"Kau benar baik - baik saja?" entah ini sudah berapa kali Chanyeol melayangkan pertanyaan yang sama terhadap Baekhyun. Pria itu merasa khawatir dan juga tidak tenang karena sekembalinya Baekhyun dari rest room, pipi wajah gadis itu merona dan tak mau menatap pandangan matanya. Ia takut Baekhyun mungkin sakot atau merasa tidak enak badan.
Acara makan bersama telah usai, namun Phoenix berhak mendapatkan pesta lainnya dan karena itu Chanyeol melanjutkan pesta kecil - kecilan ini pada sebuah bar & karaoke di Hotel yang sama.
"Kalau kau lelah, kita bisa istirahat dulu di kamar hotel ini, Aku sudah membuka kamar untuk kita dan yang lainnya." Chanyeol kembali berbisik, berharap kali ini Baekhyun bisa menjawab segala rasa kekhawatirannya karena gadis itu terlalu singkat menjawab segala pertanyaannya, bahkan tak jarang hanya sekedar gerakkan kepala yang mengangguk atau menggeleng.
"Baekhyunnie.." Chanyeol melingkarkan tangannya pada pinggang Baekhyun, menarik gadis itu lebih dekat dengan tubuhnya. Baekhyun menoleh, meskipun masih menunduk tapi dia bisa merasakan deru nafas Chanyeol di samping wajahnya. "Katakan, kenapa kau diam saja daritadi.. kau sakit?"
Tangan Chanyeol mengusap pipi wajahnya lalu meletakkan telapak tangannya pada kening Baekhyun, hal itu membuat Baekhyun tersenyum lebar, matanya menyipit layaknya bulan sabit.
Tatapan keduanya saling beradu, gadis mungilnya tersenyum malu - malu, seakan - akan meledek ai sang dominan yang sedari tadi terlihat jelas khawatir dan bahkan merasa gelisah.
"Aku baik - baik saja.." akhirnya, Baekhyun menjawab dengan suara berbisik. "Aku hanya malu.." sambungnya lagi.
"Kenapa? Kau tidak nyaman?"
Baekhyun menggeleng, "Hanya merasa malu.."
Chanyeol mengernyitkan alisnya, masih menuntut sebuah penjelasan yang bisa ia terima atas perubahan sikap Baekhyun. Gadis itu kembali menikmati apa yang menjadi pemandangannya dihadapannya, para pria - pria Phoenix menggila menikmati acara berminum dan bernyanyi - nyanyi tak beraturan didepannya. Terkadang ikut tertawa, bertepuk tangan dan bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan musik dari lagu yang dinyanyikkan oleh para pria disana.
Selang beberapa waktu kemudian, Irene menghampiri, berbisik begitu dekat disamping Chanyeol, menyampakain sesuatu hal yang cukup membuat rasa ingin tahu Baekhyun meluap begitu saja.
Setelah Irene keluar dari ruangan, Chanyeol kembali menoleh pada Baekhyun, bukan untuk bertanya mengenai tatapan gadis itu yang tersirat rasa ingin tahu, Chanyeol malah memberikan senyuman lebar.
"Ayo.. biarkan mereka menikmati berpesta semalaman." Chanyeol beranjak bangun, sedikit berteriak menyampaikan bahwa dirinya akan pergi dan meninggalkan anggota Phoenix lainnya berpesta. Tentu saja mereka membalasnya dengan teriakan gembira diiringi sedikit godaan mengenai malam pertama yang lantas membuat Chanyeol menatap tajam dan juga sinis. Lain hal dengan Baekhyun, gadis itu kembali menunduk menahan malu yang luar biasa.
Tangannya digenggam begitu erat sementara pinggangnya direngkuh oleh lengan besar Chanyeol, mereka berjalan berdampingan diikuti Kris dan Irene yang entah sejak kapan mulai mengikuti. Baekhyun sempat melirik ke arah mereka berdua meskipun sebentar lalu kembali menatap ke arah depan.
Chanyeol membawanya masuk pada sebuah lift, Kris yang menekan tombol lantai dan Irene tetap berada disamping Kris, keduanya seakan - akan membuat benteng pertahanan dan persembunyian untuk Chanyeol dan Baekhyun yang ada dibelakangnya.
"Lantai berapa?" Chanyeol bertanya mengarah pada kedua Executive didepannya.
"38."
"Suite, dan satu lantai itu sudah disterilkan." Irene menambahkan. "Phoenix akan berada di dua lantai dibawah. Aku sudah membagi tugas siapa - siapa yang berjaga untuk malam ini."
"Kalian tidur dimana?"
"Tepat disebelah kamarmu, memudahkan kami untuk mengawasi dan menjaga." Kris yang menyahut.
