Naruto © Masashi Kishimoto

Story by UchiHaruno Misaki

Warn : AU, OOC, Typo, Pedofil Sasuke, etc.


Regret In Winter Sequel

SasuSaku

Multichapter

.

Chapter 7

.


"Bagaimana?" Neji memerlihatkan denah Play Store yang hendak dibangun di daerah Kirigakure pada Tobirama yang kini tengah duduk di depannya seraya meneliti denahnya dengan cermat.

"Ini bagus, kurasa hanya letaknya saja yang mungkin harus kaupikir ulang, Neji." Ucap Tobirama seraya memandang Neji yang tengah menatapnya bingung.

"Apa maksudmu? Bukan 'kah lokasi yang kupilih ini sudah sangat strategis?"

Tobirama mendengus remeh, lalu pria itu mengetukkan jarinya di peta yang terhampar di samping denah itu. "Kaulihat ini?"

Neji mengikuti arah telunjuk Tobirama, kemudian ia mengangguk semar. "Ya, bukan 'kah ini gedung kosong milik pemerintah Kirigakure terdahulu?"

Tobirama melipat tangan di dadanya. "Tepat."

"Lalu? Apa hubungannya?"

"Coba kauprediksi, bagaimana tanggapan masyarakat Kirigakure ketika sebuah Play Store besar dibangun tepat di sebelah gedung kosong dan kumuh itu?" tanya Tobirama tenang.

Neji tak segera menjawab, pria itu terdiam cukup lama, lalu menit berikutnya Neji mengusap tengkuknya salah tingkah. "Ah, kau benar. Aku tak berpikir sejauh itu. Masyarakat tentu akan memberi tanggapan negatif pada Play Store yang akan kubangun karena bagaimana pun juga masyarakat di sana akan mengira aku tidak konsisten membangun bangunan mewah di sebelah gedung kosong yang kumuh. Jika kedua bangunan itu berdampingan pasti akan terlihat sangat kontras."

Tobirama tersenyum semar. "Lain kali kau harus lebih teliti lagi, bukankah kau seorang Hyuuga? Hyuuga dikenal dengan kemampuan kejeliannya dalam segala hal, bukan?"

Neji mendengus kesal lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. "Aku hanya manusia biasa, tentu selalu ada kesalahan di setiap langkahku, Tobirama."

"Maaf, itu semua tidak berlaku padaku. Jika kau ingat, jalanku tidak pernah salah selama ini." Imbuh Tobirama angkuh dengan wajahnya yang datar.

Neji menatap sahabatnya dalam. "Kau yakin?"

Tobirama menaikkan sebelah alisnya. "Tentu saja, kau meremehkanku?"

Neji menghela napas kemudian menggeleng pelan. "Bukan begitu, hanya saja ... kadangkala kita sebagai manusia harus menyadari di mana kita hidup dan berpijak, seperti apa kita di depan Tuhan, karena Tobirama, kita hanyalah manusia biasa. Manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan,"

"Apa maksudmu mengatakan ini, Neji?" suara Tobirama mulai memberat.

Neji tersenyum menyeringai, lalu ia membalikkan kursi putarnya membelakangi Tobirama menghadap kaca jendela besar ruang kantornya. "Lihatlah dalam masa lalumu, Tobirama. Kita selalu memiliki kesalahan baik di masa lalu, masa sekarang atau pun masa depan." Ucap Neji ambigu, iris bulannya menatap langit dengan tatapan sulit diartikan.

Tobirama sendiri terduduk kaku di tempatnya. Masa lalu? Menghela napas panjang, Tobirama menatap kepala Neji di balik kursinya datar. "Ya, mungkin kau benar. Tapi kurasa kesalahanku hanya terletak pada masa laluku saja, tidak untuk masa kini atau pun masa depan." Ucapnya tenang.

Neji kembali memutar kursinya menghadap Tobirama. "Kau yakin? Kurasa kau telah melakukan kesalahan yang akan membuat keponakanku marah sekarang."

Tobirama menatap Neji tajam. "Sial! Kenapa kau baru mengingatkanku sekarang?" ucap Tobirama seraya beranjak berdiri. Ia baru ingat jika hari ini ia sudah berjanji pada Sakura untuk menjadi walinya di pertemuan orangtua di sekolahnya.

Neji tersenyum kecil. "Sepertinya kau sangat peduli pada keponakan kecilku, Tobirama?"

Tobirama menghentikan langkahnya sejenak dengan posisi membelakangi Neji. "Mm, aku tidak ingin mengecewakannya. Hanya itu." Lalu Tobirama kembali melangkah menuju pintu dan beberapa detik setelahnya tubuhnya menghilang di balik pintu.

Neji mengerutkan dahinya bingung. Tentu saja ia menyadari perhatian berlebihan yang Tobirama lakukan pada keponakan pink-nya selama beberapa hari ini.

Ini aneh, bagaimana tidak? Neji sangat mengenal Tobirama. Tobirama tidak pernah bersikap lembut pada wanita mana pun termasuk tunangannya sendiri—Haruno Karin, namun pada Sakura? Pria itu sangat bersikap lembut, dan Neji bersumpah sebelum menghilang di balik pintu tadi, sebuah senyum yang tak pernah Neji lihat terpeta jelas di sudut bibir Tobirama.

