Ketika kereta menjelajah warna alam, maka doa jendela adalah sekecil menyimpan rupa pemandangan dalam sepersekian detik yang fana, demi disuguhkan kepada para tamu yang singgah untuk berangkat.

Pada posisi bertopang dagu, sementara warna iris senada batu aquamarine itu menontoni gunung yang sambung-menyambung dengan pepohonan, Akutagawa Ryuunosuke sebenarnya tiada memikirkan hal yang terlalu berarti, semenjak menginjak pelataran stasiun. Apa yang ia tahu cuaca teramat panas, ketika langit justru terbakar dalam biru yang berseri, lalu keramaian berlalu lalang, shinkasen tidak terlalu menyenangkannya, dan Akutagawa sudah di sini; magic.

Destinasi yang akan pemuda itu jemput adalah Himawari no Sato, sebuah taman bunga matahari di Hokkaido, lebih spesifiknya daerah Hokuryu, kata Kikuchi Kan.

Wajah Akutagawa temaram yang artinya pucat akibat jenuh, itu lagi-lagi kata Kikuchi Kan juga, sewaktu sahabat baiknya tersebut bertandang membawakan kuzumochi, ditemani sake terbaik.

Sepanjang keduanya mengusir sepi dengan mengunyah kuzumochi, mochi bertekstur jeli dengan taburan kinako– bubuk kedelai sangrai–dan kuromitsu–madu hitam–Akutagawa sudah tidak terlalu banyak menyimak atau berpikir, membuatnya berakhir terdampar di kereta ini. Kadang kala ia menghela napas. Dipikirnya Kan curang juga gara-gara menggunakan alasan sibuk berorganisasi, sehingga tak menemani Akutagawa jalan-jalan.

"Ada beberapa hal yang hanya bisa dipikirkan kalau sedang sendirian, Ryuu."

Kira-kira begitulah ucap Kan yang bahkan tidak mengantar Akutagawa pergi. Mau memercayainya juga bukan salah Akutagawa, kalau telanjur meragu duluan.

"Alibi."

Namun, karena Akutagawa sudah sejauh ini dengan tiket yang Kan belikan, mungkin ia harus belajar menikmati sesampainya di tujuan.


Write A Colour of Summer

Disclaimer: DMM

Warning: OOC, typo, gaje, AU yang tidak terlalu berhubungan dengan RL para penulis, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta untuk event "natsuyasumi".


Usai berjalan kaki sekitar puluhan menit dari Stasiun Sunflower Hokuryu, tibalah Akutagawa pada taman yang Kan maksud, di mana tiga puluh jenis bunga matahari ditanam pada berhektare-hektare tanah yang ada.

Barusan Akutagawa pun sudah mengambil brosur yang menjelaskan taman ini secara singkat, disambung serangkaian antusiasme dari para warga yang bergotong royong merawat Himawari no Sato, agar Akutagawa mengunjungi sunflower maze yang langsung dituruti saja–lebih banyak tak enak hati pada kebaikan mereka yang bersusah payah menyarankan, dibandingkan Akutagawa mengikuti rasa penasaran yang rasa-rasanya dia pun bingung apa itu.

Drttt ... drrttt ...

From: Kan

Udah sampai belum? Kalo udah coba foto.

Gawai ketinggalan zaman yang malas Akutagawa ganti ini, lensa kameranya diarahkan pada pintu masuk ke sunflower maze. Foto dikirimkan. Kotak donasi yang dijaga seorang kakek tua Akutagawa isi dengan sedikit uang, omong-omong Kan sudah memprediksinya juga, dan dia diberikan bibit bunga matahari sebagai imbalan.

From: Kan

Harusnya kau selfie, dong. Aku mau lihat wajah gembira sahabatku.

To: Kan

Aku senang, kok.

From: Kan

Nanti cerita-cerita, ok? Selamat bersenang-senang.

Bersenang-senang, ya ...? Akutagawa mengarah ke mana saja sewaktu menjelajahi sunflower maze tersebut, tanpa ia menemukan orang lain yang juga tersesat seperti Akutagawa. Kini dibandingkan memasang wajah gembira, lantas mengambil beberapa foto untuk dikirimkan yang diisi caption memuji, kernyitan di dahi Akutagawa lebih menunjukkan ia frustrasi. Sekarang harus bagaimana? Mungkin baiknya tetap Akutagawa bilang ia berhasil, 'kan?

