"Chanyeol!" Yoora berteriak memanggil nama sang adik terdengar sangat bahagia hingga ia melupakan tangannya yang masih terikat dengan borgol.
"Kalian memborgol kakakku?!" Chanyeol melayangkan pertanyaan, pandangannya menatap tajam dan kesal tertuju pada Jongin dan Sehun yang ada disamping Yoora. Dirinya melangkah menghampiri Yoora yang tengah menunggu Jongin membuka tautan pada borgol itu.
"Well, ia berusaha kabur." Jongin menjelaskan singkat.
"Ya, tapi dia kakakku!"
"Yoora berusaha menendangku. Kami diberikan perintah untuk membawa dia pergi sebelum bom meledak." Kini Sehun yang menambahkan penjelasan.
"Still, dia kakakku!" Chanyeol melayangkan protest untuk ketiga kalinya. Apa yang dikatakan oleh Putera bungsu Keluarga Park tidak bisa dibantah oleh dua anak buah Phoenix disana.
"Tidak apa.. mereka hanya ingin memastikan aku tidak kabur—" ucapan Yoora diharapkan membuat suasana antara ketiga lelaki disana tak lagi menegang. "Aku melawan mereka untuk tak membawaku masuk kedalam helicopter tadi—dan itu cukup seru." Bisiknya terdengar di akhir kalimat dan senyumannya terlihat kearah adiknya untuk memberikan keyakinan bahwa dirinya tidak lagi merasa takut atau mungkin sedih.
"Aku merindukanmu."
Pada akhirnya sebuah pelukan adalah pengungkapan yang tepat untuk meluapkan kata – kata yang tidak bisa dijelaskan secara langsung.
"Aku merindukanmu... ayah mengatakan bahwa kau sudah meninggal..dan ibu mengatakan kau bahkan dianggap hilang dan meninggal dalam misi—
"Aku baik – baik saja. Aku ada disini sekarang." Chanyeol memperat dekapan tangannya pada Yoora, mengusap dengan lembut, ia bahkan memberikan kecupan pada kepala kakaknya yang semakin terisak bergumam mengungkapkan keluh kesahnya.
"...mereka menganggapmu tidak ada Chanyeol—Ibu menghancurkan rumah kita... dan ayah tidak tahu bagaimana sekarang.. aku takut... hiks.. aku takut.."
"Hey.. ada aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu.. aku disini. Kau tidak sendirian.. ada aku.."
Mengingat apa yang baru saja terjadi dalam beberapa jam terakhir dan tepat terjadi didepan mata Yoora akan menjadi kenangan yang tidak akan ia lupakan dengan mudah. Bagaimana raut wajah sang Ibu yang khawatir dan berusaha menyelamatkan dirinya, bagaimana ledakkan yang terjadi memusnahkan rumah masa kecil dan tempat kenangan keluarganya. Semuanya akan meninggalkan kenangan menyakitkan untuk dirinya.
"Bawa aku pergi.. kita akan pergi. Kita akan meninggalkan Phoenix dan juga Red—biarkan mereka mengambil semuanya! Aku hanya butuh dirimu dan kita akan tenang hidup berdua jauh dari Korea—kita bisa tinggal di Inggris, Amerika atau Yunani—Chanyeol bawa aku pergi—
"Yoora.."
"Bawa aku pergi... ku mohon.." dan puncak kesedihan jelas terlihat. Yoora merosot ke lantai masih memeluk Chanyeol, air matanya masih mengalir dan isakan tangisnya diyakini tidak akan mereda hingga ada jawaban dari adiknya untuk menuruti apa yang inginkan.
"Kita tidak bisa meninggalkan ayah.." Chanyeol berucap. "Kita akan melindungi semuanya.. kita berdua harus melakukannya.." ia memberikan keyakinan pada Yoora yang masih terisak dan mengatakan keinginannya untuk segera pergi.
Seketika Yoora menjauhkan badannya dari dalam dekapan Chanyeol, pemikirannya teringat akan kabar dari Ayahnya yang belum ia dapatkan. Apakah ayahnya selamat? Atau kah ia sudah terbunuh oleh penyerangan yang dilakukan pada hari ini oleh musuhnya.
"Apapun yang terjadi.. kita tidak akan lari." Chanyeol memegang kedua bahunya, menatap dalam pada dua manik matanya memberikan penekanan bahwa mereka berdua akan selalu bersama apappun yang terjadi.
"Lady.. Tuan Muda.. kami masih menunggu kabar dari Black Team dan Ace yang tengah meninjau Black House."
Chanyeol menganggukkan kepala, mendengarkan apa yang Kai katakan.
"Kalian beristirahatlah, aku akan bersama Yoora."
Tepat ketika Chanyeol selesai berucap, Kai dan Sehun menganggukkan kepala dan pamit undur diri, meninggalkan kakak adik—Phoenix menikmati waktu bersama dan menenangkan diri dari apa yang terjadi pada hari ini.
.
FOUR
.
"Bagaimana? Apa ada yang bisa mendapatkan cctv lainnya yang tersembunyi di Study Room Father?" Ace—bersuara pada sambungan komunikasiyang terpasang dibadannya.
"Tidak ada koneksi yang tersambung pada setiap cctv, aku rasa mereka sudah menhancurkannya."
