The Cat Thief

[ shiita, bxb, romance-fluff, rate-K+ ]

[DISCLAIMER]

All the characters are made by Masashi Kishimoto. Pitik cuma buat FF!

.

.

.

"Hiro!"

"Hiro-kun!"

Seorang pemuda berambut legam panjang pergi keluar pintu kafe untuk mencari sosok Hiro. Ia mendengus kesal ketika tidak menemukan tanda-tanda kehadiran Hiro di depan kafe. Padahal hari ini gilirannya untuk piket dan memastikan semua kucing mendapatkan tempat tidur yang nyaman.

Hiro adalah seekor kucing domestik berbulu abu-abu. Maniknya berwarna biru laut. Ia selalu mengenakan kalung berwarna merah-dengan penanda nama dan alamat kafe. Hiro pergi masih dengan mengenakan aksesoris itu.

Itachi, pemuda yang tengah mencari, berharap kucing itu akan segera kembali. Ia bisa saja menyusuri trotoar untuk mencari Hiro kalau ada orang lain yang tetap tinggal untuk menjaga kafe. Namun nyatanya tidak.

Dengan berat hati, Itachi berjalan kembali ke dalam kafe, menemui kucing-kucing yang telah menemukan tempat nyamannya masing-masing. Pemuda itu melepas bando telinga kucing di kepala dan mengembalikannya pada laci di belakang meja kasir.

Helaan napas lolos dari bibirnya. Itachi menimbang-nimbang apakah sebaiknya pencarian dilanjut esok hari. Namun sepertinya itu adalah pilihan yang tepat. Walaupun ia harus membiarkan Hiro hilang.

Itachi membereskan barang-barangnya dan bergegas keluar kafe. Pukul 5 pagi nanti akan ada orang lain yang datang untuk masuk shift. Ia seharusnya tidak perlu merasa jengah. Tapi tidak bisa. Tidak saat satu kucing itu masih berstatus 'tidak ditemukan'.

Karena pintu kafe sudah dikunci, sekarang Itachi bisa mencari dengan lebih leluasa. Ia bahkan rela menyusuri gang-gang sempit di tengah malam, membiarkan hawa musim panas membuat pakaiannya basah oleh keringat.

"Hiro-kun," seru Itachi sembari membongkar kardus-kardus di samping tempat pembuangan sampah. Biasanya kucing gemar bersembunyi di celah-celah sempit.

Sayangnya pencarian ini tidak membuahkan hasil. Pemuda itu menghela napas di tempat. Ia sudah berkeliling di setiap gang sepanjang trotoar kafe. Namun Hiro masih belum terlihat.

Di tengah krisis, tiba-tiba Itachi menangkap suara mengeong lemah. Pemuda itu menoleh dan menemukan seseorang tengah menggendong kucing abu-abu dengan kalung merah berbandul.

"Hiro," gumamnya pelan kemudian segera berlari mengejar.

Itachi menahan bahu sosok itu dan membuatnya berhenti. Dia seorang pemuda berambut ikal hitam. Dan hewan yang tengah berada dalam pelukannya adalah-

"Hiro?" Itachi berseru agak keras.

"Maaf. Aku melihatnya di jalan dan-,"

"Kau mencurinya?"

"Tidak. Tunggu," elak pemuda itu kemudian terhenti sejenak dan menatap Itachi lekat-lekat. Ia menelusuri fitur wajahnya seakan sedang mengingat-ingat sesuatu. "Apa kau lelaki manis yang bekerja di kafe kucing itu?"

Itachi terdiam karena berpikir orang itu akan menjelaskan bagaimana kronologi sebelum Hiro berada dalam pelukannya namun ia justru membuat pipinya memerah malu. Kedua matanya mengerjap pelan, memproses kata yang digunakan pemuda itu untuk mendeskripsikan dirinya.

"Aku tidak mencuri Hiro-mu," tegas si ikal kemudian mengusap kepala kucing dalam pelukannya. Hiro sedang berbaring di sana, tanpa perlawanan.

Itachi masih terdiam ketika lelaki itu membungkukkan badan dan bicara tepat di depan wajahnya. Mereka sepertinya baru saling melihat, namun si ikal sudah bersikap begitu berani. Ia tersenyum pada Itachi, tampak gemas dengan ekspresi pada wajah itu.

