Para Officer dan Executive Phoenix yang melaksanakan operasi penyelundupan atau lebih tepatnya Operasi yang dicanangkan oleh Four—rencana yang ia buat untuk menjadi mata – mata di pihak Sunyoung—saat ini masih berada di posisi mereka yang sejak semalam mereka singgah. Menunggu didalam mobil yang terparkir di salah satu bukit yang terletak cukup tinggi dan menjangkau guna mengamati keberadaan rumah Sunyoung berada. Irene, Kris, Kai dan juga Sehun masih menunggu didalam mobil dan dalam posisi tertidur lelap, sementara Four, pria itu belum kembali dari rumah Sunyoung sejak semalam.

Irene menjadi orang pertama yang terbangun, mengingat semalam ia tidur dalam posisi duduk di dalam mobil yang sempti menjadikan dirinya mengeluh pada otot – otot badannya yang terasa kaku. Ia membuka pintu dan beranjak keluar dari kursi penumpang depan mobil dan lekas melakukan peregangan untuk sesaat, dan beberapa menit kemudian, perhatiannya kembali disiagakan melihat keadaan sekitar dimana mobilnya berada dan juga mengambil teropong miliknya untuk memeriksakan keadaan rumah Sunyoung.

"Ahhhh—astaga badanku."

Irene sontak kaget mendengar suara yang terdengar dan itu adalah suara Willis, Sehun, orang kedua yang terbangun diantara mereka. Pria itu menguap lebar dan meregangkan badan bersamaan tanpa peduli pada Irene yang tengah sedikit jijik memperhatikannya.

"Dia belum kembali?" Sehun menanyakkan, matanya masih tertutup dan kedua tangannya bahkan mengusap matanya berulang kali.

Irene menggeleng tanpa ia sadari. "Belum ada kabar, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang ia lakukan semalaman disana." Sinis, dan dingin adalah apa yang bisa disiratkan dari nada ucapan Irene. "Aku mulai memikirkan jawaban apa untuk diberikan pada Lady bila ia menanyakkan mengenai apa yang kita lakukan saat ini.

"O—oh." Sehun membeo.

"Kau tidak memikirkannya kan? Tentu saja." Irene merendahkan dirinya.

"Cih." Sahutan dari Sehun. "Ngomong – ngomong, bagaimana kita memberitahu Chanyeol untuk pulang?"

Irene tidak membalasnya langsung, wanita itu tengah memperhatikan keadaan sekitar rumah Sunyoung, mencari tanda – tanda kehadiran Chanyeol keluar dari kediaman itu. "Apa dia tidak menghubungi ponselmu? Sejak kemarin malam ia sudah mematikan sambungan komunikasi kita, satu – satunya cara adalah hanya dengan menelepon."

Sehun menggeleng, "Belum ada panggilan darinya." Tangannya membuka ponsel miliknya dan melihat daftar panggilan disana yang tidak menerterakan nama Chanyeol atau Four. "Tidak mungkin dia langsung kembali ke safety house kan—"

"Hoooaaaaamm!"

Irene menggelengkan kepala mendengar suara menguap yang berasal dari mulut Kai, Jongin. "Tak bisakah temanmu memiliki sopan santun sedikit?"

"..Ya—Chanyeol belum kembali?" Jongin sudah bergabung berdiri di sebelah Sehun, merangkul pria yang memiliki tinggi hampir sama dengannya dan masih mengusap salah satu matanya.

"Ya Kim Jongin! Tak bisakah kau terlihat lebih gentle sedikit, aku wanita disini, cobalah menunjukkan sisi tampan dan kerenmu—oh astaga! Muka bantalmu sungguh jelek!" Irene menunjuk kearah wajah Jongin, sedangkan Sehun tertawa kecil disana dan Jongin menjulurkan lidahnya pada Irene.

"Ya! Kau itu tidak dianggap wanita disini." Sahutannya sebagai balasan terhadap Irene dan pukulan telak diterima olehnya sebagai balasan dari Irene.

"Katakan itu sekali lagi maka aku bersumpah akan menjadikanmu bantalan tinju—

"F-four!"

Sontak Irene dan Jongin terdiam dan menoleh pada sosok yang dipanggil oleh Sehun secara tiba – tiba. Four sudah kembali bergabung dengan mereka, penampilannya sedikit berantakkan dibandingkan semalam sebelum ia masuk dalam kediaman Sunyoung dan Irene memiliki pemikiran dan bayangan tersendiri mengenai apa yang dilakukan oleh Chanyeol semalam.


FOUR


"Lady sudah mencari kita, dan aku yakin ia akan menanyakkan mengenai masalah ini. Aku butuh jawaban dari apa yang kau lakukan semalam." Irene membuka pembicaraan setelah hampir beberapa menit belakangan kondisi mobil yang mereka naikki saat ini diselimuti keterdiaman. Kris dan Irene berada di kursi depan, dan Kris adalah sosok yang menjadi pengemudi saat ini, sementara di kursi belakang, Sehun terapit oleh Jongin dan Chanyeol.

Pernyataan yang diucapkan oleh Irene didengar oleh semuanya kecuali Chanyeol, pria itu masih menyandarkan kepalanya pada jendela sedari tadi dengan mata keduanya tertutup rapat.

"Aku tahu kau tidak tidur, dan aku benar – benar menuntut jawaban. Komunikasimu terputus setelah kami mendengar bunyi perpaduan bibir dan juga lenguhan wanita sialan itu, jadi cepat jelaskan sebelum aku semakin memikirkan hal yang menjijikan yang sudah kau lakukan!" ucapan wanita petinggi Phoenix terdengar tegas, cepat diucapkan dan dengan nada dingin yang ia keluarkan tentu berhasil membuat ketiga pria disana meneguk liur dengan susah payah.

