Chanyeol tak lagi membahas mengenai keinginannya untuk membawa Baekhyun keluar dari circle-nya saat ini. Ia bahkan tak membahas hasil pembicaraannya dengan Jenderal Kim meskipun Kris dan juga Irene sangat ingin tahu jawaban apa yang diberikan oleh Paman sekaligus Pejabat tertinggi di Militer itu. Chanyeol tetap bungkam dan mampu bersikap biasa saja dihadapan anak buahnya atau pun ketika melihat latihan – latihan yang tengah dilakukan oleh Anggotanya atau pun Red.

Sementar bagi Yoora yang tidak tahu mengenai , adiknya itu tetap bersikap menyebalkan dan bahkan lebih menyebalkan dibandingkan sebelumnya karena selalu membawa Baekhyun kabur disaat pelajaran 'Khusus Dewasa'. Larangan dan bahkan hukuman yang Yoora teriakkan berulang kali tidak mampu membuat adiknya takut, dan tetap membawa Baekhyun kabur dari kelasnya.

"Ini peringatan untukmu kesekian kalinya Park Chanyeol. Baekhyun harus ikut kelas itu." Yoora menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya, bertolak pinggang dihadapan adiknya dan juga dihadapan para Anggota Phoenix yang tengah berkumpul di ruangan kerja kelompok Mafia itu.

"Kalau kau ingin jadi pasangan uji coba untuk Baekhyun silahkan saja, jangan buat anggotaku kabur dari kewajibannya." Lanjut Yoora dan ucapannya itu dihadiahi gelak tawa kecil dari para anak buah adiknya.

"Dia masih 17 tahun.. belum dewasa." Chanyeol menjawab santai, perhatiannya bukan terarah pada kakaknya melainkan pada lembaran catatan yang ada ditangannya sedari tadi ia baca.

Terdengar dengusan kekesalan dari Yoora setelanya diikuti decakkan kesal. "Belum dewasa eoh? Lalu kenapa kau cumbui dia setiap malam?!"

Mendengar ucapan itu Chanyeol memejamkan matanya, entah karena merasa bersalah atau karena malu mendengar hal yang seharusnya menjadi privasi dirinya dan juga Baekhyun. Pandangan matanya kini baru berbalas tatap dengan Yoora, mengenyampingkan lembaran di tangannya lalu beranjak dari posisi duduknya, memberikan perintah pada seluruh anggota keluar dari ruangan kerjanya, meninggalkan dirinya dan Yoora untuk membahas permasalahan antara kakak dan adik itu.

"Ucapanku benar. Jangan membantah!" Yoora kembali mempertegas bahkan sebelum Chanyeol berucap.

"Aku tidak mencumbui Baekhyun tiap malam Park Yoora.."

"Tidak? Lalu kau sebut apa itu bercak merah di badannya."

"Hanya sesekali.. lagi pula kulit Baekhyun itu sensitive.."

Yoora mencibir lalu memukul badan adiknya dengan cukup keras hingga Chanyeol merintih kesakitan.

"Mesum." Decaknya kesal lalu kembali memberikan pukulan lainnya. "Kenapa Baekhyun tidak melawan sih.. kau buat dia mabuk setiap malam ya?" Yoora mengungkapkan pertanyaan yang selalu berada di dalam hatinya setelah melihat bagaimana kondisi badan Baekhyun setiap paginya.

Chanyeol menggelengkan kepala lalu terkikik seorang diri.

"Dia anggota Red Chanyeol, aku ingatkan—"

"Untuk Kesekian kalinya, Yes, I know Lady.." potong Chanyeol pada ucapan Yoora yang sudah sangat sering ia dengar setiap mereka membicarakan masalah dirinya dan juga Baekhyun.

"Sudah tahu tetapi terus dilanggar eoh? Apakah itu sudah menjadi sifat dasar seorang Father? Selalu melanggar peraturan yang ada?"

Chanyeol mengangguk, mengusap kedua lengan Yoora lalu memberikan senyuman lebarnya yang terkesan menjijikkan untuk dilihat oleh sang kakak.

