.

Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji

Finding Me, Finding You, Finding Us © Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini

.

we're Venus and Mars
we like different stars
but you're the harmony to every song I sing
and I wouldn't change a thing

(Demi Lavato ft. Joe Jonas—Wouldn't Change a Thing)

.


Kazuya menatap pantulan bayangannya dalam cermin. Jejak basah air mengilap di kulitnya, melapisi jaringan otot padat di dada, perut, juga lengannya. Tanpa kacamata, ia perlu berdiri dekat dengan cermin untuk bisa melihat dengan jelas. Tapi Kazuya tak mengambil langkah terlalu dekat, sengaja berdiri satu meter dari cermin besar di kamarnya dan menatap pantulannya yang memburam. Handuk putih menggantung di pinggul, rambut basah, dan uap samar. Kazuya berharap, tanpa kacamata ia tak akan melihat tanda itu. Akan tetapi ia salah, tanda itu tetap bisa ia lihat dengan jelas bahkan tanpa kacamata.

Tepat di dada kirinya, sebuah tanda imprint membentuk pola segi lima diamond tecetak dengan warga gelap mendekati hitam. Kazuya ingat malam saat tanda itu muncul di dadanya. Sengatan rasa sakit dan terbakar hingga ia berteriak keras dalam banjir keringat, membuat semua orang di rumah lari dan menggedor-gedor pintu kamarnya.

Imprint; sebutan untuk tato alami yang akan muncul pada tubuh setiap orang di usia enam belas atau tujuh belas tahun. Imprint selalu membentuk pola tertentu yang identik dan muncul di tempat yang sama dengan belahan jiwamu.

"Kau sudah tampan. Berhentilah memandangi wajahmu sendiri."

Kazuya berbalik. Berdiri tepat di pintu kamarnya, seorang pemuda berjaket kulit dan celana jeans sobek-sobek dengan seringai khas yankee tersungging di bibirnya. Kazuya balas menyeringai. "Terima kasih karena mengakui aku tampan."

Kuramochi Youichi memutar mata. "Aku malas sekali adu mulut denganmu pagi-pagi." Ia berkata lalu memindahkan tumpuan kakinya. Memandangi Kazuya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan kembali bertatapan dengan sepasang matanya. "Kau terlihat seperti seorang International Playboy yang siap meniduri sepuluh wanita sekaligus."

Kazuya mengangkat satu alis tinggi. "Itu pujian atau kecemburuan, Kuramochi-kun?"

"Cepat ambil saja tasmu, atau kita bisa ditendang dari kelas Professor Tamaki karena terlambat."

Kazuya menyempatkan diri untuk tersenyum miring pada sahabatnya. Berpakaian, mengeringkan rambutnya, dan memakai kacamata. Ia lalu berjalan ke meja belajar, mengambil tas, memakainya pada sebelah bahu dan berjalan keluar kamar bersama Kuramochi. Pemuda berambut hijau itu menguap lebar saat mereka menuruni tangga, lanjut menggerutu bahwa matanya masih berat dan tubuhnya terasa lelah luar biasa.

"Salahmu sendiri tidak bisa mengontrol diri semalam."

Kuramochi berdecak. "Kau tahu aku bukan cowok cassanova sepertimu yang bisa santai-santai saja jika kumpul dengan gadis-gadis cantik. Untuk mengalihkan perhatianku, aku harus minum lebih banyak!"

Semalam, mereka pesta minum bersama beberapa teman seangkatan. Kazuya bukan orang yang suka minum, bukan pula pribadi yang suka dengan perkumpulan seperti itu, tapi Kuramochi memaksa dan menyeretnya. Beralasan bahwa seorang Miyuki Kazuya akan menjadi magnet ampuh untuk menarik gadis-gadis cantik ikut bergabung, dan siapa tahu saja di antara gadis-gadis itu ada yang bisa Kuramochi bawa untuk bermain satu malam.

"Pada akhirnya kau justru mabuk dan merepotkanku. Alih-alih membawa gadis cantik ke motel untuk tidur denganmu, aku justru harus membawamu tidur di rumahku."

Kuramochi meninju bahunya bersama umpatan. "Haruskah kau menjadi berengsek sepagi ini?"

Kazuya mendelikkan bahu begitu mencapai anak tangga terbawah dan berjalan di ruang tamu yang kosong, matanya memandang sejenak secara berkeliling. Sepi. Tapi ia menemukan dua totebag dengan merek ternama tepat di atas meja ruang tamu. Ia berjalan menuju meja itu dan melongok sejenak ke dalamnya.

"Whoa!" Kuramochi berdecak takjub, menyeringai pada Kazuya. "Orang tuamu benar-benar keren. Kau adalah bajingan yang beruntung."

Kazuya mendapatkan satu jaket dan satu jam tangan yang walau hanya dilihat sekilas saja sudah bisa dipastikan bukan harga yang murahan. Kazuya lebih tertarik untuk mengambil kertas kecil yang menggantung pada totebagnya.

Sepertinya warna ini akan cocok denganmu. Semoga kau suka .Tulisan ibunya berbaris rapih pada tas berisi jaket. Sementara tas yang lebih kecil berisi jam tangan hanya berisi sepenggal kalimat, kuharap kau suka, tulisan ayahnya.

"Ini bahkan bukan hari ulang tahunmu."

Kazuya otomatis tersenyum begitu melihat jam tangan mewah berwarna hitam metalik yang tampak begitu elegan sekaligus juga maskulin. Ayahnya benar-benar tahu seleranya. Menutup kembali kotak jam tangannya dan menoleh pada Kuramochi. "Mereka dari London, tak harus menunggu ulang tahun untuk membawakan anaknya oleh-oleh."

"Seperti yang kubilang sebelumnya, kau adalah bajingan yang beruntung."

Kazuya mendengus geli, meletakkan kembali kotak jam di dalam totebag. Orang tuanya mungkin masih tidur sekarang, ia akan berterima kasih nanti. "Kita berangkat sekarang?"

Kuramochi menjawab ajakannya dengan berjalan lebih dulu menuju garasi di mana mobil Kazuya terparkir berdampingan bersama dua mobil lainnya. Mercedes Benz hitam yang mengilap mulus tanpa lecet atau goresan sedikitpun. Kazuya menekan kunci, Kuramochi langsung membuka pintu dan duduk tepat di samping kemudi.

"Kurasa," Kazuya membuka suara begitu mobil melaju di jalan raya, "meskipun semalam kau tidak mabuk, kau tetap tidak akan tidur dengan gadis lain."

"Kau mengejekku?"

"Aku memujimu." Sergah Kazuya. "Aku tahu betul kau orang yang punya tampang preman tapi berhati lembut—"

"OI! KAU MENGEJEK—"

"—kau tidak akan sanggup mengkhanati soulmate-mu." Potong Kazuya cepat dan tenang. Kuramochi langsung bungkam dan merona samar. Kazuya tersenyum penuh kemenangan. "Wow. How gently, Kuramochi-kun."

Kuramochi tidak mendebat lebih jauh. Sebaliknya, pemuda itu kini agak bersemu dan memandang keluar jendela mobil. "Tapi dia sedang tidak di sini sekarang, melaikan jauh di Kobe sana."

"Kau merindukannya?"

Kuramochi berdecak. "Aku tahu kedengarannya picisan, tapi rasanya sangat menyiksa saat kau harus berjauhan dengan belahan jiwamu, Miyuki."

Kazuya tidak pernah tahu hal itu. Ia tidak pernah tahu apa bedanya berdekatan atau berjauhan dengan belahan jiwa. "Seburuk itu?"

"Sangat." Sahut Kuramochi getir. "Rasanya aku ingin berlari ke sisinya untuk melenyapkan rasa kosong dan kesepian di hatiku."

"So romantic." Kazuya menyeringai geli yang langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Kuramochi. "Kau tidak ingin pindah jurusan jadi sastra?"

"Sialan!" Kuramochi mengumpat jengkel. "Kalau aku tidak ingat kau temanku sejak SMA, kucekik kau sampai mati sekarang juga."

Kazuya tertawa geli. "Jahatnya.. padahal semalam kau menginap di tempatku."

"Kau membiarkan aku tidur di ruang santaimu alih-alih membawaku ke kamarmu! Dasar kejam!"

Kazuya terkekeh lagi. "Kau sudah lama sekali berteman denganku, Mochi. Kau seharusnya hapal bahwa aku tidak suka membawa orang lain masuk ke kamarku."

Itu memang benar. Kazuya paling tidak suka orang masuk ke kamarnya. Bahkan orang tua atau teman dekatnya sekalipun, biasanya hanya berdiri di pintu seperti yang tadi pagi Kuramochi lakukan. Tidak mengambil langkah masuk lebih jauh ke dalam kamar Kazuya.

"Aku masih tidak bisa memahami bentuk posesifmu pada kamar tidurmu, Miyuki." Kuramochi berkata dengan pelipis berkerut. "Apa kau takut orang lain menemukan tumpukan koleksi majalah pornomu?"

"Jangan konyol. Aku hanya tidak suka, oke? Aku sudah begini sejak umur sepuluh tahun dan orang tuaku juga mengerti."

"Kau benar-benar pria berengsek, ya? Kau bahkan tidak akan membawa gadis yang kau tiduri ke kamarmu. Kau pasti lebih memilih menyewa motel atau kalau perlu hotel, daripada membawa orang asing ke kamarmu."

"Kenapa kau selalu berpikir aku suka tidur dengan gadis random?"

"Memangnya tidak?"

"Tidak." Jawab Kazuya bulat. "Aku tidak suka hal-hal murahan begitu."

"Meskipun kau sering sekali keluar berdua dengan sembarang gadis cantik tiap kali melangkah ke pub atau tempat nongkrong lainnya?"

Kazuya membuang napas panjang. "Aku hanya berbaik hati dan mengantar mereka pulang. Aku sama sekali tidak menyentuh mereka."

"Meskipun mereka memaksamu? Meskipun mereka melepaskan pakaian di hadapanmu? Ayolah, Miyuki, aku tahu betul mereka selalu bertekuk lutut padamu."

"Bukankah kau temanku? Kenapa kau terus menganggap aku bajingan?"

"Serasi dengan kepribadianmu." Jawab Kuramochi tanpa ragu. "Dan entah bagaimana serasi juga dengan wajahmu, ekspresimu, gaya bicaramu, semuanya."

Kazuya memutar setir ke kiri saat di mereka melalui persimpangan. "Aku benar-benar bukan orang yang seperti itu, Mochi. Aku suka ciuman, itu benar. Aku tidak keberatan mencium gadis cantik yang baru kutemui dalam satu jam. Tapi hanya sebatas itu, selebihnya aku tidak suka."

"Benar." Kuramochi mengangguk puas. "Jadi kau memang berengsek." Ia menyimpulkan dengan bangga. "Kau memancing mereka, membawa mereka ke tepian, lalu kau tinggalkan mentah-mentah begitu saja."

