"Ini gila. Benar - benar gila." suara Irene yang menggerutu kesal dan juga berdecak sebal terus terdengar semenjak perjalanan mereka dari Safety house hingga kini mereka sudah mendarat di Negara Jepang. Lebih tepatnya, mereka mendatangi Negeri Sakura ini hanya untuk singgah pada bangunan Gereja Tua yang menjadi tempat pemberkatan pernikahan dari Chanyeol dan juga Baekhyun.

Ya, Chanyeol dan Baekhyun. Mereka akan menikah saat ini. Rencana pernikahan yang tidak pernah terpikir oleh Kris dan Irene akan diucapkan oleh Chanyeol. Penculikan Baekhyun yang direncanakan oleh Chanyeol menurut Irene sudah termasuk hal gila baginya, dan kini, mereka akan menyaksikan sebuah pernikahan dari Sang Mafioso dengan gadis yang tak mana sudah resmi menjadi salah satu dari anggota Red. Kelompok Anti - Mafia.

"Kau sudah mengatakan hal itu berulang kali, tapi ini ide Chanyeol, ide dari seorang Father of Phoenix.. apa yang kau harapkan? Melarangnya?"

"Bukankah kita punya wewenang untuk memberikan pendapat?" badannya berbalik dengan cepat, raut wajah khawatir dan panik nampak jelas tercetak di wajahnya dan Kris bisa melihatnya dengan jelas sedari tadi.

"Dia punya alasan." ucap pria itu, mengangguk dengan maksud memberikan keyakinan pada dirinya sendiri.

"Alasan? Alasan apa yang tepat untuk menjelaskan keadaan saat ini Ace?!" Wanita dihadapannya tetap berusaha menyampaikan luapan emosi dari dalam dirinya. "Pertama, dia menculik anggota Red."

"Kau lupa? Anggota Red yang kau maksud adalah kekasihnya." Kris menjawab langsung

"Ha!" Dan Irene membalasnya dengan suara tidak percaya lalu menggeleng, mengusap wajahnya kasar dan terus bergerak gelisah, ke kanan dan ke kiri berulang kali. "Kedua, bagaimana bisa dia menikah dan bahkan tidak meminta restu pada Kakak dan juga Paman-nya?"

"Dia sudah meminta restu dari Pamannya, bahkan dia melamar Baekhyun tepat di makam kedua orangtua mereka." Kris memberikan jawaban lagi, memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam, setelah kembali menatap Irene dengan pandangan mata lelah untuk memberikan jawaban pertanyaan - pertanyaan yang akan dilontarkan oleh wanita itu.

"Yoora tidak akan mengijinkan kalau Chanyeol meminta restu dihadapannya.. lagipula, Baekhyun tidak menolak. Kau tidak melihat senyum manis gadis itu setelah Chanyeol melamarnya?"

Irene menggeleng, masih tidak percaya dan bisa menerima rentetan kejadian yang terjadi dalam satu hari ini.

Chanyeol menculik Baekhyun begitu saja, membawa gadis itu berkunjung ke makam kedua orangtuanya dengan maksud melamar gadis itu, lalu berlanjut membawa gadis itu ke Jepang dimana mereka berdua akan melakukan pemberkatan pernikahan.

"Kita sudah berjanji akan terus melindunginya dan mengikuti apapun perintahnya, ingat?"

Irene akhirnya memutuskan untuk duduk pada sofa disamping Kris, menghela nafas dengan begitu beratnya dan mengunci mulutnya untuk beberapa saat. Tak terlihat dari dirinya akan kembali melanjutkan pembicaraan mengenai rencana gila yang dimiliki oleh Chanyeol.

"Apapun yang ia ingin lakukan, setiap perintah dan keputusannya, ingatlah janji yang sudah kita buat dihadapan mendiang Ayahnya saat itu. Percaya penuh padanya."

Yang dikatakan oleh Kris cukup membuat dirinya kembali mengingat janji yang sudah ia dan Kris buat kala itu. Mendiang Ayah Chanyeol memang tidak pernah memaksakan dan memberikan perintah mutlak untuk mengawasi dan juga melindungi kedua anaknya, hanya saja beliau selalu memohon agar apapun yang terjadi, tetap percaya pada kedua anaknya.

"Darah memang lebih kental daripada air." Irene bermonolog seorang diri dengan suara lirihnya, tapi Kris bisa mendengar hal itu dan turut menyunggikan sebuah senyuman persetujuan.

"Maaf, Pengantin wanita sudah selesai dirias.." salah satu pekerja yang membantu mempersiapkan pernikahan yang mendadak ini menghampiri keduanya, Irene yang menjawab lebih dulu bersamaan dengan dirinya yang bangkit berdiri lalu mengikuti langkah pekerja itu yang akan membawanya menyusul dimana Baekhyun berada.


FOUR


"Ketika Pamanmu mengatakan keinginanmu untuk menikah dalam waktu dekat, aku beranggapan itu akan terjadi dalam 3 sampai 6 bulan mendatang, bukan dalam kurun waktu beberapa minggu seperti ini."

