Naruto © Masashi Kishimoto

Story by UchiHaruno Misaki

Warn : AU, OOC, Typo, Pedofil Sasuke, etc.


Regret In Winter Sequel

SasuSaku

Multichapter

.

Chapter 3

.


Sore itu di taman Konoha terdapat banyak anak-anak tengah bermain dengan wajah gembira. Ada yang bermain bola, pasir, lompat tali, dan sebagainya.

Salah satunya adalah dua gadis cilik yang kini tengah berayun di taman itu.

"Hinata-chan tadi Hinata-chan kenapa menangis di sekolah? Apa ada yang mengganggumu?" tanya salah satu gadis cilik yang tengah berayun dengan posisi berdiri itu kepada gadis yang dipanggil Hinata itu lembut.

Gadis kecil berhelaian indigo berponi itu hanya bisa menunduk memainkan jari-jarinya gugup, "Ti-tidak ada yang menggangguku ko Nee-chan ..." sahutnya lirih.

Gadis itu menatap Hinata dengan tatapan menyelidik, "Benarkah? Lalu kenapa kau menangis tadi?"

"..." Hinata hanya menunduk seraya masih memainkan jari-jarinya gugup.

"Hinata dengar! Kau harus mengatakan padaku apapun yang terjadi padamu! Ingat kita sudah bersama sejak bayi, kau sakit maka aku juga akan sakit. Aku menyayangimu Hinata, katakan apa yang terjadi? Jangan pernah ada kebohongan di antara kita!" ujar gadis itu tegas.

Hinata menatap gadis yang duduk di ayunan di sebelah ayunannya itu dengan mata berkaca-kaca, "Ta-tadi S-Sai me-merusak lu-lukisanku, d-dia mencoret semua lukisan yang aku buat Nee-chan, padahal a-aku membuat lukisan itu untuk Nee-chan hikss, maafkan a-aku," Hinata menutup wajahnya dengan tangan lalu menangis sesenggukan.

Gadis manis di sampingnya hanya bisa terkekeh geli, turun dari ayunannya gadis itu dengan cepat menghampiri Hinata dan ia memeluk Hinata seraya mengusap helaian indigo pendek itu lembut.

"Sssshhh ... sudah jangan menangis, tidak apa-apa lukisan itu rusak. Hinata bisa membuatnya lagi 'kan? Hinata 'kan jago melukis," ujar gadis berumur delapan tahun itu lembut.

Hinata membalas pelukan gadis itu erat seraya menenggelamkan wajah imutnya di dada gadis itu manja, "Y-ya Nee-chan benar. Be-besok Nee-chan ulang tahun 'kan? B-bolehkah a-aku mengucapkannya sekarang?" tanya Hinata ragu.

Gadis itu terkekeh geli, "Tentu."

Hinata melepaskan pelukannya lalu gadis beriris kelabu itu berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis di depannya.

"Nee, Onee-chan ... otanjoubi omedetou! Aku me-menyayangimu Nee-chan ..." ujarnya gugup dengan rona merah menghiasi pipi cubby-nya.

Gadis itu tersenyum haru lalu ia mengecup kening Hinata lembut. "Terima kasih, Hinata."

Hinata mengangguk antusias, "Un ..."

Gadis itu mengacak surai pendekHinata lembut, "Ayo kita pulang sudah sore ..." lalu ia dengan cepat berlari meninggalkan Hinata yang kini tengah tersenyum lebar.

"H-ha'i ... tu-tunggu aku!" lalu Hinata mulai berlari menyusul gadis itu.

"Hinata-chan ayo cepat!" teriak gadis kecil berumur delapan tahun itu pada Hinata yang tengah berlari dengan sangat pelan.

"Haah ... haah ... tu-tunggu aku Onee-chan! Aku—!"

Bruk!

"H-huwaaaaaaa sa-sakit hikss!'

"Astaga, HINATA!"

Gadis berhelaian soft pink sebahu itu terkejut setengah mati melihat gadis bermanik kelabu itu jatuh hingga kedua lututnya berdarah.

"Hikss, sa-sakit ..." gadis kecil bernama Hinata itu terus menangis seraya menutup kedua matanya. Sakura yang melihat Hinata menangis dengan cepat ia berlari menjauhi Hinata dengan mata berkaca-kaca.

Hinata menatap punggung Sakura sedih, "Onee-chan ja-jangan tinggalkan aku hikss!" Sakura tetap berlari tanpa mengindahkan panggilan Hinata.

'Maaf Hinata-chan ...'

.

.

.

.

"Ayah, ada seorang pasien yang sangat susah aku tangani. Semenjak ia datang ke Rumah Sakit, ia tak pernah mau bertemu dengan dokter. Kalau dipaksa ia nekat akan bunuh diri," ujar seorang pria berhelaian perak itu kepada ayahnya yang tengah membaca koran sorenya di taman rumah a la eropa sederhana itu.

Pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah Kimimaro mantan dokter kepercayaan keluarga Haruno itu melipat korannya dan melepaskan kacamatanya lalu menatap putra sematawayangnya itu santai.

"Sudahlah biar Ayah yang menangani pasien itu. Kau jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu Nak, ingat mereka membutuhkan perhatianmu ..." sahutnya dengan suara tegas khas seorang Ayah.

Toneri meminum teh hangatnya pelan, "Ya aku tahu itu Ayah ..." jawabnya sedikit terkekeh geli.

"Jadi—"

Sreeeeg!