"Terus cari sambungan apapun yang bisa kau dapatkan di dalam ruangan sana, Ten. Father selalu memiliki jalan keluar." Mulutnya berucap kembali melayangkan perintah, tapi matanya terfokus pada teropong didepan matanya memperhatikan setiap penjagaan yang telah mengililingi kediaman Father dari Phoenix.
"Hey Ace.. aku menemukan blue print dari Black House—sebutan lain untuk kediaman Father—aku butuh perintahmu untuk membawa beberapa team yang tersisa mencari pintu masuk lain menuju Study Room—
"Kirimkan dulu padaku Blue print yang kau dapatkan."
"Roger that."
Suara itu adalah milik Chen, bagian dari anggota Phoenix yang selalu ahli dalam menyelinap karena ukuran badannya yang kecil dan lincah.
"Aku sudah mengirimkannya pada ponselmu."
"Aku akan memeriksanya." Ace menyahut. Tangannya menjentik kearah beberapa orang dari Black Team yang ia bawa untuk memantau. "Perhatikan setiap celah, dan bila kau menemukannya segera kabari aku. Dan.. siapapun yang datang mendekat—segera lenyapkan." Perintahnya mutlak dan tidak pernah ada bantahan dari setiap anggotanya. Ia melangkah mundur sedikit menjauh dan memeriksa e-mail yang baru saja dikirimkan oleh Chen padanya.
Cetakan blue print yang dikirimkan merupakan denah peta dari bangunan Black House dimana Father of Phoenix tinggal selama ini. Rumah kedua yang dimiliki oleh Father itu merupakan rumah yang dikhususkan untuk keperluan bisnis legal yang ia miliki—Park Inc—dan penyerangan yang tiba – tiba dilakukan saat ini adalah hal yang mengejutkan dan membuat kredibilitas Phoenix dipertanyakkan. Bagaimana bisa mereka tidak mampu melindungi Father dari musuh – musuhnya.
Setiap denah yang digambarkan disana sangat diingat oleh Kris, dan tentu saja ia tahu dimana Study Room milik sang Father berada.
"Chen.. kau memilih atap atau ventilasi?" ia menanyakkan pada Chen yang menunggu perintahnya.
"Oh.. well begini. Aku akan melewati atap dan berjalan masuk dari ventilasi.. dan beberapa team lainnya akan melewati darat dan menerobos masuk dari jendela dapur."
"Mereka ada dimana – mana dan mungkin aku menyarankan dari udara—pastikan kau menggunakkan mode silent flight pada Black Cop—sebutan untuk helicopter yang mereka gunakkan dalam beroperasi—aku akan membantu dan mengirimkan beberapa team disini untuk mengalihkan pengawasan di darat."
"Baiklah.. perintah diberikan?" Chen bertanya pada Kris untuk meyakinkan kembali perintah yang akan ia jalankan.
"Temukan Father!" dan perintah diucapkan dalam nada tegasnya.
"Roger that Cap!"
Fokus Kris kini kembali pada pantauan melihat seberapa banyak para pengawal yang berjaga diluar gerbang Black House. Siapapun yang melakukan penyerangan kali ini benar – benar bekerja sama dengan bagian Secutiry atau mungkin kaum mafia lainnya yang ingin menghancurkan Phoenix—dan melenyapkan Father mereka.
"Black Team.. siapkan senjata kalian, saat aku mengatakan Fire, tembakkan kearah setiap penjaga yang berada dan dibagian manapun! Kalian mengerti?!" ia berteriak dan jawaban mantap didapatkan oleh beberapa team yang berada didekatkanya maupun yang masih tersambung dalam saluran komunikasinya. Black team tersebar dibagian sudut manapun dan semuanya jelas tertuju pada target yang sama. Black House.
"Sebelum kalian melakukan penyerangan.." Suara lain terdengar masuk, suara wanita dan mereka semua sudah mengenalinya dengan sangat baik. Irene, salah satu anggota Phoenix—Executive—memiliki posisi yang sama dengan Kris hanya saja tugas yang ia miliki berbeda. Bila Kris adalah Excutive Lapangan, maka Irene memiliki tugas melindungi Internal Phoenix dan yang dimaksud internal adalah segala rahasia data dan berita apapun yang menyangkut dengan Phoenix berada dibawah pengawasannya. "Aku ingin menginformasikan bahwa Markas Phoenix telah dihancurkan—mereka mengirimkan bom disaat yang sama White House dihancurkan.."
"Siaaaalll!" Kris mengumpat seketika mendengar apa yang dikatakan oleh Irene.
"Dan karena itu.. aku menuntut loyalitas kalian pada Phoenix.. Lady Vic menyelamatkan sebagian dari Phoenix, yaitu termasuk kalian – kalian yang tengah bertugas saat ini. Beberapa Team yang lain berhasil selamat kini menuju safety house. Bergabung bersama Lady Yoora dan Tuan Muda, sekli lagi aku ingatkan. Aku menuntut loyalitas dan professional kerja kalian!—selamatkan Father, hancurkan siapapun yang berniat menyerang—dan kembali ke Safety House dengan selamat."
