REDEMPTION

Shingeki no Kyojin @ Isayama Hajime

[ Levi Ackerman x Eren Jäeger ]

summary : Foto yang tak sengaja Eren ambil malam itu ternyata membuatnya harus berurusan dengan sosok yang selalu ia hindari. / "Tunggu— Sensei, apa yang kau lakukan?!" — "Hm? Anggap saja pembalasan karena kau mengetahui identitasku.


Ternyata aku typo nama Eren di chap kemarin, gomenasai :((

.

.

.

.

Matahari menyembul di jendela kamar Eren, matanya terlalu berat untuk memulai hari pagi ini. Ia sadar ponselnya sudah berbunyi sejak satu jam lalu, entah karena alarm atau panggilan, kesadaran Eren tidak bisa membedakannya.

Driiing

Sekali lagi benda pipih itu berbunyi. Eren dengan malas meraba meja nakas di samping tempat tidurnya, kemudian menggulirkan icon berwarna hijau dan menempelkan ke telinganya.

"Moshi-moshi?"

Mata terpejam dengan suara berat khas bangun tidur menyapa pagi Eren sekaligus seseorang di sambungan telpon itu.

"EREN JÄEGER!"

Teriakan mengerikan itu membuat otak Eren mendadak sadar dan langsung mendudukan diri, dengan muka bantal dan bekas jalan sungai di sekitar bibirnya.

"H-hai Rico-senpai?"

Eren gelagapan.

"Dimana kau, Teme?! Aku sudah menunggu satu jam, sepuluh menit tidak datang, aku benar akan membunuhmu!"

"Hai senpai! Aku pergi sekarang!"

Panggilan itu terputus, Eren melempar ponselnya asal ke ranjang kemudian melompat menuju kamar mandi dan menyelsaikan rutinitas paginya secepat mungkin. Eren membersihkan muka dan giginya, lalu menyiramkan air ke seluruh badan tanpa sabun, dan melesat keluar untuk berpakaian.

Celana jeans hitam, sneaker putih, dan kaos putih bercorak fuck off , tak lupa bomber hitam untuk meminimalisir rasa dingin. Ia mengambil tas dan perlengkapannya kemudian segera pergi. Tak lupa, Eren hampir menghabiskan satu botol parfum pagi ini untuk menutupi kenyataan bahwa ia tidak benar-benar mandi.

Lift berjalan turun menuju lantai Eren, ia membenarkan letak jam tangannya di pergelangan tangan kiri. Lalu merogoh ponsel untuk melihat pesan-pesan yang belum terbaca. Tak ada yang penting, Eren kembali mengantongi ponselnya di saku bomber.

Ting

Pintu lift terbuka. Raut wajah Eren terkejut, ia ragu melangkahkan kaki memasuki kotak itu, padahal ia sedang di buru waktu, tapi melihat siapa seseorang di dalam lift membuat Eren berfikir berkali-kali.

"Tidak jadi, Jäeger?"

Suara itu lagi-lagi membuat leher Eren merinding bak di tiup angin. Eren tak menjawab, matanya mengerling kesana-kemari mencoba mencari alasan logis.

"Jadwalmu pagi ini adalah kelasku, aku tidak mentoleransi keterlambatan."

Sial aku lupa!

Eren lupa bahwa satu jam lagi adalah kelas Levi, dan saat ini ia harus segera menemui Rico. Tak mungkin Eren harus menunggu lift berikutnya yang bisa saja sangat lama.

Eren tak menjawab namun kakinya melangkah masuk ke kotak lift. Levi menakan tombol lift, lalu pintu lift tertutup dan berjalan turun. Disana hanya ada dirinya, dan dosen kejam itu.

Eren tidak suka suasana canggung dan tegang ini. Parfum khas Levi sangat menyengat jika berada di ruangan kecil dan tertutup seperti ini. Otak dan tubuhnya menjadi panas, entah karena alasan apa.

"Ano, sensei tinggal di sini?"

"Ya, lantai 10."

"Eto, Saya juga tinggal disini."

"Aku tau."

"Tapi saya tidak pernah melihat sensei sebelumnya."

"Jarang pulang kemari."

Oke, Eren sudah kehabisan bahan pembicaraan. Ia tidak tahu lagi harus bertanya apa.

"Kau pulang larut semalam?"

Eren mendongak, apakah dosennya baru saja bertanya tentangnya tadi?

