PEMBUNUH CAHAYA
Judul : Pembunuh Cahaya Prolog dan Part 2
Genre : Romance,Drama
Rate : T sampai M++?
Casts :
KrisHun Couple
slight TaoHun and TaoRis couple.
Sehun EXO (GS)
Kris EXO/Wu Yifan as Kris and Cathy (Kris's twin sister)
Tao EXO
Lay EXO
ETC
Warning : GS FOR SOME CHARACTER ,typo,crack!pair,jangan lihat hanya dari pairnya saja.
Annyeong ^^
Author kembali dengan update FF Pembunuh Cahaya
FF Pembunuh Cahaya ini cerita yang keempat
Ini link FF sebelumnya
Ini link cerita yang Sweet Enemy (SUDO Couple) :
s/12301846/1/SWEET-ENEMY
link FF Perjanjian Hati (XiuHan/LuMin couple) :
s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI
link FF You've Got Me From Hello (Chankai Couple)
s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO
Enjoy ^^
STORY DON'T BELONG TO ME
REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA
CHAPTER 2
"Keadilan sangat berbeda dengan balas dendam. Keadilan berarti keseimbangan, sedangkan balas dendam hanyalah pemuasan diri manusia."
"Dari mana saja kau?" suara dingin Kris menyambut Sehun di ruang tamu, membuat Sehun mengernyitkan keningnya.
Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gugup, "Eh… karena aku tidak ada pekerjaan, aku… aku memutuskan untuk ke rumah kaca."
"Ke rumah kaca?" tatapan Kris menjadi tajam. "Menemui Tao?"
"Ne. Aku juga menengok rumah kacaku, Tao mempercayakan perawatannya kepada seseorang, jadi aku mampir untuk mengevaluasi hasil…"
"Tidak bisakkah kau melepaskan rumah kaca dan Tao dari pikiranmu? Aku muak kalau kau selalu menyebut – nyebutnya di rumah ini. Kalau kau memang mau menjadi istri yang baik, fokuslah pada rumah ini, keluarga ini, bukan hanya melulu mengurusi rumah kaca itu!" dengan ketus Kris melangkah meninggalkan Sehun yang terperangah kaget di ruang tamu.
Sehun merasakan hatinya mencelos seperti diremas, matanya terasa panas, tapi dia menahannya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada orang yang memarahinya dengan seketus itu. Apakah Kris cemburu kepada Tao dan juga kepada rumah kacanya?.
Hati Sehun meragu, tetapi… sepertinya dulu Kris sama sekali tidak keberatan akan itu semua?
Sehun melangkah mengikuti Kris memasuki kamar tidur mereka, tiba – tiba merasa takut kepada suaminya. Kris benar – benar terasa asing, seperti bukan dirinya. Sehun merasa tidak nyaman dengan Kris yang sekarang menjadi suaminya ini.
"Kenapa kau marah – marah padaku, Chrissie?" Sehun memanggil Kris dengan nama kesayangannya dan memberanikan diri bertanya, mencoba bersikap lembut kepada suaminya. Bukankah dulu Kris berkata bahwa dia sangat menyukai kelembutan Sehun?.
Tetapi Kris tetap bersikap dingin, sama sekali tidak tersentuh dengan kelembutan Sehun, ditatapnya Sehun dengan sinis, "Suami mana yang tidak marah ketika istrinya malahan mengunjungi lelaki lain di hari pertama setelah mereka menikah. Seolah tidak tahan untuk segera menghambur ke pelukan lelaki itu?"
Wajah Sehun memucat mendengar tuduhan Kris, tetapi dia mencoba membela diri, " Kau yang meninggalkanku untuk bekerja di hari pertama pernikahan kita, dan aku bingung tidak tahu harus bagaimana. Lagipula aku kesana bukan untuk menemui Tao, aku ingin menengok rumah kacaku."
