Naruto © Masashi Kishimoto

New Life, Give Me a Chance

Sequel of Regret In Winter

A Naruto FanFiction by UchiHaruno Misaki

.

Warn : AU, Typo, Bad feel, Boring, Pedofil Sasuke.

Rate : T+

SasuSaku with others~


Bagian 2

Suara langkah kaki menapak membuat ketiga orang yang sedang menyantap sarapan paginya menoleh. Mata mereka sedikit terbelalak lebar melihat seseorang yang kini sedang berdiri di ambang pintu ruang makan dengan penampilan jauh lebih baik dari enam bulan terakhir ini.

Ternyata Sasuke sudah dapat menerima kepergian Sakura. Syukurlah. Batin mereka lega.

Mikoto segera beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menghampiri putra bungsunya. "Selamat pagi, Sasuke. Ayo kita sarapan bersama." Dia berkata lembut sambil tersenyum hangat.

Sasuke tersenyum tipis lalu mengangguk. Mikoto menuntun Sasuke menuju meja makan, menarik salah satu kursi di sisi kanannya Mikoto mendudukkan tubuh Sasuke di kursi tersebut dengan lembut.

Fugaku tersenyum tipis. "Pagi, Nak." Sapanya datar, namun tatapannya lembut menatap Sasuke. Sasuke hanya mengangguk. Itachi diam, memandang adik sematawayangnya dengan tatapan sulit diartikan.

"Nah, Sayang. Kau ingin sarapan apa? Susu dan pie tomat?" tanya Mikoto.

"Pie tomat?" tanya Sasuke dengan sedikit bingung.

Mikoto terkekeh geli lalu mengacak helaian raven putranya lembut. "Ibu hanya bercanda, Sasu. Mana ada pie tomat, hm? Makanlah nasi goreng ekstra tomat kesukaanmu ini!"

Fugaku dan Itachi pun ikut terkekeh samar mendengar guyonan yang keluar dari mulut sang nyonya Uchiha itu. Pie tomat? Oh, mana ada pie tomat? Fugaku dan Itachi tentu tahu mengapa Mikoto berkata seperti itu. Ya, karena Sasuke begitu menyukai buah berwarna merah rasa asam itu. Berbeda dengan Sasuke. Untuk beberapa saat tubuh Sasuke mematung, namun akhirnya Sasuke hanya mengangguk dan menyantap sarapannya dengan tenang.

"Jadi, kau mau ke mana hari ini, Sasuke?" tanya Itachi di sela memakan sarapannya.

Sasuke melirik kakaknya sekilas. "Kuliah, tentu saja. Sudah enam bulan aku tidak masuk kuliah. Kau tahu sendiri, bukan?" jawabnya tak acuh.

Mikoto dan Fugaku tersenyum tipis mendengar penuturan dari putera bungsunya. "Hn, jadi kau sudah lebih baik sekarang, Nak?" tanya Fugaku.

Sasuke mengangguk sopan. "Iya. Terima kasih untuk segalanya Ayah, Ibu, Itachi-nii." Mereka bertiga mengangguk seraya tersenyum tipis.

"Syukurlah. Ingat Sasu, kehidupanmu masih panjang. Masih banyak gadis lai—"

Sasuke mendadak meletakkan sendoknya cukup keras. "Aku sudah selesai. Aku pergi." Kata Sasuke dingin. Beranjak dari kursinya tanpa menghabiskan sisa sarapannya, Sasuke melangkahkan kakinya keluar rumah setelah membungkukan tubuhnya sopan.

Mikoto menatap punggung Sasuke sendu. "Apa aku salah bicara?" lirihnya pelan. Fugaku hanya diam memandang istrinya datar, lalu tanpa berkata apa-apa pria paruh baya itu kembali memakan sarapannya dengan tenang.

Itachi menghembuskan napasnya berat. "Harusnya Ibu tidak perlu membicarakan hal itu. Aku selesai." Setelah mengatakan hal itu sang sulung Uchiha itu beranjak pergi menuju kamarnya.

"..." Mikoto menundukan kepalanya semakin dalam, "… maaf." Lirihnya.

Fugaku menghela napas lelah. "Hn, sudahlah."

Ternyata Sasuke belum sepenuhnya sembuh. Batin mereka bertiga sendu.

Di garasi. Mobil Audi putih metalik milik Sasuke perlahan keluar dari pelataran kediaman Uchiha. Setelah berhasil keluar gerbang, tanpa membuang waktu lagi Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kampusnya.

Flashback

Sakura membuka pintu rumahnya sesaat setelah turun dari motor sport milik Sasuke. "Ayo, Sasuke-kun. Ayah dan ibuku sedang tidak ada di rumah. Karin-nee juga belum pulang les. Jadi, untuk kencan kita bagaiamana kalau memasak di dapur saja?" tanya Sakura sedikit canggung.

Walaupun mereka telah berpacaran sejak dua minggu yang lalu, tetap saja Sakura merasa sedikit canggung karena sifat Sasuke yang dingin dan pendian. Tetapi Sakura tetap mencoba bersikap baik kepada sang pujaan hati.

