PEMBUNUH CAHAYA
Judul : Pembunuh Cahaya PART 8
Genre : Romance,Drama
Rate : T sampai M++?
Casts :
KrisHun Couple
slight TaoHun and TaoRis couple.
Sehun EXO (GS)
Kris EXO/Wu Yifan as Kris and Cathy (Kris's twin sister)
Tao EXO
Lay EXO
ETC
Warning : GS FOR SOME CHARACTER ,typo,crack!pair,jangan lihat hanya dari pairnya saja.
Annyeong ^^
Author kembali dengan update FF Pembunuh Cahaya
FF Pembunuh Cahaya ini cerita yang keempat
Ini link FF sebelumnya
Ini link cerita yang Sweet Enemy (SUDO Couple) :
s/12301846/1/SWEET-ENEMY
link FF Perjanjian Hati (XiuHan/LuMin couple) :
s/12317589/1/PERJANJIAN-HATI
link FF You've Got Me From Hello (Chankai Couple)
s/12321743/1/YOU-VE-GOT-ME-FROM-HELLO
PART 8
"Cinta dan benci itu hanya berbatas selaput tipis tak terlihat. Jika kau membenci seseorang, telaahlah perasaanmu, karena jangan-jangan pada kenyataannya, kau mencintainya."
Kris berdiri terpaku dan bingung ketika ditinggalkan oleh Sehun. Perceraian. Pada akhirnya Sehun pasti akan mengajukan itu kepadanya, dan dia tahu itu akan terjadi. Dia bahkan sudah merencanakan perceraian yang menyakitkan untuk Sehun.
Tetapi sekarang dia tidak mungkin menerima perceraian itu, Demi Tuhan, Sehun sedang mengandung anaknya, dan perempuan itu dengan mudahnya mengatakan bahwa dia menginginkan perceraian. Mau dia bawa kemana anak Kris nanti? Apakah dia akan lari ke pelukan Tao dan kemudian menjadikan Tao ayah dari anaknya?
Kris meringis dengan marah. Tidak! Tidak akan Kris biarkan Sehun lari kembali ke pelukan Tao. Selama ini dia sudah menahan kebencian kepada lelaki itu, Tao, lelaki yang terlalu dekat dengan Sehun. Dia tidak akan mengizinkan anaknya yang sekarang ada di perut Sehun berdekatan dengan Tao.
Kris akan mempertahankan Sehun dan anaknya mati-matian agar selalu berada di sampingnya.
"Jadi kau akan pergi?"
Tao terdengar bersemangat ketika malam itu Sehun meneleponnya, Sehun menghela napas panjang dan tanpa sadar menganggukkan kepalanya, lupa kalau Tao tidak bisa melihatnya.
"Sehun?" Tao bertanya lagi menunggu jawaban Sehun.
"Nde, aku akan pergi." Sehun cepat-cepat menjawab.
"Kapan?"
"Aku tidak tahu, aku akan mencari cara melarikan diri dari supir yang diperintahkan oleh Kris untuk selalu mengawasiku." Gumam Sehun pelan, takut terdengar dari luar.
Tao tampak berpikir di seberang sana, "Kris pasti akan langsung mengejarmu kemari, ke rumah kaca dan ke rumahku." Suaranya berubah serius, "Kau tidak boleh pulang kemari, aku akan mencarikan tempat untukmu bersembunyi, tempat yang tidak diketahui oleh Kris."
Sehun memikirkan perkataan Tao dan tiba-tiba merasa takut ketika mengingat ancaman Kris kepada keluarga Tao,
"Aku takut, Tao." Gumamnya pelan, mulai ragu.
"Takut apa?"
"Kris.." suara Sehun tercekat, "Kris pernah mengancam, kalau aku sampai melarikan diri atau menemuimu, dia akan menjadikan kau sasarannya, kau,ibumu, seluruh keluargamu, dia akan menyerang mereka. Aku takut dia akan melaksanakan ancamannya dan melukai kalian." Bisik Sehun gemetar.
"Kami bisa menjaga diri kami sendiri." Tao bergumam dengan suara tegas, "Jangan pikirkan itu, Sehun, kau harus memikirkan dirimu dan anakmu. Kris memang berkuasa, tetapi dia tidak bisa berbuat semena-mena dan melukai kita. Aku akan menghadapinya." Sambung Tao dengan yakin.