"Ck." Lagi Yoora berdecak kesal. "Setidaknya patuhi peraturannya Chanyeol, kau yang membawa dia masuk, seharusnya kau bisa mematuhi peraturan itu."

Selang beberapa detik setelahnya Yoora bisa melihat perubahan raut wajah adiknya, setiap pembicaraan hal ini ia selalu mendapati raut murung penuh kesedihan dan penyesalan dari sang adik, meskipun Yoora masih tak begitu paham alasan apa yang membuat adiknya seperti itu.

"Aku tahu." Jawab Chanyeol. "Jadi jangan larang aku untuk berada didekatnya sekarang.. hanya itu yang bisa aku lakukan." Lirih suara Chanyeol terdengar dan hal itu cukup untuk membuat Yoora merasa bersalah setelahnya.

Kalimat yang diucapkan adiknya seakan – akan membuat dirinya menjadi sosok paling jahat karena menjauhkan dua orang yang baru saja mengenal apa arti dari kata cinta.

"Aku tahu kau menyayanginya.." Yoora kembali berucap.

"Kau mencintainya?" tanyanya kembali.

Di satu sisi, Chanyeol masih berada pada posisinya tetap mengunci mulutnya, tak ada jawaban yang ia ucapkan meskipun Yoora tengah bertanya padanya.

"Jangan lakukan apa yang Ayah lakukan Chanyeol-ah.. mungkin kau piker karena Sunyoung sudah berada di penjara dan berada dipengawasan Red dan Militer.. kita bisa beranggapan tidak ada musuh lainnya yang mengancam.. kehidupan kita sudah berbeda Chanyeol.. kau yang mengatakannya diawal.. kehidupan Baekhyun, kita, lingkungan kita—"

"Aku tahu." Akhirnya Chanyeol bersuara, memotong kalimat Yoora dengan singkat namun penuh penekanan.

"Kau selalu menjawab tahu, paham, mengerti tapi tetap melakukan hal yang dilarang!" kali ini suara Yoora terdengar lebih tinggi. "Kita memiliki banyak musuh Chanyeol! Bukan hanya Sunyoung.. banyak mafia – mafia di luar sana yang menginginkan—"

Belum sempat Yoora mengucapkan segala keresahan dalam hatinya, tangan Chanyeol lebih dulu menariknya. Chanyeol menggenggam kedua tangannya dan mereka saling berhadapan satu sama lain.

"Aku tahu kakaku sayang.." Chanyeol membalas dengan suara lembutnya, ingin menyampaikan rasa hormat dan sayang pada sosok sang kakak yang jelas terlihat begitu khawatir akan banyak hal yang menjadi bebannya.

"Aku tahu siapa musuh kita.. siapa teman kita.. siapa sahabat kita.. dan siapa yang bisa menjamin keadaan kita meskipun ribuan musuh akan menghancurkan Phoenix.. aku tahu." Chanyeol mengusap pipi Yoora dengan kedua tangannya, wajahnya sedikit menunduk agar mereka berdua bisa saling bertatapan.

"Seandainya aku ingin membuat Baekhyun memiliki kehidupan normal seperti dulu.. Aku juga ingin dirimu memilikinya—"

"Chanyeol.." Yoora hendak memotong namun adiknya lebih dulu menggelengkan kepala tak mengijinkan kakaknya berucap lebih panjang.

"Tidak akan mudah.. aku tahu.."

"A-aku tidak bisa—Red—"

"Aku tahu.." lagi Chanyeol mengangguk. "Aku bukan anak kecil ingusan yang hanya bisa merengek karena mainan yang kau rebut Park Yoora."

Yoora tergelak tertawa kecil lalu memukul badan Chanyeol untuk kedua kalinya namun kali ini lebih pelan.

"Kau tetap saja anak nakal."

Kali ini Chanyeol mengangguk. "Aku rasa itu sudah mendarah daging.." balasnya dengan kedipan mata dan setelahnya mereka berdua kembali tertawa bersama.

"Kemarilah.." Chanyeol membuka tangannya dan menyambut Yoora dalam dekapannya, mencium pucuk kepala kakaknya dan juga memberikan usapan di punggung.