Neji terdiam merenung memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang menjadi alasan Tobirama bersikap seperti itu, lalu detik berikutnya Neji menegakkan tubuhnya dan menatap pintu di depannya dengan mata terbelalak tegang. "A-ah? Apa mungkin ..."

.

.

.

.

.

.

Tubuh lelaki itu terkulai lemah tak sadarkan diri, menyisakan Sakura yang mematung dengan kedua mata terbelalak lebar. Bibirnya terlihat membengkak dan sebelah pipi kirinya yang basah oleh noda darah.

Sakura mengerjapkan matanya, sesaat kemudian ia menatap wajah Sasuke di depannya dengan tatapan entah apa artinya. "Tadi itu ... apa?" gumamnya lirih, "kenapa, kenapa paman ini menciumku? Kenapa? Kenapa tubuhku menerima setiap sentuhan paman ini? Ada apa ini?"

Tersadar dari renungannya, Sakura dengan panik mengguncang tubuh Sasuke. "Astaga! Paman! Ya Tuhan, bangun, Paman!" teriaknya dengan nada lemah. Ya, tubuh Sakura terasa sangat lemah dan gemetar karena darah. Ia membenci darah, sangat membencinya.

Sasuke bergeming dengan kelopak mata tertutup dan darah yang masih setia mengalir di lengan kanannya. Sakura dengan perasaan campur aduk segera beranjak berdiri dan berlari mencari bantuan.

Ketika hendak membuka pintu, mendadak tubuh Sakura terkulai lemah dan pintu perpustakaan tiba-tiba saja terbuka. Sakura terjatuh dalam dekapan seseorang. Sakura menoleh dangan mata setengah tertutup. "Tolong, tolong paman di sana, Sensei ...," lirihnya dengan napas terengah, dan detik berikutnya kegelapan menyelimutinya.

.

.

.

.

.

.

Sai melirik liar ke seluruh penjuru aula untuk mencari keberadaan ayahnya, namun ia tak melihat sosok ayahnya. Sai menyandarkan tubuhnya pada dinding lorong seraya mendesah berat.

"Ayah ... di mana kau?" gumamnya.

Suara ribut langkah kaki di ujung koridor membuat pemuda itu menegakkan kembali tubuhnya. Di sana terlihat seorang gadis yang Sai ketahui bernama Yamanaka Ino dan guru BP—Orochimaru, terlihat berlari dengan seorang gadis yang sangat ia kenali berada dalam dekapan Orochimaru.

Sai mematung ketika melihat noda darah di pipi Sakura, tanpa memedulikan orang-orang yang berkerumun melihat itu, Sai segera berlari menghampiri mereka. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika melihat petugas ambulance di belakang Orochimaru terlihat ikut berlari seraya mengangkat seseorang dalam tandunya. Dan seseorang itu ...

Mata Sai terbelalak lebar. "AYAH?!" dan detik berikutnya Sai berlari menyusul rombongan itu menuju mobil ambulance yang entah sejak kapan telah terparkir di halaman sekolah.

.

Tobirama memarkirkan sedan volvo hitamnya dengan tenang. Setelah mematikan mesin dan melepaskan seatbelt-nya, lelaki itu segera keluar dari mobilnya.

Matanya terlihat berpendar ke seluruh penjuru sekolah itu. Pandangannya terlihat melembut, "Jadi ini, 'kah tempat Sakura menimba ilmu?" gumamnya tenang dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

Ia melirik kumpulan mobil-mobil mewah yang terparkir di sana, dan sepertinya ia memang sedikit terlambat. Maka dengan cepat ia melangkah menuju gedung pertemuan orangtua di sekolah itu.

Tobirama berjalan di koridor yang dipenuhi para murid bebas jam pelajaran. Para murid—khususnya perempuan, terlihat terpesona olehnya, namun Tobirama tak mengacuhkannya.

"Dasar bocah ingusan." Dengusnya tak habis pikir.

"AYAH?!"

Tobirama tersentak ketika mendengar teriakkan seorang pemuda yang baru saja ia lewati. Semua murid termasuk Tobirama menatap pemuda yang tak lain adalah Sai itu, dan mata sipit Tobirama sukses membeliak melihat apa yang diteriakkan Sai.

Uchiha Sasuke. Saingan bisnisnya. Dengan darah yang mengalir di lengan kanannya yang terkulai. Yang membuatnya terpaku di tempatnya adalah ... Otsutsuki Sakura yang tak sadarkan diri di pelukan—deg! Mendadak kinerja jantungnya bekerja dua kali lipat ketika melihat siapa yang menggendong Sakura.

"Ayah?" gumamnya. Tanpa membuang waktu lagi Tobirama ikut berlari mengejar mereka. Namun sayangnya ia terlambat. Mereka telah pergi dengan mobil ambulance yang bahkan tak ia sadari terparkir di depan sekolah ini.

Tak kehabisan akal, Tobirama berlari kecil menghampiri mobilnya dan segera tancap gas mengikuti mobil ambulance itu. Ia sedikit melirik pemuda yang tadi berteriak memanggil kata ayah—entah pada siapa—juga ikut mengikuti mobil ambulance itu dengan motor sport putihnya.

.

oOo

.

Pria itu menatap gadis belia yang terbaring lemah di ranjang dengan tatapan tak terbaca. Perlahan, sangat perlahan ia mengangkat tangannya dan mulai menyentuh kulit wajah pucat gadis itu.

