Non Block Party

Prolog

Pertemuan empat Petinggi fraksi untuk mendiskusikan traktat perjanjian damai dimulai. Pertemuan ini dijanjikan berada di tempat manusia berada. Pertemuan tersebut berada di sebuah ruangan di dalam istana yang sangat megah. Ruangan sangat besar sekali, tetapi tempat itu hanya berisi satu meja bundar di tengah ruangan dan dikelilingi oleh 4 kursi.

Suara Pintu yang besar berbunyi dan datanglah seorang ksatria sekaligus raja yang gagah dan istrinya yang juga merupakan petinggi dari sebuah negara dengan telinga yang memanjang lurus kesamping. Saling bergandeng, berjalan mendekat ke meja bundar dan saling berbincang

"Akhirnya kita sudah mencapai titik perdamaian istriku, sekarang kita tidak lagi berperang satu sama lain."

"Belum tentu sayang, perjanjian ini harus disetujui oleh empat pimpinan dari fraksi, tapi yang jelas aku akan mendukung traktat perdamaian ini karena hanya merugikan semua fraksi". Balas sang istri dengan raut wajah ceria.

"Ahh benar juga, hahaha". Balas sang suami dengan tertawa terbahak bahak

Kemudian mereka duduk di kursi yang ada di sekeliling meja bundar.

Muncul kepulan asap hitam disertai petir yang mulai membesar sedikit demi sedikit dan membentuk sebuah portal. Didalamnya terdapat seorang yang tinggi dengan kulit dan wajah berwarna abu-abu pucat. Rambutnya panjang serta warna mata yang merah menyala dengan Halo berwarna merah.

Dia keluar dari portal dan berkata "Hmm, kita membahas sesuatu yang penting disuguhi dengan ruangan yang kosong"

"Dengan ini kita bisa fokus ke perjanjiannya" balas sang perempuan bertelinga panjang.

"Hahaha, Kau mau apa ? aku akan panggilkan pelayan untuk membuatkan sesuatu" tawaran sang ksatria

"Tidak usah, benar kata istrimu" dia langsung menjangkau tempat duduk yang kosong dengan tatapan datar tak ada ekspresi.

Setelah duduk mereka saling berbincang satu sama lain demi menunggu salah satu pimpinan yang belum datang. 30 menit kemudian datanglah seorang Ratu dari fraksi terakhir. Dia memakau gaun wana putih dengan penutup mata seperti mahkota yang sisinya terdapat bulu yang berwarna putih dengan cahaya yang menyelimuti tubuhnya. Melewati pintu yang sudah terbuka. Pintu pun ditutup oleh pelayan yang ada di kerajaan tersebut

"Kalian menungguku, Makhluk rendahan." Dengan nada mengejek ketiga fraksi yang ada disana.

"Hahaha, kamu bilang aku makhluk rendahan tapi kekuasaanmu hanya secuil" balas sang ksatria.

Dengan tatapan jengkel sang ratu cahaya, dia langsung menuju ke kursi yang belum diduduki.

Diskusi mengenai traktat pun dimulai.

Sang ksatria berpidato dengan lantang "Halo, namaku Mortos dan kali ini kita akan mengadakan diskusi mengenai traktat guna mencegah peperangan dari keempat fraksi yang menggugurkan banyak nyawa…" kemudian sang pria pucat memotong pidato yang dilakukan oleh Mortos. "Langsung ke poinnya saja, aku tak butuh penjelasanmu, itu terlalu panjang.

Kedaan sunyi sejenak.

"Baiklah, aku sudah membuat rancangan untuk traktat perdamaian ini, yang jelas ini tidak akan merugikan untuk salah satu pihak yang terkait" Mortos melanjutkan perkataannya

"Berikut rancangan yang telah saya buat" Lanjut Mortos

"Kita akan mempusatkan pemerintahan keempat fraksi kedalam kota yang akan kita bangun. Mulai ekonomi, hukum dan lain sebagainya."

"Walau begitu keempat fraksi tetap memiliki kebijakan dalam menjalankan pemerentihan di wilayahnya. Tetapi dengan batasan mereka harus mematuhi peraturan utama yang telah dibuat di kota yang akan menjadi pusat dari keempat fraksi."

"Interupsi, bagaimana dengan pembuatan peraturannya apakah keempat fraksi terlibat ?" tanya pria pucat

Kemudian Mortos menjawab pertanyaannya "Jadi begini saudara Volkath. Semua fraksi akan membuat kebijakan setelah pusat kota dibangun."

