Chapter 4: The Bridge
Berpikir bahwa Chanyeol membawa pengaruh berarti di hidup Baekhyun mungkin tidaklah berlebihan. Karena sebelumnya, yang Baekhyun lihat di matanya hanyalah hitam dan putih.
Lalu kemudian Chanyeol datang, menawarkan warna lain yang barangkali Baekhyun terima. Kabarnya baiknya, si Byun pemurung melakukannya. Mungkin, tidak secara ajaib semua hal yang ada dalam hidupnya berubah menjadi warna warni menyaingi pelangi. Namun di matanya, kini semua hal tidak lagi monokrom.
"Kau tidak ingin mengakhiri hidupmu. Kau hanya lupa bagaimana cara menikmatinya."
Begitu yang Chanyeol ucapkan ketika Baekhyun menceritakan betapa ingin sekali ia mati.
Mungkin ucapan Chanyeol ada benarnya juga. Apa selama ini dia memang lupa caranya menikmati hidup? Entahlah.
"Brien, kami akan pergi ke bar malam ini. Kau ikut?"
Baekhyun yang tengah merapikan mejanya, sontak menengok pada seseorang yang biasa mengajaknya bicara di tempat kerja, Joe. Pria itu seakan tidak pernah bosan meski kerap kali Baekhyun menolaknya tanpa alasan.
"Tidak." Baekhyun menjawab pendek, seperti biasa.
"Understandable—"
"Aku sudah ada janji dengan temanku."
"OH?" Joe terdengar kaget. Namun ia segera mengubah nada suaranya agar Baekhyun tidak tersinggung. "Maksudku, oh, bagus."
Tapi Baekhyun tidak tersinggung sama sekali. Mengingat ia sendiri tahu bahwa rekan kerjanya memiliki pandangan khusus terhadapnya. Si pria misterius yang sulit diajak berteman-teman. Maka cukup mengherankan ketika Baekhyun berkata bahwa dia ada janji dengan teman. Karena mereka berpikir, memangnya dia punya teman?
"Thanks." Baekhyun mengaitkan tasnya di bahu dan bangkit dari kursinya. "Aku duluan."
"Have fun!" suara Joe menggema di ruangan. Ia terdengar seperti seorang ibu yang bangga karena anaknya akhirnya memiliki teman di sekolah.
Atau setidaknya, nampak seperti itu.
.
.
Pembaruan kecil yang Baekhyun sadari sendiri adalah, ia ternyata telah membuka jalan orang lain untuk mengenalnya. Chanyeol tentu saja, kemudian disusul dengan teman Chanyeol yang lain, dan yang lainnya lagi.
Berawal dengan Baekhyun yang mampir ke rumah Chanyeol. Pria itu ternyata masih tinggal dengan orangtuanya, bukan berarti itu sebuah masalah. Chanyeol sering mengajak teman-temannya berkumpul di garasi yang disulap menjadi tempat pribadi mereka, dan rupanya Baekhyun menjadi bagian baru dari mereka tersebut (bahkan sejak ia belum mengakuinya). Dan yang lebih mengejutkannya lagi, mereka tidak terlalu buruk. Jadi, Baekhyun cukup menikmati waktu-waktu yang ia habiskan bahkan hanya untuk bermain-main.
Sabtu malam adalah jadwal rutin mereka untuk berkumpul. Biasanya hanya menonton film, bermain game, atau mungkin pergi ke luar untuk bersenang-senang. Dan malam ini, Baekhyun tidak berniat untuk melewatkannya.
"Charlie, Brien ada di sini!" teriak seorang lelaki, Isaac, ketika Baekhyun melangkah masuk dibalik pintu garasi.
Baekhyun memendarkan pandangannya, memperhatikan mereka yang sedang asyik dengan dunia sendiri. Khalid dan Justin yang tengah bermain FIFA, lalu Isaac yang kembali duduk dan membaca buku setelah menyapa Baekhyun. Belum ada tanda-tanda kehadiran si pemilik rumah.
