"Menurutmu.. apa yang akan terjadi dengan mereka berdua?" sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Yoora ketika Irene dan Luhan telah selesai memberikan laporan mengenai hukuman yang dilakukan Red pada Sunyoung hari ini.
Irene dan Luhan sempat saling memandang satu sama lain seakan – akan kedua wanita itu tengah memikirkan untuk memberikan jawaban yang sama kepada Yoora.
"Apa menurutmu Chanyeol bisa bersikap biasa saja dengan Baekhyun?" pertanyaan sebelumnya belum terjawab dan kini Yoora sudah melontarkan pertanyaan yang lain.
"Aku pikir mereka berdua akan baik – baik saja, Lady." Luhan tersenyum menyakinkan kearah Yoora dan Irene ikut menyetujui ucapan wanita yang berdiri disampingnya dengan anggukkan kepala.
"Chanyeol adalah Four." Yoora berucap lagi dan kini kedua wanita dihadapannya terlihat bingung apa yang ingin coba Yoora jelaskan kepada keduanya. "Dan Baekhyun adalah Red."
"A-aku tidak mengerti.." Irene dengan berani memotong.
"Mereka tidak boleh memiliki perasaan lebih terhadap satu sama lain.. karena kalau itu terjadi.. kisah cinta Ibu dan Ayahku akan terulang lagi.. benarkan?"
Tidak ada yang bisa menjawab pernyataan Yoora disana karena Irene dan Luhan jelas mengingat pelajaran sejarah awal mula bagaimana terbentuknya Phoenix dan juga Red serta hubungan yang dimiliki oleh kedua pimpina sebelumnya.
FOUR
Chapter 13
Mengatakan bahwa Baekhyun memanglah masih begitu polos karena angka usia dan juga faktor lingkungan yang sangat tertutup selama ia menjadi tahanan rumah ketika tinggal bersama dengan Sunyoung bisa dibenarkan. Usianya memang sudah menginjak usia remaja, namun pola pikir dan tingkah laku dirinya menunjukkan kepolosan layaknya gadis usia belasan tahun yang belum mengenai dunia lebih luas.
Dan ketika Chanyeol mencium bibirnya layaknya ciuman yang dilakukan oleh orang – orang dewasa lainnya, Baekhyun membelakkan matanya dengan tubuhnya yang kaku dan pada detik ketika Chanyeol melumat bibirnya dengan basah, Baekhyun menjauhkan dirinya lalu menutup mulutnya. Ia menatap Chanyeol penuh tanya dan juga banyak pemikiran didalam kepalanya.
"Ke-kenapa?"
Mendengar pertanyaan itu ditujukan kearahnya membuat Chanyeol mengernyitkan alis sembari menahan gelak tawa dalam dirinya.
"Kenapa apa?" Chanyeol menekuk tangannya untuk menyanggah kepalanya, posisi badannya masih terbaring miring diatas ranjang yang sama dengan Baekhyun, terarah untuk melihat gadis yang berada dihadapannya yang mana tengah menutup mulutnya dengan kedua tangannya, posisi badan gadis itu sedikit menjauh darinya.
"Ke-kenapa menciumku..?" Baekhyun menjawab lagi dengan suara lirih berbisik.
Dan Chanyeol yang masih menatap gadis polos dihadapannya dengan sebuah senyuman yang tertahan diwajahnya.
"Aku merindukanmu." Balas Chanyeol yang mana jawaban yang ia berikan kembali memberikan pertanyaan di wajah gadis itu.
"Aku merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu. Bahkan ketika aku melihat dirimu untuk pertama kalinya di pemakaman Ayahku.. melihat dirimu menangis disana dan juga ketakutan.. jujur saja aku ingin langsung memelukmu. Tapi nyatanya yang aku lakukan malah menembak bahumu."
Penjelasan itu membuat Baekhyun mengingat lagi mengenai kejadian di pemakaman kala itu. Raut wajah Baekhyun kembali menunjukkan rasa bersalah, ia memundurkan sedikit badannya agar tercipta sebuah jarak antara dirinya dan juga Chanyeol.
"A-aku membunuh Ayahmu." Suara lirih yang tengah mengaku sebuah dosa itu terdengar penuh penyesalan.
"Bukan dirimu yang melakukannya Baekhyun." Chanyeol menyanggah lembut, menahan kepala Baekhyun yang tengah menggeleng membantah ucapan Chanyeol.
"A-aku menembaknya.. Sunyoung mengatakan aku yang melakukannya.. ia bahkan mempunyai videonya—"
Ada tangan yang menarik badan Baekhyun dengan begitu cepat dan memberikan ciuman begitu dalam untuk membungkam mulutnya. Chanyeol kembali mencium gadis itu, dalam dan basah, panas dan bergairah seakan – akan ia ingin menyampaikan bahwa semua yang Baekhyun ucapkan bukanlah hal yang ingin Chanyeol dengarkan saat ini.
Baekhyun tidak pernah berciuman sebelumnya dengan siapapun. Jangankan berciuman, Ia bahkan tidak pernah tahu rasanya berpegangan tangan atau bahkan memeluk pria dewasa sebelumnya. Baekhyun hanyalah gadis yang baru berusia 17 tahun dan tidak tahu menahu mengenai hal – hal berbau romantisme sebelumnya.
Dan Chanyeol memberikan pengalaman pertama untuk ciuman pada bibirnya. Ciuman yang berbeda seperti beberapa menit sebelumnya. Kali ini bukan hanya sebuah bibir yang begitu dalam melumat bibirnya, tapi ada pergerakkan lidah yang bermain menyapu setiap bagian bibir Baekhyun dengan terburu – buru namun begitu nikmat Ia rasakan. Mulut Baekhyun menurut untuk terbuka memberikan ijin pada lidah Chanyeol melesak masuk kedalam dan mengecap bagaimana manis bibirnya.
Tangan Chanyeol menarik pinggang Baekhyun agar gadis itu kembali dekat dalam dekapannya, sementara tangan yang lain menahan tengkuk leher gadis itu dan sontak Baekhyun menggerakkan tangannya untuk berada tepat di dada Chanyeol.
