Naruto © Masashi Kishimoto
Story by UchiHaruno Misaki
Warn : AU, OOC, Typo, Pedofil Sasuke, etc.
Regret In Winter Sequel
SasuSaku
Multichapter
.
Chapter 4
.
"Sekian rapat hari ini, mohon kerjasamanya dan terima kasih." Pria bermanik merah itu membungkukan tubuhnya sedikit.
Prok, prok, prok!
Para anggota meeting lantas berdiri dan bertepuk tangan tanda bahwa mereka puas akan hasil rapat yang diadakan hari ini.
Senju Tobirama tersenyum tipis melihat para pemegang saham yang terlihat sangat puas akan kinerjanya itu.
'Hm, kau akan kalah Uchiha!' batinnya seraya tersenyum kecil. Dan mereka pun membubarkan diri setelah saling berjabat tangan.
.
Tap!
Pria berperawakan tinggi dengan tubuh sempurna yang terbalut jas kantor itu melangkahkan kakinya dengan santai di koridor salah satu anak perusahaannya.
Biip, biip, biip...
Suara getaran ponsel di saku jasnya membuat pria tiga puluh tujuh tahun itu menghentikan langkahnya sejenak. Meronggoh saku jasnya guna untuk mengambil ponsel miliknya Tobirama pun sedikit mengerenyitkan dahinya ketika melihat Id caller di layar ponselnya itu.
—Klik!
"Hn, ada apa?"
"..."
"Aa, jadi besok kita akan terbang ke Jepang?"
"..."
"Ya, kau sudah—"
"..."
"Apa? Tapi apa itu tak merepotkan?"
"..."
"Aa, baiklah. Hn, sampai jumpa di bandara."
Biip!
Tobirama sedikit tersenyum tipis ketika selesai berbicara dengan seseorang yang menghubunginya tadi.
"Jepang ya? Ah, sudah sepuluh tahun lamanya." Gumamnya pelan seraya sedikit menundukan kepalanya di koridor yang sepi tersebut.
Setelah merasa cukup Tobirama pun menegakkan kembali kepalanya dan kembali melangkahkan kakinya menuju basement karena waktu telah menunjukan pukul tujuh malam, sudah saatnya ia pulang untuk mempersiapkan semuanya.
.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil The Bugatti Veyron 16,4 silver metalic itu pun terparkir dengan apik di basement sebuah apartement di kawasan Alésia, rue d'Alesia - Paris 14th. Keluar dari dalam mobilnya, Tobirama sedikit mebenarkan jas kantornya yang sedikit kusut lalu pria berhelaian spike perak itu pun melangkahkan kakinya menuju lift bawah tanah yang terdapat di basement tersebut dan setelah memasuki lift dengan cekatan Tobirama menekan tombol 37 sejurus kemudian pintu lift itupun tertutup.
Tiiing!
Tap, tap, tap!
Dengan wajah tegas dan berwibawa pria bermanik redlight itu melangkahkan kakinya keluar dari lift menuju salah satu kamar apartemen yang selama beberapa bulan ini ia tempati.
Tap!
Kini ia telah berdiri tepat di depan salah satu dari ribuan pintu apartemen di gedung tersebut. Sedikit menghela napas pelan, Tobirama pun mengangkat tangannya dan mulai menekan beberapa digit angka pada sebuah tombol yang tertempel di dinding apartemen itu.
Tut, tut, tut, piip!
Ketika menyentuh digit angka tersebut terdengarlah suara tombol kombinasi sebagai kata sandi untuk membuka pintu tersebut dan—Cklek! Pintu terbuka. Tanpa membuang waktu lagi Tobirama mulai melangkah memasuki apartemen tersebut setelah memastikan pintu apartemen tertutup kembali dengan otomatis.
Dengan santainya selama perjalanan menuju kamarnya Tobirama membuka jas dan seluruh kancing kemejanya hingga perut datar berotot six pack itu terlihat jelas walau kemeja putih itu masih tersampir di kedua bahu tegapnya.
"Kau sudah pulang Tobirama-kun?" suara lembut seseorang yang mengalun di kedua telinganya membuat pria itu menghentikan langkahnya.
"Hn, besok aku akan ke Jepang untuk beberapa bulan." Ujar Tobirama dingin tanpa membalikkan tubuhnya.
Haruno Karin yang tengah menggenggam segelas susu putih itupun hanya mampu tersenyum sendu dengan sikap dingin tunangannya itu. "Aa, lalu bagaimana dengan pernikahan kita satu bulan lagi?" tanya Karin lembut dan berusaha seakan semuanya baik-baik saja.
Tobirama perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap Karin datar dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku celana kantornya. "Pernikahan? Entahlah, aku tak yakin pernikahan itu akan terlaksana." Setelah mengatakan itu dengan suara dingin tanpa memedulikan perasaan wanita di depannya itu Tobirama pun membalikan tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya dengan santai menuju kamarnya meninggalkan Karin yang tengah membelalakan kedua matanya.
Deg, deg, deg!
Prang!
Gelas berisikan susu putih itupun terjatuh di lantai ketika dengan reflek Karin melepaskannya karena tanpa sadar tangan Karin yang tengah menggenggam gelas susu tersebut mencengkeram dada bagian kirinya yang berdenyut perih.