Nyatanya, Chanyeol masih tidak memperdulikan apa yang Irene ucapkan.

"Berhenti."

Kris menoleh, mempertanyakkan keseriusan dari ucapan Irene.

"Aku. Bilang. Berhenti." Dan pengulangan serta penekanan dari kata – kata yang Kris dengar setelahnya ia yakinkan perintah yang tidak bisa ia abaikan. Kedua penumpang yang duduk dibelakang mulai berbisik – bisik dan Sehun adalah bungsu yang penurut, ketika Jongin membisikkan dirinya untuk membangunkan Chanyeol, ia lekas melakukannya. Menarik – narik kemeja Chanyeol dan juga menggerakkan sikunya untuk menggoyangkan tangan Chanyeol.

Mobil mereka berhenti tepat di pinggir jalan Pusat kota dan tentu saja lahan yang mereka gunakkan memanglah diperuntukkan untuk kendaran terparkir disana. Kris telah keluar dari dalam mobil dan berdiri tepat di depan mobil mereka dengan berakting mengeluarkan sebungkus rokok dan juga membakar satu batang untuk ia nikmati, Jongin dan Sehun ikut keluar dan mereka berdua berakting hal yang sama dan bersandar di bagian mobil.

Yang tersisa hanyalah Irene yang masih duduk sempurna di kursi depan, dan Chanyeol yang masih bersandar dengan kedua matanya yang tertutup sempurna.

"Apa yang kau rencanakan setelah ini?" suara Irene lebih merendah dibandingkan sebelumnya. "Apapun yang kau ketahui dan kau rencanakan akan lebih baik untuk dibicarakan bersama, Phoenix tidak pernah beroperasi seorang diri. Kau harus tahu itu. Dan apa perlu aku ingatkan kembali mengenai status-mu sebagai pemimpin tertinggi selain Lady?"

Irene mengucapkan sederetan kalimat itu tanpa sedikitpun menoleh melihat apakah Chanyeol mendengarkan apa yang ia ucapkan atau tidak.

"Aku tahu kau memiliki tujuan untuk membalaskan dendam lebih dulu pada Sunyoung, tapi kita juga memiliki tanggung jawab lain saat ini. Kita membawa masuk Baekhyun kedalam lingkaran Phoenix, anak itu juga memiliki dendam terhadap Sunyoung dan agar ia bisa membalaskan dendamnya, anak itu harus siap menjadi anggota Red. Ia harus dilatih dan yang bisa melatihnya hanyalah dirimu."

Lagi, Irene berucap seorang diri, berbicara pada Chanyeol yang masih menyandarkan kepalanya pada jendela—namun kini matanya sudah terbuka sedikit, berkedip menatap pertokoan yang ada didekat mobil mereka berada.

"Kalau kau menanyakkan mengenai masalah kenapa harus dirimu yang melatih Baekhyun, jawabannya adalah simple. Dia menganggapmu sebagai Chanyeol-nya, jadi mungkin dia akan bisa memahami apa yang diajarkan untuknya. Kedua, dia memiliki alter ego dan sisi liarnya menyukaimu, begitu pun sisi baiknya, jadi kalian adalah pasangan sempurna. Selain itu, kau adalah paket complete bila menyangkut masalah melatih anggota, ya 'kan?"

Senyum mengejek Irene berikan ketika wajahnya menoleh kebelakang dan bertatapan dengan Chanyeol yang sepenuhnya terbangun dengan wajah datar dan dinginnya.

"Kau bahkan terbangun ketika aku membicarakan anak itu, hm." Senyuman lain terbentuk kembali diwajahnya.

Chanyeol membalas dengan memutar bola matanya, bergerak malas dan acuh tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh Irene. "Mereka akan merekrut anggota." Alih – alih ia berucap membalas pernyataan yang dikatakan oleh Irene sebelumnya dan sudah pasti bukan pada bagian dimana wanita itu membicarakan Baekhyun. "Sunyoung sudah memperkirakan Yoora tidak akan mengambil alih Phoenix dan dia berniat merekrut beberapa anggota dari kelompok Mafia yang sudah ada, termasuk Phoenix."

"T-tidak bisa.. kalau mereka merekrut beberapa anggota kita itu akan—

"Aku sudah memikirkannya, mau tidak mau kita ikuti permainannya. Dia menginginkan anggota, kita lihat seberapa banyak yang bisa ia dapat." Chanyeol terlihat serius ketika mengatakannya dan Irene tahu bahwa saat ini yang tengah berbicara dengannya adalah Four, bukan Chanyeol.

"Kita akan memperingati anggota lainnya dan juga para Godfathers mengenai ini. Semakin banyak yang memahami tujuan kita, semakin menjamin rencana yang kita miliki berjalan lancar."

"Tidak semua hal mereka harus ketahui, mereka mungkin teman tapi ada masanya mereka akan berkhianat."

Chanyeol tersenyum kecil diawalnya, "Aku sudah tahu akan hal itu, kau cukup memperhatikan dan menyaksikan hingga akhirnya."

Irene tercengang dalam diamnya.

"Dan untuk Baekhyun, aku serahkan pada kalian. Aku tidak mau mengurusi hal – hal macam itu lagi. Serahkan pada Red—atau mungkin kau—Kris atau yang lainnya yang melatih dirinya—ah—tidak ada penjelasan lagi." Chanyeol memberikan telapak tangannya pada Irene ketika wanita itu hendak memotong ucapan Chanyeol. "Kita pulang, sebelum Yoora mulai berteriak membangunkan seisi safety house."