Kini mereka terhanyut dalam ciuman yang begitu memabukkan penuh gairah meruntuhkan segala pertahanan nafsu yang dimiliki oleh Chanyeol hingga ia beralih membawa badan Baekhyun berada dibawah dekapannya. Melanjutkan segala gerak bibirnya bukan hanya untuk mencium bibir teman masa kecilnya namun juga menyentuh dan menyesap tubuh gadis itu.
Baekhyun menjadi pihak pasif ketika Chanyeol tak lagi mencium bibirnya namun kini tengah menyisir bagian pipi dan lehernya, dan kemudian badannya menegang cepat saat tangan Chanyeol mengusap bagian dadanya. Suara takut dan kaget yang tertahan dari dalam mulut Baekhyun tak lagi bisa ia bendung dan berhasil membuat Chanyeol menghentikkan untuk menyentuh bagian badan Baekhyun lainnya.
Cara kerja otaknya mulai kembali normal, segala pikiran penuh nafsu telah hilang ketika Chanyeol mendengar suara ketakutan dari Baekhyun.
"Ma—maafkan aku." Kepalanya menundukkan didepan dada Baekhyun dan perlahan – lahan badannya mulai bangkit menjauh dari tubuh gadis itu.
Mata Baekhyun mengerjap cepat sama dengan pergerakkan nafasnya yang mulai ia atur normal meskipun kerja jantungnya masih tak beraturan.
"Chan—" langkah tangannya terhenti untuk mengambil mantel warna hitam miliknya.
"Chanyeol.." lagi suara Baekhyun terdengar memanggilnya.
Hanya helaan nafas berat yang bisa Chanyeol berikan sebagai jawaban, punggungnya yang menghadap kearah Baekhyun cukup mampu menyembunyikan matanya yang terpejam dengan raut wajah penuh rasa bersalah akan apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu.
"Jangan pergi." Baekhyun bersuara lagi dan mencoba membawa badannya untuk bangkit menyusul dimana Chanyeol berdiri mematung dalam diam. "Jangan pergi lagi.." lirihnya ia beranikan terucap meskipun hatinya meragu apakah Chanyeol akan mendengarkan permohonannya.
Keterdiaman pada akhirnya berada menemani jarak diantara keduanya. Chanyeol masihlah menahan dirinnya untuk terdiam mematung, enggan untuk sedikit berbalik melihat kearah Baeakhyun yang berada tak jauh dari posisinya. Matanya masih terpejam dengan raut wajah yang menggambarkan semua apa yang tengah berusaha ia tahan sekuat tenaga.
"A-aku tidak mau Chanyeol pergi.." dan Baekhyun masihlah menjadi pihak yang berusaha untuk mengembalikan keadaan mereka berdua seperti sebelumnya.
"Aku tidak pergi jauh." Chanyeol menjawab cepat. "A-aku hanya akan pergi keluar sebentar, tidurlah!" ucapannya terdengar seakan – akan seperti sebuah perintah, namun kali ini apa yang ia ucapkan tidak dipatuhi Baekhyun dengan sigap seperti saat latihan.
Kedua mata Chanyeol membelak lebar dan kini tubuhnya yang menegang kaku tepat ketika kedua lengan kecil melingkar memeluk pinggangnya, serta merasakan kehangatan dari tubuh Baekhyun yang menempel di punggung belakangnya.
"Temani aku.." suara merdu bernada lirih terdengar dibalik punggung Chanyeol, sementara tangan sang empunya suara masih memeluk pinggangnya.
"Bae—"
"Temani aku.. kau berjanji tidak akan meninggalkanku lagi."
Chanyeol menghela nafas pelan merasakan dirinya kalah oleh kalimat yang pernah ia katakan sebelumnya kepada Baekhyun.
Mulutnya terkunci rapat, namun Chanyeol bergerak berbalik, menggenggam lengan tangan Baekhyun dan membawa gadis itu untuk kembali ke tempat tidur. Baekhyun mengikuti namun gerak matanya tetap mengawasi pria disampingnya. Bahkan ketika badannya sudah berbaring kembali terbaring diatas ranjang, Baekhyun memilih untuk menghadapkan badannya kearah Chanyeol disampingnya.
"Tidurlah, aku tidak akan kemana – kemana." Chanyeol berucap meskipun dia sudah lebih dulu memejamkan matanya sembari berbaring menghadap langit – langit kamar.
Baekhyun tersenyum kecil disampingnya, menikmati waktunya menatap lekat kearah wajah Chanyeol yang nampak tenang tertidur disampingnya, hingga matanya perlahan – lahan mulai terpejam menyambut tidur malamnya.
.
CHANBAEK
.
Esok harinya Chanyeol terbangun lebih dulu diawal, pria itu menyempatkan dirinya berolahraga lalu beranjak mandi dan bersiap – siap untuk melanjutkan acara berliburnya. Baekhyun bangun setelahnya ketika Chanyeol terlihat sudah berpakaian rapi, pria itu menyempatkan mengucapkan salam lalu berlalu keluar dari kamar hotelnya dengan alasan akan menunggu Baekhyun di restoran untuk sarapan pagi, dan gadis yang masih mengumpulkan sisa – sisa nyawanya masih menikmati mimpi tidur malamnya menurut dalam anggukkan lalu beberapa waktu kemudian ia beranjak mandi dan bersiap – siap.
"Aku tidur nyenyak semalam.. dan rasanya baru pertama kalinya aku tidur tanpa ada mimpi – mimpi aneh." Tidak ada yang meminta Baekhyun untuk menjelaskan bagaimana tidurnya semalam, namun gadis itu memang sengaja menjelaskan kearah Chanyeol dihadapannya yang tengah menyantap sarapannya.
"Apa Chanyeol tidur nyenyak malam ini?" Baekhyun tersenyum, menyuapkan beberapa potongan buah kedalam mulutnya lalu menatap sosok pria didepannya.
