Naruto © Masashi Kishimoto
Story by UchiHaruno Misaki
Warn : AU, OOC, Typo, Pedofil Sasuke, etc.
Regret In Winter Sequel
SasuSaku
Multichapter
.
Chapter 6
.
Angin malam berhembus ke setiap penjuru bagian bumi yang telah di singgahi hitam pekatnya malam. Matahari tenggelam pada perpaduannya, Sang dewi rembulan kini telah menampakkan cahayanya dengan ribuan bintang yang bertaburan di sisiannya.
Sebuah motor sport putih yang dikendarai dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata oleh pemiliknya itu mulai melaju pelan ketika gerbang mansion kediamannya telah terlihat di depan mata. Gerbang hitam menjulang tinggi itu mulai terbuka otomatis, dan tanpa menunggu lama si pengendara motor langsung memasuki pelataran mansion dengan tugu bergambar kipas merah-putih di pekarangan.
Memasuki garasi, setelah memastikan motornya terparkir dengan benar, pemuda berkulit pucat itu dengan santai melangkahkan kakinya memasuki mansion.
Uchiha Sai, pemuda itu berdecih pelan ketika melihat mobil orang yang sangat membenci dirinya terparkir di samping mobil Sang ayah.
"Mereka sudah pulang, ya?" gumam Sai pada dirinya sendiri.
Kini Sai telah berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Menghela napas sejenak, Sai mulai memutar kenop pintu itu dan membukanya pelan.
Cklek!
"Tadai—"
"Sudah kukatakan! Kalian tidak perlu repot mengurus putraku."
"SASUKE!"
"Cukup! Aku hanya menitipkan Sai untuk sementara waktu hingga dia lulus sekolah, Ibu! Tidak bisakah Ibu bersikap layaknya seorang nenek pada cucunya? Sai itu putra kandungku."
"Tidak. Sampai kapanpun Ibu tidak akan pernah bersikap seperti itu pada anak itu. Dengar Sasuke ... dia hanya anak har—"
"CUKUP!"
"Ayah?!"
Ruangan langsung hening seketika Sai menampakkan dirinya dan memanggil Sasuke dengan nada tinggi. Sasuke menatap putranya nanar, sedangkan Fugaku dan Mikoto hanya memandang Sai datar tanpa ekspresi.
"Sai? Kau sudah pulang?" tanya Sasuke seraya menghampiri putra tunggalnya.
Sai memasang senyum palsunya seperti biasa. "Ya, aku baru saja pulang les melukis." Sahutnya polos seolah dirinya tak pernah melihat pertengkaran antara Ayah dan kedua kakek-neneknya.
"Hn, urusi putramu itu Sasuke. Kau tahu? Sudah lebih dari sepuluh kali dalam dua bulan Konan dipanggil ke sekolah hanya karena tingkah tak tahu aturan putramu itu." Setelah mengatakan itu Fugaku dengan angkuhnya meninggalkan ruangan diikuti Mikoto di belakangnya.
Sasuke menghembuskan napasnya lelah, lalu menatap wajah Sai sendu. "Maafkan Ayah, Sai." Bisik Sasuke lirih.
Sai menatap ayahnya itu lembut. "Tak apa, aku sudah terbiasa. Baiklah, aku ke kamar dulu."
"Hn."
Sai menghentikan langkahnya di anak tangga ke-4 ketika ia mengingat sesuatu. Sai menoleh dan menatap Sasuke datar, "Besok pada jam istirahat terakhir, Ayah tidak lupa akan datang ke sekolahku 'kan?"
Sedikit tersenyum, Sasuke mengangguk singkat. "Tentu, Ayah akan datang."
Sai tersenyum seperti biasanya. "Terima kasih, Ayah." Dan Sai kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
Sasuke menatap punggung putranya yang hilang di ujung tangga rumah itu dengan tatapan kosong. "Kenapa akibat dari kesalahanku harus diterima oleh putraku? Mengapa bukan padaku, Tuhan?" lirih Sasuke sendu.
.
.
.
.
.
—oOo—
Pernahkah aku punya hal terbaik pada hari Senin? Coba kuingat.
Pertama, aku harus datang sekolah pagi sekali karena jam pertama pelajaran di kelas adalah pelajaran Mr. Yakushi Kabuto, guru Sastra Inggrisku yang paling beruban dan paling menyebalkan di sentereo sekolah. Dia selalu hadir di kelas lima belas menit sebelum pelajarannya dimulai. Benar-benar konyol!
