Yoora membawa langkah kakinya melangkah lebar cepat menelusuri lorong ruangan didalam gedung dimana ia berada saat ini. Irene dan dua orang wanita anggota Red trelihat tengahsusah payah mengikuti langkah kaki Boss mereka yang nampak sengaja dipaksakan untuk bergerak cepat agar bisa berada di tempat yang ia tuju.

Ruangan Operasi.

Mereka bukanlah berada dirumah sakit di Seoul untuk mengunjungi kerabat, teman atau saudara yang tengah menjalankan operasi. Ruangan Operasi milik Markas Besar Militer adalah tempat dimana mereka berada saat ini, salah satu tempat teraman dan pusat kantor dimana Organisasi Red saat ini bisa tetap menjalankan kegiatan organisasi mereka dibawah naungan penuh pihak militer.

"Apa kau sudah kehilangan akal?!" teriakan Yoora terdengar sebelum wanita itu berada didekat Chanyeol yang tengah berdiri di luar ruangan kaca dimana kegiatan operasi pasien tengah berlangsung disana. Kris dan Jongin yang sebelumnya berada didekat Chanyeol bergerak cepat berbalik untuk menahan Yoora yang semakin jelas terlihat luapan emosinya yang bisa meledak kapan saja.

"Lady.. calm down.." Kris yang lebih dulu bisa menjangkau Yoora menghalangi jalan dihadapannya. "Dia tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan." Suaranya kini berbisik tepat dihadapan wajah Yoora dan itu semakin membuat Yoora mengerutkan alisnya. Pandangan mereka saling bertemu dengan banyak pertanyaan didalamnya, Kris menggerakkan ujung dagunya sebagai isyarat mereka berdua harus berbicara empat mata lebih dulu sebelum Yoora bertatapan langsung dengan Chanyeol.

Irene dan kedua orang lainnya melangkah meninggalkan Yoora dengan Kris, mereka berdiri tak jauh dari ruang operasi dengan tujuan mengawal Chanyeol disana yang masih terdiam memperhatikan bagaimana jalannya proses operasi pada seseorang yang baru saja ia tembak tanpa ia sadari.

Kris membawa Yoora berjalan memberi jarak yang cukup untuk mereka berdua berbicara tanpa bisa didengar oleh Chanyeol.

"Apa yang baru saja kalian lakukan? Kenapa Chanyeol menembak anak itu hah?" kesabaran Yoora jelas tidak bisa ditahan lebih lama.

"Kau harus mendengar cerita lengkap dan jelasnya lebih dulu." Kris menenangkan dan Yoora melemparkan pandangan mata kesalnya dan helaan nafas panjang Kris adalah pertanda dimana mereka akan mulai penjelasan panjang di menit selanjutnya.

Penjelasana dimana Chanyeol yang jelas terlihat membeku mendengar penjelasan dari apa yang dikatakan oleh gadis muda dihadapannya dengan suara isakan tangis sedu diiringi dengan nama Chanyeol yang disebutkan didalamnya dan berakhir dengan tangan sang Phoenix yang bergerak menghempaskan peluru panas hingga bersarang pada dada gadis itu.

"Aku mendengar dengan jelas anak itu menyebut nama adikmu berulang kali, suara tangisnya bahkan masih bisa aku dengar jelas di kedua telingaku Lady." Dan Kris masih mengingat dengan baik bahwa ia kini berbicara dengan Lady of Red.

"Dia mengenal Chanyeol?" emosi Yoora mulai meredup dan kini ia diliputi rasa bingung dan berjuta pertanyaan.

"Bukan hanya mengenal mengenai nama adikmu dengan sangat baik Yoora, kau harus mendengar bagaimana suara tangis ketakutannya karena menganggap Chanyeol meninggal, dan ia menyebutkan bagaimana rencana wanita iblis itu sebagai dalang dari pembunuhan Chanyeol—

"Anak itu mengira Chanyeol sudah meninggal kan? Mereka menganggap rencana pembunuhan itu berhasil bukan?"

Kris mengangguk sebagai jawaban kepada Yoora. "Menurut apa yang dikatakan anak itu.. ya. Mereka menganggap Chanyeol meninggal disana."

Yoora terdiam memandang Kris penuh, "Terus buat mereka menganggap seperti itu, jangan pernah menyebutkan nama Chanyeol kepada siapapun."

"Seperti biasa, Four adalah nama untuknya sejak ia terlahir dan sampai seterusnya."

"Dan dia adalah Phoenix." Yoora melengkapi. "Sampaikan pada seluruh anggota dan posisi Four adalah Executive—sama seperti dirimu dan Irene."

Kris mengangguk patuh.

"Dan.. siapa anak itu?" Yoora menoleh pada Kris, menunggu jawaban mengenai nama seorang gadis yang tengah terbaring kritis di ruang operasi karena ulah Chanyeol.

"Baekhyun, Byun Baekhyun."

"Aku ingin keterangan lebih jelas mengenai anak itu."

Kris mengangguk patuh mendengar permintaan yang menjadi perintah pertama dari Yoora untuk pertama kalinya.


FOUR


"Operasinya berjalan dengan sangat baik, peluru yang berada didalam badannya tidak mengenai bagian organ penting, hanya bersarang pada bagian rusuknya. Tidak ada efek jangka panjang yang akan ia rasakan setelah pemulihan jahitan yang kami berikan saat operasi untuk menutup lukanya."

Penjelasan dari Dokter yang menangani operasi pengeluaran peluru dari badan Baekhyun hanya disimak oleh Kris dan Yoora disana, sementara Chanyeol yang berada pada ruangan yang sama memusatkan seluruh atensinya melihat bagaimana wajah gadis yang hampir saja terbunuh dengan tangannya terlelap dengan tenang.

