura yang seperti ini terasa jauh lebih mudah untuk dijangkau daripada Sawamura yang satu lagi. Sawamura yang sedang menekuni Kyudo terlihat seperti orang dari dimensi lain. Seperti berasal dari dimensi yang tidak Miyuki pahami.
Mereka berdua sampai di depan gerbang sekolah. Sawamura masih terlihat kesal, meskipun sudah tidak sekesal tadi. Wajahnya sudah tidak kaku dan menekuk lagi. Namun, dia masih menatap Miyuki sinis.
"Hati-hati ya," kata Miyuki ringan.
Sawamura mendengus. Dia mulai berbalik untuk berjalan ke rumahnya, tetapi Miyuki memanggil namanya.
"Apa?" tanya Sawamura.
"Kalau kau ada waktu dan tidak keberatan, besok tim baseball ada latihan tanding dengan SMA Negeri," kata Miyuki, "mungkin kau bisa datang menonton."
"Dimana latihan tandingnya?" tanya Sawamura.
"Di lapangan baseball SMA Seidou," jawab Miyuki, "kau tahu kan?" tanyanya.
"Tentu saja aku tahu!" serunya kesal.
Miyuki tertawa. Dia melambaikan tangannya. "Aku menantikanmu besok."
.
august
.
Sudah kelima kalinya Miyuki Kazuya celingukan di pinggir lapangan. Bahkan, dia tidak selesai-selesai memakai atribut merepotkan milik catcher.
"Lehermu patah atau otakmu menggelinding keluar dari kepalamu?" tanya Kuramochi kesal melihat Miyuki yang dari tadi cuma tengok kanan dan tengok kiri. Miyuki mengabaikan pertanyaan itu. Dia kembali menjulurkan kepalanya ke arah para penonton, tetapi orang yang ditunggunya tidak kunjung hadir. Dia kembali murung.
"OI BAKA!" bentak Kuramochi kesal. Barulah Miyuki menatap temannya.
"Kau butuh sesuatu, Kuramochi-kun?" tanya Miyuki sopan.
Kuramochi berdecak. "Kau aneh, bodoh," katanya, "dan hari ini kau semakin aneh." Kuramochi melihat ke arah penonton. "Siapa sih yang kau lihat di sana?" tanya Kuramochi penasaran. Namun, dia hanya melihat kerumunan bapak-bapak penikmat baseball dan tidak ada satu pun yang menarik perhatian.
"Ayahmu datang menonton hari ini?" tebak Kuramochi. Miyuki menggeleng. "Pacarmu? Ah, tapi kau brengsek sih, jadi tidak mungkin punya pacar," gumam Kuramochi. Di dalam hati, Miyuki menyumpahi temannya.
Mendadak, wajah Kuramochi pucat pasi dan menatap Miyuki horor. "Oi Miyuki, jangan bilang kau simpanan om-om sekarang," katanya.
Miyuki tersedak ludahnya sendiri. "APA?" tanyanya, lebih tepatnya bentakan. Beberapa anggota klub melirik mereka.
"Kau melirik ke arah bapak-bapak dari tadi," kata Kuramochi, "ada sugar daddy-mu di sana ya?"
Boleh tidak sekarang Miyuki menyumpal mulut Kuramochi dengan pelindung catcher? Tebakannya semakin lama semakin tidak masuk akal.
"Tidak lah!" kata Miyuki kesal. "Yang benar saja Kuramochi!" dia berkata gusar.
"Kalau begitu fokus dong, bodoh!" kata Kuramochi. Dia menunjuk ke ujung lapangan. Pelatih Kataoka sedang bersalaman dengan Pelatih SMA Negeri. "Lawan kita sudah datang," katanya.
Tim SMA Negeri dibimbing masuk ke dalam lapangan dan menempati dugout yang lainnya. Kuramochi mengepalkan tinjunya. "YOSH! Ayo kita buat kemenangan 30 berturut-turut!" serunya bersemangat.
Miyuki terus melirik ke arah para penonton, tetapi orang yang diharapkannya tidak kunjung hadir juga. Bahkan, sampai latihan tanding selesai dan Seidou keluar sebagai pemenang, sosok Sawamura Eijun tidak hadir juga.
Hati Miyuki dipenuhi rasa kecewa yang begitu berat.