"Satu kamar?" Pertanyaan Chanyeol yang terakhir tidak dijawab oleh keduanya, masing - masing dari mereka hanya membalas dengan lirikan mata. Irene melirik tajam sementara Kris ikut melirik dengan raut wajah menahan kesal dan juga belah bibirnya yang berucap tanpa suara,'Perlukah bertanya mengenai hal itu'.
Chanyeol terkikik seorang diri sementara Baekhyun terdiam, tidak mengerti gerak gerik dari Irene, Kris dan juga Chanyeol.
Ketika pintu lift terbuka pada lantai yang dituju, Kris melangkah lebih dulu, Irene pun membiarkan Chanyeol dan Baekhyun menyusul dan ia mengekori, berjalan dibelakang. Selang beberapa langkah Kris lantas berhenti, mengeluarkan kunci kamar hotel, menunjukkan pada Chanyeol lalu pria itu menggerakkan kepalanya sebagai tanda mempersilahkan Kris membuka kamar yang akan ia tempati.
Baekhyun baru saja akan melangkah mengikuti langkah Chanyeol, namun tangan Irene menahan, membuat dirinya tetap menunggu diluar.
"Chanyeol akan memeriksa kamarnya lebih dulu, itu adalah sebuah kebiasaan Phoenix yang mungkin harus kau ingat.. pelajaran tambahan." Ucapnya santai, dan Baekhyun mengangguk meskipun ia tidak tahu apa yang harus diperiksa didalam kamar hotel itu.
Tak memakan waktu begitu lama, Chanyeol dan Kris akhirnya keluar dari ruangan kamar hotel itu. Tangan Chanyeol terulur ke arah Baekhyun, yang mana disambut oleh gadis itu tanpa menunggu waktu begitu lama.
"Ace, Irene, berbalik dan tutup mata kalian. Ketika pintu tertutup.. kalian baru boleh membuka mata. Ini perintah." Kedua alis Baekhyun kembali mengerut tidak mengerti maksud ucapan Chanyeol. Tapi Irene dan Kris tidak memberikan bantahan, kedua Executive Phoenix nyatanya patuh, memejamkan mata mereka lalu berbalik 180 derajat dan setelah itu, Chanyeol menarik Baekhyun, memindahkan tubuh gadis itu pada gendongannya, melakukan tradisi yang memang seharusnya dilakukan bagi setiap pasangan yang baru saja menikah.
Keduanya tersenyum dan berbagi tawa seusai pintu hotel tertutup rapat dengan begitu keras karena tendangan kaki Chanyeol. Baekhyun tetap mengalungkan tangannya pada leher pria itu dan membiarkan ia dibawa masuk lebih dalam lalu mulai memandangi kondisi kamar yang akan menjadi tempatnya menginap selama dua hari kedepan.
Chanyeol tetap menggendongnya sampai mereka tiba tepat pada ranjang yang berhiaskan kelopak bunga berwarna merah dan juga hiasan dua angsa dari handuk.
"A-aku sudah bisa diturunkan disini.." gugup kembali Baekhyun rasakan. Ingatan dan bayangan video - video mengenai keintiman pria dan wanita yang ia tonton mulai mengisi sistim kerja otaknya.
Ia bersyukur Chanyeol tidak melayangkan protes atau pun berucap kata lainnya, namun setelah kakinya mendarat dan hendak melangkah memberi jarak diantara mereka, Baekhyun lebih dulu kembali terkukung dua lengan yang memeluknya begitu erat.
"Kenapa daritadi pipi merona hm? Kau pun tidak mau menatap mataku?" Chanyeol berbisik, melayangkan pertanyaan tepat di perpotongan leher dan bahu Baekhyun. Membuat gadis itu bergedik geli.
Baekhyun menggeleng lebih dulu lalu berusaha untuk melepaskan kukungan lengan Chanyeol, nyatanya suaminya tetap mengeratkan pelukan lengannya terhadap badan Baekhyun.
"Mau lari kemana? Kita dikamar Baekhyun, ini malam pertama kita sebagai suami istri bila perlu kuingatkan." Chanyeol mempertegas, semakin membuat Baekhyun gugup.
"A-a-aku.." Baekhyun mengulum bibirnya menahan rasa geli karena sentuhan tangan Chanyeol pada tubuhnya.
"Aku sudah menjadi milikmu bila perlu kuingatkan.. kita sudah resmi menjadi suami istri.." bisik Chanyeol dengan jari tangan yang bergerak naik turun pada lengan hingga tangan Baekhyun, memberikan rasa geli, mengundang sebuah gairah bukan hanya pada Baekhyun tapi juga untuk dirinya.
"A-aku mau mandi." Baekhyun lebih dulu melarikan diri, membebaskan diri dari dekapan erat Chanyeol.
