PEMBUNUH CAHAYA

Judul : Pembunuh Cahaya PART 3

Genre : Romance,Drama

Rate : T sampai M++?

Casts :

KrisHun Couple

slight TaoHun and TaoRis couple.

Sehun EXO (GS)

Kris EXO/Wu Yifan as Kris and Cathy (Kris's twin sister)

Tao EXO

Lay EXO

ETC

Warning : GS FOR SOME CHARACTER ,typo,crack!pair,jangan lihat hanya dari pairnya saja.

Annyeong ^^

Author kembali dengan update FF Pembunuh Cahaya

FF Pembunuh Cahaya ini cerita yang keempat

Ini link FF sebelumnya

Ini link cerita yang Sweet Enemy (SUDO Couple) :

s/12301846/1/SWEET-ENEMY

link FF Perjanjian Hati (XiuHan/LuMin couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

link FF You've Got Me From Hello (Chankai Couple)

s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO

Hmm.. sebenernya author bingung mau naikkin rate FF ini apa engga, tapi setelah dipikir – pikir engga jadi, karena adegannya yang ga terlalu jelas (?) #abaikan

Ok daripada banyak bacot, enjoy ^^

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL SANTHY AGATHA DENGAN JUDUL YANG SAMA

"Dendam yang terpelihara pada akhirnya akan menggerogotimu pelan, sampaikautidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."

PART 3

"Mwo? Tao hampir berteriak di sebrang sana ketika mendengar seluruh cerita Sehun yang diucapkan sambil menahan tangisnya. "Apa yang ada di otak Kris?"

Sehun menghela napas panjang, "Aku hanya tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu, Tao. Dia sungguh berubah, tidak seperti yang kita kenal. Dia… aku hampir yakin kalau dia… membenciku."

"Membencimu?" Tao mendesah pelan, Sehun hampir membayangkan lelaki itu menggeleng – gelengkan kepalanya di seberang sana, "Aku sungguh tidak bisa membayangkan kalau dia membencimu Sehun-ah, sikap lembutnya, kebaikannya, tatapan penuh cintanya kepadamu waktu itu, semuanya tampak tulus." Suara Tao berubah prihatin, "Sehun-ah gwenchanayo? Perlukah aku menjemputmu?"

"Jangan Tao." Sehun berseru cepat, "Pada awalnya kupikir kalau Kris cemburu kepadamu, kepada kita."

"Itu konyol... kau seharusnya memberitahunya kalau aku..."

"Nde, dia memang belum tahu Tao… dan hari itu ketika aku mengunjungimu setelah pernikahan, dia ada di rumah ketika aku pulang dan menungguku. Dia tampak marah besar, mengata-ngataiku sebagai perempuan yang tidak menghormatinya karena langsung mengunjungi kekasihnya setelah pernikahan. Dia mengira kita sepasang kekasih."

"Apakah kau tidak menjelaskan semuanya kepadanya?"

"Aku tidak punya kesempatan." Sehun mendesah pedih,

"Dia tidak memberiku kesempatan."

Hening lama, seolah Tao sedang berpikir keras.

"Kris sungguh keterlaluan." Tao menggeram, tampak marah, "Dia memperlakukanmu seperti ini, sama seperti dia sedang menghinaku. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri, Sehun, keluargaku. Kalau Kris bersikap keterlaluan kepadamu, dia harus menghadapiku.


Kris membanting tubuhnya di sofa kantornya. Dia tidak tahu harus kemana. Dia tidak bisa berada di rumah dan memancing terus menerus konfrontasi dengan Sehun, yang membuatnya lelah. Dia juga tidak bisa datang ke rumah tempat Cathy dirawat, melihat kondisi Cathy yang seperti itu makin lama makin membuat luka di dalam hatinya yang sudah parah semakin menganga.

Satu-satunya tempat yang bisa membuatya nyaman dan sendirian adalah kantornya di hari Minggu. Petugas keamanan perusahaannya tampak bingung melihat kedatangan bosnya tiba-tiba di hari Minggu, tetapi Kris memasang tampang datar tidak peduli.

