"F-four?" Baekhyun menyebutkan namanya,

"Baek—Baekhyun.." ada yang menyahut dalam gugupnya.

Baekhyun mengerjapkan matanya, meyakinkan apakah pendengarannya kali ini tidak salah dengar ketika Four menyebutkan namanya dengan suara terbata. Semakin Baekhyun membalas memandangi pria dihadapannya, kali ini bukan Baekhyun yang merasa takut melainkan pria tersebut. Untuk pertama kalinya, seorang Four harus menyesuaikan perasaan yang ia alami hanya karena bertatapan dengan seorang gadis polos dihadapannya hingga ia bahkan terjungkal dari posisi berjongkoknya.

"Ka—kau baik – baik saja?" dan ada yang menaruh perhatian lebih padanya meskipun dirinya sendiri-lah yang masih dilingkupi isakan tangisnya.

Kini giliran Chanyeol yang mengerjapkan matanya berulang kali dengan cepat, mengembalikan kesadaran pada dirinya dengan sepenuhnya meskipun gerak jantungnya masih belum bisa dinormalkan. Tidak ada sahutan yang ia berikan kearah Baekhyun disana yang masih berlutut memperhatikan gerak – geriknya.

"Bangun." Satu kata pendek ia ucapkan, tidak memberikan bantuan pada si mungil yang mengerucut kesal dan kebingungan.

"Hapus air matamu." Kali ini kalimatnya lebih panjang sedikit dibandingkan sebelumnya, namun penekanan nadanya masih sedingin seperti biasanya.

Dia bisa memanggil namaku dengan suara lembut namun kembali lagi memerintah dengan dingin.—Baekhyun membatin meluapkan kekesalan dari apa yang Chanyeol katakan namun gadis itu masih menunduk dengan wajah sembabnya dan memaksakan diri menghapus air mata yang masih mengalir dengan bagian bawah dari kaos yang ia kenakkan.

"Sudah.." Baekhyun memberi tahu, melihat kearah Chanyeol dihadapannya tengah berkacak pinggang masih memperhatikan Baekhyun.

Chanyeol pun tak langsung memberikan sahutan lain kepada Baekhyun meskipun ia tahu gadis itu sudah tak lagi terisak, hanya saja wajahnya masih merengut menunjukkan kekesalan dalam dirinya,

"Aku takut!"

"Aku ingin melawannya tapi aku tidak bisa!"

"Aku takut melihat seseorang mengarahkan pistolnya padaku!"

Kalimat yang diucapkan oleh Baekhyun sebelumnya masih Chanyeol ingat dengan jelas, bahkan suaranya benar – benar mirip dengan kilasan ucapan yang tiba – tiba memenuhi pikirannya.

"Baekhyun.." Chanyeol memanggil, dan kini bukanlah suara dingin yang memerintah seperti sebelumnya.

"Iyaa," Baekhyun bahkan membalasnya dengan ucapan bernada dan itu menarik perhatian Chanyeol.

Pria itu mengatupkan giginya dan bahkan berdeham sejenak untuk memfokuskan pikiran pada apa yang akan ia lakukan, "Perhatikan apa yang aku lakukan dan cobalah untuk mengingatnya dengan baik. Aku tidak akan mengajarkanmu berulang kali. Jadi. Ingat dengan baik." Berawal dengan suara lembut dan diakhiri dengan nada memerintah, Baekhyun mengangguk dengan patuh, menghela nafas pelan dan memperhatikan apa yang Chanyeol lakukan saat ini.

Pria itu membongkar kembali pistol yang sebelumnya sudah dirakit kembali oleh Kyungsoo, "Perhatikan." Baekhyun mengangguk, mendekatkan dirinya pada Chanyeol, namun pandangan matanya tak bisa terfokuskan dimana kedua tangan Chanyeol membongkar pasang pistol itu, matanya lebih tertarik untuk melihat bagaimana wajah serius pria itu.

"Sekarang giliranmu." Chanyeol memberikan pistolnya kembali pada Baekhyun. "Bongkar kembali pistol ini dan rakit ulang. Sekarang."

Baekhyun menelan ludahnya dengan susah payah, membatin dalam dirinya bahwa ia bahkan tidak ingat apa yang harus dilakukan untuk membongkar senjata itu. Tangannya bergetar memegang senjata api itu, dengan takut – takut ia mencoba melepaskan bagian atas pada pistol itu hanya karena ia sempat melihat Kyungsoo berulang kali memegang bagian yang sama namun ia tidak tahu harus melakukan apa pada ketika ia sudah memegangnya.

Chanyeol berdiam diri memperhatikan Baekhyun, melihat jari tangan lentik milik gadis itu yang dengan sangat hati – hati dan takut memegang bagian – bagian senjata itu, dan ia tahu gadis dihadapannya tidak mengerti apa yang harus ia lakukan terhadap pistol yang dipegang.

"Kau!—" Chanyeol bersuara kearah Baekhyun dan sontak ucapannya membuat Baekhyun kembali tersentak. "—tidak tahu apa yang harus dilakukan?!" suaranya meninggi sedikit berteriak namun masih dalam batas wajar dan Baekhyun menggeleng dengan cepat.

"M-maaf.. aku tidak ingat—" cicitnya menjawab dengan wajahnya menunduk, mengarahkan pistol yang berada ditelapak kedua tangannya kepada Chanyeol. "A-ajari aku lagi.." suaranya memohon.

Chanyeol mengusap wajahnya dengan satu tangan, berkacak pinggang sesaat dan menghela nafas yang ia arahkan pada poni – poni rambut pada keningnya yang nampak berkeringat. Ia mengambil kasar pistol itu dari tangan Baekhyun, hingga sang pemilik tangan merasakan sedikit nyeri karena Chanyeol terlalu kasar padanya.

"Perhatikan!" perintahnya lagi. "Ingat setiap hal yang aku lakukan. Perhatikan, ingat, dan lakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Mengerti?" ucapannya penuh penekanan dalam setiap kata dan Ia bahkan menunjuk kearah Baekhyun hingga gadis itu diam menegang kaku dalam posisinya yang tengah berdiri.

Chanyeol kembali melakukan reka ulang, "Hal pertama yang kau lakukan adalah pastikan penyimpan peluru lebih dulu dikeluarkan. Untuk jenis pistol apapun, pastikan kau mengeluarkan peluru lebih dulu."