Tidurku juga nyenyak Baekhyun.
"Biasa saja." Jawaban yang keluar dari mulutnya berbeda dengan ucapannya didalam hati.
"Hmm.. semua makanannya enak." Lagi – lagi Baekhyun nampak lebih bersemangat berucap apapun yang menurutnya menyenangkan. "Huaa.. Pengunjung hotelnya sangat ramai…" ia melihat kesekeliling, tanpa sengaja memperhatikan para pengunjung yang terlihat memasuki area restoran untuk menyantap sarapan mereka.
Matanya menangkap sosok wanita dewasa yang memiliki tinggi dan bentuk tubuh sangat ideal tengah berjalan kearahnya, wanita yang memiliki rambut berwarna hitam panjang, menutupi wajahnya dengan topi dan juga kacamata namun melangkah dengan percaya diri ketika tubuhnya hanya mengenakkan pakaian renang dengan model bikini dan juga kain yang membalut pinggang menutupi pahanya. Baekhyun masih memperhatikan hingga secara tiba – tiba Chanyeol beranjak bangun dari tempat duduknya ingin melangkah dari kursi lalu menabrak wanita itu.
"Oh—maafkan aku." Chanyeol lebih dulu meminta maaf karena ketidak sengajaan yang ia lakukan, tangannya memegang pinggang wanita itu untuk menahan agar tidak terjatuh.
"Aish.. tidak apa – apa.." sang wanita sempat menggerutu diawal tapi ketika ia melihat wajha Chanyeol, suaranya menjadi lembut. "Untung saja tanganmu dengan cepat menangkap—"
Chanyeol menjaga jarak, memberikan senyuman lalu memilih menjauh tanpa adanya ucapan omong kosong kepada wanita yang baru saja ia tabrak tadi. Baekhyun memperhatikan semuanya, pandangan matanya bahkan masih terpaut pada sosok wanita itu yang sempat berdiri mematung disamping sambil terus memperhatikan punggung Chanyeol yang tengah berlalu kearah lain.
"Ish.." Baekhyun mengucap sebal. Dan suasana hatinya semakin terasa begitu menyebalkan karena wanita yang sedari tadi ia perhatikan juga menjadi perhatian para pria – pria yang berkumpul di ruangan itu.
"Kau belum selesai?" ia bahkan sampai tidak menyadari Chanyeol tengah kembali di meja makan mereka sembari membawakan dua gelas susu, untuknya dan juga Baekhyun.
"Aku tidak suka!" Baekhyun membalas ketus kearah Chanyeol. Wajahnya merengut kesal dengan bibirnya yang mengerucut maju, tangannya bahkan menggerakkan garpu untuk menusuk – nusuk buah diatas piringnya.
"Wae? Kok tidak suka susunya? Mau aku ganti yang lain?"
"Aku tidak suka wanita itu!" Baekhyun kembali berteriak ketus.
"Wanita apa—aahhh." Chanyeol tertawa kecil menyadari rasa kesal Baekhyun ditujukan pada wanita yang baru saja ia tabrak dengan ketidak sengajaan.
"Itu tidak sengaja Baekhyun..—"
"Ani.. dia memperhatikanmu.. aku tidak suka!"
Chanyeol tersentak untuk diam sementara mulutnya terbentuk bulat tidak tahu kalimat apa yang harus ia jelaskan kearah Baekhyun yang tengah cemburu saat ini.
"K-kau tidak suka dia memperhatikan aku?"
Baekhyun mengangguk cepat dan Chanyeol menahan rasa ingin tertawanya, memperhatikan dengan seksama bagaimana wajah sosok teman kecilnya dulu kala kini terlihat lebih dewasa tapi masih nampak begitu polos, terlihat manis dan juga cantik secara langsung. Hal yang ia lakukan setelahnya bukanlah sebuah jawaban dalam bentuk ucapan kata – kata, Chanyeol memberikan jawaban tersirat yang mana membuat Baekhyun membelak tak percaya secara mengejutkan.
Chanyeol menciumnya lagi. Bukan ciuman dalam dan panas seperti yang dilakukan pria itu tadi malam, ciuman ini lebih singkat namun Baekhyun masih bisa merasakan rasa manis setelahnya.
"Habiskan sarapanmu, kita akan bermain di pantai setelah ini."
Baekhyun mengangguk gugup, kembali menunduk menutupi rasa malunya dan juga untuk mengembalikan fokusnya pada sarapannya sementara dalam hatinya merutuki kenapa jantungnya berdetak keras ingin meledak dari dalam tubuhnya. Kenapa Chanyeol menciumnya lagi ketika mereka berada di tempat umum dan tentu menarik perhatian banyak orang.
.
.
Hari ini adalah hari terakhir mereka merasakan liburan, Chanyeol sempat mengatakan mereka berdua akan bermain – main di pantai dan juga mengunjungi beberapa tempat makan didaerah sekitar dan baru akan kembali ke Safety House pada malam hari. Baekhyun tentu saja menyetujui rencana itu, melupakan kejadian ciuman di restoran, gadis itu bersemangat kembali ke kamar mereka tinggal untuk berganti pakaian dan juga membawa beberapa perlengkapa ke pantai. Dan seperti sebelumnya, Chanyeol lebih dulu selesai bersiap – siap.
"A-aku akan menunggu di lobby." Pria itu lagi – lagi memberikan waktu pada Baekhyun untuk bersiap entah berganti baju atau menyiapkan pakaian, yang terpenting bagi Chanyeol ia tidak mau menghabiskan waktu di tempat yang sama ketika Baekhyun berganti pakaian. Hal berbahaya bagi hati, pikiran dan juga gairah kelakiannya.
Sementara bagi Baekhyun, gadis itu merengut bingung merasa aneh karena sepertinya Chanyeol menjaga jarak dengannya.
