Title: Hand In Hand, Towards The Happy End

Rated: T

Genre: Hurt/Comfort

Character(s): Dazai Osamu, Kume Masao, Akutagawa Ryuunosuke

Disclaimer: Bungou to Alchemist belongs to DMM Games

Summary: Sejak misi mensucikan Haguruma berakhir, Dazai dihantui rasa penasaran tentang hubungan antara Akutagawa Ryuunosuke dan Kume Masao.

Warning(s): heavy reference from Haguruma (game ver), might connected to Reconciliation Letter but can be read as a standalone, akukumedaza is a thing, dazai wants to satisfy his curiosity, too much interaction between dzi and others, I put both game and anime timeline and stitch it together in other words; messed up timeline, actually this is kumedaza agenda with aktgw (once again) didn't really appear in the story


Perpustakaan tampak sibuk. Beberapa orang baru saja mengerjakan tugas mereka, mensucikan 'buku' yang diserang shinshokusha. Biasanya tidak banyak yang pergi, paling hanya empat sampai lima personil. Dazai tidak ikut pergi delving. Ia sedang istirahat di ruang kesehatan dengan dua temannya sebagai pengunjung ruangan. Dokter Mori tak terlihat ada di sana, mungkin keluar ketika tahu ada dua orang yang dapat menemani pasiennya.

Dazai tidak mengalami luka parah sampai harus dirawat secara intensif. Luka kecil di bagian tangan dan kakinya sudah diobati, tapi rekan Buraiha-nya memaksa agar ia beristirahat sehari di ruang kesehatan. Mereka pikir hasil pergi delving tiga kali dalam jangka waktu dekat dapat mempengaruhi kesehatannya, terutama ketika mereka menyadari bahwa luka pada misi sebelumnya belum juga sembuh.

"Emangnya aku pernah sesekali ngeluh sakit, apa?" Dazai mengamati dua temannya yang duduk mengelilinginya seolah-olah ingin menjaga jika ia berniat kabur dari kanan maupun kiri. "Yang seharusnya kalian khawatirin tuh Odasaku! Dia lagi pergi, 'kan?"

"Dia cuma pergi belanja sama Miyoshi," jawab Ango sembari membetulkan kacamatanya. "Lagian, Odasaku sehat-sehat aja sekarang."

"Dia itu suka maksain diri. Kamu paling ngerti itu, Ango."

"Kita udah mastiin dia nggak begitu, seenggaknya beberapa hari ini." Dan memberi balasan telak pada argumennya. "Menyerah aja, Dazai. Cuma sampai besok, kok."

"Gimana bisa aku santai-santai aja di sini tanpa tahu keadaan Akutagawa-sensei?!" Dazai menggenggam erat selimut yang membungkusnya. Jika ia beruntung, ia dapat segera menyibak selimut saat mereka mau memahami perasaannya dan mengizinkannya pergi keluar. "Aku nggak liat sensei sama sekali. Padahal bukunya lho yang aku masukin!"

"Dia baik-baik aja."

"Dia sempet kena serang shinshokusha di dalam Haguruma!"

"Dia sudah ke sini duluan bersama kerumunannya di saat kamu lagi sesumbar di depan kita sampai pingsan di tengah-tengah cerita heroikmu." Ango menatap kasur kosong sebelah Dazai. "Kamu ngerti maksudnya?"

"Uh … aku gagal liat Akutagawa-sensei diobati?"

"Dia cepat pulih karena mau menurut kata-kata temannya untuk segera ke ruang kesehatan." Dan mengoreksi jawaban Dazai. "Makanya, biar seperti sensei kebanggaanmu, tetap di sini sampai tenagamu pulih."

"Tch, kupikir Dan bakal setuju sama pemikiranku."

"Aku mendahulukan kesehatanmu."

Dazai tersenyum geli mendengar ucapan temannya. "Oke, deh. Aku istirahat."

Dalam beberapa menit, suasana di ruangan itu nampak tenang. Ango membaca buku yang ia bawa, dan sesekali mengikuti obrolan Dan dan Dazai tentang penampakan di lorong lantai satu pada malam hari. Ketika pembicaraan tersebut sudah mencapai ujungnya, Dazai kembali mengeluhkan kejenuhan-nya berbaring di atas kasur.

"Stop, Dazai."

"Aku beneran bosen, Ango!" keluh Dazai. Ia tak tahan terus-terusan menatapi dua pengunjungnya maupun langit-langit kamar. "Aku yakin aku udah bener-bener sehat!"

Ango menangkap kontak mata dari Dan. Mereka kehabisan ide untuk menahan Dazai tetap di sini. Sebelumnya Ango sudah meragukan keberhasilan rencana ini, tetapi Dan bersikeras bahwa mereka berdua pasti mampu menyuruh Dazai beristirahat. Setengah hatinya malas, setengahnya lagi ingin melihat kegagalan yang kelihatan jelas. Timbangannya lebih berat sedikit ke arah rasa bangga karena perkiraannya benar, jadi ia mengikuti rencana Dan.

Ia ingat betul bibir Odasaku yang bergetar kala mengucapkan 'semoga berhasil' pada mereka berdua. Menyebalkan sekali. Mungkin seharusnya Ango segera mengiyakan keinginan Dazai dan—

"Aku benci menanyakan ini …" Ango memejamkan matanya. Enggan melihat permohonan tersirat dari Dan. "Gimana kalau sekarang kamu cerita soal perjalananmu masuk ke Haguruma?"

"Ango … udah kuduga kamu tertarik sama karya Akutagawa-sensei!"

"Cepat ceritakan saja." Ango tidak menyanggah maupun menyetujui. Sepertinya Dan merasa tertolong berkat ucapannya barusan.

"Jadi, awalnya kita pergi bareng-bareng ke dalam Haguruma." Kedua tangan Dazai dilipat dan dijadikan alas pemisah antara kepala dan bantal. Sebuah gestur kenyamanan akan kondisinya. "Shishokusha yang muncul pertama masih yang kroco. Shiga sendiri udah cukup jadi lawan sekumpulan monster itu.

"Kamu nggak berniat jadi pahlawan paling pertama?"

"Oh, aku jadi orang yang paling dekat jagain Akutagawa-sensei!" Dazai memasang senyum penuh kebanggaan lalu melanjutkan ceritanya lagi. "Aku tahu betul shinshokusha pasti mengincar penulis buku itu, makanya aku selalu mengawasi gerak-gerik sensei agar dia aman!"

Ango membandingkan ucapan Dazai dengan luka yang dialaminya untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. "Terus kamu ceroboh dan bikin dia kena serangan shinshokusha?"

"Duh, denger ceritanya sampe selesai dulu, dong!" Dazai meninggikan sedikit suaranya lantaran kesal karena Ango nyaris menebak kejadian yang terjadi setelahnya. "Sehabis itu, tiba-tiba Akutagawa-sensei seperti memikirkan sesuatu. Aku bertanya ada apa padanya, bahkan Kikuchi-sensei juga, tapi sensei menghiraukan kata-kata kami dan pergi begitu saja.

"Tentu saja instingku segera mengejarnya, sayangnya shinshokusha memanfaatkan celah yang ada dan muncul membawa banyak musuh yang menghalangi kami semua menuju Akutagawa-sensei. Semua terpaksa fokus pada musuh di depan sembari bergerak selangkah ke arah sensei pergi. Shinshokusha semakin banyak, kami semakin kesulitan, tapi ada sudut yang dapat digunakan untuk mengejarnya. Kikuchi-sensei dan Hori-sensei mengalihkan perhatian musuh. Kebetulan sudut itu paling dekat dariku, aku buru-buru pergi ke sana bersama …."