"Mandi bersama? Kita belum pernah melakukan-" Chanyeol tak melanjutkan candaannya karena suara pintu kamar mandi yang ditutup keras oleh Baekhyun membuangnya tertawa keras, membanting tubuh menjulangnya di ranjang dan menahan suara tawa dan rasa sakit di perutnya karena tertawa cukup keras melihat tingkah istrinya.
Sementara Chanyeol tertawa terbahak - bahak di atas ranjang dan merusak hiasan romantis dari kelopak - kelopak bunga, di dalam kamar mandi Baekhyun duduk tersungkur di lantai, gerak tubuhnya terlihat gelisah, badannya bergetar sementara bibirnya tergigit berulang kali. Tangannya bahkan tak berhenti mengusap tubuhnya dan juga menepuk - nepuk pipi wajahnya.
Pemikiran tentang apa yang harus ia lakukan bersama suaminya nampaknya tertanam lekat dalam benak dan pikirannya meskipun rasa takut terus menghantui dirinya sendiri.
FOUR
Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar meskipun raut wajah gugup dan gelisah masih nampak jelas pada gurata wajahnya. Setidaknya ia sempat berpikir jernih untuk tetap memakai baju handuk untuk membalut tubuhnya karena lupa membawa pakaian ganti ketika berlari masuk guna menghindari suaminya tadi.
Pandangannya melihat Chanyeol tengah menyusun beberapa piring makanan di meja kecil pada balkon, ia pun melangkah mendekat dan hendak berbasa basi menanyakkan apa yang tengah dilakukan pria itu.
"Hai.." Chanyeol lebih dulu menyapanya, sempat menoleh sesaat ke arah Baekhyun namun kembali melanjutkan kegiatannya. "Aku memesan beberapa makanan.." jelasnya lagi sebelum Baekhyun sempat bertanya.
"Eoh.."
"Aku pikir kita masih bisa menikmati waktu bersantai disini.. kita bisa melihat pemandangan, kemarilah." Chanyeol menarik tangan Baekhyun, menuntun gadis itu untuk duduk pada salah satu kursi lalu ia kembali melanjutkan membuka beberapa makanan yang sengaja ia pesan.
"Aku tahu kau tidak makan banyak tadi.. jadi, makanlah. Aku akan mandi dulu."
Baekhyun tak membalas, melirik sedikit pada wajah Chanyeol lalu tangannya bergerak mencicipi beberapa potong buah strawberry yang sedari tadi menarik perhatiannya. Chanyeol tertawa kecil melihatnya lalu memberikan usakan pada rambut setengah basah Baekhyun.
"Kau bisa masuk angin nanti.." Ia pun mengambil handuk lainnya lalu meletakkannya diatas kepala Baekhyun seraya memberikan usakan lembut dengan maksud mengeringkan rambut gadis itu.
"Tadi aku sudah meminta Irene membeli beberapa pakaian, ada di lemari.. " penjelasan itu untuk penampilan Baekhyun yang masih mengenakkan baju handuk dengan begitu rapat.
"Aku mandi dulu." lalu Chanyeol melangkah menjauh, meninggalkan Baekhyun duduk seorang diri berhadapan dengan sajian makanan yang cukup banyak dan juga pemandangan malam langit serta desiran angin malam.
Merasa malu karena masih mengenakkan baju handuk, Baekhyun meninggalkan meja makan untuk mencari pakaian yang sempat diinfokan Chanyeol tadi. Tangannya membuka lemari yang ada di sudut kamar hotel mereka, ada beberapa dress berwarna cerah dan juga beberapa kaos santai berwarna putih dan hitam pada paper bag yang tengah ia pegang bertuliskan 'B' yang mana ia pikir ini memang diperuntukkan untuknya.
Dirinya sempat meragu, memperhatikan pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat dan mempertanyakkan apakah Chanyeol akan segera keluar atau masih menikmati waktu mandinya karena Baekhyun takut pria itu akan keluar dan melihat dirinya yang tengah memakai baju mengingat tak ada tempat tertutup selain kamar mandi di ruangan hotel itu.
Setelah mengambil keputusan untuk segera memakai kaos santai berwarna putih dan juga celana training yang dianggap sesuai dengan ukuran tubuhnya, Baekhyun lantas bergerak cepat, melepas baju handuk yang ia kenakkan, menunjukkan tubuhnya yang hanya mengenakkan bra dan juga celana dalam berwarna hitam.
Tubuh bagiannya atasnya sudah terlindungi dengan kaos yang nyatanya terlalu besar ia pakai, dan ketika dirinya hendak memakai celana training, Chanyeol sudah lebih dulu nampak bersandar pada sofa melihat ke arah Baekhyun yang tengah membelakangi pria itu, menunduk tengah memakai celana trainingnya.
"Tidak usah dipakai."
