Tak ada kata santai tertulis jelas dalam peraturan yang berlaku baik di organinasi Phoenix maupun Red. Dan karena hal itu, cukup menjelaskan apa yang yerjadi pada hari ini. Setelah dua hari cuti yang diberikan pada anggota Phoenix, mereka kembali pada rutinitas yang semestinya.

Dua anggota Executive bahkan sudah memulai tugas mereka tepat pukul 7 pagi. Mereka menyalakan alarm pagi guna membangunkan seisi Safety House, memantau kegiatan olahraga pagi yang dilakukan lalu ikut bersantap sarapan dan kemudian kembali pada tugas masing - masing.

Kini keduanya tengah berbincang serius dengan anggota Intercom lainnya di ruang bawah tanah sekaligus mengawasi setiap pergerakkan pada layar komputer yang terpasang tengah menunjukkan hasil pengintaian dan juga kondisi ruangan tahanan Sunyoung.

"Dari hasil pengawasan Zitao.. tak ada yang tersisa ketika rumah Sunyoung diledakkan. Taeyong juga sudah menyisir kota Seoul pada saat kejadian di Gedung Park Inc. Tidak ada anak buahnya yang terlihat."

Irene melirik kearah Kris menunggu pria itu memberikan jawaban dari hasil laporan yang baru saja selesai diucapka oleh Lucas—Officer Phoenix yang bertugas memantau lapangan.

"Bisa saja mereka melarikan diri dan membuat identitas baru. Terus sebar anggota lapangan yang ada untuk memantau. Tetap berada dalam lingkungan jalanan dan juga beberapa kelompok gangster yang kita kenal. Aku yakin pasti akan ada rencana untuk membalas dendam dari anak buah Sunyoung yang masih hidup." Lucas mengangguk patuh akan perintag yang diberikan oleh Kris, setelahnya ia pamit undur diri untuk kembali pada Team-nya.

"Johnny. Apa yang bisa kau laporkan hari ini?" Irene menunjuk pada layar dimana wajah Johnny terpajang disana.

"Well.. aku sudah menghubungi para fathers di Amerika. Mereka menyetujui untuk mengadakan pertemuan demi mendengarkan masalah utama antara Phoenix dan juga Sunyoung. Mereka menunggu Kris atau mungkin Four datang."

"Kami akan mempertimbangkan. Mr. Choi meminta Four untuk berkunjung juga.. jadi kami akan aturkan waktunya terlebih dahulu. Pastikan kau tetap mengawasi peredaran senjata dan juga kartel narkoba disana. Bisa saja tangan kanan Sunyoung bisa kita temukan."

Jhonny membalas mengangguk lalu mematikan sambungan komunikasi mereka setelahnya.

"Jadi." Irene melipat tangannya memandang kearah Kris menunggu kesimpulan dari pertemuan konferens mereka pagi ini.

"Well.. kita tanyakkan pada Father."

Irene mengangguk, mulai merasa keganjalan karena belum juga melihat Chanyeol hingga saat dimana jam sudah menunjukkan pukul 10 siang.

"Kemana Chanyeol?" tanyanya pada siapa pun yang berada di ruangan.

Kris ikut menyadari belum ada tanda - tanda kehadiran dari Petinggi Phoenix dan bahkan belum ada yang menyampaikan kabar tentangnya pagi ini.

"Dia tidak memberimu kabar?" Kris berbalik bertanya pada Irene lalu wanita mengeluarkan ponselnya, memeriksa pesan - pesan yang masuk disana namun tidak ada nama Chanyeol terlihat.

Irene menggeleng. Kris pun ikut memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan terbaru dari Chanyeol.

"Kemana dia?" Gumamnya pelan merasa aneh, berbeda dengan Irene yang mengernyit memandang curiga.


FOUR


"Tidur malammu nyenyak?"

Chanyeol berbisik tepat disamping Baekhyun, pria itu berada dibelakangnya sementara kedua tangannya menahan pada meja makan dimana Baekhyun duduk saat ini. Dan tentunya bagi siapa saja yang melihat kearah mereka, jelas nampak tubuh besar Chanyeol menenggelamkan tubuh Baekhyun yang terhalangi sepenuhnya.

Baekhyun sempat bergedik merasakan gelenyar aneh ketika secara tiba-tiba Chanyeol sudah berada dibelakangnya. Baekhyun menoleh kesamping dimana suara pria itu terdengar membuat jarak antara wajahya dan wajah Chanyeol begitu dekat.

Seringai pria itu bisa ia lihat jelas ketika ia membalas pertanyaan Chanyeol sebelumnya dengan kepala yang mengangguk. Lantas raut wajahnya memerah dan bahkan bibirnya tertahan dalam diam tepat ketika Chanyeol menghadiahinya sebuah kecupan singkat. Lalu mengusak rambut Baekhyun dengan lembut.

"Aku tunggu di taman belakang." bisiknya lagi sebelum ia meninggalkan Baekhyun kembali melanjutkan sarapannya.