"Thank you Mr. Choi, sudah menyempatkan menjadi saksi pernikahanku." Chanyeol menerima sambutan jabatan tangan dari Mr. Choi lalu memeluk pria itu dengan begitu erat karena bagaimana pun juga pria yang dulu biasa ia panggil dengan Paman Siwon adalah kerabat dekat mendiang kedua orangtuanya.

"Saat Junmyeon tidak bisa datang menemanimu, aku akan dengan senang hati menggantikkannya, lagi pula.. ada bisnis yang akan kita bicarakan bukan?"

Chanyeol mengangguk. "Tentu saja." dan dengan jawaban itu, Chanyeol mempersilahkan Pamannya duduk pada sofa didalam ruang tunggunya lalu memanggil Kris untuk ikut serta melanjutkan pembicaraan bisnis mereka.

"Para Fathers sudah mendengar mengenai kabar Sunyoung.. rencanamu bisa dikatakan sangat briliant! Aku juga sudah membicarakan mengenai perjanjian yang kau tawarkan.." Setelah itu Tuan Choi menarik keluar cerutu dari dalam saku jasnya, menawarkan pada Chanyeol dan juga Kris, namun kedua pria itu menolak dengan halus.

"Kau belum memberitahuku harga kepala Sunyoung." sahut Chanyeol menuangkan botol whiskey pada tiga gelas dihadapannya lalu memberikannya pada Siwon dan juga Kris. "Aku butuh harga yang pantas."

Masing - masing dari tangan mereka mengambil satu per satu gelas itu lalu melakukan toast sebelum cairan alkohol itu mereka tenggak bersamaan.

"Kau akan tertarik setelah mendengar apa yang ditawarkan oleh para Fathers di Hong Kong."

Chanyeol dan Kris menyimak, menunggu kelanjutan kalimat lainnya.

"Sunyoung pernah menawarkan adiknya sebagai bayaran atas bantuan yang dilakukan oleh salah satu Father yang cukup disegani di Hong Kong, tapi dia berhasil menyembunyikan adiknya dengan alasan sang Adik diculik dan juga menderita kesakitan yang mengharuskannya berada di rumah sakit. Dan sebelum menunggu adiknya sembuh, Pimpinan Mafia itu sudah lebih dulu meninggal, tapi tentu saja.. dia menuntut penerusnya untuk menagih hutangnya."

"Jadi, kepala Sunyoung tidak ada harganya?"

Siwon menggeleng, menggerakkan telunjuknya pula. "Harga kepala Sunyoung akan sangat lebih berharga bila kau juga mendapatkan kepala adiknya." tangan pria itu bergerak mengeluarkan satu amplop cokelat dari balik jasnya yang kemudian diberikan pada Kris.

"Triad menginginkan Seon Young, dalam keadaan hidup." lanjut Siwon.

Kris yang sempat mengamati foto dari amplop cokelat itu lantas memberikannya pada Chanyeol disampingnya.

"Seon Young? Mereka kembar atau apa?" decaknya sembari menggelengkan kepala mendengar nama yang terdengar samar teramat mirip.

"Sunyoung rela memberikan apapun untuk adiknya, dialah yang menyebabkan Sunyoung masuk dalam dunia mafia, sebelumnya ia memiliki sejarah singkat dengan beberapa Fathers sebelum kemudian berurusan dengan keluargamu dan memiliki ambisi memperluas peredaran narkoba dan persenjataan dari Rusia. Semua karena uang dan kekuasaan yang begitu menggiurkan baginya."

"Jadi, mereka akan menyetujui perjanjian damai yang aku perintahkan asalkan aku memberikan dua kepala wanita ini."

Siwon mengangguk.

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan sempat memijat pangkal hidungnya.

"Kau tahu perjanjian yang diberikan ini mengikat semua kelompok Mafia untuk berada dibawah kendali Phoenix bukan?"

Kali ini Chanyeol menyeringai, "Dan kalian semua akan membusuk di penjara bila tidak ada Phoenix, Aku ingin mempertegas kembali untuk apa Phoenix harus berada diatas mereka, jangan pernah meremehkanku."

Kris yang awalnya tidak mengerti arah pembicaraan dari kedua pemimpin Mafia yang berbeda saat ini barulah mengerti setelah mendengar ucapan Chanyeol. Mengapa Chanyeol meminta dirinya untuk menemui satu per satu pemimpin Mafia di seluruh dunia dan membawa sebuah perjanjian untuk damai. Mengapa Chanyeol bersikeras menahan diri untuk tidak menembak mati Sunyoung di malam ia menangkapnya, Mengapa Chanyeol melibatkan Red untuk menahan Sunyoung di penjara Militer Korea. Chanyeol memperhatikan dan mempelajari apapun yang pernah dilakukan oleh mendiang Ayahnya. Chanyeol akan membuat Phoenix kembali berada pada posisi tertinggi jaringan Mafia dan tak bisa disentuh sedikit pun dan oleh siapa pun.

"Kau harus datang pada pertemuan itu, hanya itu cara untuk menyakinkan mereka untuk menandatangani perjanjian berdarah itu."

Senyum angkuh dan tatapan tajam milik Chanyeol masih melekat jelas di wajahnya dan Kris tahu, pria itu memegang sebuah rencana yang tidak bisa ia perkirakan.

"Aku akan datang, tentu saja."

"Bagus." Siwon tersenyum lega.