Lantas Baekhyun tersentak, bergerak gugup karena terkejut dan juga rasa malu karena gadis itu belum usai berpakaian yang layak. Tangan Baekhyun menarik kembali baju handuk yang tergeletak di karpet lantai hotel untuk menutupi paha dan kakinya ketika dirinya dengan reflek duduk pada pinggir ranjang.
Seringai yang terbentuk di wajah Chanyeol membuat Baekhyun kembali merona, berulang kali menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangan matanya agar tak bersitatap dengan tatapan menggoda pria itu.
"Aku lebih menyukaimu tidak pakai celana.." ucapan itu diikuti dengan gerakkan langkah Chanyeol yang menyusul dimana Baekhyun duduk saat ini.
Chanyeol berjalan santai dengan hanya mengenakkan handuk yang melilit di pinggangnya, tangannya sempat menyisir rambutnya yang basah dan ketika pria itu sudah berada tepat dihadapan Baekhyun, seringainya kembali menghias wajahnya. Chanyeol mendekatkan wajahnya agar mengikis jarak dengan wajah Baekhyun hingga tubuhnya membungkuk. Kedua tangannya menopang berat tubuhnya yang juga ia sengaja lakukan untuk mengunci pergerakan badan Baekhyun yang berusaha menghindarinya.
"Chan-Chanyeol.." ada yang kembali gugup karena kedekatan tubuh masing - masing. Chanyeol tersenyum melihat pipi wajah Baekhyun yang merona karena sikapnya, tapi selang beberapa saat kemudian matanya tersirat penuh gairah yang meledak - ledak didalam tubuhnya ketika melihat sedikit bagian dari tubuh Baekhyun yang tak tertutupi bathrobe.
Kilat nafsu pada kedua mata Chanyeol tak dapat Baekhyun elakkan, terlebih ketika pria itu membawa tubuhnya berpindah tempat hanya dalam sekali gerakkan, begitu ringan dan sangat mudah untuk dilakukan oleh tangan kekar Chanyeol. Baekhyun semakin terpojokkan, belum sempat ia berucap memberikan penolakan, bibirnya sudah lebih dulu dilumat dengan penuh nafsu.
"Chanyeol.." rengeknya terdengar tersirat nada geli karena kini leher dan bahunya menjadi incaran Chanyeol setelah membuatnya kehabisan nafas karena dicium penuh gairah.
"Aah.. Chanyeol.. jangan.." Baekhyun melarang, beranjak kaget dan juga takut ketika gerak bibir cumbuan Chanyeol kini mengarah turun pada perut dan juga semakin membuka tali bathrobenya. Baekhyun belum siap membayangkan apa yang akan Chanyeol lakukan bila dilanjutkan karena yang ada pada ingatannya Chanyeol akan mencium bagian intimnya dan Baekhyun masih merasa malu dan risih untuk hal itu.
"Chanyeol jangan!" Baekhyun sedikit menendang perut Chanyeol, reflek dari rasa takutnya-hingga pria itu terjungkal di bagian ranjang lainnya. Tubuh gemetar dan juga mata terpejam serta rona wajah panik kini terlihat jelas di wajah Baekhyun.
Chanyeol sempat meringis karena tendangan Baekhyun untuk pertama kalinya ia rasakan cukup kuat. Tapi setelah melihat bagaimana paniknya Baekhyun dihadapannya, ia lantas menyusul dan memohon ampun.
"Maafkan aku.." Cicitnya dengan ragu untuk menyentuh Baekhyun. "Baek.. maafkan aku.."
Chanyeol merutuki nafsunya yang tak bisa tahan, terlebih saat ini ketika Baekhyun meringkuk, memeluk diriya sendiri dengan tubuh yang gemetar dan juga wajahnya yang tak ingin melihat ke arahnya.
"Maafkan aku.. a-aku tidak bisa menahan diri tadi.." ia berusaha lagi, perlahan - lahan berusaha memegang tangan Baekhyun yang terkepal menggenggam erat, mengusap dan juga terus menggenggam tangan Baekhyun untuk memberikan ketenangan dan menghilangkan rasa takut untuk apa yang baru saja ia lakukan.
"Maafkan aku.." ucapan permohonan maafnya terus terdengar diiringi isak tangis dari Baekhyun yang masih meringkuk ketakutan didekat Chanyeol. Ingin memeluk erat tapi Chanyeol takut Baekhyun akan kembali berteriak dan takut pada dirinya. Namun meskipun ia tak memeluk, usapan tangan Chanyeol pada tangan Baekhyun tetap dilakukan.
Isak tangis serta getaran tubuh Baekhyun mereda setelah gadis itu larut terlelap dalam tidurnya, Chanyeol tetap berada disamping Baekhyun, menggengam tangan gadis itu lalu akhirnya berani memeluk dan juga mencium kening dan pipi gadis itu.
