PEMBUNUH CAHAYA

Judul : Pembunuh Cahaya PART 7

Genre : Romance,Drama

Rate : T sampai M++?

Casts :

KrisHun Couple

slight TaoHun and TaoRis couple.

Sehun EXO (GS)

Kris EXO/Wu Yifan as Kris and Cathy (Kris's twin sister)

Tao EXO

Lay EXO

ETC

Warning : GS FOR SOME CHARACTER ,typo,crack!pair,jangan lihat hanya dari pairnya saja.


Annyeong ^^

Author kembali dengan update FF Pembunuh Cahaya

FF Pembunuh Cahaya ini cerita yang keempat

Ini link FF sebelumnya

Ini link cerita yang Sweet Enemy (SUDO Couple) :

s/12301846/1/SWEET-ENEMY

link FF Perjanjian Hati (XiuHan/LuMin couple) :

s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI

link FF You've Got Me From Hello (Chankai Couple)

s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO


Part 7

Cinta itu memilih. Memilih dari dua yang paling berarti : dia yang berjalinan darah denganmu, atau dia

yang sedang mengandung darah dagingmu?.

Mereka berdua bertatapan dengan cemas dan wajah pucat. Sehun sendiri begitu cemas, suaminya memperlakukannya dengan buruk dan sekarang dia hamil, hamil bukan dari buah cinta perkawinannya tetapi dari pemaksaan yang dilakukan suaminya kepadanya.

Akan seperti apakah Kris memperlakukan anaknya nanti? Sementara dia memperlakukan Sehun seperti ini? Bagaimanakah anak ini akan tumbuh dan besar? Akankah Kris memperlakukannya dengan buruk?

Tiba-tiba insting ingin melindungi anaknya tumbuh dari benak Sehun, dia langsung merangkulkan lengannya dan memeluk perutnya dengan waspada. Kalau Kris ingin menyakiti anak dan bayinya, berarti dia harus berjuang, kemarin Sehun pasrah dan menyerah karena dia merasa dirinya sebatang kara, sekarang dia mempunyai seorang bayi yang tumbuh di dalam rahimnya, dan dia harus berjuang melindungi anaknya.

"Kau harus ke dokter." Kris memandangi Sehun yang memeluk perutnya sambil mengernyit, "Kita ke dokter sekarang."

"Aku bisa pergi sendiri." Sehun tiba-tiba ingin menjauhkan Kris sejauh mungkin dari calon anaknya. Dia tidak percaya kepada Kris.

"Sekarang, Sehun." Kris menggeram merenggut lengan Sehun dengan kasar, ketika melihat Sehun mengernyit dia langsung melepaskan pegangannya tampak bingung harus berbuat apa, "Pokoknya ikut aku."

Sehun memegangi lengannya yang sakit, sekilas melihat kebingungan yang muncul dari tatapan mata Kris dan menarik kesimpulan. Kris tampak sama bingungnya dengannya, lelaki itu sepertinya tidak mengira keadaan akan seperti ini. Kemudian dia menghela napas panjang dan memutuskan untuk mengikuti kemauan Kris. Lagipula dia ingin memastikan keadaannya di dokter.

Dengan langkah ragu, dia mengikuti Kris memasuki mobil hitamnya yang besar itu, dan duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Sepanjang perjalanan mereka tidak bercakap-cakap, hanya diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Kantong kehamilannya sudah kelihatan, dan hasil tes labnya positif, usia kandungannya sudah enam minggu." Dokter perempuan itu tersenyum, "Selamat nyonya."

Sehun membalas senyuman dokter yang ramah itu dengan gugup, sementara Kris sendiri tampak pucat pasi menerima kepastian kabar itu.

Ini pasti bukan yang diharapkan lelaki itu.

Sehun menatap ekspresi shock Kris dan menghela napas panjang. Tetapi dia benar-benar hamil. Dengan lembut dielusnya perutnya, penuh kasih sayang. Dia tidak tahu bagaimana caranya menjadi ibu, tetapi yang pasti dia akan menjaga anak ini sepenuh hatinya. Matanya bersinar penuh sayang, karena kehadiran anak ini, dia tidak sebatang kara lagi.

Sehun mengangkat kepalanya, dan matanya bertatapan dengan Kris yang sedang mengamati perutnya. Lelaki itu lalu menatap mata Sehun dan mengalihkan pandangannya. Ekspresinya tidak terbaca.


