"Chanyeol…."
.
.
.
.
.
Sejak kecil Chanyeol sudah diajarkan untuk menjadi kuat dan tidak mengenal takut akan hal apapun kecuali rasa takutnya pada Sang Ibu yang tidak pernah berubah hingga saat Ibu-nya harus pergi meninggalkan dirinya hanya karena untuk melindungi sebuah organisasi yang selalu Chanyeol pikir adalah organisasi kecil.
Seiring berjalannya waktu, kini ia paham apa maksud dari kedua organisasi itu. Mengapa Ayah dan Ibunya yang memiliki visi dan misi bertolak belakang namun bisa hidup bersama hingga maut memisahkan mereka berdua. Keduanya bisa bekerja sama dan bahkan saling melindungi satu sam lain dan setelah mereka berdua tiada.. kini kedua organisasi itu berada di tangan Chanyeol dan juga Yoora.
Chanyeol memang mengatakan sejak awal tidak berniat untuk memimpin salah satunya, tetapi mendapati keberadaan Baekhyun terancam oleh Sunyoung, terlebih rencana wanita itu yang ingin menguasai Phoenix dan juga Red untuk keperluannya sendiri dan dipastikan sangat bertolak belakang dengan visi dan misi kedua organisasi itu selama ini, yang ada di pikiran Chanyeol sampai saat ini adalah bagaimana cara membalaskan dendamnya kepada wanita itu dan juga membuat Sunyoung tidak berdaya meskipun hanya untuk bernafas.
Dan disinilah akhirnya, ia berada di gedung Park Inc yang mana menjadi gedung termegah dan juga modern untuk ukuran gedung perkantoran. Langkahnya bergerak pasti menelusuri setiap lantai dan memasang beberapa alat peledak yang sudah ia perhitungkan dengan matang cukup untuk membawa gedung ini dalam kehancuran dan rata dengan tanah pada akhirnya. Terdengar kejam dan tidak masuk akal memang kenapa ia harus menghancurkan gedung peninggalan ayahnya, tapi ia tidak mau memberikan gedung ini untuk Sunyoung dan membuat gedung yang memiliki banyak sejarah ini sebagai alat permainan Sunyoung.
Rencana yang ia miliki dirasa cukup matang, menghancurkan kediaman dan juga markas kecil dimana Sunyoung merintis kelompok Mafianya sudah berhasil dilakukan dengan mudahnya, dan saat ini semua tergantung keberhasilan dirinya membawa Sunyoung terkubur bawah gedung yang menjadi incarannya. Seharusnya semua bisa ia lakukan dengan mudah tanpa adanya pengalihan, tapi ketika suara Kris terdengar meminta waktu dan pada akhirnya suara Baekhyun yang terdengar memanggil namanya, ada gelinyar dalam hatinya membuat gundah melanda.
Suara Baekhyunnya.
Suara yang sudah lama ingin ia dengar memanggil namanya sama seperti ketika mereka masih kanak – kanak, suara yang sama ketika gadis itu memohon kepada Chanyeol untuk bisa kembali menemani dirinya yang tengah kehilangan seluruh hidupnya.
"Chanyeol.." pendengarannya menangkap dengan jelas suara Baekhyun untuk kedua kalinya.
"Chanyeol.. ini aku.." Chanyeol memejamkan matanya, membawa tubuhnya untuk bersandar pada balik dinding pintu dengan ulu hatinya yang terasa sesak tanpa sebuah alasan yang pasti.
"Ini aku.. ha—" terdengar isakan kecil dari suara gadis itu dan Chanyeol tahu apa sebabnya, ingin ia mengatakan kepada gadis itu untuk tidak perlu khawatir dengan keadaannya, tapi rasa egois dan dingin hatinya masih mendominasi hingga mulutnya masih terkunci rapat – rapat untuk tidak mengatakan satu kata pun terhadap sosok diseberang sana.
"Chanyeol." kali ini terdengar suara Baekhyun lebih mantap dan terdengar normal. "Apa Four bersamamu?" Chanyeol semakin dibuat pilu olehnya, bagaimana bisa gadis itu mempermainkan perasaannya dan kini ikut bergabung didalam permainan yang sejak awal dibuat oleh Chanyeol.
"Kalau kalian bersama – sama.. aku mau meminta tolong padamu.. bolehkah?" Chanyeol menggeleng menahan kuat –kuat gejolak dalam hatinya yang ingin menjerit dalam tangisan atau pun suara tawa yang menjadi satu hanya karena ucapan Baekhyun.