"Ke-napa?" Baekhyun bertanya santai, matanya masih memperhatikan tangan Chanyeol yang tengah menunjukkan dimana letak magazen—alat penyimpanan peluru.

"Karena.." Chanyeol menunjukkan cara mengeluarkannya, "Pistol tidak akan mematikan bila tidak memiliki peluru." Setelah ia menunjukkan cara melepaskan bagian itu, Chanyeol mengarahkan pistolnya tepat pada kening Baekhyun. Menekan pelatuk pada pistol itu dan hanya terdengar suara klik—meskipun begitu, Baekhyun kembali memasang waah takutnya dan Chanyeol tersenyum senang berhasil mengerjai gadis dihadapannya.

"Tenang Baekhyun.." Chanyeol tersenyum disana seorang diri lain halnya dengan Baekhyun yang merenggut kesal. Ia kembali memperlihatkan bagian – bagian lain yang harus dibongkar, "Dan setelah itu, tekan bagian atas ini." Chanyeol menunjukkan lagi, tekan dan tarik kebelakang hingga akhir, dan kau harus ingat bagian ini." Chanyeol menunjukkan salah satu klip pengait yang terlihat ketika ia sudah menyongsong bagian atas itu kebelakang. "Kau harus melepaskan bagian ini lebih dulu, baru kau bisa melepaskan bagian atas ini. Mengerti?" Baekhyun memperhatikan, mengangguk dan menunggu penjelasan lainnya.

"Bagian atas ini dinamakan peluncur, didalamnya ia memiliki per, dan untuk itu kau harus melepaskan per ini, ini yang berbentuk spiral—ini adalah semacam pegas dan alasan kenapa bagian ini bisa ditarik kebelakang dan kembali kedepan ketika kau siap menembak. Hilangkan bagian ini, maka pistolmu juga tidak akan berguna. Ingat itu." Chanyeol melepaskan bagian spiral dan menunjukkan bagian dalam rangkaian lainnya dalam peluncur yang sudah ia lepaskan. "Selesai. Dan kau harus ingat kembali langkah tadi untuk memasang kembali semuanya hingga pistol ini berfungsi dengan baik." Chanyeol memasang kembali semuanya dengan cekatan, menarik peluncur itu sebanyak 3x dan kemudian mengarahkannya keudara sebelum ia menekan pelatuk dan membebaskan peluru didalamnya.

Bunyi nyaring dari senjata itu terdengar dan juga mengagetkan Baekhyun yang memperhatikan sedari tadi.

"Dan itu adalah menit terlama buatku hanya untuk membongkar pasang pistol murahan ini." Chanyeol memberikan pistol itu, "Sekarang giliranmu—"

Getaran dari ponsel yang berada disakunya jelas menganggu perbicangan diantara ia dan Baekhyun, namun melihat kode nama yang tertera di layarnya membuat smirk -nya terbentuk dan tentu saja membuat pertanyaan bagi Baekhyun yang melihatnya. "—lakukan hingga pistol itu berfungsi dengan benar, jangan berani kabur atau aku akan menembakmu lagi." Peringatannya Chanyeol ucapkan dan ia mengisyaratkan telunjuknya pada mulutnya guna meminta Baekhyun untuk diam, sebelum ia melangkah menjauh untuk menjawab panggilan itu, meninggalkan Baekhyun dengan perintah untuk dikerjakan.


FOUR


"Bila ini bukan hal penting, aku sedang tidak bisa dihubungi saat ini—

"Halo Richard... kenapa suara dinginmu terdengar sangat menggairahkan saat ini."

Sunyoung.

Chanyeol tersenyum puas, mengeluarkan ponselnya yang lain dan mengetikkan pesan lain yang ia tujukan pada Ace.

[Ace:] Sadap ponselku dengan no 82476855xxxx dan block siapapun yang ingin melacak nomorku ini.

"Aku rasa aku tidak pernah memberikan nomor ponselku pada siapapun selain orang yang memiliki urusan pekerjaan denganku." Chanyeol menyahut masih dengan suara dingin nan datarnya.

"Bukankah kita memiliki urusan pekerjaan?"

"Hm," Chanyeol mendengus. "Kalau kau menganggap seks dalam semalam adalah pekerjaan untukku maka kau salah Nyonya."

"Hahahaha, no—no—no.. itu bukan pekerjaanmu tampan. Meskipun harus kuakui kau adalah pasangan seks terbaik yang pernah aku alami."

"Ya, katakan itu pada wanita paruh baya yang bahkan menjerit hanya karena permainan jari—

"Diam!" Suara Sunyoung berteriak disana.

[Ace:] Ponselmu aman dan sudah kami sadap, kami bisa mendapatkan nomor Sunyoung.—pesan yang dikirimkan oleh Ace segera dibaca olehnya.

"Katakan apa maumu, dan kalau kau memintaku untuk melayanimu lagi—maaf saja Nyonya, kau bukanlah sesuatu yang aku inginkan untuk dua kali.. milikmu bahkan terasa tidak nikmat—

"Kau mendapatkan pekerjaan untuk menjadi pengawalku! Dan jangan berani – beraninya menolak karena aku adalah Boss-mu saat ini!"

[Ace:] Pastikan alamatnya saat ini berada dimana, dan lacak siapa saja yang ia hubungi selama ini. Chanyeol mengirimkan balasan lain pada Ace.

"Aku bahkan belum mengatakan iya, kau sudah berani mengancamku? Nyonya Byun—atau siapa namamu—

"Sunyoung. Bodoh."

"—siapapun namamu!—" Chanyeol memutar bola matanya. "Aku bukan bawahan siapapun, dan aku berminat menjadi pengawalmu bukan untuk bisa kau perintahkan seenak dirimu Nyonya, kau bahkan belum memberi tahu tugas macam apa yang akan kau berikan. Dan kau sudah membentakku? Maaf saja Nyonya, aku menolak bekerja denganmu—"

[Ace:] Done. Kita sudah tersambung dengannya.—Chanyeol menyeringai dan mematikan sambungan teleponnya dengan Sunyoung secara sepihak, meskipun pada detik kemudian code nama Sunyoung terlihat muncul kembali dalam mode panggilan untuknya dan Chanyeol tak berminat untuk menerim panggilan lainnya.

[Ace:] Datang ke ruangan kerja, kami punya data menarik untuk kau lihat.

Dan fokusnya kini tertuju untuk melihat data menarik apa yang berhasil didapatkan oleh Ace.

