Title : Oh, My Darling
Pair : Kuramochi x Sawamura
Word : 13305
Genre : Drama, romance, music,
Rating : M
WARNING OOC 18+ Typos etc
A/N : Sesuai rating, jadi yang belum cukup umur jangan baca ini ya haha. By the way kalau adegan sakaunya salah, maaf, hanya mengandalkan google dan aku gatau orang sakau kayak gimana aja, sedikit banyaknya aku lihat dari scene di filmnya Slank Gak Ada Matinya, TAT. Dan aku baru sadar bahwa nama Charlos itu yang bener adalah Carlos. Maap TAT sadarnya pas udah selesai.
OH, MY DARLING
JANTUNGNYA berdebar-debar penuh tantangan, keringat mengucur dari dahi, kedua tangannya bergetar, tapi dia tersenyum lebar diantara peluh yang tersisa. Bajunya sudah basah karena keringat. Maka dari itu, selagi sang vokalis mengobrol ria bersama fans, dia mundur ke belakang untuk melepas gitar listrik pun kaus hitamnya yang basah.
"Mau aku ambilkan baju ganti?" Tanya manager mereka begitu salah satu staff mengambil baju yang diberikan olehnya.
"Tidak," dia menjawab sambil menyengir, lalu setelah itu dia meminum segelas minuman alkohol dan meneguknya sebanyak tiga kali. "Begini saja tidak apa-apa, terlalu panas disini." Lanjutnya seraya mengusap kasar rambut brunettenya.
Sang manager tersenyum geli. "Tenang saja, setengah jam lagi selesai." Katanya memberitahu.
"Yah," dia kembali berjalan, kali ini menenteng gitar kesayangannya. Begitu dia terlihat, semua orang berseru, menjerit, lebih keras dari sebelumnya. Sementara yang baru datang hanya terkekeh pelan.
Sang vokalis yang notice keberadaannya itu langsung menoleh dan tersenyum lebar. "Apa-apaan ini, Eijun!" Dia berlari dan merangkul Eijun yang shirtless itu. Irisnya memerhatikan perut abs Eijun sambil memasang smirk. "Kau pamer ya?!"
"Ya," Eijun menjawab ringan seraya terkekeh. Lalu dia mengedipkan sebelah matanya untuk fans perempuan yang sekarang menjerit kesenangan. "Well," Eijun mengambil mic yang dipegang oleh si vokalis utama mereka. "Silakan menikmati tubuhku, para gadisku." Dia memberikan kedipan mata diiringi lidah yang menjilati bibirnya dengan hot.
"Woaaa!"
"Eijun!"
"You're so hot, babe!"
Si vokalis tertawa lebar. "Hyahaha! Fuck you, Eijun! Kau mengambil semua fansku!" Yoichi melepaskan rangkulannya lalu tertawa geli bersama Charlos dan Conrad.
Eijun berbalik seraya memakai gitarnya lagi. Tato bergambar gagak hitam hampir memenuhi seluruh punggungnya. Sementara dari bahu hingga sikutnya terdapat tato ular yang melilit dengan kepala kambing bertanduk. Eijun meniup-niup jarinya lalu kembali mengecek suara, dia meraih vape yang diberikan oleh salah satu staff dan mulai mengisapnya, mengeluarkan asap ke udara sebelum akhirnya dia mendekati Charlos—bassist mereka.
"Oh, aku baru ingat," Yoichi berseru. "Ada seorang fans yang ingin kami membawakan lagu Bon Jovi. Well, dia merupakan fans pertama kami. Kami menghormatinya karena dia sudah mengikuti kami sedari awal hingga sekarang ... berapa tahun? Tiga? Yah, semacam itu, tiga tahun dia menjadi fans kami."
"Kupikir tiga setengah," Charlos ikut dalam pembicaraan, mendekati sang vokalis dengan gitar bassnya. "Karena kita pertama kali menjadi band publik selama setengah tahun."
"Oh, ya, ya! Kau benar!" Yoichi berseru lalu tertawa. Kembali perhatiannya tertuju pada lautan manusia didepannya. "Well, mari kita bernyanyi! Bon Jovi, You Give Love a Bad Name!"
Semuanya berseru, meneriaki dengan abstrak yang tidak bisa Eijun tangkap mereka bicara apa. Eijun kembali ke posisinya begitu juga dengan Charlos, sementara Conrad mencari posisi nyaman untuk duduk. Lampu mulai padam, semuanya hitam, lalu tidak lama kemudian beberapa lampu sorot mulai menerangi panggung. Conrad memberikan arahan dengan stik drumnya, dengan staff yang menghitung mundur.
Lalu setelah itu, Eijun, Charlos, dan Conrad mulai bernyanyi. "Shot trough the heart and you're to blame!"
"Darlin', you give love a bad name!" Yoichi melanjutkan. Disusul dengan debuman drum oleh Conrad serta gitar Eijun.
Lalu setelah itu, mereka mengguncang para fans dengan suara Yoichi yang menggelegar memenuhi stadion.
...
Eijun tidur tengkurap dengan dagu yang menyangga diatas bantal, dengan kedua tangannya yang memegang ponselnya miring, dengan iris coklat emasnya yang menatap layar handphone itu dengan intens. Suara nyanyian terdengar dari speaker ponsel pintarnya. Nyanyian anak berumur lima belas tahunan yang berusaha menarik perhatian coach.
"Masih saja menonton itu,"
Eijun tidak menoleh, tahu siapa yang datang tanpa salam. "Yah, begitulah." Eijun menyahut ringan. Lalu dia merasakan kasur di sampingnya berguncang pelan sebelum akhirnya seseorang tidur terlentang di sampingnya. Eijun menyempatkan diri untuk melirik dengan iba. "Apa sangat berisik diluar sana sehingga kau memasang ekspresi begitu?" Tanya Eijun diiringi sedikit sarkas melihat ekspresi pria di sampingnya yang begitu melelahkan.
Pria itu terkekeh. "Sialan kau." Kemudian tangan kirinya meraih pinggang Eijun dan memeluknya dari samping dengan tubuh miring. "Aku merindukan ini, Eijun," lirihnya pelan dengan mata yang terpejam.
Eijun memberinya senyum lalu mematikan handphonenya sebelum akhirnya dia mengubah posisi menjadi terlentang, membiarkan pria disampingnya semakin memeluknya tanpa ampun. "Yoichi," dia memanggil pria disampingnya dengan lirih disaat nafas Yoichi terasa di ceruk lehernya. Geli dan panas. Eijun merasa tubuhnya bergetar.
Yoichi terkekeh. "Biarkan begini dulu." Jawabnya pelan.
Eijun menuruti permintaan Yoichi. Membiarkan sang vokalis memeluknya dari samping. Keheningan menyelimuti keduanya, hanya ada suara detak jarum yang memenuhi ruangan, dengan sinar lembayung sore hari yang menyoroti sebagian ruangan dari jendela yang besar. Sementara gorden berwarna marun itu bergoyang pelan begitu angin menghilir masuk. Eijun menutup matanya sesaat, menikmati waktu-waktu yang jarang keduanya dapatkan.
"Eijun." Yoichi memanggil setelah lima menit terjadi keheningan.
"Ya?"
Yoichi diam sebentar, dia membuka matanya lalu mencari posisi nyaman. Kali ini dia tidur terlentang menatap langit-langit kamar hotel. "Apa kau sangat menyukai acara itu?" Tanya Yoichi.
"The Voice?"
"Yah, itu."
Eijun tersenyum kecil. Lalu dia menggerakan tubuhnya dan duduk diatas perut Yoichi—seperti yang biasa dia lakukan ketika berdua. Memandang ekspresi panas Yoichi dari atas sini sangat menyenangkan. "The Voice selalu membuatku ingat betapa berusahanya aku diatas panggung. Bernyanyi sepenuh hati, dengan keringat dingin dan jantung yang berdebar-debar."
Tangan kanan Yoichi mengudara, membelai pipi Eijun yang sedikit tirus, padahal beberapa bulan yang lalu pipi itu terlihat berisi. Yoichi memberinya senyum kecil ketika mata Eijun memejam menikmati sentuhannya. Sementara tangannya yang satu lagi mengelus pelan paha kanan Eijun. "Walau pada akhirnya para coach tidak membalikan kursinya?"
Eijun mengangguk dengan mata terpejam. Kenangan masa kecilnya ketika mengikuti acara bakat The Voice dengan suara emasnya, dengan sepenuh hati, dengan dorongan dari sang Ayah yang membesarkannya sebagai penyanyi, dengan masukan dari sang Ibu yang memeluknya setiap dia runtuh. Sedikit pahit karena saat itu para coach tidak membalikkan kursinya. Mereka bilang dia masih punya kesempatan di tahun depan. Namun Eijun tidak mengikuti The Voice kembali dan memilih untuk membuat band dengan teman-temanya.
Yoichi bangkit untuk duduk dengan kedua tangannya yang memeluk Eijun, membawa pria yang lebih muda darinya itu untuk berciuman mesra. Eijun menerima Yoichi dengan mudah, membuka mulutnya, membiarkan Yoichi mengabsen giginya dengan telaten, mengadu lidahnya, mengisapnya, memberikan Eijun sensasi rasa terbakar yang nikmat. Yoichi menyudahi ciumannya dikala merasa bahwa keduanya butuh oksigen untuk bernafas. Yoichi menikmati ekspresi Eijun yang mengap-mengap menghirup udara dengan rakus, pipinya yang memerah dan iris emasnya yang berkilat penuh nafsu. "Eijun," panggil Yoichi dengan suara seraknya.
"Hm?" Eijun mendekatkan diri, menghirup ceruk leher Yoichi yang harum minyak wangi bercampur dengan keringat. Mengingatkan Eijun betapa sulitnya Yoichi menerobos para wartawan untuk sampai ke hotel ini. Harum tubuh Yoichi membuat Eijun semakin panas. Celana di bawahnya serasa sesak membuat Eijun ingin melepaskan semuanya sekarang juga. Eijun sedikit bergerak keatas bawah demi mencari posisi duduk yang nyaman dengan kedua tangannya yang bertumpu pada bahu Yoichi.
Yoichi diam, menikmati bibir Eijun yang menyentuh kulit lehernya, menikmati bagaimana pucuk hidung itu mengendus-endus di sana seakan-akan sedang mencari sesuatu yang nikmat. Matanya terpejam lalu terbuka kembali. Dia menangkup wajah Eijun dan membawanya untuk menatapnya dengan intens sebelum akhirnya mendarat kecupan singkat di bibir ranum Eijun. "Bagaimana tentang seks di sore hari?" Tanya Yoichi.
Sebelum menjawab, Eijun mengalungkan tangannya, sedikit bangkit dan membawa kepala Yoichi ke lehernya. Memberikan sebuah kode untuk Yoichi bahwa pria itu boleh memberikan tanda disana sebanyak apapun yang pria itu mau. "Tidak buruk." Eijun menjawab dengan ringan diiringi desahan. Menikmati bagaimana gigitan serta hisapan Yoichi di lehernya, tulang selangkanya, lalu menikmati bagaimana sentuhan Yoichi dengan telapak tangannya yang kasar bermain-main di perutnya dan di punggungnya.
...
What're you doin' tonight, hey, boy?
Write my latter
Feel much better
And use my fancy patter on telephone
Kelopak matanya perlahan terbuka mendengar lagu yang tidak asing menelusup di pendengarannya, lagu Queen berjudul Good Old-Fashioned Lover Boy. Hal pertama yang dia lihat adalah jendela besar yang tertutup oleh gorden transparan, dia bisa melihat diluar sedang hujan. Tidak lama kemudian, kasur berguncang pelan. Eijun menoleh ke kanan, dimana Yoichi sedang duduk memunggunginya. Eijun bisa mengendus bau asap rokok, bahu Yoichi bergerak, sebelum akhirnya sedikit membungkuk karena Yoichi menumpu sikut diatas pahanya.
Eijun bergerak, duduk, dengan mengusak matanya pelan, dia mendekati Yoichi dan memeluk Yoichi dari belakang.
"Morning, Eijun," Yoichi yang baru sadar bahwa Eijun terbangun itu langsung menolehkan kepalanya ke belakang, keduanya berciuman selama beberapa detik sebelum akhirnya Eijun menaruh dagu diatas pundak kanan Yoichi, memeluknya dari belakang, dengan lutut menumpu diatas kasur.
"Morning, Yoichi." Eijun menjawab lalu mengendus leher Yoichi. Memerhatikan Yoichi mengisap rokoknya. Tangan kanan Eijun meraih rokok itu, merebutnya, lalu mengisapnya dan menghembuskan asapnya ke depan sebelum akhirnya dia memberikannya lagi pada Yoichi.
Yoichi menyenderkan punggungnya ke dada bidang Eijun. Sadar bahwa keduanya tidak memakai atasan dan hanya celana pendek saja sehabis olahraganya sepanjang malam. Yoichi menutup matanya, merasakan tubuhnya yang panas, melirih pelan sambil menggumamkan kalimat yang tidak bisa Eijun terjemahkan. Yoichi menaruh batangan rokok itu ke asbak diatas nakas lalu membuka salah satu laci dan mengeluarkan beberapa pil yang berada didalam plastik kecil. Saat hendak mengambil satu, tangan Eijun mencegahnya dengan kasar dan menaruhnya kembali, menutup laci itu. "Eijun..." Yoichi melirih tidak sabar, tidak bisa berbuat apapun ketika Eijun mencegahnya dengan ekspresi kesal. Yoichi menatap Eijun dengan intens, sedikit membalikan tubuhnya ke belakang.
"Jangan bermain-main dengan obat-obatan itu," Eijun menatap Yoichi marah. "Itu berbahaya untuk tubuhmu." Lanjutnya menggurui.
Yoichi berdecak pelan. "Kau ingin aku mati karena sakau?" Tanyanya.
"Tidak." Eijun menggeleng lalu menangkup wajah Yoichi, memberinya tatapan yang tidak tergoyahkan oleh apapun. Dari lubuk hatinya dia benar-benar benci ketika Yoichi menikmati obat-obatan yang merusak tubuhnya. Mungkin dia masih bisa menolerir kalau Yoichi merokok atau minum alkohol. Tapi untuk narkoba, dia tidak bisa membayangkan Yoichi yang masuk penjara atau di rehabilitasi. "Jangan candu pada obat-obatanmu." Putus Eijun.