"Ke depannya tolong jangan panggil aku pencuri," ucapnya sembari mengedipkan sebelah mata, "namaku Shisui."

.

.

.

The Cat Thief

.

.

.

Libur musim panas sedikit membuat Shisui gembira. Ia bisa bersantai dari pekerjaan yang mengharuskan diri untuk berkutat dengan hewan. Ia bisa menikmati pendingin di pusat perbelanjaan atau berjemur di pantai. Namun kesendirian membuat lelaki itu urung beranjak. Seharian ia hanya duduk di depan televisi sambil menyalakan kipas angin.

Menjelang siang, matahari bersinar semakin terik. Shisui terpaksa menutup jendela dengan tirai agar sinar tidak membuat karpet di kamar semakin panas. Tapi ia justru merasa pengap. Ditekannya tombol kipas angin agar putaran baling-baling semakin cepat. Setelahnya si ikal kembali berbaring di atas kasur sembari berselancar dalam ponsel.

Dengan perasaan bosan dan perut yang tiba-tiba berbunyi lapar, lelaki itu mencari referensi makanan. Musim panas adalah saat yang tepat untuk menikmati semangkuk es dalam bentuk apapun. Ia bisa menikmati somen, anmitsu, atau mungkin es krim vanila.

Sepertinya enak, ucap Shisui dalam hati. Tanpa menunggu lebih lama, ia berganti pakaian- mengenakan kaus putih polos dan kemeja pantai serta celana sebatas lutut. Shisui memasukkan beberapa barang wajib, dompet, ponsel, juga sebungkus tisu lengkap dengan hand sanitizer. Dua barang terakhir adalah bagian dari kebiasaan baru yang ia dapatkan sejak bekerja di klinik kesehatan.

Shisui harus mengucapkan selamat tinggal pada kipas anginnya dan memberi salam pada terik di luar rumah. Apa boleh buat? Sepanas-panasnya udara, lebih tidak nyaman untuk menghabiskan waktu dengan perut lapar. Jadi di sinilah lelaki berambut ikal itu, menyusuri jalan di bawah kanopi untuk mencari sebuah kafe.

Langkah pemuda ikal berhenti di sebuah papan bergambar kucing. Matanya melongok ke dalam dan menemukan pemandangan yang tidak biasa. Ini adalah sebuah kafe yang penuh dengan pengunjung, juga kucing. Selama karirnya, Shisui mungkin pernah berkunjung di tempat penampungan hewan. Namun kafe berisikan kucing-kucing tampak sedikit asing baginya.

Perasaan itu alih-alih mendesaknya pergi, malah mengundang rasa penasaran. Si ikal melangkahkan kaki ke dalam dan membiarkan beberapa kucing berkalung merah mengekorinya. Ia tersenyum gemas kemudian segera duduk di sebuah kursi dan membaca menu.

Somen dan anmitsu tidak ada di dalam menu, tetapi es krim vanila terpampang dengan jelas di bagian makanan penutup. Namun Shisui tidak mungkin kenyang hanya dengan menikmati semangkuk es krim. Jadi ia perlu menambahkan nasi kare dan segelas coke dalam pesanan.

Pemuda itu bangkit untuk menaruh kertas di meja kasir sekaligus membayar ketika matanya bertemu dengan seseorang- lelaki berwajah manis. Ia berdiri di belakang kasir dan memberikan tanda terima pada seorang pelanggan wanita. Shisui yang mengantri di belakang tidak dapat mengalihkan tatap.

Sampai akhirnya ia mendapat giliran.

"Totalnya sembilan ratus enam belas yen," sebut lelaki manis itu sambil mendongak.

Sepasang manik obsidian terarah lurus pada Shisui. Pemuda ikal itu hanya balas menatap, urung beranjak dari apa yang ia lakukan. Matanya mengerjap pelan ketika mengagumi wajah yang begitu menawan di hadapannya.

"Tuan?" interupsi si manis.