Hanya satu kalimat yang diucapkan oleh Chanyeol namun demikian, kalimat yang diucapkan pria itu cukup membuat dadanya berdebar kencang, bibirnya tergigit antara takut dan bimbang mengingat kembali apa yang bisa saja terjadi antara mereka berdua bila berada dalam satu tempat hanya berdua.

Bayangan apa yang terjadi di Pantai Naksan kembali diingat oleh Baekhyun.

"A-ku bisa gila Baekhyun.."

"Wae-waeyo?"

Baekhyun ingat dengan jelas setelah ucapannya yang ada hanyalah gerakan melumat dari bibir Chanyeol terhadap bibirnya. Pria itu melumat dengan begitu dalam tanpa memberikan jarak sedikit pun dengan Baekhyun, melesakkannya lidahnya begitu saja tanpa seijin sang pemilik lalu menyesap seluruh rasa pada mulut Baekhyun.

Dan meskipun Baekhyun masih begitu asing dengan apa yang dilakukan Chanyeol, dirinya tetap menuruti karena usaha untuk melarangnya pun tak berguna. Chanyeol mendominasi dirinya. Keseluruhannya.

Baekhyun sempat bersyukur Chanyeol hanya mencium bibirnya dengan penuh gairah, tidak ada hal lain yang dilakukan pria itu selama mereka dipantai. Hanya sikap kurang ajar Chanyeol-lah yang mengusik kegiatan mereka di Pantai.

Selagi Baekhyun tetap melanjutkan acara berenang dan bahkan bermain pasir pantai, Chanyeol tentu masih menemani gadis itu, tapi meminta bayaran dengan ciuman. Ketika Baekhyun merengek ingin makan siang di Pantai, Chanyeol mengabulkan. Mencium kembali gadis itu dengan kurang ajarnya. Ketika Baekhyun meminta mereka bermain dengan speed boat, lagi - lagi Chanyeol mengabulkan meskipun ia sempat melarang karena terlalu bahaya, tapi ia juga enggan melihat wajah Baekhyun yang merengut kesal sampai akhirnya ia mengabulkan dengan bayaran sebuah ciuman tentunya.

Ada rasa menyesal tertanam pada hati Baekhyun mengingat bayaran yang Chanyeol inginkan dari setiap permintaannya adalah sebuah ciuman. Rasa menyesal itu semakin besar ketika mereka berdua menaiki speed boat dengan Chanyeol yang memegang kendali. Baekhyun harus sekuat tenaga memeluk pinggang pria itu karena Chanyeol mengendarainya terlalu cepat menembus air pantai. Terlebih ketika Baekhyun menginginkan untuk mencoba mengendarainya, pria itu lekas memeluk pinggang Baekhyun dengan begitu posesif , menggodanya dengan menciumi bagian bahu dan juga punggung belakangnya.

Dan setelahnya pun Chanyeol masih meminta sebuah ciuman.

Baekhyun bahkan sempat bertanya dalam hatinya. Kapan pria itu puas menciumnya?

Di pantai, tak terhitung berapa banyak ciuman yang dilakukan pria itu terhadapnya. Enam jam mereka habiskan di pantai, selama itu pula Chanyeol tanpa henti menciumi bibir Baekhyun.

Meskipun ada satu momen yang Baekhyun tidak akan lupakan saat di Pantai hari itu.

Menjelang sore, Chanyeol mengatakan ingin tetap berada di Pantai, melihat matahari terbenam sebelum mereka kembali ke Hotel. Tentu saja Baekhyun lekas mengangguk menyetujui ide itu. Sudah bertahun - tahun ia tidak melihat bagaimana pemandangan terbenammya Matahari di Pantai.

Untuk membuang waktu menunggu sampai senja menjemput. Baekhyun menyibukkan dirinya membuat Istana pasir lainnya, mencari kulit kerang atau bahkan batu-batu unik di tepi pantai. Dirinya terlalu fokus mencari apa yang bisa ia ambil dan tak menyadari Chanyeol sedari tadi memperhatikan, ikut mencari dibelakangnya.

Dirinya bahkan memekik bahagia ketika melihat hasil pencarian Chanyeol lebih banyak dibandingkan dirinya.

"Apa boleh kita bawa pulang?" Tanyanya meragu. Takut batu-batu yang ia kumpulkan seabagi kenangan itu tak bisa ia bawa pulang.

Tepat ketika Chanyeol mengangguk memperbolehkan, gadis itu memekik loncat lalu memeluk badan Chanyeol sebagai wujud bahagia dari dalam hatinya. Yang lalu ia sesali setelahnya karena Chanyeol tak melepaskan pelukannya ketika Baekhyun hendak menjauh.

"Chanyeol.." ia merengek memohon untuk dilepaskan dari dekapan Chanyeol.

"Wae."

Baekhyun menggeleng, tetap mempertahankan wajahnya mendongak untuk melihat pria yang memiliki ukuran badan lebih tinggi darinya. Ia bukannya tak mau dipeluk begitu erat oleh Chanyeol, hanya saja rasanya berbeda, terlebih pria itu kini lebih sering menciumi bibirnya.

Chanyeol menyeringai gemas melihat Baekhyun yang masih memperhatikan dirinya, matanya berkedip pelan dengan kedua bibirnya yang terkatup rapat tak berniat untuk menjelaskan apa yang ada dipikiran gadis itu.