"Kau terlalu dramatis. Jaman sekarang bahkan anak sekolah dasar saja sudah mulai berciuman."

Kuramochi mendelikkan bahu. "Aku harap aku bisa melakukan hal yang sama." Ia membuang napas berat. "Aish, sial! Kalau aku tahu akan jadi serumit dan seberat ini, seharusnya aku tidak membentuk bond dengan Sachiko!"

Bond; ialah tahapan lebih lanjut ketika kau berhasil menemukan belahan jiwamu. Sepasang soulmate yang sudah saling menemukan dapat mengambil tindakan ini ketika mereka telah yakin untuk menjalani komitmen dengan lebih serius dan tidak lagi main-main dengan sembarang orang. Mungkin kalau diistilahkan secara hukum, bonding punya kedudukan yang sama seperti bertunangan. Bonding hanya bisa terjalin apabila disepakati kedua belah pihak. Karena pasca melakukan bond, ikatan di antara sepasang soulmate akan jauh lebih kuat, lebih intens, bahkan tak jarang mulai dapat membaca pikiran satu sama lain. Kazuya pribadi justru berpikir itu mengerikan. Mengetahui seseorang dapat melihat jelas apa yang ada dalam kepalanya, apa yang tersembunyi di pikirannya, itu adalah hal paling horror. Terlebih lagi…

"Aku benar-benar tidak tahan."

Mereka akan saling membutuhkan dan tidak sanggup berjauhan terlalu lama. Seperti yang sekarang dialami Kuramochi. "Temui dia." Kazuya menyarankan.

"Masih satu minggu lagi sampai jadwal kami untuk bisa bertemu." Kuramochi menggerutu. "Lagi pula kami tidak bisa meninggalkan kuliah kami begitu saja."

Kuramochi Youichi mendapatkan imprint pada usia enam belas, sama seperti Kazuya. Hanya saja satu tahun kemudian, imprint di lengan kanan Kuramochi berpendar kebiruan, lalu seorang gadis mengalami hal yang sama. Itulah pertama kalinya mereka berdua bertemu dengan Umemoto Sachiko, soulmate Kuramochi. Entah bagaimana, tak butuh waktu lama hingga Kuramochi dan Sachiko menjadi dekat lalu memutuskan untuk benar-benar berpacaran. Mereka baru membentuk bond satu tahun yang lalu, seingat Kazuya, Kuramochi lebih banyak mengeluh dan menggerutu setelah itu.

"Seperti apa rasanya?"

Kuramochi menoleh. "Apanya?"

Kazuya menjilat bibir bawahnya singkat. "Saat imprint di tubuhmu berpendar. Bagaimana rasanya?"

"Maksudmu saat bertemu dengan soulmate?" Kazuya mengangguk sebagai jawaban, Kuramochi lalu bergumam, tampak berpikir dan mengingat-ingat. "Rasanya seperti ada yang meledak dalam dirimu."

Kazuya mendenguskan tawa menggelikan.

"Aku tidak bercanda!" Bentak Kuramochi. "Rasanya memang….well, aneh." Bahunya berkedik ringan. "Jantungmu berhenti berdetak, lalu berdetak begitu cepat sampai-sampai kau bisa merasakan seluruh tubuhmu ikut berguncang. Napasmu sesak, dan imprint di tubuhmu akan terasa terbakar seperti saat pertama kali kau mendapatkannya. Hanya saja kali ini bukan hanya terasa terbakar, tapi juga benar-benar mengeluarkan cahaya."

Kuramochi meraba bagian atas lengan kanannya yang saat ini tertutup jaket kulit. Kazuya ingat di sanalah imprint milik Kuramochi berada. Berbentuk tiga garis memanjang yang sejajar seperti barcode, serupa dengan milik Sachiko.

"Sulit dijelaskan." Ujar Kuramochi lagi. "Kau harus benar-benar mengalaminya baru tahu bagaimana rasanya."

Kazuya tersenyum masam. "Aku mungkin tidak akan pernah mengalaminya, Mochi."

"Kau tidak boleh pesimis."

"Aku hanya bicara realistis." Kata Kazuya. "Orang-orang akan bertemu dengan soulmate mereka dalam waktu enam bulan sampai dua tahun setelah mendapatkan imprint. Aku sudah mendapatkan imprint sejak usiaku enam belas, sekarang aku dua puluh satu tahun, dan imprint di dadaku sama sekali tidak pernah berpendar."

Kuramochi tampak tidak nyaman dengan topik obrolan ini. "Kau hanya belum bertemu dengannya, atau mungkin dia sedang di luar negeri. Aku tidak akan kaget jika belahan jiwamu ternyata adalah seorang gadis Eropa dengan rambut pirang dan mata biru juga tubuh yang seksi."

Kazuya tersenyum dengan enggan. "Aku tidak terlalu peduli. Bagiku hanya ada satu kemungkinan mengapa imprintku tidak pernah berpendar. Dia sudah mati sebelum kami sempat bertemu, dan itulah yang menyebabkan imprintku juga ikut mati."

"Miyuki…"

"Relax, dude." Kazuya memberi Kuramochi cengiran ringkas. "Aku bukan orang melankolis yang merasa perlu bersatu dengan seseorang hanya karena kami berdua punya imprint yang sama. Lagipula, baik ayah dan ibuku juga sama-sama kehilangan soulmate asli mereka. Pada akhirnya mereka menikah, dan yang kulihat, mereka bisa bertahan bahagia sampai sekarang."

Kedua orang tuanya adalah sepasang manusia yang memiliki nasib serupa. Laki-laki yang seharusnya menjadi soulmete sang ibu meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta api, sementara wanita yang seharusnya menjadi soulmate ayahnya meninggal akibat kanker paru-paru. Orang tuanya kemudian saling bertemu tak lama setelah itu. Sepasang manusia yang terluka, dua hati yang patah, dua potong jiwa yang ditinggal belahan jiwa masing-masing. Mereka saling berbagi luka, dan pada akhirnya memulai hidup baru dengan saling melengkapi, mengisi kekosongan dan lubang besar di hati satu sama lain dengan sebuah ikatan pernikahan yang sah.

"Aku mungkin akan mengikuti cerita orang tuaku." Kata Kazuya lagi, menyempatkan diri untuk menoleh dan memberi cengiran penuh percaya diri pada Kuramochi. "Bukan hal yang buruk, kan? Aku punya peluang lebih banyak untuk memilih pasangan manapun yang aku mau."

Kuramochi mendengus. "Dan kau menyangkal bahwa kau itu berengsek."

Kazuya tertawa, berbelok ke kanan dan mulai memasuki area kampus.

Soulmate, kata itu baginya hanya hal konyol untuk menjodohkan sepasang manusia. Tapi dengan siapa ia hendak berakhir, itu semua terserah padanya. Sekalipun bertahun-tahun lalu imprint di dadanya berpendar dan ia berhasil bertemu dengan soulmatenya, Kazuya bahkan ragu ia akan menjalin ikatan dengan orang itu. Karena baginya, takdir adalah apa yang ia buat dan tuliskan dengan tangannya sendiri.

Eijun meraba memar keungunan di wajahnya lalu meringis. Tendangan itu sepertinya cukup keras dan mengenai tepat di tulang pipinya. Eijun sempat mengira giginya rontok, tapi untugnya ia hanya mengalami memar dan menjadi kesakitan tiap kali otot-otot di wajahnya berkontraksi.

"Kau memang idiot."

Eijun mendelik sinis, melirik ganas pada pantulan wajah Kanemaru Shinji dari cermin. "Temanmu sedang terluka, tunjukkan kepedulianmu sedikit!"

Shinji memandanginya dengan dahi berkerut tak senang. "Itu salahmu. Kau yang membuat monster itu kesal dan pada akhirnya menjatuhkanmu dengan tendangan kuat."

Eijun cemberut, mengalihkan tatapan dari Shinji dan menyalakan kran di depannya. Saat ini mereka berdiri menghadap cermin besar dan wastafel di kamar mandi setelah lima belas menit yang lalu terjebak dalam situasi membahayakan. Eijun ngeri sendiri begitu menyadari situasi jenis apa yang tadi dihadapinya, tapi ia tidak menyesal sama sekali, kalaupun diberi kesempatan kedua, ia tidak akan mundur.

"Kau sadar kau masih mahasiswa tingkat satu, Sawamura?" Pertanyaan Shinji bagai menohoknya. "Yang kau lawan adalah Azuma-san, mahasiswa tingkat tiga yang bertubuh tiga kali lipat ukuranmu."

Eijun mengumpulkan air di telapak tangannya dan membasuh wajahnya dua kali sebelum berdiri tegak dan menghadap Shinji. "Aku kesal dengan sikapnya! Itu sama sekali tidak ada hubungannya dia seniorku atau bukan. Kalau dia tidak bisa menghargai orang lain, dia pantas untuk dihajar."

"Dihajar." Shinji tersenyum geli. "Yang kulihat tadi kau hanya menyeruduk lalu membantingnya ke matras. Sebagai balasan, dia memberikanmu tendangan mematikan tepat di wajahmu."

"Itu curang!" Sengit Eijun tak terima. "Kalau saja tendangannya meleset sedikit, dia bisa mengenai mataku dan itu melanggar aturan."

Shinji mendengus. "Kau. Membanting. Tubuhnya. Duluan. " Memberi penakanan pada tiap kata seolah berusaha memasukkan dalam-dalam ke dalam otak Eijun. "Kau membantingnya seperti membanting karung beras." Shinji menghela napas berat, memijit pelipisnya seakan-akan ia orang tua yang pusing menghadapi kenakalan anaknya. "Demi Tuhan, Sawamura. Kau baru belajar taekwondo kurang dari satu tahun, sementara Azuma-san memenangkan olimpiade tingkat Prefektur selama tiga tahun berturut-turut! Otakmu pasti cedera kronis karena berani menyerangnya."

Eijun mencebik, tak suka diceramahi.

"Kau bahkan datang ke kampus sejak pagi padahal kelasmu baru dimulai jam satu siang. Sekarang apa? Tiga puluh menit menjelang kelas dimulai, kau justru babak belur."

Eijun mengepalkan kedua tangan di masing-masing sisi tubuhnya, membuka mulut dan bersiap untuk menyemburkan sejuta kata protes. Akan tetapi rasa terbakar di dadanya datang secara tiba-tiba dan membuat semua protesnya terhenti di ujung lidah. Tangannya bergerak meremas dada kirinya. Ada yang terbakar di sana, panasnya bukan main seolah seseorang baru saja menancapkan bara besi tepat di kulit dadanya. Eijun menggerang kesakitan, jatuh ke lantai dengan kedua lutut mendarat lebih dulu.

"Sawamura!"

Suara Shinji berdengung di telinganya. Pemuda itu buru-buru berlutut di hadapannya dan meremas kedua bahunya erat-erat, memanggil-manggil namanya dengan wajah panik. "Hey! Ada apa denganmu?"