Karin menatap kepergian pria yang sanga ia cintai itu dengan sendu seraya menggigit bibir bawahnya kuat. "Kenapa? Kenapa kau membenciku Tobirama? Apa salahku?" lirihnya parau.
.
.
.
.
.
Tok, tok, tok!
Seorang pria yang tengah serius menekuni tumpukan dokumen di mejanya itu menghentikan gerakan tangannya sejenak ketika mendengar pintu ruangannya diketuk. "Hn, masuk."
Cklek!
Pintu pun terbuka dan menampilkan sesosok pria tampan berhelaian hitam panjang diikat rendah. "Yo! Baka-Otouto!" sapanya pada Sasuke yang kini tengah menatapnya datar.
"Ada apa kau ke sini, Aniki?" Tanya Sasuke datar seraya kembali menekuni dokumen-dokumennya. Itachi melangkahkan kakinya menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana dengan santai.
"Ini sudah jam tujuh malam, apa kau tak pulang lagi malam ini?" tanya Itachi setelah melirik jam tangannya sekilas.
"Masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Mungkin ya aku akan lembur lagi." Sahut Sasuke tanpa menatap Itachi.
Itachi menatap Sasuke tajam. "Hn, apa kau tahu bisnis di Paris kini telah dikuasai oleh Senju Tobirama?" tanya Itachi dengan nada serius.
Gerakan tangan Sasuke berhenti seketika mendengar penuturan dari Kakak laki-lakinya itu. "Hn, aku tahu dan itu bukanlah masalah." Jawab Sasuke seadanya dan ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya yang sejenak terhenti.
Itachi menatap Adiknya itu datar. "Bisakah kuhancurkan topeng sialanmu itu eh Sasuke?" tanya Itachi sinis.
"..." Sasuke tak berniat menanggapi hal tak penting yang Kakaknya tanyakan itu. Mata onyx kelamnya terus menelusuri isi dokumen-dokumennya dengan serius tanpa menghiraukan Itachi yang kini tengah menatapnya sendu.
"Kau terlihat sangat menyedihkan, Sasuke." Ujar Itachi lirih.
Sasuke menatap Itachi datar. "Bisakah kau pergi saja daripada harus mengatakan hal tak penting seperti ini? Waktumu sebagai direktur utama terlalu berharga untuk kaubuang dengan sesuatu yang tak penting. Pergilah, Aniki!" Tutur Sasuke dingin.
Itachi beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju pintu keluar. "Besok kita akan kembali ke Jepang, jadi ... persiapkanlah dirimu Sasuke." Ujar Itachi dingin dan—
Cklek!
Brugh!
Pria berumur tiga puluh sembilan tahun itupun menghilang di balik pintu ruangan Sasuke meninggalkan Sasuke yang tengah menatap dokumennya dengan tatapan kosong.
Tak!
Sasuke meletakkan bolpoint-nya dengan pelan lalu ia pun memutar kursinya menghadap kaca besar yang menampilkan pemandangan indah kota New York pada malam hari.
Sasuke menatap bayangannya di kaca besar itu dengan tatapan kosong, mengangkat jari telunjuknya pelan lalu ia pun menekan jarinya ke permukaan kaca yang berembun karena hawa dingin itu.
'Ha—ru—no ... Sa—ku—ra'
Itulah sederet nama yang Sasuke ukir di kaca tersebut. Dalam keremangan kedua mata onyx-nya terlihat berkaca, sejurus kemudian senyum miris terukir di bibir tegasnya ketika melihat nama yang ia ukir itu perlahan tapi pasti kian lama kian menghilang seiring dengan hilangnya embun di kaca tersebut.
'Ukiran nama itu sama seperti dirimu Sakura ... kau datang di hidupku karena ulahku dan kau menghilang tanpa dapat kucegah. Aku akan pulang besok ... tunggulah.' Batinnya lirih.
Dan tanpa Sasuke sadari setitik air mata telah berhasil meluncur dari salah satu sudut mata tajamnya tanpa mengenai permukaan pipinya.
.
.
.
.
.
Tap, tap, tap!
Itachi melangkahkan kakinya di koridor kantornya itu dengan langkah tegas dan ekspresi datar di wajahnya. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya memberi hormat, namun Itachi tak membalasnya sama sekali dan tentu saja membuat para pegawainya sedikit mengerenyitkan kedua alis mereka heran.
'Ada apa dengan Direktur?'
Kira-kira seperti itulah yang berada dalam pikiran para pegawai Uchiha Group. Ya, Itachi adalah Direktur yang sangat ramah pada semua pegawainya, tak jarang Itachi selalu tersenyum ketika berpapasan dengan para pegawainya dan perubahan sikap Itachi malam ini membuat tanda tanya besar di kepala para pegawainya.
Tess!
Tap!
Itachi reflek menghentikan langkahnya di lorong sepi ketika merasakan cairan hangat menetes dari kedua matanya. Menghapus air mata itu dengan jari telunjuknya Itachi hanya mampu tersenyum pedih ketika melihat setitik air mata yang berada di jari telunjuknya.
"Sakura ... apa yang harus kulakukan agar Sasuke hidup dalam artian sebenarnya?" lirihnya pilu.
Duk!