Baekhyun memilih beberapa pakaian renang yang sempat disiapkan oleh Luhan dan Irene sebelumnya, beberapa bikini nampak jelas terlipat rapi disana, dan Baekhyun mengingat bagaimana wanita dewasa yang Ia temui sebelumnya nampak percaya diri mengenakkan itu semua meskipun beberapa pasang mata melihat kearahnya.
Gejolak dalam hatinya berperang, rasa malu dan juga gugup jelas mendominasi mengingat ia tidak pernah mengenakkan pakaian seminim itu sebelumnya, tapi rasa ingin bersaing dan juga keingin tahuan dirinya akan reaksi Chanyeol ketika melihat dirinya mengenakkan pakaian seperti itu akan sama ketika pria itu melihat wanita lain memakainya seketika masuk dalam bayangan Baekhyun.
"Mwoya.. ige…" Baekhyun mengusap kasar bagian dadanya dan setelahnya merapikan kembali bikini – bikini yang sempat ia keluarkan dari dalam tasnya. Ia mengambil kasar pakaian renang yang terlihat lebih normal dibandingkan yang lainnya dan membawa serta bikini dengan langkah tergesa – gesa menuju kamar mandi.
Setelah mempersiapkan semuanya, Baekhyun lekas melangkah keluar dari kamarnya, gerak langkahnya terburu – buru menginginkan untuk segera menemui Chanyeol yang sudah menunggunya di lobby hotel. Baekhyun baru akan menyapa Chanyeol yang nampak serius menatap layar ponsel ditangannya, namun tertahan karena melihat wanita dewasa memakai bikini dan nampak mempesona berada didekat Chanyeol, menyapa pria itu dan bahkan tersenyum manis seakan – akan ingin berkenalan dan berada dekat dengan pria itu. Baekhyun kembali merenggut kesal, menghentakkan kakinya sebelum ia melangkah lebar, berjalan dengan angkuhnya di tengah – tengah jarak antara Chanyeol dan wanita itu, lalu merangkul lengan Chanyeol.
"Oppa.. ayo kita pergi." Suaranya bahkan terdengar begitu manja hingga membuat Chanyeol dan juga sang wanita itu menoleh kearah Baekhyun dengan rasa tidak percaya.
Untungnya Chanyeol tidak mempersulit keadaan, ia membiarkan tangan Baekhyun tetap berada dilengannya, menggiring mereka berdua untuk keluar lobby dan menunggu mobil yang akan mengantar mereka ke pantai tiba.
Baekhyun masih tetap bertahan merangkulkan tangannya, namun wajahnya enggan untuk melihat kearah Chanyeol yang justru sedari tadi tengah melihat kearahnya. Lagi – lagi pria itu menahan rasa ingin tertawanya karena melihat sikap kekanakan Baekhyun yang cemburu melihat dirinya berada didekat wanita lain.
"Kau tidak memakai baju renang?" Chanyeol bertanya dengan maksud mengalihkan rasa kesal Baekhyun mengingat dirinya sempat saling bertegur sapa dengan wanita yang ia tabrak di restoran beberapa waktu lalu.
"Sudah aku pakai.." jawab gadis mungilnya yang kini tengah kembali menunduk, tangannya merapikan sedikit pakaian yang ia kenakan.
Chanyeol tidak salah ketika menanyakkan kepada Baekhyun apakah gadis itu memakai pakaian renang atau tidak karena yang ia lihat saat ini, gadis itu masih memakai gaun berwarna merah selutut bercorak bunga – bunga yang mana pakaian yang sama ia kenakkan saat mereka sarapan.
Ketika mobil pengantar itu tiba, Chanyeol menuntun Baekhyun untuk naik, tangannya tidak berada jauh dari pinggang Baekhyun dan ketika mereka sudah duduk pun, Chanyeol memindahkan tangannya untuk merangkul gadis itu. Baekhyun tidak menolak, gadis itu sempat melihat kearah Chanyeol namun tidak ada kata – kata yang keluar dari mulutnya.
Mobil terbuka milik hotel tempat mereka menginap dengan cepat berlalu menuju pantai terdekat di hotel tersebut, tidak banyak pengunjung yang naik di mobil tersebut karena banyak dari mereka memilih untuk berjalan. Baekhyun memperhatikan sekelilingnya melihat beberapa pasangan saling berpegangan tangan dan menikmati perjalan mereka menuju pantai, bahkan ada beberapa yang memilih untuk duduk – duduk di taman sembari bersantai.
Ketika mobil mereka berhenti, Chanyeol mengisyaratkan untuk turun dan Baekhyun menurut, melihat kearah pantai yang nampak tidak terlalu ramai pengunjung saat ini dan itu membuatnya lega.
"Kami akan pulang berjalan kaki." Baekhyun mencuri dengar saat Chanyeol berucap kepada sang supir untuk tidak menunggu mereka pulang, dan diam – diam ia tersenyum mengetahuinya.
"Ayo.. mereka sudah siapkan tempat duduk untuk kita." Tangan Chanyeol terulur kearah Baekhyun untuk bisa digenggam gadis itu, dan tentu saja Baekhyun mengiyakan. Mereka melangkah bersama ke tempat duduk yang sudah disiapkan, dua kursi berwarna putih terlihat dengan gulungan handuk yang terdapat logo hotel tempat mereka nampak rapi berada di area yang cukup dekat dengan bibir pantai. Payung besar berwarna putih juga nampak tertancap di tengah – tengah kursi mereka guna memayungi tempat duduk dibawahnya.
"Aku akan berenang lebih dulu.. kau mau ikut?" Chanyeol membuka satu per satu kancing kemeja berwarna putihnya begitu saja tepat dihadapan Baekhyun, Chanyeol seakan – akan tidak mempermasalahkan wajah gadis dihadapannya tengah memerah dan juga malu. Wajah Baekhyun bergerak melihat kearah lain dan tengah menahan rasa gugupnya.
"A-aku akan duduk sebentar.." Baekhyun meletakkan tasnya dan terduduk kaku masih enggan untuk melihat kearah Chanyeol yang tengah menurunkan celana panjangnya.
