PEMBUNUH CAHAYA

Judul : Pembunuh Cahaya PART 5

Genre : Romance,Drama

Rate : T sampai M++?

Casts :

KrisHun Couple

slight TaoHun and TaoRis couple.

Sehun EXO (GS)

Kris EXO/Wu Yifan as Kris and Cathy (Kris's twin sister)

Tao EXO

Lay EXO

ETC

Warning : GS FOR SOME CHARACTER ,typo,crack!pair,jangan lihat hanya dari pairnya saja.

Annyeong ^^

Author kembali dengan update FF Pembunuh Cahaya

FF Pembunuh Cahaya ini cerita yang keempat

Ini link FF sebelumnya

Ini link cerita yang Sweet Enemy (SUDO Couple) :

s/12301846/1/SWEET-ENEMY

link FF Perjanjian Hati (XiuHan/LuMin couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

link FF You've Got Me From Hello (Chankai Couple)

s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO

"Cinta seorang anak yang tidak berbalas, biasanya lebih menghancurkan dari cinta kekasih yang tak terbalas"

Part 5

Ingatan Kris melayang kepada kenangannya di masa lalu. Hampir tujuh tahun yang lalu, ketika itu usianya baru dua puluh lima tahun, begitu juga dengan Cathy. Cathy adalah adik kembarnya, mereka bukan kembar identik, karena itulah mereka berbeda jenis kelamin, dan tidak begitu mirip. Tetapi mereka sama-sama menerima anugerah dari kelebihan fisik kedua orang tua mereka. Kris sangat tampan, dan Cathy begitu cantiknya.

Kris tentu saja sangat menyayangi adiknya, adiknya adalah satu-satunya di keluarganya yang sangat dia sayangi. Sedangkan kedua orang tuanya... bisa dikatakan bahwa hubungan kedua orangtuanya sudah hancur sejak lama, mereka mempertahankan pernikahan hanya demi status di depan orang-orang.

Ibunya sangat sibuk dengan berbagai macam urusannya sebagai istri seorang pejabat kaya. Ayahnya apalagi, lelaki itu memang selalu pulang ke rumah setiap hari, tetapi hampir tidak pernah dekat dengan istri dan anak-anaknya, seperti ada pembatas yang menghalangi cintanya kepada anak-anaknya.

Kris seorang lelaki dan dia tegar, dia sudah terbiasa menghadapi sikap ayahnya yang dingin dan kaku. Sejak kecil dia tidak pernah menerima kasih sayang ayahnya sedikitpun. Pernah Kris di waktu kecil ketika usianya baru tujuh tahun, berlari gembira, menghampiri ayahnya yang sedang bercakap-cakap dengan rekan sesama pejabatnya, ingin menunjukkan bahwa nilai rapornya bagus, ingin membanggakan diri kepada ayahnya.

Tetapi yang terjadi kemudian sungguh menyakitkan bagi anak sekecil dirinya. Ayahnya mengusirnya pergi dengan kasar mengatakan bahwa Kris mengganggunya. Sejak saat itu Kris kecil menyadari bahwa tidak ada sedikitpun cinta dari ayahnya kepadanya. Sejak saat itu juga, Kris memutuskan tidak akan mengemis cinta dari ayahnya.

Tetapi Cathy berbeda, perempuan itu sangat memuja ayahnya. Sejak kecil dia selalu berusaha menarik perhatian ayahnya meskipun tanpa hasil. Sang ayah tidak pernah peduli kepadanya, seberapa keraspun Cathy mencoba. Cinta seorang anak yang tidak berbalas ternyata menyakitkan bagi Cathy. Dia kemudian menggunakan cara lain untuk menarik perhatian dan kasih sayang ayahnya. Leanna melarikan diri ke dalam pergaulan yang merusak, penuh dengan kebebasan dan obat-obatan terlarang. Dari usaha coba-cobanya untuk mencari perhatian, Leanna pada akhirnya terjerumus, dia tidak bisa melepaskan diri dari obat-obatan. Sampai puncaknya Leanna hamil dan bahkan tidak bisa menyebutkan siapa nama ayah dari anak yang dikandungnya.

Dan bahkan setelah Cathy seperti itupun, sang ayah hanya mengangkat sebelah alis. Dia memberi setumpuk beban kepada Cathy agar menggugurkan kandungannya, menghina Cathy yang tidak bisa menjaga diri, lalu sibuk kembali dengan kesibukan bisnis dan jabatannya.

Lain dengan Kris, dia marah luar biasa kepada Leanna, dia berteriak kepada Leanna malam itu bahwa usaha Cathy, apapun itu, untuk mencari perhatian sang ayah tidak akan membuahkan hasil. Ayahnya tidak mencintai mereka. Bahkan kalau mereka matipun, mungkin ayahnya tidak akan peduli.

Kata-kata Kris bagai bumerang, tanpa sadar kemarahannya karena emosi dan sedih melihat keadaan adiknya ditelan mentah-mentah oleh Cathy. Cathy sudah putus asa, hancur dan lelah. Dia kemudian berpikir bahwa satu-satunya cara agar sang ayah memperhatikan mereka adalah dengan kematian.


Malam itu juga, Cathy terjun dari balkon kamarnya, menghempaskan diri ke bawah, dalam kondisi hamil.

Kris masih ingat malam itu, ketika dia sedang berjalan ke depan, kemudian tubuh Cathy jatuh di hadapannya. Ayahnya sedang di kantor seperti biasa, dan ibunya sedang liburan ke luar negeri.

Tubuh Cathy jatuh di hadapannya, terbanting begitu saja dan berlumuran darah. Darah yang sangat banyak.

Kris berlari, berteriak-teriak begitupun dengan semua pelayan, meskipun semuanya sudah terlambat. Cathy sudah sekarat di sana.

Untunglah ambulance datang dengan cepat, mereka bisa menyelamatkan Cathy, tetapi tidak dengan bayinya, Cathy keguguran dan kehilangan anaknya. Dan benturan keras di kepalanya itu merusak otaknya, membuatnya kehilangan pengelihatannya dan juga membuat kakinya lumpuh selamanya.

Cathy yang ceria, penuh senyum dan manja kepadanya telah tiada. Berganti dengan sosok tubuh adiknya yang kosong dan hampa, yang kadang mengamuk tanpa arah, dan kemudian menangis histeris tanpa diduga.

