REDEMPTION
Shingeki no Kyojin Isayama Hajime
Levi Ackerman x Eren Jäegar
summary : Foto yang tak sengaja Eren ambil malam itu ternyata membuatnya harus berurusan dengan sosok yang selalu ia hindari. / "Tunggu— Sensei, apa yang kau lakukan?!" — "Hm? Anggap saja pembalasan karena kau mengetahui identitasku.
cekrek
Eren mengamati hasil jepretannya, raut wajahnya terlihat lesu. Ia kembali mengeker hiruk pikuk kampusnya melalui lensa kamera.
cekrek
Layar kamera menampilkan dua gadis dengan candidnya berjalan bersama —saling menatap dengan tawa menghiasi wajah—.
Eren merasa tak semangat hari ini, entah karena tugas kuliahnya yang semakin banyak atau tuntutan sebagai seorang fotografer untuk mendapat foto yang menakjubkan.
Tak ada yang menarik lagi, Eren menarik diri pergi ke sudut lain, ke lapangan di belakang salah satu gedung kampusnya.
Lapangan yang seluas lapangan sepak bola tetapi tanpa rumput hijau yang tumbuh. Hanya tanah dengan debu-debunya yang berterbangan. Tempatnya memang sepi, hanya beberapa mahasiswa berseliweran atau duduk di bangku-bangku kayu di bawah pohon.
cekrek
Lensanya menangkap seseorang berkemeja putih tengah berjalan dengan pandangan ke depan. Rambut hitamnya begitu bersinar karena cahaya matahari. Walau angel foto dari samping, sorot matanya tetap terlihat tajam dan menusuk.
Salah satu dosennya, Levi Ackerman. Mengajar di mata kuliah Matematika yang wajib di ikuti semua mahasiswa, dan tebak, mendapatkan nilai A darinya sama saja dengan lulus cumlaude dengan banyak absen kosong —mustahil. Tidak selebay itu sebenarnya, tapi memang sangat sulit untuk mendapat nilai A darinya.
Eren bersumpah untuk tidak berurusan dengannya selain karena tugas kuliah. Selain kejam dengan mahasiswa di kampus, rumor-rumor aneh turut beredar. Orang bilang, dia tak segan-segan merekomendasikan mahasiswa untuk dropout dari kampus jika tidak sesuai aturannya, tidak heran hampir semua mahasiswa takut dengannya.
Dan satu rumor lagi yang membuat bulu Eren merinding, Levi Ackerman adalah seorang gay. Ketika mendengar hal itu dari Armin —sahabatnya yang juga seorang gay—, Eren menganga tak percaya. Bukan karena dosennya itu yang ternyata seorang gay —toh bukan lagi hal tabu tentang hal itu—, tetapi ia hanya tak nyaman, jika berbicara jujur, Eren takut dengan dosennya itu. Bukan karena imagenya yang kejam, tetapi aura yang mengelilingi dosen itu, mengerikan.
Dan saat itu ketika rumor aneh itu beredar, sepertinya hanya Eren yang terkejut. Sebab teman lelakinya bersikap biasa saja seolah itu bukan hal besar, apalagi teman wanitanya yang semakin menggilla kepada dosen itu setelah mendengar rumor tak enak itu. Mengingatnya saja membuat Eren bergidik ngeri.
"Ada masalah, Jäegar?"
Eren mendongak, ia terkejut dan sontak menyembunyikan kameranya di belakang tubuh.
"Ha? O— Levi-sensei? Tidak, tidak ada."
Eren menyunggingkan senyuman senatural mungkin agar dosennya itu tidak bertanya aneh-aneh, seperti, kau mengambil gambarku tanpa izin? kemudian Eren akan mendapat nilai C hanya karena itu.
"Kau memotretku?"
Jantung Eren seperti berhenti berdetak, keringat membasahi telapak tangannya.
"Tidak sensei, hehe."
"Tsk, terserah saja."
Kemudian Levi berlalu pergi. Eren bernapas lega, berbicara dengan Levi seperti menaiki roller coster, memacu hormon adrenalinenya. Eren buru-buru melangkah pergi sebelum dosen itu berubah pikiran, kemudian kembali menghampirinya dan mengobrak-abrik kameranya.
Seharian berjalan membawa kamera ternyata bisa membuat lelah. Hari ini, Eren sudah mengelilingi seluruh sudut kampus bahkan tempat-tempat umumpun sudah ia datangi, tetapi tetap saja hasil jepretannya masih tak ada yang menakjubkan.
Kota ini bukanlah metropolis yang megah, tak banyak bangunan-bangunan kaca yang menjulang tinggi, hanya beberapa yang kebanyakan adalah hotel-hotel mahal. Jalanan begitu sepi, bahkan kedai 24jam yang tengah ia singgahi, malam ini juga sepi, tidak seperti malam biasanya.
Eren meneguk soda kaleng hingga habis kemudian melemparkannya ke salah satu kotak sampah. Ia memainkan kamernya, mihat hasil-hasil buruannya hari ini.