Dadanya bagai terbakar. Eijun berteriak keras. Kepala tertunduk dan bersandar ke dada Shinji sementara tangannya berusaha mencabik-cabik rasa panas di dadanya. Dalam sekejap, keringat membanjiri tubuhnya, tapi rasa sakit itu sama sekali tak mereda.

"Sawamura… kau…?" Suara Shinji terdengar tercekat, tapi Eijun terlalu sibuk untuk menggerang kesakitan dan mengatasi rasa sakit membara di dadanya. "Shit! Ini imprint! Berapa usiamu? Kenapa kau baru mengelaminya sekarang?"

Eijun tidak bisa berpikir atau mencerna kata-kata Shinji. Sialan! Ini sakit sekali! Air mata mulai merembes dari ujung mata, bibir bawah digigit kuat-kuat untuk meredam teriakan, dan otaknya terus bertanya-tanya kapan penderitaan ini berakhir.

"Sawamura, tetaplah bernapas!" Shinji berusaha menegakkan tubuhnya, membawa Eijun duduk lebih tegak dan menghadap wajahnya. "Tenang, oke? Ini tidak akan lama. Tarik napas perlahan dan cobalah menahan sakitnya."

Eijun mencoba menarik oksigen ke paru-parunya. Ia merintih, tangan mengepal memukul-mukul dada kirinya. "….sakiiitt!"

"Hanya sebentar!" Shinji terus berusaha meyakinkan. Meremas bahunya makin kuat dan mencoba membuatnya tidak pingsan. "Bertahanlah, oke?"

Tidak. Eijun sama sekali tidak oke. Bagaimana bisa imprint terasa sesakit ini?! Tidak ada yang pernah memberitahunya bahwa rasanya akan seperti dibakar sekaligus disayat-sayat. Ia bisa merasakan sesuatu yang tajam dan panas bagai menusuk-nusuk dada kirinya, menyeret garis untuk membentuk pola tertentu. Ia sayup-sayup mendengar Shinji menggerutu panik dan kebingungan. Lalu secara berangsur rasa terbakar di dadanya mulai berubah menjadi panas, menjadi hangat, dan sakitnya juga mereda. Eijun berhenti menggerang. Ia mencoba menenangkan diri dan menarik napas.

"Sudah berakhir?" Suara Shinji terdengar cemas. "Kau sudah baikan?"

Eijun menatap mata temannya. Ia merasakan jejak lengket air mata di kedua pipinya. Ia pasti tanpa sadar menangis saat menahan sakit tadi. Tangannya meraba dada kirinya yang kini hanya terasa hangat, menunduk kecil dan mengintip dari celah kausnya.

Aku punya imprint, Eijun membatin. Ia belum bisa melihat dengan jelas seperti apa bentuk imprint di dada kirinya, tapi ia bisa melihat garis-garis hitam seperti tato abadi kini melekat di dadanya.

Shinji menghela napas. "Ayo, berdiri." Ia menarik satu tangan Eijun dan membantunya berdiri tegak. "Itu tadi sangat mengerikan. Aku kembali teringat betapa menyakitkannya saat pertama kali mendapat imprint."

Eijun mengusap dada kirinya pelan. "Sakit sekali." Suaranya serak. "Aku kira aku bakal mati." Eijun menghadap cermin dan melihat wajahnya pucat pasi.

"Kau baik-baik saja sekarang." Shinji menepuk bahunya dengan gestrur bersahabat. Memberinya senyum lugas. "Jadi kau sudah dewasa?"

Eijun mendengus. "Aku sembilan belas! Tentu saja aku sudah dewasa!"

"Tapi imprint normalnya muncul saat kau enam belas sampai tujuh belas. Kenapa punyamu baru muncul sekarang?"

Eijun mendelikkan bahu, menyalakan kran dan mencuci kembali wajahnya untuk mengusir jejak air mata. "Semua laki-laki dari keluarga Sawamura kebanyakan memang agak lambat mendapatkan imprint. Ayahku sendiri mendapatkannya saat delapan belas tahun."

Shinji mengangguk meski masih tampak tak percaya. Eijun bertopang pada wastafel dan menatap wajahnya yang basah. Rasanya tadi benar-benar menyakitkan. Ia mencoba mengembalikan cengiran penuh percaya diri ke wajahnya ketika sesuatu di dalam dirinya terasa meledak. Bola matanya bagai dipecahkan dan otaknya ditekan kuat ke bawah. Eijun memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya kembali terbakar. Apa ini belum berakhir?

"Sawamura!" Shinji meneriakkan namanya lagi. "Kenapa lagi denganmu!?"

Dadanya terbakar tapi tak ada rasa sakit tersayat seperti sebelumnya. Hanya berkobar selagi jantungnya berdentum-dentum di balik jaring rusuknya. Eijun bisa merasakan seluruh aliran darahnya mengalir sangat deras menuju kepala, denyut nadinya meningkat pesat dan ia merasa seperti bom yang siap meledak dalam hitungan detik. Namun kali ini ia tidak berteriak, matanya mencoba untuk fokus pada rasa terbakar di dada kirinya, pandangannya mengabur, tapi ia bisa lihat ada sesuatu di sana; di balik kausnya, dadanya berpendar kebiruan.

"Ini… tidak mungkin…" Shinji melongo tak percaya melihat kejadian yang Eijun alami. "Kau baru saja mendapatkan imprint lima menit lalu! Ini terlalu cepat!"

Eijun ingin bertanya apa maksud Shinji ketika pintu toilet terdobrak membuka dengan keras. Seseorang terhuyung masuk, berdiri menghadap tepat ke arahnya dengan ekspresi pucat pasi. Tanggannya meremas bagian kemeja di dada kirinya, tepat di mana cahaya kebiruan berkedip-kedip lalu berpendar semakin terang.

Shinji menahan pekikkan, satu orang lain masuk dengan terburu-buru dan berdiri tepat di sebelah pemuda sebelumnya. Melongo memandang bergantian pada Eijun dan orang itu. Orang itu… dada Eijun terbakar ketika mata mereka bertemu. Ada gambaran-gambaran yang muncul silih berganti dalam periode detik di dalam kepalanya. Potongan-potongan kejadian atau ingatan yang sama sekali tidak pernah dialaminya. Eijun memejamkan mata rapat-rapat. Dua suara menggerang kesakitan. Pendar biru di dada mereka semakin terang dan menyilaukan. Kejadian itu berlangsung singkat tetapi terasa bagaikan keabadian. Saat berakhir, Eijun mendapati tubuhnya lemas dan hampir merosot ke lantai andai Shinji tak segera menangkapnya.

"Kau baik-baik saja?" Temannya berkata ragu-ragu. "Dua peristiwa besar sekaligus, belum lagi kau habis dihajar Azuma-san, ini pasti hari yang melelahkan buatmu."

Eijun menyadari nada prihatin dalam suara Shinji, tapi ia tidak benar-benar mengerti apa maksudnya. Ia mengecek dada kirinya. Pendar itu masih ada, walau tidak seterang sebelumnya.

"Mustahil…" Kata sebuah suara. Eijun mendongak. Kali ini ia bisa melihat lebih baik wajah pemuda yang juga memancarkan sinar kebiruan di dada kirinya. Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan bahu lebar dan dada bidang, tampak maskulin dan jauh lebih dewasa. Pakaiannya rapih namun tetap kasual dengan setelan kemeja merah lengan panjang yang digulung tiga perempat dipadukan dengan celana hitam yang jatuh pas di kaki jenjangnya. Rambutnya coklat terang, garis rahang tegas, dan kacamata bertengger di hidung bangirnya.

"Wow!" Seseorang lain bersiul seru. Pemuda lainnya, berambut hijau tua dan bertubuh lebih pendek. Pakaiannya adalah perpaduan celana jeans robek-robek, jaket kulit hitam, juga kaus bergambar tengkorak. Ia menyeringai pada pemuda berkacamata di sebelahnya dan meninju bahunya seperti sahabat dekat. "Apa ku bilang? Kau pasti menemukannya." Matanya ganti menatap Eijun, cengiran mekar di wajahnya. "Soulmate."

Shinji mengeluarkan suara seperti menahan batuk. Sedangkan Eijun tertegun. Otaknya berusaha berkejaran menggapai kepingan-kepingan informasi dari serangkaian kejadian yang baru saja berlangsung. Imprintpendar kebiruan… dua orangsoulmate

Ada suara dengusan kasar. Pemuda berkacamata itu kini berdiri tegak dengan kedua tangan bersilang di depan dada, gesturnya benar-benar angkuh. Ia menatap Eijun dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, lalu kembali menatap matanya. "It's disgusting. Aku bukan gay."

Retina Eijun melebar. Ia tidak tahu apa yang salah dari kalimat singkat yang baru saja meluncur bebas dari lidah pemuda itu. Tetapi ia merasakan ada kemarahan yang berderu di dadanya. Tatapan mata, gestur tubuh dan gaya bicaranya bagai menghakimi Eijun sekaligus juga menghinanya seperti tikus got.

"H-hei dasar bodoh," si rambut hijau berkata tergagap. "Itu bukan kalimat yang seharusnya kau ucapkan di depan belahan jiwamu."

Belahan jiwa. Mendengarnya membuat Eijun ingin muntah. Ia kini berdiri tegak, menatap tak gentar ke mata pemuda yang tidak dipanggil Kazuya. "Aku juga bukan!" Ia berkata dengan lugas. "Tapi ucapanmu berusan terasa pahit dan bisa membuat suatu golongan tersinggung! Tidakkah kau pernah diajari sopan santun!?"

"Sawamura," Shinji memegangi bahunya, menjaga gerak impulsif Eijun agar tak kelepasan membanting pemuda sombong itu seperti yang ia lakukan pada Azuma. "Tenangkan dirimu, tidak perlu marah-marah."

Pemuda berambut hijau berdecak jengkel dan menendang bagian belakang tubuh pemuda berkacamata. "Cepan minta maaf. Jangan menambah peringkat musuh dan masalahmu."

Namun ia mengacuhkannya. Sekali lagi menatap Eijun tanpa respek dan menyeringai tipis. "Sekalipun aku gay, aku tidak akan memilih seorang bocah ingusan bermulut besar sepertimu." Lalu ia berbalik begitu saja, melangkah penuh percaya diri seolah seisi kampus adalah taman bermainnya.

Eijun menggeram tertahan, melepaskan diri dari Shinji dan berlari menyusul. Membungkuk sedikit untuk mengunci pinggang pemuda yang lebih besar darinya itu dan mengerahkan seluruh tenaga untuk membantingnya ke lantai. Eijun mendengar suara hantaman keras, rintihan serak, juga pekikan kaget di balik punggungnya

Hal berikutnya yang Eijun tahu, lututnya tertempel di dada pemuda berkacamata itu. Kedua tangan Eijun meremas kerah kemeja merahnya dalam kepalan serupa cekikan. Tubuh Eijun condong ke wajahnya, menatap matanya lurus-lurus.

