Naruto © Masashi Kishimoto

Story by UchiHaruno Misaki

Warn : AU, OOC, Typo, Pedofil Sasuke, etc.


Regret In Winter Sequel

SasuSaku

Multichapter

.

Chapter 5

.


Tap, tap, tap!

Di sebuah trotoar jalan terlihat dua orang gadis berseragam serupa dengan helaian berbeda tengah berjalan bersisian dalam hening. Gadis musim semi terlihat tengah termenung dengan kedua tangan yang mencengkeram tali tas gendong yang tersampir di kedua bahunya, sedangkan gadis musim dingin di sampingnya itu hanya menatap wajah sang Kakak dengan wajah polos dan heran.

"Ne, Sakura-nee apa Nee-san baik-baik saja?" tanya Hinata sedikit khawatir seraya menyentuh blazer seragam Sakura.

Sakura menatap adiknya kosong lalu menggeleng lemah. "Aku tak apa Hinata, ada apa?" Hinata menggeleng seraya tersenyum tipis lalu tanpa komando gadis bermanik mutiara itu menggandeng tangan Sakura manja.

"Aku hanya merasa ada sesuatu yang Nee-san sembunyikan dariku," ucap Hinata pelan.

Kini kedua gadis Ootsutsuki itu tengah berjalan menuju sekolah mereka setelah mereka turun dari bus di halte dekat sekolah mereka. Ya, Sakura dan Hinata memilih menggunakan transportasi umum untuk ke sekolah mereka daripada harus di antar memakai mobil pribadi karena mereka pikir untuk apa ada alat transportasi umum jika tidak kita tidak memanfaatkannya dengan baik? Sungguh pemikiran yang bijak bukan?

Sakura melepaskan rangkulan tangan Hinata lalu mengelus helaian biru gelap milik adiknya itu singkat. "Tidak ada yang aku sembunyikan darimu Hinata, ayo kita harus bergegas! Lihat pintu gerbang sekolah akan ditutup." Ujar Sakura seraya menunjuk gerbang Sekolah mereka yang sudah di depan mata dan setelah itu Sakura menyeringai licik lalu—

"YANG KALAH BERLARI DIA ADALAH TOMAT BUSUK!" teriak Sakura seraya berlari meninggalkan Hinata yang tengah bengong.

"Eh? M-matte Nee-san!" ujar Hinata seraya menggapai udara, mendengus sejenak maka dengan sekuat tenaga Hinata mulai berlari menyusul Sakura di depan sana, dan di sisa perjalanan menuju Sekolah mereka diisi oleh aksi kejar-kajaran antara kedua gadis Ootsutsuki itu.

.

.

.

.

.

"Ini semua salahmu Nee-san! Lihat kita jadi dihukum!" gerutu Hinata pada Sakura.

Sakura yang tengah bersimpuh dengan kedua tangannya yang diangkat ke atas itu hanya mampu menghela napas pasrah. "Ya, maafkan aku Hinata, tapi sungguh ini sangat pegal! Aaa aku lapar Hinata!" rengek Sakura ketika merasakan kedua tangan dan kakinya terasa sangat pegal, ditambah dengan perutnya yang terasa sangat lapar.

"Ya mau bagaimana lagi ini semua, 'kan gara-gara kita tadi pagi berlari di k-koridor Sekolah." Jawab Hinata pasrah.

Sakura menggeleng cepat. "Tidak! Ini semua tidak akan terjadi jika si mayat-brengsek-tak-tahu-ekspresi itu tak melaporkan kita pada si sexy bermuka ular! Ah! Sial!" teriak Sakura geram.

BRAK!

"JANGAN BERISIK NONA OOTSUTSUKI ATAU SAYA AKAN MENAMBAH HUKUMANMU?" teriak guru yang Sakura panggil si sexy bermuka ular itu dari dalam ruangannya yang berada tepat di depan Sakura dan Hinata saat ini. Ya, ia adalah Orochimaru guru BP di Sekolahnya.

Sakura dan Hinata saling bertatapan dengan tubuh gemetar hebat. "HA'I GOMENASAI SENSEI!" teriak Sakura dan Hinata bersamaan.

Ya, setelah mereka berlari tadi pagi mereka langsung terkena hukuman oleh guru BP karena telah melakukan pelanggaran aturan Sekolah yaitu belari di koridor Sekolah, tapi jika saja seorang pemuda tampan bermanik onyx dengan helaian rambut hitam klimis tak lupa senyuman mengerikan yang selalu ia tampilkan itu tidak memberitahukan semuanya pada guru BP mungkin Sakura dan Hinata akan aman-aman saja, tidak seperti sekarang. Lihatlah Sakura dan Hinata kini tengah bersimpuh dengan kedua tangan yang diangkat ke atas dan jika kalian ingin tahu ... mereka dalam posisi itu sudah lebih dari waktu 3 jam dan tentu saja membuat kedua gadis itu pegal dan lapar.

Kruyuuuuk!