Tidak ada yang bisa membalas apa yang diucapkan oleh Irene yang terdengar dingin, peringatan dan perintah yang ia siratkan dalam ucapannya membuat siapapun merasa kecewa namun membangkitkan pembalasan dendam akan apa yang telah dilakukan oleh penyerangan ini. Markas mereka dihancurkan, Lady mereka bahkan sempat menyelamatkan beberapa anggota untuk selamat sementara dirinya mengorbankan nyawa untuk Red dan juga Phoenix, pembalasan yang pasti dilakukan harus memiliki nilai yang sama denga apa yang sudah terkorbankan hari ini.
"Semuanya dengar apa yang dikatakan Irene?!" giliran Kris yang berbicara. "Kalian adalah Phoenix—kita adalah Phoenix.. tapi hari ini.. kita telah menunjukkan betapa gagalnya kita sebagai anggota Phoenix! Father dan Lady diserang.. dan tidak ada satu dari kita yang mengetahui mengenai penyerangan ini! Kita gagal! Dan yang kita bisa lakukan saat ini adalah.. menyelamatkan Father.. melindungi Young Lady dan juga Tuan Muda selanjutnya.. membantu mereka membalaskan dendam mereka!" Kris mengungkapkan kekesalan dalam dirinya, emosinya tersulut dan dia menginginkan semua Officer-nya yang mendengarkan apa yang ia katakan, merasakan hal yang sama dan tentu menjalankan operasi ini dengan baik.
"Sniper akan melakukan misi dengan baik Ace!"
"Delta siap menyerang Ace, kami menunggu perintah."
"Kami akan tiba pada target dalam 10 menit, Ace.. kami siap!" suara Chen terdengar lagi.
"Phoenix!" Kris kembali bersuara dengan lantang. "Fire!"
Tepat ketika ia selesai mengatakan kata kunci untuk melakukan penyerangan, sniper yang sudah bersiap langsung menembakkan peluru tertuju pada setiap penjagaan disana, tanpa peringatan kepada mereka tentu saja membantu Sniper tidak kesulitan untuk menghabisi semuanya dalam hitungan detik. Sementara sniper terus membabi buta, Kris memerintahkan Attacker yang lain untuk ikut dengannya menyerang target melalui pintu depan. Tidak memperdulikan penyerangan balik dari musuh, mereka berjalan cepat dalam kegelapan tak kasat mata dengan kedua tangan siapa dengan senjata masing – masing.
"Black Cop mendekat."
"Atap aman. Turun sekarang!"
"Ten, bagaimana cctv keamanannya? Semua team. Tahan pada posisi masing – masing, Chen segera turun dari atas sana." Kris menggerakkan tangannya mengepal dalam artian semua team anggota team yang bergerak dengannya diminta diam tepat pada posisinya."
"Tidak ada cctv di dalam study room yang bisa terkoneksi—semuanya mati. Ace, mereka benar – benar mengenal dengan baik Black House—aku rasa ada orang dalam yang berkhianat—
"Tahan dulu spekulasimu Ten, kita berada dalam misi dan operasi ini harus terus berjalan." Suara Irene kembali masuk. "Selamatkan Father! Itu yang terpenting!"
"Sniper... fire!" Perintahnya didengar dan suara tembakan kembali menghujami rumah itu dalam sekejap, terdengar suara tembakan lainnya berasal dari dalam namun itu tak menghentikkan penyerangan karena tidak ada kata berhenti sampai Phoenix mendapatkan kembali sang Father.
FATHER
Kesadaran Yunho semakin menipis, luka pada kaki dan bagian dada bawahnya menguras semua darahnya dan tentu saja mengakibatkan lemah dan tak berdaya baginya. Dalam kondisi seperti ini pun dirinya masih berusaha untuk bergerak mendekat pada sosok gadis yang tergeletak lemah tak sadarkan diri disana. Baekhyun.
Yunho jelas mengenal Baekhyun sebaik ia mengenal mendiang ayah dari gadis itu, Byun Jungki. Mereka bersahabat sejak kuliah dan merintis perusahaan mereka sedari awal. Persahabatan antara bisnis legal dan juga bisnis gelap mereka jalin berdua hingga saat ini. Phoenix memberikan dukungan sepenuhnya pada Jungki, entah dalam bisnis perusahaan atau pun bisnis gelap yang mereka miliki—membangun pabrik – pabrik senjata secara paksa dengan cara menghancurkan setiap daerah kalangan bawah di seluruh Korea—yang berdampak dengan adanya kerusuhan disana.
Semuanya berjalan dengan baik. Phoenix selalu ada membantu Byun Tech. Hubungan yang saling menguntungkan bagi keduanya tentu saja akan selalu dipertahankan.
Tapi apapun yang dicoba untuk dipertahankan runtuh dengan mudahnya ketika istri pertama Jungki—Jessica meninggal karena dibunuh. Phoenix mendapatkan tuduhan secara langsung atas kejadian itu karena mereka seharusnya bertugas melindungi keluarga Byun. Jungki menjauhkan diri dan memutus kerja sama dalam bisnis gelap mereka. Tidak ada lagi bantuan dan perlindungan Phoenix yang ia inginkan. Hubungan yang dimiliki hanyalah sekedar bisnis legal diantara mereka.
Dan semuanya semakin diperparah ketika sahabatnya itu menikah dengan wanita bernama Sunyoung, Yunho jelas tahu siapa wanita iblis itu, tapi ia tidak punya hak untuk melarang Jungki menikah dengan wanita itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah bermain api dan memainkan peran yang baik untuk bisa mengetahui misi Sunyoung menikahi Jungki.
