Naruto © Masashi Kishimoto
Story by UchiHaruno Misaki
Warn : AU, OOC, Typo, Pedofil Sasuke, etc.
Regret In Winter Sequel
SasuSaku
Multichapter
.
Chapter 8
.
Gedung dengan pilar-pilar luar biasa besar itu terlihat ramai oleh orang-orang berseragam sekolah berbeda yang keluar dari sana. Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam dan Glory Gallery yang dijadikan tempat perlombaan melukis antar sekolah itu baru saja selesai dengan perlombaannya yang digelar sejak jam 8 pagi lalu.
Gadis indigo dengan lembaran kanvas yang ia peluk di dadanya itu menghentikan langkahnya setelah keluar dari pintu galeri. Iris tiaranya menatap wanita dewasa di depannya dengan tatapan hormat. "Terima kasih, Sensei." Gadis itu—Hinata, membungkukkan tubuhnya sopan pada guru pembimbing yang telah menemaninya lomba melukis.
Wanita yang berdiri di depannya; Shizune—guru pembimbing Hinata, tersenyum dan menepuk bahu Hinata. "Tidak masalah," ia memberikan piala dan tersenyum bangga pada Hinata. "Kau sudah melakukan hal terbaik untuk sekolah kita, Hinata. Kau sangat berbakat,"
Hinata menerima piala yang didapatinya dari perlombaan melukis itu dengan malu-malu. "Sensei," ia bisa merasakan wajahnya memanas ketika mendapat pujian dari gurunya.
Shizune tersenyum kecil melihatnya. "Ayo kita pulang,"
"Ha'i." Hinata tersenyum cerah dan mengangguk.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran. Hinata tak berhenti mengulum senyum sejak di perjalanan karena demi apa pun Hinata sudah tidak sabar untuk segera sampai ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar memperlihatkan pialanya pada sang ayah dan ia juga tidak sabar untuk mendapatkan pelukan hangat ayahnya.
'Untuk kali ini saja ... aku bisa menandingi Sakura-nee yang selama ini selalu bisa membanggakanmu, Papa.'
.
.
.
.
.
.
Di sofa ruang tamu kediaman Otsutsuki, terlihat Tobirama yang tengah serius menekuni layar tab di tangannya. Beberapa menit setelah pulang dari rumah sakit, mendadak sekertarisnya yang masih ada di Paris menghubunginya dan mengabarkan berita yang cukup buruk.
Beberapa perusahaan di sana yang seharusnya menanam saham di perusahaannya mendadak berubah pikiran. Dan informasi yang ia dapat dari mata-matanya di sana, ternyata mereka beralih menanam saham ke perusahaan Uchiha Group dengan dalih perusahaan properti dan elektronik milik Uchiha Group lebih menguntungkan mereka dari pada perusahaan milik Tobirama yang berada di bidang fashion.
Setelah mengirim beberapa email kepada pihak bersangkutan untuk mendapat penjelasan, lelaki bermanik merah itu menghembuskan napas berat seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Memijat pangkal hidungnya pelan, ia mulai merutuki kebodohannya. Terlalu sibuk memperhatikan Sakura, membuatnya harus rela kehilangan beberapa relasi bisnisnya.
Sebenarnya itu tidak terlalu menjadi masalah, mengingat penghasilan cabang perusahaannya yang tersebar luas di beberapa negara tidak akan membuatnya rugi. Hanya saja ia tak pernah rela Uchiha Group merasa menang darinya. Singkatnya Senju Tobirama tidak pernah menerima kegagalan, apalagi yang menjadi akar kegagalannya adalah perusahaan rival abadinya—Uchiha bersaudara.
Beberapa kali Tobirama mengumpat kesal, ditambah dengan Haruno Karin yang tak pernah absen mengganggunya. Menanyakan masalah hubungan mereka dan menyinggung pernikahan mereka yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi membuatnya geram bukan main.
Ia tak pernah menginginkan sebuah ikatan. Tidak setelah dengan orang itu beberapa tahun silam. Sekarang ia harus menerima konsekuensi menikahi Karin hanya karena kebodohannya meniduri Karin pada pertemuan ketiga kalinya dalam fashion-show Victoria Secret beberapa tahun yang lalu dipergoki oleh Haruno Kizashi yang kebetulan berada di Hotel yang sama.
Meniduri seorang model adalah hal biasa baginya, namun bukan hal biasa ketika ia dipergoki meniduri model oleh ayah model itu sendiri. Itu memalukan dan aib baginya.
Tobirama memiliki harga diri yang tinggi, maka demi menyelamatkan harga dirinya di hadapan Haruno Kizashi yang notabene adalah salah satu pengusaha yang menanam saham pada perusahaannya, akhirnya Tobirama terpaksa mengatakan akan menikahi Karin. Pada saat itu, Tobirama tak akan pernah melupakan raut wajah bahagia Kizashi dan raut wajah girang Karin yang menurutnya sangat memuakkan.
Ia ingin mengakhirinya, namun ia tak cukup bodoh untuk melakukan hal itu. Entah mengapa ia tak ingin melihat Kizashi kecewa padanya, bertahan hingga detik ini pun ia lakukan karena Haruno Kizashi. Pengusaha yang ia kagumi sejak pertemuan pertama mereka.
"SAKURA?!"
Lamunan Tobirama buyar ketika mendengar suara Toneri di atas sana. Lebih tepatnya dari kamar Sakura. Maka tanpa pikir panjang, Tobirama segera berlari ke sana.
Sesampainya di sana, Tobirama terpaku di tempatnya berdiri ketika melihat Toneri berdiri frustasi di balkon kamar Sakura. Ia menyipitkan matanya ketika melihat sesuatu yang melingkar di pagar balkon, seperti ...
Kain, seprai?
Tobirama mengeraskan rahangnya ketika menyimpulkan sesuatu. Jangan katakan jika Sakura—
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya," gumam Toneri ketika melihat Tobirama. "Kenapa Sakura pergi dengan cara seperti ini? Ditambah kondisinya yang belum pulih benar, ke mana anak itu?" katanya lagi dengan frustasi.
Oh, shit! Ternyata pikiran Tobirama benar adanya. Sakura kabur.
"Mm," Tobirama menghela napas berat. "Siapa teman terdekatnya? Aku yakin, anak itu pergi bukan tanpa alasan," ucapnya datar tanpa emosi.
Toneri tertegun dan tanpa mengatakan apa pun, ia segera merogoh ponsel di saku celananya, detik berikutnya ia segera menghubungi seseorang yang sangat dekat dengan putrinya. Yamanaka Ino.
Selama menunggu sambungan terhubung, Toneri merutuki dirinya sendiri yang lengah. Awalnya Toneri berniat menemani Sakura hingga putrinya tidur, namun karena tadi pihak rumah sakit tempatnya bekerja menghubunginya, tanpa curiga Toneri meninggalkan kamar Sakura untuk menerima telepon sebentar. Namun tanpa disangka beberapa menit setelah Toneri meninggalkannya, Sakura telah menghilang entah ke mana.