Itachi menempelkan keningnya di kaca koridor tersebut seraya memandang cahaya lampu kota New York di bawah sana dengan tatapan kosong. "Sasuke adalah adikku satu-satunya. Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya hidup seperti sedia kala sebelum ia berjumpa denganmu Sakura? Katakan padaku ... apa yang harus kulakukan? Sasuke bisa mati secara perlahan jika terus seperti ini." Gumamnya putus asa.
Siiiiiiiiiiiiiiiiiiing!
Itachi mendongkakan kepalanya kearah langit malam ketika mendengar sesuatu dan matanya sedikit terbelalak ketika melihat sesuatu yang bercahaya di langit sana bergerak dengan kecepatan tinggi menuju bumi.
Bintang jatuh.
Dengan cepat Itachi menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan mulai menutup kedua matanya. "Aku mohon kembalikanlah cahaya dalam hidup Sasuke, kembalikanlah embun segar dalam tubuh Sasuke, kembalikanlah puzzle kehidupan Sasuke yang hilang ... tolong kembalikanlah semua hal yang hilang dalam hidup Sasuke Uchiha adikku, aku mohon ..." gumamnya dengan hati yang tulus.
Tanpa Itachi Sadari secercah cahaya kecil dari cahaya bintang jatuh tersebut memisahkan diri dan dengan kecepatan tinggi secercah cahaya itu melesat kearah berlawanan dengan arah bintang jatuh tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
—oOo—
Suasana malam hari di kota Tokyo sungguh sunyi senyap, hanya ada suara beberapa kendaraan yang melewati jalan raya. Suhu malam ini di Tokyo mencapai 8°C, suhu yang cukup dingin terbukti dengan para penduduk tertentu tengah bergelung hangat di tempat tidur mereka masing-masing dengan nyaman.
Namun tidak dengan gadis satu ini, di mana orang lain tengah tidur nyaman tetapi dia tidak, Ootsutsuki Sakura gadis yang baru saja menginjak umur tujuh belas tahun dua hari yang lalu justru tengah menyantap es cream tanpa memedulikan suhu dingin di sekitarnya. Gadis berhelaian merah muda sepinggang itu memakan es cream berukuran besar dengan tampang kusut dan jengkel yang kentara sekali.
Hup!
Sakura memasukan es cream satu sendok penuh itu ke dalam mulutnya sehingga mengharuskan ia mengembungkan kedua pipi ranumnya karena terlalu banyak es cream yang harus ditampung oleh mulut kecilnya itu dan sekali lagi Sakura tak memedulikannya.
"Dia pikir dia siapa? Kenapa sampai sekarang dia belum datang? Dia bilang lusa dari dua hari yang lalu ia akan sampai ke Jepang, tapi mana? Dasar paman menyebalkan!" gerutunya dengan wajah merah padam. Sekali lagi Sakura menyodokan satu sendok penuh es cream ke dalam mulutnya dengan beringas.
Ting, tong!
Sakura menghentikan kegiatannya sejenak ketika mendengar bel pintu berbunyi, mengerenyitkan kedua alisnya heran Sakura pun melirik jam dinding yang telah menunjukan pukul sebelas malam.
Glup!
Sakura menelan es cream-nya perlahan. "Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? Itu tidak mungkin Kakek, 'kan? Kakek baru saja tadi sore pergi ke Ame untuk praktek." Gumamnya pada diri sendiri.
Kembali melahap satu sendok penuh es cream-nya, Sakura pun mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu utama dengan mulut penuh es cream.
Ting, tong!
Ting, tong!
"Yyhaa tunghu sebentah! (Ya tunggu sebentar!)" teriak Sakura dengan mulut penuh es cream. ketika mendengar bel pintunya di tekan oleh seseorang —entah siapa— di luar sana dengan tak sabaran.
'Dasar tamu tak tahu sopan santun!' gerutu Sakura dalam hati.
Tap!
Kini Sakura telah berdiri tepat di depan pintu utama, dengan perlahan tapi pasti Sakura mulai memutar kuncinya.
Cklek!
Pintu pun terbuka dan—
"Selamat malam, Sakura!" sapa seorang pria bermanik mutiara di depannya dengan sebuah senyum tipis.
Sakura mematung tak percaya dan—Brush! "Uhuk, uhuk!" Sakura mengeluarkan es cream yang berada di mulutnya seraya batuk tersedak.
Pria itu membelalakkan matanya dan dengan sigap mendekap Sakura yang tengah terbatuk dengan dekapan hangatnya, tak peduli dengan kemejanya yang kotor oleh es cream Sakura. "Hey Nona Sakura apakah sebegitu tak percayanya kau melihatku di sini sehingga membuatmu tersedak eh?" ujar Pria itu seraya terkekeh geli.
Sakura hanya mampu menangis terisak di dalam pelukan Pria itu. "Kenapa kau baru datang sekarang Paman? Kau tahu aku sangat merindukanmu ... hikss—!"
Hyuuga Neji Adik sepupu dari Ootsutsuki Toneri hanya tersenyum tipis ketika mendengar tangisan keponakannya itu. "Sudahlah jangan menangis, ayo masuk dan hey Senju sampai kapan kau akan berdiri di sana?" Ujar Neji pada Pria berhelaian spike perak yang tengah berdiri di salah satu pilar rumah tersebut. Dan mereka bertiga pun memasuki rumah dengan Sakura yang berada dalam rangkulan Neji, diikuti Senju Tobirama di belakangnya.
.
.
.
.