Muka Sakura langsung memerah padam. "A-aku lapar Hinata ..." lirihnya pelan seraya menahan malu.

Hinata tersenyum geli lalu mulai meronggoh kantung blazer yang terletak di dadanya itu dengan mulutny.

"Hm, Nee-han ihni mahanlah! (Hm, Nee-san ini makanlah!)" ujar Hinata dengan mulut tersumpal coklat batangan.

Sakura menoleh dan langsung tersenyum lebar. "Ha? Coklat? Waa aku makan ya Hinata! Ittadakimasu!" Sakura mulai memakan coklat batangan yang berada di bibir Hinata dan Hinata pun mulai memakannya dengan pelan tentu saja mereka memakannya tanpa menggunakan tangan. Setelah merasa cukup, Sakura melepaskan sisa coklat batangan itu dan membiarkan Hinata menelan sisanya.

"Haah, setidaknya coklat itu sedikit membuat rasa laparku berkurang. Terima kasih, Hinata!" ujar Sakura seraya tersenyum lebar.

Hinata yang tengah sibuk menelan sisa coklat itu pun mengangguk antusias. "Ya, sama-sama N-Nee-san!"

Tap, tap, tap!

Suara beberapa langkah kaki membuat kedua gadis itu menoleh dan setelah itu kedua mata mereka langsung terbelalak lebar melihat Sai tengah berdiri angkuh dengan antek-anteknya di depan mereka.

"Ha! Lihat itu kawan! Dua gadis jelek dengan noda coklat di bibir mereka sedang dihukum dan pose waw! Mau mencoba menggoda kami eh?" ujar pemuda bertato segitiga merah di kedua pipinya itu seraya tersenyum mesum.

"Oh Hinata lihatlah dadamu yang kaubusungkan itu ... bolehkah aku menyentuhnya? Hahaha!" sahut pemuda berambut perak klimis pada Hinata seraya kedua telapak tangannya yang terlihat meremas udara kosong seakan udara kosong itu adalah dada Hinata.

Hinata terlihat ketakutan dengan kedua manik mutiaranya yang berkaca-kaca, sedangkan Sakura kini tengah menatap kedua pemuda itu dengan tatapan membunuh. "Tutup mulut kotor kalian itu, brengsek!" geram Sakura penuh amarah.

Pemuda ber-name tag Inazuka Kiba dan Kizuki Sakon itu terlihat menampilkan senyum mengejek. Sedangkan pemuda bermanik onyx di depan mereka itu mulai berjongkok tepat di samping Hinata. "Heh pinky, apa yang akan kaulakukan jika aku melakukan ini?"

Gyuuut!

"Akh!"

"BRENGSEK KAU SAI! LEPASKAN HINATA!" bentak Sakura ketika melihat salah satu tangan Sai itu tengah bertengger manis di dada Hinata seraya meremasnya pelan. Sungguh jika saja Sakura tidak dihukum dengan kedua tangan yang tak boleh bergerak sedikitpun itu pasti dengan senang hati Sakura akan mematahkan tangan Sai yang telah lancang itu.

Untungnya sang guru BP kini tengah berada di ruang bawah tanah yang berada tepat di dalam ruangan pribadinya itu sehingga ia tak mendengar teriakan Sakura.

Sai tersenyum tanpa arti lalu mengecup pipi Hinata lembut seraya menatap Sakura tajam. "Sepertinya aku sudah cukup puas melihat wajah jelekmu itu, Pinky! Dan Hinata ... maaf ya." Ujar Sai seraya menatap Hinata yang tengah shock itu dengan tatapan datar.

Setelah itu Sai dan kedua kawannya pergi meninggalkan Hinata yang tengah menenangkan detak jantungnya yang berdentum tak beraturan dan Sakura yang tengah menundukan kepalanya.

"Hinata, apa kau tak apa-apa?" tanya Sakura tanpa menatap Hinata.

Hinata langsung merona ketika mengingat apa yang dilakukan Sai padanya tadi. "A-aku tidak apa-apa, Nee-san." Sahut Hinata sedikit gugup.

'Uchiha Sai setelah ini ... kau akan mati!' Inner Sakura berteriak seraya menyeringai keji. Hinata yang melihat Sakura tengah menundukan kepalanya sehingga kedua matanya tak terlihat itu pun langsung bergidig ngeri ketika merasakan aura membunuh di sekitarnya, ditambah dengan seringaian mengerikan yang terpeta di sudut bibir sang Kakaknya itu.

.

.

.

.

.

"Menyebalkan!"

Hinata dan Ino terkekeh geli melihat Sakura yang tengah badmood itu entah sudah yang ke berapa kalinya menggumamkan kata menyebalkan dalam waktu beberapa menit. Suasana kantin Sekolah ini terlihat sangat ramai, ya walaupun ini adalah istirahat kedua tapi tetap saja kantin Sekolah tak pernah lenggang.

