He doesn't Like It
Chapter 03
.
"ANIYO!"
"Dengarkan aku dulu, Min!" kata Mark yang terus mengejar sosok lelaki yang lebih kecil darinya, sejak keluar dari kantin sana sampai di lorong kampus yang cukup sepi.
"SHIREO! SANA! PERGI SAJA DENGAN SAHABATMU ITU!"
Jaemin menjerit dengan lantang sambil tetap berjalan, meninggalkan sang kekasih dibelakang.
GREP
"Jadi, kamu cemburu, gitu?"
Sebuah lengan melingkar erat di pergelangan tangannya, disusul dengan suara berat dari Mark yang berusaha mengambil kembali mood kekasihnya.
Pacarnya?
Of course! Jaemin itu pacar seorang Mark Lee, lelaki yang menjadi sahabatnya Lee Jeno.
"Tidak! Aku tidak cemburu hanya saja aku kesal dengannu dan sahabatmu itu. Berbicara topik apa sampai seserius itu? Mana dekat-dekatan lagi." cerocos Jaemin setelah menghempaskan tangan Mark begitu saja.
Mark tersenyum tipis, "Cemburu dan kesal itu sebelas duabelas, bae. Kami hanya berbicara tentang pacarnya Jeno yang semakin hari semakin cuek, makanya dia sedih, dan aku menghiburnya." jawaban Mark mampu membuat Jaemin tersenyum.
"Nah, gitu dong. Jangan kesal dengan Jeno lagi, ya. Dia tidak salah kok." sambung Mark sambil mengelus pelan surai rambut Jaemin yang kecoklatan dengan lembut.
Suasana tetap hening, hingga beberapa menit kedepan, sehingga salah satu dari mereka membuka suara.
"Mark, apa kita bisa tetap seperti ini?" tanya Jaemin yang menatap Mark dengan penuh harapan. Yang ditanya segera menjilat bibir bawahnya yang terasa kering, dan suasana semakin mencekam.
"Akan aku perjuangkan, Min. Ah! uncle dan aunty baik-baik saja, kan?" tanya Mark. Jaemin mengangguk dengan jelas. Orangtuanya baik-baik saja memang, tapi, hubungan mereka kurang persetujuan. Karna, Mark itu anak musik, papanya takut Jaemin akan mengalami kesulitan nantinya. Pemikiran yang cukup kuno namun ada benarnya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Aku masih ada kelas, dan kamu jangan kemana-mana. Aku akan mengantarmu pulang, bae." kata Mark yang merapikan rambut Jaemin yang sedikit rusak tatanannya.
Jaemin mengangguk, "Ya pergilah. Jadilah orang sukses. Papa mama akan merestui kita, Mark." Perkataan Jaemin berimbas pada Mark yang langsung pergi begitu saja, setelah meninggalkan seulas senyum untuk namja manis yang mulai berkaca-kaca ini.
Jawmin menatap sendu punggung Mark yang semakin menjauh dan memghilanh dibalik dinding tebal berwarna putih. "Gomawo..." kata Jaemin dengan setetes air mata yang menetes dengan pelan.
"Mungkin ini akhirnya... I'm alone and see you both guys together." kata Jaemin dengan pelan, tidak berniat menghapus air mata yang semakin deras mengalir di daerah pipinya.
BRUK
Jaemin tersungkur langsung di tanah setelah tidak bisa menahan dirinya untuk lebih lama lagi. "Hiks... hiks... hiks... Kau jahat, Mark. Benar-benar jahat!" teriak Jaemin di koridor yang cukup sepi ini.
Jaemin menutup kedua matanya, ia tidak bisa berbohong kalau ia tidak mendengar semuanya, ia tahu ia tidak bisa berbohong kepada teman-teman sekampusnya, tapi, ia haris melakukannya. Karna, hanya cinta.
Ingin rasanya Jaemin melabrak mereka dan membuat sebuah keputusan yang sangat besar diantara mereka. Ingin rasanya ia egois, tidak membiarkan seorangpun mendekati dia.
Tapi, apa yang terjadi?
Semua tidak sesuai dengan ekspetasinya. Ia hanya bisa menangis dan meratapi apa yang dialaminya. Tidak ada yang mengetahui, bahkan Mark sekalipun. Ia cukup mahir menyembunyikan ini semua.
Ia hanya ingin dia memulainya duluan, mengakui semuanya sebelum semuanya semakin dalam dan semakin runyam. Jaemin akan memaafkannya jika ia melakukan itu seminggu bahkan dua minggu kemudian.
Ia tidak buta akan yang terjadi didepannya. Melihat mereka berdua berbisik-bisik, cukup membuat Jaemin menetap sebuah argumentasi dibenaknya. Tapi, apa yang ia lakukan? Ia hanya bisa menutup kedua matanya dan bertingkah seperti biasa.
PUK!
Jaemin membuka sepasang tangannya, berusaha melihat sosok yang menepuk pundaknya ditengah mata yang berkabut.
"Hey! Uljima, Min." kata orang tersebut dengan senyum. Jaemin ikut tersenyum tengah kegiatannya menghapus air mata.
"Ingin makan? Mungkin kita bisa ke cafe seberang kampus. Kudengar itu baru saja dibuka." kata orang tersebut yang menawarkan pada Jaemin.
"Ta... Tapi, Mark memintaku untuk..."
"Biarkan saja. Aku akan membayar apa yang kamu makan, minum disana. Sebelum Mark selesai dengan pelajarannya kita akan kembali." kata namja tersebut setelah memotong perkataan Jaemin.
Jaemin tampak ragu-ragu sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Namja tersebut tersenyum dan mengusak rambutnya dengan gemas. Jaemin ini memang menggemaskan.
"Ingin makan apa nanti?"
"Cheesecake, red velvet cake, bubble tea, and... I don't know. I will tell you, if I got more again." kata Jaemin yang berdiri dibantu dengan orang tersebut.
"Kita pergi?"
"Kajja, Jae hyung." kata Jaemin dan menarik namja itu pergi ke cafe seberang kampusnya. Mungkin melupakan mereka sejenak adalah hal yang bagus.
NA
#Hello, akhirnya update...
#Maaf jika ada typo, tidak memuaskan, apalagi ini chapternya pendek lho.. Mungkin akan menjadi sedikit panjang di beberapa chapter kedepan.
#Maaf juga karna telah membuat mereka bertiga menderita, apalagi Jaemin kan...
#Next, review pleaseeee...