Kekhawatirannya kian memuncak ketika melihat beberapa kain seprai tersambung sehingga membentuk tali cukup panjang tergantung bebas di pagar balkon kamar Sakura. Satu kesimpulan yang ia dapat, Sakura kabur dan tak ingin siapa pun tahu ke mana ia pergi. Tentu saja itu membuat Toneri curiga, apa putrinya ingin menemui seseorang? Tapi siapa? Malam-malam seperti ini?
Tutt—klik!
[Hallo? Dengan kediaman Yamanaka di sini,]
Toneri tersentak kaget, dan segera menjawab. "Mm, ini ayah Sakura. Ino, apa kau tahu di mana Sakura sekarang?"
Toneri sempat mendengar Ino memekik tertahan di seberang sana, namun tak cukup lama ketika Ino segera menjawabnya.
[Um, ano ... tadi Sakura mengirim pesan padaku, Paman. Ia menanyakan alamat rumah Sai. Mungkin Sakura ada di rumah Sai?]
"Sai?" alis Toneri mengkerut dalam, "siapa dia?"
[Ah, dia teman sekelas kami, Paman. Sai, Uchiha Sai namanya ... Paman bisa mencarinya di Mansion Uchiha,]
Deg!
Mendadak tubuh Toneri menegang dengan jantung berdetak cepat. "U-Uchiha?"
Dengan secepat kilat tatapan mata Tobirama menajam ketika mendengar nama Uchiha dari bibir Toneri. Ada apa ini? Jangan bilang kalau ...
"Mm, terima kasih atas informasinya, Ino." Toneri memutuskan sambungannya dan berjalan dengan wajah penuh antisipasi melewati Tobirama. "Sebaiknya kita ke Mansion Uchiha sekarang, Sakura ada di sana." Bisiknya ketika ia berada di sisi tubuh Tobirama.
Dan dengan itu tubuh Toneri menghilang di balik pintu kamar. Meninggalkan Tobirama yang memandang punggungnnya keheranan.
"Sepertinya ada sesuatu yang kulewatkan di sini," gumamnya sebelum menyusul Toneri.
Ada yang terlewatkan, benar. Otsutsuki Toneri melupakan putrinya yang bahkan belum pulang hingga saat ini. Otsutsuki Hinata.
.
oOo
.
Sakura menatap tubuh Sasuke yang terbaring tak sadarkan diri dengan dahi mengkerut dalam. Pikirannya kalut saat ini, sangat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepalanya saat ini.
Perihal insiden perpustakaan, Uchiha Itachi yang tiba-tiba saja memeluknya, Uchiha Sasuke yang memukul Itachi dan—Sakura menatap kedua orang dewasa lainnya yang kini termangu dalam dunia mereka sendiri—mereka yang tadi menatapnya aneh. Seolah mereka tengah menatap sesuatu yang tidak mungkin. Dan terakhir ucapan Sasuke yang begitu terngiang jelas di benaknya.
"Kau!" "Berani sekali kau menyentuhnya!" "Dia milikku! Dari dulu dia adalah milikku! Sakuraku!" "Dulu kau tidak percaya padaku jika Sakura masih hidup, tapi sekarang apa? Kau memeluknya, Keparat!" "Tidak ada yang boleh menyentuhnya! Sekali pun kau! Brengsek kau Itachi!"
Apa maksud dari semua ini? Sakuraku? Mengapa mereka mengklaim dirinya seenaknya seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ia melewatkan sesuatu? Dan ... apa maksud dari 'Sakura masih hidup?' Mereka pikir ia sudah meninggal? Tch, lelucon macam apa ini?
Setelah kejadian mengejutkan di depan pintu Mansion Uchiha tadi, tiba-tiba saja Sasuke jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya. Sakura benar-benar bingung, ada apa dengan keluarga Uchiha ini? Mengapa mereka bersikap aneh? Terlebih terhadapnya. Perasaan, Sakura tak pernah mengenal keluarga Uchiha, tapi mengapa tatapan yang mereka berikan padanya seolah mereka sangat ... mengenal dirinya?
Semua ini membuatnya bingung. Ia ingin bertanya, namun ia cukup peka jika sekarang bukanlah saat yang tepat untuk bertanya.
Kini ia berada di sebuah kamar bernuansa maskulin dengan Uchiha Sasuke yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Entah dorongan dari mana, ketika ayah Sasuke membawa Sasuke ke kamarnya, muncul perasaan asing dalam diri Sakura untuk ikut masuk ke dalam sana.
Ia tahu sikapnya ini sungguh tidak sopan, tapi rasa ingin tahu dan khawatir yang menyelimuti hatinya membuat Sakura nekat ikut masuk ke dalam kamar Sasuke. Setidaknya ia ingin memastikan jika keadaan Sasuke baik-baik saja.
Beberapa menit setelahnya, seorang dokter datang dan memeriksa keadaan Sasuke. Dokter itu juga mengganti perban Sasuke yang dilumuri banyak darah setelah adegan baku hantam dengan Itachi.
Ngomong-ngomong soal Itachi, Sakura melihatnya dibawa ke kamar lain oleh seorang wanita berambut biru tua sebahu yang datang tak lama setelah Sasuke pingsan. Sakura berpikir, mungkin 'kah wanita itu istrinya? Spekulasinya menguat ketika melihat bocah laki-laki berambut hitam raven yang memanggil Itachi dengan sebutan ayah. Satu lagi pertanyaan di benaknya, jika Itachi sudah memiliki istri dan anak, mengapa lelaki itu memeluknya? Dan Sakura mendengus pelan ketika mengingat Itachi pun ikut mengatakan jika ia adalah Sakuranya. Oh, demi Tuhan ... lelucon macam apa ini? Memang ada berapa Sakura di dunia ini sehingga mereka menyangka jika ia adalah Sakuranya?
Lamunan Sakura buyar ketika melihat dokter ber-name tag Genma Shiranui itu beranjak berdiri dan menatap orang tua Sasuke serius. "Putra anda terlalu stress sehingga tekanan darahnya naik, ditambah dengan insomnia yang menyerangnya setiap malam,"
Mikoto segera duduk di sisi ranjang dan menatap Sasuke sedih. "Apakah anakku akan baik-baik saja, Genma-san?" tanyanya dengan pandangan yang masih terfokus pada wajah anaknya.
"Segala penyakit pasti akan sembuh, itu pun jika Tuhan menghendakinya dan bagaimana orang itu bertekad untuk sembuh. Nyonya Uchiha," Genma menatap Mikoto serius, "jika bisa, lebih baik putra anda jangan terlalu memikirkan sesuatu yang dapat menaikkan tensi darahnya. Itu tidak akan baik untuk kesehatannya,"
"Kami mengerti," Fugaku yang sedari tadi diam akhirnya membuka suaranya.