Gerbang rumah itu tergeser kasar oleh seseorang membuat Kimimaro harus menghentikan kalimatnya. Mereka berdua menoleh dan melihat seorang gadis kecil berlari tergesa-gesa ke arah mereka dengan lelehan air mata di kedua pipi ranumnya dan tentu saja membuat mereka berdua khawatir.

"Papa ... Papa! Hikss!" dengan cepat Toneri menghampiri gadis kecil itu lalu berjongkok guna menyamakan tinggi badannya dengan gadis itu.

"Shhh ... tenanglah sayang. Ada apa? Jangan menangis," ujar Toneri seraya menghapus air mata gadis itu lembut.

Sakura menatap ayah dan kakeknya itu dengan tubuh gemetar hebat, "H-Hinata Papa ... hikss, di jatuh d-dan kakinya berdarah. Sakura tidak tahu harus melakukan apa, Sakura t-takut darah Papa. A-ayo kita ke taman sekarang!" ujarnya dengan gemetar.

Toneri menatap puterinya itu sedikit terbelalak lebar. "Eh? Hinata jatuh? Haah ... sudah jangan menangis ya Sakura. Sini Papa gendong dan kita harus segera menemui Hinata ..." Toneri dengan sigap menggendong puterinya itu lembut lalu membalikan tubuhnya menghadap Kimimaro yang kini tengah tersenyum tipis melihat interaksi putra dan cucunya itu.

"Ayah aku pergi dulu,"

"Hm, pergilah ..." setelah berpamitan kepada ayahnya dengan langkah sedikit tergesa-gesa Toneri melangkahkan kakinya menuju taman yang tak jauh dari rumahnya.

.

"Hikss maafkan Saki, Papa!" di sepanjang jalan Sakura terus saja menangis di gendongan Toneri, sedangkan Toneri hanya tersenyum kecil seraya sesekali mengecup pipi puterinya itu.

"Sudahlah, Papa tahu Saki takut darah jadi Saki tidak bersalah karena meninggalkan Hinata di sana," ujarnya lembut.

Sakura hanya bisa menangis di dalam pelukan sang ayah.

Toneri kini telah sampai di taman. Pria tampan itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman dan jantung Toneri seakan ingin jatuh saat itu juga ketika melihat gadis bermata kelabu sama sepertinya kini tengah menangis dengan kedua kaki berlumuran darah lumayan banyak.

Tap, tap, tap!

Dengan sedikit berlari Toneri menghampiri gadis kecil itu, "Hinata!" teriaknya sedikit panik.

Hinata mendongkakan kepalanya dan seketika itu pula Hinata kembali menangis, "S-sakit ... ini s-sakit sekali, Papa ... hikss!" tangisnya semakin pecah ketika merasakan kedua lututnya berdenyut perih.

Dengan perlahan Toneri menurunkan Sakura dari gendongannya, lalu pria itu berjongkok di depan Hinata. "Shhh, jangan menangis sayang. Lihatlah Sakura-nee jadi ikut menangis, Hinata tidak suka melihat Sakura-nee menangis 'kan?" ujar Toneri kepada Hinata seraya membersihkan luka di kaki Hinata dengan air garam yang selalu ia bawa. Hey ia dokter yang telah memiliki dua orang puteri jadi untuk jaga-jaga dokter muda itu tentu selalu membawa air garam dalam botol kecil untuk penanganan pertama jika kedua puterinya terluka.

Hinata kecil menatap Sakura yang tengah berdiri jauh di depannya seraya terisak. Sakura bahkan tak berani menatap wajah Hinata karena gadis kecil itu merasa sangat bersalah pada Hinata, Hinata kecil kembali menatap wajah sang Ayah dengan mata berkaca-kaca.

"Y-ya Hi-Hinata benci melihat Sakura-nee menangis Papa ... k-kalau melihat S-Sakura-nee menangis entah mengapa h-hati H-Hinata terasa s-sakit," ujar Hinata lirih seraya terisak pelan. Toneri tersenyum dan ia mengecup pipi Hinata sejenak lalu beranjak menghampiri Sakura yang tengah menunduk itu.

Toneri mengecup kening Sakura lalu menarik pergelangan tangan Sakura dan kembali melangkah menghampiri Hinata yang tengah duduk di ayunan.

Toneri duduk di ayunan sebelah ayunan yang Hinata duduki, pria tampan itu mengangkat Sakura ke pangkuannya.

Sakura kecil melingkarkan tangannya di leher ayahnya seraya menenggelamkan wajahnya di sana, "Papa maafkan Saki ... kalau saja Saki tidak berlari Hinata mungkin tidak akan terluka, hikss ... maaf!" isakannya kembali terdengar. Toneri tersenyum tipis seraya mengelus helaian soft pink sebahu puterinya itu lembut.

"Hn, sudah tidak apa-apa. Lihat Hinata sudah berhenti menangis," ujar Toneri lembut seraya melirik Hinata yang tengah menunduk di ayunannya.

Dengan perlahan Sakura melepaskan pelukannya dan menatap Hinata yang tengah menunduk. "H-Hinata-chan ... maafkan aku," lirih Sakura pelan.

Hinata mendongkakkan kepalanya dan Hinata turun dari ayunannya, lalu menghampiri Sakura yang masih duduk nyaman di pangkuan sang ayah. Hinata menatap Toneri dengan tatapan berbinar, pria bermata kelabu itu terkekeh geli melihat tatapan Hinata padanya maka tanpa pikir panjang Toneri mengangkat Hinata dan memangku puterinya itu di paha sebelah kirinya.