Sehun memejamkan matanya berusaha meredakan ketakutanya. "Semoga Tao... semoga semua baik-baik saja. Aku akan mencari cara untuk pergi dari rumah ini, segera."
"Kau harus benar-benar memikirkannya segera Sehun-ah. Tinggalkan saja Kris!"
Sehun mendesah, "Kau tahu aku masih mencintainya..."
"Bukankah kau takut padanya? Katamu dia pria kejam yang tidak segan-segan berbuat apapun untuk melaksanakan maksudnya."
"Ya..aku tahu, aku memang takut kepadanya, aku ketakutan ketika dia mengancammu dan keluargamu... entah kenapa jauh di dalam hatiku aku selalu berharap bahwa Kris tidak sejahat itu."
"Itu hanya harapan karena hatimu dilemahkan oleh cinta." Tao tampak jengkel. "Cinta membuat matamu berkabut, membuatmu merasa bahwa masih ada kebaikan di benak Kris, padahal dia sangat kejam, banyak buktinya bukan? Kekejamannya dalam pernikahanmu, sikap kasarnya, siapa yang tahu apa yang dilakukannya untuk menyakitimu?"
"Entahlah Tao." Sehun mulai merasa lelah,
Tetapi Tao tidak membiarkannya, "Kris itu kejam, Sehun. Sangat kejam. Cepat atau lambat kau harus menyadari bahwa dia adalah pria yang jahat. Dan aku harus menyadarinya sebelum semuanya terlambat."
Sementara itu, tanpa Sehun sadari, Kris tengah berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit, Tadi Kris memutuskan untuk menemui Sehun dan berkompromi demi anak mereka, dia akan meminta maaf kepada Sehun dan membuat Sehun mau tinggal dan mempertahankan pernikahan mereka.
Tetapi ketika baru sedikit membuka pintu kamar Sehun, dia mendengar percakapan itu, rencana melarikan diri Sehun yang disusunnya bersama Tao.
Kris meradang, panas oleh kemarahan yang tidak dia sadari oleh karena apa. Berani-beraninya Sehun merancang cara untuk pergi darinya dan tidak menghiraukan ancamannya? Dan juga perempuan itu menyusun rencananya dengan Tao? Apakah kecurigaannya benar? Bahwa Tao dan Sehun sebenarnya menjalin hubungan lebih? Sehun memang pernah mengatakan bahwa Tao adalah gay, tetapi Kris tidak mungkin percaya begitu saja. Apalagi dengan kenyataan di depannya bahwa Sehun selalu menghubungi Tao diam-diam seolah-olah tidak bisa lepas darinya.
Dada Kris terasa panas. Dia harus melakukan sesuatu untuk memberi peringatan kepada pasangan itu!
Hampir dini hari ketika ponsel Sehun terus menerus berbunyi, tidak mau menyerah sampai Sehun terbangun dan membuka mata.
Sehun masih mengantuk, dia membuka matanya dengan lemah, dan meraba-raba ponselnya yang terus berbunyi dengan berisik, tanpa melihat siapa yang menelepon, Sehun mengangkatnya sambil masih memejamkan matanya,
"Yeoboseyo?" suaranya serak, tertelan oleh kantuk.
"Sehun!" itu suara Tao, terdengar panik dan bingung, di belakangnya tampak riuh rendah suara manusia, "Rumah kaca... rumahmu... terbakar!"
Kata-kata itu sanggup membangunkan Sehun begitu saja, bagaikan guyuran air es yang menyiramnya langsung, dia terduduk dengan pandangan nanar, "Apa?"
"Rumahmu terbakar, kami sedang berusaha memadamkannya dengan swadaya sambil menunggu petugas pemadam kebakaran..." napas Tao tampak terengah, "Apinya.. apinya sangat besar."
"Ommo..." Sehun membayangkan tanaman-tanaman kesayangan ibunya, yang dirawatnya dengan penuh cinta seperti anaknya sendiri, dan seperti anak Sehun sendiri pula, dia membayangkan api yang melalapnya dan wajahnya pucat pasi.