Kris telah kehilangan adiknya, adik perempuan yang sangat telah bersama-sama dalam rahim ibunya dan kemudian dilahirkan bersusulan untuk kemudian saling bergantung satu sama lain dengan penuh kasih sayang.

Semua itu dihancurkan oleh sikap ayahnya, yang tidak mempedulikan Cathy. Cathy mencintai dan memuja ayahnya, haus akan kasih sayangnya. Tetapi dia tidak bisa mendapatkannya.

Dan yang lebih menghancurkan bagi Kris, sang ayah bahkan tidak menunjukkan ekspresi dan rasa bersalah atas peristiwa yang menimpa Cathy. Bahkan tidak ada simpati sedikitpun, padahal Cathy adalah darah dagingnya, anaknya sendiri.


Lalu suatu malam, ketika Kris membereskan barang-barang Cathy, dia menemukan sebuah kotak yang disembunyikan di laci paling ujung miliknya.

Kris membukanya dan tertegun. Itu foto-foto seorang perempuan, perempuan muda yang cantik, yang tidak dikenalnya. Dan juga beberapa berkas tentang perempuan itu, alamat, dan keterangan sekolah perempuan itu.

Kris menelusuri jejak itu diam-diam, mencari tahu keberadaan perempuan di foto itu, dia kemudian menemukan bahwa Cathy telah menyewa seorang penyelidik untuk memberinya foto-foto itu, Kris menemui penyelidik sewaan itu, meminta keterangan. Penyelidik itu kemudian menceritakan semua kepadanya.

"Penyelidikan yang saya lakukan mengungkapkan segalanya, ayah anda mempunyai seorang kekasih di masa kuliahnya. Seorang perempuan bernama Sekyung . Tetapi karena Sekyung berasal dari keluarga miskin, kedua orangtua ayah anda, kakek dan nenek anda, memisahkan mereka. Ayah anda kemudian menikah dengan mama anda, seorang perempuan dari keluarga kaya yang sederajat." Penyelidik itu melemparkan tatapan penuh spekulasi mencoba membaca reaksi Kris, tetapi wajah Kris tetap tanpa ekspresi, "Tetapi rupanya entah kenapa beberapa tahun setelah anda dan Nona Cathy lahir, ayah anda bertemu lagi dengan Sekyung, mereka berdua sempat menjalin hubungan lagi begitu lama."

Karena itulah ayahnya sama sekali tidak memberikan perhatian kepada mereka di masa mereka kecil. Kris langsung mengambil kesimpulan, rupanya ayahnya terlalu sibuk mengurusi kekasihnya.

"Tetapi kemudian Sekyung mengandung, dan dia meninggalkan ayah anda." Lanjut sang penyelidik, "Sekyung mengatakan bahwa ayah anda sudah berkeluarga dan memiliki anak dan meminta ayah anda kembali kepada keluarganya. Dan kemudian saya tidak tahu perinciannya, yang pasti Sekyung kemudian menikahi seorang lelaki sederhana dan membesarkan anaknya bersama lelaki itu. Sepertinya Sekyung bisa memulai lembaran hidup baru yang tenang dan bahagia." Penyelidik itu lalu mengeluarkan beberapa berkas dan meletakkan di mejanya, di sana ada beberapa foto anak perempuan yang sama, yang disimpan di kotak di lemari Cathy, "Tetapi tidak demikian dengan ayah anda, beliau tidak bisa lepas dari masa lalu, beliau selalu mengawasi anak perempuan ini, yang dia yakini adalah anak kandungnya. Hampir seluruh perhatian ayah anda tercurah kepada anak ini, namanya Sehun. Dan yang membuat ayah anda yakin bahwa itu adalah anak kandungnya karena nama Sehun merupakan gabungan dari nama Sekyung dan nama korea ayah anda, Kim Junghun. Sepertinya ayah anda menyewa seseorang seperti saya untuk selalu memberikan laporan tentang Nona Sehun kepadanya." Penyelidik itu lalu memajukan tubuhnya, "Suatu hari ayah anda sepertinya ceroboh, meletakkan berkas-berkas tentang Sehun di mejanya, dan Nona Cathy menemukannya, lalu penasaran."

"Dan kemudian Cathy menyewamu?"

"Ya. Nona Cathy menyewa saya untuk mencari tahu siapa perempuan di foto ini. Saya melakukan penyelidikan sesuai tugas saya dan kemudian memaparkan seluruhnya kepada Nona Cathy."

"Kapan itu terjadi?"

"Hmm..." penyelidik itu mengingat-ingat, "Sepertinya hampir tiga tahun yang lalu, mungkin di bulan Maret."

Dibulan itulah Cathy mulai melarikan diri dengan memakai obat-obatan terlarang, dia tampak begitu tersiksa dan pedih. Kris akhirnya bisa menemukan akar permasalahannya, pasti sangat menyakitkan ketika mengetahui bahwa sang ayah yang sangat dipujanya, yang sangat dirindukan kasih sayangnya, ternyata mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada anak perempuan lain.

"Apakah menurutmu anak perempuan bernama Sehun ini adalah adikku?" Kris langsung mempertanyakan kenyataan itu, berarti mereka memiliki adik bukan? Hasil dari hubungan ayahnya dengan Sekyung?

"Bukan." Sang pengacara menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Bukan?" Kris mengernyit, "Bukankah kau bilang anak itu hasil hubungan ayahku dengan Sekyung, dan kau bilang dia anak kandung dari ayahku? Jadi sudah pasti kami bersaudara, bukan?"

"Bukan." Penyelidik itu mengulangi lagi ucapannya, lalu menghela napas panjang, "Penyelidikan saya menemukan sesuatu yang jauh lebih rahasia. Ketika menelusuri hubungan ayah anda dengan Sekyung, saya menemukan bahwa jauh bertahun-tahun lalu, ayah anda pernah melakukan tes DNA di rumah sakit, dan ternyata tidak cocok."

"Jadi Sehun ini bukan anak kandung ayahku?" Kris mendengus mulai kesal, jadi ayahnya telah mencurahkan cintanya kepada anak yang bukan anak kandungnya sampai-sampai mengabaikan anak kandungnya sendiri?

Penyelidik itu menggeleng lagi, membuat Kris semakin bingung, kemudian berkata.

