REDEMPTION
Shingeki no Kyojin @ Isayama Hajime
.
[ Levi Ackerman x Eren Jäeger ]
.
summary : Foto yang tak sengaja Eren ambil malam itu ternyata membuatnya harus berurusan dengan sosok yang selalu ia hindari. / "Tunggu— Sensei, apa yang kau lakukan?!" — "Hm? Anggap saja pembalasan karena kau mengetahui identitasku.
.
.
.
.
Eren bergegas undur diri lebih dahulu setelah Levi memerogki buku yang baru saja Eren baca.
"Seharusnya aku pakai coat, salju mungkin turun sebentar lagi."
Ujarnya menggosok kedua tangan, kemudian menghangatkannya di saku bomber.
"Ereeeen!!"
Eren menoleh. Matanya mendapati Hanji tengah berlari ke arahnya dengan mengibar-ngibarkan sebuah kertas di tangan kanannya.
"Akhirnya aku menemukanmu."
"Ada apa senpai?"
Raut wajah Hanji berubah, semangat dan berapi-api. Ia mengepalkan tangan dan menpuk bahu Eren.
"Fotomu! Aku sangat berterimakasih. Sebagai gantinya, ku traktir makan siang!"
Eren mengerling kesana kemari mencari sosok yang ia kenal untuk di jadikan alasan kabur dari Hanji.
Iris hijau Eren malah mendapati Levi yang keluar dari pintu perpustakaan, berjalan pelan sambil memperhatikan mereka berdua.
"Dia sudah memiliki janji denganku."
Eren terkejut dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Levi. Hanji menoleh ke belakang.
"Yo, Levi! Sudah lama sekali tidak bertemu. Menjadi dosen setelah lulus membuatmu terlihat tua."
Eren hampir lupa jika Hanji dan Levi adalah teman, namun Levi lebih dahulu lulus dengan predikat sempurna dan menjabat dosen di kampusnya.
"Enyahlah."
Levi berhenti tepat di antara mereka berdua, dengan tangan terlipat di depan dada dan ekspresi datar seperti biasanya.
"Arè? Kau tertarik dengan Eren, Levi?"
Hanji menarik tangannya dari bahu Eren. Levi menatap sekilas Eren yang sekarang tengah menunduk.
"Iya. Bermasalah?"
Hanji tertawa terbahak-bahak dengan jawaban temannya itu. Sementara Eren menunduk semakin dalam, menahan panas di pipinya.
"Tidak di ragukan. Selera mu memang tidak pernah salah, Levi."
Masih dengan setengah tertawa, Hanji berkata sambil menepuk-nepuk bahu Levi.
"Ano, sen—"
Ucapan Eren tidak pernah selesai, karena Hanji langsung berpamitan pergi. Eren menatap nanar Hanji yang semakin menjauh meninggalkan Levi bersamanya.
"Eto, terima kasih sensei."
Eren kembali menundukan, berusaha memutus kontak mata dari Levi.
"Tidak gratis. Datang ke kamar ku malam ini."
"Eh?"
Tidak menjawab kebingungan Eren, Levi langsung menarik diri pergi meninggalkan Eren yang diam mematung.
.
.
.
— REDEMPTION —
.
.
.
Haaaah~
Eren meneguk habis gelas bir di tangannya. Seharian ini ia hanya berkeliaran tak tentu arah dan berakhir di pub kecil dekat kampus bersama Armin dan Jean.
"Kau terlihat sangat frustasi, Eren." Jean mengambil gelas cocktailnya dan meneguk hingga habis.
"Jangan-jangan, apakah karena Levi-sensei?" kata Armin memandang Eren, mengingat selama kelas tadi, Levi tak melepaskan pandangannya dari Eren.
"Kau benar. Sensei sialan itu selalu mencari-cari kesalahanku. Aku bisa gila jika berada di sekitarnya."
Eren menjatuhkan kepalanya ke atas meja lalu mejamkan mata, mengontrol kemauannya untuk minum, agar tidak semakin mabuk.
"Ne Eren, sepertinya kau terkena karma karena membicarakan Levi-sensei kemarin."
Mendengar perkataan Jean, Eren mengangkat kepala, menatap tak percaya teman sekelasnya itu.
"Kau juga membicarakannya, Jean!" ujar Eren memajukan tubuhnya ke arah Jean seolah menantang.
"Apa?! Kau yang mempengaruhi kami, Jäeger!" tak mau kalah, Jean membalas perkataan Eren tak kalah keras.
"Hei! Kalian selalu berkelahi tidak kenal tempat. Tenanglah, orang-orang memperhatikan kita, tahu!"
Armin mendorong keduanya agar saling menjauh dan kembali duduk normal seperti sebelumnya.