"Aku.. aku akan kesana," dengan panik Sehun berdiri, merasakan perutnya sakit seperti di remas, tetapi dia berusaha mengabaikannya, dengan panik dia mencari-cari jaketnya dan memakainya, kemudian dia melangkah keluar hampir menangis.
Dia bingung harus bagaimana. Rumah besar ini tampak sunyi senyap, tanpa suara. Tetapi Sehun begitu panik, dia kemudian memberanikan diri dan mengetuk pintu kamar Kris, semula tidak ada jawaban sehingga Sehun mengubah ketukannya menjadi gedoran, sambil memanggil-manggil nama Leo,
Pintu terbuka tak lama kemudian, dan Kris yang sepertinya baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan, membuka pintu dengan wajah cemberut, "Ada apa?" gumamnya ketus, tetapi kemudian ekspresinya berubah ketika melihat Sehun menangis dengan tubuh gemetaran, dipegangnya kedua pundak Sehun menahan gemetaran gadis itu, "Ada apa Sehun?" suaranya berubah cemas.
Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Kris dengan tatapan penuh permohonan, "Rumah kaca... " gumamnya serak penuh tangis, "Rumah kaca terbakar... kebakaran..."
Kris mengerutkan keningnya, tetapi kemudian berhasil menarik kesimpulan. Dia langsung memutuskan,
"Tunggu di sini. Aku akan segera mengantarmu ke sana."
Hanya dalam hitungan menit, Kris sudah kembali dan tampak rapi, lelaki itu lalu menggandeng Sehun, melangkah cepat ke mobil, dan melajukannya dengan segera, menuju rumah Sehun.
Mereka berdua sama-sama tertegun ketika mobil sudah mendekati rumah Sehun. Api melahap dengan begitu besar, menimbulkan cahaya orange yang mengerikan. Hawa panas tersebar di sana, dan asap hitam membumbung ke langit. Sementara itu banyak orang berkumpul di sana, sebagaian hanya menonton dari kejauhan, sebagian tampak berusaha memadamkan api itu dengan swadaya. Mobil pemadam kebakaran sepertinya baru saja datang, dengan selang besarnya dan air yang memancar.
Tetapi sepertinya semua sudah terlambat, tidak ada lagi apapun yang tersisa untuk diselamatkan. Rumah Sehun, rumah peninggalan ibunya, tempat semua kenangan masa kecilnya, sudah hancur dan hangus. Sementara itu yang tersisa dari rumah kacanya hanyalah kerangka bajanya yang masih berdiri tegak. Yang tertinggal hanyalah api dan kehangusan.
Sehun masih tertegun shock, sehingga membiarkan dirinya berada dalam rangkulan Kris, yang juga menatap api itu dengan tertegun.
Tak lama kemudian, Tao datang berlari-lari menghampiri mereka, dia tampak berkeringat dan coreng moreng oleh noda hitam hangus di pipinya,
"Sehun!" Tao berseru hanya menatap Sehun dan sepenuhnya mengabaikan Kris, tampak sangat menyesal, "Kami sudah berusaha memadamkannya, tetapi pemadam kebakaran terlambat datang karena kemacetan dan… Sehun?" Tao bergumam panik ketika melihat tubuh Sehun oleng dan jatuh, dia hampir menopang Sehun, tetapi kemudian tertahan oleh Kris.
Lelaki itu menopang Sehun ke dalam pelukannya dan melemparkan tatapan tajam kepada Tao,
"Biar aku saja." Gumamnya dingin sambil menatap Tao dengan tatapan mengancam.
Tao masih tertegun menerima tatapan membunuh dari Kris, dan mengamati lelaki itu membopong Sehun yang pingsan kembali ke mobil.
"Baby ... bangunlah..." suara itu terdengar berbisik terus menerus di telinganya, dan kemudian ada harum aroma wewangian di hidungnya.
Sehun menggeliat dan berusaha membuka mata, melepaskan diri dari kegelapan yang menelannya.
Ketika dia membuka mata, dia langsung berhadapan dengan Kris. Sehun langsung mengernyitkan keningnya. Apakah Kris yang memanggilnya dengan sebutan 'baby' tadi? Ataukah dia hanya bermimpi?