.
"Sudah lama sekali aku tak melihatmu Tobirama ..." ujar Toneri seraya tersenyum tipis.
Senju Tobirama hanya bisa tersenyum datar. "Ya, kira-kira sepuluh tahun yang lalu." Sahutnya datar.
Toneri kembali menatap Adik sepupunya yang tengah duduk di bawah sofa itu dengan tatapan bersalah. "Maaf ya Neji dengan tingkah Sakura yang suka mengepang rambutmu itu." Ujar Toneri seraya menatap ngeri empat kepangan rambut Neji yang dihasilkan oleh Sakura.
Neji menggeleng pelan. "Tak apa Toneri-nii, aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Puteri sulungmu itu." Sahutnya seraya melirik Sakura yang tengah asik mengepang rambutnya.
Toneri hanya mampu mengangguk pasrah. Hinata yang sedari tadi duduk di samping Ayahnya hanya mampu tersenyum geli melihat kelakuan Kakaknya itu, sedangkan Tobirama entah apa yang berada dipikiran pria itu, tapi yang pasti pria bermanik redlight tersebut tengah menatap Sakura dengan tatapan sulit diartikan.
Ya setelah Sakura, Neji dan Tobirama masuk ke rumah itu, Sakura dengan antusias membangunkan Ayahnya dan Hinata untuk menyambut kedatangan pamannya itu. Dan di sinilah mereka berkumpul di ruang tamu kediama Ootsutsuki dengan ditemani perapian sebagai penghangat untuk tubuh mereka di suasana dingin seperti ini.
"Jadi berapa lama kalian akan menetap di sini?" tanya Toneri seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
Tobirama mengalihkan tatapannya dari Sakura ke arah Toneri. "Empat bulan paling cepat dan untuk itu, mohon bantuannya." Jawabnya sopan.
"Haha tak perlu sungkan Tobirama. Kau adalah Adik dari Tsunade Ba-san, jadi anggap saja ini rumahmu sendiri." Ujar Toneri seraya tersenyum lebar.
Tobirama tersenyum tipis lalu mengangguk paham. Neji yang sedari tadi diam seraya memainkan gadget-nya sedikit mengerenyitkan dahinya heran ketika merasakan tangan Sakura yang tak menyentuh kepalanya lagi.
"Ano, s-sepertinya aku dan Sakura-nee harus segera t-tidur Papa ..." ujar Hinata kepada Toneri ketika ia melihat Sakura yang tengah memaksakan diri untuk tetap terjaga padahal terlihat dengan jelas jika gadis musim semi itu telah dilanda rasa kantuk.
Mendengar penuturan dari mulut Hinata sontak saja Toneri, Tobirama dan Neji menatap Sakura. Seketika itu pula tanpa mereka sadari mereka telah tersenyum kecil melihat ekspresi menggemaskan gadis itu.
"Sakura? Sakura ..." panggil Neji seraya menepuk pelan pipi Sakura yang tengah menyandarkan dirinya di sofa itu.
Sakura langasung membuka kedua matanya. "Eh? Ah, ini sudah jam dua belas malam ya?" tanya Sakura seraya mengucek sebelah matanya. Neji mengelus kepala Sakura lembut dan mengangguk. "Hinata-chan, ayo kita tidur! Besok kita harus Sekolah. Nee, Papa, Paman dan Paman Tobirama aku dan Hinata pamit ke kamar ya? Jaa!" Dan tanpa menunggu sahutan dari ketiga pria itu Sakura pun dengan pelan menarik tangan Hinata dan mereka berdua berjalan menuju kamar mereka masing-masing meninggalkan ketiga pria yang tengah tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
"DASAR ANAK BODOH!"
Bruk!
"Akh ... I-Ibu?! Hikss,"
.
"Ayah ..."
"..."
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
Plak!
Deg!
"Sudah Ayah peringatkan padamu bukan? Jaga Kakakmu dengan baik selama aku dan Ibumu tidak ada —piiip— ! Berhentilah membuatnya celaka seperti ini! Sekarang Ayah benar-benar kecewa padamu! Kau tahu apa yang sudah kau buat hm? Kakakmu harus menjalani operasi —piiip— ! Operasi! Kau dengar itu? Mulai hari ini jangan pernah kau menuntut apapun lagi pada Ayah ataupun Ibumu. Karena mulai saat ini —piiip— adalah preoritas utama Ayah dan Ibu! Mulai sekarang hiduplah mandiri, masalah semua kebutuhanmu Ayah akan tetap memberimu uang."
"Begitukah? Hahaha, hebat! Bahkan dari tujuh tahun yang lalu kau sudah mengabaikanku Ayah. Bahkan kau tak pernah memerdulikan keadaanku sekarang Ayah ... apa kau tahu? Aku sudah tidak bisa melukis lagi sekarang. Hahaa hidupmu sungguh sempurna —piiip— ... Hikss!"
.
'Eh apa kau tahu? —piiip— akan membuat pesta untuk ulang tahunnya besok malam,'
'Iya aku tahu, ah gadis itu sungguh sangat sempurna, dia adalah Puteri kesayangan Tuan dan Nyonya —piiip— '
'Aa bukankah itu memang seharusnya terjadi? —piiip— kan anak tunggal dari keluarga —piiip— ,'
'Ah iya aku lupa hehe ... eh tapi bukankah —piiip— adalah Adik dari —piiip— ?'