Sasuke menyimpan tas sekolahnya di sofa kediaman Haruno, lalu melirik Sakura yang sedang berdiri di sampingnya dari ekor matanya. "Hn."

Hari ini Sasuke entah mengapa mengajak Sakura keluar. Walaupun tidak ada kata kencan yang keluar dari mulutnya, tapi Sakura menganggap itu ajakan kencan. Karena tidak tahu mau ke mana, akhirnya Sakura memutuskan untuk mengajak Sasuke ke rumahnya saja.

'Hn? Hn itu artinya iya atau tidak ya?' Sakura membatin bingung. Namun, sejurus kemudian Sakura tersenyum lebar dan tanpa memedulikan penolakan Sasuke, gadis berhelaian soft pink sebahu itu menarik tangan Sasuke menuju dapur dengan langkah riang. Sasuke hanya diam menurut mengikuti setiap langkah kekasihnya itu. Kekasih? Cih, bahkan mengingat bahwa gadis yang tengah menggenggam tangannya itu adalah kekasihnya membuat perut sang bungsu Uchiha itu terasa mual.

Sakura mendudukkan Sasuke di bangku pantry dapur. "Nah, Sasuke-kun hanya perlu duduk manis di sini dan perhatikan aku yang akan memasakan sesuatu untukmu, ya?" kata Sakura lembut. Sasuke hanya mengangguk pasrah. Terserahlah. Batinnya malas. "Bagus!" ujar Sakura seraya tersenyum tipis dan Sakura mengecup kening Sasuke lembut lalu melepaskannya kembali. Sakura dengan santai mulai mengambil beberapa adonan kue dari lemari dapur tanpa menyadari Sasuke yang kini sedang mematung seraya meraba keningnya.

Hangat ... kenapa? batinnya bingung. Entah mengapa Sasuke merasa dadanya menghangat menerima ciuman spontan dari gadis yang telah dua minggu menjadi kekasihnya itu. Harusnya ia marah karena Sakura telah lancang menciumnya namun ... entahlah.

Sasuke memerhatikan Sakura yang sedang mengaduk adonan kue dengan tatapan yang sulit diartikan bahkan oleh dirinya sendiri. Sasuke terus menatap Sakura sedang memberikan yang Sasuke yakini sesendok gula ke dalam panci adonan kue dengan serius, lalu Sakura kembali mengaduk adonan kue dengan tenaga cukup.

Terlihat keringat mengucur dari pelipisnya menuju kedua pipinya, karena terasa geli tanpa sadar Sakura menyingkirkan butiran keringat itu dengan kedua tangannya yang terlumuri adonan kue dan sontak saja Sasuke menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

"Ah … kau suka apa, Sasuke?" tanya Sakura tanpa menatap Sasuke karena ia masih sibuk dengan adonannya.

Sasuke menghembuskan napasnya pelan, "Tomat." Sahutnya singkat.

Sakura mendongak lalu menatap Sasuke polos, "Tomat? Hm, baiklah aku akan membuatkanmu pie tomat!" ujarnya riang.

Sasuke memgerutkan dahinya bingung, "Hn? Pie tomat?" tanyanya heran. Sakura menghampiri Sasuke lalu menyentil dahi Sasuke dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Sasuke tajam seraya menyentuh keningnya.

Sakura terkekeh geli, "Menyentil dahimu, apalagi? Haha, kau ini mana ada pie tomat?" ujarnya sedikit tertawa kecil. Sasuke mendengus kesal, sedangkan Sakura kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sakura mengambil sebuah pewarna makanan bewarna merah lalu menaburkannya ke dalam adonan kue itu dengan menekan botol pewarna itu kuat-kuat tapi tak keluar juga. Dengan wajah bingung Sakura membalikan botol pewarna itu ke arah wajahnya, kembali menekannya kuat-kuat.

Sakura menutup kedua matanya erat ketika merasakan sesuatu yang kental menyembur ke arah wajahnya. Sasuke kembali menggigit bibir bawahnya kuat, tapi Sasuke tak kuat lagi maka dengan spontan pemuda dingin itu tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian itu. Hey! Uchiha Sasuke tertawa terbahak-bahak? Pemandangan yang sangat langka.

Sakura membuka kedua matanya dan menatap takjub kepada pemuda yang tengah menertawakannya itu, "Sa-Sasuke-kun ..."

Sasuke mencoba kembali menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa gelinya namun ... gagal. "Sakura lihat wajahmu! Oh astaga perutku!" ujarnya di sela tawa nyaringnya.

Sakura menatap kekasihnya, sendu lalu tak lama Sakura tersenyum lembut, "Kau sangat tampan ketika tertawa seperti itu Sasuke-kun ... aku senang melihatmu seperti itu ..." ujarnya lirih.

Sasuke langsung menghentikan tawanya, wajahnya kembali datar. "Hn," sahutnya dingin, namun terlihat dengan jelas sedikit semburat merah di kedua pipi pemuda itu.

Sakura melepaskan apron merah mudanya lalu beranjak melewati Sasuke dan tentu saja membuat Sasuke mengerutkan dahinya heran. "Kau mau ke mana?"