"Kau pingsan tadi, apakah kau baik-baik saja?" tanya Kris pelan. Sehun rupanya telah dibaringkan di kursi belakang mobilnya.
Dengan gugup Sehun duduk, dan kemudian melemparkan pandangannya ke arah rumahnya, api sudah padam dan sekarang tinggal asap hitam sisa siraman air yang mengepul ke atas. Hatinya terasa perih dan teriris. Sedih luar biasa. Seakan semua kenangannya dihapuskan paksa oleh kebakaran itu.
Dengan sedih dia menahankan air mata yang mulai merembes di matanya, "Aku tidak apa-apa." Gumamnya serak.
Kris menghela napas, tampak lega, "Bagaimana dengan perutmu? Kondisi bayimu? Kau tidak merasakan sakit?"
Sehun meraba perutnya, memang terasa sedikit kram, tetapi itu mungkin karena Sehun sedang tegang, dia lalu menggelengkan kepalanya,
Ada kelegaan di mata Kris, lelaki itu kemudian menoleh dan menatap ke arah kebakaran dan mengernyit, "Apakah kau ingin membereskan urusan ini sekarang? Kau tahu, urusan laporan dengan polisi, asuransi dan lain-lain? Atau kau ingin pulang dulu dan mengurus ini besok?"
Pulang. Sehun termangu menatap rumahnya yang sudah hangus. Dulu rumah ini adalah tempatnya pulang. Sekarang semua sudah tidak ada lagi... apakah rumah Kris sekarang menjadi tempatnya pulang?
Sehun menatap Kris, dan ingin menanyakan keberadaan Tao, tadi dia ingat sedang berbicara dengan Tao sebelum dia pingsan. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Kris tampaknya sedang tenang dan Sehun tidak ingin mengusiknya dengan mengatakan bahwa dia ingin berbicara dengan Tao.
"Ya Kris... kita pulang saja."
"Oke." Kris mengambil bantal di jok belakang dan meletakkannya di belakang Sehun, "Kau berbaring saja di sana." Lelaki itu lalu menutup pintu mobil dan masuk ke belakang kemudi, melajukan mobilnya tanpa kata-kata.
Sementara itu Tao mengamati dari kejauhan mobil Kris yang beranjak pergi membawa Sehun dengan dahi berkerut gusar.
Ketika mereka sampai ke rumah, pagi sudah menjelang karena matahari sudah mengintip di kaki langit, menampakkan semburat kuning yang memecah kegelapan langit.
Kris memarkir mobilnya di depan dan membukakan pintu belakang untuk Sehun, membuat Sehun yang tertidur selama perjalanan langsung terbangun, Sehun meskipun mengantuk, sudah mau turun dan berdiri ketika kemudian tanpa kata Kris mengangkat Sehun ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Hampir saja Sehun tertidur kembali ketika terayun-ayun dalam gendongan Kris menaiki tangga. Dan kemudian mereka sampai di kamar Sehun.
Kris melangkah pelan dan membaringkan Sehun dengan lembut di atas ranjang. Sehun yang masih mengantuk langsung memiringkan tubuhnya dengan nyaman.
Dia mungkin bermimpi karena dia merasakan kecupan lembut di keningnya, sebelum langkah-langkah kaki Kris berlalu dan meninggalkan kamar itu.
Ketika Sehun terbangun di pagi hari, dia masih memikirkan semua memorinya. Dadanya langsung terasa sakit ketika teringat kebakaran itu. Dia menghela napas panjang, berusaha meredakan rasa sesak di dadanya. Ketika itulah tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuatnya terkejut. Dia langsung mengangkatnya ketika mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Tao. Kemarin mereka meninggalkan tempat itu begitu saja, Tao pasti cemas.
Sehun mengangkatnya dengan suara lemah,
"Tao?"
"Bagaimana keadaanmu Sehun?"
Sehun menelan ludahnya dengan pahit, "Gwenchana." Dia mendesah pelan dalam kesedihan, "Tidak ada yang tersisa ya?"
Hening sejenak, lalu Tao berkata, "Mianhae..."
