Chapter 1: Charlie


"Cukup sulit menemukan orang Asia disini."

Baekhyun mengira bahwa kebetulan hanya akan terjadi pada orang-orang tertentu. Misalnya saat kau menemukan sebuah dompet dan kebetulan itu adalah milik rekan yang kau kenal. Atau kau melihat seseorang di tv dan melihatnya di ujung jalan di hari yang sama. Sungguh, ia kira dirinya takkan mengalami hal-hal semacam itu namun ternyata Baekhyun bukanlah sebuah pengecualian bagi Tuhan.

Pemuda yang sering ditemuinya di pinggir jalan, si musisi jalanan, sekarang berdiri di sampingnya menunggu pesanan roti datang.

"Aku tidak berbicara pada orang asing." Baekhyun menanggapinya dingin. Dan terpujilah si nenek tua Barbara yang membuatnya menunggu hanya untuk sekotak muffin.

"Kau baru saja berbicara." Pemuda di sampingnya menyeringai. "Dan kalau boleh kutebak, kau orang Korea?"

"Tepat sekali. Kuharap setelah ini kau berhenti mengajakku bicara." Baekhyun berkata penuh hormat. Ada apa dengan pemuda ini? Hanya karena mereka berdua berwajah Asia dan kebetulan sekarang menetap di UK, bukan berarti mereka bisa akrab. Tidak sama sekali.

"Wow. Ibuku juga orang Korea." Seru si tinggi pengganggu. Mengabaikan kalimat terakhir yang sebenarnya Baekhyun tekankan sebagai peringatan. Untuk tidak mengusik hidupnya lebih jauh lagi, dan lihat apa yang si bebal ini lakukan… Hebat.

"Aku tidak tertarik dengan ibumu."

"Maaf membuatmu menunggu lama Brien, ini pesananmu." Seorang nenek berambut pirang memberikan pesanan Baekhyun dengan wajah bersalah. Ia telah mengenal pelanggannya ini cukup lama, dan membuat si nenek tua lebih dari tahu bahwa menunggu adalah hal yang paling dibenci Baekhyun –atau yang sering ia panggil Brien.

"Thanks, Bar. Kuharap Ed bisa membantumu lebih baik lagi." Baekhyun sengaja mengeraskan suaranya agar Edward, cucu si nenek yang tengah ia bicarakan, ikut mendengar keluhannya daripada pura-pura sibuk mengepel lantai yang telah bersih.

"Terimakasih Brien, akan kuingat nasihatmu." Edward membalasnya dengan nada ceria. Barbara mengangkat bahu, dan Baekhyun tidak banyak berekspresi hanya untuk menyerahkan beberapa lembar uang dan menunggu kembalian.

"Jadi namamu Brien?"

Oh, dan jangan lupakan si tinggi pengganggu yang masih betah berdiri di sampingnya, di depan etalase.

"Seperti yang kau dengar, big guy." Baekhyun bersiap untuk pergi.

"Kurasa kalian seumuran." Edward tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan. Ia tersenyum nakal dengan dagu yang bertumpu pada tongkat pel. "Charlie akan berumur dua puluh tiga November nanti." Lanjutnya.

Si jangkung yang dipanggil Charlie terlihat meninju lengan Edward diikuti tawa kecil. "Dude, kau mengintip ID-ku."

Baekhyun merotasi bola mata. Bagus sekali, kelihatannya mereka saling mengenal satu sama lain. "Jesus. Berikan saja kembaliannya padaku." Si pemuda pendek mulai jengah.

"Brien punya sedikit masalah dengan kepribadiannya, atau mungkin urat senyumnya telah dipotong sejak lahir. Aku tidak tahu." Edward bercerita pada si pengganggu yang ia panggil dengan nama Charlie.

"Kuharap Barbara memasukkanmu ke dalam oven suatu hari nanti." Baekhyun mengatakannya dengan serius namun yang ia dapat adalah tawa keras dari seseorang yang disumpahi.