.
Sawamura Eijun keluar dari rumahnya terburu-buru. Dia membawa tas sekolahnya yang biasa dan memakai kemeja sekolahnya. Mulutnya terus mengutuk dan mengumpat untuk dirinya sendiri.
Hari ini dia disuruh membantu Ibunya untuk mengepak barang-barang yang akan dibawa ke Singapura terlebih dahulu. Rupanya, mengepak barang-barang memakan waktu yang sangat lama dan ketika Sawamura selesai, langit sudah beranjak menjadi senja. Dia bangkit dengan cepat hingga membuat Ibunya kaget.
"Ei-chan, ada apa?" tanya Ibunya.
"Aku harus ke sekolah sekarang!" seru Sawamura sambil berlari terburu-buru. Dia memakai sepatunya dengan tidak benar dan langsung berlari sekuat tenaganya menuju sekolah. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang, Miyuki Kazuya.
Sawamura tidak lupa apa yang Miyuki katakan kemarin. Dan sejujurnya, dia menantikan hari ini, tetapi mendadak Ibunya menyuruhnya membantunya berkemas dan Sawamura tidak bisa menolak juga. Kini dia hanya berharap bahwa pertandingannya belum selesai dan dia masih sempat untuk menampakkan batang hidungnya.
Sawamura harus menelan kekecewaannya karena lapangan baseball sudah sepi. Para anggota klub sedang membereskan bola-bola yang beterbangan dan meratakan tanah lagi. Sawamura melangkah gontai ke pinggir lapangan baseball dengan hati yang berat.
"Tidak… Tidak…" gumamnya putus asa. Untuk beberapa saat, dia hanya berdiri menatap lapangan baseball yang sudah kosong itu. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Dia ingin bertemu dengan Miyuki dan menjelaskan semuanya. Salah dia juga kenapa mereka tidak bertukar nomor telepon sehingga lebih mudah memberi kabar.
Sawamura menyenderkan dahinya pada pagar besi yang melingkupi lapangan baseball. Napasnya masih memburu dan jantungnya berdebar keras karena kurangnya pasokan oksigen. Namun, perasaannya begitu berat dan diliputi rasa bersalah.
"Sawamura?"
Dengan cepat Sawamura membalikkan badannya dan berharap itu adalah Miyuki Kazuya. Dia kecewa karena yang memanggilnya adalah Kanemaru.
"Oh, hai Kanemaru," sapa Sawamura lesu.
Kanemaru Shinji hanya menatap teman sekelasnya bingung. "Sedang apa kau di sini?" tanyanya.
Sawamura tidak langsung menjawab. Dia melirik ke sekelilingnya dulu. "Em… latihan kyudo…" jawabnya dengan tidak begitu yakin.
"Aku tidak melihat busurmu," kata Kanemaru lagi.
Sawamura mengusap tengkuknya. "Yah… aku meninggalkannya di dojo," katanya bohong.
Kanemaru hanya mengangkat alisnya. "Aneh rasanya melihatmu sampai lupa alat keramat itu," katanya jujur, "kau kan sayang sekali dengan busurmu."
Sawamura hanya meringis sebagai jawaban. Lalu, dia menatap Kanemaru. "Daripada itu, latihan tanding! Dengan SMA Negeri! Apa belum dimulai?" tanya Sawamura dengan penuh harap.
"Kau telat," jawab temannya, "sudah selesai dari dua jam yang lalu." Mendengar jawaban itu hatinya semakin mencelos. Rasanya ada lubang besar yang menariknya masuk karena gravitasi. "Lagipula, tumben sekali kau ingin tahu jadwal latih tanding kami."
Lagi-lagi Sawamura tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Satu-satunya alasan adalah Miyuki Kazuya. Namun, kalimat itu tidak keluar dari mulutnya.
"Kau sudah mau pulang?" tanya Kanemaru lagi. Sawamura tersentak dari lamunan singkatnya. Dia mengangguk.
"Iya… Aku juga tidak ada urusan lagi di sini."
Jawaban Sawamrua jauh lebih lesu dari biasanya.
"Oh oke," kata Kanemaru, "hati-hati di jalan."