Tanpa mengurangi rasa kagum, Shisui merogoh dompet dan memberikan beberapa lembar yen. Tangan mereka bersentuhan. Shisui merasa tersipu. Sedikit berlebihan, mungkin. Namun jika itu adalah tangan seorang lelaki yang manis, tersipu hingga kembali ke mess adalah hal yang wajar.

Jemari Shisui menyentuhnya lagi ketika menerima uang kembalian. Namun sayangnya ia harus segera pergi ke meja untuk menikmati makan siang. Sesekali maniknya mencuri pandang, memerhatikan lelaki itu ketika berganti tugas.

Rambutnya panjang hingga punggung, terikat dengan rapi. Lelaki itu sedang berjongkok di depan beberapa kucing dan mengisi makanan dalam wadah. Seekor kucing putih berkalung merah mendekat dan meminta sosok manis itu membelai kepalanya. Jika bisa Shisui ingin terlahir kembali sebagai kucing yang beruntung. Ia mungkin bisa menerima lebih banyak sentuhan, juga melihat senyum di bibir si pegawai manis dalam jarak dekat.

Ketika lelaki itu berbalik, Shisui terkesiap. Ia meraih sendok karinya dan melahap hidangan pedas itu cepat-cepat, kamuflase agar tidak tertangkap basah sedang mengagumi.

Tapi makan cepat juga membuatnya harus pergi lebih cepat. Untuk terakhir kalinya, Shisui melirik sudut tempat lelaki manis itu berjongkok tadi. Ia sudah pergi. Mungkin kembali ke dapur atau beristirahat.

Dengan perasaan kecewa, pemuda ikal itu beranjak dari kursinya dan pergi keluar kafe. Ia berjalan menyusuri area di bawah kanopi sambil tersenyum, mengingat kembali wajah menawan di balik meja kasir, juga senyum ketika ia sedang memberi makan kucing.

Begitu manis.

Shisui berjalan menyusuri trotoar hingga kakinya menabrak sesuatu. Suara grooming menyusul setelah tabrakan kecil itu. Pemuda ikal menunduk dan menemukan seekor kucing abu-abu tengah memasang pose siap bertarung. Mereka akan menjadi lebih agresif jika sedang tidak ingin diganggu, jadi Shisui melewatinya saja.

Namun ada rasa penasaran yang mendesaknya untuk menoleh. Kucing agresif itu memiliki kalung merah, sama seperti kalung yang ia lihat di kafe. Shisui langsung berbalik arah dan mendekati kucing itu. Ia masih sama agresifnya, seperti siap mencakar apabila jari Shisui sampai menyentuh tubuhnya.

Pemuda ikal itu tidak melakukan apapun selama beberapa menit, membiarkan amarah si kucing reda dengan sendirinya. Mereka saling bertatap di tengah jalan- mungkin juga menjadi bahan tontonan. Shisui segera bangun dan mencoba mengundang kucing abu-abu itu melompat dalam tangannya. Tapi ternyata ia tidak merespons.

Kucing stress memang sedikit merepotkan. Padahal jika menurut, Shisui bisa memiliki alasan untuk pergi ke kafe. Ya, untuk mengembalikan kucing yang kabur. Namun rencananya itu tidak berjalan mulus.

Ia harus mencari umpan, sesuatu agar kucing itu tertarik padanya. Kembali ke kafe dan meminta makanan kucing bukan pilihan yang bagus karena ia sudah berjalan cukup jauh dari tempat itu. Shisui tidak ingin kucing itu pergi saat ia sudah mendapatkan makanannya.

Untung saja di seberang jalan ada sebuah mini market. Shisui segera masuk dan mencari sekaleng sarden. Pemuda ikal itu berhambur keluar, ke arah kucing yang masih berdiam diri di tengah jalan. Ia membuka kaleng sarden dan memegang seekor ikan, menggerakkannya ke depan si kucing.

Dan berhasil. Kucing itu termakan umpan. Setelah seekor ikan itu habis, ia mendekat pada Shisui dengan aura yang lebih jinak, meminta ikan lainnya. Sekarang Shisui bisa melihat bandul yang terdapat pada kalungnya. Ada tulisan namanya dan alamat kafe. Tidak salah lagi bahwa ia kabur dari sana. Alasannya mungkin karena stress atau bosan dengan makanan kucing. Shisui bisa mengambil dugaan itu karena si kucing menikmati sarden mini market dengan lahap.