"S-sudahlah Nee-san, lagipula bukankah Sai memang sudah seperti itu dari dulu? Aku saja sudah menganggap kejahilan Sai pada kita itu makanan sehari-hariku." Ujar Hinata seraya mengelus bahu Sakura guna untuk memedamkan rasa kesal Kakaknya itu, sesekali Hinata nampak memakan makanannya.

Sakura menghela napas bosan. "Hn, dia sangat menyebalkan! Kau tahu itu, 'kan? Aku tak bisa membayangkan apakah seluruh anggota klan Uchiha terhormat itu sama menyebalkannya seperti si brengsek-tak-tahu-ekspresi itu?" dan setelah mengatakan hal itu dengan beringas Sakura memasukan makanannya satu sendok penuh.

"Hahah! Dengarkan aku ya forehead! Tidak semua keluarga Uchiha seperti Sai ko, kau tahu? Katanya sih Ayah Sai itu pria dingin jadi aku yakin Ayah Sai tak menyebalkan, lalu pamannya Sai yang bernama Uchiha Itachi juga baik dan ramah. Tak semua keluarga Uchiha menyebalkan, kau mengerti Sakura?"

Glup!

Sakura meminum air meneralnya sejenak lalu menatap Ino, "Hn, aku tak yakin itu pig!"

Ino hanya mengedikkan kedua bahunya tak peduli lalu gadis barbie itu kembali memakan makanannya.

Tak!

Hinata dan Sakura dengan serempak meletakan sendok di atas piring kosong milik pemilik kantin Sekolah itu. Hinata menatap Sakura dengan wajah sendu, "N-Nee-san, tugas yang Kurenai-sensei berikan—"

"Tak apa Hinata. Kau pulang duluan saja nanti, aku akan mengerjakan semuanya, kau jangan takut mengerti?" ujar Sakura seraya mengelus kepala Adiknya itu lembut dan Hinata pun mengangguk antusias.

"Arigatou!"

Ya, setelah insiden hukuman tadi pagi Sakura dan Hinata kembali mendapatkan hukuman dari Kurenai Yuuhi sang guru ter-killer di Sekolahnya karena mereka tak mengikuti pelajaran Kurenai. Hukumannya yaitu menyalin ringkasan materi dari Bab-1 hingga Bab-5 pelajaran Biologi setelah sepulang Sekolah nanti, tapi Hinata yang memiliki jadwal melukis tak dapat menjalankan hukuman itu dan sebagai Kakak yang baik akhirnya Sakura dengan suka rela membantu tugas Hinata.

Ino yang sedari tadi memerhatikan interaksi kedua Kakak beradik itu dalam diam hanya mampu tersenyum tulus.

'Semoga Sakura dan Hinata akan tetap seperti ini sampai kapanpun.' Batin Ino.

.

.

.

.

.

.

.

.

—oOo—

Seorang pria berhelaian raven itu terlihat duduk di sebuah gazebo dengan pandangan kosong menatap kolam ikan di halaman belakang mansion Uchiha milik keluarganya itu.

'Haah tak ada yang berubah dengan rumah ini.' Batin pria itu seraya menghela napas lelah.

Bruk!

"Apa yang sedang kaulakukan di sini, Sasuke?" Sasuke melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran gazebo, lalu kedua manik onyx-nya melirik sang Kakak dari ekor matanya.

"Tidak ada." Sahutnya datar.

Itachi menghela napas pelan lalu mengusap bahu Adiknya itu pelan, "Sasuke, berhubung hari ini kau belum bekerja bagaimana jika kau mengunjungi dia? Sudah lama sekali bukan?"

Deg!

Sasuke menegakan tubuhnya dan dengan perlahan menatap sang Kakak dengan tatapan kosong. "Haruskah?"

Itachi tersenyum perih melihat kekosongan manik sekelam malam Adiknya itu. "Ya, kau harus!" ujar Itachi seraya berusaha tersenyum kecil.

Sasuke kembali menatap kolam ikan di depannya dengan tatapan sendu. "Aku akan mengunjunginya sekarang." Lalu Sasuke pergi meninggalkan Itachi yang tengah terkekeh getir.

"Kau harus kuat Sasuke, demi Sai." Gumamnya lirih.

.

.

.

.

.

Langit senja begitu terlihat sangat indah dengan berpuluh burung-burung yang terbang bebas kesana kemari dengan antusias untuk mengiringi terbenamnya sang raja mentari.

Tap, tap, tap!

Terlihat seorang gadis berhelaian soft pink sepinggang tengah berjalan santai di trotoar jalan dengan sebuket bunga melati di tangannya.

"Hm, sudah jam lima sore. Sebaiknya aku bergegas." Gumam gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Ootsutsuki Sakura itu seraya sedikit mempercepat langkahnya menuju pemakaman yang sudah terlihat di depan matanya. Ya, setelah menyelesaikan hukumannya Sakura tak langsung pulang karena ia ingin mengunjungi makam Ibunya dulu.

Setelah beberapa langkah berjalan Sakura kini telah memasuki area pemakaman. Gadis musim semi tersebut sedikit membenarkan tas ranselnya yang melorot dari sebelah bahunya.