"Alasan." Kris menatap Sehun dengan merendahkan, "Dari awal aku sudah curiga ada sesuatu yang lebih diantara kalian. Dan jangan mencoba melempar kesalahan dengan menyalahkanku karena pergi bekerja. Aku bekerja kau pikir untuk siapa? Untuk menghidupi istriku juga. Kau juga menerima keuntungan dari rumah mewah, pakaian mahal, dan makanan enak yang selalu disediakan untukmu. Jadi kuharap kau menghargainya dan jangan menjadi perempuan cengeng hanya karena aku pergi bekerja."
Kata – kata kasar Kris sekali lagi telah membuat hati Sehun terasa teriris. Dia sampai mundur satu langkah, menjauhi suaminya, menatap Kris dengan wajah tidak percaya,
"Kris.. ?" suaranya bergetar, "Ada apa sebenarnya?" tanyanya lirih. Menahan perasaan.
Kris tampaknya tidak tersentuh melihat ekspresi Sehun, dia menatap dingin, "Tidak ada apa – apa. Hanya saja tiba – tiba aku menyesali keputusan bodohku untuk menikahi perempuan kampung dari kelas rendahan yang tidak tahu terima kasih dan malahan sibuk menjalin affair dengan lelaki lain." Mata Kris tampak kejam menatapnya, "Dan kupikir aku terlalu muak untuk sekamar denganmu. Keluar dari kamarku, dan tidurlah di salah satu kamar kosong di rumah ini. Dimanapun itu, carilah yang paling jauh dari kamarku."
"Kris?" kali ini Sehun tidak mampu menahan air matanya, dia merasa sangat bingung.
Kris melangkah ke pintu, sebelum keluar dia menoleh dengan dingin, "Aku akan pergi keluar, dan aku harap ketika aku pulang, kau cukup tahu diri untuk memindahkan seluruh barangmu dari ruangan ini."
Sehun tidak tahu harus berbuat apa, ini adalah hari pertama pernikahannya. Dan Kris sudah memperlakukannya dengan begitu kejam.
Sebenarnya ada apa dengan Kris? Apa salah Sehun sehingga Kris setega itu dan sekasar itu kepadanya? Benak Sehun berpikir keras, tetapi dia tidak menemukan pertanda apapun. Bahkan setelah pesta pernikahan itu sebelum Sehun masuk kamar, Kris masih bersikap lembut kepadanya, memeluknya mesra di dansa pengantin mereka sambil berbisik betapa bahagianya dia ketika pada akhirnya bisa menikahi Sehun.
Sambil mengusap air matanya, Sehun mengemasi pakaiannya. Dia sebenarnya tidak ingin melakukannya, diusir seperti ini dari kamar suaminya dan direndahkan karena disuruh mengemasi pakaiannya sendiri dan berpindah tempat.
Tetapi harga dirinya menuntutnya melakukannya, dia tidak mau ketika Kris pulang nanti dan menemukan dirinya masih ada di kamar ini, Kris akan semakin merendahkannya.
Apa yang harus dia lakukan? Nuraninya menjerit, memintanya melarikan diri saja dan kabur dari rumah ini, kembali ke lindungan rumah kacanya yang nyaman. Tetapi Sehun adalah wanita dewasa, bukan remaja lagi yang bisa kabur kalau menemukan permasalahan yang tidak sanggup untuk dia hadapi. Sehun harus bisa berbicara dengan Kris dan meluruskan semuanya, mungkin saja Kris benar – benar cemburu dan salah paham tentang hubungannya dengan Tao? Sehun akan menjelaskan bahwa Tao adalah gay dan Kris tidak perlu mencemaskan hubungannya dengan Tao, begitu ada kesempatan.
Kris memasuki rumah mewah itu, yang terletak di pinggiran kota Seoul yang tenang dan sepi. Sontak seorang pelayan membukakan pintu untuknya dan membungkuk memberi hormat, Kris menatapnya tenang, "Bagaimana keadaannya?"
"Nona Cathy, sangat baik kondisinya sekarang, Tuan. Beliau bahkan bisa meminum obatnya tanpa perlawanan seperti biasanya."