(Pasti sulit bagimu bertarung di sini)

Dazai terdiam. Ucapan aneh terngiang di kepalanya.

Hand In Hand, Towards The Happy End

by reauvafs

.

.

.

Jika dipikirkan kembali, perjalanan delving di dalam Haguruma menyimpan lebih banyak tanda tanya ketimbang penyelesaian masalah. Akutagawa memang sukses mensucikan buku miliknya bersama dengan yang lain, namun rasanya seperti ada sesuatu yang kurang. Selama di sana, Dazai hanya memfokuskan dirinya pada Akutagawa seorang tanpa mempedulikan orang lain yang juga pergi bersamanya. Sepintas ia tahu ada Shiga, ada Hori, dan dua teman Akutagawa. Tidak banyak yang ia ketahui, paling hanya sebatas nama dan kenangan masa lalu yang sempat terekam dalam memorinya.

Aku jadi penasaran … kenapa waktu itu sensei ….

"Sama siapa? Dazai, kalau cerita jangan berhenti di tengah jalan."

"Eh, iya juga, ya." Lamunan Dazai terhenti kala Ango menyadarkannya. "Aku kedapatan pergi ke tempat Akutagawa-sensei bareng Kume-sensei. Kalian tahu nggak dia yang mana? Itu lho, yang bertopi terus berkacamata."

"Aku sih tahu betul dia yang mana." Masih segar dalam ingatan Dan waktu di mana ia bertarung melawan Kume di dalam buku Onshuu no Kanata ni. Ango ikut mengiyakan.

"Iya, pokoknya yang itu." Dazai melanjutkan ceritanya. "Dia kenapa, sih? Kayaknya sewot banget sama Akutagawa-sensei!"

Entah kenapa bagian ini menarik minat Ango. "Sewot?"

"Aku tuh cuma muji Akutagawa-sensei sehabis ngalahin shinshokusha, tapi dia kaya nggak setuju gitu sama pendapatku." Dazai menggembungkan pipi saat membayangkan kembali tanggapan Kume terhadap kata-katanya. "Padahal tuh ya, dia sempet khawatir sama Akutagawa-sensei pas sensei nyaris diserang!"

"Apa bukan karena kamunya yang terlalu melebih-lebihkan ucapanmu sendiri?" rupanya Ango punya pendapat lain. "Aku yakin pasti kamu ngomong 'wah, Akutagawa-sensei keren banget!'"

Tebakan Ango lagi-lagi benar dan itu membuat Dazai sedikit geram. "Aku nggak bakal permasalahin kalau cuma sewot biasa dari satu sisi. Yang jadi masalahnya … Akutagawa-sensei seakan-akan pasrah di hadapan dia."

"Pasrah gimana?"

"Sensei setuju sama kata-kata dia sambil bilang ..." ucapan Dazai menggantung. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. "Pokoknya aku penasaran kenapa sikap Akutagawa-sensei aneh di depan dia. Aku bener-bener nggak tahu soal hubungan mereka."

"Bukannya mereka seumuran? Mungkin pernah jadi temen satu sekolah."

"Kemungkinan besar iya, tapi aku ngerasa kaya ada atmosfer aneh di antara mereka berdua." Mendadak wajah Dazai lebih serius. "Padahal Kikuchi-sensei dan Akutagawa-sensei adem-ayem aja, tapi pas mereka ada di satu tempat, suasananya jadi berubah."

"Terus kamu mau apa? Cari tahu?"

"Iya! Aku mau cari tahu hubungan mereka itu sebenernya gimana," ucap Dazai dengan penuh antusias. "Terus aku juga mau ngebuktiin ke dia kalau Akutagawa-sensei beneran keren seperti yang aku bilang. Aku pengen dia ikut setuju!"

Ango menggeleng-gelengkan kepala. "Keras kepala banget sih kamu."

"Yah, namanya juga Dazai," balas Dan.

"Kalian bantu aku cari tahu juga, dong!" perintah Dazai mengagetkan keduanya. "Aku lagi mode istirahat, susah buat pergi keluar."

"Repot, ah. Ogah." Ango menolak terang-terangan. "Kamu yang penasaran kok aku yang mesti ngerjain?"

"Bantu sedikit 'kan nggak ngerugiin kamu, Ango." Dazai tahu usahanya merayu Ango tidak akan menghasilkan apa-apa. Keduanya terkenal paling keras kepala di Buraiha, jadi ia menoleh pada Dan yang tidak memberikan tanggapan atas kata-katanya barusan. "Dan, kamu mau bantu aku, 'kan?"

Dan adalah pemuda yang kuat. Jika ia terlibat masalah, ia dapat menyelesaikan dengan kemampuan otot yang ia miliki. Sikapnya yang terkadang punya kilauan kharisma tersendiri juga menghasilkan pribadi yang menarik di mata orang. Sepintas ia terlihat tak punya celah (di luar kemampuan menulisnya), tapi jika ia dihadapkan pada sepasang mata emas milik Dazai, sebuah kelemahan akan muncul.

Dazai adalah kelemahannya. Pemuda berambut merah itu selalu mampu membuatnya enggan menolak. Mungkin karena ia mengagumi Dazai sebagai penulis, atau mungkin karena raut wajahnya penuh harapan agar Dan tidak menjadi sosok kejam tak berhati yang menolak permintaan kecilnya.

(Ango sudah menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya)

"Ugh … iya, deh." Dan menggaruk kepalanya. Sedikit tidak habis pikir dengan sikap enggannya sendiri. "Aku bakal bantu sebisaku. Lagian aku juga sedikit penasaran sama Kume-sensei."

"Ah, Dan emang paling bisa diandalkan!" Dazai memasang senyum tercerah. "Makasih banyak, Dan! Kutunggu hasil pencarianm sore ini, ya!"

"Eh? Kok sore ini?"

"Rasa penasaran itu harus segera diselesaikan secepat mungkin." Dazai menarik selimutnya hingga nyaris menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajah. "Aku mau puas-puasin tidur sekarang."

Setengah pikiran Dan bingung lantaran tenggat waktu atas permintaan Dazai secepat itu, tapi setengahnya lagi lebih mencemaskan sebuah prospek Dazai akan kabur jika dibiarkan sendirian di sini.

"Tenang aja." Ango memfokuskan diri lagi pada buku bacaannya. Ia baru menyadari bahwa sejak tadi ia tidak berhasil membaca satu halaman pun. "Aku yang bakal jagain dia biar nggak kabur. Kau pergi saja."

"Makasih, Ango."

"Hmm."

Ketika Dan mulai meninggalkan ruangan dan Ango membaca kembali bukunya, Dazai benar-benar memutuskan untuk tidur agar luka kecil ini bisa segera pulih.


Akutagawa adalah sosok Dewa bagi Dazai. Untuk orang yang meragukan Dewa Novel seperti Shiga, ungkapan itu mempunyai makna besar. Semua karya buatan Akutagawa tak pernah lupa ia baca kembali. Waktu seakan berjalan cepat ketika ia meminjam rashomon dan hanyut ke dalam ceritanya. Menurutnya, Akutagawa sungguh hebat dalam membuat sebuah karya. Dazai tidak melihat ada cacat di dalamnya. Semuanya nampak indah, nampak luar biasa. Ia merasa dengan membaca bukunya saja ia sudah cukup dekat dengan sosok Dewa tersebut.