"... ia mungkin harus beristirahat di rumah sakit hingga jahitannya mengering, untuk itu aku minta dari kalian ada yang bertugas menjaganya hingga..."

"Aku akan meminta beberapa anggota untuk selalu—

"Aku yang akan menjaganya." Chanyeol berucap tanpa memperlihatkan wajahnya pada Yoora atau pun Kris disana.

"—Four akan berada disini." Yoora menekankan alias nama Chanyeol kepada sang Dokter.

"Baiklah, kalian bisa membawa satu orang untuk berjaga dan mengawasinya, ada beberapa perawat yang akan melakukan pemeriksaan rutin beberapa hari kedepan."

"Terima kasih Dokter." Yoora membungkuk mengucapkan terima kasih dan Kris ikut melakukan yang sama dan kemudian menawarkan diri untuk mengantarkan dokter itu keluar meninggalkan Yoora dan Chanyeol didalam ruangan rawat.

Chanyeol masih pada posisi yang sama, berdiri disamping ranjang memperhatikan pemandangan seorang gadis yang berbaring, sementara Yoora memilih duduk pada sofa yang ada diruangan itu.

"Dia tidak akan bangun meskipun kau memperhatikannya terus." Ucapan Yoora berhasil menarik atensi Chanyeol karena dengusan tawa terdengar dari dalam mulutnya. "Duduklah, aku tahu kau memiliki banyak pertanyaan padanya tapi ia tengah berada dialam bawah sadarnya dan bila kau terus berdiri hingga beberapa jam kedepan aku yakin setelahnya kau yang akan berada diranjang sebelah anak itu."

Ucapan Yoora berhasil menyadarkan Chanyeol bahwa otot – otot kakinya memang mulai reasa menegang dan kaku karena ia tengah berdiri hampir lima jam lamanya semenjak operasi dimulai hingga saat ini, dan terasa semakin sakit ketika ia memaksakan diri untuk duduk tepat disebelah Yoora.

"Lihatlah, kaki panjangmu butuh merasakan rileksasi Tuan Muda." Yoora mengangkat kedua kaki Chanyeol dan meletakkannya diatas pangkuan pahanya.

"Mungkin aku butuh pijatan dari tanganmu Lady.." Chanyeol melontarkan suara ejekan diakhir kalimat ketika memanggil Lady untuk Yoora.

"Kau adalah Phoenix yang kurang ajar, Four." Pukulan tangan Yoora pada salah satu tulang kering kaki Chanyeol jelas berdampak cukup kuat karena Chanyeol meringis kesakitan dibuatnya dalam geraman yang ia tahan.

Tidak ada bahan untuk bisa memulai sebuah percakapan selanjutnya karena Chanyeol kembali memusatkan perhatiannya pada Baekhyun yang terbaring disana sementara Yoora mencoba menenangkan adiknya dengan pijatan pada kedua kakinya.

"Namanya Byun Baekhyun.." Yoora memulai, "Seandainya kau ingin tahu siapa nama anak yang baru saja kau tembak. Dia Puteri kandung, ah ani—satu – satunya Puteri kandung dari pasangan mendiang Tuan Byun Jungki dan Jessica." Yoora menoleh sebentar untuk mendapati apakah Chanyeol mendengarkan apa yang ia jelaskan mengenai sedikit cerita tentang gadis bernama Byun Baekhyun. "Keluarga Byun adalah relasi terbaik yang dimiliki Phoenix, aku tahu ayah selalu menganggap Tuan Byun adalah sahabat terbaik yang Ia miliki dan bahkan akan melakukan cara apapun untuk melindungi keluarga mereka, tapi ketika Jessica didapati terbunuh di rumahnya.. Phoenix dianggap adalah pelaku dari itu semua dan aku tidak tahu bagaimana alur yang terjadi hingga Tuan Byun menikah dengan wanita bernama Sunyoung lalu berujung dengan apa yang terjadi pada kita saat ini." Yoora menghela nafas berusaha menenangkan diri agar ingatannya tentang apa yang terjadi pada kedua orangtuanya tidak berputar teringat pada pikirannya.

"Aku pernah bertemu dengan Jungki dan Jessica—tapi aku tidak tahu kapan tepatnya, dan Ibu pernah membicarakan seseorang bernama Sunyoung.."

Mereka berdua saling melemparkan pandangan penuh tanya pada satu sama lain menunggu penjelasan mengenai sepenggal informasi yang dimiliki.

"Ibu mengunjungiku ketika aku berada di Afghanistan beberapa minggu sebelum Ayah mengirim hadiah kematian sesaat padaku." Tatapan adiknya kembali terlihat penuh emosi saat menceritakannya. "Ibu memintaku untuk ikut pergi dengan Eagle Team yang akan berangkat ke Gaza dan aku mengatakan tidak untuk itu. Aku pikir kenapa Ibu memintaku untuk pergi dalam misi bunuh diri sedangkan ia bisa membawaku kembali ke Korea dan tinggal bersamanya, ia mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah mengincar Red dan akan melakukan apapun untuk menghancurkan semuanya, termasuk keluarga."

"Lalu.."

"Ibu mengatakan dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan aku dan juga dirimu dari wanita itu tapi bukan dengan cara membawaku pulang ke Korea dan aku menggatakan membawaku untuk berperang di Gaza juga bukanlah cara terbaik."

"Dan Ayah turun tangan memberikanmu kematian sesaat." Yoora mengangguk paham mengerti dari alur apa yang sudah direncanakan Ayah dan Ibunya.

"Yap, aku tidak ikut ke Gaza namun dibiarkan meninggal sebelum markas kami mendapatkan hadiah bom dari langit."