Selama berjalan menuju sebuah pusara seseorang yang begitu berarti baginya tanpa sadar Sakura termenung dengan pikirannya.

Haah ...

Menghela napas berat, gadis berumur tujuh belas tahun itu entah mengapa merasa sedikit aneh dengan kehidupannya beberapa hari terakhir ini. Ya, jujur saja sudah seminggu terakhir ini Sakura selalu memimpikan hal-hal yang begitu terasa nyata, namun masih semu. Mimpi itu selalu sama dan entah bagaimana awalnya setiap Sakura memipikan mimpi aneh tersebut, Sakura selalu mendapati kenyataan aneh bahwa ia terbangun dengan aliran air mata yang mengalir di kedua pipinya.

Sakura juga merasakan hatinya berdenyut perih ketika setiap pagi ia bercermin dengan kedua mata yang memerah di kamar mandinya. Bahkan tanpa Sakura sadari ia kembali mengalirkan air matanya setiap pagi di kamar mandi dan tentu saja Sakura merasakan rasa sakit penuh luka entah karena apa.

Sakura menengadahkan kepalanya ke atas langit senja. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Tuhan? Apakah ini karena aku merindukan Ibu?" gumamnya lirih.

Grep!

"Eh?!" Sakura sedikit terkejut ketika sepasang tangan kekar memeluk bahunya dari belakang.

"Hallo, jelek!" Sakura memalingkan wajahnya ke arah belakang dan Sakura langsung menghela napas kasar ketika tahu siapa seseorang yang tengah memeluknya itu.

"Lepaskan tanganmu dariku atau kau akan ku—"

Chup!

Sakura membelalakan kedua matanya ketika pemuda bermanik onyx itu mengecup pipinya lalu melepaskan tangannya dari bahu Sakura. "Aku sudah menciumu jadi kau tak perlu repot untuk menciumku." Ujar pemuda itu dengan senyuman anehnya.

Sakura menatap pemuda di depannya itu dengan sebuah senyuman manis. "Berani-beraninya kau menciumku Sai—" ujarnya lembut, Sai hanya tersenyum tanpa arti ketika melihat teman sekelasnya itu tersenyum manis. Sakura dengan perlahan menghampiri pemuda berambut hitam klimis itu dan tanpa aba-aba Sakura mengangkat tangannya, "—rasakan ini SHANNARO!"

Greep!

"Argh! Lepaskan aku, brengsek!" Sakura menjerit ketika dengan reflek Sai menangkap tangan Sakura dan memelintirnya ke belakang tubuh Sakura.

Sai hanya diam tanpa melepaskan Sakura seraya menatap gadis musim semi itu dari belakang dengan tatapan datar. "Kau tak akan bisa memukulku jelek, kau hanya gadis lemah." Bisik Sai dengan nada mengejek tepat di telinga Sakura.

Sakura hanya mampu menghela napas jengah. "Bisakah untuk kali ini saja kau tak mencari masalah dengaku? Tidak cukupkah tingkah brengsekmu tadi pagi di Sekolah, hah?! Aku harus bergegas mengunjungi makam Ibuku." Ujar Sakura dengan nada lelah.

Sai sedikit membelalakan matanya dan dengan reflek pemuda tampan itu melepaskan Sakura. "Maaf aku tak tahu." Ujar Sai seraya menatap Sakura yang tengah membenarkan seragam Sekolahnya yang kusut itu dengan tatapan tanpa dosa.

Sakura merapihkan buket bunganya sejenak lalu menatap rivalnya di Sekolah itu dengan tatapan datar. "Hn, kau sedang apa di tempat pemakaman seperti ini?" tanya Sakura sedikit penasaran.

Sai melunturkan senyum palsunya dan menatap Sakura datar. "Hn, bukan urusanmu." Jawabnya dingin, lalu setelah itu Sai pun membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Sakura yang tengah menatapnya heran.

"Dasar aneh." Gumamnya pelan. Tanpa ingin ambil pusing Sakura kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhadang oleh rival di Sekolahnya itu.

Sakura tersenyum tipis ketika melihat batu pusara Ibunya yang terlihat sepuluh meter di depan matanya. Dalam sisa langkahnya Sakura kembali termenung, Ayahnya pernah berkata bahwa mendiang Ibunya adalah seorang wanita yang sangat hebat. Entah apa maksud dari perkataan itu, tapi Sakura percaya bahwa Ibunya memang wanita hebat.

Jujur saja Sakura sedikit kecewa karena Ayahnya tak pernah menceritakan bagaimana kehidupan Ibunya dulu. Ketika ia bertanya Toneri selalu berkata bahwa 'Belum saatnya kau tahu' ya, hanya empat katalah yang Sakura dapatkan. Padahal ia sangat penasaran bagaimana kehidupan Ibunya dulu, bagaimana Ayah dan Ibunya bertemu dulu, bagaimana kisah cinta Ayah dan Ibunya dulu, dan masih banyak hal tentang Ibunya yang ingin Sakura ketahui. Tapi sekali lagi Sakura harus menelan kekecewaan ketika hal yang sama Sakura dapatkan dari jawaban Kimimaro sang Kakek tercintanya ketika ia bertanya perihal Ibunya.