Irene mengangguk, senyuman kecill terlihat diwajahnya dan dengan cekatan ia memanggil ketiga pria lainnya yang menunggu diluar, tanpa ada penjelasan panjang mengenai apa yang dibicarakan sebelumnya, ia memerintahkan Kris untuk membawa mobil itu melaju kencang menuju kediaman mereka saat ini.

.

Safety House

.

"Tidak ada yang melihat mereka pergi? Bahkan Minseok juga tidak tahu? Itu adalah hal yang mengejutkan jika seorang Minseok tidak tahu kemana perginya para Phoenix, Panggilkan dia untuk datang keruanganku sekarang."

Luhan menunduk pamit undur diri dan juga menunjukkan kepatuhan menerima perintah dari sang Lady yang tengah duduk disofa dalam ruangan yang ia tempati saat ini. Ruangan kerja yang menjadi ruangan pribadi miliknya, dan tanpa ia sadari sikap dan segala tutur katanya jelas menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang harus dihormati dan disegani bagi siapa saja disana.

Wajahnya masih menampak kelembutan dari sifatnya, ia duduk seorang diri dengan menatap laporan dari berbagai anak perusahaan dibawah naungan Park Group dan juga laporan mengenai perkembangan organisasi dimana ia pimpin. Ketukan pintu terdengar berbunyi tiga kali dan Yoora mengijinkan siapa saja disana untuk masuk kedalam ruangannya.

"Oh, Minseokkie." Yoora menyapa, beranjak berdiri dan menunjuk sofa dihadapan sebagai tempat untuk Minseok duduki.

Wanita berbadan sigap itu membungkuk dan masih tetap dalam posisinya berdiri menghadap ke sang Lady.

"Aku mengijinkanmu untuk duduk, jadi duduklah.." Yoora mengatakan padanya.

"Baik Lady, maafkan aku." Minseok menunduk dan dengan perlahan memposisikan dirinya duduk dengan sopan.

Yoora tersenyum sebentar, "Aku mencari para petinggi Phoenix, kedua Officernya dan juga mobil pribadi milik Kris." Dan ia memulai menjelaskan maksud dari panggilan yang ia lakukan pada Minseok. "Apakah kau mengetahui mereka kemana? Adikku ikut serta dengan mereka semua dan itu bukanlah pertanda baik."

Minseok menatap Yoora sebentar dan menunduk kembali. "Maaf Lady, aku tidak tahu mengenai kemana mereka pergi, karena semalam aku hanya mendengar mereka akan makan malam bersama untuk merayakan sesuatu hal—

"Hm, bisa kau lacak kemana perginya mobil Kris? Sekarang." Yoora tersenyum dingin dan Minseok seharusnya sudah paham bahwa itu adalah perintah dalam keadaan darurat dan harus segera ia laksanakan.

"B-baik Lady." Melupakan mengenai membungkuk hormat sebagai tanda undur diri, Minseok bergegas keluar dari ruangan dan mencari tim pelacak demi menjalankan perintaH dari Sang Lady di pagi hari ini.

Agenda kegiataan Yoora pagi ini kembali berlanjut, selain mencari keberadaan para Executive da Officer Phoenix yang menghilang tanpa kabar semalam, kegiataan lainnya adalah memberikan sedikit pengarahan pada Baekhyun sebelum anak itu melakukan pelatihan berikutnya. Luhan masuk kembali kedalam ruangan Yoora selang beberapa menit Minseok pergi.

"Lady." Luhan membungkuk lagi,

"O-oh, apakah ia sudah bangun?"

Kata ia yang diucapkan jelas menunjukkan seseorang dan Luhan tentu tahu siapa yang dimaksud oleh Yoora dalam kalimatnya.

"Sudah, my Lady. Ia baru saja selesai bersiap dan kini sudah bergabung dengan yang lainnya di ruangan makan."

Yoora mengangguk, "Baiklah, kita menuju kesana."

...

Sebesar apapun bangunan pada Safety House yang ditempati saat ini akan terlihat sesak bila semua yang tinggal disana berkumpul dalam satu ruangan di waktu bersamaan. Ruangan makan adalah tempat berkumpul mereka untuk pertama kali sejak kedua organisasi itu bergabung dan tinggal bersama. Phoenix bisa digambarkan sebagai orang – orang yang serius, tegas dan terkadang mengintimidasi—bisa dilihat saat ini para anggota Phoenix lebih dulu memenuhi ruangan makan dan mengisi hampir separuh ruangan makan, setelan formal berwarna hitam dikenakkan oleh semuanya berbeda dengan beberapa anggota Red yang mengenakkan setelan casual atau bahkan masih ada beberapa diantaranya yang mengenakkan setelan training olahraga.

Dan satu orang merasa bingung kini berdiri di depan pintu ruangan makan dengan matanya mencari satu tempat kosong yang bisa ia gunakkan untuk duduk dan menikmati waktu sarapan paginya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Baekhyun melonjak kaget hanya karena mendengar suara rendah yang tiba – tiba terdengar disamping wajahnya. Itu adalah Chanyeol yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya, berdiri tegap memperhatikan dirinya yang jelas terlihat jauh lebih pendek dari tinggi pria itu.

"A—a—aku.."

"Minggir, kau menghalangi jalan." Chanyeol menggeser badan Baekhyun dengan seenaknya dan ia kembali melanjutkan langkahnya, tanpa mengatakan apapun lagi. Beberapa anggota Phoenix yang melihat sempat menunduk hormat sementara bagi para anggota Red, melihat penampilan Four saat ini adalah pemandangan pagi yang luar biasa.