Kedua, ini adalah hari Senin pada minggu kedua dalam bulan ini aku harus membersihkan kamar mandi sebelum pulang sekolah. Berkat keberengsekan Sai yang tiada habisnya─menyembunyikan buku PR-ku yang sialnya itu buku PR pelajaran Mr. Yakushi─selama sebulan setiap hari senin aku harus menyikat seluruh lantai kamar mandi dan wc-nya yang bau dengan sikat yang bulu-bulunya sudah rontok.
Ketiga, ini hari di mana aku mengambil daftar mata pelajaran yang sama dengan Sai. Itu artinya aku pasti bertemu dengan Uchiha Sai selama enam jam ke depan. Ah tidak, bukan enam jam, tapi tiga jam. Ya, mengingat hari ini ada pertemuan orangtua di sekolah. Jadi sekolah dipulangkan lebih awal.
Yang terakhir dan berharap ini benar-benar yang terakhir, aku harus menggantikan posisi Hinata membersihkan perpustakaan mengingat adik manisku itu kini sedang melakukan lomba melukis di luar kota.
S-E-M-P-U-R-N-A!
.
.
.
.
.
"Selamat pagi," sapaku pada papa, paman Neji, kakek dan paman Tobirama yang sedang duduk manis di meja makan.
"Pagi, sayang. Ayo duduklah dan sarapan!" ucap papa seraya memberikanku nasi goreng ekstra keju. Aku menatapnya dengan malas, lalu memakannya pelan.
Kakek menurunkan koran paginya dan langsung menatapku heran, "Ada apa, Sakura?"
Kuhembuskan napas pelan, "Kapan Hinata pulang?"
Kulihat paman Neji tersenyum kecil dan mengacak rambutku lalu ia kembali meminum teh hijaunya. "Kau selalu murung jika tidak ada Hinata di dekatmu, eh? Hinata baru saja pergi subuh tadi, mungkin ia akan pulang sore." Aku tahu pasti paman tercintaku ini sedang menggodaku saat ini.
"Hari ini, Papa bisa ke sekolahku 'kan?" tanyaku mengabaikan ucapan paman Neji.
Kulihat papa menatapku menyesal. Oh tidak, aku benci dengan tatapan itu. "Maaf, hari ini Papa ada pasien, sayang."
Ya, aku sudah tahu papa akan mengatakan itu. Kualihkan tatapanku pada kakek, dan yang kudapat adalah tatapan serupa darinya. "Hari ini Kakek ada kunjungan ke desa Suna,"
Kuhembuskan napas pelan, lalu kualihkan tatapanku pada paman Neji dan dia langsung menatapku datar. "Kau mengharapkan apa dari seorang CEO sibuk sepertiku?" ujarnya kalem.
Ya Tuhan, demi sepatu bolong milik Lee teman sekelasku! Apakah hari ini benar-benar hari sialku? Menyebalkan!
"Biarkan aku saja yang menjadi walimu, Sakura." Bagai suara lonceng surga yang menggema, langsung kutatap pemilik suara indah itu dan menatapnya dengan berbinar-binar.
Oh, paman Tobirama yang tampan ... kau penyelamatku!
"Benarkah?"
Paman Tobirama tersenyum tipis dan mengangguk, "Itu pun jika ayahmu mengizinkannya,"
Kutatap papa dengan penuh harap, "Papa ... boleh 'kan?"
Papa tersenyum lembut, "Tentu saja, ini adalah pertemuan penting dan kau harus memiliki wali untuk itu." Imbuhnya.
Aku mencibirnya kesal, "Penting, tapi bahkan kau tak bisa datang, Papa!" dan terakhir sebelum kulangkahkan kakiku meninggalkan ruang makan adalah suara para pria dewasa itu yang tertawa menertawakanku. Menyebalkan!
.
.
.
.
.
Sakura menutup lokernya setelah mengambil buku PR Inggris. Pagi ini, angin cukup kencang melewati seluruh penjuru KIHS, sekolah yang berada di antara deretan pohon tinggi dengan cuaca basah.
"Jadi, Forehead … bagaimana caramu mengerjakan tugas-tugas itu, kalau bukumu kau simpan di loker?" Wajah Ino muncul di balik pintu loker yang baru saja ia tutup.