Kemudian Akutagawa hadir di hadapannya. Ketika para Alchemist berhasil memanggilnya, Dazai benar-benar lupa caranya bernapas. Orang yang ia anggap sebagai Dewa benar-benar nyata. Wajahnya, suaranya, Dazai merekam semuanya ke dalam ingatannya. Akutagawa tidak mengingatnya, tentu saja, karena mereka tidak pernah bertemu di masa lalu. Maka dari itu, Dazai berusaha memberikan impresi terbaik padanya agar keberadaannya dapat diingat.

Kharisma yang dimilki Akutagawa tidak pernah pudar, tapi saat menghabiskan waktu bersamanya, Dazai mulai menyadari bahwa Akutagawa tak ubahnya seperti dirinya. Sama-sama memiliki kecemasan, sama-sama berharap dapat melindungi apa yang penting bagi mereka.

(Makanya, aku bukan Dewa seperti yang kamu bayangkan)


Mendadak Dazai terbangun dari tidurnya. Suara Akutagawa lagi-lagi terngiang. Jika yang pertama ia melihat 'kesedihan', sekarang ia melihat 'keyakinan'. Sebuah keyakinan bahwa apa yang dianggap Dazai sebagai Dewa nyatanya bukanlah Dewa, dan Dazai telah percaya soal itu saat ia ada di dalam Haguruma.

Rasa hormatku tidak akan berubah padanya, Dazai memantapkan hatinya. Aku akan tetap melindungi Akutagawa-sensei dengan segenap kekuatanku.

"Oh, udah bangun?" Dan menghampiri kursi sebelah tempat tidur dan mendudukinya. "Pas banget. Sekarang udah waktunya makan malam. Makah, gih."

Satu set menu makan malam beserta nampannya telah ada di atas nakas di dekat Dazai. Sepiring nasi kare, seporsi buah potong, dan segelas air putih. Oda pasti sedang menikmati momen bahagianya di ruang makan.

"Ango ke mana?"

"Lagi makan. Ini aku sama dia baru aja gentian jagain kamu."

"Padahal aku udah sehat-sehat gini, lho." Dazai memposisikan dirinya duduk. Merasa tidak enak, Dazai menambahkan. "Makasih, ya."

Dazai mulai memakan makanannya sembari mendengar cerita Dan. Dokter Mori menganjurkan mereka berdua untuk istirahat dan meninggalkan Dazai di sini. Keduanya menolak saran darinya sembari mengatakan bahwa Dazai adalah kasus istimewa yang tidak bisa disepelekan. Setelah mengingat insiden yang pernah sang pasien lakukan di ruang kesehatan terkait permintaan obat tidur dosis tinggi, akhirnya Mori mengalah dan meminta mereka untuk menjaga Dazai setidaknya hingga sampai jam malam.

"Terus Mori-sensei sekarang ke mana?"

"Makan juga. Barusan Mokichi-sensei ngajak dia."

"Hmm." Dazai berhenti menyendok nasi karenya. "Jadi, info apa yang kamu dapetin?"

"Aku hampir lupa." Dan meletakkan tangannya pada dagu. "Cuma hal biasa, sih. Mereka itu temen satu sekolah, satu universitas juga, terus pas udah berkarir di dunia sastra juga masih saling berhubungan."

"Hmm … umum banget, ya."

"Oh, dia juga jadi juri Akutagawa Prize kayaknya."

"Eh? Iya, ya?" Pernyataan tersebut mengejutkannya. "Aku baru ngeh. Kok bisa-bisanya aku lupa soal dia padahal Kawabata aja aku inget banget."

Dan tertawa. "Kamu dendam kesumat sama dia, sih."

"Haruo-sensei juga aku inget." Dazai ngotot. "Ini jelas bukan dendam, dong."

"Itu karena kamu pernah jadi murid Haruo-sensei."

Karena ia kehabisan ide untuk menanggapi balik argumen Dan, Dazai mengembalikan topik ke semula. "Jadi itu aja yang kamu dapetin?"

"Iya," jawab Dan. "Aku nggak nemu banyak karena aku cuma nanya ke orang-orang yang pernah interaksi sama dia."

"Tunggu, tunggu." Entah kenapa Dazai curiga dengan pernyataan Dan. "Jangan bilang orang-orang yang kamu maksud itu … Chuuya doang?"

"Hehehe."

"Hah … sudah kuduga." Dazai menghela napasnya. "Yaudah, deh. Makasih atas bantuannya. Aku terbantu banget berkat Dan."

"Beneran?!"

"Iya, bener." Dazai melanjutkan makannya. "Makasih udah bawain makan dan mau bantuin aku."

Mereka melanjutkan pembicaraan dengan membahas hal-hal ringan sampai Mori kembali dan menyuruh Dan untuk segera ke kamar. Setelah Dan pergi, Dazai merebahkan diri dan kembali memikirkan kejanggalan yang ia bayangkan sebelumnya.

Apa maksud dari kata-kata sensei? Kenapa wajahnya … bisa sesedih itu?

Terlalu lama berputar-putar di pembahasan yang sama, Dazai tanpa sadar tertidur. Suara yang menyangkal anggapan Dewa yang Dazai buat kembali terdengar, tapi ia tak punya tenaga sekuat tadi untuk sekadar terbangun.


Keesokan harinya Dazai telah sembuh dengan sangat baik. Mori mengingatkannya berkali-kali untuk jaga kesehatan dan jangan coba-coba melakukan hal berbahaya. Dazai tak mengerti apa maksud dari ucapannya, apalagi jika Mori hanya memberi pesan dengan melirik botol obat di atas meja. Karena tidak punya tujuan harus ke mana, ia menghabiskan waktu sejam di ruang baca.

Ketika ia terlalu banyak menyerap bacaan, ia mulai terpikiran ide. Salah satu cara mengenal seseorang adalah bertanya pada teman terdekatnya, 'kan? Jadi Dazai memutuskan ingin menemui orang-orang yang berhubungan dengan Akutagawa maupun Kume. Dengan begitu, mungkin rasa penasarannya akan terbayar dan sebuah titik terang akan terlihat. Ia sudah menjalani kehidupan bersama penulis-penulis ini selama beberapa bulan, ia sudah hapal siapa-siapa saja kandidat yang cocok untuk ditanyakan mengenai hal ini.

Dan tentu saja yang paling mudah ditanyakan adalah—

Ruang makan tampak sepi. Di pukul sembilan pagi ini umumnya orang-orang sibuk melakukan sesuatu di luar atau mengerjakan tugas mereka. Mungkin ada yang sesekali mampir ke sini untuk sekadar membuat minuman, tetapi kebetulan tidak ada seorang pun di ruangan lebar ini kecuali Dazai yang duduk di salah satu meja dan seseorang yang sedang meletakkan secangkir teh di depannya.

"Wah, nggak usah repot-repot." Dazai merasa tidak enak karena disuguhkan jamuan meski pada dasarnya dirinya lah yang mengundang orang ini.

"Tidak apa-apa." Hori memberikan gestur agar 'tamu'-nya meminum teh buatannya. "Aku justru senang bisa menawari orang."

"Hmm … baik, deh. Terima kasih." Dengan mengangkat cangkir tersebut, Dazai mulai meneguk teh hitam ala Hori. "Enak! Enak banget, Hori-sensei!"