Yoichi memberinya smirk, jelas bahwa dia tertarik dengan keputusan sepihak Eijun. "Lalu, pada siapa aku harus candu?" Tanya Yoichi.
Eijun membawanya pada ciuman, lebih dari sekadar kecupan. Membuat tangan Yoichi bergerak liar di tubuhnya, turun ke bawah dan meremas kedua belah bokongnya dengan keras. "Padaku," Eijun menjawab di sela-sela ciumannya, melepaskannya lalu menyatukan kedua dahinya, menatap Yoichi dengan intens dengan iris emasnya yang berkilau serius. "Hanya padakulah kau harus candu, Yoichi."
Yoichi tersenyum miring lalu dengan mudahnya dia memangku Eijun, membawanya ke ciuman panas di pagi hari dengan hujan turun di luar sana, dengan lantunan lagu Queen sebentar lagi habis. Seingat Yoichi setelah lagu ini adalah lagu Elvis Presley berjudul Heartbreak Hotel
"Hmm, ssh..." Eijun merasakan nikmat yang luar biasa begitu Yoichi meloloskan dua jari ke lubangnya.
"Moan my name, Eijun..."
"Yoichi! Yoichi!"
Yoichi membaringkan Eijun masih dengan ciumannya. Memberi Eijun tempat ternyaman dengan kepalanya diatas bantal. Lalu Yoichi turun, menjilat sekitar dada Eijun, memberinya kissmark. Mungkin Yoichi akan mengadakan ronde selanjutnya jika saja tidak ada yang masuk ke kamar mereka dengan tiba-tiba. Yoichi mengerang menatap ke pintu, dimana dua personel bandnya masuk lalu menutup pintu tanpa dosa. Sementara Eijun langsung memalingkan wajahnya, malu karena tertangkap basah.
"Wow, panas bung," Charlos berkomentar diiringi dengan siulannya pada Conrad dan menepuk dada bidang pria itu sekali.
Conrad mendengkus kecil lalu duduk di sofa, sementara Charlos berdiri satu meter dari kasur yang ditumpangi oleh si vokalis bersama gitaris itu.
Yoichi menghela nafas pelan, dia menegakkan punggungnya sambil mengamati tubuh atas Eijun yang berlukiskan kissmark. "Indahnya karyaku," kelakar Yoichi lalu bangkit dan mengisap rokoknya yang masih menyala. Dia bangun lalu menaruhnya lagi di asbak, memunguti kausnya diatas lantai lalu memakainya, setelah itu dia mengambil kaus Eijun dan memberikannya pada pemiliknya.
"Karyamu," Charlos memutar matanya. Lalu menunjuk Yoichi dan Eijun terang-terangan setelah kedua pria itu berpakaian dengan benar. "Sudah kuduga kalau kalian sedang bercinta sementara kami menelpon kalian berkali-kali."
Yoichi menaikan sebelah alisnya dengan ekspresi sangarnya. "Apa urusan kalian kemari?" Tanya Yoichi kembali mengambil batangan rokoknya lalu berjalan menuju jendela besar, mengamati kota Manhattan yang sedang diguyur hujan deras, kota dengan bangunan-bangunan tinggi.
"Dude," Charlos menaikan tangannya ke atas dengan ekspresi tidak percaya. "Begitukah reaksimu pada rekanmu ini?" Tanya Charlos dengan tersakiti. Atau bisa disebut pura-pura tersakiti.
"Abaikan saja dia," Eijun berkata lalu mengeluarkan vape dari laci nakas dan mengisapnya, mengeluarkan asap berbau coklat ke udara. Tangannya yang bebas itu mengibas pelan di udara sebelum dia kembali melanjutkan, "dia hanya sedang kesal karena diet narkoba."
"Bukan diet, Eijun," Yoichi berbalik lalu menatap Eijun. "Itu namanya berhenti. Lagi pula aku tidak terlalu marah atau apapun, mereka berdua mengganggu kegiatan kita." Yoichi menatap nyalang Charlos dan Conrad bergantian sambil mengangkat dagunya.
Charlos tergelak geli, memegang perut ratanya sambil mundur dan duduk diatas sofa, disamping Conrad yang sibuk dengan ponsel pintarnya. "Maaf, maaf," katanya tidak tulus sama sekali. "Josh bertanya tentang lagu barumu, Yoichi," Charlos berkata, menyampaikan apa yang managernya katakan.
Yoichi diam sesaat. Tangan kirinya dia masukkan ke saku celana pendeknya sementara satu tangannya lagi menggenggam rokoknya. "Lagu baru ya, hm..." Yoichi terdiam sesaat. "Tur kita disini sudah selesai 'kan? Aku akan menyelesaikannya sebelum konser di Jepang." Putus Yoichi.
...
Yoichi menatap tanpa kedip dimana Eijun sedang bernyanyi layaknya Freddie Mercury didepannya, berjalan kesana-kemari dengan tongkat golf yang di hentak-hentakan di tangannya alih-alih sebagai mic. Terdengar lagu Another One Bites The Dust dari ponsel Eijun. Sementara si pemilik ponsel bernyanyi mengikuti lagu. Yoichi tidak bisa berkata-kata setiap mendengar suara Eijun yang emas itu. Padahal Eijun bisa menjadi penyanyi, tetapi dia lebih memilih menjadi gitaris saja.
How do you think I'm going to get along
Without you, when you're gone
You took me for everything that I had
And kicked me out on my own
Conrad diam sesaat, gerakan Eijun sangat mirip dengan Freddie Mercury di video klipnya. Conrad bertanya-tanya, sudah berapa puluh kali Eijun menonton video klip itu sampai bisa mirip seperti ini?
But I'm ready, yes I'm ready for you
I'm standing on my own two feet
Out of the doorway the bullets rip
Repeating to the sound of the beat, yeah
Charlos memundurka wajahnya ketika Eijun memberikan kecupan jarak jauh ala Freddie Mercury, lalu tidak bisa menahan gelinya di saat kakinya terhentak di atas lantai. Bung, Charlos mengakui suara Eijun bagus, bahkan dia bisa melebihi Yoichi. Padahal Charlos sering mendengar suaranya, tapi kenapa Charlos selalu di buat terpana?
Another one bites the dust, yeah
Hey, I'm gonna get you too
Another one bites the dust
Shoot out
Ay-yeah, alright
Ketika lagu berakhir, Eijun memberikan kedipan maut pada Yoichi yang terduduk diatas sofa. Sementara Charlos dan Conrad menikmati sambil tergelak sesudahnya.
"Wow, Eijun," Charlos berkata lebih dulu. "Sekarang kau mengikuti gaya Freddie Mercury, apakah besok kau akan mengikuti gaya Axl Rose dalam klip Welcome To the Jungle?" Kelakarnya.
Eijun tergelak lalu menaruh asal tongkat golf milik Josh yang dia curi. "Ide bagus, Charlos." Setuju Eijun.
Yoichi meneliti pakaian Eijun dari atas ke bawah. Kali ini dia memakai pakaian tahun 70-an. Celana boot cut, dengan kemeja yang dimasukan kedalam celananya, jaket denim, serta kaus kaki putih yang dibalut sepatu converse. Sore hari ini dia disajikan sesuatu yang menarik didepannya. Setelah seharian ini Eijun menikmati waktu bersama Josh untuk bermain golf. "Well, selalu menarik, Eijun." Komentar Yoichi.
Eijun tertawa kecil lalu berjalan menuju Yoichi, duduk diatas pangkuan paha Yoichi yang terbuka agak lebar. "Aku memang selalu menarik, Sayangku." Eijun menjawab, menyenderkan punggungnya membuat Yoichi memeluknya dari belakang, membiarkan Yoichi menaruh dagu di pundaknya, membiarkan pria itu menghirup ceruk lehernya. "Rambutmu semakin panjang saja, Rad," ujar Eijun melihat Conrad yang duduk di sofa lain sambil minum bir kalengannya.
"Well," Conrad mulai angkat bicara, menegakkan punggungnya dan memasang ekspresi serius, "bagaimana jika aku mengikuti gaya rambut Slash?" Tanya Conrad.
Sontak ketiganya tergelak geli. "Slash itu gitaris, bukan drummer, sial!" Seru Charlos.
"Dan rambutnya itu keriting, sedangkan rambutmu lurus, Rad." Tambah Eijun.
"Ini tahun milenial, bukan tahun tujuh puluh-an, Rad." Ujar Yoichi mengingatkan. Kemudian dia melihat Eijun mengeluarkan vape dari kantung jaketnya lalu mengisapnya dan menghembuskan asap ke udara. Yoichi tahu dari awal vape trend hingga sekarang, Eijun suka sekali dengan itu. Kadang dia akan mengisap rokok juga.
Conrad menggerutu tanpa suara. Dia kembali fokus dengan game di handphonenya, sejenak Conrad berpikir dia akan membuat planning jika dia sudah tidak kuat menangani teman-temannya yang brengsek ini, mungkin dia bisa membuat channel youtube sebagai gamers?
Charlos mendesah pelan, dia mengambil sebatang rokok di atas meja kemudian menyalakan pematiknya. Setelah itu dia mengisapnya dan menghembuskannya ke udara. Charlos menatap lurus ke luar jendela besar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Siapapun, aku sedang bosan, biarkan aku bercinta dengan para wanitaku di luar sana." Racau Charlos.
Eijun mendengkus geli mendengarnya, tidak sadar bahwa tangan kanannya bermain-main di jari Yoichi, sementara tangan kirinya memegang vape.
"Bung," Yoichi buka suara. "Mau sampai kapan kau membuang-buang benihmu?" Sarkas Yoichi diiringi helaan nafas putus asa. Hal itu membuat Eijun tergelak.
Charlos berdecak. "Well, apa salahnya? Wanita di luar sana mendesah gila, menggeliat memintaku untuk menghamilinya."
Conrad kemudian berceletuk. "Aku tidak ingin kita kedatangan seorang wanita yang sedang hamil."
"Dan meminta pertanggung jawaban." Tambah Eijun. Sementara Charlos hanya merotasi matanya. "Aku berpikir," kata Eijun membuat ketiganya memasang telinga. "Kenapa kita tidak pergi ke tempat menyenangkan?"
...
Pada momen tertentu, Eijun menyukai ketenangan. Tapi untuk kali ini, karena mereka sedang dalam off day, Eijun menyempatkan diri untuk berbaur dengan lingkungan sekitar. Sialnya, Josh tidak mengizinkan mereka untuk pergi ke diskotik dan memberikan saran untuk membuat pesta di hotel. Semua teman-teman band mereka datang, rekan Josh, atau siapapun untuk memeriahkan pesta.
Kamar mereka yang tadinya hening dan tenang kini penuh dengan lagu EDM serta lampu yang berkelap-kelip. Bau alkohol menyengat menyeruak di udara. Eijun bergoyang mengikuti alunan musik dengan gelas di tangan kirinya, menghentakan kepalanya dan sesekali mengecup bibir seorang wanita didepannya. Sementara matanya sesekali melirik sekitar, beberapa pasang orang ada yang melakukan seks ringan atau berciuman panas. Charlos yang sudah mendapatkan banyak wanita yang menggerubunginya, sementara Conrad hanya memeluk pacarnya sambil mengobrol atau sesekali mengecup. Dan Yoichi, pandangan Eijun tidak bisa lepas dari pria yang kini melakukan seks diatas sofa, seolah tidak peduli dengan tatapan orang lain atau tidak takut dengan skandal.
Skandal? Eijun ingin menertawai diri sendiri. Hubungannya dengan Yoichi terlalu rumit untuk di jelaskan. Keduanya sering melakukan seks setiap ada waktu atau ketika sedang tidak ada siapapun, tapi mereka tidak pacaran. Yoichi kadang sering seks bersama wanita random yang menurutnya menarik. Sementara Eijun, dia hanya memberikan ciuman panas pada wanita, tidak sampai seks. Perbedaan mereka adalah Yoichi yang seorang bisex sementara Eijun sendiri merupakan homo. Hubungan gelap Eijun dan Yoichi tidak diketahui publik, hanya manager, Charlos, Conrad, atau teman dekat mereka saja yang tahu. Eijun tidak bisa membayangkan bagaimana jika hubungan mereka terungkap di publik, apakah bandnya bisa bertahan?
Eijun memutuskan untuk duduk di sofa yang kosong, agak jauh dari Yoichi, Charlos, dan Conrad. Dia memilih untuk memejamkan mata, mendengarkan alunan musik, desahan orang lain, dentingan gelas, hentakan kaki dan tawa. Menyerap semuanya ke dalam otaknya. Menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya. Lalu membuka mata dan melihat ke langit-langit ruangan yang berkelap-kelip.
"Kupikir kau menyukai pestanya, hyahaha."
Eijun sekilas menatap pria yang baru saja duduk disampingnya. "Aku menikmatinya." Jawab Eijun seadanya. Toh, dia benar-benar menikmatinya meski dia tidak ingin di ganggu untuk saat ini. "Dimana pasanganmu?" Tanya Eijun pada Yoichi.
"Dia terlalu teler," jawab Yoichi lalu merebut minuman Eijun dan menegaknya. "Jadi aku meninggalkannya."
Eijun merotasi matanya, inilah Yoichi. Selalu meninggalkan wanita ketika wanita itu terlalu teler atau pingsan sehabis bercinta. Yoichi yang memperlakukan orang kasar dan seenaknya, Yoichi yang selalu berkata buruk tanpa tahu perasaan orang lain. Eijun juga hampir lupa dengan fakta bahwa Yoichi begitu agresif dan menyukai Eijun yang menangis sambil mendesahkan namanya. Eijun mengutuk di dalam hati, kenapa dia bisa terjebak dalam pesona Yoichi? Ketika bergelut dengan pikirannya sendiri, sebuah ide terlintas di kepalanya, Eijun menoleh menatap Yoichi yang kini sedang merokok. "Kupikir," Eijun menggantung kalimatnya.
Yoichi yang mendengar itu langsung menoleh. "Apa?"
"Kupikir aku akan membuat tato baru."