Sakura menunjuk wajahnya yang dilumuri cairan merah, "Lihat? Tentu saja aku ingin membersihkan wajahku," lalu Sakura pergi menuju kamar mandi meninggalkan Sasuke yang tengah menyentuh dadanya yang terasa hangat.

"Kau ternyata tak sedingin yang aku pikirkan Haruno Sakura. Seperti apa kau sesungguhnya?" lirihnya pelan.

Sakura menutup pintu kamar mandinya, melirik jam di dinding Sakura mendesah ketika menyadari ia telah meninggalkan Sasuke terlalu lama. Ya, setengah jam lebih tepatnya Sakura tersenyum tipis lalu kembali melangkah menuju dapur tapi …

"… Ahahaha Sasuke hentikan geli! Lihat adonan kuenya jadi berantakan!"

"Hn, rasakan ini!"

"Kyaaaahahahahaaaa stop please!"

"Tidak!"

Sakura hanya dapat mematung di tempat melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Sang kekasih dengan santainya memeluk kakaknya yang tengah mengaduk adonan miliknya dari belakang seraya sesekali tangan jahil Sasuke menggelitiki pinggang kakaknya.

Sakura menatap mereka tak percaya. Ada apa ini? Kenapa mereka begitu intim seperti ini? Pikirnya kalut. Dengan perasaan campur aduk Sakura hendak berlalu dari sana, namun sebuah vas bunga tak sengaja Sakura senggol hingga terjatuh dan pecah. Sasuke dan Karin menoleh dan mereka membelalakan matanya ketika melihat Sakura yang tengah memunguti pecahan kaca dengan tergesa-gesa.

Dengan reflek Sasuke melepaskan tangannya dari pinggang Karin lalu entah apa yang membawanya menghampiri Sakura yang tengah berjongkok.

"Berhenti! Jangan mendekat!" Sakura mengangkat tangannya tanpa mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Sasuke spontan berhenti di tengah jalan dan menatap Sakura was-was, oh ayolah ia takut rencananya terbongkar. "Jangan mendekat Sasuke, nanti kau terluka terkena pecahan ini," ujar Sakura membuat Sasuke menghela napas lega.

Sakura berdiri lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Sasuke, "Maaf Sasuke aku tak bisa membuatkanmu kue sebaiknya kau minta Karin-nee saja. Aku lupa kalau aku punya banyak PR sekarang, bersenang-senanglah. Sampai nanti!" lalu Sakura pun melangkah menuju tangga seraya menggenggam pecahan vas bunga erat tanpa menoleh kebelakang.

"BRENGSEK! Bodoh kau, Sasuke! Bodoh!"

Sasuke terus memukul stir mobilnya. Mendengar perkataan sang ibu tentang pie tomat membuatnya kembali mengingat masa lalunya yang sangat ia sesalkan. Saat itu ketika ia tengah menunggu Sakura kembali dari kamar mandi tiba-tiba saja Karin datang dan mengacaukan semuanya. Mengacaukan? Benarkah?

Sasuke mencengkeram dadanya kuat. Jantungnya kembali berdenyut perih ketika menyadari bahwa ia pun menikmati kebersamaannya bersama Karin sehingga melupakan Sakura.

Sebelum kembali ke pantry entah mengapa Sasuke merasakan otaknya blank seketika melihat ceceran darah di lantai kediaman Haruno. Ya, ia tahu itu adalah darah Sakura. Sakura terlalu erat menggenggam pecahan vas bunga itu hingga membuat tangannya terluka.

Sasuke merintih samar ketika merasakan tak hanya jantungnya yang berdenyut perih, akan tetapi hatinya juga. Ya, hatinya begitu terasa tersayat ketika menyadari bahwa Sakura telah berhasil ia sakiti jiwa dan raganya pada hari itu.

Pandangannya mengabur karena linangan air mata memenuhi kelopak matanya, "Arggghhh! Hentikan ... kumohon hentikan! Ini sakit sekali! Sungguh!" Sasuke membuka pintu mobilnya lalu ia berlari ke arah danau dengan langkah gontai.

Sasuke terjatuh terlentang di taman dekat danau. Ia menatap langit biru di atasnya sendu, "Sakura kau lihat? Lihatlah keadaanku sekarang, apa kau sudah puas membuatku menderita seperti ini? Kembalilah Saki ... aku sakit tanpamu, kau tahu itu 'kan? Apa kau bahagia di atas sana?" lirihnya pilu.

Sasuke mencengkeram dadanya kuat, lalu menutup kedua tangannya dan untuk yang kesekian kalinya langit menjadi saksi bisu bahwa seorang Uchiha Sasuke begitu cengeng setelah gadis yang ia sia-siakan telah menghilang dari dunia ini. Menghilang ke sisi Tuhannya.

'Maafkan aku Sakura ... aku ... merindukanmu,'

Dan seketika itu pula taman yang sepi mulai terdengar berisik oleh isakan tangis, raungan dan lirihan pilu dari seorang pemuda yang tengah menampakkan sisi rapuh hidupnya tanpa sang terkasih.

