Chapter 2: Fix You


"Hey, it's you again."

Baekhyun memilih Don Bridge sebagai tempat singgah kala itu. Hanya ditemani sebatang rokok menyala yang terapit di jarinya, serta hembusan angin yang dingin di bulan November akhir. Ia berniat menyendiri dari keramaian. Namun nampaknya, hal sesederhana itu pun sulit dilakukan sebab ada saja orang yang mengganggunya.

"Yeah, it's me again. What a coincidence." Baekhyun membalas sarkastik.

Pria yang menyapa duluan adalah Charlie, yang kini menyandarkan sisi tubuhnya di besi jembatan. Wajahnya menghadap pada Baekhyun.

"Sedang apa kau sendirian disini, Brien?"

"Entahlah." Baekhyun mengangkat bahu. "Percobaan bunuh diri, mungkin?"

Charlie lantas menengokkan kepalanya ke bawah, dimana air sungai di sana adalah hal yang ia temukan setelah ketinggian. "Mengerikan. Terjun ke sungai merupakan hal terakhir yang akan kulakukan diantara semua daftar cara bunuh diri lainnya. Aku lebih suka mengiris pergelangan tangan."

"Klasik." Baekhyun menanggapi dengan nada tak tertarik.

Mereka saling diam untuk beberapa detik lamanya. Suara kendaraan yang berlalu lalang sedikit demi sedikit mulai berkurang. Karena menjelang tengah malam, orang-orang normal memilih untuk beristirahat. Bukan berdiri di tepi jembatan sambil mengobrol tentang bunuh diri.

"Kalau kau tidak keberatan, bisa tinggalkan aku sendiri?" yang lebih pendek bertanya dengan sopan. Besar harapan supaya Charlie mendengarkan dan pergi tanpa beban. Namun ia harus tahu bahwa pria di depannya merupakan si keras kepala menjengkelkan.

"Aku punya banyak waktu luang. Di samping itu, ini tempat milik publik." Charlie berbicara mengenai fakta. "Ngomong-ngomong, boleh kutahu nama Korea-mu?"

"Kau menjengkelkan."

"Aku masih ingin tahu namamu." Charlie tidak menyerah. "Punyaku adalah Park Chanyeol."

Baekhyun menaikkan alis secara imajiner. Ia mulai mempertimbangkan untuk memanggil pria ini dengan nama yang unik tersebut.

"Byun Baekhyun." Selepas mengucap namanya, Baekhyun melarikan pandangan ke air sungai di bawah sana. Berkedip lama dengan tatapan kosong. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya bisa secara mudah berbincang dengan Charlie (atau mungkin sekarang, Chanyeol), padahal selama ini ia begitu acuh dan kerap menghindari sebuah percakapan.

"Nama yang bagus." Chanyeol memuji dengan tulus.

"Dude, dengar. Aku tidak tahu apa yang sedang kau coba lakukan." Baekhyun berkata tiba-tiba. Kali ini pandangannya berpaku pada kedua mata Chanyeol. "Apapun itu, kau akan menyesal nantinya."

"Oh, apa ini sebuah tantangan?"

"Kau akan tahu."

Chanyeol tersenyum memamerkan gigi. Kedua tangannya mencengkeram erat di tepian jembatan. "Tenang saja. Aku sudah terlatih untuk tidak menyesali apapun seumur hidupku."

Baekhyun secara resmi tidak menyukai rasa percaya diri itu.

"Aku akan melukaimu." Baekhyun masih bersikukuh.

"Tentu saja. Kau tidak ada bedanya dengan bunga mawar-" Chanyeol mengatakannya tanpa emosi. "—cantik dan berduri."

Ini hanya percakapan konyol…

Ini hanya percakapan konyol…

Ini hanya…

"Aku harus terluka untuk dapat memelukmu." Chanyeol kembali melanjutkan.

Baekhyun tertawa. Ya, dia baru saja tertawa. Namun itu bukan tawa yang bagus. "Kau sungguh aneh." Ujarnya seraya memegangi perut.

Chanyeol masih memperhatikannya. Ia tidak merespon atas ucapan Baekhyun barusan. Melainkan masih menunggu apa lagi yang akan keluar setelahnya.

Baekhyun yang sebelumnya tertawa, kini mengubah raut wajahnya dengan menjadi serius dan dingin.

"Tinggalkan aku sendiri, orang asing."

