Baekhyun masih terdiam begitu Chanyeol mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar Chanyeol. Pria itu bahkan harus mempersilahkan dirinya untuk duduk di ranjang berukuran sedang, memintanya untuk menyamankan diri meskipun nyatanya Baekhyun masih merasakan canggung dan penuh tanya melihat keadaan kamar Chanyeol saat itu.
Segala isinya memang nampak berbeda seperti kamar Chanyeol kala itu, tapi masih tetap mencerminkan bagaimana sosok si empunya kamar. Pandangan mata Baekhyun sepenuhnya tertuju pada seisi keliling kamar hingga ia mendapati satu foto terpajang pada dinding kamar
Lantas Baekhyun beranjak bangun dari posisi duduknya, melangkah mendekat untuk melihat dengan jelas foto yang terpajang disana.
"I-ini.. ini fotoku.." ucapnya sementara atensinya masih pada foto yang terpajang disana, jemarinya ragu untuk menyentuh meskipun hatinya sangat ingin.
"Hm." Chanyeol menghampiri, memeluk Baekhyun dari belakang dan menyandarkan dagunya pada bahu Baekhyun dengan begitu nyaman.
"Itu fotomu, foto jelekmu." Chanyeol tersenyum, mencium pipi Baekhyun lalu melepaskan foto yang terpasang pada dindingnya untuk diperlihatkan pada Baekhyun.
"Satu – satunya foto yang Aku miliki, jadi jangan bertanya kenapa hanya foto jelek ini yang Aku pajang." Chanyeol lebih dulu memberikan alasannya meskipun Baekhyun tidak memperdulikan karena gadis itu masih tersenyum lebar nampak begitu senang melihat ada foto jati dirinya di kamar Chanyeol.
"K-kau menyimpannya?" tanya gadis itu masih dengan atensi pada lembaran foto di tangannya.
Ada yang tersenyum malu dan merasa gemas melihat tingkah laku dari sosok gadis dihadapannya dan hal itu semakin menguatkan tekad dalam dirinya yang masih tertahan enggan untuk diungkapkan.
"Tentu saja." Usakan lembut Chanyeol lakukan, lalu mengajak Baekhyun untuk kembali duduk di ranjangnya. "Hnaya dirimu alasan untuk aku kembali dari dunia Militer.. jadi hanya foto itu yang bisa menguatkan Aku untuk bisa menyelesaikan misi apapun yang diberikan padaku." Ucapnya menceritakan sedikit alasan mengapa dirinya menyimpan foto itu.
"Maafkan aku..."
Permintaan maaf yang dikatakan Chanyeol membuat raut wajah Baekhyun berubah penuh tanya.
"Karena meninggalkanmu, membuatmu menghadapi kesulitan seorang diri dan kini.. terjebak disini." Chanyeol melanjutkan, menggenggam tangan Baekhyun, mengusap dan mencium punggung tangan gadis itu. "Aku pastikan.. janjiku padamu kemarin akan aku tepati." Ucapnya meyakinkan membuat Baekhyun kembali memperlihatkan senyum manisnya lalu mengangguk.
Chanyeol membalas dengan senyuman, meregangkan kedua tangannya bertumpu pada ranjangnya dan tetap melihat ke arah Baekhyun.
"Apa yang Yoora lakukan padamu tadi?" tanyanya.
"Umm.. hanya berbicara mengenai pelatihanku nantinya."
Kembali Chanyeol merubah posisi duduknya, menghadap ke arah Baekhyun, bertatapan dengan gadis itu siap mendengarkan penjelasan lebih jelas mengenai pembicaraan antara Yoora dengan Baekhyun sebelumnya.
"A-aku tidak bisa berlatih denganmu lagi." Chanyeol bisa mendengar suara Baekhyun berubah menjadi lirih tak bersemangat ketika mengatakan kalimat itu. Gadis itu bahkan mulai menunduk, meremas jemarinya seorang diri.
"Yu—Yoora mengatakan aku tidak boleh jatuh cinta padamu.. kita tidak boleh.." Baekhyun menahan diri agar tak melanjutkan kalimat setelahnya karena takut akan menyinggung perasaan Chanyeol bila ia mengatakannya.
Seakan – akan Chanyeol mengerti bagaimana perasaannya, pria itu tersenyum lagi, mengusapkan tangannya pada pipi wajah Baekhyun untuk memberikan usapan lembut menghangatkan.