'Belum saatnya Saki tahu, tapi Kakek janji jika sudah saatnya Ayahmu sendirilah yang akan menceritakan semuanya padamu ...'

Tanpa Sakura sadari langkahnya terhenti tepat lima meter dari pusara Ibunya. Sakura yang masih terlarut dalam pikirannya tak sadar bahwa sepasang manik onyx dari seorang pria yang tengah berdiri di depan pusara Ibunya itu sedang menatap kedua manik emerald-nya dengan tatapan kosong.

Pluk!

Sebuah bunga kemboja putih terjatuh tepat di atas kepala Sakura dan secara spontan membuat Sakura sadar dari lamunannya. Sakura mengambil bunga kemboja itu dari atas kepalanya dan mulai melangkahkan kakinya kembali menuju pusara Ibunya.

Tap!

Kini Sakura tengah berdiri tepat di depan pusara Ibunya. Mata emerald-nya kini tengah menatap sebuah frame foto Ibunya dengan tatapan sendu. "Aku datang lagi Ibu. Maaf jika Sakura selalu datang sore hari seperti ini, Sakura harap Ibu tidak merasa terganggu dengan kedatangan Sakura." Gumamnya lirih.

"..."

Wushhhhhhhhh!

Angin yang berhembus menerpa tubuhnya tak Sakura hiraukan. Helaian rambut merah mudanya yang tergerai indah itu bergerak sesuai terpaan angin dan sekali lagi Sakura tak memedulikan hal itu. Kini tatapan sendunya terus memandang foto seorang gadis yang begitu mirip dengannya di depan sana.

Deg!

Sakura mencengkeram dada kirinya yang berdenyut perih itu dengan erat. Sakura menatap foto Ibunya itu dengan linangan air mata, "Kenapa aku selalu merasakan detakan perih ini ketika melihatmu Ibu? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apakah ... apakah semua ini adalah perasaanmu? Apakah hidupmu dulu begitu menderita Ibu? Katakan padaku! Kenapa setiap aku menyebutkan sederet namamu aku selalu merasakan denyutan perih ini? Katakan padaku! Hikss, apa yang sebenarnya terjadi?" Sakura jatuh bersimpuh seraya mengisak lirih.

"..." Hanya sapuan angin sepoi-sepoilah yang menjawab semua pertanyaan Sakura dan tentu saja itu membuat Sakura harus menelan pil kekecewaan karena tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya selain terpaan angin senja yang menerpa tubuhnya.

Mengigit bibir bawahnya kuat Sakura mulai mengusap permukaan tanah pusara milik Ibunya itu dengan tangan gemetar. "Rasanya sakit sekali. Aku hidup dikelilingi oleh kebahagiaan, ada Papa, Kakek, Hinata dan teman-teman yang menyayangiku. Semuanya terasa hangat dan membahagiakan. Tapi, mengapa aku merasakan perasaan perih ketika menatap wajahmu Ibu? Walau hanya sebuah foto, mengapa aku dapat melihat dengan jelas pancaran penderitaan di kedua manik matamu itu? Kenapa—hikss!" Isak Sakura seraya mencengkeram buket bunganya. Selama beberapa menit ditemani terpaan angin Sakura terus menangis entah karena apa, setelah merasa cukup tenang Sakura pun mulai menghapus air matanya dan beranjak berdiri tegak di depan pusara Ibunya.

Menatap frame foto Ibunya sejenak, Sakura mulai menutup kedua bola matanya dan mulai memanjatkan do'a untuk kedamaian Ibunya di alam sana.

'Ya Tuhan ... aku memang bukan hamba yang sempurna. Aku hanyalah hamba yang tak luput dari dosa, di sini di depan makam Ibuku yang tak pernah aku temui, aku sebagai seorang Puteri dari seorang Ibu yang telah tiada memanjatkan do'aku padamu. Aku mohon jagalah Ibu agar tetap berada di tempat terbaik di sisimu ... Amin.

Ibu ... Sakura harap Ibu bahagia di alam sana. Kita memang tak pernah berjumpa, tapi percayalah Sakura sungguh sangat merindukan Ibu ... Sakura sangat ingin berjumpa denganmu, Sakura ingin merasakan bagaimana lembutnya belaian tanganmu ... bisakah?

Datanglah dalam mimpiku! Ceritakanlah padaku segala sesuatu tentangmu Ibu, Papa tak pernah memberitahuku bagaimana kehidupanmu dulu, tapi bagaimanapun kehidupan Ibu di masa lampau Sakura harap itu adalah sebuah kehidupan yang tak menyakitkan. Aku mencintaimu Ibu ...'

Sakura kembali membuka matanya dan perlahan senyuman tulus pun terbit dari kedua belah bibirnya. Sakura pun mencium buket bunganya sejenak lalu ketika Sakura hendak menyimpan buket bunga tersebut tiba-tiba saja tangannya berhenti di udara kosong ketika melihat rangkaian bunga tulip telah tersimpan dengan apik di depan pusara Ibunya.