.

.

.

.

.

Di malam yang sama, Baekhyun meringkuk di tempat tidurnya.

Chanyeol berkeliaran dalam benak. Bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia memperkenalkan diri, bagaimana ia beramah-tamah, dan bagaimana ia peduli. Semuanya berlarian dengan keras di pikiran Baekhyun dan pada titik tertentu, ia merasa bersalah. Apa dirinya terlalu kasar? Apa dirinya telah bertindak dengan amat sangat buruk?

"God…"

Baekhyun menutupi kedua matanya dengan punggung tangan.

Ia hanya ingin menjaga jarak. Lagipula Chanyeol yang menerobos masuk ke dalam kehidupannya merupakan sesuatu hal yang aneh. Ia tidak melihat alasan apa yang mendasari pemuda itu untuk mencoba mengenalnya, atau berteman dengannya. Baekhyun hanya belum bisa menerima itu.

Baekhyun kemudian membuka pandangannya dan melihat ke langit-langit. Hiasan bintang di sana mengingatkannya akan banyak hal.

Bahwa dulu ia adalah sebuah pensil warna yang menari-nari di atas kertas putih. Bahwa ia pernah memiliki keinginan untuk memenuhi mimpinya dengan menyatukan warna demi warna. Namun perlahan ketika mimpi itu hendak terwujud, tiba-tiba ia patah. Ia rusak dan itu menjadikan dirinya ragu untuk kembali membuat warna. Ia tidak pernah bermetamorfosis dengan sempurna.

Baekhyun mengingat semuanya dan ia ketakutan. Tidak ada yang berusaha untuk menyelamatkannya. Sebanyak apapun goresan yang ia buat di sekujur tubuhnya, mereka tidak pernah peduli. Karena ia telah terlanjur patah. Maka ia pun berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari dunianya yang kacau. Berharap semua akan baik-baik saja setelah ia menghilang.

Namun sayang, ia tak pernah baik-baik saja. Karena kerusakan yang ia alami begitu hebat. Menghantuinya bahkan pada setiap langkah yang ia tapaki. Sehingga ia merasa tidak ada lagi yang bisa diperbaiki dari hidupnya. Dan maka dari itu, ia selalu mencoba untuk mati.

Tangisnya pun pecah.

Sekali lagi ia menangis. Atas kesendiriannya. Atas kekecewaannya terhadap dirinya sendiri. Atas semua yang telah ia lakukan dan semua yang tidak bisa ia lakukan.

"I wish I was dead…"

.

.

.

.

.

Hari pertama biasa saja.

Hari kedua, ia mulai gelisah.

Di hari ketiga, ia mulai mencari Chanyeol.

"Dammit!" Baekhyun mengutuk di bawah napasnya. Jam kerjanya telah usai sejak lima belas menit yang lalu dan sekarang ia tengah berjalan di trotoar. Berniat untuk mampir ke suatu tempat di sudut kota yang ia sama sekali tidak pernah memimpikan hal itu akan terjadi.

Otaknya telah memanipulasi rasa bersalah yang ia alami dan bersikeras untuk tetap menjaga jarak dengan si orang asing tersebut. Namun hatinya berkhianat. Nuraninya berteriak meminta tolong dan Baekhyun tahu pada siapa ia harus mengadu.

"…And if you hurt me… that's okay baby only words bleed~"

Suara merdu itupun mulai memasuki telinga Baekhyun. Ia telah sampai di tempat tujuannya. Pertunjukkan Chanyeol tidak pernah terlalu ramai pengunjung. Itu sebabnya si musisi jalanan akan mudah mengenali saat Baekhyun berdiri untuk menikmati musiknya. Tunggu, bernarkah ia datang untuk itu?

"Wait for me to come home~"

Hingga pertunjukkan usai bersamaan dengan tepuk tangan penonton, Baekhyun masih berdiri di sana, masih tanpa senyum. Lalu ketika kerumunan orang mulai membubarkan diri, ia melangkah maju menemui Chanyeol yang sedang mengemas gitarnya; bersiap untuk pergi.

"Kurasa Ed tidak bercanda saat mengatakan bahwa urat senyummu sudah terpotong sejak lahir."

Bukan Baekhyun yang memulai percakapan, melainkan Chanyeol yang masih sibuk dengan gitarnya.