'Ah mana mungkin? Tadi malam aku menyaksikan liputan para keluarga bangsawan dan Tuan —piiip— bilang bahwa —piiip— adalah Puteri tunggalnya ...'
'Ah? Benarkah? Lalu kenapa —piiip— tinggal di rumah keluarga —piiip— ?'
'Entahlah, mungkin dia hanya anak pungut. Haha ayo kita pergi!'
'Haha benar juga, hmm ayo.'
Deg!
.
"—piiip— -kun bisakah sekarang kau mengantarku ke toko buku?"
"Hn, lain kali saja —piiip— aku tidak bisa."
"Ah baiklah tak apa ... aku pulang dulu ya,"
"Hn."
.
"Kakak? —piiip—-sama Kakakku? Che, jangan bercanda tuan!"
"Ada apa denganmu sebenarnya Sakura? Sejak kapan kau memanggil Ayahmu seperti itu?!"
"Ayah? Ayah katamu nyonya? Jika anda tak lupa saya hanya seorang anak pungut di rumah ini dan anda juga harusnya anda tahu orang tua saya telah hilang dari sebelas tahun yang lalu. Bukan begitu tuan dan nyonya —piiip— ?"
Plak!
"APA YANG KAU BICARAKAN —PIIIP— ? KAU ITU PUTERI KAMI! KA—"
"BUKANKAH ANDA SENDIRI YANG BILANG KEPADA PUBLIK BAHWA —piiip— ADALAH ANAK TUNGGAL ANDA? Apa kau lupa hal itu tuan?"
"—piiip— ..."
"Cukup! Hanya karena —piiip— sakit kalian semua telah mencampakkanku! Tak mengacuhkan aku! Kemana Ayah dan Ibuku yang menyayangiku seperti sebelas tahun yang lalu? KEMANA?! Aku ini ada ... AKU INI ADA DI DUNIA INI! KENAPA, KENAPA KALIAN TAK PERNAH MENGANGGAPKU ADA SEJAK —piiip— SAKIT?! Aku tak butuh uangmu Ayah yang aku butuhkan adalah kau! Ayahku, kasih sayangmu dan perhatianmu. Aku juga Puterimu Ayah, bukan hanya —piiip— ..."
"Dan kau —piiip— ! Aku ingin kau merasakan sakit yang aku rasakan! AKU INGIN KAU MERASAKANNYA JUGA!"
"Sudah cukup —piiip— , sudah cukup nak maafkan Ayah ..."
Bruk!
"—PIIIP—?! ASTAGA NAK —PIIIP— CEPAT BAWA KARIN KE RUMAH SAKIT SEKARANG!"
"Bahkan sampai detik terakhir pun kalian tetap memilih —piiip— ? Haruskah aku sakit parah agar kalian peduli padaku Ayah, Ibu ... —piiip—-kun?"
'Maafkan aku Ayah, Ibu dan —piiip—-nee ... semoga kita bisa bertemu lagi ... sampai jumpa Sasuke ... aku mencintaimu ...'
Sasuke ...
Sasuke ...
Sasuke ...
.
.
.
.
.
"Eungh ... aku mencintaimu Sasuke-kun hikss ..." isak parau seorang gadis berhelaian soft pink sepunggung itu dalam tidurnya.
.
Kriiiiiiiiiiing!
"Eungghh ..." gadis itu mulai menggeliatkan tubuhnya ketika mendengar suara jam yang berdering.
Perlahan tapi pasti manik emerald redup itupun terlihat dari balik kelopak matanya. Gadis berhelaian merah muda sepunggung itu kini tengah menggosok kedua matanya karena silau cahaya matahari yang menerobos masuk melewati tirai putihnya.
Ya, ia adalah Ootsutsuki Sakura. Sakura merengangkan otot-ototnya yang terasa kaku, ia membuka matanya perlahan dan udara pagi langsung berhembus masuk melalui jendela kamarnya.
"Eh? Apa ini?" gumam Sakura heran ketika mendapati kedua tangannya yang telah ia gunakan untuk menggosok matanya itu basah.
Sakura berlari menuju kamar mandinya dan matanya terbelalak lebar ketika melihat bayangan wajahnya di cermin.
Ada apa dengannya? Kembali mengingat apa yang ia lakukan sebelum tidur, Sakura sedikit tersentak ketika menyadari bahwa tak terjadi apapun malam tadi. Ya, Sakura ingat bahwa Pamannya baru saja pulang tadi malam dari Paris.
Tadi malam Sakura sedikit berbincang bersama Toneri, Hinata, Neji dan Senju Tobirama teman Pamannya itu, satu jam kemudian Sakura dan Hinata memutuskan untuk tidur karena besok mereka harus Sekolah. Tak terjadi apapun padanya selain itu, Sakura ingat itu! Dan menangis pun Sakura hanya sebentar karena melepaskan rasa rindu pada Pamannya itu.
Tapi apa ini? Kenapa sekarang ia menemukan bekas air mata yang masih basah di kedua pipinya? Kedua matanya pun membengkak.
"Apa yang terjadi padaku?" lirihnya pelan.
Berusaha untuk tak memikirkan keanehan itu lebih jauh lagi, Sakura pun mulai mempersiapkan dirinya untuk Sekolah.
.
.
.
.
.