"Ayah dan Ibu tahu permainan dari Sunyoung." Tatapan Yoora mulai kosong. "Mereka berdua tahu Sunyoung mengincarmu selama ini dan untuk itulah kau diasingkan dalam militer supaya tidak ada satupun yang bisa menyentuhmu.." Yoora memperhatikan Chanyeol lebih dalam. "Dia memang ingin membunuhmu sejak awal.."

Dan kini Chanyeol yang memberikan wajah penuh pertanyaan pada Yoora. "Apa maksudmu?"

"Chanyeol.." Yoora berbisik. "Kau adalah satu – satunya Putera keturunan Phoenix dan bila Ayah meninggal, kau seharusnya berada disini menggantikan Ayah.. seharusnya.. tapi karena kau dianggap meninggal, tidak akan ada Phoenix dan itu berarti.."

"Ia bisa membuat Phoenix lainnya.. dan menyerang Red.. lalu menguasai semua bisnis gelap yang Phoenix lindungi.." Chanyeol mulai memahami maksud Yoora, pemahaman mengenai sedikit dari rencana yang dimiliki Sunyoung untuk menggantikan tugas Phoenix sebagai mafia teratas di Korea dan juga sebagai penghubung dari beberapa kelompok mafia – mafia lainnya.

"Phoenix tidak sepenuhnya kotor.. ada beberapa kelompok yang dilindungi dan bila Sunyoung tahu mengenai itu ia tentu akan menghabisi semuanya.." Yoora menambahkan.

"Dan maka dari itu kita tidak akan membiarkan ia menganggap Phoenix telah mati bukan?" Chanyeol menoleh pada Yoora, "Masih ada keturunan Phoenix yang tersisa dan masih dianggap hidup."

"Chan—Chanyeol.. aku tidak—"

"Kau bisa melakukannya, kau bisa menjadi Phoenix dan Red bersamaan, aku tahu, Ibu dan Ayah bahkan tahu karena mereka memang sudah menyiapkan semuanya untukmu sejak awal. Kau pintar, kau kuat dan kau bahkan berani melawan siapapun yang berusaha menjatuhkanmu, ingat?" Chanyeol mengingatkan kembali saat Yoora melawan segerombolan mafia yang hendak menculik dirinya ketika tengah berlibur seorang diri kala ia masih berusia 19 tahun dan kejadian itu tengah berlalu hampir enam tahun silam.

"Itu berbeda." Yoora menyahuti dengan ingatan dalam dirinya jelas masih membekas bagaimana ia bisa melawan beberapa orang pria bertubuh besar seorang diri dan bahkan cukup berani melontarkan tembakan kepada dua orang lainnya saat itu. "Saat itu aku mempunya dorongan kuat untuk membela diri dan saat ini kau seakan – akan memaksaku untuk menjadi salah satu dari mereka."

"Kita sudah menjadi salah satu dari mereka bahkan sebelum kita lahir Yoora, yang membedakan adalah bagaimana kau akan bersikap. Menjadi seperti mereka atau kau tetap menjadi dirimu sendiri." Ucapan Chanyeol terdengar damai dan hangat berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam wajah dingin adiknya yang masih terpaku memandangi gadis yang sama disana.

"Apa kau mengenalnya?" Pengalihan pertanyaan Yoora lakukan karena sedari tadi ia bersama Chanyeol membicarakan semua hal mengenai masalah yang terjadi, pandangan mata Chanyeol tidak dapat Yoora alihkan untuk melihat kearah dirinya.

Chanyeol menggeleng. "A-aku tidak tahu."

"Tapi ia mengenalmu.. Kris mengatakan bahwa ia menyebut namamu dengan isak tangis penuh ketakutan.. seakan – akan ia larut dalam kesedihan mengetahui dirimu tengah—" Yoora tidak mengatakan lebih lengkap mengenai apa yang ia ingin ucapkan.

"Ia mengatakan rencana pembunuhan yang Sunyoung lakukan dan.. aku tidak tahu siapa dia dan itu membuatku semakin ingin mengetahui siapa dirinya, bukan hanya nama dan keluarganya tapi seluruh hal yang ada dalam hidupnya aku ingin mengetahui itu semua." Chanyeol meninggikan suaranya sirat dengan perasaan emosi yang tengah terpicu didalam hatinya.

.

.

"Mereka membunuhnya."

Mendengar satu kalimat membuat senyuman Sunyoung merekah lebar dengan kilatan pandanganmata yang bersinar lebih indah dibandingkan sebelum – sebelumnya.

"Kau yakin?" pertanyaan ia lontarkan untuk memastikan kepastian dari berita bahagia yang ia sempat dengar.

"Aku yakin Nyonya, Officer Phoenix yang melakukan penembakkan secara langsung dan bahkan membawa mayatnya terkubur langsung disana."

Sunyoung tertawa kecil. "Phoenix selalu tahu bagaimana membersihkan darah – darah kotor di dekat mereka."

Pria pelapor itu mengundurkan diri dan meninggalkan Sunyoung menikmati waktu bahagianya seorang diri dalam ruangan kerja miliki mendiang suaminya, Byun Jungki.

"Anakmu bahkan sudah tenang bersama kalian semua, jadi tugasku sudah selesai bukan? Berhasil menghancurkan kalian satu per satu dan yang tersisa adalah mengambil alih Phoenix dengan membawa puterimu untuk segera mendapatkan tidur panjangnya." Sunyoung berucap memandangi wajah Yoora yang terpampang pada halaman depan koran harian Korea yang berada diatas mejanya. "Biarkan ia bergabung dengan adik dan kedua orangtuanya.. dan tentu saja aku akan berbaik hati untuk melakukannya."