Genma membereskan segala peralatannya dan ber-ojigi sopan. "Baiklah, jika begitu saya permisi, Nyonya, Tuan dan ...," Genma menatap Sakura yang berdiri di kaku di sisi ranjang yang lain. "Nona." Dan dengan itu, Genma meninggalkan kamar Sasuke.
Fugaku mengalihkan tatapannya pada Sakura dengan tatapan tak terbaca. "Jadi, Nona ... bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?" ucapnya datar tanpa emosi. "Dengan secangkir teh hangat, barangkali?"
Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang terjadi sebenarnya?! batinnya. Sakura mengangguk ragu dan mengikuti langkah Fugaku keluar dari kamar Sasuke. Mikoto pun ikut beranjak mengikuti suaminya setelah mengecup kening Sasuke.
.
"Seperti itu 'lah kejadiannya, Uchiha-san ...," Sakura mengakhiri latar belakang kejadian di sekolah pagi tadi dengan wajah tenang.
Fugaku dan Mikoto masih terdiam dengan raut wajah yang sangat kaku. Terang saja, mereka merasa sudah gila ketika melihat gadis yang tengah duduk di depannya benar-benar refleksi dari seseorang yang telah lama meninggal. Suara dan wajahnya sama persis, namun satu yang membedakannya. Tatapan iris klorofil itu berbeda. Terlihat sangat asing.
Beberapa menit keheningan menyelimuti mereka bertiga, akhirnya suara Fugaku memecah keheningan itu. "Hn, begitu. Silahkan diminum tehnya, Nona." Ucapnya datar.
Sakura yang sedari tadi duduk gelisah akhirnya memiliki sesuatu yang mampu menutupi kegelisahannya. Ya, segelas teh hijau yang kini tengah ia minum dengan pelan. Sementara ia sibuk dengan tehnya, Sakura melewatkan pandangan sendu yang Fugaku dan Mikoto layangkan padanya.
Melihat Sakura yang telah selesai dengan tehnya, Mikoto mulai menanyakan sesuatu yang mungkin saja membuktikan jika Sakura di depannya adalah Sakura mereka di masa lalu. Walau mustahil, tapi setidaknya harus dicoba 'kan?
"Jadi, kau ini ...," Mikoto sengaja menggantungkan kalimatnya, dan dengan cepat Sakura menyadari jika ia harus segera menjelaskan siapa dirinya.
"Ah, sumimasen. Saya Otsutsuki Sakura, sekaligus teman sekelas Sai, Uchiha-san." Sakura menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "saya ke sini ingin berterima kasih pada paman Sasuke yang sudah menyelamatkan saya tadi pagi, awalnya saya ingin menemuinya di rumah sakit, tapi perawat bilang paman Sasuke sudah dibawa pulang," jelasnya sopan.
Mikoto dan Fugaku mengangguk paham. "Ya, Sasuke benci rumah sakit, maka dari itu kami segera membawanya pulang." Ujar Mikoto dengan tatapan tak terbaca.
"Oh, begitu rupanya." Sahut Sakura.
"Jadi," Mikoto menatap Sakura serius, "apa kau kenal dengan keluarga Haruno?"
Sakura menatap Mikoto bingung. "Eh? Haruno? Tidak, aku tidak mengenalnya. Ada apa ya?"
Mikoto dan Fugaku saling melempar pandang, lalu keduanya tersenyum muram seraya menggelengkan kepalanya. Hilang sudah harapan mereka. Gadis di depannya bukan Sakura, melainkan ... Sakura yang lain. Mereka tentu percaya jika di dunia ini ada tujuh manusia yang diciptakan dengan rupa yang sama. Termasuk Sakura. Haruno Sakura dan Otsutsuki Sakura adalah orang yang berbeda, meski fisik mereka sama persis.
"Tidak apa-apa." Ucap Fugaku datar.
"Begitu," Sakura menatap mereka ragu, namun setelah memantapkan hatinya, akhirnya ia memberanikan bertanya tentang kejadian tadi. "Um, Uchiha-san ... sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Itachi-san memeluk saya tadi? Lalu mengapa paman Sasuke memukuli Itachi-san, dan apa maksud dari Sakura sudah meninggal? Saya benar-benar tidak mengerti."
Tubuh Mikoto dan Fugaku menegang, namun bukan Uchiha namanya jika mereka tak bisa menjaga sikap mereka.
"Hn, itu hanya kesalahpahaman saja. Kami harap kau memakluminya, Nona." Ucap Fugaku tenang.
"Tapi—"
"Ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kau pulang, Nona?" sela Mikoto seraya menatap Sakura tajam. Pertanda jika mereka tak ingin Sakura bertanya lebih jauh lagi, dan Sakura cukup pintar untuk memahami hal itu.
"Anda benar, Uchiha-san." Sakura beranjak berdiri dan ber-ojigi sopan. "Kalau begitu maaf sudah mengganggu, dan saya permisi. Ah, tolong sampaikan pada paman Sasuke, terima kasih banyak." Dan dengan itu Sakura melangkah keluar dari mansion dengan seorang maid yang mengantarnya hingga pintu depan.
Meninggalkan Fugaku dan Mikoto yang terdiam seribu bahasa di ruang tamu. Menit berikutnya Fugaku beranjak pergi menuju ruang kerjanya setelah bergumam pelan. Walaupun pelan, tapi masih cukup jelas di telinga Mikoto.
"Dia bukan Sakura."
Mikoto termenung dengan dada yang terasa sesak. Sekali lagi penderitaan yang harus Sasuke rasakan ketika bertemu dengan seseorang yang begitu mirip dengan Haruno Sakura, tapi bukan Haruno Sakura.
.
oOo
.
Beberapa menit setelah kepergian Sakura, Sasuke menuruni anak tangga dan menghampiri ibunya yang termenung di ruang tamu. Ia mendengar semuanya. Percakapan antara orang tuanya dan gadis yang ia yakini adalah Haruno Sakura. Namun setelah mendengar percakapan mereka, kembali rasa sakit itu datang. Ia tak bisa menerimanya. Ia yakin itu Sakuranya. Tapi kenapa? Kenapa kenyataan selalu pahit?
"Ibu," Sasuke mendudukkan dirinya di samping ibunya dengan lemas. "Sakura ...,"
"Kau mendengarnya bukan? Semuanya?" Mikoto menoleh dan tersenyum masam. "Sini, rebahkan kepalamu di sini, Sasuke." Mikoto menepuk pahanya pelan dan tanpa membantah Sasuke menurutinya. Ah, kapan terakhir ia merasakan sensasi nyaman dalam pangkuan ibunya seperti ini? Entahlah. Ia bahkan tak mengingatnya. Terlalu banyak hal yang terjadi membuatnya melupakan hal-hal yang seharusnya ia ingat seperti ini.
"Lupakan dia, Nak." Mikoto mengusap kepala Sasuke yang berada di atas pangkuannya.