Baekhyun menggigit bibirnya dan perlahan – lahan ia melangkah masuk, merasakan beberapa pandangan mata mungkin sempat memperhatikan dirinya saat melangkah dan hal yang bisa ia rasakan adalah perasaan asing. Beruntungnya ia bisa duduk pada salah satu meja yang masih kosong, beberapa menu sarapan sudah tersedia pada meja masing- masing dan Baekhyun sempat memperhatikan yang lainnya mulai memakan apapun yang ada disana tanpa rasa ragu, namun ia belum mau memulai ikut memakan seperti yang lainnya.

Pandangan matanya masih memperhatikan tingkah laku setiap orang disana, bagaimana anggota Red mulai berkumpul bersama, berbincang dan menyantap sarapan bersama, sementara para angota Phoenix juga melakukan hal yang sama. Dan perhatian Baekhyun terputus karena kini dihadapannya tengah dihadapkan oleh seseorang wanita yang sudah ia kenal sebagai Executive Phoenix, Irene.

"Kenapa kau duduk seorang diri?" Irene mulai bersuara, duduk dihadapan Baekhyun dan mulai mengambil satu per satu makanan yang sudah tersediadi meja itu. "Kau harus terbiasa, duduk, bergabung dengan yang lainnya, sarapan bersama, dan kemudian berlatih."singkat penjelasan Irene ucapkan tanpa melihat kearah Baekhyun yang tengah gugup dihadapannya.

"Haaa.. untung saja Lady belum terlihat diruangan ini." Dan sosok lain bergabung. Salah satu Executive Phoenix, dan Baekhyun mengenalnya sebagai Ace. "Hai Baekhyun, selamat makan." Kris menyapa dan mulai menyantap makanan yang sudah ia siapkan sejak Baekhyun memperhatikan dirinya duduk disebelah Irene. "Menurutmu, siapa saja yang bisa menjadi coach bagi anggota Red yang baru?" pertanyaan itu ditujukan bagi Irene disebelahnya.

"Sudah jelas Four adalah pilihan utama, mungkin dirimu juga bisa, Minseok dan aku mungkin akan membantu sedikit. Anggota baru hanya sekitar emapt orang termasuk Kyungsoo Jenderal belum memasukkan semuanya, dan perlu diingat, keempat orang itu adalah wanita jadi lupakan pikiran kotormu saat melatih mereka." Irene berucap santai bermaksud menggoda Kris dan mereka tertawa bersama setelahnya melupakan seseorang dihadapan mereka yang masih duduk termangu mencoba mencerna apa yang keduanya bicarakan.

"Yo Ace! Four ingin barbeque malam ini." Sosok lain bergabung, itu adalah Kai yang tiba – tiba bergabung, membawa piring makanan dan langsung duduk tepat disebelah Baekhyun tanpa menyapa gadis disebelahnya itu. "Aku dan Sehun akan berbelanja—Minseok juga setuju." Jongin masih melanjutkan pembicaraan topik yang ia mulai sedari tadi.

"Dalam rangka apa?" Irene merespons. "Ia harus meminta ijin pada Lady—

"Hm—lihatlah, dia sedang merayu Lady." Jongin meminta Irene melihat kearah dimana Four tengah kini berdiri berhadapan dengan Lady dan mereka terlihat permbincangan serius disana.

"Kita berpesta!" Jongin berucap lantang seorang diri dan setelahnya pria itu menyuapkan satu sendok makan masuk kedalam mulutnya tanpa rasa aneh sedikitpun hingga pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Baekhyun yang entah mulai kapan memperhatikan apa yang Jongin lakukan.

"Uhuk—huks—hukss."

"YAAAA!" Kris berteriak mendapati wajahnya dipenuhi oleh semburan nasi dan berbagai macam campuran sayur dan daging yang disemburkan oleh Jongin secara tidak sengaja hanya karena ia bertatapan dengan Baekhyun kurang dari satu menit.

"Maaf Hyung.. maaf.. aku tidak sengaja." Ucapan minta maafnya berulang kali ia ucapkan dan tangannya dengan sigap membersihkan semua semburan yang ia tumpahkan disana. Kris tentu saja langsung beranjak pergi meninggalkan meja itu, sementara Irene tertawa keras dan begitu juga dengan beberapa anggota yang melihatnya. Lain halnya dengan Jongin yang mengumpat kesal, dan masih merasa malu menyadari apa yang ia lakukan sebelumnya.

"YA! Ini semua karenamu!" Jongin membuang tissue bekas yang ia gunakkan merapikan tadi kearah Baekhyun. "Aish! Kenapa kau memperhatikan ku seperti itu eoh?! Haish! Bikin kaget saja!" selesai ia mengumpat kearah Baekhyun, Jongin berlari meninggalkan meja itu sementara Baekhyun masih terdiam duduk ditempatnya semakin merasa canggung dan aneh karena apa yang Jongin katakan jelas bisa didengar oleh mereka semua.

Irene masih duduk dihadapannya, wanita itu merapikan sedikit kekacauan yang masih tersisa dan melanjutkan kegiatan sarapannya dan tentu saja sedikit memperhatikan Baekhyun yang tengah menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Kau benar – benar tidak akan memakan apapun?" Irene mencondongkan badannya kearah depan untuk mengikis jarak antara dirinya dengan Baekhyun. Dan gadis dihadapannya kini mengangkat wajahnya secara perlahan, memberanikan diri untuk membalas pandangan dingin yang diberikan oleh Irene. "Aku bertanya padamu, kau tahu kan?" Irene berucap lagi dan Baekhyun mengangguk takut, gelengan kepala dan tatapan bingung Irene perlihatkan pada Baekhyun sementara mereka saling bertatap satu sama lain. "Tidakkah kau ingin menjawab pertanyaan yang aku katakan? Kau benar – benar akan duduk diam dan memperhatikan semua orang yang ada disini?" dan tanpa disadari, suara Irene mulai meninggi bersamaan dengan anggota yang lain teralihkan pada apa yang ia ucapkan terhadap Baekhyun disana.