"Hai, Brien! How was your day?" Justin bertanya, dengan mata yang masih fokus pada layar LCD di depannya.
"Good." Baekhyun menjawab, standar. Ia melangkahkan kakinya menuju sofa, bergabung dengan Isaac yang masih sibuk dengan bukunya yang berjudul entah apa.
"Yeah, selalu." Khalid menimpali. Meski ia dan Justin tengah bertikai lewat game, keduanya sama sekali tidak pernah melewatkan percakapan yang sedang bergulir di dalam ruangan.
"Oh, kau sudah datang." Terdengar suara tak asing yang selama beberapa Minggu ke belakang cukup sering ia dengar. Chanyeol, pria itu datang dari arah kamar mandi sembari mengusap kedua tangannya dengan sapu tangan.
"Ya, dan aku belum makan malam." Ujar Baekhyun santai. Seolah menunjukkan alasan utama mengapa ia bertandang ke tempat itu. Ya, kadang-kadang yang membuat Baekhyun rindu bertandang ke rumah Chanyeol adalah makan malam yang dibuatkan oleh ibunya.
"Hahahaha… Kau beruntung. Aku memasak spaghetti brulee." Ujar Chanyeol seraya berjalan menuju sebuah meja yang terletak di sudut ruangan.
"Oh? Kupikir ibumu yang masak?" gumam Baekhyun.
"Kau benar-benar beruntung," Isaac berbisik di telinga si Byun mungil. "Charlie hanya memasak untuk orang yang spesial baginya."
Baekhyun membalas ujaran itu dengan kekehan remeh. "Omong kosong."
Karena meski telah saling mengenal, nyatanya Baekhyun masih memiliki trust issue yang cukup kuat. Ia masih sering berhati-hati dan tidak langsung percaya. Namun kabar baiknya, teman-teman barunya seringkali tidak mempersalahkan itu.
"Tidak percaya? Tanya saja sendiri."
"Huh?"
"Baekhyun, ayo!" Chanyeol mengisyaratkan Baekhyun untuk mendekat.
"Kalian tidak makan?" Baekhyun bertanya pada tiga orang lainnya yang ada di ruangan.
"Kami sudah makan di luar." Jawab Isaac. Kali ini ia kembali berfokus pada bukunya.
Baekhyun hanya mengangguk singkat, dan berjalan menuju Chanyeol yang masih berdiri, menunggunya duduk bersama. Pria berperawakan mungil itupun lantas menarik sebuah kursi, berhadapan dengan Chanyeol yang mulai membalik piring.
Di mulai dari sana, dunia terasa diisi oleh mereka berdua saja. Ketiga rekannya memang masih ada di sana, namun dengan jarak pendengaran yang cukup jauh. Lagipula, mereka juga tidak ingin repot-repot bergabung dalam obrolan antara Chanyeol dan Baekhyun. Ada batasan tersendiri jika menyangkut kedua pemuda Asia tersebut. Karena meski tidak diucapkan, namun nyatanya perasaan istimewa diantara keduanya sudah bisa terasa.
"Bagaimana harimu?" Tanya Chanyeol, seraya memindahkan spaghetti ke atas piring milik Baekhyun.
"Baik." Lawan bicaranya menjawab singkat, seperti biasa.
"Hanya baik?"
Baekhyun menarik sebuah gelas berisi air minum di atas meja, dan membawa benda itu ke hadapan mulutnya. Sehabis minum, ia baru menjawab,
"Ya. Hanya baik."
"Baguslah." Chanyeol –entah mengapa, merasa senang.
"Apanya yang bagus?"
Pria itu menatap Baekhyun, masih dengan senyum di wajah. "Setidaknya harimu tidak buruk."
Baekhyun hanya mengangguk-angguk. Ya, apapun itu. Setidaknya dia bisa melewati satu hari dengan baik tanpa gangguan yang berarti.