Kenyaaan pahit yang didapat olehnya justru membuat Yunho semakin memilki rasa bersalah pada Jungki, kenyataan bahwa Sunyoung menikahinya hanya untuk membalas dendam karena Jungki yang memperkenalkan Victoria pada Yunho. Hati yang ditutupi oleh dendam cinta menjadi alasan dibalik semuanya. Jungki membuat Yunho menikah dengan Victoria, dan dengan itu Sunyoung menghancurkan satu per satu orang yang membuatnya patah hati. Klasik tapi berbuntut panjang dan bahkan menghancurkan dua keluarga.
Helaan nafas beratnya terdengar membuyarkan lamunan mengenai sebagian ingatan kenapa semua ini bisa terjadi, ia hanya bisa berharap Baekhyun bisa melarikan diri dari tempat ini sebelum anak buahnya datang dan membunuh gadis tak bersalah itu secara brutal.
"Baekhyun..." suaranya lirih memanggil berusaha menyadarkan gadis itu. "Baek...rrgghhh." Suaranya menggeram bersamaan dengan badannya yang ia paksa untuk bergeser mendekat. "Baekhyun!" kini ia berteriak, tangannya berhasil menggapai salah satu kaki gadis itu dan Yunho mengumpulkan sisa tenaganya untuk menarik agar Baekhyun bisa terbangun.
"Baekhyun!"
BOOOOMMMMM!
Seisi ruangan bergetar dan bunyi ledakkan yang baru saja terjadi terdengar berasal dari dalam rumahnya. Tidak begitu besar memang, tapi cukup untuk membuat getaran hebat dan beberapa tembok mulai retak terlihat, dan itu membantu Yunho membangunkan Baekhyun disana.
Gadis itu mengerjapkan matanya yang masih terasa berat untuk ia buka.
"Baekhyun.. hey.." Yunho menyapa di tengah kesakitan dan kesadarannya yang mulai hilang. Waktunya tidak cukup banyak mengingat semakin lama darahnya semakin mengalir lebih deras, rasa sakit dan panas yang ia rasakan sudah menjalar hingga keseluruh tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Belum sempat Yunho menjelaskan lebih panjang pada Baekhyun, gadis itu sudah menodongkan pistol di tangannya tepat pada dahi Yunho.
"Baekhyun.."
DOR!
Yunho meringis kembali merasakan panas peluru dari pistol yang Baekhyun pegang kini bersarang pada perutnya.
"Aku bukan Baekhyun."
Apa yang dikatakan Baekhyun jelas membuat Yunho bertanya - tanya dan tentu saja merasakan keanehan, gadis yang sama memanggil 'ahjussi' beberapa waktu lalu dengan nada ketakutan pada dirinya kini menembakkan peluru di perutnya dengan tanpa rasa takut dan juga menatapnya penuh kemarahan.
"Siapa kau? Apa kau yang dikirim wanita iblis itu untuk membunuhku?" bahkan suara tanyanya tersirat nada tawa jahat pada wajah polos Baekhyun.
"Tidak.. dia yang ingin membunuhku Baek—" Yunho tidak menyelesaikan kalimatnya dan mengucapkan nama yang tidak mau didengar oleh Baekhyun sendiri. Gadis itu bahkan sudah memutar kembali silinder pada revolver di tangannya dan diarahkan kembali pada Yunho.
"—siapa namamu?" Yunho berucap menanyakkan pada Baekhyun.
Gadis itu tersenyum licik mencoba bangkit berdiri, fokusnya masih terpaku pada Yunho menatap pria yang sudah bersimbuh darah hampir di seluruh tubuhnya.
"Semua orang senang memanggilku Baekhyun, tapi aku bukan dia. Aku bukan si lemah tak berdaya yang takut menghadapi wanita iblis itu." Suaranya terdengar kesal menjelaskan sedikit tentang dirinya. "Iblis itu memanggilku dengan B." Baekhyun yang tengah berhasil bangkit berdiri berjalan terpincang – pincang berusaha menjangkau pintu keluar dari ruangan kerja dimana mereka berada.
"Kalau kau ingin membalaskan dendammu padanya.." Yunho berucap meskipun kemudia ia meringis kesakitan mengingat luka tembak yang Ia dapati begitu banyak di badannya. Baekhyun berdiam diri dan berbalik melihat Yunho yang berbaring menyamping kearahnya. "Red bisa membantumu.."
Baekhyun menggeleng. "Pak Tua.. aku bahkan tidak mengenalmu dan siapapun kode nama yang kau sebutkan itu—
"Mereka adalah kelompok Mafia.. anak buahku bisa mengantarmu menemui mereka." Yunho memaksakan diri bertahan hanya untuk mengarahkan Baekhyun bisa bertahan lebih lama didalam ruangannya dan Phoenix membawa dirinya menemui Yoora dan Kris.
"Kau adalah pimpinan Mafia?" dan apa yang dilakukan Yunho berhasil membuat Baekhyun tertarik untuk membahasnya lebih lengkap.
"Dia Father kami." Suara lain terdengar tepat dibelakang badan Baekhyun, Chen—Phoenix pertama yang berhasil masuk kedalam Study Room Yunho. "Bila kau cukup pintar, jatuhkan pistol mu dan berlutut dengan tangan diatas kepala. Sekarang!" perintahnya ia ucapkan dan mendorong moncong pistol yang ada ditangannya kepada kepala Baekhyun.
