Chapter 04

He Doesn't Like It

Jeno mengerang pelan, kepalanya sedikit pusing sambil menggerakkan tubuhnya menjadi posisi duduk di atas kasur.

Atas kasur?

Jeno melihat ke sekeliling ruangan ini, dan menghembuskan napas saat ia tahu ruangan siapa ini. Meja belajar yang tertata rapi di depan kasur, disebelah terdapat sebuah grand piano dengan sebuah gitar yang bersandar pada tubuh piano tersebut.

"Sudah bangun, Jen?"

Jeno tersenyum pelan dan mengangguk, menatap siluet tubuh pemilik ruangan ini yang berjalan mendekatinya.

"Jangan menangis seperti tadi lagi. Jangan selalu menyembunyikan kegelisahan dan kesedihan apapun di hatimu, sayang. Kau bisa berbagi denganku." ucap pemuda tersebut dengan nada khawatir terselip di dalamnya.

Mark memilih membawa Jeno ke apartemennya sehabis insiden menangis tersebut. Bukan waktu yang tepat membawanya ke apartemen Jeno walaupun ia tahu password tempat tinggal Jeno tersebut.

Jeno lebih sering menginap di apartemennya dan memiliki lemari pakaiannya sendiri di tempat Mark.

"Maaf, Markie."

Mark tersenyum, ia mengelus surai rambut Jeno yang sehalus rambut bayi dengan penuh kelembutan. Hatinya mencelos saat melihat Jeno yang tersendat-sendat untuk menangis. Pipinya tercubit keras saat mengerti kalau kondisi Jeno kurang lebih dipengaruhi olehnya.

"Sudah, tidak apa-apa. Aku juga sudah meminta ijin kepada Renjun."

"Yah... padahal dosennya kali ini menarik ketika membahas sesuatu."

Mark menjawil hidung Jeno dengan gemas. Kekasihnya satu ini sangat menggemaskan padahal baru bangun dari tidurnya. "Mana lebih menarik aku atau dosen tersebut?" tanya Mark sembari menaik turunkan alisnya.

Jeno memangku tangannya dan mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuknya, memasang pose berpikir yang terlihat imut di mata Mark.

Memang Mark kita itu bucin dengan Jeno.

Mark menahan jerit akibat gemas dengan sikap Jeno.

"Markie lebih menarik, tapi dosennya punya kharisma sendiri bagi Jeno." jawab Jeno dengan kalem.

Mark langsung menggelitik pinggang Jeno. Bagaimana bisa ada pemuda berusia dua puluhan tahun dan masih terlihat menggemaskan bak bayi berusia setahun?

"Haha... Markie, stop. Please st- Haha..." Jeno berusaha menahan tangan Mark yang masih bergerilya di sekitaran pinggangnya.

"Tidak mau. Siapa suruh menjadi imut begini." Mark masih menggelitik, bahkan mulai mengukung tubuh Jeno dibawahnya.

"Jeno tidak- Hahaha... imut. Jeno ganteng."

Mark menghentikan aksinya, dan menatap Jeno yang meraup oksigen serakus mungkin dibawahnya. Dadanya kembang kempis karena berpacu terlalu cepat.

Jeno begitu memikat di siang hari.

Cup

"Don't be this sweet, baby." ucap Mark setelah mencuri satu kecupan lembut di bibir Jeno yang terbuka lebar, karena mengais oksigen.

Jeno merengut kesal. Ia tidak suka dipanggil manis, imut. Ia tampan, banyak kaum hawa yang selalu mengantri menjadi pasangannya. Tapi, dibandingkan dengan kharisma Mark. Jeno memang lebih memancarkan keimutannya daripada sisi dominan.

"Aku tidak imut."

Cup"Membantah sekali, hukumannya sekali."

"Itu maumu, Markie. Awas, Jeno mau makan."

Jeno mengerang kesal dibawah kungkungan Mark. Ia menepuk pundak Mark untuk menggeser tubuhnya dari atasnya.

"Makan mulu. Tidak takut kelebihan lemak?" ucap Mark yang menuruti permintaan Jeno untuk menggeser tubuhnya. Tetapi, sekarang ia mengunci seluruh pergerakan Jeno dari samping.

"Markie bilang aku terlihat kekurangan gizi. Jadinya, aku makan banyak."

Mark terkekeh gemas, lalu mengusakkan hidungnya di lekuk leher Jeno. Menghirup aroma alami yang keluar dari tubuh Jeno.

"Markie, mau jajan."

Mark tersenyum lalu mengangguk. Mark tidak bisa mengatakan tidak ketika Jeno melayangkan mata berbinar berharapnya itu.

"Anything for you, baby."

Jeno memekik kegirangan lalu memeluk Mark sekilas dan segera mempersiapkan diri untuk keliling kota mencari jajanan kesukaannya.

Mark menggeleng kepalanya.

"How baby he is."

To Be Continue

#Iya, aku dah update. Moga-moga aja ceoat kelar. Karena, ini cerita dari awal tidak ada persiapan sama sekali. Jadinya, makin stuck aja gitu setelah ditinggal tahunan.

# RnR pleaseeee