"Aku tahu apa yang harus aku lakukan.. tidak perlu mengingatkanku berulang kali.. aku bosan mendengarnya.. itu membuat kepalaku sakit di waktu yang sama."

"Itu karena dirimu keras kepala dan susah diatur."

Chanyeol tertawa setelahnya diikuti dengan ocehan Yoora yang kembali mengguruinya meskipun sudah berulang kali Chanyeol katakan ia mengerti dengan semuanya.

Meskipun ada satu beban yang tengah dipikirkan saat ini.


FOUR


"Aku belum siap untuk ikut ujian.." Baekhyun berucap mengeluh lesu dihadapan Chanyeol meskipun pria itu menghampirinya dengan membawa satu kotak susu strawberry dan juga sepotong kue manis.

"Aku bahkan tidak mampu memukul lawan dengan keras.. aku tidak tahu caranya berhapadan dengan musuh.. aku tidak tahu bagaimana harus menghindar pukulan yang dilayangkan.. aku tidak tahu caranya bagaimana menghindari musuh.. aish ini menyebalkan! Aku tidak bisa apa – apa!"

Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan mengusak kepala Baekhyun dengan tersenyum lebar, merasa gemas melihat tingkah Baekhyun disampingnya.

"Kita pernah berlatih bersama bukan? Kau sudah lupa dengan apa yang sudah aku ajarkan?" tanya Chanyeol saat dirinya sudah mengingat dirinya pernah mengajari Baekhyun untuk melawan dan berlatih beberapa pukulan atau pun tendangan untuk melawan musuh.

"Ini berbeda Chanyeol.. saat itu kita berlatih, bukan ujian." Gerutu Baekhyun lalu menyeruput susu ditangannya hingga terdengar suara dari sedotan dan juga cairan susu yang sudah habis didalamnya.

"Aaaahhh! Sudahlah, sudah pasti aku gagal—auw!"

Chanyeol memukul kepala Baekhyun dengan ponsel ditangannya. "Kalau kau gagal, kau harus mengulang semua latihan yang pernah kau dapati."

"Eoohh? Aku tidak dikeluarkan?"

Chanyeol menggeleng. "Kalau kau gagal, kau harus ikut latihan lagi.. mulai dari awal." Jelas pria itu menyampaikan apa yang sempat ia dengar dari Yoora dan juga Luhan saat kedua wanita itu membicarakan mengenai ujian yang akan dilakukan bagi anggota baru rekrutan Red.

"A-aku kira aku akan dikeluarkan.." Baekhyun kembali mengulang isi pemikiran di kepalanya.

Chanyeol yang mendengar itu kemudian melirik ke arah gadis itu yang terlihat termenung berpikir.

"Ba—bagaimana kalau kau dikeluarkan?"

"Hm?" Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol, menggigit bibir dan tetap memperlihatkan raut wajahnya yang tengah berpikir mendengar pertanyaan itu.

"A-a—aku tidak mau dikeluarkan.." Baekhyun tersenyum lalu menggeleng tak percaya. "Aku sudah nyaman dengan semuanya.. bisa bertemu denganmu setiap saat, aku memiliki teman disini.. tidak perlu ketakutan karena adanya Sunyoung.. dan bahkan sosok lain diriku sudah lama tidak muncul.. jadi aku piker.. lebih baik aku disini, bersama Red, menjadi anggota Red."

Baekhyun terlihat bahagia ketika memberikan jawaban dari pertanyaan yang diucapkan Chanyeol, ucapan penuh nada bahagia dengan binar matanya yang cukup menguatkan jawaban itu adalah jawaban dari lubuk hatinya. Lain halnya dengan Chanyeol, pria itu tersenyum kecil, kembali merenung memikirkan hal lainnya. Berpikir jauh tentang bagaimana hidupnya, hidup Baekhyun, Organisasi peninggalan kedua orang tuanya bila keegoisan dari dalam hatinya terlalu kuat menginginkan apa yang diinginkan hatinya—Hidup normal bersama Baekhyun.

Chanyeol menegak minumannya dari botol yang sedari tadi ia pegang lalu kembali berucap pada Baekhyun yang masih terlihat termenung dengan senyuman di wajahnya yang belum juga pudar.

