Chapter 3: One Step
"Baiklah, bagaimana kalau kita mulai dengan menonton film?"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah tidak percaya. Menonton film? Serius?
Saat itu mereka sedang berjalan pulang ke rumah—tidak, hanya Baekhyun yang berjalan pulang dan Chanyeol memutuskan untuk mendampinginya. Tidak perlu diceritakan tentang pria itu yang sudah berdiri di depan kantor tempat Baekhyun bekerja saat jam pulang dan mengatakan bahwa itu hanya kebetulan.
("Kau mengikutiku?"
"Aku tak sengaja berada di sini.")
"Aku tidak suka film." Baekhyun dengan cepat menolak.
Chanyeol melompat ke depannya, dan kini pria konyol itu berjalan mundur. "Ayolah, kau bahkan belum mencobanya. Aku kenal seseorang yang bekerja di bioskop dan mungkin ia bisa memberi kita diskon."
"Aku masih tidak tertarik." Baekhyun menjawab datar. "Dan menyingkir dari jalanku."
"Satu film, Minggu ini. Setelah itu aku tidak akan mengajakmu pergi lagi."
"Kau pikir aku anak kecil?" Tanya Baekhyun, tentu saja Chanyeol akan membujuknya dengan berbagai cara dan lihat apakah ia peduli.
"Please, ini untuk merayakan pertemanan kita."
Sebenarnya Baekhyun belum setuju betul dengan ide itu.
"Aku tidak suka tempat ramai."
"Bioskop di sini tidak seramai yang kau pikirkan."
Baekhyun membuang napas. Ia menatap Chanyeol lama hanya untuk memberi tahu bahwa ia tetap menolak.
Chanyeol mundur. Ia kembali berjalan di samping Baekhyun dan mereka melanjutkan sisa perjalanan dengan keheningan.
Baekhyun masih ingat tentang beberapa hari yang lalu, dimana Chanyeol membujuknya untuk berteman. Ini adalah hal baru untuk Baekhyun tentunya. Karena dari semua orang yang pernah ia jumpai di sini, ia tak pernah secara terang-terangan diajak berteman, memimpikannya pun tak pernah. Karena ia sudah tahu bahwa orang-orang yang mendekatinya cepat atau lambat akan muak dengan sifatnya, dan Baekhyun memberi mereka kebebasan untuk berjalan keluar dari kehidupannya.
Tapi si bodoh Chanyeol terus saja memaksa. Bahkan ketika Baekhyun memperingatkan hal apa yang akan ia dapat kala mendekat padanya, pria itu tetap saja keras kepala. Baekhyun tidak ingin repot-repot mengusirnya, karena barangkali ini takkan lama. Hanya butuh seminggu, atau dua minggu sampai Chanyeol tahu betapa sulitnya hanya untuk mengobrol dengan Baekhyun.
"Kau tidak pulang ke rumahmu?" Tanya Baekhyun. Apartemen kecilnya sudah hampir dekat, dan ia tidak berniat mengajak Chanyeol untuk bertamu.
"Apa aku boleh mampir ke rumahmu?" Tanya Chanyeol.
"Tidak."
"Baiklah, mungkin suatu hari."
"Tidak akan."
"Aku akan mengubah itu."
Melihat Baekhyun yang kehabisan kata-kata untuk menyerang balik, Chanyeol lantas menyatakan kemenangannya. "Told ya—"
"Sampai nanti."
Baekhyun menyatakan perpisahan mereka dan ia melenggang pergi. Kali ini tanpa Chanyeol karena pria itu memutuskan untuk berhenti mengikutinya dan menghormati privasi Baekhyun.
"Sampai nanti, Baekhyun!"
.
.
.
.
Sebenarnya, melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang ia pikirkan adalah sama sekali bukan gaya Baekhyun.
Tapi kemudian ia mengingat-ingat kembali sejak kapan prinsip itu ia langggar. Ya, barangkali baru-baru ini. Atau lebih tepatnya ketika seseorang secara sengaja menerobos masuk ke dalam hidupnya.
Misalnya, ketika ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pergi ke bioskop bersama Chanyeol. Hal yang ia lakukan justru berlawanan. Dimana hari Minggu ini, ia justru berdiri di seberang jalan dengan Park Chanyeol yang melambaikan tangan jauh di depannya.