"Maaf.." Chanyeol bergumam lagi, membenarkan posisi tidur Baekhyun dengan sangat hati - hati takut bila gadis itu terbangun lalu kembali histeris, lalu juga memberikan kehangatan dengan selimut tebal.
Dan malam itu, Chanyeol terjaga cukup lama untuk memperhatikan lelap tidur Baekhyun sampai pada akhirnya ia berakhir tidur di sofa.
FOUR
Bila malam Chanyeol berakhir cukup menyedihkan, lain halnya dengan malam bagi Kris dan Irene, kedua executive Phoenix nampak menikmati malam mereka dengan panas dan bergairah terbukti dari pemandangan pagi yang Chanyeol tengok saat ini. Baju yang berserakan di lantai serta kondis ranjang yang berantakkan, hanya selimut yang tersisa itu pun digunakkan dengan sembarang untuk menutupi tubuh telanjang Kris dan Irene yang masih terlelap nyaman dan saling memeluk satu sama lain.
Tanpa meminta ijin dan bahkan membangungkan pemilik kamar hotel ini, Chanyeol sudah menghampiri keduanya, menikmati secangkir kopi panas untuk menghilangkan kantuk karena jam tidurnya yang kurang lama serta tak nyaman seperti malam - malam lainnya mengingat masalah yang ia timbulkan semalam.
Kris lebih dulu merasa terusik. Merasa diperhatikan dan terganggu akan suara - suara pematik yang dimainkan pada jemari Chanyeol selagi pria itu duduk di sofa, menikmati pemandangan tak senonoh dihadapannya.
Masih belum menyadari adanya sosok lain di kamar mereka saat ini, Kris mencari kenyamanan lain untuk menyambut paginya sebelum matanya terbuka sempurna, membalikkan badan, memeluk tubuh wanita disampingnya lebih dulu lalu menciumi punggung telanjang wanita itu dan kemudian beranjak bangun. Menyisir rambutnya lebih dulu lalu mengusap wajahnya dan perlahan - lahan membuka matanya, menatap kosong ke depan untuk mencari kesadarannya kembali dari dunia mimpi.
"Selamat pagi sayang." Kris mengernyit mendengar suara sapaan yang tak asing di pendengarannya, melirik ke arah Irene yang masih nyaman tidur disampingnya sebentar untuk memastikan suara berat itu bukan milik wanita itu. Kemudian ia menoleh ke arah sudut kamar lain, Chanyeol berada disana, duduk dengan nyaman, kakinya terangkat pada bagian meja dan bergerak - gerak dengan nyaman, tangannya memegang secangkir kopi yang masih ia nikmati.
"HUAAAA!" butuh waktu lama untuk Kris berteriak setelah matanya merekam sempurna bahwa Chanyeol-lah yang benar -benar ada disana. "A-apa yang kau lakukan!" Jarinya menunjuk ke arah Chanyeol, lalu kemudian tanganya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh Irene.
"Menonton film porno." Chanyeol menjawabnya tanpa rasa bersalah.
Kedua pria itu saling bersitatap dengan arti yang berbeda. Chanyeol masih dengan tatapan tanpa rasa bersalah dan bahka berdosa sedikit pun, sementara Kris menatap dengan penuh kekesalan.
Selagi kedua pria itu menatap dalam diam, satu - satunya wanita yang masih terbaring di kamar itu mulai terusik kenyamanannya. Menggeliat untuk meregangkan tubuhnya di awal lantas memeluk pria disampingnya.
"Jam berapa?" tanyanya masih dengan mata terpejam dan belum tahu kejutan yang akan didapatnya nanti.
"Masih jam setengah 6, kau masih boleh tidur." dengan santainya Chanyeol bersuara sebelum menyesap kembali kopi di cangkir yang ia pegang.
"Chanyeol disini.." Kris ikut bersuara mengingat Irene masih belum sepenuhnya sadar.
Mata Irene sontak terbelak lebar setelah mendengar nama Chanyeol disebutkan oleh Kris, wanita itu bahkan bergerak bangun, duduk di ranjangnya dengan menggenggam erat selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.
"Kau!" ucapnya tertuju pada Chanyeol. "Apa yang kau lakukan disini?"
Chanyeol mengangkat kedua bahunya, bersandar pada sandaran sofa dengan wajah tanpa rasa bersalah masih terlihat. "Menunggu kalian kembali bergelut panas.." kalimatnya ditutup dengan lemparan bantal keras yang menghantam wajahnya, ulah Irene.
"Ya, kita sudah dewasa, dan kau sudah menikah.." Irene menggerakkan tubuhnya, turun dari ranjang dan menarik selimut. Membiarkan Kris sepenuhnya telanjang di atas ranjang, sementara dirinya berjalan menuju lemari lalu mengeluarkan bathrobe hanya untuk dirinya.