"Kau gila? Menyingkir dari—"

"Aku tidak sudi." Eijun membentak keras. "Aku tidak akan sudi harus membagi kehidupanku denganmu. Persetan dengan imprint atau soulmate! Aku tidak peduli. Aku tidak mau berdekatan dengan orang angkuh sepertimu."

Eijun melemparkan tatapan seasam racun sekali lagi lalu melepaskannya. Ia mengambil ranselnya yang tadi terlempar saat ia maju untuk menyerang, lalu menoleh pada Shinji. "Ayo pergi, Shinji. Aku muak di sini."

Shinji terbengong-bengong dan mengangguk mengikutinya. Untuk terakhir kalinya, ia kembali melirik pemuda sombong itu, menyeringai puas. "Selamat tinggal, Miyuki Kazuya."

Setelahnya ia berlalu begitu saja diikuti Shinji yang menyempatkan diri untuk membungkuk sejenak pada dua orang lain. Eijun bahkan sama sekali tak menyadari dari mana ia bisa tahu nama lengkap pemuda berengsek itu adalah Miyuki Kazuya, ia bahkan bisa membayangkan bagaimana cara penulisan namanya dalam huruf kanji.

.

Dua menit berlalu, Kuramochi menendang betis Kazuya dengan ujung sepatunya. "Oi, kau baik-baik saja?"

Kazuya berbaring di lantai, menatap ke langit-langit lalu bangun dalam satu gerakan cepat. Ia mencoba mencerna ulang apa yang baru saja terjadi. Wajah bocah, iris mata emas, tubuh yang lebih pendek dan lebih kecil darinya, serta ekspresi kemarahan bercampur rasa benci. Detik berikutnya, Kazuya tertawa.

"Otakmu pasti rusak." Kuramochi berkata. "Kau baru saja dibanting ke lantai dengan begitu keras, tapi kau justru tertawa. Ayo kita periksakan otakmu ke rumah sakit."

Kazuya terkekeh, geli memegangi perutnya dan berdiri. Ia menepuk-nepuk kemeja dan celanya yang ditempeli debu. Ia memandang lorong sepi yang sebelumnya dilewati pemuda itu. Kazuya mengulas senyum, "Kau belum tahu dengan siapa kau berhadapan, Sawamura Eijun."

...

"APA MAKSUDMU!?"

Eijun menjauhkan ponsel dari daun telinga. Teriakan melengking sang ibu di Nagano sana melejit bagai roket super ke gendang telinganya.

"Bu, dia berengsek. Aku tidak mau melakukan bond dengannya. Pokoknya tidak mau!"

"Eijun," Ibunya mengambil napas. "Tenangkan dirimu dulu, oke? Kau mengalami banyak kejadian hari ini. Kau pasti lelah sampai tidak bisa berpikir jernih."

Eijun mendesah berat, telentang di kasurnya. "Justru karena aku berpikir sangat-sangat jernih, aku menolak untuk terikat dengannya. Demi Tuhan, ibu harus tahu betapa menyebalkannya orang itu!"

"Eijun…" Ibunya berupaya menenangkan. "Kau tidak boleh membenci orang yang baru kau temui."

"Ibu.." Eijun merengek seperti anak kecil lagi. "Aku tidak mau. Aku tidak suka ini. Apa imprint tidak bisa dihapus saja?" Tangannya meraba dada kirinya tempat di mana imprint berbentuk pola segi lima diamond kini tercetak bagai tato abadi. "Aku ingin menghapusnya."

Suara helaan napas panjang di sebrang telepon. "Tidak bisa, Sayang." Ibunya berkata lembut. "Bahkan meskipun kau melakukan operasi penggantian kulit, imprint itu akan tetap muncul lagi di kulitmu yang baru."

Eijun hampir menangis mendengarnya. Apa ia benar-benar tidak punya jalan keluar?

"Dengar, Eijun." Ibunya berkata lagi. "Pertemuan awal kalian memang buruk, tapi bukan berarti hubungan kalian ke depan juga akan berjalan buruk. Cobalah untuk lebih akur dengannya, oke? Jika kau memang tetap tidak bisa menyukainya, maka kalian tidak perlu melakukan bond. Kalian bisa saling menjauh. Kau bisa kembali ke Nagano atau tinggal di manapun yang kau mau agar berjauhan dengannya."

Eijun mengangguk lesu. "Aku mengerti." Ia menjawab lemah. Saling menjauh dan tidak mencampuri urusan masing-masing adalah hal umum yang biasa dilakukan sepasang soulmate apabila merasa mereka tidak cocok. Tak jarang, mereka bahkan memilih untuk tinggal di benua yang berbeda agar imprint mereka tidak saling bereaski. Menjalani kehidupan masing-masing, bahkan juga memilih orang lain sebagai pasangan yang diinginkan.

"Bagus." Ibunya menjawab, dan Eijun bisa membayangkan senyuman hangat di wajah cantik sang ibu. "Selamat ya, hari ini Eijun resmi menjadi orang dewasa. Maaf kami tidak di sana untuk menemanimu melewati masa imprint yang menyakitkan itu…"

Selanjutnya Eijun bercakap-cakap dengan sang ibu selama hampir satu jam. Setelahnya menyiapkan beberapa buku juga tugas yang harus dibawa ke kampusnya besok. Dalam hati terus berdoa semoga ia tidak harus bertemu lagi dengan Miyuki Kazuya.

...

Kazuya melirik jam di tangan kirinya lalu membuang napas panjang. Ia masih punya empat puluh menit lagi sampai kelas selanjutnya dimulai, Kazuya punya cukup waktu untuk mengisi perutnya. Pemuda itu bergegas, memasukkan laptop dan buku-bukunya ke dalam tas, berjalan menuju cafetaria.

"Yo!"

Seseorang menabraknya begitu Kazuya keluar dari Internet Café. Merangkul bahunya dengan rangkulan kuat dan terkekeh dengan suara khas. Kazuya memutar mata. "Kita bukan anak SMA lagi, Mochi. Tidakkah caramu ini sedikit berlebihan?"

Kuramochi justru mengunci lehernya makin erat. "Kyahahaha! Kau mengeluh, Miyuki? merasa terlalu tua untuk menghadapi kekuatanku?"

Kazuya mendengus, mengumpulkan tenanga dan melepaskan diri dari Kuramochi lalu menyeringai padanya. "Ingatkah kau siapa yang membantumu menghajar selusin preman di gang pada tengah malam dua bulan yang lalu?"

"Bajingan yang sombong." Seringai Kuramochi melebar. "Tapi seingatku kau kemarin berhasil dibanting ke lantai oleh seorang bocah."

Pengalih pembicaraan yang benar-benar buruk, Kazuya menggerutu dalam hati. Tidak ambil pusing dan melanjutkan langkahnya begitu saja. Kuramochi tertawa kecil dan menyusul. "Kenapa, Miyuki? kau kesal karena dikalahkan oleh seorang bocah ingusan yang jauh lebih kecil darimu? Atau kau semata-mata sengaja tidak melawannya karena dorongan cinta dalam hatimu?"

Kazuya memutar mata. "Bisakah kau berhenti bicara hal-hal konyol?" Ia mendengus dengan kasar. "Bocah itu menyerangku dari belakang dengan tiba-tiba, aku sama sekali tidak punya persiapan menghadapi anak barbar sepertinya."

"Itu adalah pertemuan sepasang soulmate yang sangat aneh yang pernah kulihat seumur hidupku." Kuramochi berkata dengan nada dramatis yang dibuat-buat. "Tapi, hei, apa kau tidak sadar betapa menyilaukannya cahaya yang imprint kalian berdua pancarkan kemarin?"

Kazuya menyipitkan mata memandangi temannya. "Maksudmu?"

Kuramochi mengetuk dagu dengan jari telunjuknya seolah mencoba berpikir serius. "Cahayanya sangat-sangat terang, kau tahu? Bahkan nyaris memenuhi seisi toilet. Aku belum pernah melihat imprint bercahaya seterang itu. Bahkan ketika aku membentuk bond dengan Sachiko, cahayanya tidak seterang itu."

Kazuya mengerutkan alis dan mencoba mengingat kembali apa yang terjadi kemarin. Seingatnya, ia sedang berdiri bersama Kuramochi di dekat papan informasi begitu selesai makan siang. Mereka hanya mengobrol ringan seperti biasa dengan Kazuya yang menggoda betapa merana wajah Kuramochi setelah melakukan video call dengan Sachiko. Lalu tiba-tiba tubuhnya bereaksi aneh.

Imprint di dada Kazuya terasa terbakar seperti saat pertama kali terbentuk. Kazuya merasakan setiap sel di tubuhnya membengkak dan siap meledakkannya menjadi debu. Jantung berdebar hebat, darah mengalir ke kepalanya. Ia bahkan tidak tahu mengapa kakinya mendadak bergerak sendiri, dari jalan menjadi jalan cepat, lalu berubah menjadi lari. Menyusuri area kampus yang cukup padat dan mengabaikan beberapa orang yang menyapanya. Kazuya samar-samar mendengar Kuramochi memanggil-manggil namanya dan mengejar. Yang terjadi selanjutnya, Kazuya sudah berdiri di depan toilet yang terletak di bagian terpencil kampus. Toilet yang setahunya jarang sekali dipakai mahasiswa, Kazuya mendorong pintu dengan kasar dan masuk begitu saja. Di sanalah ia melihat Sawamura Eijun.

Kazuya bahkan tidak tahu mengapa nama itu bisa masuk ke kepalanya. Dari mana informasi itu ia dapat? Rasanya ada sekumpulan file yang tiba-tiba dimasukkan ke otaknya ketika matanya bertemu dengan mata Sawamura. Sepasang mata yang begitu cemerlang seperti emas dua puluh empat karat…

"Miyuki?"

Kazuya mengerjap, menoleh cepat pada Kuramochi. "Huh?"

"Kau melamun?" Kuramochi mengernyit. "Bagus sekali."

Kazuya menghela napas, rasanya sejak kemarin ia sering sekali menghela napas. Menggerakkan jarinya untuk menyisir poninya dalam gerak ke belakang kepala hingga dahinya terbuka. "Bisakah kita tidak membahasnya?" Kazuya meminta pada Kuramochi. "Kepalaku sakit tiap kali mengingat bencana kemarin."

Mereka tidak bicara lagi sampai menempati kursi kosong di cafetaria. Memesan makanan sesuai selera masing-masing dan duduk berhadapan sambil menunggu pesanan datang. Kuramochi melepas ransel dan meletakkannya di atas meja. Ia memandang Kazuya sekilas yang hanya dibalas dengan alis terangkat, kemudian Kuramochi membuka retsleting ranselnya, tangannya merogoh ke dalam dan keluar bersama satu berkas dokumen yang sudah disatukan dalam sebuah map bening.

"Untukmu." Kuramochi menyodorkan berkas pada Kazuya.

"Apa ini?" Kazuya mengerutkan alis, menerima dengan heran. "Seingatku aku tidak meminta kau mengerjakan tugasku."

"Itu beberapa data yang berhasil aku kumpulkan soal Sawamura Eijun."

