"Mataku tidak salah lihat 'kan?"

"Tidak."

"Itu benar Chanyeol 'kan?"

"Hm.."

Yoora dan Irene berjalan berdampingan selepas mereka mengikuti dan memperhatikan apa yang Chanyeol lakukan ketika mendapati kenyataan bahwa Baekhyun masih berada di tempat mereka latihan sejak siang hingga malam ini, dan kali ini mereka berdua kembali mempertanyakkan penglihatan mata masing – masing hanya karena melihat sebuah kejadian yang sangat tidak terduga.

Chanyeol mencium Baekhyun, dan bila perlu diperjelas dimana ciuman itu dilakukan, keduanya mengingat dengan jelas pergerakkan wajah Chanyeol yang mendekat pada wajah Baekhyun disana. Chanyeol bukan hanya mencium kening atau bagian pipi dari gadis berukuran mungil itu, bibir pria itu mencium dan melekat erat pada bibir Baekhyun dan kedua wanita yang melihat semua itu jelas melihatnya dengan sangat jelas.

"Aku..." Irene berucap lirih, menahan kalimat yang akan ia ucapkan, pandangannya menatap kosong kedepan sama halnya dengan Yoora yang berada disebelahnya dan entah mendengarkan Irene disana atau tidak. "...tidak bisa berkata apapun. Aku akan beranggapan tidak melihat kejadian tadi."

Irene melanjutkan ucapannya dengan keyakinan penuh seirama dengan langkahnya, perlahan – lahan bergerak menyusuri lantai dirumah itu. Lain halnya dengan Yoora yang secara tiba – tiba menghentikkan langkahnya, raut wajahnya bukan lagi kekosongan akan rasa terkejut dengan apa yang Chanyeol lakukan didalam sana sebelumnya, melainkan kini tengah menunjukkan raut wajah penuh pemikiran hasil kerja otaknya.

"Irene.." ia memanggil, membuat Irene tersadar tengah meninggalkan Sang Lady dan menghentikkan langkahnya."Ya?"

"A-aku penasaran akan hal lain.."

"Hm?" Irene mengernyitkan alisnya merasa bingung dengan apa yang coba disampaikan oleh sang Lady.

"Aku penasaran.. apakah menurutmu.. Chanyeol benar – benar tidak ingat siapa Baekhyun?" Dan rentetan kalimat yang diucapkan Yoora seakan – akan menyadarkan keduanya.

Bagi Yoora saat ini, pernyataan Chanyeol yang tidak mengingat siapa Baekhyun adalah hal yang tidak wajar mengingat pria itu tidak pernah mengalami luka serius pada kepalanya hingga mengakibatkan amnesia atau pun hal yang bisa menghilangkan ingatannya sebagaian.

"Apa menurutmu Chanyeol benar – benar tidak ingat siapa Baekhyun?" lagi Yoora mengulang. "Apa Ia tidak mengatakan apapun ketika kalian menunjukkan rekaman cctv yang menayangkan Baekhyun dan Sunyoung masuk ke Black House saat itu?"

Irene menggelengkan kepala, "Ia tidak mengatakan apapun ketika kami memperlihatkan tayangan itu, dan ketika Kris mengatakan bagaimana Baekhyun membunuh Chen saat itu dan juga kabur ketika Phoenix mulai mengepung Black House.. Chanyeol hanya diam dan mendengarkan semua penjelasan yang dikatakan padanya." Irene melanjutkan.

"Baekhyun menyebutkan nama Chanyeol sebelum ia hendak membunuhnya." Yoora mengkoreksi, "Kau ingat? Kris mengatakan Baekhyun menanyakkan apakah Chanyeol hidup atau tidak karena Sunyoung yang mengatakan pada Baekhyun, ia membunuh Chanyeol."

"Ya, aku masih ingat, Lady. Dan karena itulah Chanyeol menembak Baekhyun, dan membawanya ke Markas lalu memerintahkan agar kami menyiapkan pengganti mayat Baekhyun, dan membuangnya pada tempat yang jauh agar Sunyoung yakin bahwa Baekhyun sudah dihabisi oleh Phoenix."

Mereka berdua saling berhadapan dengan kedua tangan terlipat didada, memikirkan kembali potongan – potongan kejadian yang sudah berlalu beberapa hari yang lalu.

"Dan ketika Baekhyun tersadar, gadis itu bukan lah menjadi Baekhyun seperti sebelumnya, dan hanya Chanyeol yang tahu bahwa Baekhyun memiliki alter-ego." Irene mengingatkan kembali, saat dimana mereka mendapati Baekhyun yang tersadar pada ruangan di Markas Militer saat itu. "Dia memberontak.. dan kita tidak ada yang tahu.. namun aku mengingat jelas.. Chanyeol-lah yang mengatakan bahwa saat itu adalah alter-ego Baekhyun... dan aku ingat bagaimana Chanyeol mengatasinya?"

"Ya—ya-ya.. aku ingat!" Yoora mengangukkan kepala.

"Dan sejujurnya.." Irene mengawasi kondisi sekitar mereka yang sebenarnya terlihat tidak ada orang lain selain mereka berdua disana. "Chanyeol memiliki tattoo pada lengannya dimana gambar itu adalah gambar dimana kalung pemberian yang pernah Baekhyun berikan padanya." ia berucap sangat pelan dan hati – hati, Yoora bahkan menahan suara pekikan dari mulutnya mendengar informasi tersebut.