Melupakan ada seseorang yang tengah berpikir keras hanya untuk membongkar pasang senjata ditangannya.

...

Ruangan kerja unit Phoenix di Safety House berada diruangan bawah tanah, berdekatan dengan gudang senjata dan perlengkapan persenjataan dan alat – alat canggih lainnya yang didapatkan dari anggota mafia dan unit intel lainya. Kedua Executive sudah berada disana, mengawasi kerja para anggota lainnya yang tergabung dalam divisi InCom—dimana terkait dengan jaringan internet, komunikasi, cctv dan bahkan satelit di luar angkasa.

"Dia menghubungi para Fathers di Kolombia sejak kemarin, sepertinya ia berminat membawa masuk narkoba untuk kembali beredar bebas di Korea." Kris memperlihatkan tampilan nomor – nomor telepon yang berhasil ia dapatkan dari penyadapan sebelumnya. "Terlihat dia menghubungi Mr. Kun di Jepang, namun sepertinya beliau sudah mengetahui niatan dari Sunyoung sehingga ia mengabaikan telepon wanita itu."

"Dia menghubungi Kolombia, Meksiko dan Rusia.. tapi tidak ada satu pun koneksi dirinya dengan berbagai mafia di Korea dan China, Ia bahkan tidak menghubungi Triads dan kelompok mafia di Thailand atau Filipina—

"Ia tertarik dengan kartel narkoba dan pasokan senjata." Chanyeol menyimpulkan sebelum Irene menyelesaikan penjelasan darinya. "Ia tahu beberapa kelompok Asia sudah pasti tetap berada dibawah lindungan Phoenix dan meskipun kita sudah tidak beredar, ia tidak mau mengambil jalan panjang untuk mengajak mereka bergabung dengannya. Cukup pintar. Namun itu memudahkan kita." Chanyeol menyeringai. "Kirim beberapa Officer dan juga anggota Red untuk pergi mengunjungi para Fathers di Asia. Aku akan mendatangi beberapa yang masih ada di Korea, katakan semua data yang kita punya—dan sepertinya aku butuh kepastian mengenai apa rencana ular itu terhadap kelompok di Kolombia."

"Kau yakin? Kau mau bertemu dengannya lagi?" Irene melayangkan protest.

Getaran ponsel yang masih dipegang Chanyeol adalah apa yang diperkirakan akan terjadi selanjutnya, "Well, selama dia mengejarku.. kita akan memanfaatkannya bukan?" Chanyeol memperlihatkan isi pesan yang dikirimkan Sunyoung pada Irene, sementara Kris sudah membuka laman di layar besar pada ruangan itu sehingga siapapun bisa membacanya.

[Sub-Sunyoung:] Penolakanmu tidak diterima, datang dan katakan langsung padaku di Hotel BReuz, dalam 1jam kedepan.

"Hotel, hah?" Kris menggoda, menggerakkan kedua alisnya sementara anggota lain yang ada disana ikut tersenyum dalam wajah yang memesam malu. Lain halnya dengan Irene yang memasang wajah jijik terhadap Chanyeol sekarang.

"Bila suatu saat aku harus dipilihkan akan menikah denganmu atau Jisung? Aku akan memilih Jisung." Irene menunjuk anggota divisi InCom yang berada didekatnya saat ini, setelahnya dia melangkah keluar dengan hentakkan sepatu heelsnya terdengar beradu dengan lantai dimana ia melangkah.

Chanyeol berdeham, menahan tawa yang akan apa yang Irene katakan, ia menepuk bahu Jisung dua kali dan berbisik pada anak itu, "Bila suatu saat kau menikahinya, pastikan ia tidak pernah berada dalam posisi woman on top." Chanyeol mengedipkan mata dan Kris adalah pihak yang tertawa keras setelahnya memperhatikan wajah Jisung yang memerah karena membayangkan apa yang baru saja dikatakan oleh Chanyeol padanya.

"Aku akan bersiap!" Chanyeol mengabaikan, melambaikan tangannya keluar dari ruangan kerja InCom menuju ruangan peralatan yang terletak tepat disebelah ruangan sebelumnya.


Baekhyun


Sementara itu,

"Pertama.." Baekhyun berucap seorang diri. Setelah hampir termenung beberapa menit memperhatikan Chanyeol yang tengah menerima panggilan dari ponselnya, ia pada akhirnya menyakinkan diri untuk bisa berani mencoba mempraktekkan kembali apa yang sudah Chanyeol ajarkan dan tunjukkan padanya.

"—lakukan hingga pistol itu berfungsi dengan benar, jangan berani kabur atau aku akan menembakmu lagi."

"Ish—apa-apa menembak.. apa menembak. Tembak saja wanita itu!" Baekhyun menggelengkan kepala berulang kali disertai gerutuan dari bibirnya yang tengah mengerucut mengingat ancaman yang sempat Chanyeol ucapkan sebelumnya. "Haaaaa..." ia menghela nafas pelan. "Baiklah, mari kita ingat – ingat lagi."

Senyumannya terlihat dari wajahnya tanpa ia sadari, tangannya sudah memegang pistol berwarna hitam itu dan melihat – lihat pada bagian sisinya.

"Magazen.." mulutnya berucap lagi.—Pistol tidak akan mematikan bila tidak memiliki peluru.—ucapan Chanyeol yang menjelaskan padanya kembali ia ingat, ia dengan cepat mengingat – ingat bagaimana cara Chanyeol melepaskan bagian berisikan peluru itu, dan ketika kotak magazen itu berhasil terlepas, kakinya melompat kegirangan tanpa ia sadari.

"Nah, sekarang kau tidak bisa digunakkan untuk membunuh!" Baekhyun menunjuk bagian kerangka pistol yang kosong tanpa kotak peluru disana.

"—spiral—ini adalah semacam pegas dan alasan kenapa bagian ini bisa ditarik kebelakang dan kembali kedepan ketika kau siap menembak. Hilangkan bagian ini, maka pistolmu juga tidak akan berguna."—Kalimat lain yang Chanyeol katakana kembali terngiang dalam pikiran Baekhyun, bibirnya ia gigit untuk sebentar, memperhatikan kerangka pada bagian pistol itu dan tanpa menunggu lebih lama, ia mulai mencari cara melepaskan bagian atas dari pistol itu hanya untuk mencari alat berbentuk spiral seperti yang dia ingat.