Volkath mengangguk paham mengenai penjelasan dari Mortos.

Kemudian Mortos melanjutkan pembahasannya "Pusat kota ini akan dipimpin dengan satu pemimpin dari kandidat keempat fraksi dan bebas untuk memilih kandidatnya siapa, mereka akan dipilih oleh seluruh makhluk yang ada di Athanor, tentu saja setiap kandidat bisa memasuki wilayah empat fraksi untuk kampanye."

"Kita juga akan membentuk sebuah badan-badan dan peraturan-peraturan untuk mencegah suatu tindak kediktatoran pemimpin setelah pusat kota ini dibagun."

"Pemimpin yang diangkat menjadi pemimpin fraksi tidak bisa mengikuti peraturan dari setiap fraksi tidak bisa mengikuti pemilihan di kota pusat."

"Kenapa, katanya bebas ?" potong sang ratu cahaya

"Ah, jadi begini Ratu Ilumia yang paling anggun, berwibawa dan memiliki derajat tinggi dari makhluk lainnya. Dikarenakan saya tidak ingin ada dualisme kepemimpinan, saya menyarankan ini kedalam traktat kita." Jawab Mortos.

"Haha, Memiliki derajat tinggi tapi bodoh" ejekan dari Volkath dengan muka tertawa.

"Diam kau penghianat !" Balas Ilumia dengan suara lantang

Tanpa disadari mereka pun saling melemparkan umpatan satu sama lain.

Istri Mortos berteriak

"DIAAM !" Tetapi tidak dihiraukan Volkath dan Ilumia.

"Sudah-sudah Tel'Anas ku tercinta biarkan mereka bertengkar sampai benar benar diam, aku suka pertikaian ini Hahaha." Balas Mortos yang berusaha menenangkan Tel'Anas.

Umpatan demi umpatan diutarakan Volkath dan Ilumia. Selang 30 menit mereka berhenti karena sudah lelah.

"Sudah selesai berkelahinya ?" Balas Mortos kepada Volkath dan Ilumia.

Mereka pun diam tanpa kata.

"Lanjut, ini adalah poin terakhir dari traktat ini, kita akan membentuk sebuah akademi yang akan menampung kandidat-kandidat pemimpin di Pusat kota. Yang jelas mereka tidak bisa masuk kedalam pemerintahan pusat kota jika tidak memasuki akademi ini. Akademi ini nanti akan dipimpin oleh 4 kandidat fraksi yang mumpuni dalam bidang ini serta setiap fraksi juga mengirim pendidik yang bagus kedalam Akademi"

"Apakah tidak ada yang menyanggah atau mempermasalahkan traktat ini ?" Tanya Mortos.

"Kurasa ini memang bagus demi mencapai perdamaian di Athanor dengan tidak adanya fraksi yang dirugikan." Balas Volkath dengan mengaggukan kepalanya.

"Selama, Tidak merugikan diriku. Tidak apa-apa." Lanjut Ilumia.

"Apapun ketetapannya aku akan setuju jika kamu yang mengajukan ini." Balas Tel'Anas dengan muka tersenyum menghadap ke Mortos

"Baiklah, semua poin-poin dari traktat perdamaian sudah disetujui. Diskusi ini akan ditutup setelah penandatanganan dari setiap fraksi dan traktat ini akan dibagikan ke semua fraksi sebagai bukti otentik dari perdamaian ini."

Kemudian sesi penandatanganan traktat dimulai. Setelah itu keempat fraksi meninggalakan ruangan dengan Volkath menggunakan portal hitamnya, Ilumia yang menghilang, sedangkan Tel'Anas masih tetap di kerajaan Mortos.

PART I

Federation Of Free adalah kota di Athanor yang menjadi pusat dari 4 fraksi yaitu fraksi Afata, Okka, Veda, Lokheim. Kota ini memiliki sistem yang berbeda dari fraksi-fraksi itu. Kota adalah pusat dari semuanya, mulai dari ekonomi, politik, Budaya dan sebagainya. Tidak menutup kemungkinan 4 fraksi juga memiliki itu semua, tetapi Federation Of Free adalah kota yang menentukan apapun yang ada di Athanor. Federation Of Free jugamempunyai masyarakat yang sangat majemuk yang saling berinteraksi satu sama lain. Mereka kebanyakan berasal dari orang-orang yang pindah dari 4 fraksi tersebut demi menjalin hubungan yang luas dan tidak menutup kemungkinan orang yang memiliki kepentingan. Dengan Hal ini dikarenakan Federation Of Free Federation Of Free membebaskan siapa saja masuk kedalam kegiatan politik dengan syarat harus menempuh Akademi Athanor.

