08
"…Kita tidak mungkin mencari Apartemen untukmu di daerah Gangnam, itu terlalu mencolok dan Sunyoung akan mencurigai latar belakang keluargamu nantinya."
"Betul sekali!" Kris menyetujui ucapan Irene.
Para Anggota Phoenix, keseluruhan anggota, tengah membicarakan rencana yang sudah disetujui Pimpinan mereka untuk bisa masuk dibawah kuasa Sunyoung yang mana tentunya mereka manfaatkan sebagai penyerangan besar pada akhirnya.
Pada awalnya Chanyeol hanya akan menjadikan dirinya sebagai umpan agar anak – anak buah Sunyoung mencarinya dengan susah payah dan tentunya melibatkan sedikit perkelahian kecil dengan beberapa anggota Phoenix. Mereka mengharapkan satu per satu anak buah Sunyoung dihabisi dan tentunya memudahkan penyerangan utama pada Boss-nya. Rencara awal disetujui, kini mereka melanjutkan perincian rencana lainnya. Bagaimana Chanyeol akan tinggal di luar sana seorang diri, membuat background personal dan juga persiapan lapangan yang mana melibatkan semua tim dari divisi yang dimiliki Phoenix.
"Aku tidak mengijinkanmu pergi saat ini." sementara mereka tengah mengurutkan perincian misi satu per satu terdengar suara lain bergabung dan itu adalah kalimat perintah diucapkan oleh Yoora saat dirinya masuk kedalam ruangan kerja Phoenix.
Semuanya secara serentak terdiam dan menghentikkan perdebatan, Irene dan Kris yang sebetulnya orang tertinggi kedua dari organisasi gelap itu bahkan terdiam dan menunduk tak berniat membantu Chanyeol yang tengah diajak bicara oleh kakaknya.
"Bila kalian semua yang menjalankan misi ini.. itu tidak masalah. Tapi aku tidak mengijinkanmu untuk berada di luar Safety House. Apalagi mengijinkanmu untuk tinggal diluar seorang diri—Big No Park Chanyeol! Kau harus berada dirumah ini!" Yoora menunjuk kearah Chanyeol lagi.
"Bagaimana misi ini bisa dijalankan sementara aku tidak kau ijinkan untuk berada di luar—
"Gunakkan otak pintarmu." Yoora memotong dengan suaranya sinis terdengar, bahkan gerak tubuhnya yang tengah melipat kedua lengannya didepan dada bisa dianggap bahwa dirinya sedang tidak bermain – main dengan apa yang ia ucapkan kepada sang adik disana. "Kita memiliki tanggung jawab terhadap Baekhyun, bukan hanya mengenai urusanmu dengan wanita sialan itu. Apa kau mau mencicipi vaginanya lagi? Sehingga kau bersemangat untuk menemuinya?"
Chanyeol lekas membawa Yoora keluar dari ruangan kerja itu secara paksa agar mereka berdua bisa melanjutkan pembicaraan serius ini tanpa didengar oleh anggota lainnya.
"Okey, jelaskan kenapa kau semarah ini." Chanyeol melepaskan tarikan tangannya pada Yoora ketika mereka sudah berada cukup jauh dari ruangan kerja Phoenix.
"Sudah aku katakan.. aku tidak mengijinkanmu pergi." Yoora mengulangi lagi namun belum ada keterangan lebih jelas yang cukup untuk meyakinkan Chanyeol disana.
"Kami masih mengatur rencana, belum ada keputusan pasti kapan Phoenix akan bergerak."
"Sekali lagi aku katakan, kau dilarang untuk pergi. Baekhyun butuh dilatih dan kau sudah berjanji akan melatihnya secara personal. Belum lagi ia masih dalam keadaan labil, alter-ego bisa saja muncul dan kembali mengamuk, memukuli siapapun yang berada didekatnya. Aku tidak mau itu terjadi lagi, hari ini hari terakhir, tidak akan ada lagi kejadian seperti itu kembali!" Yoora menunjuk kearah Chanyeol.
"Apa ini hanya mengenai Baekhyun?" Chanyeol masih memiliki pertanyaan lainnya, ia berdiri dihadapan Yoora dengan kedua tangannya terselip pada kantung celana hitam yang sedang ia gunakkan. "Tidak ada hal apapun yang menganggu dirimu selain masalah alter-ego Baekhyun?'
Yoora tidak menjawab langsung seperti pertanyaan sebelumnya, ia menenggakkan badannya, kepalanya bahkan mendongak keatas agar menyamakkan tinggi badannya dengan adiknya disana. "Semua mengenai Baekhyun." alasannya diungkapkan.
Chanyeol mengangguk paham, "Akan aku pertimbangkan."
"Bagus." secepat jawaban yang diberikan oleh mulutnya, Yoora lebih dulu melangkah meninggalkan Chanyeol disana tanpa ada satu kata pun sementara adiknya masih memaku diam di posisinya dan hanya sempat menoleh memandangi punggung belakang Yoora, kemudian Chanyeol melangkah pelan untuk kembali bergabung dengan para Phoenix lainnya—dimana mereka nyatanya masih membicarakan mengenai rencana yang sebelumnya dibicarakan.
"…menurutku lebih baik Sunyoung mengetahui Richard bekerja sama dengan mafia lainnya, itu membuat dia cemburu." Irene menjelaskan asumsinya. "Dia perempuan.. sudah pasti tidak mau 'mainannya' diambil oleh pihak lain, ini sekaligus bisa menjebak dia agar berurusan dengan mafia lainnya dimana menguntungkan kita karena penyerangan terhadap Sunyoung dilakukan bersama."
"Melibatkan mafia lainnya kita harus membicarakannya dengan Jenderal Kim."
"Itu urusanmu." Irene melempar tugas kepada Kris disana. "Bagaimana menurutmu?" selanjutnya ia menanyakkan pada Chanyeol yang sejak kembali bergabung hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mereka disana.
Anggota yang lain menunggu keputusan akhir yang akan Chanyeol putuskan dengan tenang, hanya suara – suara bolpoint dan juga ketukan jari di meja yang terdengar diruangan itu yang berasal dari tangan – tangan Sehun dan juga Jongin serta Kris disana.
"Hubungi kembali para Father dan juga atur pertemuan mereka dengan Jenderal Kim serta Lady, kirim beberapa anggota agar bisa direkrut oleh Sunyoung sebagai ganti anggota mereka yang akan kita serang nantinya. Pastikan semua data personal tidak bisa dilacak oleh Sunyoung. Untuk saat ini, jalankan itu semua dan kabari kepadaku untuk update setiap harinya!"
Semuanya mengangguk paham dan bergerak cepat untuk memulai tugas yang baru saja diberikan oleh pimpinan mereka—Irene dan Kris bahkan bergerak cepat memberikan rincian tugas yang harus mereka kerjakan saat itu. Chanyeol meninggalkan ruangan itu seorang diri berniat untuk membicarakan kembali putusannya dengan Yoora, langkahnya bergerak cepat dengan tujuan ia lebih cepat tiba diruangan kerja Yoora, tapi pada akhirnya gerak langkahnya terhenti secara tiba – tiba ketika matanya melihat sekilas ruangan dimana Baekhyun berada saat ini.
Ruangan klinik yang dijadikan layaknya rumah sakit darurat memang sudah disiapkan di safety house yang tentuj terfasilitasi sama lengkapnya seperti kondisi rumah sakit yang sebenarnya.
Chanyeol memastikan keadaan sekitarnya lebih dulu sebelum langkah kakinya berbelok untuk masuk kedalam ruangan itu dan melihat keadaan Baekhyun disana yang hanya seorang diri tertidur diatas ranjang. Chanyeol memandangi sesaat dan berniat untuk pergi setelahnya tapi ketika ia mendapati kedua tangan Baekhyun terborgol disana, emosinya seketika memuncak dan tanpa berpikir panjang ia menekan tombol panggilan darurat yang berada didekat ranjang Baekhyun disana.
.
FOUR
.
Bunyi alarm yang berasal dari ruangan klinik Baekhyun berada membuat Irene, Kris dan juga suster yang tengah bertugas saat ini segera mendatangi ruangan tersebut yang dimana disambut tatapan marah dari Chanyeol untuk pertama kalinya.
"Ke-kenapa, apa yang terjadi dengan Baekhyun?" Yoora yang tiba terakhir lebih dulu terdengar suara pertanyaan mengenai penyebab bunyi alarm sebelumnya.
"Siapa yang memerintahkan untuk memborgol tangan Baekhyun?" Chanyeol berdiri setengah menunduk, kedua tangannya tertumpu pada besi pembatas ranjang Baekhyun disana.
"Aku yang memerintahkan." Yoora menjawab langsung, ia juga meminta yang lainnya untuk meninggalkan dirinya dan Chanyeol melalui isyarat gerak mata dan bibirnya. "Untuk berjaga – jaga bila bukan Baekhyun yang tersadar nantinya—
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku mengenai ini?!"
"Oh, haruskah?" Yoora menyahuti berbalik bertanya pada Chanyeol yang ia ketahui tengah menyimpan amarah dalam dirinya. "Seingatku kau tengah disibukkan dengan mengurusi wanita jalang itu dibandingkan peduli dengan anak ini!" suara Yoora meninggi.
"Kau tidak harus memborgolnya Park Yoora!" Chanyeol pun membalas dengan suara yang berteriak.
"Oh kenapa aku tidak harus memborgolnya?!"
"Damn it!" Chanyeol mengumpat kesal tidak memberikan jawaban disana.
"Aku tidak tahu siapa yang akan tersadar setelah ini! Apakah Baekhyun atau sang Alter-Ego! Aku tidak tahu apakah ia akan terbangun dan menyerang orang – orang kita Park Chanyeol!"
"Tidak perlu memborgolnya! Dia Baekhyun! Bukan tahanan!"
"Aku tahu! Itu hanya untuk keamanan karena tidak ada siapapun yang bisa aku perintahkan untuk menjaganya mengingat anggotamu lebih disibukkan dengan rencana untuk Sunyoung!"