Lalu, temannya itu kembali ke asrama sementara Sawamura berjalan gontai meninggalkan lapangan baseball. Dia masih belum ingin meninggalkan sekolah. Dia maish ingin bertemu dengan Miyuki dan menjelaskan mengapa dia tidak bisa hadir, padahal dia sangat ingin.
Langkahnya terhenti. Beberapa meter di depannya, Miyuki sedang berjalan bersama dengan anggota klub baseball-nya. Tingginya sepantaran dengan Miyuki dan mereka tampak berbincang seru. Pemuda yang berjalan bersama Miyuki sedang menunjukkan sesuatu dan dibalas anggukan serius dari Miyuki. Mereka kembali berbincang. Ekspresi Miyuki santai sekali ketika bersama dengan pemuda itu dan entah kenapa srasanya di dalam hati Sawamura seperti diguyur oleh es yang berasal dari kutub selatan.
Sawamura mengeratkan pegangannya pada tas sekolahnya. Kakinya melangkah tertatih-tatih menuju Miyuki Kazuya. Tatapannya tidak lepas dari sosok kakak kelasnya.
"Miyuki Kazuya-senpai."
Nama panggilan itu membuat Miyuki berhenti berbicara dengan Watanabe. Dia menatap Sawamura dan melongo tidak percaya. Beberapa jam yang lalu, Miyuki uring-uringan mencari sosok adik kelasnya yang tidak tampak di sudut lapangan manapun. Kini, dia berdiri beberapa puluh senti dari hadapan Miyuki dan tampak sangat nyata.
"Aku ingin bicara," kata Sawamura lagi.
Watanabe, yang menyangka bahwa Sawamura adalah adik kelas yang ingin menyatakan perasaan pada Miyuki, berdeman. "Kita lanjutkan lagi setelah makan malam saja," kata Nabe. Lalu, dia menjauh dari mereka berdua. Selepas Nabe pergi, Miyuki berdiri berhadap-hadapan dengan Sawamura.
Miyuki ingat bagaimana kesal dan kecewanya dia ketika Sawamura tidak datang, padahal Miyuki begitu menantikan kehadirannya di pinggir lapangan. Kehadiran Sawamura pasti akan menjadi mood-booster untuk Miyuki. Sayang, keinginan itu tidak terkabulkan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Miyuki.
Sawamura merasa nada suara Miyuki menjadi sangat dingin dan dia tidak suka hal itu.
"Maaf senpai," kata Sawamura sambil menunduk. Sawamura memakai sepatu sekolahnya sementara Miyuki memakai sepatu tali. Sepatu Miyuki penuh dengan bercak tanah yang mengering, sementara sepatu Sawamura bebas dari tanah dan debu.
"Oh?"
Sawamura menelan ludahnya. "Aku ingin datang, tapi Ibuku mendadak menyuruhku membantunya. Jadi aku tidak bisa datang," kata Sawamura.
Dia bisa mendengar Miyuki menghela napas. "Sudahlah," katanya, "aku jadi terkesan jahat kalau kau sampai datang dan minta maaf padaku seperti ini."
Dia berjalan melewati Sawamura. "Aku tidak apa-apa kok. Toh membantu Ibumu jauh lebih penting daripada datang menonton latihan tanding," katanya lagi.
Sawamura berbalik dan Miyuki sudah berjalan menjauh. Sawamura menghentikan pergerakan Miyuki dengan menyentuh lengan kirinya. "Aku serius mengatakan bahwa aku menyesal dan minta maaf," kata Sawamura.
"Aku juga serius," kata Miyuki. "Aku masih ada rapat dengan para pitcher, dan aku tidak mau membuat mereka menunggu."
Miyuki seolah memberinya kode bahwa dia sudah tidak mau bertemu dengan Sawamura lagi, dan Sawamura masih belum melepaskan genggamannya. Dia merasa bahwa hasil yang tidak baik akan menunggu mereka berdua jika dia melepaskan Miyuki sekarang.
"Apa… kau akan datang ke kyudojo lagi, malam hari ini?" tanya Sawamura, mati-matian berusaha membuka percakapan.
"Tidak tahu," jawab Miyuki singkat. "Pertandingan sebentar lagi dan aku harus mempersiapkan para pitcher."
Sawamura menggigit bibir bawahnya. "Oh… begitu."
"Kapan… uh… pertandingan baseball-nya dimulai?" tanya Sawamura lagi.