"Aku bersama Father—siapapun yang bisa bergabung segera kemari! Pelaku masih berada didalam." Ia berucap pada sambungan komunikasinya dan masih terfokus melihat wanita kecil didepanya menjatuhkan pistol dan berlutut secara perlahan – lahan.
"Mereka akan membantumu.. B." Yunho menganggukkan kepala memberikan keyakinan agar Baekhyun atau B atau siapun yang tengah ia hadapi saat ini mempercayai apa yang ia katakan.
Chen tentu saja merasakan keanehan yang terjadi mendengar apa yang dikatakan oleh Father terhadap wanita yang ia yakini sebagai pelaku dari apa yang terjadi pada hari ini dan tentu saja penyerangan terhadap Father of Phoenix. Tapi ia tidak memiliki kuasa untuk menanyakkan hal itu saat ini, ia hanya bisa mendengarkan dan mencoba memahami apa yang terjadi diantara keduanya.
"Chen.. tolong bantu aku.." Yunho memanggil dirinya untuk mendekat, sebuah perintah yang tidak bisa ia tolak meskipun dalam hati dan pikirannya ia seharusnya berada dengan sang pelaku dan mengawasinya hingga beberapa team lainnya datang. Tapi sebagai anggota Phoenix, apa yang diucapkan tidak menerima penolakan.
Dengan langkah ragu namun pasti, Chen mendekat dimana Yunho tengah berbaring lemah tak berdaya, wajahnya terlihat semakin pucat. Matanya bahkan sudah semakin memerah sementara bibirnya terlihat memutih, darah yang membasahi seluruh tubuhnya semakin berwarna gelap.
"Father.. kita harus keluar dari tempat ini segera.." Chen berucap dan tanpa menunggu perintah hendak membawa badan Yunho dalam topangan tanganya.
Namun sang Father menolak.
Yunho menggeleng dan menahan tangan anak buahnya dalam pegangan tangannya. "Kita tidak mempunyai waktu yang cukup.." mulutnya berucap menatap Chen memohon untuk anak buahnya itu mengerti apa yang ingin ia lakukan. "Bawa gadis ini menemui Yoora.. penyerangan ini karena Sunyoung.. dan ia adalah—argh."
"Father!" seketika kepanikkan dirasakan. Yunho tak berdaya, kesadarannya bahkan mulai terlihat dipaksakan oleh dirinya. "Ace! Aku butuh bantuan secepatnya! Father kritis!" Chen berucap keras tertuju pada sambungan telekomunikasi.
Baekhyun masih berada disana, melihat tanpa raut wajah peduli. Ia masih menuruti apa yang diperintahkan oleh Chen sebelumnya—berlutut dengan tangannya diatas kepala. Mulutnya terkunci rapat tidak melontarkan sepatah kata pun ketika Yunho masih berbicara kepada anak buahnya meskipun pria tua itu tengah menunggu dewa maut mencabut ajalnya.
Bunyi tembakkan beruntun dan suara bom lainnya terdengar, hawa panas dari kobaran api mulai dapat dirasakan oleh mereka yang masih berada didalam ruangan kerja itu.
"Aku butuh dua orang membawa Father dan dua orang lainnya membawa sang pelaku." Ia berucap lagi dengan pandangannya kini tertuju pada Baekhyun disana. "Kau! Tetap pada posisimu!" kalimat lain yang ia ucapkan memberikan peringatan pada Baekhyun, sementara gadis itu hanya menatapnya datar seolah tidak memperdulikan.
"Okey, Father.. aku ingin kau bertahan!" Chen melepaskan rompi anti peluru yang ada dibadannya dan memakaikannya pada Yunho untuk mengikat tubuh bagian atasnya dan menahan semakin banyak darah yang keluar. Ia bahkan merobek kain gorden dengan kasar dan mengikatnya pada luka di bagian kaki yang Yunho dapati. Fokusnya tertuju penuh tentang bagaimana membuat sang Father bertahan hidup hingga ia tidak menyadari bahwa Baekhyun tak lagi pada posisinya berlutut menyerahkan diri.
Suara bom untuk ketiga kalinya terdengar bertepatan dengan kesadaran Chen yang kembali memperhatikan Baekhyun, namun kini gadis itu sudah berdiri dihadapannya berdiri mantap menodongkan pistol yang ia jatuhkan sebelumnya dan diarahkan tepat pada kening pria itu.
"A—apa yang kau lakukan." Chen menanyakkan dengan suara gugupnya, tangannya bersiap mengambil pisau kecil yang ia simpan dibelakang punggungnya dengan perlahan – lahan.
"Aku benci ketika seseorang berteriak." Datar suara yang Baekhyun lontarkan padanya tidak mengintimidasi, namun bisa ia rasakan suara yang terdengar terasa dingin untuk gadis seusianya. "Aku tidak suka—DOR!
Sama dengan suara yang ia ucapkan, matanya terlihat menatap kosong tanpa rasa takut maupun bersalah ketika menekan pelatuk dan melontarkan peluru dari dalam pistolnya melubangi kepala salah satu anak buah Phoenix tepat didepan mata sang Father yang terlalu lemah untuk berteriak ataupun mengungkapkan keterkejutannya.