"Tapi tidak sebagai seorang pemimpin Phoenix.." dan mulut Chanyeol kembali berucap.

"Bukankah aku harus berada dibalik selimut untuk melihat jelas mana musuh - musuhku?"

.

.

Matanya masih tertuju pada pantulan bayangan dirinya, menatap pada cermin yang menunjukkan seorang gadis belia dengan riasan tipis namun mengenakkan gaun putih, gaun yang biasanya melekat pada setiap perempuan ketika mereka akan menikah. Baekhyun menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan - lahan, mengusap bagian bawah gaunnya dengan kedua telapak tangannya sebagai tanda dari kegelisahan dan juga risau hatinya akan keputusan gila yang baru saja ia ambil. Menikah.

Ia akan menikah. Dalam beberapa menit kedepan dirinya akan menemui Chanyeol didepan altar dan seorang Pendeta, mereka akan melakukan pemberkatan dan kemudian disahkan sebagai pasangan suami istri.

"Ohhh.. ini gila.. ini gila.." racaunya kembali, berucap berulang - ulang seperti iramagerak tubuhnya yang melangkah kesana kemari.

"Ternyata bukan aku saja yang berpikiran keputusan ini adalah keputusan gila." itu suara Irene, wanita itu akhirnya ikut berkomentar dengan nada sedikit sinis setelah memperhatikan bagaimana Baekhyun gelisah didepan cermin lalu kemudian terkejut akan kehadirannya.

"Cinta membuat kalian menjadi gila, aku rasa." kali ini nadanya terdengar hangat, Irene bahkan terkekeh diakhir kalimatnya.

"Kau mencintainya kan?" tanya wanita itu lagi, sembari memasangkan mahkota kecil dengan kain tulle halus untuk menambah riasan rambut Baekhyun.

"Eoh.. a-aku mencintainya.." jawaban yang diberikan Baekhyun membuyarkan segala rencana yang ada didalam pikiran Irene.

"A—aku mencintainya.. aku tidak mau kehilangannya lagi.."

Irene tersenyum lebar masih tidak bisa mempercayai gadis polos dihadapannya begitu sangat yakin memberikan jawaban dari pertanyaan iseng yang ia lontarkan tadi.

"Kau berucap sungguhan?" ada tawa renyah terdengar di kalimat yang dikatakan olehnya.

Kali ini Baekhyun mengangguk. "Aku mencintainya.. setelah kami dipertemukan kembali.. Aku merasa tidak mau lagi dia berada jauh dariku, Aku mau Chanyeol selalu disampingku, ada disetiap aku membuka mata, menemani aku tidur. Aku mau dia selalu bersamaku, saat aku membutuhkan dia untuk menghiburku atau bahkan menenangkan diriku yang terlalu takut akan segala hal.. A-aku mencintainya.."

Suara serak lirih karena tangis terdengar di akhir ucapan Baekhyun, gadis itu berusaha keras menahan dirinya untuk tidak menangis. Tidak ingin riasan wajahnya rusak oleh air matanya sendiri.

Irene menyodorkan beberapa lembar tisu pada gadis itu, tanpa meminta ijin atau bahkan mengatakan sepatah kata, wanita itu memeluk Baekhyun, mengusap punggungnya lalu setelahnya membantu mengusap jejak - jejak air mata yang tak terjangkau oleh tangan Baekhyun saat mengusap seorang diri.

"Dia juga mencintaimu Baekhyunnie.. Dia tidak mungkin bisa bertahan sampai saat ini, disini bersamamu dan akan menikahimu.." Irene tersenyum dan Baekhyun pun melakukan hal yang sama.

"Apapun yang terjadi, tetap percaya pada perasaanmu.. itu akan menguatkanmu."

Baekhyun mengangguk meyakinkan hal yang sama.

"Ayo, aku bantu untuk kembali merias wajahmu, Chanyeol tidak boleh melihat air matamu, dia pasti akan mengamuk." Keduanya saling tertawa kecil, tidak ada lagi wajah merengut penuh gelisah dan resah di wajah Baekhyun. Namun tidak dengan wajah Irene, wanita itu terlihat tersenyum kecil, menunjukkan raut wajah bahagia, tapi tidak dengan sorot matanya.

Ada air mata pada sudut matanya yang memiliki banyak arti dan hanya ia yang tahu.


FOUR


Seharusnya sebuah pernikahan digelar dengan begitu terencana dan terkesan indah bagi kedua mempelai dan juga para undangan yang menghadirinya, tidak tanpa persiapan seperti pernikahan antara Chanyeol dan Baekhyun kali ini.

Para undangan yamg menghadiri pemberkatan keduanya adalah para anggota Phoenix yang tengah bertugas dan diperintahkan untuk ikut bahkan beberapa anggota tetap ada yang bertugas di sudut - sudut gereja dengan maksud mengamankan kondisi selama pemberkatan berlangsung.

Tidak ada dekorasi bunga - bunga indah untuk sekedar memberikan kesan manis, tidak ada anggota paduan suara yang akan membantu mengiringi dan menghibur di acaranya. Tidak ada wali dari setiap mempelai, bukan karena kedua orang tua mereka tidak ada, namun memang tidak ada wali yang bisa menghadiri mengingat pernikahan ini begitu mendadak dan juga rahasia.