"Dia mengatakan itu?" bisiK Chanyeol begitu dekat dengan Baekhyun, deru nafasnya bahkan bisa Baekhyun rasakan.
Gadis itu mengangguk sembari menggigit bibirnya, pandangan matanya melihat ke arah wajah Chanyeol yang semakin lama mengikis jarak antara mereka.
"A-aku sudah jatuh cinta padamu lebih dulu.. lalu.. Apa yang harus aku lakukan?"
Tak ada lagi jarak antara mereka, Baekhyun bahkan bisa merasakan bibir Chanyeol mulai bersentuhan dengan bibirnya, hidung mereka saling bergesekan satu sama lain, dan ketika Chanyeol mulai mencium bibirnya, Baekhyun tetap terdiam kaku pada posisi duduknya, matanya terpejam ragu – ragu untuk menyambut dan membalas ciuman dari pria dihadapannya.
Ketika Chanyeol mulai melumat, Baekhyun sempat menahan tubuh pria itu untuk tak lagi mendekat padanya, tapi yang terjadi setelahnya adalah Baekhyun yang terdorong terbaring pada ranjang dengan tangan Chanyeol yang memegang erat kedua pergelangan tangannya.
"Chan—Chanyeol—" bibirnya kembali dibungkam oleh lumatan bibir Chanyeol dan Baekhyun tak lagi melawan, membiarkan dirinya dicium dan bahkan dijamah oleh bibir dan tangan Chanyeol seperti yang mereka lakukan ketika berlibur kemarin.
Satu desahan lolos dari mulut Baekhyun ketika Chanyeol mulai mencium bagian leher serta memberikan gigitan kecil disana. Namun demikian bukan berarti Chanyeol berhenti melakukannya. Pria itu kembali mencium setiap bagian leher dan setiap bagian wajah Baekhyun, menyesap semua bagian tak ada yang luput dari sentuhannya.
"Kau milikku." Gumamnya sebelum kembali mencium bibir Baekhyun dengan begitu bergairah.
"Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku." Ucapnya posesif ketika ciumannya berpindah pada leher dan mulai turun pada bagian dada Baekhyun.
"Ah!—Chanyeol!" Baekhyun menahan Chanyeol dengan kedua lengannya ketika pria itu akan mulai menggerakkan tangannya masuk ke balik kaos yang Baekhyun kenakkan.
Chanyeol bisa melihat jelas tubuh Baekhyun bergetar saat menahan dirinya untuk tak melanjutkan cumbuan mereka.
"Ma—maafkan aku." Chanyeol meminta maaf, membantu Baekhyun untuk kembali duduk di ranjangnya, lalu merapikan beberapa helai rambut gadis itu yang terlihat berantakkan karenanya.
"Maafkan aku." Chanyeol menunduk lagi dan terus menggumamkan ucapan permintaan maaf, sama seperti saat malam itu, ia hampir saja melewati batas.
Bukan hanya Chanyeol yang merasa bersalah sebenarnya, Baekhyun pun demikian. Ini sudah kedua kalinya ia berteriak pada Chanyeol ketika apa yang mereka lakukan mulai berlanjut ke arah yang lain. Baekhyun seharusnya sadar, Chanyeol bukan lagi teman masa kecilnya, pria itu sudah mengatakan perasaanya, berani mencium, mencumbu badannya dan bahkan membuat tanda kepemilikan, tidak mungkin Chanyeol akan bertahan untuk tak menyentuhnya lebih jauh.
"Ma—maaf.." Baekhyun ikut bergumam. "A—aku masih takut." ucapnya dengan jujur berharap Chanyeol bisa memahami keadaannya.
Lantas memang demikian, Chanyeol membalasnya dengan satu usapan pada kepala Baekhyun, menggenggam lagi tangan gadis itu untuk kembali dicium olehnya.
"Lakukan itu pada siapapun yang mau menyentuhmu nantinya, selain Aku, kau berhak memukul mereka." Chanyeol mengedipkan matanya, "Aku tidak bisa membantu untuk berlatih lagi, terlebih untuk pelajaran 'hal dewasa' tapi kalau kau butuh untuk mempraktekkannya, Aku dengan senang hati menerimamu."
Kini Baekhyun kembali mengumpat kesal dengan raut wajah malu – malu yang tentunya mengundang tawa bagi Chanyeol yang melihatnya.