"Seharusnya kau bisa membuat film pornomu sendiri dibandingnkan menyaksikan film orang lain."
Entah Chanyeol mendengarkan atau tidak, pria itu melempar bantal yang sebelum dilempar Irene ke arahnya untuk Kris, lalu ia melangkah malas menatap ke luar jendela untuk memeriksa entah apa lalu bersandar pada dinding memperhatikan Kris yang tengah memakai celana dan Irene yang tengah mengikat rambutnya.
"Aku belum melakukannya." ucapannya membuat Irene dan Kris sama - sama berhenti melakukan kegiatan mereka. "Hampir.. tapi kemudian Baekhyun berteriak, menendangku dan marah.. sepertinya. Tubuhnya bergetar karena takut dan.. aku tidur di sofa."
"Pfftt.." Irene menahan tawanya.
"Dude.. you're suck." Kris ikut menimpali dengan ejekan, dirinya terbahak - bahak seorang diri dengan kepala bergerak menggeleng cepat setelah mendengar sedikit cerita Chanyeol.
"Tertawalah kalian!" Chanyeol melempar dua bantal, masing - masing diarahkan untuk Irene dan juga Kris selagi ia berjalan hendak keluar dari kamar hotel itu.
"Ya, kau mau kemana?" tanya Kris setelah dirinya beradu pandang dengan Irene, merasa bingung mengenai arah tujuan dan juga maksud kedatangan pria itu yang teramat mengganggu privasi keduanya.
"Kembali ke kamar."
"Hah?"
"Jadi, sebenarnya untuk apa kau datang kesini?" Irene lantas melemparkan pertanyaan yang seharusnya sedari awal ia tanyakkan tepat ketika matanya terbuka.
"Hanya ingin.."
"Bajingan satu ini.." kalimat Irene tak selesai diucapkan seluruhnya karena Petinggi dari Phoenix itu sudah meninggalkan ruangan tanpa sopan santun, tanpa meminta maaf setelah mendatangi kamar keduanya tanpa minta ijin.
.
Saat Chanyeol masuk kembali ke kamar hotelnya, ia lantas mendapati Baekhyun yang tengah terduduk di ranjang, sudah sepenuhnya terbangun. Gadis itu menoleh ke arahnya namun tak bersuara. Ketika pandangan mata mereka bertemu dan Chanyeol mengatakan selamat pagi, Baekhyun hanya memperhatikan tersenyum, lalu berpaling pada buku diary kecil yang tengah dibaca olehnya.
"Aku pikir kau masih tertidur.. tidurmu nyenyak?" ucap Chanyeol sembari perlahan - lahan mendekat ke arah ranjang.
Baekhyun mengangguk, masih menampakkan senyuman manis miliknya.
Chanyeol turut membalas dengan senyuman yang tak kalah manis, langkah pria itu melebar berjalan mendekat, mengikis jarak walaupun dengan keraguan di awalnya nyatanya jarak mereka terkikis. Tak ada lagi Baekhyun yang merasa takut ketika ia dekati seperti semalam, tak ada lagi Baekhyun yang bergetar takut karena sentuhannya.
"Maafkan aku karena semalam.." Chanyeol kembali memohon ampun akan kesalahannya. "Semalam aku terlalu mabuk.. sepertinya."
Baekhyun tak bersuara, matanya tetap tertuju pada manik mata Chanyeol, menganggukkan kepala, memperhatikan dalam diam.
"Mau sarapan bersama? Atau kau mau mandi lebih dulu?" kali ini pertanyaannya diakhiri dengan kecupan pada punggung tangan Baekhyun. Entah Chanyeol yang terlalu senang atau memang suasana hati Baekhyun sudah lebih baik dari semalam, gadis itu tak bereaksi berlebihan. Membiarkan punggung tangannya diciumi dan diusap oleh Chanyeol, menunjukkan cincin pernikahan mereka lalu saling melempar senyuman.
Ada jeda untuk mereka disaat satu sama lain saling memandang dalam diam dengan pemikiran masing - masing hingga pada akhirnya Baekhyun bergerak lebih dulu. Mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol lalu mencium bibir pria itu tanpa berucap satu kata pun diawalnya. Hanya mencium, lalu kembali memundurkan wajah dan tubuhnya, memperlihatkan sebaris senyum dalam diamnya. Kali ini Baekhyun mampu membuat Chanyeol tak dapat bergerak sedikit pun. Pria itu mematung atas kejutan yang baru saja ia dapatkan.
"K-kau.." bahkan terbata dan merasa gugup, sama seperti yang Baekhyun rasakan semalam.
Belum sempat Chanyeol mengucapkan apa yang ingin ia katakan, Baekhyun kembali mendekat, kembali mencium bibirnya dan kali ini Chanyeol tak tinggal diam.
