He Doesn't Like It
"Chapter 03"
Jeno tetap menulis bait lagu dengan tatapan sedih. Buku yang usang nan tebal itu selalu bersamanya dksaat kapanpun ia butuhkan. Buku yang selalu ada ditas selempangnya, buku yang selalu menjadi tempat curahan hatinya yang sedang gundah gelisah maupun senang tak bertentu.
"Mark," panggil Jeno dengan pelan, yang tentu saja tidak disahuti oleh siapapun karena, Mark sedang tidak ada disini.
"Mark Lee," panggil Jeno yang semakin berkaca-kaca. Terasa sakit saat ia memanggil nama tersebut.
Nama 'Mark' telah terbingkai dihatinya bertahun-tahun sejak mereka berkenalan dimasa smp mereka hingga mereka kuliah sekarang.
Ia selalu merasakan hujaman saat Mark mengatakan betapa manisnya Jaemin, betapa baiknya Jaemin, betapa ia menyukai Jaemin sebelum ia tahu sudut pandang Jeno yang sebenarnya.
Hati kecilnya ingin memberontak didepan Mark, mengatakan seluruh isi hati dan pikirannya, tanpa peduli dengan statuspersahabatan mereka.
Jeno menjatuhkan pensilnya dengan pelab diatas buku tersebut. Ia tidak sanggup lagi untuk menulis, rasanya sakit sekali.
Ingin ia merutuki dirinya sendiri, mengatakan bahwa dunia betapa bodohnya ia, betapa kurang kehati-hatian dirinya, hingga membuat Mark berada diposisi yang sulit.
"Mark," lirih Jeno yang mengangkat tangannya gemetaran. Menulis dengan indah huruf 'Mark' dengan tetesan air mata.
"Mianhae..." kata Jeno yang menangis dalam diam.
Lihat betapa hebatnya pemuda yang satu ini. Dia sedang didalam kelas, duduk dipojok kiri terdalam, tiada satu orangpun yang tahu kondisinya yang sedang menangis. Mahasiswa lainnya melihat kebelakang saja tidak.
"Mark," suara Jeno hampir menghilang ditelan isak tangisnya. Ia merasa menjadi gila hanya karena Mark sendiri.
GREP
Sepasang lengan memeluk bahunya dengan kuat. Ia menangis semakin hebat, namun, tidak ada yang tahu karena suaranya menghilang. Sepasang matanya memerah seperti tomat sama seperti hidungnya.
"Uljima..." kata pemilik lengan tersebut dengan lirih, dan beralih duduk disebelahnya.
"Gwaenchana... Semuanya akan baik-baik saja." kata pemilik lengan tersebut dengan pelan, dan membawa wajah Jeno yang memerah karena menangis ke dadanya.
'Mark, bukannya kamu harus bersama Jaemin?'
Jeno menunjukkan ponselnya kepada sipemilik lengan tadi, menampilkan kotak pesan yang tidak terkirim kepada Mark.
"Aku harus belajar, Jeno. Bukankah itu yang kamu pinta?" tanya Mark dengan lembut. Jeno hanya mengangguk dengan air mata yang masih mengalir.
"Mianhae... harusnya aku tidak mengutarakannya." kata Mark dengan tatapan sendu, tangannya beralih untuk menghapus jejak Jeno dengan pelan. Air mata itu terus keluar.
'Aku tidak dapat menghentikannya, Mark. Eotthokhae?'
Jeno terus menerus menangis dalam diam. Ia sama sekali tidak bersuara. Mark semakin takut, dan bingung.
"Sebentar." kata Mark yang terus menerus menghapus jejak air mata Jeno yang tak kunjung berhenti.
Mark berdiri dengan tenang, ia menggendong Jeno dari depan, membiarkan barang-barang Jeno dimeja mereka. "Benamkan wajahmu dibahuku, atau leherku." titah Mark yang segera dilakukan oleh Jeno. Air matanya tidak bisa berhenti.
Mark keluar dari kelas tersebut dengan posisi menggendong Jeno tanpa peduli beragam tatapan mahasiswa lainnya. Mark membawa Jeno ke atap kampus yang sepi pengunjung.
"Sekarang, keluarkan suaramu." kata Mark yang menepuk punggung Jeno dengan pelan.
Jeno menggeleng, ia sudah mencobanya sebelum Mark datang. Tidak ada suara yang dihasilkan.
"Isak tangismu. Keluarkan saja... Jangan pernah malu untuk menangis didepanku. Jangan pernah sok kuat, karena aku yang akan melindungimu, Lee Jeno." kata Mark yang berusaha membuat Jeno mengeluarkan isak tangisnya, ia menepuk punggung Jeno layaknya bayi.
"Hiks... Hiks... Hiks... Markie..." Isak Jeno yang semakin mengeratkan pelukannya dileher Mark, yang membuat Mark merasa lega.
Mark selalu tahu luar dalamnya Jeno, Jeno jarang tangis bersuara, selalu dalam diam. Namun, kali ini terlalu melampaui batas. Jeno hanya akan menangis sebentar saja, paling tidak hanya semenit dan akan seperti biasanya lagi. Namun, ini telah terlalu lama.
"Bersuaralah kalau menangis, Jeno. Kamu membuatku takut setengah mati." kata Mark yang masih menepuk punggung Jeno.
Berat Jeno terlalu ringan bagi Mark. Padahal, Mark selalu memberi Jeno makan tiga kali sehari dengan porsi yang sama besarnya.
Jeno masih menangis, tidak peduli jika kaus Mark akan basah karena air matanya.
Mark terus diam dengan tangan yang bergerak aktif untuk membawa Jeno tertidur sehabis menangis.
Setelah tidak mendengar isak tangis Jeno melainkan dengkuran halus dari bibirnya, Mark berbisik pelan, "Mianhae. Aku akan memastikan hatiku untuk tidak membuatmu terluka, Jeno."
Mark terus berdiri dan menepuk punggung Jeno agar terus tertidur. "Ssttt..." desis Mark saat Jeno bergerak sedikit, namun, kembali lagi diam.
"Pst, Ren, bisa tolong ambilkan tasku dan Jeno dikelas?"
"Iya... ketemunya diparkiran."
"Kita akan bicarakan itu disana." Mark menutup komunikasi tersebut.
Mark membawa Jeno keparkiran, meletakkan Jeno dijok mobil sebelah pengemudi dengan pelan.
"Mianhae..." kata Mark untuk sekian kalinya. Ia menunggu sosok yang akan membawa tas mereka berdua.
"Mark!" panggil sosok tersebut dan mendekati Mark dengan tergesa-gesa.
"Gomawo."kata Mark lalu meletakkan tas dibelakang mobil.
"Kamu itu... jangan menggantung Jeno. Aku menyerah karena merasa kamu pantas, bodoh." kata sosok tersebut yang terdengar mendumel.
"Iya... aku akan segera memberi kepastian, Huang Renjun." kata Mark dengan santai.
"Secepatnya. Atau, Jeno akan kudekati perlahan-lahan." kata Renjun yang merupakan sosok tersebut.
"Dia tidak akan mau dengan model seperti dirimu, Huang. Dia perlu sosok yang melindungi dirinya. Bukan sosok yang dilindungi olehnya." kata Mark yang membuat Renjun mendumel.
"Sialan kau Mark! Kau kira aku uke." kata Renjun lalu mereka tertawa bebas.
To Be Continue
AN:
# Helloooo akhirnya aku up lagi setelah sekian lama...
# Jadi, sekarang aku membuat jadwal updateeee...
# Jadi, see you next saturday guysss
# RnR juseyooooo