Iris kuning keemasan yang biasanya terlihat penuh arti dan dingin itu sekilas terlihat seberkas luka kepedihan di sana ketika menilik rupa gadis belia di depannya dengan dalam. Jari-jemarinya mulai berani mengelus kulit wajah gadis itu. Dari dahi, alis, kelopak mata, bulu mata, hidung, pipi, bibir, pun dengan garis rahang lembut gadis itu ia sentuh. Selama itu pula ia menutup kedua matanya. Seakan meresapi sesuatu. Sesuatu yang sangat familiar, yang telah lama hilang.

"Ayah merindukanmu, putri kesayangan ayah ...," pria itu berucap sendu. Perlahan ia kembali membuka kedua matanya. Menatap gadis itu lembut. "Sakura ...,"

"Ayah?"

Deg!

Tubuh pria itu terdiam kaku. Ia membeliakkan kedua matanya sedikit. Ia yakin, ia mendengar suara seseorang. Seseorang yang sangat dibencinya. Seseorang yang telah ia cap sebagai dark list dalam kehancuran keluarganya. Kehancuran yang mengawali kematian seseorang yang ia kasihi.

Ia melepaskan tangannya yang sedari tadi menempel pada pipi gadis yang terbaring lemah di ranjang pasien, kemudian ia berbalik. Menatap seseorang yang menatapnya tajam penuh intimidasi di ambang pintu yang terbuka. "Senju Tobirama." Gumamnya.

Tobirama melangkahkan kakinya dengan langkah ringan dan berdiri tenang, menatap orang itu datar. "Mm, lama tidak berjumpa, Ayah."

Pria itu—Orochimaru, tersenyum tipis penuh ancaman. "Hm,"

Tobirama memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan melirik Sakura yang terbaring lemah sekilas, lalu tatapannya kembali pada Orochimaru yang masih berdiri kaku. "Apa yang kaurencanakan?" tanyanya to the point.

"Mm?" Orochimaru mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu, anak muda?"

"Dengar," Tobirama tanpa sadar mengeraskan rahangnya. "Apa pun yang kaurencanakan, aku tidak akan pernah membiarkan rencanamu memisahkanku dengannya lagi." Tatapannya sedikit menyendu, "setidaknya, tidak untuk yang kedua kalinya."

Orochimaru terkekeh kecil dan berjalan melewati Tobirama sambil berbisik. "Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Kau tidak bisa memisahkanku dengannya," Orochimaru menyeringai kejam. "Tidak untuk yang kesekian kalinya."

Dan setelah itu, pria yang menjabat gelar guru BP dan profesor laboratorium di sekolah Sakura itu keluar dari kamar pasien dengan ekspresi wajah yang tak terbaca. Tobirama menggeletukkan gigi-giginya dengan mata yang memerah. "Sial." Umpatnya pelan.

.

Sai segera menyembunyikan dirinya di balik dinding ketika seorang pria berambut panjang keluar dari ruangan itu. Ia menatap punggung orang itu dengan ekspresi tak terbaca.

Awalnya setelah sampai di rumah sakit ini, Sai berencana untuk langsung mencari ruangan ayahnya dan meminta penjelasan atas apa yang sebenarnya dengan ayahnya di sekolah. Namun ia segera mengurungkan niatnya ketika ia sedang mencari ruangan ayahnya justru ruangan Sakura 'lah yang ia temukan.

Sai melihat semuanya.

Yang membuatnya tak mengerti dari kejadian yang ia lihat adalah: mengapa guru BP di sekolahnya menyentuh Sakura seperti itu? Lalu, ia pun tak tahu siapa pria dewasa berambut perak yang tadi hanya diam di ambang pintu kamar Sakura. Dan ... ayah? Apakah pria berambut perak itu anaknya Orochimaru? Tapi setahu Sai, Orochimaru tak memiliki sanak keluarga.

Lantas siapa pria itu? Dan lagi, Sai cukup jeli mendengar percakapan mereka, lalu siapa yang mereka bicarakan? Apa ada kaitannya dengan Sakura?

Sai tersentak dari lamunannya ketika melihat pria berambut perak tadi kini tengah mencium pipi Sakura yang tak sadarkan diri. Ia mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya melihat kejadian itu.

Demi Tuhan, siapa dia? Berani sekali dia menyentuh Sakuraku. Batinnya geram. Pria brengsek! Pedofil gila.

Dengan perasaan campur aduk, Sai segera pergi dari tempat persembunyiannya dan kembali mencari ruangan ayahnya.

Aku harus menyelidiki semua ini.

.

.

.

.

.

.

Toneri yang baru saja selesai menjalankan prakteknya bagai tersambar petir ketika mendengar kabar bahwa Sakura masuk ke rumah sakit dari Tobirama. Maka tanpa membuang waktu lagi, Toneri segera menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit di mana Sakura berada.

Satu jam kemudian lelaki dewasa itu telah sampai di lokasi. Setelah menanyakan kamar rawat inap putrinya di resepsionis, Toneri kembali berlari dengan dada berdebar hebat menuju kamar putrinya. Demi apa pun juga, melihat Sakura terbaring di ranjang pasien adalah hal terakhir dalam hidupnya yang ingin ia lihat.

Ia tak ingin kehilangan lagi. Tidak untuk kedua kalinya setelah kejadian tujuh belas tahun yang lalu.