Flashback

"Ayah, Ibu lihat aku mendapat peringkat ke–dua di kelas!" ujar gadis berumur tiga belas tahun yang tengah berada di pangkuan wanita paruh baya berhelaian kuning itu girang seraya memamerkan buku raportnya kepada sang ayah dan ibu.

Sang ibu tersenyum lembut seraya mengecup pipi putrinya, "Wah Karin-chan pintar sekali bukan begitu, Ayah?" tanya wanita bernama Haruno Mebuki itu kepada sang suami yang tengah menyetir di sampingnya.

Haruno Kizashi menoleh sebentar lalu tersenyum tipis, "Tentu saja putri Ayah harus pintar seperti Karin. Jadi Karin mau hadiah apa, hm?" tanya Kizashi lembut.

Karin menatap Ayahnya dengan mata berbinar-binar, "Hadiah? Wah Ayah mau kasih Karin Hadiah?"

"Hm, tentu sayang. Karin mau apa?" tanya Mebuki seraya mengelus helaian merah darah putri sulungnya itu.

Karin menatap Ayah dan Ibunya dengan senyuman lebar, "Aku mau i-phone terbaru limited edition ya, Ayah?" pintanya harap-harap cemas.

Kizashi melirik sang Isteri sejenak lalu tersenyum kecil, "Haha, tentu sayang Ayah akan membelikannya untukmu, apa pun ..." sahutnya mantap.

"Sekarang?"

"Iya, sekarang."

"Yeay! terima kasih Ayah, Ibu aku menyayangi kalian!"

"Hm, kami lebih menyayangimu, Karin."

Mereka bertiga terus saja mengobrol asik tanpa menoleh ke belakang. Tepatnya tak mengacuhkan keberadaan gadis berumur sebelas tahun yang berhelaian soft pink sepinggang yang kini tengah menunduk dalam di kursi penumpang sendirian. Ya, sendirian dengan sebuah buku raport dan piagam di pangkuannya.

Sakura berumur sebelas tahun itu menggigit bibir bawahnya kuat mencoba untuk menahan desakan air mata yang hendak keluar. "A-Ayah ..." lirihnya pelan.

Suara Sakura membuat tiga orang yang tengah bercanda ria itu langsung diam seketika. Kizashi melirik putri bungsunya itu dari kaca dashboard mobil. "Hm?" sahutnya singkat.

"A-aku mendapat peringkat pertama di sekolah. A-apa ... a-aku juga boleh meminta hadiahku?" tanyanya dengan suara sangat pelan.

Mebuki melirik Sakura sekilas lalu kembali membelai rambut Karin lembut, Kizashi terdiam sejenak sedangkan Karin sedikit mendelik ke arah adiknya tanda tak suka. Tidak Karin itu sangat menyayangi Adiknya hanya saja ia sedikit iri akan kepintaran adik sematawayangnya itu.

"Tentu boleh, Ayah akan memberikan uangnya kau belilah sendiri!" sahutnya enteng.

Untuk yang kesekian kalinya dada Sakura berdenyut perih. Menggenggam buku raportnya erat Sakura mencoba mengutarakan isi hatinya, "Ta-tapi Sakura ingin Ayah yang memberikan hadiahnya bukan uangnya ... bisakah sekali saja Sakura dapat apa yang Sakura inginkan seperti Karin-nee?" lirihnya sendu.

Dengan spontan Kizashi mengerem laju mobilnya tepat di jalan yang sepi, melepaskan seatbeltnya Kizashi dengan pasti membuka pintu lalu keluar. Mebuki, Karin dan Sakura menatap Kizashi melangkah ke sisi pintu penumpang lalu membukanya dan menarik tangan Sakura sedikit kasar.

"Keluar!"

Dengan gontai Sakura keluar dari mobil itu. Kizashi mencengkeram kedua bahu putrinya itu kencang membuat Sakura sedikit meringis kesakitan. "Dengarkan Ayah, Sakura! Sudah Ayah katakan jangan pernah menuntut apapun pada Ayah dan ibu! Dan jangan pernah berharap kami akan memperlakukanmu sama seperti kakakmu! Ingat Karin sedang sakit Sakura ... ini ambil! Pakailah kartu ATM itu untuk membeli apapun yang kauinginkan. Ayah pergi dulu." Setelah mengatakan hal itu Kizashi kembali memasuki mobilnya lalu pergi meninggalkan Sakura yang kini tengah menatap kepergian mobil itu sendu.

"Yang kuinginkan hanya kasih sayang dan perhatianmu padaku, Ayah ... bukan uangmu!" lirihnya menatap kartu tipis di tangannya sendu.

"SAKURA! TIDAAAK!" Kizashi jatuh terduduk di ruang kerjanya. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya entah sejak kapan kembali mengalir.

Bayangan masa lalu kembali menghantuinya. Setiap saat, detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan ia selalu dihantui oleh bayangan masa lalunya ketika ia menyiksa Sakura secara batin. Perlahan sangat perlahan Kizashi bersujud di lantai itu.

"Tuhan ... aku mohon kembalikan putriku, kau boleh mengambil apa pun dariku, tapi aku mohon kembalikan putriku ... kembalikan Sakuraku, Tuhan. Kembalikan dia padaku!" lirihnya pilu dalam sujudnya.