FOUR


Waktu terus berputar dan hari – hari terlewati masih dengan aktifitas biasa yang mengiringi keseharian setiap insan manusia, berangkat sekolah, bekerja, atau melakukan hal yang masih menjadi bagian dari pekerjaan yang mereka miliki dalam hidup mereka dan itu berlaku bagi siapa saja yang memiliki pekerjaan wajib, kecuali Chanyeol.

Statusnya yang dianggap sudah meninggal dan kini memiliki status hanyalah sebagai anggota Phoenix yang bahkan organisasi itu kini dianggap telah tidak aktif, menjadikan dirinya layaknya seseorang yang tidak memiliki pekerjaan.

"Wake up Big guy!" suara Irene yang dingin disertai pukulan bantal pada badan Chanyeol menjadi alarm pagi yang harus siap ia lakukan hanya untuk membangunkan Chanyeol dari tidurnya. "Yoora memintamu berada di rumah sakit pagi ini." ia berucap singkat ketika mendapati Chanyeol tengah berusaha mencari kesadarannya dalam posisi duduk.

"Ada perkembangan apa?"

"Aku tidak tahu, Lady hanya memintaku mengatakan itu padamu dan aku harap kau bisa berangkat segera mungkin bila kau ingin tahu apa yang terjadi disana."

Irene melangkah pergi meninggalkan Chanyeol sementara pria besar itu kembali merebahkan badannya dan mengusap wajahnya yang masih terasa melelahkan setelah hampir dua malam ia tidak mendapatkan tidur nyenyak.

..

Chanyeol melangkah santai menyusuri lorong – lorong rumah sakit Markas Militer layaknya dia adalah pemiliki tempat itu, dengan tampilan yang sudah berbeda seperti sebelumnya—tanpa rambut hitam kelam pada rambutnya dan juga tampilan gagah bersahaja layaknya seorang Militer—kini tampilannya cukup menarik untuk diperhatikan oleh siapapun yang melihatnya. Rambut merah gelap menghiasi setiap helai rambutnya dan meskipun ia mengenakkan setelan jas resmi seperti yang dikenakkan oleh pria lainnya, ada aura dominasi dalam artian buruk yang ia keluarkan. Dominasi Phoenix jelas melekat kuat dalam darahnya.

"Kau disini rupanya." Sambutan pertama Chanyeol dapatkan dari Kris yang sudah berada didepan pintu ruangan rawat yang sebelumnya Chanyeol tempati dalam dua hari belakangan. "Dia sudah sadar dan ada sesuatu terjadi.."

Chanyeol mengerutkan alisnya, sementara Kris membawa dirinya untuk melangkah bersama menuju salah satu ruangan lain. "Dia nampak berbeda jauh dari saat kita terakhir melihatnya dipemakaman."

"A-apa maksudmu?" Chanyeol semakin dibuat bingung mendengar kalimat itu. Telunjuk Kris menunjuk pada salah satu cermin dua arah yang berada didalam ruangan itu, dimana mereka berdua bisa melihat dengan jelas Yoora dan juga beberapa penyidik lainnya kini berada disana dengan gadis yang terduduk lemas namun dua tangannya terikat kuat oleh borgol besi disana.

"Ia sudah sadar pagi ini namun yang kita dapati bukanlah Byun Baekhyun yang terisak menangis ketakutan melainkan Byun Baekhyun yang memberontak dan bahkan berani menusuk salah satu perawat yang berusaha menenangkannya."

"Hah?" Chanyeol dibuat tidak percaya mendengar apa yang Kris ceritakan padanya.

"Sebaiknya kau masuk kedalam dan ikut mendengar apa mereka bicarakan didalam sana untuk mencari informasi dari anak itu." Kris membawa Chanyeol keluar ruangan dan membukakan salah satu pintu yang menjadi pintu masuk ruangan dimana Baekhyun tengah diinterogasi sedari tadi.

"...apa wanita itu membuangku? Apa dia mencoba membunuhku?"

Chanyeol bergabung didalam dan mendengar apa yang Baekhyun katakan secara lantang dan penuh dengan kebencian, berbeda dengan apa yang ia dapati sebelumnya.

"Siapa yang kau maksud dengan wanita itu?" Yoora yang duduk tepat dihadapan Baekhyun melontarkan pertanyaan selanjutnya.

"Aahh... aku ingat siapa dirimu." Baekhyun tersenyum, namun matanya tidak menampakkan kilauan bahagia. "Kau adalah Kakak dari Park Chanyeol... Park Yoora."

Yoora terdiam kaget mendengar jawaban yang terduga dilontarkan oleh anak itu.

"Aku turut berduka akan apa yang terjadi pada adikmu.. kau dan Baekhyun pasti merasa kehilangan bukan?"

"Baekhyun?" Yoora semakin dibuat bingung oleh situasi yang ada dihadapannya. "Siapa kau sebenarnya?"

Dan suara tawa mengejek dilontarkan anak itu. "Aku Baekhyun.. hanya saja dalam versi berbeda.. bukan Baekhyun yang pendiam, lemah dan tak berdaya.. kalian bisa menganggap aku—

"Alter-ego." Chanyeol yang memperhatikan dalam waktu singkat melontarkan jawaban tanpa menunggu anak itu mengatakan langsung dari mulutnya.

"Hohoo—hai tampan."

Chanyeol menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dapatkan sebagai sapaan dari Baekhyun disana. Langkahnya mendekat kearah kursi kosong tepat disebelah Yoora yang masih duduk dan berusaha mencerna situasi yang ia mulai pahami saat ini.

"Jadi apa yang aku ucapkan benar?"