"Eoh." Ia menguatkan diri hanya untuk menjawab sesingkat itu, dan akibat dari jawaban yang ia berikan terdengar suara isakan kecil dari suara gadisnya jauh disana yang sengaja ditutupi agar tidak terdengar dengan jelas olehnya.
"Four berjanji padaku… "
"Ia berjanji akan membawakan aku es krim strawberry.."
Dan Chanyeol tersenyum mengingat ucapannya yang mana diingatkan kembali oleh Baekhyun saat ini.
"Ia berjanji akan membawakannya dengan topping strawberry…"
Ada keterdiaman dalam jeda ucapan gadis itu sementara Chanyeol masih menunggu apapun yang ingin dikatakan oleh Baekhyun disana.
"A—aku…" dan semakin larut mereka berada dalam keterdiaman, ada sebuah iasakan yang kembali mengisi percakapan diantara mereka berdua, terdengar dramatis mungkin tapi memang itulah yang dirasakan keduanya. Chanyeol bahkan memiliki perasaan bersalah lebih banyak ketika mendengar Baekhyun menangis ditelinganya, mengingat kembali bahwa semua ini adalah akibat dari perbuatan Sunyoung yang mana bukan hanya menghancurkan keluarganya tapi juga membuat hancur keluarga Baekhyun, terlebih membuat gadis itu menderita sebanyak dan semenyedihkan ini.
"Aku akan pulang. Tunggu aku." Chanyeol menjawab singkat dan memutuskan sambungan komunikasinya dengan lline komunikasi Kris. Ia mengepalkan kedua tangannya dan menguatkan dari dalam hatinya bahwa ini harus diselesaikan saat ini juga, tidak ada alasan untuk mundur dan tidak ada alasan untuk menunda semua yang sudah ia rencanakan sejak awal.
10
"Sepertinya ia sedang melakukan private line dengan Ace.. aku sudah mencoba menghubungi yang lainnya dan berjalan normal.. tapi tidak ketika mencoba disambungkan pada Ace dan juga Four."
"Coba terus." Minseok memberikan perintah lagi kepada Jisung. Dan semua anggota Phoenix disana kembali bekerja memonitori apa saja yang sudah terjadi sejauh ini.
"Ini Zitao… markas dan Istana-nya sudah rata dengan tanah..dan beberapa anak buahnya sesuai perkiraan kini tengah menuju ke Park Inc."
"Roger that."
Beberapa anggota Divisi InCom secara langsung memperlihatkan gambaran yang dimaksud dengan Zitao, bagaimana keadaan kediaman Sunyoung dan juga tempat yang dimaksud dengan markasnya pun bahkan sudah habis dilalap api besar hingga hanya asap gelap yang menutupinya.
"Aku sudah berada didalam." Suara Jongin terdengar menginformasikan keberadaan dirinya.
"Kami masuk melalui pintu belakang." Mark dan kelompoknya juga telah tiba di area Gedung Park Inc
"Pastikan selamatkan Jenderal dan juga Four!" Irene yang masih berada didepan ruangan Lady ikut memberikan perintah dari sana. "Jangan pedulikan bagaimana Sunyoung didalam sana! Keselamatan kalian lebih penting sebelum gedung itu benar – benar hancur! Kalian menger—
"Plan B. Aku ulangi lagi, Plan B!"
"Four?!" mendengar suara Chanyeol yang bergabung dan meneriakkan perubahan rencana yang akan dilakukan mereka sontak membuat seluruh anggota Phoenix terkejut dan juga menghentikan hal apapun yang mereka lakukan saat ini.
"Plan B. Mark, Delta Team… nonaktifkan setiap bom yang sudah aku pasang."
"Siap Boss! InCom! Kirimkan aku dimana letak bom itu." Mark menerima perintah langsung dan meminta tim InCom memberikan gambaran letak posisi bom yang sudah Chanyeol pasang sedari tadi.
"Willis?"
"Yes Boss?"
"Bersiaplah mengikuti kemana aku akan membawa Sunyoung keluar dari gedung ini."
"Chanyeol?!" tanpa menunggu penjelasan lebih jauh dari Chanyeol seketika Irene melayangkan protest pada pimpinan Phoenix itu. "Apalagi yang kau rencakan hah?"
"Tenanglah Irene.. kita akan sedikit bersenang – senang dengan Sunyoung.. bukankah akan lebih menyenangkan?" Chanyeol menyiratkan sedikit mengenai rencananya selagi ia menyusuri setiap anak tangga yang ada di Geudng Park. "Mungkin Red bisa membantu juga.."
"Apa yang kau inginkan?" Minseok merespon cepat mendengar nama Red disebutkan.
"Sambungkan aku dengan Lady." Chanyeol menjawab dengan tenang.