"Lima hari lagi," jawab Miyuki, "tapi aku tidak akan memintamu untuk datang lagi."
Sawamura tidak mau mendengar kalimat itu keluar dari mulut Miyuki. "Lagipula pertandingannya bukan di SMA Seidou."
Kau juga tidak akan datang kan?
Mati-matian Miyuki menahan dirinya agar kalimat sesinis itu tidak keluar dari mulutnya.
"Sawamura," panggil Miyuki, "aku harus rapat sekarang." Dia mengatakannya dengan penegasan. Sawamura tidak punya lagi alasan untuk menahan Miyuki.
"Ah ya…" katanya sambil melepas lengan Miyuki, "maaf sudah menahanmu."
Lalu, seperti itulah Sawamura melihat punggung Miyuki yang berjalan menjauh. Langit senja semakin berwarna jingga, tetapi warna itu sekarang begitu menusuk mata milik Sawamura.
.
"Kenapa Sawamura hari ini?" bisik beberapa teman-teman di klubnya. Sawamura Eijun sudah membidik sebanyak 20 kali, tetapi tidak ada satu pun anak panah yang menancap di target sasaran.
"Eijun-kun kau baik-baik saja?" tanya Haruichi cemas.
"Eh? Iya," jawab Sawamura sedikit kaget.
"Kau tidak berhasil menorehkan satu poin pun," kata Haruichi, "dan itu artinya kau tidak baik-baik saja." Dia menatap temannya. "Ada masalah apa?" tanyanya.
Sawamura menggeleng. "Aku hanya kurang tidur saja semalam dan jadi mengantuk sekarang," katanya. Itu tidak sepenuhnya bohong, karena sikap Miyuki kemarin membuatnya terdistraksi. Sawamura sudah mencoba untuk bermeditasi guna membangkitkan konsentrasinya, tetapi di dalam kepalanya malah terbayang-bayang Miyuki Kazuya dan sikapnya. Meditasi tidak menghasilkan hasil yang baik.
"Ini bukan pertama kalinya kau kurang tidur," kata Haruichi. Dia melirik sekelilingnya dan setelah memastikan tidak ada yang bisa mendengar, dia bertanya, "apa ada masalah dengan kepindahanmu, Eijun-kun?"
Sawamura sontak menggeleng tegas. "Semuanya baik-baik saja Haruo! Ibuku bahkan sudah membawa beberapa barang-barang dikirim lebih dulu ke Singapura."
Haruichi menghela napas. "Syukurlah," katanya, "jadi apa sumbernya?" tanyanya lagi.
Sawamura lagi-lagi tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia sendiri tidak tahu darimana sumbernya. Akhirnya, dia menghela napas. "Aku minta maaf karena performaku tidak bagus hari ini, tapi aku akan membayarnya dengan membuat poin sebanyak-banyaknya!" serunya semangat.
Haruichi tersenyum.
"Bagus," katanya, "sekarang kau lebih tampak seperti Sawamura Eijun."
Sawamura tertawa. "Aku memang Sawamura Eijun!"
"Pertandingan sudah di depan mata. Ayo kita taklukan musim panas!"
Aku tidak boleh terdistraksi lagi.
Ini musim panas terakhir di Jepang.
Tahun depan aku sudah tidak akan melewatkan musim panas di negara tropis dan euforia ini sudah tidak akan aku rasakan lagi.
.
august
.
Minggu-minggu pertandingan memang tidak boleh diremehkan. Semua pikiran benar-benar harus fokus pada pertandingan di depan mata atau kesempatan untuk menjadi yang terkuat di musim panas akan hangus dengan sia-sia.
"SHA!"
Para penonton bersorak tegas ketika anak panah milik Sawamura Eijun kembali menancap tegas di tengah-tengah target sasaran. Papan poin diputar dan menghasilkan kemenangan mutlak bagi SMA Seidou.
Anggota klub yang ikut menonton bersorak-sorak gembira dan Sawamura menghela napasnya lega. Dia menatap papan poin dimana skor kemenangan itu terpampang jelas. Hatinya begitu terasa ringan dan perasaan berbunga membuncah. Musim panas dan bulan Agustusnya berakhir dengan baik.
"SELAMAT UNTUK KEMENANGAN KITA!"