Sakura dan Hinata kini duduk berhadapan dan Toneri sebagai penengahnya. "Emh, a-aku t-tidak apa-apa ko Sakura-nee. Aku tahu Sakura-nee tadi tak berniat meninggalkanku, aku tahu Sakura-nee t-takut darah maka dari itu aku tetap setia menunggu di taman ini hingga Sakura-nee kembali dan semua ini bukan salah Nee-chan ..." ujar Hinata seraya tersenyum tulus kepada Sakura yang kini menatapnya sendu.

Sakura menggenggam kedua tangan mungil Hinata dengan kedua tangan mungilnya. "Terima kasih Hinata-chan. Aku berjanji di depan Papa dan demi ibu yang tengah berada di sisi Tuhan; aku Ootsutsuki Sakura berjanji tidak akan pernah melukai dan membuat Ootsutsuki Hinata sedih. Itu adalah janji Sakura sebagai puteri sulung Ootsutsuki Toneri!" ujar Sakura lantang. Toneri dan Hinata membelalakan matanya tak percaya, namun sejurus kemudian Hinata mengangguk antusias dan ia memeluk Sakura erat.

"T-terima kasih Sakura-nee. Aku juga demi ibu dan Papa, aku Ootsutsuki Hinata berjanji tidak akan pernah membuat Sakura-nee menangis dan bersedih! Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan Sakura-nee sekalipun aku harus menderita! Itulah janjiku seumur hidup! aku menyayangimu!" ucap Hinata lantang tanpa terbata-bata sedikit pun ketika mengatakan janjinya. Sakura tersenyum haru dan Toneri menatap puterinya bangga.

"Ya, aku jauh lebih menyayangimu Hinata-chan ..."

Toneri mendekap kedua puterinya itu lembut. Pria itu mendongkak menatap langit senja dengan senyuman tipis yang terpatri di bibir tipisnya.

'Kita memiliki puteri yang hebat ... dan terima kasih Sakura, terima kasih karena kau telah memberikan seseorang sebagai penggantimu ...'

.

.

.

.

.

.

.

.

-oOo-

Haruno Karin berjalan di koridor tempatnya bekerja dengan langkah tergesa-gesa. "Sial! Kenapa manager bodoh itu tak memberitahuku tentang perubahan jadwal? Agh! Menyebalkan!" gerutunya dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak? Karena kelalaian manager idiotnya itu Karin harus rela bertatap muka dengan sang Direktur utama perusahaannya yang pasti tengah marah besar dan Karin harus mempersiapkan hatinya untuk itu.

Tap!

Kini Karin telah berdiri tepat di depan pintu Direktur utama tempatnya bekerja.

Huuuffttt ...

Menghela napasnya pelan berusaha menetralkan perasaannya, gadis berhelaian merah marun itu merapikan sedikit pakaiannya dan—

Tok, tok, tok!

Karin mengetuk pintu di depannya pelan.

"Hn, masuk!"

Cklek!

Karin membuka pintu di depannya dengan sangat pelan, —tap! Setelah ia berhasil memasuki ruangan kerja yang sangat luas itu dengan pelan ia kembali menutup pintunya.

Brug!

Karin melangkahkan kakinya dengan pelan menuju meja Direktur utama di perusahaan modelling terbesar di Paris itu yang berada tepat di balik dinding ke-empat ruang kerja yang sangat mewah dan luas tersebut.

Tap!

Kini Karin telah berdiri tepat di depan seorang pria berhelaian perak yang tengah menandatangani dokumen-dokumen di meja kerjanya.

Membungkuk hormat Karin mulai membuka suaranya, "Direktur maafkan saya—"

"Apa yang kaulakukan selama seminggu ini, Nona Haruno?" potong pria itu dengan nada dingin tanpa menatap Karin sedikit pun. Jarinya masih setia menggores setiap tinta penanya di atas lembaran kertas berbeda-beda itu dengan lihai.

Glek!

Karin berusaha menelan salivanya dengan susah payah. Gadis berumur kepala tiga itu membenarkan frame kacamatanya dengan sedikit gemetar, "Maafkan saya Direktur, manager saya—"

"Jangan karena aku adalah tunanganmu berarti kau bebas melakukan hal ini pada perusahaan! Ingat nona Haruno, aku tak akan pernah memandang seseorang dari status! Sekali pun kau adalah tunanganku kau tetap bawahanku di sini, kau tahu? Gara-gara kelalaianmu perusahaan ini mengalami kerugian 15%!" ujar pria itu lagi-lagi memotong perkataan Karin dengan nada yang naik satu oktaf, kini pria itu menatap Karin dengan kedua iris merahnya tajam.

Karin hanya mampu menundukan kepalanya dalam. "Maafkan aku ..."

Pria itu menghela napasnya pelan lalu kembali menekuni dokumennya, "Kata maafmu itu tidak akan pernah bisa mengganti kerugian perusahaanku! Pergilah!" ujarnya datar tanpa ekspresi.

Karin menatap pria itu tak percaya, "Tapi—"

"Kau dengar apa kataku? Pergi!"

Karin membungkukan tubuhnya kepada pria itu sopan lalu membalikan tubuhnya dan mulai melangkah menuju pintu keluar.

"Kalau bukan karena bisnis keluarga aku tak akan pernah mau bertunangan denganmu, wanita tak berguana!" ujar pria itu dingin tanpa memghiraukan perasaan Karin yang kini terasa berdenyut perih.

Cklek!

Blam!

Dengan cepat Karin berlari menuju pintu keluar perusahaan Scorpions Corporation itu. Setelah sampai di luar dengan langkah gontai Karin melangkahkan kakinya menuju basement untuk mengambil mobilnya.