Bagaimanapun itu ia pasti keluar dari labirin ini, sehingga tak sepenuhnya Akutagawa berbohong kepada Kan, di mana penulis bergaya naturalis tersebut hanya tidak menceritakan rinciannya.

Masalahnya Kan pasti kepo hingga ke akar. Kira-kira elakan macam apa yang Akutagawa mesti rancang, tetapi tidak bohong-bohong amat, dan kalau dia bilang dirinya keluar dengan cepat bukankah itu termasuk–?

"Tangisan ... anak-anak?"

Arahnya dari sebelah kanan yang sekalinya Akutagawa bertanya-tanya, ia dapat menemukan jalan dengan cepat menuju sumber suara. Benar saja dugaannya bahwa seorang bocah lelaki tengah menangis, dan umurnya kisaran dua belas tahun yang kemungkinan besar dia juga tersesat. Akutagawa berjongkok ingin memastikan. Tangannya bergerak lembut mengelus rambut merah yang ujungnya dikepang tersebut.

"Sekarang sudah baik-baik saja."

Mata sang bocah menatap Akutagawa yang tersenyum tipis. Tangisannya seketika berhenti, lantas ia mengerjap-ngerjap membuat Akutagawa berpikir masalahnya selesai satu, sampai tiba-tiba anak tersebut mengeluarkan kantong cokelat–isinya permen, ka–?

"PERGI KAU SETAN! PERGI!"

Sejumput garam terus-menerus dilempar ke arah Akutagawa yang buru-buru menjauh. Tanpa sengaja pula ia merasa menabrak sesuatu. Turis yang menjadi korbannya ikut kebingungan, dan suasana sepenuhnya diisi heran yang menari-nari.

"Kebetulan sekali ada orang lain di sini. Bolehkah aku dan anak itu ikut dengan kalian? Kami tersesat."

Awal-awal mereka yang ditanya masih bingung, hingga akhirnya kedua wanita itu mengangguk pelan dengan pipi sedikit tersipu. Bocah yang barusan melempar garam Akutagawa ajak mendekat. Takut-takut ia berjalan yang tampak putus-putus, dan ketika bisa digapai Akutagawa menggenggam tangan mungilnya.

"Maaf merepotkan, ya. Akan kubalas kebaikan kalian."

Mereka yang sudah tersihir pesona Akutagawa sekadar meminta berfoto di luar lika-liku labirin, dan Akutagawa menurut saja tanpa curiga, sedangkan bocah tersebut bisa-bisanya ikut berfoto dengan senyuman lebar di bibir–layarnya dipenuhi wajah dia malah.


Perut kosong anak itu–Dazai Osamu namanya, setelah ia berkenalan dahulu baru meminta maaf–berbunyi sangat berisik membuat Akutagawa yang tidak tega membawanya ke restoran terdekat. Menggunakan bluetooth Akutagawa meminta foto barusan, kemudian memperhatikannya menimbulkan aneka tanda tanya. Makannya juga lahap. Apa jangan-jangan ini modus pemerasan baru, ya? Kan sering memperingatkan Akutagawa juga.

"Ke mana orang tuamu?" tanya Akutagawa langsung. Jelas sekali Dazai adalah anak hilang, tetapi dia terlalu santai sejak mereka swafoto berempat.

"Enggwak twahu."

"Ditelan dulu. Pelan-pelan saja." Teh oolong dingin yang belum Akutagawa sentuh diberikan pada Dazai yang langsung meminumnya. Dazai menelan dengan cepat. Hanya menyisakan sayur berupa wortel serta brokoli, pada paket anak-anak yang dia pilih sendiri.

"Enggak tahu, Om. Emangnya kenapa?"

"Jadi kau benar-benar anak hilang?"

"Kok Om balik nanya?" Kurang dari lima menit teh oolong juga kandas. Karena matanya menatap pada sushi yang Akutagawa pesan jadilah diberikan juga, meski samar-samar Akutagawa merasa ada yang aneh, seperti ... Dazai memiliki tujuan lain mengapa ia makan banyak.

"Kenapa kau bertanya seolah-olah orang tuamu yang enggak ada di sampingmu bukan masalah besar?"

"Soalnya Om udah membelikanku makanan yang enak."

Sebagai rasa terima kasih Dazai memberikan setengah, dan Akutagawa memakannya tanpa bertanya atau berkomentar lagi. Dia tidak diperas, kok. Tiba-tiba pula dalam perjalanan ke pusat turisme, Akutagawa malah meminta maaf membikin Dazai menertawainya aneh. Setibanya di sana Akutagawa meminta Dazai menjelaskan orang tuanya, tetapi yang keluar dari mulutnya justru terdengar aneh.