Chanyeol melepaskan salah satu tangannya dari mendekap tubuh Baekhyun guna merapikan rambut Baekhyun yang berantakkan dan kasar akibat air pantai.

"Aku sudah sepenuhnya tergila – gila padamu.. apa yang harus aku lakukan hm?"

Baekhyun menggeleng. "Waeyo? Kenapa tergila – gila padaku?"

"Molla.." Tangan Chanyeol bergerak membelai wajah Baekhyun dengan perlahan begitu hati – hati seakan – akan takut gadis dipelukannya bisa saja terluka karena sentuhan tangannya.

"Seharusnya aku hanya peduli dan melindungimu dari semuanya.. tapi aku tidak mau kau berada jauh dariku, bahkan Aku tidak mau kau pergi dari hadapanku walau hanya sedetik.. aku ingin memelukmu, menciummu.." jemari Chanyeol menyentuh kelopak bibri Chanyeol dan mengusapnya.

"Kenapa kau membuatku tergila – gila hm?" lagi Chanyeol menanyakkan hal yang sama pada Baekhyun, dan gadis dihadapannya masih terdiam menatap polos kearah Chanyeol.

"E-eonnie mengatakan.. kalau aku merasakan hal itu semua.. itu tandanya…" Baekhyun menahan kalimatnya, matanya masih menatap mata Chanyeol yang enggan beralih pada pemandangan apapun selain wajahnya. "Itu.. ci-cinta.."

Baekhyun mengucapkannya mesti ragu – ragu dan kini pandangan matanya tak teralihkan ke yang lain selain mata Chanyeol. Mereka saling beradu tatap dalam diam, mengabaikan suara deru ombak yang begitu keras dan juga desiran angin pantai. Yang terdengar dengan jelas adalah debaran pada jantung masing – masing berdetak dengan kencang karena satu kata yang diucapkan oleh Baekhyun untuk memperjelas keadaan diantara mereka.

"Cinta?" Chanyeol bersuara lebih dulu setelah mereka terdiam cukup lama saling menatap satu sama lain.

"E-eoh.." Baekhyun mengangguk gugup. "C-cinta.."

Chanyeol tersenyum kecil. Tangannya yang lain terlepas dari pinggang Baekhyun, kini kedua tangannya memegang wajah Baekhyun, mengusap pipi wajah gadis itu sebelum ia memberikan kecupan singkat dikeduanya. Setelahnya Chanyeol menarik pinggang Baekhyun untuk lebih dekat dengannya, ia bahkan mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Baekhyun yang mana membuat gadis itu kembali gugup dan menegang kaku setelahnya.

"Chan—chanyeol—" Kedua mata Baekhyun lebih dulu membelak lebar, Chanyeol kembali menciumnya, melumat bibirnya kembali seperti malam sebelumnya. Dalam dan basah. Tangan Chanyeol bahkan menahan tengkuk leher Baekhyun agar ciuman mereka tak terpisahkan. Sementara Baekhyun menurut mengikuti pergerakan mulut Chanyeol untuk saling melumat hingga ia terbuai begitu dalam dan enggan untuk menyudahi ciuman mereka hingga matahari tenggelam.

Baekhyun tak menyadari dirinya terbuai begitu lama mengingat jelas kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Chanyeol kemarin. Ia bahkan menahan diri untuk tak mengingat kejadian di kamar hotel setelah mereka kembali dari pantai karena sejujurnya itu lebih memalukan dibandingkan kejadian ciuman – ciuman yang mereka lakukan di Pantai.

"Baekhyun?"

Panggilan dari Luhan yang mana sosok itu sudah berada duduk dihadapannya cukup membuatnya melonjak kaget dari posisi duduknya.

"Kau baik- baik saja?" pertanyaan itu didasari oleh raut merah dikedua pipi Baekhyun yang terlihat jelas oleh Luhan serta rasa gugup yang terlihat dari gerak tubuh gadis itu.

"E-eoh.." sahut Baekhyun singkat menunggu seluruh jiwanya kembali terfokus pada saat ini. "A-aku baik – baik saja," ia mengangguk setelahnya dan barulah membalas tatapan Luhan yang masih tertuju padanya.

"K-kau yakin?" tanya Luhan lagi.

Baekhyun mengangguk cepat. "Iya.. aku baik – baik saja." Kali ini suaranya terdengar lebih lantang dari sebelumnya dan itu cukup meyakinkan Luhan untuk membalasnya dengan senyuman kecil.

"Hari ini sudah bisa kembali latihan?"

"Hm." Baekhyun mengangguk mantap.

"Baiklah, habiskan sarapanmu, dan—" Luhan melihat sekelilingnya, mencari sosok yang menjadi penanggung jawab terhadap apa yang harus Baekhyun latih setiap harinya. "Dimana Chanyeol?" suara tanyanya terdengar rendah seperti berbisik.

"Eoh.. Chanyeol—ah maksudku Four.."

Luhan tertawa, "Kau bisa memanggilnya Chanyeol disini." Lalu matanya berkedip pada gadis itu dalam artian menggoda Baekhyun.