"Syukurlah," ujar Hori sedikit malu-malu. "Dazai-san, aku merasa sedikit aneh dipanggil begitu. Gimana kalau manggil aku Tacchan aja?"

"Eh? Aku nggak enak manggil sensei kaya gitu."

"Nggak masalah, kok." Hori meyakinkannya. "Aku merasa bisa lebih dekat dengan yang lain jika dipanggil begitu."

"Aduh, gimana, ya …" Dazai tertawa kaku, bingung harus menjawab apa. "Lain kali bakal aku coba, tapi nggak janji, ya."

"Aku harap kita bisa jadi akrab." Pemilihan kata Hori seakan-akan menyiratkan sebuah harapan agar Dazai tidak lupa pada perkatannya sendiri. "Jadi, Dazai-san ada perlu apa denganku?"

"Aku … aku mau tanya soal … hubungan Akutagawa-sensei dan Kume-sensei itu gimana, sih?"

"Huh?"

"Aku sedikit penasaran hubungan pertemanan seperti apa yang mereka punya." Dazai meletakkan cangkirnya di atas meja. Pembicaraan ini harus dilalui dengan tanpa hambatan. "A-aku bukannya bermaksud apa-apa soal menanyakan hal semacam ini ke sensei, tapi aku … aku agak ingin tahu. Aku nggak bisa jelasinnya secara detail, tapi—"

"Hmm … hubungan antara Akutagawa-san dan Kume-san, ya." Hori tidak segera menjawab pertanyaan Dazai. Jemarinya mengetuk-ketuk meja. "Dari sudut pandangku, hubungan mereka berdua cukup baik. Belakangan ini aku lihat mereka mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan Natsume-san, mereka juga sering bertukar pendapat saat berkumpul dengan Kikuchi-san dan yang lain."

"Ah … mereka murid Natsume-sensei, 'kan?"

"Iya. Mereka berdua sangat menghormati Natsume-san dan mengunjungi mokuyokai yang diadakan beliau." Hori berhenti mengetuk. Kini tangannya terlipat di atas meja. "Aku dengar mereka saling memberi kritik dan saran pada haiku buatan masing-masing di pertemuan minggu lalu."

"Menarik." Dazai menarik kesimpulan. "Apa tidak ada … sesuatu? Maksudku, apa mereka selalu baik-baik saja?"

"Bukankah teman yang sama-sama berkarir di dunia sastra umumnya begitu?" Hori tidak mengerti apa yang berusaha Dazai sampaikan. "Memang ada saatnya Kume-san kelihatan kurang bersemangat, tapi di luar itu, Kume-san cukup hebat seperti layaknya Akutagawa-san. Novel, puisi, dan naskah dramanya sungguh menarik untuk dibaca. Sesekali bacalah karyanya kalau Dazai-san ada waktu senggang."

"Ku-kuusahakan," ujar Dazai terbata. "Apa ada lagi hal yang bisa sensei ceritakan soal mereka?"

"Hmm … aku sangat menghormati keduanya!"


Berdasarkan hasil mewawancarai Hori, Dazai masih tidak menemukan solusi yang memuaskan. Ia berterima kasih atas jamuan teh hitam dan informasi terkait kedekatan keduanya yang berhubungan dengan Natsume, tapi ia belum juga memahami kenapa atmosfer saat di Haguruma begitu berbeda dengan apa yang diceritakan Hori.

Mungkin aku harus cari orang lain.

Yang jadi pertanyaanya adalah … siapa? Sebenarnya ia punya rencana cadangan untuk menemui orang terdekat Akutagawa, sayangnya tadi pagi Dazai baru melihat Kan pergi keluar bersama Yoshikawa. Maka dari itu ia memutuskan menghampiri Hori terlebih dahulu. Rencana lain menanyakan langsung permasalahan ini pada orang yang terlibat sempat terbesit di pikirannya. Akutagawa menjadi kandidat utama, namun itu tidak bertahan lama karena Dazai ragu ia akan menceritakan sesuatu.

Lagi pula … justru Akutagawa-sensei yang aku khawatirkan jika aku bertanya soal hubungan mereka, toh kata-katanya di waktu itu ….

Kume adalah pilihan lain. Dazai bisa saja langsung mencari keberadaannya, tetapi niatan itu ia urungkan hanya karena ia teringat sikap Kume yang begitu kontras dengannya. Dari yang Dazai tangkap, ada kemungkinan Kume akan mengelak sama seperti Akutagawa.

Keduanya benar-benar orang yang rumit. Aku harus cari orang yang dapat memberikan jawaban jelas, orang yang berada di antara mereka seperti Kikuchi-sen—

"Wow wow wow, kayaknya lagi serius banget ngelamunnya sampai-sampai nyaris nabrak aku." Suara dari depan membuat Dazai melompat kaget. Seorang pria berambut merah panjang mengerutkan alisnya. "Hei, kok malah bengong?"

"Maaf! Aku bener-bener nggak fokus tadi! Maaf, Naoki-sensei!" Dazai segera menunduk sebagai permintaan maaf. Ada sesuatu yang ia sadari ketika menyebut nama orang tersebut.

"Ah, nggak masalah, kok." Naoki berjalan melewatinya. "Sudah dulu, ya."

"Tu-tunggu dulu, Naoki-sensei!" langkah Naoki terhenti. Dazai melanjutkan. "Ada yang mau kutanyakan pada sensei!"

"Eh? Nanya apa?" Naoki berbalik menghadapnya. Wajahnya nampak kurang minat. "Nggak bisa nanti aja?"

"Aku butuh sekarang!"

"Hoo … sepertinya ada hal penting, ya?" senyum menyeringai yang menghiasi wajah Naoki memberikan sinyal bahaya pada Dazai. Ia pernah dengar beberapa rumor mengenai orang ini. "Aku bisa aja sih menjawab semua pertanyaanmu, tapi agak susah kalau itu tidak menghasilkan keuntungan apa-apa buatku, apalagi di saat aku sedang butuh sesuatu. Kau tahu apa maksudku?"

Ah, sial.

Dazai merogoh kantong celananya. Dompet merah tebal kesayangannya baru saja menerima upah kerja kerasnya dan negosiasi pada Naoki akan mengakhiri kehidupan mewah yang sudah Dazai idam-idamkan. Apakah ini akan setimpal dengan menjadi miskin di bulan selanjutnya? Apa ia rela harus mengerjakan apapun yang Haruo dan Ibuse minta?

Aku nggak boleh ragu begini, batin Dazai berusaha menguatkan tekadnya. Aku harus berkorban demi Akutagawa-sensei!

Dengan sebuah keengganan dari Dazai dan ucapan ringan seperti 'nanti aku pasti balikin, kok' dari Naoki, sebuah kesepakatan telah tercapai. Keduanya pergi ke beranda lantai dua yang jarang dikunjungi orang. Dua bangku kosong mereka tempati sembari mengamati pemandangan taman luas di sekitar perpustakaan.

"Apa yang mau kamu tanyain?"

"Akutagawa-sensei dan Kume-sensei … seperti apa hubungan mereka?"

"Aku nggak nyangka bakal ada yang nanya soal gituan ke aku." Ingin Dazai membalasnya dengan 'pertanyaan macam apapun pasti bakal dimintain uang sumbangan, 'kan?!' padanya. "Memang alasanmu mau tahu kenapa?"