"Chanyeol memilikinya? Aku tidak tahu mengenai hal itu, bukankah kalung itu hilang?" Yoora memprotest, karena jelas ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari kalung yang pernah diberikan Baekhyun untuk Chanyeol namun belum ada kabar hasil pencarian itu hingga saat ini.

"Kalung itu hilang ketika ia berpindah base Militer, ia memang memiliki kalung itu, namun ia tidak ingat bagaimana bisa memilikinya. Ia beranggapan itu adalah jimat keberuntungan, dan karena itulah ia membuatkan tattoo pada lengannya."

Yoora mendengarkan apa yang Irene jelaskan padanya dan kembali berpikir mengenai segala asumsi dalam pikirannya mendapati fakta – fakta lain yang sempat ia lewatkan.

"Aku rasa.. apa yang aku pikirkan saat ini adalah hal yang benar. Chanyeol bukan tidak ingat dan mengenal siapa Baekhyun.. dia hanya.." Yoora menimang – nimang mencari kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang mungkin sedang dilakukan oleh adiknya.

"Menahan diri?" Irene memberikan contoh kata dan Yoora hanya terdiam, entah wanita itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Irene atau tidak.. ia tidak menunjukkannya.

"Bersembunyi tepatnya." Yoora mengoreksi. "Dia ingat siapa Baekhyun, dan aku yakin dalam lubuk hatinya ia memiliki keinginan terbesar untuk membuktikan bahwa gadis masa kecilnya itu bukanlah yang membunuh ayah kami.. ditambah dengan kenyataan saat ini.. Baekhyun adalah kandidat Red.. yang bisa ia lakukan adalah tetap membuat Baekhyun menganggap dirinya sudah meninggal, sementara ia fokus pada pembalasan dendamnya terhadap Sunyoung.." Yoora menghela nafas panjang, penjelasan yang ia katakan seakan – akan menguras segala tenaga yang tersisa pada tubuhnya.

"Lady.." Irene menghampiri, menahan lengan Yoora ketika ia melihat tubuh Sang Lady hampir terhuyung mencari sebuah pegangan.

"Kita akan melanjutkan besok.." Yoora menyudahi perbincangan serius mereka saat ini, Irene mengangguk menurut, mereka kembali melanjutkan langkah untuk kembali pada kamar masing – masing.


RED


Hari berganti dengan begitu cepat seakan – akan mereka selalu menantikan saat – saat keramaian yang memenuhi waktu siang dibandingkan kesunyian di waktu malam hari, dan itu adalah yang berdampak pada siapapun penghuni Safety House saat ini. Rutinitas di pagi hari kembali terlihat dan disibukkan dengan pemandangan beberapa kumpulan orang – orang tengah melakukan lari pagi mengelilingi luasnya bangunan, ada juga beberapa dari mereka yang memilihi bercengkrama dengan satu sama lain di area gedung lainnya, tapi kebanyakkan dari mereka kini memilih masih berada dikamar masing – masing sampai menunggu waktu sarapan tiba.

Berbeda dengan yang lainnya, Seulgi dan Kyungsoo yang sudah terbangun sejak pucuk pagi baru menjelang kini tengah disibukkan menghadapi salah satu penghuni kamar mereka yang tengah menyerang Yeri hanya karena gadis itu tengah berusaha membetulkan penutup luka yang ada ditangannya.

"Baek—hey—hey ini kami.. kita teman sekamar!" Kyungsoo berusaha menenangkan Baekhyun disana, gadis itu kini tengah mengapit leher Yeri dengan lengannya sementara salah satu tangannya yang memegang gunting terarah pada Seulgi yang juga sedang berusaha menenangkan gadis itu.

"DIAM! JANGAN PANGGIL AKU BAEKHYUN!" Gadis itu kini berteriak, semakin mengapit leher Yeri hingga gadis itu memekik kesakitan untuk bernafas.

"To—to—tolong.." Yeri merintih, namun itu malah semakin membuat Baekhyun mengapitnya lebih keras.

Dengan tidak sabaran, Seulgi menapis tangan Baekhyun dan kemudian menghantam badan Baekhyun dengan badannya hingga mereka terperosok menghantam lemari kayu yang ada disudut ruangan, setidaknya apa yang ia lakukan berhasil membuat Yeri terbebas dari kukungan Baekhyun, Kyungsoo dengan cepat membawa Yeri keluar dari kamar, mengamankan diri dan juga mencari bantuan untuk menghadapi Baekhyun yang tengah menggila saat ini.

Seulgi yang tengah mencari kesadarannya kembali karena baru saja menghantam lemari, harus kembali merasakan perih karena Baekhyun memukul wajahnya dengan begitu keras.

"Brengsek!" gadis itu bahkan mengumpat sebelum akhirnya menendang tubuh Seulgi dengan begitu keras hingga badannya terangkat dan mulutnya memuntahkan sedikit darah diatas lantai.

Baekhyun baru saja akan menendang Seulgi untuk kesekian kalinya, namun mendengar derap langkah terburu – buru terdengar dari luar ruangan kamarnya, ia mengantisipasi lebih dulu dengan mengambil beberapa peralatan seperti gunting dan juga pecahan kaca dari gelas yang sudah terpecah lebih dulu sebagai senjata untuk dirinya.