Benaknya berkelana tanpa arah, memikikan tercapainya tujuannya. Semua rencanya sudah mengarah ke arah yang diinginkannya. Pernikahannya dengan Sehun semakin mempermudah rencananya.

Kris pada akhirnya berhasil menikahi Sehun dan menjalankan rencana balas dendamnya. Pada akhirnya dia akan menahan Sehun dalam pernikahan ini dan terus menerus menyakitinya tanpa Sehun sadari. Tetapi… semua keberhasilan ini tidak membawa kepuasan kepada dirinya. Entah mengapa. Apakah karena batinnya sendiri menyadari bahwa dia telah membalas dendam kepada orang yang tidak tahu apa-apa?.

Tidak! Kris menggelengkan kepalanya dengan keras.

Sehun pantas menerima pembalasan ini. Dia sedikit banyak telah berkontribusi dalam penderitaan yang dialami Cathy… kesakitan yang dialami Cathy… Belum lagi kepedihan yang ditanggung oleh keluarganya selama ini. Semuanya sangat sepadan denganpembalasan dendam ini.

Kris mendesah dan berdiri dengan gelisah, menatap dari jendela kaca di ruang kerjanya ke arah langit yang gelap dan mendung.

Sehun. Perempuan itu, dengan keluguannya telah dengan mudahnya jatuh ke dalam cengkeraman Kris. Sebenarnya Kris bisa saja menghancurkan hidupnya tanpa harus menikahinya. Tetapi entah kenapa di saat terakhir Kris memutuskan bahwa dengan menikahi Sehun, dia akan lebih mudah mengikat perempuan itu. Dan lebih leluasa membalaskan dendamnya. Hal itu juga mencegah Sehun kabur meninggalkannya sebelum pembalasan dendamnya usai.

Dia teringat kepada Tao yang tampak begitu dekat dengan Sehun, dan mencibir. Perempuan itu bahkan dengan mudahnya melompat meninggalkan Tao dan menghambur ke pelukannya, benar-benar watak perempuan gampangan, seperti yang dibayangkannya selama ini. Tetapi bagaimanapun juga hubungan Tao dengan Sehun yang begitu dekat, bahkan setelah Sehun menikah dengannya terasa begitu menganggu. Ingatannya akan Sehun yang langsung mengunjungi Tao di hari pertama pernikahan mereka membuatnya marah dan terhina.

Dia mengernyit, Sehun pasti akan langsung menghambur kepada Tao karena sikap Kris. Tiba – tiba dia sadar. Diraihnya kunci mobilnya dan bergegas keluar.


Pada akhirnya Sehun tidak tahan harus terus berdiam diri di rumah Kris yang begitu besar dan lengang, apalagi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Kris akan pulang hari ini. Dia akhirnya memutuskan mengambil risiko, karena dia sangat butuh melepaskan semua permasalahannya di rumah kaca. Dari dulu, Sehun sudah terbiasa, kabur dan merenung di rumah kaca, ketika pikirannya kalut.

Kadangkala Sehun menghabiskan waktunya dengan merawat tanaman-tanamannya, mencurahkan kasih sayangnya dan mengalihkan perhatiannya.

Sebelum menuju ke rumah kaca, Sehun mampir ke Garden Café, dan menghela napas sedikit senang dengan aroma khas yang menenangkannya dari café ini. Café ini penuh dengan aroma rempah yang nikmat, bercampur harumnya kue yang baru keluar dari panggangan. Suasananya damai, seperti di rumah.

Sehun melangkah menuju sebuah sudut yang nyaman, di dekat rumpun bunga anggrek putih dengan bercak keunguan yang indah, hasil dari rumah kacanya. Suasana café tampak ramai dengan para pelayan yang lalu lalang melayani pengunjung, mungkin ini karena tepat saat jam makan siang.