Sementara di ruangan InCom semuanya nampak mulai menyiapkan segala kemungkinan dari rencana lain yang akan dimulai oleh Chanyeol. Jisung dan Ten disibukkan dengan pencarian tayangan cctv disetiap jalan mengikuti petunjuk dari Johnny dan juga Willis yang memantau dari udara dan melihat pergerakkan anak buah Sunyoung yang tengah mendekat menuju lokasi Gedung Park Inc berada.
Irene yang masih berada didepan pintu ruangan Lady masih menunggu Kris keluar dari ruangan dan membantunya untuk memberikan penjelasan mengenai rencana lain yang Chanyeol baru saja berikan, namun hampir bermenit – menit ia menunggu dan pria itu belum juga keluar, pada akhirnya ia memberanikan diri dan langsung membuka pintu ruangan tanpa mengetuk atau pun menunggu perintah masuk kedalam.
"Lady!"
Yoora yang tengah duduk bersama Baekhyun sontak melihat kearahnya dengan tatapan penuh tanya sama halnya dengan Kris yang juga tengah berdiri tak jauh dari posisinya.
"Ada perubahan rencana dan Four menginginkan Red terlibat." Singkat penjelasannya seketika mendapat anggukkan kepala oleh Yoora dan mereka berdua segera pergi dari ruangan itu menuju keruangan Phoenix. Dan tentunya Baekhyun dan Kris mengikuti dibelakang mereka sambil mendengarkan penjelasan singkat dari Irene mengenai rencana yang ditawarkan oleh Chanyeol.
"Chanyeol? Ini aku." Begitu Yoora masuk kedalam ruangan ia langsung menyambungkan alat komunikasi mereka dan memanggil nama adiknya, ia sudah tidak peduli apakah Baekhyun akan mendengarnya dan merasa aneh atau apapun, yang ia pedulikan adalah rencana apa yang ingin adiknya lakukan secara tiba – tiba ini.
"Hey.. aku butuh bantuan Red." Chanyeol merespon cepat.
"Aku bersama Minseok.. kami akan mendengarkan.."
Belum juga Chanyeol mendengarkan, suara tembakan lebih dulu terdengar dari arah line komunikasinya dan tentunya membuat suasana menegangkan didalam ruangan itu.
"Apa yang tejadi?"
"Jisung?! Ten?!"
"Hey Boss.. kami menemukan dua anak buah Sunyoung—"
Dor dor
"Jongin? Chanyeol?" Tidak ada suara sahutan dari mereka yang terdengar dengan jelas hanyalah deru nafas dan juga segala umpatan disertai suara tembakan yang saling beradu dari jauh sana.
"Sunyoung ternyata menyebar anak buahnya dibeberapa lantai.. mungkin Jongin dan Four menemukan mereka.." Mark memberikan informasi yang tidak pasti namun dari apa yang dikatakan bisa digambarkan saat ini itulah yang tengah dihadapi oleh Chanyeol dan Jongin disana.
"Lady.. Chanyeol tengah dihadapkan dengan anak dua anak buah Sunyoung.. tiga orang nampaknya sudah berhasil ia tembak mati." Ten menunjukkan tayangan cctv di area gedung yang memperlihatkan bagaimana pergerakan Chanyeol menghindari dan berusaha menembaki dua orang disana.
"Lady.. aku akan menuju Park Inc." Kris seketika meminta ijin untuk membantu.
"Hey Ace.. mungkin kau bisa membawa beberapa anak buah Red bersama.. aku akan menjelaskan detailnya nanti—" Chanyeol kembali bersuara dan kemudian terdengar suara tembakan lagi yang terarah kearahnya.
"Fokus Chanyeol!" Baekhyun berteriak disana. Wajahnya nampak ketakutan dan juga merasakan keteganggan dari suasana yang dihadapi oleh Chanyeol diluar sana meskipun dirinya hanya bisa mendengar dan mendapatkan penjelasan singkat dari apa yang diinformasikan oleh anggota lainnya.
"I wil." Chanyeol membalas pelan dan jawaban yang ia lontarkan itu bukan hanya membuat satu orang tersenyum malu dibuatnya. Yoora, Minseok dan juga Irene secara diam – diam menutupi raut wajah bahagia mereka sama halnya dengan beberapa angoota Phoenix didalam ruangan tersebut. Kris yang bahkan belum beranjak dari tempatnya sempat berdeham pelan dan memaksakan diri untuk tetap terlihat wibawa.