Chanyeol menghela nafas, pandangannya kembali terarah pada Yoora disana. "Kau bisa membicarakan ini denganku sebelumnya.." tak ada lagi nada tinggi pada ucapannya yang terdengar, tangannya bahkan terarah untuk meminta sesuatu pada Yoora disana, dan seakan – akan kakaknya itu bisa mengerti apa yang diinginkan oleh sang adik. Tangannya merogoh saku pada rok yang ia kenakkan, mengambil benda kecil berbentuk kunci disana dan menyerahkannya ke Chanyeol.
Yoora melangkah pergi dengan senyumannya terbentuk diwajahnya tanpa ada kalimat undur diri atau ucapan basa basi saat Chanyeol disibukkan untuk membuka borgol ditangan Baekhyun, diikuti oleh Luhan, Minseok dan juga Irene sementara Kris masih berada didepan ruangan klinik itu demi menemani Chanyeol yang masih berada didalam sana dan juga keinginannya untuk mencuri dengar apa yang tengah diungkapkan oleh Chanyeol entah pria itu sadar atau tidak saat mengatakannya.
"I am sorry.."
Sudah tiga kali Kris medengar kalimat itu dan tentunya pendengarannya masih berfungsi dengan baik untuk mengenal suara khas dari pemimpin Phoenix saat ini.
Chanyeol memang mengatakannya didalam sana dan dapat diyakini kalimat itu ditujukan pada gadis yang tengah terbaring saat ini.
.
BAEKHYUN
.
Matanya bergerak terbuka lebih dulu lalu diiringi dengan gerak badannya yang terbangun diatas ranjang itu. Gerak matanya melihat kesekeliling ruangan dan mendapati tidak ada lagi sosok seseorang yang sebelumnya ia ketahui berada diruangan tersebut bersamanya. Tidak ada sosok yang mengucapkan kata maaf padanya, tidak ada sosok yang ingin ia lihat saat ini dimana sebelumnya ia mendengar secara langsung seorang Yoora menyebutkan nama Park Chanyeol dengan begitu jelas.
Baekhyun merasa kesal saat itu, seharusnya ia membiarkan dirinya tersadar ketika tak lagi mendengar suara Yoora disana, bisa saja ia sudah bertatap muka dengan Chanyeol saat ini. Chanyeol yang sesungguhnya. Ia membatin dalam hati, kedua tangannya mengelus dadanya dengan lembut merasakan detak jantungnya tengah melonjak berdetak tidak karuan didalam sana.
"Dia masih hidup.." bisiknya dengan suara pelan seorang diri, senyuman manis terlihat terbentuk diwajahnya sementara matanya masih memeriksa keadaan ruangan dan kini tertuju pada daun pintu disana berharap ada seseorang yang akan masuk untuk memeriksakan keadaan jantungnya sebelum ia kembali pingsan karena ini.
"Dia masih hidup." Lagi Baekhyun meyakinkan. Kali ini ia tidak bisa menahan perasaan bahagianya, badannya kembali terbaring diatas ranjang namun kedua kakinya terhentak meluapkan semuanya, ia bahkan meremas wajahnya sendiri dan juga berguling ke kanan dan ke kiri sesuka hati.
"Apa yang kau lakukan?" hingga pertanyaan dari suara berat lainnya terdengar menghentikkan pergerakkan yang ia lakukan.
Baekhyun kembali beranjak untuk duduk disana, mulutnya hendak mengucapkan nama lain yang sudah lama ingin ia hapalkan dihadapan sosok yang tengah berada didekatnya saat ini, tapi pikirannya melarang untuk menahan diri menyebutkan nama itu.
"F-four.." suaranya terbata menyebutkan nama sosok yang mana tengah memandangi kearahnya dengan tatapan tajam, alisnya bahkan menyungging tajam seakan – akan mempertanyakkan dengan aneh apa yang Baekhyun lakukan sebelumnya.
Chanyeol menghampirinya dengan membawakan satu nampan berisi makanan dan juga minuman, "Aku berbicara dengan Sweetie Bee atau Naughty Bee?" pertanyaan mendapatkan sebuah sahutan bingung dari Baekhyun disana.
"A-apa maksudnya.." Baekhyun meminta kejelasan.
"Sweetie Bee adalah Baekhyunnie, dirimu sesungguhnya, polos, manis, menggemaskan dan juga penakut. Naughty Bee adalah Baekhyun, sosok dirimu yang lain, sulit diatur, pembangkang, memiliki kadar emosi tinggi dan juga liar." Pria itu meletakkan nampan diatas meja kecil yang mana sudah ia siapkan berada diatas pangkuan Baekhyun disana guna memudahkan gadis itu untuk menikmati makanannya.
"Jadi.. dengan siapa aku bicara sekarang?" Chanyeol menanyakkan lagi menuntut jawaban dari sosok gadis dihadapannya.
"Sweetie Bee, Baekhyunnie.." sahutan itu berhasil membuat senyuman diwajah Chanyeol dengan begitu cepat dan juga membuat pipi Baekhyun merona hanya dengan melihatnya.
"Sekarang.. saatnya kau makan." Perintah singkatnya ia berikan sementara dirinya berpindah tempat untuk merebahkan badannya disebuah sofa yang berada tak jauh dari ranjang Baekhyun tiduri. "Habiskan makananmu atau aku akan memberikan hukuman padamu sebagai gantinya." Mendengar itu membuat Baekhyun berdecak kesal, mulutnya bahkan mengerucut maju menyesali sosok Four yang dingin dan suka memerintah kembali ia harus hadapi.
Tanpa lagi saling berbicara satu sama lain, Baekhyun mulai menyantap makanannya yang tersaji disana satu per satu, terkadang ia sedikit melirik untuk melihat apa yang dilakukan Four disana, tapi nyatanya pria itu benar – benar terbaring tidur dengan nyaman—menurutnya.
Suasana hening dan sepi benar – benar melingkupi ruangan klinik kecil itu, bahkan meskipun Baekhyun tengah makan dengan begitu lahap seorang diri, tidak ada sekecil suara pun terdengar menandakkan ia tengah menikmati makanannya. Tidak ada suara peraduan diantara alat – alat makan atau bahkan suara dari dalam mulut yang menikmati rasa makanan.
Chanyeol yang hanya memejamkan matanya dan berpura – pura tidur disana berulang kali memastikan pendengarannya tidak mendengar suara apapun dari Baekhyun hingga ia membuka matanya dan melirik kearah gadis itu yang senyatanya tengah menyantap makanan dalam keheningan.
Chanyeol memperhatikan dengan sungguh – sungguh bertepatan dengan Baekhyun yang juga tengah mencuri pandang kearahnya dan tatapan mereka saling bertemu satu sama lain dengan begitu canggungnya.
Mata Baekhyun lebih dulu berkedip dan ia tediam kaku dengan sebuah sendok makan yang masih berada didalam mulutnya terkunci dengan rapat mengingat dirinya tidak siap menerima pandangan mata yang tengah memperhatikannya saat ini. Sama halnya dengan Chanyeol, pandangan mata pria itu juga masih terkunci kearah Baekhyun disana.
"Suka dengan apa yang kau makan?"
Ada yang mengangguk pasti namun terlihat ragu untuk melakukannya.
"Enak?"
Baekhyun mengangguk lagi.
"Habiskan." dan setelah itu Chanyeol menolehkan pandangannya, matanya kembali terpejam.
Baekhyun kembali melanjtutkan acara makanya, sesekali Ia masih mencuri pandang terhadap pria itu hanya untuk memastikan ia tidak lagi diperhatikan secara diam – diam.
Suara seruput yang Baekhyun lakukan ketika menikmati susu strawberry yang ada disana membuat Chanyeol kembali membuka matanya dan juga tersenyum geli mendengar suara itu. Baekhyun tidak memperdulikan pada awalnya karena ia adalah orang yang tengah menikmati susu tersebut sementara Chanyeol hanyalah merespon akan apa yang gadis itu lakukan.
"Masih menyukai strawberry hm." ia berucap menoleh pada Baekhyun dan gadis itu memberi jawaban mengangguk senang.
Pada akhirnya Chanyeol bangkit berdiri dan menghampiri gadis itu dengan maksud memeriksa piring – piring disana apakah masih ada tersisa makanan atau tidak. Nyatanya Baekhyun menyantap habis semuanya, berbeda ketika mereka berada didalam ruang makan waktu itu.
"Good girl." Ada tangan yang mengusak halus rambut Baekhyun, memperlakukannya seperti gadis kecil berusia lima tahun tapi meskipun seperti itu, Baekhyun menyukainya.
Tidak ada suara dingin dan perlakuan angkuh dari pria itu sejak beberapa menit lalu mereka bersama dan sejujurnya itu membuat Baekhyun merasa nyaman.
"Aku akan membawa ini kembali ke ruang makan.. apa ada hal lain yang kau inginkan untuk kubawakan lagi?"
Baekhyun menggeleng. "A-aku rasa cukup. Terima kasih." Singkat jawabnya dibalas Chanyeol dengan dehaman pelan dan pria itu melengang pergi meninggalkannya sendiri lagi.
Kembali berada seorang diri didalam kamar sudah menjadi kebiasaan rutin untuk Baekhyun mengingat ketika dirinya tinggal bersama Sunyoung, wanita itu selalu mengunci dirinya didalam kamar hampir setiap hari.
Baekhyun sempat berpikir bahwa Chanyeol—atau Four—tidak akan kembali keruangan klinik itu untuk menemaninya, ia bahkan sudah bersiap untuk memejamkan matanya kembali demi mengistirahatkan badannya, namun pemikiran Baekhyun salah.
Chanyeol kembali masuk kedalam dengan sebuah buku kecil di tangannya.
"Hadiah kecil untukmu." Chanyeol memberikan dan Baekhyun menerimanya ragu – ragu. "Dan itu juga adalah permintaan maaf karena meninggalkanmu di halaman dan juga membuatmu menunggu begitu lama." Chanyeol mengucapkannya dengan begitu tulus dan yakin, Baekhyun bisa melihatnya karena pandangan mata pria itu tidak bergerak kearah mana pun selain memandangi dirinya.