'Ayah ... jangan seperti ini aku mohon, biarkan aku pergi ...'

Kizashi mengangkat kepalanya ketika mendengar suara. Ya, itu suara putrinya Haruno Sakura. Tapi di mana? Dengan tatapan liar pria paruh baya itu menatap seluruh penjuru ruangannya dan sepi. Tak ada siapa pun di sana hanya dirinya seorang.

Delusi 'kah? batinnya masam.

Kizashi beranjak lalu memandang langit biru dari kaca kantornya sendu. Pria paruh baya itu membungkam mulutnya semakin kencang ketika dengan perlahan tapi pasti isakan itu terdengar semakin lama semakin keras.

Kizashi menyentuh kaca jendela kantornya itu lemah, "Sakura tak tahu 'kah kau bahwa Ayah ... Ayah ingin mati rasanya, Ayah rela mati saat ini juga asalkan Ayah bisa bertemu denganmu ... A-Ayah minta maaf Sakura ... kembalilah semustahil apa pun kenyataannya! Kembalilah Sakura!" Kizashi menempelkan keningnya pada kaca itu dan kembali air matanya mengalir deras.

Haruno Karin mahasiswi modeling tahun pertama kuliahnya kini tengah duduk termenung di atap kampusnya. Enam bulan sudah berlalu, tapi mengapa hatinya semakin berlubang? Semakin lama lubang itu semakin melebar.

Haruno Sakura.

Satu nama yang selalu ada di benaknya kapan pun dan dimana pun. Adik yang paling ia sayangi, ah–pantaskah ia menyebutnya seperti itu? Pantaskah sang kakak yang begitu menyayangi adiknya itu memiliki perasaan ingin menyingkirkan sang adik? Ya inilah Karin. Selama ini ia memilik rasa iri hati yang begitu kental dalam darahnya.

Bisa kalian bayangkan bagaimana irinya bocah dua tahun yang melihat orangtuanya begitu menyayangi bayi perempuan berhelaian soft pink yang baru saja dilahirkan? Ya, saat itu keberadaan Karin kecil seakan terasingkan dan untuk yang pertama kalinya Karin begitu menyayangi seseorang sekaligus membencinya di waktu yang sama.

Saat lima tahun terakhir Karin merasa tak diacuhkan oleh kedua orangtuanya karena perhatian mereka seakan teralihkan kepada Adiknya. Haruno Sakura terlahir sangat manis, cantik, baik hati, riang dan penurut, hal itulah yang membuat Karin sangat menyayangi sekaligus iri kepada adiknya sendiri.

Pada saat Karin mengetahui bahwa dirinya memiliki penyakit jantung saat itu pula ia memanfaatkan kondisi tubuhnya untuk menarik perhatian semua orang padanya dan ia pun mendapatkan apa yang ia inginkan. Perhatian orangtua, cinta seseorang yang Sakura cintai lantas apa lagi? Ya, ia sangat tahu bahwa adiknya begitu mencintai putera bungsu pasangan Uchiha itu. Maka dengan liciknya Karin terus menarik perhatian sang Uchiha bungsu dan berhasil.

Karin sangat menyayangi Sakura akan tetapi ia juga ingin Sakura merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan Karin mendapatkannya bahkan Sakura mendapatkan hal lebih parah dibandingkan apa yang Karin rasakan selama tiga tahun. Ingat Sakura bahkan merasakan rasa sakit itu belasan tahun lamanya dan pada akhir hayatnya pun Sakura begitu menderita.

"Maafkan Nee-chan Sakura!" Karin kembali menangis sesenggukan. Sungguh ia tak pernah menginginkan semua berakhir seperti ini. Dia tak pernah menginginkan Sakura pergi meninggalkannya seperti ini.

Setiap malam Karin tak pernah berhenti menangis ketika ia terus membaca lembar demi lembar curahan isi hati Sakura. Ya, Karin menemukan sebuah diary di kamar Sakura. Diary yang berisikan semua rasa sakit Sakura selama belasan tahun.

Semuanya tersusun dengan sangat sempurna di dalam buku itu. Menceritakan di mana untuk yang pertama kalinya Sakura ditampar dan di dorong oleh ayah dan ibunya karena ... dirinya.

Menceritakan di mana untuk yang kesekian kalinya Sakura terluka karena dirinya. Menceritakan bagaimana takdir begitu terasa tak adil padanya karena dirinya. Menceritakan bagaimana sakitnya Sakura ketika mengetahui tangannya cidera hingga tak dapat melukis kembali karena dirinya. Menceritakan bagaimana Sakura begitu menderita dan rapuh karena Uchiha Sasuke pemuda yang ia cintai tak mencintainya karena dirinya.

Dan terakhir menceritakan bagaimana hancurnya Sakura ketika ia divonis memiliki penyakit kelainan hati dan umurnya tak akan bertahan hingga satu tahun ke depan.

Mengingat hal itu membuat Karin semakin menangis dan meraung pilu dalam penyesalannya di atas atap Universitasnya. Semuanya berawal karena dirinya, ya karena dirinya yang terlalu egois.