"Yeah. No shit." Baekhyun meresponnya dengan nada ketus seperti biasanya.

"Aku tahu kau akan datang." Ujar Chanyeol. Kali ini dengan wajah menghadap pada Baekhyun sembari menggendong tas gitarnya.

"Tidak keliru. Ada lagi yang akan kau ramalkan?"

"Setelah ini, kau dan aku akan menikmati sekotak muffin dari toko Barbara."

Baekhyun mengendikkan bahu.

Mereka diam selama beberapa detik lamanya. Chanyeol tak mengalihkan pandangannya dari Baekhyun, sedikitpun. Di lain pihak, Baekhyun membuang pandangannya ke jalanan. Mereka bertahan dalam posisi diam yang canggung selama beberapa lama.

"So…"

"Kupikir aku terlalu kasar padamu, di hari kemarin…" Baekhyun mengakuinya dengan jujur.

"Apa ini sebuah permintaan maaf?"

"Aku tidak pernah mengatakannya."

"Baiklah. Kumaafkan." Chanyeol mengukir senyum kemenangan.

"God, you're so annoying." Baekhyun berbisik pada dirinya sendiri. Yang mana Chanyeol masih bisa mendengarnya dan itulah tujuannya.

Nampaknya Chanyeol menganggap itu sebagai pujian. Dan alih-alih tersinggung, ia justru mengisyaratkan Baekhyun agar mereka bergegas. "Ayo pergi! Barbara tidak buka sampai malam."

Baekhyun sebenarnya tidak pernah menyetujui ajakan tersebut. Namun sekali lagi tubuhnya berkhianat. Alih-alih berjalan memutar dan pulang ke rumah, ia justru ikut dengan si jangkung dan berjalan di sampingnya.

Toko roti Barbara tidak terlalu jauh dari tempat Chanyeol biasa melakukan pertunjukkan. Jadi mereka berjalan kaki ke sana. Sepanjang perjalanan hanya diisi oleh suara-suara mesin kendaraan yang melaju di jalan. Baik Chanyeol maupun Baekhyun, keduanya memilih menyimpan ucapan masing-masing untuk nanti.

"Aku punya kupon gratis. Jadi, aku yang traktir." Ujar Chanyeol sambil mendorong pintu masuk toko roti. Baekhyun lagi-lagi mengendikkan bahu.

Aroma khas roti hinggap di hidung Baekhyun kala ia melangkah masuk. Wangi adonan, margarin cair, roti yang baru keluar dari oven… semua bercampur dan mengundang rasa lapar yang Baekhyun tahan sebelum jam kerjanya habis.

"Hai Charlie—Hai juga Brien! Aku tidak tahu kalian akan datang bersama-sama." Barbara menyapa mereka berdua yang sedang berdiri di depan etalase.

"Hai Barb!" Chanyeol melambaikan tangannya. Mencuri pandangan pada Baekhyun yang berwajah datar dan kembali pada Barbara. "Aku bertemu dengannya saat hendak kemari. Ngomong-ngomong, apa kuponnya masih berlaku?"

"Kemari biar kulihat."

Chanyeol merogoh dompetnya, membuka benda itu untuk mengeluarkan kupon gratis yang dimaksud. Ia menoleh pada Baekhyun. "Ed yang memberiakannya padaku secara cuma-cuma."

"Aku tidak bertanya."

Chanyeol tertawa kecil. Setelah menyerahkan kuponnya, ia kembali melihat macam-macam roti yang ada.

"Tentu saja ini masih berlaku. Kalian bebas memilih apapun." Ujar Barbara dengan ramah.

"Terimakasih, Barb. Kami ingin muffin."

Baekhyun merotasi bola matanya. Siapa "kami" yang Chanyeol maksud?

"Ngomong-ngomong, dimana Ed? Apa dia tidak datang hari ini?" Tanya Chanyeol saat Barbara memproses pesanannya.

"Oh, dia ada latihan sepak bola. Mengatakan bahwa sekolahnya akan mengikuti kompetisi atau semacam itu. Jadi ya, Ed tidak datang hari ini."

Chanyeol mengangguk-angguk paham, dan Baekhyun masih setia menghemat kata.

Barbara memberikan pesanan tanpa waktu yang lama. Chanyeol menerimanya dengan senang hati dan mengatakan bahwa ia dan Baekhyun akan memakannya di luar. Setelah berterimakasih, ia pun melangkah menuju pintu utama toko. Baekhyun mengekor di belakangnya.