"Berhenti mengganggunya, Ed." Barbara kembali dengan beberapa koin di tangan yang langsung ia berikan pada Baekhyun. "Maafkan dia, Brien. Kau tahu, anak muda zaman sekarang sulit sekali…"

"Aku masih berharap kau memasukannya ke dalam panggangan."

Barbara tersenyum kecil. "Aku ingin melakukannya tapi dia satu-satunya cucuku."

"Aku pergi."

Detik berikutnya Baekhyun benar-benar berbalik dan berjalan keluar dari toko roti yang sempat menahannya beberapa lama. Ia tak habis pikir, ada apa dengan orang-orang hari ini? Mereka terlihat senang mengganggu ketenangan hidupnya. Terutama Charlie, si pemuda asing yang terlalu banyak bicara. Tidak, Baekhyun rasa semua orang di sekelilingnya memang terlalu banyak bicara.

Dan itu sebabnya ia tidak suka berteman.

.

.

.

.

.

Esok harinya…

Beberapa detik yang lalu Baekhyun sempat berpikir tentang pindah ke sebuah apartemen yang cukup dekat dengan kantornya sehingga ia tidak perlu melewati jalan yang tengah ia tapaki sekarang. Kenapa? Bukan karena ia lelah berjalan, tapi karena sosok yang ada di hadapannya kini. Pemuda dengan jaket denim yang tengah tersenyum –oke, menyeringai nakal, dan itu sudah cukup untuk membuat Baekhyun ingin sekali meludah ke langit.

"Hay, Brien."

Lupakan soal pindah apartemen, sekarang Baekhyun ingin pindah kewarganegaraan saja.

Mengabaikan adalah satu-satunya jalan keluar dari situasi sialan ini. Anggap saja dia memang tidak mengenal orang ini –secara harfiah memang mereka belum resmi berkenalan—dan untuk itu sepertinya tidak ada percakapan berarti yang harus mereka mulai. Jadi, Baekhyun memilih untuk terus berjalan dan melewatinya seperti angin.

"Brien, wait…"

Pemuda yang dilewatinya –Charlie, menarik tangannya dengan refleks.

Lalu Baekhyun dengan senang hati menghadiahinya tatapan membunuh. "What's your problem, man?"

Baekhyun menghempaskan tangannya dan ia melihat Charlie merasa begitu bersalah untuk beberapa alasan. "Sorry. Hanya sebuah refleks."

"Dan jika aku memukul rahangmu saat ini juga, maka akan kukatakan bahwa itu hanya sebuah refleks."

"Dan pada kenyataannya kau tidak melakukannya."

"Ada sebuah ketentuan dimana kau tidak boleh menyentuh fisik seseorang tak dikenal, secara disengaja… dan itu disebut dengan sopan santun, shuck-face."

"Wow. Kau dan manner-mu.."

Charlie tertawa secara natural dan Baekhyun pikir itu kurang ajar.

"Aku sibuk. Cari saja orang lain yang ingin tertawa denganmu di jalanan karena kalau kau ingin tahu, aku belum segila itu." Baekhyun hendak pergi dengan langkah besar-besar namun sebuah kalimat menahannya.

"Aku sering melihatmu di pertunjukkan kecilku."

Jika yang dimaksud Charlie adalah pertunjukkan dimana ia bernyanyi di pinggir jalan dengan alunan gitar akustik maka Baekhyun tidak akan membantah. "Lalu?"

Charlie mendekatkan tubuhnya, mereka berhadapan. "Aku penasaran karena hanya kau satu-satunya orang disana yang tidak pernah membayarku."

"Tidak pernah ada yang membayarmu."

"Mereka membayarku dengan senyuman."

Pemikiran bodoh. Baekhyun ingin sekali menertawakan namun itu sama sekali bukan gayanya. Alasan kenapa orang ini terus mengganggunya hanya sebatas itu? Ya Tuhan, ini sungguh keren. Memangnya dia siapa? Orang dengan determinasi bodoh yang berpikir bahwa manusia berhak bahagia? Klise, sungguh klise dan kuno.