"Isaac bilang kau hanya memasak untuk orang spesial saja." Baekhyun tiba-tiba membawa topik mengenai hal di depannya. Ia sebenarnya bukan tipe orang yang mudah penasaran, tapi berhubung Baekhyun tidak ingin melewatkan makan malam dengan sunyi, jadi ia pun berinisiatif memulai pembicaraan.
"Hahaha, dia benar." Gelak tawa mengiringi kegiatan Chanyeol yang melirik Isaac sekilas. "Apa lagi yang ia katakan?"
"Itu saja." Baekhyun mulai menyuapkan makanan. Ada jeda sesaat karena lidahnya sibuk menjelajahi sebuah rasa yang amat menggiurkan. Lezat, masakan Chanyeol sungguh lezat.
"Jadi, apa kau pernah membuatkan sesuatu untuk mereka?" Tanya Baekhyun, mengindikasikan pada ketiga pemuda lain yang ada di sana.
"Hmmm, biar kuingat-ingat…" Chanyeol menerawang ke langit-langit. "Mungkin Justin."
Oh, Apa Justin adalah—
"Saat itu kakinya patah dan harus dirawat di rumah sakit. Aku dan yang lainnya bergantian untuk menjenguknya. Dan yah, untuk menghiburnya, aku datang dengan masakanku setiap harinya." Terang Chanyeol panjang lebar.
Baekhyun kembali mengangguk-angguk. Ada hal kecil yang diam-diam menyangkut di benaknya. Apa memang memasak adalah hal yang sangat istimewa bagi Chanyeol? Karena jujur, apa yang ia makan kali ini bukan hanya enak, melainkan amat sangat enak layaknya makanan andalan restoran bintang lima –kalau ia boleh hiperbola.
"Ini sangat lezat." Baekhyun memuji, tulus. Yang mana, lagi-lagi ucapannya telah mengukir senyum di wajah si lawan bicara.
"Terimakasih."
Namun ada hal lain. Katakanlah Baekhyun belum mengenal Chanyeol lebih jauh, tapi kali ini, ia merasa bahwa ada sesuatu lain dibalik senyumnya. Bukan sesuatu yang menyenangkan, melainkan sebuah pilu.
"Kau suka memasak?"
"Suka. Tapi aku tidak ingin terlalu sering melakukannya."
Jawaban Chanyeol membuat Baekhyun refleks meletakkan sendoknya di atas meja. Sekarang ia mulai bingung, jika memang tidak suka, mengapa Chanyeol mau melakukannya? Dan bagi orang-orang istimewa saja? Apa artinya semua itu?
"Aku tidak mengerti."
Chanyeol menarik napas perlahan.
"Terkadang hal yang kau suka juga bisa mengingatkanmu pada hal-hal yang sama sekali tidak ingin kau ingat."
Buram. Masih buram. Baekhyun masih belum bisa menangkap penjelasan itu. Tidak bisa masuk begitu saja ke otaknya.
Tapi ketika Chanyeol tidak berlanjut dengan kata-katanya, Baekhyun paham untuk tidak menginvasi lebih jauh. Pria itu memiliki hak untuk menyimpan apapun yang ingin ia simpan untuk dirinya sendiri. Memangnya Baekhyun yang baru mengenalnya tak sampai dua bulan itu bisa apa?
"Kau mau lagi?" Tanya Chanyeol, setelah beberapa menit hening terlewati.
Baekhyun menjawab dengan gelengan kepala, apa yang ia terima sudah lebih dari cukup. "Terimakasih."
Dan dengan itu, berakhir pula acara makan malam mereka. Chanyeol bangkit guna membereskan sisa-sisa makan malam, tanpa suara. Menyisakan Baekhyun yang masih enggan untuk mencari bahan obrolan lain setelah mereka disiksa hening.
Namun diam-diam ia membiarkan. Biarlah, untuk malam ini saja ia tak perlu memuaskan egonya. Karena akan datang hari yang lain di mana Chanyeol mulai membuka pintu gerbangnya sendiri. Membiarkan misteri itu terbuka untuk ia hadapi. Dan Baekhyun, berjanji akan melakukan hal yang sama untuk membayarnya.