Karin mulai melajukan mobilnya menuju apartementnya di kawasan Alésia, rue d'Alesia - Paris 14th dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Ya, ia menuju apartemen miliknya di Negara asing tersebut.

Selama di perjalanan tanpa ia sadari air matanya jatuh dari kedua manik rubby-nya. Senju Tobirama itulah nama pria yang nyatanya adalah atasan sekaligus tunangan Karin. Ya, tunangan ... sejujurnya mereka telah dijodohkan oleh orang tua mereka dan Karin telah jatuh cinta kepada pria itu jauh sebelum mereka dijodohkan. Ya, lebih tepatnya jatuh cinta bertepuk sebelah tangan.

Senju Tobirama adalah pria mapan berumur tiga puluh tujuh tahun, memiliki wajah tampan di atas rata-rata, kepiawaiannya dalam dunia bisnis membuat ia semakin bersinar dengan statusnya sebagai direktur utama di perusahaan SC Corp terbesar di Paris tersebut. Bahkan tuan rumah di negara asing tersebut tak segan menganggap Senju Tobirama adalah warga sipil di negara mereka, padahal pria bermanik merah itu hanyalah seorang imigran dari salah satu negara di Asia yang menumpang mendirikan perusahaan di negara style tersebut.

Pertama kali Karin bertemu dengan Tobirama adalah di acara fashion show Victorian yang digelar di Negara tersebut lima tahun yang lalu. Tobirama sebagai Direktur dari perusahaan style terbesar di Paris itu datang sebagai tamu istimewa dan Karin sendiri berperan sebagai pramuniaga busana tersebut. Saat manik rubby-nya bertemu pandang dengan manik redlight milik pria tampan berhelaian perak tersebut entah mengapa hati Karin berdebar hebat dan dari sanalah awal dari kisah cintanya setelah sekian lama ia melupakan cinta pertamanya. Ya, siapa lagi jika bukan Uchiha Sasuke? Pemuda yang sungguh tak pantas untuk ia miliki, bahkan hanya sekedar untuk ia ingat pun rasanya ia telah membuat dosa besar kepada mendiang adiknya ... Haruno Sakura.

Deg!

Dengan gerakan reflek Karin menginjak pedal rem mobilnya kuat hingga mobil Cadillac ELR hitam metalic itu berhenti mendadak di jembatan sepi yang tak jauh dari letak apartemennya. Napasnya tak beraturan, kedua telapak tangannya bergetar hebat mencengkeram stir mobilnya, pandangan matanya di balik frame kacamata merahnya itu semakin lama semakin merabun terhalang oleh linangan air mata.

Kedua manik rubby-nya menatap foto kecil berisikan foto seorang gadis manis berhelaian soft pink sebahu yang tengah tersenyum sangat tipis di dashboard mobilnya dengan tatapan terluka dan rapuh.

Karin mencengkeram dada kirinya yang terasa berdenyut perih itu keras, menggigit bibir bawahnya kuat dan akhirnya air matanya mengalir di kedua pipinya yang tertutup make up.

"Sakura, begini 'kah caramu menghukumku? Apa ini sebuah karma untukku? Kau berhasil membuatku merasa bersalah dan terus menyesal. Kau tahu? Aku sudah mengerti bagaimana penderitaanmu dulu karena ... aku pun kini merasakannya! Hikss ... bagaimana rasanya tak diinginkan oleh orang yang kita cintai, aku tahu rasanya Saki! Aku tahu hikss ... maaf, maaf, maaf ... aku tahu kata maaf tak akan mampu membuat semuanya kembali seperti dulu ..." lirihnya penuh kepedihan.

.

.

.

.

"Selesai!" wanita paruh baya itu tersenyum senang ketika sweater rajutannya telah selesai. Melipat sweater soft pink di pangkuannya Haruno Mebuki lantas tersenyum pedih seraya mengelus permukaan sweater itu dengan tangan gemetar.

Menghela napas sejenak, Mebuki meletakan sweater itu di atas tempat tidurnya.

Tap!

Wanita berhelaian pirang pucat itu beranjak dan melangkah dengan gontai ke arah jendela kamarnya.

Tak!

Cklek!

Wushhhhh!

Jendela besar itu dengan sukses terbuka lebar ketika Mebuki membukanya, angin malam dengan pelan tapi pasti mulai menyeruak memasuki kamarnya dan hawa dingin pun kini telah dengan sempurna mengelilingi setiap inci tubuh Mebuki yang hanya terbalut gaun tidur tipis.

Dingin?

Ya, tentu saja. Suhu di Canada saat ini mencapai 8°C, akan tetapi Mebuki tak merasakan kedinginan itu karena sudah kita bahas bukan? Ya, ia telah mati rasa sejak ... Haruno Sakura puteri bungsunya telah pergi meninggalkannya.

Mebuki menatap langit malam tanpa bintang itu dengan tatapan hampa, pandangannya kosong dan tanpa ia sadari air matanya untuk yang ratusan ribu kalinya mengalir deras di kedua pipinya.

'Apa yang sedang kaulakukan di atas sana Saki? Apa kau melihat Ibu di bawah sini? Kau tahu? Ibu sangat merindukanmu ...'

"..."

Cklek!

"Sayang aku pula—"

Kizashi mematung di ambang pintu ketika melihat sang Isteri yang kini tengah meraung pilu di balkon kamarnya. Seketika itu pula Kizashi hanya mampu mengepalkan kedua tangannya dalam diam.

'Ternyata kau belum bisa merelakannya Mebuki ...'