Yoichi mengerjap. "Tato baru?"
Eijun mengangguk pelan lalu kembali menutup matanya, mencari tempat nyaman untuk tertidur di atas sofa, mungkin kali ini dia akan tidur dengan lagu EDM sebagai nina bobonya.
"Jangan tidur disini, sial."
Eijun membuka mata dengan malas. "Lalu?"
Yoichi mengawasi sekitar, melihat yang lain sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, barulah Yoichi membisikan sesuatu di telinga Eijun. "Ke kamar, Sayang."
Conrad menatap sekilas kearah Eijun yang berjalan lebih dulu, meninggalkan pesta, berjalan menuju kamarnya dan tidak lama kemudian Yoichi mengikutinya. Conrad mendengkus melihat itu, dia kemudian mengecup pipi wanita disampingnya yang berstatus sebagai pacarnya. Sungguh, dia tidak kaget melihat bagaimana sang vokalis dan gitaris itu memiliki hubungan yang rumit. Conrad hanya bisa berharap bahwa hal itu tidak membawanya ke sebuah skandal besar.
Suara desahan memenuhi kamar. Beruntung bahwa kamar ini kedap suara dan sudah dikunci dengan benar. Sialnya, ketika Yoichi masuk ke kamar, Eijun sudah menyiapkan diri. Oh, tentu saja Yoichi tidak bisa menahan diri. Dengan segera dia menerkam Eijun yang tampaknya setengah sadar.
Air liur mengalir dari mulut ketika keduanya berciuman panas di atas kasur. Eijun mendesah nikmat saat Yoichi menghentakan miliknya kedalam lubangnya, membuat gerakan maju mundur yang tidak konstan. Ciuman panas itu seolah-olah melebur didalam mulut Eijun, membuatnya terasa seperti di awang-awang, bisikan dosa dia hiraukan, pada akhirnya Eijun kalah dengan nafsunya sendiri. Benar-benar membiarkan Yoichi kembali mengobrak-abrik tubuhnya, membiarkan Yoichi menggunakan tubuhnya sesuka hatinya, membiarkan Yoichi kembali memimpin permainan. Atau, kembali membiarkan Yoichi mengikat tangannya ke kepala ranjang dengan ikat pinggang dan membuat Eijun menangis penuh nikmat.
...
Eijun membuka matanya dan melihat cahaya matahari masuk lewat celah-celah jendela. Eijun sulit menggerakan tubuhnya karena Yoichi memeluk tubuhnya dari belakang. Eijun kemudian berusaha melepaskan pelukan tubuh itu dengan hati-hati dan berjalan menuju kamar mandi dengan sedikit tertatih. Eijun menggeram di dalam hati, benar kan? Yoichi memperlakukan orang dengan kasar tanpa terkecuali dan begitu agresif.
Sekitar dua puluh menit Eijun membersihkan diri dan memakai baju santainya. Eijun keluar dan melihat Yoichi masih tertidur dengan pulas. Dengan langkahnya yang pelan dan hati-hati, Eijun mendekati Yoichi, memandang wajah sepolos bayi itu. Padahal ketika kedua mata itu terbuka, Yoichi akan kembali garang. Dan Eijun menyayangkan hal itu. Tanpa sadar Eijun tersenyum kecil. Yoichi adalah teman masa kecilnya di Amerika, dia juga yang selalu ada untuk Eijun apa lagi ketika Eijun dilanda patah hati karena putus dengan pacarnya. Eijun perlahan membungkuk, mencium kening Yoichi sebelum akhirnya dia pergi ke luar kamar dan disambut beberapa orang yang terkapar karena teler.
"It's disgusting," gumam Eijun mencium alkohol yang menyengat. Buru-buru Eijun menjauh dan mengambil ponselnya. Memanggil Josh untuk segera membersihkan hotel. Lalu setelah itu Eijun pergi keluar dari kamar hotel yang mereka sewa. Eijun keluar dengan cahaya matahari menyambutnya. Hari sudah siang sebenarnya. Eijun hanya berjalan-jalan disekitaran hotel sebelum akhirnya memesan taksi untuk pergi ke tempat temannya di dekat Manhattan.
Taksi berhenti didepan toko tato. Eijun keluar dari taksi setelah membayar. Dia mulai memakai maskernya dan memasuki toko yang setengah buka itu tanpa permisi. Begitu sampai di dalam, ruangannya remang-remang dan hanya ada lampu berwarna keunguan untuk menerangi tempat ini.
"Wow, Eijun!" Pemilik toko sekaligus teman dekatnya menyeru, memeluk Eijun kemudian merangkulnya.
"Hei, Harris." Eijun tersenyum lebar lalu membuka maskernya.
Harris membawa mereka menuju kedalam. "Ingin membuat tato lagi?"
Eijun terdiam sesaat lalu mengangguk. "Begitulah." Lalu setelah itu dia mengobrol dengan Harris. Tentang sifat Eijun yang tidak berubah, tentang Eijun yang kini sulit mendapatkan waktu senggang. Harris adalah teman sekolah Eijun, omong-omong. Mereka berdua selalu bersama-sama dan Harris mendukung Eijun ketika Eijun membentuk band di sekolahannya bersama Yoichi, Charlos, dan Conrad.
Keduanya mengenang masa lalu sembari Harris yang mulai mengukir kalimat di atas kulit tan Eijun yang mulus tanpa cela, meski beberapa kali Harris menggodanya karena terdapat bekas kissmark yang nyaris menghilang. Well, Harris sudah tahu bahwa seksualitas Eijun berbeda dari orang lain dan Harris tidak membangun tembok apapun karena perbedaan itu. Beruntung, Harris adalah teman yang setia dan tidak pilih-pilih.
...
K.M
Bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak bertemu. Aku selalu melihatmu di sosial media. Aku ingin memberitahumu, Eijun. Rabu depan pernikahanku dengan Yui. Aku harap kau bisa datang, bersama teman-temanmu atau siapapun.
Eijun menatap isi pesan itu tanpa berekspresi apapun. Mantannya berharap dia datang ... ya? Eijun menutup handphonenya lalu menaruhnya di atas kasur. Setelah itu dia berjalan keluar. Sudah tiga hari setelah party kemarin, pun sudah tiga hari Yoichi tidak menggunakan obat-obatan. Eijun senang tetapi dia tetap waspada, dia takut Yoichi diam-diam mengambil barang haram itu.
Jenuh di dalam kamar, Eijun memutuskan untuk keluar dari kamar dan menemui Yoichi yang sedang memainkan piano, dengan nada abstrak yang acak tetapi enak di dengar. Eijun memutuskan untuk mendekatinya dan duduk disamping Yoichi.
"Bagaimana lagu barunya?" Adalah apa yang Eijun tanyakan pertama kali dan membuat Yoichi memasang wajah betenya. "Kenapa?" Tanya Eijun dengan sebelah alis yang terangkat.
"Aku masih belum menyelesaikannya juga, bahkan judulnya juga belum ada." Yoichi kembali menghentakkan jari di atas tuts piano dengan kasar. Membiarkan nada yang mengalun ngeri itu menusuk indra pendengarannya. Namun sebelum dia benar-benar melampiaskan rasa kesalnya, tangan Eijun menghentikannya. Yoichi menghela nafas pelan lalu menoleh ke jendela besar di sampingnya, melihat langit biru di atas sana, melihat hamparan rumput hijau yang luas. Kini, mereka sudah pindah dari hotel di Manhattan ke sebuah vila yang mereka miliki sebagai tempat istirahat.
"Jangan begitu," Eijun mengintrupsi. "Suaranya akan semakin merdu jika kau menekanya dengan lembut." Lanjutnya.
Yoichi kini menatap Eijun, lalu jatuh ke tangan Eijun yang menari di atas tuts dengan telaten. Membuat nada dari lagu yang dia kenal. Yoichi memerhatikan dengan intens bagaimana ekspresi Eijun yang begitu serius dan menjiwai, matanya terpejam dengan alisnya yang menukik. Tampak bahwa ekspresi yang Eijun pancarkan adalah kesedihan. Ah, Yoichi tahu apa yang Eijun rasakan sekarang.
I learned to live half alive
And now you want me one more time
Lagu ini, Yoichi mendesah di dalam hati.
And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Eijun membuka matanya, kali ini perhatiannya tertuju pada tuts piano di bawahnya. Seluruh perasaanya, seluruh suasana hatinya, seluruh rindu, seluruh kesedihan dan kepahitan dia tumpah ruahkan ke dalam musiknya. Saat ini dia ingin seseorang mendengarkan apa yang dia rasakan, merasakan apa yang selama ini membelenggunya. Eijun ingin mengadu pada seseorang dan mungkin Yoichi adalah orang yang tepat.
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the eyes inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?
Sedih. Perasaanya sedih dan terluka lagi. Yoichi memutuskan untuk kembali melihat ekspresi Eijun yang berubah itu, lebih buruk dari sebelumnya. Bibir Eijun bergetar setiap kali dia membukanya, bahunya bergerak tidak konstan,
Dear, it took so long just to feel alright
Remember how to put back the light in my eyes ...
I wish I had missed the first time that we kissed
'Cause you broke all your promises ...
Perlahan suara Eijun memelan di telan kesedihan. Hatinya kembali tertusuk ribuan paku, padahal sudah lama dia tidak merasakan hal ini. Eijun menggigit bibir bawahnya, tidak terlalu kuat untuk melanjutkan. Dia lebih memilih menekan tuts pianonya, bergerak ke kanan dan kiri. Kazuya Miyuki terlalu berdampak pada hidupnya, Kazuya Miyuki terlalu membuatnya gila, Kazuya Miyuki selalu menorehkan hatinya. Eijun tidak sadar bahwa nama pria itu selalu bergema di dalam hatinya, kepalanya, hidupnya dan nafasnya.
"Kau merindukan dia? Eijun,"
Eijun perlahan menyudahi permainan pianonya. Dia menunduk, menaruh kedua tangannya di atas paha, hatinya bergetar karena perasaan yang tidak menentu yang bergejolak liar bagaikan lava di dalam gunung. Eijun tidak tahu; apa dia merindukan mantannya atau tidak. Dia tidak tahu. Dia tidak mau seperti ini, dia tidak mau terbelenggu akan bayang-bayang Kazuya Miyuki.
"Tsk." Yoichi berdecak tidak sabar. Lantas dia langsung membawa Eijun untuk menatapnya, membawanya untuk berciuman. Begitu kasar, liar, tidak sabar dan ada sesuatu yang mengganggu Eijun. "Eijun, sial, sial, mmm, sialan kau!"
"Yo..." Eijun tidak bisa menghindar, dia tidak bisa melepaskan ciuman yang dia rasa buruk ini. Jantungnya berdebar tiap kali melihat perlakuan kasar Yoichi, baik di sini ataupun di atas ranjang. "Yoi..."
"Diam, Eijun!" Yoichi membentak pelan dan kembali dengan ciumannya, menekan tengkuk Eijun agar membuatnya bertekuk patuh padanya. "Kubilang diam ... diam, Sayang ..." Yoichi menggeram pelan, nafasnya memburu panas. Dia hanya ingin menerkam, dia hanya ingin Eijun, dia hanya ingin Eijun yang sadar akan perasaannya. Yoichi bertanya-tanya, kenapa Eijun sungguh tidak peka?
"Yoichi ... tunggu—ack!" Eijun mendesis setelahnya, setelah Yoichi menggigit bibirnya dengan kasar. "What the fuck, Yoi—"
"Diam, Eijun!" Yoichi membentak lagi. Setelah beberapa menit keduanya berciuman, Yoichi menangkup wajah Eijun, menatapnya intens dengan mata yang berkilat serius. "Kenapa tidak bisa patuh padaku? Jika aku mengatakan diam, maka diamlah."
Dada Eijun berdebar. Eijun masih punya rasa takut ketika melihat ekspresi sangar Yoichi. Sampai-sampai dia tidak berani menatap Yoichi dan lebih memilih untuk membawa matanya ke bawah.
Rasa takut Eijun bisa di ketahui oleh Yoichi. Lantas Yoichi menghela nafas pelan, dia mulai melunak. Perasaan bersalah menjalar di dalam hatinya karena telah membuat Eijun ketakutan. "Eijun..." Yoichi memanggilnya dengan nada pelan, penuh kelembutan, tapi Eijun tidak mendongak juga. "Hei Sayang, katakan padaku, apa yang terjadi?" Tanya Yoichi.
Eijun menggigit bibir bawahnya, rasanya sangat sakit jika dia menceritakannya. Rasanya ada pisau belati yang menusuk tenggorokannya, rasanya dia sedang tercabik-cabik.
"Hei," Yoichi mengusap wajah Eijun lembut, membawanya kedalam pelukan, mengusap punggung Eijun dengan pelan agar Eijun buka suara. Yoichi melakukannya dengan sabar, dia bisa menahan dirinya, dia juga berpikir kalau masalah ini tidak akan selesai jika dia bersikap kasar. "Cerita padaku."
Eijun merasa tenang, merasa aman, dia merasa sebagian hatinya menghangat. Padahal barusan Yoichi bersikap kasar padanya, kenapa pria itu bisa selembut ini sekarang? "Kazuya..." Ah, Eijun terkejut dia bisa mengucapkan nama itu tanpa beban apapun.
Nama itu ... Yoichi mendesah pelan. "Ya? Ada apa dengan dia?"
"Dia akan menikah ... rabu depan,"
Nafas Yoichi tercekat.
Eijun menelan salivanya lalu kembali melanjutkan, "tapi kenapa? Yoichi ... kenapa aku selalu mengingatnya? Padahal aku sudah merelakannya ... padahal kami berpisah karena keputusan kami ... harusnya aku senang dengan keputusan Kazuya ... tapi kenapa rasanya sakit dan ingin menangis?" Suara Eijun lirih dan bergetar. Kini tangannya mengepal diatas salah satu bahu Yoichi. Menahan tangisnya yang di ujung mata.