Ketika Haruno Sakuragadis yang sejak dulu diam-diam ia cintai, meninggalkannya untuk selamanya setelah melahirkan buah hati mereka.

Toneri berdiri dengan napas terengah di depan pintu yang tertutup rapat, perlahan ia membuka pintu itu dengan wajah pucat pasi dan—

"Eh? Papa?" Sakura tersenyum manis padanya dengan sebuah majalah di pangkuannya. Ada Tobirama juga yang tengah duduk santai di sofa dengan ponsel di tangannya. "Kau datang?"

Bagai bara api yang tersiram air dingin, ketegangan Toneri meluap entah ke mana ketika melihat keadaan putri kesayangannya baik-baik saja, walau wajahnya masih sedikit terlihat pucat.

"Astaga, Sakura." Toneri melangkah menghampiri Sakura dengan lemas dan segera memeluk putrinya erat. "Kau hampir membuat Papa mati berdiri," bisiknya membuat Sakura terkikik kecil. "Kau membuat Papa khawatir, demi Tuhan."

"Maafkan aku, Papa." Sakura mendongak menatap ayahnya manja, "aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku ini gadis yang kuat!"

"Mm," Tobirama yang sedari tadi diam memperhatikan bergumam pelan. "Kuat ya? Memangnya ada orang yang kuat takut darah?" tanyanya dengan lembut. "Kau tidak lupa 'kan apa penyebab yang membawamu ke rumah sakit ini?" Ya, Sakura telah menceritakan apa yang terjadi padanya pada Tobirama ketika ia siuman setengah jam yang lalu.

Mendengar penuturan Tobirama, dalam pelukan Toneri wajah Sakura telah memerah sempurna. Ia malu, karena apa yang diucapkan Tobirama benar adanya dan tentu saja kini Sakura semakin membenamkan wajahnya di dada bidang ayahnya.

"Menyebalkan!" gumamnya.

Tobirama menggelengkan kepalanya dan kembali sibuk dengan ponselnya, Toneri sendiri tesenyum kecil dan mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan Sakura yang masih memeluknya erat. "Jadi," ia mengusap rambut putrinya lembut, "apa yang sebenarnya terjadi?"

Perlahan Sakura melepaskan pelukannya. Menatap Toneri dalam dan ia mulai menceritakan semuanya—kecuali adegan ciuman tak terduga dengan pria tampan yang telah menolongnya itu. Sakura pikir cukup ia saja yang mengetahui hal itu.

"Jadi begitu 'lah ceritanya," ucap Sakura mengakhiri penjelasannya.

"Begitu," Toneri mengusap pipi Sakura pelan. "Papa harus bertemu dengan orang itu dan Papa harus berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan putri kesayangan Papa,"

Wajah Sakura terlihat murung. "Orang itu tidak ada di sini," gadis itu menyandar pada dada Toneri, "kata perawat, keluarga paman itu meminta agar paman itu dirawat di rumah mereka saja dan aku tidak tahu di mana rumahnya. Aku bahkan tidak mengenalnya," Sakura mengembungkan kedua pipinya kesal.

"Aa," Toneri mengecup kepala Sakura lembut. "Tidak apa-apa, yang penting kau selamat dan di mana pun orang itu berada, kita doakan saja semoga Tuhan memberikan hadiah atas kebaikannya." Dan Sakura mengangguk setuju.

Diam-diam Tobirama melirik Sakura dengan seksama. Ia bisa saja memberitahu siapa orang yang menyelamatkan gadis itu karena ia cukup mengenal orang itu, tapi Tobirama tak ingin ambil pusing. Yang terpenting untuk saat ini adalah Sakura yang baik-baik saja. Itu saja sudah cukup membuatnya lega.

Hanya saja ... ia kembali mengingat Orochimaru. Tak ia sangka pertemuannya dengan Orochimaru akan terjadi di waktu yang sangat tidak tepat. Ia harus waspada mulai sekarang. Ia tidak akan membiarkan Orochimaru mengusik hidupnya.

"Papa, aku ingin pulang."

"Mm?" Toneri tersenyum kecil, "pulang? Nanti saja. Jika kau sedikit lebih lama di sini Papa tidak perlu khawatir dengan gigi-gigimu yang rusak karena terlalu banyak mengasumsi persediaan es krim di rumah."

"Apa itu?" Sakura menatap Toneri tak percaya. "Jahat! Aah! Pokoknya aku mau pulang! Aku sudah tidak apa-apa dan aku janji akan mengurangi porsi es krimku! Aku mau pulang, Pa! Ya, ya, ya?"

"Mm, bagaimana ya?" Toneri mengerling jenaka dengan pose berpikir.

Sakura mendengus kesal. "Tck! Apa gunanya ada Papa dan kakek kalau begini? Kalian bisa merawatku di rumah, 'kan? Lagi pula aku hanya sedikit shock saja tadi. Jadi, kumohon ...," Sakura menangkupkan kedua tangannya di pipi dengan pose seimut mungkin. Matanya yang bulat besar mulai berkaca-kaca, "aku mau pulang, Papa ..."

Nah, siapa yang tahan dengan wajah menggemaskan itu? Toneri bahkan harus menggigit lidahnya guna untuk menahan diri agar tak mencubit gemas sekaligus mencium sayang putrinya saat ini juga. Ya, Sakura berbeda dengan Hinata yang pasrah saja jika ia serang dengan ciuman sayangnya, lain halnya Sakura yang tak suka diperlakukan seperti itu.