"I-ni untukku?" Baekhyun meyakinkan.
"Hm. Aku rasa kau membutuhkan buku ini.. ini seperti diary harian, kau bisa menulis apa yang kau lakukan setiap harinya supaya ketika Baekhyun yang terbangun dalam dirimu mengetahui apa saja yang sudah kau lakukan selama Ia tidak muncul." Chanyeol menjelaskan sembari memperlihatkan isi buku itu yang nampak berupa halaman – halaman kosong. "A-aku hanya ingin membantumu untuk mengenal sisi dirimu yang lain."
Baekhyun mengangguk lagi, "Eoh, terima kasih." Ada senyuman manis yang mana jarang terlihat dan kali ini Chanyeol bisa melihatnya secara langsung dengan jarak begitu dekat jelas mengungah isi hatinya disana yang sebelumnya telah lama membeku dingin tak tersentuh.
"Sebetulnya aku memiliki hadiah lainnya… tapi aku tidak tahu apakah ini akan membuatmu senang atau tidak." Sekarang Baekhyun semakin bingung mendengar apa yang dikatakan Chanyeol disana.
"Museun il-iya?"
Chanyeol menimang – nimang dan masih menahan bibirnya untuk tidak langsung mengucapkan kalimat yang sedikit gila untuk ia lontarkan kepada Baekhyun disana, tangannya bahkan terusap berulang kali sebagai tanda gelisah dari dirinya. Baekhyun yang masih dalam posisi duduk juga tidak membantu banyak, gadis itu menunggu dan memperhatikan Chanyeol terus menerus dengan tanpa suara.
"Four!" seseorang datang menyelamatkan keadaan diantara mereka berdua, dan itu adalah Luhan. "Lady menunggumu di ruangannya." Tanpa sapaan pada Baekhyun dan juga menunggu Chanyeol membalas sahutannya, Luhan mengungkapkan fungsi dari dirinya berada disana, dan sedetik kemudian Chanyeol bangkit berdiri melangkah keluar dari ruangan klinik itu meninggalkan Baekhyun yang masih menunggu apa yang ingin ia ucapkan sedari tadi.
RED
Menjadi pemimpin dari sebuah organisasi militer dan juga anti – mafia jelas menambah beban khusus dari dalam diri Yoora diusianya yang bisa dibilang masih mudam terlebih ia turut mengambil alih menjadi pemimpin tertinggi pada group perusahaan yang memang dimiliki oleh mendiang Ayahnya, itu masuk menjadi beban pikiran yang harus ia kerjakan setiap harinya.
Memang banyak tangan yang bisa ia perintahkan untuk membantu mengerjakan hal – hal kecil, namun kembali lagi semuanya berasal dari apa yang ada didalam pikiran seorang Park Yoora dan tentunya hanya ia yang bisa melakukan itu semua sebelum memberikan sebuah perintah yang sudah pasti.
"Kau memanggilku?" Chanyeol, sang adik masuk tanpa mengetuk pintu atau pun meminta ijin terlebih dahulu kepadanya.
"Kita memiliki masalah—" ucapan Yoora seketika membuat Chanyeol terdiam dan bersiaga disana. "—Aku harus pergi ke Osaka dan juga Macau untuk beberapa minggu kedepan. Perusahaan kita mengadakan konferensi disana dan tidak mungkin aku tidak hadir untuk meresmikan acaranya." Mendengar itu membuat Chanyeol menghela nafas lega.
"Kau hampir membuat jantungku berhenti berdetak." Ia menyahut demikian lebih dulu dan Yoora tidak mengerti diawalnya. "Aku memikirkan hal buruk lainnya." Kesimpulannya diungkapkan, lalu Yoora mengangguk dengan senyuman kecil.
"Jadi.. apa aku bisa menyerahkan Red padamu untuk sementara?"
"Kenapa kau tidak melibatkan Irene atau Minseok?" Chanyeol berpindah posisi dengan duduk pada sofa dihadapan meja Yoora dimana kakaknya masih dalam posisi berdiri merapikan beberapa file – file yang berserakan dimejanya.
"Irene akan menggantikan Kris disini, aku berniat membawanya sebagai pengawal pribadiku."
"Oh?" sang adik sedikit mempertanyakkan keputusan itu. "Kenapa bukan dengan Phoenix yang lainnya?"
"Kris selalu mengikuti Ayah kemanapun dia pergi.. jadi aku akan tetap menjaga tradisinya seperti itu, atau kau mau menjadi pengawalku disana?—oh aku lupa—kau sibuk dengan jalang itu." Suara Yoora kembali terdengar sinis karena memasukkan bahasan mengenai Sunyoung yang mana tengah berada pada pokok bahasan Phoenix belakangan ini. "Dia mungkin akan berada disana, mengingat Perusahaan Byun sudah diambil alih olehnya, berminat?" pertanyaan yang Yoora lemparkan dijawab dengan gelengan kepala oleh Chanyeol dengan begitu cepat.
"Aku memiliki rencana lain." Chanyeol meregangkan badannya.
"Rencana apa? Bagaimana melakukan seks dengan Sunyoung part 2?" masih dengan sinis Yoora berucap menjawab.
"Okey, kau terlihat layaknya seorang kekasih yang sangat posesif dan cemburu." Ada tawa diiringi dikalimat akhirnya dan itu malah semakin membuat Yoora kesal dibuatnya hingga melemparkan beberapa bolpoint kearah Chanyeol.
"Aku serius, kenapa kau sangat cemburu dengan wanita itu?" Chanyeol menerima setiap layangan bolpoint disana namun juga kembali menanyakkan pada Yoora mengenai sikapnya yang terlalu berlebihan, menurut Chanyeol.
Tangan Yoora berhenti bergerak disana dan kini ia melangkah untuk berada didekat adiknya, "Kau benar – benar tidak memiliki perasaan eoh?"
"Tergantung. Pada situasinya."
Yoora mengusap pipi wajahnya, menghela nafas sebentar dan kemudian duduk pada sofa yang ada disamping Chanyeol dengan posisi arah tepat berhadapan dengan adiknya itu. "Aku cemburu, sangat! Kenapa? Karena kau adikku, satu – satunya bagian keluargaku yang tersisa hanyalah dirimu seorang Park Chanyeol." ia menekankan nama Chanyeol disana dengan suaranya. "Sementara disisi lain aku memiliki perasaan membenci yang begitu dalam, sangat dalam terhadap wanita itu dan aku bersumpah ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri, mengingat dia telah merenggut semuanya dariku. Ibu, Ayah.. dan kau."
"Aku masih ada disini." Chanyeol menggenggam tangan Yoora dan mengusapnya untuk menenangkan emosi dari kakaknya yang terlihat menggebu – gebu.
"Ya, tentu kau masih ada disini. Tapi pikiranmu selalu padanya." Yoora melanjutkan lagi.
"Itu hanya bagian dari rencana untuk menyerangnya—"
"Perlukah adikku memberikan pelayanan seksualitasya juga?"
"Itu—"
"Bagian dari prinsip I slept with my enemies?" kali ini Chanyeol tidak lagi memberikan sahutan dari kalimat yang dilontarkan Yoora. "Aku tidak menyukai prinsip itu. Kalau menurutmu lebih dekatlah dengan musuhmu—kau artikan dengan slept dengannya, aku kira kau harus mengubah strategi penyeranganmu secepat mungkin. Ayah melakukan hal yang sama. Memberikan tubunya dan juga melayani gairah seksualitas Sunyoung tapi apa yang kita dapat dihasil akhirnya?"
Chanyeol masih tidak menjawab.
"Dead." Yoora menahan nafasnya dengan maksud menahan aliran air mata yang akan mengalir dari kelopak matanya, ia tidak mau adiknya melihat betapa rapuh dan juga lemah dirinya sebagai wanita dan juga pemimpin Red saat ini.
Tidak ada sahutan dari Chanyeol kembali, ia masih duduk disana dan memperhatika gerak gerik apapun yang dilakukan kakaknya dimana kini tengah kembali beranjak berdiri kembali pada posisi dibelakang meja merapikan beberapa file disana. "Kau bisa tinggalkan aku sekarang, aku akan memberikan laporan kegiatan Red pada Minseok sebelum aku berangkat besok pagi, ia akan menyerahkan padamu selanjutnya." Ucapan itu terdengar seakan – akan mengusir keberadaan Chanyeol disana, adiknya pun mematuhi tanpa mengatakan satu kata ketika tangannya menutup pintu ruangan kerja Yoora.
.
Luhan masih menemani Baekhyun didalam ruangan klinik kecil itu dengan tujuan membicarakan mengenai kejadian yang sempat terjadi ketika sisi lain dari dirinya terbangun dan juga mengacaukan beberapa hal. Awalnya ia ragu untuk menjelaskan semuanya namun Baekhyun mengatakan ia siap mendengarkan apapun yang terjadi guna berjaga – jaga ketika dirinya kembali bergabung dalam hari – hari latihan anggota Red esoknya.
"..Seulgi sudah pulih, aku dan Lady sudah meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah hal yang disengaja dan dia bisa memahami, mungkin kau bisa bertemu dengannya besok dan juga membicarakan masalah ini." mereka tengah bercerita mengenai Seulgi yang mana terlibat perkelahian begitu serius dengan Baekhyun saat itu, terlebih gadis itu mengalami luka – luka cukup banyak di berbagai bagian tubuh terpentingnya.
"Apa ia dirawat di rumah sakit?"
"Ya, Lady membawanya ke rumah sakit Militer. Demi kesehatannya, tidak ada dokter yang berjaga di Safety House untuk itu Lady mengirimnya kesana." Luhan kembali menceritakan.
"Oh." Baekhyun menjawab singkat.
"Semua sudah kembali normal.. jangan memperdulikan beberapa mulut yang mengatakan hal – hal buruk mengenai dirimu. Seharusnya mereka takut terhadapmu karena bisa saja tengah berhadapan dengan sisi alter egomu." Luhan menambahkan guna menumbuhkan perasaan Optimis dalam diri Baekhyun.