"Jika saja aku tidak egois, jika saja … mungkin Sakura masih hidup sampai sekarang. Iya 'kan, ya Tuhan?" Karin menatap langit dengan air mata yang terus mengalir dari matanya yang bengkak, "kumohon, ambillah nyawaku saja. Dan kembalikan Sakura pada ayah, ibu dan Sasuke sebagai gantinya. Aku mohon ... aku mohon, Tuhan!" raungnya penuh kepedihan.

Dan untuk yang kesekian kalinya langit menjadi saksi bisu betapa menderitanya seorang manusia karena rasa penyesalan yang sangat mendalam.

Waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Di sebuah sekolah mewah terlihat para murid telah berbondong-bondong keluar dari sekolah karena baru saja jam pelajaran terakhir mereka berakhir. Seorang pemuda berhelaian raven tengah berdiri menyandar di pinggir mobilnya yang terparkir di pelataran sekolah dan tentu saja membuat para murid memandang ke arahnya dengan wajah heran.

"Hey, bukankah itu Uchiha Sasuke–senpai? Sedang apa dia di sini? Bukankah dia sudah lulus setahun yang lalu? Apa dia mau menjemput seseorang?"

"Entahlah, Sasuke–senpai 'kan hanya dekat dengan dua orang saat dia sekolah di sini dulu. Tapi apa mungkin dia mau menjemput salah satu dari mereka?"

"Tidak mungkin, Bodoh! Sasuke–senpai tidak mungkin menjemput Karin–senpai. Karin–senpai 'kan sudah lulus juga!"

"Ah, iya ya dan tidak mungkin juga kalau Sasuke–senpai menjemput Sakura dia 'kan ...,"

"Hn, kalian berdua ke sini!" kedua siswi itu saling bertatapan sejenak lalu mereka melangkah menghampiri Sasuke.

"Apa kabar, Senpai? Ada yang bisa kami bantu?" tanya siswi berambut blonde itu seraya membungkuk sopan kepada mantan kakak kelasnya, sedangkan siswi berambut merah pucat di sampingnya hanya diam.

Sasuke menatap mereka berdua datar. "Kalian satu kelas dengan Haruno Sakura, bukan?" tanya dingin.

Shion dan Tayuya saling bertatapan lalu mengangguk pelan, "Iya, Senpai. Tapi—"

"Di mana Sakura? Kenapa dari tadi dia tidak keluar juga? Padahal biasanya dia akan keluar gerbang paling awal." Ujar Sasuke memotong ucapan siswi tersebut.

Shion dan Tayuya membelalakkan kedua mata mereka lalu menatap Sasuke nanar dan iba, "Senpai ... Sakura-chan sudah tidak ada," sahut Tayuya lirih.

Sasuke menatap Tayuya dengan tatapan datar dan kosong tanpa ekspresi, "Hn? Tidak ada? Hn, gadis itu pasti sudah pulang ya? Kenapa ia tak menungguku? Dasar gadis menyebalkan!" setelah mengatakan hal itu Sasuke memasuki mobilnya lalu menjalankan mobil itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan Shion dan Tayuya yang kini menggigit bibir bawah mereka pilu.

"Padahal sudah satu tahun lebih sejak hilangnya Sakura dari sekolah dan sudah enam bulan kepergian Sakura ternyata Sasuke–senpai terlihat sangat rapuh tanpa Sakura di sisinya. Bukan begitu, Tayuya?"

"…"

Tayuya hanya diam, kemudian dia meninggalkan Shion dengan tatapan kosong. Sungguh Tayuya sangat menyesal sekarang karena semasa Sakura sekolah dia 'lah yang sering mem-bully Sakura tentang keluarganya. Perlahan tapi pasti cairan bening itu menyeruak keluar dari kedua matanya.

'Aku tidak tahu akan berakhir seperti ini, jika saja aku tahu bagaimana penderitaanmu mungkin aku tidak akan pernah menambah penderitaanmu di sekolah ... maafkan aku Haruno Sakura ... maafkan aku hikss ...'

Shion menatap punggung sahabatnya itu sendu, "Semoga kau menyadari kesalahanmu pada Sakura dulu, Tayuya." Gumamnya lirih.

Kizashi membuka pintu rumahnya pelan lalu dia melangkah memasuki rumahnya yang terasa sangat sepi dengan langkah gontai. Para maid hanya bisa diam berjejer rapi seraya menatap tuannya muram.

'Semuanya telah berubah hanya karena kepergianmu, nona Sakura ... rumah ini bagai jurang yang terasa gelap dan curam,' batin para maid sendu.

Kizashi melihat Karin yang tengah duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan kosong, "Ayah ... ada yang ingin aku sampaikan," lirihnya pelan tanpa menatap sang ayah. Perlahan Kizashi menghampiri putrinya.

"Hm, ada apa?" tanyanya kalem.

Karin menatap wajah ayahnya kosong, "Aku ingin melanjutkan study-ku di Paris, boleh?"