"Baiklah,." Pria itu berucap tanpa rasa bersalah, kemudian berlari kearah pantai dengan membawa papan selancar yang entah ia dapatkan darimana.
Baekhyun menghela nafas, dengan kepalanya menggeleng cepat, berharap bayangan otot –otot pada perut Chanyeol tidak memenuhi isi kepalanya. Ia lalu membenarkan posisi duduknya, melihat ke arah sekelilingnya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah aman, tidak ada hal lain yang perlu ditakutkan karena keberadaannya dan juga melihat beberapa wanita lainnnya yang tengah berbaring menikmati waktu berjemur atau pun yang tengah berlalu lalang dengan menggunakkan bikininya.
Ada rasa lega dalam hatinya karena nyatanya ia tepat memilih untuk mengenakkan bikini dibandingkan pakaian renang yang sebelumnya ia pilih.
Tak lama Chanyeol berlari kembali kearahnya dengan badan basah sembari membawa papan seluncurnya.
"Kau tidak mau berenang?" pria itu menanyakkan kearah Baekhyun yang masih terlihat rapi mengenakkan pakaiannya.
"A-aku akan berganti lebih dulu.." Baekhyun menjawab singkat dengan nada gugup.
Sementara Chanyeol memperhatikan kearahnya. "Kau bisa membuka bajunya disini.. tidak apa – apa.."
Baekhyun sempat meragu, ia kembali melihat sekelilingnya dan nampak semua orang tidak begitu memperdulikan siapa – siapa saja yang tengah membuka baju dan menampilkan sebagian badan mereka.
Perlahan – lahan ia mulai membuka bajunya, sementara Chanyeol yang sebelumnya sempat memperhatikan, kini mengalihkan pandangannya karena untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana bentuk badan Baekhyun saat ini. Gadis itu sebenarnya mengenakkan model bikini yang biasa saja, tapi lekukan tubuh yang dimiliki Baekhyun jelas membuat dirinya merasa bergairah, terlebih ketika matanya menangkap bagaimana belahan payudara Baekhyun yang terlihat begitu sempurna terbentuk.
"A-aku akan berenang.." Baekhyun berucap sekedarnya, ia terlihat siap berbalik hendak berlari kecil menuju pantai namun sebelumnya Chanyeol sudah menahan tangannya.
"Ka-kau sudah memakai sunblock dipunggungmu?" Pertanyaan yang tidak begitu penting sebenarnya, tapi pertanyaan itulah yang bisa Chanyeol ucapkan untuk menahan Baekhyun beranjak dari dekatnya.
Baekhyun menggeleng, "Tidak apa –apa.. aku tidak akan terbakar matahari.."
"Ck!" Chanyeol berdecak kesal. "Kemarilah." Chanyeol bergerak duduk, mengeluarkan satu botol krim sunblock dari tas yang ia bawa. "Kemari Baekhyun.." ia mengulang lagi dan kini menepuk tempat yang berada dihadapannya.
Baekhyun menurut, duduk tepat dihadapan Chanyeol dengan berjuang keras menahan semburat malu diwajahnya yang mungkin saja akan nampak bila ia berada lebih lama didekat Chanyeol.
"Berbalik." Perintah Chanyeol kepadanya ia turuti.
Chanyeol memegang rambutnya lebih dulu, lalu mengesampikan kearah pundak Baekhyun yang mana lekas dipegang oleh gadis itu supaya tidak menghalangi punggungnya. Tepat ketika tangan Chanyeol berada dipunggung Baekhyun untuk mengolesi krimnya, Baekhyun kembali merasakan debaran di jantungnya berdetak tidak normal. Terlebih, pria itu bukan hanya bergerak mengusap pelan bagian atas punggungnya namun juga bagian punggung bawahnya, bergerak naik turun dari leher, bahu, pundak, punggung hingga kebagian bawah pinggangnya.
Baekhyun tidak salah bila badannya kini mulai menegang kaku ketika gerakkan tangan Chanyeol mulai melambat membelai garis punggungnya. Bibir bawahnya ia gigit untuk menahan sebuah gejolak yang terasa ketika Chanyeol melakukannya.
Tak jauh berbeda dengan Baekhyun yang bersusah payah mengingkari sebuah gairah yang dirasakan, Chanyeol pun merasakan hal yang lebih parah dibandingkan yang dirasakan Baekhyun. Tatapan matanya begitu memuja keadaan punggung gadis itu, dan tangannya tak kuasa berhenti merasakan setiap bagian namun cara kerja otaknya berulang kali mengingatkan dirinya untuk berhenti mengingat semakin lama ia terbuai merasakan sentuhan halus kulit Baekhyun, semakin meningkat pula libido dalam dirinya.
"Berbalik!" Chanyeol menghentikkan sepihak dan bahkan berucap ketus memerintahkan gadis dihadapannya yang sebenarnya tengah terbuai pula. Baekhyun menahan nafasnya, menyadarkan dirinya untuk bersikap normal ketika berhadapan dengan Chanyeol.
Mereka saling bertatap sesaat sampai akhirnya Chanyeol memerintahkan gadis itu untuk memejamkan matanya setelah ia menunjukkan sunstick ditangannya.
Pertahanan Chanyeol kembali diuji.
Tangannya bergerak gugup mengoleskan sunstick pada kening, pipi dan juga dagu Baekhyun sementara matanya hanya terpusat pada dua hal disana, kedua mata Baekhyun yang terpejam dan juga bibir gadis itu yang terkatup rapat.
"Su—sudah?" Baekhyun menggerakkan mulutnya bertanya ketika ia merasakan tidak ada lagi polesan dari sunstick di area wajahnya. Matanya masih terpejam dan ragu untuk terbuka meskipun Chanyeol tidak menjawab pertanyaannya. Ia masih menunggu beberapa detik kemudian dank arena Chanyeol tak urung menjawab, perlahan ia membuka matanya dan kedua manik itu bertatap langsung dengan manik milik Chanyeol, wajah Chanyeol berada tepat didekat wajahnya.