Setelah mengantarkan Sehun pulang, Kris langsung pergi lagi, setengah mengebut dia menuju rumahnya yang ada di pinggiran kota. Menuju Cathy.

Rumah besar bercat putih itu tampak lengang, ketika Sehun memarkir mobilnya di halaman dia merenung dan menyadari bahwa selalu ada nuansa sedih di dalam rumah ini. Suasana sedih yang menggayuti hatinya.

Dia melangkah menaiki tangga menuju kamar Cathy, rumah tampak sepi karena masih siang hari. Mungkin Cathy sedang tidur siang dan para pelayan sedang sibuk menyiapkan hidangannya di dapur.

Dengan hati-hati, dibukanya kamar adik kembarnya itu, dilihatnya Cathy sedang tidur pulas. Tetapi rupanya Cathy menyadari kedatangannya, matanya terbuka, meskipun hampa dan kosong, tetapi menunjukkan kalau dia sudah bangun.

"Hai sayang." Kris memang selalu memanggil Cathy dengan panggilan sayang, sebagai bentuk kasih sayangnya kepada adiknya, "Apa kabarmu?"

Cathy yang masih berbaring menjulurkan tangannya ke arah suara Kris dan tersenyum, "Bogoshipo."

Kris duduk di pinggir ranjang dan menggenggam tangan adiknya. Kadangkala ketika kondisi Cathy sedang baik, dia bisa diajak komunikasi dengan lancar, meskipun hanya sepatah-sepatah kata.

"Nado ." Hati Kris terasa perih melihat kondisi Cathy yang terbaring tak berdaya, seketika pikirannya melayang ke arah Sehun, Sehun yang sedang mengandung anaknya. Akankah dia jadi seperti ayahnya? Mengkhianati Cathy karena Sehun? Jantung Kris serasa direnggut dan napasnya terasa sesak, "Mianhanda." Suaranya berubah serak, "Maafkan aku Cathy. Tetapi aku tidak bisa melukai Sehun lagi... dia.. dia mengandung anakku, dan aku... aku tidak mungkin menyakitinya, aku.. aku telah jatuh dalam perasaanku sendiri." Suara Kris tercekat, menatap Cathy yang masih memasang eksrpresi kosong, "Maafkan aku Cathy, aku jahat sama seperti ayah. Aku mengkhianatimu karena telah kalah dengan perasaanku sendiri.. maafkan aku Cathy, maafkan aku..."

Suara Kris yang penuh kesedihan dan keputus asaan menggema di kamar yang sepi itu, dan tidak ada jawaban dari Cathy.

Bahkan Kris tidak tahu apakah Cathy mengerti kata-katanya atau tidak...

Kris merenung sendirian di ruang tamu rumah itu. Cathy tampaknya lelah dan dia tertidur lagi di atas.

Dia merenungi semua rencananya yang sudah pasti akan berubah total. Kehamilan Sehun sudah merubah segalanya. Dia berencana membuat Sehun tersiksa dan menderita secara mental. Tetapi hal itu tidak mungkin bukan dilakukannya kalau Sehun sedang mengandung anaknya?

Dengan frustrasi Kris meremas rambutnya sendiri, mengutuk kebodohannya karena malam itu, ketika dia memaksakan kehendaknya kepada Sehun, dia tidak teringat untuk menggunakan pengaman. Dia terlalu marah waktu itu sehingga bertindak tanpa pikir panjang, ingin menghukum Sehun dengan cara terburuk yang dia tahu. Tetapi itu hanya terjadi satu kali, siapa yang mengira bahwa Sehun langsung hamil?

Tetapi penyesalan tidak ada gunanya, sekarang Kris harus memikirkan langkah ke depannya dengan adanya perubahan situasi ini. Perempuan itu, Sehun, telah terlanjur mengandung darah dagingnya.

Perempuan hamil... Kris sama sekali tidak punya pengalaman dengan perempuan hamil, apalagi yang sedang mengandung anaknya. Anak itu... apakah dia menginginkannya?

Kris memejamkan matanya, tiba-tiba merasa rapuh ketika batinnya mengakui bahwa dia menginginkan anak itu.


"Aku hamil." Sehun menelepon Tao segera begitu dia berada di kamar sendirian.

Tao tampak menahan napas di seberang telepon, dia terperangah, "Hamil? Tetapi... bagaimana bisa? Bukankah kau bilang dia sama sekali tidak menyentuhmu?"