Yoichi tahu siapa itu Kazuya Miyuki. Dia dulunya adalah pacar Eijun. Mereka bertemu ketika Eijun mengunjungi Jepang, lalu membuat hubungan dan berpacaran jarak jauh. Yoichi tentunya saat itu senang, tetapi dia tidak begitu memperdulikan hubungan mereka. Toh, Yoichi merasa dia tidak punya kuasa untuk mengganggu ataupun mendalami lebih jauh hubungan mereka. Bertahun-tahun Kazuya Miyuki menjabat menjadi pacar seorang gitaris, hingga akhirnya sang Ayah Kazuya Miyuki mengetahui hubungan mereka. Berakhirlah mereka. Toku Miyuki ingin anaknya kembali lurus, Toku Miyuki tidak mau generasinya hanya berhenti di anaknya saja dan dia tidak ingin hidup dengan malu karena anaknya membawa aib.
Eijun hancur, sehancur-hancurnya. Hatinya retak berkeping-keping hingga sulit untuk di sambungkan kembali. Dan saat itu, Yoichi ada untuknya, Yoichi selalu hadir untuk menghapus air mata Eijun. Dia bersumpah di dalam hati bahwa dia akan membantu Eijun melepas bayang-bayang Kazuya Miyuki. Tetapi kali ini Yoichi di buat tersesat, Eijun masih belum bisa melepas bayang-bayang Kazuya Miyuki. Bagaimana Yoichi bisa membuat Eijun melepaskannya? Apa dengan mengatakan yang sejujurnya akan membuat Eijun baikan?
"Yoichi ... aku harus bagaimana?"
Yoichi menggigit bibir bawahnya. Lalu melepaskan pelukan itu, memandang wajah Eijun yang lebih buruk dari yang dia bayangkan. Tentunya Eijun sadar, Kazuya akan menjadi milik orang lain dan Eijun tidak berhak untuk merindu ataupun memikirkannya lagi. "Hei, Sayang," Yoichi memanggil, mengusap pelan wajah Eijun, mengecup bibirnya pelan. "Di dunia ini tidak hanya tentang dia. Ada orang lain yang menunggumu, ada orang lain yang ingin membuat lembaran baru bersamamu, ada orang lain yang sangat menyayangimu sepenuh hati."
Kedua alis Eijun menukik tidak mengerti. "Maksudmu?"
Yoichi menyeringai lalu terbahak geli membuat Eijun merengut. "Dia sudah bahagia dengan hidupnya sendiri. Kenapa kau tidak berusaha mencintai hidupmu sendiri? Eijun,"
Eijun diam. Oh, selama ini dia membenci hidupnya ya? Selama ini dia tidak sadar karena terlalu melekat di dalam bayangan seorang Kazuya Miyuki. Yoichi selalu ada, Yoichi selalu ada untuk membuatnya lebih baik terlepas dari sifatnya yang bar-bar dan kasar. Tanpa sadar Eijun tersenyum lalu mendengkus, dia kembali duduk dengan benar dan memainkan pianonya. Kali ini, nadanya tidak suram seperti tadi. "Aku punya piano di rumahku di Jepang," cerita Eijun. "Jika kami mengunjungi Jepang, aku akan memainkan piano sampai tanganku kaku dan sakit, sampai orang tuaku memarahiku, sampai mereka membuat ultimatum bahwa aku tidak boleh menyentuh piano," Eijun terkekeh mengingat masa remajanya, masa-masa yang sulit dia lupakan. "Ah, aku jadi merindukan pianoku di Jepang. Apa kabarnya ya?"
Yoichi mendengkus geli, tangan kanannya melingkar ke pinggang Eijun, sedangkan tangan kirinya bergerak di atas tuts, memainkan nada yang sama dengan Eijun. "Nanti setelah konser di Jepang, silakan bersenang-senang dengan pianomu, Eijun,"
Eijun terkekeh lagi lalu mengangguk. "Aku akan, Yoichi," dia kemudian menatap Yoichi dengan senyuman lebarnya. "Terima kasih." Katanya dengan tulus. Eijun berterima kasih atas Yoichi yang selalu membantunya mengatasi kesedihannya.
Yoichi terpaku dengan senyumannya, lalu tatapannya jatuh pada sebuah tato yang baru di buat Eijun, yang baru Yoichi lihat. Lantas, tangan kanannya bergerak untuk mengusap tato itu. Dia baru sadar kalau Eijun hanya memakai kemeja yang tidak dikancingkan. Yoichi membaca tato itu di dalam hati. 'Darling' dalam tulisan sambung yang miring, di lukis di bawah tulang selangka bagian kanannya. Lalu Yoichi tersenyum dan mengecup tulisan itu membuat tubuh Eijun menegang. "Terima kasih kembali, Eijun." Sudah hadir ke dalam hidupku.
Eijun terperangah selama beberapa saat kemudian selanjutnya dia tertawa. Entah kenapa Yoichi yang seperti ini membuatnya geli sekaligus Eijun merasa di hargai.
Yoichi terdiam sesaat melihat tawa itu, tawa yang terdengar lepas, tawa yang selama ini diam-diam Yoichi rindukan. Yoichi memasang senyum, tidak peduli apa yang Eijun pikirkan tentangnya. Yoichi mengambil alih piano. "Aku punya lagu untukmu." Katanya sombong.
"Ooh, silakan."
Yoichi mulai memainkan piano, lagu kesukaan Eijun yang sering Yoichi dengar ketika mereka sekolah. Lagu yang selalu di dengar Eijun ketika sedang sendirian. Yoichi melirik sekilas, Eijun tampak diam dan mendengarkan, terdapat senyum kecil di bibirnya. Yoichi tidak tahan dan mengecup singkat bibir itu.
Ei ... jun, don't make it bad
Take a sad song and make it better
Eijun menutup mulutnya menahan geli dengan pipinya yang memerah. Kepalanya berkecamuk, bertanya-tanya dengan penasaran kenapa bisa Yoichi menyambungkan namanya dengan judul lagu 'Hey Jude'.
Remember to let me into your heart
Then you can start to make it better
Eijun menggigit bibir bawahnya. Bukan hanya mengubah judul lagunya, tetapi Yoichi juga mengubah liriknya. Dapat Eijun lihat bahwa Yoichi tengah menyeringai di balik nyanyiannya, menyeringai geli tidak tahan ingin tertawa.
Ei ... jun, don't be afraid
You were made to go out and get me
The minute you let me under your skin
Then you begin to make it better
Yoichi melirik Eijun sekilas, pria itu tampak tersenyum di balik telapak tangannya, bahunya bergetar menahan geli dan Yoichi entah kenapa senang melihatnya.
And anytime you feel the pain
Eijun, refrain
Don't carry the world upon your shoulder
For well you know that it's a fool who plays it cool
By making his world a little colder
Eijun mendorong pelan bahu kanan Yoichi, lalu setelah itu dia tertawa, menaruh dahi di atas bahu Yoichi. Tertawa geli hingga pipinya memerah. Eijun bertanya dengan serius, kenapa Yoichi yang kasar itu tiba-tiba bisa seperti ini? Apa Eijun yang terlalu receh humornya? Atau apa?
...
Jika kemarin Eijun yang bernyanyi di depan Yoichi. Maka saat ini Charlos sedang memainkan harmonikanya dengan merdu. Bahkan Eijun bisa merasakan bahwa dia sedang ada di kota koboi, sebagai sheriff yang sedang minum di bar. Lalu tidak lama kemudian Conrad menyusul dengan tamborinnya. Dan kemudian Yoichi bernyanyi di hadapan Eijun yang sedang duduk di atas sofa menikmati birnya.
Come here, baby
Eijun hampir tersedak mendengar suara Yoichi yang dibuat-buat seakan-akan sedang menggodanya.
You know you drive me up the wall
The way you make good on all the nasty tricks you pull
Seems like we're making up more than we're making love
And it always seems you got something on your mind other than
Yoichi tersenyum miring, dengan botol kosong bekas minuman bertuliskan'Bintang' yang Josh bawa atas rekomendasi temannya. Mereka bahkan mengakui kalau minuman ini sangat enak. Botol kosong itu digenggam oleh Yoichi alih-alih sebagai mic.
Boy, you got to change your crazy ways
You hear me?
Lalu Yoichi bergerak untuk duduk di samping Eijun, merangkulnya sambil kembali bernyanyi.
Say you're leaving on a seven thirty train
And that you're heading out to Hollywood
Boy, you been givin' me that line so many times
It kinda gets like feeling bad looks good, yeah
Saat Eijun hendak bernyanyi, Yoichi buru-buru menutup mulut Eijun dengan jari telunjuknya, sebagai kode bahwa dia tidak boleh bernyanyi. Eijun menautkan alis tidak percaya, menatap Charlos dan Conrad bergantian dengan tatapan bertanya. Sementara sepertinya mereka berdua tidak ingin menjawab dan lebih memilih melanjutkan kegiatannya untuk mengenyahkan kebosanan ini.
That kinda loving turns a man to a slave
That kinda loving sends a man right to his grave
Lalu Yoichi kembali berdiri, berjalan ke tengah-tengah ruang studio. Dan kembali bernyanyi di iringi harmonika Charlos dan tamborin Conrad. Sementara Eijun menahan senyum gelinya melihat Yoichi yang seperti ini.
I go crazy, crazy baby, I go crazy
You turn it on
Then you're gone
Yeah, you drive me crazy
Crazy, crazy for you baby
What can I do, honey?
I feel like the color blue
Mungkin saja mereka akan menghabiskan satu lagu jika saja tidak ada seseorang yang mengetuk pintu studio dengan kencang. Sontak permainan itu berhenti, begitu juga Yoichi. Keempatnya menoleh ke pintu dimana Josh sedang berdiri di sana bersama Patrick di belakangnya.
"Bersenang-senang? Boys," Josh masuk ke dalam di ikuti Patrick.
Yoichi menaruh botol kosong itu di atas meja di sebelah sofa yang Eijun duduki. Sambil mendengkus Yoichi duduk di samping Eijun. "Lama sekali, Josh. Kami menunggu sampai lumtan." Sarkas Yoichi di akhiri dengkusan kesalnya.
Eijun mengangkat kedua tangannya di udara seakan-akan sedang di todong pistol. "Oh, kecuali aku." Kata Eijun melindungi diri sambil memasang wajah polos yang tentu saja membuat Charlos ingin menimpuknya pakai harmonika di tangannya. Sedangkan Yoichi mengumpat dengan senang hati. Memang benar, sedari tadi Eijun hanya menikmati minumannya sambil bersenandung pelan, menutup matanya, lalu menghentakan kakinya menyanyikan lagu yang di buat oleh Conrad yang rilis sekitar satu tahun yang lalu sebelum akhirnya Yoichi menyanyikan sebuah lagu bersama Charlos dan Conrad.
Patrick menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah dia menyisir rambutnya ke belakang. "Well, lagunya sudah siap? Yoichi," tanya Patrick seolah-olah sedang menagih hutang.
Yoichi tergelak lalu bangkit dari duduknya. "Sudah! Aku sudah membuatnya!" Yoichi berseru lalu mengambil beberapa lembar kertas yang dia taruh di atas meja dan memberikannya pada Patrick, Josh serta teman-temannya. "Judulnya adalah 'Oh, My Darling', yah meskipun belum rampung."
Saat Eijun membaca judul lagu tersebut, kedua alisnya menukik. "Oh, My Darling?" Dia bertanya memastikan dan Yoichi menjawab dengan anggukan. Eijun diam sesaat, mengingat baris lagu dengan judul yang sama dengan milik Yoichi. Setelah mengingat dengan benar, barulah Eijun bernyanyi.
Oh my darling, oh my darling, oh my darling clementine
Ctak!
"Itte!"
"Bukan itu, baka!" Yoichi menjitak kepala Eijun dengan gemas. Tanpa sadar keduanya memakai aksen Jepang yang jarang sekali mereka pakai.
Sementara Patrick dan Josh yang mendengarnya hanya mendengkus geli. Terkadang pembicaraan antara Yoichi dan Eijun selalu membuat mereka geli. Apalagi jika Yoichi sudah mengumpat dengan bahasa Jepangnya.
Eijun meringis nyeri lalu merotasi matanya dan kembali membaca baris lirik yang baru beres setengah itu. "Ini masih belum rampung?" Tanya Eijun lagi.
"Yah, maaf saja kalau aku tidak sehebat kalian dalam membuat lagu." Jawab Yoichi di iringi sarkas untuk dirinya sendiri.
Charlos mengangguk membenarkan. "Aku tidak kaget lagi," komentar Charlos membuat Yoichi menatapnya tajam. "Nah, lagu ini tentang apa?"
Yoichi terdiam sesaat, seakan-akan dirinya di telan oleh keheningan, sementara yang lain menunggu jawabannya. Alih-alih menjawab, Yoichi duduk kembali di atas sofa sambil menggaruk kepalanya pelan. "Cinta yang tak terbalas."
Conrad langsung merengut. "Cinta? Kau menulis lagu cinta?" Tanya Conrad tidak percaya. Dia bahkan menggerakan kertas itu di udara. Benar-benar di buat terkejut. Wajar saja dia tidak percaya, Yoichi adalah pria yang belum pernah berpacaran, dia hanya tahu cara membuat wanita bertekuk lutut atau bermesra ria bersama Eijun. Oh? Eijun? Conrad terdiam beberapa saat, mengatup mulutnya lalu kembali duduk di atas kursi kayu.
Yoichi merotasi matanya. "Terserah saja." Yoichi sudah cukup lelah mendengar sindiran dari teman-temannya. Sudah kenyang dan sudah terbiasa dengan sikap mereka.
Eijun membaca liriknya di dalam hati, mencari nada yang tepat lalu bersenandung membuat Yoichi melirik ke arahnya, sementara yang lainnya hanya saling tatap. "Well," Eijun menyudahi senandungannya lalu menggoyangkan kertas itu di udara. "Aku menunggu lanjutannya, Yoichi."
Bagi Yoichi, Eijunlah yang pertama kalinya menyetujui lagu buatannya.
...
Eijun memakai sepatu larinya dan mulai mengambil jaketnya yang sempat di taruh di atas kasur, di mana Yoichi sedang tertidur. Eijun melirik sesaat, nafas Yoichi yang konstan, pria itu memeluk guling dengan kedua mata terpejam, dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Eijun menghela nafas pelan. Padahal Yoichi sudah berjanji akan jogging bersamanya, tapi lihat, pria itu tertidur seperti bayi yang membuat Eijun tidak tega untuk membangunkannya. Eijun kemudian memakai jaketnya lalu berjalan ke luar kamar, menemui Conrad yang sedang menunggunya sambil berselfie ria di depan cermin besar.