Baekhyun berkedip cepat seirama dengan debaran di jantungnya yang lagi – lagi bekerja diatas normal, mulutnya ingin berucap namun telunjuk tangan Chanyeol menahannya. Dan wajah pria itu semakin mendekat mengiki jarak diantara keduanya. Salah satu tangan Chanyeol mengusap pipi wajah Baekhyun dengan perlahan, seakan – akan takut akan membuat wajah sang gadis tergores karena sentuhannya.
"A-aku bisa gila Byun Baekhyun.." bisik Chanyeol dengan tatapan wajahnya masih terpusat pada setiap bagian diwajah gadis itu.
"Wae-waaeyo.." balas Baekhyun dengan nada berbisik namun lebih rendah.
Chanyeol menggeleng, tatapan matanya seakan – akan begitu melekat menatapi wajah gadis itu. Tapi pada akhirnya dirinya menyerah pada gairah dalam tubuhnya ketika Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Chanyeol lagi – lagi mencium bibir gadis itu, ciuman yang dalam dan basah namun kali ini lebih panas karena pria itu dengan begitu bergairahnya mencium setiap bagian bibir Baekhyun.
FOUR
Suasana Safety House kembali mulai terlihat ramai karena kembalinya seluruh Anggota Four setelah mereka menggunakkan waktu selama dua hari untuk berlibur. Beberapa anggota ada yang mulai kembali bekerja tak lama setelah mereka kembali, namun ada beberapa yang masih ingin bersantai – santai di dalam ruangan makan atau pun halaman belakang dari Safety House, terlebih ketika sang pemimpin sudah nampak terlihat bergabung dengan mereka. Chanyeol.
Baru bebeberapa menit kembali setelah mengantarkan Baekhyun pada kamarnya karena gadis itu sudah terlelap tidur, Sehun dan juga Jongin menarik badan pria itu untuk bergabung dengan yang lainnya pada halaman belakangan Safety House tepatnya pada satu pondok Gazebo dekat dengan kolam renang disana.
Lain halnya dengan Luhan, kaki tangan kepercayaan Yoora di Red nampak berjalan terburu – buru dan bahkan terlihat berlari kecil menuju ruangan kerja Yoora. Irene yang sempat melihat gerak wanita itu pun ikut menyusul masuk.
"Ada apa?" Yoora lekas bertanya kearah Luhan yang berdiri dihadapannya tengah mengatur pernafasannya mengingat melangkah cepat setengah berlari dengan sepatu heels cukup menguras tenaganya terlebih ia harus mengatur kosa kata yang tepat untuk diucapkan pada sang pemimpin dihadapannya.
"A-aku rasa sesuatu terjadi.." Luhan terengah – engah berucap. Yoora bahkan mulai terlihat sedikit panic penuh tanya.
"Apa yang terjadi?" dan Irene pun merasakan hal yang sama.
"Tu-tuan muda sudah kembali.." Luhan kembali berucap.
"Yes, Luhan. Aku tahu adikku sudah kembali, tapi apa maksud perkataanmu tentang sesuatu terjadi?!" Yoora mengusap kasar wajahnya, ia beranjak bangun dari posisi duduknya untuk mendekat kearah Luhan dan juga Irene. "Kenapa?" Yoora mengulang lagi.
"A-aku rasa hal yang kita takutkan terjadi.." Luhan perlahan – lahan mulai bisa menjelaskan kepada Irene dan juga Yoora, mereka enggan untuk mempersilahkan Luhan duduk.
"Dan itu adalah…" Irene memandu Luhan untuk lebih cepat menjelaskan lebih lengkap.
"Sesuatu terjadi antara Tuan Muda dan juga Baekhyun." Detik itu juga baik Irene maupun Yoora saling bertatap satu sama lain, sementara Luhan masih berusaha mencari cara untuk menjelaskan mengapa ia bisa menyimpulkan hal tersebut.
"Cha-Chanyeol mengantarkan Baekhyun ke kamarnya, karena ia nampak terlelap tidur. Tak lama setelah ia keluar, aku, Seulgi dan juga Kyungsoo berniat menggantikkan baju tidurnya karena—karena ia terlihat tidak nyaman dengan menggunakkan dress lalu sepatu serta rambut palsunya." Luhan terdiam sesaat, mengatur nafasnya dan kembali mengurutkan kejadian demi kejadian yang baru saja ia alami beberapa saat yang lalu.
"Lalu?" Yoora masih begitu tenang berucap, menunjukkan dirinya masih menunggu penjelasan lebih lengkap dari Luhan.
"Lalu.. ketika aku akan melepas rambut palsunya.. tanpa sengaja melihat ke bagian lehernya—"
"Okey. Stop." Tangan Yoora memukul mejanya namun tidak terlalu keras.
"Wow.. si brengsek itu berani juga.." lain halnya dengan Irene yang seakan – akan merasa itu adalah sebuah hal yang tidak baru baginya.
'Hey—itu adikku." Yoora mengingatkan Irene.
Luhan menunggu tanggapan Yoora, wanita itu kini lebih tenang berdiri menunggu perintah apa yang akan diberikan padanya sebagai tindak lanjut dari hal yang baru saja ia dapatkan.
"Kau tidak bisa melarang mereka.." Irene memulai memberikan tanggapan lebih dulu.
Yoora mendengarkan namun wajahnya jelas nampak tengah berpikir menimbang keputusan apa yang harus ia ambil mengenai hal ini.
"Well kita bisa beranggapan kisah cinta adikmu ini sama saja seperti kisah cinta kedua orangtuamu.. dan kalau kita lihat kilas baliknya.. keduanya adalah hal terbaik yang dimilikii Phoenix dan juga Red.. maka bukankah kita harus mempertahankan hal itu?"
Yoora menyeringai kaku. "Aku menginginkan mereka bersama.. bukan karena mereka bagian dari mafia dan kelompok anti mafia.. tapi karena mereka Chanyeol, adikku. Dan juga Baekhyun, sahabat kecil Chanyeol. Mereka pantas untuk bahagia.. hanya saja.." Yoora menahan ucapannya.