Lay sendiri yang mendatanginya, lelaki itu tampaknya sudah melihatnya dari jauh dan kemudian menembus kesibukan café untuk menghampirinya,

"Pengantin baru ada disini lagi." Lay tertawa, "Apa yang kau lakukan disini Sehun-ah?"

Sehun tersenyum kecut, berusaha tampak ceria, "Aku membutuhkan teh hijau untuk menambah semangatku."

"Segera datang." Lay mengedipkan sebelah matanya, "Apakah kau ingin teman minum teh? Ada pastry apel dan keju yang baru keluar dari oven."

Sehun menganggukkan kepalanya, "Nde. Aku mau."

Gumamnya. Lalu duduk merenung dan menunggu.

Apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi perkawinannya? Apa yang harus dilakukannya kepada Kris? Bagaimana mungkin cinta yang begitu lembut dan pekat bisa berubah begitu cepat menjadi kebencian yang menyayat?

Sehun begitu penuh dengan pertanyaan yang ingin dilemparkannya kepada Kris. Tetapi jangankan untuk bertanya, untuk berbicarapun sepertinya lelaki itu sama sekali tidak memberinya kesempatan.

Sebenarnya apa yang diinginkan Kris dari pernikahan ini?

Teh hijaunya kemudian datang, disajikan dalam cangkir mungil berwarna putih yang masih mengepul dan beraroma teh yang khas dan harum. Bersamaan dengan itu, sepiring pastry yang masih panas menggiurkan disajikan bersama.

Sehun meneguk tehnya, dan menikmati rasanya. Begitu pahit tanpa gula, tetapi ketika indra penciumannya bekerja, aromanya yang nikmat memberikan rasa tersendiri ke indra pencecapnya. Sehingga kepahitan itu berubah menjadi rasa yang khas yang selalu dirindukan oleh lidahnya.

Sehun teringat akan filosofi Lay tentang teh hijau, dan dia tersenyum. Teh hijau mengingatkan Sehun akan rahasia, rahasia sebuah rasa yang harus menunggu saat yang tepat, menyibak lapisan demi lapisan untuk menemukan apa sebenarnya yang tersembunyi di baliknya.

Ponselnya berbunyi tiba-tiba membuat Sehun tersentak dari lamunannya, diangkatnya ponsel itu ketika tahu bahwa Tao yang menelepon,

"Yeoboseyo, Tao."

"Katamu kau akan segera datang kemari, dan aku cemas karena kau belum tiba juga." terdengar nada cemas di suara Tao

"Aku mampir di Garden Café untuk makan siang." Jawab Sehun sambil tersenyum miring.

"Teh hijau lagi?" Tao tergelak, "Aku tidak pernah tahu tentang obsesimu meminum teh hijau di saat makan siang entah panas, hujan, musim gugur ataupun musim salju. Menurutku minum soda yang paling enak."

"Soda tidak baik untuk kesehatan." Sehun mengernyit, membuat tawa Tao semakin keras.

"Oke Sehun, lekaslah datang, dan aku ingin kau menceritakan semuanya secara langsung."


Tao sudah menunggu. Meskipun tampak santai, lelaki itu tegang dan kelihatan sekali sangat mencemaskan Sehun,

"Bagaimana keadaanmu?" Tao menarikkan kursi bagi Sehun untuk duduk, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.

"Gwenchana." Saira berusaha tersenyum tegar, "Tetapi perasaanku tidak." Lanjutnya serak.

Tao menatap Sehun dan mengernyitkan keningnya, "Kau baru dua hari menikah dan Kris sudah bersikap seperti ini. Kalau begini aku jadi menanyakan motivasinya menikahimu." Tao menatap Sehun hati-hati, "Apakah mungkin dia sedang menjebakmu dalam pernikahan ini Sehun?"

"Menjebakku?" Sehun menatap Tao dengan alasan bingung, "Tetapi kenapa? Demi alasan apa?"