"Kau boleh pergi.. a-aku akan mencari anggota Red yang siap untuk diberangkatkan.. kita bertemu lagi di landasan dalam 15 menit kedepan." Minseok lebih dulu melupakan hal yang baru saja terjadi dan ia mengajak Kris untuk pergi keluar bersamanya untuk siap berangkat menyusul Chanyeol dan yang lainnya.
"Kris dan yang lainnya akan pergi kearahmu.. adalagi yang kau butuhkan?" Irene menginformasikan update terbaru kepada Chanyeol yang nampaknya masih terengah – engah melawan dua orang anak Sunyoung yang belum juga berhasil ia bunuh.
"Boss.. bisa tolong aku? Aku terjebak di lantai 18." Suara Jongin
"What? Aku sudah di lantai 23 Kai-ah!" Chanyeol mengomel .
"Dimana musuhmu? Aku akan menembak dari luar." Willis menyahut dengan suara malasnya.
"Hey Willis.. pastikan hanya hancurkan lantai 18! Aku masih berada di lantai 16.." Mark bergabung bermaksud memperingati pria yang menjadi juru tembak itu untuk tidak menghancurkan lantai lainnya selain lantai 18 dimana Jongin tengah terjebak disana.
"Berlindunglah.. ini akan sedikit berisik." Tepat selesai Willis bersuara suara tembakan dan pecahan kaca terdengar begitu nyaring disertai suara tawa dari Johnny dan juga Willis yang nampak bahagia akhirnya bisa melakukan penembakan sedari tadi mereka terbang mengawasi.
"Chanyeol berhasil membunuh mereka." Ten memberikan kabar terbaru terlepas dari apa yang dilakukan Willis dan Jongin. "Ia tengah menuju kelantai 25 sekarang." Informasinya diperjelas dan itu membuat Yoora dan Irene mengangguk paham sementara Baekhyun tidak mengindahkan apa yang diucapkan oleh Ten disana, pandangan matanya melihat kearah layar dan memperhatikan dengan baik bagaimana gerakkan Chanyeol disana.
"Kai-ah, Mark? Kalian dimana?" Chanyeol menyiapkan diri memasukkan beberapa peluru pada dua pistolnya dan juga menyiapkan cadangan senjata dibelakang sepatu yang tengah ia pakai. Kembali ia memeriksa rompi anti peluru pada badannya yang sempat tertarik ketika ia tengah beradu pukul menghadapi salah satu anak buah Sunyoung sebelumnya.
"Aku menuju keatas!"
"Aku masih menyisir setiap lantai Boss." Kai dan Mark bergantian menyahut pertanyaan dari Chanyeol.
"Kami akan membantu membersihkan keadaan di luar Boss… sebutkan saja rencananya." Suara Willis bergabung dipercakapan mereka.
"Dengarkan baik – baik." Suara Chanyeol terdengar serius dan tidak ada satu pun yang memberikan respons diawalnya. "Aku akan membawa Sunyoung keluar dari gedung ini sebagai tahanan dan akan membawanya kerumah kediaman Tuan Byun—
"Kenapa kau membawanya kesana?!"
"Chanyeol?!"
Minseok dan Yoora seketika memprotest mendengar ucapan Chanyeol barusan.
"Lebih dramatis demikian." Dan Chanyeol menjawab tenang tanpa memperdulikan protest itu. "Irene, hubungi Tuan Choi dan katakan aku memiliki Sunyoung, berapa harga yang ia tawarkan untuk kepalanya dan bila ia menawar dengan harga tinggi segera kabari aku."
"Yes Boss." Irene menjawab kaku mendengar hal itu, bukan hanya harga dari kepala seseorang yang Chanyeol jelaskan namun karena diruangan mereka Baekhyun masih mendengar semuanya dan mungkin saja pikiran dan juga hatinya belum siap mendengar hal itu.
"Ba-bagaiman kalau Tuan Choi menolak?" Yoora bertanya balik.
"Aku akan mengurusnya sendiri.. dengan bantuan Red tentunya. Hey Minseok, ingat apa yang dilakukan Red terhadap Tuan Bratva?"
"Mafia dari Rusia itu?" Minseok menanyakkan kembali.
"Yes.. kau ingat apa yang dilakukan Red padanya?"
Irene dan Yoora yang menyimak pembicaraan dua orang disana sontak melempar pertanyaan pada satu sama lain, Irene mulai meminta Jisung atau pun Ten yang bisa membantunya untuk mencarikan data dari file RED mengenai apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Chanyeol dan Minseok disana.
"Seingatku itu adalah code merah dalam Red."
"Dan karena itulah aku meminta bantuan Red untuk melakukan hal yang sama pada Sunyoung."