Reflek, kazuya melemparkan kembali berkas di tangannya kepada Kuramochi. "Apa-apaan kau? Aku sama sekali tidak memintamu melakukan hal seperti itu."

Kuramochi menatapnya dengan sakit hati. Mengambil berkasnya kembali dan mendorongnya tepat ke wajah Kazuya. "Hargai kerja keras temanmu, Bangsat! Aku cuma tidur dua jam demi membuatnya untukmu!"

"Aku tidak pernah minta." Tandas Kazuya, melipat kedua tangan dan enggan menerima.

"Ck! Ambil saja! Kau mungkin butuh suatu saat nanti!"

"Mochi, aku tidak—"

"Kau bisa membuangnya nanti. Untuk sekarang, jangan jadi berengsek dengan membuang hasil kerja keras orang lain tepat di depan matanya."

Kazuya menatap ke mata hijau Kuramochi. Penuh tekad dan kesungguhan. Benar-benar mode di mana Kuramochi tidak akan mau kalah. "Fine." Tandas Kazuya jengah, sadar tidak ada gunanya mendebat saat Kuramochi benar-benar bersikeras. "Aku terima." Ia berkata sambil memaksakan senyum lalu menjejalkan berkas itu ke dalam tasnya.

...

"Aku tidak ingat kau memilikinya kemarin."

Eijun menoleh berkat suara itu. Ia kini berdiri di depan lokernya, tepat di ruang ganti di mana para anggota klub taekwondo menyimpan barang-barang dan berganti pakaian. Chris berdiri tepat di sebelahnya karena loker mereka berdekatan. Pemuda itu adalah ketua klub sekaligus senior dan mentor baik hati yang begitu Eijun hormati.

"Ah! Chris-senpai! Maaf aku tidak menyadari kehadiranmu!" Eijun membungkuk hormat, menegakkan bandan kembali dan memberi cengiran lebar pada Chris.

"Kau tidak perlu membungkuk." Senyum Chris menenangkan. Pemuda itu memiliki perpaduan wajah Eropa dan Asia yang begitu sempurna hingga meningkatkan ketampanan dan pesonanya berkali-kali lipat.

"Tadi Senpai bilang apa?" Tanya Eijun kemudian, menyadari bahwa sebelumnya Chris sempat bicara atau menanyakan sesuatu.

Alis Chris mengerut samar, sejenak mata amber Chris menatapnya lalu kembali berbalik untuk memasukkan barang-barang ke dalam loker. "Tato di dadamu." Ia menjawab. "Aku baru melihatnya hari ini."

Eijun menunduk ke tubuhnya, menyadari bahwa ia sudah menanggalkan kausnya dan belum memakai seragam taekwondo hingga kini tubuh bagian atasnya tereskpos dengan jelas termasuk juga tanda imprint berbentuk diamond di dada kirinya. "Oh." Eijun berkata, berdeham keki dan berusha untuk tidak menggertakkan gigi karena kemarahan otomatis membanjiri tubuhnya tiap kali memandang tanda menyebalkan itu. "Ini imprint."

Chris menoleh lagi, alisnya terangkat, hidung berkerut, dan mata memandang sangsi. "Imprint? Baru muncul?"

Eijun tertawa keki, bergegas mengambil seragam taekwondo dari loker dan memakainya dengan buru-buru. "Yah, ahaha. Ini muncul kemarin siang."

Chris membuka dan mengatupkan kembali mulutnya lalu menggeleng. "Berapa usiamu? Bukankah kau sembilan belas tahun?"

"Yep." Eijun menjawab. Mengambil ikat pinggang dan memasangnya.

"Dan kau baru mendapatkan imprint?" Suara Chris terdengar tak percaya, begitu menyadari Eijun tampak kaku, Chris buru-buru menggeleng dan mengganti ekspesinya. "Maaf, maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu atau apa. Hanya saja baru kali ini aku bertemu seseorang mendapatkan imprint di usia sembilan belas."

Eijun mengunci loker dan menatap balik pada Chris. Menggeleng bersemangat dan menampilkan cengiran lebarnya lagi. "Tidak apa-apa. Itu memang tidak wajar bagi kebanyakan orang, tapi hal yang lumrah di keluarga Sawamura."

Chris mengumamkan sesuatu yang tidak bisa Eijun tangkap dengan jelas maknanya, kemudian pemuda itu tersenyum dan menepuk punggungnya ringan. "Kalau begitu, selamat. Ku harap tak butuh waktu lama sampai kau bertemu belahan jiwamu."

Eijun ingin muntah mendengarnya, ia yakin ekspesinya pasti tidak jauh lebih bagus karena Chris langsung memandangnya kebingungan. "Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat seperti baru diinjak."

Eijun menggeleng. Menjilat bibir bawahnya yang kering lalu menatap Chris dan memaksakan senyuman. "Untuk saat ini aku berharap untuk tidak bertemu dengannya lagi."

Chris membeliak. "Maksudmu kau sudah bertemu dengan soulmatemu?"

Eijun menelan ludah, mengangguk dengan kaku. "Terjadi begitu saja." Ia membuang napas panjang dan berharap bisa mengulang apa yang terjadi kemarin agar bisa memberikan tinju di hidung Miyuki Kazuya alih-alih hanya membantingnya ke lantai.

"Oh," Chris berdeham. "Oke, semoga berhasil?"

Eijun mendengus. Ia tahu Chris bukan orang yang bodoh. Meski tidak menyampaikannya dengan eksplisit, pemuda itu pasti sudah bisa menebak bahwa soulmate Eijun berada di universitas yang sama dengan mereka.

Latihan mereka sepanjang sore itu terasa lebih menyenangkan dan juga damai karena Azuma tidak ada. Monster besar itu punya beberapa urusan dengan professornya atau apalah, Eijun tidak peduli. Saat ia bergabung dengan anggota lain, sebagian dari mereka menyambutnya dengan tepuk tangan, sebagian lain menyeringai padanya, beberapa sisanya hanya memberi tatapan menghakimi kebodohannya.

Kau semakin terkenal berkat tindakanmu kemarin. Adalah bagaimana Chris berbisik sambil tersenyum geli ketika Eijun memerah malu karena terlalu banyak mendapat perhatian. Di akhir sesi latihan, Eijun meminta untuk berlatih lebih lama kerena merasa energinya masih banyak. Chris hanya tersenyum dan menyetujui, bebaik hati menemaninya sekaligus mengamati perkembangannya.

"Aku heran kenapa bukan Chris-senpai yang dikirim untuk olimpiade." Eijun mengerutkan alis dan mengusap keringat di dahinya sambil menatap Chris yang kini berdiri sambil memperbaiki sabuk di pinggangnya. "Senpai juga sabuk hitam."

Chris tersenyum lembut. "Aku tidak bersedia ikut olimpiade atau kompetisi apapun."

"HE!? KENAPA?"

Chris tertawa kecil. "Aku suka taekwondo sebatas hobi saja. Aku mulai mempelajarinya sejak sembilan tahun, dan taekwondo sudah menjadi bagian hidupku, itu sudah cukup menyenangkan bagiku."

Eijun masih melongo. "Aku tidak mengerti." Ia menggelengkan kepala. "Bukankah orang biasanya tertarik menguasai sesuatu untuk berkompetisi dan membuktikan dirinya yang terbaik?"

"Tidak semua begitu." Jawab Chris kalem. "Aku menemukan fakta bahwa sejak aku menjadi Sabeum di SMA dulu, mengenalkan taekwondo dan teknik-tekniknya pada pemula atau juniorku, rasanya menyenangkan."

"Senpai ingin jadi seorang Sabeum Nim?"

"Mungkin saja." Chris mendelikkan bahu dan tersenyum lagi. "Bagaimana menurutmu, apa aku cocok?"

Eijun sontak tersenyum secerah matahari. "Tentu saja! Sepuluh juta persen cocok untukmu! Chris-senpai akan jadi intruktur taekwondo terhebat yang pernah ada! Bahkan jika senpai membuka kelas, aku yakin muridmu akan sangat banyak!"

Chris tertawa renyah, menggerakkan sebelah tangannya ke rambut Eijun dan mengacaknya lembut. "Terima kasih, Sawamura." Ujarnya. "Kau sendiri bagaimana? Apa kau juga belajar taekwondo untuk maju dan berkompetisi?"

"Umm, aku belum tahu. Sejauh ini aku masih ingin menikmatinya dulu." Jawab Eijun dengan jujur, Chris tersenyum lagi. Tangan Chris hangat di kepala Eijun, telapak tangan besar dan jari-jari yang menyusup di antara helai rambutnya yang berkeringat. Eijun ragu itu akan nyaman bagi Chris untuk menyentuh rambut lepeknya sebelum dikeramas, tapi pemuda itu tampaknya tidak keberatan sama sekali.

"Ah," Chris tahu-tahu berkata, lekas menarik tangannya dari kepala Eijun. "Masuklah." Kata Chris lagi, tersenyum simpul, dan dengan itu Eijun menyimpulkan ada seseorang di pintu yang kemungkinan adalah teman Chris.

Eijun tidak berbalik, ia melirik ke arah jam dinding di depannya dan membuang napas panjang. Sudah saatnya latihan berakhir. Eijun mengendurkan dan melepas sabuk hijau di pinggangnya hingga seragam taekwondonya terbuka dan membelah jalur tepat di tengah dada sampai perutnya.

"Orang tuamu sudah kembali?"

Eijun mendengar Chris bertanya dan merasakan langkah kaki semakin mendekat ke arah mereka berdua.

"Yeah, mereka tiba malam kemarin."

Suara itu… Eijun berbalik dengan ngeri. Jantungnya berdentum-dentum berantakan di rongga dadanya. Terjadi begitu saja, seseorang yang Chris ajak bicara kini berdiri satu langkah darinya, mata mereka bertemu di detik yang sama dan bergetar dalam bentuk kejutan pahit.

"Kau?!" Eijun menuding. Telunjuk mengarah tepat ke wajah Miyuki. "Buat apa kau di sini?!"

"Tidak sopan menunjuk orang dengan jarimu." Miyuki berkata dengan dingin, menepis kasar tangannya. "Kau perlu belajar sebelum mengoceh tentang sopan santun, Bocah."

Eijun menggeramkan kemarahan di tenggorokannya. "Aku bukan bocah!"

Miyuki menunjukkan wajah muak. "Oke, ralat. Bocah super berisik."

"Aku tidak berisik!" Teriak Eijun.

Chris berdeham, kali ini baik Eijun maupun manusia sialan bernama Miyuki itu sama-sama menoleh seakan baru tersadar Chris ada di sana. "Kalian saling kenal?"

""Tidak!"" Mereka menjawab bersamaan.

"Oke." Chris berdeham lagi. "Jadi kalian memang saling kenal."

Eijun menggerutu, meremas-remas sabuk hijau di tangannya untuk mengatasi gusar yang membakar dadanya. Ia tidak peduli apa yang Miyuki Kazuya lakukan di sini serta apa hubungannya dengan Chris, tapi seluruh moodnya kacau sekarang dan itu salah Miyuki.