"Apakah dia mau makan?" Kris bertanya cemas, karena dia tahu persis, Cathy sering menjerit – jerit mencarinya dan tidak mau makan. Dia akan melemparkan makanannya ke segala arah dan mengamuk, yang bisa menenangkannya hanyalah Kris. Cathy kebanyakan hanya mau makan kalo disuapi oleh Kris.
Sang pelayan menganggukan kepalanya dengan bersemangat, "Nona sangat tenang hari ini, beliau meminum obatnya dengan patuh dan kemudian mau memakan sup dan nasinya ketika pelayan menyuapinya."
"Bagus", Kris tersenyum dan berjalan dengan langkah tergesa melangkah menaiki tangga menuju lantai atas, ke ruangan yang terletak di ujung, dengan pemandangan indah ke arah taman yang hijau.
Kris membuka pintu dengan hati – hati, kamar itu temaram seperti biasa. Suasana kesukaan Cathy, meskipun sebenarnya tidak ada bedanya bagi Cathy, batin Kris dengan sedih.
Cathy sedang duduk di atas kursi rodanya seperti biasa. Termenung menatap ke arah pemandangan balkon. Suasana sudah menggelap, tetapi apakah Cathy merasakan perbedaannya? Kris kadang – kadang bertanya – tanya ketika Cathy menghadap pemandangan di arah balkon, seolah – olah perempuan itu sedang menikmati pemandangan. Padahal Kris tahu bahwa tidak ada pemandangan apapun yang bisa dinikmati oleh Cathy dengan matanya yang buta.
Dengan lembut Kris meremas pundak Cathy dan berdiri di belakangnya, "Annyeong aegi, kata pelayan kau sangat baik hari ini, aku bangga padamu."
Seulas senyum tampak hadir di bibir Cathy, ketika merasakan kehadiran Kris,
"Chrissie?" bisiknya lemah, jemarinya dengan lembut meremas tangan Kris di pundaknya, "Bogoshipo."
"Nado bogoshipo. Tapi kau tahu terkadang aku harus pergi bukan? Untuk membuat hidup kita semakin baik?" dengan lembut Kris memutar dan berlutut di depan kursi roda Cathy, "Aku senang kau bersikap baik hari ini, tidak memecahkan apapun dan membuat pelayan kerepotan, kau memuatku sangat bangga."
Ada secercah kebahagiaan di mata Cathy ketika menunduk menatap Kris yang berlutut di bawahnya, "Aku senang membuatmu bangga." bisiknya lemah.
Kris menatap Cathy dengan penuh sayang dan keharuan. Cathy adalah perempuan yang sangat cantik, dulunya. Sekarang dia begitu rapuh dan kurus, tampak begitu lemah hingga seolah kalau Kris salah memegangnya, Cathy akan hancur berkeping – keping.
Seperti biasanya, Kris merebahkan kepalanya di pangkuan Cathy, membiarkan perempuan itu mengusap kepalanya, memberinya secercah kedamaian. Kris memejamkan matanya. Saatnya semakin dekat… saat yang dia tunggu – tunggu sudah menjelang..
Sehun pindah ke kamar tamu yang berada di ujung lorong, dengan malu, karena semua pelayan tampak kaget dengan kepindahannya. Tetapi Sehun menegarkan hati, mengatakan bahwa ini adalah keputusannya sebagai nyonya rumah yang tidak dapat diganggu gugat. Seumur hidupnya Sehun tidak pernah menjadi nyonya rumah, tetapi ternyata menjadi istri Kris ada untungnya juga di rumah ini, karena semua pelayan takut dan tunduk kepadanya tanpa berani membantahnya.
Kamar itu sama bagusnya dengan kamar – kamar lain yang di rumah itu, dan Sehun mengatur pakaiannya yang hanya sedikit di dalam lemari yang sangat besar itu.
Setelah dia duduk dengan ragu, dan menunggu Kris pulang. Dalam hati dia bertanya – tanya, apakah keputusannya mengikuti Kris dengan pindah dari kamar utama sudah benar? Ataukah ini hanya memperburuk keadaan?
Haruskah Sehun bertahan saja di kamar itu dan memaksa Kris menjelaskan semuanya kepadanya? Tetapi bagaimanapun juga Sehun tidak sanggup kalau harus menerima penghinaan dan sikap kasar Kris kepadanya.