Mata Baekhyun berkedip cepat sementara wajahnya bahkan terlihat pucat karena rasa takut yang ia pendam selama berhadapan dengan Irene.

Irene menekuk alisnya tajam, masih menatap dingin kearah Baekhyun—menunggu suara jawaban yang mungkin akan dikatakan oleh gadis dihadapannya, namun pada akhirnya Irene semakin tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh gadis itu yang kini tengah membuka mulutnya kecil dengan mata yang terfokus menatap objek diatas kepala Irene—atau lebih tepatnya subjek. Karena Chanyeol berada tepat dibelakang Irene, berdiri dengan tegap dengan kedua tangan terlipat diatas perutnya, memperhatikan Baekhyun.

"F-four?" Irene yang menoleh dan mendongak menatap Chanyeol bertanya, "Apa yang kau lakukan?" ia bertanya langsung.

"Kau sudah selesai sarapan?" pertanyaan itu ditujukan untuk Irene.

"Su—sudah. Baru saja." Irene berjawab santai, masih duduk di kursinya, mendongak melihat kearah Chanyeol yang masih berdiri dihadapannya.

"Bagus." Chanyeol mengangguk. "Sekarang pindah, aku ingin berbicara dengan gadis ini." Dan ucapannya bukanlah permintaan, posisinya saat ini adalah pemimpin Phoenix dan itu berarti setiap yang ia ucapkan adalah perintah bagi setiap anggota yang mendengarnya. Irene mengatupkan mulutnya sesaat, memutar bola matanya dan juga menunjukkan raut bibirnya yang menekuk sebal atas apa yang diucapkan oleh sang Boss, tanpa menoleh kearah manapun badannya beranjak dari posisi duduknya dan melangkah cepat menjauh dari tempat itu.

Sementara Baekhyun masih menjadi satu – satunya orang yang tidak mengerti dan menyimpan rasa takut serta gugup didalam dirinya, posisinya masih terkukung oleh para Phoenix, Officer Phoenix, Executive Phoenix dan kini ia berhadapan dengan Pemimpin Phoenix. Satu – satunya yang bisa ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa menikmati sarapan bila ia masih belum mampu menghilangkan rasa takut dari dalam dirinya.

"Apa makanan yang disediakan tidak sesuai dengan seleramu? Atau kau tidak berminat untuk makan?" suara rendah milik Chanyeol terdengar sementara pria itu menyendokkan berbagai makanan diatas piringnya, tidak menatap Baekhyun dan bahkan melihat kearah gadis itu seperti sebelumnya, fokus pandangan miliknya sepenuhnya terarah pada piring – piring makanan lain disana.

"A-aku ingin makan." Entah darimana datangnya keberanian Baekhyun untuk menjawab apa yang Four telah tanyakkan padanya, meskipun pada akhirnya ia kembali menunduk dan tanpa ia sadari Four tengah melihat kearahnya yang tengah mengerucutkan bibirnya layaknya anak kecil yang tengah merajuk.

"Lalu kenapa kau tidak makan? Ini hari pertamamu untuk berlatih, Tidakkah kau ingin mengisi tenaga agar kau bisa cukup kuat hanya untuk berdiri nanti?" Chanyeol melanjutkan dan Baekhyun tidak menjawab, gadis itu masih menunduk lesu mendengarkan apa yang dikatakan olehnya.

"Makan, Baekhyun. Singkirkan rasa takutmu itu karena semakin kau takut semakin mereka mudah menyerangmu. Itu pelajaran pertama yang harus kau ingat." Chanyeol berucap lantang dalam bisikannya kearah Baekhyun, dan tak lama pria itu beranjak bangun meninggalkan tempat duduknya membiarkan Baekhyun mencerna kalimat terakhir yang ia katakan dan juga memperhatikan piring makanan yang sudah terisi oleh berbagai sayuran dan juga daging disana.

...

Kejadian di ruang makan jelas membuat perasaanya merasa tidak nyaman, kejadian antara dirinya dengan Officer Phoenix dan juga Executive disana masih ia ingat dengan baik dan sulit dilupakan dalam waktu dekat terlebih saat Four berada dihadapannya, berbicara padanya dan juga menyiapkan makanan untuknya—kejadian ini akan melekat kuat dalam benak pikiran Baekhyun mungkin untuk selama – lamanya. Senyuman manis terlihat sedikit terbentuk diwajah Baekhyun yang kini tengah berjalan perlahan – lahan menyusuri setiap anak tangga untuk mencapai kamarnya yang berada di lantai tiga.

"Apa pagi ini kau merasa lebih baik?"

Baekhyun tersontak ketika ingin melangkah pada anak tangga berikutnya ketika mendengar suara Yoora.

"Eon—nni—ah—maksudku Lady." Ia membungkuk memberikan hormat pada Yoora. "Ma—maafkan aku." Ucapannya terdengar lagi memohon maaf atas kesalahan pemanggilan pada Yoora.