Akademi Athanor adalah akademi gabungan dari jenjang Sekolah Dasar sampai Universitas. Tentu saja banyak sekali akademi akademi lainnya di Federation Of Free. Tetapi Akademi Athanor merupakan akademi yang paling bergengsi di kota ini, dikarenakan Akademi ini menciptakan siswa siswi yang sangat kompeten dan Akademi ini merupakan Akademi yang paling tua diantara akademi-akademi lainnya. Akademi ini hanya bisa dimasuki oleh keluarga yang benar-benar kaya dan orang yang mendapatkan beasiswa yang tentu saja sulit untuk mendapatkannya. Dengan syarat masuk yang sangat sulit. Disamping syaratnya yang sulit akademi Athanor memiliki pendidik yang mumpuni hampir dari segala aspek. Mereka yang lulus dari akademi lain juga bisa memasuki akademi Athanor. Dengan syarat mereka kaya ataupun mendapat rekomendasi dengan mengikuti tes dari Kepala sekolah di akademi lainnya.

Akademi Athanor ini memang sangat bagus, tetapi dengan syarat yang mereka berikan, secara tidak langsung Akademi disana menciptakan kesenjangan sosial didalamnya dan kebanyakan orang disana memiliki kepentingan dari fraksi – fraksi nya agar diuntungkan dan juga setiap fraksi disini memiliki hak kepemimpinan di Akademi ini. Hal ini menciptakan kubu – kubu didalam akademi tersebut. Walaupun begitu, banyak sekali yang ingin masuk kesana dengan alasan Pendidik disana mumpuni dalam mendidik siswa. Bukan berarti Akademi lainnya tidak memiliki pendidik yang mumpuni. Hanya saja Akademi Athanor sudah ada sejak dulu dan menciptakan pendidik yang baik dengan kurikulum yang lebih terstruktur dan mata pelajaran yang beragam.

Mata Pelajaran di akademi ini pun beragam. Mulai dari Politik, Hukum, Olahraga, Kesenian dan lain sebagainya. Dalam jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas di akademi Athanor akan memberikan semua mata pelajaran yang telah diberlakukan dan saat di Universitas akan diberlakukan penjurusan yang lebih spesifik.

Selain Kurikulum yang terstruktur dan Mata Pelajaran yang sangat beragam. Didalam akademi ini mempunyai kompetisi yang sangat bergengsi tiap tahunnya yaitu Battle Arena. Ini juga alasan kenapa Athanor menjadi akademi bergengsi. Battle Arena ini merupakan ajang kompetisi yang akan diikuti setiap siswa siswi SMP dan SMA di akademi Athanor. Battle Arena ini juga bisa dipakai seseorang untuk menyelesaikan suatu masalah.

Battle Arena ini merupakan pertandingan yang dilakukan oleh lima orang yang akan melawan lima orang. Tujuannya adalah untuk menghancurkan inti satu sama lain. Peserta akan diberikan dengan level yang sama dalam kompetisi ini dan mereka dibebaskan untuk melakukan apapun disana demi memenangkan pertandingan ini. Jika mereka dibunuh pada saat pertandingan dimulai, mereka akan respawn kembali jika pertandingan itu belum selesai. Untuk menyelesaikan pertandingan ini salah satu inti dari markas lawan hancur atau lawan mengaku kekalahannya. Peserta bebas membentuk tim dan bisa juga diacak.

Part II

Dering kelas berbunyi pertanda pelajaran dimulai. Hari ini adalah tahun ajaran baru kenaikan kelas dari SMP ke SMA dan siswa baru yang di terima Akademi Athanor. Hari Pertama sering di lalui dengan perkenalan.

Siswa yang baru masuk di Akademi Athanor hanya diam karena tidak mengenal satu sama lain, berbeda dengan siswa yang sudah lama di Akademi Athanor, mereka saling berbincang satu sama lain.

Bunyi dentakkan kaki diluar kelas menandakan ada seseorang disana. Kemudian datanglah guru muda yang membawa tongkat baling-baling dengan kacamata bulat dimukanya. Rambutnya pirang. Dia memakai baju tipe one piece berwarna putih, dan jubah kecil berwarna biru laut.