Perlahan kedua kelopak mata yang tertutup itu terbuka, menampilkan sepasang iris obsidian yang tampak kosong. "Aku tidak bisa melupakannya. Sakura dia—"
"Sasuke dengar ibu," Mikoto menunduk, menatap tepat ke dasar iris obsidian serupa dengan miliknya itu. "Dia bukan Sakura, Nak. Dia bukan Sakura ...,"
"Aku tahu," Sasuke menatap ibunya sendu, "tapi jelas sekali ... dia sama seperti Sakuraku, dia kembali untukku, Bu."
"Tidak, sayang," Mikoto tersenyum lemah, "dia boleh saja memiliki rupa yang sama persis seperti Sakuramu, tapi jelas dia bukan Sakuramu, Nak. Dia orang lain, orang yang kebetulan memiliki wajah sama persis dengan Sakura," ujarnya membuat dada Sasuke terasa sangat sesak, "mereka orang yang berbeda. Sakuramu sudah lama meninggal, bahkan dia menghembuskan napas terakhirnya dalam dekapanmu, Nak. Apa kau lupa? Ibu mohon, jangan seperti ini, Sasuke."
Tubuhnya terasa panas, pun dengan matanya. Pelan tapi pasti, liquid bening mulai menetes dari kedua mata Sasuke. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya kembali mengalir ketika mendengar penuturan ibunya. Sungguh ia tak bisa menerima kenyataan ini. Terlalu sulit untuknya. Terlalu sakit untuknya. Ia tak mampu, ia tak bisa, hatinya sangat sakit. Bukan hanya hatinya, tapi seluruh tubuhnya sangat sakit. Dan semua ini karena fakta jika gadis belia yang ditemuinya bukanlah Sakuranya. Melainkan orang lain. Orang asing yang bahkan tak mengenalnya.
"Ibu," Sasuke menenggelamkan wajahnya di perut ibunya dan menangis terisak, "rasanya sakit sekali. Sudah belasan tahun lamanya, tapi kenapa rasa sakit itu masih ada, Bu? Aku sudah tidak kuat lagi," suara isakan tangisnya teredam dalam pelukannya pada perut Mikoto.
Siapa pun yang mendengar isakannya, pasti mereka akan mengerti bagaimana penderitaan yang selama ini Sasuke rasakan. Pun dengan Mikoto yang kini tengah membungkam mulutnya guna untuk meredam suara isak tangisnya.
Ibu mana yang tidak merasa sakit melihat buah hatinya yang seperti ini? Melihat kerapuhan putra bungsunya—yang selama ini dikenal arogan, dingin, dan kaku—untuk yang kedua kalinya sejak kepergian Sakura tujuh belas tahun yang lalu?
Ia merasakannya. Ia seorang ibu tentu saja Mikoto jelas ikut merasa hancur. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ibu. Seharusnya ia tak membiarkan rasa sakit itu menyerang putranya, seharusnya ia mencegah rasa sakit itu datang agar putranya terus merasa bahagia. Tapi apa mau dikata? Kebahagiaan putranya telah hilang bersama cintanya yang turut kandas dengan kematian Haruno Sakura.
Cukup sudah. Ia harus menegaskan bagaimana seharusnya Sasuke bersikap. Putranya sudah terlalu dewasa untuk terus berkabung dalam kesedihannya. Sasuke harus tahu, masih ada kehidupan baru yang harus ditempuhnya. Ia hanya perlu menarik Sasuke dalam belenggu masa lalu, dan memperlihatkan jalan masa depan yang seharusnya Sasuke capai sejak tujuh belas tahun yang lalu.
Menetralkan napasnya sejenak, menghapus air mata dari sudut matanya, Mikoto dengan pelan mengecup bagian belakang kepala Sasuke. "Sudah, Nak. Sudah cukup," bisiknya lirih, "kau harus melihat faktanya, dia berbeda. Dia bukan Sakuramu, dia Sakura yang lain. Asing bagimu, asing bagi kita semua,"
Sasuke masih terisak dalam kesedihannya. Ia bahkan tak mengindahkan bisikan ibunya. Yang ia pedulikan hanya satu, rasa sakit dan sesak yang memenuhi rongga dadanya. Penyesalan dan rasa sakit itu selalu menyerangnya di setiap waktu.
Apakah mencintainya harus sesakit ini? Sasuke tahu, ia sudah banyak melakukan kesalahan dan menyakiti Sakura semasa terakhir hidupnya, bahkan ia telah melakukan sesuatu yang membuatnya menyesal hingga saat ini.
.
Flashback
"Sasuke-kun ... aku takut," Sakura menatap Sasuke dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Sasuke menyeringai tipis dan memojokkan tubuh setengah telanjang Sakura pada dinding kamar. "Sssh, kau tidak perlu takut seperti itu, Sakura," bisiknya seraya menjilat daun telinga Sakura sensual. "Ini akan menyenangkan,"
"S-Sasuke-kun, aku tidak mau melakukan ini. Aku takut," setetes kristal bening sukses keluar dari kelopak matanya. Ia benar-benar takut saat ini. Bagaimana ia tidak takut? Saat ini ia tengah berada di sebuah villa milik keluarga Sasuke.
Bagaimana bisa? Mudah saja. Akhir pekan tepat satu bulan hubungan mereka terjalin, Sasuke mengajak atau lebih tepatnya memerintah Sakura ikut ke villa ini untuk menghabiskan hari libur mereka.
Awalnya berjalan seperti semestinya, maksudnya ... mereka menghabiskan waktu dari pagi hingga sore hari dengan memancing, bersepeda dan kegiatan lainnya, namun kini ... entah apa yang merasuki Sasuke. Tiba-tiba saja setelah mereka selesai makan malam, Sasuke bersikap aneh. Lelaki itu selalu menatap Sakura dengan tatapan yang membuat gadis musim semi itu takut dan tiba akhirnya ketika Sasuke menyeretnya memasuki salah satu kamar di villa itu.
Di sini 'lah dirinya berada sekarang. Dengan Sasuke yang memaksanya melakukan hal yang tak ingin Sakura lakukan. Tentu Sakura tak begitu bodoh dengan tak menyadari apa yang akan Sasuke lakukan padanya.
Seks. Tentu saja. Ia memang mencintai Sasuke, tapi ia tak ingin melakukan ini sebelum mereka resmi di mata Tuhan.
Sakura menahan tangan Sasuke yang hendak membuka bra miliknya. "Hentikan! A-aku tidak mau, hikss! Aku takut, Sasuke!"
Tanpa mengindahkan tangisan Sakura, Sasuke dengan paksa membuka sisa pakaian yang terpakai di tubuh Sakura. Lalu dengan gesit tanpa memedulikan rontaan sang kekasih, Sasuke menggendong Sakura dan melemparnya ke atas ranjang.
Sakura terus menangis ketika Sasuke menyentuh setiap inci tubuhnya ganas, tanpa berperasaan dan tanpa memedulikan tangisannya.
Tiba saatnya pada bagian utama dan saat itu pula Sakura berteriak memilukan karena sesuatu yang berharga baginya telah diambil secara paksa walaupun oleh seseorang yang sangat ia cintai.