"Tidak apa, kau belum terbiasa. Sejujurnya aku lebih menyukai dipanggil Eonnie daripada Lady." Yoora berbisik ria, memberikan senyumannya pada Baekhyun dan anak itu turut serta membalasnya dengan senyuman yang sama. "Bagaimana sarapannya, kau menyukainya?" Yoora bertanya lagi, mengajak Baekhyun untuk berjalan bersamanya, sementara Luhan dan Minseok mengikuti dari belakang. "Aku tahu ada kejadian kecil yang terjadi tadi.." ucapan Yoora terdengar pelan dan sangat berhati – hati sementara Baekhyun hanya bisa mengangguk.

"A-aku.. merasa asing.." cicitnya yang hampir tidak terdengar. "A-aku tidak pernah makan bersama – sama dengan banyak orang semenjak Eomma—" dan kali ini suaranya hampir menghilang tenggelam dalam wajahnya yang semakin menunduk.

"Tidak apa.." Yoora dengan tanggap membawa Baekhyun dalam rangkulannya. "Kau belum terbiasa, dan maafkan aku karena aku tidak mengetahui hal ini sebelumnya dan membuatmu merasa tidak nyaman. Aku akan menjelaskan pada para Phoenix—maksudku pada Kai, Ace dan Irene mengenai kejadian tadi." Yoora meyakinkan Baekhyun, namun anak itu hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada Yoora.

"Jangan takut." Lagi, ia meyakinkan. "Buat dirimu nyaman, bila kau nyaman denganku, atau dengan Luhan, Kyungsoo dan yang lainnya, mungkin kau bisa memulai mengakrabkan diri dengan mereka." Kedipan mata Yoora berikan dan juga usapan lembut di lengan Baekhyun.

Tanpa mereka sadari, pergerakkan langkah kaki mereka terhenti tepat dimana pintu kamar Baekhyun berada, Yoora mempersilahkan Luhan dan Baekhyun untuk masuk dan bersiap untuk pelatihan yang akan mereka lakukan, sementara dirinya kembali berjalan bersama Minseok menyusul pada seseorang yang tengah menunggu kedatangan dirinya. Chanyeol.

"Seingatku kamarmu ada dilantai dua, bukan di lantai tiga." Yoora memperjelas, sedikit menggoda adiknya yang tertangkap sedari tadi tengah memperhatikan Baekhyun dari posisinya berada saat ini. "Khawatir padanya?" lagi, Yoora menggoda.

"Tidak." Chanyeol menjawab singkat.

"Lalu, kenapa kau memperhatikannya?"

Chanyeol mengela nafas pelan, "Aku tidak memperhatikannya."

Yoora tersenyum. "Ia menikmati sarapannya, dan kau sungguh baik menyiapkan makanan untuk dirinya." Yoora menepuk bahu Chanyeol dengan lembut sebelum melangkah meninggalkan adiknya itu.


RED


"Baekhyun, Kyungsoo, Seulgi, dan Yeri, mereka adalah anggota rekrutan baru yang masuk dalam program kali ini. Kyungsoo sudah lebih masuk dalam camp Militer jadi bisa dianggap ia memiliki level lebih tinggi dibandingkan yang lain." Luhan menjelaskan dengan lantang dihadapan para Executive dan juga Four disana. Dibelakang dirinya, sosok yang ia sebutkan berdiri dalam posisi siap sementara para anggota Red dan Phoenix lainnya berbaris rapi dibelakangnya.

"Kita akan sama – sama berlatih." Ace berucap lantang, Phoenix harus bisa bersikap layaknya seorang Phoenix namun memiliki keterampilan, keahlian dan juga profesionalisme yang dimiliki Red. Begitu juga sebaliknya. Red harus memiliki, kecepatan, keberanian dan juga ketangkasan yang dimiliki Phoenix. Kita sama – sama berlatih, dan menunjukkan kemampuan yang kita miliki untuk mempersiapkan perlawanan... untuk suatu saat nanti.."

"Lady Yoora, Ace, Minseok dan juga.. saya." Kini giliran Irene yang berbicara, berdiri tepat disamping Kris, "Kami akan menjadi pendamping kalian ketika berlatih bersama, sementara seluruh pelatihan para anggota Red akan diajarkan langsung oleh Four—"

Chanyeol adalah satu – satunya orang yang nampak bingung dan jelas tidak setuju mendengar apa yang dikatakan oleh Irene

"—dan untuk pada anggota Red yang baru..." Irene melihat kearah empat orang yang berdiri didepan, "Aku ucapkan selamat datang, dan selamat berlatih."

Semua yang berkumpul membungkuk memberikan hormat, dan ketika Kris memberikan komando untuk dismissed dengan serentak mereka melangkah pamit undur diri berpindah menuju tempat pelatihan yang berada dihalaman belakang safety house. Luhan dan Minseok ikut meninggalkan ruangan itu mendampingi keempat anggota Red.

"Apa maksud dari kalimat 'sementara pelatihan para anggota Red akan diajarkan langsung oleh Four' ?" Chanyeol yang masih membutuhkan kejelasan dari ucapan Irene sebelumnya menanyakkan hal tersebut tepat sebelum wanita itu hendak melangkah pergi dari tempatnya.

"Kenapa? Apa yang salah dengan itu?" Irene memainkan rambutnya, memperlihatkan raut wajahnya yang kosong dan tidak bisa terbaca.

"Bukankah aku sudah menjelaskan padamu, di mobil? Aku tidak ingin menjadi orang yang melatih anggota baru—

"Benarkah? Kenapa aku tidak ingat ya?" kini senyuman manis namun terkesan dingin ia berikan. Bahkan Kris yang berada disebelahnya bisa merasakan suasana canggung diantara mereka bertiga.