"Tes DNA yang dilakukan ayah anda, bukan untuk mendeteksi DNA Sehun dibandingkan dengan DNA ayah anda. Tes itu untuk membandingkan DNA anda berdua, anda dan Nona Cathy dengan darah ayah anda... hasil tes DNA itu sudah diulang sampai tiga kali, dan hasilnya tidak cocok." Penyelidik itu menatapnya dengan prihatin, "Anda dan Nona Cathy entah bagaimana, bukanlah anak kandung ayah anda."

Kris membeku meskipun seluruh dirinya bagaikan tersambar petir. Mereka bukan anak kandung ayahnya? Bagaimana bisa? Apakah mamanya berselingkuh dengan lelaki lain?

Meskipun menyisakan pertanyaan, hasil penyelidikan itu memberikan jawaban kepada Kris, kenapa ayahnya tampak tidak peduli kepada mereka, kenapa ayahnya tidak punya cinta sedikitpun kepada mereka. Ternyata karena ini, karena mereka bukan anak kandung ayahnya, dan karena mereka entah kenapa mungkin seperti perlambang pengkhianatan bagi ayahnya, pengkhianatan isterinya yang tidak dicintainya.

Kalau begitu tentu saja wajar bagi ayahnya kalau dia mencurahkan seluruh perhatiannya bagi Sehun, anak perempuan itu, darah dagingnya, anak kandungnya dari perempuan yang Kris yakin sangat dicintainya.

"Apakah kau juga mengatakan ini kepada Cathy?"

Penyelidik itu menatap Kris dengan penuh penyesalan, "Tentu saja. Sekali lagi, saya hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya."

Pantas saja Cathy hancur lebur karenanya, dia sudah kehilangan harapan untuk mendapatkan cinta ayahnya dengan kenyataan itu. Pasti sangat menyakitkan bagi Cathy melihat dan mengetahui bahwa ayahnya begitu memperhatikan Sehun dengan kasih sayang yang tidak pernah diberikannya kepada Cathy.

Bahkan sampai Cathy terjun dalam usahanya bunuh diri untuk kemudian merusak dirinya sendiripun, ayahnya tetap tidak peduli.

Kris mengernyitkan keningnya dengan sedih. Oh Astaga, kasihan Cathy, dia menyimpan semua itu sendiri, tidak membaginya dengan Kris. Dan Kris terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk memperhatikan perubahan sikap Cathy. Padahal seharusnya dia tahu, dari sikap Cathy yang murung dan depresi, dari tubuhnya yang semakin kurus, dari semuanya... seharusnya Kris tahu.

Kris merasa malu kepada dirinya sendiri, dia mengatakan bahwa dia mencintai adiknya. Tetapi dia bahkan tidak punya waktu untuk memperhatikan kesedihan adiknya.


Malam itu setelah menerima semua informasi itu, Kris berlutut di depan kursi roda adiknya, yang sekarang tatapan matanya kosong dan tanpa ekspresi. Hati Kris hancur ketika melihat kondisi adiknya ketika akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit, buta, lumpuh dengan kondisi mental yang terganggu. Dan sekarang hati Kris bahkan lebih hancur lagi ketika menerima semua informasi itu, membayangkan kesedihan yang dipendam Kris selama ini. Hingga akhirnya kepedihan itu mencapai batasnya dan sudah terlambat bagi Kris untuk menyelamatkan Cathy.

Malam itulah Kris menangis sambil merebahkan kepalanya di pangkuan adiknya, meminta maaf dan bersumpah akan melakukan apapun untuk menebus kegagalannya sebagai seorang kakak.

Semua ini sedikit banyak adalah kesalahannya, tanggung jawabnya. Kris lalu memutuskan untuk tidak mempedulikan ayahnya lagi, tidak mempedulikan semua hal yang berhubungan dengan Sehun ataupun perempuan bernama Sehun itu.

Dia memfokuskan dirinya untuk merawat Cathy. Saat itu bisnis yang dibangun oleh Kris semakin maju dan berkembang pesat. Kris membeli sebuah rumah di pinggiran kota, dan meninggalkan rumah kedua orangtuanya, lalu tinggal bersama Cathy di sana.

Sampai kemudian suatu malam, lebih enam bulan yang lalu Kris dan perawat Cathy lengah. Cathy tengah mengamuk dan kemudian menangis menjerit-jerit, memecahkan kaca jendela, dan kemudian tanpa di sangka mengambil kaca itu dan menggoreskannya ke nadinya.

Semua berlangsung begitu cepat, mimpi buruk Kris seakan terulang kembali. Darah ada di mana-mana, membasahi tangan dan pakaiannya ketika dia menangis, memanggil-manggil Cathy agar tetap sadar dan bertahan, dan menunggu ambulance datang.

Pada akhirnya Cathy kembali berhasil diselamatkan. Kris masih ingat sesaat sebelum kehilangan kesadarannya, Cathy memanggil-manggil ayahnya, dengan penuh kesedihan.

Kris lalu berdiri di tepi ranjang rumah sakit dan menatap Cathy yang terbaring, lemah, dan rapuh, dengan perban tebal membalut pergelangan tangannya.

Hati Kris mencelos melihat keadaan adiknya. Kemudian dengan menegarkan hati, dia memutuskan untuk membuang harga dirinya, dan menemui ayahnya, mengemis perhatian ayahnya agar mau sekali saja menemui Cathy. Setidaknya menggenggam tangannya dan memberikan secercah kasih sayang yang sangat didambakan oleh Cathy.

Yang didapatkannya kemudian hanyalah sikap dingin dan tidak peduli. Bahkan ayahnya menghina bahwa Cathy tidak akan menyadari perbedaan apakah ayahnya atau orang lain yang memegang tangannya.


Dengan sakit hati, Kris pergi dari rumah itu, lalu tanpa sengaja dia menemukan ayahnya datang ke rumah sakit. Bukan untuk mengunjungi Cathy, tetapi untuk mendatangi seorang perempuan yang dirawat di rumah sakit yang sama.

Kris mengawasi ketika ayahnya mengintip secara sembunyi-sembunyi perempuan yang dirawat itu, tetapi tidak berani menjenguknya secara langsung. Ketika kemudian ayahnya pulang, Kris mengintip dan melihat Sehun disana, sedang menunggui perempuan setengah baya yang tampak lemah, terbaring di atas ranjang rumah sakit itu.