Eren membuang napas kasar, melirik jam yang meringkal di pergelangannya, pukul 22.32. Ini sudah cukup malam untuk menghindari Levi, sebaiknya ia segera pulang atau ia akan ambruk di jalanan.
"Aku pulang dulu. Arigato na, Jean, Armin." Eren melambaikan tangan tanpa menoleh, berjalan lurus menuju pintu keluar.
Suasana di luar ruangan sangat dingin. Musim dingin tahun ini sepertinya akan benar-benar parah. Eren mememeluk dirinya, berusaha mendapatkan kehangatan.
Karena kondisinya yang tidak seratus persen sadar, membuat perjalanan Eren lebih lama dari perkiraan. Ia baru sampai di apartemen pukul sebelas malam.
Fyuuuhh~
Eren meniup kedua tangannya, menghilangkan rasa beku. Kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil kunci kamarnya.
"Tadaima." ujarnya, kemudian menutup kembali pintu dan melenggang masuk.
"Kau mengikangari janji mu."
Eren terperanjat mendengar suara itu, namun tak mendapati sesiapa di depannya. Ia berjalan cepat menuju kamar, dan benar saja.
Levi tengah duduk di kursi dengan posisi duduk khasnya. Menatap lurus tepat mengenai Eren.
"Kau sengaja pulang larut, ya?"
Levi berdiri, berjalan perlahan mendekati Eren. Eren yang kaget dengan Levi yang tiba-tiba ada di kamarnya, tak tahu harus merespon bagaimana.
Levi mengambil tas Eren dan melatakannya asal kemudian menarik Eren dan 'membanting'nya di kasur, yang membuat otak Eren kembali sadar.
"A-apa? Sen-sei, apa yang kau lakukan?"
Levi merangkak di atas tubuh Eren, bertumpu pada kedua tangan yang mengapit tubuh Eren.
"Hm? Memberimu hukuman."
"Ap—"
Levi membungkam mulut Eren dengan ciuman yang tiba-tiba. Mata Eren membulat sempurna, dan Levi terlihat memejamkan mata, sangat menikmati dengan kegiatannya.
Sial! Aku di perkosa!
"Akhh!!"
Teriakan Eren tertahan karena Levi yang tiba-tiba menggigit bibirnya. Pertahan Eren runtuh, membuat lidah Levi bebas menjelajahi mulut Eren. Menari kesana kemari dengan lidah Eren.
Levi menarik diri, menatap Eren di bawahnya yang tengah terengah dengan muka memerah. Membiarkan air ludahnya jatuh ke mulut Eren.
"Kau... " Levi menggantungkan kalimatnya, terpana dengan Eren yang begitu mempesona dengan cahaya bulan yang memantul di wajahnya.
"Sensei, apa yang kau lakukan?" tanya Eren dengan wajah takut bercampur bingung.
Tak menjawab pertanyaan Eren, Levi kembali menjamah tubuh Eren. Mengecup pipi dan tulang rahangnya kemudian beralih turun ke leher jenjang Eren.
Levi menyesap kuat-kuat hingga Eren merintih kesakitan.
"Sshhh, Sensei... Cu-kuphh!"
Eren mencoba meronta, tapi kekuatan Levi jauh lebih besar membuat ia tak bergerak sedikitpun.
Sesapan Levi semakin menguat di iringi dengan gigitan kecil yang meninggalkan kissmark disana, Eren menggelinjang.
Levi menjamah seluruh leher Eren, menjilat jakun Eren yang naik-turun gugup. Hingga membuat pandangan Eren semakin mengabur,
Eren jatuh pingsan, tepat setelah Levi menyudahi kegiatannya.
"Sudah kuduga kau akan pingsan."
Levi mengecup bibir Eren sekilas, kemudian bangkit dan melangkah pergi.
.
.
.
— REDEMPTION —
.
.
.
Ugh! Aku mimpi di gigit vampir semalam.
Eren mengerjapkan mata, kemudian mendudukan diri.
"Apa aku lupa berganti pakaian semalam?"
Eren melepaskan seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan handuk yang melilit di pinggang.
Hoam!
Eren menguap lebar, berjalan ke kamar mandi dan berdiri di depan wastafel untuk sikat gigi.
"APA INI?!"
Eren menatap ngeri tubuh telanjangnya di cermin. Seluruh lehernya penuh dengan bercak merah, seperti cupang. Terlebih di leher bagian kiri, yang paling merah dari lainnya.
"Aw! Nyamuk jenis apa yang mengigitku?"
Eren memgang bekas cupang itu, terasa perih dan panas.
"Apa aku lupa menutup jendela, ya? Nyamuk-nyamuk sialan itu jadi bebas menjamah tubuhku."
"Sialan, aku harus memakai syal hari ini."
ujarnya kemudian mengambil sikat dan pasta gigi.
.
.
Haaaah~
Ini sudah kesekian kalinya Eren menghela napas selama perjalanan ke kampus.