"Aah.. iya. Chanyeol sudah menungguku di taman belakang."

"Oh, baiklah. Temui aku dan Lady setelah kalian selesai latihan nanti."

Baekhyun mengangguk patuh, lalu kembali pada sarapannya yang ia usahakan secepat mungkin bisa dilahap habis sementara Luhan dan yang lainnya berada satu meja bersama dirinya terlibat percakapan santai.


FOUR


Ini pertama kalinya untuk Baekhyun melihat area belakang dari Safety House khususnya taman belakang. Sepengetahuan dirinya, taman belakang hanya sering dikunjungi oleh Lady dan juga Chanyeol karena ini termasuk area pribadi mereka. Baekhyun ragu – ragu melangkah pelan sembari memperhatikan sekitarnya yang nampak lengan tak ada satu pun yang tengah berlatih disekitarnya.

Tepat ketika ia berada didepan pagar untuk masuk kedalam taman, ia ragu – ragu memanggil Chanyeol.

"Chanyeol?" ia menunggu ada sahutan dari pria itu namun urung terdengar hingga ia memberanikan diri mendorong pagar pintu itu lalu memasukkan kepalanya lebih dulu untuk melihat keadaan sekitar.

"Chanyeol?!" kini suaranya sedikit berteriak. Langkahnya terpaksa ia bawa untuk masuk kedalam taman karena rasa penasaran akan bentuk taman yang selama ini jarang didatangi oleh para anggota lainnya.

Baekhyun melangkah santai melihat keseluruhannya, bermacam tanaman bunga, pohon nampak terlihat terawatt disekitarnya, suasana tenang dan juga asri cukup membuatnya nyaman berada seorang diri disana. Hingga secara tiba – tiba ada tangan yang melingkar pada pinggangnya lalu berteriak untuk mengagetkan dirinya, itu Chanyeol.

Baekhyun sempat berteriak lalu memukul pria itu sementara sang pelaku tertawa bahagia tak mau melepaskan dekapannya dari badan Baekhyun.

"Aku merindukanmu.. eottohke.." bisiknya sembari menyurukkan wajahnya pada leher Baekhyun, memberikan kecupan – kecupan singkat yang mana membuat Baekhyun bergedik geli.

"Aah~ Chanyeol.." Baekhyun menjauhkan wajah pria itu, menangkupnya hingga pipi pria itu menggembung dan bibirnya mengerucut, Ia bahkan tertawa melihatnya sebelum melayangkan protestnya. "Jangan mencium badanku."

"Wae?!"

"I-itu.." Baekhyun berpikir sesaat, melepaskan diri dari Chanyeol dan juga memberikan jarak antara mereka. "Karena ciumanmu kemarin.. badanku merah – merah!"

Chanyeol yang melihat Baekhyun melayangkan protest akibat ciuman dan juga cumbuannya kemarin ketika mereka di hotel membuat badan gadis itu dipenuhi kiss mark buatannya hanya mendengarkan sembari menganggukkan kepala dan juga merasa gemas melihat Baekhyun yang benar- benar masih terlihat polos.

"—tidak gatal.. tapi aneh, biasanya kalau memerah seperti ini kulitku akan gatal, lalu setelah mandi air panas,, warnanya tetap tidak hilang. Ish Chanyeol."

Chanyeol kembali mendekat kearah Baekhyun, menggandeng tangan gadis itu untuk ikut duduk bersamanya, dipangkuannya. Baekhyun tak lagi mengeluhkan apa yang terjadi pada badannya karena ulah ciuman Chanyeol.

"Itu namanya kiss mark." Chanyeol mulai menjelaskan. "Bukan karena kulitmu yang sensitive itu sepenuhnya karena ulah bibirku." Telunjuk menunjuk kearah bibirnya yang mengerucut akan mencium bibir Baekhyun kembali namun gadis itu mengelak menahanya dengan salah satu tangannya.

Mereka menikmati keterdiamannya, Baekhyun mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol sembari jemari tangannya memainkan rambut pria itu sementara Chanyeol memandangi wajah Baekhyun tanpa berkedip sedikit pun.

"Kita tidak latihan?' Baekhyun bertanya setelah cukup lama mereka hanya duduk diam memandang satu sama lain.

"Aku tidak mau."

"Kenapa?"

"Tidak mau saja.. aku mau duduk disini, menciumi bibirmu, badanmu.." Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya hingga Baekhyun harus menopang lengannya untuk memberi sedikit jarak dengan wajah Chanyeol.

"Kalau bisa aku mau menyembunyikanmu dikamarku.." ada seringai nakal yang terlihat diwajah pria ity ketika mengatakkan namun Baekhyun tak bisa memahami sepenuhnya kecuali gadis itu beranggapan akan dijadikan korban penculikan dengan Chanyeol pelakunya.

"Aku tidak mau diculik." Chanyeol memekik tertawa lalu menciumi Baekhyun dengan begitu gemas dari kening, pipi, leher lalu bibirnya dan berakhir dengan lumatan bergairah mengingat ia menahannya sejak bertemu Baekhyun di ruang makan tadi.

.

.

"Aku sudah mencari disetiap ruangan latihan tapi tidak menemukan mereka berdua.."