"Spiral.. spiral.." Baekhyun bersendandung. "Tarik ke belakang, nngghh.." ia dengan susah payah menarik peluncur itu kebelakang berulang kali hingga posisi peluncur tak lagi bisa kembali maju kedepan, lagi, sebuah senyuman terbentuk diwajahnya. "O-ohh. Kau harus aku copot lebih dulu." Tangannya mengambil sebuah klip yang mengunci bagian peluncur dan kerangka bawah pada pistol itu, dan setelah itu ia mencoba lagi untuk melepaskan peluncur atasnya. Dalam satu kali gerakkan, Baekhyun berhasil melepaskan—

"Yeeeeaaaasssss!"—ia berteriak seorang diri, melompat – lompat kembali dan kemudian menjauhkan bagian peluncur itu untuk bergabung dengan magazen dank lip yang sebelumnya.

"Spiral – spiral.. aku mencarimu—oh ini dia." Ucapnya lagi dengan nada riang, dan bagian terakhir yang ia harus lepaskan adalah bagian lain dari dalampeluncur yang merupakan sambungan untuk peluru bergerak ketika dilepaskan dan itu adalah bagian termudah.

"Selesai." Baekhyun meletakkan bagian yang terakhir, bertepuk tangan seorang diri dan merasa puas dan bangga saat itu juga.

"—lakukan hingga pistol itu berfungsi dengan benar—" ucapannya Chanyeol yang memerintahkan untuk membongkar pasang pistol itu teringat lagi dalam pikiran Baekhyun, helaan nafas Baekhyun lakukan melihat pada bagian – bagian yang baru saja ia berhasil lepaskan satu sama lain. "Aish! Kenapa harus dipasang kembali!" kakinya terhentak kesal dengan mulutnya yang mengerucut. "Kau adalah bagian terakhir yang akan aku pasang!" Baekhyun menunjuk pada magazen disana dengan tatapan kesal, alisnya menukik tajam namun matanya menyipit jelas terlihat disana.

Meskipun mengulur waktu begitu lama untuk mempertimbangkan hal apa yang harus ia lakukan diawalnya, akhirnya Baekhyun mulai merakit kembali bagian – bagian pistol itu dengan perlahan – lahan, mengumpat kekesalan dan bahkan menjerit dalam tangisannya ketika jari – jari tangannya terjepit dengan bagian pistol disana. Ia bahkan tak ragu ketika harus membuang bagian kerangka itu ke lantai, berjongkok kembali karena merasa kesal tidak bisa melakukannya namun pikirannya kembali teringat dengan ancaman yang Chanyeol katakan.

"Aku membencimu!" ia berteriak lantang meraung dalam tangisannya—"Bantu aku lagiiiiiii~" dan kembali merengek seakan – akan tengah berbicara langsung pada sosok yang ia pikirkan.

"Yaaaaaa! Cepat kembali! Aku tidak tahu melakukannya!"

"FFFOOOUUUURRRRR!"


FOUR


"Hatchi~"

Chanyeol terbesin secara tiba – tiba begitu mobil yang ia tumpangi tiba pada lobby Hotel BReuz.

"Kau baik – baik saja?" suara lain menanyakkan keadaannya, TY—atau biasa dipanggil Taeyong, satu dari anggota Phoenix yang masuk dalam divisi Officer.

Chanyeol mengusak hidungnya, "Mungkin hanya karena debu." Ia berucap datar dan tenang, memastikan penampilannya tidak terlalu mencurigakan lalu mengusak rambutnya untuk memberikan kesan berantakkan.

"Kami akan stand by ketika mengetahui dimana lantai kau berada, sniper akan bersiaga dan yang lain akan melihat pergerakkan dari para pengawal yang ia miliki." TY menjelaskan memasangkan alat penyadap di kemeja Chanyeol dan memastikan alat pelindung dibalik kemejanya tidak nampak terlalu mencurigakan. "Irene berpesan pastikan kemejamu tidak disentuh oleh wanita itu." Sebuah senyuman bermaksud menggoda pimpinan tertinggi dari Phoenix saat ini, dan Chanyeol mendengus kesal dibuatnya.

"Pastikan Irene tersambung dengan komunikasi kita, mungkin ia ingin mendengar bagaimana suara wanita paruh baya mendesah nikmat—

"Bangsat kau." Dan Irene bergabung secara langsung.

TY dan Chanyeol sama – sama tersenyum menahan tawa, hingga akhirnya Chanyeol menyudahi, beranjak keluar dari mobil dan melangkah masuk kedalam Lobby Hotel tanpa ada rasa takut.

"Big Boss masuk kedalam neraka." TY menginformasikan, membawa kembali mobil miliknya melaju menjauh dari parkiran lobby.

"Copied that, dan mobilmu diikuti. Bersiap saja mendapatkan serangan." Suara Ace terdengar memperingati dan Taeyong melihat secara langsung bagaimana dua mobil dibelakangnya melaju dengan kecepatan tinggi hanya untuk mendahului mobilnya.

"Haaa.. aku hanya supir Uber.. aku hanyalah supir Uber.." Taeyong melapalkan kalimat itu berulang kali, sambil memperhatikan keadaan mobilnya yang tidak menampakkan barang – barang yang patut dicurigai.

...

"TY diikuti." Suara Ace terdengar di telinga Chanyeol, alat yang terlihat sebagai sebuh tindikan pada daun telinganya tentu tidak terlihat seperti alat komunikasi jarak jauh, dan dengan begitu Chanyeol bisa bebas bergerak tanpa dicurigai tengah mendengarkan informasi yang diucapkan padanya.

"Apa TY bisa mengatasinya." Chanyeol menanyakkan ketika dirinya tengah berada di lift, menuju pada lantai dimana diinformasikan keberadaan Sunyoung berada oleh receptionist Hotel.

"Tentu saja Boss, aku bahkan sempat meletakkan peledak dalam mobil mereka. Untuk berjaga- jaga." Chanyeol menyeringai mendapatkan jawaban dari anak buahnya itu.

"Lantai berapa kau akan berada?"—suara Willis terdengar.

"24." Chanyeol menjawab singkat.

"Aku ada di tangga darurat Boss, bila kau membutuhkanku.. aku siap." Dan itu adalah suara Kai yang terdengar tengah berlari menyusuri anak – anak tangga disana.