Kizashi menatap putrinya sendu dan Kizashi menarik Karin dalam pelukan hangatnya, "Maafkan Ayah, Karin. Seharusnya Ayah tidak mengabaikanmu selama beberapa bulan terakhir ini,"

Karin membalas pelukkan Ayahnya erat, "Tidak, Ayah. Kau pantas melakukan itu padaku, ini tak sebanding dengan apa yang Sakura terima! Seharusnya aku tidak egois, 'kan? Ini semua salahku ... ini semua salahku!" Karin menangis meraung di dalam dekapan Kizashi.

Kizashi hanya menangis dalam diam seraya mengeratkan pelukannya, "Pergilah Karin ... jangan terlalu larut dalam masa lalu. Ayah mengizinkanmu pergi ke Paris. Ayah juga akan membawa ibumu ke Kanada besok. Ibumu harus disembuhkan." Bisik Kizashi di telinga putri sulungnya. Dan Karin hanya bisa mengangguk pasrah.

Mebuki? Ya, wanita paruh baya itu mengalami gangguan syaraf kejiwaan karena depresi tinggi maka dengan sekuat tenaga Kizashi akan menguatkan hatinya dan akan memperbaiki keadaan rumah tangganya yang tak tentu arah seperti semula. Maka langkah awal yang Kizashi ambil adalah mengirim Karin keluar Negeri untuk membuat Karin sedikit menjernihkan perasaannya dan kedua Kizashi akan membawa sang Isteri ke Kanada untuk menyembuhkan kejiwaannya.

Semoga ini akan berhasil ... bahagialah di atas sana Nak, Ayah merelakanmu. Batinnya penuh kegetiran.

Terlihat seorang pemuda duduk di tepi pantai yang sangat sepi itu tengah menatap ujung cakrawala di bawah hitamnya malam dengan mata yang berkaca-kaca. Uchiha Sasuke menggigit bibir bawahnya kuat guna mencegah air matanya keluar akan tetapi … gagal. Pemuda itu untuk kesekian ratus kalinya kembali menangis dalam sepi.

"Kapan semuanya berakhir? Sampai kapan aku akan terus seperti ini? Apa yang kauinginkan dariku Sakura? Kenapa kau tak membawaku bersamamu?" mendadak hujan kembali mengguyur kota Tokyo saat itu juga dan tentunya air hujan itu telah berhasil membasahi tubuh Sasuke yang bergeming kaku.

Sasuke menyeringai, menyentuh kedua pipinya yang basah karena air mata dan air hujan yang membasahinya. Selalu seperti ini. Hujan dan salju selalu menemaninya di saat untuk yang kesekian kalinya hatinya terasa sangat sakit ketika mengingat gadisnya. Sampai kapan? Entahlah.

Aku mencoba untuk bertahan dalam sepi ini, selama ini aku terus mencoba bertahan, menjalani semuanya dalam dingin tanpa kehadiranmu di sisiku. Kau adalah cahaya dan rasa hangatku ... tanpa kau aku tak berarti apa-apa. Aku hidup tapi ... mati.

Pemuda itu mendongakkan wajahnya ke atas langit melawan derasnya air hujan yang menghujani wajahnya.

Apa kau bahagia di atas sana? Jika iya ... bagaimana denganku? Tak tahu 'kah kau aku sangat sakit tanpamu Sakura.

Tidak ada satu orang pun yang mengerti keadaannya, perasaannya dan semuanya. Hanya air mata yang selalu menemaninya ketika mengingat gadisnya, air matanya ... hanya air matanya yang menjadi saksi hidupnya saat dia kehilangannya. Kehilangan sumber kehidupannya.

Di setiap detak jantung ini hanya air mata yang menemaniku saat aku kehilanganmu ... saat aku kehilangan cahaya hidupku dalam dirimu, Sakura. Kau berhasil membuat harga diriku jatuh saat itu juga. Lihatlah, sekarang aku adalah Uchiha Sasuke si pemuda cengeng. Cih, sampai saat ini pun kau tetap menyebalkan.

Kembali menyeringai, Sasuke mengusap wajahnya pelan, lalu ia beranjak. Menatap hitamnya ujung lautan di depan sana, Sasuke tersenyum pedih untuk yang terakhir kalinya sebelum berbalik dan dengan gontai melangkahkan kakinya di tengah hujan lebat menuju mobil Audi putih miliknya yang terparkir tak jauh dari tepi pantai.

Sasuke mulai melajukan mobilnya dengan keadaan basah kuyup. Tubuhnya bergetar, bibirnya pun membiru, tapi sayang sang bungsu Uchiha itu tak merasakan kedinginan karena sudah lama indera perasanya hilang ikut bersama cahaya hidupnya.

"Aku pulang," Mikoto yang tengah mondar-mandir di depan pintu rumahnya menoleh dan matanya sukses terbelalak lebar melihat Sasuke berjalan pelan dengan keadaan basah kuyup.

"Astaga, Sasuke!" Mikoto menghampiri Sasuke, namun Sasuke terus berjalan melewatinya.

"Ibu, ayah dan Itachi-nii di mana?"

Mikoto mengerutkan alisnya heran, "Ada apa? Ayah dan kakakmu ada di ruang tamu." Sasuke tidak menjawab. Dia terus berjalan pelan namun tegas menuju ruang tamu.