Mungkin ini adalah keputusan yang tepat, ketika mereka berpisah kamar mungkin Kris bisa berpikir dengan lebih tenang dan menyadari bahwa dia terlalu berlebihan dalam kecemburuannya kepada Tao. Dan setelah Kris tenang, Sehun akan menjelaskan semuanya kepada Kris, kenyataan tentang Tao dan bahwa Kris sebenarnya tidak perlu cemburu kepada Tao.
Tetapi tertanya penantian Sehun sia – sia. Malam itu Kris tidak pulang ke rumah.
Sehun bangun dengan mata bengkak dan sembab, setelah menunggu berjam – jam dan menyadari bahwa Kris tidak pulang ke rumah. Sehun menghabiskan waktu dengan menangis dan meratapi diri, larut dalam kebingungan yang menakutkan. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak tahu kenapa Kris memperlakukannya seperti ini.
Dia merasa sendirian, benar – benar sendirian di rumah ini. Sambil menghela nafas, Sehun melangkah ke kamar mandi dan mencuci mukanya di wastafel, ketika menatap ke arah kaca dia mengernyit menatap matanya yang bengkak dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.
Ini bukanlah penampilan seorang pengantin yang sedang berada di masa bulan madunya. Tidak akan ada pengantin berbahagia yang bangun tidur dengan kepala pening dan mata sembab, tidak mengetahui keberadaan suaminya…
Sehun merasa matanya kembali panas, ingin menumpahkan air mata di sudut – sudutnya. Tetapi dia kemudian menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri.
Masalah tidak akan bisa diselesaikan dengan menangis.
Sehun harus mencari tahu kenapa Kris tiba – tiba berubah menjadi orang yang tidak dikenalnya. Kris yang menjadi suaminya bukanlah lelaki lembut yang begitu penuh kasih sayang yang dicintainya. Dan Sehun tidak mau diam saja, dia tidak mau diperlakukan kasar tanpa tahu apa kesalahannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Sehun melangkah keluar dan menuju ruang makan. Sarapan lengkap ala western sudah disiapkan disana. Dan tiba – tiba perut Sehun berbunyi ketika mencium harumnya scrambled egg dan roti panggang yang tersedia disana. Kris memang lama tinggal di Kanada dan sering bepergian ke Eropa, jadi ia sangat menyukai menu sarapan ala western yang biasanya menyediakan roti panggang, telur dan bacon sebagai sajian utamanya. Sehun sendiri sebagaimana orang Asia kebanyakan yang lebih senang sarapan dengan menu nasi dan berbagai menu pendampingnya. Ia merasa kurang kenyang jika tidak makan nasi.
Tidak bisa dipungkiri, meski perasaannya berkecamuk, tubuhnya berteriak mengirimkan alarm yang mengatakan bahwa dia lapar. Karena semalam, setelah Kris pergi, tidak ada sama sekali nafsunya untuk makan.
"Nyonya, apakah anda baik – baik saja?" seorang pelayan menyapa Sehun yang termenung menatap hidangan di depannya.
"Gwe… gwenchana. Ngg… bisakah kau memasakkan satu porsi kimbap dan kimchi untukku? Aku tidak terbiasa makan roti." Sehun menjawab seraya menyuruh pelayan membuatkannya menu sarapan korea.
"Baik, nyonya." pelayan itu membungkukkan badannya dan berlalu dari hadapan Sehun.
Perutnya terasa perih dan melilit. Sambil menunggu hidangannya datang, Sehun menyesap English breakfast tea yang tersedia di meja makan. Mungkin jika ia makan dengan kimbap dan kimchi, selera makannya bisa sedikit tergugah. Sehun tidak boleh jatuh sakit hanya karena dia kelaparan. Entah kenapa dia merasa bahwa dirinya harus tetap kuat dan bertahan.
Karena yang lebih buruk mungkin akan datang.