"Iya.. " Baekhyun menjawab singkat, memberikan senyuman kecil untuk meyakinkan Luhan disana bahwa dirinya akan baik – baik saja ketika kembali nantinya.
Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai pelatihan yang harus Baekhyun ikuti nantinya dan list panjang tersebut membuat obrolan mereka semakin terlus berlanjut hingga Luhan melupakan waktu makan malam telah tiba.
"Oh astaga! Aku akan membawakanmu makan malam." Baekhyun tertawa disana melihat betapa paniknya Luhan dan bagaimana wanita itu terburu – buru untuk keluar dari ruangannya, tapi Chanyeol sudah lebih dulu berada didepan pintu dengan nampan kembali berisi sajian makan malam begitu Luhan membuka pintu disaat bersamaan.
"Oh! Kau sudah membawakannya." Luhan berkomentar dengan keadaan hati lebih tenang. "A-aku baru saja berniat menyiapkan makan malam untuk Baekhyun." kalimat lainya diucapkan Luhan namun tak ada balasan dari Chanyeol disana yang mana ia lebih memilih untuk meletakkan nampan itu kembali pada meja kecil yang masih berada diatas pangkuan Baekhyun.
"Terima kasih."
"Habiskan."Chanyeol membalas sahutan Baekhyun dengan seringai disana, mereka melupakan keberadaan Luhan yang masih tertahan didepan daun pintu, memperhatikan apa yang tengah terjadi diantara Chanyeol dan juga Baekhyun.
"Siapa yang akan menjaga Baekhyun nanti malam?" Chanyeol duduk kembali pada sofa disana dan melemparkan pertanyaan pada Luhan.
"Kami belum menunjuk siapapun, yang pasti bukan dari anggota Phoenix mengingat mereka tengah disibukkan dengan rencana—
"Ya aku tahu." Chanyeol memotong ucapan Luhan sebelum wanita itu menjelaskan lebih rinci selanjutnya.
Luhan menunggu kalimat lain yang akan Chanyeol katakan, namun pria itu masih diam dan berpikir di posisinya hingga akhirnya ia pamit undur diri guna mengerjakkan pekerjaan lainnya. Chanyeol bahkan tidak memberikan sahutan ketika wanita itu berpamitan padanya justru Baekhyun yang mengucapkan ucapan terima kasih.
"K-kau tidak makan?" rasa gugup dan takut berhasil Baekhyun lupakan sejenak demi bisa mengungkapkan keingin tahuannya terhadap sosok pria yang lagi – lagi kembali berada bersamanya.
"Hm." namun Chanyeol tidak sepenuhnya berada disana, otak pria itu tengah bekerja dalam keterdiamannya.
"Apa kau sudah makan?" Baekhyun mengulang lagi.
"Eoh. Aku sudah makan." Akhirnya ada jawaban yang lebih lengkap ia dapatkan sekaligus dengan nada lebih hangat.
Tapi pembicaraan itu tidak berlanjut lebih jauh, Baekhyun kembali diam dan menikmati satu per satu makannya, dan Chanyeol kembali dalam dunianya yang tengah ia pikirkan sekaligus sesekali memperhatikan bagaimana gadis pada pandangan matanya tengah menyantap makanan dengan begitu lembut dan juga perlahan – lahan.
"Aku penasaran." Chanyeol membuka suara, badannya tercondong kedepan dengan kedua siku tangannya terpaut pada lutut kakinya. "Apa kau memang diajari table manner seperti ini dalam keluargamu?" tunjuknya terarah menjelaskan gerak gerik Baekhyun disana.
"Ke-kenapa?" sementara gadis itu tidak mengerti dengan apa yang ditanyakkan kearahnya.
"Cara makanmu." Singkatnya diucapkan Chanyeol dan masih menunjuk kearah Baekhyun yang tengah mengaduk kuap sup pada mangkuknya. "Kau nampak tidak terlihat dan terdengar layaknya orang yang tengah menyantap makanan begitu lahap."
"Oh?" Baekhyun tersentak kaget mendengar penjelasan Chanyeol disana. "A-aku sudah terbiasa makan seperti ini."
"Benarkah?"
"Um." Wajah menggemaskan Baekhyun dipandangi sepenuhnya oleh Chanyeol disana, bagaimana gadis itu menyuapkan satu sendok makan kedalam mulutnya, bagaiman bibir tipis gadis itu tertutup rapat sementara didalam mulutnya tengah bekerja melumat seluruh makanan yang baru saja masuk dengan gerakkan pelan dan sangat lembut. Chanyeol sempat berpikir ia seperti tengah melihat bayi tengah makan saat ini.
"Aku selalu makan seorang diri didalam kamar namun ada beberapa pengawal yang mengawasiku disana dan itu sangat tidak nyaman. Mereka selalu berisik, berbicara hal – hal yang tidak aku mengerti, aku tidak mau dianggap berada diruangan yang sama dengan mereka untuk itu aku tidak pernh makan dengan mengeluakan suara."
"Apa caramu berhasil?" Baekhyun mengangguk. "Mereka hanya sadar ketika aku sudah mengatakan telah selesai makan, atau terkadang bila mereka tidak menjagaku didalam kamar, maka aku memindahkan semua makanannya pada tempat lain untuk aku simpan dan dimakan nantinya. Mereka tidak pernah tahu hal itu."
"Aku lebih suka ketika Sunyoung mengasingkanku untuk tinggal di rumah lain, disana tidak ada pengawal dan hanya bibi penjaga rumah dan beberapa security yang mengawasi didepan rumahnya. Setidaknya aku bisa menikmati waktuku sendirian tanpa harus was – was menghadapinya." Baekhyun kembali bercerita banyak, terlihat ia mulai nyaman berada bersama dengan Chanyeol disana dan pria itu mendengarkan dengan seksama setiap apa yang keluar dari mulut gadis itu.
"Sekarang kau sudah bebas."
"Benarkah?" Baekhyun mempertanyakan ucapan Chanyeol dan pria itu tahu ucapannya sangatlah tidak tepat dengan arti sesungguhnya.
"Maksudku.." ragu –ragu Chanyeol berniat menjelaskan.
"Hm." namun Baekhyun memberikan senyuman lembut menenangkan disana. "Aku sudah bebas." Ia menyetujui ucapan pria itu. "Setidaknya aku bebas dan bisa hidup dengan tenang tanpa memikirkan Sunyoung akan memanfaatkan atau tidak pada menit – menit berikutnya. Benarkan?"
Chanyeol lagi – lagi menjawab ragu dengan sebuah anggukkan kepalanya.
"A-aku sudah selesai." Baekhyun meletakkan sumpitnya pada nampan itu, mengambil satu kota susu strawberry yang belum ia buka. Chanyeol mengambil nampan itu berniat membawanya kembali pada ruang makan, ia melangkah keluar tanpa mengucapkan satu kata pun kepada Baekhyun yang menahan senyuman disana.
.
FOUR
.
Seharusnya Chanyeol bisa saja menunjuk anak buahnya untuk berada diruangan klinik dimana Baekhyun tidur malam ini, namun perasaan posesif dalam dirinya terhadap gadis itu mengalahkan semuanya, terlebih ketika Kai dan Willis mengatakan bila mereka yang menjaga Baekhyun itu adalah kesempatan terbaik karena bisa melihat langsung lekuk tubuh Baekhyun ketika tertidur. Ten menambahi komentar yang lebih mesum lainnya dengan mengatakan melihat Baekhyun akan memudahkan dirinya untuk berpikir kotor tanpa harus menonton film porno. Sementara anak buahnya berucap kotor dan juga tertawa terbahak – bahak disana, Chanyeol terdiam dan melemparkan tatapan mematikan yang siap menembak kepala mereka semua bila dalam hitungan detik berikutnya mereka tidak menyudahi perbincangan mesum yang melibatkan didalamnya.
Irene adalah penyelamat yang datang dan langsung menghadiahkan pukulan telak pada kepala masing – masing dari mereka lalu membawa Chanyeol keluar dari ruangan dimana dipenuhi dengan anggota Phoenix mesum disana. "Kau butuh mengendalikan perasaanmu dan juga raut wajahmu ketika membicarakan mengenai 'gadismu'." Ucapannya tersirat dengan pasti menunjuk pada seseorang yang tidak boleh disebutkan namanya saat mereka saling berbicara.
Chanyeol masih tidak menanggapi, mereka melangkah bersama menuju ruangan klinik Baekhyun berada, Irene membawakan selimut tebal dan juga beberapa bantal dan menyerahkannya kepada Chanyeol ketika mereka tiba didepan pintu ruangan itu.
"Besok dokter akan memeriksa keadaanya lebih dulu sebelum ia ikut berlatih. Lady meminta Baekhyun harus berada dalam kondisi stabil untuk melanjutkan kegiatannya. Dan ini untukmu, kami sudah memutuskan bahwa kau yang harus menjaganya malam ini." ucapannya sedikit menggoda namun pria dihadapannya tidak bisa untuk mengelak atau pun melayangkan protest.
"Masuklah. Kau juga butuh istirahat." Irene mendorong badan pria itu lalu meninggalkannya setelah Chanyeol benar – benar masuk dan menutup pintu kamar itu.
Baekhyun sudah terlelap lebih dulu dengan memeluk sebuah guling dalam dekapannya, badannya ditutupi selimut dengan begitu rapat disana dan nampak membuatnya begitu nyaman terlelap disana. Chanyeol menatap sofa yang sedari tadi sudah ia duduki kini akan menjadi tempat tidurnya mala mini, mau tak mau ia melemparkan bantal disana, membuka pakaian atasnya lalu meletakkan dua pistol kecil yang sebelumnya berada di punggungnya untuk diletakkan pada kolong bawah sofanya. Dan ia ikut menyusul menjemput tidur malamnya.