Yoora tengah membagi fokusnya. Pendengarannya ia fokuskan pada Irene yang sedari tadi mengeluh mencari keberadaan adiknya, sementara mata dan tangannya sepenuhnya ia tumpahkan pada dokumen mengenai pembagian saham dan juga laporan mengenai RED.

"Jadi?" ia bertanya pada Irene yang tak lagi bersuara.

"Bolehkah aku berpikir hal negatif mengenai adikmu saat ini? Karena sedari tadi hal yang berputar – putar dalam otakku adalah ia tengah mencumbu dan mungkin melakukan hal pemuas nafsu dengan Baekhyun saat ini."

Yoora tertawa sesaat, merapikan beberapa dokumennya yang tak bisa ia lanjutkan baca karena topik pembicaraan yang dibawa Irene saat ini lebih menarik.

"Aku tidak menyalahkan dirimu untuk memiliki pemikiran seperti itu.. tapi aku percaya adikku masih bisa menahan diri untuk tidak menyetubuhi Baekhyun disini, dirumah ini. I-tu.. terdengar sedikit aneh." Raut wajah Yoora menjelaskan dirinya tidak bisa membayangkannya selagi ia menyusul untuk duduk dihadapan Irene sekarang.

"Sudah memeriksa cctv?"

"Sudah, Kris sedang memeriksanya dan aku sudah memanggil Luhan kemari tapi ia belum juga datang." Irene mengangkat kakinya untuk bersilang dengan kaki lainnya lalu bersandar gelisah sementara Yoora yang memperhatikannya hanya bisa tertawa.

Yoora baru akan berucap hal lainnya namun kedatangan Luhan membuatnya menahan ucapannya dan meminta wanita itu bergabung duduk bersamanya.

"Kau tahu Baekhyun dimana?" Yoora bertanya ke arahnya.

"Eoh?" wanita itu menatap bingung. "Dia berlatih dengan Chanyeol." Sontak Irene menatap bergantian ke arah Luhan dan juga Irene.

"A-apa bisa kau ulangi?" Irene meminta.

Luhan mengangguk meskipun masih merasa aneh karena kedua wanita didekatnya menatapnya aneh. "A-aku dengar Baekhyun akan latihan bersama Chanyeol."

"Dimana kau melihat Baekhyun sebelumnya?" lagi, Irene memojokkannya.

"Ruang makan." Luhan menjawab, "Ada apa sih?" ia mulai menuntut penjelasan.

"Mereka tidak menghubungi Chanyeol, dan sudah dicari ke tempat latihan dimana pun.. tidak ketemu." Singkatnya Yoora jelaskan.

"Aaahh.. mereka latihan di taman." Mendengar jawaban Luhan selanjutnya, Irene dan juga Yoora beranjak bangun lalu melangkah terburu – buru untuk mendatangi taman dimana Baekhyun dan Chanyeol dianggap berada disana.

Langkah mereka baru akan berbelok menuju pintu belakang tapi Kris lebih dulu menghampiri dan menahan keduanya untuk tidak melanjutkan.

"Kenapa?!" Yoora memprotest.

Kris mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan video cctv yang berhasil ia dapatkan. "Lihat dulu lalu pertimbangkan apa yang ingin kau lakukan."

Yoora mengambil ponsel itu lalu melihatnya bersama dengan Irene, sebenarnya video itu nampak tidak begitu jelas karena diambil pada jarak begitu jauh, tapi mereka berdua bisa yakin bahwa kedua sosok yang terlihat tengah berpelukan dan juga mencium satu sama lain adalah Chanyeol dan juga Baekhyun.

"Wow."

Hanya Irene yang terlihat mengomentari sementara Yoora melihat video itu dengan alisnya yang terpaut satu sama lain, tak tahu harus berkomentar apa.

"Mereka melanjutkan apa yang terjadi di liburan singkat kemarin.." Kris menyimpulkan dan setelahnya menyimpan ponselnya pada saku ketika Yoora mengembalikannya.

"Hapus video itu." Peringatan Yoora dijawab anggukkan oleh Kris, "Panggilkan Luhan dan Minseok.. minta mereka bertemu denganku di taman." perintah itu tertuju pada Irene yang mana lekas dituruti. "Kau ikut denganku." Tunjuknya pada Kris.

Mereka berdua melangkah beriringan, Yoora melangkah cepat didepan sementara Kris berada dibelakangnya berusaha mengikuti irama langkah sang Lady yang terburu – buru mengingkan cepat tiba di taman.

Sesampainya didepan pagar pintu masuk taman, Yoora menghentikkan langkahnya. Menarik nafas perlahan lalu dengan pelan – pelan mendorong pagar itu, lalu melangkah pelan ragu – ragu untuk tidak mengganggu siapa pun yang berada disekitarnya. Ia bahkan meminta Kris untuk menahan mulutnya agar tak bersuara. Langkah mereka semakin masuk kedalam, tidak mendengar suara aneh seperti yang sebelumnya dibayangkan berdasarkan video dan juga ucapan Irene sebelumnya, tapi pandangan mata mereka masing – masing menangkap semuanya.