Sakura menyeringai licik. "Apa gunanya memiliki otak jenius sepertiku ini, eh? Bahkan semua tugasku telah selesai sebelum deadline." ucapnya angkuh seraya merangkul bahu sahabatnya.
Ino memutar kedua bola matanya bosan. "Ya, ya. Ootsutsuki Sakura yang sombong!" cibirnya.
Sakura tersenyum kecil dan menarik Ino berjalan menuju kelas. "Ya, seperti kau lupa saja bagaimana diriku, Piggy!"
Ino merangkul pinggang Sakura dan mengerling bosan. "Hm, ngomong-ngomong hari ini Hinata tidak masuk 'kan?"
"Ya, dan untuk yang kesekian kalinya perpustakaan akan berjumpa denganku." Dengus Sakura seraya mengibarkan helaian merah muda sepinggangnya, dan tanpa ia sadari para siswa yang tengah berada di koridor sekolah itu menatapnya terpana.
Ino terkekeh geli, "Itulah gunanya sebagai kakak, di mana ketika adikmu kerepotan maka kau harus ada sebagai pahlawannya."
"Hm, sudahlah. Ayo cepat kita ke kelas!"
.
Sesampainya di kelas, Sakura memgerenyitkan dahinya bingung ketika belum melihat sosok si uban Mr. Yakushi yang biasanya sudah bertengger manis di bangkunya.
"Ke mana dia?" tanyanya pada Ino.
Ino menaikkan kedua bahunya. "Itu artinya kau beruntung satu babak pada hari ini!"
Sakura menjentikkan jari. "Kau benar!" Sakura segera berlari menuju bangkunya, dan segera memeriksa PR-nya yang belum sempat ia periksa.
Bel sekolah sudah berbunyi dan saat itu juga Sakura selesai memeriksa PR-nya, pada saat yang tepat Mr. Yakushi muncul. Kepalanya yang berwarna bak uban itu dilingkari perban putih.
Suara-suara berisik di kelas langsung berhenti total.
"Kenapa dengan kepalanya?" bisik Sakura setelah menyenggol lengan Ino dengan sekali sikut.
"Tidak tahu, tapi kupikir begini lebih baik!" sahut Ino ketika guru ter-killer di KIHS itu terlihat sedikit lebih keren dengan perban rumah sakit di kepala putihnya.
Sakura terkekeh kecil mendengar apa yang Ino ucapkan.
"Kuharap bukan kau, Ótsutsuki Sakura, yang membuat suara berisik itu!" Mr. Yakushi mendelik tajam dari bangkunya, dan pada saat itu pula Sakura langsung diam.
"Sai, tolong bagikan kertas ini!" Dengan sigap Sai melakukan apa yang diperintahkan oleh Mr. Yakushi.
"Apa? Dia bermaksud membuat kuis dadakan lagi?" tanya Sakura pada Ino.
"Bandit gila!" gerutu Ino.
Sai dengan senyum palsunya telah sampai di meja Sakura. Ia meletakkan selembar kertas putih pada meja Sakura dan Ino.
"Kuharap nilaimu kali ini tidak seburuk minggu kemarin, jelek." Kata Sai sebelum meninggalkan meja Sakura.
Buruk? Hey! Sakura hanya mendapat nilai satu angka di bawah Sai.
Sakura mendengus dan menoleh ke belakang untuk menatap pemuda Uchiha itu sinis, namun Sai tidak melihatnya dan terus saja sibuk membagikan kertas kuis.
Sakura kembali menatap ke depan dan mendesah panjang. "Kuharap aku tidak pernah melihatmu, Uchiha." Gerutunya pelan.
Ino menatap Sai dengan tatapan sulit diartikan, lalu gadis itu menatap Sakura dan mengelus pundak sahabatnya dengan senyum prihatin. "Sudahlah, cepat kerjakan dan berikan aku lima contekkan!"
Sakura melirik Ino dari ekor matanya dengan sinis. "Dalam mimpimu, Pig!"
.
.
.
.
.
Tok, tok!
Suara pintu yang diketuk mengalihkan dunia seorang pria yang tengah tenggelam dalam tumpukkan berkas-berkas pekerjaannya. "Masuk."
Pintu terbuka, dan Sasuke menghela napas pelan ketika melihat kakaknya tengah tersenyum tipis padanya. "Hai, Otouto!"
"Hn, ada apa, Aniki?"
Itachi mendudukkan tubuhnya di sofa hitam ruangan itu. "Kau melupakan sesuatu, Sasuke." Ucapnya santai.