This is stupid. Baekhyun berbisik dalam batinnya.

"Jadi, rumahku atau rumahmu?" Tanya Chanyeol di sela-sela langkah mereka.

"Apanya?" Baekhyun yang kini berdiri di sampingnya, menatap penuh iritasi.

"Ini." Chanyeol memperlihatkan muffin yang dibelinya. "Kita harus memakannya bersama-sama."

"Terakhir kali kuperiksa, aku tidak pernah setuju untuk itu."

Chanyeol tidak ambil pusing. Ia mungkin telah terbiasa dengan ketusnya Baekhyun.

Mereka berhenti berjalan saat sampai di depan sebuah toko yang sudah tutup. Cukup sepi di sana dan Chanyeol memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang dengan pemandangan jalanan yang tak terlalu ramai.

"Have a seat, please." Chanyeol mempersilakan tempat kosong di sisinya.

"I should go." Baekhyun masih berdiri, dengan kedua tangan di saku jaketnya.

"Ayolah, aku mentraktirmu bukan tanpa alasan." Chanyeol masih membujuknya. "Setidaknya jangan dulu pergi sebelum ini habis."

Ya, Baekhyun tidak pernah setuju dengan ini sejak awal. Tapi ia masih memiliki sedikit toleransi terhadap Chanyeol kali ini. Mungkin duduk selama beberapa menit takkan melukainya.

"Here you are." Chanyeol membuka kotak muffin dan membaginya pada Baekhyun.

Baekhyun mengambilnya tanpa suara. Memeluknya dengan kedua tangan untuk merasakan kehangatannya. Sebelum akhirnya mengambil gigitan pertama.

"Lihat, tidak sulit bukan?" Tanya Chanyeol seraya memakan bagiannya. Baekhyun tidak ingin berkata lebih dan memilih untuk memaku matanya pada jalanan.

"Apa yang membuatmu mengubah pikiran?"

"Just chew your damn muffin."

"C'mon…" Chanyeol menyandarkan bahunya. "Terakhir kali kita bertemu, kau mengataiku orang asing. Kalau boleh jujur, itu sedikit melukaiku. Sedikit…. Atau mungkin tidak sama sekali. Ya, apapun itu."

"Bukankah kau memang orang asing?"

"Kau tahu namaku, dan aku tahu namamu. Kita tidak lagi asing, Baekhyun."

Baekhyun merasa hatinya sedikit tergelitik saat Chanyeol mengucapkan Baekhyun daripada Brien.

"I don't know." Baekhyun menarik napas. "Terkadang aku sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiranku." Pria mungil itu berkata jujur.

Chanyeol memberinya tatapan penuh pengertian. Seolah ia betul-betul mengerti apa yang Baekhyun alami. Bahkan lebih dari itu, seolah ia mengerti hal buruk apa saja yang telah Baekhyun lewati sejauh ini. Dan itulah yang membuatnye berbeda di mata Baekhyun.

Chanyeol mengubur segala ketakutan Baekhyun akan sebuah penolakan.

"Kau tahu, sepertinya kita harus mulai berteman." Kata Chanyeol secara tiba-tiba.

"Teman?"

"Ya. Seseorang yang selalu menemanimu, mendengarkan keluh kesahmu, berada di sampingmu saat kau jatuh—"

"Maksudku, kau ingin berteman denganku?" Tanya Baekhyun dengan nada tak percaya.

"Kenapa tidak?"

Baekhyun mengekeh tidak percaya. Seolah ucapan Chanyeol adalah hal paling bodoh yang pernah ia dengar seumur hidup.

Dan ia pun menatap Chanyeol dalam-dalam.

"I warn you. I'm broken, I'm dysfunctional, I'll hurt you, and you can't help me."

Tapi sepertinya, Chanyeol tidak melihat tanda bahaya yang Baekhyun peringatkan.

"Hey… Don't worry,"

Baekhyun tidak pernah tahu darimana datangnya kepercayaan diri Chanyeol.

Ia benci itu.

Ia tidak tahu apabila Chanyeol sedang bercanda atau memang tengah bersungguh-sungguh. Jikalaupun pria itu menganggap ini lelucon, maka Baekhyun tidak akan pernah memaafkannya karena telah menujukkan sebuah harapan.

"…I will try to fix you."