"Yah … pengen tahu aja." Dazai memilah-milah katanya. Naoki adalah orang yang harus diwaspadai karena ia sumber penyebar gosip terbesar di sini.

"Mereka itu … temenan." Naoki mengawali cerita dengan pernyataan yang seisi perpustakaan tahu. "Mereka cukup sering ngobrol belakangan ini. Nggak ada sesuatu yang istimewa."

Dazai menangkap sesuatu dari ucapannya. "Jadi, sebelumnya mereka jarang ngobrol?"

"Jangankan ngobrol, saling ketemu aja nggak mau." Jika saja yang dihadapannya bukan Naoki, mungkin Dazai akan berteriak lantaran yang ia cari mulai kelihatan wujudnya.

"Hubungan mereka kurang baik?"

"Kamu jarang ngobrol sama Kume sih, ya." Naoki mengeluarkan kipas dari dalam saku dan mengipas-kipaskan dirinya. "Dia tuh orangnya suka banget curhat sama yang dia pikir mau dengerin ceritanya. Aku salah satunya. Kalau dia udah mulai ngomong, pasti isinya kebanyakan soal kurangnya kemampuan dia buat setara sama Akutagawa."

"Dia merasa rendah diri?"

"Kurang lebih begitu," jawab Naoki. "Padahal dia sendiri bisa bikin apa aja. Dia selalu bisa jadi editorku untuk setiap naskah drama yang kubuat."

"Aku pikir cuma karena rendah diri nggak bakal bikin kedua belah pihak enggan saling ketemu." Dazai menatapnya dalam-dalam. "Apa ada faktor lain?"

"Hehe, sudah kuduga kamu bakal ngomong gitu." Naoki menutup kipasnya dan menjulurkan satu tangannya pada Dazai. "Untuk melangkah lebih jauh, Anda harus membayar uang masuk. Kata-kataku keren, 'kan?"


Dazai melangkah dengan suara hentakan kaki yang amat keras. Ia tak percaya Naoki akan memerasnya dua kali lipat demi sebuah jawaban sederhana! Uang di dompetnya sudah habis, ia tak rela mengorbankan kepingan terakhir demi orang yang pasti akan memanfaatkannya lagi di detik terakhir, makanya ia menolak dengan keren berbekal kata 'aku rasa waktu kunjungan sudah habis. Aku pergi dulu, Naoki-sensei'.

Percayalah, Akutagawa-sensei. Aku bukannya pelit, aku cuma mau lebih efisien!

Ia kehabisan pilihan. Dazai ingat Akutagawa dan Kume termasuk ke dalam perkumpulan Shinshichou, tapi ia kurang begitu mengenal nama dan rupa orang-orang lainnya. Berbicara dengan Natsume juga bukan pilihan terbaik karena ia orang yang selalu disibukkan dengan acara pertemuan yang dibuat rekan-rekannya. Ia dengar dari Oda jika pertemuan para pegiat haiku sedang diadakan dan Natsume menjadi tamu utama acara tersebut.

Aku harus nanya ke siapa lagi?!

"Maaf udah minta bantuanmu." Suara seseorang di lantai pertama membuat Dazai berhenti dan memastikan tebakannya dengan melihat ke bawah.

"Asal kamu mau tanding mahyong denganku, aku nggak masalah."

"Heh, kali ini pasti aku bakal menang."

"Hoo, jangan sesumbar dulu, nanti kuchi kikan-nya keluar lagi, lho."

"Nggak, nggak bakal." Kan mengangkat barang belanjaannya dan mulai berjalan meninggalkan rekan pergi belanjanya itu. Sosoknya nyaris tak terlihat dari tempat Dazai berdiri. "Duluan, ya."

Kesempatan ini nggak bakal datang dua kali!

"KIKUCHI-SENSEI!"

"Hah, siapa tuh yang teriak-teriak dari atas?!" Kan kembali lagi ke posisinya semula dan mendongak ke atas. Rupanya sosok pemuda serba merah yang barusan meneriaki namanya. "Dazai? Ada perlu apa?"

"A-Ada yang mau kutanyakan ke sensei!" Dazai buru-buru menuruni dua anak tangga sekaligus. Dua orang di bawah cemas ia terjatuh dari sana, beruntung hal itu tidak terjadi karena Dazai sudah sukses mencapai lantai bawah. "Aku mau nanya soal—"

"Tenang dulu, tenang." Kan memerhatikannya dari atas ke bawah. Napas tersenggal dan rambut berantakan benar-benar menggambarkan betapa terburu-burunya Dazai. "Aku nggak tahu kamu mau bahas apa, tapi seenggaknya tenangin dirimu dulu. Kamu baru kelar diobatin, 'kan?"

"Ba-baik …."

Setelah Dazai sudah lebih tenang, Kan mengajaknya ke ruang santai yang kebetulan diisi oleh Miyazawa dan Niimi. Kedua orang itu sedang sibuk membaca buku pemberian Takamura jadi mereka tidak perlu khawatir akan ada yang menguping.

Yah, bukan berarti ini hal yang perlu dirahasiain juga, sih ….

"Kamu keliatan capek banget." Kan menyenderkan bahunya pada sofa empuk. "Emangnya ada perlu apa sama aku?"

"Umm … aku mau nanya soal Akutagawa-sensei dan Kume-sensei."

"Mereka? Kenapa sama mereka?"

"Aku mau tahu soal hubungan mereka berdua." Dazai merasa lelah telah mengatakan hal yang sama tiga kali. "Aku cuma … penasaran aja."

Suasana menjadi hening. Tidak ada yang berkata apa-apa. Kan memilih diam dan Dazai menunggu jawabannya dengan harap-harap cemas. Setelah adu tatap-menatap entah berapa menit, akhirnya Kan mengeluarkan suaranya. "Apa yang kamu pengen tahu soal mereka?"

Sedikit jujur ke Kikuchi-sensei kayaknya nggak masalah.

"Aku merasa ada yang aneh sama mereka," jawab Dazai apa adanya. "Ini baru pertama kalinya aku delving bersama Kume-sensei dan aku pikir ketika mereka saling ketemu suasananya jadi … janggal."

"Kamu penasaran sama cara mereka berinteraksi?"

"I-iya, begitulah."

"Hmm … agak rumit menjelaskannya." Kan melipat kedua tangannya di depan dada. "Mereka itu dulunya temen yang cukup deket, apalagi pas mereka sering menghabiskan waktu di pertemuan Natsume-sensei …."

"Tapi?" ucapan Kan terlalu menggantung baginya.

"Kalau sedikit meminjam omong kosong shinshokusha yang kubenci … bakat yang bersinar dapat meredupkan orang yang merasa tidak memilikinya. Kume selalu menganggap dirinya tidak cukup, terutama jika disandingkan dengan Ryuu."

"Naoki-sensei juga bilang begitu." Dazai mengiterupsi. "Kume-sensei rendah diri setiap membahas Akutagawa-sensei."

"Lalu? Apalagi yang kamu bingungin?"

"Aku pikir … itu saja belum cukup menjawab kejanggalan mereka." Cara menjawab pertanyaan tersebut semakin baik ketimbang sebelumnya. "Pasti ada alasan lain kenapa Akutagawa-sensei sampai bilang 'kamu pasti sulit bertarung di sini' padanya pas di Haguruma kemarin."

Kan memiringkan sedikit wajahnya. Tatapannya masih lurus ke mata Dazai. "Aku … nggak nyangka ternyata kamu cukup pandai mengobservasi."