"Molla." Tao mengangkat bahunya, "Semula aku sempat curiga dengan sikap Kris yang mendekatimu dengan begitu intens dan cepat, bahkan kemudian melamarmu padahal hubungan kalian baru seumur jagung." Lelaki itu duduk di kursi depan Sehun dan menghela napas panjang, "Tetapi aku melihat betapa kau mencintainya, dan aku berpikir bahwa kau sudah menemukan belahan jiwamu"

Hati Sehun terasa sakit mendengar kata-kata Tao, itu sama seperti yang dikatakan Kris kepadanya dulu sebelum menikahinya. Bahwa Sehun adalah belahan jiwanya, bahwa Kris tidak perlu berlama-lama untuk menunggu menikahinya karena dia tahu pasti dia sudah menemukan belahan jiwanya,

Tetapi tentunya seseorang tidak akan bersikap kasar dan penuh kebencian kepada belahan jiwanya bukan?

"Aku akan mencari tahu Sehun. Aku tidak rela kau diperlakukan begini tanpa tahu alasannya."

Sehun menghela napas panjang, "Tetapi jangan berkonfrontasi dengan Kris, Tao, dia… dia sepertinya menuduh kita menjalin affair di belakangnya.

"Itu konyol." Tao menghela marah, "Kalau dia tahu yang sebenarnya dia akan malu karena pernah menuduhmu."

Sehun memalingkan muka, menahan tangisnya yang hampir tak terbendung, "Aku mencintainya, Tao… sangat mencintai Kris, tidak pernah aku merasakan perasaan ini sebelumnya kepada lelaki manapun… tapi… aku…" suara Sehun serak, dia menelan ludah dengan susah payah, menahan sesak di dadanya, sebutir air mata bergulir dari matanya, tanpa dapat dia tahankan,

Tao menatap Sehun yang menangis, lalu mendekatinya, dan berdiri di sebelah Sehun, lalu memeluk Sehun yang masih duduk di kursi, tampak begitu rapuh dan lelah dengan kesakitannya.

"Oh aegi… kasihan sekali dirimu, aegi." Tao memeluk Sehun, dan Sehun menumpahkan segala tangisannya disana, di pelukan lelaki yang sudah dikenalnya sejak kecil, yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri.

"Oh. Jadi inilah yang selalu kalian lakukan kalau berduaan."

Suara dingin itu membuat Sehun terlonjak kaget dan langsung melepaskan dirinya dari pelukan Tao. Dia menoleh ke pintu masuk dan memucat ketika melihat Kris berdiri disana, tampak luar biasa marah

"Kris?"

"Aku muak melihat bukti ketidaksetiaanmu ini Sehun." Kris menggeram marah, "Kaja. Ayo pulang."

Dengan kasar Kris merenggut lengan Sehun, menariknya berdiri dari duduknya.

Tao langsung meradang, dia merenggut sebelah lengan Sehun yang bebas dan menahannya,

"Kau tidak boleh memperlakukan Sehun seperti itu." Tao menarik Sehun dari cengkeraman Kris dan menyembunyikannya di belakangnya. "Ada apa denganmu Kris?"

Kris menatap Tao dengan tatapan tajam dan jijik, "Ada apa? Kau pikir aku harus diam saja melihat affair yang kalian lakukan terang-terangan untuk menghinaku?" tatapan tajam Kris beralih kepada Sehun, yang tampak ketakutan dan pucat pasi, bersembunyi di belakang punggung Tao, "Pulang Sehun. Kalau tidak kau akan menyesal karena aku akan menghancurkan kekasihmu ini berikut semua bisnis dan juga rumah kacamu."

Ancaman itu mengena. Karena Kris adalah seseorang yang berpengaruh terhadap klien-klien besar rumah kaca Sehun, dan lelaki itu sangat berkuasa. Dari tatapan matanya yang menyala, Sehun tahu bahwa Kris akan berbuat apapun untuk mewujudkan ancamannya.