"Di mana Yoichi?" Tanya Conrad begitu Eijun datang sendirian. Conrad menaruh handphonenya lalu mengikuti Eijun yang berjalan lebih dulu.
Eijun mendesah menahan kesal. "Bayi besar itu sedang bergelung dengan mimpi." Jawab Eijun diiringi umpatan setulus hatinya yang tidak ingin Conrad dengar. "Lagi pula, untuk apa mengharapkan dia bangun? Ayo, Rad, aku ingin mengelilingi hutan." Eijun berlari kecil ketika keduanya sudah ada ada di luar mansion. Senyum lebar terbit di wajah Eijun, Eijun menghirup nafas dalam-dalam, mencium aroma pagi hari yang membuatnya tenang.
Sedangkan Conrad menatap langit biru bergradasi ungu itu dengan senyum kecil. Sama seperti Eijun yang menghirup udara segar di pagi hari dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dan setelah itu dia dapat mendengar suara burung berkicau terbang di atas melewati mereka.
"Ayo, Rad." Eijun berlari dengan kecepatan pelan, dengan Conrad di sebelahnya. Charlos? Jangan tanyakan pria yang sedang di kelilingi kaleng bir di dalam kamarnya itu. Eijun bahkan ragu bahwa dia tidak akan pingsan ketika memasuki kamar Charlos karena bau alkoholnya yang sangat menyengat, bahkan Patrick saja sampai memanggil petugas kebersihan sebanyak mungkin.
Eijun dan Conrad mengambil trek yang biasa mereka lalui. Berlari pelan di antara hutan yang tidak terlalu menyeramkan. Eijun bisa mencium aroma hutan yang akrab, suara gesekan sepatu dengan tanah, suara burung terbang melintasi mereka, gemercik air dari sungai yang tidak jauh dari villa dan suara rumput yang bergoyang karena kelinci atau hewan di hutan. Eijun menyimpan suasana serta perasaan ini baik-baik di dalam kepalanya, udara segar di pagi hari membuatnya nyaman, membuatnya bisa berfikir jernih, membuat beban di pundaknya sedikit berkurang.
"Lagu Yoichi," Conrad memulai tanpa aba-aba. Tanpa menoleh ke kiri, dia kembali melanjutkan meski tahu Eijun menatapnya dengan tanda tanya. "Tentang lagu dia ... apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?" Tanya Conrad.
Eijun bergeming mencerna pertanyaan Conrad, lalu setelah itu dia kembali menatap lurus. Berdehem panjang sambil mengepalkan kedua tangannya tidak terlalu kuat. "Uhm, aku tidak yakin, karena tidak ada masalah diantara kami akhir-akhir ini," jawab Eijun sambil memutar kembali ingatannya bersama Yoichi.
"Benarkah?" Conrad bertanya lagi dengan nada memastikan.
Eijun mengangguk yakin. "Kami tidak ada masalah apapun." Jawabnya menaikan nada suara, tanda bahwa dia benar-benar jujur. "Memangnya ada apa? Rad," kali ini Eijun yang bertanya penuh keheranan.
"Lagu itu tidak seperti lagu yang biasa kita nyanyikan," Conrad menjawab dengan yakin dan serius, sementara Eijun mulai mengerti apa yang dimaksudkan oleh Conrad. "Black Jet lebih memainkan musik jazz atau slow rock dengan tema kehidupan, masyarakat ... atau," Conrad melirik Eijun sekilas.
Merasa tersindir, Eijun hanya meresponnya dengan kekehan. Tentu dia mengerti apa maksud tatapan itu. Kebanyakan lagu buatan Eijun adalah lagu yang mengandung pro dan kontra, sindiran untuk pemerintah, atau bahkan lagu yang membawa-bawa tentang satanic. Karena hal itulah beberapa kali Black Jet sering tersandung masalah, bahkan Eijun pernah hampir di penjara hanya karena menyindir Presiden. Conrad harus mengakui bahwa Eijun sama sekali tidak takut pada apapun, mentalnya baja, bahkan di Pengadilan pun dia berani menatap Hakim dengan tajam.
Conrad menghela nafas pelan. Kenapa bisa dia tahan bersama Eijun dari sekolah sampai sekarang? "Lagu tentang cinta hanya sedikit pada album kita," kata Conrad pada akhirnya. "Satu buatanku bersama Charlos dan satu buatanmu yang membawa mitologi Yunani."
Eijun mengangguk pelan. "Kau sangat heran ya kenapa Yoichi bisa membuat lagu tentang cinta seperti itu?"
Conrad mengendikkan bahunya sebelum dia menjawab. "Aku yakin itu tentang kisah cintanya,"
Eijun terkekeh pelan. "Kisah cintanya dengan salah satu gadis yang dia temui, di ajak bercinta, lalu jatuh cinta dan akhirnya dia ditinggalkan begitu saja?"
Conrad tidak menjawab, menggeleng, ataupun mengangguk. Conrad mendesah di dalam hati. Ketidak pekaan Eijun sekaligus kebodohan pria itu ternyata masih ada, Conrad kira sudah terbawa hanyut ke sungai. Conrad yang hanya membaca potongan liriknya dengan sekilaspun langsung tahu bahwa lagu di buat untuk Eijun. "Sekali ini saja, jangan bodoh, Eijun." Keluh Conrad diiringi desahan tipisnya.
Eijun yang mendengar Conrad mengeluh tentang dirinya langsung menoleh dalam kecepatan ultrasonik. "Apa-apaan, Rad! Kukira kau temanku!" Teriaknya dengan hati yang terluka, dengan air mata buaya yang mengalir di pipi, dengan puppy eyes palsunya. Eijun memelankan larinya bermaksud untuk menatap Conrad dengan rambut panjangnya yang di ikat satu dengan tatapan memelas.
Tapi Conrad tidak semudah itu untuk goyah. Dia bahkan tidak berkutik ketika Eijun menggoyangkan bahunya.
"Tapi jika Yoichi menulis lagu itu untuk orang yang dia cintai, bukankah itu romantis? Maksudku, cinta yang bertepuk sebelah tangan, Yoichi mencintai seseorang yang tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi Yoichi tetap menuliskan lagu itu untuknya. Itu romantis." Eijun berucap penuh ketulusan, kembali berlari dengan menatap lurus ke depan, jantungnya berdebar entah karena dia sudah lama tidak jogging atau ada sesuatu yang mengganjal. "Siapapun orang yang dicintai oleh Yoichi, pasti merasa beruntung," Eijun kemudian tersenyum dengan iris emasnya yang berkilauan, "karena meski Yoichi itu brengsek, dia merupakan pria yang setia dan tidak pernah mengubah keputusannya apapun yang terjadi."
Lari Conrad memelan karena mendengar penuturan Eijun tentang Yoichi, Conrad kemudian mendengkus geli. "Terdengar seperti kau ikut bahagia."
Eijun terkekeh pelan. Rasa yang mengganjal di hatinya masih belum hilang juga. Meski begitu, dia benar-benar ikut bahagia jika Yoichi menemukan pasangan hidupnya. "Di atas bukit sana," Eijun menunjuk sebuah bukit di depan mereka yang tidak terlalu jauh dari villa, "aku ingin kita ke sana dan mengambil beberapa foto."
Matahari perlahan mulai naik membuat Eijun bisa merasakan bagaimana hangatnya sinar itu. Dia berbaring di atas rerumputan sambil menatap langit yang terlukis indah di atas sana. Sedangkan Conrad hanya duduk meluruskan kedua kakinya yang cukup pegal itu. Damn, mereka bahkan baru sempat olahraga setelah berbulan-bulan melakukan tur. Conrad menghela nafas pelan, merasakan angin menerpa wajahnya. Conrad bisa melihat dengan jelas villa yang mereka tinggali dari sini, villa dengan tiga lantai serta satu lantai ruang bawah tanah yang berisi studio. Lalu tidak jauh dari villa mereka, Conrad dapat melihat ada beberapa lahan peternakan milik Mr. Martinus yang juga menjaga villa mereka.
Conrad mendengar Eijun bersenandung sambil memejamkan matanya. Conrad tahu lagu apa yang di senandungkan Eijun; Queen – Love Of My Life. Conrad juga tahu kandasnya kisah cinta Eijun dengan seorang pria bernama Kazuya Miyuki, dia juga tahu bagaimana perjuangan Eijun mengembalikan kepingan hatinya yang sudah hancur, dia juga tahu seberapa besar rindu Eijun pada Kazuya Miyuki yang tidak pernah tersampaikan. Bahkan, Conrad ingat, Eijun pernah berbisik lirih.
"Angin, sampaikan salamku, sampaikan rinduku, sampaikan rasa khawatirku, sampaikan sentuhanku, sampaikan setiap nafasku, sampaikan detak jantungku, sampaikan padanya. Pada seseorang yang tidak bisa ku raih sekarang. Sampaikan bahwa aku ingin mengecupnya, sampaikan padanya bahwa aku masih mencintainya."
Bisikan lirih yang menyatu dengan angin, mengudara luas entah ke mana, entah berhasil di raih oleh Kazuya Miyuki, atau bahkan anginpun enggan untuk menyampaikannya. Conrad menghela nafas pelan. Biasanya jika Eijun bersenandung tentang lagu itu pasti dengan nada yang sedih dan menyakitkan. Tapi kenapa sekarang malah terdengar menyenangkan dan juga ekspresinya tampak menikmati? Conrad mendengkus geli, dia semakin yakin bahwa ada apa-apa di antara Yoichi dan Eijun.
Senandungan Eijun tidak bertahan lama, sampai akhirnya handphone Eijun bergetar tanda ada telepon masuk. Nama 'Josh' tertulis di layar. Eijun langsung duduk dan mengangkat telepon itu. Dia dapat mendengar ada nada panik di sebrang sana, suara barang yang hancur dan teriakan yang tidak asing baginya.
"Jo-Josh?" Eijun memanggil dengan hati-hati, jantungnya berdebar tidak menentu, sementara dia mulai merasakan bahwa Conrad mendekatinya dengan penasaran.
Bukan suara Josh yang menjawab, melainkan Patrick. Pria yang menjabat sebagai asisten itu mulai berteriak dengan nada gusar. "Kau di mana astaga?! Yoichi ... dia sakau!"
...
Yoichi terus berteriak, tubuhnya panas seperti terbakar, jantungnya berdebar kencang. Sambil membanting barang-barang yang ada di dekatnya, membuka setiap laci atau lemari di dalam kamarnya, mencari-cari barang yang bisa membuatnya tenang, mencari barang yang selama ini di sembunyikan oleh Eijun.
"EIJUN! EIJUN! SIALAN EIJUN!" Yoichi terengah-engah, kepalanya pusing hebat, tubuhnya bergetar dan dia merasa panas. Sambil mengumpat pada Eijun yang berani-beraninya menyembunyikan obat-obatan miliknya. Yoichi membanting apapun yang ada di dekatnya hingga hancur berkeping-keping, matanya memburam, dia ingin mendapatkan obat itu secepatnya.
Sementara di luar kamar, Patrick serta Josh ada di sana menatap dengan ngeri. Sedangkan Charlos memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu dengan cepat kilat. Tadi semenjak Yoichi meneriaki nama Eijun, Patrick dan Josh memutuskan untuk memanggil yang bersangkutan.
"Shit, dia bisa merusak isi kamarnya!" Charlos datang dengan pakaian rapinya. Sambil menyisir rambut ke belakang. Charlos tahu bahwa Yoichi merupakan seorang pecandu, tapi demi apapun, Charlos belum pernah melihat Yoichi sakau. Tanpa banyak babibu, Charlos memasuki kamar dan menahan Yoichi untuk tidak berbuat lebih jauh lagi. Sedangkan Patrick dan Josh mematung di tempat. "Hei, Pat, Josh, ada ruangan kosong yang sejuk?!" Charlos berteriak menahan tenaga Yoichi yang berusaha lepas.
Josh mengangguk cepat. Di sebelah studio terdapat sebuah ruangan kosong yang terdapat AC, tadinya dia ingin membuat studio lebih luas lagi. "Ikut aku." Josh memimpin sementara Patrick langsung membantu Charlos menahan Yoichi. Persetanan jika Yoichi membogem wajahnya, dia hanya ingin Yoichi tenang.
Josh membuka pintu ruangan dengan tergesa-gesa, bersyukur bahwa tubuh Charlos lebih besar dan tinggi di bandingkan dengan Yoichi sehingga dia bisa membawa Yoichi masuk ke dalam. Charlos sempat melirik sekitar yang ternyata masih kosong melompong dengan satu AC di dalam sini. Charlos mengangguk pelan pada Patrick, kode bahwa mereka harus melepaskan Yoichi.
Kepala Josh tertoleh ke belakang begitu mendengar suara langkah kaki yang tergesa menuruni tangga. Dia dapat melihat Eijun serta Conrad memasang wajah khawatir mereka dengan keringat membanjiri wajah.
Bahkan suaranya terdengar dari pintu masuk. Eijun menatap ngeri Yoichi yang tengah mengamuk. "Cha-Charlos," Eijun memanggil dengan ragu. Charlos menatapnya sekilas lalu melepaskan Yoichi. Eijun menatap Josh. "Tolong nyalakan AC sedingin mungkin," titahnya yang langsung dituruti oleh Josh. Eijun masuk ke dalam diikuti Conrad.
"Eijun! Eijun! Sialan di mana obatku?!" Yoichi berteriak begitu Eijun terlihat. Dia melangkah dengan cepat, dengan wajah bengisnya, dengan kepalan tangannya yang ingin membogem Eijun. Tapi Charlos dan Conrad lebih dulu menahan Yoichi. "Sial! Lepas! Lepaskan aku! Aargh!"
Eijun terpaku di tempat selama beberapa saat lalu dia menggeleng pelan.
"Kau ingin aku mati karena sakau?"
Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di kepalanya. Kenapa? Eijun tidak mau Yoichi mati hanya karena sakau, hanya karena obat-obatan terlarang yang dapat merusak tubuh. Dia hanya ingin Yoichi sembuh dan lepas dari obat-obatan sialan itu. Eijun membulatkan tekad. Dia harus membantu Yoichi. Iris emasnya menatap baju dan celana Yoichi yang masih terpasang. "Dia harus dalam keadaan sejuk," kata Eijun memberitahu. "Bantu aku melepas baju dan celananya." Lanjut Eijun mengingat apa yang di katakan di Internet tentang menangani orang sakau.
Eijun tahu bahwa Yoichi yang merupakan seorang pecandu pasti akan mengalami hal ini. Dia tahu, karena itulah dia memberanikan diri, memantapkan diri untuk menghadapinya. Tapi kenapa tangannya bergetar begitu mendengar raungan kesakitan Yoichi? Kenapa telinganya berdengung? Kenapa rasanya Eijun terlihat seperti menyakiti Yoichi?
"Eijun!" Conrad berseru memanggil namanya. "Buka bajunya sekarang. Aku tidak bisa janji bahwa aku bisa menahannya lebih lama."
Eijun mengangguk lalu mulai membuka baju Yoichi, merobeknya dengan paksa. Lalu setelah itu Eijun berjongkok dan membuka celana Yoichi, namun belum Eijun menyentuh celananya, Eijun sudah di tendang oleh Yoichi membuat Eijun terjungkal ke belakang.
"Eijun! Astaga!" Patrick buru-buru mendekat dan membantu Eijun. Dia melotot begitu melihat darah mengucur dari hidungnya. "Hidungmu ... hidungmu!"
Josh mendekat dengan khawatir.
"Tidak apa-apa," Eijun menggeleng lalu berusaha berdiri. Dang, Eijun mengakui bahwa tendangannya begitu keras. Bahkan sampai membuat kepalanya berdenyut. Eijun merasa ada bau darah di dalam mulutnya dan dia merasa bahwa hidungnya patah. "Tolong pegangi kakinya, mungkin aku harus merobek celananya juga."
Josh dan Patrick menurutinya. Eijun menyeka darah dengan jaketnya lalu setelah itu dia merobek paksa celana Yoichi dan membuangnya asal.
"Aaargh! Hah ... hahh ... Eijun sialan!" Yoichi menggerakan tubuhnya dan berhasil membuat mereka terjungkal ke belakang. Charlos mengumpat pelan sementara Conrad meringis sakit.
Eijun memberi tanda pada mereka untuk tidak ikut campur lagi. Eijun membiarkan apa yang Yoichi inginkan padanya sekarang. "Yo-Yoichi? Yoichi ... tenanglah, tenanglah, kau akan baik-baik saja..." nada Eijun melembut, tersirat kekhawatiran serta rasa bersalah.
"Eiijuun." Yoichi menggeram penuh nafsu membunuh. Tatapan matanya berbeda dari biasanya, kali ini berkilat tajam dan menyeramkan. Dia mendekati Eijun dan langsung menarik kerahnya. "Di mana obatku sialan?!"
Eijun meringis mendengarnya. Oh, dia ingat, obat-obatan sialan itu sudah dia bakar saat Yoichi sibuk dengan urusannya. "Tidak ada," Eijun menjawab tidak kalah tajamnya, iris emasnya berkilat penuh keseriusan. "Kau harus sembuh, Yoichi!"
Yoichi mengerang lalu menggeram. Dia mengepal tinjunya lalu memukul pipi kanan kiri Eijun dengan kencang. Melihat itu, Charlos dan Conrad hendak membantu Eijun berdiri. Patrick dan Josh sudah bersiap untuk menelpon polisi atau siapapun yang bisa membantu. Namun, sekali lagi, Eijun menahan mereka.
"Kau harus sembuh!" Eijun berteriak seraya berdiri. Melihat Yoichi yang mondar-mandir dengan gelisah. "Pikirmu, dengan obat-obatan itu kau bisa hidup dengan enak?! Pikirmu, dengan obat-obatan itu kau merasa di atas segalanya?!" Eijun berteriak lagi, kali ini dia membuat tanda bahwa mereka berempat harus keluar meninggalkan Eijun di sini bersama Yoichi.
"Eijun..." Yoichi menggeram lalu mendekati Eijun.
"Aku hanya ingin kau sembuh!"
"Lalu kau pikir kau siapa?!" Yoichi memukul Eijun lagi, kali ini di perutnya.
Charlos hendak masuk lagi, hendak membalas Yoichi namun Conrad yang menahannya. "Apa?!" Charlos berseru tidak terima.
"Jangan, ini masalah mereka."
Eijun meringis merasakan sesuatu menghantam perutnya. Dia kembali melihat Yoichi yang mondar-mandir gelisah. Eijun menggeleng pelan lalu berusaha berdiri. Ucapan Yoichi cukup membuatnya sakit, ucapan Yoichi membuatnya berpikir lagi kenapa dia harus melarang Yoichi. "Tolong," Eijun berbisik lirih dengan ekspresi menyakitkan di wajahnya. "Ini semua untukmu, bukan untukku."
Lalu setelah itu Eijun meninggalkan Yoichi di dalam ruangan dengan AC yang dingin. Mengunci Yoichi di dalam sana, dia bahkan bisa melihat Yoichi menggeliat di atas lantai, menggeliat menahan sakit, dengan kulit tan bercampur kemerahan, erangan frustasinya, geramannya serta teriakannya. Sementara itu Eijun mulai mengobati dirinya sendiri. Pukulan yang dia dapat dari Yoichi merupakan pukulan yang terburuk.
Beberapa saat kemudian, tenaga medis yang dipanggil Josh datang.
...
Setelah hari yang menegangkan itu, baik Eijun maupun Yoichi tidak pernah bertegur sapa. Sekadar satu meja ketika makanpun tidak. Eijun lebih memilih berada di atap villa, atau pergi mengobrol dengan Mr. Martinus mengurusi babi dan sapi, membantu Mrs. Martinus membuat kue kering. Atau sesekali menghabiskan waktu di bukit sambil tiduran sampai akhirnya di di telpon oleh Patrick untuk pulang. Sementara Conrad dan Charlos masih berusaha bertahan dalam ketegangan ini.
Sudah tiga hari, Eijun menghitung di dalam hati. Sudah tiga hari dia dan Yoichi tidak saling bicara. Terakhir kali dia melihat Yoichi dengan goresan di beberapa bagian tubuhnya. Eijun tahu, ketika sakau, orang cenderung akan menyakiti dirinya sendiri. Eijun menghela nafas pelan lalu mulai memiringkan tubuhnya dan merasakan angin yang menerpa. Saat ini dia sedang menghabiskan waktu di bukit lagi. Sambil menutup matanya, dia merasa bahwa semilir angin mulai menyanyikan lagu tidur untuknya.
"Sudah lama,"
Eijun mengerjap lalu mengusak kedua matanya dengan kasar, lalu mengerjap lagi dengan tidak percaya. "Ka ... Kazuya?" Dia memanggil nama seorang pria yang sampai saat ini selalu bergema di dalam otaknya. Eijun masih tidak percaya, Kazuya berdiri di depannya dengan sweeter marun kesukaan Eijun, dengan celana panjang berwarna hitam yang biasa di pakai ketika tidur di musim dingin.
Kazuya mengangguk lalu tersenyum. "Ya, ini aku." Dia lalu menggaruk tengkuknya. "Maaf karena telah meninggalkanmu."
Eijun menggeleng pelan. "Tidak, tidak apa," air mata turun membasahi pipi, jantungnya berdebar kencang dengan nafasnya yang memburu. "Tidak apa-apa..." dia melirih lagi. Eijun mulai melangkah maju, ingin memeluk pria yang selama ini dia rindukan. Namun, Kazuya menaruh tangannya di udara. "Ke-Kenapa?"
Kazuya memberinya senyuman tulus seraya menggeleng. "Ini tidak benar, Eijun."
Saat Kazuya memanggil namanya, entah kenapa hati Eijun berdenyut ngilu. "Kenapa?" Tanya Eijun dengan suara serak. Dia tidak mengerti. Kenapa Kazuya tidak ingin dipeluk olehnya?
"Karena," Kazuya masih tersenyum, kali ini penuh ketulusan dan kelembutan seperti saat Kazuya selalu mengagumi dan bersyukur pada Tuhan karena telah menciptakan Eijun. "Karena kita tidak bisa bersama."
"Kenapa?" Eijun bertanya lagi, tidak ingin mengerti hal itu di otaknya.
"Aku sudah belajar mencintai hidupku, menerima semuanya. Dan kau," Kazuya menunjuk tepat di jantung Eijun. "Tolong untuk menerima semuanya. Kita sudah punya kehidupan masing-masing, Tuhan selalu memiliki rencana yang hebat. Jika kita tidak bisa bersama, mungkin itulah yang terbaik untuk kita."
Eijun menggeleng dengan kencang. "Tapi aku mencintaimu!"
"Aku juga," Kazuya mengangguk sambil tersenyum. "Aku juga mencintaimu. Tapi ada seseorang yang lebih-labih mencintaimu, yang lebih menyayangimu, yang lebih menginginkanmu dari siapapun."
"Dan kau tidak menginginkanku lagi?"
"Tuhan selalu punya rencana yang hebat, Eijun." Kazuya kembali melanjutkan dengan penuturan lembut. "Kita mungkin saling mencintai, tapi kita tidak bisa bersama, Eijun."
"Tidak..."
"Tolong cintai hidupmu, jangan berada di dalam bayang-bayangku. Aku belajar mencintai pasanganku. Eijun, belajarlah untuk mencintai dan menerima hidupmu," lalu Kazuya mengusak rambutnya seperti yang biasa dia lakukan untuk Eijun. "Sudah saatnya kau lepas, Eijun."
Eijun membuka matanya perlahan. Dia merasa ada banyak tetesan air menghujaninya, dunia serasa berputar, Eijun mengerjap sebelum akhirnya dia sadar bahwa hujan turun deras. Eijun langsung duduk dan menggaruk kepalanya. Sudah berapa lama dia tertidur? Eijun buru-buru mencari handphonenya yang ternyata sudah basah di genangi air. Mengerang kesal, Eijun berdiri, berusaha menyalakan handphone. Beberapa kali Eijun mencoba, handphonenya tidak mau menyala. Eijunpun membanting handphonenya lalu memungutnya lagi. Dia mencoba untuk sabar sambil mengadah melihat langit kelabu di atas sana.
"Hanya mimpi," Eijun bergumam. Kazuya hadir di mimpinya. Dia sadar. Usapan Kazuya di kepalanya terasa nyata, tapi semua itu mimpi. Dia lalu mengusap matanya yang berair karena air mata, bukan hujan. Mengumandangkan nama Kazuya di dalam hatinya. Eijun terduduk di atas rerumputan, membiarkan tetesan air hujan menghantam wajahnya. Eijun kemudian tersenyum, beban di pundaknya menghilang seluruhnya. Jika itu yang kau inginkan, setidaknya Eijun bersyukur bahwa air hujan menutup air matanya saat ini, akan aku lakukan, Kazuya.
Eijun merasa bahwa dia sudah tidak berjumpa dengan Yoichi beribu tahun lamanya. Tadi saat hendak kembali ke villa mereka, pintu terkunci yang membuat Eijun harus menggedor-gedornya, melupakan fakta bahwa ada tombol bel di pintu. Dan di saat itulah jantungnya seperti di tarik. Yoichi berdiri di depannya, kedua mata mereka terkunci. Sampai akhirnya Eijun yang lebih dulu menarik tatapannya.
"EIJUN!"
Eijun tersentak mendengar namanya di panggil begitu kencang. Saat Eijun menatap seseorang yang berdiri di belakang Yoichi dengan marah, barulah Eijun tahu bahwa Patrick khawatir akan dirinya. Eijun mendesah pelan sambil menggaruk kepalanya.
"Tidak memberi kabar, tidak mengangkat telepon, tidak meninggalkan pesan," beber Patrcik membuat Yoichi minggir dari tempatnya. "Kupikir kau mati di makan hewan buas!" Membuat Eijun mengira bahwa Patrick mengutip dialog Mrs. Weasley dalam film Harry Potter.
Eijun meringis sambil membayangkan ketika dia dijadikan santapan hewan buas. "Maaf," kata Eijun merasa bersalah. "Handphoneku sudah digenangi air begitu aku bangun."
Patrick mencibir tanpa suara, menatap Eijun dengan memicing. "Masuk dan bersihkan dirimu, pakailah air hangat."
Lalu setelah itu, Eijun mengangguk patuh. Masuk dengan basah kuyup, dijadikan bahan candaan oleh Charlos dan Conrad. Yoichi? Entahlah, Eijun tidak tahu kemana dia pergi.
...
Charlos melirik Yoichi yang tengah duduk diam sambil bermain game di handphonenya. Sementara Conrad tengah menonton televisi. Merasa ada yang kurang, Charlos bertanya.
"Di mana Eijun?" Tepat setelah pertanyaan itu terlontar, Patrick memasuki ruangan sambil membawa koran dengan santai di tangan kirinya dan segelas kopi di tangannya.
"Dia sedang di Korea, menghadiri pernikahan ... mantannya."
Charlos bersumpah bahwa tadi dia melihat ekspresi khawatir Yoichi, meski sekilas.
...
Dia datang terlambat dengan sengaja. Rencananya adalah langsung pulang begitu dia sudah memberi selamat dengan benar pada pasangan yang baru bahagia ini. Eijun tahu bahwa Kazuya tidak menyadarinya datang karena pria itu tengah sibuk menyapa teman-teman koleganya. Eijun mendesah pelan lalu mengambil segelas minuman dengan tangan kirinya, meneguknya, lalu setelah itu duduk di kursi dan mencicipi kue yang berada di atas meja bundar. Eijun sesekali melirik ke arah pengantin wanita yang begitu anggunnya. Tanpa sadar dia tersenyum kecil. Dia cantik, cocok dengan Kazuya. Eijun di beritahu bahwa Yui Natsukawa adalah anak dari temannya Toku Miyuki. Ayah Yui adalah orang Jepang asli sedangkan Ibunya merupakan orang Korea.