Seharusnya tidur malam ini akan terasa nyenyak seperti malam – malam sebelumya ia berada didalam kamarnya, tapi suara tangisan seorang perempuan yang ketakutan terngiang – ngiang begitu dekat dengan pendengaran telinganya dan itu sangat menganggu untunya. Chanyeol berulang kali mencoba tidak menggubris suara itu namun semakin ia mengusir, sumber suara itu semakin dekat dan terdengar semakin membesar hingga membuatnya mau tidak mau membuka mata dan beranjak bangun.
Lalu yang ia dapati adalah Baekhyun yang tengah ketakutan diatas ranjangnya dengan isakan tangis, dan juga suara kilatan petir menggema terdengar bersahut – sahutan seakan – akan menjadi musik pengiring malam hari mereka saat itu.
Chanyeol mengusap wajahnya sebelum ia berdiri untuk menyalakan lampu ruangan itu yang mana tidak berfungsi, ia sempat berpikir mungkin aliran listrik mereka mengalami kerusakan akibat petir yang menyambar, tapi sebelum ia berpikir lebih jauh dorongan dalam dirinya lebih kuat untuk mendekat pada Baekhyun dan memeluk gadis yang tengah ketakutan itu.
"Hey.. ada aku disini.." ia berbisik dengan perlahan tangannya menarik badan Baekhyun untuk berputar kearahnya, Chanyeol membawa badannya untuk bisa berbaring diranjang yang sama dengan gadis itu hanya untuk memudahkan dirinya memeluk dan memberikan kenyaman agar Baekhyun tidak lagi merasa takut.
"Petirnya seram…" gadis mungilnya mengadu masih dengan penuh isakan tangis dan badan yang bergetar kencang.
"Iya..iya.. ada aku disini.." sementara Chanyeol berusaha menenangkan terus menerus, mengusap punggung dan kepala gadis itu, ia bahkan memberikan kecupan pada kepala Baekhyun dengan maksud agar gadis itu menyadari keberadaannya dan tak lagi memikirkan mengenai suar – suar petir yang menggelegar diluar sana.
"Aku takut Chanyeol.." Baekhyun tanpa sadar mengucapkan nama Chanyeol pada isakan tangisnya, namun Chanyeol tidak menyadari hal itu.
Kedua mata Baekhyun yang terpejam erat enggan untuk membuka matanya meskipun badannya telah dibawa dalam dekapan hangat pria disampingnya. "Aku takut.." isakan tangisnya bahkan berulang kali mengadu rasa takut dalam dirinya yang tidak mudah hilang sebelum petir itu tidak terdengar lagi dalam pendengarannya.
"Jangan dengarkan suaranya, dengarkan suaraku saja." suara pria itu memerintah sekaligus menenangkan Baekhyun untuk kesekian kalinya. "Ada aku disini." Ia mengulang lagi, Baekhyun ia pindahkan begitu dekat dalam dekapannya, menjadikan lengannya sebagai bantal gadis itu sementara tangan lainnya ia gunakkan menutupi telinga kanan Baekhyun supaya gadis itu tidak mendengar suara – suara petir menggelegar dengan begitu jelas. Meskipun Baekhyun masih terisak dan terkadang melonjak kaget mendengar petir yang masih menggelegar namun semakin lama gadis itu bisa lebih tenang dan menyamankan dirinya semakin dekat dengan badan Chanyeol disana.
"Aku belum mengatakan hadiah lainnya yang ingin aku berikan padamu." Chanyeol masih mengusap rambut dan punggung Baekhyun berulang kali, namun ia juga membuka percakapan diantara mereka untuk membuat gadis itu melupakan rasa takutnya. "Aku takut kau tidak menyukainya maka dari itu aku berpikir ulang untuk mengatakannya, kau mau tahu?" ia bertanya kearah Baekhyun yang masih memejamkan matanya begitu erat, tapi kepalanya mengangguk mengiyakan apa yang ditanyakkan oleh pria itu.
"Es krim Strawberry dengan topping strawberry sirup diatasnya." Mendengar ucapan itu Baekhyun membuka matanya dengan cepat. "Ada tambahan potongan buah diatasnya juga kalau kau mau.." Chanyeol menambahkan detail hadiah yang akan ia berikan. "Kau mau?"
Baekhyun mengangguk. "Apa ada cokelat sirup juga?"
"Kau mau cokelat sirup?"
Anggukan kepalanya kembali digerakkan sebagai jawaban.
"Okey, aku akan menambahkan cokelat sirup."
"Dan juga chocochips."
"Okey, chocochips dipesan juga."
Kedua mata Baekhyun kembali terpejam erat dengan posisinya yang tengah menyamankan diri untuk kembali tidur, Chanyeol terus memperhatikan sampai gadis itu benar – benar nampak lelap dalam tidurnya. Ingatannya kembali diingatkan ketika mereka masih kanak – kanak, Baekhyun akan tertidur layaknya anak anjing, kedua bibirnya yang mengatup rapat akan mengerucut dan mengeluarkan suara – suara lenguhan. Dan kebiasaan itu tidak berubah. Karena saat ini Chanyeol kembali bisa mendengar suara lenguhan itu dari dalam mulut Baekhyun yang mendekap dipelukannya. Bibir gadis itu bahkan bergerak seakan – akan menggumamkan sesuatu hal dari dalam mimpinya.
Chanyeol tidak mengucapkan satu kata pun kembali, ia ikut menyamankan posisi tidurnya disana, menarik Baekhyun untuk lebih mendekap dalam pelukannya dan ia menyusul gadis itu untuk memejamkan mata menjemput waktu tidur lelapnya.
.
Irene menawarkan dirinya untuk membangungkan Chanyeol yang nampaknya masih terlelap tidur diruangan klinik bersama dengan Baekhyun. Pria itu melewatkan obrolan pagi bersama dengan Irene dan juga beberapa anggotanya terkait kepergian Lady mereka untuk mengurusi perusahaan keluarga Park itu. Tapi nampaknya wanita itu harus menerima dengan lapang dada pemandangan yang ia dapatkan ketika tangannya membuka pintu ruangan.
Chanyeol yang tengah bertelanjang dada masih terlelap tidur dengan Baekhyun yang berada diatas dadanya sama masih nampak tertidur pulas dengan begitu nyamannya. Ia memang tidak merasa cemburu mengenai pemandangan yang didapat mengingat dirinya sudah melihat langsung bagaimana pria disana mencium Baekhyun saat itu, namun ada perasaan menyesal dalam dirinya karena kenapa harus ia yang menyaksikan semuanya.
Tanpa berpikir lama, Irene merogoh ponselnya untuk mencari fitur kamera disana yang mana ia gunakkan untuk mengabadikan momen terlarang dan juga langka ini. Tentunya ia juga mengirimkan kepada Yoora yang kini sudah dalam perjalanan disana.
Secepat keinginannya untuk keluar dari ruangan itu sangat membantu kedua pasangan disana karena begitu Irene menutup pintu ruangan, Luhan dan Minseok tengah menyusul bersama dengan seorang dokter militer yang mana memang sudah dijadwalkan kunjungannya untuk memerikan keadaan Baekhyun.
"Apa Baekhyun sudah bangun?" Luhan menanyakkan namun Minseok berusaha mendului dan membuka pintu ruangan itu, dan Irene lagi – lagi lebih cepat bertindak.
"Hanya ada Four didalam. Aku sudah meminta Baekhyun untuk mandi dan juga membersihkan badan. Aku akan mengantarkannya keruangan Lady." Singkat dan menjurus sebuah perintah kepada Luhan dan Minseok disana yang masih tidak begitu paham dengan apa yang ia katakan.
"Baekhyun akan aku antarkan." Sekali lagi Irene mengulangi ucapannya.
"Okey." Luhan menghilangkan kecanggungan diantara mereka berempat. "A-aku akan mengantarkan Dokter Yeo keruangan Lady." Ia membawa dokter itu untuk kembali berjalan menuju ruangan Yoora sebelumnya sementara Minseok tertahan disana karena menyadari ada hal mencurigakan yang tengah ditutupi oleh Irene disana.
"Apa yang terjadi?" wanita itu begitu pintar untuk memulai sebuah interogasi terhadap Executive Phoenix disana.
"Kau lihat sendiri jawabannya." Ucapan Irene mengarah pada pintu yang terbuka dan kembali memperlihatkan kedekatan dua orang anak Adam dan Hawa yang masih berdekap nyaman.
"Oh." Sama seperti Irene sebelumnya, Minseok memiliki respons yang sama ketika melihatnya dan mereka kembali menutup pintu itu dan berdiri dalam diam berjaga diluar sana menghindari yang lainnya melihat apa yang tidak boleh dilihat oleh banyak orang.
.
Chanyeol menjadi orang pertama yang terbangun lebih dulu dan tentunya ketika menyadari dirinya berada diatas ranjang yang sama dan juga mendekap badan Baekhyun dengan begitu erat, sosok mungil yang masih begitu lelap dalam tidurnya bahkan terlihat begitu nyaman disana. seharusnya Chanyeol tetap menjaga posisinya seperti itu dan mungkin bisa lebih lama menikmati waktu mereka, tapi ego mengalahkan semuanya karena begitu ia menyadari apa yang telah ia lakukan, ia menarik kasar salah satu tangan yang tengah dijadikan bantal untuk Baekhyun dan selanjutnya melangkah lebar untuk meninggalkan ruangan itu.
Baekhyun masih terlelap disana.
FOUR
Rutinitas masih seperti biasanya, mereka terbangun-olahraga pagi-sarapan bersama-latihan bersama-bersantai bersama-dan berakhir dengan jam malam. Terdengar sedikit membosankan namun bila dirincikan lebih detail sesungguhnya itu membuat para anggota Phoenix dan Red sangat bersemangat dari hari ke hari. Terutama beberapa anggota Phoenix yang kini sudah memiliki tugas lebih banyak dibandingkan sebelumnya, melakukan penyelidikan terhadap Sunyoung serta mengawasi Sang Lady yang tengah memiliki pekerjaan lainnya. Sementara beberapa anggota Red, diantara mereka ada yang bergabung dengan para anggota Phoenix untuk memantau kegiatan Sang Lady dan yang lainnya bergabung dengan beberapa anggota Militer untuk menyelidiki organisasi gelap yang tengah dijalankan oleh Sunyoung. Kedua organisasi itu pada akhirnya bisa bekerja sama dengan baik sama seperti ketika mendiang Tuan dan Nyonya Park masih hidup.