"Jadi aku penasaran, apa ada yang salah dengan laguku, atau memang orang ini sangat sulit untuk tersenyum?"

Baekhyun mengangkat kedua tangannya. "Baik…baik, Bung. Mari kita resmikan ini. Tidak ada masalah denganmu, sama sekali tak ada. Ini hanya tentang seseorang yang terlalu malas untuk tersenyum karena ia punya setumpuk pekerjaan, orang-orang menyebalkan, dan yang terburuk… orang itu adalah aku sendiri."

Tidak, Baekhyun tidak sedang mengeluh. Ia berbicara tentang kenyataan dimana semuanya tak selalu sejalan dengan angan. Ia berharap Charlie tidak menanggapinya lain sebagai seseorang yang selalu muak terhadap apapun –meskipun pada faktanya memang begitu. Dan Baekhyun akan sangat menghargai apabila pemuda itu berjalan pergi sekarang juga, tanpa pernah menengok ke belakang atau bertingkah seolah mereka pernah saling berbicara.

"Kau membuatku semakin penasaran."

Namun, sepertinya Baekhyun harus lebih berusaha lagi.

"Apa maumu?" Si pemuda mungil lelah mengelak dan mulai memikirkan sebuah negosiasi, atau apapun itu yang bisa menendang jauh Charlie dari kehidupan damainya sekarang. "Namaku? Kau ingin tau namaku?"

"Aku sudah tahu namamu, Brien." Charlie mengekeh jenaka.

"Baiklah, pekerjaanku? Pekerjaanku adalah duduk di sebuah kantor –percetakan buku, menjawab telepon bagi bosku, menulis laporan omong kosong, seharian berhadapan dengan layar komputer. Umurku dua puluh tiga. Tinggal sendirian di sebuah apartemen busuk yang kau sendiri tidak akan mau untuk sekadar mampir kesana—"

"Kupikir kau bukan tipe orang yang banyak berbicara." Charlie lagi-lagi tersenyum jenaka. "Maaf sudah menilai terlalu dini."

"Oh my—lupakan." Baekhyun mengibaskan satu tangannya ke udara. Dia sudah selesai dengan semua omong kosong ini. Tidak ada negosiasi. "Selamat tinggal."

Baekhyun belum pernah merasa begitu kesal dengan orang baru, tidak sampai ia bertemu Charlie. Pemuda ini benar-benar sialan. Dan kali ini ia benar-benar berjalan pergi, tak mau tahu dengan apa yang terjadi selanjutnya.

Begitupun dengan wajah kecewa yang ditunjukkan Charlie. Ia benar-benar tidak mau tahu.

.

.

.

.

.

Seminggu berselang sejak hari dimana Baekhyun berbicara dengan Charlie untuk yang pertama, dan mungkin terakhir. Awalnya ia mengira akan memiliki rutinitas baru disela hidupnya yang monoton dan membosankan ketika dirinya mampir untuk melihat pertunjukkan akustik di tepi jalan. Namun semuanya berbalik arah ketika ia mengetahui seperti apa pemuda dibalik itu semua. Tidak lebih dari pemuda konyol yang ingin tahu urusan orang lain.

Kembali ke hidup yang membosankan, mengesalkan, dan semakin inginlah dirinya mengubur jasad di dalam tanah. Entah kenapa. Ia tak lagi tertarik dengan musik klasik dan suara merdu yang samar-samar sering terdengar kala dirinya berjalan melewati beberapa kerumunan yang berkumpul di depan sebuah toko jam tangan –pertujukkan si musisi jalanan. Tidak karena ia selalu ingat betapa menyebalkannya orang itu. Dia yang selalu ingin tahu, senyum jenakanya, dan kedua alisnya yang terangkat karena menyeringai. Baekhyun benci itu semua.