Baekhyun membuang pistolnya dengan asal kesembarang arah, mengambil pistol lainnya yang berada pada pinggang pria yang baru saja ia tembak mati dan melangkah keluar meninggalkan ruangan itu. Tanpa ada satu kata yang ia ucapkan untuk terkahir kalinya kepada Yunho yang masih berusaha bertahan hidup di detik – detik kematiannya.
PHOENIX
Barisan penghantar peti dimana jasad Father of Phoenix dan juga Lady of Red terbaring tak bernyawa dipenuhi oleh sebagian anggota Phoenix yang masih tersisa. Ace dan Irene berada diurutan terdepan melangkah lebih dulu membuka jalan membelah beberapa pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir bagi kedua orang penting dalam dunia bisnis dan juga dunia mafia. Para Father dari kalangan mafia lain yang memiliki hubungan baik dengan Phoenix memberikan penghormatan dengan cara yang berbeda, mereka memberikan perlindungan sepenuhnya sejak hari dimana Father of Phoenix dinyatakan telah tutup usia, bahkan mereka siap mengirimkan beberapa anggota untuk membantu dalam pembalasan dendam akan apa yang terjadi pada Phoenix.
Kalangan bisnis yang hadir juga tak kalah dalam memberikan penghormatan, mereka siap menjaga kestabilitasan nilai saham yang mulai sedikit terjadi pergeseran indeks nilai masing – masing. Yoora akan memiliki sedikit pekerjaan rumah mengenai pengurusan operasional perusahaan setelahnya.
Dan tamu yang tak bisa dianggap sebelah mata adalah kehadiran Militer yang masih ada hubungannya dengan Red. Mereka hadir dan mengirimkan langsung Jenderal Tertinggi yang menjabat saat ini—Kim Junmyeon serta beberapa anak buah dan beberapa keamanan mengekorinya.
Diantara semua tamu yang hadir mengelilingi liang kubur untuk mendiang Tuan dan Nyonya Park, hal yang membuat sebagian anggota Phoenix menggertakan gigi dan juga mengepalkan tangan dengan keras disaat mereka mendapati sosok yang bertanggung jawab akan penyerangan yang terjadi dengan tanpa merasa bersalah ikut hadir dan bahkan menyombongkan dirinya. Byun Sunyoung dan puteri kandung mendiang Tuan Byun—Byun Baekhyun. Setidaknya puteri mendiang Tuan Byun itu terlihat lemah sama seperti apa yang Yoora perlihatkan pada semua yang datang. Raut wajah penuh dengan air mata yang tak berhenti mengalir meskipun mereka berdua hanya berdiam diri menatap kosong.
"Dia membawanya.." Ace berbisik dengan tangannya menutup mulutnya yang bergerak berucap. "Ingat apa yang Father katakan.. Sunyoung adalah target utama.. dan kita tidak bergerak saat ini!" perintahnya ia ucapkan dengan mata menatap satu per satu anak buahnya yang tersisa berada disana. Memberikan keyakinan bahwa apa yang ia katakan adalah perintah mutlak dan tidak bisa dibantah meskipun target ada didepan mata mereka.
"Four.." kali ini giliran Irene yang bersuara. "Pastikan kau tidak terlihat oleh siapapun."
Tidak ada jawaban dari sosok yang memilik code name seperti yang ia panggilkan.
"Four.." Ace ikut mencoba memanggil.
Masih belum ada jawaban. Kris dan Irene saling membalas memberikan tatapan penuh tanya, berharap apa yang mereka pikirkan tidak terjadi pada saat ini.
"Aku bersama Kai dan Willis.. pastikan saja tidak ada yang menyentuh Yoora seinchi pun."
Masing – masing dari Phoenix menghela nafas lega dan kembali bisa ikut suasana berkabung melihat penurunan kedua peti kedua orang yang selama ini memberikan pekerjaan, perlindungan, dan kasih sayang layaknya sebuah keluarga besar didalam sebuah rumah.
Satu per satu dari beberapa orang yang datang memberikan penghormatan sendiri – sendiri, dengan satu tangkai bunga yang mereka sudah siapkan dan sedari tadi dipegang pada tangan masing – masing diletakkan pada gundukkan tanah rata yang sudah mengubur dalam – dalam peti jasad kedua orang yang telah beristirahat dengan tenang dan dalam damai. Beberapa diantaranya ada yang memberikan pelukan pada Yoora dan mengucapkan sepatah dua patah sebagai ucapan penguat bagi salah satu ahli waris keluarga Park tersebut.
Yoora dengan sepenuhnya terlihat tegar disana menyambut mereka semua yang berbicara padanya, mengucapkan terima kasih dan juga kalimat balasan lain yang terdengar bijak dan sopan. Tapi tidak ketika salah satu sosok yang dibencinya berada tepat dihadapannya dan berakting dengan sempurna pada wajahnya.