Tap!

Dengan pelan Sakura menyentuh rangkaian indah bunga tulip itu. "Bunga tulip? Dari siapa ini? Aku yakin ini bukan dari Papa karena Papa selalu membawakan bunga rose untuk Ibu, ini juga pasti bukan dari Kakek karena Kakek selalu memberikan bunga sakura untuk Ibu dan ini juga pasti bukan dari Hinata karena Hinata hanya akan memberikan bunga lavender untuk Ibu. Lantas ini dari siapa?" tanya Sakura heran pada dirinya sendiri.

Tanpa sadar Sakura tersenyum tulus seraya mencium rangkaian bunga tulip itu lembut. "Siapapun yang memberikan bunga ini semoga dia mendapatkan kebahagiaannya." Gumam Sakura seraya meletakan buket bunga melatinya tepat di samping bunga tulip tersebut.

"Sudah jam enam petang, Ibu Sakura pamit pulang dulu ya? Selamat malam Ibu." Ujar Sakura seraya mengusap foto Ibunya lembut. Setelah ber-ojigi singkat, Sakura pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman dengan senyuman indah yang terpatri di kedua sudut bibirnya.

.

.

.

.

.

Sebuah mobil Aston Martin Vanquish hitam metalic terparkir sempurna di pelataran sebuah pemakaman. Setelah beberapa menit mesin mobil tersebut dimatikan tak lama kemudian pintu depan mobil terbuka menampilkan seorang pria berumur sekitar tiga puluh enam tahunan dengan sebuah kemeja hitam bagian tangannya di gulung hingga siku dipadu dengan celana kain hitam, wajah pria berhelaian raven itu terlihat datar tanpa ekspresi.

Beberapa waktu telah berlalu pria itu hanya berdiri kaku di samping mobilnya, ia terlihat masih enggan melangkahkan kakinya memasuki area pemakaman, namun melihat waktu telah menunjukan pukul lima sore maka pria yang tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Sasuke mulai melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki area pemakaman. Hanya satu makam yang hendak ia hampiri. Ya, makam yang sangat ia kenal.

Tap, tap, tap...

Wushhhhh!

Kini Sasuke telah berdiri tepat di depan pusara yang begitu ia kenal siapa pemiliknya. Entah bagaimana awalnya kini angin telah berhembus menerpa tubuh Sasuke yang terdiam kaku menatap kosong pada pusara di depannya.

Dengan tubuh sedikit gemetar Sasuke dengan perlahan berjongkok dan menyentuh pusara itu dengan tangannya yang sedikit kaku. Sudah tujuh belas tahun lamanya Sasuke tak pernah melihat dia lagi. Gadis itu, gadis yang berada dalam frame sebuah pusara di depannya adalah Haruno Sakura gadis yang sudah lama meninggalkannya dalam rasa kelam.

Kedua mata onyx-nya menatap pusara di depannya dengan tatapan pilu, mengigit bibir bawahnya kuat Sasuke kembali merasakan denyutan perih di sisi terdalam hatinya. Luka menganga yang selama tujuh belas tahun terakhir berusaha ia tata kembali kini kembali retak dan kembali berlubang semakin menganga lebar. Tak kuasa menahan perasaannya pada akhirnya pria Uchiha berharga diri tinggi itu mulai kembali mengeluarkan liquid bening dari kedua mata sekelam malamnya.

"Sakura ..." gumamnya parau.

Sungguh entah apa yang Sakura lakukan selama dua bulan padanya di masa lampau sehingga membuat ia menderita dalam belasan tahun terakhir ini. Apa seperti ini penderitaan yang Sakura alami dulu? Beginikah rasa sakitnya? Sasuke tak mampu lagi menerka bagaimana penderitaan Sakura dalam belasan terakhir hidupnya karena ia yakin penderitaan Sakura jauh lebih pahit dibandingkan dengan penderitaan yang ia rasakan ketika Sakura pergi meninggalkan semuanya, meninggalkan ... dirinya.

Dan untuk yang pertama kalinya setelah tujuh belas tahun ia menahan perasaannya, pada akhirnya Sasuke kembali meraung akan rasa kehilangan dan kerinduan yang kian lama kian menyeruak menghabisi hatinya.

"Aku ..." kembali Sasuke bergumam lirih seraya menggigit bibir bawahnya kuat guna untuk menahan isak tangisnya, "aku kembali Sakura ... bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja. Kau tahu? Aku ... sangat merindukanmu," lirihnya pilu.

Tes, tes, tess...

Air mata itu terus menerus mengalir deras dari kedua kelopak matanya. Sasuke menatap foto sang Kekasih di depannya itu dengan perasaan kebas. Entah mengapa Sasuke yang selama tujuh belas terakhir ini mati rasa kembali merasakan bagaimana rasa sakit ketika melihat pusara sang Kekasih di depannya. Ya, rasa sakit di hatinya yang bahkan telah lama hancur.