"Halo, Semuanya" Sapaan guru muda itu dengan ceria sambil berlari menuju ke depan papan tulis. Tanpa berhati hati, sebelum ke depan papan dia terjatuh karena tidak melihat sebuah lantai yang berpetak.

"Adu duh !"

Dia terjatuh dengan posisi tengkurap dan bangkit dengan tangan yang mengusap-usap dahinya. Walaupun kejadian itu terlihat konyol, para siswa disana tidak tertawa.

Wajah guru itu terlihat malu karena kecerobohannya. Kemudian wajahnya berubah menjadi riang kembali.

"Halo murid-murid saya wali kelas kalian Annette, sebelumnya saya adalah adalah peramal cuaca, karena saya ceroboh dalam meramal cuaca saya akhirnya saya dipekerjakan disini dan menjadi mahasiswa di akademi ini."

"Oke, saya kan sudah memperkenalkan diri, ini saatnya kalian juga memperkenalkan diri, dimulai sesuai urutan absen yah, dimulai dari nomor satu."

Perkenalan para siswapun dimulai satu persatu. Mereka mengenalkan pribadinya masing masing. Dan pada akhirnya aku dipanggil.

"Ahh siswa yang berabsen 35, saudara… Balhen, Valhen, Balhein ?" Tanya Annette sambil bingung dalam mengeja namaku.

"Bukan bu Annette, Namaku Valhein, Val He In"

"Ah Valhein… oke, coba perkenalkan dirimu" Balas Annette

Aku berdiri setelah memberikan pengejaan namaku dan mulai memperkenalkan diriku

"Baik bu, namaku Valhein, aku berasal dari fraksi Okka, aku bekerja sampingan sebagai Demon Hunter. Terima Kasih." Setelah memperkenalkan diriku aku kembali duduk.

Mendengar perkataanku. Para siswa semuanya kaget karena pekerjaan sampinganku. Dan menatapku.

"Apa ? Ada masalah ?" Aku bertanya tanya karena tatapan dari murid murid disini.

Kemudian suasana menjadi seperti biasa. Saat itu juga Annette menjelaskan kenapa ada siswa yang bekerja.

"Jadi, begini murid-murid, siswa disini bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, karena mungkin ada kebutuhan yang harus dicukupi dengan bekerja."

Dengan penjelasan tersebut aku merasa berterima kasih atas penjelasan bu guru Annette. Tapi bukan itu masalahnya. Melainkan masalah lain.

Akhirnya siswa terakhir memperkenalkan dirinya.

"Halo teman-teman namaku Yorn, Aku berasal dari fraksi Veda, aku merupakan jelmaan dari dewa matahari."

Dalam hatiku –cih sombong sekali dia menyombongkan diri. Ku jitak sudah sekarat tuh anak.

"FEEL THE SUUUUN !".

Aku kaget dengan suara itu, kemudian aku menoleh kearah Yorn. Tiba-tiba ada sebuah anak panah tepat didepan mataku. Reflek aku langsung menggenggam anak panah itu. Dan pada saat itu juga tanganku memerah karena anak panah yang panas. Saat itu juga Bu Annette dan para siswa kaget dengan panah Yorn yang di arahkan ke diriku dan semuanya langsung menepi ke pinggiran kelas.

"Ouch, panas sekali." Dengan cepat aku membuang anak panah itu

"Apa-apaan kau Yorn, tiba-tiba kau memanahku ?" tanyaku kebingungan sekaligus kesal terhadap tingkah laku Yorn.

"Hahahaha, kamu bilang dirimu adalah Demon Hunter, artinya kamu kuat." Jawab Yorn dengan tertawa bangga

"Kamu sudah memegang anak panahku, itu artinya kamu menerima tawaran untuk ber duel denganku." Dengan bangganya Yorn mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Aku menatapnya dengan kebingungan.

"Hah ?, Duel ?" Tanyaku

"Iya Duel" Jawab Yorn

"Sebentar, aku tidak tahu kalau melepaskan anak panah dan kemudian seseorang mengambilnya adalah tantangan sebuah duel." Balasanku terhadap pertanyaan Yorn.

"Itu adalah peraturaku, karena aku adalah jelmaan Dewa Matahari." Balas Yorn dengan bangganya.