Beberapa anggota yang tersisa—dimana belum dlilibatkan dalam proses misi penyidikan dan segala hal lainnya—berada di Safety House dan melakukan kegiatan seperti biasanya.
Suasana pagi akan terasa lebih sepi dibandingkan sebelumnya, dan tentunya berdampak pada kondisi ruangan makan mereka yang nampak lebih lengang.
Irene, Luhan serta Minseok membawa Baekhyun kedalam ruangan makan sesuai mereka melakukan pemeriksaan kesehatan Baekhyun sebelumnya. Dokter menyampaikan kesehatan gadis itu sudah stabil dan hanya memberikan obat tenang untuk berjaga – jaga bila sisi lainnya kembali muncul secara tiba – tiba. Mereka duduk pada meja yang sama, namun meskipun begitu Baekhyun memperhatikan sekelilingnya, masih merasa belum nyaman akan pandangan – pandangan beberapa orang yang memperhatikan dirinya.
"Hey," Luhan berusaha menarik perhatian gadis itu. "Jangan dipedulikan." Ia mengingatkan lagi.
"Kau harus bisa memiliki sikap dingin tidak peduli seperti alter-ego mu itu." Berikutnya Irene yang memberikan saran.
"Ah! Iya." Minseok menyetujui.
"Kau harus banyak belajar dari Irene mengenai hal ini." Luhan bermaksud memuji namun Irene menganggap itu adalah sebuah sindirian terhadapnya.
"Aku belajar dari Red." Wanita itu menjawab pernyataan Luhan yang mana membuat Minseok dan juga Luhan tertawa kecil. Baekhyun memperhatikan ketiga wanita disana dan ikut menarik senyumnya meskipun ia masih tidak paham dengan apa yang mereka katakan diakhirnya.
"Lady memang terbaik bila menyangkut makanan, ini bahkan lebih nikmat dibandingkan makanan dari Militer."
"Uhm, tentu saja.. Lady memiliki selera tinggi untuk makanan." Irene dan Minseok terlibat percakapan secara spontan mengenai menu makanan sarapan pagi setiap hari yang dihidangkan. Berbagai macam pilihan tersedia dan selalu berganti setiap harinya yang mana membuat para anggota tidak merasa bosan menyantapnya.
Menu hari ini yang tersaji disetiap meja terdapat Tuna Sandwich, Egg benedict, Smooked beef-Fried rice dan juga Chicken egg rolls, serta beberapa jenis minuman jus dan juga susu yang bisa diambil pada counter minuman yang berada di sudut – sudut ruangan.
"Kalian mau minum apa?" Irene berinisiatif untuk mengambilkan minuman.
"Orange Juice—
"Kopi for me." Luhan dan Minseok tentu menyahut cepat.
"Kau ingin apa Baek?" Irene bertanya kearah Baekhyun yang masih memikirkan minuman yang ia inginkan, pandangan matanya tertuju kearah counter disana begitu lama namun kemudian raut wajahnya nampak kecewa. "Kau ingin susu? Teh? Atau mungkin jus..?"
"Tidak ada susu strawberyy?" anak itu menanyakkan kearah Irene tapi Luhan lebih dulu tertawa setelahnya.
"Ya, Baekhyun. Umurmu sudah 17 tahuh masih menanyakkan susu strawberry?" pertanyaannya mendapatkan suara tertawa dari yang Minseok juga sedangkan Irene menggelengkan kepala.
"Kita tidak menyediakan susu lainnya kecuali susu murni.."
"Tapi.. F-four mengantarkan susu strawberry kemarin.." mendengar itu sontak membuat semuanya terdiam dan memperhatikan Baekhyun sesaat sebelum ketiga orang disana beradu pandang satu sama lain.
"Four mengantarkan susu strawberry?" Irene masih belum yakin akan pendengarannya, ia mengulang lagi dengan suara pelan dan penuh penekanan, Baekhyun mengangguk yakin, ia melihat mereka bertiga bergantian, raut wajahnya nampak bingung melihat mereka semua terlihat tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
"A—aaahh! Mungkin Lady menyiapkan khusus untuk Baekhyun." Minseok menyimpulkan hasil pemikirannya.
"Ya, mungkin." Irene ikut menyetujui meskipun senyuman yang ia berikan dengan pandangan terus menatao Baekhyun tanpa berkedip sedikit pun tentu saja mengartikan hal lainnya. "O-key.. mungkin aku akan mengambilkan minuman yang lain untukmu dulu saat ini.. dan nanti akan menanyakkan pada Lady.. apakah ia masih menyimpan cadangan susu untukmu." Irene bangkit berdiri kembali, melihat kearah Minseok sebentar dimana wanita itu tengah mengangguk terhadapanya menyetujui apa yang ia katakan sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
Irene melangkah cepat dan membawakan pesanan minuman untuk mereka semua, dan setelahnya ia melangkah keluar dari ruangan makan itu untuk melakukan apa yang sudah ia katakan pada Baekhyun sebelumnya. Tapi langkahnya bukanlah menuju ruangan kerja Yoora berada, kamar Chanyeol adalah tujuan utamanya.
Ia bahkan tidak memerlukan sedikit waktu untuk mengetuk pintu kamar pria itu, ketika Irene masuk kedalam, Chanyeol tengah memakai kaos disana dan tentu saja ia melonjak kaget melihat wanita itu masuk begitu saja kedalam kamarnya.
"Ya! Biasakan ketuk pi—
"Aku butuh susu strawberry untuk pacar kecilmu itu." Irene menodongkan tangannya kearah Chanyeol disana.
"A-apa maksudmu?" elakkan adalah jawaban yang diberikan.
"Kau memberikan dia susu strawberry kemarin, dia meminta lagi." Irene menjawab singkat dan cepat. Channyeol terdiam disana, hanya kedua matanya yang berkedip cepat. Ia tidak bisa melakukan hal lainnya karena posisinya terpojok menempel pada lemari pakaiannya dan Irene terlihat garang dihadapannya yang mana sulit untuk ia sangkal kedua kalinya.
"Kau mau memberikannya sendiri? Atau apa?" Irene menuntut lagi, "Aku tahu kau semalam tidur di ranjang yang sama dengannya. Berpelukan." Alis dan pandangan Chanyeol semakin bingung terhadap Irene setelah mendengar apa yang dikatakan wanita itu.
"Y-ya! Kau—
"Aku juga tahu kau menciumnya."
"YAAA!"
Irene tersenyum disana, senyuman yang mengandung arti ia memegang semua rahasia terbesar Chanyeol dan memberikan peringatan terhadap pria itu untuk tidak bermain – main dengannya bila tidak ingi rahasianya terbongkar begitu saja.
"Wuuuaaaahhhh! Kau benar—
"Apa?!" Irene menantang ketika Chanyeol menunjuk kearahnya menunjukkan kepanikan karena mendengar ucapan Irene mengenai apa yang telah ia lakukan secara sembunyi – sembunyi.
"Ke-kenapa kau bisa tahu?"
"Huh! Dasar kau pembohong ulung." Irene melayangkan pukulan pada kepala Chanyeol, ya wanita itu memang terlihat begitu kurang ajarnya pada sang pemimping, tapi kali ini mereka berdua tahu apa yang Irene lakukan hanyalah sebuah godaan terhadap temannya. "Tentu saja aku tahu! Aku melihatnya secara langsung ketika kau mencium Baekhyun dan juga tidur di ranjang bersamanya semalam." Penjelasannya semakin membuat Chanyeol terdiam. "Bukankah sulit?" lanjutnya lagi menanyakkan pada Chanyeol.
"Apa?" Chanyeol tidak memahami maksud pertanyaan yang kurang jelas itu dilayangkan kepadanya.
"Bukankah sulit kau harus berpura – pura menjadi orang lain sementara hati dan perasaanmu menginginkan ia menyadari kehadiranmu didekatnya?"
Chanyeol tidak menjawab. Ia beralih menuju lemari pendingin berukuran sedang yang terdapat didalam kamarnya, mengambil satu kotak susu strawberry dari sana namun ia tidak memberikan kepada Irene. "Keadaan kita tidak seperti dulu." Ia bersuara, menjawab pertanyaan Irene sebelumnya. "Aku bukanlah Chanyeol yang sama ketika usiaku masih berusia 10 tahun, dan dia bukan Baekhyun yang sama ketika usianya masih 8 tahun. Bukan hanya kita berubah, kehidupan yang kita miliki bahkan telah berubah total."
Irene mendengarkan disana dan ia cukup pintar untuk mengambil kesimpulan dari apa yang diucapkan oleh Chanyeol disana. "Apa ini mengenai Sunyoung? Untuk itukah kau sungguh sangat berambisi menghabisinya?"
"Salah satunya." Chanyeol menatap tajam disana. "Tapi meskipun wanita itu berhasil kita habisi.. bukan berarti aku dan dia bisa kembali seperti dulu. Seperti yang aku katakan, semuanya sudah berubah."
Irene tidak memberikan sahutan lagi, Chanyeol yang tengah menatap kearahnya pun menyeringai kecil dengan tangannya membolak balikkan kotak susu strawberry itu. "Dimana dia? Aku akan memberikan susu ini.."
"Ruang makan." Irene memberi tahu dan mengisyaratkan Chanyeol untuk lekas beranjak dari ruangan kamarnya, disusul dirinya yang melangkah begitu perlahan – lahan sembari memikirkan ucapan Chanyeol sebelumnya.
.
.
Baekhyun, Luhan dan Minseok masih berada disana, masih menikmati makanan sarapan pagi mereka dan masih bercengkrama membahas berbagai hal guna menyamankan Baekhyun.