Sasuke menyandar pada kursi kebesarannya seraya melepas kaca mata tipisnya, lalu menatap Itachi datar. "Apa?"
"Setengah jam lagi pertemuan orangtua di sekolah Sai, kau tak lupa 'kan?"
Sasuke memijit keningnya pelan, "Hn, terima kasih sudah mengingatkanku."
Itachi tersenyum tulus. "Tentu. Ah, bagaimana kunjunganmu pada ... makam Sakura?" wajah Itachi mulai serius, "kau sudah merelakannya 'kan?"
Sasuke bungkam dengan segala pikirannya yang mulai kosong. "Entahlah ..." lirihnya.
Itachi memandang adik satu-satunya itu sendu. "Ini sudah tujuh belas tahun berlalu, Sasuke. Relakanlah, dan sekarang bukalah lembaran hidup baru, demi Sai, putramu."
Sasuke menatap Itachi putus asa. "Tidak bisa! Aku tidak bisa, Itachi! Ini ... ini terlalu sulit, Sakura ... dia, dia sudah terlalu dalam menarikku hingga aku tak bisa kembali. Setidaknya, tidak tanpa dirinya," Itachi bungkam dengan hati yang perih melihat Sasuke yang terlihat sangat hilang arah. "Aku ... aku hanya ingin dirinya, tidak dengan yang lain." Ucap Sasuke penuh kepedihan.
Mata itu, mata hitam Uchiha asli yang biasanya terlihat angkuh, dingin, tajam dan penuh wibawa kini terlihat memerah dengan urat-urat kecil yang memenuhi retina matanya. Oh, Uchiha Sasuke ... adikmu yang malang, Itachi!
Sasuke meraung parau dan tanpa sadar air mata langkanya kembali mengalir ketika mengingat pertemuan kejam yang Tuhan berikan padanya beberapa hari yang lalu di pusara sang terkasih. "Aku melihatnya, Aniki! Dia ... dia berdiri dengan bunga kemboja putih yang menghiasi kepala merah mudanya. Rambutnya tidak lagi pendek, kini rambutnya terlihat panjang teurai indah, dan ... dan dia—"
Buagh!
Kepala Sasuke terlempar ke arah kanan ketika tiba-tiba saja Itachi memukul pipinya telak. "Sudah cukup! Cukup Sasuke! Kau bisa gila jika kau terus seperti ini! Sadarlah, Sakura sudah—"
"Tidak! Jangan pernah mengatakan itu, atau kau akan mati hari ini, Aniki!" desis Sasuke tajam sembari mengusap air matanya kasar.
Dengan gontai Sasuke merapikan penampilannya dan langsung keluar ruangan menuju tempat parkir meninggalkan Itachi yang sedang berdiri mematung di tengah ruang kerja Sasuke.
Hatinya sebagai seorang kakak tentu hancur melihat kondisi adiknya yang seperti ini. Dulu sebelum Sasuke bertemu Sakura, ia tak pernah seemosional ini. Hidupnya selalu datar walau selalu ada Haruno Karin di sampingnya.
Haruno Karin...
Itachi tersenyum sinis. Wanita itu, wanita itulah yang memulai semua kehancuran ini. Kehancuran keluarga Haruno yang kehilangan sosok Sakura yang selama ini mereka abaikan, kehancuran Sasuke yang kehilangan cahaya hidupnya. Sasuke yang terlalu terpedaya rayunan Karin dengan kondisinya yang lemah hingga adiknya melupakan kewajibannya sebagai sosok seorang kekasih untuk Sakura yang pada saat itu sangat membutuhkan topangan hidup.
Pandangan Itachi meredup. Ingatannya kembali pada masa ketika ia masih bisa menjadi penopang Sakura.
.
.
.
.
.
Sakura kecil mendudukkan tubuhnya di sisi danau milik keluarganya. Gadis kecil itu menatap pantulan bulan di atas danau dengan tatapan sendu, boneka beruang kecil yang selalu dibawanya telah basah karena air mata yang keluar tanpa henti dari pemiliknya.
Malam ini adalah hari perayaan ulang tahun kakaknya, Haruno Karin. Dan seperti biasa, Sakura kecil kembali mendapat perlakuan tak baik dari kedua orangtuanya. Dirinya diusir dari acara pesta, dan di sinilah ia berakhir: duduk termenung dalam gelap kesendiriannya.