Seketika itu juga hati Kris dibakar oleh panasnya amarah. Ayahnya menolak datang ke rumah sakit untuk menengok Leanna dan malahan datang hanya untuk mengintip secara sembunyi-sembunyi Sekyung dan anak perempuannya.

Sehari kemudian, Sekyung, ibu dari Sehun meninggal dunia. Kris mengawasi dengan diam-diam rumah Sehun, dan seperti dugaannya, menemukan ayahnya juga ada di sana, mengawasi diam-diam.

Di pemakaman yang sederhana itu, dari mobil sewaannya agar tidak dikenali ayahnya, Kris melihat ayahnya menyamar sebagai pelayat. Dan dibalik kaca mata hitamnya, ayahnya menangis... penuh air mata kesedihan yang tidak bisa ditahannya.

Rasanya bagaikan sembilu menusuk jantungnya, perihnya tidak terkira. Ketika Cathy meregang nyawa, bunuh diri untuk meminta perhatian ayahnya, tidak ada air mata yang tertumpah dari ayahnya. Mereka memang bukan anak kandung ayahnya, tetapi mereka, terutama Leanna hanyalah seorang anak yang tidak tahu apa-apa, mengharapkan kasih sayang dari ayahnya. Dan yang didapat hanya kepahitan.

Kris mengawasi Sehun, dan kemudian rencana itu tersusun di kepalanya, rencana untuk membalas dendam bagi dirinya dan bagi Leanna. Rencananya berjalan mulus, ketika seminggu setelah kematian Sekyung, ayahnya meninggal karena kecelakaan, kata polisi, ayahnya menyetir sambil mabuk. Lelaki itu bahkan tidak sempat mendekati Sehun dan mengungkapkan bahwa dirinya adalah ayah kandung Sehun.


Kris memakamkan ayahnya dengan hati dingin, tidak ada kesedihan ataupun air mata untuk ayahnya. Lelaki yang begitu kejam kepadanya dan adiknya tidak pantas untuk menerima itu.

Kemudian dia menyewa penyelidik yang sama untuk mengawasi Sehun, penyelidik itu secara berkala melaporkan semua hal tentang Sehun. Bahkan dari hal-hal yang paling kecilpun, Kris tahu, semua hal, tentang makanan kesukaan Sehun, hobinya pada tanaman, film ataupun musik kesukaan Sehun. Semua dicatat dalam ingatannya sebagai bekalnya untuk mengejar Sehun dan menjatuhkan Sehun ke dalam pesonanya.

Ketika kemudian semua sudah siap dan mulus, Kris membeli rumah terpisah, yang direncanakan untuk ditinggalinya bersama Sehun nanti ketika dia berhasil menjebak Sehun ke dalam pernikahan ini.

Semua sudah disusun dengan rapi. Dan disinilah dia. Sedang menanti kemenangannya, membalaskan dendamnya dan Cathy. Sehun harus merasakan kesakitan yang sama seperti yang dirasakan oleh Cathy.

Sehun harus merasakan penderitaan yang sama. Dan Kris akan memastikan bahwa itu benar-benar terjadi!


"Saat kau merasakan penyesalan ketika menyakiti orang yang kau benci. Berarti kau tidak benar-benar membencinya."

PART 6

"Kau tidak boleh bertemu dengan Tao lagi, dan kau tidak boleh mengurus rumah kaca itu lagi." Kris langsung mendatangi Sehun malam itu di kamarnya, seperti biasa masuk tanpa permisi dan bersikap angkuh.

Bagi Kris, ini adalah salah satu rencana balas dendamnya, menahan Sehun dari segala hasrat yang disukainya. Kris tahu Sehun sangat menyukai rumah kacanya, dan tidak bisa mengurus rumah kacanya pasti akan sangat menyakitkan bagi perempuan itu.

Sehun mendongak, menatap Kris dengan lelah, tiba-tiba Kris memperhatikan bahwa Sehun tampak lebih pucat dan kelihatan sakit. Jantungnya berdenyut, tetapi kemudian dia langsung menepis perasaan apapun itu yang sempat muncul. Tidak boleh ada belas kasihan, kalau dia ingin tujuannya tercapai, dia harus mampu bersikap kejam.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Sehun kemudian.

Kris mengangkat alisnya, "Kau tidak berhak bertanya. Aku suamimu, apapun keputusanku kau harus mengikutinya."

Suami macam apa yang memperlakukan isterinya seperti ini? Tanpa sadar Sehun meringis perih,

"Apakah kau sengaja melakukannya Kris? Untuk menyiksaku? Sebenarnya apa kesalahanku sehingga kau seolah-olah ingin menghukumku?"

Kris mengetatkan gerahamnya, "Tidak perlu banyak bertanya." Geramnya, "Kalau aku bilang begitu, kau harus menurutinya." Lelaki itu melangkah mendekat dengan mengancam, "Atau kau ingin merasakan lagi 'hukumanku' kepadamu?"

Sehun langsung terkesiap, kalimat lelaki itu menyiratkan akan pemerkosaan kejam yang dilakukannya malam itu kepada Sehun, wajahnya bertambah pucat.

"Oke." Gumamnya kemudian. "Silahkan hukum aku, kuharap kau puas dengan apapun yang kau rencanakan." Gumam Sehun sinis kemudian. Dia takut, dia sungguh takut Kris akan memperkosanya dengan kasar seperti kemarin. Itu adalah pengalaman pertama Sehun, dan rasanya menyakitkan. Sehun tidak bisa membayangkan harus mengalami kesakitan itu lagi, ditambah dengan nyeri di hatinya, bahwa yang melakukannya adalah kris.. lelaki yang bahkan sampai sekarangpun sangat dia cintai.

"Bagus." Kris mengernyit, "Jangan coba-coba menemui Tao, Sehun. ataupun meminta bantuannya. Seluruh penghuni rumah ini, semua mengawasimu. Dan kau akan menyesal kalau sampai aku tahu bahwa kau menghubungi Tao."

Setelah mengucapkan ancaman yang keji itu, Kris membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi sambil membanting pintu di belakangnya.