"Cih sombong sekali kamu, oke aku terima Duel ini, tapi dengan syarat jika kau kalah bacotmu tentang jelmaan Dewa Matahari harus kau hentikan."

"Oke, jika kamu kalah, kamu akan menjadi bawahanku, apapun yang aku minta kamu harus menurutinya."

Aku mengangguk atas persyaratan yang Yorn berikan, begitu juga Yorn yang menyetujui persyaratanku. Siswa yang sebelumnya takut karena kekuatan Yorn kemudia bersorak ramai. Kemudian keadaan menjadi tenang kembali.

Kemudian aku berjalan menuju Bu Annette untuk meminta persetujuan dalam Duel ini.

"Bu, Aku dan Yorn akan melangsungkan Duel dengan Yorn. Apakah Arena ada yang kosong ?"

"T-Tapi…" Jawab Bu Annette dengan raut wajah agak takut karena panah tadi dan cemas karena duel kami yang sangat tidak terduga

"Tidak apa apa Bu. Jika siswa ibu satu ini tidak diberi pelajaran, dia akan sombong karena dia jelmaan Dewa Matahari." Balasku

"B-Baik, Aku akan mengonfirmasi Kepala Sekolah dulu."

Bu Annete mengambil sebuah Handphone disakunya yang digunakan untuk mengonfirmasi tentang Duel.

"P-Pak, ada siswa saya yang ingin melakukan duel, A-Apakah bapak menyetujuinya ?".

Terdengar suara paruh baya di dalam Handphone Bu Annette.

"Hahaha. Baru hari pertama sekolah sudah ada orang yang ingin bertanding, semangat sekali murid-murid baru tahun ini. Baiklah segera siapkan Arena nya, aku akan melihatnya langsung."

Panggilan pun berhenti dan Bu Annette memasukkan Handphone nya kembali ke sakunya.

"Baiklah sekarang kalian semua langsung ke arena"

Dengan perasaan cemas Bu Annette langsung memandu kami untuk segera ke Arena.

Aku dan Yorn langsung ke Arena yang berada di belakang sekolah. Diiringi dengan siswa yang berada di kelas serta Bu Annette yang memandu.

"Kalian semua langsung saja pergi ke Dome itu. Nanti saya menyusul."

Dia lari meninggalkan kami dengan tergesah gesah

Semua siswa mengangguk dan menuju ke Dome yang ditunjukkan oleh Bu Annette. Sebelum kami sampai ke Dome yang Bu Annette tunjukuk, Terdengar suara dari mikrofon sekolah.

"Perhatian, semuanya saya Annette wali kelas di kelas 1-1 mengumumkan kepada para siswa dan guru untuk mengarahkan siswanya untuk segera ke Dome. Dikarenakan saat ini ada siswa saya yang sedang melakukan duel. Duel ini sudah disetujui oleh kepala sekolah. Mohon maaf atas masalah ini karena siswa saya."

Suara bu Annette terdengar sedikit kaku dan sedikit ketakutan karena kelakuan kami. Maklum saja baru hari pertama masuk sekolah ada siswa yang ber duel.

Kami sampai ke Dome yang dituju, setelah itu seluruh murid di SMA Athanor datang dari pintu Dome. Di dalam Dome sangat besar sekali, tengahnya terdapat 4 arena untuk pertandingan dan tepi arena tersebut digunakan sebagai kursi penonton, kursinya pun banyak sekal. Nampakanya arena tersebut berbeda satu sama lain. Arena pertama hanya digunakan untuk berduel, karena hanya ada satu jalur saja. Jalur tersebut terdapat 4 tower dan 2 inti yang saling berhadapan dan berbaris lurus dan warnanya biru dan merah. Itu mungkin akan digunakan sebagai arena duel kami.

Diatas arena-arena tersebut terdapat papan skor hologram juga, mungkin digunakan untuk menilah skor pada saat pertandingan.

Tiba tiba podium di depan arena yang jaraknya cukup jauh dari kami menyala dan ada seseorang pria paruh baya yang menyilangkan kedua tangannya didampingi bu Annette. Kaki pria tersebut tidak menyentuh lantai podium. Dia menggunakan pakaian serba kuning rambutnya juga berwarna kuning. Wajahnya terlihat ceria karena mulutnya yang terus tersenyum lebar.

