Prang...

"..."

"..."

Tuhan, apa sekarang saatnya aku menghadap-Mu?

"Jadi... bisa beri penjelasan untuk ini?"

Seketika aku bahkan sulit untuk bernafas. Harusnya tadi aku sadar jika kesialan terbesar sedang mengikuti. Saat suara dari kucing hitam memanggilku tadi pagi ketika aku akan berangkat kerja, atau saat tali tasku tiba-tiba putus karena tertarik pintu kereta listrik saat aku di stasiun, atau saat aku menerima nomor antrian 13 ketika di bank sebelum ini.

Harusnya... saat itu aku menghubungi seniorku, dengan alasan sakit aku bisa tidak masuk kerja, dan menghindari kesialan hari ini.

"Itu... Bos... a-aku terpeleset." lirih suaraku terdengar ketika menjawab. Kenapa pula si Bos pelit ini harus ada di tempat dan waktu yang tepat... dengan kesalahnku?

"Oh terpeleset. Lalu? Kenapa kau yang terpeleset tapi baik-baik saja, dan vas bunga milikku yang seharga setengah dari gajimu yang harus jatuh dan pecah?"

"Saat aku terpeleset, tidak sengaja menjatuhkan vas bunga saat mencari pegangan."

Aku mengginggit bibir melihat laki-laki yang merupakan Bos di tempatku bekerja itu mengangguk pelan. "Baiklah. Karena setidaknya dia (vas) sudah menyelamatkan nyawamu, jadi aku akan berikan diskon. Kau cukup mengganti setengah dari harga pot itu. Dan boleh dengan potong gaji bulan ini."

Kalau bisa... aku kehilangan nyawaku saja.

Biaya sewa rumahku harus dibayar, kebutuhan sehari-hariku sudah habis, biaya sekolah adikku sudah harus dilunasi. Dan sekarang, gajiku yang secukupnya harus dipotong?

.

Kenapa aku harus mendapat Bos yang pelit ini?

Sejujurnya, jangankan memecahkan vas bunga, memakai tisu toilet saja kami -bawahannya- harus extra berhemat. Tidak aneh beberapa teman kantorku bahkan membawa tisu toilet sendiri.

Yang benar saja, seberapa kuat otaknya mengingat stok tisu toilet? Bahkan untuk mengingat bilik toilet dari toilet mana saja yang baru diganti tisu dan cepat habis, dia bisa mengingatnya dengan detil. Aku curiga dia bahkan memasang CCTV di toilet... tapi, mengingat sifatnya, mana mungkin dia menghabiskan uang untuk memasang lebih banyak kamera pengintai?

Dan juga, kenapa ingatan supernya itu tidak digunakan ke hal lain yang lebih bermanfaat?

Seingatku, sudah tiga tahun aku bekerja di sini, tapi gajiku tidak pernah bertambah, apalagi mendapatkan bonus. Bahkan traktiran secangkir kopi saja tidak pernah diterima, tidak hanya olehku tapi juga oleh seluruh karyawan kantor. Hanya tersedia sebungkus kopi dan gula ukuran premium untuk seminggu yang tersedia di setiap bagian tim.

Satu tim bisa 8 orang, dan hanya diberikan sebungkus kopi dan gula untuk seminggu. Jika dihitung, hanya cukup dua gelas untuk masing-masing orang dalam satu minggu.

Oh, kertas yang terbuang akibat salah print atau fotocopy, harus dibayar dengan hitungan tiap lembarnya.

Untuk beberapa hal kecil seperti itu, aku tidak mampu menjelaskan hal-hal lain yang lebih besar. Dan untuk vas yang tadi kupecahkan... kurasa sangat mustahil dia akan memberiku kebebasan tanggung jawab dari ganti rugi. Hah.

.

Praaaangg...

Malam ini, ada perayaan di kantorku. Setelah perhitungan pengeluaran biaya yang ditekan seminim mugkin. Sungguh keajaiban pesta ini masih tampak mewah dengan makanan dan dekorasi yang menawan. Tapi aku tidak terlalu terkejut mengingat sumber makanan berasal dari usaha sepupunya sendiri dan dekorasi ditata dan dengan perlengkapan dari adiknya sendiri.

Bos ku ini... berbakat untuk mencuri rasa iri semua makhluk di bumi. Bagaimana orang dengan kepelitan maksimal ini bisa mendapatkan keberuntungan yang optimal?

Sekarang, di tengah pesta... keheningan tiba-tiba menyeruak setelah suara pecahnya satu patung keramik dengan beberapa piring dan gelas dari atas meja. Uhm... jika kuperkirakan, harga semua itu mungkin lima kali lipat dari harga vas bunga yang kupecahkan bulan lalu.

Siapa?

Siapa yang merasa dirinya akan menghadap Tuhan malam ini?

"..."

Dengan langkah yang tegap, suara sepatu yang terdengar bergema di dalam kesunyian. Seorang laki-laki dengan rupa menawan, rambut pirang, dan postur tubuh yang sempurna, terlihat di dekat lokasi perkara. Pandangan safir birunya tajam dan ekspresinya keras. Aku yang melihat dari jarak tiga meter ini saja merasa punggungku merinding, apalagi seseorang yang berdiri di hadapannya sekarang? Aku seperti melihat orang itu siap pingsan di tempat.