Setelahnya keduanya saling menatap dalam diam, Chanyeol masih menggenggam tangan Baekhyun yang mana ia ciumi dan juga usap sedari tadi, hingga akhirnya Baekhyun yang memulai mengikis jarak, mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol dengan pandangan mata tertuju pada bibir tebal pria itu untuk dengan beraninya ia cium lebih dulu.
Baekhyun menciumnya, sentuhannya terasa kaku namun tetap terasa lembut dan Chanyeol tak mungkin membiarkannya begitu saja. Tangannya merengkuh wajah Baekhyun untuk ia pertahankan tetap dekat dengan wajahnya agar ia bisa kembali mencium bibir Baekhyun seperti beberapa saat lalu.
Namun kali ini kegiatan mereka harus terhenti ketika pintu kamar Chanyeol terbuka lebar dengan teriakan Irene yang memanggil namanya.
"Four!—Oh astaga!" wanita itu berbalik dengan canggung enggan untuk melihat dua orang yang tengah saling melumat bibir.
FOUR
"Ada apa?" Chanyeol bertanya ke arah Kris yang tengah berdiskusi dengan anggota Phoenix yang lain.
"Dari mana saja? Aku kira kau langsung menyusul tadi!" Kris bergumam kesal diawalnya lalu memberikan beberapa lembar laporan yang harus dibaca oleh Chanyeol.
"Dia sibuk dengan pacar kecilnya." Irene tertawa pelan, raut wajahnya jelas menggoda ke arah Chanyeol dan sontak membuat seluruh anggota Phoenix yang berada di ruangan itu turut melontakan nada menggoda.
"Lagi?" Kris bertanya mengingat tadi pagi ia menjadi saksi atas kegiatan saling bercumbu antara Baekhyun dengan Chanyeol.
"Sudah mendapat kabar dari Macau?" Chanyeol menyerahkan lembaran itu pada Kris, ucapannya membuat suara tawa dan ocehan ringan antar sesame anggota terhenti seketika. "Sunyoung sempat tinggal di Hong Kong hampir 4 tahun, sudah pasti dia memiliki teman atau mungkin keluarga disekitar sana. Perluas pencarian di China dan juga sekitarnya." Chanyeol memberitakan perintah pada bagian InCom dan juga beberapa Officer yang hadir disana.
"Dan tetap memantau pergerakan di Korea, berita tertangkapnya Sunyoung sudah pasti mengundang banyak sosok yang bisa kita pantau."
"Bagaimana dengan pertemuan para Fathers?" tanya Irene setelahnya.
"Kris yang akan mewakili." Jawaban Chanyeol lantas membuat Kris menoleh, menuntut penjelasan.
"Namamu cukup terkenal disana, terlebih, jangan buat para Fathers berbesar hati bisa aku kunjungi satu per satu, kalau mereka butuh bertemu denganku, datang kemari." Kris tersenyum bangga, memahami maksud dari ucapan Chanyeol, begitu juga dengan Irene.
"Sifat angkuh mendiang Ayahmu jelas menurun hm." Kris berbisik sembari memukul pelan lengan Chanyeol setelah pembicaraan penting mereka.
Chanyeol menyeringai, "Apa seharusnya aku bangga setelah mendengarnya?"
"You should." Kali ini Irene yang menjawab.
"Aku ingin bicara.. bertiga."
Irene dan Kris mengangguk, mengikuti Chanyeol untuk masuk pada ruang kaca yang berada tepat di sudut ruangan kerja Phoenix yang memang disiapkan untuk pertemuan penting seperti saat ini.
"Kenapa?" Kris lebih dulu bertanya ketika Chanyeol baru saja menutup pintu kaca itu.
"Bagaimana perkembangan Sunyoung?"
"Siksaannya masih berlanjut, Red jelas menyampaikan dengan jelas maksud siksaan yang ingin kau lakukan pada nenek sihir itu."
"A-aku belum berkunjung kesana, ada apa?" Kris kembali bertanya setelah Irene sempat menjelaskan sedikit berita terkini mengenai Sunyoung.
Chanyeol terdiam mematung sesaat sembari menggigit bibirnya lalu menyilangkan tangannya didepan dada.
"Bisa atur jadwal pertemuanku dengan Jenderal? Tapi tidak disaat jadwal penyiksaan Sunyoung oleh Red."
Irene dan Kris mengerutkan alisnya.