"Baiklah! Kalau begitu kau tidak boleh dikeluarkan." Lantas Chanyeol bangkit berdiri dari posisi duduknya, mengarahkan tangannya ke arah Baekhyun. "Ayo.." juluran tangannya menunggu untuk disambut oleh Baekhyun.

Sementara gadis itu membelakkan matanya tak percaya dan tak memahami ajakan uluran tangan yang dilakukan Chanyeol padanya.

"Ayo, latihan denganku, supaya kau tidak gagal pada ujianmu besok."

"Heh?" sahut Baekhyun masih terkejut dengan apa yang ia dengar. Setelahnya ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya, menyambut uluran tangan Chanyeol dan mereka kemudian bersiap memulai latihan.

Chanyeol kembali mengarahkan apa yang harus dilakukan Baekhyun, menyiapkan hal – hal apa saja yang harus diperhatikan lalu mulai menjelaskan hal apa saja yang mungkin terjadi di ujian latihannya besok.

"Intinya.. kau tidak boleh tewas disana—ah! Maksudku kau tidak boleh tewas di ujian itu.. dianggap tewas.." Chanyeol tergagap tak ingin Baekhyun memikirkan hal yang menakutkan dan mendapatkan gambaran latihan ujiannya semenakutkan itu.

"Araeyoo.." gerak bibir Baekhyun yang berucap dengan gemas berujung membuat Chanyeol memandangi gadis itu dalam diam, terpesona pada wajah gadis itu yang terlihat begitu polos namun memancarkan kadar manis yang luar biasa hingga membuat Chanyeol terbuai lemah tak berdaya.

"Apa yang harus aku lakukan, Big Boss.." Chanyeol tersontak mendengar panggilan itu tertuju untuk dirinya dan berasal dari mulut Baekhyun, gadis yang awalnya begitu takut padanya tapi kini dapat bergelayut manja dan bahkan menurut padanya.

"Kau tahu kau begitu menggemaskan bukan?" dan yang diberikan pertanyaan itu mengangguk, tetap bertingkah manis dan juga menggoda, sisi yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun, sisi yang Baekhyun perlihatkan hanya untuk Chanyeol.

"Aku tahu.. kau mengatakan itu setiap malam." Kini Baekhyun memeluk pinggang pria itu, mendongakkan wajahnya, memperlihatkan senyumannya. "Ayo latihaann.." rengeknya dan Chanyeol kembali dibuat tidak percaya karena gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, mengusakkan wajahnya didada Chanyeol dan terkikik seorang diri mendengar apa yang baru saja ia ucapkan dari mulutnya.

"Daebak.. kau akan gagal pada ujianmu kalau kau memeluk musuhmu seperti ini." Chanyeol ikut tertawa tapi ia pun tak ada keinginan untuk menjauhkan Baekhyun dari pelukannya, ia malah membalas dan membawa tubuh Baekhyun lebih melekat pada dirinya.

"Aku mau memelukmu sedari tadi.. jadi biarkan dulu seperti ini.." lagi – lagi Chanyeol menggeleng tak percaya pada sikap Baekhyun padanya saat ini. Biasanya dirinya lah yang memeluk gadis itu, biasanya dirinya yang bersikap manja.

"A-aku mencintaimu.." satu kalimat itu diucapkan Chanyeol dengan penuh keyakinan, tidak terburu – buru, tidak juga terdengar ragu. Bernada lembut namun tersirat arti yang sesungguhnya seperti apa yang ia rasakan. Lain halnya dengan debaran jantungnya yang berdebar cepat, berusaha untuk ia tutupi namun nyatanya Baekhyun bisa merasakannya.

Baekhyun tidak menjawab dengan balasan ucapan, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya lalu mengusakkan wajahnya untuk bersembunyi dibalik dada pria yang baru saja menyatakan cinta padanya.

Chanyeol sempat mengeluhkan kenapa Baekhyun tidak menjawab pernyataannya, namun gadis itu malah melepas pelukannya lalu menghindar dengan alasan harus latihan. Chanyeol bahkan berteriak dan menakuti gadis itu, yang mana membuat Baekhyun berlari cepat menjauh dan menghindar darinya.