"Tergantung.. kalau kau mengatakan siapa namamu mungkin aku akan mengatakan jawaban yang sebenarnya."

Chanyeol tersenyum singkat masih memperhatikan bagaimana tampilan jelas dari wajah dan juga pandangan mata pemandangan yang Baekhyun perlihatkan kali ini.

"Aku lebih menyukai Baekhyun yang berbicara padaku kali ini.." Chanyeol mengatakan bermaksud membuat alter ego yang berada dihadapannya luluh dan mungkin bisa bekerja sama dengannya.

Baekhyun berdesis kesal dibuatnya, ia menghempaskan punggung belakangnya untuk beradu dengan punggung kursi yang ia duduki. "Baekhyun terlalu lemah, aku yakin pria gentle sepertimu lebih cocok denganku dibandingkan dirinya.. lagi pula.." badannya kembali condong kedepan mendekat pada meja. "Baekhyun tidak akan mungkin menggantikan posisi Chanyeol dengan pria manapun hingga ajal menjemput nyawanya yang sudah tak berharga ini."

"Kau mengenal adikku?" Yoora memberanikan diri bertanya.

Baekhyun mengangguk. "Baekhyun mengenal baik adikmu, foto adikmu bahkan masih ia simpan. Sementara aku ragu adikmu.. di saat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.. apakah ia mengingat Baekhyun kecil ini hm? aku ragu ia masih mengingat dengan jelas siapa Baekhyun baginya."

"Kenapa bisa seperti itu?" pertanyaan lain Yoora berikan.

"Hm.." Baekhyun tertawa dalam diamnya. "Haaa.. apa yang harus aku katakan pada kalian mengenai hal ini?"

"Cepat jelaskan!" Yoora menggebrak meja disaat badannya bangkit berdiri menyudutkan Baekhyun yang tersontak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Yoora.

"Kau seharusnya bisa bernegosiasi yang baik Madam!" Baekhyun berteriak pada Yoora.

"Cepat katakan!"

"AKU TIDAK MAU MENGATAKAN PADAMU!" Baekhyun kembali berteriak keras namun wajahnya terlihat merajuk layaknya anak kecil yang tengah dimarahi oleh kakak dihadapan seluruh keluarga.

"YAAAA!"

"KAU SAMA SEPERTI WANITA IBLIS ITU! SELALU BERTERIAK! AKU TIDAK TULI ASAL KAU TAHU!"

"YAAA JANGAN SAMAKAN—"

"Baekhyun." Chanyeol menyebutkan nama Baekhyun dengan suaranya yang lebih berat namun terdengar tenang, kedua matanya terpejam dalam posisinya masih terduduk diam berbeda dengan dua orang lainnya—Yoora dan Baekhyun yang tengah berdiri diiringi dengan nafas yang terengah – engah. "Duduk tenang dan jawab apa yang dikatakan oleh Lady." Matanya kembali terbuka menatap Baekhyun bukan dengan siratan marah atau kesal, melainkan tatapan memerintah hangat dan pemandangan yang patut mengundang pertanyaan bagi yang lainnya adalah saat dimana alter ego Baekhyun tidak menyahut atau pun berteriak seperti yang dilakukannya pada Yoora, ia kembali duduk dengan tenang disana dan bersikap manis.

"Jelaskan apa yang kau ketahui mengenai Chanyeol dan juga Baekhyun.." Chanyeol mengulang kembali pertanyaannya.

Baekhyun terdiam cukup lama tidak memberikan jawaban, matanya masih menatap kesal pada Yoora namun kembali menghangat ketika kedua matanya bertatapan dengan Chanyeol disana. "Aku ingin menanyakkan lebih dulu pada kalian, kenapa kalian sangat ingin tahu apa Baekhyun mengenal Chanyeol atau tidak?" pertanyaan itu ditujukan pada Chanyeol sendiri dan juga tiga orang lainnya yang berada disana.

Yoora terlihat gugup seketika sama seperti Kris dan juga dua orang anggota Militer, karena jelas mereka tahu bahwa Chanyeol berada disaat yang sama dengan semuanya saat ini.

"Seperti yang kau ketahui, Chanyeol adalah adik dari Yoora," Chanyeol menjawab dengan santainya tanpa kesulitan menjelaskan sedikit pun kata – kata yang keluar dari mulutnya. "Hal yang aneh adalah bagaimana seorang Baekhyun bisa mengenal Chanyeol?"

Baekhyun tertawa kecil. "Hm.. aku rasa kalian semua tidak ada yang mengenal Chanyeol dengan baik.. atau Chanyeol memang tidak pernah mengatakan apapun mengenai Baekhyun—oh poor baby Baek.." Baekhyun menunjukkan wajah merengut penuh kesedihan pada semuanya. Dan kau pun sebagai kakaknya tidak mengetahui adikmu itu mengenal Baekhyun? ckck kakak macam apa dirimu ini."

Yoora berdecak kesal namun melihat Chanyel yang menoleh sedikit kearahnya ia berusaha keras menahan emosinya dalam diam.

"Bisa kau jelaskan pada kami?" Chanyeol kembali menuntut jawaban dari Baekhyun.

Baekhyun tidak menjawab, pandangannya terkunci menatap kedua mata Chanyeol yang terpusat kearahnya. "Akan lebih baik kau menanyakkan padanya secara langsung, dia memiliki jawaban lebih jelas bila menyangkut Chanyeol." Baekhyun tersenyum dan memejamkan mata layaknya seseorang yang akan tertidur. Yoora dan yang lainnya jelas tidak mengerti apa yang dilakukan oleh anak itu sementara Chanyeol duduk menunggu dengan sabar membiarkan Baekhyun melakukan apa yang ingin ia lakukan.

