Sepasang iris hitam itu menatap lamat-lamat warna langit hari ini. Cerah ataupun mendung sama saja sebenarnya. Akutagawa sendiri tak tahu-menahu kenapa langkahnya terhenti dan terpaku begitu saja di bahu jalan.

Semilir angin penghujung musim panas ternyata sedikit sejuk mendekati dingin. Helai hitam, dasi dan jasnya melambai ke satu arah. Akutagawa tidak mempermasalahkannya. Terlebih sudah terlalu sering dipaksa berpiknik oleh Gin di pinggir sawah sampai terbiasa.

"Akutagawa-kun, di sini!"

Laju kereta api di jembatan seberang yang Akutagawa perhatikan langsung teralih ke arah sumber suara. Sosok Kenji yang tersenyum sembari melambaikan tangannya nampak di ujung jalan. Akutagawa mengangguk singkat kemudian melirik jembatan barusan yang ternyata keretanya sudah jauh entah di mana. Junior Agensi Detektif Bersenjata itu baru mengacuhkan sosok di ujung jalan selang beberapa detik kemudian. Langkahnya pelan tanpa minat dipercepat atau ada rasa tak enak hati membuat sang senior menunggu.

Akutagawa tidak memikirkan hal sosial semacam itu dan memang selalu seperti itu.

.

.

.

BSD milik Asagiri Kafuka dan Harukawa Sango

Aku hanya meminjam karakter dari pencipta BSD untuk penulisan FF ini.

Fanfiksi ini kutulis untuk berpartisipasi di event #BSRSummerDream

.

.

.

Kenji menyapa Akutagawa dengan baik seperti biasa. Selalu tersenyum cerah tidak peduli akan dibalas atau tidak. Akutagawa adalah pihak dari opsi kedua—pemuda itu lebih memilih untuk mengangguk singkat dan langsung mengerjakan urusannya secepat mungkin.

"Hari ini kita tidak bertani." kata Kenji. Dia meraih topi jerami yang menggantung di tengkuk lantas memakainya. Akutagawa masih diam seperti orang-orangan sawah. Kenji memiringkan kepalanya. "Akutagawa-kun, meski musim panas sebentar lagi berakhir, suhunya tetap panas lo." Yang dimaksud Kenji adalah absennya topi jerami-pemberian Kenji-milik Akutagawa.

"Saya baik-baik saja." Akutagawa menjawab ala kadarnya.

"Semangat yang bagus, Akutagawa-kun! Kalau begitu ayo mulai perjalanan kita!" Setelah berseru lantas Kenji memutar badan dan bersiap memimpin jalan. Namun langkahnya diminta berhenti oleh Akutagawa yang masih terpaku di belakang.

"Kenji-san. Pakaianku bagaimana?" Akutagawa bertanya.

Kenji kembali menghadap Akutagawa. Hening berpikir, tanda tanya yang muncul satu persatu bertransformasi menjadi tanda seru. Bibirnya membulat menyuarakan 'Oh!' kemudian menjawab, "Bagus kok. Akutagawa-kun habis berbelanja? Tapi aku gak lihat ada perubahan." Kenji mengerjap pelan sambil mencondongkan badannya ke hadapan Akutagawa. Telunjuknya menyentuh bibir sambil berdengung seolah mencermati di mana perbedaan pakaian Akutagawa hari ini dan sebelum-sebelumnya.

Akutagawa yang risi diselidiki mengambil satu langkah mundur. Menyebabkan Kenji kembali berdiri tegak menunggu juniornya menjelaskan, "Maksudku, pakaian bertani itu. Kau tidak menyuruhku berganti?" Mengingat hari kelima mereka berdua pergi ke sawah Akutagawa mendapat perintah dadakan super janggal; menanggalkan jas dan kemejanya lantas menukarnya dengan pakaian bertani (Kenji menyebutnya begitu); menukar sepatu pantofelnya dengan bot khusus bercocok tanam padi (Lagi-lagi Kenji yang menamainya).

Kenji bersuara 'Ah!' sambil menepuk kedua tangannya. "Hari ini spesial Akutagawa-kun. Tidak ada bertani dan sebagai gantinya kita bakal memberi salam perpisahan kepada musim panas."

Tanpa sempat menjawab, Akutagawa tahu-tahu ditinggal Kenji yang sudah melangkah di depan-membuatnya mau tak mau berlari-lari kecil guna menyamakan langkah.

Selama perjalanan mereka lebih banyak memperhatikan pemandangan sekitar yang rasanya jauh lebih sepi dibanding lalu lintas pusat Yokohama. Kenji banyak menghentikan perjalanan mereka untuk memberi pujian pada sawah yang kosong melompong setelah dipanen besar-besaran; langit biru yang sedikit awannya, bahkan semilir angin yang nyaris menerbangkan topi jerami milik Kenji.

Perjalanan mereka yang hening kemudian dilanjutkan kembali setelah puas.

"Angin itu baru saja berusaha membawa pergi topimu. Kenapa harus dipuji?"

Akutagawa yang memecah keheningan tiba-tiba bertanya. Tindakan menyuarakan keheranannya itu Kenji tanggapi dengan sungguh-sungguh. Senior pirang itu kembali menghentikan langkahnya. Akutagawa dibuat tambah heran.