"Eh? Aku pikir itu kelihatan jelas?"

"Normalnya orang bakal menganggapnya sebagai sikap enggan karena sudah merepotkan temannya." Bibir Kan melengkung sedikit, tanda ia senang dengan pembicaraan ini. "Apa sikapmu ini karena Ryuu jadi salah satu faktornya?"

"A-Ah, mu-mungkin saja." Semburat merah sedikit muncul pada pipi dan telinga Dazai. "Lebih dari itu, aku bener-bener murni penasaran, kok."

"Antusiasmemu bagus." Kan menoleh pada dua anak yang masih sibuk membaca buku. "Tapi kuharap kamu lebih bisa menempatkan kapan waktunya mencari tahu dan kapan harus menarik diri."

"Maksudnya … apa?"

"Maksudku, kalau kamu yakin bisa menempatkan dirimu untuk mencari tahu lebih dalam lagi," ujar Kan, "kamu perlu bertanya pada orangnya langsung. Aku bisa saja menjelaskan panjang lebar tentang mereka berdua, tapi bukankah lebih akurat lagi jika kamu bicarakan hal ini pada orang-orangnya sekalian?"


"Master, buatkan aku yuzushu!"

Dazai mengakhiri perjalanannya dengan pergi ke bar. Adalah sebuah keajaiban menemui pemandangan kosong di tempat nomor satu yang sering didatangi semua orang. Tak membuang waktu, Dazai segera menempati kursi kesukaannya yang berada di paling ujung, kemudian memesan segelas yuzushu, minuman yang tak pernah ia pesan sebelumnya.

Bendera putih berkibar di atas kepalanya. Dazai sudah berusaha bertanya pada tiga orang dan semuanya memberikan jawaban 'abu-abu'. Hori bilang hubungan mereka cukup 'baik', Naoki bilang alasan hubungan mereka kurang baik lantaran adanya 'rendah diri', dan Kan mengakhiri pembicaraan dengan 'lebih baik bertanya langsung pada orangnya langsung'.

Kenapa mereka pelit sekali berbagi informasi? Seakan-akan hubungan mereka itu sangat rumit dan perlu disembunyikan. Membayangkan sesuatu yang serba rahasia membuat Dazai berpikir macam-macam. Mungkin kah ada insiden buruk yang terjadi di antara mereka di masa lalu? Jika iya, kenapa rumornya tidak membesar? Akutagawa Ryuunosuke adalah figur penting dalam dunia sastra Jepang, lantas kenapa, kenapa tak ada yang membahas hubungan buruk-nya dengan Kume Masao? Padahal ketidakharmonisan antara Akutagawa dan Shimazaki saja sudah lumrah dibicarakan orang.

Apa aku menyerah saja, ya? Toh, kayaknya baik Hori-sensei dan Kikuchi-sensei tidak ambil pusing dengan sikap mereka pas di Haguruma.

Suara bel tanda pintu bar terbuka tidak dipedulikan Dazai. Ia sibuk merenungkan kepayahannya. Bagaimana bisa ia menyerah hanya karena gagal tiga kali? Masih banyak waktu yang dapat ia gunakan untuk meminta agar orang-orang itu mau sedikit menceritakan hal itu. Bukankah Dazai mau melindungi Akutagawa? Jika menyerah dan ikut mengabaikannya, ada kemungkinan situasi akan semakin memburuk. Lalu jika sudah begitu—

Shinshokusha akan mencari celah di hati Akutagawa-sensei lagi.

"Tumben datang sendirian, Kume-sensei." Sang Bartender menyapa pelanggan baru. "Biasanya bareng Yoshii-sensei."

Aku nggak boleh menyerah. Aku harus—

"Dia … lagi delving," jawab si pelanggan sembari menempati kursi berjarak satu kursi dari tempat Dazai. "Kayaknya dia lupa ada janji minum bersamaku."

Butuh waktu tiga detik bagi Dazai untuk menyadari bahwa orang yang sedang berbicara dengan Bartender adalah salah satu orang yang sedang ia pikirkan. Kume-sensei?! Kume-sensei ada di sini?!

"Hahaha … kebiasaan, ya." Yuzushu pesanan Dazai ke diletakkan Bartender di meja. "Hari ini sensei mau pesan apa?"

"Hmm … aku mau pe—"

(Bukankah lebih akurat lagi jika kamu bicarakan hal ini pada orang-orangnya sekalian?)

"Kume-sensei!"

Dua pasang mata mengalihkan fokus mereka pada si pemanggil. Kume agak kehilangan petunjuk tentang mengapa namanya dipanggil. "Ada apa, Dazai-kun?"

Apa yang harus ia katakan? Bertanya blak-blakan mengenai hubungannya dengan Akutagawa? Itu tindakan sembrono sekali! Bisa-bisa Kume segera menyudahi pembicaraan tanpa punya niatan meneguk minuman pesanannya.

Gawat, dia menunggu ….

"Ah, aku …" suara Dazai mengecil dari sebelumnya. Wajahnya sungguh panik. "Aku, aku mau ngomong sesuatu."

"Sama aku?" rupanya kepanikan Dazai menginfeksi Kume juga. "So-soal apa?"

"Itu …" Dazai bolak-balik menatap gelasnya dan Kume. "Ma-maaf sudah kurang ajar kemarin!"

"Hee?!"

"Kemarin, pas kita selesai mensucikan Haguruma, aku membentak sensei." Di momen seperti ini, Dazai mensyukuri kerja akalnya. Ia menundukkan kepala. "Maafkan sifat kekanakanku!"

"Aku … nggak terlalu mempermasalahkannya, kok." Kume menjadi salah tingkah. "A-angkat kepalamu, Dazai-kun. Itu hal biasa. Jangan terlalu dipikirkan. Lagian aku juga nggak ada bedanya."

"Apa maksud sensei?"

"Padahal kamu berniat menyemangatinya, tapi aku malah menyanggah kata-katamu." Kume menurunkan sedikit topinya untuk menutupi matanya. "Makanya angkat kepalamu. Kita impas."

"Baiklah."

"Master, aku pesan umeshu biasa."

Mereka tidak berbicara lagi setelahnya. Kume sibuk mengamati Bartender meracik minumannya sedangkan Dazai sedang bersiap-siap memulai topik bahasan baru untuk mereka berdua.

"Kalau boleh tahu, kenapa sikap sensei seolah-olah menolak Akutagawa-sensei?"

Kume menoleh padanya. Mata yang bersembunyi di antara kacamata dan poni itu sedikit menyipit atas topik yang dibawa Dazai. "Hah?"

"A-aku nggak bermaksud buruk," sanggah Dazai. "Aku pikir … kalau ada yang bisa kubantu … aduh, aku ngomong apa …."

Umeshu milik Kume telah selesai dibuat. Dazai baru sadar ia belum juga meminum yuzushu-nya. Es di dalam gelas masih banyak, tapi ia merasa mungkin kadar asamnya sedikit berkurang. Di lain sisi, Kume tidak menjawabnya. Itu semakin membuat Dazai cemas.

"Dazai-kun mengagumi Akutagawa-kun, 'kan?"

"Eh?" Dazai tidak menyangka Kume justru balik bertanya. "I-iya."

"Aku tangkep pertanyaanmu tadi sebagai bentuk kekhawatiranpadanya." Kume mengeluarkan rokok dan pemantik dari kantong. Ia menyodorkan satu batang pada Dazai. "Mau?"

"Tidak, terima kasih."