"Kau tahu kenapa bunga sakura hanya tumbuh pada musim semi?" suara baritone khas anak laki-laki membuat Sakura kecil menghentikan isak tangisnya dan menoleh ke asal suara.
Itachi yang berumur dua belas tahun tersenyum lembut menatap Sakura kecil yang sedang menatapnya dengan iris klorofil redup penuh air mata. "Kenapa kau sendirian di sini?" Itachi memilih mendudukkan dirinya di samping Sakura kecil.
Sakura kecil menggeleng pelan dan kembali merenung menatap pantulan cahaya bulan dengan tatapan kosong. Itachi mengelus helaian soft pink sebahu Sakura, "kau cantik jika tidak menangis. Berhentilah menangis, dan tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah gadis yang kuat!"
Sakura kecil menatap Itachi sendu, lalu menggeleng pelan. "Saku tidak bisa, tidak bisa melakukannya. Saku selalu sendirian, tidak ada ayah dan ibu, mereka selalu bersama Karin-nee ... Saku tidak bisa melakukannya sendirian, hikss ..." Sakura kecil kembali terisak dalam kepedihan hidupnya, dan itu membuat Itachi langsung merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapan hangatnya.
"Tidak, kau tidak sendirian. Karena mulai sekarang ... aku Uchiha Itachi akan menjadi temanmu, kita bisa melakukannya bersama. Jangan menangis," tutur Itachi lembut.
Sakura kecil mengangguk di sela isak tangisnya, dan semakin memeluk tubuh Itachi erat. Pertama kali dalam beberapa tahun hidupnya yang berat, Sakura kembali bisa merasakan kehangatan tubuh sesorang yang merengkuhnya.
"Terima kasih, Nii-chan ..."
.
.
.
.
.
Sejak saat itu Itachi dan Sakura semakin akrab. Seiring dengan berjalannya waktu, Itachi yang awalnya tak mengetahui apa yang Sakura derita selama ini akhirnya mengetahui kebenarannya. Ya, kebenaran hidup Sakura yang diabaikan dan disia-siakan oleh keluarganya sendiri hanya karena Haruno Karin sakit.
Setiap Sakura mendapat kembali ketidakadilan dalam hidupnya, tak jarang gadis malang itu pasti akan datang padanya dan nenek Chiyo: pelayan keluarga Uchiha. Tentu ia dan nenek Chiyo selalu membuka lebar kedua tangan mereka untuk Sakura.
Hingga pada saat itu, saat di mana ia diharuskan menimba ilmu di negeri paman Sam. Ia terpaksa meninggalkan Sakura dalam kesendiriannya, sampai saat ia tak dapat bertemu dengan malaikat kecilnya lagi karena semuanya telah terlambat ketika ia pulang. Sakura telah menghilang, dan di temukan kritis di sebuah rumah sakit.
Pada saat itu ia sadar, bahwa karma memang ada. Di mana ketika ia melihat seluruh keluarga Haruno menangisi kepergian Sakura dengan sebuah penyesalan yang sangat mendalam, pun sampai saat ia melihat Sasuke—adiknya ikut hancur karena kepergian gadis musim semi itu.
Pada saat itu pula Itachi tahu, kepergian Sakura adalah anugerah terbaik yang Tuhan berikan pada gadis malang itu. Ya, kematian yang menjadi akhir dari segala penderitaannya.
Dan kini karma itu masih membelenggu adiknya—Sasuke, sampai memiliki seorang putra dari wanita lain pun Sasuke tetap tak bisa merelakkan kepergian Sakura yang telah lama hilang.
Tess!
Itachi terperanjat ketika setetes air mata membasahi pipi kanannya. Ah, ia tersenyum pedih ketika mengenang masa lalunya bersama mendiang putri bungsu keluarga Haruno itu. Bagaimanapun juga Itachi tak menampik bahwa dulu ia pernah bertekad akan menjadi seorang yang sukses untuk Sakura. Ya, saat itu ia bertekad belajar di luar negeri dan menjadi orang sukses untuk membawa Sakura bersamanya, meninggalkan semua orang yang menjadi dalang dari semua penderitaan Sakura.
Sakura adalah cinta pertamanya...
Itulah rahasia yang Itachi simpan selama ini, dan ia berjanji akan menyimpan rahasia ini hingga akhir hayatnya. Saat ini ia cukup bahagia dengan keluarga kecil yang ia bina, walau di sudut terdalam hatinya ia masih sering mengenang kenangan manisnya bersama Haruno Sakura ... gadis kecil pertama yang berhasil menggenggam hatinya.