Latihan yang mereka lakukan tidak dapat dikatakan sebagai latihan, melainkan permainan bersembunyi bila dilihat dari arah tayangan cctv yang saat ini disaksikan oleh Yoora, Kris, Irene dan juga Minseok.

Mereka tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Chanyeol dan Baekhyun dari tayangan itu, tapi mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana tingkah kedua orang itu yang tetap saling mengejar satu sama lain, bagaimana Chanyeol menggendong tubuh kecil Baekhyun dengan mudahnya diatas pundak, bagaimana Chanyeol mencium gadis itu setelahnya, semua itu bisa dilihat oleh keempat orang tersebut.

"Mereka nampak bahagia.." Minseok satu – satunya yang bersuara setelah tayangan cctv dihadapannya tak lagi memperlihatkan sosok Chanyeol dan Baekhyun.

Kris dan Irene tak berkomentar begitu juga dengan Yoora yang memalingkan wajahnya pada arah lain sembari mengigit bagian kuku jarinya.

"B—bisa tinggalkan aku.." tanpa memandang ketiganya, Yoora berucap memohon waktu untuk dirinya dan mereka semua mematuhi, meninggalkan Yoora seorang diri di ruangan kerjanya.


FOUR


"Aku melihat dua orang mulai memasuki gerbang utara.."

"Dua orang?"

"Yes, Sherry dan Wendy terlihat bersama berlari mendekati gerbang.."

"Aku melihat Cory seorang diri disini.. mereka menyebar dan menyelinap untuk menerobos pintu utama secara bersama – sama.."

"Semuanya tetap waspada.."

"Roger that!"

"Little Bee terlihat.. tidak ada penjagaan dan dia mulai lengah, boleh aku menyerangnya Boss?"

Cukup lama tidak terdengar sahutan yang menjawab pertanyaan dari Jongin saat itu.

"Boss?" ia bahkan kembali bertanya.

"Fokus ke latihan ujiannya Kim Jongin! Ini cukup penting untuk mereka.. jadi kalau kau melihat anggota Red, siapa pun itu.. segera lakukan penyerangan." Suara Yoora terdengar menginterupsi komunikasi antara angota Phoenix dan apa yang dikatakannya cukup membuat petinggi organisasi mafia itu berdecak kesal lalu beranjak bangun untuk melihat lebih dekat pada layar lebar di ruangan kerja Phoenix.

"Kalau Baekhyun tidak pindah dari sana, Jongin akan menghabisinya, dia akan kalah.." ucap Kris yang kini ikut menemani Chanyeol berdiri menghadap ke layar memperhatikan kegiatan latihan ujian yang dilakukan Red.

Latihan ujian yang diperintahkan Yoora bagi anggota baru Red. Kakak Chanyeol itu bahkan meminta semua anggota Phoenix untuk membantu menjadi pihak musuh dan harus memberikan penyerangan terhadap seluruh anggota Red yang mengikuti ujian tersebut.

Memanfaatkan sekeliing sekitar Safety House yang memang sudah dirancang dapat digunakkan sebagai tempat latihan para anggota Phoenix dan Red menguntungkan mereka dan membuat latihan ujian ini seperti kejadian penyerangan yang sebenarnya.

Chanyeol tidak menyahut menjawab, pandangan matanya masih terfokus pada layar yang memperlihatkan situasi dari sudut – sudut tempat ujian itu. Baekhyun berada dibalik tembok dan terlihat berdiri diam disana, sementara Jongin sudah bergerak secara cepat namun tetap waspada untuk memastikan tidak ada anggota Red yang berada di dekat Baekhyun.

"Cherry out!"

Cherry adalah nama lain dari Anggota baru Red dan Chanyeol tidak tahu siapa yang memakai nama itu, yang ia ingat hanya panggilan untuk Baekhyun, hanya Baekhyun.

"Cherry adalah Yeri.." dan Kris menjadi satu – satunya informasi yang memberi tahu siapa – siapa saja sosok pemilik alias nama dari Anggota Red.