Tanpa menunggu terlalu lama, Jisung memberikan tayangan lengkap mengenai apa yang pernah dilakukan oleh Red terhadap mafia dari Rusia yang bernama lengkap Sevskaya Bratva, salah satu anak buah dari kelompok Mafia paling sadis di Rusia dan dia adalah tangan kanan dari Seimon Mogilevich.
Hasil rekaman yang diperlhatkan oleh Jisung menjelaskan semuanya apa yang Chanyeol ingin lakukan pada Sunyoung, terlihat kejam dan begitu sadis karena dari tayangan tersebut Bratva diikat dalam dan selanjutnya beberapa orang dari Red menusukkan pisau disetiap bagian tubuhnya, bukan bagian vital bila dilihat dari jauh karena dalam rekaman yang memiliki durasi hampir 2 jam tersebut tetap memperlihatkan bahwa Bratva masih bisa bernafas meskipun tersenggal – senggal.
Jisung memperlihatkan tayangan lainnya dimana pada hari ketiga setelah penyiksaan itu, Bratva masih hidup dengan keadaan kritis, ia tidak bisa lagi berjalan layaknya orang normal, terlihat dalam videonya ia duduk pada kursi roda dengan tabung oksigen disampingnya, berbagai alat menempel pada bagian kening dan pelipis dan juga bagian dadanya.
"Tidak berdaya bahkan hanya untuk bernafas.." Irene dan Yoora menoleh pada sumber suara yang ikut menyaksikan tayangan tersebut, Baekhyun. "A-aku pernah mendengar Sunyoung membicarakan hal itu terhadap anak buahnya.."
"Itu yang akan kita lakukan kepadanya." Chanyeol menyahuti dan tidak ada satupun yang mengomentari apa yang akan ia lakukan nantinya. Yoora dan Irene nampak menahan nafas mereka sesaat ketika pandangan keduanya melihat kembali kearah tayangan video penyiksaan tersebut hingga akhirnya Irene meminta Jisung mematikan tayangannya.
"Chanyeol-ah.. hati –hati." Yoora yang bersuara demikian, setelahnya ia kembali duduk didekat Baekhyun berusaha menenangkan diri dan melupakan kilasan – kilasan tayangan sebelumnya.
FOUR
"Apa yang kau rencakan Sunyoung-ah?"
"Aku?! Harusnya aku yang menanyakkan hal itu padamu Jenderal Kim!" Sunyoung membalasa pertanyaan sang Jenderal dengan penuh amarah. "Apa maksudmu dengan menghancurkan kediamanku huh?" Sunyoung lekas beranjak berdiri dari posisi duduknya sebelumnya, mendekatkan wajahnya kearah Jenderal Kim, tatapannya penuh amarah seakan – akan siap meledak kapan pun setelah mendengar jawaban dari pria dihadapannya.
"Katakan padanya.. mungkin saja ia yang menyewa beberapa kelompol radikal untuk mengahncurkan Park Inc yang tdiak jatuh ketangannya." Irene membantu berkomunikasi disaluran line-nya.
"Kau bertanya padaku? Seharusnya aku yang menanyakkan kepadamu.. mungkin saja ini termasuk dalam rencana jahatmu karena Park Inc belum berada didalam tanganmu." Junmyeon menggertak kembali dengan tatapan membalas amarah Sunyoung padanya.
Sunyoung tidak membalas tuduhan yang diarahkan padanya, meskipun Ia tidak merencanakan hal itu saat ini, namun dalam pikirannya memang ia sempat memiliki rencana untuk menghancurkan gedung megah ini bila rencananya membunuh Yoora gagal.
"Periksa keadaan didepan." Sunyoung memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa keadaan di depan pintu ruangan meeting mereka sementara dirinya masih berdiri dihadapan Jenderal Kim, berbagi tatapan penuh amarah yang ditahan.
"Penjagaan masih ketat Nyonya. Tapi kami mendapatkan perintah untuk segera membawa Anda keluar dari Gedung ini karena nampaknya ada penyusup yang memiliki rencana akan membunuh Anda." Ucapan anak buahnya kembali menyulut kemarahn Sunyoung.
"Aku bertanya padamu lagi Jenderal Kim. Apa yang kau rencanakan?!" Sunyoung kembali menggertak dengan pistol yang terarah pada pelipis Junmyeon.
"Ulur waktu.. aku akan menghabisi beberapa anak buahnya yang berjaga didepan." Suara Chanyeol terdengar yang setidaknya bisa sedikit menenangkan perasaan Junmyeon saat ini.
"Apa yang kau rencanakan?" Junmyeon berbalik bertanya meskipun sebenarnya pertanyaan itu ditujukan pada suara Chanyeol disana.