"Mereka lebih tua dariku. Aku memanggilnya ayah dan ibu."

"Bagaimana dengan ciri fisiknya?"

Di samping Dazai pertanyaan tersebut juga sekadar Akutagawa simak. Keanehan di restoran pada akhirnya bukan sebatas firasat. Jawaban berikutnya pun Akutagawa yakin pasti terkesan menyeleneh.

"Lebih seperti manusia dibandingkan aku, Om."

Titik terang yang tidak ditemukan di mana pun membuat penjaga pusat turisme menggaruk tengkuk, dan dilihatnya Akutagawa yang bergeming yang mungkin bisa melakukan sesuatu. Pak tua berperut buncit itu membisikkan sesuatu pada Akutagawa. Belum disetujui ia langsung sembarangan bilang kepada Dazai bahwa Akutagawa siap menemaninya bermain. Rekomendasi kali ini adalah festival yang dijelaskan diselenggarakan sampai sebulan penuh.

"Kalian bisa menyaksikan yosakoi, bon odori, dan lain-lain. Tentunya ada banyak stan makanan juga."

Cerita yang bagai merangkaikan mimpi indah tersebut menambah semangat pada Dazai, sementara di belakangnya Akutagawa sekadar mengikuti sekaligus mengawasi. Ada banyak tawa yang berkisah–kecil, besar, renyah, bahkan bisu, dari siapa pun yang berbahagia. Keramaian itu sendiri seperti dunia lain bagi Akutagawa, di mana di sekitarnya memiliki banyak warna kuning, ketika sebelumnya Akutagawa tak melihat apa-apa maupun abu-abu.

"Om itu apa?" Entah sedari kapan Dazai yang asyik memimpin jalan, atau sesekali telunjuknya sibuk menunjukkan sesuatu sembari menceritakan pendapatnya, sudah berada di samping Akutagawa. Tampaknya antusiasmenya banyak berkurang. Mungkin ia sudah merindukan orang tuanya, kah?

"Pekerjaan maksudmu?"

"Ya. Itu!"

"Mahasiswa. Aku juga menulis beberapa cerpen."

"Keren banget! Mulai sekarang boleh aku panggil Sensei?"

"Asal itu membuatmu senang lakukan saja."

Dipanggil sensei adalah sesuatu yang baru dan cukup lucu bagi Akutagawa, kemudian seolah-olah ingin merayakannya Dazai mengajak Akutagawa berlari. Mereka menghampiri sebuah stan. Permen apel Dazai berikan pada Akutagawa yang mengangguk pelan, membayarnya, hendak diberikan lagi kepada Dazai, tetapi berujung ditolak yang bersangkutan.

"Buat Sensei aja. Lagian aku kenyang."

"Mencobanya sedikit tidak masalah, 'kan?" Permen tersebut disodorkan kepada Dazai yang menggigitnya besar-besar, tersenyum lebar dan membuat tanda peace. Dibandingkan marah Akutagawa jelas tersenyum. Bahkan ini bukan lagi seperti Akutagawa menyembunyikan emosinya atau bagaimana, karena biasanya demikian.

"Orang tuaku enggak bisa menulis cerita kayak Sensei. Kira-kira kenapa, ya?"

"Kurasa tidak semua orang bisa menulis cerita. Dazai-kun sendiri bagaimana? Tertarik dengan dunia sastra?"

"Kalo sekarang kayaknya masih sulit. Makanya aku punya permintaan buat Sensei."

"Apa itu?"

"Hmm ... gini, selama ini aku ngerasa enggak punya cerita apa-apa. Beda sama temen-temen di sekolah yang sering cerita mereka jalan-jalan, makan bareng keluarga, atau cuma kumpul-kumpul di ruang tamu, tapi menarik banget bisa main banyak games sama nonton film. Sensei, kan, jago bikin cerita, bisa bikinin aku cerita kayak gitu enggak?"

Mendadak langkah Akutagawa terhenti, begitu pun napasnya yang terasa menggapai-gapai seolah-olah tak berada di mana-mana. Pandangannya terhadap Dazai buram, mengusut, terakhir mengabur, sebelum akhirnya pengelihatan Akutagawa menjelma hitam–kesadarannya masih ada, tetapi warna kuning dari festival itu hilang, dan Dazai ... Dazai ternyata adalah suara-suara mengerikan yang akhir-akhir ini menemani tidur Akutagawa.