"Cherry?" Chanyeol kini bertanya dengan wajahnya yang tak suka mendengar nama itu disebutkan dan dimiliki oleh sosok gadis bernama Yeri, entah kenapa.

"Nama alias Red biasanya diambil dari nama makanan manis, buah atau pun minuman cocktail.." kali ini giliran Irene yang menjelaskan lalu memberikan satu lembar daftar nama seluruh Anggota Red termasuk nama Yoora disana.

"Dia tetap dipanggil Lady? Tidak ada panggilan khusus lainnya?"

"Pemimpin Red tetap menggunakkan nama Lady untuk kode namanya.."

"Minseok, X?"

"Jangan tanya mengapa.. aku pun tidak tahu.." Irene kembali menjawab lalu menunjuk satu kolom nama yang belum terisi dimana itu adalah kolom nama untuk Baekhyun. "Pikirkan panggilan nama untuk Baekhyun.. Yoora tidak mengijinkan nama Little Bee, atau pun Naughty Bee untuk digunakkan sebagai panggilan namanya. Cukup satu suku kata."

"B?" Kris memberi ide lalu Irene menggeleng.

"Yoora menolak panggilan itu."

"A-aku kehilangan Little B." suara Jongin yang memberi tahukan hal yang dianggap mustahil menarik perhatian ketiganya. Chanyeol lantas meminta Ten memutar ulang tayangan kamera yang ada dilokasi tempat Baekhyun berada sebelumnya sementara layar yang lain juga memperlihatkan bagaimana gadis itu berusaha berlari cepat untuk mencari tempat persembunyian lainnya dan menghindar dari beberapa tembakan yang dilayangkan oleh Anggota Phoenix yang berada disekitarnya.

"Dia sudah berada didalam."

"Larinya lumayan cepat.."

Chanyeol tidak mengindahkan komentar dari anak buahnya, dirinya dan Kris terlalu fokus melihat bagaimana Jongin yang sebelumnya sudah berada begitu dekat dengan posisi Jongin bisa tertipu karena gadis yang selalu dianggap polos itu berhasil mengelabuinya dengan membuat sumber suara pada arah sudut lainnya sebelum ia kemudian berpindah cepat mencari tempat persembunyian lain.

"Well.. dia cukup lincah." Irene ikut berkomentar.

Kris terbatuk sesaat lalu kembali melihat ke arah layar guna mengalihkan pandangan Irene yang memperhatikan dirinya.

"Berapa anggota Red yang tersisa?" pertanyaan Chanyeol membuat Irene kembali fokus pada data yang ada di tangannya lalu berkomunikasi pada Luhan.

"Tersisa Sherry, Cory dan Baekhyun.."

Chanyeol membaca daftar alias nama yang ada di tangannya. Sherry dan Cory, itu adalah nama milik Seulgi dan juga Kyungsoo. Dan kedua orang itu memang sudah diperkirakan akan berhasil pada latihan ujian hari pertama ini mengingat sesi training latihan keduanya selalu memuaskan, Kyungsoo diketahui pernah mendapatkan pelatihan Militer, sementara Seulgi, ayahnya dulu bekerja di Kepolisian dan tentu dia sudah mendapatkan pelatihan yang sama seperti yang didapat Kyungsoo.

Tapi selain mereka berdua, Baekhyun masih bertahan dalam latihan ujian ini dan hal itu cukup membuat para anggota Phoenix yang masih terus berkomentar di saluran komunikasi mereka.

"Dia benar – benar bisa menghindar?"

"Tadi aku melihat dia dibalik dinding dihapadanku tapi setelahnya dia berlari begitu cepat menghindar tembakanku!"

"Boss, tembakan Willis meleset.."

Mendengar hal itu semua anggota Phoenix yang ada diruangan kerja membelakkan matanya dan bahkan saling memandang terhadap satu sama lain, mereka tahu, seorang Willis—Sehun, tidak pernah melesat untuk menembak seseorang.

"Willis! Kau tidak melihatnya dari atas?"

"Aku sempat membidiknya, tapi dia sudah lebih dulu lari.."