"Dia benar – benar tertidur?" bisikan Kris yang ditujukan pada Chanyeol terdengar oleh semuanya. "Anak ini sungguh memiliki alter – ego?" pertanyaan lainnya terlontar dalam waktu singkat.

"Kau akan melihat perbedaannya nanti." Chanyeol menjawab singkat, pandangannya masih tertuju memperhatikan Baekhyun yang tertidur dalam posisi duduknya dengan kedua tangan yang terikat borgol. Chanyeol bangkit berdiri untuk melihat lebih jelas bagaimana polosnya wajah gadis itu yang jelas menampakkan usianya yang masih terbilang cukup muda, badannya yang berukuran kecil itu bahkan terlihat penuh tekanan dan tidak pantas anak itu memiliki alter ego dengan kepribadian yang berbanding terbalik dengan sifat aslinya.

"Hmm.." lenguhan disertai rintihan meringis terdengar dari Baekhyun, badannya menggeliat berusaha mencari kenyamanan dari posisinya. Chanyeol masih berdiri disana dengan kedua tangannya yang terlipat didepan dadanya, matanya memperhatikan dengan penuh seksama perubahan sikap pada gadis yang bernama Baekhyun itu.

Sementara Baekhyun berusaha membuka perlahan – lahan kelopak matanya dan setelah kesadarannya sadar sepenuhnya, ia tersontak takut dengan kedua matanya membelak melihat kehadiran beberapa orang yang tidak ia kenali berada diruangan yang sama dengannya dan ia menyadari kedua tangannya tengah terkunci oleh borgol semakin membuat dirinya bergetar ketakutan.

"Bae—baekhyun?" Yoora lebih dulu memanggil namanya dan gadis yang dipanggil itu melihat kearahnya dengan tatapan mata takut diiringi air mata yang mengalir cepat membasahi pipinya.

"Yeah.. dia benar Baekhyun.." Kris berbisik, keyakinannya jelas disertai fakta akurat sama seperti apa yang ia lihat ketika gadis itu ketakutan ia datangi saat pemakaman.

"A-aku—maksudku kami tidak akan menyakitimu.." Yoora berusaha menenangkan.

"Aku tidak membunuh ahjussi.." Baekhyun berucap langsung kearah Yoora. "A-aku tidak membunuhnya.. dia yang melakukannya.. wanita itu yang membunuhnya.. aku tidak melakukannya.. aku tidak membunuh ahjussi..." Baekhyun berteriak diiringi isak tangis yang semakin terdengar keras. Yoora yang melihat semua itu berpindah menyusul dimana Baekhyun duduk dan berusaha menenangkannya memberikan usapan pada punggung gadis itu.

"Te-tenanglah.. ka-kami bukan ingin mendengar mengenai pembunuhan itu.. aku ingin mendengar penjelasan mengenai Chanyeol dan semua yang kau ketahui.."

Sementara Yoora berusaha mencari cara menenangkan Baekhyun dengan usapan tangan dan rangkulan lengannya pada bahu anak itu, Chanyeol yang masih berdiri memperhatikan kini berbalik meminta pada salah satu anggota Phoenix disana kunci borgol yang ada di tangan Baekhyun. Chanyeol kembali mendekat dimana Baekhyun duduk dan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, Chanyeol berlutut dan melepaskan ikatan borgol itu perlahan – lahan, ia bahkan tidak menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh Baekhyun yang terdiam terpaku memperhatikan Chanyeol.

Dan ketika Chanyeol mendongakkan wajahnya untuk diperlihatkan pada Baekhyun, saat itulah Baekhyun tersontak kaget dengan air mata yang semakin mengalir membasahi kedua matanya, gerakkan mulutnya bahkan tergagap hanya untuk bernafas sesaat dan mengucapkan satu kata singkat pada pria yang kini berada tepat dihadapannya.

"Chan—chanyeol?" Nama itu disebutkan dengan suara sendu dari mulut Baekhyun secara tiba – tiba, tangannya bahkan meraup wajah Chanyeol tanpa ada rasa takut.

"Siapa yang kau maksud dengan Chanyeol?" nada dingin tak bersahabat dibalaskan oleh Chanyeol, dan apa yang ia katakan tentu berhasil membuat suasana yang sebelumnya mulai bersahabat kini terasa dingin dan kaku.

"A-ah..." Baekhyun tergagap. "A-aku mengira.. Anda terlihat seperti seseorang yang aku kenal."

Baekhyun berucap lagi memandangi pria dihadapannya yang tengah terdiam kaku memperhatikan bagaimana raut wajah polos berkulit putih cerah milik Baekhyun itu menghiasi pemandangan kedua matanya.

"Cih." Aku bahkan yang memberikan luka di badanmu dan kau masih menganggap aku adalah orang yang kau kenal?" Chanyeol beranjak bangun melangkah mundur menjauhi posisi duduk Baekhyun.

"Berhenti menangis." Chanyeol berucap dingin dan sontak membuat Baekhyun kembali tersentak dengan isakan tangisnya terdengar. "Jawab pertanyaan apa yang Lady tanyakkan padamu." Baekhyun tercengang masih memperhatikan pria dihadapannya, bahkan kedua mulutnya tidak bisa lagi ia gerakkan untuk menyahut atau memanggil nama Chanyeol seperti yang ia lakukan sebelumnya.

"Namamu Baekhyun, benar?" Yoora meredakan ketegangan diantara adiknya dan Baekhyun.

Baekhyun menganggukkan kepala sebagai jawaban pada Yoora.

"Kau Puteri Tuan Byun Jungki?"

Lagi, Baekhyun mengangguk.