"Ada apa, Miyuki?" Suara Chris terdengar tenang. "Langka sekali melihatmu sampai mengunjungiku di sini."

Miyuki menghela napas, nampaknya memilih untuk tidak peduli lagi pada Eijun. "Ada titipan dari orang tuaku." Ia berkata lalu memberikan dua kantung paper bag pada Chris. "Tadinya mereka ingin mengirimkannya ke alamatmu, tapi kupikir akan lebih praktis jika aku memberikannya langsung padamu."

Chris tersenyum dan menerimanya. "Katakan, apa menurutmu ayahku yang meneror ayahmu dan memaksanya membawakan minuman keras jauh-jauh dari London sebagai oleh-oleh?"

Miyuki dan Chris tertawa setelahnya, hal yang membuat Eijun menyadari dan menyimpulkan bahwa dua orang itu sepertinya cukup dekat hingga bisa saling mengenali keluarga satu sama lain. Sedekat apa? Untuk apa orang sebaik Chris mau dekat dengan orang bersengsek seperti Miyuki?

"Ah, yang satunya untukmu. Bukan minuman keras." Kata Miyuki setelahnya, memberi gestur pada paper-bag hijau di tangan Chris.

Chris mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu sampaikan ucapan terima kasihku pada orang tuamu, dan terima kasih karena kau mau repot-repot mengantarkannya langsung padaku."

Eijun merasa terganggu. Hatinya terus berbisik ribut bahwa ini tidak benar. Seharusnya Chris dan Miyuki tidak berteman baik. Ia tidak rela Chris berteman dengan Miyuki. Senior baik hati yang begitu dihormatinya tidak seharusnya berdekatan dengan Miyuki Kazuya. Menjadi frustasi dan gusar sendiri, Eijun memutuskan untuk menghadap pada Chris.

"Senpai, aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk hari ini. Aku permisi."

"Eh? Tunggu sebentar, Sawamura." Chris menahan tangannya saat Eijun berbalik pergi. "Ayo pulang bersama, aku akan mengantarmu."

Eijun tersenyum sopan dan menggeleng. "Tidak perlu, Chris-senpai sepertinya sibuk. Aku akan pulang sendiri."

Chris menggeleng dan menunjukkan tatapan mata berkeras yang membuat Eijun tetap berdiri di tempat. "Ini sudah malam dan aku tidak mau mengambil risiko kau ketiduran di trasportasi umum lalu melewatkan destinasimu lagi seperti beberapa waktu yang lalu."

Eijun bisa merasakan wajahnya panas dan merah karena malu. Ia menunduk dan pada akhirnya menganggukkan kepala. "Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya."

Chris tampak puas. Ia beralih lagi pada Miyuki dan memberikan ekspersi mohon dimaklumi. "Maaf, Miyuki, kita tidak bisa mengobrol lama."

"It's fine. Aku juga sudah mau pulang."

Eijun berdeham kecil dan mengambil alih perhatian. "Kalau begitu aku ganti baju dulu." Ia berkata dan melirik ke arah tangannya yang sampai detik ini masih digenggam erat oleh Chris. Eijun merasakan mata Miyuki menatap ke arah yang sama dengan tatapan ganjil, tapi, peduli amat.

"Oh." Chris melepaskan genggaman. "Silakan."

Dan dengan begitu Eijun berjalan lebih dulu menuju ruang ganti. Sama sekali tidak meluangkan waktu untuk menoleh ke belakang.

...

"Tumben sekali kau mengajakku duluan ke klub malam."

Kuramochi menyeletuk di sebelah kemudi begitu Kazuya menancapkan gas dari depan rumah Kuramochi menuju salah satu klub di mana mereka terkadang mampir.

"Besok kita sama-sama tidak ada kelas, kan?" Sahut Kazuya sambil angkat bahu samar. "Lagi pula aku tahu kau tidak akan menolak."

"Tetap saja aneh." Kuramochi berkata sambil memperbaiki tatanan rambut spikeynya. "Kau bahkan sampai menjemputku segala."

Kazuya memegang kemudi dengan satu tangan dan tangan lainnya mulai menyalakan radio. "Tidak ada yang aneh dari laki-laki dua puluh satu tahun ketika mengajak temannya ke klub malam, Mochi."

Kazuya tahu Kuramochi kini memandanginya keheranan. Tapi Kazuya memilih untuk tidak peduli, ia memperbesar volume radio dan mengganti-ganti saluran sampai menemukan saluran yang memutar lagu rock tahun sembilan puluhan dan sengaja menahannya di sana.

"Kau benar-benar aneh." Kuramochi memutuskan. "Sejak kapan kau mendengarkan lagu seperti ini?"

"Aku memilihnya untukmu. Bersyukurlah karena aku adalah teman yang sangat pengertian."

Kuramochi tampak tak mempercayai ucapannya. "Kau aneh beberapa hari ini, Miyuki. Aku yakin ada yang menghantui pikiranmu."

Menghantui pikiranku, huh? Kazuya membatin. Aku harap tidak, tapi sayangnya memang ada hal yang beberapa hari terakhir mengusik pikirannya. Sejak malam disaat Kazuya datang ke ruang taekwondo untuk menemui Chris, hatinya terus merasa tidak beres.

Kazuya mengenal Chris lebih lama dari ia mengenal Kuramochi. Ayah mereka saling kenal, dan sejak kecil setiap kali Kazuya ikut pesta bersama kedua orang tuanya, ia selalu bertemu dengan Chris. Anak blasteran yang menarik banyak perhatian karena kecerdasan, senyum menawan, juga kepribadiannya yang hangat. Kazuya selalu merasa bersyukur jika Chris ada di pesta yang sama dengannya. Kehangatan Chris akan lebih disukai sehingga para gadis akan mundur dari kesinisan Kazuya dan beralih pada keramahan Chris.

Meski demikian, ia tak pernah punya kesempatan atau waktu yang cukup untuk berteman dekat dengan Chris. Pemuda itu melanjutkan studi sekolah menengah pertama dan atasnya di Amerika dan hanya pulang sesekali untuk menghadiri pesta besar bersama kedua orang tuanya. Chris baru kembali menetap ke Jepang untuk kuliah, dan secara kebetulan mereka mendaftar di universitas yang sama. Takigawa Chris Yuu yang Kazuya kenal memang seseorang dengan kepribadian menyenangkan dan banyak disukai orang. Wajah tampan, tubuh tinggi proporsional, perawakan berwibawa dan murah senyum. Akan tetapi kemarin… senyum itu berbeda.

Kazuya baru berniat melangkahkan kaki ke ruang taekwondo ketika melihat dari pintu kaca bahwa Chris tengah berdiri berhadapan dengan seseorang yang sama-sama memakai seragam taekwondo. Kazuya melihat Chris tertawa, sebuah garis tawa yang belum pernah Kazuya lihat ditunjukkan oleh Chris di depan siapapun, tatapan matanya yang lembut dan hangat, juga bagaimana Chris leluasa menggerakkan tangannya ke kepala orang itu dan mengelus rambutnya dengan gestur begitu penuh kasih. Kazuya menyadari siapapun orang yang berdiri di hadapan Chris pastilah seseorang yang istimewa bagi pemuda blasteran itu.

Siapa sangka orang itu Sawamura Eijun? Kazuya mendengus, geli sendiri. Ia ingat bagaimana kejutan itu menyengat otaknya ketika pemuda itu berbalik hingga mata mereka bertemu. Hell, Kazuya bahkan tidak tahu Sawamura bergabung dengan klub taekwondo. Pertemuan itu, tentu saja sangat tidak disangka-sangka dan lagi-lagi membangkitkan hal negatif di antara dirinya dan Sawamura. Kazuya bahkan bisa merasakan betapa jelas perubahan raut wajah Sawamura sebelum dan sesudah melihatnya. Semua kehangatan, kemanisan, keramah tamahan yang ia berikan kepada Chris berubah menjadi yang sebaliknya saat ia menghadap Kazuya…

"MIYUKI!"

Kazuya tersentak, membuka mata lebar dan menatap jalanan sepi di depannya lalu menghela napas dan melirik pada Kuramochi. "Kenapa kau berteriak seakan aku menabrak sesuatu?"

Kuramochi menatapnya tajam. "Kau melamun, sialan! Aku sudah memanggilmu berulang-ulang dan kau sama sekali tidak menoleh!"

"Aku tidak melamun." Tukas Kazuya. "Aku fokus menyetir dan mencoba menikmati lagu kesukaanmu." Ia berkata, lalu tersadar bahwa radio kini bahkan telah berganti menjadi saluran yang membicarakan berita seputar pertandingan baseball. Kazuya menelan ludah, angkat bahu tak acuh. "Pokoknya begitu."

"Serius, Bung." Kata Kuramochi. "Kau sangat aneh. Kau bukan seseorang yang suka melamun sampai seperti itu. Apa yang kau pikirkan sebenarnya?"

"Tidak ada." Balas Kazuya nyaris terlalu cepat. Sedetik kemudian sosok Sawamura melintas di benaknya. Seragam taekwondo yang terbuka, bagian pinggang yang tak diikat sabuk, tubuhnya mengilap karena keringat, samar Kazuya bisa melihat garis miring setengah diamond terukir di dada kirinya. Kazuya seharusnya menarik seragam Sawamura untuk memastikan kesamaan imprint mereka.

"Kalau kau benar-benar masih ingin melamun, biarkan aku yang menyetir." Kata Kuramochi bulat, matanya menatap Kazuya tegas. "Aku tidak mau mati konyol karena kecelakaan bersama mobil mewahmu. Mercedes Benz sekalipun tidak menjaminku masuk surga."

Kazuya mendengus dan tertawa lalu berbelok ke kiri, mereka hampir tiba di tempat tujuan. "Kau boleh menyetir saat pulang nanti."

Kuramochi tersenyum setengah hati. "Biasanya aku bahkan terlalu mabuk untuk berjalan lurus saat keluar dari klub malam. Kau menyuruhku menyetir? Kau pasti begitu mencintaiku sampai ingin bunuh diri bersamaku."

Kazuya hanya menanggapinya dengan cengiran dan mengarahkan mobil memasuki area parkir. Klub malam yang akan mereka kunjungi terletak di lantai empat dari total delapan lantai yang ada. Gedung itu memang sepertinya diperuntungkan untuk hiburan, karena masing-masing lantai memang berisi fasilitas hiburan seperti bioskop, bar, restoran, coffee shop, bahkan juga cassino dan lain sebagainya. Kazuya memarkir mobilnya tak jauh dari akses lift yang bisa mengantarnya langsung ke lantai berapapun ia mau. Kuramochi sendiri sudah melepas sabuk pengaman dan kini sibuk memakai jaket kulit kesayangannya.