Chanyeol tersenyum mendengar hal itu meskipun sesungguhya dia juga tidak percaya ternyata selama ini apa yang diajarkan padanya untuk Baekhyun diidengar dan dilakukan oleh gadis itu.

"Phoenix, hanya itu kemampuan kalian? Willis, kau bahkan tidak bisa menembak tepat sasaran? Ya! Aku ingatkan sekali lagi, walau pun kalian melemah seperti ini dan membiarkan anak buahku berhasil pada latihannya, kalian tetap tidak akan mendaptkan ijin untuk berkencan walau satu malam hanya karena membantu memenangkan para anggota baru ini. Tertutama untukmu Sehun!"

"Ya! Aish.." Suara Sehun terdengar mengumpat kesal berbeda dengan suara anggota Phoenix lainnya yang tertawa mendengar sahutan dari pria itu. Sama halnya seperti di ruangan kerja Phoenix, para Intercom yang sedari tadi mengawasi pergerakan anggota lainnya melalui layar CCTV ikut tertawa mendengar percakapan antara Yoora dan Sehun.

Kejadian langka bagi seorang Sehun yang menjadi sniper andalan terkenal di Phoenix gagal menembak sasarannya.

"Phoenix." Akhirnya Chanyeol bersuara di sambungan komunikasinya. "Lakukan dengan benar, saat ini kita harus perlihatkan pada Lady, bagaimana Phoenix bekerja." Ucapnya dengan nada serius meskipun ada seringai diwajahnya yang hanya bisa dilihat oleh Kris, Irene dan juga para Officer lainnya yang berada didekatnya.

"Roger that Boss!" serentak seluruh anggota yang bertugas membantu berjalannya latihan ujian untuk anggota Red menjawab perintahnya.

Lantas Chanyeol mematikan sambungan komunikasinya lalu kembali tersenyum kecil sembari menuliskan nama yang ia berikan agar dapat digunakkan untuk menjadi alias nama Baekhyun setelahnya.

Candy

Tangannya menyerahkan secarik kertas itu pada Irene dan saat wanita itu melihat apa yang tertulis disana, raut wajahnya berubah seketika.

"Candy?" tanya Irene mempertanyakkan.

"Eoh."

"Kenapa harus Candy?" Irene bertanya lagi. Kris bahkan ikut serta memeriksa tulisan tangan Chanyeol pada kertas itu untuk membenarkan apa yang ia dengar.

"Karena dia manis." Jawaban yang diberikan oleh Chanyeol membuat Irene dan Kris tersedak pada waktu yang bersamaan sementara beberapa anggota lainnya perlahan – lahan meninggalkan ruangan kerja, mereka pun ada yang tersedak namun ada juga yang tertawa kecil setelah mendengar alasan yang Chanyeol berikan.

"Sampaikan itu pada Lady." Chanyeol menunjuk Irene lalu melangkah keluar seorang diri.

Irene tak lagi menyahut atau melayangkan protes melanjutkan masalah pemberian nama dan alasannya, hanya saja matanya tetap tertuju pada penampilan pria itu, mengenakkan topi hitam, kaos hitam dan juga mantel panjang berwarna senada. Matanya tetap tertuju pada pintu dimana baru saja Chanyeol tutup dan kemudian melirik ke arah Kris disampingnya yang juga terlihat biasa saja.

"K-kau tahu apa yang dia rencanakan?" tanya wanita itu dengan nada memaksa dan Kris membalas dengan gelengan kepala.

"Tidak mungkin kau tidak tahu dengan rencananya Ace." Irene memanggil sebutan nama pria itu lalu melipat kedua lengan menuntut sebuah jawaban dari rencana yang sudah direncanakan oleh sang Father yang tak ia ketahui.

"D—dia tidak memberi tahuku detailnya.." Kris mulai memberikan penjelasan. "Father menjelaskan langsung pada para Officer setelah Lady meminta kita membantunya untuk ujian ini."

"Dan.." kembali Irene menuntut jawaban.

"Intinya.. Chanyeol akan menculik Baekhyun.."

"WHAT!"

Tbc

Dikit gpp ya.. yang penting manis.

Mumpung puasa kan harus berbuka dengan yang manis :p