Sehun menyusut air mata di sudut matanya, sekali lagi menghela napas panjang, meredakan napasnya yang sesak. Sekarang dia tidak punya tempat lagi untuk pulang, rumah tempat kenangannya, tempat dia bisa menumpahkan segala kebahagiaannya di rumah kaca itu telah tiada. Semuanya sudah musnah.
"Sehun .. kau masih di sana?" Tao bertanya dengan ragu, menggugah Sehun dari lamunannnya.
"Aku masih disini Tao." Gumam Sehun cepat, "Kenapa?"
Tao tampak merenung, "Apakah kau pikir kebakaran ini tidak kebetulan?"
"Apa maksudmu?"
"Katamu kemarin kau meminta perceraian dari Kris, dan kemudian malam harinya rumahmu terbakar? Apakah kau pikir Kris tidak terlibat dalam hal ini? Karena dari sudut pandangku, ini semua tampaknya terlalu kebetulan."
Sehun tertegun, wajahnya pucat pasi. Kris? Apakah benar yang dikatakan oleh Tao? Bahwa Kris adalah dalang dari kebakaran rumahnya? Bahwa ini semua bukanlah musibah atau kecelakaan biasa? Apakah Kris sekejam itu?
Sehun masih teringat jelas betapa lembutnya Kris ketika menggendongnya tadi... Kris tampaknya kehamilannya telah membuat hati Kris melembut. Mungkinkah Kris tega melakukan itu semua?
"Aku pikir Kris pasti pelakunya, Sehun. Waktunya terlalu bertepatan. Dan dia pernah mengancammu akan melakukan segalanya bukan?" Tao masih bergumam di seberang sana.
"Molla ..." Sehun menelan ludahnya, "Sungguh aku tidak tahu."
"Kau tidak boleh melemah dan kalah dari Kris, Sehun. Kalau kau menyerah, maka dia berhasil melaksanakan maksudnya. Dia pasti membakar rumahmu, aku yakin itu, agar kau tidak punya tempat untuk pulang dan melarikan diri. Kau tidak boleh menyerah Sehun. Tanpa rumahpun, aku masih bisa membantumu melarikan diri dari rumah itu. Oke?"
Sehun bimbang dan bingung, dia hanya bisa meringis menahan kekalutannya.
Dia masih tidak percaya Kris sekejam itu, membakar rumah kaca dan rumahnya? Benarkah itu? Benarkah Kris sekejam itu?"
Kris masih merenung di kamarnya pagi itu, dia ingin menengok Sehun, tetapi dia ragu. Semalam, mendampingi Sehun melihat rumah itu terbakar, kemudian menopang ketika Sehun pingsan telah menggugah sesuatu di dalam dirinya.
Sesuatu itu adalah rasa ingin melindungi dan menjaga Sehun dan anaknya.
Seharusnya tidak seperti ini... Kris meremas rambutnya sendiri dengan bingung. Seharusnya bukan seperti ini... Tetapi Kris telah kalah dengan perasaannya sendiri.
Pada akhirnya dia harus menyerah kalah dan mengakui bahwa dia mencintai Sehun. Kris telah menipu dirinya sendiri dengan mengatakan pada hatinya bahwa semua demi pembalasan dendamnya. Kenyataannya, dia mengejar dan menikahi Sehun karena dia mencintainya.
Sehun berpapasan dengan Kris ketika hendak berjalan ke ruang duduk, mereka berdiri dan bertatapan dengan canggung,
"Bagaimana keadaanmu?" Akhirnya Kris yang memulai percakapan, menatap Sehun dari ujung kaki ke ujung kepala, menilainya.
Sehun mengalihkan matanya dari tatapan Kris yang tajam, "Gwenchana."
Benak Sehun masih dipenuhi oleh pemikiran itu, pemikiran bahwa mungkin saja Kris adalah otak dibalik terbakarnya rumahnya. Bahwa Kris sangat kejam dan jahat kepadanya. Pemikiran itu menyakiti hatinya lebih daripada yang dia sangka. Karena Sehun masih sangat mencintai Kris. Amat sangat mencintai lelaki itu..