"Kau menanyakkan rencanaku? Aku akan membunuhmu sekarang karena telah menghancurkan rumah dan juga markas kecilku! Aku akan membunuhmu karena berusaha melawanku. Apa kau paham Jenderal?!"
"Kita akan membuat dirinya tidak berdaya.. bahkan untuk bernafas sedikit pun.. " Junmyeon lebih memilih mendengarkan suara Chanyeol yang memberikan sedikit penjelasan mengenai rencana selanjutnya. "Kau ingat Ibu-ku pernah meminta Red menyiksa salah satu mafia tersadis didunia? Aku masih ingat gambaran kecilnya.. dan mungkin itu cocok untuk dilakukan pada Sunyoung.."
"Hm. Kau menuduhku memiliki rencana demikian.. sementara saat ini bisa saja aku menahan dirimu atas pembunuhan berencana yang kau lakukan pada Yunho.. Victoria.. Chanyeol.. dan juga Yoora.." Junmyeon mengulur waktu dengan mengungkit cerita panjang dari penyelidikan kasus pembunuhan terhadap keluarga Park. "Atau kau ingin memperpanjang semuanya dengan apa yang kau lakukan pada Jessica? Kepada Jungki? Atau kepada Baekhyun?"
Sunyoung tertawa meremehkan, "Apa yang akan kau katakan pada Pengadilan? Kau bahkan tidak memiliki barang bukti dan hanya sebuah tuduhan tak berarti—
"Berapa orang yang ada didalam?"
Junmyeon sempat ingin memaki dalam hatinya mendengar pertanyaan Chanyeol yang tentunya akan sulit untuk dijawab. Dirinya berada terkepung dengan kedua anak buah Sunyoung dan juga ssatu orang perwakilan dari pengacara, bagaimana bisa dia mengatakan situasinya secara spontan.
"Berdeham-lah bila didalam kau hanya berdua dengan Sunyoung.." Chanyeol memberikan opsi pilihan dan itu menenangkan Junmyeon. "Batuk bila ada dua orang atau lebih anak buah Sunyoung didalam."
"Aku rasa ada dua orang atau lebih disana dilihat dari tampilan sinar panas dari alat pelacak yang ada di Jenderal Kim." Irene yang baru saja mendapat penglihatan sinar pelacak dari Ten langsung menginformasikan pada Chanyeol dan Jenderal Kim mengklarifikasinya dengan suara batuk yang susah payah ia buat untuk terdengar layaknya suara batuk natural.
"Bersiaplah menunduk Jenderal dan pastikan menembak kearah rompi anti peluruku." Tak lama ucapan Chanyeol terdengar, suara ledakan di depan pintu ruangan meeting itu terdengar yang mana berhasil membuat kedua daun pintu disana nampak penyok dan juga retak. Jenderal Kim dan juga Sunyoung dengan cepat menunduk dan mencari tempat berlindung, Junmyeon tak lupa membawa perwakilan pengacara untuk berada didekatnya.
Dua anak buah Sunyoung bersiaga menunduk sambil melangkah cepat dan bersembunyi dibalik kursi menunggu serangan yang akan mereka hadapi. Tapi ada jeda begitu lama dan tak ada satu pun yang masuk kedalam ruangan tersebut, hingga salah satu mereka memberikan perintah pada yang lainnya untuk melihat keadaan diluar sana.
Salah satunya yang memiliki badan lebih kecil melangkah perlahan – lahan, menyiapkan pistol ditangannya dalam posisi siaga dan ketika mendekati area pintu ia menahan diri sebentar, menarik nafas pelan, lalu mengarahkan diri kearah luar pintu. Namun baru beberapa detik ia berada menghadap keluar suara tembakan terdengar yang mana terarah pada jantungnya dan membuat ia jatuh tewas seketika.
"Bantuan! Bantuan!" satu – satunya anak buah Sunyoung yang masih hidup berteriak kearah alat komunikasinya dan kembali bersembunyi dibalik kursi, sementara Sunyoung sudah bersiap mengeluarkan pistol miliknya yang berukuran lebih besar. Junmyeon mengingat lagi perkatan Chanyeol sebelumnya mengenai untuk menembak kearah rompi anti pelurunya dan ia sudah membayangkan bahwa nantinya akan ada sedikit drama saling menembak.
"Beberapa anak buah Sunyoung mulai menuju tempatmu kalian." Suara Willis menginformasikan keadaan diluar sana.
"Aku berjaga di lantai 24." Kai menginformasikan posisinya.
"Aku ada di lantai 23.." sama halnya dengan Mark.