Toneri tersenyum tipis dan mengacak poni Sakura. "Baiklah, kau akan pulang malam ini juga."

"Yes! Terima kasih, Papa!"

Tobirama kembali menumpukan atensinya pada Sakura yang kini tengah merengek ingin pulang. Ia tersenyum lembut melihat hal itu, ah— andai saja ... Tobirama segera menggelengkan kepalannya.

Tidak, ini belum saatnya. Ya, setidaknya itu 'lah yang ada di pikirannya.

.

oOo

.

Terang. Menyilaukan. Cahaya putih itu terlalu terang. Perlahan kelopak mata itu terbuka, mengerjap untuk menyesuaikan penglihatannya yang masih merabun.

Putih.

Warna itu 'lah yang ia tangkap oleh indra penglihatannya. Ia—Uchiha Sasuke, beranjak duduk dan meneliti tempat di mana dirinya berpijak.

Sebuah taman hijau yang sangat luas, tanpa batasan, tak berujung. Hanya ada dirinya di sana. Dirinya dengan rumput indah mengelilinginya, angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya dan ... sebuah pohon besar yang berada tepat sepuluh kaki di depannya.

"Hn?" iris obsidiannya menatap sesuatu yang melambai-lambai di balik batang pohon besar itu. Perlahan ia bangkit, berjalan dengan langkah ringan menghampiri pohon itu.

Deg!

"Itu ...,"

Merah muda.

Seseorang bergaun putih dengan sebuah bunga Lily di tangannya muncul dari balik batang pohon itu. Helaian rambut sebahunya masih setia melambai-lambai karena terpaan angin dan ... senyuman manisnya tak pernah luntur dari wajah cantiknya.

Sasuke terpaku. Terdiam mematung. Tatapan datarnya berubah nanar ketika melihat orang itu. Orang yang telah lama meninggalkannya. Orang yang selalu ia rindukan.

"Sasuke-kun, ya?" Orang itu berjalan pelan menghampiri Sasuke. Setiap langkah yang orang itu ambil, saat itu pula jantung Sasuke berdebar dua kali lebih cepat.

Setelah sampai tepat di depan Sasuke, orang itu menyentuh pipi Sasuke dan menariknya mendekat. Memeluk Sasuke penuh kelembutan.

"Sakura?" lirih Sasuke.

Orang itu—Haruno Sakura, tersenyum manis di balik bahu Sasuke. "Kenapa kau menyia-nyiakan hidupmu seperti ini?" bisiknya di telinga Sasuke. "Kau membuatku sedih, Sasuke-kun."

Air mata itu tumpah seiring dengan kedua tangan kekarnya yang segera balas memeluk tubuh gadisnya erat. Sangat erat hingga tak ada jarak di antara keduanya. "Sakura? Sakura? Haruno Sakura?" Sasuke membenamkan wajahnya di leher Sakura seraya menangis terisak. "Sakura ...," ia terus menggumam lirih di sela tangisannya.

"Yang kuinginkan," Sakura mengusap pipi Sasuke lembut, "adalah melihatmu bahagia, Sasuke-kun." Gadis itu memindahkan tangan kanannya dari pipi ke bahu Sasuke yang bergetar. Ia mengusap bahu itu penuh kasih. "Tapi, kenapa kau menyia-nyiakan tujuh belas tahun hidupmu dengan penyesalan itu?"

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya dan semakin menangis terisak. "Aku merindukanmu ... maafkan aku, aku menyesal. Maaf, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku lagi," bahunya semakin bergetar.

Demi Tuhan, Sasuke tidak sudi melepaskan pelukannya. Sakuranya telah kembali. Ia yakin ini bukan mimpi, ini nyata dan ia tak akan melepaskan pelukannya.

Sakura mengangkat kepala Sasuke dari lehernya dan ia menatap wajah lelaki itu dalam. Menghapus air mata dari pelipis lelaki itu, Sakura mulai berjinjit dan mencium bibir Sasuke lembut.

Sasuke mengeratkan pelukannya di pinggang Sakura dan mulai membalas ciuman itu dengan lapar. Ia mengulum bibir Sakura liar, buas, kasar dan dalam. Ia merindukannya, merindukan Sakuranya dan kini biarkan ia melepaskan rasa rindu yang selama ini ia pendam. Dan sepertinya Sakura pun tak keberatan. Terbukti dengan ia membiarkan Sasuke menguasai bibirnya.

Setelah merasa cukup, Sasuke melepaskan bibirnya dengan napas terengah. Pantas saja, pasalnya Sasuke benar-benar melahap bibir gadis itu tanpa jeda.

Sakura mengusap dahi Sasuke yang basah karena keringat, Sasuke sendiri kini tengah menatap iris emerald indah di depannya dengan tajam, penuh kerinduan dan ... cinta.

"Hn," Sasuke mengeratkan pelukannya di pinggang Sakura. "Jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi. Berikan aku kesempatan,"

"Mm," Sakura tersenyum tipis dan mengelus alis Sasuke. "Aku tidak pernah meninggalkanmu, Sasuke-kun. Dan," Sakura menatap Sasuke dalam, "kehidupan baru akan memberikanmu sebuah kesempatan."

Sasuke mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu, Sakura?"