"Polisi mungkin akan datang kemari menanyakan beberapa pertanyaan, yah karena kau adalah pemilik rumah itu, aku harap kondisimu cukup baik untuk menerima mereka."
Sehun menganggukkan kepalanya, "Aku baik-baik saja." Dia merenung dengan sedih. Apa yang akan terjadi kalau dia mengungkapkan kecurigaannya kepada Kris ke polisi? Akankah polisi membantunya?
Tetapi menilik sikap Kris yang begitu tenang itu, Sehun jadi berpikir bahwa Leo tentu sudah menyiapkan segalanya, Lelaki itu sangat pandai, jadi dia pasti bisa mengatur agar dia tidak ketahuan sebagai dalang kebakaran itu. Tidak ada gunanya memberitahu polisi, karena dia pasti akan terlihat seperti orang bodoh, seorang istri yang menuduh suaminya sendiri.
Polisi itu sudah pulang setelah mengumpulkan data-data. Tidak banyak yang mereka tanyakan karena memang Sehun sudah tidak meninggali rumah itu setelah mereka menikah.
Setelah mengantar kepergian polisi itu, Kris menatap Sehun dengan tatapan datar,
"Kau boleh membangun rumah kaca di sini."
Sehun tertegun, tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Kris, dia menatap mata Kris, mencari tanda-tanda bahwa Kris sedang bercanda dengan kejam padanya, tetapi mata Kris tampak tulus menatapnya,
"Mwo?" Sehun tidak bisa menahan diri untuk bertanya ulang, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa Kris tidak bercanda.
Kris berdehem seolah-olah mengucapkan kata-kata itu sangat sulit baginya,
"Aku tahu bahwa kau sangat menyayangi tanaman-tanamanmu, dan kehilangannya pasti akan membuatmu terpukul, aku tidak mau kau berlarut-larut dalam kesedihan dan akan mempengaruhi kondisimu, dan juga bayimu. Besok aku akan mengirimkan orang untuk membangun rumah kaca di taman belakang untukmu. Taman belakang cukup luas untuk sebuah rumah kaca. Setelah rumah kaca itu selesai dibangun, kau bisa mengisinya dengan berbagai varietas tanaman kesukaanmu."
Sehun menatap Kris dalam-dalam dan menemukan keseriusan di sana, lelaki itu tidak sedang bercanda rupanya, "Kau tidak perlu melakukannya untukku." Sehun bergumam lemah meskipun perkataan Kris membuat hatinya tersentuh.
Kris tersenyum lembut, senyum lembut pertamanya setelah entah kapan, Sehun sudah tidak bisa mengingatnya lagi, karena setelah pernikahan mereka, Kris hampir tidak pernah tersenyum kepadanya.
"Aku tidak repot kok." Lelaki itu lalu berlalu meninggalkan Sehun dengan sejuta pertanyaan berkecamuk di benaknya.
Kris tidak main-main dengan perkataannya. Keesokan harinya ketika Kris sudah berangkat kerja dan Sehun sedang duduk di taman memandangi keindahannya dan kemudian tanpa sengata mengingat lagi akan rumah kacanya yang hangus, membuatnya merasa sedih, beberapa pekerja tiba-tiba datang, mereka bekerja dengan cepat dan sangat berpengalaman, sehingga ketika tengah hari Sehun mengintip lagi, seluruh pondasi dan konstruksi rangka rumah kaca itu sudah jadi.
Jantung Sehun berdebar, karena rumah kaca itu, dilihat dari rangkanya, jauh lebih besar daripada rumah kaca miliknya yang sudah hangus itu, tentu saja mengingat area taman belakang Kris berkali-kali lebih luas dari area kebun di rumahnya yang terbatas.
Sehun membayangkan dia akan mengisi rumah kaca itu dengan berbagai varietas yang unik, membangun lagi keindahan tanaman dan koleksi bunganya yang hilang, memulai lagi sedikit demi sedikit...
Tiba-tiba Sehun mengernyitkan keningnya ketika menyadari sesuatu... kalau itu benar terjadi, berarti dia harus tinggal lama di rumah Kris, rumah kaca ini seolah menjadi pengikatnya dengan Kris.