Sehun tidak pernah mengatakan tentang pemerkosaan yang dilakukan Kris kepadanya saat itu, dia tidak mau menyulut kemarahan Tao. Karena itu dengan gugup dia berdehem, berusaha terdengar normal.

"Itu pernah terjadi satu kali."

"Apakah dengan cinta?" Tao langsung bertanya skeptis, lelaki itu terlalu pandai untuk dibohongi.

Sehun berdehem lagi kebingungan, lalu memutuskan untuk jujur saja, "Tidak. Itu terjadi karena Kris marah."

"Oh Astaga." Suara Tao tercekat. Lalu hening. Sehun tahu Tao sedang meredakan emosinya. Kemudian lelaki itu berkata lagi dengan tegas dan marah, "Dia memperlakukanmu dengan sangat buruk, Sehun. Kurasa sudah saatnya kau meninggalkannya."

"Aku tidak bisa, Tao.. bayi ini, dia anak Kris... aku tidak bisa meninggalkan Kris begitu saja, anak ini nanti tidak akan punya ayah."

"Kau bisa." Tao bergumam tegas, "Tinggalkan dia, Sehun. Dia sudah memperlakukanmu dengan buruk, dari ceritamu setiap malam, ketika kau menangis dan meneleponku, aku sudah menahan diri untuk menyerbu rumah itu dan membawamu keluar dari sana. Kau selalu menahanku, tetapi sekarang ada bayi itu dan aku mencemaskannya, apakah Kris akan menyakiti bayi itu juga?"

Pertanyaan Tao menohok benak Sehun, dia merenung, Apakah Kris akan menyakiti bayi ini juga? Sehun tidak tahu. Dia tidak bisa membaca Kris.

Dengan sedih Sehun menghela napas panjang, "Aku tidak bisa meninggalkan Kris, Tao..."

"Wae? Tidak ada satu perempuanpun yang bisa tahan seperti dirimu, direndahkan dan tidak dipedulikan oleh suaminya seperti itu. Kenapa Sehun? Kenapa kau bertahan? Apakah karena kau masih mencintai si brengsek itu?"

Sehun tertegun, tidak bisa menjawab.

Sampai kemudian Tao menyadari kenyataan di balik keheningan Sehun, "Oh Astaga, Sehun. Kau masih mencintai Kris ya? Bahkan setelah seluruh perlakukan buruk yang dia timpakan kepadamu?"

Sehun menghela napas panjang, Tao akhirnya menyuarakan kenyataan yang selama ini coba Sehun sangkal. Dia memang masih mencintai Kris, amat sangat. Dan bahkan setelah kekasaran dan kekejaman sikap Kris kepadanya, Sehun masih menyimpan itu, jauh di dalam hatinya yang perih dan terlukai.

Air matanya menetes, merasakan pedihnya cinta yang tak terbalas, "Mianhae Tao." Suaranya bergetar karena tangis.

Tao menghela napas lagi dengan keras, "Kau tidak boleh seperti itu Sehun, lemah karena cinta dan membiarkan dirimu ditindas tak karuan oleh suamimu. Ingat sekarang ada seorang anak di dalam perutmu yang membutuhkan perlindungan dan perhatianmu, dan kuharap, ketika kelakuan Kris sudah tidak bisa ditoleransi lagi, kau bisa mengambil keputusan tegas untuk meninggalkannya, demi dirimu dan demi bayimu."

Sehun mengernyit mendengar nasehat Tao. Dia menyadari bahwa kenyataan itu pada akhirnya akan datang. Kenyataan bahwa mungkin pada akhirnya dia harus meninggalkan Kris.


Kris pulang masih dengan hati berkecamuk, bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia merasa harus menjalankan apa yang disebutnya sebagai rencana balas dendam, tetapi di sisi lain, nuraninya memberontak mengingatkannya bahwa Sehun sedang mengandung anaknya.

Dan Sehun sedang menunggunya, menatapnya dengan matanya yang lebar dan indah di ruang tamu. Entah berapa lama perempuan itu menunggunya, bukankah dia seharusnya sudah tidur? Bukankah perempuan hamil seharusnya tidur cepat?

Kris melirik jam tangannya, sudah hampir jam dua belas, dia kemudian bergumam dingin kepada Sehun, "Bukankah seharusnya kau sudah tidur?"