Sakura menggeleng, kemudian ia mendekatkan bibirnya pada telinga Sasuke dan berbisik. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Sasuke-kun. Sekarang, bangunlah ...,"

Sasuke, bangunlah ...

Bangunlah ...

Bangunlah ...

.

"Nak? Bangunlah, Sasuke." Mikoto masih setia menemani Sasuke sejak dari beberapa jam yang lalu.

Saat ia baru saja sampai di Bandara tadi siang, ia dikejutkan dengan ucapan Itachi di telepon bahwa Sasuke dilarikan ke rumah sakit. Maka tanpa membuang waktu lagi ia segera menuju rumah sakit bersama Fugaku.

Setelah sampai di sana, ternyata sudah ada Itachi dan Sai. Melihat kondisi Sasuke yang masih belum sadarkan diri, Fugaku memutuskan untuk segera membawa Sasuke pulang saja karena ia tak ingin putranya terlalu lama di rumah sakit. Sasuke sangat membenci rumah sakit sejak tujuh belas tahun yang lalu. Dan di sini 'lah Sasuke berada sekarang. Di kamarnya. Di Mansion utama Uchiha.

Waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam dan Sasuke belum sadar juga. Mikoto tidak terlalu khawatir karena dokter berkata Sasuke memang sengaja diberi obat tidur dengan dosis sedikit tinggi karena Sasuke didiagonsa mengidap insomnia beberapa tahun terakhir ini. Mendengar kenyataan itu tentu membuat Mikoto merasa miris. Ia tahu betul apa yang menyebabkan putranya susah untuk tidur.

Haruno Sakura. Tentu saja.

"Sakura, aku merindukanmu ... maafkan aku, aku menyesal. Maaf, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku lagi." Sasuke mengigau dengan suara yang lemah dan itu membuat Mikoto segera menepuk pipi Sasuke.

"Sayang? Bangunlah, Nak."

"Sakura ...,"

"Sasuke, bangunlah!"

"SAKURA!"

Mikoto sedikit tersentak ketika Sasuke berteriak dan beranjak duduk dengan napas terengah. Mata Sasuke bergerak liar mencari Sakura, namun justru wajah ibunya 'lah yang ia temukan.

"Ibu?"

Mikoto segera memeluk Sasuke lembut. Mengusap punggung anaknya penuh kasih dan mengecupi kepala Sasuke. "Sasuke, kau membuat Ibu khawatir, kau tahu?"

Sasuke menghela napas dan dengan pelan ia melepaskan pelukan ibunya. "Di mana, Sa—akh!"

Sasuke meringis ketika tanpa sengaja ia menekan lengan kanannya yang terasa pegal. "Ada apa dengan tanganku?"

"Hati-hati, Sasuke!" Mikoto segera membaringkan Sasuke dan menatapnya dalam. "Harusnya Ibu yang bertanya, apa yang terjadi padamu?"

Sasuke termangu dengan tatapan menerawang. Beberapa menit setelahnya Sasuke kembali berbaring dan membalikkan tubuhnya membelakangi Mikoto. "Hanya kecelakaan ringan, Bu." Ia menatap Mikoto dari ekor matanya, "biarkan aku sendiri."

Mikoto menghela napas dan mulai beranjak. "Baiklah," ia menyelimuti Sasuke. "Tidurlah."

Setelah memastikan ibunya sudah keluar, Sasuke kembali tidur terlentang. Menatap plafon kamarnya dengan napas berat. Ia tidak ingin lagi berharap lebih. Ini sudah cukup. Mimpinya tadi membuatnya menyadari sesuatu. Ia tidak boleh terus seperti ini. Sakura sudah meninggal dan ia tidak mungkin hidup kembali.

Sasuke menutup kedua matanya dengan napas sesak. Kejadian di perpustakaan tadi pasti salah satu delusinya juga. Ia pasrah, ia akan belajar untuk merelakan kepergian Sakura mulai sekarang.

Tapi ... apa ia bisa melakukannya? Entahlah.

"Sakura ...,"

.

.

.

.

.

.

Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Kini seluruh keluarga Uchiha tengah berkumpul di ruang tamu mereka—minus Sasuke.

"Jadi," Fugaku menatap Sai datar. "Apa yang terjadi dengan ayahmu?"

Sai yang duduk tepat di samping Itachi langsung tersentak kaget dari lamunannya dan segera menatap kakeknya. "Aa," Sai berdehem sejenak. "Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, Ojii-sama."

Mikoto meminum tehnya dengan tenang. "Apa saja yang kaulakukan sampai-sampai penyebab kecelakaan kecil ayahmu saja tidak tahu, mm?" Wanita itu terlihat sangat kaku ketika berbicara dengan Sai. Tatapannya selalu tak terbaca.

"Ibu, sudahlah." Itachi menatap ibunya datar, "biarkan Sasuke istirahat dulu, nanti kita tanyakan apa yang sebenarnya terjadi."

Itachi mengalihkan tatapannya pada Sai, "Sai, sebaiknya kau ke kamarmu dan siapkan segala keperluanmu untuk lusa."

Sai tersenyum dan mengangguk. "Ya, sebaiknya seperti itu." Sai mengalihkan tatapannya pada Fugaku dan Mikoto. "Aku pamit ke kamar dulu, Obaa-sama, Ojii-sama." Sai berdiri dan membungkuk sopan, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Kamarnya.