"Aku merindukanmu, Sakura."
.
.
.
.
.
.
.
—oOo—
Tiga jam penuh penderitaan sudah berhasil Sakura lewati dengan sukses. Nilai apa yang akan ia dapat kali ini? A- lagi? Atau bahkan turun menjadi A? Baiklah, sepertinya Sakura harus siap menerima ejekan dari Sai yang selalu mendapat nilai A+ di setiap kuis bahasa Inggris.
Sial!
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan," Ino memberikan sekotak jus jeruk untuk Sakura. Ya, saat ini mereka sedang berada di kantin sekolah.
Sakura langsung menyedot jus itu. "Aku berusaha memikirkan cara menghancurkan orang-orang yang sudah berhasil membuat napasku sesak, si uban dan si brengsek-tanpa-ekspresi!" Ucap Sakura dengan tangannya yang mengepal.
"Si brengsek-tanpa-ekspresi?" Ino membeo heran.
"Sai!" Ujar Sakura tegas.
"Sudahlah, lupakan Mr. Yakushi dan Sai. Kau harus membersihkan perpustakaan sekarang." Imbuh Ino mengingatkannya akan tugas yang harus ia kerjakan.
"Oh…" keluhnya. "Kuharap kau tidak mengingatkanku. Piggy!"
Ino menyeringai sinis, "Kau tidak mau mendengar Kurenai-sensei menambah hukumanmu 'kan?"
Sakura memutar bola matanya kesal. "Tidak, tentu saja!"
"Wahhh! Kau lihat tadi? Pria tadi tampan sekali!"
"Iya, aku melihatnya. Katanya itu Uchiha Sasuke, ayah Sai."
DEG!
Sakura yang masih duduk di meja kantin itu sedikit tersentak ketika mendengar sebuah nama yang diributkan para siswi tadi.
Sasuke?
"Wuahh, para orangtua sudah berdatangan ya?" ucap Ino ketika melihat beberapa mobil telah terparkir di halaman sekolah. "Dan, hey! Itu benar Uchiha Sasuke! Woaaah! Lihatlah forehead, ayah dari rivalmu itu sangat tampan!" jerit Ino tertahan ketika melihat sosok Sasuke dengan balutan kemeja formalnya berjalan di koridor sekolah lantai dua yang masih terlihat jelas dari kantin.
Sakura tersadar dari lamunannya langsung berbalik melihat ke arah yang Ino tunjukkan. Di sana hanya terlihat punggung seorang pria saja, dan itu membuat Sakura mendesah bosan. "Lalu, kalau ayah Sai tampan, memangnya kenapa? Kau tidak mungkin mengencani pria yang sudah memiliki anak 'kan?" tanya Sakura tak acuh.
Ino terkekeh kecil. "Sudah, cepat pergilah!"
Sakura mendengus kesal dan beranjak berjalan keluar kantin, menuju perpustakaan yang berada di lantai tiga.
.
Krieeeet!
Sakura membuka pintu perpustakaan dan ternyata tidak ada siapapun di dalamnya. Sedikit mendengus, ia mulai mengambil kemoceng dan lap di meja besar yang biasanya terdapat penjaga perpustakaan itu.
"Huh! Semua orang sekarang bebas karena pertemuan orangtua, sedangkan aku? Di sini sendirian. Menyebalkan!" Gerutunya seraya mulai membersihkan rak-rak perpustakaan yang berdebu itu.
"Fuahh! Uhuk! Sudah berapa lama perpustakaan ini tidak dibersihkan? Astaga! Debunya banyak sekali!" Sakura terus menggerutu setiap kali tumpukan debu berterbangan di sekitarnya.
Sakura mengambil sapu tangannya dan mulai mengikat sapu tangan itu di sekitar pelipis hingga dagunya untuk melindungi pernapasannya dari debu-debu. "Nah, begini lebih baik 'kan?" suara Sakura terendam oleh sapu tangan itu, lalu ia mulai kembali melanjutkan kegiatannya.
"Ah, ngomong-ngomong paman Tobirama sudah sampai belum ya?" gumam Sakura di tengah kegiatannya membersihkan buku-buku.