Kris pulang beberapa saat kemudian, ketika Sehun memasukkan potongan kimbap terakhir ke mulutnya. Suara khas mobil kris yang memasuki halaman rumah yang luas itu membuat Sehun menegang. Mendadak ia kembali tidak berselera makan. Ia meletakkan sumpitnya dan duduk menanti dengan cemas di meja makan.
Langkah – langkah Kris tampak tergesa menaiki tangga. Sehun mendengarnya dengan waspada sampai kemudian mendengar suara lelaki itu membanting pintu kamarnya, lalu kemudian menarik nafas lega.
Tak lama kemudian ketika tidak ada tanda – tanda Kris akan keluar dari kamarnya, Sehun melangkah menuju ruang tengah, duduk di sofa cokelat muda yang nyaman dan merenung. Kenapa dia jadi takut menghadapi pertemuannya dengan Kris? Apakah karena penghinaan Kris yang begitu menggores hatinya sehingga membuatnya trauma bahkan hanya untuk berbicara dengan lelaki itu?
Tetapi perempuan mana yang tidak trauma ketika dilamar dengan penuh cinta, dinikahi dengan keyakinan bahwa dia telah menemukan belahan jiwanya yang akan menyayangi dan menjaganya, hanya untuk kemudian menemukan suaminya telah berubah seperti pria lain yang begitu kasar, menghinanya dan bersikap sangat jahat kepadanya?
Sebuah gerakan dipintu mengalihkan perhatian Sehun dan membuatnya terkesiap. Kris berdiri disana, dengan wajah dingin dan tak terbacanya, menatap Sehun dengan tajam. Rambutnya basah karena lelaki itu sepertinya habis mandi. Ini hari Minggu jadi sepertinya Kris tidak akan pergi ke kantornya.
Jantung Sehun berdegup kencang, Apakah ini saatnya mereka berbicara dan meluruskan semua salah paham atau entah apapun itu yang membuat seolah Kris sangat marah dan membencinya?
Ekspresi Kris tetap tidak terbaca ketika dia melangkah memasuki ruang baca dan bersedekap menatap Sehun, "Kau pindah dari kamar."
Sehun mendongakkan dagunya, berusaha tampak tegar di bawah tatapan Kris yang tajam, "Ne. Sesuai permintaanmu." Batin Sehun melanjutkan bahwa permintaan Kris, dilakukan dengan merendahkan dan menghina Sehun. Tetapi tentu saja dia tidak mengeluarkannya dalam kata – kata, dia tidak mau memperkeruh keadaan.
"Bagus." Suara Kris sangat dingin hingga Sehun terkesiap dan menatap terkejut ke arah Kris. Dia tidak menyangka bahwa jawaban seperti itu yang keluar dari bibir suaminya.
"Kenapa kau bersikap seperti ini kepadaku, Kris?" Sehun mengernyit menatap suaminya, mencoba mencari kelembutan dan kasih sayang disana, yang biasanya terpancar ketika suaminya itu menatapnya.
Tetapi tidak ada apapun di ekspresi Kris yang datar dan dingin, yang ada malah seulas sinar kejam di sudut matanya,
"Karena aku kecewa kepadamu." Kris menyipitkan matanya, "Karena setelah menikahimu aku baru sadar bahwa aku tidak pernah mencintaimu."
Kata – kata Kris bagaikan petir yang menyambar hati Sehun, langsung menghanguskannya tanpa ampun. Tetapi Sehun bukanlah perempuan yang lemah, dia tegar. Kalau memang hal ini adalah kenyataan, dia akan menerimanya. Kris bisa saja menghancurkan hatinya dan membuatnya menangis di kamar karena hatinya hancur. Tetapi di depan Kris, Sehun akan berjuang supaya bisa tegar, tidak akan dibiarkannya dirinya tampak lemah di depan Kris.
"Kalau begitu, kau bisa membatalkan pernikahan kita. Kau belum menyentuhku dan kita baru dua hari menikah. Aku rasa kita bisa mengajukannya ke pengadilan." Jawab Sehun tenang.