"Halo para penerus Athanor, Perkenalkan saya adalah Dirak salah satu petinggi di Akademi Athanor sekaligus Kepala Sekolah disini. Nampaknya ada salah satu kelas yang muridnya akan melakukan duel. Semangat muda yang sangat membara sekali. Tanpa piker basa basi lagi. Murid yang melangsungkan duel segera menuju ke arena. Dan yang tidak berkepentingan segera ke kursi penonton"

Aku dan Yorn pun berjalan menuju ke arena. Terdapat sedikit perbincangan dari kami berdua disaat perjalanan.

"Apakah kau takut Valhein ?"

"Hah ? takut ?, Kau Bercanda ?"

Aku menatap Yorn dengan kesal.

"Kamu hanya membual tentang jelmaan Dewa Matahari, kenapa harus aku takut dengan mu, sekali tembak mungkin kau sudah hilang ditelan Bumi."

Aku membual ke Yorn karena kesal.

"Hahaha, kita lihat saja nanti siapa yang akan menang." Dengan bangganya Yorn mengatakan itu

Kami pun sampai di Arena 1 vs 1. Aku berada di Sisi biru, sedangkan si Yorn berada di sisi merah.

"Oke, Peserta duel sudah menuju ke arena dan sudah menetap ke tempat masing-masing"

Suara pak Dirak yang sudah mengonfirmasi bahwa kami sudah di arena 1 vs 1. Dilanjutkan suara sistem yang ada di arena tersebut

"Confirming battle state, Done."

"System Revive, Activated."

"Confirming Turret and Core, Done."

"Cleaning Battlefield, Done."

"Welcome To Arena Of Valor"

"Get Ready, Minions will be deploy in Five Second"

Suara terompet berbunyi

"Prepare to engage"

Aku berjalan mengikuti minion-minion didepanku. Setelah itu aka mulai menembaki minion lawan yang ada di depanku. Tetapi di sini aku tidak melihat Yorn.

"Dimana dia ? Aku hanya melihat minion"

"Biarkan sajalah, aku harus fokus meningkatkan levelku dan mencari gold"

Tiba tiba ada anak panah dari atas yang mengenaiku yang membuat diriku tidak bisa bergerak.

"Ah-Apa ini ? aku tak bisa bergerak"

"Kena Kau"

Yorn muncul dibalik semak dan mulai menembakkan panahnya ke diriku. Panah demi panah menghujam tubuhku. Akhirnya aku bisa bergerak, seharusnya aku akan membalas tembakan dari Yorn, tapi dia dengan cepat tanggap langsung menjauh dari jarak tembakku.

"Ah Pengecut kamu Yorn"

"Ini yang namanya strategi kawan, kau harus pintar dalam mengatur hal itu"

Aku menghiraukan perkataan Yorn, dan fokus untuk meningkatkan level dan gold. Aku tenang karena serangan panah Yorn tidak sesakit yang sebelumnya. Mungkin, karena sistem dari arena ini sudah diatur.

Setelah level ku mencapai angka 6 begitu pula Yorn. Aku tanpa pandang bulu untuk menyerang Yorn.

"Rasakan balasanku"

Aku menyerang Yorn dengan mendekat ke dia agar skill ultimate ku bisa memberikan damage yang tinggi.

"Apa ini ?" Yorn berusaha untuk bergerak tapi tidak bisa

"Tidak hanya kamu yang punya skill itu, aku juga punya" Balasku dengan menyerang Yorn membabi buta.

Setelah efek stun dari serangan ku. Yorn mulai menyerang, tapi dia sudah terlambat karena health point tinggal sedikit. Tanpa disadari aku juga masuk ke tower lawan.

"Walau kamu dibantu tower, aku bisa membunuhmu"

"Ah tidaaak, aku akan membalasmu nanti" balas Yorn yang sudah tak bisa apa apa karena HP nya."

Semua yang ada di panggung penonton berteriak dan bersorak ramai.

Ternyata perhitunganku benar. Aku bisa mengalahkan Yorn walau dibantu tower. Yorn mati dan menunggu revive. Kemudian aku keluar dari jarak serang tower dan masuk lagi untuk mengabil kesempatan dalam menghancurkan tower tanpa menghiraukan HP ku yang tinggal satu kotak saja.

Minion yang berada di jarak tembak tower hanya tersisa satu. Aku tetap menyerang tower. Health Point dari minion itu hampir habis yang berarti, aku harus keluar dari jarak tembak tower. Tetapi pada saat itu ada panah didepanku.