Dan seketika malam itu pun yang terdengar hanyalah suara rintihan, desahan dan tangisan memilukan di salah satu kamar villa milik keluarga Uchiha hingga pagi menjelang.
Flashback off
.
Pagi harinya setelah kejadian itu, Sakura menangis dalam diam di kamar mandi. Sasuke yang baru menyadari kebodohannya segera menggedor pintu kamar mandi dan (berpura-pura) minta maaf dan ia berjanji tak akan pernah melakukannya lagi.
Malam itu entah mengapa tiba-tiba saja datang keinginan Sasuke untuk merasakan tubuhnya dalam diri Sakura. Ia ingin merasakan hal itu, seks pertamanya. Dan tanpa pikir panjang ia langsung mewujudkan hal itu tanpa memikirkan akibatnya. Untungnya Sakura langsung memaafkannya, dan Sasuke merasa lega. Lega karena Sakura tak marah padanya. Jika marah, Sasuke yakin ia akan gagal mendekati Karin dengan dalih menjadi kekasih Sakura selama ini.
Bahkan pada saat itu ia sama sekali tak memikirkan bagaimana perasaan Sakura ketika hal paling berharga miliknya telah ia rampas. Yang ada di pikiran Sasuke saat itu hanyalah bagaimana cara membuat Karin menjadi miliknya.
Kebodohannya yang lain adalah gairah duniawi yang menjebloskannya pada suatu hal yang sangat fatal. Sasuke yang dulu masih labil mencoba sesuatu yang sangat gila.
Setelah seminggu pasca melakukan seks dengan Sakura, Sasuke mencoba melakukan seks dengan salah satu pelacur terkenal kenalan temannya—Hozuki Suigetsu, ia hanya ingin membandingkan apakah melakukan seks dengan wanita lain akan sama nikmatnya ketika melakukan seks dengan Sakura.
Sejujurnya yang Sasuke inginkan adalah Karin, namun ia tak ingin menodai wanita yang dicintainya itu, pada akhirnya Sasuke memilih pelacur bernama Riku Yugao yang Suigetsu tawarkan untuk percobaannya. Dan ia melakukannya pada malam Minggu di sebuah Love Hotel, ia bahkan membatalkan janji kencannya dengan Sakura pada saat itu.
Hasilnya? Tidak sama. Rasanya sangat hambar. Entah mengapa seks dengan Sakura lebih ... menyenangkan dibanding dengan pelacur itu. Semenjak saat itu Sasuke tak pernah mencoba melakukan seks lagi dengan siapa pun, dan ia pun memokuskan tujuan utamanya. Yaitu; berekting menjadi kekasih yang baik untuk Haruno Sakura sebagai dalih yang sebenarnya bahwa Haruno Karin 'lah wanita yang diinginkannya.
Terlalu terobsesi akan tujuannya itu, ia bahkan tak menyadari bahwa kegiatan seks yang ia lakukan dengan pelacur itu telah menghasilkan sebuah kehidupan baru di dalam perut Riku Yugao.
Sakura bahkan tak mengetahui pengkhianatan yang Sasuke lakukan dengan pelacur itu hingga akhir hayatnya. Hal itu 'lah yang membuat Sasuke berkabung dalam kesedihan dan penyesalannya selama tujuh belas tahun ini. Hal itu 'lah yang membuatnya terasa sangat berat merelakan kepergian gadisnya. Gadis malang yang tulus mencintainya. Gadis yang bahkan tak marah padanya ketika kesuciannya ia nodai. Hal itu 'lah yang membuat Sasuke tak bisa keluar dari belenggu penyesalan masa lalunya.
Tangisan Sasuke semakin keras dalam pelukan Mikoto ketika masa lalu mengerikan itu kembali terbayang jelas di benaknya. Hatinya terasa sangat sakit. Dadanya terasa sesak dan ia tak tahu lagi harus menggambarkan bagaimana hancurnya ia saat ini. Yang pasti, Sasuke bahkan tak menyadari teriakan panik Mikoto ketika dirinya jatuh tak sadarkan diri—lagi.
Kenapa saat aku jatuh tak sadarkan diri pun rasa sakit ini tetap terasa menyakitkan? Sesakit ini 'kah rasa yang kaurasakan dulu, Sakura? Sesakit ini 'kah balasan yang harus kuterima atas segala yang telah kulakukan?
.
.
.
.
.
.
"Hallo, Papa? Kenapa rumah sepi sekali? Aku—"
[Maafkan Papa, Hinata. Papa sedang mencari kakakmu, kau tunggulah dulu di rumah,]
"Tapi—"
[Sudah ya? Papa menyayangimu.]
"Papa—"
Tutt, tutt, tutt!
Sambungan telepon terputus sepihak oleh sang ayah. Menyisakan rasa sesak dan pedih di hati seorang gadis yang kini tengah menahan agar cairan bening tak keluar dari pelupuk matanya.
Waktu telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, banyak orang berlalu lalang di tengah-tengah kota Tokyo yang nampak indah jika kita melihatnya dari atas, karena lampu-lampu kini telah menghiasi segala penjuru kota itu. Suasana yang sungguh ramai.
Namun lain halnya dengan suasana sunyi dan mencekam di ruang tamu kediaman keluarga Otsutsuki yang remang-remang, terlihat seorang gadis berambut indigo panjang dikepang satu tengah duduk dengan kaku di sana. Menghadap sebuah foto besar yang terpajang di dinding ruang tamu. Ya, ia adalah Otsutsuki Hinata yang sudah sampai di kediamannya.
Terhitung sejak setengah jam dari sepulang lomba melukis sampai saat ini Hinata masih terduduk kaku di sana. Sendirian dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Dengan gerakan yang sangat lamban, Hinata menurunkan tangan kanannya dan sejurus kemudian ia menatap layar ponsel di tangannya dengan tatapan kosong. Entah mengapa suasana di sekitarnya semakin mendingin.
Hinata menggosok kedua telapak tangannya guna untuk mencari kehangatan di sana. "D-dingin sekali ...," Manik mutiara gadis itu kembali mengerling pada foto besar yang tergantung di dinding tepat di depannya dengan tatapan kosong. "Rasanya tetap sama. Di mana pun aku berada ... aku selalu sendiri. Merasa sendirian," ujarnya sendu.
Kedua manik mutiara itu perlahan tapi pasti kembali berkaca-kaca. Hinata menghela napas berat dan menatap foto mendiang ibunya yang terpajang itu dengan tatapan sendu. "A-apa yang harus aku lakukan, Ibu? Akan 'kah aku bisa bertahan lebih lama lagi? Aku lelah," gumamnya lirih.
Ia sudah lelah. Ini adalah hari bahagianya, ketika ia mengharapkan sebuah sambutan hangat dari ayahnya karena ia telah berhasil menjadi juara satu melukis, justru yang ia dapat adalah ... hal yang sama. Kesunyian. Tak ada ayahnya. Ia merasa diabaikan, dan lagi-lagi itu karena saudaranya—Otsutsuki Sakura.