Sesungguhnya selama tujuh belas tahun terakhir Sasuke tak pernah merelakan Sakura. Selama itu ia hanya mampu menutup kedua matanya, menutup kedua telinganya, menutup mata hatinya dan lari dari kenyataan bahwa gadis musim seminya telah tiada. Ya, Sasuke selama belasan tahun terakhir menjalani hidupnya dengan normal seakan semuanya baik-baik saja dan ia pergi ke luar Negeri pun karena untuk kembali pada Sakura yang tengah menunggunya di Jepang ketika ia sukses nanti, lalu pada saat ia kembali maka ia akan mengikat Sakura dalam ikatan tali pernikahan dan hidup bahagia bersama anak-anaknya kelak.

Tapi setelah ia kembali menginjakan kaki di Negara kelahirannya ini seakan dicambuk oleh kenyataan pahit bahwa sesuatu yang selama ini ia abaikan adalah sebuah kenyataan bahwa ... gadis itu telah tiada. Mencengkeram dada kirinya keras Sasuke dengan wajah putus asa mendongkakkan kepalanya menatap langit senja dengan tatapan hancur.

"Sampai kapan? Sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini, Tuhan? Sudah tujuh belas tahun aku berusaha menata perasaanku, tapi semuanya hanya sia-sia. Satu yang kuinginkan ... kembalikan ia padaku Tuhan. Hanya itu yang kuinginkan ..." gumamnya lemah. Penglihatannya kembali berkabut cairan bening di pelupuk matanya dan entah untuk yang keberapa kalinya dalam waktu setengah jam air mata itu kembali mengalir di kedua pipi pria raven tersebut.

Menghela napasnya sesak, dengan perlahan Sasuke menghapus air matanya dan beranjak berdiri. Berdiri tegak di depan pusara sang terkasih dengan tatapan penuh akan luka Sasuke menatap foto Sakura sejenak lalu dengan perlahan Sasuke menutup kedua kelopak matanya dan mulai mengutarakan seluruh isi hatinya dalam diam.

'Jika aku diizinkan sekali lagi, jika aku bisa bertemu dirimu sekali lagi di dalam kenangan masa laluku, di dalam rasa sakit itu ... hanya satu yang akan aku katakan ... aku mencintaimu.

Tak peduli kau ada di mana sekarang yang kuyakini kau adalah takdirku Sakura, kaulah satu-satunya yang kucintai ... kau adalah segalanya bagiku walau maut telah memisahkan kita itu tak berarti apapun karena kau tetaplah takdirku. Tanpamu semuanya tak berarti apa-apa, termasuk hidupku. Hidupku tanpamu tak berarti apa-apa Sakura, kau telah membawa jiwaku pergi bersamamu.

Aku hanya mampu memanggilmu dalam anganku, berdiam diri ketika kau tak mendengar suara lirihku yang memanggil sederet namamu.

Kebahagiaanku telah punah karena kau telah membawa seluruh rasa kebahagiaanku bersamamu Sakura ... kau adalah satu-satunya yang memiliki rasa cintaku selamanya. Hanya kau satu-satunya.

Semustahil apapun itu datanglah ke sisiku jika kau mencitaiku Sakura, datanglah padaku dan menetaplah di sisiku selamanya. air mataku ini mengalir memanggilmu, menginginkanmu kembali. Bisakah? Hanya satu yang kuinginkan ... kembalilah padaku Sakura ...

Tiga puluh tujuh juta lima ratus delapan puluh ribu delapan ratus detik, delapan juta sembilan ratus lima puluh sembilan ribu enam ratus delapan puluh menit, seratus empat puluh sembilan ribu tiga ratus dua puluh delapan jam, enam ribu dua ratus dua puluh hari, delapan ratus enam belas minggu, dua ratus empat bulan, enam puluh delapan musim dan tujuh belas tahun lamanya telah kulalui hidup tanpamu di sisiku. Rasanya sangat hambar dan kosong tanpa sebuah senyum manismu yang mengisi hari-hariku seperti dalam waktu dua bulan dulu, tanpa tawa bahagiamu yang menerangi curamnya hari-hariku seperti dalam waktu dua bulan dulu, tanpa pancaran cahaya emerald milikmu yang menerangi kegelapanku seperti dalam waktu dua bulan dulu. Aku merindukan segala sesuatu tentangmu Sakura ... sangat rindu.

Seberapa lamapun kau pergi, seberapa banyak pun dunia telah berubah, tetap ingatlah bahwa rasa cintaku tak pernah berubah padamu Sakura. Hanya kau, hanya kaulah yang berada di hati dan pikiranku selamanya. Hanya satu cinta yang kumiliki dan satu cinta itu telah kaubawa bersama kepergianmu, lantas apa artinya kehidupanku saat ini?

Aku percaya takdir, takdir ... bawalah ia kembali padaku ... aku memanggilmu takdirku kembalilah ke sisiku.'

Tes, tes, tess!