Sehun tentu saja tidak bisa untuk tidak menghubungi Tao, lagipula lelaki itu menghubunginya terus menerus, meskipun Sehun masih belum berani mengangkatnya, tetapi di malam hari, ketika semua penghuni rumah sudah beranjak tidur, Sehun mengunci pintu kamarnya, dan menelusup dalam kegelapan masuk ke balik selimut, dan menelepon Tao.

"Sehun!" Tao setengah berteriak ketika mendengar sapaan pertama Sehun. "Apa yang terjadi? Kau tidak bisa dihubungi seharian, dan aku sangat mencemaskanmu. Aku tadi datang ke rumahmu, tetapi pegawai Kris menahanku di gerbang, tidak memperbolehkanku masuk...kau baik-baik saja?"

"Gwenchana."

"Kau tidak baik-baik saja." Tao bersikeras, "Aku sudah mengenalmu sejak kecil, Sehun, kau sudah seperti adik kandungku sendiri, dari suaramupun aku sudah bisa membaca bahwa kau tidak baik-baik saja... Apakah Kris berbuat kasar padamu?"

"Anniya." Sehun memejamkan mata, mengusir air mata yang mulai merembes di sana, berusaha agar suaranya terdengar tegar. Tetapi ingatan akan pemerkosaan kasar yang dilakukan Kris kepadanya, dan kemudian ancamannya pada dirinya serta keluarga Tao membuatnya tidak bisa menahan tangisnya, suaranya gemetar ketika berucap, "Aku... aku mungkin tidak bisa ke rumah kaca untuk beberapa waktu..."

"Sehun-ah.." Sehun bisa membayangkan Tao meringis di sana, "Kau menangis, oh Astaga, dia mengancammu ya?"

"Tidak.. aku tidak apa-apa..." Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya meskipun dia tahu Tao tidak akan bisa melihatnya, "Aku... aku hanya ingin keadaan tenang dulu, semoga nanti aku bisa kembali ke rumah kaca."

"Sehun, kalau kau tidak tahan lagi, pergilah dari sana, pulanglah kepada kami, kita akan menghadapinya bersama-sama."

Sehun sungguh ingin. Tetapi dia tidak bisa, bayangkan akan ancaman Kris kepada ibu Tao membuat Sehun ngeri. Kris akan membuktikan ancamannya, Sehun sudah tahu itu ketika pada akhirnya Kris tega memperkosanya.

"Aku tidak bisa Tao." Dengan perih Sehun mengusap air matanya, "Sampaikan salamku buat semuanya ya... aku akan menghubungimu lagi nanti."

Tao masih memanggil-manggil namanya di seberang sana, tetapi Sehun berusaha tidak memperdulikannya, dia menutup teleponnya, lalu menangis, ditenggelamkannya air matanya di bantal, dia menangis sekuat-kuatnya, larut dalam kesedihan dan sakit hatinya.

Tidak disadarnya tangisannya itu terdengar ke luar, ke arah Kris yang tanpa sengaja berjalan dari arah ruang kerjanya, melewati belokan lorong di ujung, tempat kamar Sehun berada.

Kris langsung tertegun. Terpaku di depan pintu kamar Sehun. Tangisan perempuan itu terdengar sangat menyayat hati, membuat siapapun yang mendengarnya perih.

Tiba-tiba saja hati Kris terasa perih, dia berdiri di sana, menunggu lama, sampai kemudian isakan Sehun menjadi pelan dan menghilang dalam keheningan.

Gadis itu menangis sampai ketiduran...

Sambil menghela napas, Kris melangkah pergi ke kamarnya.


"Kita akan mengadakan pesta." Kali ini Kris tiba-tiba muncul di ruang makan, tempat Sehun sedang mengaduk-aduk sarapan paginya, tidak berselera.

Sehun mengerutkan kening, "Pesta?"

"Ya." Kris mengangkat dagunya, mengamati Sehun dengan pandangan mencemooh, "Aku sudah menyewa event organizer untuk mengurus pesta ini, pesta ini kelas atas, biasanya kulakukan untuk menjamu para rekan bisnisku, akan ada banyak tamu dari kalangan atas." Mata Kris menelusuri tubuh Sehun dari ujung kepala ke ujung kaki, "Dan ya ampun, belilah pakaian yang bagus dan berkelas, kau sudah kuberi uang bulanan di kartumu. Jangan sampai kau mempermalukanku di pesta itu." Gumam Kris, sengaja bersikap kejam, lalu meninggalkan Sehun yang ekspresinya seperti habis di tampar.

Kris memang benar, Sehun tidak punya baju bagus, dan dia memang tidak berkelas, yang dilakukan Sehun hanyalah berkebun, berkutat dengan tanah dan pupuk, mengurusi tanaman yang dicintainya – yang sekarang bahkan tidak bisa disentuhnya.

Sehun memang berbeda dari wanita-wanita berkelas yang dikenal oleh Kris. Dengan perasaan pedih dan terhina, Sehun menghela napas panjang.

Dilihatnya gaun-gaunnya di dalam lemari, semuanya gaun yang dibeli berdasarkan fungsinya, bukan dari merk ataupun harganya. Dan dia memang tidak punya gaun pesta karena memang dia tidak pernah pergi ke pesta. Ada satu baju pesta berumur lima tahun yang hampir tidak pernah dipakainya, gaun itu berwarna putih dengan hiasan batu berwarna ungu di dada dan pinggangnya, tampak begitu sederhana.

Apakah gaun ini bisa dipakai di pesta yang kata Kris "berkelas' itu?

Matanya melirik ke arah kartu belanja yang diletakkan Kris di meja riasnya entah kapan. Tergoda untuk memakai kartu itu, berbelanja pakaian yang bagus dan mahal lalu menunjukkan kepada Kris bahwa dia bisa juga tampil berkelas dan Kris tidak bisa mencemoohnya. Tetapi dia lalu menggelengkan kepalanya penuh tekad.

Setidaknya, kalau tidak bisa melawan Kris, dia bisa memberontak dengan hal-hal kecil. Sehun tidak akan membeli gaun pesta baru. Biarlah dia memakai salah satu baju pestanya yang lama, apapun yang akan terjadi nanti, dia akan menghadapinya dengan tegar.

Larut malam Kris baru pulang dari kantornya. Lelaki itu baru pulang setelah jam sepuluh malam, hampir setiap harinya. Sehun hanya bisa menahan ingin tahunya, benarkah Kris pergi bekerja? Setahunya tidak ada orang yang bekerja dari pagi sampai jam sepuluh malam, hanya orang gila kerja yang melakukannya.