"Tapi kau harus tetap kembali-hei, siapa namamu?" ucap Shisui lebih kepada dirinya sendiri karena seluruh perhatian kucing itu terpusat pada makanan barunya.

"Hiro," gumam pemuda ikal sembari melihat bandulnya lagi, "Hiro-kun."

.

.

.

Satu-satunya alasan yang menjawab mengapa Shisui tidak langsung mengembalikan kucing itu ke kafe adalah karena ia memang tidak ingin kembali. Sepanjang siang menuju sore, ia sudah jengah berjalan bolak-balik ke kafe. Ketika sudah dekat, kucing itu malah mengeong keras dan mencakar kulitnya.

Shisui menghela napas, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tempat terakhir yang ia tuju adalah klinik kesehatan hewan, tempatnya bekerja. Rekan-rekan lelaki itu pasti bisa memeriksa apa yang terjadi pada Hiro sehingga ia enggan kembali ke kafe.

Saat kucing itu diperiksa. Shisui pergi ke mess untuk membersihkan diri dan berganti baju. Ia mengenakan kaus lengan panjang agar semisal kucing itu mencakar lagi, kulitnya tidak akan menjadi korban.

Sekembalinya ke klinik, Hiro sudah terlihat normal. Ia tidak bersikap agresif atau mengeong keras ketika didekati manusia. Sekarang kucing itu sedang berbaring di atas bantal, menunggu Shisui untuk menjemputnya.

"Ada apa dengannya?" tanya si ikal pada Izumi, rekan dokter hewan yang memeriksa Hiro.

"Sedikit stress, seperti katamu. Aku hanya menjauhkannya dari hewan lain dan memberi kucing itu beberapa mainan, juga sarden. Ia sepertinya merasa bosan dengan lingkungan asalnya."

Gadis berambut coklat itu menghampiri Hiro bersama Shisui. Matahari sudah terbenam dan malam sudah tiba. Kucing itu sudah tertidur pulas di atas bantalnya, bahkan tetap bergeming ketika Shisui menyentuh.

"Segera kembalikan dia. Pemiliknya pasti sedang mencari," celetuk Izumi menginterupsi quality time pemuda ikal itu.

Shisui tersenyum sambil menunduk, menyembunyikan rasa senangnya dari Izumi. Mengembalikan Hiro ke kafe mungkin akan membuatnya bertemu dengan lelaki manis itu lagi. Mungkin. Tapi Shisui tidak bisa menjamin. Mungkin juga lelaki manis itu sudah pulang atau berganti shift sebelum kafe tutup.

"Akan kulakukan malam ini," ucap pemuda itu final.

Sekalipun tidak bertemu dengan si manis lagi, ia tetap harus mengembalikan kucing abu-abu itu. Klinik kesehatan ini bukanlah tempat penampungan yang bisa ia titipi hewan sesuka hati.

.

.

.

The Cat Thief

.

.

.

Itachi kembali ke kafe bersama lelaki rambut ikal bernama Shisui. Ia merasa amat lega karena Hiro sudah kembali, juga berterima kasih pada pemuda itu karena sudah mengembalikan kucing kafe.

"Apa kalian... punya tempat menyendiri untuk seekor kucing? Ia sedang dilanda stress, jadi menggabungkan Hiro dengan kucing lainnya bukan pilihan yang bagus," ucap lelaki itu.

Itachi berpikir sejenak sebelum menemukan tempat yang dimaksud Shisui. Mereka memilikinya, sebuah sudut di belakang dapur. Itachi mengambil sebuah bantal bersih dan menata sudut nyaman itu. Shisui dengan segera membaringkan Hiro di sana. Ia tidak berontak, malahan hanya sedikit bergerak untuk menyesuaikan diri dengan tempat baru.

"Terima kasih, Shisui-san," ucapnya.

Shisui tidak menyangka jika mendengar lelaki manis itu mengucapkan namanya sangat membahagiakan. Ia bahkan lupa dengan rasa perih bekas luka cakaran Hiro.