"Eren?"

Levi kembali menimpali membuat kesadaran Eren kembali.

"Tidak sensei."

"Begitu."

"Sensei sendiri bagaimana?"

"Hm? Kenapa kau ingin tau?"

Mata Levi memicing, Eren menundukan pandangannya. Tak salah, tatapan Levi memang bisa memakannya hidup-hidup kapan saja.

"Ti-tidak, saya hanya bertanya. Jika sensei keberatan, tak perlu di pikirkan."

Berada di dekat dosen yang lebih pendek dari dirinya itu memang tak pernah membuat Eren tenang lahir maupun batin.

Ting

Mereka sampai di lantai dasar, melangkah keluar lift bersama, Levi berbelok ke kiri menuju mobilnya sementara Eren berjalan ke kanan, ke arah kampusnya. Ia melangkah selebar mungkin dengan kakinya agar segera sampai.

"Ayo, kursi penumpangku kosong."

Begitu ujar Levi ketika mobil hitamnya berhenti di pinggir jalan, tepat di depan Eren. Penolakan sudah akan keluar dari mulut Eren.

"Aku tidak menerima penolakan."

Levi mengintrupsi sebelum penolakan Eren sempat terucap. Eren yang tak punya pilihan lain, memilih menuruti kemauan Levi, dengan segera masuk ke kursi penumpang di samping Levi.

.

.

.

REDEMPTION —

.

.

.

Eren keluar dari mobil hitam Levi dan membungkuk sopan. Levi kembali melajukan mobilnya, sementara Eren berlari menuju tempat janjiannya dengan Rico.

"Kau lama sekali, Eren."

"Gomen senpai, aku bangun terlambat pagi ini."

"Tch! Semoga jepretanmu tidak mengecewakan."

"Hai-hai."

Eren mengambil kursi di depan Rico, kemudian mengeluarkan kameranya dan beberapa lembar foto yang sudah ia cetak.

"Kau memang bisa di andalkan, Eren!"

Puji Rico sembari melihat satu persatu foto itu.

"Ne senpai. Sebenarnya aku mendapat foto underrated tadi malam, tapi aku ragu ini tidak akan menimbulkan keributan."

"Begitu? Coba perlihatkan."

Rico meletakan kembali foto-foto itu di meja, dan melihat Eren yang tengah mengotak-atik kamernya.

Eren menunjukan layar kameranya kepada Rico. Gadis berkacamata itu tampak terkejut dan sangat penasaran.

"Woah, Eren! Ini sangat masterpiece! Hanji pasti mau membeli mahal untuk foto ini, hahaha!"

"Tapi senpai, apa ini tidak apa-apa?"

Eren mengerlingkan mata, merasa ragu jika foto itu sampai terekspos ke media masa, apalagi kampusnya. Dan akan menjadi kesialan, jika hipotesisnya semalam terbukti nyata.

"Tenang saja, Eren. Aku akan menyelidiki hal itu terlebih dahulu sebulum menyebar luaskan. Kau, jangan lupa kirim foto itu ke e-mailku!"

"Hai senpai."

"Jaa na! Aku harus pergi, thanks, Eren."

Eren menatap kepergian senior dan foto-foto yang ia cetak semalam. Eren lupa untuk sarapan pagi ini, dan lima belas menit lagi kelasnya akan di mulai. Eren memilih pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mengisi perut.

"Mikasa! Armin!"

Sapa Eren ketika melihat kedua temannya tengah mengantri di salah satu gerai kantin. Keduanya menoleh.

"Eren!!"

Teriak Mikasa sambil berlari kecil ke arah Eren. Ia memeluk Eren, seraya melepas rindu bak tak bertemu selama setahun.

"Yo! Bagaimana kabarmu, Mikasa?"

Mikasa melepaskan pelukannya.

"Aku baik. Dan ku harap kau juga begitu."

"Eren, kemarin kau tidak menunjukan batang hidung, kemana saja?"

Armin menghampiri Eren dan Mikasa dengan dua botol susu di tangannya, kemudian memberikan salah satunya kepada Mikasa.

"Aku sangat sibuk, Armin. Rico-senpai benar-benar tidak memberiku waktu istirahat."

Eren melangkah ke gerai yang sama dengan Armin, kemudian membeli satu botol minuman kopi dingin dan meneguknya hingga setengah botol.