"FEEL THE SUUUUN!"

"Sialan!" kataku sambil masuk kedalam mode revive.

Suara sorakan dari panggung penonton kembali meriah karena Yorn berhasil membunuhku.

Aku lupa kalau Yorn memiliki skill itu. Sebelumnya Yorn kalah satu level denganku tetapi dengan kecerobohanku, level Yorn kembali sama.

"Lihat betapa bodohnya dirimu Val, padahal sebelum kita bertanding aku sudah memberikan sebuah clue dari skill ku." Yorn meledekku dengan bangganya.

"Haha" aku hanya tertawa

Bertepatan pada saat diriku revive Yorn memanfaatkan momentum ini karena ballista minion yang sudah ter spawn di arena. Satu tower ku sudah hancur dikarenakan aku tak punya skill jarak jauh seperti Yorn. Walaupun begitu, ini adalah keuntunganku karena Yorn harus masuk lebih dalam lagi dan juga tower Yorn yang tinggal setengah.

Suara sorakan kembali bergeming karena Yorn lagi.

"Yorn kau hanya beruntung karena kecerobohanku." Gertakanku terhadap Yorn

"Terserah Kau, Aku sudah mendapat satu tower, yang berarti aku sudah berada jauh darimu." Yorn membalas dengan bangganya.

Aku mulai berjalan ke tengah arena dibelakang minion. Dan pada saat itu terdengar suatu suara dari speaker di bilik penonton.

"Pengumuman untuk fase kedua, banyak yang merubah taruhannya dari pihak Valhein ke pihak Yorn. Setelah ini fase ketiga adalah fase terakhir dari taruhan ini." Suara itu berasal dari lelaki yang sedang duduk di kursi yang penuh emas.

"Berheenti!" Suara keras Yorn yang menuju kediriku.

Suara Yorn yang keras itu juga memberhentikan sorakan penonton.

"Ada apa Yorn ? Kenapa ?" tanyaku kebingungan.

"Apakah kau tak sadar kita adalah objek perjudian" lanjut Yorn

"Memang benar, apa ada masalah ?" tanyaku balik

"Aku tak mau kalau pertandingan ini menjadi ajang untuk perjudian, kita harus memberhentikan pertandingan ini"

Aku menatap kebingungan karena Yorn yang ingin memberhentikan pertandingan, memangnya kenapa dengan judi ini.

Tangan Yorn menunjuk ke lelaki yang duduk di kursi yang penuh emas.

"HOI GILDUR, KENAPA KAU MENARUH TARUHAN DI PERTANDINGAN KAMI"

Ternyata Yorn kenal dengan lelaki itu.

"Ini sudah menjadi peraturan mutlak dari ketua OSIS. Jika ada pertandingan maka ada pertaruhan juga. Kepala Sekolah juga sudah menyetujui. Benarkan Pak Dirak ?" jari telunjuk kanan Gildur mengarah Kearah pak Dirak.

"Ya, benar aku yang menyetujuinya. Aku membebaskan OSIS untuk membuat peraturan selama tidak menghancurkan sekolah ini." Balas pak Dirak wajahnya yang terlihat ceria dan tanpa ada ancaman.

"OKE, SEKARANG PERTANDINGAN INI DIBATALKAN."

"AKU TAK MAU PERTANDINGAN YANG SALING MEMPERTAHAN HARGA DIRI SATU SAMA LAIN KAU RUSAK DENGAN PERTARUHAN YANG KONYOL ITU."

Teriakan Yorn yang keras itu diarahkan ke Gildur, walaupun begitu sebenarnya aku tak peduli dengan pertaruhan yang Gildur buat. Tapi aku merasa Yorn memang benar kita juga mempertaruhkan hal yang penting disbanding uang, yaitu harga diri.

"Ah, kenapa kau begitu Yorn ? dari dulu Idealismu seperti itu saat masih di Veda. Sungguh tindakan yang kekanak-kanakan."

Gildur mengatakan itu yang artinya dia mengejek masa lalu Yorn.

"AKU TAK PEDULI."

"KALAU PERJUDIAN ITU BERLANJUT, AKU AKAN MEMINTA UNTUK MEMBERHENTIKAN PERTANDINGAN INI."

Balas Yorn karena kesal terhadap perlakuan Gildur yang dia rasa tidak pantas. Suasana pun menjadi tenang. Karena teriakan penonton sudah tidak ada.