Tangannya menahan kepala belakang Baekhyun sebelum gadis itu sempat mundur dan ingin menjauh. Ciuman kali ini bukan hanya sekedar kecupan karena Chanyeol telah mengambil alih, melumat bibir Baekhyun dengan begitu rakus, takut tak akan kembali mendapatkan kesempatan seperti ini di waktu ke depannya.
Merasa Baekhyun terbuai karena ciumannya, gairah dan nafsu pada dirinya kembali mencuat. Namun demikian, Chanyeol tak ingin bergerak terlalu cepat, tak ingin Baekhyun kembali histeris dan takut akan kelancangannya dirinya. Maka dari itu, Chanyeol memulai dengan perlahan - lahan.
Ciumannya terus tergerak, membuai gadis itu oleh sentuhan bibir dan lidahnya, dan juga dengan sentuhan tangannya pada bagian wajah dan leher gadis itu. Menarik tubuh Baekhyun secara perlahan - lahan untuk lebih dekat dengannya namun tetap berada dibawah kuasa tubuhnya.
Ketika Baekhyun melepaskan ciuman mereka, Chanyeol menuruti. Memberikan sedikit waktu bagi keduanya untuk saling memandang satu sama lain dengan posisi yang begitu intim dan dekat. Satu usapan lembut Chanyeol lakukan untuk mengusap pipi gadis itu yang kembali merona, bergerak turun pada dagu dan juga bagian leher hingga secara perlahan - lahan semakin turun menuju bagian dada Baekhyun. Gerakkan menggeliat gadis itu menunjukkan bahwa Baekhyun menikmati dan juga tak melarang Chanyeol untuk bergerak lebih jauh. Mak Chanyeol memulai lagi.
Mencium bibir Baekhyun dengan lebih bergairah, melesakkan lidahnya untuk menyesap dan menikmati setiap bagian dari mulut manis gadis itu, lalu mencium leher, menjilati setiap kulit leher dan bahu hingga bagian dada. Dengan tanpa ijin Chanyeol melepaskan baju tidur gadis itu, merasa lega karena Baekhyun tetap menurut dan bahkan mulai mengikuti alur percintaan mereka. Saling menyentuh dan mencium satu sama lain.
"Aku tidak ingin berhenti.." ucapnya setelah selesai menikmati bagian leher gadis itu dan kini keduanya saling terengah - engah, merasakan pasokan udara yang seakan menipis disekitar mereka dan hawa panas mulai menyelubungi keduanya. "A-apakah boleh?" Chanyeol kembali bertanya, menatap kedua manik milik Baekhyun yang tepat berada dihadapannya.
Menunggu sebuah ijin untuk kenikmatan surgawi yang tertahan sejak lama. Namun ketika Baekhyun menganggukkan kepalanya kini giliran Chanyeol yang kembali mematung, menatap tak percaya namun dengan senyuman yang menunjukkan kebahagiaan diwajahnya. Baekhyun ikut tersenyum, memberanikan diri menyentuh wajah pria itu dengan usapan lembut, sama seperti yang Chanyeol lakukan padanya sedari tadi. Menunjukkan sebuah rasa penuh sayang dan cinta.
Dan mereka kembali larut dalam sentuhan ciuman lebih bergairah setelahnya. Kedua bibir yang saling memagut satu sama lain, Chanyeol menyentuh Baekhyun dengan sepenuhnya, mengusap seluruh bagian tubuh gadis itu hingga membuat Baekhyun mendesah dan menggila setelahnya. Kedua bahkan tak menyadari sejak kapan tubuh mereka tak lagi terbalut pakaian.
Tubuh Baekhyun sepenuhnya dinikmati oleh Chanyeol, bibir, leher dan dada sudah ia sentuh berulang kali dan tetap terasa nikmat baginya, dan kali ini bibir bergerak turun, membiarkan lidah panasnya bermain - main pada bagian pucuk dada gadis itu dan membuat Baekhyun menggeliat, semakin membusungkan dadanya dan mempermudahkan Chanyeol untuk terus menikmati bagian kenyal dan berisi milik gadis itu.
"Ngghh.." satu desahan kembali lolos dari mulut Baekhyun ketika sentuhan Chanyeol mulai bergerak pada area intimnya. Lidah pria itu kini menjilati bagian perut Baekhyun sementara tangan Chanyeol mulai menggerayangi bagian kedua pahanya dan mulai beranjak naik mengusap pangkalnya lalu mulai mengusap liang kewanitaannya.
"Akhh.." Baekhyun mengerang, untuk sensasi baru yang baru dirasakan olehnya. Chanyeol tengah menjilati keintimannya dengan begitu lahap sementara jemari pria itu mengoyak bagian dalam intimnya mengundang tubuhnya untuk larut pada gairah dan kenikmatan.