Apakah Kris menghindarinya? Ataukah dia ... menghabiskan waktunya bersama seseorang?

Perasaan cemburu menggayuti hatinya dan membuatnya merasa pilu. Betapa menyedihkannya dirinya. Kris sudah memperlakukannya dengan begitu kejam, tetapi Sehun tetap saja masih menyimpan rasa cinta kepada lelaki itu.

Ketika Kris melihat Sehun sedang duduk di sofa depan dan membaca sebuah novel yang ditemukannya di rak buku, dia berhenti dan mengernyitkan keningnya,

"Kenapa belum tidur?" tanyanya.

Sehun menatap Kris dengan pedih, lalu memalingkan muka, berusaha menyembunyikan ekspresinya,

"Aku sedang membaca buku."

"Oh." Kris tampak bingung harus berkata apa, kemudian matanya mengeras lagi, "Apakah kau sudah membeli gaun?, pestanya akhir pekan ini, beberapa hari lagi."

Sehun menghela napas panjang, "Aku akan membelinya."

"Beli yang paling bagus dan paling mahal. Ingat, jangan mempermalukanku."

Sehun terdiam, hanya menutup punggung Kris yang berlalu meninggalkannya.

Lelaki itu pasti akan marah besar ketika tahu bahwa Sehun tidak menuruti perintahnya. Yah... biarkan saja, biar Kris tahu bahwa Sehun bukanlah perempuan lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa.


Akhir pekan telah tiba, dan seluruh rumah dipenuhi kesibukan yang luar biasa, petugas catering sudah datang dari pagi, dan beberapa petugas lain menyiapkan tempat, dibantu para pegawai Kris yang ada di rumah itu.

Sehun hanya mengamati dari jendela kamarnya, melihat banyaknya mobil yang didominasi mobil catering parkir di halaman depan rumah Kris yang luas.

Sepertinya ini benar-benar pesta besar...

Sehun mengernyit menatap gaun putih sederhananya yang sudah diseterika oleh pelayan dan dihamparkan di ranjangnya.

Bahkan pelayan tadipun mengernyit ketika dia menerima gaun itu dari Sehun untuk disetrika, dan mengetahui bahwa Sehun akan mengenakannya untuk ke pesta nanti malam. Tatapannya tampak memprotes, tetapi dia tidak berani menyuarakannya.

Dan sekarang Sehun duduk dengan bingung, merasa ragu atas keputusannya menentang Kris. Sehun takut dirinya bukan hanya mempermalukan Kris, tetapi mempermalukan dirinya sendiri di pesta ini.

Dengan gugup dia meremas tangannya dan mengamati gaun putih itu sekali lagi. Tetapi mau bagaimana lagi? Sudah terlambat untuk membeli gaun, pestanya akan berlangsung beberapa jam lagi.

Kris masuk ke kamar Sehun yang tidak dikunci dan mengerutkan keningnya, lelaki itu sudah mengenakan jas malamnya yang sangat bagus dan elegan.

"Kau belum berganti pakaian?" Lelaki itu mengamati Sehunyang mengenakan gaun putih sederhana, dengan make-up tipis dan rambut di urai.

Sehun melirik gaunnya dengan rasa bersalah, kemudian menatap Kris dan berucap terbata-bata, "Aku mengenakan gaun ini."

Nyala api langsung muncul di mata Kris, "Kau akan ke pestaku, sebagai isteriku, mengenakan gaun rombengan seperti ini?" Suaranya meninggi setengah berteriak, "Apakah kau tidak membeli gaun seperti yang kuperintahkan?!"

Sehun mendongakkan dagunya, mencoba menantang Kris, "Aku merasa cukup pantas mengenakan gaun ini."

"Cukup pantas kalau kau pergi ke pasar, bergaul bersama orang-orang rendahan," Tukas Kris dengan kasar, "Ini pestaku, dan akan ada banyak orang kelas atas yang datang, mereka akan mencemooh gaun rombenganmu itu, dan kau akan mempermalukanku karena mereka semua pasti akan mengira aku bahkan tidak mampu membelikan isteriku sebuah gaun!" Lelaki itu maju, begitu dekat dengan Sehun, matanya membara, "Jangan-jangan kau memang sengaja begitu ya? Mempermalukanku?"

Sehun menggelengkan kepalanya dan melangkah mundur, tiba-tiba merasa takut dengan kemarahan Kris, "A… anni.. bukan maksudku begitu.. aku hanya merasa gaun ini cukup pantas."

"Lain kali jangan menggunakan perasaanmu atas dasar selera rendahanmu itu." Kris mendengus, menatap Sehun dengan jijik, "Baiklah, kau sudah terlanjur melakukannya, silahkan permalukan dirimu sendiri, aku tidak akan membantumu!"


Ketika memasuki pesta itu, Kris masih berjalan di sampingnya, tetapi hanya sepersekian menit, lelaki itu meninggalkannya sendirian untuk menyalami tamu-tamunya, dan tidak mengajak Sehun, seolah-olah dia malu terlihat bersama Sehun.

Sehun mengamati para tamu yang mulai ramai itu dan merasa sangat malu. Semuanya datang dengan riasan lengkap, gaun yang luar biasa elegan dan perhiasan-perhiasan mahal yang melengkapi penampilannya. Sehun tampak seperti seorang pembantu yang salah tempat di sini.

Beberapa orang yang tidak mengenalinya sebagai isteri Kris bahkan memandang sebelah mata padanya, yang lainnya melemparkan tatapan mencemooh seolah dia pelayan yang tak tahu tempat.

Sehun beringsut di sudut, merasa bahwa apa yang terpapar di depannya ini bukanlah dunianya. Semuanya terasa asing dan kejam. Tiba-tiba Sehun ingin menangis karena merasa begitu sendirian dan terasing.

Matanya mencari-cari dimana Kris, tetapi lelaki itu tampaknya sedang sibuk dan tak memperhatikannya, dia sedang bercakap-cakap dengan segerombolan lelaki dan perempuan berpakaian mewah, dan tampak tertawa-tawa... bahkan ada seorang perempuan mengenakan gaun merah menyala yang sexy dan elegan, bergayut manja di lengan Kris dan lelaki itu membiarkannya. Dari percakapan mereka Sehun tahu jika nama perempuan dengan gaun merah itu adalah Victoria. Beberapa dari tamu Kris bahkan berbicara dalam bahasa Mandarin atau bahasa Inggris yang tidak Sehun mengerti.