"Kita sudah mendapatkan blue print dari Hotel BReuz —aku tidak berharap sesuatu hal buruk terjadi, namun kita sudah mengantisipasi. File ini sudah aku kirimkan pada ponselmu, semoga berguna." Irene kembali bersuara, bukan lagi dengan suara kecemburuan melainkan suara dingin yang memang menjadi ciri khasnya.

"Thanks guys, saatnya terputus." Chanyeol mengucapkan kalimat akhir bagi mereka setelah angka pada indicator lift terlihat menunjukkan lantai yang ia tuju. Baru saja pintu lift terbuka, dua orang pria berbadan tegap namun lebih pendek darinya sudah menyambut kedatangan dirinya.

"Richard." Salah satu dari mereka berucap menyebutkan namanya dengan angkuh, "Boss sudah menunggu kedatanganmu." Tangannya terjulur kearah sisi kanan, mengisyaratkan agar Chanyeol berjalan lebih dulu dan tanpa ada berbasa – basi, langkah kakinya bergerak dengan santai menyurusi lorong hotel hingga ia melihat dua orang lainnya ada didepan pintu kamar 2408.

"Apakah disini?" ia menanyakkan pada dua orang yang menjaga disana.

"Regangkan tanganmu." Perintah dari salah satu yang berjada didepan pintu.

"Wuah.. kalian ingin memeriksaku? Hey kita bertemu dirumah—" belum selesai Chanyeol berucap, dua orang yang berjaga dibelakangnya menarik kedua tangannya untuk direntangkan dan satu orang yang sedari tadi menjaga didepan dengan cepat memeriksa bagian badan Chanyeol dan juga bagian kemeja. Mereka mengambil korek, rokok dan juga pistol hitam yang Chanyeol simpan pada pinggangnya.

"Aku ingatkan, semua itu milikku, dan jangan coba – coba kau—" peringatannya diacuhkan, salah satu dari mereka mengambil pistol itu dan menyimpannya pada punggung belakangnya.

"Boss sudah menunggu." Ia menyahut dan membukan pintu kamar itu, lalu mendorong badan Chanyeol untuk masuk kedalam dengan begitu kasarnya.

"Pastikan keempat orang itu mengalami kecelakaan." Chanyeol memerintahkan pada Phoenix.

"Roger that."—Irene yang menyahuti.

"Hai Richard."

"I am out."—masih suara Irene yang terdengar.

"Lupakan sambutan hangatmu, karena aku baru saja berniat membunuh para pengawal sialanmu itu." Chanyeol menolak tangan terbuka Sunyoung yang menyambutnya untuk memberikan pelukan pada pria itu.

"Haha, lucu sekali.. kau mengabaikanku." Sunyoung mengikuti Chanyeol yang tengah mengambil botol minuman yang ada pada trolly milik Hotel disana, wanita itu membelai punggung Chanyeol, naik hingga ke bagian leher pria itu susah payah hanya untuk memberikan kecupan.

"Apa yang kau inginkan?" Chanyeol menghindar lagi, menepis tangan Sunyoung dan menggenggamnya keras hingga wanita itu kesakitan dibuatnya.

"Kenapa kau berbeda siang ini.." Sunyoung menggoda lagi, menarik ikatan tali pada jubah tidur yang ia gunakkan dengan tangan lainya untuk memperlihatkan bagian tubuhnya yang tengah tidak memakai pakaian apapun selain jubah itu. "..kau menolak menjadi pengawalku.. dan bahkan kau menolak untuk aku sentuh.." bisikan dengan nada erotis yang terdengar sangat dipaksakan itu terngiang dalam pendengaran Chanyeol.

"Kau bahkan tidak menjelaskan apa tugasku." Chanyeol mengacuhkan, duduk pada sofa dalam ruangan hotel itu dengan kedua kakinya yang berada diatas meja, "Aku membutuhkan kejelasan dalam bekerja Nyonya Byun." Ia menegaskan status Sunyoung, dan wanita itu tersenyum sinis.

"Kau membutuhkan kejelasan?" Sunyoung menghampiri lagi, mengangkangi Chanyeol dan duduk diatas pangkuan pria itu tanpa meminta ijin dari sang pemilik. "Kau menjadi pengawalku di hari siang, dan malam..." bibirnya menciumi bagian pipi dan bibir Chanyeol dan juga bagian leher pria itu, sementara tangannya mulai bergerak cepat untuk melepaskan kancing – kancing kemeja yang Chanyeol kenakkan.

"Bukan tawaran yang menarik buatku." Chanyeol mengangkat badan Sunyoung dengan mudahnya dan wanita itu terjungkal pada sisi sofa lainnya. "Aku sudah mengatakannya, kau bukanlah tipe wanita yang akan aku nikmati untuk kedua kalinya, dan bila harus menjadi penghangat ranjangmu setiap malam.. seharusnya kau tidak membunuh suamimu itu." Ucapan Chanyeol mendapatkan decakan kekesalan dari Sunyoung.

"Haha—" Suara tawa Sunyoung terdengar dipaksakan, "Aku tidak tahu kau adalah pria menyebalkan seperti ini." Sunyoung beranjak dari posisi terjungkalnya, mengaitkan tali jubahnya dan mengambil mantel miliknya untuk menutupi tubuhnya yang hampir telanjang. "Kau akan menyesali keputusanmu menolak penawaran ini." Tegasnya pada Chanyeol sebelum ia membakar rokok di mulutnya.

"Sudah pasti tidak, aku menolak bekerja denganmu dan juga menolak menjadi mainanmu di malam hari." Seringainya terlihat pada wajah Chanyeol. "Baiklah, aku pergi." Chanyeol melangkah pada pintu hotel itu dan tanpa mendengarkan ucapan Sunyoung kearahnya, ia lebih dulu membanting pintu itu untuk tertutup hingga keempat pengawal Sunyoung menatap tajam kearahnya.

"Wow.. tadi itu diluar perkiraan." –Ace menyimpulkan setelah mendengar percakapan antara Sunyoung dan Chanyeol disana.

"Apa yang kau lakukan Park Chanyeol?"

"La-lady?"

Chanyeol menghentikkan langkahnya karena baru saja ia mendengar jelas suara kakaknya disana, dan lagi Kris mempertanyakkan setelahnya.

"Apa yang kau lakukan saat ini?"