Dengan perlahan Kizashi melonggarkan dasinya dan menyimpan jas kantornya di sofa, lalu pria berhelaian serupa dengan bunga kebanggaan Jepang itu melangkahkan kakinya menghampiri Mebuki yang tengah duduk di bangku balkon dengan posisi yang sangat memprihatinkan.

Tap!

"Mebuki ..." lirihnya pelan seraya mengelus pundak sang isteri. Mebuki tersentak kaget maka dengan cepat ia menghapus air matanya lalu menoleh ke arah sang suami yang berdiri di sampingnya seraya menatapnya datar.

Merapikan pakaiannya yang sedikit kusut Mebuki pun berdiri di depan Kizashi dengan senyuman tipisnya, "Aa, Kizashi-kun kau sudah pulang? Mau aku siapkan makan malam? Atau air hangat? Kau tahu 'kan cuaca sangat dingin dan kau—"

Bruk!

Mebuki tak dapat melanjutkan kalimatnya karena dengan gerakan cepat Kizashi menarik tubuhnya dalam sebuah dekapan hangat. Mebuki tak dapat membalas pelukan Kizashi, wanita itu hanya memandang langit dengan tatapan kosong.

"Ya, aku tahu cuaca sangat dingin, tapi kau sendiri kenapa berada di balkon dengan gaun tipis yang bahkan tak dapat menutupi tubuhmu? Kau kedinginan sayang," lirih Kizashi pelan di perpotongan leher Isterinya.

"Kau tahu sendiri aku tak bisa merasakan apapun lagi Kizashi, dia telah membawa seluruh perasaanku bersamanya," sahut Mebuki dengan nada datar.

Kizashi hanya mampu bungkam tanpa bisa mengelak. Ia tahu, sangat tahu bahwa Isterinya tidaklah gila. Ya, Isterinya hanya kehilangan separuh jiwanya. Oleh karena itu Mebuki hanya mampu sadar dari rasa trauma dan shock-nya, setelah masa penyembuhan Mebuki biasa melakukan aktivitasnya seperti dulu. Memasak, menyiram bunga, membereskan rumah, berbincang dengan sang suami dan puteri sulungnya santai seakan tak terjadi apapun, melayani kebutuhan biologis sang Suami dan banyak lagi.

Namun ... Kizashi tahu, Mebuki melakukan hal itu tanpa jiwa yang tersemat di raganya. Ya, Mebuki bagai robot yang ter-setting untuk melakukan kehidupan normalnya dengan baik dan tentu saja memang begitu kenyataannya, akan tetapi ia melakukannya tanpa rasa. Ya, rasa dan jiwa.

Untuk sesaat jantung Kizashi terasa remuk mengingat bahwa Isterinya tak bisa seperti dulu lagi. Ya, seperti dulu yang hidup dalam artian yang sebenarnya, bukan seperti sekarang ini karena Mebuki hidup tapi ... mati.

Tes!

Mebuki hanya dapat tersenyum pedih di balik pundak sang Suami ketika merasakan sesuatu yang hangat mengalir di perpotongan lehernya. Ya, ia tahu bahwa untuk yang kesekian kalinya Kizashi menangisi dirinya yang seperti ini. Hatinya pun ingin sekali berteriak bahwa ia harus bangkit! Ia juga tak sanggup membuat Suaminya bersedih, tapi ... Mebuki tak bisa. Ia tak dapat menampik bahwa dirinya benar-benar tak bisa diselamatkan lagi, kecuali jika puterinya ... Haruno Sakura kembali kepadanya. Ya, hanya itu yang bisa menyembuhkan Mebuki si wanita paling rapuh setelah ditinggalkan oleh puterinya itu.

Mebuki dengan perlahan melepaskan dekapan sang Suami dari tubuhnya. Wanita itu berbalik dan melangkahkan kakinya memasuki kamarnya dengan langkah tergesa meninggalkan Kizashi yang kini tengah sibuk mengusap air matanya dengan tangan bergetar.

Mebuki mengambil sesuatu dari atas tempat tidurnya dan ia pun menyembunyikan benda itu di balik punggungnya, lalu dengan langkah ringan wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Kizashi yang kini menatapnya sendu.

"Kizashi-kun kau tahu? Aku sudah menyelesaikannya," ujar Mebuki dengan nada senang.

"..." Kizashi hanya diam memandang Istetrinya pilu.

Mebuki memperlihatkan sweater rajutnya tepat di depan wajah Suaminya, "TARA! Lihat sweater rajutanku sudah selesai! Bagus bukan? Aa aku sudah tidak sabar melihat betapa senangnya Sakura besok di hari ulang tahunnya dengan hadiah yang akan aku berikan ini! Kau tahu 'kan? Betapa gadis kecil kita menginginkan sesuatu yang aku buat sendiri? Dulu bahkan aku— ... aku, tak dapat mengabulkan apa yang Sakura inginkan. Hanya Karin yang selalu kuperhatikan, tak jarang aku melihat gadis kecil kita itu menangis dan dengan bodohnya aku tak ingin memerdulikannya ... hahaha gadis kecilku yang manis itu pasti akan sangat bahagia, —benarkan Kizashi-kun? hikss, aku tahu dia pasti senang ..." ujar Mebuki dengan ekspresi bahagia namun air mata ikut telak dalam menyempurnakan ekspresi menyedihkan wanita itu.

Kizashi membungkam mulutnya lemah, ia menatap Mebuki yang tengah memeluk sweater itu dengan nanar.

Bruk!

Kizashi jatuh bersimpuh di hadapan Mebuki dengan bahu gemetar hebat. Telapak tangannya masih setia membungkam mulutnya untuk meredam isak tangisnya.