"Masa Sensei tidak bisa menulis cerita? Jangan-jangan yang selama ini kau tulis bohong, ya? Bukan tulisanmu?"

Bo ... hong ...?

"Mahasiswa. Aku juga menulis beberapa cerpen."

Semua yang kutulis itu bohong?

Lalu tadi sapa yang berbicara? Jika bukan a–

"Sensei! Sensei!"

Panggilan dari Dazai memberikan sentakan keras untuk Akutagawa yang kesadarannya kembali sepenuhnya dengan cara menyakitkan. Seulas senyum yang seadanya Akutagawa berikan. Melangkah lagi sebelum memanggil-manggil Dazai, yang mengapa membeku seolah-olah melihat lebih dari hantu?

"Ayo kita jalan-jalan lagi, Dazai-kun. Tadi kepalaku hanya sedikit pusing, kok."

"Kenapa anak itu lahir bukan untuk mempermudahku?"

Memang benar, ya, Dazai itu menyusahkan siapa pun, makanya dia dibuang, 'kan?


"Yakin tidak mau membawanya ke panti asuhan?"

Kenangan tiga minggu lalu itu mengambang, sebelum remuk mengikuti lembaran kertas yang berseluncur pada udara, hanya untuk menunjukkan kegagalan memasuki tong sampah yang seolah-olah menyindir Akutagawa.

Tiga minggu lalu di Hokuryu, selain "menikmati" hura-hura festival dengan menyantap kakigori bertabur kacang merah, mereka pun menyaksikan bagaimana langit mendandani dirinya menggunakan jingga yang merona. Akutagawa tidak membawa Dazai ke pusat turisme lagi. Bergerak seakan-akan tahu Dazai dibuang orang tuanya, sengaja tak membahas, kemudian menaiki kereta menuju Tokyo–bunga matahari masih tampak mempercantik senja.

Sepulang dari Himawari no Sato ternyata sebuah kejutan ingin menemui Akutagawa, dan bentuknya adalah kehadiran Kan yang melongo, tatkala menemukan Dazai menundukkan kepala di samping Akutagawa–mula-mula Kan memuji imutnya Nak Dazai, tetapi di satu sisi Akutagawa masih 23 tahun.

Perjaka 23 tahun yang belum terlalu melebur dengan asmara, ditambah lagi masih terjebak dalam ambisi untuk lulus dari sastra Inggris.

"Begini, Kan ... aku merasa punya janji dengannya. Oleh karena itu, tidak bisa."

Kata "merasa" yang Akutagawa sengaja selipkan pada diksinya agak menggelitik Kan, sesungguhnya, akan tetapi ia hanya menepuk bahu Akutagawa untuk mengalihkan pembicaraan.

Sosok jangkung yang Dazai panggil "sensei" itu bahkan tak menyentuh bento yang Akutagawa suruh membelinya, selain terus-menerus meremukkan kertas yang tidak bersalah. Kenapa laptopnya dianggurkan? Bukankah orang dewasa lebih mementingkan menatap layar beradiasi tersebut lama-lama? Buktinya setiap Dazai mengintip ke dalam kamar ibunya, lalu ketahuan, tangan Dazai bakalan dijepit walaupun sudah memohon ampun.

"Sensei?"

Dazai pun ikut tidak menyentuh bento miliknya, selama Akutagawa juga demikian. Samar-samar keluarga yang benar-benar membuangnya itu tebersit lagi bahwa Dazai memiliki banyak adik serta kakak, tetapi satu per satu kakaknya dibuat hilang kala menginjak usia delapan belas. Hanya Dazai yang ditelantarkan sangat cepat. Meskipun sekarang ini ia bebas mempertanyakan eksistensi saudara-saudaranya, Dazai justru enggan ketika mempunyai kesempatan.

"Sensei." Kali ini ia memberanikan diri menepuk bahu Akutagawa, dan seribu beruntung yang dituju menengok. Bento milik Akutagawa diberikan padanya. Tepukan lembut dari Akutagawa selalu menyenangkan, ketika akhirnya Dazai tahu tangan bukan sekadar untuk makan, minum, atau memukul menggunakan rotan yang diangkat tinggi-tinggi.