Sakura kembali berjalan ke ujung perpustakaan dan mulai membersihkannya, terlalu larut dalam kegiatannya bahkan Sakura tak menyadari ada seseorang yang memasuki perpustakaan itu.
Ciit, ciiit!
"Eh? Suara apa itu?" gumam Sakura seraya menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, dan tubuhnya langsung menegang ketika melihat makhluk putih kecil berlari menuju ke arahnya.
"HIYAAAA! TIKUSSSSS!" Jeritnya panik, dan tanpa sengaja Sakura menabrak rak buku di belakangnya.
Sakura menatap rak besar yang bergoyang ke arahnya itu dengan tatapan kosong. Oh tidak! Rak itu akan menimpamu, Sakura! Tubuhnya terpaku ketika rak itu hampir menimpa tubuhnya, jika saja tidak ada sepasang lengan kekar menariknya.
BRUAGH!
"Arggghh!"
.
.
.
.
.
Beberapa mobil mewah telah terparkir di pelataran KIHS. Ya, mobil para orangtua murid yang kini berkunjung untuk panggilan orangtua.
Salah satunya adalah mobil hitam mewah yang kini telah terbuka dan menampakkan sesosok pria tampan. Uchiha Sasuke, ia menyapukan seluruh pandangannya ke seluruh penjuru KIHS tanpa menghiraukan puluhan pasang mata yang menatapnya penuh damba.
Sudah tujuh belas tahun dan sekolah ini tidak banyak berubah. Batin Sasuke sendu.
Sasuke melangkahkan kakinya memasuki sekolah itu dengan tatapan kosong menerawang. Hah, semua yang ada di sekolah ini mengingatkannya pada Sakura.
Sasuke terus berjalan di lorong sekolah lantai ke tiga yang lenggang itu. Angin sepoi-sepoi yang masuk melewati jendela di sisiannya berhembus menerpa tubuh Sasuke.
Ia berjalan seraya menutup matanya. Meresapi suasana damai yang telah lama tak ia rasakan, hatinya pun mulai sedikit membaik dari kejadian beberapa menit yang lalu di kantornya dengan Itachi.
Tap!
Sasuke menghentikan langkahnya dan mulai membuka kedua matanya yang sedari tadi tertutup. Hal pertama yang ia lihat setelah membuka matanya adalah ... perpustakaan.
Dengan jantung yang sedikit berdetak cepat, Sasuke mulai membuka pintu perpustakaan itu dan perlahan ia memasukinya.
.
.
.
.
Sasuke mendengus ketika melihat Karin sedang mengobrol dengan teman-temannya. Karena bosan tak melakukan apapun, akhirnya ia melangkah meninggalkan kelasnya yang gaduh itu tanpa menghiraukan panggilan Karin. Entahlah, ia mulai bosan mendengar rengekan wanita pujaannya itu.
Sasuke berjalan santai di koridor yang sepi itu—mengingat ini masih jam pelajaran—dan dahinya sedikit mengerenyit melihat Sakura—kekasihnya tengah berlari menuju lantai tiga.
Mau kemana dia? Tanya Sasuke dalam hati. Karena penasaran, akhirnya Sasuke berjalan mengikuti Sakura.
.
"Hn, perpustakaan?" gumam Sasuke setelah melihat Sakura memasuki perpustakaan di depannya. Sasuke pun ikut masuk dan langsung mencari keberadaan kekasih musim seminya itu.
Itu dia!
Duduk sendirian di pojok perpustakaan dengan kanvas dan beberapa pewarna gambar di sampingnya.
Dengan gaya stay cool Sasuke berjalan menghampirinya. "Hn, sedang apa?" datar seperti biasa.
Sakura tersentak kaget, dan mendongkak. "Sasuke? Ah, ini aku sedang ... melukis." Gumam Sakura pelan.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Sakura hanya diam. Ya, diam memandang kanvas kosong itu sendu. "Melukis? Kau hanya diam memandang kanvas itu, Sakura."
Sakura tersenyum lirih. "Ya, memang. Aku ingin melukis, tapi tidak bisa. Setidaknya sekarang ... dulu aku suka sekali melukis." Sakura menepuk lantai di sebelahnya, "duduklah, Sasuke."
Sasuke duduk di sana dan menyandar pada rak buku. "Hn."
Hening ...
Trak!
Sasuke melirik Sakura dari ekor matanya, dan matanya sedikit terbelalak ketika melihat Sakura tengah menahan tangis seraya mencoba menggambar sesuatu di kanvas putih itu. "Aku tidak bisa, ini sulit! Hikss, bagaimana ini?" Isak Sakura pelan.