"Kamu ingin membatalkan pertandingan ini ?. Kau boleh saja, asal ada persetujuan dariku dan lawanmu"

"tentu saja aku akan menyetujuinya, tapi aku tak tahu lawanmu menyetujui hal itu."

Pak Dirak berkata seperti itu. Yang membuat muka Gildur yang nyengir tanda dia tak suka dengan perkataan Pak Dirak. Dia pun punya siasat baru untuk menunda pertaruhan ini.

"Hai Valhein, jika kau tak menyetujui pembatalan perntandingan kau akun kukasih 100.000 Gold."

Gildur mengarahkan jari telunjuknya kediriku. Wajahnya pun terlihat senang. Karena dia mugkin berpikir bahwa aku menerima tawarannya.

"Batalkan, pertandingan ini Val."

"harga diri itu penting dari uang"

"Apakah kau lebih memilih uang daripada harga dirimu ?"

Yorn mengatakan itu kepadaku dengan tatapan yang serius. Tentu saja menurutku dia yang meminta duel denganku dan dia sendiri yang membatalkannya merupakan hal yang tabu tapi, kita dijadikan objek pertaruhan ini juga merupakan hal yang tak baik.

"Hmmmm, Gildur apakah bisa dinaikkan nominal uangnya ?"

Aku memberikan tawaran kepada Gildur karena aku rasa 100.000 Gold kurang. Saat itu juga Yorn menatapku kesal karena aku memberikan tawaran.

Gildur pun memberikan jawaban

"Bagaimana kalau 500.000 Gold"

Aku berfikir keras. Dalam hatiku

-Hmmmm. Aku yang memegang kekuasaan dalam penentuan

-Bagaimana kalau ku tinggikan lagi

"Tidak Gildur, Aku akan melanjutkan pertandingan ini jika memberiku uang 10.000.000 Gold"

"Itu adalah gaji pekerjaanku selama 7 bulan"

"Jika kamu bisa memberikan 10.000.000 Gold, aku akan menolak tawaran Yorn"

Tatapan Gildur yang senang itu tiba-tiba cemas dan memikirkan sesuatu.

"Ku hitung sampai sepuluh"

"Satu"

"Dua"

"Tiga"

"Empat"

"Lima"

Gildur kebingungan karena tawaranku, mungkin dia tidak akan untung karena tawaran yang ku berikan.

"Enam"

"Tujuh"

"Delapan"

"Sembilan"

"Sepuluh"

"Baiklah, waktu habis Gildur"

"Pak Dirak, Aku akan membatalkan pertandingan ini"

Saat Yorn mengeluarkan raut wajah yang senang sekaligus lega karena pilihanku.

"Tapi dengan satu syarat"

Tanganku menunjuk ke arah Yorn.

"Kamu, harus berhenti berkata 'Jelmaan Dewa' Lagi"

"Baiklah, Valhein aku akan berhenti berkata seperti itu lagi" balas Yorn.

Yorn tersenyum kepadaku, tangannya mengakat kedepan menandakan dia ingn bersalaman. Aku pun meraih tangannya dan berjabat dengan Yorn.

"Bangsat"

Umpatan dengan suara kecil dari Gildur, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Dome.

"Dengan ini pertandingan dibatalkan karena persetujuan sudah mencukupi."

Perkataan itu berasal dari Kepala Sekolah. Disampinya wali kelas kami merasa senang dan karena pembatalan pertandingan kami. Berbeda dengan penonton, mereka merasa kecewa karena pembatalan dan meninggalkan Dome.

Yorn berjalan mengarah langsung ke podium tanpa bicara denganku. Aku pun tak perduli dengan hal itu dan beranjak pergi dari arena itu. Sebelum itu Yorn memanggilku.

"Val kau bisa kesini sebentar ?"

Aku pun bingung dan terpaksa kesana. Setelah memanggilku Yorn memulai pembicaraan dengan Kepala Sekolah

"Pak Kepala Sekolah disini kan terdapat fraksi-fraksi untuk diikuti."

"Bisa, Tapi…."

Tanpa basa-basi Yorn menyela perkataan dari Kepala Sekolah

"Aku akan membentuk fraksi yang ketuanya aku dan wakilnya Valhein. Nama Fraksinya adalah Non Blok"

Dengan perkataan yang Yorn utarakan ke Kepala Sekolah. Aku sontak kaget.

"EEEEEEK !"