Kali ini giliran Kris yang menyipitkan matanya, dia menatap Sehun dengan pandangan menyelidik, "Kenapa kau bisa semudah itu mengatakan tentang perpisahan?" kata – katanya tajam menusuk, setajam ucapannya, "Apakah kau memang tidak mencintaiku dan hanya mengincar hartaku. Jadi kau merasa senang ketika aku mengajukan perceraian?" Kris mendekat dengan mengancam, membuat Sehun otomatis memundurkan langkahnya, "Apakah kau sudah merencanakan ini bersama Tao kekasihmu? Kau pikir kau bisa membodohiku?"
"Tao bukan kekasihku." Sehun menegaskan nada suaranya, berusaha terdengar tegar meskipun bergetar, "Dan kenapa kau memutarbalikkan fakta Kris? Bukankah kau yang mengatakan menyesal menikahiku dan tidak menginginkan pernikahan lagi?"
Lama Kris terpaku, menatap Sehun dengan tatapan terpaku, "Perempuan cerdik." Gumamnya kemudian, "Kau pikir aku akan melepaskanmu semudah itu? Kalau aku membatalkan pernikahan ini, aku harus memberikan kompensasi kepadamu. Kalau aku menceraikanmu, kau akan dapat bagian yang tak sedikit dari hartaku, semua hal itu menguntungkanmu, dan aku tidak akan membiarkannya," mata Kris menyipit, "Tidak akan ada perpisahan." Desisnya, "Tidak sampai aku bisa membuktikan perselingkuhanmu sehingga kau bisa kuceraikan tanpa membawa apapun yang bukan hakmu."
Lalu seperti sebelumnya, Kris membalikkan badannya dan meninggalkan Sehun sendirian.
Sehun sudah tidak tahan lagi, air matanya sudah tumpah tak karuan di kamar luas yang sepi itu. Sementara setelah pertengkaran tadi, Kris pergi entah kemana. Sepertinya lelaki itu sengaja pulang untuk menyakitinya.
Sejak tadi Sehun sudah menahan diri untuk tidak menghubungi Tao, dia tidak mau sahabatnya itu cemas. Selain itu jauh di dalam dirinya, Sehun masih berharap kalau semua ini hanyalah mimpi, kalau sebenarnya semuanya baik – baik saja, kalau dia tinggal membuka matanya dan kemudian mendapati Krisnya yang dulu sudah kembali.
Ada apa dengan Kris? Itulah pertanyaan yang selalu terngiang – ngiang di benak Sehun. Kebingungan yang menyakitkan, membuat air matanya tumpah karena dirinya merasa disalahkan atas sesuatu yang tidak pernah ia buat.
Ada yang lebih besar dari kecemburuan Kris kepada Tao, hanya sesuatu yang besarlah yang bisa menyebabkan sinar kebencian yang tiba – tiba menyeruak begitu besar di mata Kris. Apapun itu Sehun harus tahu, karena dia tidak tahan berdiam diri disini, penuh air mata dan tak tahu harus berbuat apa.
Saat ini hanya satu orang yang bisa membantunya, sahabatnya yang paling mengerti dirinya diatas segalanya. Sehun mengambil risiko menyulut kemarahan Kris yang lebih besar dengan menghubungi Tao, tetapi bagaimanapun juga Kris sudah marah besar tanpa alasan kepadanya. Jadi tidak ada gunanya Sehun sibuk memikirkan menjaga perasaan Kris sementara lelaki itu tidak mempedulikannya.
Dipencetnya nama Tao di ponselnya, dengan penuh tekad, lalu Sehun menunggu. Pada deringan ketiga Tao mengangkat teleponnya,
"Sehun-ah?" suara Tao yang lembut terdengar di sebrang.
Sehun menghela nafas panjang, menahan rasa tercekat yang dalam ketika tangisnya mulai menyeruak lagi,
"Tao-ya…"
TO BE CONTINUE
Ok, author update FF ini tanpa edit.
Terima kasih buat yang udah review di Chapter 1 dan juga follow sama favorite
Welcome buat yang baru nemu dan baru baca FF ini
Semoga suka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa review, follow dan favoritnya.
Gamsahamnida. Annyeong ^^