Dia mengernyit dan memandang sekitar. Pemandangan yang sama. Tidak ada yang spesial. Sesi memberi pujian alam dan seisinya seharusnya belum dimulai terlebih kalau tidak salah ingat, mereka berhenti setiap sepuluh menit berjalan kaki. Akutagawa gantian menatap kedua mata Kenji. Pandangannya seolah menceritakan semua keheranannya.

'Lantas kenapa mereka berdiam lagi di bahu jalan?'

Kenji menarik napas pelan, "Topi ini seperti kita, Akutagawa-kun." Kenji berkata sambil menurunkan topinya, "Angin dan hujan akan datang dan siap membawa kita pergi. Tapi kalau kita menggenggamnya dengan sungguh-sungguh, mereka pun akan kalah."

Berapa kali pun Akutagawa berusaha memahami kalimat Kenji akan hanya berujung pada tanda tanya yang mengakar kuat. Tidak masuk akal rasanya berterima kasih pada sesuatu yang berusaha menumbangkan kita.

Kenji pun melanjutkan, "Namun angin dan hujan yang sampai sekarang datang itu membuktikan kita kuat karena masih ada di sini. Mungkin angin dan hujan Akutagawa-kun itu Gin yang diambil Port Mafia." Secara tidak langsung Kenji berkata bahwa Akutagawa itu sosok yang kuat.

Akutagawa tertegun. Penyinggungan masalah Gin tidak pernah ada dalam bayangan. Dia kira semua orang di Agensi Detektif Bersenjata bukan tipe yang ikut campur urusan orang lain? Tetapi bagaimanapun usaha kerasnya untuk mengernyit atau menampakkan raut tersinggung, Akutagawa tidak pernah berbohong dalam hidupnya. Akutagawa tidak berbohong saat merasa darahnya berdesir, terdengar lembut seperti embusan angin yang mengayunkan rambut mereka berdua.

Kenji kembali menenggerkan topi jeraminya di puncak kepala sebagai tanda untuk kembali berjalan. Mereka berdua kembali menyusuri bahu jalan dengan Kenji sebagai pemimpin jalan yang diekori Akutagawa.

"Sedikit lagi kita sampai, Akutagawa-kun. Kau haus?"

Pertanyaan Kenji menyadarkan Akutagawa bahwa setetes air pun belum mengaliri kerongkongannya sejak keberangkatannya dari Agensi menuju ke sini. Itu berarti sudah satu jam setengah berlalu. Akutagawa menggeleng singkat dan berkata tidak.

Hening kembali menguasai. Embusan angin terasa makin kencang seiring matahari tergelincir dari puncaknya. Kereta yang melaju di jembatan seberang lebih banyak menyita perhatian Akutagawa seorang. Yang tanpa ia sadari, tahu-tahu Kenji berkata, "Akutagawa-kun, kita sampai."

Pandangan Kenji yang terpaku ke bahu jalan bagian kanan alias seberang mereka spontan Akutagawa ikuti.

"Ah."

Ucapannya tertahan begitu saja. Padang bunga matahari yang begitu luas. Tetapi sejak kapan? Apa setidak acuh itu kah Akutagawa sampai-sampai tidak menyadari padang bunga matahari seluas ini?

"Penghujung Agustus itu hari terakhir bunga matahari tumbuh."

"Jadi perpisahan yang dimaksud Kenji-san ini?"

Kenji mengiyakan dan melanjutkan, "Sawah, langit, angin, semua itu berkah yang diberikan untuk kita termasuk di musim panas. Kita harus menyapanya dengan baik, menikmati suara cicada dan mengucapkan salam perpisahan saat anginnya menjadi sejuk."

Detik berikutnya Kenji berjalan menyeberangi jalan dengan mudah. Kendaraan yang lalu lalang baru saja Akutagawa sadari sudah semakin jarang bahkan tidak ada. Akutagawa lagi-lagi hanya mengekori Kenji.

Saat mereka sampai di sisi lain bahu jalan-tepat di hadapan padang bunga matahari, Akutagawa dan Kenji kembali membisu diayun angin.

Langit mulai menjadi jingga. Padang bunga matahari yang dibelai angin pun berwarna senada. Termasuk dirinya, Kenji, dan sekitarnya.

Ah, kini Akutagawa memahami maksud perkataan Kenji.

'... Kita harus menyapanya dengan baik, menikmati suara cicada dan mengucapkan salam perpisahan saat anginnya menjadi sejuk.'

Karena esok dan seterusnya hingga Juli kembali datang, hari ini adalah pelepasan matahari musim panas yang perlahan-lahan ditelan cakrawala menjadi matahari musim gugur, dingin, semi dan akhirnya kembali terbit menunggu disambut dengan baik.

"Baiklah, perjalanan kita selesai! Ah!~ Aku lapar!"

Akutagawa mengembuskan napas pelan dan tersenyum kecil, "Ayo pulang, Kenji-san."

.

Tamat

.

A/N: HAIII Jadi ini ide BSR yang kurang ajar tiba" nongol dan say hi di hari-H. Sebenernya aku ga pernah kebayang bakal bikin adegan Kenji sama Akutagawa Beast!AU. Aku kira cukup Ssk aja dan ya ... mereka cocok banyak sumpah buat summer gini.

aku takut banget kenji ooc di sini sejujurnya. ditambah aku belum pernah sekali pun bikin pakai chara dia. jadi maaf banget ya kalau ini Gaje banget. dan pesannya picisan banget HAHAHAHA. ASTAGHFIRULLAH, Udah ah, babay!!!