Baekhyun kadang-kadang ingin marah pada dirinya sendiri.
"Aku tahu kau akan datang." Chanyeol menyambutnya dengan riang. Tapi perhatian Baekhyun sedikit teralihkan karena benar apa yang diucapkan si jangkung tempo hari, tempat ini cukup sepi untuk seukuran bioskop. Atau memang mereka sedang mengalami penurunan pelanggan karena tidak ada film bagus?
"Hallo? Kau masih di sana?" Tanya Chanyeol. Baekhyun lantas mengalihkan kembali perhatiannya pada pria tinggi di depan. "Bagaimana kalau kita masuk sekarang?"
"Terserah kau saja."
Chanyeol memamerkan senyumnya. Ia pun memimpin di depan dan membawa Baekhyun ke depan tempat pembelian tiket.
"Hey wassup!" Chanyeol menyapa seseorang yang tengah menata popcorn.
"Hey Charlie! What a surprise to see you here." balas seseorang dibalik counter. "Sedang berkencan, huh?"
Baekhyun ingin tersinggung tapi ia memutuskan untuk diam dan tidak peduli.
"We'll see." Chanyeol memberinya senyuman tak terbaca. "Baek—uhmm, Brien, this is Khalid and Khalid, this is Brien."
"Nice to meet you Brien." Khalid menjulurkan tangannya untuk saling berjabat. Dari wajahnya, pria ini terlihat seperti hasil campuran Eropa dan Timur tengah. Dan jangan lupakan perangainya juga yang ramah. Terbukti dari bagaimana ia memperlakukan Baekhyun.
Baekhyun awalnya ragu, namun ia sempat mencuri pandang pada Chanyeol. Saat pria itu mengangguk untuk meyakinkan, barulah Baekhyun menyambut jabatan tangannya.
"Bagaimana hari ini?" Chanyeol bertanya pada temannya si penjual tiket.
"Yah, kau tahu sendiri. Tempat ini sudah lama ditinggalkan pelanggannya." Khalid mengatakannya tanpa beban. Mungkin ia sudah terbiasa.
"Tidak semua." Chanyeol mengangkat bahu.
"Jadi kalian ingin menonton film apa hari ini?"
"Me before you, please."
Baekhyun bahkan tidak ingin repot-repot mencari tahu film apa yang dibicarakan oleh Chanyeol.
"Dua tiket untuk Me before you. Silakan."
"Terimakasih." Chanyeol mengambil tiketnya bersamaan dengan uang yang ia berikan pada temannya tersebut.
"Ambil popcorn dan cola-nya." Ujar Khalid saat mereka hendak pergi.
"Kami tidak memesannya?"
"It's on the house, dude."
Chanyeol menaikkan alis sebelum berbalik dan mengambil traktiran dari Khalid. "Thanks dude. That's very kind of you."
"Don't mention it." Khalid mengibaskan tangannya. "Dan oh—Isaac dan aku berniat untuk datang ke rumahmu nanti malam, kau tidak keberatan?"
"Oh c'mon, kalian bisa datang kapanpun kalian mau."
Khalid mengangguk-angguk sambil mengacungkan ibu jarinya. "Well, enjoy the movie!"
Chanyeol tersenyum dan membalasnya. "We will."
Setelah beberapa momen terabaikan, Chanyeol kembali pada Baekhyun yang sedari tadi hanya diam. "Filmnya akan mulai sebentar lagi, kau mau pergi ke toilet dulu?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya.
"Okay."
Atensi mereka pun tak lama teralihkan oleh orang-orang yang baru saja keluar dari teater. Memang tidak terlalu banyak namun tetap saja membuat Baekhyun tak nyaman. Ia yang berdiri di lorong dan berjalan berlawanan arah dengan mereka yang keluar, merasa sedikit terintimidasi. Ia merasa orang-orang sedang sibuk memperhatikannya.
Weird
Disgusting!
Fuck off!
Orang-orang itu seakan tengah memandanginya. Mereka semua. Dalam pikiran Baekhyun, mereka menatapnya dengan aneh, jijik, dan itu yang membuatnya tak nyaman. Mereka menghakiminya, mengatakan bahwa ia berbeda, dan mereka memintanya untuk enyah.