Sampai di ruang tamu. Sasuke menatap Fugaku yang sedang meminum teh hangatnya dengan tatapan mantap. "Ayah ... biarkan aku ikut Itachi ke Amerika besok. Aku ingin kuliah di sana." Ujarnya tegas dengan deru napas tak beraturan. Dia kedinginan.

Mikoto membelalakkan matanya, sedangkan Fugaku balas menatap Sasuke tanpa ekspresi dari balik cangkir teh miliknya. Itachi yang sedang membaca majalah dalam pangkuannya hanya bisa tersenyum miring tanpa menatap Sasuke.

"Ya, Ayah memang sudah merencanakan akan mengirimmu keluar negeri bersama kakakmu. Berhubung kau menginginkannya maka pergilah dan kembali setelah semuanya lebih baik Sasuke," jawab Fugaku datar.

"Hn."

Itachi mendongak. Menatap Sasuke sambil menutup majalahnya. "Bersiaplah, Otouto … kita akan berangkat pada jam penerbangan pertama." Setelah mengatakan itu Itachi beranjak menuju kamarnya.

Sasuke menatap ayah dan ibunya sendu. "Terima kasih, Ayah ... Ibu." Dan Sasuke pergi ke arah kamarnya untuk membersihkan diri dan mulai mengemasi barang-barangnya.

Mikoto menatap suaminya nanar, "Kenapa kau tidak membicarakannya denganku, Fugaku?"

Fugaku menatap Isternya lembut, "Maaf, tapi percayalah ini yang terbaik untuk Sasuke. Aku yakin setelah waktunya tiba, Sasuke akan baik-baik saja. Percayalah."

Mikoto memeluk Suaminya erat lalu mengangguk pasti. "Ya, semoga saja." Fugaku tersenyum tipis lalu membalas pelukan Mikoto erat sesekali mengecupi kening isterinya lembut.

Ya ... ini yang terbaik.

Seorang pria bermanik kelabu kini tengah berdiri di depan sebuah panti asuhan dengan payung putih di tangannya. Menutup pintu mobilnya, pria berhelaian perak itu mulai memasuki halaman pantu asuhan yang sangat sepi. Bagaimana tidak? Waktu telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam dan hujan masih turun dengan derasnya.

Pria itu menyimpan payungnya tepat di depan pintu masuk. Mengangkat tangan kanannya dan pria itu mengetuk pintu di hadapannya lumayan keras. Tak lama, pintu terbuka menampilkan siluet tubuh seorang wanita pirang paruh baya yang kini tengah menggendong bayi di tangannya.

"Ah, maaf mengganggu malam-malam seperti ini, Bibi." Kata pria itu sungkan.

Tsunade tersenyum lembut. "Tidak apa. Aku tahu apa tujuanmu datang ke sini. Masuklah, Toneri!" Pria yang ternyata Ootsutsuki Toneri itu mengangguk lalu duduk di sofa ruang tamu dengan Tsunade yang duduk tepat di depannya.

"Jadi kau ingin mengambil dan merawatnya?" tanya Tsunade seraya memainkan jari-jari bayi yang berada di pangkuannya. Toneri hanya diam mematung menatap takjub pada bayi berhelaian soft pink dan bermanik emerald cantik itu.

"Ehem ... bukankah mereka sangat mirip?" tanya Tsunade seraya tersenyum kecil.

Toneri menatap bayi itu lembut. "Ya, sangat mirip. Bolehkah?" tanya pria itu lembut sambil menyodorkan kedua lengan kokohnya.

Tsunade mengangguk pasti, "Tentu! Gendonglah dia dan ini semua barang-barangnya. Jaga dan rawatlah dia dengan baik ya?"

Toneri menggendong bayi itu hati-hati lalu ia Mengecup kening lebar bayi itu lembut. "Tentu saja, aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. terima kasih, Bibi Tsunade. Kalau begitu aku pulang dulu." Setelah mengatakan itu Toneri menggendong bayi itu keluar, mengambil payungnya Toneri membungkukan badanya sopan kepada Tsunade.

Dengan perlahan Toneri menyimpan tas bayi di bangku penumpang, lalu pria itu menyerahkan bayi yang tengah mengulum jari jempolnya itu kepada pria paruh baya yang kini tersenyum lembut, "Tolong pangku dia, Ayah." Ujar Toneri kalem. Pria itu mengangguk dan memangku bayi itu. Toneri menutup pintu mobilnya lalu dengan cepat ia berlari ke sisi kanan mobilnya dan Toneri mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.

"Lihatlah dia Toneri bukankah sangat cantik?" tanya pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah Ootsutsuki Kimimaro itu seraya mengusap pipi bayi itu lembut.

"Ya, sangat cantik seperti dirinya." Lirih Toneri sendu.

Kimimaro mengangkat bayi itu lalu mengecup keningnya lembut. "Selamat datang kembali ... Otsutsuki Sakura."

.

.

.

.

.

Namun, akankah mereka yang dimaksud dapat dipercaya untuk menerima kesempatan itu dengan baik? Atau malah … sebaliknya?—UchiHaruno Misaki.