"Yo, Eren!"
Itu Jean, bersama Connie dan Shasha.
"Apa yang kau lakukan di tengah malam begini?" tanya Connie, ketiganya duduk di meja yang sama dengan Eren.
"Hanya berburu foto. Kalian sendiri?"
"Tentu saja kami makan-makan!" Shasha menyahut.
"Kami baru saja dari bioskop."
"Senangnya. Aku tidak punya waktu luang seperti kalian."
"Teme, berlagak menyedihkan! Padahal kau paling sering titip absen." maki Jean melipat kedua tangan.
"Hei, aku mau membeli sesuatu. Kalian mau?" Shasha melangkah menuju pintu kedai 24jam itu.
"Aku Soda." sahut Connie.
"Aku juga."
"Kau tidak Eren?" tanya Shasha, karena Eren sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
"Tidak Shasha, aku sudah kenyang."
"Aku malas sekali, besok harus bertemu dengan dosen kejam itu."
Ujar Jean setelah tubuh Shasha hilang memasuki kedai.
"Maksudmu Levi-sensi?" Connie membenarkan.
"Tolong jangan sebut namanya, aku bisa kena serangan jantung."
Jawab Jean dengan tangan menutup kedua telinga, seolah tak ingin mendengar nama itu.
"Serangan jantung? Kalau tiba-tiba dia datang kesini."
Connie tertawa dengan ucapannya sendiri, sementara Jean bergidik ngeri membayangkannya.
"Bisa saja seperti itu." Eren menimpali.
"Jangan buat semakin buruk, Jäegar!" hardik Jean.
"Apa? Kau benar-benar takut dengannya Jean?" Connie semakin tertawa keras.
"Tidak. Aku serius, tahu. Kalian tidak merasakannya.
Eren memajukan tubuhnya, dengan tampang seorang kakak yang tengah bercerita hantu kepada adiknya.
"Merasakan apa?" Connie bertanya, terlihat biasa saja, tidak seperti Jean yang ikut memajukan tubuhnya agar mendengar ucapan Eren dengan jelas.
"Maksudku, auranya benar-benar mengerikan. Matanya begitu mengintimidasi, seperti akan memakanku hidup-hidup."
"Benar! Aku selalu merasa di awasi jika berada di dekatnya. Hiy, merinding!" Jean menimpali, memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi hawa seram di sekitarnya.
"Kalian terlalu berlebihan! Itu hanya trauma karena kalian sering di marahi olehnya." Connie menampik tatapan kedua temannya yang begitu yakin.
"Connie, kau jangan berbicara seperti itu. Bisa-bisa dia mendatangimu saat ini." Eren menghardik dengan menggebrak meja besi itu.
"Eren jangan memperburuk!" Jean ikut berteriak tak kalah keras dari Eren.
"Hoi!"
"KYAAAAA!!"
Suara dan sosok yang tiba-tiba muncul membuat mereka bertiga berteriak kaget.
"Teme! Kau mengejutkan kami!" Jean berteriak dengan jari menuding-nuding ke arah salah satu orang yang berdiri di hadapannya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Bertolt muncul di balik tubuh besar Reiner.
"Hanya mengobrol, kalian sendiri?" Connie bersuara.
"Kami baru saja selesai menonton."
"Apa? Kalian semua pergi menonton dan tidak mengajakku? Kejamnya." Eren mendramatisir, menutup matanya dengan tangan dan berpura-pura menangis.
"Salah kau sendiri." Jean kembali duduk setelah tadi terkejut karena Reiner.
"Mina! Lihat siapa yang bersamaku." suara Shasha terdengar seperti berteriak, membuat kelima lelaki itu menoleh.
"Selamat malam, sensei." ujar Reiner dan Bertolt dengan sedikit menundukan badan.
"LEVI-SENSEI?!"
Berbeda dengan Reiner dan Bertolt, reaksi Eren, Jean dan Connie benar-benar terkejut dengan sosok di samping Shasha. Levi terlihat lebih santai namun tetap rapi, kaus putih lengan panjang dan celana hitam
Levi tidak berlama-lama disana, hanya berbasa-basi kemudian berlalu pergi dengan satu kaleng minuman di tangannya.
"Kenapa kalian tadi begitu kaget?" tanya Shasha setelah sosok Levi hilang meninggalkan area kedai 24jam.
"Tidak ada, kami hanya kaget bertemu dosen kejam di luar kampus." jawab Jean diakhiri tawa canggung.
"Sudahlah. Aku harus mendapatkan gambar yang bagus sebelum hari semakin larut." Eren berdiri dan meninggalkan teman-temannya.
"Sampai jumpa besok, Eren." Shasha melambaikan tangan.
Jam tangan Eren menunjukan pukul 23.35, belum terlalu malam tetapi kota sudah sangat sepi seperti dini hari. Tubuh Eren juga terasa sangat lengket karena belum mandi.