"Baekhyun!"
Suara yang cukup keras itu sukses membawa Baekhyun kembali ke dunia nyata.
It's not real…
It's not real…
Everything is gonna be okay…
"Kau bersamaku?" muncul wajah Chanyeol di depannya. Lelaki itu terlihat cemas, dan untuk beberapa alasan itu membuatnya merasa sedikit bersalah.
"Maaf, aku sedikit… tidak fokus." Baekhyun menjawabnya dengan wajah yang bingung.
Chanyeol mengerutkan dahi. Ini adalah kali pertama ia mendengar Baekhyun meminta maaf, dan bahkan ini sama sekali bukan salahnya. Jelas saja ada yang tidak beres dengan si pendek itu. "Kau baik-baik saja?"
Baekhyun menghembuskan napas panjang dan menjawab, "I'm fine."
"Kita bisa membatalkannya jika kau merasa tidak nyaman—"
"Tidak." Baekhyun menolak kuat-kuat. Ia hanya tidak ingin merusak suasana karena nyaris terkena serangan panik di tempat umum. "Aku baik-baik saja. Film-nya akan segera mulai, sebaiknya kita bergegas."
Chanyeol ingin membantahnya dan menyeretnya keluar karena jelas sekali, Baekhyun baru saja kehilangan fokus selama beberapa saat dan itu tergambar di wajahnya. Namun ketika Baekhyun ingin mengalihkan pembicaraan tentang apa yang baru saja terjadi, Chanyeol tidak bisa memaksa lebih jauh. Baekhyun mungkin akan mengatakannya jika ia siap.
Mereka pun memasuki teater tanpa saling berbicara lagi.
.
.
.
.
.
"You wanna talk about it?"
Chanyeol datang dengan dua gelas kopi panas. Satu untuknya dan satu untuk Baekhyun. Mereka selesai menonton film sekitar lima belas menit yang lalu dan memutuskan untuk berkeliling sebelum pulang –Chanyeol yang mengajak, tentu saja.
"Soal apa?" Tanya Baekhyun. Ia mengambil segelas kopi dari Chanyeol dan memeganginya dengan kedua tangan.
Chanyeol mempelajari kebiasaan unik Baekhyun tersebut dan berpikir itu cukup manis.
"Kau bisa membicarakan apapun denganku."
Baekhyun berdecih. "Kau tidak tahu apa-apa."
"Oh ya? Lalu kenapa kau tidak mencoba memberitahuku?"
Ia melirik Chanyeol dari balik gelas kopi yang ia minum. "Karena itu bukan urusanmu."
"Nu-uh…" Chanyeol menggeleng tak setuju. "Aku temanmu, ingat? Dan aku sudah berjanji untuk memperbaikimu."
Baekhyun membalas dengan hening. Menengok ke atas, ia bisa melihat langit yang jelas dan kosong. Andai saja sesederhana itu masalahnya, dan semudah itu untuk memperbaiki, mungkin ia takkan memiliki beban yang cukup berat untu dipikul hingga saat ini.
Kembali matanya menangkap sosok Chanyeol dan ia berbicara. "Bagaimana kau bisa memperbaiki sesuatu saat kau sendiri tidak tahu bagian mana yang salah?"
"Seseorang pernah mengatakan padaku, saat kau mulai membicarakannya, semua akan menjadi lebih mudah." Chanyeol menjawab penuh keyakinan. "Tapi kau tidak perlu terburu-buru. Aku bisa menunggu."
"Kau tahu kau tidak perlu melakukan ini."
Baekhyun masih berusaha untuk mendorong jauh Chanyeol darinya, dari kehidupannya. Tidak ada lagi yang boleh terluka karena dirinya. Karena bukan tanggung jawab Chanyeol untuk memperbaiki hidupnya, bukan tanggung jawab siapapun selain dirinya sendiri.
"Aku tahu." Chanyeol mengangguk setuju. Ia memang tak bertanggung jawab atas Baekhyun, namun ia memiliki alasan lain.
"Hanya saja… ketika aku bisa melakukan sesuatu, tapi aku tidak melakukannya, dan saat hal buruk terjadi… kupikir itu adalah salahku."