Chanyeol dan Baekhyun masih berada disana, Baekhyun masih duduk diatas pangkuan pria itu tengah tersenyum geli karena Chanyeol tengah menciumi leher dan juga mulai bergerak menuju bagian dadanya.

"Ehm!" Yoora tak bisa menahan menunggu lebih lama, dehaman keras yang ia lakukan jelas mengusik kegiatan yang dilakukan Chanyeol hingga sang adik membelak kaget melihat kehadiran sang kakak dan juga Kris didekat mereka. Chanyeol lekas memeluk Baekhyun.

" Apa yang kau lakukan?"

"Latihan." Adiknya menjawab santai, ia dan Baekhyun bangkit berdiri dari posisi duduk mereka namun Chanyeol tetap meminta Baekhyun berada didekatnya, atau kini berada dibalik punggungnya.

"Latihan?" kening Yoora mengerut tak percaya, bisa – bisanya sang adik menjawabnya dengan kebohongan lain.

"Hm, latihan." Chanyeol meyakinkan lagi jawabannya. "Kau mengatakan ingin mengajarkan Baekhyun mengenai latihan dengan rating Mature.. seksualitas dan lainnya"

Bajingan. Yoora mengutuk adiknya dalam hati mengingat kembali malam kemarin seharusnya ia yang mengerjai sang adik, bukan berbalik menyerang dirinya.

"Aku ingin mengajarkan Baekhyun mengenai hal itu, bukan denganmu." Yoora menegaskan, menunjukkan dirinya memiliki kuasa penuh untuk menolak dan bahkan melawan sang adik saat ini.

"A-aku penanggung jawabnya." Chanyeol membalas.

Yoora menyeringai ke arah Chanyeol, seringai yang sama seperti biasa dilakukan oleh sang adik dan kini Chanyeol merasa sedikit aneh melihat sang kakak melakukannya terhadapnya.

"Mulai hari ini, kau bukan lagi penanggung jawabnya." Keputusan Yoora membuat Kris dan Chanyeol bergeming. Kedua pria itu beradu tatap dalam diam, dan Kris mulai mendekat kearah Yoora untuk berbisik.

"Kau yakin?" Yoora mengangguk pelan.

"Kau bukan lagi penanggung jawabnya untuk latihan." Yoora mengulang, "Baekhyun adalah Red. Aku sudah mengatakan dan memperingatimu sejak awal. Dia adalah Red dan setiap anggota Red dilarang berpacaran dengan Anggota Phoenix."

Kris bisa melihat Chanyeol mengeratkan tangannya memegang lengan Baekhyun, gerak tubuhnya bahkan menunjukkan posisi siaga menunjukkan ia tak akan semudah itu membiarkan Baekhyun lepas dari dekapannya.

"Kau adalah Four Chanyeol." Yoora tidak bergerak melakukan apapun, ia hanya memandang sang adik dan terus berucap. "Apa perlu aku ingatkan mengenai Phoenix?"

"Phoenix tetap milikku." Chanyeol lekas menjawab. "Dan aku bisa melakukan apapun, termasuk memiliki Baekhyun."

Yoora mengangguk. "Phoenix memang milikmu, seutuhnya. Tapi Baekhyun? Belong to Red. Aku sudah memperingatimu. Ingat?"

"Lady.." Minseok dan Luhan akhirnya bergabung dan memperhatikan kearah Chanyeol dan Baekhyun lalu Kris dan juga Yoora.

"Minseok, Luhan.. bawa Baekhyun menuju ruanganku." Yoora memerintahkan keduanya yang sontak membuat Chanyeol bergerak mundur.

"Yoora!" Chanyeol berteriak kearah kakaknya.

"Bawa Baekhyun ke ruanganku bagaimana pun caranya." Perintahnya ia ulangi.

Dan meskipun Minseok serta Luhan masih belum paham betul dengan kondisi dihadapan mereka, keduanya bersiaga mendekat kearah Chanyeol guna mengambil Baekhyun dari perlindungan pria itu.

"Ace! Kau membiarkan Father-mu dilawan oleh mereka?!" Chanyeol tetap melangkah mundur selangkah demi selangkah dan tentunya mengawasi Baekhyun yang mulai ketakutan dibelakangnya.

"Oi.. apa rencanamu sebenarnya?" Kris berbisik pada Yoora sebelum ia bertindak untuk membantu adik dari wanita disampingnya.

"Kau berani melawanku?" Yoora membalas turut berbisik.

"Ini sungguhan?"

"Ya! Tentu saja!" Yoora mengomel lalu dengan gerakkan cepat menarik badan Kris hingga pria itu tersungkur berlutut didepannya, salah satu tangannya ditahan oleh Yoora sementara tangan yang lain menopang tubuhnya yang sialnya diinjak oleh Ankle boots yang Yoora kenakkan hari itu.

"Aish.. aku benci sepatumu ini." Kris menggerutu kesal.

"YAAA!" Chanyeol berteriak memukul tangan Luhan dan juga Minseok yang hendak meraih tubuhnya untuk bisa mengambil Baekhyun darinya.