"Chan, penyiksaan itu dilakukan setiap hari."
"Untuk apa bertemu dengan Jenderal?"
Chanyeol menghela nafas dengan berat. "A-ada yang ingin aku bicarakan dengan Jenderal Kim.."
"Lalu kenapa dengan jadwal penyiksaan itu? Berkaitan kah?"
Chanyeol mengangguk. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan Sunyoung."
Lagi, Irene dan Kris mengerutkan alisnya tak mengerti maksud dari permintaan Chanyeol.
"I—ini mengenai Baekhyun."
"Eoh, apakah sesuatu terjadi?" Irene melayangkan pertanyaan dan Chanyeol menggeleng.
"H-hanya memikirkan untuk masa depannya."
Kali ini giliran Kris yang menyilangkan tangannya. "Masa depannya? Maksudmu masa depan Baekhyun di Red?"
Chanyeol menggeleng, terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan Kris dihadapan para Executive Phoenix saat ini.
"Aku ingin Baekhyun mendapatkan hidup yang normal." Satu kalimat yang Chanyeol ucapkan kembali membuat raut wajah Kris dan Irene berubah seketika dan juga membuat mereka menahan nafas sesaat setelah mendengarnya.
.
.
"Maksudmu? Kau mau Baekhyun keluar dari Red? Bisa ingatkan aku siapa yang menyetujui gadis malang itu untuk masuk ke Red?" Ucapan sinis Irene tertuju pada Kris namun dengan maksud menyudutkan Chanyeol, karena pria itulah yang juga memberikan suara menyetujui Baekhyun untuk bergabung dengan Red diawal mulanya.
"Kenapa kau ingin melakukannya?" Kris yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan antara Chanyeol dan Irene, akhirnya bergabung melayangkan pertanyaan pada Chanyeol.
Chanyeol menghela nafas panjang sebelum ia memberikan jawabannya pada Kris.
"A-aku hanya ingin ia memiliki kehidupan yang normal." Jawab Chanyeol dalam gumaman pelan.
Irene yang awalnya merasa tak pecaya dan juga kesal kini duduk pada kursi yang ada di ruangan itu tepat dihadapan Chanyeol yang sebelumnya sudah duduk lebih dulu.
"Kau.. pernah mengatakan, kehidupan kalian tidak sama seperti sebelumnya. Ingat?" Chanyeol mengangguk menjawab pertanyaan Irene.
"Lalu kenapa sekarang kau ingin Baekhyun memiliki kehidupan yang normal?" tanyanya lagi.
"Karena dia Baekhyun, Irene!" dengan nada kesal Chanyeol menjawab, menunduk mengerang kesal dan mengacak rambutnya seorang diri. "Aku tidak mau dia masuk dalam dunia hitam seperti kita, Aku tidak mau melihat dia menyiksa orang, Aku tidak mau ia berada dalam bahaya, Aku tidak mau ia harus berurusan dengan mafia – mafia, Aku tidak mau semua itu terjadi pada Baekhyun, Aku tidak mau ia menjadi seperti dirimu, atau Minseok, atu Luhan! Aku tidak mau Baekhyun mengalami kejadian seperti Ibuku!" Chanyeol meluapkan semuanya dengan nada kesal, ia bahkan sempat memukul meja didepannya.
"Untuk membayangkannya saja aku tidak mau." Kali ini suaranya terdengar lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
"Kau pikir kami punya pilihan?" ucapan Irene yang juga terdengar kesal membuat Kris dan Chanyeol menatap ke arah wanita itu, rahang Irene terlihat mengeras dengan tatapan matanya yang tajam terkesan dingin.
"Kau pikir hanya Baekhyun yang bisa memilih untuk memiliki kehidupan normal? Kau tidak memikirkan kakakmu? Kau tidak memikirkan semua wanita yang tergabung di Red? Kau tidak memikirkan aku?! APA KAU PIKIR HANYA BAEKHYUN YANG INGIN MEMILIKI KEHIDUPAN NORMAL?!"
Kris dan Chanyeol tersontak akan teriakan Irene yang cukup keras terlebih nada marah yang jelas terdengar dari mulut wanita itu.
"Harusnya kau bertanya dulu dari dalam hatimu, perasaan yang kau miliki ini memang perasaan cinta atau hanya sesaat agar bisa meniduri teman kecilmu itu!" Irene melangkah lebar dengan hentakkan kesal keluar dari ruangan kaca itu dengan membanting pintu, menunjukkan dirinya benar – benar marah setelah mendengar keinginan dari Chanyeol.