Ketika mereka sampai di dalam lift, Kazuya menekan tombol menuju lantai empat dan memasukkan kedua tangan ke saku celana, sementara Kuramochi sudah sibuk mengabsen daftar minuman yang hendak ia minum nanti. Kazuya tersenyum geli, pemuda bermarga Kuramochi itu memang punya hobi cukup unik untuk mencicipi semua jenis minuman keras dan mencari-cari kelemahan serta kelebihan setiap jenis.

Lift berdenting terbuka. Lantai empat seluruhnya nyaris diisi oleh klub malam tujuan mereka, tetapi ada dua slot kecil lain yang menambah variasi. Sebuah barbershop dan kedai kopi kecil yang hanya dilayani oleh seorang barista, merangkap sebagai pelayan sekaligus kasirnya. Kazuya tidak mengerti apa yang membuat dua kios mungil itu harus ada di lantai yang sama dengan klub malam. Memangnya orang mabuk secara mengejutkan akan berminat potong rambut atau minum kopi?

"Kau bawa kartumu, kan?" Kuramochi merapat ke bahu Kazuya saat mereka melangkah keluar lift. Kazuya balas mengangguk, merogoh dompet dari saku belakang dengan maksud untuk mengambil kartu pelanggan VIP tapi seseorang tiba-tiba menabraknya. Tidak terlalu keras, namun cukup mengejutkan dan membuat Kazuya nyaris menjatuhkan dompetnya.

"Ah, maaf."

Kazuya mendongak. Seorang pemuda berdiri di depannya, kelihatannya awal dua puluhan dengan rambut coklat mocca dan wajah kurus yang ramah. Menyunggingkan senyum apologi yang hanya dibalas Kazuya dengan anggukan samar.

"Toujo? Kau baik-baik saja?"

Kazuya berpaling berkat suara serak dan berat itu. Detiknya bergulir begitu lambat sampai pupil matanya bereaksi melebar dan sentakan tak menyenangkan menyengat dadanya.

"Luar biasa!" Kazuya mendengar Kuramochi berseru, dan tahu-tahu temannya itu kini sudah berdiri di dekat Sawamura. "Halo, kita bertemu lagi."

Sawamura Eijun, dengan setelan ripped jeans dan hoodie kuning terang berdiri tegak menghadapnya. Tatapan mata tajam menusuk, ekspresi keras dan sejuta dendam yang Kazuya yakini memenuhi otaknya.

"Kita belum sempat kenalan." Kuramochi menyambar tangan Sawamura tanpa permisi dan membuat perhatian Sawamura teralihkan. "Kuramochi Youichi, aku tahun ketiga."

"Ah!" Sawamura menyahut, berdeham singkat dan senyumnya mekar dengan leluasa mengisi wajahnya. "Sawamura Eijun, tahun pertama. Salam kenal, Kuramochi-senpai."

Kuramochi tertawa renyah, melirik Kazuya dengan tatapan bermakna ganda. "Dia memang kohai yang sopan." Mengatakannya begitu saja seolah Sawamura tidak ada di sana, atau Sawamura tuli dan tidak mendengar. Sawamura berdeham dan jabatan tangan Kuramochi terlepas. "Sedang main dengan temanmu, Sawamura?"

Sawamura mengerjap, lalu memandang bergantian pada Kuramochi dan pemuda lain yang sebelumnya menabrak Kazuya. "Ah, iya. Ini Toujo, kami dari barbershop."Usai mengataknnya, pemuda di sebelah Sawamura melambai dan tersenyum kecil.

"Selamat malam, Senpai."

Kazuya mengangguk singkat sementara Kuramochi nyengir lebar sekali sampai-sampai Kazuya takut pipinya akan terbelah. "Kalian sudah mau pulang?"

Sawamura dan Toujo saling lirik, berdiskusi lewat tatapan mata, lalu mengangguk pada Kuramochi. Bagi Kazuya basa-basi ini tidak berguna, dan ia tahu betul Kuramochi bukan orang yang suka basa-basi terutama kepada para junior. Jika Kuramochi sampai seperti ini, kemungkinan besar pemuda berambut hijau itu memang merencanakan sesuatu.

"Kenapa tidak bergabung dengan kami? Kebetulan kami baru mau mampir ke klub."

See?

Sawamura mengeluarkan suara seperti menahan batuk, sementara Toujo hanya tersenyum tipis. Kuramochi mengambil langkah gegabah dengan merangkul bahu Sawamura yang membuat Kazuya menyadari bahwa Sawamura sedikit lebih tinggi dari Kuramochi. "Ayolah, senpai kalian mengajak kalian nongkrong, kalian mau menolaknya?"

Sawamura tersenyum tak enak hati. "Bukan begitu, Kuramochi-senpai."

"Oh, kau belum dua puluh, ya? Tenang saja, di dalam cukup bebas dan legal untuk minum, lagi pula kau sudah sembilan belas."

"Ugh, bukan begitu…"

Kuramochi mengernyitkan alis tak mengerti.

"Tanpa kartu identitas, Sawamura praktis ditolak masuk ke klub manapun karena dikira masih SMA."

"Benar," Sawamura tersenyum lesu. "Saat menonton film di bioskop, bahkan aku masih sering diminta menunjukkan kartu identitasku."

Kazuya butuh beberapa detik untuk mengolah informasi itu sebelum kemudian memalingkan muka dan menahan tawa. Kuramochi sendiri melongo di tempatnya. Berkedip-kedip pada Sawamura seakan-akan ia terkesima.

"Kau… apa?"

Sawamura merona malu, dan Toujo tersenyum lembut. "Sawamura punya wajah yang kelihatan lebih muda dari usianya, kan? Itu sering jadi masalah karena dia disangka anak di bawah umur."

Kuramochi tidak tertawa, tapi Kazuya bisa melihat bibirnya berkedut geli. "Well…" Ia membuang napas, menahan seringainya tidak terlalu lebar. "Itu bukan masalah, kalian akan masuk dengan kami, lagi pula Miyuki punya kartu VIP."

...

Miyuki Kazuya benar-benar berengsek!

Eijun menanamkan pemikiran itu kuat-kuat di seluruh pembuluh darahnya. Melekatkan ke otaknya dan memastikan pikirannya tak akan berubah. Mendengar Miyuki memiliki kartu pelanggan VIP di klub malam seperti ini sebenarnya sudah cukup membuatnya mendengus karena menyadari betapa seringnya si berengsek itu keluar-masuk klub malam. Tapi, kelakuannya di dalam justru lebih parah lagi.

Begitu masuk, Miyuki duduk di menghadap meja bar, menyebutkan satu jenis nama minuman yang tidak Eijun kenali. Kuramochi menyebutkan lebih banyak lagi, memesan minuman keras seakan-akan anak kecil yang menyebutkan jenis-jenis permen halloween, Toujo memesan champagne, Eijun berkedip kebingungan dan menelan ludah sementara bartender menantikannya dengan senyuman seakan ia menatap siswa sekolah dasar. Pada akhirnya, Eijun memilih coktail. Lagipula sejauh ini jenis minuman keras yang pernah masuk ke tubuhnya tidak terlalu bervariasi. Eijun cukup kuat menghadapi beer kalengan dan sake, beberapa waktu lalu bahkan ketagihan soju pemberian temannya dari Korea, tapi selebihnya Eijun sama sekali buta arah soal minuman keras.

Kembali lagi ke poin utama; Miyuki Kazuya benar-benar berengsek. Itu terbukti dari bagaimana seorang gadis berpakaian terbuka datang memghampiri Miyuki tak lama setelah mereka duduk. Membelai lengan berototnya, bahkan berbisik hingga bibir berpoles lipstcik merahnya menempel di telinganya Miyuki. Miyuki terlihat menikmati, tertawa ringan dan menatap intens sebelum mengizinkan wanita seksi itu duduk di pangkuannya.

"Paling lama sepuluh menit." Kuramochi mencondongkan kepalanya pada Eijun dan bicara agak keras di telinganya.

"Hah?" Eijun menyahut tak mengerti, mencoba untuk mengurai musik keras yang berdentum-dentum membakar gendang telinganya.

"Sepuluh menit!" Kuramochi berkata lebih keras. "Waktu yang dibutuhkan Miyuki sampai ada gadis yang tertarik dan mulai menggodanya."

Oh. Eijun membatin tanpa minat, menyunggingkan senyum pada Kuramochi atas informasi tak penting yang barusaja dibagi.

Kuramochi balas menyeringai, mencondongkan dirinya lagi. "Tidak adil, bukan? Bagaimana dia tanpa melakukan apa-apa, hanya duduk di sana dengan wajah tampan, pakaian mahal, dan jam tangan bermereknya, lalu semua gadis datang untuk jatuh ke pelukannya."

Terdengar seperti bajingan, batin Eijun menjawab. Untunglah Kuramochi tidak lagi menambahkan pundi-pundi informasi ke otaknya seputar Miyuki. Seniornya itu kini sibuk bercengkrama dengan seorang bartender, mereka sepertinya saling kenal dan cukup dekat. Toujo sendiri tahu-tahu sudah punya teman mengobrol, dan Eijun lagi-lagi terjebak situasi yang membuatnya berpikir bahwa ia tak seharusnya ada di sini.

Eijun tak sengaja melirik ketika Miyuki membiarkan wanita dalam pangkuannya bergelayut manja dan meraba kulit lehernya dengan ujung jari lentik yang dipoles cat kuku ungu. Wanita itu jelas sedang menggodanya, tapi ekspresi yang Miyuki buat sama sekali tak teranggu, rasanya seperti Miyuki sudah terlalu sering mengalami situasi jenis ini. Si Bangsat itu, sudah berapa puluh gadis yang ditidurinya?

"Aku belum pernah melihatmu."

Eijun nyaris tersentak. Ia mengrejap kaget karena kini tepat di sampingnya tahu-tahu seorang gadis bergaun hitam sudah bersandar pada counter bar, memegang minuman biru terang di tangannya dan tersenyum pada Eijun.

"Maaf, kau bicara padaku?"

Gadis itu tersenyum geli lalu mengangguk. "Yes. You, sweet boy."

Eijun berdeham untuk mengusir kecanggungan. Gadis itu kelihatan muda, mungkin tak lebih dari dua puluh empat tahun. Gaunnya tak terlalu terbuka, namun tetap menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Riasannya tidak berlebihan, justru terksesan solah baru saja menghapus lispstick dari bibirnya.

"Erika." Gadis itu mengulurkan tangan padanya. Eijun membeliak kecil, lalu buru-buru menjabatnya.

"Sawamura Eijun."

Erika tertawa renyah. "Kau benar-benar masih baru, ya? Jarang sekali orang langsung menyebutkan nama lengkapnya ketika berkenalan di klub malam."

Eijun berusaha mengenyahkan pemikiran memalukan bahwa saat ini wajahnya merona. Ia mengalihkan pandangan sejenak, dan menangkap sosok Miyuki sedang ditarik manja ke area dansa oleh wanita yang semula duduk di pangkuannya. Miyuki tampak menuruti dengan setengah hati, wajah bosan dan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Bahkan gesturnya yang seperti itu saja berhasil membuat Eijun kesal bukan main.