Semakin benci karena pada faktanya, semua itu tak pernah berhasil keluar dari benaknya.

For God's sake, ia sama sekali tak berniat untuk menyimpan semua memori singkat tentang Charlie hingga sedetail itu. Kalau boleh jujur, ini sangat mengganggu. Dimana terkadang rekan kerjanya bisa terlihat seperti Charlie yang sedang mengintipnya dibalik komputer dengan wajah nakal, namun kenyataannya tidak demikian. Atau halusinasi tentang lagu-lagu klasik yang sering terdengar di telinganya di malam hari sebelum tidur, padahal sebenarnya hanya hening yang menemaninya malam itu. Atau yang lebih tidak waras lagi adalah ketika wajah Charlie tiba-tiba seolah terlihat di depan cermin kala ia menggosok gigi di pagi hari. Hingga Baekhyun sendiri berpikir bahwa semua ini telah pergi ke level yang cukup menakutkan.

"Brien?"

Sebuah panggilan singkat cukup untuk membuat Baekhyun kembali ke dunia tempatnya berada. Ia mengalihkan wajahnya ke kanan, dimana disana berdiri tepat seorang pria yang baru saja menyebut namanya. Pria tersebut adalah Joe, rekan kerja –atau setidaknya Joe menganggapnya sebagai rekan kerja— di kantor ini.

Baekhyun menggunakan kerutan dahinya untuk bertanya, Apa?

"Aku dan yang lain berniat pergi ke klub untuk merayakan ulang tahun James, kau ikut bersama kami?"

Who the hell is James?

Jujur saja ia tidak begitu mengenal pekerja disini. Jika bukan karena Joe seringkali tertangkap matanya dan mengajaknya bicara hal-hal remeh, ia bahkan tidak akan ingat nama pria itu.

"James, dia baru disini. Pindah sejak satu bulan yang lalu." Terang Joe, seolah ia bisa membaca pikiran Baekhyun.

Baekhyun ingin berterimakasih secara ironi. Jangankan dia yang baru satu bulan, mereka yang berada disini bertahun-tahun pun ia tidak kenal betul.

"Kurasa tidak." Baekhyun mengatakan keputusannya yang ia ambil tanpa pikir panjang. Ia tak suka pesta, tak suka keramaian.

"Oh, kau ada rencana malam ini?"

"Tidak juga."

"Mungkin kau bisa—"

"Tidak."

Joe melipat bibirnya ke dalam. Ia terlihat akan meninggalkan meja Baekhyun namun berbalik dalam beberapa detik, "Okay. Tapi jika kau berubah pikiran, kau bisa menelponku untuk menjemput—"

"Tidak."

Joe mengangguk dengan senyum terpaksa. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin namun Baekhyun adalah Baekhyun. Orang yang selalu mendorong paksa keluar siapapun yang berani untuk mendekatinya.

"Sudah kubilang dia tidak akan mau, kau keras kepala." Terdengar suara perempuan dengan tawa menyusul di belakangnya. Baekhyun melirik sekilas. Ke tempat dimana Joe biasa berkumpul dengan rekan-rekannya yang lain. Meski kerap kali tak sengaja mencuri dengar bahwa mereka tengah membicarakannya, Baekhyun selalu menolak peduli. Yang ia lakukan hanya memberi tatapan mind-your-own-goddamn-business-bitj pada mereka. Selain itu tidak ada.

Mereka tidak bermusuhan, tidak pula berteman. Baekhyun sudah cukup puas dengan semua itu. Meski terkadang ada saat dimana ia sendiri butuh seseorang untuk bisa diajak berbagi cerita. Tentang harinya, pekerjaannya, dan apapun termasuk seperti apa yang ia alami sekarang.

Secara tidak sadar, ia kembali mengingat Charlie. Yang mana itu cukup mengganggu dan sialanya,

Baekhyun tidak punya siapapun untuk berbagi kisah tentang Charlie.