"Kau tahu siapa aku?" tangan Yoora menunjuk dirinya dan Baekhyun memperhatikan, mulutnya tergigit tanpa ia sadari oleh gigi putih kecilnya.

"Yu—Yoora Eonnie?" cicitannya diselimuti suara ketakutan berhasil terdengar.

"Baekhyun.. Apa kau mengenal Chanyeol begitu dekat?"

Anggukkan kepala jelas menjawab pertanyaan itu dengan cepat. "Kami berteman.. aku dan Chanyeol berteman sejak kecil. Chanyeol bahkan berjanji padaku akan kembali pulang dan juga mengembalikan kalung yang aku berikan padanya.."

Kalung?

"Kalung apa?" Kini giliran Kris yang bertanya.

Baekhyun memperhatikan satu per satu wajah orang – orang yang mengelilingi dirinya diruangan itu dan ketika pandangannya kembali bertemu dengan pandangan mata milik Chanyeol, ia memusatkan seluruh fokusnya pada Chanyeol. "Aku dan Chanyeol selalu bermain bersama dulu ketika kami kecil sampai ketika Ibu meninggal, hari itu Chanyeol berniat pergi dari Korea dan disitulah ia berjanji untuk akan pulang dan mengembalikan kalung yang pernah aku berikan padanya."

"Apa Chanyeol mengatakan akan pergi kemana?" Yoora melempar pertanyaan.

Baekhyun menggeleng. "Ia hanya mengatakan akan pergi ke tempat dimana aku tidak diijinkan untuk ikut."

"Kalung yang kau berikan, apa kau masih ingat bagaimana bentuknya?" dan Kris berharap mendapatkan jawaban lebih rinci mengenai kalung yang dibicarakan oleh Baekhyun.

"Itu kalung hanya bertuliskan angka dan huruf.. aku masih ingat.."

Yoora menyerahkan buku agenda miliknya untuk Baekhyun. "Bisa kau tuliskan pada kami?" dan Baekhyun mengangguk. "Kami butuh keterangan lebih banyak darimu mengenai seberapa dekat dirimu dengan Chanyeol.. karena aku sebagai kakaknya bahkan tidak tahu cerita kecil tentang dirimu dan juga Chanyeol—

"Hm.. Yoora Eonnie tidak ada di Korea saat itu... Chanyeol Oppa selalu bercerita mengenai Eonnie tapi aku tidak tahu bagaimana wajah Eonnie.. kita tidak pernah bertemu.." Yoora tersenyum membalaskan senyuman hangat yang Baekhyun berikan padanya disela – sela perbincangan mereka. "Ini.. aku hanya mengingat angka itu." Yoora mengambil alih bukunya dan memberikan pada Kris.

Chanyeol dengan cepat mengambil buku itu dan setelahnya ia berdiri mematung melihat deretan angka dan huruf yang dituliskan Baekhyun disana.

L-1485.

"Aku akan memeriksa barang – barang yang dikembalikan oleh pihak militer." Kris berucap untuk undur diri dan Chanyeol ikut serta ikut meninggalkan ruangan tersebut.

Yoora, Irene dan juga Sehun serta Jongin masih berada diruangan untuk menlanjutkan proses interogasinya terhadap Baekhyun.

"Baekhyun.. mau bercerita lebih banyak padaku tentang dirimu dan Chanyeol?" Yoora memutuskan duduk kembali pada kursinya, suaranya lebih bersahabat dan pandangan matanya yang ia perlihatkan terkesan memohon kepada seseorang yang sangat ia kenal.

Dan Baekhyun tak lagi merasa takut ataupun gugup terhadapnya, sebuah senyuman dan mata puppy terlihat disana sebagai balasan akan apa yang Yoora inginkan.


FOUR


Sementara didalam ruangan suasana tengah menghangat dan bersahabat, lain halnya kondisi diantara Kris dan Chanyeol yang tengah melangkah lebar menuju ruangan lain untuk mereka saling berbicara.

"Kau tahu mengenai kalung ini?" pintu ruangan bahkan belum tertutup rapat ketika Kris mengucapkan pertanyaan itu. "Kalau dia memang memberikan kalung itu padamu, seharusnya kau memilikinya dan itu berarti kalian saling mengenal satu sama lain—tunggu apa kau benar – benar tidak mengingat anak itu—

Chanyeol sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kris karena pria itu kini masih terdiam menutup mulutnya dengan rapat namun pandangan matanya terpusat sepenuhnya pada pemandangan jauh di luar jendela.

—kalau kau tidak mengingat dirinya apa mungkin ia mengalami operasi plastic atau kau pernah mengalamai luka pada kepalamu dan membuat dirimu tidak mengingatnya? Kita harus memeriksa health record milikmu nanti."

"Kris.." lirihnya terdengar.

"Kenapa? Apa kau teringat sesuatu?"

Chanyeol membalikkan badannya, ia menggulung lengan kemeja yang ia kenakkan hingga sebatas siku dan Kris masih belum mengerti apa yang Chanyeol hendak ungkapkan sampai ketika kedua mata miliknya mendapati sebuah tattoo berbentuk kotak kecil dengan deretan huruf dan angka yang sama dengan apa yang dituliskan Baekhyun pada buku itu.

"Aku sempat memiliki kalung itu entah sejak kapan, namun aku menghilangkannya ketika base berpindah. Yang aku ingat adalah aku menganggap kalung itu sebagi jimat keberuntungan dan itulah mengapa aku membuatkannya kembali dalam sebuah tattoo."

Kris menutup mulutnya sambil memeriksakan kemiripan dari apa yang tertulis di buku dan juga dengan apa yang Chanyeol miliki di tangannya.