Sebuah pemandangan langka dalam acara sakral seperti ini.

Chanyeol sudah berada dihadapan Pendeta, mengenakkan jas hitam untuk keseluruhan penampilan dan hanya membiarkan hiasan bunga berwarna putih pada saku didadanya. Raut wajahnya terlihat menahan gugup menunggu saat Baekhyun akan masuk melangkah masuk menyusul dirinya. Disampingnya Kris dan juga Siwon, mendampingi dan bertugas menjadi saksi untuk pernikahan ini.

Pandangan mata Chanyeol lantas terpusat pada satu arah dimana pintu utama gereja telah terbuka, itu adalah tanda dimana Baekhyun akan masuk, menghampiri dirinya.

Alunan musik pengiring terdengar, berasal dari salah satu anggota Phoenix yang menyiapkan sebaik mungkin dari sudut ruangan gereja, suara alunan musik yang sering digunakkan sebagai pengiring pengantin wanita berjalan diputar dari ponsel mereka yang tersambung dengan speaker disana.

Chanyeol kembali terlihat menarik nafas panjang, menahan senyumannya ketika matanya melihat Baekhyunnya tengah berjalan masuk mulai mendekat kearahnya didampingi Irene. Gadis itu mengenakkan gaun putih cukup sederhana tapi berhasil membuat Chanyeol menahan senyumannya mengembang.

Langkah kakinya tidak bisa menurut untuk tetap pada posisinya ketika Baekhyun sudah berada didekatnya, Chanyeol melangkah mendekat untuk menyusul, menggenggam tangan Baekhyun lalu mendampingi gadis itu untuk berjalan beberapa langkah hingga keduanya menghadap pada Pendeta di depan altar.

"Kita akan memulai proses pemberkatannya." Ucap sang Pendeta dan semua yang berkumpul di ruangan gereja mulai terlihat tenang, menurut untuk menyaksikan pemberkatan dalam keadaan khitmad. Mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari sang Pendeta hingga ketika proses kedua mempelai saling berujar janji dan mengucapkan kalimat sakral 'Saya bersedia' hampir seluruh anggota Phoenix nampak tegang dan tak sabar karena Baekhyun sempat menahan mulutnya berucap untuk selang beberapa detik.

Lantunan lagu yang terndengar begitu menyenangkan seakan - akan ingin menggambarkan suasana siang hari itu menambah kesan bahagia untuk semuanya. Ketika Chanyeol sudah diijinkan untuk bisa memberikan ciuman sebagai bentuk formalitas penutup sesi pemberkatan pernikahannya, seluruh anggota berteriak riuh dan juga menggoda sosok tertinggi Phoenix.

Chanyeol tetap memastikan tangan Baekhyun mengalung erat di lengannya selagi mereka berjalan keluar dari Gereja. Anggota Phoenix sudah kembali bersiaga, ada yang berlari untuk berpindah pada posisi siaga memastikan keamanan, ada pula yang tetap berjalan santai mengiringi pasangan pengantin baru tersebut hingga keduanya masuk ke dalam mobil.

Salah satu anggota sudah bersiaga membukakan pintu mobil Limousine, untuk mempersilahkan pemimpin tertinggi Phoenix dan juga istrinya masuk kedalam.

Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan dan tak tahu harus melakukan dan bersikap bagaimana setelah acara pemberkatannya menurut, masuk ke dalam mobil dan hanya menyimak pembicaraan antara Chanyeol, Kris dan salah satu anggota yang dipanggil Rye yang tengah fokus mengemudikan mobil yang mereka tumpangi saat ini.

Baekhyun pun sempat menengok ke belakang, hanya sekedar ingin tahu apakah rentetan mobil yang terparkir sebelumnya tepat dibelakang mobil ini ikut mengiringi. Dan ternyata dugaannya benar, mobil - mobil sebelumnya dengan warna yang sama berada di belakang mobilnya, ada pula yang berada di sisi kanan dan kirinya.

"Kita akan makan siang bersama.. seperti resepsi pernikahan dadakan.." Chanyeol berucap pelan sembari mengusap punggung tangan Baekhyun.

Gadis itu mengangguk kaku, membalasnya dengan senyuman manis lalu raut wajahnya berubah serius. Chanyeol bingung.

"Kenapa?" tanyanya, begitu posesif hanya karena melihat wajah Baekhyun yang menyiratkan banyak pertanyaan dari gadis itu.

"A—a-aku mau bertanya.." Baekhyun bercicit pelan terdengar seperti berbisik.

Chanyeol menganggukkan kepala, lalu salah satu tangannya bergerak menekan tombol yang ada pada pintu, memberikan akses pada sekat yang berada di tengah - tengah bagian Limousine, hingga kini keduanya seakan - akan memiliki ruang privasi sendiri didalam mobil.

"Katakan.." ucapnya pada Baekhyun dan gadis itu nampak tengah merangkai kata - kata panjang. Chanyeol bahkan tertawa kecil melihat bagaimana bola mata Baekhyun bergerak ke kanan dan ke kiri, gerak bibirnya bahkan turut serta, merenggut dan tergigit bergantian. Hingga akhirnya Chanyeol bergerak lebih dulu, merengkuh leher Baekhyun dan menyatukan belah bibir mereka untuk terciptanya sebuah lumatan.