"Well.. dia berhak untuk marah setelah mendengar ucapanmu."' Tersisa Kris yang masih menemai Chanyeol disana, wibawa dan sikap tenangnya jelas terlihat tidak seperti Irene yang begitu cepat terhanyu pada ucapan yang Chanyeol katakan sebelumnya.
"A-aku tidak bermaksud—"
Kris mengangguk. "Aku mengerti Tuan Muda."
Kali ini Chanyeol yang mengerutkan alisnya menatap bingung pada Kris dihadapannya, memanggilnya dengan sebutan kala sosok pria yang berbeda umur cukup jauh dengannya diperkenalkan sebagai bodyguard untuk dirinya.
"Kau masih ingat saat itu? Mendiang Ayahmu memperkenalkan Aku dan Irene sebagai bodyguard yang ia perintahkan untuk menjagamu dan juga Yoora?"
Chanyeol mengangguk.
"Irene baru memulai pekerjaannya hari itu."
Chanyeol membiarkan Kris melanjutkan apa yang coba ingin disampaikan oleh Executive Phoenix, tangan kedua dari Phoenix ketika mendiang Ayahnya memimpin organisasi hitam ini.
"Dia bukan kandidat Red, dia juga bukan dari keluarga Militer atau pun memiliki latar belakang keluarga berada. Irene ditemukan Ayahmu di sebuah kejadian."
Chanyeol masih mendengarkan, kembali mengingat – ingat kenangan yang keluarga sempat miliki diawal – awal kedatangan Kris dan Irene kala itu.
"Mendiang Lady saat itu mengalami kejadian kurang menyenangkan, ada pencuri yang mengambil tasnya saat ia di Mall, Irene yang membantu menghalangi pencuri itu. Dengan keahlian bela diri dan gerak cepatnya, pencuri itu berhasil direngkus olehnya dan kemudian dilaporkan pada polisi. Selanjutnya Ibumu menawarkan bantuan sebagai tanda balas budi dari pertolongan Irene, namun wanita itu menolaknya."
"Tentu saja Ibumu tidak tinggal diam." Kris menyeringai seorang diri. "Ia memerintahkan beberapa anak buah Phoenix untuk mengikutinya dan akhirnya mendapatkan latar belakang dari wanita itu. Hidup seorang diri, putus kuliah, terlibat hutang dengan lintah darat dalam jumlah cukup banyak yang mana itu adalah peninggalan hutang mendiang ayahnya, dan bekerja sebagai wanita penghibur di sebuah bar kecil. Pagi dan siang harinya dia harus bekerja sebagai pengantar makanan. Bisa membayangkan malang hidupnya?"
Chanyeol mengangguk, "Lalu? Apa yang terjadi setelahnya?"
"Well, tentu saja Ibumu meminta kami membawa dia ke rumah, bertemu dengan Ibumu dan juga Ayahmu. Menawarkan beberapa bantuan. Dan ya, keras kepala dan sikap dinginnya memang sudah sedari awal kami bertemu dengannya sudah terlihat, Irene menolak dan mengatakan tidak membutuhkan bantuan dari orang kaya blab la.. sampai akhirnya Ayahmu membuat rencana memancing wanita itu untuk mau bekerja sama dengannya."
"Rencana apa?"
"Bukan rencana jahat sebenarnya, Ayahmu hanya memanfaatkan para lintah darat yang selalu meneror Irene, jadi Ayahmu menunggu sampai mereka mencari dan meminta Irene membayar hutangnya. Saat itu, selang beberapa hari setelah Irene datang ke rumah, para lintah darat lantas mendatangi Irene kembali di bar tempat dia bekerja, membuat kekacauan disana dan tentunya merusak sebagian fasilitas disana. Lalu, Ayahmu serta beberapa anak buah Phoenix –kebetulan sudah bersiaga disana lantas ikut membela Irene, Phoenix mengambil alih dalam kekacauan itu, ya, kau sudah tahu-lah apa yang Phoenix lakukan."
"Membunuh lintah darat itu?" Chanyeol ragu – ragu menjawab yang mana membuat Kris tertawa mendengarnya.
"Kurang lebih." Jawabnya.