"Aku menunggumu, kita harus bicara." Jawab Sehun singkat, menatapnya penuh tekad.

Kris mengernyit. Kalau saja dia malam ini tidak pulang dan memutuskan menginap di rumah untuk Cathy, akankah isterinya ini menunggunya sampai pagi?

"Kita bicara besok saja, aku lelah."

"Apakah ada perempuan lain, Kris?"

Kris yang sedang melangkah hendak meninggalkan ruangan tertegun, dan kemudian menatap Sehun dengan defensif, "Apa maksudmu?"

"Kau jarang pulang, kau tampak begitu membenciku, aku berpikir bahwa mungkin..." Sehun menghela napas panjang, merasakan kesakitan ketika mengucapkan kata-kata itu, "Aku berpikir bahwa mungkin kau.. kau sudah menemukan perempuan lain yang kaucintai, dan kau baru menyadarinya ketika kau sudah terlanjur menikahiku, jadi kau melampiaskan rasa frustrasimu dengan melakukan semua ini kepadaku. Aku pikir..." Sehun berdehem, "Kalau memang ada perempuan lain yang kau cintai, dan juga mencintaimu, aku.. aku bersedia pergi dengan sukarela." Sehun memalingkan wajahnya dengan sedih, "Aku tidak akan memaksakan suamiku yang tidak mencintaiku untuk hidup bersamaku."

Kris tercenung lama, bayangan Cathy terlintas di benaknya. Memang ada perempuan lain, meskipun tidak dalam cara seperti yang dibayangkan oleh Sehun. Cathy adalah perempuan lain itu, adik kembar kesayangannya yang telah menanggung begitu banyak penderitaan karena keberadaan Sehun. Ayahnya yang sangat dipuja oleh Cathy, yang sangat dirindukan kasih sayangnya oleh Cathy, ternyata memusatkan perhatiannya kepada Sehun, mengabaikan Cathy.

Dan sekarang, Kris merasakan dorongan yang sama. Dorongan itu sebenarnya sudah muncul dari awal, ketika dia mendekati Sehun, merasakan kedekatan yang nyaman dan perasaan hangat yang mulai bertumbuh seiring dengan kebersamaan mereka, sejenak Kris lupa pada keinginannya untuk membalas dendam, terlena dalam pesona Sehun. Sayangnya, setiap malam ketika dia melihat keadaan Cathy, Kris selalu disadarkan bahwa dia harus menyakiti Sehun untuk membalas dendam. Kemudian, dengan kejam, Kris membunuh perasaan yang bertumbuh itu, menguncinya begitu dalam jauh di dalam jiwanya yang kelam.

Tetapi setelah diketahuinya bahwa Sehun sedang hamil dan mengandung anaknya, perasaan itu perlahan menyembul kembali, menyeruak tanpa dia sadari, membuat Kris merasa benci pada diri sendiri karena dia sadar, kalau dia menumbuhkan rasa sayangnya pada Sehun, itu sama saja dia telah mengkhianati Cathy, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayah mereka kepada Cathy.

Tetapi Kris tidak mampu membohongi dirinya sendiri, selama ini dia berhasil bersikap kasar kepada Sehun, menyakitinya sambil menipu dirinya sendiri bahwa dia melakukannya demi Cathy... tertapi sedikit demi sedikit hatinya ternyata ikut tersakiti dan pedih, seiring dengan kepedihan yang dialami Sehun.

Kris tidak mampu membuat Sehun menderita lagi, Kris tidak mampu menyakiti Sehun lagi, terlebih karena sekarang di dalam tubuh Sehun, darah dagingnya telah tumbuh dan berkembang.

Kris menatap ke arah Sehun yang masih mengamatinya dengan bingung dan penuh ingin tahu.

"Tidak ada wanita lain." Gumamnya ketus, lalu berlalu meninggalkan Sehun.


Tamu yang datang siang itu sungguh tak di duganya, dia adalah ibu Kris, perempuan yang sangat modis dan cantik meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, perempuan itu tiba-tiba saja sudah datang dan duduk di ruang tamu dan mengamati Sehun dari atas ke bawah.