"Willis.. habiskan lantai 20 sekarang." Chanyeol masih sempat memberikan perintah sebelum dirinya melangkah masuk dan mulai menembaki seisi ruangan meeting tersebut. Sunyoung dan anak buahnya bergantian menembak kearah Chanyeol namun pria itu terlalu lincah dan cepat untuk menghindar, sementara peluru yang ditembakkan Chanyeol berhasil mengenai bagian lengan Sunyoung dan juga bagian kaki dari anak buahnya. Junmyeon ikut melayangkan tembakan meskipun ia mengarahkannya ke sembarang tempat.
"SIAPA KAUUU!" Sunyoung terpancing emosi ditengah kesakitannya.
"Kita tidak sedang berdiplomasi Jung Sunyoung.." Chanyeol menyebutkan nama lengkap dari Sunyoung dan wanita itu membalasnya dengan berdecih.
"Siapa yang mengirimmu?" kali ini pertanyaan lain Sunyoung lontarkan, "berapa banyak yang ia bayar?"
Chanyeol tersenyum licik disana, "Kau sanggup membayar lebih dari Boss-ku?"
Mendengar hal itu Sunyoung sedikit merasa lega karena prinsip uang bisa membayar apapun termasuk nyawa adalah benar adanya. "Katakan.. berapa nominal yang ia bayar?"
Anak buah Sunyoung mencuri – curi kesempatan untuk melihat keadaan disekitar Chanyeol namun Junmyeon lebih dulu melihat kearahnya dan menodongkan pistol yang ia pegang sehingga laser merah yang ada di pistol tersebut terarah pada kening kepalanya.
"Aku mengunci pergerakan anak buah Sunyoung." Ia berbisik pelan menginformasik pada Chanyeol.
"Tembak dia bersama aba – aba dariku selanjutnya.." Chanyeol membalasnya dengan bisikan juga.
"Kau mungkin tidak sanggup menandingi bayarannya Nyonya Jung.. dia membayar dengan Dollar.."
Sunyoung lagi – lagi berdecih. "Aku bisa membayarmu dengan Poundsterling bila kau mau. Berapa banyak angka yang kau inginkan aku bisa memberikanmu.. cukup bawa aku keluar dari sini dengan selamat tanpa ada luka tambahan sedikit pun."
"Aku butuh pembayaran dimuka.." Chanyeol memberikan gertakan lainnya.
Dan ucapannya semakin membuat emosi Sunyoung semakin terpicu. "Keluarkan aku dari sini dan kau akan menerima pembayaran dimuka!" ia berteriak lagi.
"Maaf Nyonya Jung.. pembayaran dimuka menurutku bukanlah uang.."
"A-apa? Apa maumu?"
Chanyeol lagi – lagi tersenyum kecil dibalik persembunyiannya. "Tembak anak buahmu dalam hitungan ketiga.. dan kalau kau tidak menembaknya.. maka pembayaran dimuka aku anggap batal."
Sunyoung menggertakan giginya merasakan dirinya sepenuhnya sudah berada dalam ancaman orang tersebut dan bila ia tidak menembak anak buahnya saat ini juga maka bisa dipastikan ia akan mati ditempat ini.
"Bos—boss.. tolong.." anak buahnya memohon dengan penuh frustasi kearah Sunyoung namun pandangan matanya memohon pada Junmyeon untuk tidak menemba mati dirinya.
"Sunyoung tidak akan membunuh anak buahnya.. ia pasti tidak akan menembak kearah organ vital.." Irene bersuara disana bermaksud membiarkan Chanyeol untuk bisa memikirkan opsi lainnya selain meminta Sunyoung membunuh anak buahnya sendiri.
Tapi belum ada sahutan dari Chanyeol maupun sang Jenderal, Sunyoung dengan tanpa perasaan apapun menembak kearah jantung anak buahnya sendiri dan kembali berteriak kearah Chanyeol. "Apa lagi yang kau inginkan?!"
"Dia mati.." Junmyeon berbisik menyampaikan penglihatan dengan matanya sendiri bagaimana darah segar keluar dari kening pria yang menjadi anak buah Sunyoung didepannya.
"Lemparkan pistolmu.. kedua pistolmu kesembarang arah dan berjalanlah menuju pintu keluar secara perlahan.." Chanyeol kembali memberikan instruksi kepada Sunyoung dan wanita itu segera mengikuti segala perintahnya. Melupakan ego dan juga rasa malu karena baru saja ia mendapatkan ancaman serta hampir mati karena kelalaian anak buahnya.