"Halo, Dear.." wanita bernama Sunyoung kini berada dihadapannya—melemparkan sebuah senyuman dengan air mata yang terlihat jelas sangat palsu berada disana. "Aku turut berduka cita.. kematian mereka... adalah apa yang aku harapkan." Kalimat yang dibisikkan oleh wanita itu jelas menyulut kemarahan Yoora yang nampak jelas dimatanya. "Aku tahu kalian sudah mengetahui siapa yang menyebabkan ini semua.. Tapi aku perlu ingatkan pada kalian semua, aku tidak membunuh Lady yang kalian cintai.. dan aku tidak merenggut nyawa sosok Father yang kalian banggakan." Wanita itu masih berbisik dengan suara tegasnya tepat ditelinga Yoora dimana alat komunikasi milik Phoenix menempel disana—dan wanita itu memang sengaja melakukannya agar apa yang ia katakan terdengar oleh semua anggota Phoenix lainnya. "Aku membawakan langsung sosok yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Father kalian. Well.. sampai jumpa di rapat pemegang saham." Kata – kata terakhir yang diucapkan diakhiri dengan gelak tawa dan setelahnya ia melangkah dengan angkuhnya meninggalkan tempat pemakaman diikuti beberapa pengawal lainnya mengikuti dibelakangnya. Dan juga meninggalkan Baekhyun yang masih duduk di kursinya menunduk dalam tangisannya.
"Tahan pada posisi kalian! Ini bukan waktunya." Kris mengingatkan lagi.
Yoora masih bertahan berdiri disana ditemani oleh beberapa anak buah Red, Minseok dan Luhan disampingnya. Menahan tangan Yoora untuk tetap bertahan dan tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Dan menyambut kembali beberapa tamu yang datang padanya.
Satu per satu dari mereka meninggalkan area pemakaman namun beberapa anggota Phoenix dan Red masih berada disana menunggu hingga saat Lady mereka berniat untuk meninggalkan tempat itu. Jenderal Militer Kim bahkan masih duduk disana dikelilingi pengawalnya dan juga sosok Baekhyun di kursinya. Jenderal Kim sempat memperhatikan Baekhyun dan kemudian ia bangkit berdiri menyusul Yoora.
"Bila aku katakan bagaimana rasa duka cita yang aku rasakan saat ini.. itu akan membutuhkan waktu sangat panjang bukan.." ia berucap dengan tangannya menepuk bahu Yoora secara lembut. "Red akan selalu berpihak padamu.. dan mengingat kondisi saat ini.. aku menyarankan kau bisa menjadi Phoenix dan Red dalam waktu bersamaan." ucapannya mulai terdengar serius dan Yoora mendengarkan dengan seksama, diikuti oleh Kris dan Irene yang tengah bergabung disekelilingnya.
"Sunyoung tidak mengetahui sedikit pun mengenai Red dan kita akan membuatnya terus menerus seperti itu." Ucapan selanjutnya memenuhi berbagai pertanyaan dari ketiga orang dihadapan Jenderal Kim. "Mendiang Lady Vic memberikan laporan padaku sebelum penyerangan terjadi di kediamannya, dengan begitu.. kau tetap bisa mempertahankan Phoenix dan menjadi bagian dari Red secara bersamaan. Kami akan membantu dan terlibat sepenuhnya."
Yoora tidak berniat memberikan jawaban apapun dari apa yang dikatakan oleh sang Jenderaldihadapannya, pikirannya masih terpenuhi dengan berbagai macam hal yang sejak awal tidak ingin ia pikirkan dan terlibat lebih jauh didalamnya.
"Kami akan menghubungimu lebih lanjut Jenderal." Kris mewakili, memberikan jawaban.
"Aku menunggu—dan Four.. aku harap kau mengerti bagaimana status hidupmu saat ini. Ubah penampilanmu menjadi lebih brandal dibandingkan saat ini." Jenderal Kim tersenyum terarah pada Kris dan Irene yang mengerti apa yang ia katakan.
"Aku tahu kau merindukanku Jenderal Kim." "—Dia merindukannmu Jenderal." Dan balasan dari apa yang diucapkan oleh Four ia dapatkan melalui Kris yang mewakili mengucapkan padanya pada.
Jenderal Kim mengangguk dengan senyuman kecil disana memahami jawaban apa yang ia dapati. "Dia adalah bagian dari Red, Mendiang Ibu-nya mendaftarkan dirinya tepat ketika usianya sepuluh tahun dan aku yakin beberapa dari kalian sudah melihat hal yang aneh dalam dirinya." Jenderal Kim berucap memandangi sosok yang sedang ia bicarakan dihadapan Yoora dan lainnya. "Aku harap kalian bisa menahan diri, Red selalu mengawasinya." Tidak ada ucapan pamitan lainnya yang diucapkan oleh Jenderal Kim, ia melangkah pergi menuju dimana mobil dinasnya telah menunggu sedari tadi.
Tak lama setelahnya, Irene membawa Yoora melangkah pergi diikuti oleh semua anggota mengikuti memberikan perlindungan hingga Lady mereka masuk kedalam mobil dengan aman, melaju meninggalkan area pemakaman.
Kris tertinggal disana seorang diri. Masih berdiri di posisi yang sama sedari tadi namun pandangannya terkunci pada satu orang yang duduk di tempat yang sama dan posisi yang sama, Baekhyun. Tanpa ragu Kris melangkah mendekat dan duduk pada salah satu kursi pada barisan belakang Baekhyun.
"Apa alasan kau masih duduk disini, semua orang telah meninggalkanmu dan bahkan Ibu tiri-mu nampaknya sengaja membiarkanmu tertinggal disini." Tidak ada kata perkenalan, tidak ada kata santun yang diucapkan Kris secara langsung kepada Baekhyun.