"Kau takut akhirnya sama seperti kedua orangtuamu?" bukan Yoora yang melanjutkan kalimatnya, melainkan Irene dan Yoora mengangguk setuju.
"Chanyeol satu – satunya tersisa dalam hidupku." Kini sosok sang Lady tak lagi menempatkan dirinya sebagai sosok tegar, kuat dan memiliki pendirian kuat, Yoora tetaplah sosok wanita yang memiliki titik kelemahan terlebih bila hal itu menyangkut mengenai adiknya.
"Dan Baekhyun hanya memiliki Chanyeol, Lady.." Irene memberikan pengertian lagi. "Aku sangat yakin, keadaan mereka tidak akan sama seperti apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Chanyeol berbeda dari Father. Ia memiliki kekuatan lebih besar, ia lebih terlatih, fisik maupun kerja otaknya.. Chanyeol mewarisi semua yang ada pada diri Ayahmu namun ia juga mewarisi yang ada pada diri Ibunya.. untuk itu ia lebih.. sangat lebih terampil dalam semua hal."
"Dan Baekhyun—"
"Baekhyun tidak selemah yang kita bayangkan." Luhan memotong ucapan Irene yang mana membuat Irene sedikt berdecak sebal karenanya.
"Baekhyun memiliki alter ego yang bila bisa ia kuasai itu akan membantu ia terlihat lebih kuat dibandingkan sebelumnya.. dan dari latihan yang kita lakukan selama beberapa waktu belakangan.. ia memang nampak lemah bila menyangkut fisiknya.. saat ini. Tapi tekadnya begitu kuat, dan Lady, kau pasti akan takjub mengingat Baekhyun lebih tangkas bila berurusan mata pisau."
Bukan hanya Yoora yang nampak heran mendengar sedikit laporan perkembangan latihan Baekhyun, Irene pun melakukan hal yang sama dan bahkan meminta wanita disampingnya mengulang kembali ucapannya. Sementara Irene meminta laporan lebih lengkap mengenai perkembangan latihan Baekhyun, Yoora memilih kembali pada tempat duduknya, membiarkan dirinya berpikir panjang memikirkan langkah apa yang harus ia ambil mengenai hubungan Chanyeol dan juga Baekhyun nantinya.
.
.
Dua jam lamanya Yoora duduk seorang diri didalam ruangannya dan selama itu pula ia memikirkan segala kemungkinan dari pilihan – pilihan yang ada dalam benaknya. Merasa lelah karena terlalu lama duduk diam dan juga membiarkan otaknya bekerja hingga larut malam, akhirnya ia memilih menyudahi semuanya. Langkahnya beranjak keluar dari ruangan kerja dan berjalan menyisiri setiap lantai hingga dirinya tiba pada ruangan dapur. Kakinya bergerak kearah dimana penyimpanan wine berada dan tak lupa gelas minumnya, lalu kini kakinya kembali bergerak melangkah menuju ruangan kamar yang ia tuju.
Lantai dua tiga adalah dimana dirinya berhenti untuk beranjak naik, ia memilih untuk berbelok dan terus berjalan hingga kakinya berhenti kembali didepan pintu kamar yang tertutup.
Tangannya mengetuk perlahan sebanyak tiga kali dan kemudian berhenti sembari mencuri dengan suara dari balik pintu tersebut. Dan ketika mendengar bunyi kunci pintu yang berputar, Yoora memundurkan langkahnya sedikit, dengan senyuman kecil diwajahnya.
"Wae, kenapa kau datang ke kamarku?" suara adiknya bertanya ketus ketika melihat sang kakak berada didepan kamarnya.
Yoora masih membalas dengan senyuman, menunjukkan gelas dan juga wine botol dikedua tangannya.
"Saatnya quality time with your sister." Chanyeol memutar bola matanya malas namun ia tetap mempersilahkan kakaknya untuk masuk kedalam kamarnya.
"Ck! Berantakkan sekali sih." Baru selang beberapa detik bahkan Yoora sudah mengomentari keadaan kamar Chanyeol yang terlihat berantakkan karena beberapa baju kotor terlihat menumpuk diatas tas hitam yang ia yakini itu adalah milik Chanyeol.
"Kalau hanya mau mengomentari keadaan kamarku.. nagajuseyo." Pintu kamar Chanyeol yang belum ditutup kembali sedikit ia buka sembari menunjukkan kearah luar.
Yoora mendengus sebal namun ia masih harus berada dikamar Chanyeol sampai mendapatkan jawaban dari apa yang ingin ia bicarakan dari hati ke hati dengan adiknya. Tangannya mau tak mau bergerak untuk merapikan beberapa baju yang berserakan diatas ranjang untuk memberikan sedikit tempat duduk baginya.
Diam – diam Chanyeol memperhatikan dan tersenyum kecil, ia berinisiatif untuk membuka botol wine yang dibawa Yoora dan menuangkannya kedalam dua gelas. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Yoora.
"Thanks." Yoora berucap ketika menerima gelas itu. Mereka melakukan toast lalu menyesap dalam diam.
Chanyeol duduk bersandar pada sofa dan tepat berhadapan dengan Yoora yang tengah duduk diatas kasurnya dengan begitu santai.
"Aku sudah lama tidak merasakan minum wine dengan suasana santai seperti ini.." Yoora mulai bicara lagi, berusaha membuat suasana santai dengan adiknya terdengar menarik dengan memulai topic pembicaraan dibandingkan mereka berdua harus beradu dalam diam.
Chanyeol mengangguk, raut wajahnya terlihat menyetujui perkataan kakaknya.
"Bagaimana liburanmu?"
Chanyeol melirik ragu kearah Yoora sesaat lalu menuangkan cairan berwarna merah anggur itu kedalam gelasnya lagi, menyesap rakus dan menelannya dengan terburu – buru.
"Cukup menarik." Ia membalas singkat, dan jawabannya justu membawa Yoora pada kecurigaan akan hal lain.