"Apa kau... yang bertanggung jawab?" suara itu terkendali dengan sempurna. Namun, orang di depannya tak sanggup menjawab. Sehingga... "JANGAN DIAM!" ...teriakan itu sukses membuat kepala orang di depannya hampir lepas.

Bukan karena kaget, tapi dia langsung menggeleng dengan kuat seolah kepala itu adalah mesin dengan baut yang longgar.

Kulihat alis Bosku naik sebelah. Tanpa kata, itu sudah sangat jelas jika dia menanyakan kejelasan dari gelengan kepala itu.

"A-aku... bu-bu-bukan... itu aku bu-bukan." Aku menepuk dahi ketika orang yang kukenal penakut itu bahkan tidak lagi bisa menyusun kata.

"Hooo... bukan kau? Lalu siapa yang berani sekali membuat masalah denganku?"

Si Penakut itu melirik takut ke arah bawah meja di samping mereka, tepatnya meja yang tadinya berisi piring, gelas, dan patung yang kini telah hancur.

Saat tatapan tajam itu semakin tajam, sosok kecil muncul dari bawah meja. Wajahnya ceria dengan senyum lebar karena berhasil mendapatkan kembali bola mainan miliknya. Begitu dia menoleh, ekspresinya semakin senang saat menangkap kehadiran seseorang di sana. "Papa."

Satu sebutan yang sangat jelas dari bocah enam tahun itu terdengar begitu ceria di seluruh ruangan. Membuat banyak mata mendelik kaget termasuk mataku. Dan lebih kaget saat seseorang yang dia panggil 'Papa' adalah orang yang tadi baru saja berteriak marah.

"Papa, lihat." Dia menunjukkan bola mainan di tangannya. "Bola Hima lepas, tapi Hima bisa mengejar dan menangkapnya sendiri loh."

Nak, apa kau tahu orang yang kau panggil 'Papa' itu bisa saja memarahimu karena barang-barangnya telah kau hancurkan?

"Oh." Eh? Suara lembut siapa itu? "Jadi Hima yang mengejar bola? Hebat bisa mengambilnya sendiri."

Seketika bulu kudukku berdiri. Siapa itu? Apakah itu Bos yang selalu pelit dengan tisu toilet? Apakah yang selalu koar-koar untuk membayar kertas yang terbuang? Apakah itu Bos yang memotong gajiku bulan lalu?

Bukan, 'kan? Mungkin aku salah lihat karena wajahnya mirip. Mana mungkin Bos yang selalu dingin, emosian dan pelit itu berbicara dengan nada lembut memanja kepada seorang anak kecil. Bahkan aku ingat saat dia memelototi seorang anak kecil yang mengotori sepatunya dua minggu lalu. Apakah karena bocah itu anaknya?

Eh?

Tunggu... apakah Bosku itu sudah punya anak?

"..."

"..."

"HAH!?" Seperti aku, mungkin yang lain juga baru menyadari fakta itu dan berteriak bersama. Namun, teriakkan itu tidak lama, karena lirikan tajam dari sang Bos terasa menghujani mereka dengan air es.

Oke. Sepertinya itu memang Bos kami.

"Papa, mereka kenapa?"

Bos itu berkedip dan tatapannua yang tajam berubah lembut seketika. Sebaris senyum memesona terlihat di wajahnya. "Tidak usah pedulikan mereka, mereka aneh."

Ya. Anggap saja kami aneh. Aku rela dianggap aneh asalkan kau bisa dengan emosi imutmu yang sekarang untuk seterusnya.

"Tapi, Papa..." si anak memasang wajah murung. "Saat aku mengejar bola ke bawah meja, aku tidak sengaja menjatuhkan barang-barang itu." Dia menunjuk ke arah pecahan keramik mahal di sana dengan wajah bersalah yang terlihat sangat imut. Uhm... aku juga tidak sengaja memecahkan vas bunga bulan lalu loh.

Sang Bos semakin tersenyum lebar dan menepuk kepala dengan rambut berwarna ungu berkilau itu. "Tidak apa, sayang. Itu nggak penting kok. Papa bisa beli lagi. Tidak perlu dipikirkan."

Ano, permisi... Bos, bisakah kau mengatakan hal yang sama denganku sebulan yang lalu? Hah, kepalaku tiba-tiba sakit. Bisa kubayangkan bagaimana perasaan setiap orang yang ada di sini sekarang.

Dia menunduk dan mengangkat anak itu ke dalam gendongannya. "Oke, di sana ada es krim. Kau mau? Akan Papa ambilkan."

"Uhm." Anggukan semangat anak itu membawa langkah kaki sang Bos pergi menjauh.

Meninggalkan kesunyian yang masih terasa, dengan kekagetan yang luar biasa. Tak pernah terbayangkan jika Bos pelit itu sudah mempunyai anak dan bisa sebegitu royalnya dengan si anak.

Inikah cinta orang tua?

.

.

.

End

Note : Entah apa yang merasukiku.

Ini cerita tiba-tiba aja aku tulis langsung di ff. (Biasanya di word).

Selesai dalam sekali duduk. Dan isinya nggak jelas :V :V

Hanya selintas ide yang tiba-tiba datang.

Maaf ya. :)

Salam, Rameen