"Pagi Eren!"
Eren menoleh ke sumber suara, Armin yang tengah berdiri di gerbang kampus menyapanya.
"Yo, Armin!"
"Tumben sekali kau pakai syal."
Eren meringis.
"Ya, aku kurang fit hari ini."
"Mungkin karena kau pulang terlalu larut semalam."
Eren dan Armin berjalan bersama memasuki area kampus.
"Kau tau Eren? Perkiraan cuaca malam ini akan turun salju."
"Benarkah? Cepat sekali."
Eren menghangatkan tangannya di saku jaket. Suasana memang semakin dingin, dan kemungkinan besar salju memang turun malam ini.
"Ya. Dan pemerintah bilang, musim dingin kali ini akan sangat parah sekali."
"Mengerikan. Lalu bagaimana natal nanti?"
"Entahlah. Tapi, cuti kita semakin banyak."
Matahari sudah hampir berada di atas kepala, sangat redup bahkan tidak memiliki rasa panas.
"Bagaimana bisa?"
"Kampus akan libur mulai besok, sesuai anjuran pemerintah."
"Apa? Aku akan mati bosan di apartemen."
Armin memukul lengan Eren ringan.
"Hei! Itu lebih baik tau, dari pada belajar di suhu kurang dari 0."
Walaupun hari ini sangat dingin bahkan tangan Eren serasa akan membeku kapan saja, entah karena alasan apa leher Eren yang berbalut syal terasa sangat gerah dan panas.
Eren mengibaskan tangannya di depan leher, berharap bisa mengurangi rasa panas itu.
"Ini sangat dingin, bagaimana bisa kau kepanasan?"
"Entahlah. Mungkin aku terkena demam aneh."
Eren mengibaskan syalnya pelan, menciptakan angin kecil yang menggrayang lehernya.
"Eren teme!"
Mereka berdua mendapati Jean dengan sapu tengah berlari mendekat.
"Kenapa kau membawa sapu, Jean?"
Tanya Armin begitu Jean sampai di depan mereka dengan napas terengah-engah.
"Teme! Nih!"
Jean menyodorkan sapu ke tanga Eren.
"Levi-sensei menunggumu di gudang belakang taman, sekarang. Cepatlah sebelum hukumanmu semakin berat!"
Eren menganga dengan ucapan Jean.
"A-apa? Memang aku melakukan kesalahan?"
"Mana aku tau bodoh! Sana pergi, sebelum sensei mendatangimu!"
Ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu, ketika mereka tengah asik menggosip tentang Levi dan tiba-tiba ia muncul bersama Shasha.
Tak menjawab atau berpamitan dengan Armin dan Jean, Eren berlari meninggalkan mereka dengan sapu yang di bawa Jean di tangannya.
Sial! Sensei satu itu, apa dia membenci ku?
.
.
.
— REDEMPTION —
.
.
.
Eren sampai di depan pintu ruangan penuh coretan dan tempelan kertas. Seingat Eren, ruangan ini masih terpakai oleh salah satu organisasi kampusnya.
Pegangan Eren pada sapunya mengerat, ia menghela napas. Lalu mendorong pintu dan melangkah masuk.
"Sensei?"
Suara Eren menggema. Ruangan ini cukup gelap, dan sangat rapi untuk ruangan yang jarang di gunakan.
Eren berjalan semakin masuk, tetapi tak kunjung mendapat jawaban.
ceklek!
Eren menoleh, Levi tengah berdiri di depan pintu, menatapnya.
Dia barusan mengunci pintu?!
"Sepertinya kau tidak ingat Eren."
Eren bingung dengan perkataan Levi.
"Ano?"
Levi melangkah semakin dekat hingga berdiri tepat di depan Eren.
Sial! Kenapa jadi panas sekali disini?!
Eren mengerlingkan mata, mencoba untuk tidak berkontak mata dengan Levi.
sret!Levi menarik syal Eren hingga lepas seluruhnya. Eren terperanjat, hingga memundurkan langkahnya.
"Tanda itu, aku yang membuatnya."
Eren semakin bingung dengan perkataan Levi, ia mencoba keras mengingat kejadian kemarin atau semalam yang menyebabkan bercak merah di lehernya.
"Sensei, kau—"
Eren menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia ingat sekarang. Semalam ketika sampai di apartemen, Levi sudah ada di aparatmennya dan, hal itu terjadi.
"Kau sekarang milikku Eren."
Levi mengambil kedua tangan Eren dan menurunkannya kemudian mencium bibir Eren secara tiba-tiba hingga membuat Eren terkejut.
"Nghhh.."
Eren bersuara, napasnya sudah tersenggal. Levi yang sadar menyudahi ciumannya dan menatap lekat-lekat Eren.
"Kau... benar-benar membuatku menggila, Eren."
.
.
TbC Minaaaa!!