"Lalu, setelahnya? Irene bergabung dengan Phoenix?"
Kali ini Kris menggeleng, "Dia diminta bekerja dengan keluarga Park, sebagai bodyguard Yoora. Hari itu adalah hari pertamanya bergabung dan belum mengenal apa itu Phoenix dan apa itu Red.."
"Well, dia bekerja cukup baik menjadi bodyguard Yoora sebelum kakakmu memutuskan untuk kabur, kuliah di London, lalu kau harus diasingkan masuk ke Militer. Saat itu Irene mungkin berpikir ia tak lagi dibutuhkan untuk bekerja dengan keluargamu, tapi Ayah dan Ibumu menanyakkan padanya, apa dia masih mau untuk bekerja pada keluarga Park, dan dia menjawab tetap ingin bekerja bersama keluarga ini."
"Dan dia memilih Phoenix?" Chanyeol berspekulasi.
Kris mengangguk, "Menjadi satu – satunya wanita di Phoenix yang tidak hanya menghukum seorang Mafia tapi juga para brandal dan kumpulan organisasi gelap di luar sana sebagai pembalasan dendamnya."
Keduanya terdiam selang beberapa menit setelahnya.
"Dia tidak punya pilihan lain selain bergabung dengan kami, bukan hanya untuk balas dendam tapi juga untuk kelangsungan hidupnya.. tidak ada tempat lain yang mungkin menerima dirinya bila bukan Phoenix—Ayah dan Ibumu yang membawanya bergabung dengan kami semua disini."
"Itu sebabnya dia marah karena Aku ingin membawa Baekhyun keluar dari circle ini?" Chanyeol mendengus kesal.
"Aku rasa bukan itu alasan utamanya." Kris membantu menjelaskan kemungkinan dari alasan kenapa Irene marah setelah mendengar keinginannya membawa Baekhyun keluar dari Red.
"Baekhyun didaftarkan oleh Ibumu sejak awal untuk masuk pada program Red, dengan alasan khusus yang kita tak tahu kenapa. Lalu kau menyetujuinya meskipun Yoora sudah memperingati segala konsekuensinya, gadis itu harus menjalankan hidupnya menjadi anggota Red karena sejak awal ia sudah terikat disini. Berbeda dengan Irene yang tidak didaftarkan atau bahkan berusaha dicari, ia ditemukan. Kau bisa memikirkan nasib dirinya bila keluargamu tidak menemukan dirinya? Baekhyun bisa memilih, hidup normal atau dengan Red, sementara Irene, hidup normal? Dia tidak memiliki hidup normal Chanyeol.. lalu bagaimana menurutmu bila memang hanya demi Baekhyun kau melenyapkan Phoenix dan juga Red? Seluruh Officer mungkin bisa kembali masuk ke Militer, tapi tidak dengan Irene."
"Kau mau meninggalkan semuanya hanya demi cintamu pada Baekhyun?"
Chanyeol kembali terdiam memandang ke arah Kris namun tatapannya kosong dengan pikirannya yang jauh berkelana menyelami isi kepalanya kembali berpikir mengenai apa yang harus ia lakukan, bukan hanya untuk dirinya dan juga Baekhyun, tapi untuk semuanya.
FOUR
"Hari ini aku berhasil menjinakkan bom!" Ucapan Baekhyun dengan nada memekik bahagia ketika ia tiba di kamar Chanyeol memeluk pria itu yang sudah menyambut dirinya.
"Wow.." ucap Chanyeol tak tahu harus bahagia atau merasa takut setelah mendengar gadis yang ia cintai begitu bahagia karena berhasil menjinakkan bom. "Aku kira ledakkan kecil tadi karenamu." Chanyeol membawa Baekhyun untuk duduk bersamanya di ranjang sembari bersandar nyaman.
Baekhyun menggeleng. "Nope, hari ini Aku berhasil menjinakkan bom itu, aku juga berhasil mencampur bahan kimia hingga bisa menjadi bom.. dan juga melelehkan brankas."
Chanyeol tersenyum lebar melihat saat ini Baekhyun tak lagi mengeluh kesulitan saat latihan atau pun kesal karena seluruh badannya sakit karena terlalu keras dalam berlatih fisik.
"Oh! Tadi aku bisa merangkai pistol seperti yang kau ajarkan waktu itu, aku menjadi orang yang tercepat tadi, Kyungsoo di nomor dua, tapi aku belum bisa menembak tepat sasaran." Baekhyun mengeluh memeluk pinggang Chanyeol lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu.
Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dan mencium pucuk kepala gadis itu untuk menghibur.
"Bagaimana harimu? Aku tidak melihat Chanyeol latihan bersama anggota yang lain?"
"Aku di markas, bekerja disana.. mencari informasi yang cukup penting."
"Eoh.." Baekhyun mengangguk tak mau bertanya lebih jauh.
Chanyeol memindahkan posisi tubuhnya untuk berbaring miring menghadap ke arah Baekhyun, masih memeluk gadis itu sementara Baekhyun masih terus bercerita tentang latihannya pada hari itu.
"... tadi aku mulai ikut kelas bersama Luhan dan Minseokkie, mereka bertanya apakah aku sudah siap atau belum, aku mengatakan belum, aku tidak tahu harus menjawab apa.. aku tidak tahu materi yang akan mereka ajarkan, lalu aku dibawa ke Library, mereka memberikan aku laptop untuk menonton video."
Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun berbicara kini turut mempertanyakkan video apa yang harus ditonton oleh gadis mungilnya, terlebih ketika Baekhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol untuk berbisik.
"Mereka menunjukkan koleksi film dewasa.." tawa Chanyeol pecah setelahnya sementara Baekhyun mengerutkan alisnya merasa bingung.
"Ish, jangan tertawa. Ini rahasia." Baekhyun menutup mulut Chanyeol agar pria itu tak lagi tertawa keras, takut bila semua orang tahu bahwa mereka berdua berada didalam kamar yang sama.
"Itu bukan koleksi mereka Baekhyunnie.. itu adalah materi pelajaranmu selanjutnya." Chanyeol memeluk Baekhyun lalu menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Baekhyun, bergelung manja pada gadis itu.
"Ingat, kalau mereka meminta mempraktekkannya, kau harus memberi tahuku soal itu."
"Ke—kenapa?"
Chanyeol tak menjawab setelahnya, ia terdiam cukup lama dan tetap setia mendengarkan Baekhyun bercerita mengenai latihannya, mengenai video yang baru saja ia lihat, mengenai desahan yang begitu aneh didengar oleh telingannya, mengenai mengapa pria yang ada di video itu mencium wanita disana dan membuat sang wanita berteriak.
Chanyeol ingin menjelaskan semuanya dan tertawa melihat betapa masih polosnya Baekhyun, namun ada hal lain yang memenuhi isi kepalanya dan tak bisa ia singkirkan bahkan untuk sesaat.
.
.
"Ada gerangan apa hingga Ace benar – benar memaksaku untuk bisa menemuimu secepatnya, disini." Jenderal Kim menghampiri Chanyeol yang tengah duduk di sebuah bar dimana menjadi tempat pertemuan mereka saat ini, saat tengah malam.
"Gracias Jenderal." Balas Chanyeol setelah Jenderal Kim duduk tepat disampingnya lalu memesan minuman untuk dirinya.
"Kau ingin aku menjadi atasanmu atau menjadi pamanmu saat ini?"
Chanyeol memainkan gelas minumnya, menyesap kemudian lalu menoleh ke arah Jenderal Kim kemudian.
"Aku rasa kau harus menjadi keduanya."
Kini giliran sang Jenderal yang mengangguk, menyambut minumannya yang baru saja diberikan oleh sang bartender dan lekas meminumnya.
"Baiklah, tentang apa itu."
"Aku tidak harus melakukan apa, dendamku mungkin sudah terbalas, untuk saat ini mengingat Sunyoung sudah berada di penjara militer—entah apa yang terjadi dengan anak buahnya kelak.." Chanyeol memulai menjelaskan segala resah di benaknya yang sudah terpendam selama tiga hari belakangan setelah pembicaraanya dengan Kris saat lalu.
"Lalu Aku ingin kembali hidup normal, menjalani hidup sebagai Park Chanyeol, begitu juga untuk Baekhyun, tapi bila aku melakukan itu semua, Phoenix dan Red akan terbengkalai begitu saja dan mungkin akan hancur, sementara kedua organisasi itu adalah peninggalan Ayah dan Ibuku.. dan entah bagaimana nasib semuanya bila aku menghancurkan keduanya."
Ucapanya Chanyeol yang begitu serius menarik perhatian Jenderal Kim sepenuhnya hingga pria yang terlihat jauh lebih tua dari Chanyeol tak lagi menyentuh gelas minumannya.