Fugaku dan Mikoto sama sekali tak mengindahkannya, berbeda dengan Itachi yang kini menatap punggung keponakannya prihatin. Iris obsidiannya dialihkan kembali pada kedua orangtuanya. "Sampai kapan kalian berlaku seperti itu pada Sai? Tidak 'kah kalian berpikir itu tidak adil untuknya?"

Fugaku seakan tuli. Ia bergeming dan membuang wajahnya ke arah tv yang menyala. Berbeda dengan suaminya, Mikoto justru menatap Itachi dalam. "Itachi, kau tahu betul silsilah keluarga Uchiha itu tidak pernah ternoda, mereka selalu menjunjung tinggi adat moral dan kesopanan. Orang itu—"

"Dia punya nama, Bu. Sai, Uchiha Sai, bukan orang itu." Sela Itachi.

"Hn, siapa pun dia, dia adalah sebuah noda di keluarga kita. Apa kata leluhur kita di alam sana?"

"Ibu," Itachi menatap ibunya lelah. "Kita semua tahu siapa yang seharusnya disalahkan di sini, dan itu bukan Sai."

"Aa," Mikoto menatap putra sulungnya tajam. "Jadi kau menyalahkan Sasuke, begitu?"

"Ibu, bukan begitu. Aku tidak menyalahkan siapa pun." Itachi memijat pangkal hidungnya lelah, "walau bagaimana pun dulu Sasuke masih terlalu muda dan labil, tapi di sini aku hanya ingin sebuah keadilan. Sai tidak tahu apa-apa, Bu. Mengerti 'lah, dia cucu kandungmu,"

"Ibu tidak bisa, Itachi. Ini terlalu sulit untuk diterima," nada bicara Mikoto mulai melembut. "Lagi pula, Ibu ingin melihat Sasuke bahagia, tapi sikap anaknya terlalu liar dan Ibu yakin pasti Sasuke juga terbebani olehnya,"

Itachi menatap ibunya lembut. "Ibu pasti bisa. Ibu hanya perlu mencobanya perlahan, dan Sai bukan beban untuknya."

Mikoto menggigit bibirnya dan menggeleng pelan. "Sai hanya sebuah kesalahan, Ibu tidak mau Sasuke semakin terbebani oleh orang itu. Sudah cukup kepergian Sakura yang membuatnya terpuruk hingga sekarang, Ibu tidak mau Sasuke semakin menyesal pada mendiang Sakura karena pengkhianatannya yang menghasilkan Sai dengan seorang wanita jalang murahan."

"Sudahlah," Fugaku yang sedari tadi bergeming, diam-diam melirik istrinya dari ekor matanya. "Membahas anak itu tidak akan pernah ada ujungnya." Ucapnya tak acuh.

Itachi menghela napas panjang. Ia tak dapat menampik kenyataan jika adiknya memang bersalah di sini. Jika saja Sasuke berpikir lebih dewasa dan rasional saat itu, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.

Ting, tong!

Mereka bertiga tersentak ketika mendengar suara bel rumah berbunyi.

"Aa, itu pasti Konan dan Hotaru." Ucap Itachi. Mikoto dan Fugaku hanya mengangguk paham. Ya, menatu dan cucu mereka pasti baru saja pulang dari tempat kursus piano Hotaru.

Ketika melihat maid yang lewat hendak membuka pintu utama, Itachi segera menahannya dan mengatakan jika ia saja yang membuka pintu. Maid itu mengangguk mengerti dan kembali ke dapur, sedangkan Mikoto dan Fugaku hanya diam memperhatikan punggung Itachi yang menghilang di balik dinding pemisah antara ruang tamu dan pintu utama.

.

Sasuke terusik dalam tidurnya ketika rasa haus menyerang kerongkongannya. Walau berat, ia memaksakan dirinya untuk membuka mata dan beranjak dari ranjang. Ia melirik jam yang masih menunjukkan pukul delapan malam.

Ia melihat nakasnya yang kosong. Kalau tidak salah tadi ia melihat ada segelas air putih di sana, tapi mengapa sekarang tidak ada? Hn, mungkin Ibu membawanya. Pikirnya.

Dengan langkah malas-malasan, ia mulai keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga. Di setiap langkahnya ia harus meringis pelan ketika denyutan perih ia rasakan di lengan kanannya yang diperban.

"Eh, Sasuke? Kau mau ke mana?"

Sasuke menoleh dan ternyata ayah dan ibunya tengah menonton tv di ruang tengah.

"Ke dapur."

Mikoto segera menghampiri Sasuke. "Kau mau apa? Biar Ibu ambilkan,"

Sasuke menggeleng. "Tidak usah, Bu. Aku bisa sendiri."

"Tapi—"

"Sudahlah, biarkan saja, Mikoto." Fugaku menyela ucapan istrnya.

Mikoto menghela napas pelan. "Baiklah, tapi kau harus hati-hati, Sasuke."

"Hn,"

Sasuke kembali melangkahkan kakinya menuju dapur yang terletak di seberang ruang tamu, itu berarti mengharuskannya berjalan melewati pintu utama.

Ketika ia sampai di ambang dinding pemisah antara ruang tamu dan pintu utama, langkah kakinya mendadak terhenti dan jantungnya berdetak cepat ketika melihat apa yang ada di depan matanya.

Emosinya tersulut.