Kalau boleh jujur, Yoora menggeleng kesal dan malu melihat sang adik yang terlihat layaknya bocah sepuluh tahun tengah merajuk tidak boleh ada yang meminjam mainannya.

"Aku tidak punya banyak waktu Chanyeol!" Yoora berteriak dan kemudian yang terdengar setelahnya adalah Chanyeol yang menggeram kesal dan juga suara pukulan serta rintihan dari pria itu.

Yoora tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana mereka bertiga saling melawan satu sama lain, tapi ketika melihat Luhan membawa Baekhyun dalam kaitan lengannya Minseok menendang pantat Chanyeol hingga pria itu terjatuh didepan Kris, ia tersenyum menang.

"Ternyata kau payah." Ia mengejek sang adik, "Ayo, tinggalkan mereka." Ia mengajak Baekhyun dan lainnya melangkah bersama meninggalkan Chanyeol serta Kris disana.


FOUR


"Kau tidak bercanda kan?!" Irene mengulang lagi pertanyaan setelah mendengar bagaimana Luhan dan Minseok memukuli Chanyeol agar melepaskan dekapannya dari Baekhyun.

"Tidak Irene. Kedua pria itu payah!" Minseok mempertegas.

"Wuah.. ini aneh." Kali ini Irene mulai percaya meskipun pada akhirnya ia merasa malu mendapati kedua pria petinggi Phoenix itu bisa mudah kalah hanya dengan melawan Luhan, Minseok dan juga Yoora tanpa senjata.

Obrolan mengenai bagaimana perlawanan kecil dengan Kris serta Chanyeol terhenti tepat ketika Yoora kembali bersama Baekhyun masuk kedalam ruangannya. Yoora mengarahkan Baekhyun untuk duduk didekat Irene dan juga Minseok, sementara dirinya duduk bersama dengan Luhan.

"Jangan takut.. kita tidak akan memberikan hukuman untukmu. Itu tadi hanya keisengan yang aku lakukan agar adikku menyadari kesalahannya." Yoora menenangkan Baekhyun yang terlihat sedikit gugup melihat ia dikelilingi oleh wanita – wanita Petinggi Red dan juga Phoenix.

"A-aku ingin mendengar ceritamu.. tentang apa yang kalian lakukan hingga badanmu dipenuhi oleh kiss mark mafia nakal itu." Yoora memangku wajahnya sambil tersenyum yang tentunya diikuti oleh ketiga wanita lainnya.

Baekhyun melihat satu per satu wajah mereka, menggigit bibirnya lalu rasa malu tiba – tiba terasa disekitarnya terlebih ketika ingatannya mulai mengingat bagaimana kejadian malam itu.

"Jadi.." Yoora memancing lagi. "Eoh, tenang saja..mereka bertiga lebih ahli dan sudah merasakan semua godaan para pria. Termasuk aku. Jadi kau tidak perlu merasa risih menceritakannya." Ia meyakinkan lagi dan ketiga wanita yang lain tertawa dan juga melempar bantal sofa kearah Yoora.

"Apa yang kalian lakukan hm?" Yoora menuntut.

Baekhyun melihat kearah mereka satu per satu lalu mulai menceritakan semuanya, bagaimana ia dan Chanyeol berciuman di pantai, berulang kali. Dan juga detail cerita ketika ia dan Chanyeol berada didalam kamar hotel mereka.

Chanyeol masih menciumi bibir Baekhyun berulang kali, terkadang memagutnya begitu lembut lalu kembali bergairah begitu saja meskipun Baekhyun membalasnya dengan lumatan kaku. Chanyeol tidak peduli meskipun gadis mungilnya ini masih begitu polos.

Lenguhan lelah Baekhyun bahkan hanya ia abaikan dan berpindah untuk menciumi bagian leher dan juga bahu gadis itu.

"Chanyeol.. aku mau mandi." Baekhyun mendorong badan Chanyeol menjauh, menahan pria itu sekuat tenaga untuk tak lagi mendekat ke arahnya dan kembali menciumnya.

"Dia agresif sekali sih! Pantas saja bibirmu bengkak setelah pulang dari berlibur!" Irene memotong cerita Baekhyun dan yang lainnya berdecak sebal karenanya.

"Okey, lanjutkan."

Meskipun Baekhyun bisa terbebas beberapa menit untuk mandi, setelah ia keluar dari kamar mandi, Chanyeol kembali menarik badannya untuk tetap berada didekatnya. Pria itu bahkan tak mengijinkan Baekhyun untuk tidur diranjang yang lain, dan mereka berakhir tidur di ranjang yang sama.

Baekhyun kembali mendapati Chanyeol menciumi dirinya, kening, pipi, hidung, bibir dan bahkan leher hingga bahunya mendapatkan jejak ciuman Chanyeol sepanjang malam.

"Su-sudah.." Baekhyun berucap demikian dan memperhatikan ketiga wanita yang bersamanya dengannya menatapnya kecewa.

"Sudah? Tidak ada yang lain?" Irene menuntut dan ketika Baekhyun mengangguk, ia semakin kecewa.

"Seorang Park Chanyeol?! Hanya mencium dirimu habis –habisan? Dan membuat tanda?!" ucapnya lagi menunjukkan kekecewaannya.