Baekhyun sempat tersentak kaget akan hal itu namun kemudian gerak tubuhnya menurut, terbuai dan larut untuk menikmati ciuman kedua mereka setelah resmi menjadi sepasang suami istri.

"Kau tahu, sulit menahan diri untuk tidak mencium bibirmu dengan penuh gairah Baekhyunnie.." Chanyeol berucap lirih seusai belah bibirnya terlepas dari bibir Baekhyun namun kembali lagi menciumi kening dan kedua pipi istrinya dan berakhir pada leher gadis itu.

"Aahh~" Baekhyun mendesah geli merasakan lidah basah Chanyeol mulai melumat bagian lehernya, tangannya bahkan meremas rambut belakang pria itu hingga wajah Chanyeol mendongak. Pikir Baekhyun usahanya berhasil menghentikkan cumbuan panas yang mampu membuatnya menggila, tapi nyatanya pria itu kembali mencium bibirnya dengan cepat dan lebih bergairah dibandingkan sebelumnya. Menarik tubuh Baekhyun hingga gadis itu berpindah pada pangkuannya.

"Apa yang ingin kau tanyakkan hm?" Chanyeol menanyakkan pada Baekhyun setelah keduanya mengatur nafas sehabis berciuman panjang.

Baekhyun mengerjapkan matanya perlahan, memandangi sirat wajah suaminya dan tersenyum manis membuat Chanyeol menggeleng lalu tersenyum.

"Kau mau menyiksaku ya?" tanyanya lagi karena Baekhyun tak kunjung berucap apapun, gadis itu menggeleng, masih memamerkan senyuman cerianya yang mana membuat Chanyeol semakin tak kuasa menahan diri.

Dan Baekhyun benar - benar membuat Chanyeol kehilangan kewarasannya. Gadis itu memeluknya begitu erat, mencium pipinya berulang kali, meraup wajahnya dan memberikan kecupan singkat pada bibirnya berkali - kali.

"Aku mau bertanya.." Setelah berhasil membuat Chanyeol menegang kaku karena sikapnya, barulah Baekhyun bersuara. "Kenapa mau menikah denganku?"

Chanyeol menahan nafasnya begitu lama karena sesungguhnya ia benar - benar tidak pernah terpikir akan berada diposisi ini, sedekat ini, dengan Baekhyun. Dan semakin lama ia terdiam memusatkan pandangannya sepenuhnya pada wajah istri manisnya, bisa jadi Chanyeol akan terkena serangan jantung dalam hitungan menit kemudian.

"Apa aku pantas menjadi pendamping dari Father of Phoenix?" Pertanyaan yang menyelamatkan Chanyeol, karena dia kembali bernafas, menggeleng untuk menunjukkan rasa tidak percaya yang semakin meningkat naik.

Jari tangannya mencubit pipi Baekhyun hingga gadis itu meringis, mulai merajuk. Memukul dadanya tapi kemudian bersandar nyaman sembari memeluk leher Chanyeol.

"Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini hm?"

"Red." Baekhyun berucap riang dan Chanyeol menggeleng karena itu.

Chanyeol merengkuh pinggang Baekhyun, melingkarkan tangannya disana dan menahan punggung belakang Baekhyun agar posisi mereka tetap saling berdekatan tanpa jarak. Sesekali tangannya merapikan helai - helai rambut gadis itu yang terlihat tak beraturan.

"Seharusnya pertanyaanmu itu diucapkan saat aku melamarmu kemarin.." Ia mulai menjabarkan jawabannya. "Dan sesungguhnya aku tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaanmu." nadanya mulai terdengar serius, keduanya saling bertatap, Baekhyun menyimak dan menunggu rentetan kalimat lainnya sementara Chanyeol memutar otak untuk merangkai kata yang tepat.

Ada penjelasan panjang yang harus ia jelaskan.

Baekhyun menunggu, raut wajahnya mulai berubah, tak lagi merona dan tersirat suasaha hatinya yang bahagia, kali ini seakan - akan awan mendung mulai membayangi tepat diatas kepalanya.

"Aku mencintaimu, sangat." Chanyeol memulai, memberikan keyakinan diawal ia anggap bisa membantu istrinya memahami alasan mengapa ia melakukan semuanya. "Dan aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku tidak mau membayangkan dirimu seorang diri menghadapi semuanya.." satu gerakkan tangan Chanyeol bergerak menyelipkan helai rambut bagian di telinga gadis itu.

"Aku seharusnya tidak memberi tahumu mengenai hal ini.. tapi aku pikir, kau akan membenciku bila aku tidak mengatakannya." suara Chanyeol mulai terdengar serius. Baekhyun menyimak, memperhatikan perubahan raut wajah suaminya dan juga perubahan pada nada bicara pria itu.

"Aku akan menyelesaikan masalah Sunyoung dan kelompok Mafia lainnya." satu kalimat yang baru selesai diucapkan oleh Chanyeol mampu membuat Baekhyun melayangkan pukulan di dada bidang pria itu. Kedua tangan Baekhyun meremat erat kemeja hitam Chanyeol sembari tetap menunduk, pemikiran mulai melayang jauh dan yang berputar - putar didalam sana hanyalah pemikiran buruk untuk di akhirnya.