Kume menyalakan pemantik dan mengisap rokoknya. Perlahan kepulan asap putih keluar dari mulutnya. Ini adalah sebuah pemandangan yang tidak disangka oleh pemuda di sebelahnya. Dazai pikir orang sepertinya tidak suka merokok, tapi ternyata kenyataan berkata lain.

Dia 'kan teman Akutagawa-sensei. Seharusnya nggak aneh, dong?

Asbak yang telah disediakan di atas meja segera digunakan Kume untuk membuang abu rokok. "Kamu pikir aku bakal ngelakuin hal jahat ke Akutagawa-kun, ya?"

"Aku nggak mikir gitu, kok!"

"Dari sudut pandang orang baru biasanya begitu." Tatapan mata Kume tertuju pada muddler perak yang bersinar di antara botol-botol minuman keras. "Tapi mereka nggak tau apa-apa, jadi aku bisa memakluminya."

Keengganan yang semula menghantui Dazai kini lenyap seketika. Ia mengepalkan tangan. "Gaya bicaramu seakan-akan menganggap pemikiran itu salah dan cenderung terbalik."

"Semua orang bebas berasumsi," ucap Kume diikuti oleh kepulan asap kedua. "Lagian seperti yang kubilang, sikapku kemarin sangat kekanakan."

"Orang bilang hubungan kalian cukup baik, tapi entah kenapa aku menganggap sebaliknya." Dazai melepas kepalan. Tangannya ingin sekali meraih gelas yuzushu. "Sikap kekanakan atau apalah, jelas ada yang aneh kalau Akutagawa-sensei sampai merasa kau pasti sulit berada di Haguruma dan bertarung di sana."

"Dan itu alasanmu pengen tahu kenapa aku seperti menolak Akutagawa-kun?" Dazai megangguk. Kume memegang rokoknya di satu tangan dan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menutup setengah wajahnya. "Dia memang terlalu menampakkan segalanya di depan penonton sampai-sampai Dazai-kun bisa sadar."

Melihat Dazai yang tidak mengerti maksudnya, ia mulai menjelaskan. "Dia itu hebat. Seorang genius novel yang kebetulan bertemu denganku. Kamu pasti berpikiran sama, 'kan? Rashomon, Hana, semua yang dia ciptakan menghasilkan angin segar bagi pembacanya, membuat kita tenggelam di dalamnya.

"Di saat banyak yang berusaha mengejarnya, dia justru semakin naik ke puncak sampai-sampai nyaris tidak terlihat." Kume membuang abunya lagi. "Aku tidak meragukan kemampuan dan usahanya. Dia benar-benar melakukannya dengan penuh totalitas. Aku paling mengerti itu, tapi ….

"Tapi saat tahu dia menganggap karya-karya luar biasa itu bukan apa yang dia idealkan, aku merasa dia seperti orang egois." Ia sedikit melirik ke samping untuk memastikan Dazai masih mendengar. Pemuda itu rupanya benar-benar menunggu setiap kata yang keluar darinya. "Rasanya usahaku membuat karya yang dapat mencapai hati setiap orang, yang sampai kapanpun tak akan bisa setara dengan karyanya, tidak ada harganya.

"Aku marah, marah sekali, namun itu tidak cukup, karena di saat akhir hidupnya pun Akutagawa-kun menitipkan mahakarya beserta surat kematian padaku. Kemarahanku bercampur bingung. Kenapa dia mati dengan meninggalkan hal mengerikan seperti itu? Jawaban dari pertanyaan itu tidak pernah ada, bahkan sampai kami bertemu kembali di sini."

"Akutagawa-sensei nggak menjelaskannya?"

"Dia bilang 'maaf'. Aku nggak ngerti untuk apa dia minta maaf. Mungkin separuh diriku masih terjebak di masa lalu, masa di mana hatiku dipenuhi iri. Semua orang bilang aku harus melupakannya dan membuka lembaran baru, tapi tidak semudah itu, 'kan?" merasai emosinya meluap-luap, Kume meredakannya kembali. "Makanya kupikir aku bersikap kekanakan di Haguruma adalah karena aku masih belum bisa melupakan semuanya."

Dazai kehabisan kata-kata untuk menanggapi ceritanya. Benar apa kata Kan, mendengarnya langsung dari yang bersangkutan sungguh berbeda hasilnya. Dazai pikir alasan yang diberikan Kume tidak terlalu berat. Paling mereka pernah bertengkar—itu yang terpatri pertama kali pada benaknya. Tidak terbayangkan jika alasan hubungan mereka begini adalah karena bermula dari rasa iri dan diakhiri oleh perpisahan yang menyakitkan.

Jadi ini alasannya ….

"Dazai-kun?" panggilan dari Kume menyadarkan Dazai. Pria itu memandangi Dazai dengan tatapan khawatir. "Kamu nangis?"

Sebuah bulir air mata menetes ke tangan Dazai. Kume benar. Ia menangis. Kenapa mendadak ia menangis? Memalukan sekali!

"A-aku nggak nangis." Buru-buru Dazai menyeka matanya. "Aku pikir kalau masalahnya sepele, mungkin aku bisa membantu, tapi kok … rasanya … susah. Masalah kalian lumayan rumit, persis kata Kikuchi-sensei."

"Oh, kamu nanya-nanya ke Kan, ya."

"Muka Akutagawa-sensei saat bicara ke Kume-sensei kelihatan sedih." Sekarang giliran Dazai yang bercerita. "Baru pertama kali kulihat sensei begitu. Pas aku istirahat di ruang kesehatan, aku memimpikan apa yang terjadi di Haguruma. Di mimpi itu Akutagawa-sensei bilang dia tidak seperti yang kubayangkan. Makanya … cerita Kume-sensei benar-benar sesuai dengan yang dikatakan sensei … dan bikin aku …."

Suara Dazai menarik ingusnya membuat Kume gelagapan menghadapi situasi. "Da-Dazai-kun, sebenarnya ceritaku belum selesai."

"Apa?"

"Aku bilang separuh diriku masih terjebak di masa lalu, 'kan?" Dazai mengiyakan. "Tinggal bersama-sama di perpustakaan ini dalam waktu lama semakin mengikiskan rasa iriku dan tanpa sadar separuh diriku yang lain mulai mencoba membuka diri. Diawali dari meminta saran pada teman-temanku sampai akhirnya … aku sedikit berdamai dengan Akutagawa-kun."

"Be-berdamai?!"

"Mungkin tidak bisa seperti dulu lagi, tapi mencobanya terlebih dahulu jauh lebih baik ketimbang terus menghindar." Kume mengulang penggalan isi surat yang ia berikan pada Akutagawa. "Kami berdua sepakat untuk pelan-pelan kembali berdamai."

"Lalu kemarin … kenapa?"

"Bisa jadi itu pengaruh sehabis melawan shinshokusha," jawab Kume. "Mungkin perasaan negatif berusaha mempengaruhinya, mungkin juga dia berusaha menghalau perasaan itu agar tidak sampai padaku. Entahlah, aku juga bingung."

"Jadi, kalian benar-benar sudah baikan?"

"Belum bisa dibilang baikan," sanggah Kume. "Yang jelas, aku sedang mencoba keluar dari zona nyaman. Akutagawa-kun juga."

"Benarkah?"

"Iya." Kume menjawab tanpa ragu. "Kamu nggak perlu khawa—"

"Kalau aku ajak Akutagawa-sensei ke sini nggak masalah, 'kan?"