"Aku hanya mengembalikannya ke tempat yang seharusnya. Tidak perlu berterima kasih," elak Shisui sambil mengusap tengkuk malu.

"Aku tetap berhutang banyak karena Shisui-san sampai membawanya ke klinik hewan."

"Aku bekerja di sana," ucap si ikal, "bukan masalah besar."

Itachi menatap manik Shisui lekat-lekat. Pemuda yang malu itu makin tersipu, merasa beruntung karena bisa mendapat sesuatu seberharga ini, sebuah tatapan juga senyum manis yang muncul setelahnya.

"Sekali lagi, terima kasih," sebut Itachi seraya beranjak keluar kafe. Ia meninggalkan secarik kertas berisi laporan tentang Hiro di atas meja kasir kemudian menutup kafe bersama Shisui.

Ya, Shisui. Pemuda ikal itu masih berada di sana, menemani Itachi.

"Apa tempat tinggalmu jauh?" celetuk Shisui sembari mengikuti Itachi menuju halte bus.

"Tidak. Hanya berjarak tiga halte dari sini."

"Kalau begitu biarkan aku mengantarmu," ujar si ikal gerak cepat. Ia tidak akan mungkin melewatkan kesempatan untuk memangkas jarak di antara mereka.

"Apa Shisui-san pergi ke arah yang sama denganku?" tanya Itachi sembari menaiki bus kota nomor dua.

"Ya," sambarnya. Sebenarnya untuk tiba di mess, Shisui hanya perlu berjalan kaki. Namun, demi menjaga keselamatan lelaki manis ini, ia rela mengambil jalan berputar.

Mereka duduk bersebelahan di kursi belakang. Kendaraan umum itu tidak terlalu ramai karena jam sudah larut. Itachi sedikit mengantuk. Tapi ia mencoba untuk berjaga lebih lama. Keberadaan orang baru di sebelahnya membuat Itachi tidak ingin bersikap menyusahkan. Shisui memiliki kesan pertama yang baik. Justru ia yang merasa buruk karena menuduhnya seorang pencuri kucing. Itachi jadi tidak ingin merepotkan lebih jauh.

Bus turun setelah melewati tiga halte dan Shisui benar-benar menepati ucapannya. Ia berjalan di sisi Itachi sampai mereka tiba di sebuah gedung sewa.

"Aku akan naik," pamit lelaki itu sembari melambaikan tangan.

Itachi hendak melangkah masuk. Namun urung karena Shisui masih berada di depan. Pemuda ikal itu sendiri ingin menanyakan sesuatu yang menggelitik hatinya. Sejak berada di kafe, mereka sudah bicara seolah saling mengenal. Shisui sepertinya terlalu fokus menjelaskan kondisi Hiro sampai tidak menanyakan nama lelaki manis ini.

"Sebelumnya, bolehkah aku mengetahui namamu?"

Itachi mengerjap pelan. Ia memalingkan wajah sejenak untuk menghindari tatapan antusias Shisui.

"Itachi," sebut lelaki manis itu pelan.

Si ikal tersenyum lebar mendengar nama itu, nama yang akan terus terbayang dalam pikirannya sepanjang malam.

"Kau harus masuk. Aku juga harus pulang," ucap Shisui menyudahi momen mereka berdua untuk hari ini.

Itachi membungkuk hormat kemudian berjalan masuk ke dalam gedung. Ia mengucapkan salam perpisahan sambil menutup pintunya.

"Selamat malam, Shisui-san."

Lelaki manis itu belum benar-benar pergi ke kamar. Ia berdiri di belakang pintu, mendengar balasan agak samar dari mulut pemuda ikal itu. Pipi Itachi memerah malu karena menangkap sisipan akrab di akhir namanya.

"Selamat malam juga, Itachi-kun."

.

.

.

The End

[ a/n ]

Sebenarnya aku sedang mencari mutual penyuka ShiIta. Seriusan aku merasa aku benar-benar telat hype. Tapi sekarang sudah jatuh terlalu dalam jadi aku bisa apa? Bisa bikin FF iya.

Kalau kalian membaca pesan ini, harap hubungi diriku. Oke?