Sehun gemetar, takut menghadapi kemarahan Kris, tetapi dia harus memberanikan diri. Mungkin dengan begini dia bisa menemukan jawaban atas sikap Kris yang sangat kejam ini.

Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan diri, Sehun melangkah keluar dari lindungan Tao dan maju mendekati Kris,

"Aku akan pulang." Gumamnya pelan.

"Sehun-ah!" Tao berteriak dengan serak, "Andwae!"

Sehun menoleh, menatap Tao dengan lembut, meski matanya berkaca-kaca, "Aku akan baik-baik saja."

Dan kemudian Kris merenggut lengannya dengan kasar, setengah menyeretnya keluar dari rumah itu.


Perjalanan itu ditempuh dalam suasana yang hening dan mengerikan. Kris terdiam dan beberapa kali terlihat menggertakkan gerahamnya, menahan amarah. Sementara itu Sehun begitu tegang menantikan luapan kemarahan Kris.

Baru beberapa hari mereka menikah dan Sehun sudah begitu takut menghadapi kemarahan Kris. Oh, Kris tidak memukulnya, sama sekali tidak ada yang mengarah kepada kekerasan ketika Kris marah, satu-satunya tindakan kasar yang dilakukan Kris adalah menarik dan mencengkeramnya tadi, yang membuat pergelangan tangannya sakit. Sehun entah kenapa yakin Kris tidak akan memukulnya atau melakukan kemarah fisik kepadanya. Tetapi yang ditakutkan Sehun adalah serangan verbal Kris. Bagaimanapun juga Sehun mencintai Kris, dan kata-kata kasar kris kepadanya mempunyai efek yang berpuluh-puluh kali lebih menyakitkan. Dia menoleh kea rah Kris yang sedang menyetie dan bertanya dengan takut-takut,

"Kenapa kau begitu membenciku Kris? Tao bilang kau sebenarnya tidak mencintaiku dan sedang berusaha menjebakku ke dalam pernikahan, entah karena apa."

Kris menatap sinis ke arah Sehun, lalu berucap tak kalah sinis, "Hebat sekali kekasihmu itu memberikan analisan tentang diriku."

Sehun menghela napas panjang mendengar tuduhan Kris, "Sudah kubilang Tao bukan kekasihku, tidak akan pernah dan tidak akan bisa, dia seorang gay"

Kalimat itu membuat Kris mengerem mobilnya secara refleks karena kaget. Dia tertegun, lalu kemudian menjalankan mobilnya seperti semula dan bergumam ketus,

"Alasan yang sangat bagus, Sehun. Tapi aku tidak percaya."

"Kau bisa menanyakan sendiri kepada Tao, dia mengatakan kepadaku bahwa dia gay dan dia merahasiakannya sejak lama."

Kris menatap Sehun dengan tajam, "Kalian mungkin saja sudah berkomplot untuk membodohiku, mengira bahwa aku tidak akan curiga ketika tahu bahwa Tao gay. Tetapi maaf saja Sehun, aku tidak sebodoh itu sehingga begitu mudahnya kau tipu."

"Kenapa kau jadi seperti ini, Kris?" air mata mulai mengalir di sudut mata Sehun, duduk disini dan melihat suaminya tampak begitu membencinya benar-benar menyakiti hatinya.

Kris mengetatkan gerahamnya, tidak berkata-kata lagi, dan mengabaikan ucapan Sehun. Membiarkan perempuan itu terisak-isak selama perjalanan mereka pulang.

Dan ketika itu juga, di benak Sehun muncul suatu keputusan bulat. Buat apa mempertahankan perkawinan yang sepertinya sudah hancur sebelum dimulai ini?.


Ketika Kris memarkir mobil di depan, dia langsung keluar memutari mobilnya, lalu membuka pintu penumpang di sebelah supir, sebelum Sehun sempat keluar.

Sekali lagi dia mencekal lengan Sehun dan memaksanya keluar,

"Ayo." Gumamnya marah.