Tentu saja Dazai enggan, karena ia sudah tinggal bersama Akutagawa yang baik hati. Di luar rumah bergaya tradisional ini kembang api meletup-letup riang. Dazai kembali berinisiatif mengajak Akutagawa menontoninya di beranda, membuat senyuman yang mekar menjadi kata-kata; kebahagiaan yang bisu dari Dazai–warna-warni, meriah, betapa singkatnya ... namun, dapat dinyalakan lagi keindahannya yang rasa-rasanya menyederhanakan Dazai di mata Akutagawa.

"Di dekat sini ada festival kecil-kecilan. Mau ke sana?"

"Enggak perlu, Sensei. Gimana kalo ngobrol-ngobrol aja di sini?"

"Boleh. Kebetulan aku ingin istirahat."

Atau lebih tepatnya Akutagawa kabur lagi dari apa yang ia tulis, mengingat selama tiga minggu itu pun Akutagawa cenderung menolak diksinya sendiri. Teh hijau dalam botol kemasan Akutagawa teguk usai menghabiskan bento. Biru matanya menerawang pada malam yang jauh. Tiada purnama, bintang gemintang, ataupun angin musim panas yang kering yang biasanya mesra dengan nyanyian jangkrik.

"Kok Sensei suka pake kimono?" Di pertemuan pertama mereka Akutagawa memakainya, ternyata besok serta besoknya lagi juga, sedangkan ketika tidur diganti menjadi yukata. Akutagawa tampak berpikir. Pertanyaan tersebut pun baru pertama kali ia dengar.

"Entahlah. Dari dulu sudah begini."

"Terus Sensei itu menulis buat siapa? Dikirim ke majalah?"

"Kurasa untuk seorang teman. Aku juga bingung bagaimana menyebutnya."

Anggukan diberikan menandakan Dazai paham. Lagi pula mana bisa Akutagawa bilang, jika ingin diberikannya kepada Dazai seperti permintaan anak itu. Dia ingin dibuatkan sebuah kisah, bukan? Bahkan setelah Akutagawa lebih banyak membuang kertas dibandingkan mempertahankannya, Dazai tak berkomentar membuat Akutagawa ingin percaya sekali lagi, dirinya masih mampu menanggung pena-nya.

"Menulis apa? Kali aja aku bisa bantu."

"Warna musim panas yang kulihat bersamanya. Kira-kira begitulah temanya."

"Hmmm ... berarti kayak kembang api, dong? Aku lagi suka banget sama itu."

"Anak-anak memang menyukai kembang api, 'kan?" Banyak yang memainkan itu di luar rumah, dan harusnya Akutagawa menyuruh Dazai sering-sering bergabung, ya, daripada berdiam di rumah peninggalan leluhur Akutagawa yang membosankan? Tahu-tahu Akutagawa merasa senyumannya sendu. Benar sekali kata Kan ia masih 23 tahun.

"Pas aku melihat kembang api bareng Sensei, aku jadi berpikir meskipun kembang api itu singkat, tapi bisa diciptakan berkali-kali keindahannya."

Dengan cerita mengenai Dazai yang tidak pernah diajak ke festival, dan dia dibenci seisi sekolah gara-gara pernah sengaja menjepit tangan temannya menggunakan pintu, Dazai melanjutkan perbincangan dihias teriakan petasan yang dibunyikan anak-anak lain. Orang tuanya sibuk bekerja. Pada akhirnya pula Dazai menceritakan soal kakak-kakaknya yang seperti lenyap secara berurutan. Setiap Dazai bertanya pun ia langsung layak memperoleh tamparan.

"Cepet atau lambat aku pasti mengalami hal serupa, dan, ya ... aku enggak peduli bagaimana nantinya, ataupun memikirkan nasib adik-adikku."

"Saat ditemukan oleh Sensei aku juga enggak tau kenapa nangis, tapi kayaknya meski aku bilang enggak peduli, dibuang pas lagi jalan-jalan malah lebih menyakitkan daripada langsung dibuang." Padahal Dazai pikir ia bisa dimaafkan oleh teman sebangkunya yang pernah Dazai jepit tangannya jika memberikan oleh-oleh, tetapi mereka bahkan mustahil bertemu lagi.

"Jika aku menikah nanti apa diriku akan seperti orang tuamu, ya?"

Tidak hanya membuang, di mana lebih kejam lagi sewaktu Akutagawa membayangkan ia meninggalkan istri beserta anak seumuran Dazai, atau bahkan usianya di bawah itu. Rokok yang menjadi menit dan detik Akutagawa pun bisa saja membunuh jikalau ia bertahan, sehingga memang tiada baik yang akan tersisa–mungkin andaikata menjadi kenyataan, Akutagawa berjanji pasti menyisakan warisan sesedikit apa pun, supaya bisa dihargai.