"Baekhyun!" Luhan yang baru masuk kedalam kamar mereka berteriak, manik matanya menatap kearah Baekhyun yang tengah menatap dirinya dengan singit, sementara ketika ia melihat Seulgi disana nampak sudah tidak sadarkan diri.

"Baekhyun.. ini aku Luhan.." Luhan berusaha tenang dan memerintahkan beberapa orang dibelakangnya untuk tetap tenang dan jangan ada yang melawan lebih dulu.

"DIMANA AKU! KEMANA KALIAN MEMBAWAKU?!" Baekhyun berteriak kearah Luhan.

"Baek—ah maksudku B!—tenangkan dirimu okey.. kau berada di Red.. ini kediaman Red dan juga Phoenix.. Baekhyun menyetujui hal ini.. dan kita hanya perlu bicara dengan tenang supaya kau bisa mendengarkan penjelasan dari kami lebih dulu." Luhan memberikan jawaban dan sebisa mungkin menjaga ketenangan diantara mereka menghindari penyerangan yang bisa saja Baekhyun lakukan secara tiba – tiba. Beruntugnya saat ini Baekhyun mendengarkan apa yang Luhan katakan dengan tenang, gadis itu tidak lagi berteriak – teriak ataupun menyerang Seulgi, ia bahkan melemparkan kembali pecahan kaca yang ada ditangannya dengan asal kearah lantai, tapi gunting yang ada ditangan lainnya masih ia pegang dengan erat dan terarahkan pada beberapa orang dibelakang Luhan yang memperhatikan dirinya.

Tatapannya masih dingin dan penuh kekesalan.

"B.." Luhan memanggil lagi dan Baekhyun mendengarkan, "Boleh aku membawa Seulgi.. dia butuh pertolongan.." diam – diam Luhan berusaha masuk kedalam kamarnya dan mendekatkan diri pada Baekhyun, gadis itu kini memperhatikan Seulgi yang tengah tak sadarkan diri dan juga memperhatikan Luhan bergantian dengan cepat.

"Seulgi tidak apa – apa.. hanya saja biarkan kami menolongnya sebelum masalah serius terjadi pada dirinya. Boleh ya?" Luhan menanyakkan lagi tapi kali ini suaranya memohon dengan sangat kepada Baekhyun.

Baekhyun tidak memberikan jawaban secara pasti, tapi ketika Luhan memerintahkan yang lainnya untuk masuk kedalam kamar mereka dan membawa Seulgi keluar dari sana, gadis itu tidak menyerang siapapun dan masih berdiri mengawasi gerak gerik Luhan.

"DIMANA PHOENIX?!" Baekhyun berteriak hanya untuk menanyakkan keberadaan Phoenix pada Luhan.

"Selama kau bisa menahan diri.. aku akan mengatakan apapun yang ingin kau ketahui.. dan kami akan membawamu menemui Phoenix dan juga Red.. tapi dengan kondisi kau tenang." Luhan menyampaikan dengan suaranya yang memohon namun tetap stabil dan tenang.

"Baiklah." Baekhyun membuang gunting di tangannya, membawa badannya untuk duduk pada ranjang lain dikamar itu dan membiarkan Luhan menjelaskan bagaimana kondisinya saat ini.

.

.

Irene baru saja menyelesaikan kegiatan lari paginya saat itu, melepaskan earphone yang sedari tadi berada ditelinganya dan mematikan pemutar musik pada ipodnya, langkahnya kini terarah menuju ruangan makan hanya untuk memastikan kegiatan sarapan bagi dua organisasi dan sekitar 150orang yang berada saat ini terpenuhi.

Namun belum jauh ia melangkah, pemandangan yang ia dapati adalah beberapa kerumunan orang kini terlihat bergerombol dengan raut wajah panik dan diantara mereka membawa tubuh perempuan yang nampak lemah dengan darah dibagian tubuhnya.

"Hey—ada apa?!" Irene cepat menyusul untuk mellihat langsung siapa yang mengalami luka disana.

"Baekhyun menyerang Seulgi!" salah satu dari mereka menjawab asal dan tanpa menghiraukan apakah Irene mengerti atau tidak dengan apa yang dikatakan, mereka lebih terfokus untuk membawa Seulgi pada klinik yang ada di gedung lain dari Safety House.

Irene juga tidak tinggal diam, dia adalah Executive Phoenix dan itu mengharuskan ia berpikir dan bertindak cepat dalam kondisi apapun, dan kali ini, ia dengan sigap berlari menuju kamar Baekhyun hanya untuk memastikan sebuah pemikiran yang ada dipikirannya kali ini adalah salah, namun begitu ia tiba tak jauh dari pintu kamar Baekhyun yang terbuka, dan mendengar penjelasan mengenai bagaimana Baekhyun bisa berada dan bergabung di rumah ini, tentu bisa ia anggap pemikiran yang ia miliki mengenai kembalinya Sang Alter Ego dari gadis itu adalah benar.

Dan keputusan lain yang bisa ia buat saat ini untuk menghadapi masalah ini adalah dengan mencari pemecah solusi yang cukup handal dimana bisa mengatasi dan mengembalikan Baekhyun kembali pada sisi polos dan naif-nya.


.

FOUR

.