"Kau cantik." Gumamnya kemudian dalam senyuman, membuat Sehun yang semula menahan napas di bawah tatapan perempuan itu langsung menghelanya dengan lega. "Aku tidak bisa datang ke pernikahanmu karena kondisi tubuhku agak sedikit tidak baik dan aku harus merawat diriku di Kanada, maafkan aku. Yang pasti aku senang isteri Chrissie sangat cantik dan sepertinya baik." Senyumnya.

"Gamsahamnida." Saira duduk dengan gugup di depan ibu mertuanya.

"Kau bisa memanggilku dengan namaku saja, panggil aku Anna. aku kurang suka dipanggil dengan sebutan 'eomonim', atau 'mama' dan sebagainya, itu membuatku merasa semakin tua." Anna menyandarkan tubuhnya di sofa dengan santai.

Pelayan datang mengantarkan teh dan kue, sementara Sehun mengamati ibu mertuanya, perempuan ini tampaknya memiliki pemikiran modern ala barat, karena cara memanggil orangtua hanya dengan nama saja biasanya diterapkan di negeri barat dan hampir tidak ada di sini.

Anna menatap mata Sehun dan tersenyum, seolah bisa memahami pemikiran Sehun, "Aku hidup di luar negeri hampir seumur hidupku, aku pulang ke negara ini, dan satu tahun kemudian aku menikah. Jadi memang gaya hidupku tidak seperti orang kebanyakan di Korea," Perempuan itu lalu memajukan tubuhnya dan menatap Sehun dalam, "Kau hamil ya?."

Sehun hampir saja tersedak teh yang disesapnya, dia menatap Anna dengan bingung, "Darimana anda tahu?"

"Dokter yang kalian kunjungi kan dokter pribadi keluarga kami, dia secara pribadi meneleponku untuk mengucapkan selamat." Anna memutar bola matanya, "Dan bahkan, Chrissie anakku sendiri tidak memberitahuku."

Sehun tercenung dan teringat perkataan Kris, tentang sesuatu yang berhubungan dengan mengemis kasih sayang orang tua. Apakah Kris yang mengalaminya? Mengemis kasih sayang orang tua? Tetapi sepertinya Anna ibu yang baik, bukan perempuan dingin yang tidak bisa menyayangi anaknya, kalau begitu kenapa seolah-olah Anna tidak bisa dekat dengan anak-anaknya?. Bahkan Anna juga memanggil Kris dengan panggilan kesayangannya.

Anna sendiri ikut mengambil teh dan menyesapnya, lalu meletakkan cangkirnya di meja dan mendesah, "Chrissie memang tidak pernah dekat denganku, apalagi setelah dia dewasa dan kemudian meninggalkan rumah, kami hampir sama sekali tidak pernah berhubungan..." Anna menatap Sehun dengan ragu, "Apakah kau sudah berkenalan dengan Cathy?"

Cathy? Siapakah itu? Kris sama sekali tidak pernah menyebut nama itu dalam percakapan mereka. Dengan ragu dan penuh ingin tahu, dia menggelengkan kepalanya dan menatap Anna penuh ingin tahu.

Tetapi Anna seolah menyesal telah menanyakan pertanyaan itu, dia menggumam tak jelas, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain.

Tetapi sampai dengan Anna berpamitan pergi, pertanyaan itu terus menggayuti benak Sehun. Cathy? Siapakah gerangan Cathy itu?


Kris akhirnya pulang, dan menatap Sehun dari belakang, Sehun rupanya tidak menyadari keberadaannya, perempuan itu sedang sibuk mengatur bunga di sebuah vas, mungkin itu bunga-bunga yang dia petik dari taman belakang sana. Tanpa sadar Kris tersenyum, Sehun hampir tidak bisa lepas dari tanaman.

Ketika sadar bahwa dia tersenyum, Kris langsung mengerutkan alisnya dan berdehem, membuat Sehun menolehkan kepalanya, disadarinya bahwa perempuan itu langsung menegang ketika menyadari kehadirannya di ruangan itu.

"Kita akan membicarakan mengenai kehamilan ini."

Sehun memberikan tatapan persetujuan, lalu tanpa suara mundur dan melangkah duduk di sofa, Kris menyusulnya, duduk di depannya,

"Aku menginginkan anak itu." Gumam Kris.

Wajah Sehun langsung pucat, dan reflek tangannya melindungi perutnya, Apakah Kris akan merenggut anak ini darinya ketika lahir nanti? Sekejam itukah Kris kepadanya? Memisahkan anak dari ibunya adalah perbuatan terkejam yang Sehun bisa bayangkan.