"Sudah cukup Mebuki! Sudah cukup! Sampai kapan kau akan seperti ini?" lirih Kizashi seraya menatap sang Isteri pilu.

Mebuki memandang Kizashi datar. "Kembalikan Sakura padaku, maka aku akan menghentikan semuanya ..." ujarnya dingin. Sejurus kemudian Mebuki mengalihkan tatapannya ke arah langit malam dengan tatapan sendu, "Kembalikan ia padaku, hanya itu yang kuinginkan apa itu begitu sulit hingga kau tak mampu melakukannya? Aku tak menginginkan apapun, hanya Sakura ... hanya Sakura yang aku inginkan!" lirihnya dengan nada penuh akan luka.

Setelah mengatakan itu Mebuki membalikkan tubuhnya dan dengan lunglai ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur lalu ia mulai merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi memunggungi Kizashi yang masih bersimpuh di lantai balkon kamar mereka.

'Kembalilah pada Ibu Sakura ... hikss,' batinnya pilu, lalu ia pun mulai menutup matanya.

Kizashi menatap punggung ringkih Isterinya itu dengan tatapan kosong. 'Tuhan! Sampai kapan? Sampai kapan kami akan terus seperti ini? Sampai kapan?! Kumohon hentikan! Sudah cukup ...' batinnya penuh kepedihan.

.

.

.

.

Cklek!

Pintu apartemen mewah itu tebuka setelah terdengar suara tombol kombinasi sebagai kata sandi untuk membuka pintu tersebut. Seorang pemuda tampan dengan wajah tegas nan datar itu mulai memasuki apartemennya dengan langkah gontai dan wajah letih yang sangat kentara sekali di balik raut wajah datarnya itu.

Setelah sampai di kamarnya pemuda yang sudah pantas dipanggil pria karena umurnya yang telah melewati tiga puluh tahun tersebut kini dengan malas melempar jas kantornya asal ke atas tempat tidur setelah ia melepaskan dua kancing kemejanya dan dasinya.

Kembali melangkahkan kakinya keluar kamar menuju pantry dapur, pria itu membuka pintu lemari es itu dengan santai lalu mengambil sebuah bir kaleng dan pria itu meneguk minumannya dengan habis sekali tenggak.

Haaaah ...

Menghela napas berat pria itu mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya kembali seraya membuka kancing kemejanya satu persatu dan setelah semua kancing terbuka, pria berwajah tampan itu dengan kasar melepaskan kemeja hitam itu dari tubuh atletis-nya lalu melempar kemeja itu ke sembarang arah. Kini terlihatlah tubuh kekar pria itu dengan sangat jelas serta otot-ototnya yang terbentuk sempurna kini terekspos dengan jelas dan lagi perut six pack-nya yang terpahat dengan indah membuat pria itu terlihat cool and hot.

Pria dengan keadaan topless itu menuangkan botol wine-nya yang tersaji di meja kamarnya ke gelas yang ia pegang lalu dengan beringas pria itu meneguk wine tersebut dan —Prang! Pria itu membanting gelas kosong di tangannya ke dinding hingga hancur berkeping-keping dengan mata berkilat. Napas pria itu memburu dengan wajah tampannya yang telah memerah sempurna.

Tap, tap, tap!

Greeek!

Pria itu dengan gontai melangkahkan kakinya menuju bangku balkon apartemennya setelah ia membuka pintu penghubung antara kamar dan balkonnya itu ia pun mendudukkan tubuhnya di sana dengan wajahnya yang kembali datar seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Masih dengan keadaan topless dan helaian raven-nya yang berantakan, pria itu bersedekap dada seraya memandang langit malam dengan bulan yang bersinar terang namun tanpa bintang itu dengan tatapan datar dan kosong.

Drrt, drrt, drrt!

Deringan ponsel yang berada di saku celananya membuat pria itu tersadar dari renungannya. Pria itu mengambil ponselnya lalu menatap layar ponselnya dengan tatapan sedikit melembut, —klik!

"Hn,"

"..."

"Aku akan sampai di Jepang besok lusa dan kau tenang saja aku akan hadir di sekolahmu," jawab pria itu dengan nada datar namun penuh perhatian.

"..."

"Hn, Ayah juga menyayangimu."

Biip!

Dan pria itu pun memutuskan hubungannya dari seseorang di seberang sana.

Klik!

Pria itu kembali menekan layar ponselnya yang menampilkan foto seorang gadis berhelaian soft pink sebahu yang tersenyum lebar sebagai wallpaper layar touch screen-nya itu. Tersenyum kecil pria bermanik sehitam batu onyx tersebut sedikit tertegun ketika melihat tanggal dan jam di layar ponselnya.

11.59 pm ...

.

.

.

6 ...

.

.

.

5 ...

.

.

.

4 ...

.

.

.

3 ...

.

.

.

2 ...

.

.

.

Diiiiing!

00.00 am.

Pria itu menutup matanya sejanak lalu menghela napas pelan, pria itu kembali membuka kedua kelopak matanya menatap langit malam dengan pancaran matanya yang penuh akan kerinduan dan—

'Hn ... Otanjoubi omedetou Sakura. Aku merindukanmu ...' batinnya sendu.

.

.

.

.

'Happy birthday to you ... happy birthday to you ... happy birthday Sakura ... and blow out the candle ...'

Wushhhhh!

Prok, prok, prok!

Gadis berhelaian soft pink panjang yang diikat satu ekor kuda dengan juntaian poni di kedua sisi wajah manisnya itu meniup lilinya yang berangka -17 tersebut dengan kedua bola mata tertutup dan berakhir dengan suara riuh tepuk tangan para tamu undangan yang terdiri dari teman Sekolahnya semua.