Entah mengapa mendengar kabar jika Sakura masuk rumah sakit karena kecelakaan kecil di sekolah tadi, Hinata tak lagi merasakan kekhawatiran dalam dirinya. Ada apa dengannya? Hinata tidak tahu, yang Hinata tahu adalah ... kini kesabarannya telah habis.
Selama ia hidup, ia selalu mengalah dan tak pernah mempermasalahkan ketidakadilan yang selama ini ayahnya lakukan padanya. Dari dulu, selalu Sakura, Sakura dan Sakura yang menjadi prioritas utama ayahnya. Ia selalu menjadi yang kedua, tapi Hinata tak pernah mempermasalahkannya selama ini.
Namun, sudah cukup malam ini. Hinata sudah lelah dinomor duakan, Hinata ingin sekali saja menjadi egois untuk mendapatkan perhatian penuh dari ayahnya. Bukan hanya Sakura, tapi Hinata juga butuh perhatian penuh dari ayahnya.
Hinata baru sadar, selama ini ayahnya memang agak kaku padanya, tidak seperti pada Sakura. Ayahnya selalu tersenyum lembut, tertawa bahagia seakan dunia mereka hanya ada ayahnya dan Sakura saja. Tidak ada dirinya.
Kadang Hinata berpikir, apa mungkin ayahnya bersikap berbeda padanya karena ia bukan anak kandung Otsutsuki Toneri? Semuanya terlihat jelas ketika ia tak memiliki wajah serupa dengan mendiang ibunya. Justru Sakura 'lah yang mewarisi itu semua. Bahkan mereka bagai pinang di belah dua, sedangkan dirinya? Tidak ada kesamaan sama sekali. Dan itu membuat hati Hinata merasa pedih.
Apakah mungkin?
"Papa ...,"
.
.
.
.
.
.
Sedan volvo milik Tobirama melintas cepat membelah kesunyian malam. Keduanya—Toneri dan Tobirama tampak tak banyak bicara, menyisakan suasana hening di dalam mobil itu.
Tobirama fokus menyetir menuju tempat di mana Sakura berada dengan pikiran tenang, berbeda dengan Toneri, lelaki itu justru terlihat gelisah dalam posisi duduknya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, bagaimana reaksi keluarga Uchiha ketika bertemu dengan Sakura? Itu 'lah yang Toneri khawatirkan.
Selama ini ia dan Kimimaru telah berhasil memastikan Sakura tak bertemu dengan orang-orang yang mengenal mendiang Sakura di masa lalu, namun tak ia sangka justru keluarga Uchiha yang pertama bertemu dengan Sakura yang sekarang. Padahal keluarga Uchiha 'lah yang paling tidak boleh bertemu dengan Sakura, tapi ternyata takdir berkata lain.
Ia telah menghubungi Kimimaru yang tengah ada di Suna, dan respon Kimimaru pun tak jauh berbeda dengannya. Beliau terkejut bukan main, tapi beliau menyarankan dirinya agar tetap bersikap tenang. Walau begitu, Toneri tetap tak bisa tenang. Ia tak berani membayangkan bagaimana pertemuan Sakura dengan keluarga Uchiha, terutama Uchiha Sasuke.
"Apa kau baik-baik saja?"
Toneri tersadar dalam renungannya ketika Tobirama memecah keheningan di antara mereka. Berusaha terlihat normal, ia menoleh dan tersenyum tipis. "Mm, aku baik-baik saja," ia berdehem sebentar ketika merasakan suaranya sedikit parau. "Aku hanya khawatir pada Sakura, anak itu memang suka seenaknya sendiri jika bertingkah,"
Tobirama mengangguk paham dan kembali memokuskan atensinya pada jalan, namun ketika iris merahnya tanpa sengaja melirik ke arah halte bus di sisi jalan, dengan reflek ia menginjak pedal rem mobil dan membuat Toneri terkejut.
"Ah, ada apa, Tobirama?" Toneri bertanya pelan, namun Tobirama bergeming. Menatap tajam pada bangku halte bus. Penasaran, akhirnya Toneri mengikuti arah pandang Tobirama dan iris kelabunya sukses membelalak tak percaya ketika melihat Sakura yang tengah duduk termenung sendirian di sana.
"Sakura?" Tanpa pikir panjang Toneri turun dari mobil itu dan berlari kecil menghampiri Sakura. Berbeda dengan Toneri, Tobirama justru hanya berdiri diam dengan posisi menyandar pada kap mobil. Menatap Sakura dari kejauhan dengan tatapan tak terbaca.
Sakura yang tengah termenung tersentak kaget ketika melihat sang ayah tengah berdiri menjulang di depannya dengan tatapan geram. "Nona Otsutsuki, sepertinya kau harus tahu di mana batasanmu, kau sudah melewati batas dengan sikapmu itu."
"Eh? Papa," Sakura tertawa hambar dan menggaruk pipinya yang tak gatal sama sekali. "Ano ... aku hanya ...,"
"Pulang!" Toneri menatap Sakura datar tanpa ekspresi dan tentu saja membuat Sakura bergidig ngeri. Ayahnya tak pernah sekali pun menatapnya seperti itu sebelum ini.
Dengan gerakan kaku Sakura mulai berdiri dan berlari kecil menghampiri mobil Tobirama. "Hai, Paman!" Sapanya polos ketika sampai tepat di depan Tobirama.
"Hn," Tobirama membuka pintu penumpang dengan raut wajah dingin, "masuk dan kau berhutang penjelasan pada kami, Sakura."
Sakura menelan salivanya dengan susah payah. Ah, sepertinya bukan hanya Toneri yang marah, tapi Tobirama juga.
Sakura masuk ke dalam mobil diikuti Toneri dan Tobirama setelahnya.
Sepertinya keluarga Uchiha tak menceritakan apa pun pada Sakura, melihat putrinya yang masih bersikap seperti biasa membuat Toneri menyimpulkan jika ... keluarga Uchiha tidak seperti apa yang dipikirkannya.
.
Setelah memberi alasan kepergiannya dan mendapat petuah menyebalkan dari kedua lelaki berambut perak itu di dalam mobil selama perjalanan pulang mereka, Sakura langsung meninggalkan Tobirama dan Toneri ketika mobil mereka sampai di rumah. Ia bahkan mengabaikan panggilan Toneri di belakangnya.
Terlalu banyak pertanyaan yang berada dalam benaknya saat ini. Keluarga Uchiha pasti menyembunyikan sesuatu darinya, tidak mungkin tidak ada apa-apa, 'kan? Uchiha Sasuke ... lelaki itu pasti tahu segalanya. Ia ingin menemui Sasuke lagi di lain hari, semoga saja ia mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan lagi, kenapa tadi ia tak melihat batang hidungnya Sai? Ke mana dia? Aneh.