Yoora belum bertanya apa pun, ia terlihat masih memandani wajah Baekhyun dengan begitu serius. Lain halnya dengan Luhan dan juga Minseok yang terlihat biasa saja.

"D-dia tidak menyentuh tubuhmu dibagian lain?" akhirnya Yoora bersuara dan Baekhyun menggeleng cepat. "Kau yakin?" ia bertanya lagi dan kini Baekhyun mengangguk.

"Baekhyun.." Minseok memegang tangan gadis itu dan mengusapnya, "Chanyeol benar – benar tidak menyentuhmu?" wanita itu mengulang pertanyaan Yoora namun suaranya lebih terdengar dalam dan menaruh rasa peduli.

"Eoh.." Baekhyun menjawab yakin. "Chanyeol hanya mencium.. dan membuat tanda seperti ini. Tapi hanya disini.. dia tidak melakukan hal lain." Tangan gadis itu menunjukkan salah satu tanda yang dibuat oleh Chanyeol yang mana membuat keempat wanita disana tertawa kecil setelahnya.

"Well, Baekhyun.." Yoora menegakkan tubuhnya untuk masuk kedalam pembicaraanya yang lebih serius mengenai pelatihan yang harus diterima oleh gadis polos dihadapannya. "Terima kasih sudah menceritakan sedikit ceritamu kepada kami, dan maksud tujuanku memintamu bercerita adalah karena ini menyangkut latihanmu pada level berikutnya." Yoora melihat mata Baekhyun menatapnya serius mendengarkan setiap ucapan yang ia katakan.

"Pelatihanmu mengenai bagaimana bertahan dan melawan masih terus dilanjutkan tapi tidak lagi dengan Chanyeol.."

"Ke—kenapa?" ada yang merasa lesu mendengar keputusan yang dibuat Yoora.

Irene, Luhan dan Minseok berbagi senyuman memperhatikan perubahan gerak tubuh Baekhyun yang jelas menolak keputusan Yoora.

"Karena dia sudah melanggar peraturan antara Phoenix dan juga Red." Yoora menjelaskan, "Chanyeol, Four adalah bagian dari Phoenix dan sebelum masalah diantara kita selesai, termasuk masalah Sunyoung, dan juga kesiapan dirimu. Aku tidak mau membiarkan ia begitu larut berbagi cinta denganmu."

Baekhyun menunduk, jemari tangannya bergerak gelisah saling bergesekkan dengan jari – jari lainnya.

"Aku tidak melarangmu untuk jatuh cinta dengan Chanyeol.." suara Yoora melembut, "Saat kau sudah siap, saat Baekhyun yang aku kenal saat ini bukan Baekhyun yang lemah dan penakut, aku akan mengijinkan kalian berdua, bahkan kalau kalian ingin menikah pun akan aku ijinkan.. hanya saja.. jangan biarkan adikku menganggap mendapatkamu semudah ini, Baekhyun paham maksudku?" Yoora menjelaskan setiap katanya dengan pelan agar Baekhyun bisa mencerna dan memahami maksudnya disetiap kata yang ia ucapkan.

"Chanyeol adalah mafia, dan kau seharusnya melawan mereka. Bukan mudah begitu saja jatuh cinta dengannya." Irene membantu memberikan penjelasan. "Dia harus menjalaninya dengan susah payah untuk mendapatkanmu, melindungimu dan selain itu.. dan itu berlaku sama denganmu Baekhyun, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri dan juga dirinya."

"Kau mengerti kan Baekhyun?" Yoora bertanya lagi, Baekhyun melihat ke arahnya dan juga Irene, menunduk dalam untuk sesaat lalu menangguk mengerti apa yang keduanya bicarakan meskipun hatinya kembali menelan rasa kecewa membayangkan ia tak bisa lagi berada didekat Chanyeol.

"Luhan dan Minseok akan mengajarimu untuk materi latihan dari Red..ini termasuk hal penting jadi kau harus benar – benar siap." Yoora melanjutkan pembicaraan mengenai pelatihannya, "Dan Irene serta Kris akan mengajarimu untuk materi latihan bela diri."

Baekhyun mengangguk dan setelah ia diberi ijin boleh meninggalkan ruangan kerja Yoora dan kembali ke kamarnya, gadis itu melangkah perlahan – lahan tanpa memperhatikan sekitarnya dan bahkan siapa pun yang berlalu lalang didekatnya. Wajahnya merengut merasakan kecewa dalam dirinya dan mengingat ia dan Chanyeol baru saja dipisahkan lagi setelah beberapa hari mereka mulai dekat.

Baekhyun menghela nafas panjang melepaskan rasa sesak di hatinya hingga ia teralih karena satu colekan di punggungnya, dan ketika badannya berbalik melihat sosok si pelaku, senyumnya mengembang dan menurut ketika tangannya digenggam, ditarik begitu saja mengikuti langkah lebar si pelaku. Chanyeol.

TBC.

Yeol.. nakal ya, mau dibawa kemana itu Baekhyun wey!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Semoga suka cemilan di Minggu malam ini :)

sabar nunggu upate selanjutnya ya.