"Aahh... Chanyeol.. Chanyeol.. Ch-Chanyeol!" desahannya yang tertahan berulang kali kini diakhiri dengan teriakkan. Tubuhnya menggelinjang diawal namun kemudian terkapar lemas, menggila karena untuk pertama kalinya merasakan keintimannya yang begitu nikmat.
Selagi Baekhyun menyisir rambutnya dengan jemarinya secara asal, dan matanya terpejam, mengatur nafasnya yang tengah terengah - engah. Chanyeol kembali menciumi bagian perutnya, naik menuju bagian dadanya, kembali menikmati dua bagian kenyal di dada Baekhyun lalu tangannya mengusap wajah Baekhyun, menciumi kedua kelopak mata gadis itu yang tengah terpejam lalu berakhir dengan mencium bibir gadis itu dengan sensual, memposisikan tubuhnya lebih merapat dengan tubuh Baekhyun, memberikan sentuhan pada pinggang dan juga kedua paha Baekhyun yang tengah ia buka lebar - lebar, mempersiapkan gadis itu untuk menyambut dirinya lebih dalam.
"Ini akan sakit.." bisikkan itu terdengar begitu pelan, dengan suara beratnya mampu membuat Baekhyun terbuai, terlebih ketika tangan pria itu meremas dada Baekhyun, memijatnya dengan penuh kelembutan dan terasa nikmat.
"Tapi kau akan menikmatinya seperti tadi.." Chanyeol mencium bibir Baekhyun lagi.
"Hnngg.." erang lembutnya terdengar ketika Chanyeol menciumi lehernya, mencumbu dengan mesra lalu kembali menikmati bagian dada Baekhyun. Baekhyun meremas rambutnya dan juga rambut Chanyeol ketika dirinya sepenuhnya terbuai oleh sentuhan pria itu dan kemudian berteriak penuh kesakitan setelahnya ketika Chanyeol menghentak keintimannya dengan kejantanan pria itu.
"Akh!" ringisannya terdengar penuh kesakitan, jemari Baekhyun bahkan mulai menggenggam erat bagian sprei ranjang dan juga sebagian rambut Chanyeol.
"Hngh-sakit!" Baekhyun kembali meringis ketika Chanyeol bergerak perlahan - lahan, menarik kejantanannya keluar namun menghentak lebih dalam didalam Baekhyun.
Chanyeol mempertahankan posisi penyatuan mereka dan berhenti bergerak diatas tubuh Baekhyun, memberikan waktu untuk gadis itu terbiasa dengan miliknya didalam sana. Tangannya mengusap aliran air mata yang mengalir dari sudut mata Baekhyun, lalu memberikan kecupan disana, di kedua pipi gadis itu dan kemudian menghilangkan rasa sakit dengan melumat bibir Baekhyun lagi dan mulai bergerak secara perlahan - lahan, penuh irama namun dengan hentakkan yang tepat, membuat Baekhyun meringis diawal lalu mendesah karena rasa nikmat telah tergantikan disana.
Keduanya mulai larut dalam kenikmatan percintaan, saling menyentuh dan mencium satu sama lain, menikmati tubuh satu sama lain. Desahan dan erangan bahkan turut saling balas berbalas meskipun lebih didomanisi oleh Baekhyun. Kelembutan dan gerakan brutal silih berganti mereka rasakan, lembut ketika ingin merasakan kenikmatan percintaan mereka, brutal ketika ingin menjemput kenikmatan lebih cepat.
"Ahh!" Baekhyun menahan desahan, sementara Chanyeol menyentak dengan puas. Keduanya saling berpelukan ketika cairan cinta mereka menyatu didalam. Chanyeol menyerukkan wajahnya di leher Baekhyun, menghirup hawa manis disana sementara Baekhyun memeluk erat punggung pria itu dan ikut mencium bagian bahu pria itu berulang kali dan kadang juga beberapa gigitan lalu tersenyum kecil dengan sorot matanya yang berbeda, bukan seperti Baekhyun.. melainkan seperti sosok lain yang selalu muncul disaat Baekhyun takut menghadapi dunianya.
Tbc.
Tim FFN, maafan delaynya lama dibandingkan di WP :)
Akhirnyaaaaaaaa bisa diupdate!
Banyak kendala banget buat nyelesaiin ini tuh.. dan aku bahkan masih ngerasa feelnya tuh kurang banget, masih belum ngena dan sama seperti yanh aku bayangin.. :( :(
Tapi semoga kalian suka ya..
Tetep jaga kesehatan yaa! Selalu pakai masker, rajin cuci tangan juga yaaa. Semangat WFO, WFH, SFH atau kegiatan apapun yg kalian lakukan selama pandemic ini.
Thank you,
Love, V.