"Kau datang juga,"
Jantung Eijun serasa ingin berhenti mendengar suara seseorang yang dia takutkan. Dengan gerakan slowmotion, Eijun menoleh lalu memasang senyum sebaik mungkin. Ini dia; Toku Miyuki. Hell, dari sekian banyak orang di sini, kenapa harus dia yang di dekati Toku Miyuki?!
Toku duduk di salah satu kursi di samping kiri Eijun. "Tidak mengejutkan karena mengingat kaulah mantan anakku."
Tuhan, aku ingin menghilang saja, Eijun membatin frustasi, menyembunyikan kakinya yang mulai gemetar. Sejenak dia menyesal menolak tawaran Patrick untuk membawanya kemari.
Toku menghela nafas pelan, menaruh kedua tangannya di atas meja lalu di kaitkan di sana. "Dia mengalami hari yang berat," Toku mulai bercerita tanpa melihat tatapan heran dari Eijun. Pandangannya lurus entah ke mana. "Dia bahkan nekat bunuh diri, tapi setelah itu ... dia benar-benar berubah dan berusaha untuk kembali."
Eijun yang merasa tersindir itu hanya mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia tahu arti dari kalimat itu. Kazuya masih bisa di obati, di tangani, di kembalikan ke yang seharusnya. Sedangkan dirinya? Eijun sulit, dia benar-benar buntu ketika tahu seksualitasnya seperti apa. Bagaikan orang linglung yang kebingungan, tersesat di jalan penuh duri.
"Aku bersyukur setidaknya dia masih hidup sampai sekarang," Toku kemudian berdiri. "Maka dari itu, karena kehadiranmu di sini, tolong jangan membuat anakku kembali seperti dulu lagi."
Eijun menelan salivanya, tubuhnya menggigil begitu Toku menepuk pelan bahunya lalu berlalu pergi. Eijun mencerna apa yang Toku katakan padanya. Aku di perbolehkan di sini? Eijun mendengkus geli lalu meneguk minumannya. Sialan, aku jadi ingin pulang saja.
"Ei ... jun?"
Eijun mendongak melihat seseorang yang memanggilnya. Matanya membulat begitu tahu bahwa Kazuya mendekatinya dengan ragu, dengan ekspresinya yang terlampau kaget. Lantas Eijun mendengkus geli. Menahan diri untuk tidak menerjang Kazuya, seperti apa yang dia lakukan saat dulu. "Apa? Kenapa kaget begitu? Kau yang mengundangku, 'kan."
Bibir Kazuya terkatup lalu dia mengangguk pelan sambil menggaruk kepalanya. "Aku hanya kaget saja," Kazuya menjawab dengan lirih. Jujur saja dia benar-benar rindu dengan Eijun. Tapi saat ini, Kazuya sudah tidak berhak dan tidak bisa lagi memeluk pria itu. Dia sudah punya seorang Istri, dan sebagai seorang Suami, sudah sewajarnya menjaga perasaan masing-masing demi menghindari masalah. Tapi dia benar-benar tidak menyangka bahwa Eijun akan datang ke pernikahannya.
"Selamat," Eijun tiba-tiba bicara di tengah keheningan di antara keduanya. Dia tersenyum penuh ketulusan pada Kazuya yang memakai jas pernikahannya dengan rapi. "Selamat karena kau sudah menjadi seorang Suami, Kazuya. Bahagiakan dia ya, dia ... tampak bahagia dan tulus untukmu."
Kazuya mematuhi itu. Berusaha menahan air matanya, menggigit bibir bawahnya. Itu adalah sebuah keharusan. Lagi pula, dia tidak bisa melanggar janji yang baru saja dia ucapkan di depan Pendeta 'kan? Sekarang Yui adalah Istrinya. Dan Eijun hanyalah bagian dari masa lalunya yang akan dia kenang. "Pasti," Kazuya menjawab dengan teguh. "Aku pasti akan membahagiakannya dan menjaganya."
Sekarang, masing-masing dari mereka sudah punya jalan hidupnya sendiri.
...
"Aha! Kau sudah melakukannya dengan baik, Eijun." Mr. Martinus memberinya jempol ketika Eijun berhasil memasukan semua sapi ke dalam kandang. Mr. Martinus masih ingat bagaimana ekspresi Eijun ketika salah satu sapi peliharannya langsung mengejar Eijun ketika Eijun membantu untuk yang pertama kalinya di sini. "Sepertinya sapi-sapiku sudah tidak punya dendam padamu lagi." kelakarnya.
Eijun tertawa meresponnya lalu berjalan mundur sampai akhirnya dia melihat kandang itu secara luas. "Well, ini bagus!" Dia menganggukan kepalanya dua kali. "Apa aku bisa kerja sampingan sebagai asistenmu?"
Mr. Martinus tertawa menanggapinya lalu berjalan mendekat dan menepuk punggung Eijun dua kali. "Dari pada itu, ada hal yang harus di lakukan olehmu sebagai musisi, 'kan?"
Eijun terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya dia mengerti apa yang di katakan oleh Mr. Martinus padanya. Dia dan Yoichi masih belum bertegur sapa sampai sekarang. Sementara mereka masih memiliki waktu seminggu lagi di sini sebelum akhirnya berangkat ke Jepang untuk memulai tur kembali. "Yah, seperti bermusik?"
"Bukan itu, Nak." Mr. Martinus menepuk dadanya dua kali. "Saat Charlos kemari, dia bercerita kalau kau dan Yoichi sedang bertengkar," pria tua itu memberikan Eijun senyum penuh ketulusan. "Aku hanya mengingatkan, perselisihan dalam jangka waktu yang lama itu tidak baik bagi pikiran dan hati. Solusinya adalah bicara melalui hati ke hati."
Persetan Charlos. Eijun mengumpat di dalan hati. Tapi dia mendengarkan baik-baik saran dari Mr. Martinus. "Ya... secepatnya akan aku usahakan." Apa Yoichi mau berbicara dengannya? Eijun dan Yoichi memang sering bertengkar tapi mereka mudah untuk kembali akrab. Tapi dalam kasus ini, Eijun ragu bahwa Yoichi mau bicara dengannya.
"Baguslah. Aku sedikit khawatir tentang hal itu. Kadang Istriku mendapati Yoichi sedang berbaring tidak semangat."
Eijun tersenyum kaku. Dia hanya menjawab dengan seadanya sambil berbasa-basi tentang hal-hal lainnya sampai akhirnya langit berubah, Eijun pulang ke vila, melihat Mrs. Martinus sedang berada di dapur bersama Patrick dan Josh. Terdengar suara tawa yang berderai bahkan ketika Eijun sudah sampai di kamarnya. Dia menghela nafas pelan, melempar jaket ke sembarang arah kemudian jatuh ke atas kasur. Menikmati kenyamanan dari kasurnya yang empuk.
Kasur ini terasa dingin seolah-olah tidak ditempati begitu lama. Padahal dulu dia dan Yoichi sering berada di atas kasur yang sama. Terkadang keduanya—sial. Eijun mengumpat. Kenapa di saat seperti ini dia begitu rindu kembali akrab dengan Yoichi?
Membuang nafas kasar, Eijun pergi ke kamar mandi. Membiarkan tubuhnya diguyur oleh air hangat dari shower di atasnya. Setelah beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan mengeluarkan pakaiannya. Eijun dapat mendengar Patrick memanggilnya bahwa makan malam sudah siap.
Ketika Eijun keluar, tidak sengaja dia berpapasan dengan Yoichi yang baru saja menutup kamarnya. Ya, memang, kamar mereka berhadapan. Eijun sekilas bisa melihat lantai kamar Yoichi yang berantakan, ada banyak sobekan kertas serta kertas yang sudah diremas bulat sebelum akhirnya Yoichi menutup pintunya rapat.
Tanpa ada banyak bicara dan basa-basi, keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana ada Mrs. Martinus yang sedang menata makanan di atas meja bundar yang cukup besar. Wanita yang sudah berusia lima puluhan itu tersenyum pada mereka.
"Halo, anak-anak."
"Hai, Viviane. Ingin dibantu?" Eijun menawarkan lebih dulu, sementara Yoichi langsung duduk di tempatnya sambil bermain handphone.
Mrs. Martinus tersenyum. "Sangat boleh, Eijun. Bantu aku menata piring-piring. Kau bisa?"
"Oh, tentu saja! Jangan remehkan Eijun Sawamura ini!"
Mrs. Martinus menahan tawa geli. "Baiklah, ambil itu dan tata yang rapih."
Eijun mematuhinya dan segera melaksanakannya.
"Kau akan makan malam bersama kami?" Yoichi bertanya pada Mrs. Martinus ketika wanita itu berada di sampingnya.
"Ya, Patrick dan Josh yang mengajak kami."
Bagus. "Itu bagus, Viviane. Meja akan semakin ramai dengan kehadiran kalian." Ya, setidaknya lebih baik karena ketegangan di meja makan akan berkurang karena Josh akrab dengan Mr. Martinus.
"Oh, dear."
Yoichi mencuri pandang diam-diam ke arah Eijun yang sibuk bolak-balik menata piring. Sesekali dia juga mencomot makanan yang berhasil dihentikan oleh Mrs. Martinus. Yoichi melihat Eijun terkekeh pelan tidak luput ekspresi jahil di wajahnya. Jujur saja Yoichi merindukan senyum itu, merindukan suaranya yang meneriaki namanya dengan desahan nikmat, merindukan tatapan emas yang selalu membuatnya terpaku, merindukan Eijun lebih dari apapun.
"Dude, kau tidak ingat? Kau membuat hidung Eijun mimisan hebat. Hampir saja kita mau membawanya ke rumah sakit, tapi kemudian mimisannys berhenti membuat kami lega. Dia lebih mengkhawatirkanmu." Perkataan Charlos menggema saat di mana Yoichi baru saja sadar. Dia membuat Eijun terluka, pasti Eijun membecinya. Yoichi benar-benar buntu dan tidak tahu harus bagaimana bersikap.
"Obat-obatan itu bahaya untukmu, mate." Conrad memberinya senyum langka, menaruh lengan di atas bahu kanan Yoichi. "Jika ada masalah atau apa kau bisa cerita pada kami. Jika kau lelah kau bisa memberitahu Patrick atau Josh, jangan memaksakan semuanya melebihi kemampuanmu. Ingat, obat-obatan itu bisa membunuhmu. Sayangi tubuhmu sendiri."
Yoichi mengambil nafas perlahan. Mengawasi pergerakan Eijun diam-diam yang tampaknya asik sendiri. Eijun melangkah mendekatinya membawa piring dengan sendok dan garpu, menaruh dengan rapi di depannya. Yoichi bisa melihat tangan Eijun sedikit bergetar—mungkin karena gugup. Barulah saat Mrs. Martinus pergi ke belakang, Yoichi berdiri, menahan tangan Eijun agar tidak pergi.
"Yo—!"
Yoichi menarik kerah Eijun—persetanan karena Eijun lebih tinggi darinya. Mengecup bibir ranum kesukaannya agak lama, mengecup bibir dari seseorang yang dia rindukan. Dia bisa merasakan tubuh Eijun menegang kaget dan matanya melotot. Meski begitu Eijun tidak menolak ataupun melepaskannya. Justru dia hanya diam kaku membuat Yoichi merasa ingin lebih. Tapi Yoichi masih punya kewarasan, begitu dia mendengar langkah kaki, Yoichi melepaskan kecupan dan kembali duduk. Membiarkan Eijun berdiri membeku sehingga Mr. Martinus harus menyadarkannya lumayan lama.
...
Otak Eijun masih sedikit konslet karena Yoichi yang tiba-tiba mengecupnya. Hanya kecupan singkat, bukan ciuman. Tapi hal itu berefek hebat pada Eijun. Jantungnya berdetak berisik. Masih memegang bibirnya bahkan setelah bermenit-menit duduk di atas kasur sambil memerhatikan langit-langit kamarnya.
Dia bukannya marah atau apa. Dia tidak peduli Yoichi mengecup atau bahkan menciumnya. Tapi kenapa tiba-tiba? Kenapa di saat hubungan mereka retak? Apa yang dipikirkan Yoichi tadi? Kenapa?
Eijun tidak bisa tidur nyenyak. Esok paginya dia buru-buru keluar, bahkan tidak sempat sarapan. Berada di bukit yang biasanya, memandangi langit pagi yang begitu indah. Dulu jika ada masalah seperti ini—yang menyangkut tentang teman, Eijun langsung mengadu pada sang Ibu sambil memeluknya dan meminta saran apa yang harus ia lakukan. Ibunya akan mengelusnya dengan penuh kasih dan mengecup dahinya begitu lama hingga Eijun bisa berpikir jernih.
Sekarang dia sudah dewasa dan tidak mungkin bersikap kekanakan. Dia harus meminta maaf ada Yoichi. Mau bagaimana pun, Eijun lah yang bersikap seenaknya melarang-larang Yoichi. Tapi di satu sisi dia tidak mau Yoichi terjerumus lebih dalam lagi. Eijun meringis pelan, rasanya dia ingin tenggelam saja.
"Um ... hei ..."
Eijun terperanjat mendengarnya. Dia menoleh ke belakang, Yoichi datang dengan satu tangan mengusap tengkuk sedangkan yang satunya lagi dia taruh ke saku celananya. Eijun memang berencana meminta maaf, tapi kedatangan Yoichi yang tiba-tiba membuatnya terkejut. "Yoichi?"
"Mm, ya," Yoichi menatap sebelah Eijun yang kosong. "Boleh?"
"Silakan."
Yoichi mengambil duduk di samping Eijun. Ikut memerhatikan langit pagi. Entah sudah berapa lama dia tidak melihat langit indah di pagi hari. "Kau tidak ada saat sarapan."
"Well, aku masih kenyang." Bukan kebohongan, dia memang belum lapar. Tapi tunggu, apa Yoichi merasakan hal yang sama dengannya—seperti rasa bersalah?
Keheningan bertahan cukup lama. Sehingga Yoichi bicara lagi. "Kata Conrad dan Patrick kau sering di sini."
"Ya. Untuk menyegarkan pikiran. Di bukit ini kau bisa melihat langit lebih luas lagi."
"I see."