Sehunberusaha melepaskan diri dari pegangan Kris, tetapi cekalan tangan lelaki itu begitu kuatnya,

"Sakit Kris!" Sehun berteriak ketika Kris menyeret lengannya menaiki tangga, tetapi Kris tampaknya sudah mengeraskan hatinya sehingga tidak mempedulikan kesakitan Sehun.

Mereka menuju kamar Sehun, bukan kamar utama, Kris membuka pintu kamar itu dan mendorong Sehun masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.

Tiba-tiba perasaan terancam menyelubungi benak Sehun, dia menatap suaminya yang berdiri dengan marah di dekat pintu dan merasa takut, takut akan tekad kuat yang menyala-nyala di mata suaminya.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Kris membuka jasnya dan melemparnya begitu saja, lalu melonggarkan dasinya.

"Menurutmu apa?"

Sehun langsung mundur beberapa langkah menjauhi Kris, apakah lelaki ini akan melakukan apa yang ditakutkannya? Mungkinkah Kris sekejam itu?.

"Andwae. Jebal." Sehun bergumam, ketika menyadari bahwa Kris benar-benar akan melakukannya.

Kris tersenyum sinis, "Aku tahu di kepalamu penuh dengan pemikiran licik, berputar mencari jalan untuk bercerai. Tetapi aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkanmu melenggang bebas dengan bahagia." Kris maju selangkah membuat Sehun langsung mundur selangkah ketakutan, "Kau istriku, dan aku suamimu, sepertinya aku harus membuatmu menyadari posisimu."

"Jangan Kris." Sehun bergumam lagi, berusaha menyadarkan lelaki itu yang entah kenapa tampak begitu marah dan tidak bisa menahan diri.

Tetapi Kris tidak mempedulikannya, dia merenggut Sehun, dan mendorongnya ke ranjang, ketika Sehun mundur dan hendak bangkit dari ranjang, Kris mencengkeramnya dan menindihnya.

Sehun berteriak sekuat tenaga, berusaha menyingkirkan Kris, tetapi tubuh lelaki itu terlalu berat, terlalu kuat, dan apalah dayanya, seorang perempuan lemah dibawah kuasa lelaki yang sedang penuh kemarahan?.

Pada akhirnya pertahanan Sehun berubah menjadi air mata, air mata sakit hati dan penderitaan. Ketika suaminya akhirnya merenggut kesuciannya dengan kasar dan tanpa perasaan, tidak mempedulikan kesakitan dan tangisan permohonannya.

Ini adalah malam pertama yang sama sekali tidak pernah diimpikan oleh Sehun. Penuh pemaksaan, dirinya direndahkan bagaikan seorang pelacur, dan penuh rasa sakit, luar dalam.

Dan ketika lelaki itu selesai melampiaskan kemarahannya, lalu berdiri dengan tergesa memakai pakaiannya kembali, dan melangkah pergi meninggalkan Sehun yang terbaring dengan kondisi yang sangat mengenaskan, dengan pakaian setengah robek dan acak-acakan, dan penuh air mata, hati Sehun hancur seketika.

Ingatannya melayang kepada ibunya yang penuh kasih dan selalu mendoakan kebahagiaannya suatu saat nanti, mendoakan agar Sehun menemukan suami yang penuh kasih dan bisa menjaganya.

Sehun menggigit bibirnya, tersengal atas tangis yang pekat.

"Eomma... aku diperkosa..." rintihan itu diselingi tangis, dan Sehun memanggil nama ibunya, merindukan pelukan ibunya dan elusannya yang menenangkan, dan begitu kesakitan ketika menyadari bahwa dia sendirian dan sebatang kara.

TO BE CONTINUE

Ok itu dia tadi updatenya.

Agak alama, tapi author usahakan update secepatnya untuk FF ini dan ke3 FF lainnya yang saling berhubungan.

Selamat datang juga buat yang baru baca

Jangan lupa klik tombol review, follow dan favoritenya.

See you next chapter. Annyeong ^^