"Brengsek!"

.

Itachi melangkah dengan langkah ringan menuju pintu utama, lalu ia mulai memutar kunci dan membuka pintunya.

"Kau sudah pul—" mata Itachi terbelalak tak percaya ketika bukan istrinya yang berada di hadapannya, tapi ...

"Maaf, Paman. Apa ini rumah si breng—um, maksudku Uchiha Sai?" gadis itu—Otsutsuki Sakura, bertanya dengan nada ragu.

Ya, beberapa menit yang lalu ia menerima pesan dari Sai yang isinya mengatakan apa yang terjadi dengan ayahnya, dan tanpa membuang waktu lagi Sakura segera kabur dari rumahnya, lalu pergi ke rumah ini setelah menanyakan alamat rumah Sai pada Ino. Ya, jika Sai berkata seperti itu, berarti paman yang telah menyelamatkannya tadi di perpustakaan adalah ayah Sai. Uchiha Sasuke.

Sakura harus bertemu Sasuke sekarang. Ia ingin berterima kasih dan ingin menuntut penjelasan mengapa lelaki itu menciumnya tadi.

Itachi masih berdiri mematung. Shock. Ini tidak mungkin, tapi gadis itu nyata adanya. Berdiri di depannya. Adalah Haruno Sakura? Jadi apa yang dikatakan Sasuke tempo hari benar? Haruno Sakura yang berdiri di hadapannya kini masih Sakura yang sama sejak tujuh belas tahun yang lalu. Hanya saja, Sakura yang sekarang terlihat berbeda dengan rambutnya yang memanjang hingga pinggul. Namun, pandangannya pada Itachi berubah. Asing dan kosong, iris klorofil itu telah berubah.

Dadanya mendadak terasa sesak. Penuh oleh buncahan rasa ... tak percaya. "Sakura?" gumamnya pelan.

"Eh?" Sakura mengerjapkan matanya bingung, "Paman tahu namaku?"

Kejadiannya begitu cepat ketika Itachi telah mendekap Sakura hangat di dadanya. "Sakura ... ini tidak mungkin. Benarkah kau Sakura? Sakuraku?"

"Paman, apa yang kaulakukan?" Sakura meronta meminta dilepaskan, "lepaskan aku, Paman!" jeritnya panik. Ada apa ini? Kenapa orang ini tiba-tiba saja memeluknya?

Itachi bergeming. Ia tetap memeluk Sakura yang mulai menangis takut.

"Apa yang kaulakukan, Itachi?"

Tubuh Itachi terhempas keras ke lantai ketika Sasuke memukulnya dengan emosi tinggi. Dengan segera Sakura berlindung di balik punggung orang yang telah menyelamatkannya itu.

Itachi mendongak menatap Sasuke. "Sasuke ... dia, Sakura ...,"

"Kau!" Sasuke segera menindih Itachi dan memukul kakaknya bertubi-tubi bagai orang kesetanan. "Berani sekali kau menyentuhnya!" Sasuke memukul rahang Itachi keras, "dia milikku! Dari dulu dia adalah milikku! Sakuraku!" sekali lagi Sasuke memukul Itachi yang telah terkulai lemah dengan lembam di wajahnya. "Dulu kau tidak percaya padaku jika Sakura masih hidup, tapi sekarang apa? Kau memeluknya, Keparat!" Sasuke meninju keras pelipis Itachi yang membiru, "tidak ada yang boleh menyentuhnya! Sekali pun kau! Brengsek kau Itachi!"

"ASTAGA! ADA APA INI?!" Mikoto menjerit panik ketika melihat adegan baku hantam antara kedua putranya itu.

Fugaku segera menarik Sasuke dari atas tubuh Itachi. "Apa yang kaulakukan, Sasuke?!"

"Lepaskan! Aku akan membunuhnya!" Sasuke meronta dalam dekapan Fugaku. Bahkan perban yang melilit luka di tangan kanannya pun mulai kembali berdarah karena gerakan liar Sasuke. Tapi Sasuke tak memedulikannya, yang ia pedulikan saat ini adalah mematahkan kedua tangan Itachi yang telah lancang memeluk Sakuranya. "Lepaskan aku, Ayah! Dia telah berani memeluk Sakura! Sakuraku!"

"Sasuke sadarlah! Sakura sudah meninggal!" ucap Mikoto.

Sakura yang sedari tadi terdiam kaku melihat kejadian di depannya itu dengan reflek menghampiri Sasuke dan memeluknya. "Paman, tenanglah. Aku tidak apa-apa,"

DEG!

Mikoto dan Fugaku terdiam kaku di tempat mereka berpijak. Saking paniknya melihat pertengkaran Sasuke dan Itachi, mereka tak menyadari ada orang lain di sana. Dan orang itu adalah ... Haruno Sakura.

"Tidak mungkin," bisik mereka berdua.


To be continue


A/N :

Wah, wah, wah! Maaf ya Sasa baru update fic ini T.T Maklum mood buat lanjut fic mulai bertebaran entah ke mana. Masih inget ga sama fic ini? Ngga ya? #pundungdipojokkamar# xD

Terima kasih banyak buat readers, favers, followers yang udah ninggalin jejak dan menanti dengan setia fanfic ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya. :D

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Mohon maaf ya kalo Sasa punya salah sama kalian semua ;)

Salam sayang,

UchiHaruno Misaki.