Ruangan makan mulai lebih dipadati beberapa orang dari Phoenix yang mana mereka baru bergabung ketika kegiatan lari pagi yang wajib dilakukan oleh setiap anggota baru saja usai. Suara – suara pria itu jelas membuat gaduh ruangan, terlebih ketika Sehun dan juga Jongin menggoda Luhan dan Minseok disana membuat yang lain tertawa karenanya, tapi ketika pemimpin mereka terlihat masuk bergabung, sonta semuanya terdiam dan mencari posisi duduk di kursi – kursi yang kosong.
Chanyeol sebetulnya melangkah dalam diam, ia bahkan tidak melarang mereka untuk tidak tertawa atau pun berbicara, tapi karena tatapan matanya yang begitu tajam dan juga raut wajahnya yang terlihat dingin dianggap bagi anak buahnya suasana hati sang pemimpin tertinggi pagi ini bisa dibilang cukup baik. Tapi pemandangan berikutnya membuat mereka tercengang dibuatnya, ketika Chanyeol meletakkan kotak susu berwarna pink di tepat diatas kepala Baekhyun yang mana masih duduk tidak menghadap kearah pria itu.
Chanyeol tidak mengucapkan apapun, ia hanya meletakkan kotak susu itu disana, diatas kepala, dan menunggu Baekhyun memegang kotak itu lalu ia melangkah menyusul Jongin dan Sehun yang sudah duduk terlebih dulu. Kedua orang itu bahkan tidak cukup bernyali kuat untuk menanyakkan apa maksud dari perlakuan Chanyeol disana, mereka hanya berdeham tidak nyaman dan mencoba untuk bersikap tidak tahu dan tidak melihat kejadian itu.
Sama halnya dengan Baekhyun disana yang masih terdiam penuh pertanyaan, masih memegang kotak susu itu ditangannya, pandangannya masih tertuju pada punggung Chanyeol yang duduk membelakanginya. Luhan dan Minseok kembali lagi mengajaknya berbicara guna mengalihkan gadis itu.
BAEKHYUN
Rutinitas latihannya kembali dilanjutkan.
Kali ini ia tidak berlatih bersama Kyungsoo dan Yuri seperti sebelumnya, mengingat kedua gadis itu sudah melakukan latihan lebih banyak dibandingkan dirinya yang harus terhenti karena kejadian dengan alter-ego-nya yang tiba – tiba muncul. Chanyeol masihlah menjadi pelatihnya, tapi bukan lagi latihan seperti sebelumnya, kini ada jadwal yang harus Baekhyun lakukan.
Pagi hari ia harus berlari pagi bersama pria itu, diikuti dengan anggota Phoenix yang mengikuti mereka berdua di barisan belakang dan kemudian setelah itu mereka istirahat sejenak lalu berlanjut menyantap sarapan bersama. Susu kotak rasa strawberry menjadi hadiah pagi hari untuk Baekhyun, masih dengan diberikan diatas kepalanya dengan begitu seenaknya. Tapi kini beberapa anggota Phoenix mulai berani mengeluarkan suara – suara menggoda yang mana ditujukan kepada pemimpin mereka yang dengan begitu santainya meletakkan susu kotak itu begitu saja.
Kegiatan berikutnya setelah sarapan pagi adalah waktu kosong hingga pukul 10.00 pagi, bagi para Anggota Phoenix, itu bukan waktu kosong mereka karena saat itu mereka harus memeriksakan hasil penyelidikan yang dilakukan tim lainnya, membuat laporan kepada pemimpin mereka dan juga memikirkan kembali rencana untuk dilakukan esok harinya. Sementara bagi Baekhyun, waktu senggang yang ia miliki selama hampir dua jam ia gunakkan untuk membersihkan badan dan juga mengikuti bagaimana Minseok dan Irene melakukan tugasnya sebagai Executive dari Phoenix dan juga Red. Bisa dikatakan, ini juga termasuk latihan untuk Baekhyun agar dirinya memiliki pengetahuan leadership.
Latihan yang dilakukan pada pukul 10.00 hingga waktu makan siang dilakukan hanya bersama dengan Chanyeol. Pria itu mengajaknya kedalam gudang senjata dimana mereka akan membedah satu persatu senjata yang berada didalam gudang itu hingga jam makan siang.
Saat makan siang juga akan kembali diperlihatkan bagaimana Chanyeol memberikan susu kotak diatas kepala Baekhyun, terkadang ia membawakan makanan lainnya yang selalu ia sebut hadiah kecil karena latihannya berjalan lebih baik dibandingkan sebelum – sebelumnya.
Setelah makan siang, bukan istirahat yang akan ia lakukan, melainkan latihan fisik lainnya. Bersama dengan Luhan dan para anggota Red lainnya, Baekhyun akan berlatih bela diri melawan beberapa anggota Phoenix. Disinilah terkadang ia ingin menyerah, bukan hanya karena dirinya terlalu lemah untuk melawan, tapi latihan yang berlangsung selama 4jam hingga sore hari membuat tenaganya terkuras habis. Terkadang Chanyeol tidak ada bersama dengannya saat latihan ini, dan itu adalah alasan utama yang membuat Baekhyun semakin kurang bersemangat menjalani latihan bela diri.
Banyak yang mengatakan bahwa Baekhyun sangat lemah bila menyangkut dengan bela diri, gadis itu mungkin mengerti cara memukul menendang tapi tidak memahami bagaimana trik – trik menyerang maupun membela diri.
"Dia lemah." Luhan melaporkan kepada Chanyeol tepat ketika sesi latihan bela diri itu usai tentunya tanpa sepengetahuan anggota mereka dan juga Baekhyun. "Dia mungkin bisa menggunakkan senjatanya dan juga begitu cepat ketika melakukan pergerakkan untuk menyelinap, tapi tidak ketika ia harus melawan musuh dengan tangan kosong.
Chanyeol yang masih memperhatikan laporan dari tim penyelidik lapangannya dan juga beberapa surat yang masuk dalam surel e-mailnya dimana itu semua berasal dari Zitao terpaksa harus ia abaikan ketika Luhan secara tiba – tiba masuk dalam ruangannya dan mengatakan hal tersebut.
"Dia sangat lemah, badannya masih sangat kecil.. well.. kita tahu usianya masih 17 tahun." Irene ikut masuk dipercakapan itu karena dirinya juga tengah berada disana dan mendengarkan apa yang Luhan katakan.
"Ya.. aku pikir mungkin Baekhyun tidak akan melanjutkan latihan seperti itu lagi, aku tidak tega melihat dia mengalami lebam – lebam disekujur tubuhnya karena tidak bisa menghindar dari hujaman pukulan anggotamu." Luhan merujuk pada anggota Phoenix yang begitu kasar dan tidak manusiawi ketika dihadapkan dengan Baekhyun.
"Dia harus tetap mengikutinya." Suara Chanyeol terdengar. "Dia anggota Red, bukankah dia harusnya bisa melawan para mafia – mafia diluar sana dan juga menghabisinya, bagaimana bisa dia menjadi anggota Red kalau dia tidak tahu cara melawan dan membela diri." sosok dingin dan tidak ingin dibantah kembali terlihat ada pada sisi Chanyeol saat ini.
"Ta-pi—
"Four, kau akan membuat Baekhyun mati secara perlahan—" Luhan dan Irene bergantian memberikan protes terhadap Chanyeol disana.
"Dia akan mengikutinya." Chanyeol mengulang lagi, lebih ada penekanan pada kalimatnya menjelaskan keseriusan dari keputusannya tidak bisa diganggu gugat oleh dua orang wanita disana. "Tapi tidak dengan melawan para Phoenix yang kurang ajar disana." ia menambahkan, matanya menatap marah dan kesal.
"Beri hukuman pada mereka." Ucapan itu ditujukan pada Irene dan tanpa bertanya lebih banyak Sang Executive menundukkan kepala menandakkan dirinya mengerti dan pamit undur diri guna menyiapkan hukuman terhadap beberapa anak buahnya.
"Dan.." kini Chanyeol kembali kepada Luhan, "Baekhyun tidak akan mengikuti latihan bela diri denganmu atau siapapun, mulai besok ia akan berlatih bersamaku." Final ucapannya membuat Luhan mengangguk dan sama seperti yang Irene lakukan, setelah itu ia undur diri meninggalkan Chanyeol diruangan kerjanya.
.
"Jadi… ini hukumannya?" Luhan merasa sedikit bersalah melihat pemandangan dihadapannya saat ini.
Beberapa anggota Phoenix yang terlibat pada latihan bela diri dan disebutkan membuat badan Baekhyun terdapat lebam – lebam, kini tengah menjalani hukumannya. Berlari mengitari halaman belakang safety house tanpa pakaian menutupi bagian atas badan merekadan menggendong 4 karung tanah pada pundak mereka—yang mana durasi mereka lari sampai saat ini belum ditentukkan kapan akan selesai. Tentunya sangat menguras tenaga. Belum lagi Sehun, Jongin, TY, Mark serta Jeno siap siaga berbaris sejajar disamping Irene dengan senapan, Luhan sempat berpikir mereka semua akan menembak setiap anggota lainnya namun sebelum ia melayangkan protest,Irene lebih dulu memberi tahu.
"Airsoft Gun."—Senjata mainan namun memiliki butiran peluru plastic yang terasa begitu perih bila terkena kulit.
Luhan tahu pistol mainan itu memang tidak membahayakan bila ditembakkan pada lawan dengan pakaian pelindung, tapi melihat kelima anggota Phoenix ini menembakkan pada bagian tubuh mereka semua yang tidak terlindung apapun tentu membuat mereka semua tersiksa akan rasa panas dan perih dari peluru plastik itu.
"Ini hukuman kalian karena membuat Little Bee terluka!" Irene berteriak disana dan sontak semuanya memohon ampun dan berharap hukuman mereka cepat selesai, kecuali para pemegang airsoft gun yang mana tertawa terbahak – bahak melihat beberapa teman anggotanya meringis kesakitan.