"Irene." Nadanya merendah, dominan dalam artian memberikan perintah pada anak buahnya, namun Executive cantik itu membalasnya dengan senyuman cerah secerah warna langit pada hari ini.

"Father..." Irene menunduk, membalas pangilan yang Chanyeol lakukan. "Saya hanya menyampaikan pesan apa yang dititipkan oleh Lady Yoora. Permisi."

"Ya—" ucapannya terpotong karena Irene lebih dulu melangkah anggun dan cepat keluar ruangan sementara Chanyeol mengumpat disana tanpa bersuara, Kris yang memperhatikan percakapan keduanya tidak bisa berbuat banyak selain menghampiri Chanyeol dan menepuk punggungnya.

"Wanita.. sulit untuk dikalahkan." Ucapannya singkat dan ia melangkah pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri.

...

Menyampingkan perasaanya untuk melakukan penolakan akan keputusan yang dibuat untuk menjadikan dirinya sebagai coach bagi para anggota Red yang baru, disinilah Chanyeol saat ini—berhadapan dengan keempat gadis muda yang nampak masih sangat lemah dan tak berdaya, ditambah dengan ukuran badan mereka yang sangat terlihat kecil dan ramping, selain Kyungsoo, karena gadis itu lebih dulu dilatih untuk menjadi anggota Militer maka bisa dianggap dia adalah kandidat yang professional dibandingkan yang lainnya, sementara Baekhyun, jelas gadi itu ia anggap paling terlemah mengingat kejadian belakangan semuanya menunjukkan sisi kelemahan Baekhyun. Chanyeol menghela nafas mengingat akan hal itu.

"Kalian sudah tahu siapa aku, dan untuk apa aku disini, dan juga apa tujuan kalian melakukan pelatihan ini. Aku hanya akan mengatakan semua hal dalam satu kali—tidak ada pengulangan—dan kalian harus bisa berpikir, bertindak, mendengar, berucap dengan cepat." Matanya menatap satu per satu keempat gadis itu.

"Untuk mempersingkat waktu.." Chanyeol berdeham. Mengeluarkan pistol hitam dari balik punggungnya dan sontak membuat keempat gadis dihadapannya membelakkan mata lebar khususnya Baekhyun yang tanpa disadari melangkah mundur dari posisinya.

"Tetap di posisimu Baekhyun." Perintah Chanyeol dan yang lainnya melihat kearah Baekhyun yang nampak pucat takut. "Aku tidak akan menembakmu kali ini."

Ketiga gadis lainnya merasakan suasana canggung namun masih tetap memperhatikan Chanyeol yang tengah melepaskan satu per satu bagian dari pistol yang ia pegang dan meletakkan pada kursi dimana sempat ia minta untuk diletakkan ditempat latihan mereka.

"Pasangkan kembali pistol itu hingga berfungsi dengan benar, dalam waktu kurang dari satu menit." Chanyeol menunjuk, ia mengambil satu kursi yang lain dan duduk dengan santai disana, menunggu salah satu dari keempat gadis itu menunjuk dirinya masing – masing sebagai seseorang yang pertama melakukan apa yang ia perintakan.

Kyungsoo menjadi yang pertama. "Kau bisa mulai kapanpun kau siap." Chanyeol berucap, dan Kyungsoo mengangguk mengisyaratkan dirinya sudah siap, dan Chanyeol mengitung timer di jam tangannya bersamaan dengan Kyungsoo yang telah memulai memasangkan setiap bagian pistol itu. Semuanya memperhatikan, termasuk Baekhyun yang baru pertama kali melihat secara langsung bagaimana merakit sebuah bagian kecil dan bisa menjadi alat untuk menembak, melukai atau bahkan membunuh seseorang.

"Selesai!" Kyungsoo berucap keras memberikan senjata itu kearah Chanyeol yang sedang melihat petunjuk berapa lama waktu yang dibutuhkan dirinya untuk merakit pistol itu.

Alis Chanyeol terangkat, "56 detik. Hampir." Ucapnya bangga. "Sekarang arahkan pistol itu dan cobalah untuk menembak, apakah berfungsi dengan baik?" perintah lainnya ia ucapkan, Kyungsoo mengarahkan sisi kananya dan tidak ada satu pun objek disana yang bisa ia targetkan.

"Apa yang bisa kau tembak?" Chanyeol bertanya.

"Oh?"

"Apa yang bisa kau tembak disana? Tidak ada satupun target dan bagaimana bisa aku tahu pistol itu berguna?"

Kyungsoo terdiam, Seulgi terihat sedikit melirik kearah Kyungsoo dan Chanyeol, lain halnya dengan Yeri yang meneguk ludahnya dan untuk Baekhyun, gadis itu mematung memperhatikan Chanyeol.

"Arahkan pada Baekhyun." Chanyeol berucap tanpa beban, dan Kyungsoo semakin panik. Chanyeol tidak memperdulikan bagaimana raut wajah dan perasaan Kyunsoo saat ini, ia bhakan cukup santai mengangkat salah satu kakinya untuk bersila menghadap ketiga gadis lainnya disana. "Kau tidak mendengarku? Arahkan pada Baekhyun dan kita lihat apakah pistol itu berguna atau tidak." Lagi, Ia mengucapkan perintahnya.

Kyungsoo benar – benar tidak bisa berpikir hal lainnya selain mengulang perintah yang Chanyeol katakan, ia menatap pria itu dengan raut memohon agar membatalkan apa yang diperintahkan untuknya, namun Chanyeol terlihat tidak peduli, pria itu bahkan bangkit menarik tangan Kyungsoo dan ia arahkan pada Baekhyun yang nampak takut dibuat olehnya.