"Ini tidak seperti yang kau bayangkan sayang.." Chanyeol mengusap lembut wajah Baekhun, bermaksud mengenyahkan apapun yang sedang Baekhyun pikirkan.

"Dia sudah ditahan oleh Red.. untuk apa lagi? Kenapa dengan Mafia lainnya?! K-kau akan meninggalkanku lagi?!"

"Dia memang ditahan.. tapi tidak-" Chanyeol menahan untuk melanjutkan kalimatnya setelah ia melihat bagaimana Baekhyun tetap menundukkan wajahnya, mulai terdengar isak tangis dan rematan pada kemeja Chanyeol mulai terasa lebih kuat.

Lantas Chanyeol menarik tubuh Baekhyun, memeluknya, memberikan usapan pada kepala belakang gadis itu dan juga punggungnya. Chanyeol bahkan menciumi Baekhyun berulang kali dan tak henti - hentinya memohon agar tangisan kesedihannya berakhir.

Ada jeda begitu lama dan mereka bertahan pada posisi saling memeluk satu sama lain, bahkan Chanyeol tetap bertahan meskipun ia tahu mobilnya sudah berhenti di sebuah Hotel.

"Aku tidak mau keluarga kita berakhir tragis sama seperti yang terjadi dengan-" Chanyeol kembali memberi jeda, nyatanya menjelaskan keinginan dan juga rencana apiknya kepada Baekhyun lebih sulit dibandingkan menjelaskan pada Kris dan juga Pamannya.

"Aku tidak mau anak kita mengalami hal yang sama seperti apa yang kita alami." Cara kerja otaknya menemukan kalimat yang tepat, sebuah kesimpulan yang tidak terlalu menohok dan membuat Baekhyun merasakan lebih sedih lagi.

"Aku tidak bisa meninggalkan Phoenix, meninggalkanmu, meninggalkan Yoora dengan bayang - bayang Sunyoung menghantui kita semua. Sejak awal dia menginginkan membentuk kelompok mafia yang lebih besar, berniat menjadi Phoenix yang lain, menghancurkan Red.. dan aku tidak bisa membiarkan dia melanjutkan rencananya."

"Aku tidak mau kehilanganmu lagi.." dengan lembutnya Chanyeol meraup wajah Baekhyun, mengangkat secara perlahan - lahan dagu gadis itu untuk menunjukkan wajahnya yang penuh dengan airmata. "Baekhyunniee..." nada lirih Chanyeol terdengar bersamaan dengan usapan ibu jarinya yang bergerak, menghilangkan aliran - aliran air mata yang mengalir membasahi pipi gadisnya.

"A-aku tidak mau kehilangamu.. Aku tidak mau ada di Red.. Aku mau di Phoenix, Aku mau ikut kemanapun kau pergi.." Baekhyun kembali menangis, berucap dengan isakan tangisnya, ingin membuktikan keadaan hatinya saat ini, sementara Chanyeol yang melihat tingkah gadis yang sudah menjadi istrinya menarik garis senyuman diwajahnya. Chanyeol kembali memeluk Baekhyun, menciumi pipi gadis itu lalu membawa Baekhyun bersandar pada dadanya.

Masih dengan mengusap sayang, Chanyeol kembali memberikan penjelasan lainnya. Berharap kali ini Baekhyun bisa menerimanya.

"Kau sudah menjadi Phoenix sekarang, kau lupa sudah menjadi istri dari seorang Mafia?" ada nada bercanda yang sengaja Chanyeol ucapkan meskipun pada akhirnya Baekhyun tetap tak terkecoh akan hal itu.

"Aku akan ditinggal oleh suamiku di hari yang sama dan hanya selang beberapa jam sejak dimana pernikahanku baru saja terjadi." ucapan Baekhyun tepat menusuk hatinya. Chanyeol seketika lupa bahwa Baekhyun bukan lagi anak kecil yang selalu menurut meskipun Chanyeol memberi tahu hal yang tidak baik.

Semua rangkaian kalimat untuk meyakinkan Baekhyun lenyap begitu saja dari sistim kerja otak Chanyeol, ia tak lagi menemukan rentetan kata - kata untuk membujuk rayu istrinya. Memberikan hadiah satu pabrik es krim atau cokelat pun tak akan ampuh untuk kali ini.

"Ucapanmu membuatku terlihat menjadi suami yang jahat.."

"Kau membuatku menjadi istri yang menyedihkan."

Chanyeol kalah lagi, matanya terpejam, kepalanya terasa pening. Dia masih bersyukur Baekhyun masih memeluk tubuhnya dan bersandar pada dadanya, duduk di pangkuannya.

"Kenapa menikahiku kalau kau berniat meninggalkanku sejak awal.. "

Chanyeol tersenyum kecil mendengar kalimat yang kembali keluar dari mulut Baekhyun dan tanpa berpikir panjang, ia memberikan jawaban, jawaban yang cukup membuat Baekhyun melepaskan lingkaran tangan pada pinggangnya dan mengangkat tubuh dan wajahnya untuk bisa menatap melihat ke arah wajahnya.

"Karena aku butuh sebuah alasan untuk pulang dan bertahan."