Eren berjalan mengelilingi taman yang berhias lampu-lampu jalanan di sekitarnnya. Ia memotret ayunan yang di sinari cahaya lampu dimana-mana, kemudian beralih pada wahan permainan lainnya, jungkat-jungkit dan prosotan.
Eren sudah begitu lelah hari ini, ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya.
Melewati jalan yang tak ada satupun selain dirinya. Eren berbelok ke kanan, menuju gang sempit yang selalu ia lewati ketika pulang kampus. Selain jarang terjamah oleh masyarakat, gang ini menjadi pemotong rute agar sampai dua kali lebih cepat ke aparatemen.
Pencahayaan yang minim membuat Eren melangkah pelan. Ia berjalan santai hingga terdengar suara besi beradu dengan semen dinding, membuat mata kantuk Eren sadar sepenuhnya. Eren berjalan sepelan mungkin, mendekati arah suara yang semakin jelas.
Eren membelak.
Sekitar seratus meter dari tempatnya berdiri. Seseorang tengah memojokan orang lain di dinding gang. Dekat dengan lampu jalan yang redup dan di bawah semacam teras untuk berteduh, sehingga membuat wajah mereka tidak terlihat jelas. Eren sudah akan berteriak, namun otak lelahnya menyela.
Bagaimana jika ada kawanannya di sekitar sini? Aku bisa mati.
Eren memilih tidak melangkah pergi, tetapi mengarahkan kameranya dan mengambil gambar sebanyak yang ia bisa tanpa peduli hasilnya. Ketika dua foto sudah tersimpan, Eren menekan tombol hingga gambar ketiga tercapture di kameranya.
Gawat.
Eren terkejut, sosok itu menoleh, menyadari keberadaannya disana. Eren berlari meninggalkan gang itu, memilih rute sebelumnya yang membutuhkan waktu lama untuk sampai di apartemennya.
Eren sampai dengan selamat di apartemennya, napasnya terengah-engah. Ia berjalan sempoyongan menuju lift kemudian menekan angka 7. Sembari Lift yang berjalan, Eren menyandarkan dirinya ke dinding lift dengan keringat membasahi tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Eren mengganti handuknya dengan celana pendek dan kaus tanpa lengan. Ia mereasa segar kembali. Ia kemudian beralih pada laptop dan mesin cetak di meja kerjanya, dan mencetak foto-foto di gang sempit tadi.
Foto pertama keluar, wajah mereka tidak jelas. Eren hanya mendapat informasi jika, korban berambut cokelat dan mengenakan baju cokelat. Semantara pelaku berbaju putih, namun rambutnya tidak terlihat.
Foto kedua tercetak, mata Eren melebar, ia terkejut bukan main. Itu bukanlah kejahatan pembunuhan, tetapi perampokan yang mengerikan. Perampokan darah. Di foto itu terlihat jelas, pelaku tengah mengigit leher kiri korban dengan darah di sekitar mulutnya. Eren bergidik ngeri.
Tidak pernah dalam pikirannya bisa bertemu makhluk fiktif itu malam ini. Tidak, bukan fiktif. Ini sudah menjadi rahasia umum, dan itu memang nyata. Bahkan tidak ada hukuman untuk makhluk penghisap darah itu, dengan dalih selagi tidak merugikan manusia mereka berhak hidup.
Foto ketiga tercetak. Eren ragu untuk melihatnya dan sudah akan memilih untuk tidur, tetapi jiwa kemanusiannya menyela.
Bagaimana jika korban meninggal? Setidaknya aku harus membantu menemukan pelaku.
Eren mengambil foto terakhir yang menjadi satu-satunya harapan. Tak jauh berbeda, foto itu tak memperlihatkan wajah ataupun yang lainnya. Selain rambut hitam, baju putih, mata yang meyalang korban, dan bibir yang merah karena darah.
Eren napas pasrah. Sepertinya dia tidak akan menemukan pelaku jika hanya dengan foto seperti ini.
Tunggu, sepertinya aku pernah melihat foto seperti itu.
Eren mengambil kembali foto terakhir itu dan mengamati benar-benar.
Tidak mungkin.
Eren menggeleng kemudian mencari foto-foto di laptopnya dan menekan opsi print di layar laptopnya. Foto itu tercetak, foto yang siang tadi tak sengaja ia ambil. Foto dosen kejamnya, Levi Ackerman.
Eren menyandingkan dua foto itu. Struktur wajah, tidak, bagaimana wajah dua foto ini bereaksi dengan kamera Eren bahkan sangat sama, yang membedakan hanya noda darah pada bibirnya. Dan ketika di kedai 24jam tadi, Levi juga menggunakan kaus putih.
Tuhan, cobaan apa ini?!
TbC!!
Pertama kali nulis di platform ini, hahaha.
Sumpah ini cuma imajinasi liar ku doang, peace.
So, maaf kalau masih banyak salah.
