Disclaimer : Hyouka by Yonezawa Honobu
Sinopsis : cerita ini sempalan Ketika Oreki Houtarou sempat jatuh sakit setelah festival boneka.
Manekineko dan Selai Jeruk Mille Fleur
Kemarin pekerjaan yang cukup berat. Setelah berkeliling membawa payung di samping Sang Boneka, yang tentu saja kejadian berkeliling tersebut di luar dugaan setiap panitia, aku dan Chitanda duduk di teras rumah sambil membicarakan sesuatu terkait dalang yang menyebabkan acara tersebut terasa berbeda. Sore itu dingin, meskipun aku sudah mengatakannya kepada Chitanda, dia tetap bersikukuh hawa sore itu masih tetap hangat. Akhirnya kami tetap mengobrol di teras sampai langit malam menjelang.
Aku tidak terlalu ingat bagaimana masih berada di tempat tidur hingga siang menjelang. Dengan malas, aku mencoba meraih jam meja yang berada di sisi kanan tempat tidurku. Entah kenapa, rasanya agak sulit ya. Aku mencoba lebih keras dan berhasil meraihnya. Aku perhatikan Kembali angka yang tertera di sana, ternyata sudah menunjukkan pukul 11 siang. Aku menghela nafas.
"Kau tidur terlalu lama."
Karena baru sadar waktu sudah sangat siang, aku mencoba bangun dari tempat tidur dan baru mengetahui alasan mengapa aku kesiangan. Kepalaku pening, ditambah hawa hangat terasa di sekitar pipiku. Kemudian, aku coba menggerakkan badan sedikit. Linu yang mengerikan seketika menyerang setiap persendianku.
"Ya, aku terserang demam," gumamku sambil kembali menenggelamkan diri di balik selimut.
Otomatis karena terserang demam, kepala serta mata setiap pengidapnya menjadi semakin berat seiring waktu. Tentu kita bisa menebak kemudian apa, bukan?
Aku jatuh tertidur. Setidaknya sampai kakak perempuanku masuk ke dalam kamar dengan kalimat yang tidak mengenakkan.
"Kau masih tidur sampai jam 2 siang?" kemudian dia segera menuju jendela kamar dan membuka tirainya supaya sinar matahari masuk.
"Aku sakit. Biarkan aku istirahat lebih lama lagi," ucapku lirih sembari menarik lebih dalam ke bawah selimut. Aku tidak dapat melihat apa respon kakakku tapi yang jelas dia kemudian mengatakan, "Aku ingin keluar siang ini. Kalau kau mau makan mungkin bisa ke bawah dan masak telur sendiri."
Lalu, dia meninggalkan kembali kamarku. Dengan berlalunya badai tersebut, mataku kembali terpejam hingga malam tiba.
Keesokan harinya, karena seharian kemarin tidak makan sama sekali. Aku turun dengan sangat lemah ke dapur dan mencoba mencari sesuatu untuk dimakan. Sedangkan kakakku yang kemarin meninggalkanku sendirian di rumah, duduk nyaman di depan TV dan mengatakan sesuatu yang membuatku cukup kaget, "Hari ini Chitanda mungkin akan ke rumah. Tolong paksakan tubuhmu untuk bergerak ya,"
Lugas, santai, dan tidak berperasaan. Begitulah ucap kakak perempuanku setelah kemarin meninggalkan adiknya yang sedang flu sendirian di rumah. "Oh, aku bawa obat dan beberapa makanan yang mungkin membantu menurunkan demam. Semuanya ada di laci bawah kompor ya, kalau kau mau."
Aku mencoba membungkuk dan melihat apa yang kakakku bawakan. Ada beberapa minuman energi, obat dan makanan. Mungkin ini cukup membantuku untuk melewati hari.
"Aku lupa memberitahumu. Mungkin siang ini aku akan pergi lagi, dan ada seseorang yang akan berkunjung ke rumah. Tolong jamu dengan baik ya."
Apa kau tidak melihat adikmu sedang demam parah begini? Bisa-bisanya menerima tamu, sudah begitu aku pula yang harus menjamunya, gumamku. Aku tidak ingin menjawab ucapan kakakku barusan, yang aku lakukan hanya mengernyit ke arahnya ketika kembali ke kamar.
Bukannya aku membenci orang apabila mereka ingin menjenguk, hanya saja bagaimana cara kakakku menyampaikan. Meskipun aku tahu, kakak perempuanku sangat senang mengerjai sekaligus menyayangi adik kecilnya… pasti ini sesuatu yang tidak dapat aku bayangkan. Tamu ini datang juga mungkin untuk menitipkan barang kepada kakak perempuanku yang siang ini akan pergi. Jadi mungkin, sebelum aku menjamu tamu tersebut, aku sedikit bersiap-siap dengan merapihkan rambut dan menggunakan mantel rumah untuk menjaga tubuhku tetap hangat.