Apakah itu memang yang direncanakan oleh Kris? Karena itukah lelaki itu membakar rumah kacanya? Supaya dia bisa mengikat Sehun dengan rumah kaca barunya? Supaya Sehun tidak bisa pergi lagi dari rumah ini?
Jadi itu semua bukan karena kebaikan hati Kris atau karena lelaki itu mencemaskannya?
Jantung Sehun berdenyut kembali dengan pedih, entah sejak berapa lama, dia mengharapkan Kris melakukan sesuatu karena lelaki itu benar-benar mempedulikannya, bukan karena ada rencana keji di baliknya.
Kris mengunjungi Cathy lagi hari itu karena kepala pelayannya menelepon dan mengatakan Cathy mengamuk, tidak mau makan dan tidak mau meminum obatnya. Hal itu membuat Kris merasa cemas dan dengan bergegas dia mengunjungi rumah tempat Cathy berada.
Ketika dia membuka pintu kamar Cathy, Kris mengernyit, kamar itu berantakan dengan segala barang berhamburan di lantai dan di mana saja, bahkan selimut dan bed cover ranjang juga tergeletak begitu saja di lantai, spreipun kondisinya sama menyedihkannya, seluruh sisinya sudah terlepas dari ranjang, menyisakan bagian kecil di tengah ranjang yang belum lepas, bagian kecil itu sekarang sedang ditiduri oleh Cathy yang meringkuk dan menangis seperti anak kecil.
Dengan hati-hati,Kris duduk di tepi ranjang Cathy, mengelus rambut adik kembarnya dengan pelan, berusaha selembut mungkin agar tidak mengejutkan adiknya.
Cathy sepertinya menyadari kehadiran Kris karena perempuan itu menangis semakin keras.
"Sayang... kenapa? Kenapa kau menangis terus dan tidak mau makan?" Kris bertanya dengan cemas. Tetapi tidak ada tanggapan dari Cathy, perempuan itu makin meringkukkan tubuhnya dan menangis tersedu-sedu, membuat perasaan Kris semakin perih.
Kris menatap adiknya dengan perasaan sedih. Melihat kondisi Cathy ini membuat rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Apalagi sekarang, ketika dia memutuskan untuk menyayangi Sehun dan tidak mencoba menahan perasaannya lagi kepada isterinya itu, Kris merasa seperti menjadi pengkhianat paling buruk di dunia.
"Bakar... bakar habis. Dia bilang bakar sampai habis.." Tiba-tiba Cathy bergumam dengan setengah mengigau.
Hal itu membuat Kris tertegun kaget. Apa kata Cathy tadi? Bakar?
Kris mencoba menunggu dan berharap Cathy mengulang kata-katanya, tetapi adiknya itu kembali menangis tersedu-sedu tanpa kata.
Kenapa Cathy mengatakan tentang pembakaran tepat setelah kejadian rumah dan rumah kaca Sehun terbakar? Apakah ini berhubungan? Ataukah hanya kebetulan?
Kris tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya-tanya, otaknya berpikir keras... tetapi seharusnya Cathy tidak mengetahui tentang kebakaran itu, pegawainya menjaganya dengan begitu ketat sehingga menjaga Cathy dari semua informasi dari luar. Seharusnya Cathy tidak tahu apa-apa.
Kris menghela napas panjang, mungkin memang ini semua hanya kebetulan...mungkin tadi tidak sengaja Cathy melihat api dan berkomentar tentang pembakaran.
Tetapi perasaan itu tetap ada, perasaan tergelitik di bagian belakangnya, yang biasanya merupakan firasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
TO BE CONTINUE
Tadaaa..
Itu dia tadi updatenya. Semoga suka ya.
Maaf banget lamaaa banget karena author udah mulai sibuk sama kuliah. Hmm
Ini balesan dari review chapter sebelumnya :
Guest, Oh, Guest, V, Guest, hanhyewon357, exoxoxoot12 : ini udah dilanjut ya. Makasih reviewnya.
YunYuliHun : iya ini hatinya Kris udah melembut kok pas Sehun hamil. Hehe
bnmupid : Ini udah update ya. Maaf lama. Hehe
qwertyuiop : Iya. Kris emang bikin kesel huhuhu
Ok sekian dulu dari author. See you next chapter.