Baekhyun mendengarkannya baik-baik. Ia tidak tahu persis motivasi apa yang dimiliki Chanyeol, entah pria itu hanya ingin ikut campur atau memang hal buruk pernah menimpanya dan ia ingin memperbaiki itu. Tetapi yang jelas, ia bisa melihat maksud Chanyeol untuk menarik keluar dirinya dari ketenggelaman.
"Apa yang terjadi?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol menarik senyum pahit. Ia menelan liurnya, dan suaranya sedikit tersendat di awal.
"Temanku… meninggal. Ia bunuh diri."
Apa?
"I'm so sorry…"
Chanyeol mengangguk dan kembali berkata. "It's been two years…"
Baekhyun memilih diam karena ini pertama kalinya ia melihat Chanyeol begitu terpukul. Jadi ia hanya akan mendengarkan, menunggu apabila Chanyeol ingin melanjutkan ceritanya.
"Dia… aku beberapa kali melihatnya berkeliaran di pinggir jembatan dengan bingung, dan aku juga bisa melihat bekas luka sayatan di pergelangan tangannya. Tapi aku tidak berani untuk bertanya, aku takut ia akan menjauhiku karena aku ikut campur. Dan suatu hari… suatu hari dia menelponku dan ia ingin bertemu denganku namun aku tak bisa, kubilang padanya aku akan menemuinya setelah urusanku selesai tapi kemudian… kemudian…"
"Hey… hey… it's okay, it's not your fault." Baekhyun tidak terlalu baik dalam menenangkan orang. Hell, bahkan ia kesulitan menenangkan dirinya sendiri. Tapi setidaknya ia mencoba.
"I could stop her." Chanyeol menatapnya dengan mata yang berair. Ia tidak menangis terisak, tidak pula terseru-sedu karena semuanya sudah tidak tersisa. Tidak ada hal lain yang tersisa selain rasa bersalah.
Baekhyun balas menatapnya dengan penuh empati. "You didn't know…"
"I knew. But I did nothing."
Baekhyun kehilangan kalimatnya. Sekarang ia tahu alasan mendasar kenapa Chanyeol melakukan semua ini, semua yang ia anggap omong kosong. Semua berawal dari rasa bersalah.
Ia mencoba menolong Baekhyun. Pria itu ingin menyelamatkannya.
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Tidak ketika aku bisa melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja ketika kau berada di depanku, kesulitan…"
"Aku mengerti." Baekhyun memotongnya dengan cepat. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu."
"Apa itu?"
"Bukan salahmu ketika seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya." Ia mengatakannya tanpa emosi. "Bukan kau."
Karena Baekhyun tahu persis dengan apa yang dihadapinya. Ia tahu persis dengan dirinya sendiri. Ia mengerti perasaan bagaimana tubuhnya ingin terus hidup sementara pikirannya terus memaksa akan kematian. Dua hal sulit yang setiap hari bertarung dalam dirinya.
"Setidaknya aku ingin menemanimu." Ujar Chanyeol. "Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa kau tidak sendirian di dunia yang sialan ini."
Tidak sendirian, ya?
Semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Dan bagaimana sebagian dari mereka bisa bertahan sejauh ini? Ya. Karena mereka saling menguatkan. Mereka saling bergantung satu sama lain.
Itu benar, dia tidak sendirian.
Bagaimana bisa ia begitu bodoh untuk menyadarinya?
Dan ia pun kembali berpikir, karena, ada benarnya ucapan Chanyeol. Selama ini ia telah kesulitan menanggung beban. Dan beban itu terasa semakin berat karena ia hanya sendirian dalam menghadapinya. Baekhyun tidak pernah mencoba untuk berbagi, bahkan jika itu hanya sebuah cerita.
Baekhyun menutupi kedua matanya dengan satu tangan. Ketika wajahnya menunduk, ia tersenyum seakan baru disadarkan oleh sesuatu.
"Chanyeol, kupikir aku telah salah menilaimu."
Pria di samping Baekhyun meliriknya, tidak tahu apa yang baru saja terjadi namun ia berharap itu adalah hal baik.
"Ayo kita berteman."
Tbc
Okay so, here's my only one problem: i can't sleep.