Manik mereka kembali bersitatap dalam diam. Baekhyun mengulum bibirnya, menahan diri sekuat tenaga agar airmatanya tak lagi mengalir membasahi pipinya dan menunjukkan betapa hatinya begitu lemah dan tak mampu membayangkan akan sebuah perpisahan dan kehilangan, lagi.

"Kau adalah kekuatan dan alasanku untuk bisa melawan mereka semuanya, membalaskan apa yang telah mereka lakukan padaku, pada Yoora dan juga dirimu. Tapi, kau pun menjadi kelemahanku, kelemahan yang bisa menghancurkanku dalam sekejap bila mereka menemukanmu dan juga mengincar dirimu seperti waktu itu. Akal sehat dan cara kerja otakku tidak akan bisa bekerja dengan baik bila membayangkan mereka akan menyiksamu atau bahkan membunuhmu. Aku tidak mau bayangan itu lewat meskipun sekejap dalam pikiranku.. Aku tidak mau Baekhyunnie.." tangan Chanyeol mengusap berulang kali pipi wajah Baekhyun.

Kali ini mereka beradu tangis begitu dalam, ada yang merasa tidak terima dan takut akan sebuah kehilangan. Ada yang merasa tidak adil karena nasibnya selalu berakhir dengan sebuah perpisahan.

"Dengan dirimu ada di Red, menjadi anggota mereka.. kau mendapatkan perlindungan dari Militer dan juga Phoenix, itu membuatku yakin... bila memang mereka bisa menemukanmu, setidaknya perlindungan ekstra bisa kau dapatkan sampai Aku kembali dan menghabisi mereka dengan tanganku sendiri."

Baekhyun menggeleng, masih menolak akan pemikiran dari Chanyeol mengenai semuanya.

"Tapi aku butuh Chanyeol.. aku tidak mau sendirian.."

Seulas senyum terbentuk di wajah Chanyeol, menarik Baekhyun agar bisa ia berikan kecupan sayang pada pucuk kepalanya berulang kali, kembali memeluk dan juga menciumi seluruh wajah gadis itu.

"Gadis cengengku kembali.." candanya, dan Baekhyun menghadiahi pukulan menggemaskan pada badannya.

"Aku akan kembali.. tidak terlalu sering tapi kalau ada waktu pasti aku akan kembali.. Aku pasti merindukan istriku dan membutuhkan kehangatanmu , kau pasti merindukan pelukanku.. jadi aku pasti berusaha pulang bila ada waktu. Jangan coba - coba berselingkuh, aku akan menembak pria itu didepan matamu!" nada ucapannya kembali memberikan godaan, kali ini mampu membuat mereka berdua tertawa kecil.

"Pasti Chanyeol yang berselingkuh.. meniduri wanita lain." Chanyeol tertawa keras, nada ucapan dan juga raut wajah Baekhyun sangat bertolak belakang. Nada memperingati namun dengan wajah menggemaskan layaknya anak kecil yang tengah merajuk.

Kepalan tangan Baekhyun kembali melayang pada dada Chanyeol untuk menghentikan suara tawanya yang begitu menyebalkan di pengdengaran Baekhyun. Chanyeol mengangguk, berusaha menahan tawanya, tanganya kembali melingkar pada pinggang Baekhyun, memeluk gadis itu posesif.

"Aku sudah mempunyai istri yang menggemaskan, dengan tubuh yang memabukkan.." Baekhyun meringis merasa ngeri mendengar suara rendah nan dominan suaminya. "Bibirnya yang begitu manis.." satu kecupan mendarat pada bibir gadis itu, hanya mengecup diawal dan ketika Baekhyun membuka mulutnya, Chanyeol mulai melumat dengan penuh gairah, melesakkan lidahnya dan menyesap rasa manisnya dengan begitu rakus.

Tak ada lagi perdebatan mengenai pembicaraan panjang sebelumnya, mereka berdua terlalu larut mencumbu satu sama lain. Chanyeol mulai menciumi leher dan bibir Baekhyun berulang kali, ia bahkan mulai menarik zipper gaun yang dikenakkan Baekhyun, mencari jalan untuk bisa menikmati bagian sintal di dada gadis itu. Tangannya meremas, menggoda dan melecehkan namun membuat Baekhyun mendesah karena rasanya begitu nikmat dan begitu panas.

Bukti gairah Chanyeol bahkan mulai menunjukkan kehadirannya dimana tepat diduduki oleh Baekhyun karena gadis itu terus bergerak menggeliat karena apa yang diperbuat oleh Chanyeol.

Bila mobil yang mereka tumpangi tidak berhenti karena sudah tiba pada Hotel yang Chanyeol tuju, mungkin tradisi malam pertama hampir saja dilakukan di dalam Limousine saat ini.

Keduanya saling terengah - engah, antara menikmati dan juga berusaha menahan meluapkan gairah memabukkan ini di waktu yang lebih tepat, nanti malam.

Chanyeol merapikan gaun Baekhyun dan juga tatanan rambut gadis itu, lalu memberikan ciuman begitu dalam dan diakhiri dengan sebuah pelukan hangat yang memberikan kenyamanan berlipat - lipat.