"Lebih baik kita ke kelas sekarang. Levi-sensei bisa membunuh kita jika telat."

Armin menggaet tangan kedua temannya dan pergi meninggalkan kantin.

Tak lama setelah Armin, Mikasa dan Eren duduk di kursi, Levi datang memsuki kelas. Siswa-siswa berhamburan buru-buru kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.

.

.

.

— REDEMPTION —

.

.

.

Selama kelas tadi, Levi tidak melepaskan pandangannya dari Eren. Membuat Eren maupun teman-temannya bingung.

"Sepertinya nilaimu semester ini C, Eren."

Kata Jean berdiri di depannya dengan tampang mengejek.

"Sialan! Jangan memperburuk, Jean!"

Terlihat sekali jika wajah Eren gelisah dan takut akibat perkataan Jean. Dan Jean tertawa puas dengan reaksi Eren.

"Eren, kau mau kemana hari ini?"

Armin dan Mikasa datang menghampiri.

"Mungkin berburu foto lagi."

"Eren, Armin, aku harus pergi. Club ku akan segera mulai."

Mikasa menepuk pundak Eren dan Armin bergantian kemudian pergi meninggalkan kelas. Armin melambaikan tangan, menghantarkan kepergian Mikasa dalam diam.

"Ne Armin, kau sendiri bagaimana hari ini?"

Eren membereskan tas dan kamernya. Hari ini hanya ada satu kelas saja, yaitu matematika, sehingga waktu luang Eren sangat longgar.

Armin terlihat berpikir akan mengeluarkan jawaban apa.

"Hmm, mungkin menyelsaikan projek dengan Annie dan Jean."

"Kalo begitu, aku pergi dulu."

"Jaa na, Eren!"

Armin melambaikan tangan, kemudian beralih ke tempat Annie dan Jean untuk menyelsaikan pekerjaan mereka.

Sejujurnya Eren bingung, pasalnya ia tidak terlalu di desak untuk mengumpulkan hasil jepretannya. Bahkan, hasil kemarin lebih dari cukup.

Berbicara tentant hasil jepretannya kemarin, membuat Eren mengingat tentang satu hal, makhluk peminum darah. Ia memutuskan hari ini untuk mencari informasi di perpustakaan.

Eren menelusuri rak-rak buku bagian mitologi, dan menemukan satu judul yang sempurna,

Kebenaran Mitologi Penghisap Darah : Vampir

Membaca judulnya saja membuat Eren merinding. Buku itu lumayan tebal, dan jika harus membaca seluruhnya, mungkin Eren membutuhkan waktu satu bulan lebih.

Ia mengambil salah satu meja di dekat jendela dan mulai membaca isinya.

Dan setelah membaca hampir seluruhmya, Eren mendapat beberapa informasi penting.

Setiap musim kawin, vampir akan menandai salah satu mangsa sebagai pemasok kebutuhan selama musim kawin, dan tidak mencari mangsa lain selain yang telah di tandai.

Mangsa akan tetap hidup setelahnya, jika sial bisa saja mati karena lebih dahulu kehabisan darah atau sialnya hidup sebagai salah satu dari mereka.

Tanda-tanda jika orang telah 'di tandai' ; nafsu makan meningkat, jika berdekatan dengan 'Tuannya' akan merasakan sensasi panas dan aneh yang tidak seperti biasanya.

"Sial, membacanya saja aku merinding." gumam Eren.

"Lalu bagaimana caranya vampir itu menandai, ya?"

Eren menutup bukunya sambil berfikir demikian.

"Hei Eren!"

Suara itu. Eren mendongak, dan benar saja, seseorang yang tengah Eren hindari mengambil duduk di depannya.

"Kau suka datang kesini?"

"Pertama kalinya, sensei."

Levi memandang Eren dengan datar, tanpa ekspresi. Atau itu memang ekspresinya?

"Kau suka dengan hal semacam itu?"

Tanya Levi, pandangannya mengarah pada buku di tangan Eren. Kaget dengan pertanyaan Levi, ia segera menyembunyikan buku di balik meja. Tidak menjawab, hanya tersenyum sebagai jawaban.

"Hm, menarik juga."

Eren tidak salah melihat, Levi baru saja tersenyum— tidak, lebih tepatnya sebuah smirk yang sangat tipis.

.

.

.

.


TbC!!!!!

Nulis malem-malem emang mantep! ide lancar kek pakai wifi