Hari berikutnya, menjadi hari pertama Baekhyun berlatih bela diri bersama dengan Chanyeol. Apa yang dibayangkan dan ditakutkan Baekhyun mengenai harus melawan pria itu nyatanya tidak terjadi dihari itu. Chanyeol tidak meminta Baekhyun untuk melawanya, pria itu justru membawa Baekhyun pada ruangan olahraga dan meminta Baekhyun untuk melakukan olahraga guna melatih otot – otot pada badannya untuk terbentuk lebih dulu.
Keesokkannya pun masih sama, beberapa alat olahraga ia gunakkan dan tentunya Chanyeol membimbingnya. Chanyeol mulai meminta Baekhyun untuk berlatih memukul samsak secara perlahan, membimbing gadis itu bagaimana agar pukulan yang ia layangkan tepat sasaran dan tidak terasa sakit di tangannya.
Perkembangannya lebih baik dibandingkan sebelumnya. Bukan hanya sekedar perkembangan latihan Baekhyun, tapi kedekatan diantaranya keduanya juga semakin bisa terlihat oleh siapapun yang memperhatikan.
Chanyeol mungkin masih terlihat begitu dingin tidak berperasaan tapi tidak ketika ia tengah dekat dengan Baekhyun, senyumnya terlihat hanya karena memperhatikan Baekhyun yang terkadang begitu serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh Irene atau Luhan disana. Tak jarang ia menjadi sosok pertama yang mengusili gadis itu hanya agar Baekhyun tertawa, entah ketika mereka tengah berlari bersama, atau ketika mereka berada diruang makan, atau mungkin di saat keduanya tengah berada di waktu dan tempat yang sama ketika Baekhyun tengah berlatih.
Tak jarang banyak beberapa anggota yang sering mendapati moment mereka namun semuanya berusaha diam dan membiarkan, meskipun dari dalam hati mereka ada perasaan turut bahagia ketika melihatnya.
FOUR
"Apa maksudnya?!" Irene yang belum tersadar dengan benar harus terburu – buru bergabung dalam pertemuan yang sangat tiba – tiba diadakan ketika Luhan dan Minseok mengatakan pesawat yang membawa Yoora diketahui hilang dari pantauan radar. Ketika dirinya hendak membangunkan Chanyeol, ia dikejutkan hal lain karena nyatanya adiknya sudah lebih tahu mengenai hal ini dan beberapa anggota Phoenix juga tahu selain dirinya.
"Sunyoung yang merencanakan." Chanyeol membuka suara, memperlihatkan hasil temuannya yang mana berasal dari Zitao dan juga Yixing. Kedua orang itu melaporkan semuanya mengenai hal – hal apa saja yang sudah direncanakkan oleh Sunyoung secara diam-diam. "Dia memang berniat membunuh Yoora sejak awal—
"Lalu dimana Lady sekarang?" Minseok masih merasa begitu khawatir karena belum ada yang mengatakan apakah Yoora sejujurnya selamat atau tidak.
"Lady selamat, ia bersama Kris dan anggota lainnya. Mereka sudah aku perintahkan membawa Lady pada pesawat yang lain." Chanyeol menjelaskan sementara dirinya disibukkan dengan berbagai macam pistol dipasangkan pada bagian kaki dan juga pinggangnya, terlebih pria itu tengah mengenakkan kaos hitam yang sudah dibalut dengan rompi anti peluru. Irene bahkan baru menyadari rambut Chanyeol bukan lagi berwarna merah seperti sebelumnya, warna hitam asli terlihat disana dan itu semakin membuatnya bertanya banyak hal.
"A-apa yang akan kau lakukan? Ada apa ini?" pertanyaan sontak membuat Minseok ikut memperhatikan sekelilingnya. Beberapa anggota Phoenix telah bersiap, masing – masing dari mereka sudah mengenakka rompi anti peluru, masker penutup wajah dan bahkan membawa tas yang berisikan senjata.
"Kami sudah tiba di Gimpo! Pesawat baru mendarat—
"Tetap berada didalam pesawat sampai kami tiba." Chanyeol menjawab terhadap suara Kris yang baru saja terdengar dari sambungan komunikasi yang mereka miliki.
"Semuanya segera masuk. Ten dan Jisung, pastikan kalian bekerja dengan baik memonitori kami dan juga pergerakkan mereka dari layar." Chanyeol berucap pada kedua orang itu yang sangat ahli dalam bidang InCom. "Dan kau, bantu kami mengawasi dari sini." Ia beralih pada Irene yang masih belum paham dengan apa yang tengah terjadi mengingat hanya dirinya lah satu – satunya Executive Phoenix yang tidak dilibatkan dalam misi ini.
"Kau! Aku akan membunuhmu nanti." Ancamannya terdengar mengejek Chanyeol disana dan pria itu pun hanya memberikan senyuman lebar sebagai balasannya.
"Aku pergi."
"Pastikan kau kembali, kau dan semua anggota karena aku akan memberikan hukuman pada kalian semua!" Irene berteriak kearah punggung Chanyeol yang sudah melangkah meninggalkanya ruangan kerja Phoenix dan bergabung dengan para anggota lainnya yang mana sudah berada didalam helicopter mereka.
Beberapa anggota Red terlihat terbangun dan berada disetiap lorong seakan – akan mengantar kepergian dari anggota Phoenix disana, Luhan dan Minseok berada didekat pintu dan ketika Chanyeol terlihat melangkah kearah mereka, Minseok menahan pria itu untuk tidak melewati pintu itu dengan begitu cepat.
"Bila kalian butuh beberapa anggota Red, aku akan memberikan perintah langsung dan mengirimkan mereka membantu kalian."
"Aku akan pikirkan." Chanyeol menjawab cepat, "Ini adalah urusan Phoenix, biarkan kami mencoba melawannya sendiri."
Minseok mengangguk, tidak ada niatan dari dalam dirinya untuk lebih lama menahan pimpinan Phoenix itu untuk pergi, namun baru selangkah Chanyeol melangkah, Luhan kini menarik tangan pria itu. Bukan karena dirinya ingin mengucapkan satu kalimat atau ucapan lainnya, melainkan sosok kecil yang baru saja terbangun dan nampak bingung serta takut akan apa yang sedang terjadi berada didekat mereka. Baekhyun.
"Ada yang ingin bertemu sebentar." Luhan mengarahkan Chanyeol untuk menengok kebelakang dan melihat dengan matanya sendiri, Baekhyun berada disana, nampak begitu takut dan bingung dimatanya bahkan terlihat genangan air mata yang begitu keras ia tahan untuk tidak mengalir.
Sementara kedua orang disana masih saling melempar pandangan terhadap masing – masing, Luhan dan Minseok memerintahkan anggota lainnya untuk kembali masuk kedalam kamar mereka .
Chanyeol tertahan disana, keinginannya untuk segera berlari masuk kedalam helicopter ia tahan dengan begitu kuat, kakinya bahkan tergerak kembali menuju dimana Bekhyun berdiri berpegangan pada pegangan tangga disebelahnya.
"Ini sudah masuk jam malammu dan kau belum tidur?"
Baekhyun menggeleng. "A-aku terbangun." Singkatnya ia menjawab.
"Kembalilah tidur, besok kita akan latihan lebih berat dibandingkan hari ini." Chanyeol berucap seakan – akan memberikan perintah dan mengingatkan akan jadwal latihan mereka esok hari.
"F-four akan pergi?" Bukannya menjawab, Baekhyun malah memberanikan dirinya untuk bertanya kepada pria itu.
"Hm."
"Kemana? A-apa A-aku tidak boleh ikut?" Baekhyun bertanya lagi. Entah apa hanya Chanyeol yang merasakan, keadaan mereka saat ini dan juga apa yang ditanyakkan oleh Baekhyun mengingatkan dirinya kembali disaat ia meninggalkan Baekhyun beberapa waktu tahun lalu.
Chanyeol menggeleng sebagai jawabannya, mata mereka masih saling bertatap dan terkunci satu sama lain.
"Ka-kapan Four akan kembali? Besok? Baekhyun akan berlari pagi bersama Four dan Phoenix 'kan?"
Chanyeol mengangguk.
"Four! Kita harus berangkat sekarang!" salah satu anggota Phoenix menyusuli dirinya memperingati bahwa mereka harus segera berangkat saat ini juga.
Chanyeol berbalik tanpa mengucapkan satu kata pun pada Baekhyun yang jelas terlihat masih ingin bertanya dan berucap banyak pada pria itu. Langkah Chanyeol bergerak lebar dan cepat menuju helicopter dan ia bahkan tidak menyadari kalau Baekhyun berlari kecil mengikutinya dibelakang.
"Kau belum membawakan aku es krim strawberry!" Baekhyun berteriak kearah Chanyeol mengingat seberapa besar ia mencoba berlari tidak akan bisa menahan pria itu untuk pergi, dan teriakannya disambut balasan, Chanyeol menoleh kearahnya, tersenyum kecil ketika pria itu mencoba masuk kedalam helicopter.
"Akan aku bawakan!"
"Dengan topping strawberry?!"
"Hm!"
"Chocochips juga?!"
"Hm!"
"Dan cokelat sirup!"
Chanyeol tersenyum kecil.
"Aku ingin yang banyak!" Baekhyun masih berteriak keras seakan – akan menginginkan suaranya bsia terdengar begitu jelas ditelinga Chanyeol, tapi pria itu sudah menutup pintu dan hanya memandangi dirinya didepan halaman tanpa lambaian tangan atau balasan apapun terhadapnya. Baekhyun masih memperhatikan terus hingga helicopter itu tidak terihat oleh pandangan matanya, ia masih berdiri disana, menahan sesak dihatinya dan juga merasa kesal karena air matanya tidak bisa lagi ia tahan dan mengalir membasahi pipinya.
Kakinya tergerak lunglai membuat ia harus bersimpuh berlutut disana dan mencurahkan tangisannya seorang diri, Luhan dan Minseok terlihat menghampiri dirinya dan berusaha membawa anak itu untuk masuk kembali kedalam rumah.
TO BE CONTINUE...