Setelah mengambil barang-barang yang kakakku berikan, segera itu juga aku menghabiskan makanan yang cukup bergizi dan meminum sebutir pil obat flu. Efeknya tidak begitu lama, sekitar 10 menit setelah menenggak pil tersebut, mataku mulai berat dan kemudian jatuh tertidur.
Sekitar pukul 1 siang, aku terbangun karena rasa haus yang mendera cukup keras. Menariknya, hanya perlu minum pil aneh dan istirahat sedikit, kondisi tubuh saat ini jauh lebih baik dibanding tadi pagi. Tidak lama setelah aku membuka mata, terdengar dering bel dari bawah. Mungkin ini tamu yang kakak bilang.
Perlahan aku menuruni tangga sambil bertumpu ke pegangan tangga. Aku membuka pintu dan yang menunggu di luar adalah perempuan seumuranku dengan pakaian monokrom putih dari atas hingga lututnya. Wajahnya terlihat khawatir. Ia memegang sebuah bungkusan yang aku tidak bisa menerka apa itu.
"Ah maaf repot-repot, Oreki-san," ia membuka mulut setelah aku membukakan pintu.
"Silahkan masuk, tadi kakakku memberitahu seseorang akan datang… aku hanya tidak menyangka itu kau, Chitanda," aku mempersilahkannya masuk.
Dengan gugup, ia masuk dan melepas sepatunya. Aku menyuruhnya ke ruangan tengah sementara aku membereskan sedikit meja yang berantakan ulah kakak ku. Karena ruang tengah cukup gelap, aku mengambil remote dan mengarahkannya ke manekineko yang berada di atas meja. Lampu kemudian menyala dan kupersilahkan ia duduk sambil menawarkan minuman. Chitanda menggeleng dan terus-menerus menundukkan pandangannya.
Aku mengambil tempat di seberangnya. Duduk dengan perlahan dan kami berdua duduk diam dalam beberapa saat.
"Saya ingin meminta maaf karena telah menyebabkan Oreki-san sakit," ia membuka suara lebih dahulu.
Aku tidak ingat dia membuatku terkena demam… mungkin karena mengajakku mengobrol di teras sore itu? Ya, pasti itu.
"Tidak apa-apa. Tubuhku sudah baikan setelah minum obat dan istirahat tadi."
Dia tetap murung meskipun aku memberikan jawaban yang harusnya membuat seseorang tenang. Ia kemudian melanjutkan, "Saya juga membuat Oreki-san cukup kerepotan tempo hari. Jadi… untuk meminta maaf karena membuat Oreki-san sakit dan bekerja kemarin siang. Saya bawakan sesuatu untuk Oreki-san, mohon diterima," dia kemudian menyerahkan bungkusan coklat tersebut di atas meja. Kemudian mendorongnya sehingga berada tepat di depanku. Tentu, sebagai orang yang sakit sekaligus baru bangun tidur, pikiranku masih berkabut untuk menanggapi Chitanda. Aku hanya mengangguk dan mengatakan sama-sama, sembari meletakkan itu ke dapur. Aku mengintip sedikit dan melihat isi bungkusan itu.
"Ah selai jeruk. Merk-nya tidak pernah kudengar sebelumnya.. Mille Fleur? Bagaimana cara mengejanya ya."
Tiba-tiba Chitanda berkata sesuatu, "Mungkin saya akan segera pulang agar Oreki-san bisa beristirahat lagi.. namun sebelum itu, saya penasaran dengan boneka manekineko di atas meja. Tadi mengapa Oreki-san mengarahkan remote lampu ke arah bonekannya ya?" wajahnya menunjukkan rasa penasaran.
Aku hanya menjawab ringan, "Di dalam boneka itu ada semacam sensor inframerah untuk menyalakan lampu. Makanya, aku mengarahkan remote ke arah manekineko untuk menyalakan lampu."
Kemudian aku juga memiliki pertanyaan untuk Chitanda, "Siapa yang memberikan alamat rumahku kepadamu ya?"
Chitanda merapihkan pakaiannya sembari berdiri dan menjawab. "Pagi hari aku menelpon rumah Oreki-san karena ingin mengucapkan terima kasih. Kakak perempuan Oreki-san yang menjawab dan beliau mengabarkan kalau Oreki-san sakit. Jadi… saya ke sini untuk menengok dan mengucapkan terima kasih setelah kakak perempuan Oreki-san memberi alamat."
Aku mengangguk kecil. Jadi sudah direncanakan kakak ya, apa boleh buat.
Kami berdua berjalan menuju pintu depan. Chitanda berpamitan dengan membungkuk, sedangkan aku menanggapinya dengan, "Oh."
Setelah itu ia pergi sambil melambaikan tangan ketika aku juga sudah di luar. Aku hanya menatap sosoknya yang perlahan menghilang dari balik pagar rumah sekitar. Kemudian aku bergumam, "Hari ini pertama kalinya seorang teman berkunjung ke rumahku."