Sakura membuka pintu rumah dengan pelan. Terlalu sibuk dengan masalah hari ini, ia bahkan melupakan eksistensi Hinata yang bahkan belum pulang. Langkah kakinya terhenti ketika melihat sosok Hinata yang tengah duduk di sofa ruang tamu—masih mengenakan seragam sekolah dengan sebuah piala di pangkuannya. Wajahnya menunduk dalam sehingga Sakura tak bisa melihat bagaimana ekspresi Hinata saat ini.
"Hinata!" segera saja Sakura berlari menghampiri Hinata dengan sebuah senyum lebar di wajahnya. Entah mengapa hanya melihat adiknya saja membuat perasaan Sakura sedikit lebih baik.
Sakura duduk tepat di samping Hinata dan menatap adiknya bangga. "Wah, jangan bilang kau berhasil menjadi juara pertama dengan lukisan luar biasamu itu?" katanya seraya menatap piala yang ada di pangkuan Hinata antusias. "Oh, ya. Apa kau tahu, Hinata? Banyak sekali kejadian yang terjadi hari ini, dan—"
Hinata bergeming. Gadis itu tetap menundukkan kepalanya. Mengabaikan Sakura yang kini tengah berceloteh panjang lebar tentang kejadian hari ini.
"... dan kau tahu ternyata dia ayah Sai!"
Hinata menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram piala yang ada di pangkuannya erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau—"
"Neesan!"
Sakura terpaku ketika mendengar untuk yang pertama kalinya Hinata membentaknya. Dan lagi ... sejak kapan iris tiara yang biasanya terlihat polos dan selalu memandangnya penuh kasih itu kini tengah menatapnya tajam penuh ... kebencian?
"H-Hinata?"
"Aku senang kau baik-baik saja, Neesan. Aku lelah, aku mau istirahat." Dan tanpa mendengar jawaban Sakura, Hinata melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan wajah datar tanpa emosi.
Sakura terpaku. Menatap punggung Hinata dengan dahi berkerut dalam. Ada apa dengan adiknya? Hinata sedikit berbeda, ia tak lagi menatapnya penuh kekaguman, tak lagi menatapnya polos dan tak lagi tergagap berbicara. Ada apa ini?
"Sakura? Papa dengar ada suara Hinata? Astaga! Papa lupa, Hinata sudah menunggu kita. Mana dia?"
Sakura menoleh dan sudah ada Toneri beserta Tobirama yang tengah menatapnya heran. Entah apa yang dilakukan orang dewasa itu di luar sehingga baru masuk rumah beberapa menit setelahnya.
"Ah? Oh, ya." Sakura menjawab seperti orang linglung. "Hinata sudah pulang dan dia baru saja ijin istirahat di kamarnya." Sakura beranjak dan ber-ojigi pada ayahnya dan Tobirama. "Kalau begitu Sakura juga pamit istirahat ya, Papa, Paman ... oyasumi." Dengan itu Sakura berjalan gontai menuju kamarnya. Meninggalkan Toneri dan Tobirama yang menatapnya penuh keheranan.
.
oOo
.
Flashback
Uchiha Itachi tersenyum tipis seraya melihat ke kiri dan ke kanan sebelum berjalan cepat menyeberangi jalan ke arah salah satu bangunan bertingkat delapan yang berderet di seberang jalan, di salah satu area pemukiman di Reverside Drive.
Langit kota New York terlihat cerah, hari yang indah selalu bisa membuat semua orang gembira, bukan? Ya, sebenarnya tidak juga. Tidak semua orang. Itachi sangat tahu jika masih ada seseorang yang mungkin sama sekali tidak menyadari langit kota New York yang cerah. Dan bahkan mungkin tidak menyadari daun-daun sudah berubah warna menjadi kuning, cokelat, dan merah. Tidak sadar dan tidak peduli.
Dan seseorang itu adalah adik laki-lakinya—Uchiha Sasuke.
Itachi tahu jika Sasuke terlalu sibuk oleh rasa berkabungnya atas kematian Haruno Sakura yang sudah tiga tahun berlalu untuk menyadari apa pun yang terjadi di sekelilingnya akhir-akhir ini.
Sudah tiga tahun sejak ia dan Sasuke menetap di Amerika untuk menata perasaan sang bungsu Uchiha, dan dua tahun terakhir ini mereka hidup terpisah—berbeda apartemen.
Sasuke (yang sudah menjadi presdir di salah satu cabang perusahaan Uchiha Group) baru saja mendapat kontrak kerjasama dengan perusahaan Grey's Enterprises Holding Inc. Ini adalah pengalaman pertama Sasuke bekerjasama dengan perusahaan besar di Washington DC, maka dari itu adiknya pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan seperti biasa, jika Sasuke sudah sibuk, ia jarang menjawab telepon dan jarang meluangkan waktunya yang berharga untuk membalas pesan atau semacamnya. Karena kesibukannya pula, terkadang Sasuke bisa melupakan sejenak masa lalunya yang kelam.
Karena hal itu 'lah Itachi memutuskan pergi menemui Sasuke secara langsung di apartemennya. Setidaknya untuk memastikan adiknya masih hidup.
Itachi melangkah menaiki anak tangga di depan gedung, dan selanjutnya ia masuk ke dalam gedung. Sekitar enam menit kemudian ia sudah berdiri di depan pintu bercat putih di lantai tujuh dan tangannya terangkat menekan bel. Namun Itachi mengurungkan niatnya ketika ternyata pintu apartemen adiknya tak tertutup rapat, maka tanpa pikir panjang ia segera masuk ke dalam tanpa permisi.
Ketika ia sampai di ambang pintu antara ruang depan dan ruang tengah apartemen itu, Itachi berdiri terpaku ketika melihat ada seorang wanita yang tak lain adalah Uchiha Mikoto—ibunya, tengah berdiri berhadapan dengan Sasuke, dan seorang anak kecil berumur kira-kira 3 tahun lebih berambut hitam klimis tengah duduk di sofa dengan tenang. Tak peduli dengan kedua orang dewasa di depannya yang tengah adu mulut.
Sejak kapan ibunya ada di New York?
"Demi Tuhan, aku tidak tahu, Ibu! Aku—" Sasuke tak mampu melanjutkan ucapannya ketika sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipinya. Uchiha Mikoto 'lah pelakunya.
"Kau melupakan satu hal, Nak. Kau pernah meniduri seorang pelacur, 'kan? Jangan harap Ibu tidak tahu hal itu," ucap Mikoto datar.
Sasuke membelalakkan matanya dan menatap ibunya tak percaya. "Tidak, jangan bilang kalau ...,"
"Mm," Mikoto mengangguk dan menunjuk anak laki-laki berumur tiga tahun itu dengan wajah dingin, "ini adalah hasil dari pergumulanmu dengan pelacur bernama Riku Yugao empat tahun silam,"
"Tidak mungkin," sanggah Sasuke.
Mikoto menggeleng kaku. "Ya, itu mungkin. Apa kau tidak melihat kesamaan fisikmu dengan anak ini? Ibu bahkan sudah tes DNA di Jepang beberapa hari yang lalu setelah anak ini di kirim ke rumah, entah oleh siapa." Katanya dingin.