Perangaian tenang yang ia tunjukan pada Dazai langsung sirna. Kume refleks memukul meja dengan sedikit keras. "Lho, kenapa mesti bawa-bawa dia?! Kamu denger nggak sih aku bilang aku … kami masih baru mencoba?!"

"Nah, ini juga nyoba," balas Dazai santai. "Aku mau mastiin apa kalian bener-bener baikan."

"Dazai-kun, ini dan itu beda."

"Ternyata Kume-sensei keras kepala juga, ya."

"Aku nggak mau dibilang begitu sama orang yang histeris muji-muji Akutagawa-kun."

"IH, AKU BARU INGET!" teriakan tanpa aba-aba itu mengagetkan Kume dan Bartender. "AKU TUH PENGEN BIKIN SENSEI PERCAYA KALAU AKUTAGAWA-SENSEI EMANG KEREN!"

"Orang kejungkel pas lawan shinshokusha apanya yang keren?"

"YA AMPUN, ITU 'KAN CUMA KEJADIAN SESEKALI, LAGIAN WAJAR JUGA KOK DIALAMIN SEMUA ORANG!" Dazai tak akan gagal meyakinkannya kali ini. "SENSEI BELUM LIAT AJA KALAU DI MEDAN PERTARUNGAN LAIN, AKUTAGAWA-SENSEI KEREN BANGET SENI BERPEDANGNYA!"

"Duh, emangnya dia samurai, apa?"

Perdebatan tersebut berlangsung cukup lama. Dazai bersenjata argumen bias-nya dan Kume sebagai bagian oposisi. Bar berpengunjung dua orang itu nampak ramai hanya dengan perbincangan mereka. Setelah masing-masing pihak terlalu lelah untuk terus bertikai, tanpa sadar keduanya tertawa.

"Ah, hari apa ini? Yoshii-kun lupa janjinya, umeshu-ku belum juga kuminum, dan sekarang di sebelahku ada anak yang ikutan sedih karena idolanya sedih."

"Sebenernya aku pengen marah, tapi kubiarin, deh."

"Dazai-kun." Nada bicara Kume kembali serius. Dazai menunggu. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan Akutagawa-kun. Kalau ada orang yang sebegini pedulinya sama dia, aku jadi lega."

Tenang? Kume-sensei lega?

Tidak berhasil menemukan makna tersembunyi, Dazai ragu-ragu menjawab. "Sa-sama-sama?"

Gelas umeshu diangkat oleh Kume dan di arahkan ke jarak antara mereka berdua. Dazai menangkap isyarat tersebut dan mengangkat gelas yuzushu-nya. Ketika mereka berpandangan, dua gelas itu berdenting tanda mereka baru saja bersulang. Seperti yang ia duga, yuzushu miliknya sudah tidak begitu asam. Sensasi dingin lebih mendominasi di sana, dengan rasa asam samar yang bercampur dengan manis di sela-selanya.

"Mohon bantuannya mulai sekarang, Dazai-kun."

"Hmm … aku juga."

"Lain waktu, kamu bisa ajak Akutagawa-kun buat mampir ke sini." Kume berhenti meneggak saat minumannya hampir menyamai plum yang ada di dasar gelas. "Yah, meski aku yakin dia ogah pesan minuman. Dia lemah sama alkohol, sih."

"Oh, jadi bakal ada lain waktu?" pertanyaan tersebut tidak bermaksud apa-apa, tapi Kume memberinya tatapan 'kamu mau aku narik kata-kataku lagi?' pada Dazai. "Aku mengerti, aku mengerti. Tidak minum juga tidak apa-apa. Seenggaknya kalian bisa ketemu bareng lagi. Itu sudah cukup. Nanti aku juga bakal ajak Dan biar tambah seru."

"Kamu kayaknya seneng banget bayangin kami bisa akrab lagi."

Jika itu diutarakan sebelum Dazai mengerti permasalahan Akutagawa dan Kume, mungkin ia akan dengan percaya diri menjawab 'tentu saja! Aku sangat peduli sama Akutagawa-sensei!' sembari membusungkan dadanya.

Sekarang aku tahu lebih banyak, jadi jawabannya mungkin akan sedikit berubah.

"Tentu saja!" yuzushu telah habis diminum, menyisakan es batu di dalam gelasnya. Dazai berniat menambah pesanannya. "Karena aku pengen kalian berdua berdamai."

Karena aku ingin keduanya bisa bahagia dan menikmati hidup di perpustakaan ini bersama-sama denganku dan yang lain.

Kume memejamkan matanya sembari tersenyum. Ia mulai jarang menggunakan senyum masamnya. Dengan suara kecil, ia berharap pemuda di sebelahnya tidak dengar. "Orang-orang di sini terlalu baik ya, Akutagawa-kun."

END


Author's Note: Suatu penyegaran bisa bikin fic (ke)panjang(an) kaya gini. Dari pas baca story event Haguruma di game, saya udah kebelet pengen bikin akukume (sebenernya setiap saat juga pengen bikin akukume), tapi di saat bersamaan saya juga suka akudaza, terus di situ ada interaksi dazai sama kume yang entah kenapa bikin benak saya berteriak buat bikin akukumedaza biar lengkap. Awalnya cuma kebayang ide generalnya aja, eh lama-lama malah jadi fic beneran (mana sampe 6k plus lagi).

Dari dulu saya suka banget konsep Dazai-Kume yang kontras banget kalo udah bahas akutagawa. Yang satu kagum banget, yang satu sebisa mungkin gak mau 'terlibat' sama akutagawa. Cinta-benci gitu, deh. Story Haguruma jadi pemicu buat realisasiin kumedaza dengan akutagawa yang jadi 'penyambung' mereka. Gak kepikir banyak ide dazai nanya-nanya ke Hori/Naoki/Kan, tapi pas diterobos aja, ternyata bisa juga dicocoklogiin. Ibaratnya Hori itu yang lebih deket sama Akutagawa, Naoki lebih deket ke Kume, terus Kan itu yang ada di tengah-tengah antara Akutagawa sama Kume. 4 sehat 5 sempurna, deh. Di puncak ceritanya, langsung deh saya masukkin kumedaza yang dari awal saya niatin.

Saya bingung sih kali ini kasih trivia apa, tapi mungkin biar lebih asik saya jelasin beberapa aja:

1. Referensi soal Dazai kepikiran kata-kata Akutagawa dan mimpinya itu referensi dari cerita Haguruma versi game (sebisa mungkin saya jelasin di cerita biar gampang dibayangin) yang sedikit diubah

2. Timeline ceritanya nyampurin anime sama game. Jadi di sini Dan inget dia pernah gelut sama Kume di buku Kan (anime) di saat kejadian di buku Haguruma justru pas Dazai, Kume, Hori, Kan, Shiga masuk ke sana bareng Akutagawa (game). Percayalah, ini semata-mata biar ada secimit interaksi kumedan.

3. Kata-kata yang Kan pinjem dari shinshokusha referensi dari story event The Fourth Generation of Shinshichou (yg ngomong itu taint berwujud Kume)

4. Yuzushu itu campuran perasan yuzu sama sake. Rasanya lebih ringan dari umeshu. Umeshu itu sake yang dicemplungin buah plum ke dalemnya.

Makasih udah baca cerita ini! Semoga makin banyak yang tertarik bikin fic bunal (dan semoga saya bisa bikin banyak fic buat fandom ini juga)!