"Kita akan bersama - sama tiga hari kedepan, aku akan memelukmu setiap saat supaya kau tidak lagi merasa khawatir karena aku tinggalkan untuk sementara waktu."

Baekhyun menganggukkan kepala, hatinya masih menolak keras rencana yang dimiliki Chanyeol namun ia juga tidak bisa melarang pria itu untuk melakukan semuanya. Yang bisa ia lakukan hanya menurut, berusaha memberikan keyakinan untuk dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik - baik saja.

Chanyeolnya akan baik - baik saja.


FOUR


Nyatanya keadaan hati Baekhyun tidak bisa untuk diyakinkan bahwa semuanya akan baik - baik saja. Saat acara makan bersama untuk merayakan pernikahannya, ia tidak begitu menikmati. Gelak tawa dan juga guyonan percakapan dari para anggota Phoenix yang berada disekitarnya tidak cukup mempengaruhi keadaan hatinya agar lebih tenang. Ia hanya bisa tersenyum kecil setiap Chanyeol menoleh kearahnya, menganggukkan kepala dan mengatakan 'baik - baik saja' ketika pria itu menanyakkan bagaimana keadaannya.

Ia bisa menipu Chanyeol dan juga para pria Phoenix, tapi tidak dengan satu - satunya wanita Excutive Phoenix. Irene bisa melihat dengan jelas raut wajah dan tatapan gelisah dari Baekhyun. Maka ketika Baekhyun meminta ijin untuk pergi ke rest room, wanita itu mengikuti, mengajaknya berbicara empat mata. Mungkin bisa memberikan sebuah solusi dari apa yang tengah dipikirkan oleh Lady of The Phoenix.

"Dia menjelaskan semuanya padamu?" Baekhyun mengangguk namun Iren membelak tak percaya mendengar rentetan kalimat penjelasan dari Baekhyun.

"Tak bisakah aku ikut.. aku sudah menjadi istrinya.." Baekhyun merengek, memohon bantuan.

Irene terdiam sesaat, melipat kedua tangannya, kembali melangakh kesana kemarin sementara otaknya ikut berpikir menyimpulkan lebih jauh mengenai rencana sesungguhnya yang ingin dilakukan oleh Chanyeol kedepannya.

"Mendengar apa yang kau katakan dari pembicaraan kalian.. aku mungkin akan berpendapat yang sama dengannya." Irene menghela nafas, melihat Baekhyun yang menunduk dan kembali dengan raut wajah penuh kegelisahan membuat Irene merasa gagal tidak bisa menguatkan gadis itu.

"Yang aku tahu, kami akan melakukan pertemuan dengan beberapa Fathers di seluruh dunia, semuanya akan berkumpul dan membicarakan mengenai sebuah perjanjian dan juga merundingkan siapa yang berani membayar harga kepala Sunyoung." Irene mulai memberikan gambaran menurut pandangannya.

"Dan kau dibiarkan berada di Safety House, Red, Militer sudah pasti akan melindungimu.." Kepalanya mengangguk sembari terus membayangkan. "Tentu saja ia akan mengirim beberapa anggota Phoenix untuk terus memantau dan juga memberikan perlindungan extra. Kau akan baik - baik saja disana.."

"Tapi Chanyeol tidak!" Baekhyun sedikit berteriak menyahut ucapan Irene.

Executive Phoenix itu tersenyum geli melihat reaksi Baekhyun, kedua tangan Irene bergerak mengusap kedua lengan Baekhyun berulang kali, menundukkan wajahnya untuk melihat jelas wajah Baekhyun yang masih menunduk sedih.

"Four akan baik - baik saja, suamimu pasti akan baik - baik saja. Aku percaya untuk itu, dan aku harap kau melakukan hal yang sama, percaya padanya." Irene menyelipkan helai rambut Baekhyun dibelakang telinga gadis itu, menaikkan dagu wajahnya agar pandangan mata mereka saling beradu tatap.

"Dia menepati janjinya untuk kembali padamu kala itu.. Aku yakin dia akan melakukan hal yang sama, Aku dan Ace tidak akan melakukan hal yang sama dan membiarkan Four berada dalam bahaya. Pengalaman sudah mengajarkan kami untuk lebih baik melindungi our Father, kau bisa memegang janjiku untuk ini."

Baekhyun mengulum, menggigit bibir bawahnya tak berkedip memandang Irene yang tepat berada dihadapannya dengan begitu dekat.

"Jangan memikirkan hal yang masih jauh dari perkiraanmu.. seharusnya kau mengingat jelas pelajaran 'hal dewasa' untuk praktek di malam pertamamu." setelah itu Irene meninggalkan Baekhyun seorang diri, gadis itu membelakkan mata lebar - lebar, merasakan jantungnya berdebar cepat dan pipinya terasa panas, merona merah membayangkan kilasan - kilasan video tak senonoh yang belakangan mengisi isi pikirannya.

Apakah ia harus mempraktekkannya malam ini?

tbc

Yang kangen mana suaranya.. muncul - muncul Four udah menikah :D

Next chaper kita pantau malam pertama mereka *senyum polos*

Eits jangan seneng dulu... siap - siap aja baper baperan setelahnya *senyum jahat*

See you next chapter!

Tetap jaga kesehatan kalian gengs~

Love,

Viel