Agar anaknya tidak perlu dibuang seperti Dazai, karena Akutagawa tak bisa mengubah hati istrinya lagi apabila ia benar-benar di surga, ataukah neraka?

Di atas langit yang apakah masih biru, jingga, atau gelap, jika Akutagawa melihatnya dari atas juga setelah kematiannya, ia akan menyaksikan keluarganya menanggung keputusaaan yang lebih besar sekaligus berat, dibandingkan nominal yen yang Akutagawa wariskan.

Penderitaan manusia bukanlah angka-angka. Meninggalkan warisan pun mungkin Akutagawa tetap terkesan tidak memberikan apa-apa. Pada ujungnya yang ia berikan pasti hanyalah neraka yang menyeret anak beserta istrinya, dan mereka pasti enggan walaupun dibakar oleh ayahnya sendiri.

Menikah nanti haruskah Akutagawa menjadi orang lain? Bahwa selama orang-orang dalam keluarga mungilnya menanggung marga "Akutagawa" bahagia-bahagia saja, walaupun sekadar tersisa kecerahan yang tidak pernah pasti dalam rumah sekecil kehidupan, maka tidak apa-apa, kah, andaikata istri dan anaknya tak pernah melihat Akutagawa yang sebenarnya?

Sekalipun Akutagawa hanya bisa mencurahkan cinta dibandingkan kekayaan melimpah. Sekadar terus berjanji berusaha melayakkan diri sebagai ayah yang baik. Benarkah boleh seperti itu asalkan tiada yang menyesal telah menjadi satu keluarga? Namun, bukankah anak serta istrinya justru akan sangat kesakitan, karena suatu hari nanti mengetahui Akutagawa selama ini banyak berpura-pura?

Memikirkannya benar-benar membuat Akutagawa pahit, walau pemuda berumur 23 tahun mungkin hanya melupakan pemikiran-pemikiran ini secepat festival musim panas meredup, dan mengenangnya lagi sepuluh tahun kemudian, mungkin?

"Baru tiga minggu aku mengenal Sensei. Namun, aku yakin ditinggal oleh orang sepertimu bakal lebih menyakitkan lagi."

"Baiknya memang tidak menikah, ya, sepertinya? Anakku nanti juga tak meminta dilahirkan oleh istriku, dan karena aku menjadi ayah yang lemah dia bertambah kesulitan mencintai dunia."

"Lemah gimana? Sensei itu kuat, kok! Ketika yang lain mengabaikanku hanya Sensei yang berani menghadapiku, lalu yang kusukai darimu adalah Sensei gak pernah nanya soal keluargaku."

"Mungkin ini berlebihan, tapi karena Sensei gak pernah nanya, aku ngerasa jadi keluargamu. Makanya dibuang pun aku juga ngerasa beneran enggak apa-apa akhirnya," sambung Dazai cepat. Tanpa langit pun mungkin Akutagawa dapat melihat bintang setiap hari, asalkan mata Dazai setia menemukan Akutagawa.

"Tapi aku memang lemah, Dazai-kun. Kau tahu? Sebenarnya akhir-akhir ini aku tidak bisa menulis cerita apa pun. Rasanya seperti tak ada yang benar-benar ingin kutulis. Namun, karena aku adalah penulis dan orang-orang menunggu karyaku, hal tersebut tak boleh sampai diketahui, 'kan?"

Termasuk pula tak diketahui Dazai, tetapi karena cerita kehidupan bocah itu menggerakkan hati Akutagawa, ditambah Dazai adalah anak baik, maka akhirnya Akutagawa jujur. Perasaan lelah tersebut kian lengket dengannya semakin banyak ia menulis, dan cerita-ceritanya sendiri melihat Akutagawa sebagai sesuatu yang tak ingin ada, begitu pun Akutagawa yang selalu merasa, "Bukan ini yang kuharapkan". Semakin berat akibat pembacanya justru menyukainya.

Bahwa Akutagawa pun lelah dengan gaya menulisnya yang membuat ia berkarya sebagai Akutagawa Ryuunosuke, lalu ingin mengganti hal tersebut karena merasa tak mampu lagi memberikan rasa seorang Akutagawa Ryuunosuke, tetapi senantiasa diurungkannya jua agar tiada yang kecewa.