Para anggota klub saling berpeluk satu sama lain dengan erat. Sawamura bahkan merangkul Haruichi sambil tertawa-tawa.
"Ayo kita rayakan!" seru seorang anggota klub laki-laki.
Mereka merayakannya di restoran tradisional jepang. Para anggota klub tertawa-tawa dan saling berbagi cerita. Sawamura juga menimpali obrolan dengan candaan. Lalu, ketika mereka sedang asyik bicara, namanya dipanggil oleh Haruichi.
"Ada apa?" tanya Sawamura.
"Besok mau menemaniku menonton pertandingan baseball?" tanyanya.
Sawamura terdiam. Setelah euforia ini selesai, dia kembali teringat akan Miyuki Kazuya. Sejak terakhir kali mereka bertemu, mereka sama sekali belum berbicara lagi. Miyuki juga tidak datang untuk berlatih bersama dengannya di kyudojo. Mereka tidak lagi menemani satu sama lain dengan latihan mandiri. Dia ingin tahu apakah tim baseball Seidou terus meraih kemenangan atau sudah dihadang oleh tembok bermana kekalahan.
"Kenapa kau mendadak ingin menonton baseball?" tanya Sawamura.
Haruichi mengangkat bahunya santai. "Besok adalah final untuk tiket ke Koshien," kata Haruichi, "dan kakakku juga akan menonton."
"Kakakmu?" tanya Sawamura bingung.
"Dia alumni dari Seidou juga dan dia mantan anggota klub baseball. Katanya dia aakn datang, tapi pasti dia datang bersama dengan teman-temannya. Jadi tidak begitu enak kalau memintanya menemaniku," jelas Haruichi.
Sawamura paham. Jadi itu toh alasan utama Haruichi mengajaknya menonton.
"Apa kau sibuk besok?" tanya Haruichi.
Sawamura menggeleng. "Sebagian barang-barang kami sudah dipindahkan semua ke Singapura. Jadi, tinggal baju sehari-hari saja yang nanti dibawa ketika hari pindahan," jelas Sawamura.
Haruichi mengangguk paham. "Hari kepindahanmu semakin dekat ya," kata Haruichi. "Kapan kau berangkat ke Singapura?" tanyanya.
"Akhir minggu ini," jawab Sawamura, "Ayahku sengaja mempercepatnya agar aku bisa mengurus administrasi sekolah baruku di sana."
"Kupikir aku bisa mengantarkanmu di bandara," kata Haruichi.
Senyum Sawamura melebar. "Serius? Kau baik sekali Haruo!"
.
Stadion penuh dengan para penonton. Wajar, ini adalah final, apalagi SMA Seidou berhadapan dengan musuh bebuyutan mereka, SMK Inashiro. Semua orang penasaran dan ingin melihat siapa yang akan memenangkan tiket menuju Koshien ini.
"BALL FOUR! WALK!" seru wasit tegas.
Dugout milik Seidou bersorak-sorak ramai. Sawamura dan Haruichi menonton pertandingan itu dengan duduk di salah satu bangku kosong. Kakak Haruichi, Kominato Ryousuke berdiri sambil berdiskusi dengan teman-temannya.
Narumiya Mei menghembuskan napasnya dan menatap tajam ke arah batter selanjutnya.
"Batter selanjutnya. No.4. Catcher. Miyuki Kazuya-kun."
Ketika nama itu disebut, Sawamura tanpa sadar menahan napasnya. Dari tempatnya duduk Sawamura hanya bisa melihat punggung Miyuki saja, tetapi sekali lihat juga Sawamura tahu bahwa itu Miyuki Kazuya. Dia memakai atribut seorang batter, berupa helm pelindung. Sawamura baru tersadar bahwa inilah pertama kalinya dia melihat Miyuki dengan seragam baseball-nya yang lengkap.
Miyuki memasang kuda-kuda yang selalu dilihat Sawamura ketika mereka sedang latihan mandiri bersama, menemani satu sama lain. Sawamura bisa membayangkan wajah konsentrasi milik Miyuki, tidak bisa dipatahkan dengan apapun dan Miyuki tampak sangat menarik ketika dia sedang mengayunkan bat-nya.
Sawamura Eijun selalu melihat bagaimana Miyuki mengayunkan bat-nya setiap malam. Dengan penuh keringat, dan suara desingan angin yang bersahut-sahutan antara mereka berdua, itu merupakan kegiatan favorit Sawamura.