Chanyeol mengikuti dari belakang dengan pistol yang menempel dengan bagian belakang kepala Sunyoung,
"Juliet aman." Chanyeol memberikan informasi kepada yang lain, dengan kode Juliet yang sebenarnya merujuk pada kedua orang, untuk Junmyeon dan juga Sunyoung.
"Aku dan Mark akan membawa Jenderal." Kai melaporkan pergerakkan selanjutnya.
"Kemana kita?" Sunyoung menanyakkan kearah Chanyeol ketika mendapati mereka sudah berada di lantai 21 dan tidak ada jalan keluar mengingat lantai 20 dibawahnya sudah habis diporak porandakkan dengan tembakan yang Willis lakukan. Tembok – tembok pada tangga darurat bahkan telah runtuh dan menutupi akses jalan.
"Kita akan menunggu disini.." Chanyeol kembali berucap dengan tenang. "Kau belum memberikan deal harga padaku Nyonya Jung.."ia mengingatkan kembali tentang pembicaraan sebelumnya mengenai bayaran yang lebih banyak terhadap Chanyeol.
Sunyoung menoleh kebelakang untuk melihat rupa dari pria yang diminta untuk membunuh dirinya, dan beruntungnya Chanyeol sudah menutupi wajahnya seluruh wajahnya dengan sticker hitam dan menyisakan bibir plum miliknya dan juga tatapan mata dingin kearah Sunyoung.
"Berapa yang kau inginkan?" Sunyoung kembali bertanya. "Dollar? Euro? Atau pondsterlling? Aku bisa memberikan lebih dari Bossmu sekarang."
"Angka.." Chanyeol tidak menjawab namun menuntut Sunyeong untuk mengatakan padanya mengenai bayaran yang akan ia keluarkan untuk membayar Chanyeol hanya untuk membawanya keluar dari gedung itu. "Kalau angkanya tidak seperti yang aku harapkan.. aku bisa saja langsung melemparmu jatuh dari Gedung ini. Selesai." Chanyeol berjalan mendekat kearah jendela disana dan melihat kearah bawah dimana nampak beberapa petugas kebakaran dan juga polisi sudah mulai berkumpul dibawah sekitar gedung.
"100.000 Poundsterling untuk membawaku keluar dari Gedung ini.. dan bila kau benar – benar menepati janjimu.. aku akan menambahkan 50.000 Euro diakhirnya." Tanpa berpikir panjang Sunyoung mengucapkan angka penawarannya pada Chanyeol.
"Wanita itu benar – benar kaya.."
"Itu semua adalah harta Keluarga Byun.." Yoora menjawab ucapan Willis barusan.
"Four.. kami sudah berada diatas Gedung.." Kris yang baru saja tiba bersama Minseok dan juga tiga anggota Red lainnya didalam helicopter mengabarkan posisi kepada Chanyeol didalam sana.
"Bagus.." Chanyeol menjawab ucapan dari Sunyoung dan juga menjawab informasi dari Kris bersamaan. "Bawa helicopter ke lantai 20.. kita memiliki tamu tambahan." Chanyeol menginstruksikan kepada mereka dan kini kembali melihat kearah Sunyoung. "Tawaranmu aku terima.. hanya saja sebagai tambahan.. kau harus menurut dengan apa yang akan aku lakukan Nyonya Jung."
Sunyoung menahan nafasnya melihat Chanyeol menembakkan peluru pada kaca Gedung hingga semuanya terpecah sama rata hingga angin di luar gedung sana masuk menyentuh setiap kulitnya, dan ia semakin merasa khawati dan takut ketika melihat Minseok yang meloncat dari posisi Helicopter yang cukup jauh bersama dengan tiga perempuan lainnya. Sunyoung jelas tahu siapa Minseok dan dari organisasi apa perempuan itu berasal dan sontak ketika tangan Minseok menggenggam kasar dan begitu erat tangannya, ia memberontak cukup keras dan bahkan berusaha berteriak sekuat tenaga dengan gerakkan kakinya yang menendang kedua orang yang memegangi badannya.
Chanyeol ikut membantu dengan mengambil alih suntikan yang dipegang Minseok dan kemudian ia tusukkan langsung pada tangan Sunyoung dengan begitu kasar dan beberapa detik kemudian kesadaran wanita itu melemah dan tersungkur di lantai begitu saja.
"Bawa dia. Pertunjukkan baru akan dimulai." Chanyeol berucap santai dan kemudian ia lebih dulu meloncat kearah helicopter disana dan mengambil alih kemudi sementara kini giliran Kris yang harus berpindah tempat dan meloncat kedalam gedung untuk membantu ketiga anggota Red membawa Sunyoung masuk kedalam helicopter mereka.