"Sahabat baikku, Kan, menawarkanku jalan-jalan ke Hokuryu, supaya aku bisa menenangkan pikiran. Nyatanya hal tersebut kuterima untuk melarikan diri saja. Tadi pun aku mengajakmu ke festival dekat rumah, karena merasa tak sanggup."

Apa yang ingin Akutagawa tulis ialah karya seperti milik Shiga Naoya, dan ucapannya mengenai, "Semua karyaku tidak akan bisa dibandingkan dengan satu karya milik Shiga-san", menurut Dazai hiperbola. Selama Akutagawa sibuk memutari isi pikirannya Dazai membaca cerita-cerita Akutagawa, membuat Dazai beranggapan perasaan luar biasa sewaktu menyimak suatu kisah hanya dapat dirasakan sekali.

"Saking lelahnya juga aku sering kali berbicara dengan diriku sendiri. Kan memang baik, tetapi kami beda kampus dan letaknya jauh. Ada juga Kume, walaupun ... ya ... membuat mereka khawatir juga enggak baik."

"Setidaknya jika aku memiliki seseorang yang merupakan diriku sendiri, akan ada yang menerima semua pemikiranku tanpa perlu berselisih. Malah jika bisa, aku ingin dicekik saat tidur saja oleh diriku sendiri yang lain itu. Dia pasti sanggup melakukannya."

Hening kembali menyambut. Sorak-sorai anak-anak yang menyulut petasan sudah reda, entahlah melanjutkan ke festival atau pulang ke rumah. Gelagat Dazai tampak membatu seumpama patung. Kelihatannya Akutagawa terlalu berlebihan, meskipun secara tidak langsung ia sengaja.

"Tentang Sensei yang menciptakan dirimu sendiri itu aku gak ngerti, sih, atau soal Sensei yang gak bisa nulis make gayamu sendiri. Bukannya harusnya bisa, ya? Gayamu sendiri soalnya. Namun, ada sesuatu yang aku ketahui."

"Apa itu?"

"Pembaca itu kalo dipikir-pikir kayak orang tua, ya," ucap Dazai serius, laiknya entitas berumur senja yang telah menjadi asam pahit kehidupan itu sendiri. Akutagawa mengerjap-ngerjap. Sekarang ini Dazai merasa paling keren dari seluruh orang.

"Beberapa temenku cerita mereka diatur sama harapan orang tuanya. Harus jadi ini, itu, atau nantinya kecewa, dan pembaca Sensei itu kayak orang tua yang ngerasa berhak ngatur."

"Penulisnya malah kayak anak, ya."

"Tanpa pembaca Sensei emang bukan apa-apa, tapi tanpa Sensei juga pembaca bukan pembaca. Mereka bukan pembaca Rashomon kalo Sensei gak nulis itu. Mana tau juga bakalan ada kisah sehebat Rashomon."

"Dibandingin ngatur-ngatur Sensei soal gaya menulismu, bukannya lebih baik mereka nerima apa adanya? Bisa baca karya yang hebat itu kesempatannya jarang soalnya, atau malah sekali seumur hidup."

Rumah yang meninggalkan dan ditinggalkan oleh Dazai pun setidaknya memiliki satu kenangan paling membekas, berupa rak-rak buku yang bergandengan setiap saat yang meskipun berdebu, selalu bersinar ketika Dazai membuka kertas-kertasnya yang tak pernah dimakan waktu.

Ratusan kisah merenggut imajinasi Dazai, lalu ketika buku dikembalikan semua yang dirasakannya mekar sekaligus berhamburan. Dazai yakin sudah membaca banyak, tetapi hanya kisah-kisah Akutagawa yang membawanya meliar, dan perasaan tersebut bukankah tak aneh kalau anak-anak memilikinya juga?

Ia seolah-olah dibawa kepada Akutagawa Ryuunosuke itu sendiri, berbincang dengannya, padahal Akutagawa yang asli tengah mengisolasi diri. Karena Akutagawa pula Dazai bisa menyukai kalimat, bahkan satu kata secara spesial berkat Akutagawa yang menulis selaku Akutagawa. Jika ia ingin seperti Shiga nanti tak ada yang berkarya sebagai Akutagawa, terus Dazai sedih yang sekarang pun sudah sedih, sebenarnya.

"Sewaktu aku mengatakan tidak bisa menulis dengan gayaku lagi, mungkin sudah tak merasa cocok. Aku hanya takut mereka berhenti mengenaliku sebagai Akutagawa Ryuunosuke lagi."