"Aku tahu kau sedari tadi mendengarkan apa yang aku katakan Chanyeol." Yoora menatap malas penuh emosi pada tubuh Chanyeol yang tengah terlungkup pada posisi tidurnya, tapi bagi Yoora ia yakin adiknya itu sudah terganggu oleh panjang lebar ocehan yang keluar dari mulutnya sejak ia masuk kekamarnya.

"Chanyeol... Aku akan memanggil namamu terus menerus sampai kau terbangun." Yoora mengatakan peringatannya lagi.

"Aku serius! Apa yang kau lakukan kemarin itu tidak bisa aku toleransi! Bangun cepat!" kali ini ada tambahan pukulan cukup keras pada bagian paha Chanyeol.

"Aiiissshh!" sahutan dari Chanyeol terdengar setelah beberapa kali Yoora memukulkan bantal pada sekujur badan adiknya itu, ditambah dengan cubitan – cubitan pada kulit badannya yang bertelanjang disana. Chanyeol tidak mengenakkan pakaian atasan hingga Yoora sengaja melayangkan cubitan keras pada tubuh adiknya itu.

"Bangun!" pukulan akhir Yoora berikan.

"Kenapa harus sepagi ini..." Chanyeol merengek disana, menarik Yoora untuk berbaring di ranjangnya namun kakaknya itu langsung menolak dan menjauh dari jangkauan tangan Chanyeol.

"Diam. Wajahmu tidak pantas untuk merengek seperti itu." Ketus Yoora dan Chanyeol menunduk, mengusak rambutnya sebelum ia kini mulai memperhatikan badannya yang terlihat memerah, bekas cubitan Yoora nyatanya mulai nampak disana. "Aku ingin mengubah pelatihan untuk para kandidat Red, dan aku tidak menerima alasan apapun darimu untuk pergi ketika mendapatkan panggilan dari wanita itu."

Chanyeol mendengarkan, ia jelas tahu siapa wanita yang dimaksudkan oleh Yoora tersirat disana.

"Dan kau.. jangan pernah untuk mencoba meninggalkan Baekhyun seorang diri dengan perintah aneh lagi! Dia menunggumu disana, tidak berpindah sedikitpun, bahkan ia tidak makan atau minum seharian hanya karena perintahmu yang tidak masuk akal, sementara setelahnya kau bahkan melupakan—

"Aku tahu, Aku salah." Chanyeol menjawab pelan dengan nadanya yang pasrah menandakkan dirinya memang merasa bersalah mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Baekhyun. "Aku melupakan dirinya.. dan.. terlalu fokus pada Sunyoung."

"Oh.. bagus kalau kau sudah paham.. tumben sekali?" Yoora membalas sinis dan Chanyeol tidak memperdulikan, ia bangkit dari ranjangnya untuk mengambil kaos miliknya dimana tergeletak di atas lantai.

"Aku ingin kau lebih fokus melatih Baekhyun.." Yoora melanjutkan lagi penjelasan kalimatnya dan pandangannya tak berhenti menatap Chanyeol yang tengah memakai pakaian disana. "Bukan hanya melatih dia untuk bisa melawan Sunyoung atau pun membela diri, tapi aku ingin dia seperti Minseok dan Irene, berani melawan para Mafia."

"Baekhyun adalah Baekhyun." Chanyeol menjawab dibalik lemari pakaiannya. "Kau tidak bisa menyamakan dia dan menjadikannya seperti Irene dan Minseok."

Yoora tersenyum kecil disana mendengar apa yang adiknya katakan. "Aku tahu.. hanya saja, ia harus menjadi seperti itu disini. Ia adalah anggota Red, dan harus bisa seperti Red. Menjadi agen anti mafia dan juga siap melawan para mafia.. seperti dirimu."

Chanyeol tidak menyahuti.

"Aku ingin kau bisa melatihnya seperti itu, anggaplah ia melawan dirimu. Kau salah satu contoh Mafia terhebat saat ini disini, dan Baekhyun harus bisa melawanmu bukan?" Yoora kembali bertanya pada Chanyeol.

Kini ada gerakkan responds dari Chanyeol disana, wajahnya memandang Yoora yang sedari tadi memperhatikan dirinya berpakaian. "Apa maksudmu?"

"Kau tentu paham apa maksudku Chanyeol, Baekhyun adalah Red. Latih dia menjadi seperti anggota Red lainnya dimana bisa melawan siapapun mafia yang mereka hadapi."

Chanyeol tidak merespons, adiknya itu hanya memandangi Yoora dalam diam dan nampak tengah berpikir mencerna kalimat Yoora.

"Dan.. aku sempat berpikir.." Yoora menghampiri Chanyeol disana, "Ketika semua ini selesai.. mungkin aku akan mengirim Baekhyun ke luar negeri."

Ucapan Yoora kembali mendapatkan perhatian Chanyeol, karena adiknya itu kini menatap bingung pada kakaknya disana dan juga memperlihatkan raut wajah kebingungan.

"Ke-kenapa?" Chanyeol menanyakkan.

"Dia masih muda Chanyeol,usianya masih 17 tahun saat ini.. dan aku ingin semua ini cepat selesai. Sunyoung berhasil dihabisi dan kau memimpin Phoenix, sementara aku menjalankan Red dan juga bisnis keluarga kita.. tapi Baekhyun tidak akan berada di Red selamanya.." Yoora menjelaskan bersamaan dengan dirinya yang kembali mencari tempat untuk duduk guna menyamankan diri ketika ia memberikan penjelasan maksud dari keputusannya pada Chanyeol.