Cepat atau lambat, mereka akan membuka luka itu, bersama-sama.
.
.
.
Suatu malam di hari Rabu, Baekhyun dikejutkan oleh Chanyeol yang berdiri di depan apartemenya dan mengajak mencari udara segar.
Baekhyun menyanggupi ajakan tersebut. Diraihnya hoodie berwarna abu-abu miliknya yang menggantung dibalik pintu kamar, dan dompet serta ponsel. Bahkan dia sendiri belum tahu kemana Chanyeol akan mengajak, tapi lihat betapa ia tidak berpikir dua kali untuk mengiyakan. Berbanding terbalik dengan dia di minggu-minggu yang dulu, dia yang sulit. Sekarang Baekhyun lebih lunak demi dirinya sendiri.
Demi Chanyeol juga, barangkali.
Seiring dengan pergerakan kaki yang terus menginjaki jalanan, mereka mengisi waktu dengan mengobrol ringan. Tentang Chanyeol dengan aktivitasnya yakni bermain gitar di pinggir jalan, serta Baekhyun dengan rutinitasnya di kantor. Hal-hal sederhana yang sering mereka lewati namun selalu saja ada cerita baru di dalamnya. Baekhyun baru menyadari hal-hal itu, bahwa di setiap cerita di hari-harinya yang membosankan, ternyata bisa jadi menarik jika saja ia mau mengubah sudut pandang.
Sudut pandang Chanyeol lebih tepatnya. Dimana pria itu akan melihat cerita Baekhyun dan menafsirkannya dengan hal positif atau barangkali gurauan. Yang awalnya membuat Baekhyun diliputi rasa kesal, akan berbalik menjadi perasaan ringan seringan kertas.
"Ayo berhenti di sini."
Chanyeol menghentikan langkahnya, disusul oleh Baekhyun yang berdiri mematung sambil mengedarkan mata ke sekitar.
"Di sini?"
Don Bridge.
Jembatan yang seringkali Baekhyun datangi di kala putus asa. Saksi bisu atas keinginan-keinginan Baekhyun akan sebuah kematian. Tempat yang ia pijaki kini, menyimpan memori cukup kelam. Namun hanya ada satu hal yang sangat Baekhyun ingat tentang jembatan itu kini, bahwasanya di sinilah ia dan Chanyeol pertama kali berbagi nama asli mereka.
"Terakhir kali kita bertemu di sini, kau nyaris melompat ke sungai." Ujar Chanyeol. Matanya ia terjunkan ke bawah sana, memperhatikan aliran air yang tak begitu deras, namun cukup mengerikan untuk jadi pelarian sebagai media bunuh diri.
"Ya." Baekhyun turut melakukan hal yang sama dengan Chanyeol. Memenjarakan tatapannya ke bawah sana. "Hari itu aku gagal. Karenamu, kurasa."
"Benarkah?"
"Setidaknya itu yang ingin aku percayai." Ujar Baekhyun. Punggungnya kini bersandar di pembatas, dan kepalanya masih menoleh pada Chanyeol. "Kenapa tiba-tiba ingin kemari?"
Chanyeol adalah orang yang aneh, Baekhyun sudah tahu itu. Dan selama sekian hari menghabiskan waktu denganya, Baekhyun mempelajari hobi Chanyeol yakni membuat orang lain bertanya-tanya atas tindakannya.
"Entahlah. Hanya ingin mengobrol denganmu di sini. Dan kebetulan kau tidak keberatan, hehe…"
Cengiran khasnya terpampang. Membuat Baekhyun merotasi bola mata dengan senyuman tipis. Dasar…
"Hidup itu lucu ya."
Baekhyun membuang wajahnya ke langit di bulan Desember. Gelap dan memancarkan kedinginan. Entah kenapa suasana ini justru membawanya untuk bernostalgia.