"STRIKE TWO!" seru wasit tegas.
Dia yakin bahwa Miyuki mengayunkan bat-nya setiap hari, tanpa lelah, dan tanpa jeda, untuk hari ini. Untuk hari-hari penentuan seperti ini. Sawamura paham perasaan Miyuki. Sebuah perasaan ingin menang dan kerja keras yang selama ini terbayarkan.
Jadi, ketika Narumiya Mei melemparkan lagi bola andalannya, Sawamura menahan napas ketika Miyuki mulai mengayunkan bat-nya. Gerakan itu bagai slow motion di dalam benak Sawamura, meskipun pada dasarnya terjadi dengan begitu cepat. Bola mengenai bat Miyuki, lalu Miyuki mengayunkan bat-nya sampai membuat bola terbang hingga keluar dari jangkauan outfielder.
Runner dari base 3 pulang ke home dengan selamat, lalu disusul runner base 2 dan Miyuki Kazuya. Semua penonton bersorak-sorak riuh sampai Sawamura pusing mendengarnya. Para pemain keluar dari dugout dan mulai merangkul Miyuki Kazuya yang berhasil membuat home run. Berkebalikan dari situasi ceria di SMA Seidou, seluruh pemain Inashiro terlihat menunduk dan mulai menangis.
Hanya tinggal satu jengkal lagi, tapi tiket menuju panggung akbar Koshien terenggut di depan mata mereka.
Sawamura bangkit sambil bertepuk tangan. Dia senang bahwa sekolahnya berhasil mencapai Koshien tahun ini. Terlebih, dia senang melihat Miyuki Kazuya yang tertawa lepas dan sangat bahagia di hari yang membahagiakan ini.
.
"Selamat untuk kemenanganmu."
Miyuki Kazuya berbalik dan mendapati Sawamura Eijun berdiri beberapa meter di belakangnya. Adik kelasnya tersenyum tulus dan pipinya memerah. Dia memakai topi untuk menghalau panas sinar mentari, tetapi tidak berpengaruh banyak.
"Terima kasih," kata Miyuki tulus.
Sawamura maju dan Miyuki ikutan maju, hingga jarak mereka menipis. Lalu, mereka terdiam.
"Maaf," kata Miyuki Kazuya. Sawamura mendongak menatap kakak kelasnya.
"Untuk apa?"
"Aku bersikap brengsek padamu minggu lalu," kata Miyuki. Dia mengusap tengkuknya. "Aku kesal karena kau tidak datang, padahal aku menunggumu. Jadi… maaf kalau sikapku seperti itu."
Sawamura masih diam mendengarkan. "Padahal kau sudah mengatakan alasannya, tapi aku tetap tidak mau mendengar."
Sawamura menelan ludahnya beberapa kali sebelum dia berbicara. "Aku akan pergi akhir minggu ini," kata Sawamura. "Waktu itu aku membantu Ibuku mengemasi barang-barang yang akan dibawa pergi lebih dulu."
Miyuki menatapnya bingung. "Kau akan pergi kemana? Liburan?" tanyanya.
Sawamura tertawa mendengar pertanyaan Miyuki. "Bukan, Miyuki Kazuya. Aku akan pindah ke Singapura."
Informasi itu tampak tidak masuk akal dan otak Miyuki mendadak kosong. "Apa?" tanyanya.
"Ayahku mendapat penugasan baru dan kali ini di Singapura. Jadi, keluarga kami akan pindah ke Singapura," kata Sawamura.
Sawamura menjelaskannya dengan lugas dan tegas. Miyuki masih menatapnya kosong. Dia masih belum bisa mencerna informasi yang diberikan oleh Sawamura. Sawamura pindah ke Singapura. Rasanya sangat tidak masuk akal.
"Memangnya kau… bisa bahasa inggris?" tanya Miyuki entah dari mana. Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Sawamura berdecak kesal mendengarnya. "Sial kau. Begini-begini aku sempat tinggal di Qatar selama 3 tahun ya! Jangan remehkan kemampuan bahasa inggrisku."