"Aku sudah membaca ulang seluruh informasi mengenai Baekhyun, dan itu mengkhawatirkanku. Ia tidak pernah menikmati masa mudanya. Sunyoung merengut semuanya, menyembunyikan Baekhyun di negara – negara lain, membawa anak itu berpindah – pindah tempat dan tidak mengijinkan ia untuk berbaur dengan teman – teman seusianya.. dan ketika ia dipindahkan ke Korea.. Sunyoung mengurungnya. Ia hanya diijinkan sekolah dan itu pun dengan pengawasan ketat. Kehidupannya tidak seperti remaja lain semenjak Ibu-nya tiada Chanyeol. Maksudku dia pasti ingin kuliah dan menjalani hari – hari menikmati masa mudanya.. tidak seperti hidup yang ia jalani saat ini. Sekarang ini." Suara Yoora melesu, mengkhawatirkan keadaan bagaimana kehidupan seseorang saat ini berbanding jauh dengan kehidupan yang sempat ia jalani dulunya.

Chanyeol menunduk, kedua tangannya terangkat dan menahan pada pinggangnya, "Ia tidak punya pilihan lain bukan?" wajahnya menoleh pada Yoora kembali. "Kita menawarkan ia kehidupan yang harus ia jalani saat ini, dan ia menyetujuinya. Apa lagi yang perlu kita khawatirkan? Dia seharusnya sudah tahu, hidupnya tidak bisa kembali dan disamakan dengan remaja – remaja lainnya."

Yoora terenyuh mendengar apa yang Chanyeol katakan, bukan karena suara dingin yang terdengar melainkan tatapan Chanyeol yang menahan semua emosi dari dalam hati pria itu, bagi wanita sepertinya, terlebih ia adalah seorang kakak Yoora mengerti bagaimana perasaan Chanyeol saat ini.

"Karena itu-lah aku semakin khawatir padanya, bukan kah dengan menjadikan dia anggota Red kita sama saja seperti Sunyoung memanfaatkan alter ego-nya? Aku rasa kita tidak bisa memperlakukan dia sama seperti perilaku Sunyoung padanya, dan sebesar apapun aku ingin Baekhyun menjadi anggota Red dan membalaskan dendam yang kita miliki.. Aku tetap menginginkan Baekhyun merasakan kehidupan normal pada umumnya. Tentu kau paham kan bagaimana perasaan yang aku miliki saat ini Yeol.." Yoora tersenyum kecil diakhirnya, menghampiri Chanyeol hanya untuk mengusap lengan adiknya disana yang terasa tegang dalam keterdiaman bibirnya.

"Seperti katamu.. Baekhyun adalah Baekhyun. Dan ketika semua ini selesai.. biarkan ia menjadi Baekhyun." Yoora mengakhiri, mencium lengan Chanyeol dan memberikan usapan pada adiknya sebelum ia berlalu pergi.

"Oh.. aku melupakan sesuatu.." Yoora kembali berbalik memandangi Chanyeol dibelakangnya, "Aku baru menyadari kau memiliki tattoo pada lenganmu."

Chanyeol yang mendengar itu beralih menyadari dirinya tengah mengenakkan pakaian lengan pendek dan tentu saja karena itu Yoora bisa melihat tattoo yang ia miliki pada bagian lengn bawahnya. Yoora hanya tersenyum menyadari sikap aneh adiknya disana.

Tok Tok.

Mereka berdua teralihkan dengan suara ketukan pintu kamar Chanyeol bersamaan, dan Yoora menjadi pembuka pintu mengingat dirinya lebih dekat berada disana, wajah frustasi Irene adalah apa yang didapatkan tak lama setelah Yoora membuka lebar pintu kamar Chanyeol disana.

"Irene? Kenapa dengan—

"Aku butuh dirimu. Sekarang." Irene mengabaikan pertanyaan Yoora dengan melenggang masuk kedalam kamar Chanyeol dan juga membawa pria itu keluar dari kamarnya menuju dimana kekacauan terjadi saat ini dan itu berhubungan dengan Baekhyun.

.

".. Baekhyun menyetujui apa yang ditawarkan oleh Lady, bergabung dengan Red dan melatih dirinya untuk menjadi salah satu dari kami. Dan karena itu kami membawa Baekhyun kerumah ini." Luhan menyelesaikan penjelasan panjang mengenai bagaimana pada akhirnya Baekhyun bisa berada saat ini dengan singkat dan kini pandangan matanya memperhatikan gadis itu berharap ia berhasil menenangkan sisi alter ego Baekhyun.

"Bagaimana dengan wanita itu? Apa yang kalian katakan pada wanita iblis itu mengenai nasib si naif ini?" Baekhyun menanyakkan lagi pada Luhan, suaranya masih terdengar sinis dan juga kasar.

Luhan mengangguk paham dengan apa yang ditanyakkan oleh Baekhyun padanya, namun sebelum suaranya terdengar menjawabi Baekhyun, suaranya Chanyeol lebih dulu bergabung dengan mereka disana.