Baekhyun masih menunduk dalam diam duduknya, hanya suara tangisan dan getaran badannya yang bisa Kris dengar dan lihat dengan jelas.
"Kalau kau menangisi apa yang sudah kau lakukan pada salah satu rekan dan juga—
"A—aku tidak membunuh ahjussi.. aku tidak membunuhnya.. Dia yang melakukannya.. bukan aku.."
Kris menggeleng tidak percaya dan bahkan ia hampir meledakkan suara tawanya hanya dengan mendengar apa yang Baekhyun baru saja katakan. "Kau tidak membunuhnya? Bagaimana bisa kau menjelaskan apa yang kau lakukan sementara aku bahkan hampir membuatmu merasakan kematian sama dengan apa yang rekan-ku dan Ahjussi-mu rasakan saat ini." Kris berbisik dengan penuh emosi tepat disamping telinga Baekhyun dan itu semakin membuat gadis itu menunduk, menggelengkan kepala dengan isakan tangis semakin kencang terdengar dari dirinya.
Kris kembali duduk bersandar pada kursinya, masih memperhatikan punggung belakang Baekhyun yang semakin bergetar setelah mendengar apa yang dikatakan olehnya. Dan kali ini bukan hanya dirinya yang pada kursi barisan belakang Baekhyun, Chanyeol, Jongin dan juga Sehun telah ikut bergabung. Masih mengenakkan setelan jas hitam dan juga topi hitam di masing – masing kepala mereka untuk menutupi wajahnya. Chanyeol memberikan kode pada Kris untuk kembali memberikan pertanyaan lainnya pada Baekhyun, dan pria itu mengangguk paham.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini?"
Baekhyun mengusap kedua matanya, menenangkan diri sebelum ia memberikan jawaban pada pertanyaan yang baru ditanyakkan kearahnya. Isakan tangisnya masih bisa terdengar, namun tidak seperti sebelumnya. "Wanita itu membiarkan aku berada disini dan mungkin kalian akan membawaku sebagai balasan—
"Dia menyerahkanmu? Atau akau bisa mengatakan lebih jelas bahwa dia membuangmu?"
Baekhyun mengangguk. "Ka—kalian akan membunuhku?"
Kris menoleh pada Chanyeol, pewaris Phoenix itu sudah bersiap dengan pistol di tangan kanannya dan sudah terpasang peredam berada tepat dibelakang kepala Baekhyun.
"Bukankah sangat mudah, membunuhmu yang sudah menyerahkan diri secara suka rela?" kali ini bukan Kris yang melayangkan pernyataan, Chanyeol secara langsung berucap, menarik pelatuk pada pistolnya dan menekan ujung moncong senjata itu mengenai kepala Baekhyun.
Baekhyun tidak bergerak, ia masih dalam posisi duduknya sama seperti sedari tadi ia lakukan. Hanya saja para pria dibelakangnya tidak ada yang mengetahui ketakutan yang gadis itu rasakan dengan terus menahan tangisannya dengan mengigit bibirnya dan juga menekan ujung jari – jarinya dalam kepalan tangannya hingga bagian tangannya berdarah.
"Kau bisa menyampaikan pesan terakhir.. untuk pacar atau mungkin temanmu—
"—atau ibu tirimu." Chanyeol menyambung apa yang Kris katakan.
Baekhyun menggeleng dengan cepat.
"Oh—kau ingin segera menjemput ajalmu—
"Aku ingin menanyakkan satu hal.."
Para pria disana terdiam, saling memandangi satu sama lain membayangkan pertanyaan apa yang mingkin ditanyakkan oleh gadis didepan mereka.
"Aku ingin menanyakkan sesuatu.. wanita itu mengatakan.." Baekhyun semakin menunduk dan siara getaran tangisnya kembali terdengar lebih keras. "ia.. hiks.. ia.." nafasnya bahkan semakin tersenggal – senggal hingga ia kesulitan mengatakan apa yang ingin ia ucapkan. Baekhyun mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya sendiri. "Ia mengatakan—bahwa Chanyeol—
Dan barisan pria dibelakang sana menegang, menegangkan badan mereka dalam posisi duduknya, memusatkan pendengaran mereka untuk memastikan dengan jelas apa yang dikatakan Baekhyun.
"—ia membunuh Chanyeol—
Entah siapa yang lebih dulu menolehkan pandangannya pada Chanyeol, karena mereka bertiga melakukan hal yang sama di waktu yang sama. Dan Chanyeol satu – satunya orang yang merasakan kebingungan lebih dalam, kini dirinya lah yang memiliki beragam pertanyaan terhadap sosok gadis yang seingatnya tidak pernah ia kenal selama hidupnya.
"—apa yang wanita katakan itu benar?"
Tidak ada yang berani memberikan jawaban untuk apa yang Baekhyun tanyakkan, bahkan sang pemiliki nama tidak mengeluarkan satu kata pun meskipun sangat yakin ia ingin melayangkan satu pertanyaan penting pada gadis itu.
"Dan apa pedulimu?" Chanyeol melemparkan pertanyaan kembali.
Dan Baekhyun menggeleng lesu, tidak ada sahutan yang terdengar dengan suara lirihnya. Ia memejamkan matanya menyiapkan diri mendapati kematiannya akan segera datang menjemput.
"Nikmati tidur panjangmu."
DOR!