Informasi baru kembali masuk ke dalam otak Miyuki. Sawamura pernah tinggal di Qatar. Mendadak, Miyuki sadar bahwa dia sama sekali tidak tahu apapun mengenai Sawamura. Dia tidak tahu asal-usul Sawamura Eijun, profil orangtuanya, sudah ke negara mana saja di tinggal, dan lain sebagainya. Mendadak, dia ingin tahu mengenai Sawamura lebih jauh lagi. Lebih banyak lagi, tetapi dalam kondisi mereka sekarang, semuanya tampak sangat mustahil.
"Yah, pokoknya, aku senang kita berdua bisa berbaikan sebelum aku ke Singapura," kata Sawamura tersenyum.
Miyuki bertanya-tanya, bagaimana cara Sawamura bisa bersikap dengan sangat tenang seperti itu. Mungkin karena ini bukan pindahannya yang pertama, jadi Sawamura merasa tidak ada yang spesial. Namun, perasaan yang Miyuki rasakan padanya spesial.
Miyuki tersenyum dan mendengus. "Iya," katanya, "aku juga senang."
"Oh ya, apa aku boleh minta alamat e-mail-mu?" tanya Sawamura. Dia menyodorkan ponselnya. "Aku ingin kita bisa terus berkomunikasi setelah ini."
Miyuki mengambil ponsel milik Sawamura dan mengetikkan alamat e-mail-nya. Lalu dia menyerahkannya lagi pada Sawamura. Sawamura menatap e-mail Miyuki dengan puas. Lalu, dia mengetikkan sesuatu. Tak lama, ponsel Miyuki berdering.
"Aku baru saja mengirim e-mail padamu," kata Sawamura. Miyuki mengecek e-mail-nya dan benar bahwa alamat pengirimnya adalah Sawamura. Miyuki menatap Sawamura lagi.
"Kalau aku mengirimimu e-mail, harus langsung dibalas ya," kata Sawamura.
Miyuki mengangguk. "Aku takutnya malah kau yang slow respond," katanya.
Sawamura berdecih lagi, pura-pura kesal.
"Apa kau mau aku mengantar sampai di bandara?" tawar Miyuki.
Sawamura menggeleng. "Tidak perlu," jawabnya, "kau ada pertandingan penting di Koshien. Daripada mengantarkanku, kau sebaikanya bersiap-siap. Lawanmu itu sekarang tim-tim terbaik di Jepang!"
Miyuki mengangguk setuju. Dia tertawa. "Benar juga. Aku harus latihan ekstra keras mulai dari sekarang," katanya, "tapi sedih juga karena tidak ada lagi yang bisa menemaniku latihan mandiri setiap malam."
Sawamura tertawa, meskipun entah kenapa ada yang sesak di sudut hatinya. "Sekarang saatnya kita kembali pada rutinitas masing-masing kan?" retoriknya.
Sejujurnya, Miyuki tidak mau kembali pada rutinitasnya yang dulu. Dia terlanjur nyaman dengan rutinitas barunya bersama dengan Sawamura Eijun. Saling berlatih untuk mencapai target masing-masing, lalu tidur-tiduran di aula dojo, sampai menggoda Sawamura dan menikmati perubahan ekspresi pemuda itu. Miyuki masih mau melakukan itu semua.
"Padahal musim panas belum berakhir," kata Miyuki.
Sawamura mengangguk setuju. "Bulan Agustus sebentar lagi berakhir," kata Sawamura. Sawamura mengulurkan tangannya. "Terima kasih sudah membuat bulan Agustus ini begitu berwarna, Miyuki Kazuya."
Dengan pelan Miyuki meraih uluran tangan itu. Dia menggenggamnya dengan lembut dan pelan. hal itu membuat tulang sumsum Sawamura seperti dialiri oleh sengatan listrik. Dia suka sentuhan Miyuki.
"Kau tetap akan terus memanggilku dengan nama lengkap seperti itu?" tanya Miyuki.
Sawamura tertawa. "Iya," katanya, "jadi kau akan selalu ingat padaku setiap kali nama lengkapmu disebut." Dia tersenyum sampai giginya terlihat. "Ini nama panggilan spesial a la Sawamura Eijun."
Miyuki mendengus. "Ada-ada saja kau."
"Tapi kau suka kan?" tanya Sawamura.
Jabat tangan mereka mengerat. "Iya. Aku suka. Sangat suka."