"Okey.. ini semakin membuatku bingung."

Chanyeol melepaskan gulungannya kembali dan duduk dengan kasar pada sofa disana. "Aku sama sekali tidak ingat apapun mengenai dirinya, bagaimana masa kecil kami—aku bahkan tidak ingat bagaimana masa kecilku lalu bagaimana aku ingat mengenai anak itu?"

"Aah.. well.." Kris bahkan kesulitan menemukan kalimat yang ia ingin katakana pada Chanyeol sebagai pilihan kemungkinan yang terjadi mengenai ingatan Chanyeol yang sama sekali tidak menemukan masa dimana ia menghabiskan waktu bersama anak yang bernama Baekhyun. Mereka berdua saling berbagi keterdiaman dalam menit – menit berikutnya sampai bunyi ketukan terdengar dari pintu yang tengah tertutup.

Jenderal Besar Kim Junmyeon berada dibaliknya dan melangkah masuk tanpa mengatakan lebih dulu maksud dari kemunculan dirinya disana.

"Aku mendengar anak itu telah sadar." Ia mulai berucap ketika posisinya tengah duduk di sofa yang sama dengan Chanyeol. "Dan dia memiliki alter-ego?"

"Wow, militer selalu tahu bagaimana cara menyadap." Chanyeol terkekeh mengejek sementara sang Jenderal hanya melirik kearahnya sebentar lalu mengacuhkannya.

"Aku sudah melakukan pencarian data yang sesuai dengan garis keluarganya yang kita ketahui, dan mungkin kalian berdua bisa membacanya lebih dulu sebelum aku membawa ini ke Yoora."

Chanyeol menjadi orang pertama yang menerima lembaran dokumen dengan foto Baekhyun terpampang dengan jelas disana, dan tanpa mengatakan apapun pada Jenderal dan juga Kris, ia mulai membaca satu per satu apa yang dituliskan disana. Nama lengkap, keterangan kelahiran dan bahkan nama keluarganya disebutkan disana. Golongan darah yang ia miliki, riwayat kesakitan dan juga keterangan mengenai alamat rumah menjadi bacaan awal bagi mata Chanyeol. Ia bahkan membalikkan halaman pertama dan ketika membaca apa yan tertulis diawalnya, raut wajahnya kembali terlihat lebih serius hingga matanya menyipit menajamkan apa yang ia lihat tertulis disana.

"Ke-kenapa?" Kris memberanikan diri menanyakkan pada Chanyeol mengenai perubahan raut wajahnya. Namun Chanyeol mengabaikan, pusat fokusnya masih terpenuhi oleh rentetan penjelasan mengenai.

Sebenarnya apa yang dibaca Chanyeol hanyalah sepenggal penjelasan mengenai riwayat dari seorang Byun Baekhyun, dimulai dari ia lahir, tumbuh dan juga bersekolah.. namun yang membuat Chanyeol membelakkan matanya dan juga merubah raut wajahnya adalah keterangan yang menjelaskan bahwa masa kecil mereka dihabiskan bersama. Dilihat dari nama pra sekolah dan juga bahkan sekolah dasar mereka berada pada nama sekolah yang sama.

Dan ada satu hal lain yang membuat Chanyeol semakin dibuat terkejut.

"Apa maksudnya bahwa dia adalah kandidat Red?"

"Lady Vic mendaftarkan Baekhyun sama di hari yang sama ketika kau diberangkatkan untuk bergabung dengan Militer, dan mungkin ini memang sudah direncanakan beliau sebelum kejadian dimana Mendingan Nyonya Byun terbunuh." Junmyeon menjelaskan dengan cepat. "Melihat dari kepintaran yang Lady Vic miliki aku berasumsi beliau mengetahui rencana jahat dari Sunyoung maka dari itu ia memasukkanmu bergabung dengan Militer lebih dulu dan juga mendaftarkan Baekhyun dalam program Red."

"Kalau memang dia didaftarkan dalam program Red, seharusnya dia bergabung ketika berusia tujuh belas tahun bukan?"

"Seharusnya seperti itu, maka dari itu ini adalah kesempatan yang tidak terduga—

"Bukan." Chanyeol memotong percakapan antara Kris dan Junmyeon disana. "Ini bukan kesempatan tidak terduga. Ini adalah apa yang direncanakan Sunyoung.."

Kedua orang disana menatap Chanyeol bersamaan. "Apa maksudmu?"

"Sunyoung pasti mengetahui bahwa Baekhyun ada dalam daftar program Red dan maka dari itu ia memanfaatkan alter-ego Baekhyun untuk membunuh siapa pun korban yang ia targetkan termasuk Ayah-ku karena ia menginginkan Baekhyun dibunuh dengan alasan balas dendam dari para anggota mafia lainnya. Dan aku yakin ia sang alter ego sudah membunuh bukan hanya satu orang..."

"Maksudmu.. kemungkinan besar Sunyoung mengetahui semua ini?"

"Sudah pasti.. kalau tidak, kenapa ia meninggalkan Baekhyun di pemakaman seorang diri dengan pengawas yang berada jauh dari tempat kita berada saat itu? Dia menginginkan Phoenix membunuh Baekhyun. Dan ia akan melakukan penyerangan selanjutnya dengan alasan balas dendam akan apa yang dilakukan terhadap Baekhyun."

"Nyawa dibalaskan dengan nyawa.." Kris menyimpulkan.

"Target selanjutnya sudah pasti pemimpin dari Phoenix."

Ketiganya saling diam memandang satu sama lain, Junmyeon dan Kris mengangguk bersamaan sementara Chanyeol mengumpat kasar dengan tangan yang meremas kertas ditangannya dalam sekejap.

"Bitch!"