Seorang pria tampan dengan iris sekelam malamnya itu menyeret sebuah tas koper seraya melangkahkan kakinya santai. Wajahnya yang tampan dan auranya yang dingin itu membuat para gadis di sana begitu terpukau. Pria itu mengedarkan tatapannya keseluruh penjuru Tokyo Airport tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang kini tengah menatapnya dengan berbagai ekspresi berbeda.
Pria berhelaian raven mencuat itu menghela napasnya pelan. "Hn, aku kembali ... —Sakura." Lirihnya pelan.
Puk!
"Kenapa melamun Sasuke? Ayo kita harus segera pulang. Konan dan Hotaru sudah menungguku di rumah!" Ujar seseorang yang tak lain adalah Itachi itu kepada Sasuke yang kini tengah menatapnya datar.
"Hn."
Tap, tap, tap!
Mereka berdua pun melangkahkan kakinya kekuar dari Airport dengan keheningan yang menyelimuti mereka berdua.
Itachi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Airport dan satu papan nama yang terangkat tinggi di antara kerumunan orang-orang membuatnya tersenyum tipis.
Ya, di sana seorang pria berhelaian perak dengan masker yang menutup wajahnya tengah mengangkat papan nama 'UCHIHA' dan Itachi tahu betul siapa pria itu.
Itachi menggenggam tangan Sasuke dan menuntunnya menuju pria tadi. "Sepertinya jemputan kita sudah menunggu." Guman Itachi ketika melihat Sasuke yang tengah menatapnya bingung.
"Oi! Kakashi-san!" teriak Itachi pada pemegang papan nama itu, sedangkan Sasuke hanya mampu menghembuskan napasnya pelan dan mulai mengikuti langkah Kakaknya itu.
Hatake Kakashi menunduk sopan pada kedua tuannya itu. "Selamat datang kembali di Jepang, Tuan."
"Hn."
.
Kini Sasuke tengah duduk di kursi penumpang dengan Itachi yang berada di kursi depan dan Kakashi sebagai pengemudinya. "Jadi bagaimana perjalanan kalian tuan, apakah melelahkan? Terhitung 14 jam perjalanan, kalian pasti lelah. Ini baru saja jam enam pagi tuan, lebih baik kalian tidur sebentar. Jika sudah sampai saya akan membangunkan kalian." Ujar Kakashi panjang lebar.
Itachi hanya terkekeh geli seraya menepuk bahu Kakashi pelan. "Kami sudah puas tidur di pesawat tadi Kakashi-san. Bukan begitu Sasu-chan?" Sahut Itachi ramah seraya sedikit melirik Sasuke yang tengah merenung menatap keluar jendela mobil.
"Hn." Sahut Sasuke seperti biasa. Itachi hanya mampu mendengus jengah dengan sikap dingin Adiknya itu, sedangkan Kakashi yang melihat itu hanya tersenyum tipis di balik maskernya.
"Bagaimana keadaan di rumah Kakashi? Apakah baik-baik saja?" tanya Itachi pada Kakashi.
"Ya, semuanya baik-baik saja Tuan, kecuali ..." Kakashi sengaja menggantungkan kalimatnya, dan tentu saja itu membuat Itachi memandangnya penasaran.
"Kecuali?"
Kakashi melirik Sasuke sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. "Tuan muda berulah lagi." Ujarnya sedikit memelankan suaranya tapi masih terdengar sangat jelas di telinga Sasuke yang kini telah menatap Kakashi tajam.
"Ada apa dengan anak itu?" tanya Sasuke dingin. Itachi terkekeh geli melihat reaksi berlebihan Adiknya jika sudah menyangkut keponakannya yang tak lain dan tak bukan adalah anak Sasuke sendiri.
"Tuan muda selalu bermasalah dengan Puteri dari keluarga Ootsutsuki Tuan, dan sudah 24 kali dalam tiga bulan ini nyonya Konan sebagai wali Tuan muda dipanggil ke Sekolah karena ulah Tuan muda di Sekolahnya." Jawab Kakashi sopan.
Itachi melotot kaget mendengarnya. "Apa? Kenapa Isteriku yang kena imbasnya? Memang kemana Ayah dan Ibu?" tanya Itachi sedikit tak terima.
"Tuan dan Nyonya selalu jarang ada di rumah, sekarang pun Tuan dan Nyonya tengah berada di Canada. Lagipula anda tahu sendiri bukan jika Tuan dan Nyonya tidak pernah memedulikan Tuan muda karena—"
"Cukup Hatake! Mulai sekarang aku tak akan merepotkan kalian lagi karena masalah anakku." Potong Sasuke dengan suara dinginnya. Kakashi langsung bungkam, sedangkan Itachi hanya bisa menghembuskan napas berat. Dan dalam sisa perjalanan pun hanya diisi oleh keheningan di antara mereka bertiga.
.
.
.
.
.
Setelah selesai dengan acara mandinya, Sakura dengan tampang tanpa ekspresi itu mulai memakai seragam sekolahnya, setelah selesai berpakaian gadis manis itu melangkah menghampiri meja rias lalu duduk di sana.
Sakura memandang pantulan dirinya yang terlihat sangat berantakan karena matanya yang membengkak dan matanya yang kembali memerah di cermin itu dengan tatapan tanpa arti. "Apa yang terjadi padaku? Tadi itu mimpi apa? Kenapa hanya mengingatnya saja kembali membuat perasaanku sakit seperti ini?" lirihnya entah pada siapa.