"Menarik?" tanya Yoora dan Chanyeol membalas dengan anggukkan kepala.
"Bagian apa yang menarik?" tanyanya lagi.
"Hmmm… ya.. kau tahu? Liburan yang menarik.. melepas penat dan menikmati pantai.. menarik."
Alis Yoora terangkat sementara diwajahnya jelas masih banyak pertanyaan belum terjawab dengan jawaban yang sudah dikatakan adiknya.
"O-okey." Ia mengangguk. "Tidak ada hal lain terjadi antara kalian? Kau dan Baekhyun.. tidak ada sesuatu terjadi disana—"
"Nope." Lagi – lagi jawaban Chanyeol terdengar cepat sementara Yoora mulai tersenyum kecil, matanya masih memperhatikan Chanyeol dengan begitu hati – hati dan dalam.
"Hm."
Chanyeol menunduk, enggan untuk bersitatap dengan Yoora. Bahkan ia terus menerus meminum wine nya dengan terburu – buru.
"Apa kegiatanmu untuk besok? Aku akan berkunjung ke Markas untuk melihat perkembangan dari hukuman Sunyoung.."
Chanyeol nampak berpikir sebentar, melihat kearah kakaknya dan menuangkan cairan wine kembali pada gelas yang Yoora pegang.
"Aku akan mengadakan rapat dengann Phoenix terlebih dahulu.. lalu mungkin akan ikut melihat keadaan Sunyoung disana."
"Kita bisa datang bersama." Ajak Yoora
"Kau bisa duluan.. aku yakin rapat Phoenix akan memakan waktu hingga tengah hari.
Yoora memahami, menganggukkan kepalanya. "Oh, ada berita baik untuk hasil latihan Baekhyun."
Chanyeol terlihat cukup menarik mendengarkan, matanya bahkan mengikuti gerak Yoora yang bangkit berdiri lalu berjalan mengitari seisi kamarnya. "Aku berpikir.. sudah saatnya Baekhyun masuk ke tahap latihan lainnya." Kakak Chanyeol itu berdiri memunggui adiknya dan kini menatap kearah luar jendela.
"Ma-maksudmu?"
"Kau tahu.." kini Yoora berbalik, menghadap kearah Chanyeol yang bahkan sudah beranjak bangun dari posisi duduknya, berdiri kaku tak jauh dari Yoora dan menunggu kelanjutan kalimat dari kakaknya yang masih menggantung.
"Ya, pasti kau paham.. kau pasti pernah mendengar Luhan atau yang lainnya membicarakan tahapan dari latihan Red."
Chanyeol menggeleng bingung.
"Wuah.. kau tidak tahu?" dan kakaknya berpura – pura terkejut sengaja mengulur – ulur informasi yang tengah ia coba katakan pada Chanyeol. "Aku kira kau pasti sudah tahu.. hm.. kenapa Luhan tidak meminta ijin padamu tentang ini ya.." nadanya mendayu penuh tanya namun demikian semakin membuat Chanyeol tak sabar mendengar jawabannya.
"Wae? Kenapa dia harus meminta ijin padaku?" bahkan sang adik sudah berhasil ia buat begitu frustasi pada suaranya.
"Hm?" sahutan Yoora serta wajah polos wanita semakin membuat Chanyeol menggeram kesal.
"Katakan Park Yoora?"
"Hm?" lagi Yoora menyahut tanpa suara dan selang beberapa menit kemudia ia tersenyum lebar, menegak minumannya sampai habis lalu memberikan gelas kosongnya pada sang adik, Menepuk lengan Chanyeol sebanyak tiga kali dan setelahnya ia melangkah menuju pintu untuk menyudahi acara berbincang malam dengan sang adik.
Sebelum membuka pintu kamar Chanyeol, ia sempat menoleh kearah sang adiknya, terlihat jelas Chanyeol masih bertanya – tanya dan teramat penasaran mengenai jenis latihan apa yang akan dilakukan Baekhyun selanjutnya, dan kenapa latihan itu harus meminta ijin pada dirinya.
"Kalau tidak salah.. latihannya terdapat rating Mature.. kau tahu kan? Seksualitas.. dan hal – hal lainnya, hm."
"What—apa maksudnya—yaaa!" teriakkan Chanyeol belum selesai terdengar sepenuhnya namun Yoora sudah bergerak keluar dari kamar sang adik dan menutup rapat pintunya. Langkah kakinya bahkan bergerak cepat menjauh dari kamar dan lantai disana dan berpindah pada kamar lainnya yang mana Kris, Irene dan Luhan berkumpul bersama.
"Aku pastikan kau berhasil mengerjai adikmu." Irene berucap sarkas sembari memakan daging – daging yang tengah tersaji di tengah – tengah meja bundar depan tempat duduknya.
Angkuh Yoora terlihat jelas dan juga senyumannya yang sangat lebar terlihat begitu bahagia. "Dia itu bodoh, jadi harus diberi pelajaran." Celetuknya berusaha terdengar kesal namun tak terdengar untuk yang lainnya.
"Kenapa adikmu itu bodoh sekali sih, tidak mengaku juga setelah membuat tanda di badan anak gadis—bukan kekasihnya pula. Ck! Dengan Sunyoung dia bisa terdengar panas.. dengan Baekhyun hanya bisa membuat kissmark? Ckckk. Bodoh—akh!"
Dengan keras Yoora memukul kepala Kris, pria satu – satunya yang bergabung diruangan itu dan juga pemilik kamar yang kini menjadi tempat berkumpul bagi mereka berempat.
"Tidak usah diingatkan ketika adikku itu memuaskan Sunyoung!"
"Mian." Kris berucap menyesal.
"Ck." Decak sebal Yoora terucap sebelum ia ikut duduk pada kursi kosong, bergabung dengan Irene, Luhan dan Kris untuk melanjutkan rencana mereka yang sempat dibicarakan sebelumnya dan juga menikmati beberapa daging yang masih tersisa.
.
.
.
T
B
C