Lalu seorang perempuan yang berjalan terburu-buru bersama pasangannya berlalu dengan sembrono, dia menabrak Sehun yang bahkan sudah berdiri di pinggir dengan keras,

"Aduh!" Perempuan itu berteriak marah karena dia hampir terhuyung jatuh dan terselamatkan karena berpegangan kepada pasangannya, perempuan itu melirik ke arah Sehun dan berteriak kesal, "Jangan berdiri seperti orang bodoh disitu, dasar pelayan bodoh! Tempatmu seharusnya di dapur!"

Wajah Sehun pucat pasi ketika semua mata memandang kepadanya, begitupun Kris yang sedang bercengkerama dengan teman-temannya.

Mata Sehun mulai berkaca-kaca, dan dia mengangguk untuk meminta maaf.

"Jeoseonghaeyo" Padahal seharusnya dia tidak perlu meminta maaf, perempuan itulah yang menabraknya.

"Maaf... maaf! Aku akan melaporkanmu pada pemilik rumah ini karena kau seenaknya berkeliaran di pesta majikanmu... kau.."

"Dialah sang majikan, Jessica." Tiba-tiba suara Kris terdengar tenang, "Perkenalkan ini Sehun isteriku."

Entah kapan Kris sudah melangkah dan tiba-tiba ada di sebelah Sehun, lalu mengaitkan lengannya di lengan Sehun.

Wajah perempuan yang dipanggil Jessica itu tampak memucat, mulutnya menganga, memandang Kris dan Sehun berganti-ganti dengan tak percaya.

"Isterimu...?" gumamnya tercekat.

Kris menganggukkan kepalanya dan tersenyum datar, "Ya, isteriku. Aku maklum kau tidak mengenalinya, di pesta pernikahan kemarin dia berdandan dan mengenakan gaun pengantin."

Seolah masih enggan percaya, Jessica menatap Sehun dengan teliti, dia lalu menatap Kris dengan gugup,

"Oh oke. Aku benar-benar tidak tahu." Gumamnya setengah malu, lalu dia menganggukkan kepalanya dan menggandeng pasangannya, buru-buru berlalu.

Sehun menunggu sampai Jessica dan pasangannya menjauh, lalu berbisik lirih kepada Kris.

"Maafkan aku Kris, aku..."

"Puas sekarang? Kalau kau memang ingin mempermalukanku, selamat. Kau sudah berhasil." Kris menyela kata-kara Sehun dengan dingin.

Ketika Kris hendak meninggalkan Sehun, Victoria, perempuan bergaun merah menyala itu, yang tadi bergayut dengan manja di lengan Kris, ternyata sudah berdiri di depannya, menghalangi langkahnya.

"Jadi ini isterimu, Chrissie? Aku sudah sangat penasaran terhadapnya ketika mendengar pernikahanmu yang sangat buru-buru. Kenapa kau tadi tidak memperkenalkannya kepada kami?" seketika itu juga kumpulan teman-teman Kris sepertinya sudah ada di sekeliling mereka.

"Sehun sedang tidak enak badan, dia sebenarnya tidak berencana menghadiri pesta ini, benar kan sayang?" Kata-kata Kris lembut dan mesra, tetapi lelaki itu menatap Sehun dengan pandangan penuh peringatan, "Bukankah kau bilang kau ingin naik saja dan beristirahat?"

Sehun menganggukkan kepalanya dengan sedih, "Arraseo, aku akan beristirahat di atas."

"Hati-hati ya." Kris berbicara dengan kelembutan yang sama, yang dulu pernah dipakainya untuk menipu Sehun, tetapi kali ini bedanya Sehun sudah tahu kalau itu semua palsu.

Dengan perasaan malu dan terhina, Sehun melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Dia telah diusir dari pesta milik suaminya sendiri.

Telinganya mendengar tawa gembira yang menyakitkan, dan ketika dia melirik dari sudut matanya, tampak Kris sudah berbicara sambil tertawa lagi dengan beberapa orang yang mengelilinginya, dan Victoria juga sudah kembali menggayut manja di lengannya.

Sehun menghela napas sedih dan mempercepat langkah memasuki kamarnya. Dibantingnya tubuhnya ke atas ranjang, dan seperti kebiasaannya akhir-akhir ini, Sehun menangis dengan penuh kepedihan.

Diluar sana pesta berlangsung meriah, penuh musik yang ceria dan percakapan yang penuh canda. Di dalam sini, di kamarnya, Sehun terisak penuh air mata, sendirian dan tidak punya siapa-siapa.


Hampir lewat tengah malam, ketika pesta itu dan semua kesibukan untuk membereskannya usai, Kris dengan hati-hati membuka pintu kamar Sehun yang tidak dikunci.

Kamar itu gelap dan temaram, tetapi di tengah ranjang, di bawah sinar bulan yang remang-remang masuk melalui bagian kaca di atas jendela, Kris bisa melihat dengan jelas tubuh Sehun yang terbaring telungkup di atas ranjang.

Dengan pelan, mencoba tidak bersuara, Kris menarik kursi dan mendekatkannya di pinggiran ranjang, dia duduk di sana, dengan tubuh setengah membungkuk, tangan bertumpu pada sikunya, dan mata menatap nanar ke arah Sehun.

Dengan bantuan cahaya bulan, dia bisa melihat wajah Sehun yang miring ke arahnya, dan dia bisa mengetahui, ada bekas air mata yang kering di pipinya. Sekali lagi, Sehun menangis lagi sampai tertidur.

Hati Kris terasa sakit. Semula dia berpikir bahwa menyakiti Sehun terus dan terus, membuatnya menangis sepanjang waktu sampai kemudian hampir gila akan memuaskan hatinya yang sakit dan penuh dendam. Akan membuatnya bisa menghilangkan rasa seperti luka menganga ketika menatap kondisi Cathy yang menyedihkan.

Tetapi ternyata tidak, yang muncul adalah kesakitan yang baru. Rasa seperti dadanya diremas ketika melihat keadaan Sehun seperti sekarang ini. Sedih karena kelakukannya.