Sasuke melonggarkan tatanan dasi kemeja kantornya. "Tidak mungkin, ini pasti ulah pelacur sialan itu. Aku harus memastikannya." Ucap Sasuke seraya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Mikoto sendiri mendudukkan dirinya di sisi anak itu.
"Suigetsu," gumam Sasuke ketika sambungan teleponnya terangkat.
[Sasuke? Kau 'kah ini?]
"Hn,"
[Oh, ya ampun! Bagaimana kabarmu, Sobat? Kudengar kau sudah menjadi pengusaha sukses di Amerika?]
"Suigetsu dengar," Sasuke menghela napasnya sejenak guna untuk meredakan amarah yang sempat menyelimutinya. Ia tak ada waktu untuk berbasa-basi. "Apa maksud si pelacur itu mengirim anaknya ke rumah orangtuaku?"
[Eh? Apa maksudmu—ah! Riku Yugao maksudmu?]
"Hn, sekali lagi kutanya. Apa yang direncanakan pelacur itu? Dia pikir aku akan percaya jika anak itu adalah anakku?" desis Sasuke seraya melirik bocah polos yang tengah duduk manis di sofanya dari ekor matanya.
[Anak? Maksudmu apa? Hey, apa kau tidak tahu? Setelah melakukan seks denganmu, Yugao berhenti menjadi pelacur karena dia mengan—oh ya ampun! Jangan-jangan kau ayah dari anak yang dikandungnya waktu itu? Astaga, Sasuke! Apa kau lupa dengan pengamanmu?]
Ucapan Suigetsu di seberang sana sama sekali tak membantu. Justru amarah Sasuke semakin memuncak. "Di mana pelacur itu sekarang? Berani sekali dia—"
[Wow, wow, wow! Tenang, Sobat. Tidak ada gunanya kau marah dan mencari wanita itu, sudah terima saja hadiah yang dia berikan untukmu,]
Terdengar suara kekehan mengejek dari Suigetsu, dan tentu saja membuat Sasuke geram bukan main.
"Suigetsu—"
[Oke, cukup bercandanya. Aku akan memberitahumu satu hal, Sasuke,] sela Suigetsu cepat-cepat, dan suaranya berubah menjadi serius.
Sasuke mengkerutkan kedua alisnya dalam. "Apa maksudmu?"
[Riku Yugao sudah meninggal satu minggu yang lalu karena kanker payudara. Wanita itu mungkin ingin kau merawat anaknya—anak kalian, karena Yugao tidak memiliki sanak keluarga. Dia sebatang kara, Sobat. Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan mengurus anakmu?]
Sasuke hanya diam mematung mendengar penjelasan Suigetsu.
[Dulu kita memang bajingan, iya 'kan? Tapi kini, kita sudah dewasa, Sobat. Tidak peduli walaupun ibunya seorang pelacur, anak itu tetap anakmu, Sasuke. Darah dagingmu. Saranku, lebih baik kau rawat anak itu atau kau akan menyesal.]
Setelah itu, tanpa mengatakan sepatah kata, Sasuke mematikan sambungan ponselnya dan dengan perlahan lelaki itu memandang anak kandungnya yang tengah menatapnya polos.
"Apa kau ayahku?"
Dan detik itu juga air mata Sasuke tumpah ruah mendengar suara malaikat mungilnya. Ia tahu bocah itu—Uchiha Sai, mungkin terlahir karena sebuah kesalahan, tapi tetap saja sebuah kesalahan itu adalah anaknya, darah dagingnya. Dan ia akan merawatnya dengan atau tanpa persetujuan orangtuanya.
Sasuke segera memeluk tubuh mungil Sai dalam rengkuhan hangatnya. "Ya, aku ayahmu."
Mengesampingkan perasaan bersalah dan penyesalan yang kembali bertambah kepada mendiang Sakura karena hasil dari pengkhianatannya ini, Sasuke berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menjaga Sai dengan baik, dan ia tak akan pernah menikah. Toh, ia sudah memiliki keturunan, jadi untuk apa menikah? Ia berjanji akan setia pada Sakura hingga ajal mempertemukan mereka kembali.
Itachi yang sedari tadi memperhatikan, mulai mengembangkan senyum tulusnya. "Adikku sudah dewasa ternyata."
Flashback off
.
Lembayung senja telah nampak pada biasan langit pada sore hari itu. Di sebuah pemakaman besar, tepatnya di sebuah makam yang terletak tepat di samping sebuah pohon bunga kemboja, Sai meletakkan sebuket bunga melati di atas batu nisan yang sering ia kunjungi ini.
Sebuah frame foto seorang wanita cantik berambut ungu tua ponytail dan manik hitam sekelam malamnya yang meneduhkan itu selalu ampuh menjadi obat penenang untuknya.
Riku Yugao.
Begitu 'lah tulisan di batu nisan itu. Ini adalah makam mendiang ibunya. Jika sedang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, Sai selalu mengunjungi makam ibunya. Ya, seperti saat ini. Ia selalu merenung di depan makam ibunya tanpa mengucap sepatah kata pun.
Kejadian tadi malam ketika Otsutsuki Sakura berkunjung ke rumahnya, Sai sengaja tak menampakkan dirinya karena ia menyadari ada keanehan dengan sikap seluruh anggota keluarganya pada Sakura. Padahal Sai yakin sekali jika Sakura tak pernah sekali pun berkunjung ke rumahnya, tapi kenapa? Kenapa kakek, nenek, paman bahkan ayahnya bersikap tak lazim pada Sakura?
Siapa sebenarnya Otsutsuki Sakura itu? Kenapa banyak sekali orang yang bersikap aneh pada gadis itu? Bahkan keluarganya? Belum lagi Orochimaru dan lelaki asing berambut perak yang ia lihat di rumah sakit tempo hari.
Sai menghela napas panjang dan menatap foto ibunya dengan wajah datar tanpa emosi. "Sepertinya aku memang harus menyelidiki semua ini, bukan begitu, Ibu?"
To be continue
A/N : Selamat malam semuanyaaaaaa! #Lambai2 rambut mbah Oro# Ini chapter terpanjang yang pernah Sasa tulis di fic ini, semoga ga mengecewakan ya. Oh ya, ngomong2 fic ini emang dramatis banget ya? Iya, iya Sasa tau kok, fic ini lebay banget. Tapi mau gimana lagi? Walau pun lebay, Sasa tetep akan lanjut fic ini sih xD Kalo ga suka, ga usah baca oke? #wink
Dan terima kasih banyak buat yang udah luangin waktu mampir ke fic ini ya. Maaf ga bisa bales review, jempol lagi keseleo(?) #alesan# Wkwkwk, tapi semua review udah Sasa baca kok. Dan buat pertanyaan kalian, insya Allah sedikit demi sedikit akan terjawab si setiap chapternya :D Sekali lagi terima kasih banyak buat; Readers, Reviewers, Favers, Followers dan Silent Readers :)
Salam sayang,
UchiHaruno Misaki.