"Kau kenal dengan Miyuki?"

Eijun berkedip, kembali menantap Erika. "Eh?"

"Pemuda berkacamata itu, namanya Miyuki, kan? Kau tadi memelototinya."

Eijun bahkan tidak sadar dia melotot. "Kami satu universitas."

Erika mengangguk tipis, ikut memandang sejenak ke arah Miyuki yang kini berdiri berhadapan dengan wanita itu di area dansa. Kedua tangan wanita itu menggelayut manja di leher Miyuki dan pinggulnya mulai bergoyang erotis.

"Dia cukup terkenal di sini." Kata Erika lagi, ada senyum kecil seperti maklum yang tersungging di bibirnya. "Para gadis bahkan membuat taruhan siapa yang berhasil merayunya dan membawanya ke atas ranjang."

Eijun menahan diri untuk tidak memutar mata, ia justru menyungingkan seringai tipis dan menatap ke mata Erika. "Erika-san juga?"

Erika mengibaskan tangannya singkat dan tertawa. "Tidak, tidak, aku tidak suka tipe pria seperti itu. Lagi pula sejauh ini belum ada wanita yang berhasil memenangkan taruhannya." Senyum Erika miring di bibirnya yang tipis, lalu ia mencondongkan tubuhnya pada Eijun, berbisik tepat di telinganya. "Kupikir dia mungkin gay."

Eijun nyaris tersedak, untunglah ia bisa mengendalikan reaksi dan ekspresinya. "Well, tapi siapa yang tahu?" Kata Erika lagi. "Mungkin dia tidak tidur dengan pengunjung klub ini, tapi berbagi ranjang dengan klub yang lain." Erika lalu meneguk habis sisa minuman di tangannya dan mengamit tangan Eijun dengan lembut hingga Eijun tersentak. Gadis itu tersenyum manis, membimbingnya berdiri. "Ayo menari denganku, Sawamura-kun."

"A-Ah, aku tidak pandai menari." Jawab Eijun tergagap. Bergerak ragu-ragu ketika Erika mulai menggandengnya ke area dansa. "Erika-san."

"Rileks, oke?" Erika tersenyum menenangkan. Suaranya tidak terdengar di tengah kerasnya musik, Eijun hanya membaca gerak bibirnya yang samar di antara kerlap kerlip lampu disko. Erika membimbing agar tangan Eijun melingkar di pinggang rampingnya sementara kedua tangan Erika terkalung di leher Eijun. Gadis itu berjinjit sedikit untuk bicara di telinga Eijun. "Lihat saja ke mataku dan jangan pedulikan musiknya!"

Mustahil rasanya mengabaikan musik sekeras ini, tapi Eijun mencoba mengikuti arahan Erika. Ia menatap ke wajah Erika dan bergerak pelan-pelan seperti dansa ballroom ketukan satu perempat yang sebenarnya sangat tidak serasi dengan musik yang sedang berputar.

"Your eyes are so beautiful!" Erika berteriak, tapi suaranya terdengar begitu kecil di tengah kerasnya musik. "Matamu seperti menyala dalam kegelapan."

Eijun tersenyum lebar, mencoba untuk lebih rileks. "Thanks."

Mereka bergerak perlahan-lahan, sesekali tertawa ketika tanpa sengaja berbenturan dengan pengunjung lain, Erika mulai bersandar ke dada Eijun. Gadis itu terlihat berusaha menyamankan diri ketika wajahnya menempel ke hoodie Eijun. "Tubuhmu hangat, Sawamura-kun."

Eijun menarik napas perlahan, mencoba untuk tidak grogi. Erika memang memakai gaun yang tidak terlalu terbuka, tapi dari posisi ini Eijun bisa melihat jelas garis belahan dadanya dan sepasang payudara mulus Erika yang menempel ketat di balik gaunnya. Eijun mengambil keputusan yang salah saat memalingkan wajah dari pemandangan itu karena begitu berpaling ia justru menangkap Miyuki Kazuya sedang ditarik ke dalam pelukan wanita bergaun merah untuk menikmati ciuman panas.

Awalnya Eijun terlalu kaget untuk dapat bereaksi. Bagaimana wanita itu menarik kepala Miyuki mendekat, jari-jarinya meremas rambut coklat Miyuki, dan wajah mereka saling bertabrakan hingga bibir menempel dan saling melahap satu sama lain. Eijun terlalu tercengang menyaksikan bagaimana Miyuki terlihat sangat profesional mengatasi situasi itu, mengubah kedudukan dari pihak yang dikenai tindakan, menjadi pihak yang mendominasi tindakan. Bagaimana tangan Miyuki bergerak melingkar untuk mendekap dan memeluk wanita itu mendekat, sementara dengan yang satunya mencengkram leher si wanita dan memaksanya mendongak. Memberi Miyuki lebih banyak dominasi dan akses untuk memperdalam ciuman. Eijun masih terlalu tercengang sampai dadanya terasa ngilu. Rasa sakit merambat, mencekik jantungnya dalam periode sekon hingga Eijun menggerit dan membungkuk memegangi dadanya, berusaha mengejar udara dan memaksa tetap tersadar.

"Sawamura-kun!" Erika menjerit, memegangi tubuhnya dan meremas bahunya kuat. "Ada apa? Kau baik-baik saja? Kau sakit?"

Jantungnya terasa ditikam. Eijun tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi tapi rasa sakit itu tidak pernah ada sebelumnya. Kesehatannya baik, keluarganya tak punya riwayat penyakit jantung, jadi apa ini?

"Sawamura-kun!"

Eijun mencoba tetap bernapas. Ia mengangkat tangan ke arah Erika sebagai gestur menenangkan karena gadis itu mulai kelihatan sangat panik. Matanya lalu mengerling lagi ke arah Miyuki. Mereka sudah berhenti berciuman. Tatapan mereka sempat bertemu sekilas, tapi Eijun buru-buru memutus kontak mata dan mencoba berdiri kembali. Ia merasakan jantungnya mulai normal, rasa sakitnya memudar perlahan-lahan, dan napasnya berangsur membaik.

"Aku baik-baik saja." Eijun memaksakan senyum pada Erika yang masih kelihatan panik. "Maaf merusak momennya, kita menari lagi?"

Wajah Erika masih terlihat resah, tapi gadis itu tetap tersenyum dan menyambutnya. Kali ini, Erika nyaris benar-benar menempel ke tubuh Eijun. Begitu dekat hingga Eijun dapat mencium aroma parfum mahal dari tubuh Erika. Kemudian itu terjadi begitu saja. Jari-jari lentik Erika menyentuh wajahnya, membingkai rahangnya dengan sentuhan lembut yang membuat Eijun tak mampu berpaling. Mata Erika menatap hangat dan sayu, bibirnya menyunggingkan senyum kecil dan gadis itu berjinjit lalu menempelkan bibirnya ke bibir Eijun. Eijun, tentu saja, melotot kaget akan sentuhan itu. Ia berusaha menarik diri, tapi sentuhan Erika seolah memahaminya, menenangkannya dengan cara memberi kecupan lembut di bibir atas dan bawahnya secara bergantian, lalu mengambil sedikit jarak hingga mata mereka bisa saling menatap. "Rileks," Erika berbisik. Tak ada rayuan dalam suaranya, Eijun tidak merasa sedang ditarik ke arena seksual oleh gadis nakal, ia hanya merasa Erika sedang membawanya menuju suatu ruang yang lebih menyenangkan.

Eijun mengangguk ragu-ragu, dan Erika memberinya senyum bangga. Perlahan mereka saling mendekatkan wajah, memejamkan mata hingga bibir mereka bertemu kembali. Lebih lembut, lebih lama, lebih menyenangkan. Erika membimbing gerakan Eijun di dalam mulutnya. Ke mana seharusnya ia bergerak, menjilat, atau menghisap. Ciuman Erika luar biasa, tidak terburu-buru dan mampu membawa Eijun perlahan-lahan menuju level yang lebih baik.

Eijun mulai berpikir ini menyenangkan ketika tahu-tahu seseorang menarik lengannya dengan kasar hingga ciumannya dengan Erika terlepas begitu saja. Eijun dengan sigap meraih tangan Erika dan menahannya agar tidak terlontar jatuh akibat pemisahan yang tiba-tiba itu. Wajah gadis itu syok mutlak, bibirnya basah terbuka untuk meraih udara, Eijun mengingat bagaimana rasa bibir itu di mulutnya lalu segera tersadar dan mendongak pada seseorang yang sampai saat ini masih meremas erat lengannya.

"Miyuki Kazuya! Apa-apaan kau!?"

Miyuki memasang wajah seakan baru digilas truk. Satu tangannya yang lain meremas dadanya dan ia menatap Eijun seolah menyalahkannya atas kematian satu negara. Tanpa mengatakan apapun, Miyuki menariknya menjauh dari area dansa. Tak peduli bagaimana Eijun berontak dan meneriakinya berbagai macam umpatan tak sopan. Eijun didorong masuk ke mobil, Miyuki duduk di belakang kemudi dan masih tidak menjelaskan apapun tak peduli bagaimana Eijun beteriak dan memaki-makinya. Eijun menggeram dan membuka pintu untuk keluar tapi Miyuki dengan cepat mengunci semua pintu dan menyalakan mesin mobil.

"Kau gila!?Turunkan aku!"

Miyuki tak merespon, seakan ia tidak benar-benar menggangap Eijun ada di sana.

"MIYUKI KAZUYA!"

Miyuki masih mengabaikan, sampai ponselnya berbunyi dan Eijun melihat nama Kuramochi Youichi tertara sebagai ID pemanggil. Eijun serega mencondongkan tubuh ke arah Miyuki berteriak keras.

"Kuramochi-senpai, tolong aku! Miyuki Kazuya benar-benar tidak waras!"

Miyuki mendorong Eijun kasar hingga Eijun terpaksa menjauh dari ponsel Miyuki, pemuda itu kemudian menempelkan ponsel ke sebelah telinganya dan bicara dengan cepat. "Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku akan mentraktirmu apapun sebagai gantinya." Dia mematikan telpon bahkan sebelum Kuramochi sempat menyahut. Menginjak pedal gas dan memacu mobilnya dengan kecepatan yang hampir melanggar aturan lalu lintas.


to be countinued


a/n: sebenarnya saya nulis apaan? :'D Dengerin lagu Wouldn't Change a Thing inget Camp Rock dong :') Dulu kecewa banget karena Camp Rock 2 nggak se-AMAZING yang pertama. Yep, masa kecil saya dipenuhi dengan halu ala Disney jadul wkwk. Dengerin lagi lagu ini, dan kepikiran hubungan dengan pola I hate you, I love you, we mess up, but I can't let go/apaan sih.

Udah gitu nggak puas kalau belum bikin fanfik yang jumlah wordsnya banyak/ngesot. Saya nggak enak sama kalian yang baca, terpaksa maso deh baca fanfik saya yang ngerandom segini banyak, hampura~

thanks for reading

Review please?