Eijun tersenyum tipis, merasakan tubuhnya rileks. "Hei," ketika Yoichi menoleh padanya, Eijun kembali melanjutkan. "Maaf tentang hal itu."
Ekspresi Yoichi menegang tapi kemudian melunak, dia menggosok tengkuknya. "Aku juga, maaf karena memukulmu."
Eijun meringis mengingat rasa sakit itu. "Tidak, maksudku, cukup menyakitkan tapi tidak apa-apa."
"Serius. Maafkan aku."
Eijun terkekeh pelan mendengar Yoichi. "Aku juga serius. Tidak apa-apa. Lebih baik daripada menyakiti diri sendiri."
Yoichi menunduk, memerhatikan rumput pendek di bawahnya. "Aku akan rehab."
"Maaf?"
"Rehabilitasi. Josh dan Patrick yang mengusul, kata mereka ini lebih baik daripada aku hidup ketergantungan."
Eijun tidak bisa menahan senyum lebarnya. Dia merasa lega sekaligus bersyukur. "Benarkah? Ini keinginanmu sendiri 'kan?"
"Benar. Aku ... berusaha untuk berubah."
"Yakin?"
"Yakin."
"Aku belum cukup yakin."
"Ha?"
"Coba katakan dengan sepenuh hati."
Persetan. Sifat jahil Eijun kembali. Yoichi mendengkus geli. Rasa gelisah serta bersalahnya sudah menghilang. "Aku serius," Yoichi berkata dengan penekanan dan lambat membuat Eijun geli. "Ingin rehabilitasi dan menjauhkan diri dari obat-obatan."
Eijun spontan memeluknya erat. "Senang mendengarnya!" pekik Eijun.
Yoichi terkekeh. "Lagi pula, jika sakau, masih ada kamu."
"Aku?" Eijun melepaskan diri dan menatap Yoichi tidak paham.
"Kamu." Yoichi mengamit dagu Eijun dan mendekatkan wajahnya. "Kamu adalah narkobaku." Yoichi melanjutkan dengan suara sensualnya. Dia mengecup lembut bibir Eijun, lama kelamaan menciumnya dan Eijun menerimanya dengan senang hati, membiarkan Yoichi seperti dulu. Setelah dua menit, pagutan penuh nafsu itu terlepas menyisakan benang saliva menghubungi keduanya.
"Kau selalu tiba-tiba." Eijun menggerutu pelan, rona merah terlihat di wajahnya.
Yoichi terkekeh pelan dan mengusap mulutnya dengan ujung baju, begitu juga dengan Eijun. "Bagaimana tentang pernikahan pria itu?"
Kazuya? "Tidak ada yang spesial. Hanya pembicaraan biasa saja."
"Benarkah?"
"Ya. Dia tampak bahagia."
"Itu bagus. Kau?"
"Aku?"
"Apa kau ikut bahagia?"
"Tentu saja." Eijun menjawab santai tanpa beban. "Jika hal itu membuat Kazuya bahagia, aku ikut bahagia."
"Begitu ya..."
"Baik aku atau pun Kazuya, kami memiliki masing-masing jalan yang berbeda."
Yoichi tersenyum, dia mengamit tangan kanan Eijun dan menggenggamnya erat. "Mau tahu sebuah rahasia?" mungkin ini saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
Eijun menoleh ke arah Yoichi. Sedikit kebingungan sekaligus penasaran. "Ya. Apa itu?"
Yoichi mendekatkan diri. Dia berbisik pada Eijun. "Aku sedang jatuh cinta dengan seseorang."
Eijun terkejut selama beberapa saat lalu mengangguk pelan. Ada rasa aneh yang mengganggu. "Okay, siapa gadis yang beruntung ini?" tanya Eijun sedikit risih. Apakah itu alasan Yoichi membuat lagu tentang cinta?
Yoichi menatap manik emas itu dengan intens. "Bukan gadis."
"Eh?" kedua alisnya menukik tidak mengerti. "Maksudmu?"
Yoichi mendesah kesal. Dia meringis. Eijun benar-benar luar biasa tidak peka. Garis bawahi itu. "Kau!" Yoichi berseru tidak sabar. Apa selama ini semua rasa kepedulian Yoichi terhadap Eijun tidak pernah ditangkap oleh Eijun? "Persetan! Eijun! Eijun Sawamura, aku mencintaimu!"
Eijun melongo. Dia benar-benar tidak percaya. Dia hanya menatap Yoichi dengan tubuhnya yang membeku tiba-tiba.
"Tsk!" Yoichi berdiri melepaskan genggaman tangannya lalu memosisikan diri untuk berteriak. "EIJUN SAWAMURA AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU!"
"Tu-Tunggu, Yoichi! Apa yang kau lakukan?!" Eijun segera menarik Yoichi untuk duduk, takut mengganggu orang-orang karena ini masih pagi. "Kau bisa membangunkan orang-orang."
"Di sini hanya ada keluarga Mr. Martinus dan beberapa tetangga yang bermil-mil jauhnya. Teman-teman kita bahkan sudah bangun." Yoichi membela diri. "Itu karena kau tidak peka."
"Aku?!"
"Ya. Kau. Jahanam. Eijun, apa selama ini kau tidak sadar dengan perasaanku? Astaga, bagaimana bisa pacaran dengan si Miyuki siaan itu? Dan kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?!"
"Hei!"
"Lalu?" Yoichi menatap Eijun tidak sabar.
"Apa?"
"Jawaban."
"Jawaban apa?"
Yoichi menggeram frustasi. "Persetan, Eijun! Demi Tuhan! Jawabanmu atas ungkapanku! Tolong, bekerjalah wahai otakmu yang nyaris nol!"
Mulut Eijun yang tadinya hendak menyuarakan protes tiba-tiba terkatup. Dia bingung dan kaget. Ungkapan Yoichi begitu jelas membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan. "Aku tidak mengerti."
"Bagian mananya?" ingatkan Yoichi agar menahan diri untuk tidak melempar diri ke bawah dari atas bukit ini.
"Kau." Eijun menjawab dengan cepat. "Kamu mencintaiku? Bagaimana bisa?"
"Rasa ini tiba-tiba ada."
"Kau tidak boleh."
"Apanya?"
"Aku... aku bisa-bisa membuatmu berakhir seperti Kazuya."
"Setelah apa yang kita berdua lakukan? Bercinta?"
Eijun merona mendengar kata 'bercinta' mulut Yoichi benar-benar menyebalkan. "Uh, ya. Aku hanya takut kau berakhir seperti Kazuya. Kau masih bisa lurus, sedangkan aku—"
"Persetanan dengan lurus atau hal apapun itu. Jika aku sudah jatuh cinta padamu, maka inilah akhirnya."
Eijun diam sesaat, mencabuti rumput di bawahnya sambil berpikir. Dia tidak mengerti tentang perasaannya sendiri.
"Eijun?" Yoichi tidak sabar tapi dia masih bisa mengontrol suaranya selembut mungkin. "Aku bisa menunggu untuk jawabanmu. Seberapa lama itu, aku pasti akan menunggu."
Eijun menatapnya dengan tatapan lunak. Dia keberatan jika harus membuat orang lain menunggu. "Aku masih tidak mengerti."
"Tentang?"
"Ini aneh." alih-alih menjawab, Eijun mengusap dadanya pelan seolah sedang menetralkan rasa sakit. "Aku tidak tahu mengenai perasaanku padamu."
Yoichi merasa dia harus menyiapkan diri untuk penolakan. "Bagaimana itu? Jelaskan padaku. Meski kau menjelaskan dengan rumit atau apapun, aku pasti bisa mengerti."
Eijun diam sejenak, mencari kalimat yang tepat untuk mengungkapkan hal-hal yang membuatnya tidak mengerti. "Seperti aku kesal setiap melihatmu bersama wanita ketika di pesta, bercinta dengan wanita lain, atau ketika kamu meluangkan waktu denganku aku merasa senang, seperti aku kembali menjadi anak kecil yang menunggu kepulangan Ayah. Uh, aku tidak paham. Apa ini? Rasanya... dadaku sesak setiap kali kau akrab dengan wanita yang kau kencani. Aku tidak paham! Itu ... maksudku ... ini menyebalkan. Aku ingin mendekapmu erat-erat supaya kau tidak bisa lari kemanapun. Aku lebih suka kamu memelukku erat, bermain piano bersama, menghabiskan waktu berdua sambil mengobrol hal-hal ringan tentang masa-masa sekolah. Dan juga ... saat kau bilang jatuh cinta dengan seseorang, aku merasa sesak."
Yoichi mengerjap mendengar semua penuturan Eijun. Ketika pria itu hendak melanjutkan, Yoichi buru-buru memeluknya dan hal itu membuat Eijun tersentak. "Sialan! Itu namanya kau juga cinta padaku!"
"Hah?!"
Yoichi tergelak puas, geli sekaligus lega karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Lucu sekali Eijun tidak mengerti tentang perasaannya. Kepolosan Eijun membuat Yoichi bersyukur bahwa Eijun menjelaskan semua hal itu dengan spontan tanpa adanya dusta.
"Aku? Cinta padamu?"
Yoichi melepaskan pelukannya lalu mengangguk, bibirnya membentuk seringai lalu mengusap kepala Eijun dengan kasar.
"Aku?"
Yoichi mengangguk, geli dengan ekspresi tidak percaya Eijun sekaligus pipinya yang merona merah.
"Cinta ... padamu?" Eijun menangkup wajahnya lalu menunduk. Jadi selama ini dia mencintai Yoichi? Tanpa disadari, Yoichi juga mencintainya? Sial sial sial.
Yoichi segera membawa wajah Eijun, menciumnya dengan membabi buta membuat Eijun kewalahan dan mau tidak mau membiarkan Yoichi memimpin. Setelah puas, Yoichi menangkup wajah Eijun, memerhatikan wajah Eijun yang semakin memerah. "Catat tanggal hari ini."
"Yoichi..."
"Sepertinya kencan pertama kita harus di Jepang ya."
"Ugh..." Eijun berusaha mati-matian menyembunyikan rona malunya sementara Yoichi mulai tertawa. "Jangan tertawa!"
"Betapa lemotnya pacarku!"
Eijun semakin bersemu. Dia bisa merasakan kepulan asap di atas kepalanya. "Pacar..." adalah kalimat yang membuatnya tidak percaya. Pacaran? Dia dan Yoichi? Eijun tidak mengerti. Dia hanya bisa merasakan jantungnya berdebar layaknya kembang api.
Yoichi tertawa lagi, setelah puas, dia merangkul Eijun. "Bagaimana kalau kita pulang? Kau membuat Patrick khawatir lagi."
Selama perjalanan pulang, keduanya saling menggenggam erat sambil mengobrol tentang tur selanjutnya. Ketika sampai di vila, keduanya dihadiahi tatapan tidak percaya dari kedua temannya dan Josh dan Patrick. Charlos langsung berseru penuh kepuasan sementara sisanya hanya memberi senyum.
"Oh, sial! Akhirnya kalian berdua sadar dengan perasan kalian!"
...
"Oh My Darling?"
Yoichi mengangguk pada penyiar radio yang duduk tidak jauh darinya. "Ya. 'Oh, My Darling' aku membuat lagu ini khusus untuk seseorang yang aku cintai." Yoichi berbicara dengan fasih memakai bahasa Jepang. Karena saat ini dia sedang berada di Jepang. Setelah debut peluncuran lagu barunya di tur konser di Jepang. Lagu itu membludak.
"Wah! Itu romatis!" si penyiar itu berseru. "Dia pasti sangat senang."
"Ya, dia senang. Sebenarnya lagu ini menceritakan kisah cintaku padanya."
"Eh? Seriusan? Coba ceritakan."
Yoichi mengusap tengkuknya pelan. Sedikit malu. "Kami adalah teman masa kecil. Aku sudah tahu bagaimana lika-liku percintaannya dan segala hal yang membuatnya gelisah. Aku selalu ada untuknya, dan dia selalu ada untukku. Kami saling membutuhkan, jika salah satu dari kami terluka, kami akan saling mendukung dan saling memulihkan."
"Itu benar-benar romantis, Kuramochi-san." Si penyiar terkesan mendengar cerita Yoichi.
Yoichi terkekeh pelan. Dia benar-benar tidak sabar ingin memberitahu pada dunia bahwa Eijun lah orang yang dia cintai. "Biar kuceritakan, dia itu bodoh dan lemot, kadang dia kekanakan dan suka jahil. Saat aku mengutarakan perasaanku, dia bahkan membeku dan tidak bisa berkata apapun. Aku jadi gema padanya. Tapi pada akhirnya kami memiliki perasaan yang sama."
Si penyiar ikut terkekeh. "Selamat atas hubunganmu, Kuramochi-san. Semoga hubungan kalian kekal abadi, dan aku tunggu sebaran undangannya, haha."
Yoichi tertawa. "Ya, terima kasih. Secepatnya, haha."
"Nah, minna-san, untuk menutup perjumpaan kita hari ini—Oh, My Darling dari Black Jet!"
Yoichi tersenyum lebar lalu setelah lagu ciptaannya diputar. Dia pamit pergi dari studio bersama Josh, setelah pamit dengan staff disana. Saat dalam perjalanan menuju parkiran, Yoichi membuka handphonenya dan membaca pesan yang baru saja masuk.
My Eijun
Sepuluh menit terlambat, gagal kencan.
Yoichi terkekeh geli. Pacarnya sungguh garang dan pandai merajuk. Dengan geli sekaligus iseng, Yoichi membalasnya begitu dia sudah masuk ke dalam mobil.
Tidak apa-apa kalau gagal. Kita bisa kencan di kamar dan berbagi nafsu bersama.
Setelah pesan tersebut terkirim. Yoichi bisa membayangkan bagaimana ekspresi malu sekaligus kesal milik pacarnya. Dan Yoichi benar-benar tidak sabar bertemu Eijun. []
...
SONG
.
.
.
.
.
Bon Jovi – You Give Love A Bad Name
Queen – Good Old-Fashioned Lover Boy
Queen – Another One Bites The Dust
Christina Perri – Jar Of Hearts
The Beatles – Hey Jude
Aerosmith – Crazy
Freddy Quinn – Oh My Darling Clementine
Queen – Love Of My Life
.
.
.
.
.
END