"Kalau aku hanya memberikan Baekhyun kehidupan normal, Aku tidak bisa berada bersamanya—dan aku tak mau. Aku cukup egois ingin selalu bersamanya.."
Jenderal Kim tersenyum sesaat lalu kembali menoleh untuk melihat ke arah Chanyeol. "Sebagai pengingat di awal, Phoenix bukan hanya kelompok organisasi Mafia yang sama seperti yang lain, Phoenix berbeda. Memiliki jaringan kuat dengan Militer Korea dan juga memiliki hubungan special dengan Red, dimana yang sudah kau ketahui, Red bekerja sama dengan Militer dan Badan Intelijen di seluruh negara. Cakupan dua organisasi yang dimiliki dan dirintis oleh Ayah dan Ibumu cukup luas dan sangat berpengaruh besar bukan hanya di Korea, tapi juga di negara lain."
"Aku bisa saja tidak peduli mengenai itu semua Paman."
Jenderal Kim mengangguk mengerti dilemma yang tengah dialami Chanyeol. "Tentu, kau bisa melakukan itu, masih ada Yoora yang bisa memimpin keduanya."
Dan kini Chanyeol tertarik mendengarkan kalimat selanjutnya.
"Kau bisa saja melepaskan semuanya setelah dendammu terbalas, memilih pada perasaan cintamu, meninggalkan semuanya. Itu bisa saja dan kau berhak melakukannya.. tapi itu adalah pemikiran anak remaja, pergi meninggalkan tanggung jawab besar yang diberikan oleh keluarganya."
Chanyeol cukup tertohok mendengar ucapan dari Pamannya saat itu.
"Dan aku yakin kau bukan anak remaja ingusan seperti itu bukan?"
Chanyeol menggeleng. "Aku bukan seperti itu, hanya saja aku ingin memberikan Baekhyun hidup lebih baik."
Jenderal Kim menyesap kembali minumannya, lalu kembali menoleh pada Chanyeol. "Aku yakin ada jalan lain yang bisa kau lakukan, bukan hanya untuk kebahagiaan Baekhyun, tapi juga untuk Yoora dan juga dirimu."
Chanyeol terpaku mendengarnya, semua orang yang ia ajak bicara mengenai hal ini mengatakan penolakan terhadap idenya dan selalu mengingatkan akan Phoenix dan Red yang tak bisa ia lepaskan begitu saja, semuanya hanya mengingat dan memandang organisasi peninggalan mendiang kedua orang tuanya.
Jenderal Kim pamit undur diri tak lama setelah ucapan sebelumnya dan Chanyeol pun tak mau menahannya lebih lama.
"Kau tahu, Ayahmu pernah membawa Ibumu kabur dari Korea kala itu, ia meninggalkan Phoenix sementara waktu, mereka menghilang cukup lama, tapi kemudian kembali, setelah dirimu lahir."
Chanyeol berbalik melihat ke arah Jenderal Kim yang melihat ke arahnya untuk mengucapkan kalimat itu dengan senyuman yang mengandung banyak arti. "Kau sangat mirip dengan Ayahmu, aku yakin kau sudah bisa mendapatkan jawabannya bukan?"
Chanyeol tak membalas, ia hanya memperhatikan sosok Pamannya melangkah meninggalkan bar itu hingga tertinggal dirinya seorang diri disana, masih duduk pada kursi di meja bar, menghabiskan minumannya sembari memikirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk sebuah keinginan dalam benaknya yang cukup sulit untuk diraih.
Tbc.
Terima kasih untuk yang sudah sabar menunggu chapter ini update, banyak juga yang kangen sama Four ya.. hoo aku juga :D
Semoga chapter ini ga membingungkan kalian, karena memang alur yang udah ada begitu.. dan semoga nyambung ya, maksud dan inti dari ceritanya. Kalau misalkan engga, tolong diberi tahu supaya aku koreksi.
Selamat membaca semoga terhibur, semangat yang harus belajar dan bekerja dari rumah, untuk yang masih harus bekerja di kantor dan menikmati perjalanan yang tidak mudah menuju kantornya, hati – hati, jaga kesehatan, jangan lupa minum vitamin, makan yang banyak, istirahat yang cukup, dan juga jangan lupa berdoa.
Be safe!
Love,
Viel.