Melirik jam yang telah menunjukan pukul setengah tujuh pagi, Sakura mulai merias dirinya dengan bedak tipis terkesan natural karena gadis itu sangat tidak menyukai dandanan berlebihan.
Setelah merasa bedaknya telah menyamarkan matanya yang bengkak, gadis itu pun mulai menata rambut panjangnya dengan mengikatnya a la ekor kuda, lalu menyisir poninya menjutai ke arah kiri gadis itu mengambil sebuah jepitan sederhana berbentuk bunga sakura lalu memakaikan jepitan itu pada sisi kanan rambutnya.
Gadis musim semi itu berdiri dan kembali melangkah ke arah lemari yang terdapat sebuah kaca setinggi tinggi badannya, memerhatikan setiap inci tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala gadis itu membenarkan name tag-nya yang sedikit miring lalu setelah tidak ada yang kurang dari penampilannya saat ini gadis itu tersenyum tipis pada bayangan di hadapannya.
"Hm, tersenyumlah yang lebar Sakura! Ootsutsuki Sakura seperti biasa yang ceria! Yosh!" Gumamnya pelan seraya berusaha tersenyum lebar walau bertolak belakang dengan perasaannya yang masih kacau itu.
Gadis bernama lengkap Ootsutsuki Sakura itu menyambar tas gendongnya lalu melangkah keluar kamarnya, Sakura menuruni anak tangga dengan langkah santai. Setelah sampai pada pijakkan anak tangga terakhir Sakura dapat mendengar suara seseorang tengah bercakap-cakap di ruang makannya.
Tap!
Kini Sakura telah berdiri tegak di ambang pintu ruang makan, di sana Sakura melihat Ayahnya Ootsutsuki Toneri tengah menyuapi Hinata yang wajahnya telah merona karena mungkin ia malu. Lalu di samping Hinata terdapat Sang pamannya Hyuuga Neji tengah melahap sarapannya dengan senyuman tipis ketika melihat Hinata sesekali tangan Neji pun mengelus rambut panjang Hinata lembut.
Sakura tersenyum tulus ketika melihat semua itu, entah mengapa rasa hangat menguar dalam rongga dadanya ketika melihat banyak yang menyayangi Hinata dan entah mengapa Sakura juga sangat menyayangi Hinata lebih dari apapun, bahkan lebih daripada ia menyayangi Ayahnya sendiri.
"Selamat pagi semua!" Sapa Sakura seraya menghampiri meja makan itu dan ia mendudukkan dirinya tepat di samping Senju Tobirama yang tengah memakan sarapannya dengan tenang.
"Pagi sayang," sahut Toneri seraya tersenyum pada putri sulungnya itu. Neji hanya mengangguk seraya mengusap kepala Sakura yang tengah duduk di depannya itu lembut.
"P-pagi, Nee-san." Sahut Hinata seraya tersenyum lembut.
"Hm, pagi." Sahut Tobirama seraya sedikit tersenyum tipis pada Sakura dan tentu saja Sakura langsung tersenyum lebar pada Tobirama.
'Ternyata paman Senju tidak dingin seperti pertama kali bertemu tadi malam.' Ucap Inner Sakura.
Ya, Sakura pikir teman pamannya itu dingin karena dilihat dari wajahnya yang seram dan dingin membuat Sakura berpikir Tobirama adalah tipe pria yang err ... lupakan.
Dan mereka memakan sarapannya dengan suasana hangat karena kehadiran Sakura yang ceria tersebut memperhangat suasana meja makan itu.
Tanpa mereka semua sadari, seorang Senju Tobirama tak pernah lepas melirik Sakura yang berada di sampingnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
.
.
.
Di sisi lain pada waktu yang sama terlihat sebuah mobil limousin hitam mewah berhenti tepat di pelataran sebuah Mansion mewah dengan sebuah lambang kipas berwarna merah-putih terpampang jelas di tugu yang terletak di tengah-tengah halaman depan.
Cklek!
Ketiga pintu mobil itu terbuka serempak ketika mobil itu telah dihentikan. Uchiha Sasuke memandang Mansion di depannya itu dengan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresi, tanpa memedulikan keberadaan Itachi dan Kakashi yang berada di depannya, Sasuke melangkahkan kakinya memasuki Mansion tersebut diikuti Itachi di belakangnya.
"Selamat datang kembali, Tuan." Sambut para maid yang berjejer rapi. Sasuke hanya melirik mereka sekilas tanpa menjawab lalu pria berumur tiga puluh enam tahun itu melanjutkan langkahnya memasuki Mansion meninggalkan Itachi yang tengah melepas rindu dengan Isteri dan Anaknya itu.
.
Tap, tap, tap!
Sasuke berjalan mengelilingi Mansion tersebut dengan ekspresi kosong. "Semuanya tak berubah." Gumamnya pelan ketika melihat keadaan Mansionnya yang tak berubah sedikitpun.
Sasuke menghentikan langkahnya tepat di koridor yang terdapat sebuah foto besar keluarga di sana. Sedikit mengigit bibirnya Sasuke menundukan kepalanya seraya tersenyum lirih ketika menyadari foto itu sudah tak terpajang lagi karena sudah diganti dengan foto keluarganya yang baru.