Kris begitu larut dalam usahanya membalas dendam sehingga dia lupa membatasi hatinya sendiri. Pesona dan kebaikan Sehun telah menyentuh nuraninya yang paling dalam, membuat jiwanya berperang.

Sehun dan Cathy. Apakah Kris harus memilih? Bukankah pada akhirnya siapapun yang akan Kris pilih, dia tetap saja telah melakukan sebuah pengkhianatan besar?


Hampir dua bulan berlalu, dan pernikahan itu terasa semakin dingin hingga membuat menggigil, jauh berbeda dengan cuaca musim panas di Seoul yang sedang panas-panasnya, Kris hampir tidak pernah pulang ke rumah. Sehun bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan suaminya.

Sehun amat sangat merindukan rumah kacanya, dia sudah berusaha menunggu supaya suasana hati Kris baik dan kemudian dia bisa membahas tentang rumah kaca itu lagi. Tetapi suasana hati Kris tampaknya tidak pernah baik. Dalam pertemuan singkat mereka di kala sarapan pagi, kalau Kris sedang tidur di rumah, lelaki itu selalu memasang tampang cemberut yang tidak menyenangkan.

Sehun beberapa kali tergoda untuk kabur ke rumah kacanya, apalagi Tao yang selalu meneleponnya setiap malam dan menghiburnya menceritakan bahwa beberapa varietas bunga yang mereka kembangkan telah mekar dengan wanginya dan begitu indah warnanya.

Sehun rindu berada di sana, amat sangat merindu sampai ingin menangis setiap dia berusaha menahan dorongannya untuk pergi dari rumah ini. Para pegawai rumah ini mengawasinya, Sehun tahu pasti. Mereka tidak akan segan-segan mengangkat telepon dan memberitahu Kris kalau dia sekali saja melewati gerbang itu dengan sembrono. Lagi pula gerbang itu dijaga dua pegawai Kris yang sudah pasti tidak akan membiarkannya keluar, kalau dia tidak memakai mobil dan sopir yang disediakan oleh Kris. Mobil dan supir itu sama saja, Kris pasti sudah menginstruksikannya untuk selalu mengawasi Sehun. Sehun hanya bisa keluar kalau dia berbelanja ke supermarket atau ke tempat-tempat umum, dengan supir itu terus mengikuti dan mengawasinya. Dia sama saja terpenjara di balik pagar rumah yang mewah ini.

Pagi itu, Kris sedang sarapan dengan wajah dinginnya seperti biasa. Sehun dengan langkah pelan, berusaha memberanikan diri mendekatinya. Mereka sudah jarang sekali berbicara akhir-akhir ini. Setelah pesta itu, Kris bisa dikatakan hampir mengabaikan Sehun. Kalaupun mereka bercakap-cakap itu hanyalah berupa kalimat-kalimat singkat yang ketus dari Kris.

"Aku ingin ke rumah kaca." Sehun segera berkata ketika melihat Kris sudah menyelesaikan makannya.

Kris mengelap mulutnya dengan serbet dan menatap Sehun dengan dingin,

"Bukankah aku sudah bilang kau tidak boleh mengunjungi rumah kaca itu lagi?"

"Tapi itu bisnisku, usaha yang aku bangun dari awal, dan rumah kaca itu hampir seperti hidupku..."

"Kau tidak butuh membangun bisnis apapun, aku bisa menghidupimu dengan berlebih, berikan semua kepada Tao. Mengenai rumah kaca itu, aku tidak peduli."

"Oh ya ampun!" Sehun berdiri menatap Kris dengan pedih, "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku pada akhirnya bunuh diri karena frustrasi ya? Itu yang kau inginkan? Aku tidak tahu kebencian dari mana yang mendorongmu Kris, tetapi kau telah melakukan perbuatan keji, menggunakan pernikahan ini untuk menjebak seseorang... dan sengaja membuatku menderita hanya.."

"Apa yang kau ketahui tentang menderita?" Kris berdiri dengan marah, menghampiri Sehun, "Apa yang kau tahu hah? Kau selalu hidup dalam limpahan kasih sayang! Semua orang menyayangimu dan menjagamu dalam duniamu yang manis dan indah, kau bahkan tidak perlu mengemis kasih sayang siapapun! Tidak seperti kami!"

Sehun menatap Kris dengan terkejut, Apa yang dikatakan Kris kepadanya tadi? Kenapa Kris membandingkan kasih sayang yang diperoleh dari orangtuanya? Dan kenapa dia menyebut 'kami' ? siapakah 'kami' yang Kris maksud itu?

Kris sendiri tampak begitu marah dan menakutkan, dia memegang kedua lengan Sehun dengan keras,

"Aku ingin kau merasakan apa itu penderitaan, bagaimana rasanya kau terus menerus ditolak dan disakiti oleh orang yang kau cintai! Aku ingin kau merasakannya!" dalam kemarahannya, Kris mengguncang-guncang lengan Sehun dengan keras, membuat kepalanya pusing.

Pusing itu makin menjadi ketika perutnya bergolak dan membuatnya mual luar biasa, Sehun tidak bisa menahan muntahnya.

Dia mendorong Kris sekuat tenaga, lalu berlari ke arah wastafel yang berada di kamar mandi yang berhubungan dengan ruang makan itu, dengan dorongan sepenuhnya dari mulutnya, dia muntah-muntah hebat, memuntahkan seluruh isi sarapannya.

Ketika dia selesai, dengan terengah-engah dia menyalakan kerannya, dan membasuh mukanya. Didongakkannya kepalanya, dan dari cermin di hadapannya, dia melihat Kris berdiri di belakangnya dengan wajah pucat pasi.

Mata mereka bertatapan dan ingatan mereka langsung berpadu ke malam itu, malam dimana Kris memperkosa Sehun dengan kejam... tanpa pengaman apapun.

Tanggalnya pas, semuanya tepat.. Sehun mulai gemetaran, menatap Kris dengan meringis perih.

Akhirnya kata-kata itu keluar dari bibir Kris, dia menatap Sehun dengan sama shocknya, suaranya tampak tercekat ketika dia berkata,

"Kau... hamil ya?"

TO BE CONTINUE

Hello

Semoga suka ya dengan updatenya

Sengaja dua part sekaligus karena part banyak flashbacknya sih ._.

Ok deh, jangan lupa tinggalkan review, follow dna favorite.

See you next chapter