Chanyeol ingin menjelaskan semuanya namun dengan kondisi ia masih diikuti oleh keempat pengawal Sunyoung, hanya suara dehaman dari mulutnya yang terdengar, Ia mengabaikan pertanyaan Yoora yang masih berteriak – teriak disana dengan melangkah cepat menuju lift untuk mengamankan diri.

"Irene sudah membawa Lady untuk berbicara.."

"Boss, Sunyoung menelepon seseorang untuk mengikutimu. Dia meminta mereka untuk membawamu kembali kerumahnya." Suara Ten yang baru saja mendapatkan sadapan dari telepon Sunyoung melaporkan langsung.

"Boleh aku menembak Sunyoung langsung saat ini?" –dan Willis ada orang berikutnya yang bersuara.

"Tahan." Perintah dari Ace.

Chanyeol masih mendengarkan, ia bersiaga seorang diri didalam lift dan menunggu apakah ada pernyerangan yang mungkin saja dilakukan oleh keempat pengawal Sunyoung yang masih membuntutinya.

"Aku sudah berada di lobby, Boss. Kau butuh Uber atau taksi?"—ini Kai.

"YAAA! Kau kira kita bisa memikirkan hal itu?—dan protest itu adalah suara dari Mark—"Aku sudah stand by di Lobby Boss, kau bisa melihat mobilku begitu keluar dari pintu."

"Aku menuju kesana." –Kai lagi – lagi menyahut dan pria itu dengan cepat bergerak hampir tak bisa diperhatikan oleh siapapun yang memperhatikan untuk masuk kedalam mobil SUV hitam dimana Mark sudah berada pada kursi kemudi.

"Boss, kau harus duduk di kursi depan, Kai sudah berada di bagian belakang."—Mark menginfokan lagi.

"Hey Boss, Ace.. aku rasa Plan B kita akan dijalankan." –Willis terdengar berucap disana. "—Aku melihat pergerakkan dari sniper tepat diatap gedung hotel Rbeuz, aku rasa dia benar – benar ingin menangkapmu hidup – hidup."

"Kenapa tidak kau tembak saja sniper itu!"—Mark memprotest dan bersamaan dengan itu Chanyeol sudah masuk dan duduk pada bagian kursi depan tanpa disadari olehnya.

"Jalan." Perintah Chanyeol dan Mark dengan cepat menginjak pedal gas membawa laju mobilya untuk menjauh secepat mungkin dari daerah sekitar Hotel BReuz. "Willis, cepat menjauh darisana sebelum kau dijadikan target oleh mereka." Chanyeol memerintahkan, dan anggota yang disebutkan itu dengan sigap mengiyakan tanpa ada penolakan.

"Boss, kau diikuti oleh dua mobil dan empat motor tak jauh dari mobilmu.. kurang lebih kecepatan mereka sekitar 80km/jam."

"Aku ada dibelakang mereka."—suara Ace menyambung.

"Semuanya menjauh." Chanyeol memerintahkan.

"Maksudmu?" –Ace mempertanyakkan keputusan dari Bossnya yang secara tiba- tiba menyuruh para Officer kembali ke markas.

"Kalau kita melawan mereka saat ini itu akan membuat Sunyoung mengetahui bahwa Phoenix mengincarnya, biarkan aku dan Mark yang menjadi target kali ini, kita bisa melawan mereka. Lagipula, ada seseorang disini yang bisa dijadikan korban lainnya." Chanyeol menengok kebelakang dimana Kai tengah berbaring pada kursi penumpang belakang.

"Semuanya kembali, but Four.." Ace mengulangi lagi perintahnya, "Aku akan tetap berada mengawasi kalian." Executive Phoenix itu tetap menjalankan mobilnya mengikuti pergerakkan para pengawal Sunyoung yang diperintahkan mengejar mobil dimana Chanyeol berada saat ini.

"Hey Ace.. bisa kau beri aku tumpangan?" –Willis menyahut mengingat dirinya masih berada disekitaran wilayah Hotel BReuz.

"Anak ini.." suara pasrah dari Ace terdengar dan Willi terkekeh disana, begitu juga dengan Mark dan Chanyeol yang tertawa mendengarnya.

"Jadi Boss, apa rencana kita?" Kai bergerak perlahan mendekatkan diri di tengah – tengah antara kursi dimana Chanyeol dan Mark duduki. Mark menunggu jawaban dari Boss-nya itu sementara Chanyeol tengah memainkan jari – jarinya untuk ia gigiti dengan raut wajah berpikir dan tak lama ia menyeringai melihat kearah spion mobil itu.

"Mungkin kita bisa mengajak mereka menjelajahi Kota Seoul seharian ini." Chanyeol berucap, menoleh kearah Mark dan juga Kai, "Mari kita jalan – jalan."

"Siap Boss!" Mark dengan semangat menyahut, dan Kai mengangguk setuju.

"Dan Ace, Willis.. mungkin ada baiknya kalian tetap berada didekat kami.. aku membutuhkan mobil kalian setelah acara jalan – jalan ini selesai."

"Roger that." –Ace dan Willis menyahut bersamaan.

"Okey Boss.. mari kita berkeliling kota." Mark bersemangat, membawa mobilnya memecah belah kepadatan Kota Seoul dengan kecepatan tinggi sementara para mobil dan motor pengawal Sunyoung masih turut berusaha mengikuti mobil yang ia kendarai.


RED


"Apa maksudmu mengatakan Sunyoung menelepon para mafia di Kolombia?"

Penjelasan mengenai apa yang Chanyeol lakukan selama seharian ini dan memiliki keterkaitan dengan Sunyoung masih dilanjutkan antara Yoora dan Irene. Executive itu sudah menjelaskan segala hal yang mereka lakukan sejak semalam dan juga pada siang hari ini. Termasuk pada bagian dimana Chanyeol melakukan hubungan seks dengan Sunyoung dan saat ini berada di Hotel untuk memenuhi panggilan dari wanita itu.

"Menjijikan." Yoora memasang wajah penuh kekesalannya menghadap pada Irene. "Dia mendekati Ayahku dan sekarang Chanyeol ikut masuk dalam lingkarannya! Tidakkah menurutmu ini rencana yang bodoh? Kau membiarkan adikku berada dibawah kuasanya?!" Yoora membentak lagi.

"Maafkan aku Lady.." Irene membungkuk, menundukkan wajahnya sebagai tanda permintaan maaf darinya.