"Sakura, kau—"
"Maaf aku harus pergi!" Sakura segera berlari meninggalkan Sasuke yang mematung.
.
.
.
.
DEG!
Kenangan itu kembali memutar di kepalanya. Kenangan di mana untuk yang pertama kalinya ia melihat air suci itu keluar dari mata klorofil gadisnya. Untuk yang pertama kalinya pada saat itu ia merasakan hatinya berdenyut aneh, terasa perih tak menyenangkan. Namun egonya yang tinggi justru membuatnya mengabaikan hal itu, melupakan kejadian itu, dan kembali ia menyakiti Sakura dengan cara mengabaikan keberadaannya.
Kekasih macam apa dirinya ini? Kembali rasa sesal dan pedih itu hinggap dan menggerogoti dadanya. Sasuke menumpu tubuhnya pada dinding perpustakaan dan menatap langit-langit ruangan guna untuk menahan laju air matanya yang hendak kembali menyeruak keluar.
"Sakura ..." lirihnya penuh kerinduan.
"HIYAAAA! TIKUSSSSS!"
DEG!
Tubuh Sasuke menegang, dengan cepat ia berlari menuju asal suara. Jantungnya berdetak cepat, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Demi Tuhan! Sasuke yakin itu suara yang sangat dirindukannya, suara kekasihnya, suara Sakuranya.
Di sana!
Seorang gadis berhelaian soft pink sepinggang tengah berdiri mematung membelakanginya. Gadis yang begitu ia rindukan, dan ia yakin ini bukan ilusi! Mata Sasuke terbelalak lebar melihat rak buku itu hendak menimpa Sakuranya. Tidak! Ia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Maka dengan sekuat tenaga Sasuke berlari dan langsung merengkuh Sakura dalam pelukannya.
BRUAGH!
"Argghh!"
Sasuke meringis ketika lengan kanannya tergores ujung rak itu hingga setelan kemejanya sobek dan darah mengucur deras di sana, tapi Sasuke menghela napas lega karena dirinya tak terlambat.
Sakura membuka matanya yang sedari tadi tertutup dan jantungnya terasa mencelos melihat pemandangan di depannya. Seorang pria yang tengah menatapnya sayu dengan darah yang membanjiri lengan kanannya. Sakura terpaku sejenak.
Darah ...
Darahnya berdesir hebat dan jantungnya berdetak cepat. Ia takut darah, ia benci darah, tapi ... entah mengapa tubuhnya bergerak sendiri untuk menyentuh lengan kekar penuh darah itu.
"Paman ... kau berdarah!" bisik Sakura tertahan. Sakura segera beranjak dari atas tubuh Sasuke dan langsung menyandarkan tubuh Sasuke pada rak yang lain. "Ya Tuhan! Bagaimana ini?" mengabaikan tubuhnya yang bergetar hebat karena melihat darah, Sakura langsung menggenggam tangan Sasuke erat dan mengelap darah itu dengan sapu tangannya.
Sasuke menatap gadis belia di depannya dengan matanya yang sayu. "Sakura?" Sasuke segera menyentuh pipi Sakura dengan tangannya yang bergetar penuh dengan darah, "demi Tuhan, benarkah ini kau Sakura? Sakuraku?" lirih Sasuke dengan wajah haru, air mata pun tak luput dari pipi pria stoic itu.
Sakura menatap wajah Sasuke bingung, namun entah mengapa air matanya ikut mengalir. Sasuke dengan cepat menarik wajah Sakura mendekat dan langsung mengklaim bibir cherry gadis itu dalam ciuman dalam dan panjang penuh kerinduan.
Sasuke menangis! Menangis bahagia! Akhirnya ia kembali menemukan cahaya hidupnya, Sakura ... Haruno Sakura, kekasihnya.
To be continue
A/N : Satu, dua, tiga ... ahhh maaf ya Sasa udah menelantarkan fic ini selama tiga bulan T_T Masih ada 'kah yang inget sama fic ini? :3 Hm, Ga tau kenapa Sasa lagi ga moody bikin fic HURT, jadi kalo chapter ini hurt-nya ngga kerasa mohon maaf ya. Oke, ga banyak curcol(?) Semoga kalian suka, jangan lupa tinggalin jejak :)
Salam hangat,
UchiHaruno Misaki.