"Saat kupikir semuanya harus berakhir, kau justru datang…" Si pendek berbicara tentang seseorang yang berdiri di sampingnya. "Memulai segalanya." Lanjutnya.
"Aku hanya ingin melakukan apa yang kumampu. Selagi bisa," Chanyeol menjeda kalimatnya demi melirik Baekhyun sesaat. "Untuk membuatmu tetap hidup."
Mereka sama-sama diam sampai Chanyeol kembali berucap.
"Karena terkadang, sesuatu yang ingin kau buang, bisa jadi merupakan sesuatu yang tengah orang lain perjuangkan."
Saat itulah Baekhyun berhenti menatap langit. Kali ini, kedua matanya bertemu dengan tatapan Chanyeol yang sendu. Bukan Chanyeol yang selama ini ia kenal. Orang ini terlalu asing bagi dirinya.
Apakah pada akhirnya, Chanyeol pun menyerah dan menunjukkan sisi terlemahnya?
Tapi memangnya siapa Baekhyun untuk menilai. Chanyeol pun manusia. Dan sejak awal, ia tak pernah bertanggung jawab atas hidup Baekhyun.
"Kupikir aku bisa menyimpan ini sampai nanti, sampai setidaknya kau telah mengubah pandanganmu terhadap kematian. Tapi tak kusangka, ternyata datang juga hari di mana aku merasa tak memiliki pegangan." Chanyeol berkata panjang lebar. Baekhyun masih menebak kemana arahnya, masih tetap samar.
"Aku berjanji untuk memperbaikimu, Baekhyun. Aku masih mencobanya." Chanyeol kembali berujar. "Tapi hari ini, rasanya sedikit lebih berat dari hari-hari sebelumnya."
Apakah mereka akan berakhir dengan beradu pilu?
Namun jika memang Chanyeol memiliki satu kartu yang amat ingin ia keluarkan, maka Baekhyun pikir ia bisa melakukan hal yang sama.
"Hey," panggil Baekhyun. Meraup seluruh atensi Chanyeol supaya berpusat hanya padanya. "Ayo kita saling terbuka."
Chanyeol membalasnya dengan kekehan hambar. "Kau sudah membuka pintumu untuk kumasuki, Baekhyun—"
"Ada satu hal yang ingin sekali kukatakan padamu."
"Tentang?"
Tentang awal dari semua petaka…
"Tentangku." Baekhyun menarik napasnya. "Jadi jika ada yang ingin kau katakan sekarang, maka jawabanku adalah: ayo kita saling ungkapkan bersama-sama."
Karena perlahan Baekhyun sadar. Ini bukan lagi tentang dirinya. Melainkan tentang ia dan Chanyeol. Dua orang yang telah saling menemukan dan berakhir mengais sedikit-demi sedikit harapan.
"Entahlah." Chanyeol terdengar tak yakin. "Mungkin setelah kukatakan, kau tidak akan lagi memandangku dengan cara yang sama."
"Kupikir itu juga akan berlaku bagimu."
Baekhyun siap. Sudah sangat siap dengan apapun yang akan terjadi pada mereka setelah ini.
"Baiklah."
Pada akhirnya, tercapai sebuah kesepakatan. Untuk mengatakan apa yang terjadi dalam pikiran, dan apa yang tengah diperjuangkan.
"Bagaimana kalau kita mengatakannya secara bersamaan?" tantang Baekhyun, lagi. Dan Chanyeol mengangguk menyetujui.
Keduanya lantas saling melempar tawa. Tawa pelan yang menyakitkan. Barangkali mereka tengah menertawai diri sendiri. Karena, apa yang lebih lucu daripada hidup ini?
Tawa itu kemudian meredup. Tergantikan dengan atmosfer serius yang tergambar dari wajah masing-masing. Baekhyun membalas tatapan Chanyeol dan di detik-detik berikutnya, mereka saling mengangguk untuk memberi pertanda.
Pertanda untuk berbagi plot twist di hidup mereka berdua.
"Aku sakit kanker."
"Aku seorang trans."