"Waaaa selamat ya Sakura-chan ..."

"Ya selamat ya forehead ini kadoku untukmu dan bla, bla, bla,"

Ootsutsuki Sakura sang ratu di pesta happy seventeen years old-nya itu hanya tersenyum senang melihat semua teman-teman Sekolahnya yang datang mengerumuninya dengan kado-kado mereka.

Gadis itu begitu terlihat sangat cantik dengan sebuah dress soft pink sederhana yang melekat sempurna di tubuh rampingnya itu, "Hm, teman-teman terima kasih untuk kedatangan kalian di acara ulang tahunku yang sederhana ini. Sungguh di umurku yang ketujuh belas tahun ini aku begitu bahagia karena telah memiliki teman baik seperti kalian dan keluarga yang sangat menyayangiku. Ehem Papa, Kakek dan Hinata-chan terima kasih untuk segalanya ..." ujar gadis yang ternyata Ootsutsuki Sakura itu dengan senyuman yang terlihat sangat indah.

Kimimaro yang tengah berdiri di salah satu pilar rumah itu pun berjalan dengan langkah tegas menghampiri cucunya itu. Ya, walaupun pria itu sudah tua akan tetapi pria itu terlihat masih sangat sehat dan bugar untuk seukuran pria seumuran dengannya.

Tap!

Chup!

Kimimaro mengecup kening cucunya itu lembut, "Nee Sakura kau sudah besar ternyata. Otanjoubi omedetou, Sakura-chan ..." Sakura tersenyum tipis lalu memeluk Kakeknya erat.

"Un, terima kasih Kakek," sahutnya senang.

Prok, prok, prok!

Semua orang kembali bertepuk tangan ketika melihat adegan cucu dan kakek moment tersebut.

"Ehem, pak tua bisakah anda melepaskan pelukan anda dari gadisku?" suara lantang seseorang dari arah tangga membuat semua orang menoleh ke arah sana dan—

"Kyaaaaaaaa paman Toneri tampan sekali!"

"Oh betapa relanya aku menjadi Ibu dari Sakura dan Hinata ..."

"Paman kenapa semakin tua kau semakin tampan saja? Oh bolehkah aku melahirkan anak-anakmu lagi Paman?" teriak seorang gadis blonde ponytail yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat Sakura membuat suasana menjadi hening seketika. Semua orang termasuk Kimimaro menatap gadis itu aneh.

"..."

Yamanaka Ino balas menatap semua orang dengan tatapan canggung, "Ups, sorry hehe ..."

"Hahahahaaaa!"

Sakura menepuk keningnya dengan pelan melihat sikap 'fansgirling' sahabatnya yang kambuh di saat yang tidak tepat terhadap Ayahnya yang Sakura akui masih terlihat sangat tampan itu membuatnya tak habis pikir.

Toneri hanya terkekeh geli lalu menggelengkan kepalanya maklum. Pria berumur empat puluh tahun itu kembali melangkahkan kakinya menuju Sakura yang kini tengah berdiri digandengan tangan Kimimaro.

Tap!

Kini Toneri berdiri tepat di depan Sakura, "Bolehkah?" menyodorkan sebelah tangannya ala sang pangeran yang hendak mengajak seorang putri berdansa.

Sakura memiringkan sedikit kepalanya dan berpose seakan ragu, maka dengan perlahan Sakura menolehkan kepalanya kepada sang Kakek seakan meminta persetujuan.

Kimimaro tersenyum tipis lalu mengangguk. Sakura tersenyum senang lalu dengan antusias ia menarik tangan Ayahnya dan —bruk! Keadaan tak seperti yang Sakura pikirkan, nyatanya bukan ia yang menarik akan tetapi ia yang tertarik oleh tarikan sang Ayah yang membawanya ke dalam dekapan hangatnya.

"Saki, selamat ulang tahun. Kau tahu, Papa tidak menyangka kau sudah tumbuh menjadi gadis paling cantik. Padahal Papa masih ingat ketika Papa mengganti popokmu —ugh!" Toneri tiba-tiba saja merintih.

Dalam pelukan hangat Ayahnya Sakura mengerucutkam bibirnya sebal, "Hentikan ucapanmu itu Papa! Jangan membuatku malu!" rajuknya seraya terus mencubit pinggang Toneri.

"Hahaha lihat gadis garang di Sekolah kita ternyata sangat kawai jika di depan Ayahnya Hahaha!" ujar seorang pemuda berambut hitam spike seraya tersenyum tiga jari. Semua orang yang ada di sana sontak saja ikut tertawa mendengarnya.

"Hahahaa cieee Sakura-chan kawai nee ..."

Blush!

Wajah Sakura telah memerah sempurna, "Awas kau, Uzumaki Menma ..." ujar Sakura dengan nada rendah sehingga semua orang tak dapat mendengarnya kecuali Toneri yang kini terkekeh geli.

"Sudahlah. Nah sekarang Papa akan memberikan hadiah pertamamu ..." ujar Toneri seraya melepaskan pelukannya.

Sakura menatap ayahnya dengan wajah berbinar, "Wah mana hadiahku?!" pekiknya girang. Oh ayolah walaupun Sakura terkenal sebagai gadis lumayan garang dan dewasa di Sekolahnya tetap saja seorang Ootsutsuki Sakura akan bersikap selayaknya puteri manis di depan Ayah dan Kakeknya.