"Aku membuat Sunyoung beranggapan Baekhyun sudah terbunuh." Pria itu masuk dengan angkuhnya, bahkan suaranya terdengar dingin dan menantang ditambah dengan Bahasa tubuhnya. Kedua tangannya bersembunyi dibalik kantung celana hitam yang pria itu kenakkan, seakan – akan menunjukkan bahwa ia adalah Boss-nya saat ini dan tidak ada siapapun yang bisa melawannya. "Apa itu memuaskanmu? Atau kau lebih memilih merasakan bagaimana dibunuh ditanganku dibandingkan hidup disini?" Chanyeol berdiri tepat dihadapan Baekhyun hingga pandangan gadis itu benar – benar terhalang dengan tubuh besar pria itu.

"Hm." Baekhyun berdecak. "Menurutmu dia akan percaya? Apa kalian tidak sadar betapa kejam dan jahatnya dia? Wanita itu bahkan mampu membuat penerus Phoenix mati dalam tugasnya dan tidak ada yang mengetahui dimana mayatnya—dan kenapa kalian berpikir wanita itu tidak akan tahu mayat yang kalian buang bukanlah mayat Baekhyun?"

Dan kini giliran Chanyeol yang meremehkan ucapan Baekhyun, pria itu tak lagi berdiri tegap, melainkan kini berlutut membuat Baekhyun bisa melihat jelas wajah dingin dan tatapan tajam mengintimidasi yang Chanyeol berikan padanya. "Well, gadis pemarah." Chanyeol menyebut Baekhyun demikian dan sontak membuat gadis dihadapannya bersiap melayangkan tamparan kearah wajahnya—hanya saja Chanyeol lebih dulu menahan kedua tangan Baekhyun dan kini mengukungnya dengan kasar hingga gadis itu terbaring pada ranjang.

"Kau terlalu lama tinggal dengan Sunyoung dan melupakan bahwa banyak yang lebih pintar dan kejam dibandingkan dirinya. Bila Sunyoung cukup pintar mengetahui bahwa mayat yang aku berikan padanya bukanlah anak kesayangannya—maka dengan begitu kau harusnya bersiap – siap karena aku akan memberikan mayat yang sebenarnya tanpa ragu bila ia menginginkannya!"

Chanyeol bangkit berdiri menjauh dari atas tubuh Baekhyun, namun masih menunggu gadis itu untuk kembali bangun dan memandangi dirinya.

"Kalau kau hanya muncul dan menyerang orang – orang yang menyayangi Baekhyun, aku sarankan kau lebih baik berpikir dua kali untuk melakukannya. Kami disini berjanji untuk melindunginya dan akan seperti itu hingga kami berhasil membuat Sunyoung berakhir sama dengan apa yang terjadi pada orang tua Baekhyun dan juga orang tuaku." Chanyeol memperingati lagi, Baekhyun disana mendengarkan meskipun masih nampak kesal karena apa yang Chanyeol lakukan pada kedua tangannya cukuplah terasa sakit.

Pria itu bahkan tidak mengucapkan kalimat undur diri atau satu kata pun ketika meninggalkan Baekhyun, hanya dentuman pintu yang cukup keras yang berhasil membuat alter ego Baekhyun meloncat kaget dibuatnya.

.

Terlepas dari kejadian yang mengejutkan pagi ini, semuanya berusaha kembali normal dan menganggap hal itu tidak lah pernah terjadi, namun sekeras apapun mereka berusaha, ketika pandangan mereka menemukan sosok Baekhyun—yang masih dalam sisi alter ego-nya. Mau tidak mau mereka kembali saling membicarakan dan juga memberikan pandangan menilai tidak suka ketika Baekhyun memperhatikan kembali kearah mereka.

Suasana ruang makan kembali mencekam.

Beberapa anggota Red terlihat saling menjaga jarak dengan Baekhyun yang kini tengah mencari tempat untuk dirinya, jelas ia tahu tidak ada satu pun yang dikenal oleh sisi dirinya saat ini, namun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang – orang ini adalah orang yang berbeda, bukan seperti Sunyoung yang mengancam dan selalu menggunakkan dirinya untuk membunuh atau pun menyerang orang lain.

Pandangan Baekhyun menyurusi setiap meja dan kursi diruangan itu hanya untuk mencari seseorang yang bisa ia hampiri, duduk bersama dan menikmati sarapan tanpa perlu beradu pendapat atau saling mengumpat.

"Mencari kenyamanan?" suara berat yang ia kenal terdengar dari arah belakangnya dan entah kenapa mendengar suara itu membuat dirinya merasa lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Baekhyun tidak memberikan senyuman atau pun wajah manisnya, ia hanya berbalik dan menganggukkan kepala, dan Pria yang dipanggil Four itu menggerakkan kepalanya menunjuk pada arah meja yang bisa mereka tempati.

Mereka duduk dalam satu meja bersama, dan Four berada dihadapannya, tanpa menyambung pembicaraan mereka yang sangat intens dikamar sebelumnya, Chanyeol memilih untuk menikmati sarapannya tanpa mengajak Baekhyun berbicara apapun.

Baekhyun memperhatikan pria itu diam – diam, dan juga tak lupa ia memperhatikan sekeliling mereka, hanya untuk mengawasi apakah ada diantara yang lainnya masih memperhatikan Baekhyun dengan dingin atau tidak.

"Kau masih memperdulikan mereka?" Chanyeol akhirnya mengajak Baekhyun bicara, dan wanita itu dengan cepat beralih kearah memandangi Chanyeol. "Bukankah dirimu dingin, tidak peduli apa yang orang bicarakan dan hanya peduli dengan dirimu sendiri? Kenapa masih memperdulikan orang lain? Masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan sebelumnya?" Chanyeol melanjutkan kembali perbincangan mereka di kamar sebelumnya.