"Syukurlah kalau begitu. Aku juga sangat suka."
.
august
.
Bandara Internasional Narita begitu ramai. Ini adalah musim panas dan semua orang sibuk berpergian untuk melepaskan penat. Ayah dan Ibu Sawamura memberikan ruang bagi putra mereka untuk mengucapkan salam pada temannya.
"Aku pasti akan merindukanmu Haruo!" seru Sawamura semangat.
"Kalau aku liburan ke Singapura, aku akan menghubungimu," kata Haruichi.
Sawamura tertawa. "Kau bisa mengandalkanku sebagai tour guide di sana!"
Tak berselang lama, Ibunya memanggil dan menunjuk jam tangan. Sadarlah Sawamura bahwa dia harus segera berangkat. Dia menatap Haruichi lagi.
"Kau bisa pulang sendiri kan?" tanya Sawamura memastikan.
"Tenang," kata Haruichi, "aku sudah punya SIM. Dan aku jelas pengemudi yang lebih handal darimu."
Sawamura mendengus. "Kau jadi sombong ya Haruo."
Sawamura memeluk temannya. Hangat dan penuh dengan rasa persahabatan. "Sampai berjumpa lagi Haruo."
"Jaga dirimu di sana Eijun-kun."
Pelukan dilepas dan Sawamura berjalan menuju kedua orangtuanya yang sudah masuk lebih dulu ke dalam bandara. Sebelum Sawamura masuk pos pemeriksaaan, dia melambai sekali lagi pada Haruichi untuk yang terakhir kalinya. Barulah ketika Sawamura sudah tidak terlihat, pemuda itu berjalan menuju tempat parkir bandara.
Dia menatap langit musim panas yang sangat cerah.
Sampai berjumpa lagi.
.
Miyuki Kazuya sedang duduk santai di bangku taman dekat dengan hotel. Osaka benar-benar panas dan euforia masih bisa dirasakan dnegan jelas. Miyuki bisa melihat para tim baseball dari sekolah-sekolah prefektur luar Tokyo dan mereka tampak seperti pemain profesional. Kadang, Miyuki menciut sendiri jadinya. Dia menatap langit yang sangat-sangat cerah dan sangat biru. Awan berarak malas-masalan dan burung pun terlalu malas untuk terbang di langit yang terlalu panas ini.
Tak berselang lama, di atas langit, sebuah pesawat terbang melintas, meninggalkan jejak berupa kepulan awan yang membentuk sebuah garis. Anak-anak yang bermain di taman bersorak-sorak ketika pesawat lewat.
Hari ini adalah hari keberangkatan Sawamura Eijun meninggalkan Jepang. Sawamura sudah bilang untuk tidak mengantarkan kepergiannya dan Miyuki juga ternyata tidak bisa. Ada turmanen yang harus dimenangkan. Ada musim panas yang harus ditaklukan.
Tangan Miyuki menggapai ke langit, meskipun tidak ada satu inchi pun dia mendekati langit. Dia berhasil menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya, bersamaan dengan kenangan yang masuk ke dalam otaknya. Kenangan untuk momen yang singkat di dalam hidup Miyuki, tetapi juga sangat berkesan.
Selamat tinggal bulan Agustusku.
.
SELESAI
But I can see us lost in the memory
August slipped away into a moment in time
'cause it was never mine
A/N: ceritanya di bulan agustus, tapi di publish di bulan september. Tapi gak apa deh, toh baru september awal juga, jadi harusnya nuansa-nuansa agustusnya masih kerasa /maksa!/ Cerita ini lahir gara-gara saya kebanyakan dengerin album barunya Taylor Swift, Folklore. Gak tahu kenapa, saya dari dulu pengen banget buat Sawamura itu anggota klub Kyudo. menurut saya lucu aja gitu. Kyudo, seni bela diri yang mengutamakan fokus dan perasaan tenang seperti meditasi, tapi kalau ngeliat sifat aslinya Sawamura yang berapi-api, kayak api dan air. Makanya rasanya saya tertantang untuk membuat cerita ini.
Semoga para pembaca menikmati cerita ini dan silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, kritik, dan saran di kolom review. Atau hanya sekedar menekan tombol favorite dan follow.
Salam,
Sigung-chan
.
Sampai jumpa di karya selanjutnya!