Toneri tersenyum—ah ralat tapi pria berumur empat puluh tahun itu menyeringai dan—

Chup!

Chup!

Chup!

BLUSH!

"Woaaaaaaaahhhhh—!" semua orang tercengang melihat kejadian yang tersaji di depannya tak terkecuali Hinata yang sedari tadi tengah berdiri tak jauh dari Sakura.

Wajah Sakura memerah padam mendapat tiga kecupan sayang di kening dan di kedua pipinya sekaligus dari ayah super protektifnya itu.

"P-papa! S-semuanya silahkan nikmati pestanya ... " ujar Sakura dengan wajah malu, semua temannya hanya terkekeh geli lalu mereka pun mulai menikmati pesta sederhana namun menyenangkan tersebut.

Setelah memukul pundak Ayahnya sedikit keras Sakura pun berlari ke arah Hinata meninggalkan Toneri dan Kimimaro yang tengah memandangnya dengan tatapan lembut. Setelah sampai di depan Hinata, Sakura langsung memeluk gadis cantik berhelaian indigo panjang tergerai indah itu erat.

"Hinata kau lihat 'kan? Betapa genitnya Papamu itu!" ujar Sakura di balik pundak Hinata yang kini tengah terkekeh geli.

"Haha, y-ya tak apa Nee-san. Itu t-tandanya Papa menyayangimu. Nee-san tahu 'kan? P-papa juga melakukan hal yang sama padaku di hari ulang tahunku di musim dingin beberapa bulan yang lalu?" ujar Hinata dengan nada khas gugupnya itu. Ya, Hinata tumbuh sebagai gadis yang sedikit pemalu. Berbeda dengan Sakura yang tumbuh menjadi gadis supple dan lincah.

Sakura melepaskan pelukannya lalu menuntun Hinata duduk di sofa, "Haha ya aku ingat ko, bahkan Papa mencium bibirmu! Huh kalau Papa melakukan itu padaku tak perduli dia Ayahku aku akan tetap memukulnya!" ujarnya dengan seringaian iblis khas Sakura.

Hinata hanya dapat tersenyum ngeri, "H-hahaha ya sudahlah Nee-san ... oh iya Otanjoubi omedetou nee Sakura-nee ..." setelah mengatakan itu Hinata langsung memeluk tubuh saudaranya itu erat lalu tanpa sadar Hinata menangis.

"Haha kau sudah mengatakannya lima kali Hinata dan shhhh, sudah jangan menangis Hinata. Aku tahu kau bahagia, aku pun sama ... jadi jangan menangis oke? Kau ingat janjiku? Aku tak akan membuatmu menangis sekali pun kau menangis bahagia!" ujar Sakura tegas seraya melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua bahu Hinata lembut.

Hinata hanya mampu tersenyum kecil dengan rona merah di kedua pipinya seraya menganggukan kepalanya mantap.

"Un ..."

Sakura tersenyum lebar, "Bagus! Ah ya kapan dia akan kembali ke Jepang?" tanya Sakura kepada Hinata dengan raut wajah serius.

Hinata menatap saudaranya itu bingung namun sejurus kemudian Hinata menatap kedua manik emerald di depannya itu dengan tatapan penuh arti ketika ia menyadari siapa dia yang Sakura maksud.

"Hm, besok lusa ia sampai di Jepang, Nee-san." Jawabnya tanpa terbata sedikit pun.

Sakura menyeringai tipis mendengar jawaban dari Saudaranya itu.

'Kau akan habis di tanganku paman!'


To be continue


Special thanks to ;

Merrya Narcissa Bellatrix || gothiclolita89 || tomaceri7810 || kimmy ranaomi || zeedezly clalucindtha || Animea-Khunee-Chan || Tuyul Jadi Ultraman || mio || Chrisanne Sakura || HazeKeiko || Ga tau mau nama || Coretan Hikari || cherry haruno 39 || Kurosaki Au Chan || YOG || fdestyalove || anime-khune-chan || Hikaru Sora 14 || dya lidya965 || Kimada Chiyu || FiaaATiasrizqi || Hayashi Hana-chan || mantika mochi || Manda Vvidenarint || Nisa Annassri || Kidhy || heni lusiana 39 || sami haruchi 2 || Noer nino chan || Rei Hanna || Sky Of Tears || leedidah || JJ cassie || Eysha CherryBlossom || Restychan || nadira cherry || ichachan21 || Viona Uchiha || louin990 || nhakhina sagitaria || Sabaku no Gaa-chan || Mina Jasmine || Mulberry Redblack || furiikihime || AksunaVanny || ChocoCaffein05 || Nurul || madeh18 || azizaanr || kazamatsuri de rain || haruchan || ami || kim la so || Kao Mitsu || sofi asat || pembaca || Miyuyuchan || Ucihalily || MiraC || kuli jepang || Mira || aiiwasawa657 || Tsurugi De Lelouch || hanazono yuri || Mira Carnahan || helsidwiyana6 || mira cahya 1 || Luca Marvell || candy || VeeQueenAir || Haruka Smile || shindymajid || bluesweetpink || silent reader xD || Ynohseh || megan091 || sakura-addict || Shinkaku Uchiharuno || Tiara Blackpearl || elqykun || Uchiha Riri || mii-chanchan2 || A Lii Enn || Cherryma || Aisha Ryuzaki || tasya || blackcurrent626 || kana || Kyu Harukichi || bluestar2604 || growl || Ami-chan || erza sllalucyangkmeu || PeDeeS || imahkakoeni || aimi amaterasu 3 || rain lovfa || PinkLalaBlue || Favers || Followers || SILENT READERS :')