"Huh," Baekhyun mendengus. "Waspada itu penting Tuan." Gadis itu memanggilnya dengan sebutan Tuan dan berdampak pada wajah Chanyeol yang mengerut bingung mendengarnya. "Sejujurnya aku hanya merasa asing karena terlalu banyak orang disekitar kami. Aku dan Baekhyun tidak pernah berada dalam satu ruangan dipenuhi orang – orang." Baekhyun menjelaskan dengan suaranya yang terdengar tenang dan bahkan bernada lembut.

"Selama kami tinggal bersama wanita itu, tidak pernah ada kata aman bagi kami. Selain selalu diasingkan, dan ditinggalkan seorang diri disebuah kamar, hanya beberapa penjaga dan pelayan rumah yang selalu kami temui.. dan itu pun hanya dalam waktu – waktu tertentu. Aku tidak tahu apa yang biasa Baekhyun lakukan sehari – harinya, karena aku hanya hadir ketika Sunyoung memangilku, dan itu berarti wanita itu memiliki misi untukku, ia akan menyiksa Baekhyun hanya untuk membawaku hadir."

Chanyeol mendengarkan dengan seksama, mengabaikan sarapannya hanya untuk mendengarkan cerita dari alter ego Baekhyun saat ini.

"Sejak kapan Sunyoung tahu Baekhyun memiliki alter ego?"

Baekhyun melirik sebentar kearah Chanyeol hanya untuk memastikan pria itu sungguh – sungguh dengan pertanyaannya. "Aku tidak yakin.." Baekhyun menggeleng,

"Dan kapan pertama kali kau bertemu dengannya?" Chanyeol masih melanjutkan memberikan Baekhyun pertanyaan.

Tatapan Baekhyun terkunci dengan mata Chanyeol, seakan – akan gadis itu tengah mempertimbangkan kepercayaannya dengan pria dihadapannya saat ini.

"Malam dimana Ibu Baekhyun terbunuh." Baekhyun menjawab dalam bisikannya, "Aku melihat dia yang melakukannya.. dan saat itulah dia mengetahui sisi lain dari Baekhyun."

"Kau ada disana?"

Baekhyun mengangguk.

"Bagaimana bisa?"

"Baekhyun ketakutan.. badannya bergetar hebat dan bahkan aku ingat dia kesulitan bernafas, disitulah aku mendorong diriku sendiri untuk muncul dan membantu anak itu melawan apa yang tengh ia hadapi, dan apa yang aku dapati adalah Sunyoung berada disana."

Chanyeol semakin tertarik menggali lebih dalam cerita saat itu, ia mencondongkan dirinya kedepan untuk semakin dekat dengan Baekhyun karena gadis itu semakin berbisik saat bicara dengannya.

"Lalu?"

Baekhyun menelan ludahnya, "Sunyoung menyiksa Baekhyun, ia ingin membunuh anak itu namun karena aku muncul.. pada akhirnya aku melawan dirinya saat itulah ia mengetahui bahwa Baekhyun memiliki alter ego.. ia meminta beberapa pengawal membawa kami dan meminta agar membuat kami tidak sadarkan diri.. dan saat itulah aku kembali hilang."

"Baekhyun tidak mengingat apapun ketika kau muncul." Chanyeol menjelaskan informasi lainnya.

"Tentu saja, dan karena itulah dia tidak ingat mengenai siapa pembunuh Ibunya, terlebih ketika Chanyeol pergi meninggalkan dirinya tak lama setelah pemakaman Ibunya, itu membuat dia semakin terpuruk dan lebih mudah dikuasai oleh Sunyoung."

"Hm.." Chanyeol menyimak.

"Sunyoung memanfaatkan kemunculankau yang selalu hadir ketika Baekhyun merasa dirinya disakiti atau pun lemah tak berdaya, beberapa tahun belakangan aku selalu muncul di tengah – tengah sebuah pertikaian atau lebih tepatnya pembunuhan."

"Dia membawamu masuk dalam dunia gelap dan memanfaatkan naluri membela diri yang kau miliki." Chanyeol menyimpulkan, "Ia sengaja memanfaatkan dirimu untuk hadir ketika ia tengah menyerang targetnya, ketika kau sadar, dirimulah yang akan menghabisi mereka karena mereka menyiksa Baekhyun. Sejujurnya, tanpa kau sadari kau membantu Sunyoung begitu banyak." Chanyeol menyeringai kearah Baekhyun yang tengah menggerutu dihadapannya.

"Yeah.. dan aku mengutuk wanita itu saat ini." Baekhyun mendengus kesal. "Ngomong – ngomong.. kenapa kau tahu banyak mengenai alter ego yang dimiliki Baekhyun?" Baekhyun melipat tangannya, bersandar pada kursi yang ia duduki sementara pandangannya terus terpaku pada Chanyeol yang kembali mencoba menikmati sarapannya.

Pria itu menyeringai diawalnya, namun belum memberikan jawaban akan apa yang ia tanyakkan. "Setelah aku amati.. kau mirip dengan Chanyeol. Garis rahang dan bentuk matamu mirip dengan pria itu. Tunggu...kau—" Baekhyun kembali mencondongkan wajahnya untuk lebih dekat pada Chanyeol, mengamati lebih jelas tanpa melewatkan setiap bagian sedikit pun dari wajah pria itu.