"Tetep gak ngerti. Habisnya yang nulis Sensei juga. Kalo mereka berpikir yang nulis bukan Akutagawa-sensei lagi, dan Sensei dibuang, enggak apa-apa, kok, Sensei juga berhak memilih pembacamu sendiri."

Tiada seorang bayi pun yang dapat memilih dari rahim siapa mereka dilahirkan, dan jika suatu hari nanti masa depannya adalah manusia sampah yang dibuang, Dazai merasa seseorang itu, termasuk pula dia, berhak menunjuk siapa yang akan mencintainya ketika sudah diabaikan keluarga; tulang rusuknya sendiri yang sayang sekali Dazai tiada merasa demikian.

Akutagawa juga begitu. Pembacanya boleh saja membuangnya, dengan menghinanya sebagai sosok yang bukan Akutagawa Ryuunosuke. Namun, ia memiliki sahabat-sahabatnya–orang-orang yang bahkan tak sekadar membaca karangan Akutagawa, melainkan mengikuti kisah sesungguhnya, apalagi sekarang ini bertambah satu yakni Dazai.

"Sama, Sensei, kebetulan aku punya quote yang keren! Di internet aku baca yang bisa menghargai karyamu hanyalah dirimu sendiri, tapi kalo misalnya penghargaan atas nama Sensei diciptakan, terus aku ngikut dan pengen banget menang, cuma kalah, kurasa aku enggak bisa menghargai karyaku sendiri lagi."

Tangan Dazai mengibas-ngibas seolah-olah ingin mengusir mimpi buruk tersebut. Memberikan contoh yang berkebalikan seperti itu Akutagawa tertawa kecil. Dazai sempat memprotes dengan cemberut, walau sebentar sekali tatkala menemukan kunang-kunang menarikan cahaya.

"Kau anaknya memang lucu, ya." Lalu cemberut lagi, tetapi selama tiga minggu kurang diperhatikan mungkin Dazai memang memiliki banyak garis lengkung yang turun, sehingga Akutagawa sedikit merasa ingin bertanggung jawab untuk memperbaikinya.

"Keren juga, kok."

"Beneran?" tanya Dazai dengan alis naik sebelah. Sok bertanya seperti itu pun, hati Dazai sebenarnya melompat-lompat sampai ingin meletup mengikuti nasib kembang api.

"Iya."

"Coba bilang sekali lagi." Telunjuk Dazai membentuk angka satu dengan menggemaskan. Seolah-olah belum cukup Akutagawa mengangguk yang langsung disambung, "Ya", mendorong Dazai berseru, "YES!" yang mendapatkan pelukan–benar-benar sebuah kejutan yang bahkan menarik para kunang-kunang agar mendekat.

"Terima kasih, Dazai-kun. Aku yakin bisa menuliskannya sekarang."

Memang Akutagawa pun tidak akan pernah bilang bahwa ia juga berterima kasih, karena Dazai serius menganggap yang membenci perubahannya itu nanti ada. Ketika Kan diajaknya berbicara Kan sekadar berkata Akutagawa terlalu banyak berpikir, menasihati agar jangan berkhayal yang buruk-buruk menggunakan diri sendiri sebagai modelnya, dan mungkin benar, tetapi masih sulit memercayainya, selain menerimanya dengan sangat menyakitkan.

"Orang yang menerimanya nanti pasti suka, kok."

Ya. Dia adalah warna kuning yang juga Akutagawa sukai, dan dia bisa menulisnya, selama yang membacanya Dazai itu sendiri.


Tamat.


A/N: Maafkan saia untuk memberikan fic yang sepertinya buruk ini. aku gak mau ngomong apa2 soal fic ini. ngejelek2in fic sendiri di author note kurasa bukan tindakan yang baik. tapi lain waktu aku mungkin pengen bikin kayak, "orang2 bilang ceritaku bagus, apa mereka meremehkanku dengan memberikan pujian palsu atau gimana?". ide fic ini sendiri diambil dari referensi eps 10 BTA, karena ya ... gitulah. aku pilih fandom ini karena paling relate aja ama dunia tulis-menulis. aku pengen ucapin terima kasih buat kalian yang udah sempet2in baca, fav, follow, bahkan review. buat selanjutnya aku gak tau gimana, tapi .. moga aku gak melampiaskan sesuatu lagi ke sebuah fic.