"Lady.." Minseok memohon ijin untuk ikut berbicara. "Setidaknya karena apa yang dilakukan Chanyeol—maksudku Four saat ini bisa mendapatkan informasi mengenai apa yang akan dilakukan oleh Sunyoung. Beberapa anggota Officer Phoenix sudah terbang menemui para Father yang berada di Asia sementara informasi mengenai kertetarikan Sunyoung pada bisnis narkoba dan senjata sudah kami sampaikan pada pihak Red. Jenderal Kim sudah mengarahkan anak buah yang lainnya untuk melakukan interogasi awal di Kolombia dan juga Rusia."

Yoora mendengarkan penjelasan itu meksipun ia jelas masih merasa kesal akan bayangan apa saja yang tengah Chanyeol lakukan dengan Sunyoung sebelumnya.

"Aku meminta maaf Lady, namun menurutku.. satu – satunya cara yang bisa aku ijinkan hanyalah dengan mengirim Four pada Sunyoung untuk mendapatkan informasi dan bisa melakukan penyadapan hingga sejauh ini, aku meminta maaf atas kejadian lainnya yang melibatkan Tuan Muda." Irene masih membungkuk, menundukkan wajahnya dan belum berani memandangai Yoora dihadapannya.

"Aku tidak bisa berbuat apa – apa.. kalian sudah melakukannya, Chanyeol sudah melakukannya dengan wanita sialan itu—" mata Yoora terpejam mencoba menyingkirkan bayangan mengenai kemungkinan apa saja yang Chanyeol lakukan bersama Sunyoung di malam kemarin. "—aku peringatkan ini adalah kejadian terakhir menyangkut Chanyeol dan Sunyoung. Jangan buat adikku sebagai pemuas nafsu wanita sialan itu." Mata Yoora memerah dan kedua tangannya bergetar menahan rasa amarah.

"Dia adalah keluargaku satu – satunya yang tersisa.. dan aku tidak mau ia bernasib sama seperti apa yang mendiang ayahnya lakukan." Yoora beranjak dari kursi yang ia duduki dan melangkah cepat meninggalkan ruangan kerja Phoenix diikuti oleh Minseok yang setia menemani sang Lady.

Irene menghela nafas panjang dan merebahkan kepalanya pada meja setelah entah berapa jam ia habiskan untuk menceritakan reka ulang segala kejadian pada operasi yang mereka lakukan dan juga menerima amukan dari Yoora mengenai apa yang terjadi pada adiknya.

...

Yoora melangkah cepat menyusuri setiap lorong dan lantai pada rumahnya itu untuk bisa kembali menuju ruangan kerjanya, Minseok masih mengikuti dibelakangnya dan ketika ia hendak melangkahkan kakinya menuju anak tangga, penglihatannya melihat Kyungsoo dan juga Seulgi yang tengah berlari terburu – buru dari arah lain menarik perhatiannya.

"Kyungsoo." Yoora lebih dulu menyapa sebelum kedua anak itu berada didekat mereka.

"Lady," mereka membungkuk memberikan hormat dan Yoora tersenyum membalasnya melupakan perasaan kesal yang sempat melingkupi dirinya.

"Kalian akan kemana? Latihan sudah selesai bukan? Kali ini kita akan melakukan barbeque untuk makan malam sebagai perayaan kecil dari kami." Yoora menanyakkan langsung, melihat kedua orang disana tengah membawa selimut, air mineral dan juga kotak obat – obatan.

"Ma—maaf Lady.." Kyungsoo membungkuk, "Aku mohon ijin untuk bisa segera menyusul Baekhyun—

"Baekhyun?" Yoora menaruh perhatiannya penuh ketika mendengarkan nama Baekhyun disebutkan oleh Kyungsoo.

"Baekhyun masih berada dilapangan sedari tadi, dia menunggu Four untuk kembali dan memeriksa—"

"Dimana dia?" belum selesai Kyungsoo menjelaskan, Yoora menarik anak itu untuk membawa dirinya pada tempat dimana Baekhyun berada. Tanah lapang yang menjadi tempat mereka berlatih terakhir kalinya adalah dimana Baekhyun masih berada, terjemur tepat dibawah sinar matahar sejak siang hingga petang menyambut, belum lagi berbagai nyamuk yang mulai mengelilingi badannya yang hanya menggunakkan celana training hitam dan kaos berlengan pendek.

"Oh astaga Baekhyun.." Yoora mengeluh melihat keadaan anak itu yang tengah tertidur pada kursi disana, tangannya bahkan memeluk pistol yang sudah dalam kondisi terakit sempurna, dan terlihat luka pada jari – jari tangannya jelas masih terlihat baru dan mengering menyatu dengan noda tanah dan noda – noda lainnya.

"Lady... aku akan memanggilkan beberapa anggota untuk membawa masuk Baekhyun.." Minseok dengan cepat memberikan saran, Kyungsoo bahkan hendak melangkah mendekat pada Baekhyun agar gadis itu terbangun namun tangan Yoora menahan keduanya.

"Bi-biarkan dia." Yoora berucap menahan dirinya untuk menangis, tangannya mengusap hidungnya sesaat dan menepuk pipinya sendiri untuk menghilangkan sedikit rasa kesedihannya. "Biarkan Baekhyun berada disini hingga Four datang. Dia adalah tanggung jawab Four."

"Tapi.. Lady.."

"Ini perintah." Yoora membalas sahutan Kyungsoo dengan nada dingin, ucapannya terdengar mutlak dan tidak mungkin lagi dibantah oleh siapapun diantara mereka. "Dan kalian sebaiknya cepat bersiap menikmati pesta Barbeque hari ini." Ucapannya dimaksudkan pada Kyungsoo dan juga Seulgi yang masih berdiri disampingnya, "Dan.." kali ini ia beralih pada Minseok. "Perintahkan pada semuanya untuk tidak ada yang memindahkan Baekhyun kemanapun." Yoora selesai mengatakan perintah lainnya dan ia melangkah meninggalkan ketiga orang disana dan jug Baekhyun yang benar terlelap tidur dengan kursi sebagai tempat kepalanya bersandar.


FOUR


Operasi pengejaran dan juga saling membuntuti antara dirinya dengan pengawal Sunyoung baru saja berakhir ketika memasuki Rest Stops di pada daerahYangjae-dong. Chanyeol meminta Kai mengenakan pakaian kemeja yang ia pakai dan begitu mobil mereka saling berpapasan dengan mobil yang dikendarai oleh Ace, Chanyeol berguling keluar dengan cepat dan Willis adalah orang yang menagkap badan Chanyeol untuk dibawah masuk kedalam mobilnya. Dan untungnya jarak antara mobil mereka dan mobil para pengawal Sunyoung memiliki jarak cukup jauh.