Kris mengamati ekspresi Sehun dan mengerutkan keningnya kesal, "Jangan takut, aku tidak akan merebut anak itu darimu. Kita akan membicarakan pengaturan pernikahan ini baik-baik, demi anak itu." Kris menghela napas, mengucapkan permintaan maaf dalam hatinya kepada Cathy, dia bisa dikatakan telah mengkhianati Cathy, tetapi bagaimana lagi? Sehun sedang mengandung anaknya. "Aku akan memperlakukanmu dengan baik."

Sehun menatap Kris dengan tatapan tidak percaya, "Kau? Akan memperlakukanku dengan baik? Sampai kapan Kris? Sampai anak ini lahir dan kau kemudian akan menyiksa dan merendahkanku lagi? Shirreo!" Sehun mengangkat dagunya dengan keras kepala, "Sampai detik ini aku tidak tahu kenapa kau menikahiku, tetapi sedikit demi sedikit aku memahami ada kebencian yang mendorongmu, meski aku tidak pernah tahu apa alasannya dan apa kesalahanku." Mata Sehun tampak pedih, "Anak ini memang tidak direncanakan, tetapi aku tidak akan melibatkannya dalam pernikahan yang menyedihkan ini. Aku ingin bercerai."

Sehun memang masih mencintai Kris, tetapi sikap Kris di depannya yang begitu dingin dan datar menyakiti hatinya. Seandainya saja Kris bisa sedikit lembut kepadanya, menunjukkan penyesalan atas sikap kasarnya dan menunjukkan niat baiknya, alih-alih memberikan kesepakatan tanpa hati, Sehun mungkin akan memperjuangkan pernikahan ini untuk Kris. Tetapi detik ini dia melihat, bahwa tidak ada gunanya dia berharap. Kris membencinya. Titik. Dan Sehun seperti orang bodoh terus berharap dalam cinta yang tak terbalas.

Tao benar, sekarang dia tidak sendirian lagi, sekarang ada anak ini di dalam perutnya, dan Sehun harus berjuang bukan hanya demi dirinya tetapi juga demi anak ini.

Ekspresi Kris tampak marah mendengar usulan perceraian Sehun, "Tidak akan ada perceraian, bukankah sudah kukatakan kepadamu?"

"Aku akan menggugatmu, segera. Aku sudah muak menjadi pelampiasan kebencianmu tanpa tahu kenapa. Aku sudah muak menyadari kau menipuku dalam pernikahan ini, mengira kau mencintaiku." Napas Sehun tercekat menahan air matanya yang mulai tumpah, "Dan kemudian aku tahu semua itu hanyalah kebohongan, kebohongan palsu yang sangat kejam." Air mata Sehun akhirnya meleleh ke pipinya, "Aku mencintaimu, kau pasti tahu itu.." suaranya bergetar ketika dia mengusap air matanya dengan kasar dan melangkah berdiri, hendak meninggalkan Kris.

Tetapi baru beberapa langkah, Kris meraih pergelangan tangannya dan mencengkeramnya. Sehun menoleh dan melihat pergolakan di wajah Kris, lelaki itu tampak kalut dan bingung... akankah Kris menahan dan memeluknya?

Sehun mungkin terlalu banyak berharap, karena kemudian yang dikatakan Kris adalah ucapan dingin yang arogan,

"Tidak akan ada perceraian, Sehun!. Kau harus terima itu."

Dengan penuh kekecewaan akan jawaban Kris, Sehun menyentakkan tangannya dari pegangan Kris dan melangkah setengah berlari menuju kamarnya, sejauh mungkin dari suaminya. Dia akan pergi dari rumah ini bagaimanapun caranya. Selama ini dia bertumpu pada harapan kosong bahwa masih ada cinta Kris untuknya. Sekarang dia sudah sepenuhnya sadar bahwa dia hanya bermimpi.

Pernikahan ini sudah tidak bisa diperjuangkan lagi. Pernikahan ini sudah mati bahkan sebelum dimulai. Dan Sehun harus pergi meninggalkan Kris, kalau tidak dia akan hanyut dalam nyeri dan patah hati.

TO BE CONTINUE

Hai. Semoga suka ya sama updatenya

Jangan lupa klik review, follow dan favoritenya

Maaf ga bisa bales reviewnya satu-satu

Ok sekian dulu. See you next chapter ~