Hal yang sama juga Kyungsoo rasakan.

"Kau sudah diajarkan menembak bukan? Militer lebih ahli mendekat jarak jauh, dan akan mematikan bila menembak dalam jarak yang dekat." Chanyeol mengucapkan semuanya tanpa ada rasa tenggang sedikit pun, bahkan yang mendengar ucapannya saja lebih memiliki perasaan peka terhadap apa yang dirasakan oleh kedua orang disana.

"Mari kita lihat, apakah pistol ini berfungsi dengan baik." Tangannya kini diarahkan tepat pada wajah Baekhyun, "Kapanpun kau siap.." ia berbisik pada disamping wajah Baekhyun. Chanyeol berdiri pada jarak diantara Kyungsoo dan Baekhyun, memperhatikan kedua gadis disana yang jelas nampak salah satu dari mereka mulai akan terjatuh pingsan dalam hitungan menit kedepan.

"Maafkan aku.." itu adalah bisikan pelan dari Kyungsoo, matanya terpejam ketika tangannya mengokang bagian atas pistol dan menempatkan tangannya dalam posis siap membidik target didepannya, jari – jari tanganya menyatu dalam genggaman handle dan bersiap menekan pelatuk dengan jari telunjuknya.

Sama halnya dengan Kyungsoo, dengan berat hati dan dipenuhi dengan perasaan ketakutan sangat kuat, Baekhyun menutup matanya dengan rapat, kedua tangannya meremas kuat bagian atas celananya sementara pikirannya berputar – putar untuk tidak mengingat dimana posisinya saat ini berada dan hanya berharap bahwa semuanya cepat terselesaikan dan ia menginginkan ketenangan setelahnya.

Chanyeol, kita akan bertemu bukan?

"Kau lupa apa yang aku katakan padamu tadi?" Chanyeol melayangkan pertanyaan secara tiba – tiba dan itu membuat Kyungsoo membuka mata, menjauhkan pistol yang ia pegang dari hadapan Baekhyun. "Aku mengatakan padamu untuk menyingkirkan rasa takutmu, namun saat ini kau malah memperlihatkannya dengan jelas. Aku memintamu makan, agar kau bisa menguatkan dirimu sendiri, namun kau bahkan hampir pingsan—

"Hiks.."

Ucapan Chanyeol tidak ia lanjutkan karena suara isakan Baekhyun yang mulai terdengar, gadis itu berjongkok pada posisinya dan tidak lagi bisa menahan tangisannya. Seulgi dan Yeri yang melihatnya bahkan ikut merasakan sedih dan berniat memeluk Baekhyun namun Chanyeol mengisyaratkan pada mereka untuk tidak melakukannya, ia menyuruh Kyungsoo, dan kedua gadis itu untuk mengambil istirahat dan meninggalkan Baekhyun dengannya.

"hiks... hikss.. ngh,,, hikkss hikkss.." tidak ada suara lain yang terdenagr selain erangan tangisan Baekhyun yang tertahan dibalik kepalanya yang menunduk pada lutut kakinya. Chanyeol bahkan tidak bisa mengungkapkan kata – kata untuk menghentikkan tangisan gadis itu dan pilihan yang bisa ia lakukan adalah menghampiri Baekhyun, berjongkok tak jauh dari tempat Baekhyun dan mengarahkan tangannya untuk menyentuh pundak gadis itu.

"Aku tidak memintamu untuk menangis.." suaranya masih terdengar dingin.

"Nhhh.." Baekhyun menahan tangisannya, mengangkat wajahnya dengan kedua tangan yang mengusap cepat aliran air mata yang membasahi pipi wajahnya. "A—aku takut!" ia berteriak kearah Chanyeol secara tiba – tiba, memperlihatkan wajahnya yang sembab.

"Aku takut—Chanyeol akan pergi meninggalkanku.. Eomma bahkan meninggalkanku.. "

"Chanyeollie.. aku takut!"

"Chanyeol jangan tinggalkan aku..."

"...Aku takut melihat seseorang mengarahkan pistolnya padaku! Wanita itu selalu melakukannya padaku! Ia bahkan menembakkan apapun yang ada disekitarku hanya untuk membuatku diam!" Baekhyun masih berteriak mengungkapkan segala beban keluh kesah dalam hatinya pada Chanyeol disana.

"...Aku ingin melawannya, tapi aku tidak tahu bagaimana.. hiiksss huaaa—"

"Chanyeol... huaaa Chanyeol... eomma pergi... hiks hiks.. eomma pergi.."

"Chanyeol akan menjaga Baekhyun kan?"

"Ini adalah alasan untuk aku pulang.."

"—HAAAAAA!" Teriakan yang Chanyeol lakukan menyadarkan dirinya sendiri dan juga menghentikkan tangisan Baekhyun yang sebelumnya masih terdengar cukup keras, gadis itu kini terdiam meskipun air matanya masih mengalir pelan pada pipinya, dan Chanyeol memperhatikan dengan jelas bagaimana wajah sembab dan menyedihkan Baekhyun dihadapannya.

"F-four?" Baekhyun menyebutkan namanya,

Kedua mata milik Chanyeol berkedip dengan cepat dan maniknya masih terfokus dengan kedua mata berlinang air mata Baekhyun, "Baek—Baekhyun.." mulutnya memanggil nama Baekhyun dengan lembut dan sang pemilik nama mengerjapkan matanya pelan, membalas pandangan mata Chnayeol hingga kini mereka saling beradu pandang satu sama lain.

-o00o-