"Big Boss sudah aman." Ace memberikan kabar pada InCom yang sedari tadi menantikkan informasi terbaru dari hasil pelarian itu.

"Bagus, cepat bawa Four kembali. Pesta sudah dimulai.. dan ada seseorang yang menunggu." Irene berucap santai namun nada diakhir kalimatnya terdengar tidak bersemangat.

Kris melirik pada Chanyeol yang duduk dibelakang, mereka jelas memikirkan satu orang yang sama pada kalimat yang dimaksudkan oleh Irene sebelumnya.

"Bawa mobil ini melaju kencang, Barbeque telah menunggu." Chanyeol memerintahkan, dan Kris mengangguk menerima perintah yang diberikan.
S

afety House berada cukup jauh dari lokasi mereka saat ini, namun dengan lenggangnya perjalanan menuju kesana dan juga kepiawain Kris dalam mengemudi dengan kecepatan tinggi, waktu tempuh yang diperlukan tidak lebih dari dua jam. Mobil mereka berhenti di tengah – tengah hutan yang berjarak cukup jauh dari pintu masuk safety house—demi alasan keaman dari para pelacak—mereka bertiga turun dan berjalan melewati jalan setapak dengan begitu cepat.

Fokus Kris dan Sehun sudah dipenuhi dengan berbagai menu pada acara Barbeque sementara Chanyeol tengah memikirkan berbagai jawaban yang akan ia katakan pada Yoora yang dalam hitungan menit akan ia temui.

"... pork belly, lidah sapi dan ramen, astaga perutku sudah tidak sabar menanti mereka semua." Sehun memukul badan Kris mengajak pria itu untuk segera berlari menuju ruangan makan.

Chanyeol melangkah pelan dibelakangnya melihat kondisi sekitar Safety House yang terlihat masih normal seperti biasanya—menurutnya. Hingga matanya menangkap Yoora yang tengah berdiri pada salah satu anak tangga, kedua tangannya bersilang didepan dada, raut wajahnya dingin dan matanya terpancar emosi yang tertahan untuk diluapkan.

"La—lady.." Kris dan Sehun menyapa, dan mereka berdua berlari pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri.

Chanyeol melangkah menaiki anak tangga untuk menyusul Yoora, sementara kakaknya itu menuruni anak tangga. "Noona.." Chanyeol memegang tangan Yoora menahan agar kakaknya tetap berada disana.

"Aku tidak menunggu kedatanganmu." Yoora menghempaskan tangan Chanyeol dengan kasar, "Aku ingin menikmati pesta ini tanpa perlu membahas apa yang kau lakukan, dan sebaiknya otakmu segera tersadar mengenai tanggung jawab apa yang kau lupakan hanya untuk berurusan dengan jalang sialan." Ucapan Yoora berakhir dengan penekakan setiap kata penuh luapan emosi, langkah Yoora bahkan tersentak kesal ketika ia berjalan meninggalkan Chanyeol disana.

Chanyeol menunduk pasrah dan menyusul langkah Yoora menuju ruangan makan dimana pesta Barbeque diadakan. Semua anggota berada disana, menikmati hidangan dan bahkan saling berbincang satu sama lain, Chanyeol masih belum merasakan keganjilan dari pesta itu hingga ketika dirinya menemui, Sehun Kris dan juga Irene duduk pada meja yang sama, pendengarannya membuat ingatannya teringat pada 'tanggung jawab yang ia lupakan'.

"...Baekhyun duduk memperhatikan Jongin, dan temanmu itu tersedak menyeburkan makanannya kearahku.."

"Baekhyun.." Chanyeol berbalik, melihat satu per satu orang yang berada diruangan itu dan tidak menemukan sosok yang menyendiri dan merasa asing di tengah kerumunan, langkahnya bergerak lari melewati beberapa anak tangga untuk tepat berada didepan kamar Baekhyun, namun ketika ia membuka pintu itu. Luhan dan Kyungsoo adalah yang berada disana, Kyungsoo tengah melaporkan pada Luhan mengenai Baekhyun yang masih terbaring ditanah lapangan dan mendengar hal itu, Chanyeol kembali membawa langkahnya berlari menuju tempat dimana ia meninggalkan Baekhyun sedari siang.

"Baekhyun.. hey.. hey.." Chanyeol dengan sigap membawa badan anak itu dalam dekapannya, tubuh dingin yang diriingi dengan dengkuran halus ia dapatkan karena jelas terlihat Baekhyun benar – benar masih terbaring nyenyak dalam tidurnya meskipun ia berada diselimuti cuaca dingin.

Chanyeol membawa badan Baekhyun dalam gendongannya, melangkah terburu – buru untuk bisa merebahkan badan ringan itu dalam ruangan yang lebih hangat. Namun kenyataaan lain ia dapatkan ketika berhasil merebahkan badan Baekhyun pada sofa, sekujur tangan gadis itu nampak memerah entah karena gigitan nyamuk atau hewan lainnya, terlebih luka pada jari – jari tangan lentik gadis itu masih nampak jelas mengering bercampur dengan noda – noda lainnya.

Hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah membersihkan bagian tangan Baekhyun dan juga mengobatinya luka – luka pada jari gadis itu, tanpa memanggil bantuan lainnya, Chanyeol melakukan semuanya seorang diri, membersihkan satu per satu kotoran pada jari tangannya dan juga memberikan cairan antiseptic, serta menutupi bagian luka yang dengan hansaplast.

Setelah semuanya ia kerjakan, ia mengambil selimut dan juga bantal dari ruangan kamarnya untuk bisa Baekhyun pergunakkan, sementara ia masih mengawasi dengan duduk di meja dekat sofa dimana Baekhyun berbaring.

"Maafkan aku.." lirihan ucapan itu diucapkan oleh Chanyeol sebelum ia melakukan hal yang membuat Irene dan Yoora yang tengah memperhatikan apa yang Chanyeol lakukan sedari tadi membelakkan matanya dan juga membuat mulut mereka terbuka lebar.

Pemandangan dimana untuk pertama kalinya mereka melihat seorang Park Chanyeol mencium seorang gadis.

Tbc.