Air mata itu kembali mengalir di kedua bola mata Sasuke yang tertutup rapat dan lagi-lagi dadanya berdenyut perih ketika ia selesai mengutarakan seluruh isi hatinya itu. Dengan pelan tapi pasti Sasuke mulai membuka kedua matanya dan—DEG!

Wushhhhh!

Angin kencang berhembus menerpa tubuh Sasuke yang terdiam kaku dengan kedua mata onyx-nya yang menatap kosong ke depan. Seketika itu pula waktu seakan berhenti berputar, jantungnya seakan berhenti berdetak. Sesak! Paru-parunya seakan enggan menghirup oksigen yang berada di sekitarnya, seluruh syaraf yang ada di tubuhnya kaku seakan lumpuh total tak dapat ia gerakan, darahnya beku seakan berhenti berdesir.

Dunianya menghitam ketika ia melihat seseorang yang begitu ia rindukan kini tengah berdiri lima meter di depannya.

"Sakura ..." lirihnya dengan nada suara penuh kegetiran

Deg ...

Deg ...

Deg ...

Hati dan jantungnya berdenyut perih seakan ribuan jarum menancap dengan sempurna di sana ketika ia menyadari betapa kejamnya Tuhan yang telah memberikan harapan semu seperti ini.

Delusi.

Ya, Sasuke yakin seseorang yang tengah berdiri di depannya itu pasti hanyalah sebuah khayalan. Seseorang yang telah mati bukankah tak mungkin hidup kembali? Walaupun rasanya Sasuke sangat ingin itu terjadi, tapi tetap pikiran rasional menyadarkannya bahwa itu tak mungkin terjadi. Maka tanpa melepaskan tatapannya dari kedua emerald yang tengah menatapnya kosong itu, Sasuke meletakan rangkaian bunga tulip lambang kesetiaan itu di pusara sang terkasih.

Menghela napasnya perih Sasuke kembali menatap mata emerald gadis di depannya itu dengan tatapan nanar, kedua sudut bibirnya perlahan terangkat melengkung membentuk sebuah senyuman tipis penuh kepedihan. Dengan perlahan Sasuke pun membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya meninggalkan pusara Kekasihnya dan seorang gadis belia yang masih menatap punggung Sasuke yang semakin lama semakin menjauh dengan tatapan kosong.

'Lihatlah, begitu rindunya akan dirimu aku bahkan membayangkan sosokmu berdiri di depan mataku. Aku merindukanmu Sakura ...'


To be continue


A/N : Untuk chapter ini Sasa ngga tahu harus bilang apa. Sasa tahu pasti chapter ini plotnya rush banget ya? Feel ga dapet? Maaf jika mengecewakan. Oke jujur Saja sekarang ini Sasa itu lagi sakit T.T Udah seminggu lebih Sasa ketulangan. Yup! Tulang ikan yang Sasa kemakan kini tengah tersangkut di tenggorokan Sasa, rasanya sakit sekali minna :3 Ada yang tahu gimana cara nyembuhinnya ngga?

Fiks lupakan, wah banyak sekali yang takut ada SasuHina ya? Tenang aja insyaAllah SasuHinanya kagak bakal ada :) Oh iya Karin di sini umurnya 36 tahun. Kenapa dia belum nikah? Jawabannya Karin masih mau berkarir ^^

Segitu aja dulu. Sankyu^^

Sign, with love

UchiHaruno Misaki.


Special Thanks To :

isa alby || Mira Carnahan || sakura uchiha stivani || leedidah || Manda Vvidenarint || Rei Hanna || furiikuhime || hanazono yuri || Anisha Ryuzaki || mira cahya 1 || Haruli || mantika mochi || kim la so || Fuji Seijuro || azizaanr || Mina Jasmine || Nurul can || Haruka smile || suket alang alang || Kasuga Fugu Y || NadiaAo-Chan || helsidwiyana6 || lestari clalucntamereka || sami haruci 2 || eci nindy || ucihalily || Me || nay || fdestya love || kimmy ranaomi || YOG || louin990 || juju || Shinkaku Uchiharuno || zeedezly clalucindtha || Hayasi Hana-chan || Re UchiHaru Chan || blackcurrent626 || Teme-Kyun99 || alexandrakeith77 || IisVadelova || kana || orang ke tiga/BANYAK NYAMUK || Luca Marvell || Sasu-chan || ami || neko-hime21 || Henilusiana39 || FiaaATiasrizqi || megan091 || Uchiha Riri || pipochan || Tsurugi De Lalouch || cherryl sasa || CANDY || Sabaku no Gaa-chan || mii-chanchan2 || Matahari || GaemCould347 || HHSKTS || imahkakoeni || shindymajid || Vhia || Chanaire || Endo-sss || Fifi || Harukichi Rini || keybaekyixing || Don't You R || if || haru-chan || hasna r salsabila 1 || Queenshila || Leina Beivhirsio || Bilqis980 || Kawazoe Miharu || Guest || Favers || Followers || Silent Readers!