"Kau—" belum selesai Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, gadis itu lebih dulu terhuyung kesamping tak sadarkan diri, melewatkan pengawasan terhadap dirinya karena bahkan ketika Irene berada didekatnya dan bersiap menyuntikkan obat bius padanya Baekhyun lebih terfokus mengamati Chanyeol disana.

"Tepat waktu." Chanyeol memuji kearah Irene, dan wanita itu hanya memutar bola matanya untuk menanggapi apa yang dikatakan oleh Chanyeol, Irene memerintahkan pada dua orang anggota Phoenix yang ada dibelakangnya untuk membawa tubuh Baekhyun dan memindahkan ke ruangan klinik disana.


FOUR


Sunyoung mengamati layar dihadapannya yang memperlihatkan data mengenai pria muda bernama Richard—pria yang menolak menjadi salah satu pion dalam kelompoknya. nampak semua data mengenai nama hingga apa saja yang dilakukan pria itu dalam kurun waktu lima tahun terakhir dan tidak ada satu pun informasi yang begitu penting bagi Sunyoung ketika matanya berulang kali melihat beberapa slide yang ditampilkan disana.

"Jadi.. dia yatim piatu?" Sunyoung mengomentari dan berucap kearah salah satu bawahannya.

"Ya, Nyonya. Kami sudah mencari semua data dari bagian Militer dan juga dinas sosial, mereka meyakinkan bahwa Richard tidak memiliki keluarga siapapun yang tersisa saat ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak ia lahir dan sejak saat itu ia tinggal di Panti Asuhan salah satu milik keluarga Park. Karena itulah ia memiliki Marga Park pada namanya."

"Kau yakin dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Chanyeol?" Sunyoung menanyakkan lagi, masih membaca satu per satu riwayat hidup Richard disana.

"Tidak, Nyonya. Richard tidak berada dalam divisi yang sama dengan Tuan Muda dan tidak ada hubungan kedekatan diantara mereka berdua."

"Hm.. lalu kenapa dia dikeluarkan dari Militer?" Sunyoung menatap tajam kearah bawahannya.

"Diketahui Richard memiliki koneksi dengan beberapa mata – mata Rusia."

Sunyoung menyeringai, "Cari dia. Aku menginginkan dirinya. Dan aku harap dalam 24 jam dia sudah berada dikediamanku, tanpa ada luka sedikitpun. Siapapun yang melukai dirinya. Dia akan mati ditanganku."

Sang bawahan menunduk patuh dan tergesa- gesa beranjak keluar hanya untuk memberikan informasi perintah dari sang Nyonya besar.

.

"Dia mencarimu Boss."

Seluruh petinggi Phoenix kini tengah berkumpul diruangan mereka dan mendengarkan laporan yang didapatkan dari salah satu Officer Phoenix yang sudah diutus untuk menjadi penyusup dalam kelompok Sunyoung saat ini. Huang Zitao, yang kini menyamar menjadi salah satu bawahan Sunyoung dan baru saja mendapatkan perintah langsung dari target mereka untuk mencari seorang pria bernama Richard dan tak lain tak bukan adalah Chanyeol itu sendiri.

"Tentu saja bukan?" Kris menjadi orang pertama yang menyahuti disana sementara Chanyeol hanya menyeringai dan memberikan toss pada keraha Sehun dan juga Jongin disana.

"Perintah apa yang dia berikan?" Chanyeol bertanya kembali kearah Zitao.

"Well, dia hanya menginginkanmu berada dikediamannya dalam 24jam.."

"Apa Nyonya-mu itu tidak menginginkan Chanyeol dalam keadaan telanjang?" Sehun ikut menyahut diiringi suara tawa darinya dan juga Jongin serta beberapa Officer Phoenix lainnya yang berada disana, sementara subjek yang dibicarakan hanya menggeleng kepala dan menunggu jawaban dari Zitao selanjutnya.

"Mungkin dia akan memintamu telanjang setelahnya—anyway—dia menginginkanmu dalam keadaan utuh, tidak memiliki luka dan bahka ia memberikan perintah akan membunuh siapun yang membuatmu terluka sedikitpun."

Kris dan Chanyeol mengangguk kepala namun wajah mereka menggambarkan sebuah kebanggaan mengingat saat ini Chanyeol menjadi target namun sepenuhnya dilindungi langsung oleh Sunyoung.

"Kita bisa memanfaatkan itu." Chanyeol menanggapi, "Lanjutkan tugasmu Zi, aku akan bersiap untuk memancing orang – orang Sunyoung mencari keberadaanku."

"Roger that! Be safe Boss."

"Kau juga Zi." Kris menutup sambungan mereka dan kini meminta semua anggota bergerak untuk berkumpul lebih dekat, karena jelas mereka akan membuat rencana lain memanfaatkan perintah yang Sunyoung berikan kepada anak buahnya untuk mencari Boss mereka.

"Sepertinya kita akan bermain – main diluar." Chanyeol menyeringai, bergabung dalam lingkaran tempat duduk di meja Phoenix dan memulai menyusun rencana satu per satu sebelum dirinya kembali masuk kedalam kediaman Sunyoung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.tbc.