Di sana terdapat potret wajah Mikoto yang sedang duduk berdampingan dengan Fugaku, Itachi yang tengah menggendong anaknya dengan Konan yang berdiri di sampingnya, lalu ... potret dirinya yang tengah berdiri dengan seorang bocah laki-laki yang berada di depannya.
Sasuke sedikit menyentuh foto itu dan ia kembali mengingat bahwa foto itu diambil sepuluh tahun yang lalu berlokasi di Amerika Serikat. Ya, Sasuke tak pernah menginjakan kakinya di Jepang lagi setelah kepergiannya tujuh belas tahun yang lalu.
Puk!
Sasuke sedikit tersentak ketika ada sebuah tangan pucat yang menepuk bahunya lembut dari belakang, dengan perlahan Sasuke pun membalikkan tubuhnya dan terlihatlah seorang pemuda berhelaian hitam klimis dengan seragam Senior High School yang melekat pada tubuhnya kini kedua manik onyx serupa dengan miliknya itu tengah menatapnya penuh kerinduan.
Sasuke menyentuh tangan pemuda itu lembut lalu menatap wajah pemuda itu datar namun pancaran kasih sayang terlihat jelas di kedua manik onyx-nya. "Sai?" ujar Sasuke pelan.
Sai tersenyum tulus lalu memeluk Sasuke erat. "Bagaimana kabarmu Ayah? Aku merindukanmu ..."
To be continue
A/N : Hallo Minna-saaaaaaaaaaan :D /lambai-lambai tangan Sasu #dishannaro Saku/ Err ... maaf ya telat update padahal Sasa sendiri yang bilang kalo fict ini adalah fict kesayangan Sasa ToT Maaf dan terima kasih ... Sasa seneng ternyata masih banyak yang suka sama fanfic Sasa :) Ya ... walaupun yang ngga suka juga ada :3 Oke, semoga kalian menikmatinya ya!
A : Apakah nanti Hinata akan suka sama Sasuke? Dan apakah konfliknya akan terjadi di antara Sakura dan Hinata?
Q : Masalah Hinata suka sama Sasuke nanti akan terjawab di chapter enam atau tujuh dan konfliknya bukan hanya antara Sakura dan Hinata loh ... kemungkinan semua tokoh akan masuk dalam konflik utama.
A : Apakah ada slight pair SasuHina?
Q : TIDAK ADA! Garis keras :)
A : Siapa anak Sasuke? Apa Sasuke sudah menikah? Ko bisa? Bukankah Sasuke cuma cinta sama mendiang Sakura?
Q : Anak Sasuke akan dijelaskan di chapter depan, dan masalah kenapa Sasuke bisa punya anak sedangkan dia masih dirundung rasa penyesalannya pada mendiang Sakura juga nanti akan Sasa jelaskan.
A : Hinata anak Toneri juga 'kah?
Q : Iya, Hinata anak Toneri.
A : Kapan Sakura ketemu sama Sasuke?
Q : Mungkin chapter depan :)
A : Beda berapa tahun umur Sasuke dan - Ootsutsuki Sakura?
Q : Sakura umurnya 17 tahun sedangkan Sasuke udah 36 tahun. Pedofilan? Iya, Sasu bakal jadi pedofilan HAHA #Eh?.
Special thanks to :
neko-hime21 || hanazono yuri || Kazama Sakura || Mina Jasmine || mysaki || Mira Carnahan || ndrahmi || ucihalily || sami haruchi 2 || Fuji Seijuro || azizaanr || madeh18 || Tuyul Jadi Ultraman || kimmy ranaomi || helsidwiyana6 || mira cahya 1 || Merrya Narcissa Bellatrix || Mulberry Redblack || suket alang alang || cherryana24 || louin990 || shinta malfoy || Miyuyuchan || aka-chan || mii-chanchan2 || Rei Hanna || nadira cherry || YOG || VeeQueenAir || mio || me || Luca Marvell || leedidah || Manda Vvidenarint || Khidy || dya lidya 965 || Hayashi Hana-chan || ichachan21 || Anisha Ryuzaki || HazeKeiko || Hydra Hillaeira || Shinkaku Uchiharuno || Chrisanne Sakura || AkasunaVanny || mantika mochi || fdestyalove || furiikuhime || Eysha CherryBlossom || nhakhina sagitaria || eci nindy || zeedezly clalucindtha || miko88 || Ynohseh || Kiki RyuEunTeuk || ami || kim la so || Sabaku no Gaa-chan || nurul || growl || Haruka Smile || Uchiha Riri || wulandari || cherryl sasa || CANDY || PinkLalaBlue || Re UchiHaru Chan || megan091 || kana || taca haruno || JJ cassie || HHSKTS || imahkakoeni || blusweetpink || Anka-Chan || zzz || haruchan || haruciha || Leina Beivhirsio || blackcurrent626 || Glennn || Hatake Ridafi || Harukichi Rini || ekomi-chan || Lyra || Philaniachen || laily || GaemCould347 || Little pinkychicken || Guest || Favers || Followers || Silent Readers! Hey kapan kalian akan menunjukan diri? /Ngelirik tajam pake kacamata tembus pandang/ xD Haha oke semoga udah tersebut semua ya? Dan maaf jika ada nama yang Sasa salah tulis :)
